CHARLES ANTONNY MELATI

DSC_0328

R. Wahyu Alibasya Wisnu Memahami Maqom Diri Sendiri Merupakan Kunci Sukses Karirnya R. Wahyu Alibasya Wisnu, terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, namun tak membuat dirinya menjadi anak manja. Bapak dan ibunya yang berasal dari Yogyakarta dan Kebumen, mendidik Wisnu –begitu ia disapa- sebagai anak yang tahan banting dan mandiri. Didikan itu dirasakannya sejak Wisnu kecil. Tempaan yang demikianlah yang kemudian membawa pria kelahiran Jakarta ini sukses merintis karir dan kini menjadi Manager di PT Wijaya Karya (Wika) Gedung Tbk. Pilihannya bekerja di PT Wika Gedung Tbk memang merupakan cita-citanya sejak kuliah. Tak ada pertimbangan khusus, misal soal gaji, ketika dirinya ingin bekerja di PT Wika. Yang melatarbelakangi cita-citanya tersebut hanya karena ia melihat suasana kerja di PT Wika terasa nyaman dan kekeluargaan. Itu dirasakan ketika dulu ia Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT Wika. Karirnya di PT Wika memang bukan datang dengan sendirinya. Semua seperti sudah dirintis sejak Wisnu lulus SMA. Hal ini dapat dilihat dari jenjang pendidikan yang ditempuh, yakni lulus SMA, Wisnu meneruskan kuliah di Politeknik Universitas Indonesia, kemudian menempuh jenjang S-1 di Intitut Teknologi (ITS) Surabaya, lalu mengambil S-2 di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Nah, saat kuliah di ITS Surabaya itulah Wisnu “berkenalan” dengan PT Wika, melalui praktek kerja lapangan, dan seolah menemukan tempat kerja yang cocok baginya. Maka ia pun merintis karir di perusahaan tersebut. “Saya masuk Wika usia 25 tahun. Di Wika memang cita-cita dari jaman kuliah. Saya lebih melihat pada lingkungan kerja di Wika, kekeluargaan dibanding perusahaan lain. Usia 27 menjabat Kepala Seksi. Usia 32 jadi manager,” tutur suami dari Dewi Ismayati . Karir di PT Wika Gedung Tbk

DSC_0341 DSC_0334

Karirnya di PT Wika dimulai dari bawah, seperti menangani proyek-proyek jalan simpang di Kalimantan Timur. proyek di Mangga Dua Square, Cideng Office, lalu proyek di Balipapan, Paragon di Semarang. Berikutnya membangun Apartemen Tebet. Mini Office, Kemayoran, Jakarta, apartemen Capitol Park Salemba, dan Tamansari Prospero, Sidoarjo. “Saya belum kepikiran usaha sendiri, karena takut gak focus. Saya suka semua, karena saya punya prinsip hidup itu harus dijalani,” ujarnya. Lebih jauh dijelaskan Wisnu bahwa apartemen Tamansari Prospero merupakan proyek kerjasama dua perusahaan developer besar yaitu PT Wika Gedung dengan Mutiara Sejahatera, pemilik kawasan Kahuripan Nirwana. Ditambahkan Wisnu, Tamansari Prospero sebenarnya brand-nya Wijaya Karya Tbk. Kata Prospero itu berasal dari bahasa Latin yang artinya kesejahteraan, sedang Tamansari merupakan tamannya raja-raja. “Ini adalah KSO atau kerjasama operasi. Dua developer besar membentuk KSO, membentuk satu development Tamansari Prospero,” ujar bapak 4 anak ini. Lalu, kenapa harus di Sidoarjo? Menuru Wisnu, pilihan Sidoarjo tak lepas dari pandangan bahwa segitiga emasnya Jawa Timur itu ada di Sidoarjo, Surabaya dan Malang. Dan, ini bisa menjadi satu wadah untuk kegiatan-kegiatan orang-orang Sidoarjo. Jadi sentra aktifitas warga Sidoarjo. Prospero sendiri artinya bersama-sama. jadi, menangkap akrifitas warga Sidoarjo untuk membuat satu kegiatan, demikian visi dan misi perusahaan. “Yang pasti Tamansari Prospero pasar utamanya Sidoarjo, sebenarnya gak ada strategi yang besar karena pasar kita di Sidoarjo dan Surabaya, sekitar 70 persen. Ini apartemen pertama di Sidoarjo Kota,” tuturnya. Dibanding apartemen lain, misal di Surabaya, dapat dipastikan fasilitas apartemen Tamansari lebih lengkap. Istilahnya,  apartemen dengan fasilitas menyerupai Hotel bintang 5 dengan harga kompetitif. Jadi, orang berinvestasi di Tamansari sesuai dengan harga yang ditawarkan.  Dimana harga yang ditawarkan di kisaran mulai Rp 300 juta,dan  yang paling tinggi mencapai Rp 1 M dengan 3 kamar tidur. Menurut Wisnu, akan dibangun 3 tower. Dimana tower pertama itu untuk pasar middle, tower kedua untuk middle up, tower ketiga untuk yang premium.  Yang middle diberi nama tower fortuna atau keberuntungan. Lalu ada nama-nama tower betrus artinya kesejahteraan, dan aorum artinya emas, dengan perbedaan setiap tower memiliki karakter dan luas yang berbeda serta harga yang berbeda pula. Target dari Tamansari Prospero sendiri adalah pada tahun 2017 bisa terjual habis untuk tower yang pertama. Sementara untuk tower kedua, akan re-branding, dikarenakan adanya perubahan konsep menjadi lebih minimalis. “Tapi, tahun 2017 sold out. Dalam waktu dekat  kita akan serah kunci untuk tower yang pertama. Di sekitar awal bulan September. Kalau 2017 sold out tower satu, Insya Allah 2020 running semua,” ujarnya. Disinggung soal kompetitor di usaha sejenis, Wisnu  menganggap tak ada kompetitor dalam bisnisnya dalam arti

DSC_0319 DSC_0315

pesaaing, karena yang disebut kompetitor justru bisa menjadi tolok ukur buat posisi kita. “Kompetitor kan kalau ada persaingan  head to head. Barang sama, harga sama. Kalau kita yang ditawarin kan beda.  Kita gak merasa ada kompetitor. Pasar kita juga udah tahu sendiri,” tambahnya. Namun demikian, bukan berarti Wisnu tetap santai dalam bekerja. Untuk menggenjot kemajuan perusahaan, pihaknya tetap memperhatikan kinerja SDM-nya. Dan, untuk perbaikan kinerja SDM ada pelatihan-pelatihan, yang mana tujuannya adalah untuk meningkatkan Individu value masing-masing. Tak Butuh Dukungan Keluarga Ditanya soal peranan keluarga, tegas Wisnu mengatakan bahwa dirinya tak butuh dukungan dari keluarga. Menurutnya, keluarga bukan faktor pendukung, tapi motivasi baginya. Yang penting dirinya menjalani takdir kehidupan, yaitu kalau takdirnya menjadi seperti sekarang, bekerja di PT Wika ya harus dimaksimalkan, bekerja dengan professional. No matter  keluarga, istri, atau teman. Baginya,  itu tak penting. “Saya gak butuh dukungan keluarga, tapi saat saya berkarir, keluarga itu motivasi saya. Saya gak butuh dukungan,” tegasnya. Lalu, apa visi dan misi pribadinya? Menjadi yang terbaik, tandasnya. Cuma, dirinya juga tak mau dibilang ambisius.  Karena menurutnya, ambisi itu untuk orang-orang yang tidak tahu tugasnya di dunia. Dia tak tahu untuk apa diciptakan di dunia. “Kalau saya, bukan ambisi, karena saya tahu tugas saya apa dan diciptakan untuk siapa, ya sudah begitu. Karir, jabatan itu datang sendiri. Saya gak ada ambisi. Ya pasti tujuan dan tugas saya, mendidik. Artinya ilmu yang saya miliki harus di-share ke orang lain. Berbagi ilmu, itu tugas saya yang saya sadari. Rejeki itu datang sendiri. Saya lagi susah rejeki datang sendiri. Dulu waktu muda saya iya ambisi, saya berfikir usia 30 jadi kepala seksi. Ternyata umur 26 jadi Kepala seksi. Saya targetkan umur 35-40 jadi manager, ternyata diumur 32 saya jadi manager. Kerja itu kan ibadah, hidup itu option, pilihan, mau susah atau mau senang itu pilihan. Tergantung kita. Kalau kita gak bisa nahan hawa nafsu ya gak ada batasnya,” urainya panjang lebar. Karena ingin selalu berbagi ilmu itulah, Wisnu yang juga suka  menulis kerap pula menjadi narasumber perusahaan untuk pelatihan dan sebagainya. Lalu apakah secara pribadi ia merasa sukses? Baginya sukses itu nisbi. Misal, ia memimpin satu tim kerja, dan bila tim itu gagal berarti dirinya tak sukses. Jadi, ukuran sukses baginya ialah jika memimpin satu tim lalu tim itu menjadi educated, lebih pengalaman, tambah pinter, itu baru namanya sukses.  Tapi, kalau sukses pribadi, menurutnya,  tak bisa diukur. “Saya gak pernah ada pikiran harus sukses. Tapi saya punya pikiran satu pekerjaan harus selesai. Misal, proyek selesai, mau itu untung atau rugi gak masalah. Saya lebih mengutamakan proses, bukan hasil. Tuhan juga begitu. Yang dihakmi adalah proses kamu menuju Aku. Jadi, misalnya kita mau sukses maka ikutin aja cara Tuhan bekerja.  Saya punya prinsip takdir itu bisa diubah dengan usaha kita,” ungkapnya. Ditambahkan oleh Wisnu bahwa dalam Islam ada “istilah” semua sudah tertulis di lahul mahfuz. Menurutnya, lahul mahfuz itu adalah potensi. Setiap manusia itu memiliki potensi yang sama. Analoginya, semua HP itu sama. Tapi kalau tak dipakai ya tak ada apa-apanya. Coba dipakai buat sharing, janji bisnis, akan ada potensi. Dan, dalam Al Quran disebutkan Allah takkan mengubah satu kaum, sebelum kaum itu mengubah dirinya sendiri. Itu artinya, manusia harus mengembangkan potensi yang dimilikinya, sehingga Allah akan mengubah hidupnya. “Saya tak berprinsip seperti air mengalir, saya justru menciptakan aliran air sendiri.  Saya bukan melawan arus tapi membuat arus sendiri,” ujarnya. Baginya hasil tak penting. Yang penting kerja keras, bahkan kalau bisa melebihi ekspektasi atasan, kemudian  ikhlas, tak pernah mengeluh, no complain. Hasil itu orang lain yang melihat bukan diri sendiri yang menilai. Kalau ada orang mengeluh soal gajinya kurang, salahnya sendiri kenapa dia mau bekerja disitu. Menjalani hidup itu, terang Wisnu, melihat benang merahnya Tuhan bekerja, lalu meng-create satu alur histori. Hal ini bisa dipelajari, karena melalui pengalaman/ experience. Takdir itu fakta dan terjadi dibawah alam sadar. Tapi kalau manusia bisa mengangkatnya di alam sadar maka dia akan bisa mengatur dirinya. Dan, semua orang harus sesuai maqom-nya, wadahnya. Kerja di satu profesi, karena sukanya di situ, bakatnya di situ, maka rejekinya unlimited. “Saya kerja di sini karena saya cinta dan karena hobi. Maka timbullah ikhlas. Maqom saya ya di sini. Bakat saya di sini,” ujarnya. Dijelaskan Wisnu, maqom seperti hadist qudsi yang mengatakan  “siapa yang tidak mengenali dirinya maka tidak akan mengenali Tuhannya.”  Maqom itu wadah kita, tentang pencapaian kita dimana. Ibarat keris itu warangkanya seperti apa. Terbuat dari apa. Itu artinya keris kita itu apa. Dan, yang bisa menemukan ya kita masing-masing. Tubuh kita ini warangkanya. Keris itu jati diri kita. Yang cocok dengan tubuh kita itu apa. Kerisnya itu apa. Itu maqomnya. Kita senangnya apa, itu yang harus digali. Itu yang rejekinya unlimited. Kita bisa mengenali diri kita dengan melihat kita sukanya apa, kelemahannya dimana. Wisnu menguraikan bahwa dirinya memilih kerja berdasar  cita-cita, yaitu cita-cita pertama, kerja di Wika, kedua, di Pertamina, ketiga, di Perumka. Dan ternyata, Allah memberi kesempatan untuk ketiganya. Setelah bekerja di PT Wika, Wisnu mencoba melamar di Pertamina, ia dapat panggilan untuk tes tapi tak ambil. Lalu, di Perumka (KAI sekarang) dirinya punya jaringan, karena pernah bikin skripsi tentang Perumka. Tapi, ia tak mau serakah karena sudah bekerja di Wika. Mendidik Anak-Anak “Saya liberal demokratis, free will,” tegasnya. Menurutnya, sSetiap manusia itu punya qudrat iradat-nya masing-masing.  Tugas sebagai orangtua adalah mengarahkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Menjadi inspirasi untuk anak-anak. Sebagai contoh, suatu hari ia melihat anaknya malas sekolah dengan alasan capek. Wisnu hanya omong pada sang anak, malu dong sama Ayah, karena Ayah juga sekolah. Alhasil, sang anak kembali semangat untuk bersekolah. Wisnu membebaskan anak-anaknya hendak menjadi apa kelak. Karena ia tak mau membunuh qudrat iradat sang anak. Qudrat iradat itu artinya keinginan dan tindakan. Jadi harus seimbang. Seperti maqom. Contoh, qudrat-nya lapar tapi kalau iradatnya tak ada ya akan tetap lapar. Seperti keris dan warangkanya. Contoh lainnya, misal qudratnya ingin traveling tapi tak ada dana, terus berfikir bagaimana caranya bisa traveling secara gratis, lalu berusaha mencari sponsor dan berhasil. Itu namanya qudrat dan iradatnya jalan, seimbang, seperti keris dan warangkanya. Itu terbuka maqomnya. Efeknya, finansial freedom. Tak perlu mikirin uang karena uang datang dengan sendirinya. Penyuka motor touring dan music ini berujar bahwa dalam hidup dirinya memegang prinsip; 1. doa anak yang soleh, 2. ilmu yang bermanfaat, 3. amal jariyah dan sodaqoh. Sehingga apa yang dikerjakan selalu didasari keikhlasan. Bukan sekedar mengharap pahala. Dan, yang lebih berarti itu, tambahnya, kalau kita bisa menangkap sinyal Al Quran dan menjalaninya. Kalau kita mengamalkan ayat Al Quran dalam keseharian maka rejeki akan mengalir. “Itu yang saya rasakan.  Sholat bagi saya itu adalah bentuk komunikasi dengan Allah, dengan berdzikir dan bermunajat. Bermunajat itu seperti curhat. Kalau kita mau dibuka maqom-maqom kita maka jadikanlah Tuhan itu seperti Kekasihmu,” terang Wisnu. Harapan kepada pemerintah Seharusnya pemerintah mendukung proyek-proyek apartemen seperti bisnisnya. Karena manusia kan terus bertambah, otomatis solusi yang terbaik itu highrisk building. Selain itu, birokrasi jangan berbelit, sehingga Indonesia ini bagus untuk investor. “Kalau di sini (Sidoarjo) lancar praktis dan pemerintah di sini mendukung, karena Prospero ini merupakan kebanggan tersendiri bagi pemerintah setempat. (dengan) tinggi 30 lantai, tinggi bangunan lbih kurang 100 meteran,” tukas Wisnu.. Possisinya sebagai Manajer di PT Wika memang belum merupakan top-position. Di atasnya masih ada manager divisi, dan dua step lagi menjadi direktur. Tapi, dirinya tak pernah berfikir jabatan tersebut,, karena Wisnu berfikir lebih jauh lagi yakni menjadi pemilik perusahaan, sehingga hidupnya bisa bermanfaat karena memberi hidup untuk orang banyak. “Itu tujuan hidup saya. Ini bukan obsesi, tapi proses yang harus saya capai, memiliki perusahaan, mensejahterakan banyak orang,” jelasnya. Baginya hidup itu seperti puzzle, dari A sampai Z sudah tersedia, tapi masih berantakan. Oleh karena itu, ia pun menmpuh pendidikan S-2 Magister yang diumpamakan sebagai kunci untuk merapikan puzzle hidupnya.  “Yang berantakan ini kan ide-ide, nah ada ilmu yang untuk merapikan itu yaitu S-2 Magister saya,” tandas Wisnu. Menurut istri dari Dewi Ismayati ini, ilmu itu harus dibagi sehingga ilmu itu sendiri akan terus bertambah. Oleh karena itu, agar ilmunya  terus bertambah, Wisnu menerapkan aturan main perusahaan bahwa bila di setiap project ada masalah maka satu jam harus selesai. dengan aturan demikian, ilmu kita bertambah, karena kita ditekan untuk cari solusi. Lalu, kenapa bertambah? Karena ilmu kita terpakai atau bermanfaat. Ibarat sebuah teko yang isinya ilmu, kalau isinya tak dituangkan maka isinya akan stagnan dan tak bertambah ilmu yang baru.  Sebagai contoh, cerita Wisnu, ketiak ia menggarap proyek Paragon Semarang, proyek itu telah divonis menjadi proyek merugi karena permasalahan beton, dimana dalam kontrak kerja perhitungannya memakai system silinder. Tapi yang dihitung oleh rekan-rekan kerjanya adalah sistem kubus. Dengan demikian ada selisih harga sekitar RP 100.000 per kubik . Padahal saat itu ada 40.000 kubik yang harus dipasang. Bayangkan, hampir Rp 4 milyar kerugian yang harus ditanggung. Namun, dengan ilmu yang dimiliki Wisnu mencoba mendesain ulang dan mengajukan desain itu pada mitra kerjanya. Saat itu, ia tak meminta royalty, karena prinsipnya ia ingin sodaqoh ilmu. Alhasil,  desainnya disetujui dan dipakai. “Berikutnya, rejeki saya malah datang dengan sendirinya. Itu karena saya ikhlas,” pungkas bapak dari Nabila, Mahija, Raja dan Sekar ini mengakhiri pembicaraan. (baguspram)

Copyright © 2017 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.