YAKOBUS JANO

45

Bertahan Dalam Asa (Kisah 50 perintis Kopdit Pintu Air) “Kita dibesarkan dengan sakit, diejek, diolok dan dicemooh. Tapi karena komitmen kita pada kesejahteraan bersama dan kepada Tuhan yang menjadi dasar keyakinan kita, maka Kopdit Pintu Air bisa bertahan sampai hari ini.” Demikian ketua Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano melukiskan ziarah kopdit yang menempati urutan ketiga dari seluruh koperasi kredit Indonesia ini dalam kesempatan peresmian cabang Kopdit Pintu Air ke-33 yakni cabang Lembor tahun lalu. Itu artinya perjalanan kopdit dengan 36 cabang ini tidak berjalan mulus. Selalu ada tantangan yang menghadang. Tantangan itu sudah ada sejak kopdit yang berpusat di Rotat ini dirintis oleh 50 warga dusun Rotat, desa Ladogahar, kecamatan Nita, Sikka, NTT. Ke-50 perintis ini tahu betul betapa sakitnya melahirkan usaha bersama bernama Pintu Air. Sejak awal para perintis berhadapan dengan situasi sosial yang kurang enak di kampung Rotat. Dari penuturan mereka, ada empat soal yang mengitari Rotat pada era tahun 90-an. Pertama, sebagian besar warga dusun Rotat bermatapencaharian sebagai petani. Tahun-tahun itu, mereka memanfaatkan areal di sekitar sungai wair puang-sungai yang terletak di wilayah dusun Rotat sekaligus menjadi inspirasi bagi nama Pintu Air- untuk membudidayakan sayur mayur terutama kangkung. Hasilnya dijual ke pasar di Maumere. Kala itu, kangkung wair puang sempat menjadi primadona. Mereka juga berharap banyak dari hasil kakao dan kelapa. Tapi hasil pertanian ini menurun setiap tahunnya. Tentu saja hal ini tidak mampu menyanggah kebutuhan ekonomi keluarga dan biaya pendidikan anak. Dibutuhkan tiang lain untuk menyokongnya. Kedua, kehadiran rentenir yang meresahkan. Menjual uang dengan bunga tinggi membuat para renternir meraup keuntungan besar. Di sisi lain, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, warga Rotat yang bergejolak akibat hasil panen yang minim menelan pil pahit dari kerja kotor rentenir. Sudah sulit bertahan hidup dan membiayai pendidikan anak-anak, warga pun harus mengembalikan pinjaman uang dengan bunga selangit. Apa mau dikata. Ketiga, pada tahun 1990-an koperasi tumbuh subur di wilayah kabupaten Sikka. Beberapa koperasi mendaraskan cerita sukses. Tidak sedikit juga koperasi yang ambruk. Usianya tidak panjang.

 

91133 DSC08174

Hal ini dirasakan oleh warga dusun di lereng gunung Kimang Buleng ini. “Di Sikka dulu terkenal dengan koperasi Kopra. Tapi sudah mati. Waktu itu di kampung Rotat ada juga beberapa koperasi. Ada yang datang dari luar. Ada juga yang di dalam kampung ini. Umurnya tidak lama. Ini membuat kita juga pikir-pikir kalau bentuk koperasi,” tutur salah satu anggota perintis kopdit Pintu Air, Wandelinus Botu (64). Keempat, suasana dusun Rotat pada tahun 1990-an sangat rawan. Para pemuda acapkali membuat keributan di kampung. Setelah meneguk miras secara berkelompok, mereka berlaku onar. Aksi pencurian oleh beberapa oknum juga marak terjadi. Hal ini dibiarkan begitu saja karena sulit untuk diberantas. “Jangan lihat kecilnya kampung ini. Dulu banyak orang kacau. Ada juga para pencuri. Mereka berasal dari sini. Kami tidak mampu menegur atau melarang mereka karena mereka juga keluarga,” tutur Wandelinus. Keempat situasi sosial ekonomi ini menjadi tantangan awal para perintis. Ini juga sekaligus menjadi keprihatinan awal. Adalah Maria Densiana (57), seorang bidan desa mengajak kerabat dekatnya untuk membentuk usaha bersama simpan pinjam (UBSP). Menurut Maria, ajakan ini didasari oleh tujuan untuk perbaikan ekonomi. “Waktu itu saya sempat belajar dari koperasi di dinas kesehatan Sikka. Saya juga pernah menjabat sekretaris di koperasi di Bola. Manfaatnya baik. Apa salahnya kalau saya ajak orang sekampung untuk bentuk koperasi,” kata bidan Maria. Ide ini terwujud. Beberapa orang tertarik dan bergabung. Beberapa warga lain masih ragu-ragu. Mereka belum yakin. Jangan-jangan koperasi yang dibentuk ini akan mengulang kisah kelam koperasi sebelumnya yang usianya tak panjang. Bahkan ada yang berprasangka buruk dengan ide yang dicetus oleh bidan Maria ini. “Ada orang yang tidak masuk karena ragu-ragu. Ini pilihan masing-masing orang. Ada pihak yang menghasut orang supaya jangan ikut saya. Katanya, saya sudah kaya karena gaji PNS. Nanti uang yang dikumpul itu kasih kenyang saya,” tutur bidan Maria. Tidak peduli dengan pandangan miring itu, bidan Maria dan kawan-kawan memulai usaha ini. Setiap bulan mereka berkumpul di bawah rimbunan pohon kakao di tengah kampung. Mereka bertemu untuk membahas usaha bersama yang baru dimulai itu. Untuk urusan makan minum,

CendanaNewsNTTEbedDeRosary2 ???????????????????????????????

setiap anggota dengan swadaya, membawa beras, kayu api, kopi dan gula. Dan ada anggota yang membawa lebih dari yang telah disepakati bersama. Dalam pertemuan bulanan ini selalu ada selisih paham atau beda pendapat di antara anggota perintis itu sendiri. Entah itu menyangkut uang atau juga soal kebijakan yang diputuskan. Tak jarang suasana pertemuan menjadi gaduh manakala setiap orang ngotot mempertahankan idenya. Yang satu maunya begini. Yang lain maunya begitu. Tidak ada titik temu. Ketika direfleksikan sekarang, anggota perintis nomor urut pertama, Robertus Belarminus mengakui, kejadian 22 tahun silam ini adalah proses yang harus dilalui. Entah sadar atau tidak, hal itulah yang pelan-pelan membesarkan Pintu Air. Pada saat yang sama setiap bulan, ada juga yang berkumpul di tempat yang tidak jauh dari tempat pertemuan ke-50 perintis ini. Entah tujuannya apa. Tapi yang pasti setiap kali bertemu, mereka ditemani beberapa botol moke (minuman tradisional beralkohol di Flores). Alur cerita yang sama mereka pertontonkan setiap bulan. Duduk bercerita, kemudian meneguk moke secara bergilir dengan menggunakan satu gelas kaca, tidak lama kemudian mereka menciptakan keributan. Hal ini mengganggu pertemuan para perintis. Felix Wajong, salah satu anggota perintis melihatnya sebagai bagian dari perjuangan dan hidup kopdit Pintu Air yang layak disyukuri. Pandangan miring juga menghujam masing-masing anggota perintis dalam kesehariaan hidupnya. Romanus Bura (64) sungguh merasakan hal ini. Oleh para tetangganya, ia dianggap salah dalam mengambil keputusan. Menurut tetangganya, apa yang ia putuskan yakni bergabung di koperasi akan membuatnya menyesal di kemudian hari. “Saya dicemooh. Mereka omong dengan sinis. Mereka bilang, baik engkau anggota di Credit Union, nanti kalau mati masuk surga,” tutur Romanus. Anggota perintis yang lain, Apolonia Lio juga mengalami hal yang sama. Namun baginya, ini soal pilihan. Apapun yang orang katakan untuk dirinya, Apolonia menganggapnya sebagai hal yang biasa. Setiap bulan ia rutin mengikuti pertemuan dan terlibat aktif dalam kegiatan simpan pinjam. Lusia Lio pun demikian. Ia paham bahwa tujuan koperasi untuk hal yang baik. Kuncinya adalah kepercayaan. “Waktu awal saya percaya saja. Saya waktu itu masuk untuk biaya pendidikan anak-anak,” tutur nenek yang berusia 92 tahun ini. Menarik juga apa yang diceritakan anggota perintis lainnya, Arnoldus Yansen (61) yang bergabung di koperasi pada awalnya hanya ikut-ikutan. Tidak ada alasan khusus.

DSC08211

Karena ia tidak tahu apa-apa tentang koperasi. “Memang di Rotat waktu itu ada koperasi yang sudah mati. Yang saya tahu, kalau bentuk koperasi, uang pasti habis. Uang tidak tahu lari ke mana-mana. Kita tidak tahu. Tapi saya ikut saja. Saya percaya bapak Jano,” kata Arnoldus. Marianus Wara (49), anggota awal lainnya masih ingat betul dengan pengalaman ketika ia dianggap sebagai buruh bangunan yang bodoh. Marianus yang sekarang dikenal sebagai ‘tukangnya Pintu Air’ ini ikut membantu pengerjaan bangunan awal kopdit Pintu Air meski bayarannya murah. Padahal waktu itu, ada orang yang menawarinya dengan harga yang terbilang tinggi. “Saya dicap tukang bodoh. Tapi kan saya anggota. Saya harus bantu. Ya, memang bayarnya kecil sekali.” Primus Inter Pares Tantangan pada tahun-tahun awal ini membuat para perintis tidak pernah berpikir bahwa kopdit Pintu Air akan bertahan hingga hari ini. Hanya satu hal yang mereka harapkan dari koperasi waktu itu yakni bisa keluar dari kemelut ekonomi. Tidak lebih dari itu. Tidak demikian untuk anggota perintis yang satu ini. Yakobus Jano (63) yang sekarang dipercayakan sebagai ketua kopdit Pintu Air mampu melihat jauh ke depan. Ia memang sama dengan para perintis yang lainnya. Tapi ia menjadi ‘yang pertama’ dalam arti mampu melihat harapan yang menyelinap dalam setiap tantangan. Jano berhasil mengolah selisih paham, ocehan, ejekan, cemooh, fitnah menjadi menjadi energi untuk membangun. “Saya disebut kera putih, pencuri dengan cara yang santun karena waktu itu saya orang bank. Saya juga melihat yang kaya tetap menjadi kaya, sementara orang miskin tidak tersentuh. Hati saya bergejolak. Walau begitu, saya harus membangun kampung halaman sendiri, sebab situasi waktu itu sangat memprihatinkan. Kita harus maju,” ungkap pensiunan Bank BRI cabang Maumere ini. Putera dari pasangan Petrus Moa dan Yuliana Sareng ini punya credo tersendiri yakni “Tidak ada yang tidak mungkin karena kita berjalan bersama moang gete (Tuhan)”. Kalimat ini menjadi roh yang menyemangatinya untuk mengembangkan Pintu Air bersama yang lain.

Ketua-Kopdit-Pintu-Air-Bapak-Yakobus-Jano-ketika-menerima-Penghargaan-di-Semarang-Jawa-Tengah-1024x576

Dalam usahanya itu, ia berhasil merangkum cita-cita, kerja, usaha, rencana, program, anggota, para pengurus, pihak manajemen, pengawas dalam kesetiannya yang luar biasa. Alhasil, Kopdit Pintu Air sukses menyebarkan sauh pelayanannya di hampir seluruh wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mulai dari Alor, Lembata, Adonara, Atambua, Kefa, Soe, Kupang, Sumba, Larantuka, Mamuere, Paga, Mbay, Mataloko, Bajawa, Aimere, Kisol, Ruteng, Lembor, hingga Labuan Bajo. Bahkan di luar NTT yakni Makassar, Dompu dan Surabaya. Dan hingga sekarang ini terdapat 36 kantor cabang dan 16 KCP Pintu Air dengan total anggota mencapai 170.000 orang. Fakta ini menyiratkan bahwa apapun tantangan yang kita hadapi dalam mengembangkan usaha untuk kebaikan bersama harus dihadapi. Para perintis Pintu Air telah berhasil melewatinya. Dan bukan tidak mungkin tantangan dalam wujud yang berbeda akan dihadapi esok hari. Asalkan kita bertahan dalam asa, pasti air akan mengalir dan memberi kesegaran bagi kita. (*)

Copyright © 2017 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.