Month: December 2012

Winita E. Kusnandar

No Comments

CEO Kusnandar & Co.

Menolak Profesi Femininmi, Menjalani Profesi Menantang dan Memiliki Otorisasi

Sosok Winita E Kusnandar sangat berbeda dengan perempuan di zamannya. Pada masa kecilnya, kebanyakan perempuan memiliki cita-cita menjadi guru, dosen, akuntan atau PNS yang lebih sesuai dengan kodratnya. Tetapi ia memiliki pandangan lain mengenai masa depannya. Ia tidak tertarik untuk pekerjaan-pekerjaan yang didominasi oleh perempuan dan menginginkan sesuatu yang lebih menantang.

“Cita-cita awal adalah menjadi Kowad atau profesi lain yang tidak feminin, yang dapat memberi posisi dalam profesi dan otorisasi. Saya terinspirasi oleh Hakim Agung Sri Widowati, SH, pada waktu itu merupakan satu-satunya Hakim perempuan di PN Solo. Jadi pada waktu itu prinsipnya asal bukan profesi yang di dominasi perempuan, tetapi profesi yang menantang. Dan, profesi hukum yang saat itu masih didominasi kaum pria menjadi pilihan,” kata CEO Kusnandar & Co ini.

Di sisi lain, lanjutnya, profesi hukum sangat membutuhkan keuletan, keberanian, strategi yang jitu dan solidaritas yang kuat. Selain itu, dibutuhkan juga intelegensia yang tinggi, sehingga sangat menantang karena secara empirik perempuan, bukan hanya pria, juga dapat eksis memberikan kontribusi bagi penegakan hukum. Untuk sampai pada posisi seperti sekarang ini, ia harus melalui perjalanan panjang. Sesaat setelah memasuki bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Parahyangan, ia sudah magang di sebuah kantor hukum di Jakarta, yaitu Delma Yuzar Advocate & Solicitor, Legal Consultant.

Di kantor hukum ini, Winita mempelajari praktek hukum pada perusahaan multinasional seperti Caltex Pacific dan The Chase Manhattan Bank N.A. Pengalaman magang menambah pengetahuannya terutama seputar Producton Sharing Contract (PSC). Itu sebabnya ia mengambil masalah PSC untuk menyusun skripsinya. Setelah empat tahun menjalani magang di sela-sela kesibukannya kuliah Winita berhasil menyandang gelar Sarjana Hukum.

Mengikuti kelulusannya, ia tertarik untuk menambah pengetahuannya di bidang notariat. Di tahun itu pula, ia bergabung di Kantor Notaris Kartini Muljadi. Setahun kemudian, ia bergabung di kantor hukum milik pengacara kondang Adnan Buyung Nasution. Ia terjun menangani perkara pidana dan perdata. “Di sini saya merasa mendapat tantangan untuk mandiri. Saya harus jungkir balik dan belajar dari kesalahan sendiri,” katanya.

Berbekal pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, Winita memberanikan diri membuka kantor hukum sendiri. Ia mendapat dukungan kuat dari seorang pengusaha multinasional, Jan Darmadi. Diawaki pula oleh seorang asisten pengacara, seorang sekretaris, seorang yang mengurus keuangan, dan seorang office boy, ia mendirikan Kusnandar & Co.pada tahun 1980.

Masih di awal berdirinya Kusnandar & Co., Winita kemudian menawarkan konsep pelayanan satu atap. “Konsep one stop service ini dilatarbelakangi oleh sistem kerja klien yang datang ke kantor kami. Mereka membawa berbagai permasalahan yang satu sama lain memiliki keterkaitan. Mulai masalah korporasi, industri keuangan, investasi, tenaga kerja asing, maupun lokal, IPR, sampai litigasi,” katanya. Dengan pelayanan satu atap, lanjutnya, segala aspek kebutuhan klien bisa ditangani, baik tingkat primer maupun sekunder. Mereka tak perlu ke tempat lain untuk pemenuhan kebutuhan selanjutnya.

Kusnandar & Co. memiliki berbagai divisi, yaitu Foreign Investment Division, Banking and Finance Division, Tax Division, Land Division, Real Estate Division, Capital Market Division, Labor Division, Intellectual Property Division, Immigration Division, dan Admiralty and Litigation Division. “Selain mampu melayani kebutuhan klien secara total, konsep yang ditawarkan ini memberi nilai tambah bagi pemecahan suatu masalah. Pelayanan satu atap ini menghasilkan pengalaman yang berguna untuk meninjau suatu masalah hukum dari berbagai segi,” katanya.

Untuk tujuan mengembangkan diri sekaligus promosi, Winita aktif mengikuti berbagai pendidikan singkat berupa kursus atau seminar, baik di dalam maupun luar negeri. Selain sebagai peserta, kadang ia turun sebagai pembicara, moderator, atau pembanding. Pendidikan non-formalnya antara lain konsultan HKI, konsultan pasar modal, kurator, pengacara kepailitan, pengacara arbitrase, dan penerjemah tersumpah. Winita juga aktif di berbagai organisasi profesi internasional ini, yaitu Advoc Asia Pasific, ASEAN Intellectual Property Association, Inter-Pacific bar Association (IPBA), Singapore Arbitration Center (SIAC), Asia Law Hongkong, International Bar Association di Amerika Serikat dan Inggris, Chartered Institute of Arbitration dan seterusnya.

Dalam mengelola Law Firm, Winita menganut prinsip etos dan etika kerja yang tinggi, ulet, disiplin, bertanggung jawab dan penuh kehati-hatian (prudent). Selain itu, ia juga menjalin kerjasama dengan beberapa law firm asing terkemuka baik di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Hong Kong dan Singapura. Semakin meningkatnya tuntutan pelayanan jasa hukum dari masyarakat, maka perlu meningkatkan mutu layanan kepada klien dan berusaha menciptakan one-stop-service (pelayanan satu atap).

“Dengan sistem one-stop-service, pelayanan kepada klien sangat efektif sebab klien yang datang akan dilayani ataupun diperiksa segala aspek yang sekiranya diperlukan atau untuk setiap kebutuhannya, baik tingkat primer ataupun sekunder. Klien tidak perlu lagi ke tempat lain bila membutuhkan jasa pelayanan selanjutnya. Untuk itu, selain melayani jasa hukum, kami juga melayani jasa lain termasuk yang berkaitan dengan pajak, keuangan, manajemen, SDM hingga pengurusan dokumen, perijinan dan sworn translator,” tuturnya.

Mengembangkan dan Menegakkan Hukum

Kusnandar & Co dibawah pimpinan Winita telah menjalani kerjasama dengan banyak instansi pemerintah. Hampir semua instansi pemerintah terkait bekerjasama dengan memberikan informasi yang diperlukan dalam menjalankan layanan hukum. Winita sebagai kuasa hukum dalam berperkara dengan perjuangan yang menganut etika hukum yang tinggi sehingga senantiasa independen dan terbebas dari segala pengaruh politis atau lainnya.

“Dalam menjalankan profesi kami, tidak pernah sekalipun kami membiarkan praktek maupun pribadi kami tersandera oleh siapapun dan dalam bentuk apapun. Baik oleh pemerintah, quasi pemerintah atau organisasi manapun, bahkan Bank Dunia sekalipun, karena kami juga menjadi rekanan kerja mereka,” ujarnya.

Law Faiirm yang dikelola Winita memberikan nilai tambah dengan mengandalkan dan menerapkan manajemen pengelolaan. Adapun metode pelayanan yang digunakan selalu mengutamakan kepentingan klien di atas segalanya dengan konfidentialitas yang tinggi tanpa mengurangi etika profesi. Setiap produk hukum yang diterbitkan oleh kantor Winita selalu merupakan produk hukum yang komprehensif, professional dan dapat diandalkan karena dikeluarkan setelah melalui beberapa fase yang penuh kehati-hatian.

Winita menjamin, produk hukum terbitan Kusnanda & Co merupakan produk hukum yang integrated/terpadu antara ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku/normative dengan preseden-preseden/praktek yang terjadi. “Lawyer kami, dalam membuat opini hukum atau produk hukum lainnya, selalu berpedoman kepada (i) hasil review peraturan yang berlaku maupun (ii) hasil riset di lapangan termasuk instansi terkait dan (iii) analisa hukum yang independen dan mendalam,” imbuhnya.

Dengan menggunakan jasa law firm milik Winita, sebuah perusahaan klien akan memperoleh banyak keuntungan. Antara lain memperoleh advise antisipasi risiko, menciptakan harmonisasi hubungan kerja, menjamin legalitas dan validitas suatu kegiatan usaha. “Kerjasama baik melalui kontraktual maupun suatu entitas baik antara pihak lokal maupun dengan pihak luar negeri. Memperoleh bantuan hukum untuk proteksi klien ataupun mempertahankan hak klien,” tambahnya.

Saat ini, Kusnandar & Co pimpinan Winita mampu untuk menangani berbagai jasa, sebagai berikut: Foreign Investment & Trade, Banking & Multi-Finance, Capital Market & Securities, Merger-Acquisition-Consolidation & Restructuring, Land/Property Conveyance, Realty Development & Construction, Natural Resources & Plantation, dan IPR Mark, Patent, Copyright, Trade Secret, Industrial Design & Integrated Circuit. Layanan lain adalah Labour, Industrial Relation Union (CLA), Civil-Commercial- Criminal Litigation, Local & Overseas Arbitration/Mediation,Official Receivers & Administers, Liquidation & Bankruptcy.

“Kita juga melayani Tax Review & Maintenance, Accounting Service, Sworn Translation serta Litigasi, Mediasi & Arbitrasi dan Hubungan Industrial, Tata Usaha Negara,” kata Winita. Selain itu, dalam menjalankan law firm dengan beragam jasa yang ditawarkan, ia tetap mengusung misi yang sangat luhur bagi bangsa ini. “Misi saya membantu mengembangkan dan menegakkan hukum dengan benar agar Indonesia mendapat tempat yang terhormat dan dihormati oleh berbagai bangsa dan negara di dunia,” tambahnya.

Perempuan Warga Kelas Dua

Berbicara mengenai kesetaraan gender di Indonesia, Winita mengutip UU No. 2/2008 tentang Partai Politik. Di mana telah dibuka kesempatan bagi perempuan dengan kuota 30%. Bukan hanya untuk pendirian partai politik, tetapi juga pada aturan kepengurusan partai politik pada setiap tingkatan dan dalam menentukan bakal calon anggota legislatif. Untuk itu semua, diperlukan rekonstruksi budaya guna mereduksi dominasi pria.

“Namun demikian, permasalahan perempuan tidak terlepas dari kondisi budaya atau konstruksi sosial itu sendiri. Apalagi masyarakat Indonesia telah terlanjur menganut budaya patrilineal yang sering kali memposisikan perempuan sebagai warga kelas dua. Khususnya di dalam keluarga,” tegas perempuan yang akan mengabdikan diri dengan terus menggeluti profesi lawyer sampai tidak berguna lagi ini.

Perempuan Indonesia, lanjut Winita, telah turut berkiprah mensukseskan pembangunan nasional baik di sektor ekonomi, bisnis, pendidikan dan kesehatan bahkan pemerintahan. Jabatan dalam pemerintahan seperti walikota perempuan, bupati perempuan, anggota parlemen perempuan dan sebagainya, sudah jamak di Indonesia.

Menurut Winita, pemerintah mempunyai peranan penting di dalam menentukan peran perempuan Indonesia. Misalnya, mengambil langkah afirmatif untuk merekrut lebih banyak lagi perempuan di tempat kerja. Untuk itu, otoritas publik perlu proaktif mengumpulkan dan menyediakan data maupun indikator tentang gender. Sudah seharusnya, kaum perempuan patut menuntut kesetaraan gender dalam segala bidang.

“Banyak perempuan yang berlindung dibalik konsep pemikiran pasif bukan pro-aktif sekadar agar mereka dapat terus menikmati dan tidak perlu meninggalkan zona nyaman, comfort zone yang dinikmatinya. Mereka merasa tidak perlu mempunyai identitas sendiri, hak dan kewajiban serta independensi sendiri dan tidak merasa perlu meniti prestasi di luar rumah tangga atau keluarganya. Mereka cukup puas menerima dan menikmati zona nyaman meskipun harus hidup dengan segala ketergantungan pada pendamping hidupnya,” tandasnya.

Sebagai pengelola firma hukum, Winita juga mempersiapkan kaderisasi dan regenerasi. Winita memberi kesempatan kepada generasi penerus untuk ikut berkiprah bahkan dalam menentukan kebijakan. Di era saat ini, manusia hidup dalam sebuah ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge economy) dengan masyarakat yang sudah seharusnya berpengetahuan setara (knowledge society).

Menurut Winita, daya dan kemampuan kreativitas yang tinggi di masyarakat memaksa siapapun harus dapat memecahkan masalah sesuai dengan pengetahuannya. “Apalagi masyarakat sekarang telah berkembang pesat. Agar dapat memecahkan masalah dengan tingkat kecerdasan yang setara atau berimbang –ingenuity- mau tidak mau kita harus menciptakan generasi penerus dengan kualitas ini. Itu jika kita tidak ingin gagal,” cetusnya.

Winita menyatakan dirinya merasa puas atas praktek hukum yang dijalaninya selama ini. Apalagi kantor law firma Kusnandarr & Co yang didirikannya sudah mendunia dikenal di berbagai belahan dunia. Firma hukum ibu dari Arno Rizaldi, Andro Rinaldi, Andrio Rivaldi dan Axa Rivani dan 10 (sepuluh) anak asuh yang tinggal bersamanya ini, memiliki layanan yang telah diterima oleh banyak perusahaan, nasional maupun internasional. “Terutama yang menjadi bagian dari Fortune 500, Legal 500 bahkan International Who’s Who Professional, tahun 1997, 2006-2007, 2010-2011. Kemudian Great Minds of the 21st Century 2009, ABI Fellow 2009 serta menjadi acuan Bank Dunia dan masuk dalam database Wikipidea,” imbuh istri Dipl. Ing. Heru Setiawan ini.

Menurut alumnus Program Diploma King’s College – University of London, Program Sarjana Fakultas Hukum Unpar, Program Master of Business Administration – University of Leicester, dan Program Doktoral Universitas Indonesia ini, law firm miliknya memiliki banyak saingan. Saat ini, terdaftar di Legal 500 sejumlah 59 firma hukum, 30 diantaranya khusus Legal Consultant dan 29 sisanya Litigator.

“Meskipun kantor kami lebih banyak menangani masalah hukum sebagai Legal Consultant tetapi kami juga menangani litigasi di lembaga yudisial sebagai Litigator. Legal 500 adalah buku, berisikan data dari law firm-law firm terkemuka di seluruh dunia dan kantor hukum kami dua kali dinobatkan sebagai Recommended Law Firm untuk Banking, Finance and Restructuring dan Intellectual Property Tahun 2004 dan Intellectual Property tahun 2010,” kata Winita E Kusnandar.

 

 

Maya Miranda Ambarsari, SH., MIB

No Comments

Presiden Direktur PT. Indo Multi Niaga, PT. Indo Multi Cipta, PT. Indo Mineral Nusantara dan PT. Indo Mining Kencana (perusahaan-perusahaan di bidang pertambangan emas, dan mineral pengikutnya).

Bangga Pada Ketangguhan Perempuan Indonesia

Sebagai seorang perempuan dengan jabatan Presiden Direktur dibeberapa perusahannya, Maya Miranda Ambarsari, SH, MIB,tetap terlihat bersahaja, ramah dan low profile.

Ketika ditanyakan pendapat mengenai perempuan Indonesia, Maya terlihat sangat antusias dan bersemangat. Menurutnya, banyak sekali perempuan Indonesia yang mempresentasikan dirinya secara sempurna, baik itu berkaitan dengan urusan rumah tangga maupun kariernya.

Saya bangga sebagai perempuan Indonesia, lebih dari itu saya kagum dengan perempuan-perempuan Indonesia, yang mampu melakukan multitasks secara bersamaan, karir dan rumah tangga, tanpa ada yang dikesampingkan.

Walaupun begitu, saya juga kagum dan appreciate terhadap perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga dan melepas semua atribut yang ada. Itulah pilihan dantujuan hidupnya, mengabdi kepada keluargakata mantan Chairwoman of Srikandi, Association of Indonesian Women in Multinational Marriages ini.

Perempuan kelahiran 9 Juli 1973 ini menyebutkan bahwa perempuan hebat bukanlah berpatokan hanya kepada perempuan yang sukses berkarier. Perempuan hebat adalah perempuan yang tahu bagaimana berperan dalam menjalankan hidupnya. Contohnya: ibu dan kakak perempuannya, yang merupakan panutan Maya selama ini. Menurut Maya, mereka berdua melambangkan perempuan Indonesia yang ideal, perempuan yang mengerti menempatkan dirinya namun tangguh dalam mengarungi hidup.

Maya berpendapat bahwa ada hal-hal di mana seorang perempuan harus alert. Jangan sampai ketika perempuan berada dalam comfort zone, baik itu di karier maupun rumah tangga, lalu melupakan kewajibannya. Bila memilih menjadi ibu rumah tangga, mereka sebaiknya mengerti bagaimana mengurusi kebutuhan suami dan anak-anaknya, pandai mengaturkeuangan untuk mengamankan keluarga di masa mendatang, dan lain lai yang bersifat domestik” katanya. Sebaliknya, bilamana memilih berkarir, maka serius dalam melaksanakan pekerjaan, sehingga profesional dalam bekerja dan berpola laku, namun demikian urusan keluarga jangan sampai terlantar, sebaliknya, tetap harus diprioritaskan, jal ini merupakan konsekwensi pilihan untuk berkarir.

Maya sendiri sebenarnya adalah tipe perempuan multitasks yang lebih senang melakukan kegiatan di rumah. Meskipun sebagai pemilik perusahan-perusahaan tersebut di atas, dan juga kedudukan puncak, namun disisi lain, Maya sangat senang dengan kegiatan urusan domestik ini, seperti mendekorasi rumah, memasak, berkebun dan tentunya mengurus keluarga. Juga, bilamana sedang bersantai, Maya menikmati hari hari-harinya dengan berolahraga di rumah(berenang dan fitness) serta membaca dan menonton acara-acara favoritnya, misalnya National Geography (berkaitan dengan kehidupan alam). Bahkan, tidak jarang ia lebih memilih untuk menyelesaikana pekerjaan kantor di rumahnya yang asri di bilangan Cipete. “Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling mulia dari seorang perempuan. ungkap ibu dari Muhammad Khalifah Yusuf (8 tahun) ini.

Maya berusaha menyeimbangkan antara karir dan keluarga, dan yang pasti, sisi spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Tidak heran, Maya biasa sholat tahajud ditengah malam, lalu tidur sejenak dan kemudian bangun pagi untuk shalat subuh, lalumemulai hari dengan berpikir positif. Sedangkan kegiatan mengaji, biasa dilakukan di mobil saat perjalanan menuju kantor. “Sambil menyelam minum air, sambil ke arah kantor, yaaa menimba pahala”, senyumnya lagi.

Maya menikmati semua kegiatan dan aktivitas rutin tersebut setiap harinya, tanpa rasa jenuh, bosan atau lelah. Menurutnya, selalu terdapat hikmah dan value yang dapat dipetik setiap hari dalam kehidupan ini. Meskipun terlihat monoton, rutinitas tersebut selalu memberikan hal-hal baru yang dapat diambil dan dipelajari. “Yaitu nilai positif kehidupan,” katanya penuh rasa syukur.

Seiring dengan membesarnya perusahaan dan banyaknya para konsultan ahli yang dipekerjakan untuk pelaksanaan pekerjaan pertambangan ini, membuat Maya dapat lebih mengatur waktu untuk kegiatan-kegiatan lainnya, baik itu untuk urusan keluarga (yang tetap menjadi prioritas Maya), terlibat dalam organisasi kewanitaan, juga aktif dengan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Tapi yang jelas, semua itu membuat hidup saya menjadi penuh kebahagian. No more working hard, just working smart. Alangkah meruginya saya bila tidak bisa menikmati keindahan yang telah diberikan oleh Allah itu, dengan kegiatan-kegiatan positif,” tegasnya.

Maya mencontohkan beberapa keindahan anugerah Allah untuk dinikmati. Antara lain, menikmati perkembangan anak yang tumbuh dewasa, menikmati kehidupan keluarga yang bahagia, menikmati semua yang Allah telah berikan kepada Maya. Semua harus dinikmati dengan rasa penuh rasa syukur, salah satu perwujudan rasa syukur itu adalah dengan memaksimalkan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, imbuhnya lagi.

Bahkan ketika nonton TV atau bersama-sama membaca koran di pagi hari dengan keluargapun, merupakan momen indah yang saya syukuri,” kata perempuan yang berlangganan banyak suratkabar dan majalah nasional ini.

Ia juga memiliki koleksi buku berkualitas yang tidak terhitung jumlahnya mengingat minatnya yang beragam. “Saya membiasakan membaca setiap hari untuk menambah ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Perusahaan untuk Kepentingan Masyarakat

Perusahaan-perusahaan Maya yang bergerak di dunia pertambangan ini, melakukan banyak hal bermanfaat bagi masyarakat di sekitar perusahaan beroperasi. Seperti pembangunan jalan, jembatan, sekolah, rumah ibadah sampai listrik dan telepon, kesehatan, pendidikan adalah merupakan program-program yang diaplikasikan kepada pada masyarakat sekitar.

Walaupun stigma perusahaan tambang itu bersifat komersial, namun sisi sosial dan kemanusian adalah salah satu tujuan kami dalam mendirikan perusahaan, jadi tidak profit semata. semaksimal mungkin membuka lapangan pekerjaan dan bagi yang memiliki potensi, di gandeng untuk ikut mengkontribusikan kemampuannya dalam rangka kegiatan pertambangan ini,” kata istri Ir. Andreas Reza, MH ini.

Perusahaan yang dikelola Maya tidak akan memberikan janji-janji kepada masyarakat, namun, Maya berusaha melakukan yang terbaik sepanjang kemampuannya, misalnya membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan, membangun perekenomian swadaya, membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan mutu pendidikan. Tujuannya, supaya masyarakat di sekitarnya memproleh perbaikan ekonomi. Selain itu, rakyat juga ikut merasakan benefit-benefit laindengan keberadaan perusahaan yang beroperasi di daerah mereka.

Maya bahkan sangat ingin melihat masyarakat di sekitar perusahaan mampu mandiri. Artinya, mereka tidak hanya sekadar sejahtera tetapi juga menularkan kesejahteraan kepada masyarakat lain. Sedangkan para karyawan perusahaan, diharapkan memberikan kontribusi semaksimal mungkin terhadap perusahaan. Untuk mencapai keberhasilan dalam pekerjaan, Maya tidak ragu-ragu untuk memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menimba ilmu, entah itu melanjutkan sekolah, memberikan training-training, seminar, workshop dan lain-lain. Bahkan Maya berujar bahwa perusahaannya adalah tempat dimana para karyawan diberikan kesempatan untuk menimba ilmu seluas-luasnya, “anggap saja bekerja diperusahaan ini seperti sekolah tapi dibayar, sehingga setiap pekerjaan dianggap sebagai sarana belajar dan mencari ilmu serta pengalaman”.

Apabila suatu ketika karyawan memperoleh tawaran dari perusahaan lain yang lebih menarik di perusahaan Maya, maka Maya dengan lapang dada akan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada karyawan tersebut. Maya menganggap bahwa “by nature” manusia akan mencari kehidupan yang lebih baik, yang terpenting disini adalah karyawan tersebut sudah dibekali oleh ilmu, dan pengalaman di perusahaannya sehingga InsyaAllah berguna bagi bagi masa depannya karyawannya nanti.

Apa yang mendasari Maya sehingga ia berpikir demikian? Ternyata jawabannya sederhana, “Semua itu karena didikan orang tua yang lebih banyak memfokuskan pada bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat untuk kepentingan orang banyak, sesuai dengan doa saya, semoga Ya Allah hambaMu ini menjadi manusia yang berguna bagi manusia lainnya”.

Dalam menjalankan bisnisnya, tidak hanya melulu berfokus pada pekerjaan, namun juga norma dan kaidah yang berlaku, menyangkut agama, sosial, organisasi dan kesejahteraan masyarakat banyak sehingga balancedalam melakoni pekerjaan. Kami juga membangun corporate culture yang antara pemilik, manajemen dan karyawan adalah satu kesatuan (unity) dan menerapkan sistem kekeluargaan, hingga bilamana merupakan bagian keluarga, maka semua merasa memiliki perusahaan ini, merasa bahwa I’m a part of the family, sehingga sense of belonging nya tinggi,” ungkapnya.

Maya tidak mengingkari bahwa dalam menjalankan bisnis, perusahaan tidak lepas dari orientasi mendapatkan keuntungan maksimal, meskipun demikian, tetap sesuai dengan cita-citanya yaitu dengan niat baik dan keinginan luhur untuk menyejahterakan masyarakat. Harapan saya, Perusahaan dapat memberikan value yang baik bagi mereka, kalau suami atau istri bekerja, anak-anaknya akan bisa sekolah atau memiliki kehidupan yang lebih baik. Jadi kalau kita tarik garis lurus, tujuan membangun perusahaan selain mencari profit, tetapi inti dari perusahaan adalah berbuat kebaikan,” kata perempuan yang juga menjadi Presiden Direktur pada PT Indo Multi Niaga, PT. Indo Multi Cipta, PT. Indo Mineral Nusantara dan PT. Indo Mining Kencana ini.

Seni Menjalankan Bisnis

Maya Miranda Ambarsari, SH., MIB memang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang mining/pertambangan. Meskipun demikian, semua itu tidak lantas membuatnya ciut dan tidak percaya diri. Justru sebaliknya, Maya merasa tertantang pada bidang pekerjaan yang menurut orang lain “pekerjaan keras dan dunia lelaki” tersebut.

Dengan background sebagai lawyer dan Master di bidang Internasional Bisnis, (MIB) dari Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia, Maya justru terpacu dan pantang mundurdalam menjalani bisnis pertambangan. Bekerja dan belajar dengan keras serta jatuh bangun dalam mengawali karir merupakan bagian dari perjalanan proses perusahaan pertambangan yang dikelola bersama suaminya yang juga partner bisnisnya.

Dalam pekerjaan suka-duka dan riak-riak pasti ada. Tetapi bukankah suka duka itu seni dalam menjalankan bisnis. That’s the art of doing the business, jadi hadapi, jalani saja. Kenapa saya yang duduk di sini, pasti Allah memiliki tujuan tersendiri karena banyak perempuan hebat lain,” tandas Maya yang juga kadang jadi Penulis dan kontributor independent di beberapa majalah ini.

Namun demikian, latar belakangnya sebagai lawyer justru banyak membantu. Begitu juga dengan International Businessnya, memudahkan Maya untuk berhubungan dengan para pemain perusahaan mining lainnya dan konsultan-konsultan asing dalam memahami seni bisnis dari sudut hukum. “Yang pasti, pada awal pendirian dan menjalani perusahaan yang melibatkan hajat hidup orang banyak ini membutuhkan kerja keras ekstra, baik secara physically, mentally dan tentunya spiritually. Ibaratnya kami ini adalah nahkoda-nya,” katanya.

Dalam menjalankan perusahaan, Maya selalu mempedomani ajaran kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Di mana seorang pemimpin haruslah bersifat Sidiq, Amanah, Tabliq dan Fatonah, yang dijabarkan sebagai berikut:

  • Sidiq, kejujuran, kebenaran selalu mendasari perilakunya sebagai Pemimpin

  • Amanah, kepercayaan yang diembannya tidak akan dikhianatinya

  • Tabliq, keterbukaan menjadi cara Maya memimpin sehingga bawahan dapat mengetahui dan memahami kemana arah yang dituju perusahaan ini. Visi dan misi perusahaan selalu dijelaskan kepada seluruh jajaran sehingga mereka mampu mengikuti gerak langkah perusahaannya

  • Fatonah, cerdas, diwujudkan dengan terus menerus belajar, baik formal maupun non formal. Hal ini juga dilakukan terhadap karyawan sehingga mereka selalu meningkat kompetensinya

Sebagai orang berdarah suku Jawa dari garis papanya (H.M. Yusuf, SH, MBA, MH) Maya menerapkan asas-asas kepemimpinan menurut filsafat Asta Brata. Ajaran ini mengharuskan seorang pemimpin mewujudkan sifat-sifat yang dicontohkan oleh 8 (delapan) anasir alam yaitu api, angin, air, tanah, matahari, bulan, bintang dan mega. Memberikan kesejahteraan kepada bawahan seperti sifat tanah sebagai sumber penghidupan, memberi kesejukan seperti sifat mega, berlapang dada seperti lapang/luasnya lautan, memberi arah seperti sifat bintang dan lain-lain. Sementara sang ibu Hj. Emmylia Latifah Yusuf berasal dari Bengkulu, Maya menerapkan filosofi; berani mengekpresikan apa yang menurutnya benar, tidak takut menegakkankebenaran dan pantang menyerah, gigih dan ulet dan selalu ber optimis.

Menjalankan perusahaan pertambangan tidak dapat diibaratkan seperti air mengalir. Sebaliknya, kadang saya bahkan harus menantang aliran arus air itu. Semua saya lakukan mengingat usaha ini menyangkut hajat hidup orang sehingga harus tenang, fokus dan serius,” kata alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila Jakarta ini.

Di tengah ribuan tenaga kerja diperusahaannya yang 97 persen laki-laki, ia menempatkan dirinya menjadi figure seorang ibu yang memberikan keteduhan, namun juga tegas.

Dalam menyelesaikan persoalan, saya berusaha untuk mengajak mereka berdialog dan siap ditemui kapan saja. Everybody is welcome, bicara secara heart to heart,” kata mantan model, koreografer dan juri beberapa kontes modeling ini.

Tidak hanya di kantor, Maya juga menerapkan keterbukaan di lingkungan tempat tinggalnya. Di mana rumahnya terbuka untuk kegiatan sosial,bahkan, salah satu rumahnya digunakan untuk berbagai kegiatan mulai pengajian, Posyandu, PKK hingga rapat RT/RW. Saya yakin rumah itu akan menjadi barokah dengan kegiatan tersebut. Pesan saya, setinggi-tingginya kita mengejar impian dalam dunia bisnis, maka setinggi-tinggi pulalah kita mengejar kebaikan, investasi dunia akherat, katanya mengakhiri perbincangan hangat tersebut.

Karen Agustiawan

No Comments

The Backbone of Indonesia

Sejak pertama kali bertemu dengan Karen Agustiawan beberapa bulan lalu–waktu itu ia masih menjabat sebagai Direktur Hulu PT. Pertamina–seperti ada energi besar yang melingkupi perempuan alumni ITB angkatan 1978 ini.  Waktu itu, saya mewawancarainya untuk kepentingan penulisan buku alumni ITB78.

Dan, ketika akhirnya, nama Karen Agustiawan diumumkan menjadi Direktur Umum Pertamina, saya tidak kaget. Ia memang pantas menerima jabatan itu. Siapa Karen Agustiawan? Berikut ini sekelumit catatan saya, tentang profil sarjana Teknik Fisika ini:

Pada usia ke lima puluh tahun, Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) mencetak sejarah karena dipimpin seorang perempuan. Ia adalah Karen Agustiawan, alumni ITB78 jurusan Teknik Fisika. Apa keistimewaan Karen sehingga ia memperoleh kepercayaan yang begitu prestisius? Posisi ini pula kemudian yang menjembataninya untuk duduk sebagai Dirut Pertamina. Perempuan pertama yang menduduki jabatan sebagai Dirut Pertamina.

Kalangan perminyakan berpendapat bahwa “the backbone of Pertamina” adalah Direktorat Hulu. Padahal, “the backbone of Indonesia” adalah Pertamina. Nah, bayangkan betapa vital direktorat yang sekarang berfungsi sebagai sub-holding dan membawahi seluruh portofolio usaha Pertamina di sektor hulu dengan enam anak perusahaan ini. Dan, tentu saja, betapa prestisius serta strategisnya sebuah jabatan Direktur Hulu di Pertamina. Sebagai “negeri minyak”, Indonesia jelas masih sangat mengandalkan devisa dari sektor yang satu ini. Dari data statistik dapat kita baca bahwa 70% pendapatan Pertamina disumbang oleh Direktorat Hulu.

Karen Agustiawan, anak bungsu dari seorang Guru Besar Universitas Padjajaran bernama Prof. Dr. Soemiatno, tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengemban kepercayaan begitu besar memimpin Direktorat Hulu Pertamina. Bahkan, kini sebagai Dirut Pertamina.

Karen adalah orang luar Pertamina. Ia lama berkarir di Halliburton, sebuah perusahaan migas multinasional. Karen menjadi orang dalam Pertamina ketika ia diminta menjadi staf Ahli Dirut Pertamina. Jika kemudian Karen naik menjadi Direktur Hulu –sebelum menjadi Dirut– itu karena nama-nama yang sempat diplot untuk menduduki jabatan Direktur Hulu tak lolos ‘verifikasi’. Alhasil, otomatis Karen ‘naik’ sebagai Direktur Hulu. Memang, Karen pernah dilamar untuk posisi ini. Alasannya, Pertamina butuh penyegaran. Latar belakang Karen yang punya reputasi bagus di beberapa perusahaan perminyakan dunia seperti Mobil Oil dan Halliburton dianggap memadai untuk membawa atmosfer baru di Pertamina. Toh, secara halus, Karen sempat menolak. “Akan lebih efektif jika saya berada di level eksekusi untuk membantu Direktur Hulu,” begitu kata Karen kepada para petinggi Pertamina.

Toh, garis tangan berkata lain. Karena fakta menunjukkan bahwa akhirnya Karen lah yang menduduki kursi itu. “Nothing special, it just happened, karena nama-nama yang dijagokan kurang memenuhi kriteria yang diinginkan,” ungkap ibu tiga orang putra ini, yang mengaku bukan tipe pribadi ambisius dalam meniti karir.

***

Pada awalnya Karen remaja sebenarnya bercita-cita ingin menjadi arsitek. Sama sekali tak terbayang ia akan sukses meniti karir di dunia perminyakan.

Sayangnya, pas menjelang akhir SMA, saya baru sadar tidak mahir menggambar. Padahal, jadi arsitek itu harus piawai menggambar,” ucap “Kartini” yang hobi bermain piano ini. Maka, ketika berhasil lolos masuk ITB, ia pun menjatuhkan pilihan di jurusan Teknik Fisika.

Lulus dari ITB pada 1983, Karen sempat ingin bergabung dengan BPPT karena ketika itu sedang dibuka keran beasiswa. Namun, lantaran sang suami sudah bekerja di BPPT, Karen memilih untuk berkarir di dunia swasta. Dunia migas pun menjadi pilihannya.

Siapa yang tak ingin masuk ke dunia ini, apalagi ketika itu sedang booming,” kenang Karen bernostalgia. Karen pun melamar ke Arco dan Mobil Oil. Di kedua perusahaan bergengsi itu ia diterima. Tapi, Karen lebih memilih Mobil Oil. Selama empat tahun, Karen mengawali karir sebagai sistem analis dan manajemen data. Berprestasi kinclong, Karen dikirim ke Dallas, lagi-lagi di bidang yang sama yakni sebagai programmer dan sistem analis, serta komputasi eksplorasi. Pengalamannya berkutat dengan data ini, kelak, menjadi bekal bagi Karen memimpin Direktorat Hulu Pertamina. Di Dallas, ia bermukim hingga empat tahun. “Operasional akan menjadi efektif jika didukung oleh data yang lengkap dan akurat,” tegasnya.

Karen sempat vakum dari dunia kerja karena melahirkan anak ketiga. Akhirnya, dengan dalih ingin lebih punya waktu untuk keluarga, Karen mundur dari Mobil Oil. Selanjutnya ia bergabung dengan Landmark Concurrent Solusi Indonesia, sebuah anak perusahaan Halliburton. Di Landmark, Karen membangun berbagai sistem informasi manajemen terpadu untuk beberapa stakeholders perminyakan terkemuka, seperti ExxonMobil, Pertamina, dan BPMIGAS.

Lagi-lagi, kinerja Karen dianggap cemerlang. Halliburton pun menariknya. Posnya di Halliburton bukan pos kacangan. Ia menjadi juru lobi Halliburton untuk menjalin kemitraan dan relasi dengan berbagai stakeholders papan atas bidang perminyakan, seperti Menteri ESDM, Pertamina, BPMIGAS, dan berbagai institusi di dunia migas.

Sejak itu, nama Karen mulai dilirik Pertamina. Oleh karena itu, ketika Pertamina mulai menggelorakan semangat pembaruan, Karen diminta untuk menjadi Staf Ahli Dirut Pertamina untuk Bidang Hulu. Dari sinilah, pintu masuk Karen untuk menjadi Direktur Hulu mulai terbuka, yang kemudian mengantarkannya sebagai Dirut Pertamina.

***

Eksistensi Karen sebagai perempuan pertama dan “orang luar” Pertamina yang menduduki pos jabatan direksi, jelas, bukannya tanpa resistensi. Sebagai individu berwatak disiplin, buah dari perpaduan didikan keluarga dan pengalaman berkarir di perusahaan multinasional, Karen membawa atmosfer baru di Pertamina. Semasa, menjabat sebagai orang nomor satu di Direktorat Hulu., ia tak segan keluar masuk ruang operasional, sesuatu yang sebelumnya sangat jarang dilakukan. “Saya ingin mengetahui fakta di lapangan langsung dari ujung tombak,” tegas perempuan yang selalu tampil energik dan pernah mendapat penghargaan khusus dari Country Manager Halliburton Indonesia atas kontribusi luar biasa yang diberikannya kepada Halliburton.

Bahkan, demi menjaga budaya transparansi di direktorat yang kini dipimpinnya, Karen membuka keran direct sms dan direct email untuk menampung laporan dari para jajarannya. “Pintu kantor saya selalu terbuka untuk kalian,” katanya kepada segenap jajaran di Direktorat Hulu. Selain terkenal disiplin, Karen juga terkenal sebagai individu yang tidak mau berkompromi dengan perilaku korupsi. “Siapapun yang berani korupsi akan saya tindak. Tanpa pandang bulu,” imbuh Karen langsung tanpa bermetafora.

Rupanya, atmosfer baru semacam ini membuat banyak orang terkejut. Selain itu, Karen mulai memberi tempat pada generasi muda Pertamina yang ia anggap brilian dan mampu.

Karena itu, resistensi terhadap diri saya sempat semakin kencang,” akunya mengevaluasi keadaan di lingkup internal.

Toh, Karen bergeming. Buktinya, warna baru yang digelorakannya itu berbuah hasil. Masuknya Karen ke Pertamina menciptakan opini positif di kalangan perminyakan internasional bahwa Pertamina sudah berubah. Perusahaan-perusahaan minyak asing besar, yang selama ini belum menjadi mitra Pertamina, mulai membuka peluang menawarkan kerjasama. Salah satunya, Petrobras dari Brazil. Bahkan, perusahaan minyak, yang terkenal sebagai salah satu dari sedikit pemilik teknologi terdepan dalam bidang eksplorasi lepas pantai, khususnya di laut dalam, ini menawarkan bantuan teknis berupa alih teknologi bagi para teknisi Pertamina. “Kelak, ketika Pertamina dan Petrobras sudah menjalin joint cooperation, teknisi kalian sudah siap,” papar Karen menirukan ucapan seorang petinggi Petrobras.

***

Sekilas, Karen memang tampak seperti wanita bertangan besi. “Ah, tidak juga. Saya tetap Karen yang dulu,” kilah perempuan kelahiran 19 Oktober 1958, yang hobi mengoleksi lukisan ini. Tapi, pernyataan itu benar adanya.

Bagaimanapun, Karen tetaplah seorang Ibu yang ingin selalu dekat dengan anak-anaknya. Lantaran itu, ia menolak untuk tinggal di rumah dinas. “Rumah dinas identik dengan kantor kedua bagi saya. Saya tidak ingin anak-anak kehilangan atmosfer rumah yang hommy,” tambah Karen, yang semasa di ITB pernah menjadi vokalis band dangdut sekaligus menjuarai lomba menyanyi dangdut yang diselenggarakan FTI ITB.

Ya, begitulah Karen, seorang wanita berbintang Libra, yang meski kini memimpin salah satu Direktorat penting di perusahaan yang dijuluki “the backbone of Indonesia” tetap menjadi ibu yang hangat bagi anak-anaknya

 

DR. Inneke Limuria, MSi

No Comments

Shiny Studi Center

Penyembuhan Melalui Terapi Sentuh Otak Dengan Tangan

Semua orang menyangka, kalau tulang tengkorak manusia itu menyatu bagaikan batok kelapa. Tulang tengkorak yang melindungi organ vital berupa otak itu sebenarnya selalu bergerak. Pergerakan tulang tengkorak mengikuti ritme tetap seolah-olah tulang bereaksi terhadap sistem hidrolis.

Gangguan terhadap gerak tulang tengkorak dan tulang belakang yang menjadi sistem syaraf manusia, menyebabkan terjadinya kelainan fisik. Anak-anak autis adalah salah satu akibat yang ditimbulkan oleh terganggunya gerakan tulang tengkorak ini. Diperlukan orang yang benar-benar ahli untuk “memperbaiki” gerakan tulang tengkorak menjadi selaras sehingga menjadi normal kembali.

Melalui terapi sentuh otak dengan tangan, saya membantu memaksimalkan fungsi susunan syaraf pusat. Penderita gangguan ini disentuh tulang tengkoraknya agar memiliki gerakan seirama sehingga sistem hidroliknya menjadi normal. Penyebabnya antara lain karena pola makanan yang tidak benar sehingga gerakannya menjadi banyak hambatan,” kata DR. Inneke Limuria, MSi., pakar terapi inidan Pendiri Shiny Studi Center.

Terapi sentuh tangan dengan otak sendiri “ditemukan” Inneke pada tahun 1998. Saat itu ia secara tidak sengaja merasakan adanya gerakan tulang tengkorak dan tulang belakang sebagai sistem syaraf pusat dengan irama tertentu. Sentuhan-sentuhan pada areal tersebut memberikan stimulus terhadap gangguan fungsi organ tubuh sehingga berangsur-angsur normal.

Beberapa penderita autis serta gangguan syaraf lainnya, lanjut Inneke, dapat disembuhkan melalui terapi sentuh otak ini. Penyembuhan dengan terapi sentuh otak atau terapi craniosacral dilakukan dengan sentuhan-sentuhan lembut pada tulang tengkorak. Sentuhan ini tidak hanya “melepaskan” sumbatan yang menghambat kerja sistem syaraf, tetapi bahkan mampu meningkatkan IQ hingga 20 poin.

Terapi sentuh otak mampu mengembangkan kemampuan otak anak secara maksimal. Metode ini hanya enam orang di Asia Tenggara yang memilikinya. Orang yang lumpuh akibat organisasi syarafnya terhambat, bisa kita perbaiki dari susunan syaraf pusatnya. Kesehatan mentalnya kalau terganggu juga bisa kita perbaiki,” kata pendiri Psiko Medika Holistika Center ini. Seiring dengan perkembangan divisi pendidikan yang sangat maju, akhirnya divisi pendidikan berdiri sendiri. “Kita namakan Shiny Study Center,” tambahnya.

Shiny Study Center memiliki visi “Menggali, membimbing dan mengembangkan kemampuan anak agar menjadi pribadi yang dapat dibanggakan, menjadikan anak yang mempunyai kualitas unggul dalam pendidikan dan pengembangan mental dan perilaku sumber daya manusia yang berorientasi pada nilai-nilai arti kehidupan yang sesungguhnya.” Adapun misi yang diusung lembaga ini adalah:

  • Mencari dan membina bakat serta kemampuan para murid agar menjadi pribadi-pribadi yang cerdas, terampil serta dapat diandalkan

  • Menyelenggarakan pendidikan pendamping home schooling yang berorientasi terhadap kemampuan berpikir analisis, sintetis, kritis, logis dan kreatif, serta berperilaku tanggap dan peduli terhadap masalah psikologis

  • Mengembangkan dan meningkatkan bidang penelitian dan pengabdian pada masyarakat sesuai dengan perkembangan teknologi maju

  • Mempersiapkan lulusan dengan kualitas kemampuan pendamping home schooling yang tinggi serta memiliki jiwa kepemimpinan yang berakhlak baik

Shiny Study Center memiliki koordinator berpengalaman pada masing-masing divisi yang memiliki keahlian khusus untuk menangani anak-anak yang bermasalah seperti gangguan mental dan fisik. Seperti koordinator home schooling yang berpengalaman di Amerika serta mengaplikasikan kurikulum children resource America. Selain itu, program akselerasi atau percepatan belajar untuk anak-anak yang mengalami hambatan belajar dan anak-anak dengan IQ terlampau tinggi untuk sekolah umum.

Tujuannya supaya mereka tidak bosen di dalam kelas. Seperti harusnya SMP tiga tahun mereka cukup dua tahun saja. Begitu juga dengan SMA cukup dua tahun, kalau di SD begitu kelas lima langsung kita ikutkan untuk ujian nasional. Itu kalau anaknya mampu. Kemudian pengembangan bakat anak, karena ini adalah anugerah Tuhan, dengan talenta yang luar biasa. Saya mengemasnya dengan tujuan yang penting anak-anak tersebut memiliki keahlian khusus,” katanya.

Shiny Study Center juga memberikan layanan psikologi umum dan biological psychology, pskologi perkembangan anak, deteksi dini perkembangan anak, psikologi normal, klinis anak, kesehatan mental, psikologi belajar, psikologi pendidikan bakat anak, psikologi kepribadian dan karakter anak, psikologi komunikasi, serta kognitif behavior therapy. “Semua itu cukup untuk pendampingan. Makanya pendidikan kita juga bisa untuk guru-guru sekolah umum,” jelasnya.

Menurut Inneke, meskipun sekarang banyak layanan sejenis tetapi dirinya masih mampu menunjukkan eksistensinya. Karena layanan yang diberikan lembaganya berbeda dengan lembaga-lembaga lain. “Saya sudah menangani enam ribu anak. Memang ada yang berhasil dan ada pula yang tidak, tetapi tingkat keberhasilan yang kami capai sekitar 80 persen,” ujarnya.

Kinesiology Menaikkan IQ

DR. Inneke Limuria, MSi., pada awalnya hanya melayani permintaan orang tua yang anak-anaknya “bermasalah” di sekolah. Anak-anak tersebut dianggap autis sehingga mengganggu belajar anak-anak lainnya. Seiring dengan membeludaknya permintaan, ia memberanikan diri untuk ide dan aspirasi bagi dunia pendidikan kepada pihak berwenang. Ia menghadap langsung untuk membicarakan ide-idenya dengan Dirjen Pendidikan Luar Biasa (PLB) Depdiknas.

Akhirnya kita diizinkan dan langsung mendapat surat untuk mendirikan lembaga ini. Setelah itu, antara saya dan Depdiknas terjalin ikatan dalam sebuah MOU untuk membantu mencerdaskan pendidikan nasional. Tahun 2002, waktu itu Mendiknas masih Pak Malik Fadjar, Dirjen Pak Indrajit Sidji, mereka bilang, Kinesiologi kamu itu bagus untuk menaikkan IQ sampai 20 poin dari anak-anak bermasalah dengan IQ rendah,” ujarnya.

MOU tersebut mewajibkan Inneke untuk memberikan training kepada guru-guru di 32 provinsi. Tugasnya adalah memperkenalkan metode senam otak, kinesiology, ilmu gerak dan lain-lain yang mampu meningkatkan kemampuan otak anak-anak didik di sekolah. Masalah yang dihadapinya adalah penerapan di lapangan tidak bisa diharapkan sampai ke tingkat yang paling bawah karena terputus pada tingkat provinsi.

Padahal, lanjut Inneke, saat mengelola pilot project Depdiknas di TK Pembina Ulujami, hasilnya terbukti memuaskan. Pelatihan senam otak pada siswa TK membuat IQ, daya tangkap dan ketahanan terhadap stress sangat bagus. Mental anak-anak dalam menghadapi berbagai persoalan sangat kuat sehingga mereka mampu mengikuti setiap pelajaran di sekolah dengan baik.

Padahal, tahun 1998 saya faks senam otak ke seluruh sekolah tidak dianggap sama sekali karena mereka tidak mengerti. Setelah beberapa anak kerabat pejabat Depdiknas dan lain-lain yang mengalami hambatan di sekolah bisa tertolong, akhirnya kinerja saya pelan-pelan diakui. Jadi perjuangan saya juga tidak mudah dalam merintis hal ini,” katanya.

Berbagai suka dan duka juga dialami Inneke dalam mengembangkan metodenya tersebut. Pernah, ia dijatuhkan dengan cara yang sangat “keras” dan efektif oleh para pesaingnya. Yakni dengan memasukkan iklan di media nasional terkemuka bahwa Psiko Medika Holistik Center bukan miliknya lagi. Tujuannya adalah “mengambil” klien-kliennya untuk mereka sendiri terkait tes psikologi industri dari perusahaan-perusahaan yang mempercayakan rekrutmennya kepada Psiko Medika Holistik Center.

Tetapi saya tetap tenang dan tidak terbawa dalam permusuhan itu. Hasilnya malah sebaliknya, peristiwa tahun 2005 itu membuat pihak Diknas dan Dirjen Depdiknas malah memberikan penghargaan bagi saya. Bahkan Unesco malah memberikan kepercayaan untuk proyek mereka melalui sebuah MOU,” kata Inneke yang mengagumi potensi perempuan Indonesia masa kini tersebut. “Mereka sekarang pinter-pinter, bagus-bagus memiliki dedikasi dan terobosan, ide-ide yang baik,” tambahnya.

Inneke memiliki obsesi untuk memajukan pusat pendidikan yang dirancangnya tersebut. Ia menginginkan agar apa yang dikerjakannya dapat dimanfaatkan oleh orang banyak. Apalagi, pendidikan baru dapat dirasakan dan dievaluasi hasilnya setelah lima tahun sehingga ia merasa memiliki kewajiban untuk menjaga kualitas “produk”-nya

Kalau dalam beberapa tahun lagi saya melihat anak-anak peserta didik berhasil, barulah saya merasa tenang. Saya ingin mereka menjadi agen-agen perubahan, baik dengan terobosan baru maupun dari pola pikir mereka itu. Kita sekarang tidak bisa mengacu pada IQ saja, tetapi juga EQ, SQ dan CQ. Jadi karakter yang baik, keagamaan, kerohanian karena hidup itu ada remnya, kemudian baru kepandaian dan kreativitas,” tegasnya

Sekilas DR. Inneke Limuria, M.Si

DR. Inneke Limuria, M.Si mempunyai motto hidup “Menjadi saluran berkat & hikmat buat banyak orang”. Pengalaman hidupnya selama 12 tahun melayani anak-anak jalanan (children at risk) dijalaninya dengan penuh semangat, hingga pada tahun 2000 tergabung menjadi rintisan (embrio) dari Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB), dan pada tahun 2004 terbentuklah Asosiasi Kinesiologi Seluruh Indonesia (AKSI).

MoU dengan Departemen Pendidikan Nasional ditandatangani oleh Menteri Pendidikan Nasional & Dirjen DIKDASMEN untuk sekolah-sekolah di 32 propinsi di Indonesia untuk mencerdaskan serta meningkatkan memori & konsentrasi anak, terutama untuk menolong anak belajar, meningkatkan motivasi belajar, menumbuhkan karakter yang baik serta dedikasi yang baik.

Jaringan lain yang ditekuni beliau adalah Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN), yang memberikan penyuluhan tentang KESPRO. Selain itu, beliau juga menjadi Dosen Psikologi Abnormal, Psikologi Klinis & Biological Psychology di beberapa Fakultas Psikologi baik Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya.

Kesehatan tubuh sangat berkaitan dengan kondisi psikis seseorang. Untuk mengobati tubuh seseorang, pikiran dan masalah yang dihadapi orang tersebut harus dipulihkan terlebih dahulu. Penyembuhan secara keseluruhan, yang meliputi bio, psiko, dan sosio inilah yang disebut Metode Penyembuhan/Terapi Holistik.

Di Indonesia, metode terapi ini belum dikenal secara luas. Bahkan sebagian besar masyarakat, menyamakannya dengan pengobatan alternatif, yang sudah lebih luas dikenal saat ini.

Dr. Inneke Limuria, M.Si adalah salah seorang yang memiliki keahlian terapi holistik ini. Bahkan beliau adalah salah satu dari sangat sedikit orang di dunia yang saat ini menguasai dan menggunakan teknik diagnosa menggunakan Touch for Health (dari J.F. The) dan Cranio Sacral (dari John Upledger).

Dr. Inneke memulai pengobatnnya dengan memegang kepala pasien, di mana terdapat susunan syaraf pusat. Sedemikian sehingga beliau akan merasakan ritme dan cairan dari otak sampai ke tulang ekor. Cara yang disebut Cranio Sacral ini bisa memperbaiki dinamika struktur dan fungsi tubuh serta cairan otak, untuk mencapai keseimbangan pemulihan kesehatan dan pencegahan penyakit, serta mengurangi trauma. Biasanya jika seseorang sedang stress, akan menyebabkan gumpalan cairan di kepala, sehingga otak mengalami ketidakseimbangan.

Sistem Cranio Sacral ini sangat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar diri seseorang. Hanya dalam waktu 10 (sepuluh) menit, Dr. Inneke dapat langsung mendiagnosa penyakit dan gangguan yang terjadi pada diri pasien, yang ternyata dipengaruhi oleh pikiran pasien tersebut. Pikiran tersebut disebabkan berbagai hal, mulai dari kondisi psikis, genetik atau lingkungan bahkan akibat korban perasaan dari pasangan hidup.

Dr. Inneke selalu menekankan ke pasiennya agar memiliki 5 (lima) komponen penting sebagai modal kesembuhan: kesadaran, keikhlasan menerima, memaafkan, melepaskan dan kepasrahan.

Felicia Wiyanti Wowor

No Comments

Owner AMBATIK

Melestarikan Budaya Indonesia Dengan Menekuni Batik

Di tengah kekhawatiran lunturnya nasionalisme generasi muda, terdapat beberapa pengecualian. Prasangka bahwa generasi muda sudah meninggalkan budaya sendiri terpatahkan oleh mereka yang dengan tekun melestarikannya. Beberapa di antaranya, bahkan memantapkan diri membuka usaha yang berhubungan dengan budaya Indonesia.

Salah satunya adalah pemilik AMBATIK, Felicia Wiyanti Wowor. Di usianya yang masih belia, -kelahiran Jakarta, 18 Februari 1984- telah melahirkan beragam karya yang menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia. Media yang digunakannya adalah budaya asli Indonesia yang pernah diklaim Malaysia, batik. Melalui karyanya, ia menunjukkan kepada dunia bahwa batik adalah budaya Indonesia yang bahkan anak muda pun sudah menggunakannya.

“Batik adalah warisan asli Indonesia. Mungkin karena orang tua saya penggemar batik sekaligus pendidik, mereka ingin warisan Indonesia itu tidak hilang. Salah satu caranya adalah ditularkan kepada anak-anaknya termasuk saya. Awalnya sih, karena saya lulusan desain, mama minta dibuatkan baju berbahan dasar batik. Lama kelamaan, saya senang juga karena berbeda dari batik-batik yang biasa. Akhirnya, setelah melalui berbagai observasi sebelumnya saya memutuskan untuk membuka usaha ini,” katanya.

Fini –lulusan D3 Fashion Design & Pattern Making ESMOD Jakarta- mendirikan AMBATIK tahun 2009. Dengan dukungan kedua orang tuanya –Frans Endy Wowor dan Maryam Harwanti Siregar- yang mengelola sebuah sekolah, usahanya mulai berjalan. Desain hasil karyanya diminati berbagai kalangan, baik tua maupun muda. Apalagi, sebagai anak muda kreasinya pun sangat sesuai dengan selera generasi muda yang bisa digunakan untuk menghadiri pesta, bekerja maupun aktivitas sehari-hari lainnya.

Strategi untuk merangkul generasi muda, yang diterapkan Fini sangat jitu. Menampilkan desain busana warna-warni digabungkan dengan berbagai aksesori entik lainnya, menjadikan desainnya sangat disukai. Ia sadar, budaya asli warisan bangsa ini harus dilestarikan di tengah gencarnya budaya luar yang masuk ke Indonesia. Karena di era globalisasi, tidak ada sekat antara satu negara dengan negara lainnya.
“Akibat globalisasi, anak-anak muda mendapat budaya lain. Oleh karena itu, saya berusaha supaya anak-anak Indonesia tetap tahu Indonesia. Salah satunya melalui media ini untuk membantu mempertahankan budaya kita sendiri. Kita tahu anak muda suka fashion maka ini sangat membantu dengan mengikuti kemauan mereka. Globalisasi membuat semua bisa masuk, sehingga kalau tidak ketat mempertahankan akan terlibas budaya lain. Jangan sampai karena interested terhadap budaya kita, orang lain yang memanfaatkannya,” tuturnya.

Selamatkan Pengrajin

Dengan menekuni batik, Fini Wowor tidak hanya sekadar membangun usahanya sendiri. Seiring dengan semakin maju dan banyaknya desain yang dikerjakannya, ia juga memerlukan bahan-bahan yang tidak bisa dibuatnya sendiri. Salah satunya adalah kain batik yang harus dibelinya dari para pengrajin batik. Langkah untuk membeli dari pengrajin tersebut berdampak luas karena kehidupan mereka terselamatkan.

“Saya harus hunting mencari kain batik untuk desain saya. Kadang pengrajin juga datang kepada saya untuk menawarkan kain batik produk mereka. Karena mereka juga senang, produknya digunakan yang berarti mereka bisa terus berproduksi lagi. Artinya batik tetap lestari menjadi warisan budaya Indonesia,” kata sulung dari empat bersaudara yang mendapat dukungan penuh keluarga ini.

Terkait dengan hal tersebut, Fini menyerukan kepada para penggemar batik di Indonesia untuk menggunakan batik tulis. Selain kualitasnya sangat bagus, penggunaan batik tulis akan membuat pengrajin tidak kekurangan pekerjaan. Dengan menggunakan produk batik tulis, artinya lapangan perekonomian akan terus terbuka bari para pengrajin batik.

Untuk itu, Fini juga berkeinginan mengembangkan AMBATIK dengan cakupan yang lebih luas. Selain berbagai pameran di dalam negeri, ia juga ingin membangun sebuah gallery untuk memajang karya-karyanya. Obsesi lainnya adalah membangun website sehingga produk hasil ciptaannya dikenal luas di seluruh dunia. “Sementara, ini yang sedang benar-benar dipikirkan. Pekerjaan saya bukan ini saja, karena untuk kontrolnya semua masih saya sendiri,” imbuh putri pasangan pendidik ini.

Sebagai generasi muda, Fini mengajak sesama generasi muda untuk menjadi entrepreneur seperti dirinya. Karena dengan menjadi entrepreneur sejak muda, bisa mengubah Indonesia menjadi lebih sejahtera. “Cari apa yang mereka senang, hobi dan bagaimana bisa membantu Indonesia ke depan. Bagaimana cara membangun Indonesia agar menjadi lebih baik,” tambahnya.

Tren Meningkat

Setelah menyelesaikan pendidikan tahun 2005, Fini sempat membantu di sekolah yang dikelola ayah dan ibunya. Sambil terus mencari-cari celah untuk memulai usaha, ia ikut mengelolanya. Saat itu, ibunya adalah guru sekaligus Kepala Sekolah sehingga sering mendapat hadiah berupa kain batik. Pemberi hariah rupanya tahun kalau ibunya adalah penggemar batik.

“Apalagi di Indonesia sekarang ini juga sudah mulai meningkat trend penggunaan batik. Dari awal saya tertarik dalam bidang itu, hanya untuk masuk ke dunia bisnis ini banyak pertimbangan. Meskipun batik bisa dipakai orang tua, anak muda dan segala segmenlah,” ungkapnya.

Dalam rancangan-rancangannya, Fini membuat batik menjadi pantas dikenakan siapa saja tanpa memandang usia. Tua maupun muda, pantas mengenakan baju hasil rancangan designer muda ini. Yang tua menjadi semakin berwibawa, sementara yang muda tetap tampil ceria tanpa harus kelihatan tua. “Ini salah satu cara menarik minat anak muda berbatik. Mereka tetap keren, tidak menjadi tua dan kemudaannya tetap terlihat,” kata designer yang hanya mendesain satu model dengan beberapa ukuran ini.

Menurut Fini Wowor, AMBATIK atau membuat batik terinspirasi dari derasnya arus globalisasi di Indonesia. Semua itu mengakibatkan generasi muda Indonesia lebih memilih untuk membeli barang-barang bermerk internasional dan menunda pembelian merk lokal, yang lambat laun akan melenyapkan warisan budaya Indonesia yang salah satunya adalah batik. Sayangnya, produk batik dengan kualitas tinggi sangat sulit ditemukan di Jakarta.

Saat ini, generasi muda lebih memilih untuk membeli produk fashion luar negeri yang outletnya bertebaran di Jakarta. Sedangkan batik menjadi produk massal yang berharga murah dengan kualitas seadanya dan tidak memiliki nilai eksklusifitas. Ketika produk fashion batik yang bagus dan bermutu ditemukan, penerimaan pasar masih kurang bagus. Karena masih langkanya desainer baju-baju batik di tanah air.

Setelah memulai AMBATIK dua tahun lalu, Fini membeli berbagai jenis batik dari pembatik-pembatik tradisional di Yogyakarta dan Lasem. Ia mulai mendesain baju batik untuk para bisnismen, pembicara, guru, ibu-ibu dan teman-temannya yang membutuhkan baju batik dengan desain yang sesuai (baju-baju formal tetapi bukan kebaya). Setelah satu tahun berjalan, Fini mulai mendesain baju-baju “umum” berbahan batik seperti celana, atasan, rok, dan baju-baju. Hasil karyanya dipromosikan kepada teman-temannya, orang tua dan keluarga dengan respon yang sangat bagus.

Produk AMBATIK terbuat dari batik tulis atau batik cap yang memiliki keunikan tersendiri. Kisaran harga produk Ambatik –bukan produk massal tetapi terbatas- berada pada rentang antara Rp500 ribu sampai Rp1.200.000,-. “Sebagai orang Indonesia, saya bangga memiliki warisan budaya yang memiliki nilai artistik tinggi. Saya percaya, dengan keunikan dan desain inovatif terhadap warisan budaya ini, generasi mendatang akan mengapresiasi dan dengan bangga menggunakan batik sebagai busananya,” katanya.

 

Anik Indaryani, SE

No Comments

Direktur Utama PT Daya Dinamika Nusantara

Terbiasa Hidup Mandiri Sejak Belia; Mendirikan Perusahaan yang Mendidik Kemandirian Bangsa

Karakter seseorang sangat tergantung bagaimana orang tua mendidiknya di masa kanak-kanak. Meskipun pendidikan formal di sekolah sangat berpengaruh, tetapi pembentukan karakter dalam keluarga akan terbawa sampai dewasa. Seorang anak yang merekam nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga akan menerapkannya dalam kehidupan yang dijalaninya.

Seperti yang dialami oleh Anik Indaryani, SE., Direktur Utama PT Daya Dinamika Nusantara (DDN). Perempuan kelahiran Salatiga, 13 November 1971 ini, untuk mencapai posisi sekarang tidak pernah lepas dari pendidikan karakter yang diberikan kedua orang tuanya. Kemandirian, kemuliaan hidup dan harga diri, adalah karakter yang ditanamkan kepada sembilan anak Iman Hardjo dan Sri Hartini.

“Semua anak dibiasakan dan dididik untuk mandiri, memiliki tanggung jawab masing-masing. Saya salut terhadap kedua orang tua, sehingga apa yang mereka terapkan itu terpatri dalam hidup kami. Saya bungsu dari sembilan bersaudara yang kebanyakan perempuan dan hanya ada dua laki-laki. Kita semua dididik untuk tidak mengandalkan laki-laki saja. Kita juga menerapkan petuah-petuah yang mulia, seperti tangan selalu diatas, mempertahankan harga diri dan lain-lain,” katanya.

Saat itu, lanjutnya, belum terpikirkan makna nasehat orang tua tersebut. Namun seiring bertambahnya umur dan semakin dewasa ternyata semua nasihat tersebut sangat berpengaruh dalam kehidupan. Ia mencontohkan bagaimana tangan selalu diatas membuat dirinya tidak pernah berharap belas kasihan dari siapapun.

Begitu juga dengan petuah ibunya untuk tidak menerima pekerjaan sebagai pembantu dan lebih baik menjadi tukang gorengan. Penjelasannya, meskipun pembantu baju bersih, uang utuh tetapi itu tidak akan membuat dirinya berkembang karena hanya disuruh-suruh saja. Sementara dengan berjualan pisang, meskipun badannya menjadi kotor tetapi lebih mandiri. Tidak ada seorang pun yang mengendalikan hidupnya.

“Saya belajar kehidupan dari bapak dan belajar berbisnis dari ibu. Karena antara bapak dan ibu bertolak belakang, bapak dermawan sementara ibu pedagang. Jadi kesimpulan saya, bahwa di satu sisi kita harus mengejar kehidupan tanpa harus menafikan hati nurani. Saya ingat tukang bakso dipanggil bapak dan diborong dagangannya untuk anak-anak kecil di kampung. Tentu saja ini membuat ibu saya marah-marah, tetapi dari situ saya ambil hikmah bahwa penting mencari materi tetapi sangat penting untuk berbagi,” cetusnya.

Selain kemandirian, Anik –panggilan akrabnya- juga dikaruinai sifat pembelajar dari Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan disiplin yang diterima saat “menumpang” di rumah kakak iparnya dan membuat saudara-saudaranya marah, justru diambil hikmahnya. Anik yang paling membenci keributan menenangkan kemarahan saudaranya dengan mengatakan bahwa ia tidak disuruh tetapi kemauannya sendiri untuk belajar mengenai segala hal.

Ternyata, lanjutnya, pengalaman tersebut justru sangat berguna ketika ia kuliah. Tentangan dari orang tua dan saudara-saudaranya terkait keinginannya untuk mengambil pendidikan sekolah tinggi perhotelan membuat dirinya semakin tangguh. Pasalnya, saat itu ia sudah didaftarkan di Fakultas Kedokteran dengan cara dititip-titipkan kepada pihak terkait.

“Saya tersinggung dan pamitan untuk mencari sekolah sendiri dan tidak akan pulang sebelum dapat sekolah. Saya sejak dahulu memang mandiri, dan akhirnya dapat sekolah tinggi perhotelan. Semua menentang, karena tradisi keluarga, kalau tidak tentara ya PNS. Karena tidak boleh makanya saya pergi ke Yogyakarta jalan kaki, tanpa membawa uang sama sekali,” kisahnya.

Melihat kenekatan Anik, akhirnya keluarga luluh juga. Salah seorang kakaknya menjemput dan mengatakan kalau keluarga bersedia membiayai pendidikan sesuai keinginannya. Namun, konsekuensi yang harus ditanggungnya adalah keluarga besarnya tidak akan dengan masa depannya. “Spontan saya ngomong, ‘Oke saya akan mencari kerja sendiri dan sebelum saya lulus saya janji sudah bekerja.’ Setelah itu saya pergi ke Yogyakarta dan berjuang untuk mendapatkan pekerjaan sembari kuliah,” imbuhnya.

Masa-masa kuliah, bagi Anik adalah masa yang sangat menyenangkan. Di sisi lain, ia memiliki sahabat yang sangat alim dan selalu mengingatkan dirinya untuk tetap menjalankan agama dengan baik. Sementara di satu sisi, ia juga berteman dengan mahasiswa lain yang seperti senang berhura-hura. Ia berpijak pada dua sisi tersebut sembari mengambil hikmah dari sana. Salah satunya adalah dengan mengikuti jejak sahabatnya yang sangat kuat “tirakat” memohon kekuatan pada Tuhan.

Setelah selesai ujian lokal, Anik mengunjungi kakaknya yang tinggal di Bandung. Sesuai kebiasaan saat kuliah, ia terus menerus melakukan shalat malam. Hingga suatu saat, setelah shalat malam ia tertidur di atas sajadah dan bermimpi. Dalam mimpinya, sahabatnya yang sangat alim asal Kebumen bernama Nining tersebut menyodorkan surat untuk melamar pada sebuah hotel di Bandung.

“Saya tersentak bangun dan langsung mencari alamat hotel di Yellowpages. Saat itu masih jam dua pagi, sehingga saya ditertawakan keponakan karena mengikuti mimpi. Tetapi saya tetap mengirimkan lamaran ke beberapa hotel sekaligus. Sementara menunggu lamaran saya pulang ke Yogyakarta untuk mengikuti ujian negara,” kisahnya.

Ternyata Anik mendapat panggilan dari beberapa hotel sekaligus. Setelah menjalani serangkain tes dan wawancara, semua hotel yang dikirimi lamaran menerimanya. Saat kebingungan menentukan pilihan, keponakan yang tadinya menertawakan dirinya berubah serius dan menyarankan untuk mengambil pekerjaan di hotel dalam mimpinya. “Barangkali benar itu petunjuk, katanya. Dengan bekerja di hotel itu, menurut dia, saya akan hidup seperti seperti ikan besar di akuarium dan bukan ikan kecil di lautan,” imbuhnya.

Saran tersebut diikuti Anik. Ia bekerja dengan serius meskipun hanya bergaji Rp100 ribu per bulan. Tugasnya pun dari bagian terendah seperti menyapu dan mengepel lantai hotel. Ia menjalaninya dengan bersungguh-sungguh sepenuh hati dilandasi semangat belajar yang tinggi. Di sisi lain, ia berpegang pada pesan yang disampaikan oleh ayahnya sebelum dirinya merantau. Bahwa dalam bekerja itu harus bermodalkan kejujuran. Jangan sampai karena recehan mengorbankan harga diri dan kehormatan.

Anik banyak belajar dari pemilik hotel, seorang professor dan istrinya sebagai direktur. Saat itu, ia merangkap sebagai sekretaris ibu direktur sekaligus asisten professor. Kedua orang tersebut telah mengajarinya banyak hal tentang bagaimana mengelola perusahaan serta memperlakukan SDM secara manusiawi. Ia tidak pernah menolak tugas yang diberikan oleh kedua orang tua tersebut. Dari sekadar cek rekening, mengatur buku perpustakaan sampai memanjat atap untuk mengecek penangkal petir hotel.

“Saya bekerja pada beliau sampai sepuluh tahun dengan jabatan terakhir General Manager di hotel tersebut. Dari keduanya, saya belajar memperlakukan SDM dengan manusiawi. Karena di hotel tersebut, keduanya menganggap kami bukan lagi anak buah, tetapi sesama manusia. Pokoknya kami dihargai banget deh bekerja disitu sehingga saya tidak peduli soal uang yang didapat, hanya lebih fokus pada ilmu yang dapat diserap,” ujarnya.

Dari situ, Anik belajar bahwa untuk atasan itu tidak harus bersikap bahwa sebagai bos. Dengan menghargai manusia seutuhnya akan mampu memimpin dengan baik dan dihormati anak buahnya. Ini dibuktikannya saat dirinya dipercaya menjadi direktur keungan sebuah perusahaan asing. Ketika perusahaan terantuk masalah para bos “kabur” ke luar negeri. Tinggallah dirinya yang tersisa dan harus bertanggung jawab terhadap permasalahan yang ditinggalkan.

Saat itu, Anik keluar masuk kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Namun, di situlah ia mendapat pelajaran berharga yang tidak mungkin didapatnya di tempat lain. Ia tetap teguh pada pendirian dan menghadapinya dengan penuh kesungguhan. Baginya, selama apa yang dilakukannya benar akan dipertahankan sekuat tenaga. Selain itu, ia terus berdoa memohon bantuan tangan Tuhan untuk turun tangan menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

“Ujungnya tetap jalan Tuhan dan berserah diri kepada-Nya. Doa saya pada Tuhan, ‘Kalau memang hidup saya tidak bermanfaat ambil nyawa saya, tetapi kalau berguna bagi orang lain muliakan hidup saya.’ Yang jelas, saya pegang teguh kejujuran dan menikmati kepercayaan yang diberikan kepada saya. apapun bentuk dan risikonya. Itu yang membuat orang tahu kalau saya adalah Anik yang tangguh, ulet dan tahan banting dan bukan Bu Anik yang kaya raya punya ini dan itu. Yang penting saya pertahankan harga diri saya dan Alhamdulilah menjadi saya sekarang ini,” tegasnya.

Membangun Bisnis MLM

Awalnya Anik Indaryani, SE tidak menyukai dunia Multilevel marketing (MLM). Keingintahuannya yang besar untuk belajar membuat ia mampu menghadapi segala kondisi. Semangat untuk menekuni dunia MLM semakin tinggi setelah bertemu banyak orang dengan ide yang sama. Meskipun saat itu statusnya hanyalah seorang karyawan, tetapi ia tidak membatasi diri sehingga ia memiliki kesempatan untuk berkembang.

“Tetapi situasinya semakin tidak terkendali karena tim sudah mengarah kepada kepentingan dan keuntungan pribadi. Itu membuat saya akhirnya memutuskan untuk keluar meskipun dianggap sebagai pemberontak. Tetapi tidak apa-apa, karena orientasi saya tidak selalu uang. Jadi meskipun dikasih uang berapa karung pun tetapi untuk kepentingan seseorang saya tidak mau. Sebaliknya tanpa uang sekalipun, saya mau kalau untuk kepentingan tim,” tegas pengagum Margareth Tatcher

Karakter seperti itulah yang membuat Anik dikenal oleh penggiat MLM di dalam dan luar negeri. Kadang mereka menganggap Anik sebagai orang yang keras kepala, tidak tahu diuntung sampai manusia terbodoh di dunia karena melepaskan peluang yang sudah ada di depan mata. Sebenarnya, Anik hanyalah menginginkan tereksploitasinya kebaikan dalam diri setiap orang. Meskipun hanya office boy, CS dan lain-lain, apapun profesinya menjadi yang terbaik adalah keharusan.

Apabila terjadi kesalahan, lanjutnya, seorang pimpinan tidak perlu mencari kambing hitam. Akan lebih baik kalau kesalahan yang ditimbulkan oleh tim tersebut kemudian dicarikan solusi terbaik. Sesuai dengan pengalaman yang diperoleh selama bekerja di hotel, sebagai pimpinan Anik bertindak memanusiakan karyawan. Hubungan yang terjalin pun akhirnya tidak seperti antara seorang bos dan karyawan, tetapi menjadi saudara sendiri.

“Tetapi dalam bekerja tetap professional. Kekeluargaan boleh sehingga mereka tidak ada yang takut sama saya. Malah kalau saya tidak masuk suka nyariin, kan biasanya karyawan kalau bos tidak masuk senang sekali. Tetapi di kantor saya beda, mereka merasa ada yang kurang ketika saya tidak masuk,” tegas ibu satu anak istri dari Chresno Dwipoyono Yunanto Wibowo.

PT Daya Dinamika Nusantara (Double Dynamic Network-DDN) merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang pemasaran produk kesehatan dengan sistem penjualan langsung berjenjang atau MLM. Perusahaan ini didirikan oleh Anik Indaryani, SE bersama teman-temanya sesama networker pada awal tahun 2009. Produk kesehatan yang dipasarkannya juga diproduksi oleh sebuah perusahaan lokal, Aimfood Manufacturing Indonesia – Tangerang. PT DDN berkantor pusat di Jl A Yani No 245 Bandung Jawa Barat dan memiliki stokes di beberapa kota di Indonesia.

“Kita telah memasuki tahun ketiga dari tahun 2009 dan dibangun dari nol. Ingat dibangun bukan dijalankan dimana saya bersama tim mencoba membangun dari kecil sekali dan diremehkan orang. Tetapi saya terus berusaha mewujudkan mimpi, karena dunia multilevel adalah dunia yang sangat unik. Bisnis MLM bisa dijalani oleh orang-orang yang seharusnya ada keterbatasn usia produktif, latar belakang pendidikan, cacat fisik dan lain-lain. Semua bisa diakomodir dan tidak terbatas agama, gender dan lain-lain. Saya menilai ini mulia, yang penting kita tidak menipu,” tandasnya.

Anik mengakui, saat ini citra MLM sangat buruk. Tetapi justru karena itulah ia ingin mengangkat citranya menjadi lebih baik. Karena sebenarnya network dalam dunia bisnis semua meniru bisnis MLM. Artinya semua usaha meniru MLM sementara masalah hasil Tuhan yang menentukan. Di bisnis MLM, roda bisnis dijalankan dengan cara dan strategi yang telah tersusun dengan rapi. Sebenarnya, network sudah terlihat sejak zaman nabi, melalui syiar agama yang dibantu sahabat sebagai team leader. Begitu juga dengan Bung Karno, yang tidak bisa memerdekakan bangsa Indonesia seorang diri.

“Di Indonesia, saya menyayangkan banyaknya bisnis MLM yang datang dari luar negeri dan mendapat sambutan luar biasa. Padahal yang menjalankan itu kan kita sendiri. Kemajuan Malaysia yang melebihi Indonesia disebabkan karena pemerintah mengakui potensi warganya dan mendukung mereka berkembang. Kenapa, karena mental kita tidak siap, karena kita terbiasa dininabobokan. Bukan bermaksud merendahkan, tetapi mental tersebut yang sangat saya sayangkan,” tuturnya.

Selama menjalani bisnis network, Anik Indaryani belajar mengenali karakteristik masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia. Ia paham bahwa setiap daerah memiliki orang-orang dengan karakteristik dan mindset yang berbeda. Untuk itu diperlukan strategi berbeda-beda dalam merangkul masyarakat di wilayah-wilayah yang berbeda agar bergabung dalam network yang disusun.

Meskipun demikian, Anik selalu berpegang bahwa bisnis yang dilakukannya merupakan solusi bagi kehidupan. Oleh karena itu, ia jatuh bangun untuk membesarkan PT DDN sehingga mencapai sukses seperti sekarang. Padahal, dalam perjalanannya, PT DDN menghadapi berbagai serangan dari para kompetitor. Ia menganggap sepi semua serangan dan hujatan yang datang dari pesaing yang akan menghabiskan tenaga kalau ditanggapi.

“Saya anggap biasa saja, kalau kita sudah berniat terjun di dunia bisnis ya seperti kita meniti ombak. Hujan badai seperti biasa dan kalau saya terpancing bisa gawat. Karena banyak omongan negative tentang SDM perusahaan yang datang kepada saya. Tegas saya katakan, bahwa ini perusahaan dan ini perilaku personal . Saya pisahkan antara perusahaan dan individu, sampai-sampai saya bilang kalau menginginkan perusahaan dikelola oleh orang yang bersih dari masa lalunya, tunggu saja malaikat,” kata Anik yang selalu melihat sisi positif seseorang tersebut.

Integritas dan Kejujuran

Anik memiliki patokan khusus dalam menjalani kehidupan dan bisnis yang digelutinya. Yakni ketika tindakan atau kegiatannya telah memberikan manfaat nyata bagi orang lain itulah kesuksesan dirinya. Di saat-saat seperti itu, ia merasa bagaikan mendapat sebungkah berlian. Baginya, itulah kesuksesan hakiki yang berhasil diperoleh seseorang. Apalagi kalau mengingat bahwa apa yang dimilikinya kalau dipaksakan untuk membayar sesuatu tidak cukup sehingga pilihan berbagi adalah sesuatu yang masuk akal.

“Buat segala sesuatu seburuk apapun menjadi baik. Itu yang harus kita pegang dan pasti bisa. Menghadapi sebuah masalah besar menjadi tidak punya masalah adalah ciri-ciri calon orang sukses. Kalau ada orang yang memiliki masalah kecil tetapi dibesar-besarkan, bahaya itu, sakit hati fitnah sana-sini. Yang penting, saya berbuat baik untuk kehidupan ini. Kalau banyak omongan tentang perusahaan artinya kita mulai diperhitungkan,” ujarnya.

Anik mengambil hikmah terhadap kejadian yang dialaminya. Apalagi kalau ia bisa mengendalikan kondisi emosional seperti menjadi bahan perbincangan orang tetapi tetap dihadapi dengan tersenyum. Baginya, kondisi seperti itulah yang harus disyukuri, sehingga akan berkembang dengan baik. Ia sering menyatakan untuk tidak pernah memikirkan perut dan ambisi masing-masing. Akan lebih baik kalau memikirkan kepentingan orang banyak sehingga setiap langkahnya dipermudah Tuhan.

“Itu saya dapatkan dari kehidupan bukan belajar. Saya tidak suka kalau dikasihani dalam menjual. Karena integritas dan harga diri itu sangat penting dalam hal apapun. Tidak perlu bonus besar, gaji gedhe atau apapun, tetapi kalau mengorbankan harga diri atau integritas, no way. Saya akan bangga kalau ditunjukkan orang yang dengan kualitas hebat, integritas tinggi dan mempunyai harga diri. Saya suka orang yang berintegritas, jujur, baik dan lain-lain,” ungkapnya.

Anik sadar, PT DDN yang dibangunnya memang belum besar dan sukses. Masih banyak hal-hal yang harus dibenahi. Tetapi, ia akan terus berusaha sekuat tenaga dan menyerahkan seluruh hasilnya kepada Tuhan. Meskipun perempuan, ia berharap kaumnya tidak pernah mengandalkan kelemahan sebagai senjata untuk mempermudah jalannya. Seharusnya perempuan menolak untuk dikasihani dan membuktikan kemampuannya dengan berjuang mewujudkan cita-cita dan keinginannya.

Begitu juga dalam kehidupan berumah tangga. Anik berharap antara suami dan istri terjalin hubungan persahabatan. Ia tidak pernah mengedepankan ego dalam kehidupan rumah tangga. Meskipun di kantor ia adalah direktur utama, tetapi di rumah ia tetap seorang istri sekaligus ibu dari anak semata wayangnya.

“Kalau di rumah saya juga pakai daster dan masak untuk anak dan suami. Hubungan kami pun menjadi seperti sahabat, saling terbuka satu sama lain dan menghargai satu sama lain. Komunikasi adalah kunci dalam memelihara keutuhan keluarga. Kuncinya komunikasi, saling memahami dan percaya, antara suami dan istri,” ujarnya.

Menurut Anik, seorng wanita dalam wmansipasi harus mempunyai harga diri dan kemandirian. Memang laki-laki adalah imam, tetapi kerjasama yang terjalin tidak harus memandang jenis kelamin. Meskipun secara agama memang laki-laki adalah imam tetapi dalam kacamata kehidupan perempuan tidak berbeda.

“Artinya secara kodrat oke, tetapi kemampuan tidak bisa dibatasi. Itu yang paling penting makanya ada presiden wanita segala. Staf saya perempuan juga saya gembleng, jangan menggunakan kelemahan sebagai perempuan. Kita bisa mendapatkan apa saja selama kita bisa dan mampu. Sebagai perempuan kita harus tetap melakukan yang terbaik,” tegasnya.

Membangun Negeri

PT DDN adalah perusahaan lokal yang sedang berkembang menjadi perusahaan nasional. Sebagai Direktur Utama, Anik Indaryani, SE menginginkan pelaku networking memiliki jiwa mandiri dan menjadi panutan bagi leadership yang tidak hanya sekadar mencari uang. Mereka secara keseluruhan harus memiliki visi dan misi untuk ikut membangun negeri. Utamanya dalam membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan, dan mengangkat derajat kesehatan.

“Kebetulan kita juga menjual produk kesehatan. Banyak masyarakat yang terbantu penyakitnya karena mengonsumsi produk kita, baik untuk pengobatan maupun pencegahan. Sementara dari sisi usaha, bagi orang yang susah mencari pekerjaan, karena faktor usia, dan lain-lain di sini bisa kita akomodir seluruh kalangan untuk mencapai kesejahteraan dan kesehatan. Kita ada di Sumbar, Pekanbaru, Jabotabek, Jatim dan Makassar. Member berjumlah puluhan ribu di seluruh Indonesia. Kita selalu mencoba untuk membantu pemerintah membangun negeri ini,” tegasnya.

Dari sisi bisnis, marketing berbasis penjualan langsung berjenjang, para networking di DDN berasal dari berbagai profesi. Mulai pengangguran yang membutuhkan pekerjaan, lansia yang butuh kegiatan, sampai PNS, guru dan profesional bergabung karena melihat adanya peluang dalam bisnis ini. Memasuki tahun ketiga ini, DDN sudah mengeluarkan 15 buah mobil, dan bonus harian sudah mencapai Rp20 juta per hari bagi networker berprestasi.

“Peraihan prestasi sudah mereka nikmati, yang mungkin tidak bakal teraih dalam pekerjaan mereka sebenarnya. Inilah kenapa saya tekuni bisnis ini tidak hanya bertujuan meraih keuntungan tetapi lebih luas lagi, kesejahteraan bangsa ini. Hanya saja, saya ingin pemerintah kita mengakui bisnis MLM seperti ini, seperti di Malaysia. Karena ini juga mendidik kita untuk menjadi pemimpin. Kalau jadi karyawan atau pegawai, sepintar apapun kita tidak aakan melampaui atasan kita. Sementara di dunia networking, semua bisa terjadi. Dengan bisnis ini sudah bisa mengatasi pengangguran,” ujarnya.

Dengan jumlah member yang sudah mencapai puluhan ribu tersebar di beberapa daerah di tanah air. Bandung, Jakarta, Surabaya, Sumatera meliputi Palembang, Padang, Payakumbuh, Lampung, Jambi, Kalimantan dan Sulawesi adalah area pemasaran produk DDN. Bahkan, saat ini telah datang permintaan dari luar negeri seperti Malaysia, Vietnam, Australia dan Italia.

“Oleh karena itu, ke depan kita sudah merintis pengembangan menuju go public yang sudah kita blue print-kan, dan mungkin kita akan masuk bursa efek, menjadi holding company dan berakspansi ke negara lain serta bukan sekadar perusahaan MLM saja. Mungkin kita juga akan mendirikan yayasan pendidikan dan yayasan kesehatan agar semakin bermanfaat bagi bangsa ini. Yang penting misi kita adalah misi kebersamaan,” ungkapnya.

 

Kombes Pol. Drs. Siswandi

No Comments

Kanit II Direktorat IV Bareskrim Polri

Indonesia Pangsa Narkotika Dunia

Peredaran narkotika dan obat-obatan (narkoba) semakin meluas belakangan ini. Maraknya bisnis narkoba tidak lepas dari besarnya perputaran uang haram di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung, menurut laporan lembaga PBB, United Nation Office on Drug and Crime (UNODC), nilai perdagangan narkoba tahun 2003 mencapai US $ 322 miliar. Angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan Gross Domestic Product (GDP) 88 persen negara-negara di dunia. Sedangkan di Indonesia, tercatat sebesar Rp12 triliun dihasilkan dari perdagangan narkoba.

Meskipun demikian, besaran uang yang dihasilkan tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan. Karena dampak penyalahgunaan narkotika sangat luas. Tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik dan mental tetapi juga ketenangan kehidupan dalam keluarga, meresahkan masyarakat dan terjadinya pelanggaran hukum. Dampak nyata yang dapat dilihat langsung dari pengguna narkoba adalah perubahan perilaku (malas, melawan, membantah, berbohong, dan lain-lain), kriminalitas, prostitusi, keluarga hancur, putus sekolah, penyakit AIDS, HIV sampai meninggal dunia.

Pemakai narkoba berubah menjadi orang egois, eksklusif, paranaoid, jahat dan asosial. Tuntutan kebutuhan fisik tersebut membuat sebagian besar pengguna narkoba mengalami kerusakan mental dan moral. Banyak pengguna yang untuk memenuhi kebutuhan terhadap narkoba menjadi pelacur, penipu, penjahat dan pembunuh. Kejahatan yang dilakukan pun tidak pandang bulu, bisa menimpa teman, sahabat, saudara bahkan orang tua kandungnya sendiri.

“Kondisi fisik yang lemah membuat mereka malas yang berujung menjadi bodoh dan miskin. Akan menjadi semakin berbahaya ketika orang miskin memiliki kebutuhan mahal karena mereka akan menjadi jahat. Ini akan menjadi ancaman bagi masyarakat, menjadi penyakit dan malapetakan bagi bangsa. Pemakai narkoba tidak hanya mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga datangnya penyakit menular,” kata Kombes Pol. Siswandi, dalam bukunya “Pangsa Narkotika Dunia Indonesia”.

Menurut Siswandi, kerusakan yang tidak kalah berbahaya adalah gangguan psikologis serta kerusakan mental dan moral. Seorang anggota keluarga menjadi pengguna narkoba akan menimbulkan beragam masalah bagi keluarga tersebut. Awalnya masalah psikologis berupa gangguan keharmonisan rumah tangga karena muncul rasa malu pada anggota keluarga yang lain kepada tetangga dan masyarakat.

Dari masalah psikologis akan berkembang menjadi masalah ekonomi, ketika keluarga memutuskan untuk merehabilitasi anggota keluarga yang terjerumus ke lembah narkoba. Upaya mengembalikan anggota keluarga ke jalan yang benar ini memakan waktu dan biaya yang sangat besar. Padahal, keluarga telah kehilangan barang-barang berharga akibat pengguna narkoba mencuri dan menjualnya untuk memenuhi ketergantungan terhadap narkoba.

Masalah ekonomi yang ditimbulkan akibat kenekatan pengguna narkoba bisa menghancurkan keluarga. Tidak hanya sekadar terkurasnya harta benda –baik yang dicuri maupun untuk rehabilitasi- tetapi bisa berujung kekerasan dalam rumah tangga. Mulai tingkat perkelahian, pemaksaan, penganiayaan dan yang lebih tragis terjadi pembunuhan sesama anggota keluarga.

Selain itu, penyalahgunaan narkoba juga bisa mengakibatkan perceraian, anak terlantar, putusnya hubungan asmara, putus sekolah dan lain-lain. Intinya, masalah narkotika akan merembet kepada masalah-masalah lain yang lebih luas dan berbahaya seperti kriminalitas, prostitusi, korupsi, kolusi, nepotisme dan lain-lain.

Bila kerusakan tatanan kehidupan meluas ke seluruh pelosok negeri, pembangunan akan terhambat, kemiskinan meluas, kekacauan merata dan kejahatan muncul di mana-mana. “Jika demkian, sekeras apapun usaha kita membangun negara, kehancuran bangsa ini tinggal menunggu waktu. Intinya, narkotika dapat membunuh anak bangsa,” tegasnya.

Negeri Seribu Pintu

Melihat begitu besarnya uang yang beredar di dunia narkoba, bisnis ini sudah menggurita di seluruh dunia sejak puluhan tahun lalu. Nama-nama besar mafia dunia tidak bisa dilepaskan dari bisnis narkoba, meskipun mungkin berkedok usaha yang secara hukum resmi dan legal. Sementara di Indonesia, bisnis narkoba telah tumbuh sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu, bahkan narkoba merupakan bisnis yang legal sesuai hukum Belanda.

Pasca kemerdekaan bisnis narkoba di Indonesia dilarang secara hukum. Meskipun demikian, beberapa “pemain” tetap melakukan bisnis narkoba secara sembunyi-sembunyi. Apalagi barang haram berupa ganja bisa ditemukan secara alami di wilayah Sumatera seperti Aceh, Jawa dan daerah lainnya. Selain itu, pertumbuhan penduduk Indonesia yang sangat cepat, menjadikan negeri ini sebagai target pangsa narkoba dunia.

Di sisi lain, jalan untuk memasukkan narkoba ke Indonesia pun terbuka lebar. Meskipun jalur penerbangan udara relative tertutup karena ketatnya penjagaan petugas, namun Indonesia memiliki 17.840 pulau besar dan kecil. Artinya, Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang (95.181 kilometer dan terpanjang di dunia) dengan beberapa pelabuhan saja yang diawasi petugas. Inilah celah yang bisa dimanfaatkan oleh penyelundup narkoba disamping perbatasan dengan negara lain.

“Dunia internasional mengakui potensi kekayaan Indonesia sebagai sebuah kekuatan yang luar biasa. Sejak dahulu, Indonesia menjadi ‘target serbu’ negara luar yang hendak berkuasa atas negeri kepulauan ini. Tetapi sebagai negara kepulauan dengan segala potensinya memang menguntungkan di satu sisi. Tetapi sekaligus merugikan karena menjadi peluang bagi penyelundupan narkoba. Artinya, seluruh pesisir Indonesia menjadi puntu masuk datangnya barang atau orang dari luar negeri,” ujarnya.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki 39 pelabuhan laut yang terbuka bagi perdagangan internasional. Selain itu, banyak pelabuhan laut yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat. Meskipun demikian, kedua pelabuhan –baik internasional maupun tradisional- menjadi sarana untuk penyelundupan narkoba secara efektif sehingga memerlukan pengawasan intensif aparat.

Di daratan, Indonesia berbatasan langsung dengan tiga negara pada 47 kecamatan. Yakni 19 kecamatan berbatasan langsung dengan Malaysia, 17 kecamatan berbatasan dengan Papua New Guinea dan 10 kecamatan berbatasan langsung dengan Timor Leste. Masing-masing perbatasan memiliki karakteristik tersendiri terkait permasalahan pelintas batas serta arus keluar masuk barang.

Pintu masuk peredaran narkoba lainnya adalah bandar udara yang berjumlah 22 di seluruh Indonesia. Beberapa bandara langsung didarati pesawat dari luar negeri tanpa harus transit di Bandara Soekarno Hatta sebagai bandara internasional utama. Dari sinilah, beberapa kali petugas berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkoba dari sindikat luar negeri ke Indonesia. Oleh karena itu, saat ini 10 bandara mendapatkan pengawasan prioritas terkait penyelundupan narkoba.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia menjadi surga bagi para pemasok narkoba internasional? Padahal, secara ekonomi penduduk Indonesia masih kalah sejahtera dibandingkan dengan penduduk negara-negara di sekitarnya. Artinya daya beli rakyat Indonesia masih rendah daripada penduduk Malaysia, Thailand apalagi Singapura.

Jawabannya, perbandingan harga antara pasaran narkoba dunia dan Indonesia tidak tanggung-tanggung, mencapai 2000 persen. Artinya untuk harga Rp600 ribu per gram shabu di Iran, orang Indonesia berani membayar Rp2 juta. Sementara di Malaysia barang yang sama hanya dihargai maksimal Rp360 ribu saja setiap gram-nya. Begitu juga dengan heroin yang di Kolombia per gram hanya Rp38.700 di Indonesia mencapai Rp2 juta.

Dengan semakin meningkatnya pengguna narkoba di Indonesia -dari 3,2 juta tahun 2004 menjadi 3,6 juta tahun 2010- Indonesia adalah benar-benar surga bagi para mafia narkoba internasional. Tidak heran, segala cara digunakan untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia.

Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015

Peredaran narkoba harus diperangi sampai ke akar-akarnya. Seperti juga telah dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Anti Narkotika International (HUT HANI) tahun 2006, “Negara tidak boleh kalah melawan penjahat apalagi SIndikat Narkotika”. Oleh karena itu, perang terhadap narkotika setara dengan perang melawan korupsi dan terorisme. Sebab, fakta akibat kejahatan narkotika setiap hari 50 anak Indonesia meninggal dunia.

Dengan begitu, perang terhadap narkotika merupakan perang seluruh rakyat Indonesia. Persoalan narkotika telah dikaji dari berbagai aspek, mulai kesehatan dan psikologis semuanya berbahaya bagi kehidupan. Tidak hanya jumlah korban yang terus meningkat tetapi juga dampak sistemik dari penggunaan narkoba tidak pada tempatnya yang mengakibatkan rusaknya generasi muda. Dikhawatirkan, dampak narkoba ke depan akan mengancam kedaulatan negara.

Fakta yang terkumpul dari lapangan, terungkap maraknya peredaran narkoba di Indonesia tidak lepas dari 12 unsur yang memudahkan barang haram tersebut beredar dan berkembang. Peluang tersebut menjadi faktor kunci yang mendorong sindikat narkotika internasional menjadikan Indonesia sebagai pangsa dengan populasi 230 juta jiwa. Adapun 12 peluang dan penyebab masuknya narkoba ke Indonesia adalah:

1. Banyaknya Pintu Masuk
Faktor geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menyebabkan banyak celah yang memudahkan sindikat narkotika internasional masuk ke wilayah nusantara. Caranya lewat tiga pintu masuk yang tersedia, darat, laut dan udara dengan komposisi terbanyak lewat laut, disusul darat dan udara.

2. Murahnya Harga Kurir
Penyelundupan narkoba di Indonesia turut melibatkan WNI sebagai kurir kebanyakan akibat masalah ekonomi yang menderanya. Celakanya upah yang mereka terima sangat mudah dan tidak sepadan dengan risiko yang harus mereka hadapi ketika tertangkap.

3. Mudahnya Merekrut Kurir
Selain murah, kurir Indonesia juga sangat mudah direkrut. Iming-iming bepergian ke luar negeri, memacari sampai menikahi, adalah cara termudah untuk memperoleh kurir.

4. Mudahnya Membentuk Jaringan
Kejahatan narkoba adalah kejahatan terorganisir yang sangat rapi dan melibatkan banyak orang. Sistem kurir, membuat tidak hanya antar kurir tidak saling mengenal, juga antara kurir dengan bosnya tidak pernah terjadi pertemuan. Kurir hanya mengenal orang yang merekrutnya sehingga ketika tertangkap jaringan terputus.

5. Tingginya Harga Jual
Harga jual narkoba di Indonesia yang sangat tinggi membuat sindikat narkoba internasional tertarik menjual dagangannya di sini. Motif keuntungan akibat harga selangit mendorong sindikat dengan segala cara berusaha memasukkan narkoba ke Indonesia.

6. Mudahnya Mencari Tempat Tinggal
Indonesia menjadi surga bagi para pengedar narkoba internasional karena sangat mudah mencari tempat tinggal. Saat ini, demi mengagungkan privasi rumah, apartemen, hotel sampai kos-kosan tidak peduli dengan aktivitas penyewa.

7. Tingginya Jumlah Penduduk
Narkoba tetaplah sebuah bisnis, sehingga sesuai analisis bisnis Indonesia merupakan target pasar yang sangat menarik. Jumlah penduduk yang besar dengan daya beli dan selera tinggi pada tingkat atas menjadi sasaran pemasaran barang haram tersebut.

8. Penerapan Sanksi Hukum Kurang Maksimal
Meskipun Indonesia negara hukum dan menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi, tetapi masih memerlukan pengawasan dalam penerapan sanksi hukum bagi terpidana. Banyak kasus hukum besar yang mendapat sanksi kecil dan sebaliknya kasus-kasus hukum kecil justru memperoleh sanksi yang maksimal.

9. Kurang Memiliki Kepastian Hukum
Tindak pidana narkotika di Indonesia diatur dalam UU No. 5 1997 tentang psikotropika, dan UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, yang mengatur semua hal terkait dengan hukuman dan vonis pelaku kejahatan narkotika. Sayangnya dalam penerapannya tidak ada kepastian hukum sehingga banyak terpidana mati narkoba yang tidak kunjung dieksekusi bahkan memperoleh pengampunan atau pengurangan hukum.

10. Terbatasnya Peralatan dan Kurangnya SDM
Perlindungan terhadap keselamatan masyarakat Indonesia terkait narkoba sejatinya didukung oleh sumber daya manusia (SDM) dan peralatan yang kuat. Sayangnya, sumber daya yang dimiliki kepolisian masih sangat minim pengetahuan narkotika dalam menghadapi sindikat narkotika yang terus mencari modus operandi baru.

11. Lemahnya Pengawasan di Pintu Masuk
Kebanggaan sebagai negara dengan belasan ribu pulau memang patut disyukuri. Namun, jangan sampai kekayaan itu membuat bangsa Indonesia terlena sehingga bisa digunakan sebagai pintu masuk bagi sindikat narkoba internasional untuk memasukkan narkoba ke Indonesia.

12. Tingginya Ego Sektoral
Penanggulangan bahaya narkoba masih terkendala adanya egosentrisme sektoral antar instansi yang terlibat di dalam penanganan narkotika. Mulai petugas Bea dan Cukai, BNN dan Kepolisian Republik Indonesia, semua berjalan sesuai tupoksi masing-masing. Meskipun terkadang ego sektoral membuat penyidikan yang dilakukan pihak kepolisian menjadi gagal.

Melihat kenyataan tersebut, diperlukan good will dan political will dari seluruh elemen untuk pemberantasan peredaran narkoba. Dari 12 peluang tersebarnya narkoba tersebut jelas terlihat bahwa Indonesia sangat sulit untuk keluar dari cengkeraman jerat narkotika. Masih memerlukan upaya keras, tegas dan terus menerus untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba.

“Memang Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015 telah dicanangkan. Begitu juga negara-negara ASEAN yang bebas dari peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Sebagai bagian dari Polri, saya harus tunduk, patuh serta berkomitmen mensukseskan agenda nasional tersebut. Hanya niat dan keinginan saja yang memampukan kita melawan sindikat narkoba. Karena sejak wacana 2015 bebas narkoba, justru peredaran narkoba di Indonesia semakin tinggi. Dari negara transit menjadi negara tujuan, makanya saat inilah kita harus menentukan apakah kita serius menjadikan 2015 sesuai agenda atau justru menjadi kartel,” tegasnya.

Spesialis Jaringan West Africa

Kombes Pol Siswandi dikenal memiliki spesialisasi pada pengungkapan jaringan narkoba kulit hitam asal Afrika Barat (West Africa). Puluhan pengedar narkoba asal Afrika Barat telah berhasil dibekuk pria kelahiran Medan, 5 Juli 1959 ini. Dalam catatannya, fenomena yang terjadi dalam sindikat peredaran narkoba di Indonesia adalah penggunaan kurir wanita asal Indonesia. Data yang dimiliki instansinya menyebutkan bahwa sejak tahun 2006-2007, tercatat sebanyak 12 wanita Indonesia yang dijadikan kurir jaringan narkoba. Dalam struktur perdagangan narkoba terdiri dari pengedar, pemilik dan kurir.

Beragam profesi direkrut jaringan sindikat narkoba internasional untuk menjadi kurir. Mulai pelajar, ibu rumah tangga, orang yang terjerat hutang sampai nenek-nenek yang memiliki beban domestik direkrut menjadi kurir. Apalagi, karena dalam kondisi terpaksa seperti itu membuat bayaran untuk merekrut kurir di Indonesia sangat murah. Sungguh tidak sebanding dengan taruhan hukuman mati yang akan menimpa mereka dibandingkan dengan nilai narkoba yang harus diantarnya.

Belakangan, jaringan sindikat narkoba asal Afrika Barat merekrut kurir dari negara target yang biasanya wanita. Digunakannya kurir wanita, karena mereka memiliki masalah yang sangat kompleks, yakni beban domestik rumah tangga seperti urusan ekonomi dan anak-anak.

Masalah-masalah kompleks yang dihadapi (sebagian) wanita Indonesia tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh sindikat narkoba Afrika Barat. Apalagi, mind set wanita Indonesia terhadap orang-orang yang berasal dari Afrika Barat sangat baik. Adapun faktor yang membuat wanita Indonesia kepincut jaringan narkoba Afrika Barat dan dijadikan kurir, antara lain:

1. Warga Afrika Barat dinilai memiliki komitmen dan setia sebagai teman
2. Memiliki kemampuan seks yang sangat hebat
3. Memiliki kemampuan persuasi dalam memperdaya dengan berbagai janji-janji maupun imbalan bila berhasil dalam berbisnis
4. Merasa memiliki kebanggaan apabila bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris serta jalan bersama dengan orang-orang West Africa (sehingga berpeluang besar untuk satu kamar dan berbuntut dijadikan istri maupun wanita simpanan)

Keempat faktor inilah yang tanpa disadari dimanfaatkan oleh jaringan narkoba West Afrika, sehingga dengan mudah bisa beroperasi di Indonesia melalui bantuan kurir wanita pribumi. Beberapa siasat dilakukan oleh jaringan ini untuk menjebak beberapa wanita Indonesia yang tidak bisa dihindari, antara lain:

1. Orang-orang West Africa meminjam nomor rekening, ATM serta nomor PIN ATM dengan alasan untuk berbisnis. Para wanita tersebut dijanjikan akan menerima imbalan dari keuntungan bisnisnya (tanpa disadari wanita tersebut akan memberikan ATM berikut nomor PIN-nya)
2. Untuk menjadi guide dan teman West Africa yang notabene bertempat tinggal dalam satu kamar dan berlanjut sampai dijadikan istri maupun wanita simpanan
3. Setelah tinggal sekamar dan dijadikan istri atau wanita simpanan, apabila dengan cara baik-baik tidak bisa dijadikan kurir, maka kemudian dicari-cari kesalahannya untuk dijadikan sebagai ancaman agar bersedia dijadikan kurir dalam sindikat narkoba

Tips Untuk Wanita
Menghindari Jebakan Sindikat Narkoba Afrika Barat

 Hindari ajakan, rayuan dengan janji-janji dengan imbalan maupun dijadikan istri, apalagi gendakan agar tidak tertangkap
 Jangan sekali-kali meminjamkan ATM berikut nomor rekening serta nomor PIN ATM. Walaupun dengan berbagai alasan dan iming-iming janji apapun, karena semua kasus di dalam jaringan sindikat narkoba West Africa menggunakan ATM dengan nama wanita
 Jangan sekali-kali membawa, mengangkut maupun mengambil barang, baik paket, koper, tas dan lain-lain, karena semua kasus narkoba seluruh kurir yang membawa barang narkoba
 Hindari atau tolak bila WN West Africa ingin tahu dan kenal keluarga. Hal tersebut dapat mencegah pemberian apapun oleh sindikat narkoba kepada keluarga (ada kasus yang karena orangtuanya tidak bisa menolak sehingga anaknya diperbolehkan untuk disuruh mengambil koper di luar negeri, yang notabene koper tersebut berisikan heroin)
 Yang paling mujarab, hindari ingin kenal terhadap orang-orang West Africa sebelum mengetahui secara pasti dan jelas identitas, status maupun pekerjaannya di Indonesia. Alangkah lebih baik, konsultasikan dulu kepada instansi yang berwenang (polisi, imigrasi dan instansi lain). Sebagai contoh kasus, jangankan hanya gendaan yang mereka korbankan untuk dijadikan kurir sindikat narkoba, bahkan istri pun mereka korbankan untuk masuk dalam sindikat narkoba. Contoh kasus tersangka Elis Suginah dengan barang bukti 50 gram heroin. Ia menjadi istri West Africa yang sedang hamil 8 bulan dikorbankan untuk mengantarkan heroin sehingga tertangkap dan sampai melahirkan suaminya (WN Nigeria) tidak pernah muncul

Tips untuk Masyarakat
Dalam Upaya Mengungkap Sindikat Narkoba Afrika Barat
1. Apabila ada warga Negara Afrika Barat yang bertempat tinggal sebagai tetangga maupun menjadi warga setempat (karena kontrak, kost dan lain-lain). Tanya dulu identitas yang lengkap dan statusnya sebagai apa (bekerja sama dengan RT/RW, lurah dan camat)
2. Fotocopy dokumen-dokumen yang ada dan dilihat dulu paspor aslinya. Sehingga fotocopy dokumen-dokumen tersebut ada di tingkat RT/RW, kelurahan dan kecamatan (biasanya tidak memiliki paspor asli)
3. Catat dan laporkan kepada aparat setempat bila ada WNA Afrika Barat yang melakukan aktifitas tidak jelas, seperti pergi pagi dan pulang pagi, pergi sore pulang pagi, kehidupan mewah pekerjaan tidak jelas, naik mobil gonta-ganti dan sebagainya
4. Jangan berikan peluang dan kesempatan lingkungan, tempat tinggal tersebut dijadikan basis jaringan Afrika Barat
5. Laporkan segera kepada petugas setempat kalau ada hal-hal yang mencurigakan (paling tidak sudah mencegah, serta berpartisipasi aktif membantu petugas dalam memberantas sindikat narkoba Afrika Barat)

Biodata:

Nama : Drs. Siswandi
Pangkat/NRP: Kombes Pol/59070990
Tempat/Lahir: Medan, 05 Juli 1959
Jabatan : Kepala Unit II
Kesatuan : DIT IV/TP.NARKOBA DAN K.T – BARESKRIM POLRI
No. HP : 0857 1870 0000
Kantor/fax : 021 – 80877403

Riwayat Jabatan:
1. Inspektur Muda Akademi Kepolisian
2. Kapolsek Way Jepara Res Lampung Tengah SUMBAGSEL
3. Ka KPPP Panjang Polwil Lampung Polda SUMBAGSEL
4. Kapolsek Tj Karang Barat Polwil Wil Lampung SUMBAGSEL
5. Kasat Serse Resta Bandar Lampung Polda SUMBAGSEL
6. DIK/Mahasiswa PTIK Angkatan 28 TH. 1991
7. Kasat Serse Res Probolinggo Polda JATIM
8. Kasat Serse Res Surabaya Selatan Polda JATIM
9. Kasubbagin Ops. Serse Ek Dit Serse Polda JATIM
10. Pabandya Skamtibmas Mabes ABRI
11. Kanit Narkotik Ditserse Polda Metro Jaya
12. DIK/Mahasiswa Sespim Pol Angkatan 34 TH. 1997
13. Kabag Narkotik Ditserse Polda KALTIM
14. Kasat VC Dit Pidum Korserse Polri
15. Kasat Serse Polwiltabes Bandung Polda JABAR
16. Kapolresta Cirebon Polda JABAR
17. Kasubag Min Korta Sespati Polri Sespimpol Lembang Bandung DIK Sespati Angkatan 16 TH. 2009
18. Kanit II DIT.IV/TP Narkoba dan KT Bareskrim Februari 2006- sekarang

Penugasan luar negeri:
1. China
2. Hongkong
3. Malaysia
4. Singapura
5. Philipina
6. Kamboja
7. Thailang
8. Korea Selatan
9. Jepang
10. Vietnam
11. Belanda
12. Perancis

Penghargaan:

1. Tahun 2008
International Professional Award 2008
Dalam Kategori Best Professional Yang Ditandatangani Oleh Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi R.I., Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata R.I. Serta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan R.I. Tanggal 23 Mei 2008.

2. Tahun 2009
Indonesian Professional And Educator Award 2009
Dari Lembaga Prestasi Indonesia Yang Ditanda Tangani Oleh Director Of Indonesia Strategic Institute (Irham Putra, MSi) Dan Chairman Of Organizing Commite (Fenita Hidayat).

3. Tahun 2010
Indonesian Quality Development Award
Kategori As The Best Professional Of The Year, Yang Ditandatangani Oleh Menko Kesra R.I. Dr. H.R Agung Laksono Serta Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata R.I. Ir. Jero Wacik, SE. Tanggal 12 Feb 2010.

 

Ir. Leo Nababan

No Comments

Staf Khusus Menko Kesra

Penganut Kristiani yang Menjadi Pengurus Masjid

Kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini marak terjadi di Indonesia. Bahkan konflik horizontal terjadi antara para pemeluk agama yang seharusnya hidup berdampingan secara damai. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia dengan berbagai macam budaya, adat, suku dan agama, “pernah” bersatu dan hidup rukun. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu telah menjadi pedoman hidup dan menjadi perekat bangsa sejak ribuan tahun lalu.

Namun, seiring perjalanan waktu sikap seperti itu mulai luntur. Perbedaan yang harusnya menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa ini, justru dianggap sebagai kelemahan. Berbagai upaya dipaksakan untuk membuat orang-orang yang berbeda pandangan, mengikuti keyakinan dan aturan-aturan yang dianggap benar oleh sekelompok orang.

Meskipun begitu, tidak semua orang Indonesia berpendapat sama. Di tengah masyarakat banyak sikap-sikap yang menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan dan sekat-sekat telah melebur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Ir. Leo Nababan untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Staf Khusus Menko Kesra tersebut memberikan contoh yang luar biasa bagaimana hidup bermasyarakat. Yakni menjadi pengurus masjid -yang mungkin satu-satunya di Indonesia- meskipun ia sendiri seorang penganut Kristiani taat.

“Agama adalah masalah pribadi, antara manusia dan Tuhan. Kesalahan bangsa ini adalah selalu mencampuradukkan agama dan kehidupan. Itu yang susah, habluminallah dan habluminannas-nya harus seimbang. Saya memang seorang Kristen dan saya bersyukur karena itu. Tetapi saya juga pengurus Masjid Jami’ Al Mukminin di Kayumanis 10, sebagai koordinator pencarian dana pembangunan masjid,” katanya.

Dari sudut pandang Kristiani, Leo Nababan merasa hidupnya tidak berguna apabila mengabaikan nasib tetangganya. Oleh karena itu, ketika melihat kesibukan tetangga-tetangganya yang muslim membangun masjid, ia juga melibatkan diri. Penerimaan warga muslim terhadapnya pun cukup terbuka dan menerimanya sebagai bagian dari kepanitiaan pembangunan masjid. Ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan saudara-saudara muslimnya, dan melaksanakan tugasnya dengan baik.

Leo Nababan sangat menyesalkan adanya kelompok-kelompok yang membawa-bawa agama dalam setiap permasalahan. Jumlah penganut paham ini semakin lama membesar dan terang-terangan memaksakan kehendaknya kepada orang lain yang tidak sepaham. Agama telah menjadi bahan konflik, meskipun dalam kitab suci Al Quran jelas-jelas diajarkan bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

“Itu adanya pengakuan bahwa ada agama lain selain Islam. Nabi Muhammad pun mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia, apapun agamanya. Saya adalah seorang Kristen yang setuju pembakaran gereja, karena secara logika TIDAK MUNGKIN gereja dibakar asalkan gereja tersebut “tidak menjadi MENARA GADING” bagi masyarakat di sekitarnya. Artinya, gereja membiarkan tetangga-tetangganya miskin dan kelaparan, tetapi malah membangun menara. Tidak mungkin gereja dibakar kalau gereja melihat kondisi tetangganya,” tandasnya.

Menurut Leo, bangsa Indonesia tidak akan marah kalau ada orang yang mengaku sebagai orang Kristen atau agama lainnya. Karena negara juga mengakui agama sah dan Indonesia: Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Sebenarnya bangsa Indonesia sejak zaman dahulu terbiasa hidup damai berdampingan. Hal tersebut tidak hanya sekedar wacana, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam hidupnya. Hampir setiap akhir pekan, ia mengajarkan kehidupan yang luas dan damai kepada kedua anaknya.

“Saya mengajaknya ke pesantren (kebetulan saya dekat dengan Pak Kyai, Prof. DR. Achmad Mubarok –Wakil Ketua Umum Partai Demokrat- dan juga Ketua Umum Pondok Pesantren se-Indonesia yang mempunyai Pondok Pesantren di sekitar Jabotabek) supaya bisa bergaul dengan sesama anak bangsa dan berbagi dengan mereka. Kehidupan bangsa ini harus dimulai dari hal-hal kecil seperti itu,” tuturnya. Leo juga mengkritik pelajaran agama di sekolah, yang harus memisahkan anak-anak beragama lain ketika pelajaran sedang berlangsung. “Secara tidak sadar, kita menitipkan permusuhan sejak kecil,” imbuhnya.

Dunia Inovatif

Ir. Leo Nababan dilahirkan pada 30 Oktober 1962 di Sei Rampah, sebuah desa di pedalaman Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga yang sangat bersahaja, marginal dan golongan bawah. Sang ayah, H. Nababan adalah seorang guru jemaah gereja sementara ibunya, L. Simanjuntak (almh) adalah seorang guru SD. Kedua orang tuanya mendidik Leo dengan disiplin keras dalam segala hal menyangkut kehidupannya.

“Tetapi saya tidak pernah menyesali dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja. Saya terus bersyukur karena Tuhan Yesus Maha Besar dan selalu mengandalkan-Nya dalam hidup saya. Dari perjalanan hidup yang sedemikian itu membuat saya sangat concern dalam kemanusiaan, memperjuangkan kaum marginal, kelas bawah dari mana saya berasal,” tegasnya.

Kaum marginal, lanjutnya, harus dituntun dan diberdayakan dengan memberikan dan membuka lowongan pekerjaan seluas-luasnya. Begitu juga dengan memberikan modal agar mereka bisa membuka usaha dan mampu membangun kemandirian. Untuk itu, ia sangat mendukung program pemerintah dibawah koordinasi Menko Kesra seperti penyaluran kredit melalui KUR, program PNPM dan bantuan beasiswa bagi anak miskin berprestasi. “Pendidikan merupakan salah satu terobosan untuk mengubah orang-orang yang terpinggirkan,” tandasnya.

Di sisi lain, menurut Leo, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila mampu mengelola SDM dan sumber daya alam dengan baik. Karena seiring dengan kemajuan teknologi di era globalisasi, tantangan yang dihadapi bangsa ini ke depan semakin berat. Mendidik SDM handal dan hebat tidak cukup untuk menghadapinya. Apalagi CFTA (China Free Trade Area) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang tahun ini mulai berlaku membuat persaingan semakin ketat. Tidak hanya produk dari China dan negara-negara ASEAN yang bebas dipasarkan, tetapi juga pasar tenaga kerja terbuka dan bebas beroperasi di Indonesia.

“Makanya saya mengajak bangsa Indonesia untuk kreatif, karena tantangan ke depan bukan lagi SDM yang hebat. Tetapi SDM inovatif dan kreatif yang akan menjadi andalan bangsa ini ke depan. Kita tidak bisa menutup mata, adanya kemungkinan bahwa negara kita hanya sekadar menjadi pasar dunia luar. Saya minta dengan sangat untuk memacu generasi muda agar berkepribadian dan berjati diri, tetapi juga memiliki inovasi dan kreativitas, agar diakui bangsa lain,” tegas pria 48 tahun yang sudah mengunjungi 36 negara ini.

Leo berharap, bangsa Indonesia tidak bersedih hati dan meratapi kondisinya yang terpuruk sekarang ini. Indonesia adalah negara besar yang “hanya” memerlukan pengelolaan yang benar. Seluruh elemen bangsa harus menatap masa depan yang cemerlang dan melupakan kepahitan masa lalu. Jangan pernah menyesal telah menjadi bangsa Indonesia dan harus bangga karenanya. Kuncinya, harus menggembleng generasi muda menjadi generasi kreatif dan inovatif di era globalisasi ini.

“Saya tegaskan sekali lagi, bangsa ini harus menatap masa depan cemerlang. Dengan catatan bahwa nasionalisme harus terus, jangan menyesali kita ini orang Indonesia dan jangan merendahkan bangsa sendiri. Di rumah saya pasang foto besar saat berkunjung ke Eropa, sepatu saya disemir oleh orang bule. Ini merupakan rangsangan bagi bangsa bahwa jangan menganggap orang bule segalanya. Itu mental bangsa terjajah, toh kenyataannya, sepatu orang Melayu bisa disemir oleh bule,” tegasnya.

Tiga C

Perjalanan panjang Ir. Leo Nababan sebagai anak kampung termarjinalkan yang berhasil menaklukkan berbagai rintangan pantas dijadikan teladan. Sederet prestasi gemilang telah diukir oleh ayah dua anak hasil pernikahannya dengan Dr. Fabiola Alvisi Latu Batara ini. Tokoh Batak insipiratif ini pada usia 35 tahun telah menjadi anggota MPR RI. Kini, tanpa pernah menjadi PNS sebelumnya saat usianya 47 tahun diangkat sebagai pejabat Eselon IB di Kantor Menko Kesra.

Meskipun begitu, alumnus Lemhanas RI KRA XXXIX tahun 2006 ini tidak pernah sombong. Justru sikap yang selalu ditampilkan adalah kerendah hatian, selalu menaruh kepedulian serta penuh kasih kepada sesama. Latar belakang sebagai orang marjinal yang pernah menjadi penggembala kerbau dan itik (parmahan) selalu terbawa.

Pria cerdas yang sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas ini, diterima di Institute Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes tetapi menyelesaikan studi S1 di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia adalah peserta terbaik pertama Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) Pemuda Tingkat Nasional (1994), terbaik pertama International Standard Learning System (Effective Communications and Interpersonal Relation Skill, 1997), 10 besar terbaik Penataran P4 Pemuda Tingkat Nasional (1995) dan mendapat penghargaan KRA – XXXIX Lemhanas RI (Republik Indonesia) tahun 2006.

“Ketika masuk Lemhanas, terjadi pemikiran-pemikiran yang komprehensif integral tanpa memandang suku, agama dan lain-lain. Itu yang selalu membuat dalam menjalankan hidup saya selalu memberikan hal-hal yang the best bagi bangsa Indonesia. Apapun yang terbaik bagi bangsa ini harus kita berikan dengan setulus hati. Mindset berpikir kita pun harus diubah dan sebagai nasionalis tulen, saya harus berpikir pada kepentingan bangsa,” ujarnya.

Aktivitas berorganisasi dijalani Leo Nababan sejak usia belia. Di Bogor, ia masuk senat dan menjadi salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kosgoro hingga sampai pada posisi Sekjen DPP Mahasiswa Kosgoro. Leo juga pernah menjabat Ketua DPP AMPI yang membawanya sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Golongan Karya. Selain itu, Leo juga pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta nasional, dari staf direksi, direktur humas hingga komisaris. Sedangkan, di jajaran lembaga negara, Leo pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menpora, Staf Khusus Ketua DPR RI dan sekarang Staf Khusus Menko Kesra, Agung Laksono.

“Ada tiga c yang harus dipegang dalam menjalani kehidupan. Yakni, capability, capital dan connection yang harus sinergis dalam membangun kehidupan. Kemudian tiga hal untuk mencapai sukses adalah mengandalkan Tuhan dalam hidup, bekerja kerja keras meningkatkan kapabilitas dan membangun jaringan seluas mungkin,” tegasnya.

Leo sangat bersyukur, selain capability dan capital, Tuhan juga memberkati dirinya dengan connection/jaringan yang kuat. Memanfaatkan jaringan secara positif, akan mempercepat akselerasi kesuksesan seseorang. Kemudian yang tidak kalah penting adalah intensitas dalam mempertahankan dan memelihara hubungan baik pada jaringan yang sudah terbentuk. Semua itu didapat dari aktivitas berorganisasi yang sangat intensif.

“Saya terus belajar dan lewat organisasi membuka jaringan. Saya berhubungan dengan Pak Agung Laksono itu sudah 18 tahun. Dari sejak beliau memegang jabatan sebagai Sekjen Kosgoro, sementara saya Sekjen Mahasiswa Kosgoro, hubungan tersebut terus terjalin. Dalam interaksi intensif seperti itu, terjadi inovasi berpikir, bergaul dan saya menjadi andalan beliau. Bagi saya, beliau adalah guru, bagaikan buku yang tidak pernah habis saya baca setiap hari,” ungkapnya.

Ke depan, Leo Nababan memiliki obsesi untuk membangun patung Tuhan Yesus tertinggi di dunia di Pulau Samosir. Rencananya ia juga akan membangun patung Nommensen di seberangnya. Namun, ia tidak menargetkan kapan terwujudnya impian tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya obsesi tersebut pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. “Biar Tuhan yang tentukan waktu yang tepat. Puji Tuhan karena memang saya mengandalkan Dia dalam hidup saya,” tambahnya.

Leo sangat menyesalkan pudarnya kepedulian generasi muda Batak atas budayanya sendiri. Jangankan mengikuti pesta-pesta adat, menggunakan bahasa Batak pun generasi muda sudah enggan. Ia sangat khawatir terhadap kepunahan budaya Batak akibat ketidakpedulian tersebut.

Leo Nababan mencontohkan bagaimana bangsa Jepang berhasil dalam hal ini. Setinggi apapun ilmu dan teknologi yang dikuasai, mereka tetap “kembali” menggunakan budayanya sendiri. Sementara orang-orang Batak dan bangsa Indonesia umumnya sudah unang lupa adati.

“Saya mencoba melestarikannya kepada kedua anak saya. Meskipun mereka sekolah internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris dan Mandarin, sementara ibunya dari Manado, saya mengajari mereka bahasa Batak. Saya juga ajak mereka ke pesta adat Batak dan bergereja di HKBP Menteng. Kalau bukan generasi muda, bisa punah adat itu,” kata penerbit buku “Manghobasi Ulaon Adat Batak” ini.

 

Jacob Jack Ospara, M.Th

No Comments

Anggota DPD Provinsi Maluku

Mengajak Rakyat Maluku Bersama-sama Membangun Bangsa

Kalau ada yang melenggang ke Senayan bukan untuk mencari uang, Jacob Jack Ospara, M.Th adalah orangnya. Karena sebagai senator anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Maluku, sangat memungkinkan untuk menggelembungkan pundi-pundi uangnya.

Sebaliknya yang dilakukan Jack –sebutan akrab baginya- adalah tetap menjaga dan melindungi idealismenya yang ditawarkan saat kampanye pemilihan senator, yakni dengan menyuarakan jeritan hati rakyat Maluku yang meskipun sudah 64 tahun bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Pembangunan baik yang dilakukan pemerintahan Orde Baru maupun Reformasi belum dapat menjawab realitas dan pergumulan rakyat Maluku.

Menurut Jack, dalam kampanye pemilihan, ia tidak menyuruh rakyat untuk memilih dirinya, tetapi mengajak rakyat untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara dengan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang sejahtera dan berkeadilan.

Jack merasa apa yang dilakukan wakil rakyat sekarang –baik di DPR maupun DPD- mengagung-agungkan ungkapan “vox populi vox dei”. Ungkapan yang berarti suara rakyat suara Tuhan yang sering diteriakkan saat kampanye tersebut, dipandang sinis olehnya. Bagi Jack, ungkapan tersebut hanya slogan belaka karena dipakai untuk memobilisasi massa dan merangsang semangat rakyat pemilik hak suara. Namun, segera setelah berhasil duduk sebagai anggota dewan yang terhormat mrg dengan serta merta menafikan kepentingan rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan keluarga, kelompok atau golongan masing-masing.

Lembaga legislatif yang seharusnya berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah dalam menyusun dan membuat kebijakan semakin mudah ditawar dan dikendalikan. Hal inilah yang bagi kalangan LSM, media dan pengamat politik yang kritis menjuluki lembaga legislatif sebagai “tukang stempel”, akibat mereka sering meloloskan kebijakan-kebijakan yang tidak humanis dan pro rakyat.

“Negara kita dalam keadaan sakit, baik mental maupun moral. Sebagian besar dari kita sudah kehilangan sense of crisis dan cinta kasih kepada bangsa dan negaranya. Banyak dari mereka yang telah mengubah jubah dan singgasananya sebagai wakil rakyat serta melupakan khittah kemanusiaannya. Mereka menjadi seperti serigala-serigala politik yang hanya mengandalkan kekuatan, tidak ada nurani, tidak ada akal sehat, bahkan tak peduli yang kuat itu lacur. Mereka tidak lagi peduli pada kepentingan rakyat jelata yang hampir sebagian besar masih berkutat dengan masalah perut,” ujarnya.

Jack Ospara terpanggil untuk mengabdikan diri berbekal pengalaman dan ilmu pengetahuan yang sudah dialaminya selama puluhan tahun. Pengabdian dan perhatiannya yang sangat besar terhadap tanah leluhur itulah yang mengantarkannya menjadi seorang wakil rakyat utusan daerah atau anggota DPD-RI. “Saya hanya mengemukakan apa yang terbaik untuk dilaksanakan di negeri ini. Sesuai dengan visi saya, Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih,” imbuhnya.

Menurut Jack Ospara, ada empat macam kasih yang mendasari kondisi tersebut. Yakni kasih Agape yang merupakan kasih tanpa syarat dan sanggup berkorban untuk sesama. Artinya dalam membantu tidak boleh membeda-bedakan agama, suku atau ras. Kasih agape adalah cinta kasih pemberian Tuhan yang paling hakiki.

Kedua adalah kasih Eros, yakni kasih yang dilandasi nafsu seperti keindahan, kekayaan, kecantikan dan lain-lain yang mengandung unsur kenikmatan di dalamnya. Ketiga adalah kasih Filos yakni filosofi, mengasihi dan mencintai teman. Keempat adalah kasih Storgos, yakni kasih yang memiliki ikatan yang erat seperti antara kasih orang tua.

“Ketiga kasih –Eros, Filos dan Storgos- tidak memiliki kekuatan penghubung relasi antar manusia dalam keluarga dan masyarakat bila tidak diikat dengan Agape. Tanpa kasih Agape, akan sulit membangun kebersamaan, persaudaraan, pertemanan dan kesesamaan dengan orang lain. Ini artinya bahwa kalau mau mengasihi rakyat Maluku ya harus mencintai Maluku. Mau membangun Indonesia ya harus mencintai rakyat Indonesia,” tegasnya.

Belajar, Belajar dan Belajar

Menurut Jacob Jack Ospara, M.Th., ketertarikan untuk terjun memperjuangkan suara rakyat Maluku telah terasah dan terbentuk karena keyakinan pada agama yang dianutnya. Dalam ajaran Kristen, kasih Agape Tuhan Yesus mengasihi setiap orang tanpa memandang agama, suku atau ras. Bahkan bila dalam gereja dibentuk apa yang disebut sinode dalam organisasinya, itu mengisyaratkan semua elemen; para pendeta, tua-tua, maupun anggota jemaat, wajib berjalan bersamaan, bergandengan tangan melayani, mengasihi dan berbuat sesuai karunia Tuhan memlihara dan mempertahankan kehidupan manusia dan masyarakat.

“Sinode berasal dari dua kata Yunani ‘sun’ artinya bersama-sama dan ‘nodes’ yang berarti jalan. Sinode atau ‘sunnodos’ artinya semua warga gereja berjalan bersama-sama dan melayani bersama. Tahun 1974 saya diangkat sebagai Sekretaris Departemen yang membidani pendidikan, penanganan pembangunan dan kesejahteraan sosial. Penerjemahan tugasnya mengarah pada manajemen pembangunan yang menggabungkan teologi dan masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Realisasi dari karya Tuhan itu harus diwujudkan tidak hanya di rumah namun juga di masjid, gereja, rumah sakit, dan lain-lain,” tandasnya.

Jack adalah orang pertama, pada tahun 1975 yang menggagas pembentukan organisasi persatuan gereja rakyat Maluku. Untuk keperluan itu ia mengundang istri Menhan/Pangab RI, Ibu Yohanna Nasution dan Ibu Sri Sudarsono (adik BJ Habibie) ke Ambon untuk melihat dan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan rakyat Maluku.

Kepada mereka Jack menjelaskan bahwa kondisi susah yang dialami tersebut tidak pandang agama. Penganut agama Kristen, sama-sama menderita seperti saudara-saudaranya yang beragama Islam. Begitu juga sebaliknya, kondisi umat Muslim pun tidak jauh berbeda. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah membedakan manusia, hanya manusia sendiri yang mengkotak-kotakkannya.

“Yang namanya kelaparan, kemiskinan tentunya dapat terjadi oleh semua umat manusia, tidak ada perbedaan agama baik Kristen, Muslim, Hindu, Budha, tidak juga ada pembedaan ras tionghoa, kulit hitam, Asia, Eropa dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah kemanusiaan itu sifatnya universal, kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, penderitaan karena konflik dapat terjadi dan dialami oleh semua lapisan masyarakat. Namun, dibalik semua itu bahwa orang yang memaknai dan memahami agama secara baik tidak akan terjebak dalam fundamentalisme agama dan primordialisme yang kebablasan,” kata murid ulama besar Buya Hamka ini.

Jack yang berkawan karib dengan pemikir Islam Indonesia, almarhum Nurcholis Madjid ini memberikan ajaran kepada generasi muda untuk terus belajar dan tidak pernah berhenti menjadi manusia pembelajar. Dengan mempelajari segala hal, baik formal, informal dan mengacu pada pengalaman di masyarakat generasi muda akan memperoleh bekal yang baik untuk kehidupannya sendiri. Kalau itu yang terjadi maka bangsa Indonesia sendiri sangat beruntung memiliki generasi muda yang bermutu untuk memperbaiki kondisi sekarang.

“Pesan saya kepada generasi muda hanya satu, yakni belajar, belajar dan belajar. Belajar baik secara formal, informal dan pengalaman di masyarakat. Karena apa, hanya dengan belajar kita bisa membentuk diri kita sebagai pribadi yang baik. Setiap peristiwa yang dialami adalah kesempatan yang baik untuk belajar. Mengenal orang dari berbagai suku dan agama adalah pengalaman yang baik,” ujarnya.

Sekilas Jacob Jack Ospara

Jacob Jack Ospara lahir di Nuwewang, 18 Mei 1947, dari pasangan Hosea Ospara dan Isabela Lepit. Kehidupan pedesaan di perbatasan wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya dan wilayah Timor Leste membuat “blue print” tentang kehidupan marginal yang dialami manusia terpatri abadi dalam pikirannya. Spirit untuk memerangi perlakuan diskriminatif tersebut kemudian mewarnai perjalanan hidup ayah tiga anak Maya, Hoberth dan Ari hasil perkawinannya dengan Maria Itje Wenno tersebut.

Meskipun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas III Sekolah Rakyat (Volks School), namun tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putranya. Maka ketika berumur enam tahun, Jack bersekolah di SR GPM Nuwewang dan dilanjutkan ke SMP Negeri Wonreli, Pulau-Pulau Kisar. Di sini pula, pemikiran-pemikiran Jack semakin terasah. Pergaulannya yang luas dengan pemahaman terhadap dan pengenalan terhadap adat istiadat, bahasa dan budaya daerah lain menjadi dasar pembentukan kepribadiannya.

Jack yang semasa sekolah tidak dibiayai orang tua justru tidak merasa miris, bahkan sebaliknya hal tersebut menjadi semangat baginya untuk tetap berdaya hidup. Dalam proses panjang kehidupannya, secara sadar ia mengakui bahwa karakter kebangsaan dan kepribadiannya tidak lepas dari peran serta tiga orang polisi dengan latar belakang dan budaya berbeda yang ikut membiayai sekolahnya.

Proses pembentukan kepribadian itu semakin terlihat ketika Jack meneruskan sekolah di SMA Negeri 2 Ambon tahun 1963-1966. Gejolak politik tanah air terkait adanya perjuangan pembebasan Papua (Irian Barat waktu itu) dengan Trikora serta penumpasan pemberontakan PKI, semakin memotivasi semangat kebangsaannya. Ia aktif kegiatan sosial politik yang dikoordinir oleh organisasi-organisasi yang bersifat nasional seperti GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indonesia). Jack juga aktif melakukan dialog intensif dengan siswa-siswa yang tergabung dalam GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia).

Masa SMA yang penuh pergolakan untuk mempertahankan eksistensi Negara Indonesia dari rongrongan PKI ditutup Jack dengan meneruskan pendidikan seperti yang dicita-citakannya, menjadi Pendeta. Di sisi lain, ia sebenarnya juga terpanggil untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa dengan mengikuti wajib militer sukarela. Namun, setelah melalui perenungan yang dalam, cita-cita masa kecilnya lebih kuat memanggil. Jack kemudian meneruskan kuliah di Institut Teologi Gereja Protestan Maluku tahun 1967. Dua tahun kemudian, Jack dikirim ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Semasa mahasiswa, Jack Ospara adalah aktivis yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dengan sikap yang militant. Ia bahkan menjadi anggota Dewan Mahasiswa dan aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Ambon. Saat kuliah di STT Jakarta, Jack juga menjadi anggota Dewan Mahasiswa di kampus tersebut. Pada kesempatan inilah ia berkesempatan untuk melakukan dialog intesif dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Pancasila, Universitas Kristen Indonesia, STTF Driyarkara dan SAIN Syarief Hidayatullah. Aktivitas inilah yang mempertemukannya dengan Prof. DR. Hamka dan Nurcholis Madjid, dua sosok pemikir Islam terkemuka Indonesia.

“Pengalaman tersebut telah memperkaya sekaligus memperluas wawasan saya. Ini sangat berguna ketika saya menjabat di Gereja Protestan Maluku dan mengabdi di tengah masyarakat. Karena saya harus berhubungan dengan berbagai kalangan dalam lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas Jacob Jack Ospara, M.Th:

 Pendiri Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) Daerah Maluku (tahun 1971)
 Pendiri Badan Koordinasi Kegiatan Masyarakat Kesejahteraan Sosial Provinsi Maluku
 Pendiri Yayasan Bina Asih Leleani Ambon (tahun 1983)
 Aktif menjadi Pengurus Pusat SOIna (Special Olympics Indonesia) sebagai Sekretaris Jenderal (2006-sekarang)
 Aktif di bidang Pendidikan Kristen sebagai Ketua III Majelis Pendidikan Kristen seluruh Indonesia
 Ketua FKKFAC Provinsi Maluku (tahun 2006-sekarang) dan Penasehat HWPCI Provinsi Maluku (tahun 2007-sekarang)
 Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Provinsi Maluku (tahun 1998 – sekarang)
 Pekerjaan di gereja dan Perguruan Tinggi
1. Pendeta/Penghentar Jemaat GPM di Saparua Tiouw (1973-1974)
2. Sekretaris Klasis GPM PP Lease (1974-1975)
3. Sekretaris Departemen Diakonia/Anggota Badan Pekerja Sinode GPM (Masa Bhakti 1974-1976 [1982])
4. Wakil Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1982-1986)
5. Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1986-1990)
6. Dosen Fakultas Filsafat UKIM Ambon (tahun 1990 – sekarang)
7. Pendiri dan Pimpinan Lembaga Kesejahteraan Anak dan Keluarga Inahaha (tahun 1983-1990)
8. Dosen Agama Kristen pada FKIP Unpatti Ambon dan PGSLP Ambon (1977-1988)
9. Penyuluh Agama Kristen di Lingkungan Bidang Bimas Kristen Kanwil Depag Provinsi Maluku (1976-1986)
Setelah terpilih sebagai Anggota DPD Provinsi Ambon, Jacob Jack Ospara berkomitmen untuk membangun daerah dan masyarakat Maluku dengan mengedepankan Visi dan Misi, yaitu:

Visi
Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih

Misi
1. Memperjuangkan pemanfaatan sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya alam (natural resources) guna mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
2. Mengawal implementasi yang konsisten dan konsekuen semua perundangan dan peraturan negara guna menjamin pembangunan berbagai sektor berlangsung dengan transparan, akuntabel dan berkesinambungan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat
3. Memperjuangkan terwujudnya otonomi khusus bagi Maluku sebagai Provinsi Kepulauan yang memiliki karakteristik laut – pulau
4. Memperjuangkan pengamalan nilai-nilai dasar Pancasila sebagai Falsafah Hidup bangsa Indonesia serta penyelenggaraan negara berdasarkan UUD 1945 secara fleksibel, dengan memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat
5. Memperjuangkan terbukanya komunikasi sosial, politik dan kemasyarakatan antara pemerintah pusat dan daerah serta menjamin tetap tumbuhnya iklim demokrasi yang memungkinkan aspirasi daerah dan wilayah dihormati, dihargai serta diwujudkan dengan adil dan transparan

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM

No Comments

Guru Besar dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Pendidikan Sebaiknya Mengutamakan Pembinaan Mental dan Keterampilan

Beberapa tahun belakangan, di Indonesia bertebaran sekolah internasional. Pendidikan yang mengacu pada kurikulum luar negeri tersebut segera saja menarik minat orang tua. Meskipun harus mengeluarkan dana sangat besar, mereka berbondong-bondong mengirim anak-anaknya ke sekolah yang dianggap bermutu global tersebut.

Daya tarik yang segera terlihat dari sekolah internasional adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar. Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik, selama ini terbukti sangat membantu karier di kemudian hari. Sedangkan kurikulum, silabus dan lain-lain adalah alat untuk meningkatkan kemampuan akademis siswa.

“Sebenarnya dalam pendidikan di samping terkait pembinaan mental, attitude, keterampilan dan lain-lain, tidak ada yang terkait langsung dengan bisnis. Tetapi pendidikan menurut hemat saya lebih mengutamakan pembinaan sifat mental di samping keterampilan. Karena kalau sikap mental tidak diperkuat dalam diri peserta didik, tidak tertutup kemungkinan menghasilkan manusia-manusia yang seluruh aktivitas seakan-akan hanya mengejar keuntungan material belaka,” kata Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., Guru Besar dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tentu saja, pendidikan bermutu bukan berarti tidak boleh mencari keuntungan. Apalagi kalau pendidikan yang diselenggarakan terkait dengan pendidikan entrepreneur, wira usaha dan lain-lain. Meskipun demikian, pendidikan bermutu internasional belum teruji secara akademik karena baru muncul beberapa tahun belakangan. Berbeda dengan perguruan tinggi yang sudah lahir berabad-abad lamanya, sehingga produk perguruan tinggi –dengan berbagai spesialisasinya- sudah teruji di lapangan.

Yang perlu disadari, lanjut Prof. Amin, pendidikan bermutu internasional harus diuji dalam jangka panjang. Karena bagaimana pun hasilnya, pendidikan tidak hanya harus bermanfaat bagi diri orang yang bersangkutan tetapi juga orang lain, bangsa dan negara. Dalam bahasa agama, pendidikan tidak hanya peduli dengan hal-hal yang bersifat fardhlu ain, tetapi juga berorientasi kepada kepentingan orang banyak atau fardhlu kifayah.

“Itu harus selalu seimbang. Dan terkait dengan itu, perlu dipikirkan tentang keseimbangan mengenai hal-hal yang bersifat proporsional dan profesional. Harus diperhatikan juga bagaimana pemerataan kesejahteraan dan harus mempertimbangkan komposisinya juga. Jangan sampai yang kaya mendapatkan sama seperti orang miskin. Begitu juga dengan keadilan, karena keadilan tidak identik dengan persamaan perlakuan. Ada yang mutlak perlu dibantu, tetapi ada juga yang hanya sedikit memerlukan bantuan,” tukas guru besar kelahiran Cilegon, 5 Mei 1955 ini.

Kemerdekaan dan Kebebasan

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., menyebutkan pentingnya peningkatan tingkat pemahaman agama dan budaya secara matang. Peristiwa-peristiwa yang marak terjadi di tanah air tidak lepas dari minimnya upaya untuk memberikan pengetahuan yang baik kepada masyarakat. Pemerintah lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan secara ekonomi tanpa memedulikan efek sosial yang negative di lingkungan masyarakat kelas bawah.

“Masalah keamanan mungkin masyarakat sudah cukup aman terhadap tindakan kriminal. Tetapi masalah kenyamanan masih sangat jauh dari kondisi ideal, pokoknya masih perlu ditingkatkan lagi. Ini akibat berbagai faktor, diantaranya faktor ekonomi, tingkat pemahaman agama, dan budaya yang relatif rendah. Penyuluhan melalui media memang perlu, tetapi efektivitasnya perlu ditinjau lagi. Soalnya lebih banyak hiburannya,” tegasnya.

Prof. Amin juga mengingatkan meskipun demokratisasi di Indonesia sangat diperlukan, tetapi tidak identik dengan liar, tidak terkontrol, lepas kendali dan tidak tertib. Begitu juga dengan eforia kebebasan sejak reformasi hingga sekarang terus berlanjut harus disikapi dengan bijaksana. Jangan karena mengatasnamakan reformasi dan kebebasan, kemudian mengkritik orang lain dengan semena-mena, apalagi sampai merugikan bangsan dan negara.

“Tidak boleh itu, kritik harus diutarakan dengan bahasa baku, yang sopan dan santun, sesusai karakter bangsa timur yang beradab dan berbudaya. Boleh juga dengan bahasa sindiran tapi tetap yang sopan dan humanis. Tapi memang harus diakui, bahwa keterbukaan sekarang sudah jauh berbeda dari masa lalu. Kemerdekaan dan kebebasan di segala bidang bisa dinikmati seluruh bangsa ini. Meskipun demikian, kemerdekaan berserikat, berkumpul harus berada dalam koridor yang jelas. Terus terang, saya merindukan adanya GBHN sebagai guidance dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” cetusnya.

Kepemilikan guidance sebagai acuan, jelas Prof. Amin, siapapun partai pemenang Pemilu memiliki pedoman yang pasti dalam menjalankan roda pemerintahan. Pemerintah tinggal menjalankan “blueprint” dalam pembangunan di segala bidang dan akan dilanjutkan oleh pemerintahan berikutnya. Dengan begitu, program pembangunan akan terus berkesinambungan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia secara adil dan merata.

Harus diakui, bahwa terjadi peningkatan tingkat perekonomian di Indonesia pasca reformasi. Geliat perekonomian sangat terlihat di kota-kota besar meskipun tidak berimbas pada kesejahteraan secara langsung. Pada sebagian masyarakat bisa menikmati pergerakan ekonomi sehingga mampu hidup sejahtera. Sementara sebagian lainnya masih tetap berkutat di tengah himpitan kemiskinan, dengan tanpa tahu jalan keluarnya.

“Jadi bukan hanya semata, ekonomi sudah normal tetapi kesejahteraan yang harus diperhatikan. Mungkin kalau keadilan bisa terukur, kemerataan terukur, keberkahan pasti datang. Kalau sekarang belum bisa mengatakan bahwa kita bangsa yang penuh keberkahan, karena keadilan bisa dilihat seperti apa. Tetapi yang membuat khawatir, sektor riil belum sebaik yang diharapkan. Terutama menyangkut lapangan pekerjaan untuk orang kecil. Itu yang perlu diatasi,” katanya.

Pendidikan Entrepreneurship

Menyoroti kemandirian bangsa, Prof. Amin mengungkapkan perlunya penciptaan lapangan pekerjaan. Dengan kondisi bangsa seperti saat ini, sangat diperlukan insan-insan yang mampu menciptakan lapangan kerja, termasuk memperhatikan sektor riil. Selama ini, sektor riil kurang mendapat perhatian memadai oleh pemerintah yang lebih mengagungkan tercapainya kondisi makro perekonomian.

“Akibatnya, pengangguran akan semakin membengkak yang berakibat keamanan semakin rawan. Kalau penciptaan lapangan pekerjaan tidak memproduksi sesuatu yang dibutuhkan manusia –misalnya keterampilan yang sifatnya tidak menghasilkan produk bagi hajat hidup orang banyak- hasilnya justru menciptakan masalah tersendiri. Karena kesiapan pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan lain-lain tidak diperhatikan menjadi salah satu penyebab ketimpangan sosial,” ujarnya.

Masalah yang sangat mengundang keprihatinan adalah orientasi pembangunan yang hanya fokus di daerah perkotaan. Padahal, pembangunan di daerah pedesaan juga harus diperkuat agar terjadi keseimbangan. Selain itu, masyarakat petani di pedesaan harus ditingkatkan daya saingnya sehingga mampu menghasilkan produk pertanian berkelas internasional. Begitu juga masyarakat perikanan atau perkebunan, dengan daya saing yang meningkat mereka bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Generasi muda sekarang, lanjutnya, terutama mahasiswa memiliki kreativitas yang lebih tinggi. Apalagi bila dibandingkan dengan saat dirinya masih menjadi mahasiswa tahun 1970-an. Sedikit banyak telah terjadi pergeseran orientasi dari mahasiswa yang hanya menuntut ilmu sebanyak mungkin menjadi mahasiswa yang selalu mengaitkan aktivitas keilmuannya dengan masalah pekerjaan. Bahkan, mahasiswa sekarang sudah memikirkan gaji yang akan diterimanya apabila lulus sebagai sarjana.

“Yang harus didorong adalah orientasi generasi muda untuk menciptakan pekerjaan dan bukan hanya sekadar mencari pekerjaan. Ini akan sangat membantu negara untuk mengatasi pengangguran, meskipun harus ada bekal pengetahuan bagi mereka. Salah satunya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang sukses adalah mengirim anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin. Anak-anak itupun harus dipekerjakan untuk menimba pengalaman dilandasi bahwa pengalaman tidak ada gurunya, harus melalui proses,” tegasnya.

Namun, lanjutnya, untuk membangkitkan jiwa entrepreneurship di kalangan generasi muda bukanlah perkara mudah. Untuk menjadi entrepreneur yang baik dan tangguh generasi muda harus memiliki pengetahuan yang mumpuni dan tidak setengah hati menggarap bidang yang ditekuninya. Selain itu, generasi muda juga harus membangkitkan semangat dan spirit optimisme dalam menatap masa depan yang lebih baik. Generasi muda sebagai entrepreneur harus memperhatikan hal-hal yang menyangkut aqidah, moral dan attitude.

“Dari kacamata agama, Imam Syafei misalnya mengatakan bahwa pemuda akan bermakna kalau memiliki dua hal. Pertama ilmu pengetahuan, kedua ketakwaan dari dalam dirinya. Ketiga ingin saya tambahkan yaitu keterampilan. Yang dari luar adalah lapangan pekerjaan dan bila perlu dia yang menciptakan lapangan pekerjaan tersebut. Sehingga jiwa entrepreneurship hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Kalau tidak punya percaya diri, susah membangun entrepreneurship,” tegasnya.

Bergilir dan Bergulir

Menurut Prof. Amin, terdapat perbedaan besar antara entrepreneurship dan kepemimpinan. Entrepreneurship lebih banyak mengedepankan kemauan kuat, usaha yang gigih serta keuletan dalam berusaha. Sementara kepemimpinan terkait erat dengan jenjang karier dan tahun-tahun penuh pengalaman. Tempaan dalam pengalaman akan membuat seseorang tumbuh menjadi pemimpin baik, bijaksana dan tangguh dalam menghadapi persoalan.

“Sulit bagi seorang entrepreneur untuk memahami sikap pemimpin dan kepemimpinan. Oleh karena itu, jenjang karier tetap penting karena tidak bisa seorang tanpa pengalaman memadai tiba-tiba menjadi pemimpin. Pemimpin yang tidak berpengalaman akan mengalami kesulitan, baik memimpin perusahaan atau negara. Pengalaman kepemimpinan adalah sesuatu yang mutlak perlu, tidak bisa ditawar-tawar dan tidak dapat dicapai dalam satu atau dua bulan. Karena, selain bekal ilmu dan bantuan orang lain, memimpin adalah seni yang tidak semua orang memilikinya,” tuturnya.

Namun, di era modern sekarang ini cukup susah bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman sebagai kepemimpinan. Kurangnya upaya pelatihan kepemimpinan membuat kesempatan menjadi sempit untuk mengembangkan diri sebagai pemimpin. Kalau pun ada pelatihan, biasanya dimaksudkan untuk kepentingan-kepentingan pragmatis pekerjaan saja. Sangat mungkin, penyebab minimnya pelatihan kepemimpinan adalah akibat kesibukan masing-masing.

Berbeda ketika Prof. Amin masih duduk di bangku kuliah saat itu serta generasi sebelumnya. Saat itu, untuk menjadi pemimpin seseorang cukup mengandalkan kemampuan dan skill individu yang dimilikinya. Sementara untuk sekarang ini, siapapun asalkan memiliki dana yang mencukupi bisa meng-higher dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Banyak lembaga-lembaga konsultan profesional yang dapat memberikan nasihat mengenai seputar kepemimpinan.

“Bahkan sampai pada teknik pidato dan penampilan pun sudah disiapkan. Sebelum reformasi, kepemimpinan berdasarkan pengalaman dengan ditunjang lembaga-lembaga masyarakat. Sementara sesudahnya, pengaruh partai sangat luar biasa dominan di segala bidang sehingga pemimpin sudah terkader melalui parpol-parpol yang ada. Kalau PNS dahulu, kariernya yang sangat menentukan, tetapi sekarang, sedikit banyak Parpol bahkan organisasi lain sudah turut mempengaruhi. Mungkin sudah tidak ada tempat yang steril tanpa partai (baca: politik),” ungkapnya.

Meskipun demikian, harus diakui bahwa saat ini pemerintah tidak memiliki pedoman sebagai agenda masa depan bangsa. Mestinya, bangsa Indonesia harus menoleh sejenak ke masa-masa lalu, walau Orde Baru sekalipun memiliki langkah-langkah strategis pembangunan masa depan bangsa yang tertuang dalam GBHN. Sementara saat ini, bangsa Indonesia tidak memiliki pedoman untuk tujuan masa depannya sendiri.

Seyogyanya, lanjut Prof. Amin, pedoman seperti itu harus tetap dimiliki oleh bangsa besar seperti Indonesia. Pedoman sebagai agenda masa depan bangsa harus jelas dan mudah dipahami, baik oleh pimpinan maupun masyarakat luas sehingga, semua orang tahu apa yang akan dituju. Dengan jelasnya tujuan, apapun yang terjadi selama perjalanan akan dianggap sebagai bagian dari agenda tersebut.

“Kalau sejak awal sudah jelas, perjalanan kita pun akan lancar dan efisien, meskipun pemerintahan berganti secara periodik. Pembangunan itu yang penting Bergilir dan Bergulir. Bergulirnya, satu periode diprioritaskan dalam suatu hal, setelah itu berganti fokus pada bidang yang lain. Nah, bergilirnya setiap lima tahun sekali pemerintahan berganti. Makanya kita harus optimis, tidak boleh pesimis,” tandasnya.

Integrasi Agama dan Umum

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., dibesarkan dalam lingkungan santri yang sangat kuat. Ayah dan ibunya, Sulaiman bin Semaun dan Hj Maimunah Munawarah binti H Ali Hasan, adalah sepasang guru ngaji yang sangat disegani di kampungnya, Cilurah – Kepuh Ciwandan – Cilegon. Selain memberikan pelajaran mengaji Al Quran secara gratis, keduanya menekuni pertanian sebagai tulang punggung perekonomian keluarga.

“Bapak dan Ibu sangat menyayangi anak-anaknya sekaligus sebagai teman bermain yang sangat menyenangkan. Bapak dan Ibu juga merupakan guru saya yang pertama dan terakhir, terutama dalam bidang baca Al Quran serta penghayatan dan pengamalan agama secara konsisten dan continues. Termasuk juga dalam syiar agama Islam melalui pengajian Al Quran,” kata pengajar S1, S2 dan S3 di berbagai perguruan tinggi agama Islam di Indonesia ini.

Masih lekat dalam ingatan Prof. Amin, bagaimana ayahnya membuatkan mainan layang-layang yang sangat disukainya. Sang ayah juga memberikan dukungan penuh terhadap hobinya untuk menangkap ikan atau belut di sawah (ngobor), berburu burung dan memancing ikan di laut. Ia juga tidak segan-segan untuk “ngangon kerbau” sambil ikut membajak sawah sampai mencarikan rumput untuk kerbau-kerbau piaraannya.

Namun, semua kegiatan yang sangat menyenangkan tersebut harus terhenti saat dirinya mondok/ sekolah di Citangkil. Ia diwajibkan untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya sampai selesai, dan kalau perlu sampai ke negeri China. Saat itu, banyak nasihat-nasihat indah dan menjadi pegangannya melayari kehidupan yang terucap dari mulut bapak, ibu dan H. Ali Hasan, kakeknya.

“Bapak bilang kalau saya harus fokus sekolah dan belajar dengan penuh semangat, supaya pintar tetapi benar. Nanti kalau sudah pintar, mau apapun atau kemanapun, insya Allah terlaksana. Sebelum masuk IAIN, beliau berpesan agar kuliah dengan benar dan kalau sudah menemukan perempuan yang baik langsung menikah saja. Sementara kakek mendoakan saya agar menjadi kyai yang kaya raya, karena meskipun pintar tanpa harta kurang dihargai masyarakat,” kata professor yang berlatar belakang pondok pesantren ini.

Selain itu, Prof. Amin juga sangat memegang teguh nasihat dari paman kebanggaannya, KH Mahmud. Nasihatnya agar dirinya “mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum” terus diamalkannya hingga kini. Nasihat tersebut, karena saat itu terjadi dikotomi antara pendidikan agama dan umum, terpisah jurang yang menganga lebar. Hampir mustahil untuk mempertemukan kaum santri dengan sekolah bernapas Islam sekalipun.

Hal itulah yang mendorong Prof. Amin dalam pendidikannya untuk selalu menempuh dua bidang secara bersamaan, agama dan umum. Ia menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada saat berbeda, ia juga mengikuti pendidikan Strata 1 di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Begitu juga saat mengambil S2, yakni Magister Syariah pada Pasca Sarjana IAIN Jakarta dan Magister Manajemen pada Pasca Sarjana Universitas Tama Jakarta.

“Keinginan kuliah double degree ini terus terang semakin terpicu dengan nasihat beberapa orang dosen saya ketika masih duduk di bangku Fakultas Syariah IAIN Jakarta. Dua dari padanya adalah dosen ilmu hukum, yakni DR. H. Anwar Harjono, SH (Alm) dan terutama Prof. H Arso Sosroatmodjo, SH. Prof. Arso yang paling getol mendorong seraya meyakinkan bahwa mahasiswa Fakultas Syariah hampir dapat dipastikan mampu menyelesaikan kuliah pada Fakultas Hukum, meskipun belum tentu sebaliknya,” ungkap suami Hj Kholiyah, S.Ag, MA, dan ayah dari sebelas orang anak serta tiga orang cucu ini.

Sebelum menjadi dosen dan guru besar pada berbagai perguruan tinggi, Prof. Amin telah memiliki bakat mengajar sejak muda. Prof. Amin antara lain tercatat sebagai guru tidak tetap Madrasah Ibtidaiyah Mathalub Falah Cilurah (1972-1974), guru SMP Kelurahan Ciracas Jakarta Timur (1980), MAN 3 Jakarta (1982-1985). Selain itu, Prof. Amin sampai sekarang masih aktif menjadi nara sumber pada beberapa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Depag RI, Pusdiklat Mahkamah Agung RI, Pusdiklat Departemen Hukum dan HAM RI, Pusdiklat Kejaksaan Agung RI dan lain-lain. Bidang yang diajarkannya terutama dalam kajian ilmu hukum Islam, ekonomi Islam serta agama dan budi pekerti.

Prof. Amin memulai kariernya di dunia pendidikan benar-benar dari bawah. Dimulai dari Staf di Fakultas Syariah (1981-1982) kemudian menjadi Kepala Seksi Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Syariah (1982-1984), Kepala Seksi Pendidikan dan Pengajaran Fakultas Syariah (1984-1986), Koordinator Praktikum Fakultas Syariah (1989-1990), Ketua Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah (1990-1992), Kepala Pusat Pengabdian Pada Masyarakat IAIN Syarif Hidayatullah (1992-1995), Kepala Pusat Penelitian IAIN (1995-1998). Kemudian Dekan Fakultas Syariah (1998-2002), Hakim Ad. Hoc HAM pada Pengadilan Tinggi Jakarta (2002-2006), Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2002-2006 dan periode 2010-2014.

Sebagai seorang cendekiawan muslim, Prof. Amin yang pernah menjadi anggota tim pakar hokum Departemen Hukum dan HAM RI ini, telah melahirkan karya ilmiah yang dibukukan sebanyak 20-an buku. Sementara ratusan makalah, artikel dan lain-lain yang disampaikan dalam berbagai ceramah dan seminar di dalam dan luar negeri, dapat dikatakan tak terhitung banyaknya. Buku-buku karya Prof. Amin yang telah diterbitkan, antara lain:
 Ijtihad Ibnu Taimiyah Dalam Bidang Fiqh Islam
 Tafsir Ahkam 1
 Studi Ilmu Al Quran 1-3
 Pluralisme Agama
 Pengantar Tafsir Ahkam
 Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam
 Lima Pilar Islam
 Membangun Ekonomi Berbasis Kitab Suci
 Menggali Akar Mengurai Serat Ekonomi dan Keuangan Islam
 Asuransi Syariah dan Konvensional
 Tafsir Ayat Ekonomi
 Dan lain-lain

Aktivitas organisasai Prof. Amin:
1. Anggota Pelajar Islam Indonesia (PII), tahun 1972-1974
2. Anggota Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat, Komisioner Fakultas Syariah (1979-1980)
3. Salah seorang Anggota Pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat (1991), Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Provinsi DKI Jakarta (2005-2009), Ketua Umum ICMI Orsat Ciputat (1993-1996), Ketua Dewan Pakar ICMI Tangerang Selatan (2010-sekarang)
4. Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (200-2010)
5. Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI (2010-sekarang)
6. Ketua Umum Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) tahun 2008-sekarang
7. Dan lain-lain

Dukungan Keluarga Luar Biasa

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM, merasa sangat bersyukur memiliki seorang pendamping hidup yang sangat setia, Hj Kholiyah Thahir, S.Ag, MA. Perempuan yang dinikahinya sejak mahasiswa tersebut, benar-benar menjadi pendorong semangat dalam menjalani hidup. Tidak hanya mendukung pencapaian suami, prestasinya pun tidak kalah gemilang dengan suaminya. Semua dilakukan dengan tanpa mengabaikan tugas-tugasnya sebagai ibu 11 orang anak.

“Terus terang, saya mengagumi istri saya –yang maaf- benar-benar hebat dan boleh dikatakan mendekati sempurna. Setiap kali memandangi wajah teduhnya, selalu kekaguman yang keluar dari mulut saya. Betapa anugerah Allah SWT begitu besar kepada saya yang telah mengirimkan seorang perempuan yang benar-benar hebat sebagai pendamping hidup saya,” ungkapnya.

Kehebatan istrinya, lanjut Prof. Amin, tidak hanya terbatas pada bagaimana melahirkan 13 anak (dua anak lahir premature dan keguguran). Dorongan dan dukungan selalu diberikan dalam hampir setiap kali suaminya melakukan hal-hal terberat sekalipun. Salah satu contoh, adalah bagaimana dengan ikhlas Hj Kholiyah merelakan dirinya “cuti kuliah” agar suaminya fokus mengambil kuliah S2 dan S3. Bahkan, ketika sang suami telah mencapai gelar tertinggi dalam pendidikan pun, dukungannya tidak pernah surut. “Artinya, istri saya adalah salah seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Kesetiaan Hj Kholiyah untuk mengurus anak-anaknya di rumah, menurut Prof. Amin adalah salah satu jasa terbesarnya. Terutama saat-saat dirinya menjalani kegiatan-kegiatan di berbagai kota sampai manca negara untuk seminar atau memberikan ceramah. Sebagai “upah” terhadap kerja keras sang istri dalam mengasuh anak-anaknya, semenjak kegiatan menyusui terhenti, Prof. Amin hampir selalu mengajak istrinya ke berbagai kegiatan, baik di dalam dan luar negeri.

Prof. Amin mengakui, selama 30 tahun istri tercinta mendampinginya dengan begitu setia tanpa pernah menghadapi permasalahan yang berarti. Sejak awal pernikahan yang penuh perjuangan, sampai kehidupan menjadi sebaik sekarang kesetiannya benar-benar utuh dan menentukan kehidupan rumah tangganya. Betapa tidak, Kholiyah selalu mendukung seluruh perjuangan dan cita-cita suaminya, dari menempuh pendidikan yang tiada henti serta organisasi yang menyita waktu serta pengorbanan material lainnya.

“Semua tetap didukung istri dan anak-anak. Pendeknya, terlalu sulit untuk menguraikan 1001 kebaikan dan kelebihan istri maupun anak-anak saya. Yang jelas secara umum dan keseluruhan, saya merasa puas mempunyai seorang istri bernama Hj Kholiyah Thahir, SAg, MA. Bukan saja karena kesalehannya terhadap suami dan anak-anak, melainkan juga kerelaannya berkorban demi meraih ridhla illahi. Ia benar-benar seorang istri sholehah yang menghormati dan membahagiakan suami serta sekaligus ‘mendekap’ anak-anaknya dengan kasih sayang,” ujarnya.

Prof. Amin menguraikan bagaimana peran istrinya yang sangat besar dalam melahirkan dan mengasuh ke-11 anaknya dengan baik. Terbukti, di antara anak-anaknya tak satupun yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Tidak ada di antara mereka yang terjebak dalam pergaulan bebas, menggunakan narkoba ataupun hal-hal negative yang dilarang agama lainnya. Pendidikan mereka pun –mengikuti jejak kedua orang tuanya- sangat baik dan terarah.

Fakta bahwa 5 dari 11 anak sudah meraih gelar sarjana –S1 dan S2- adalah buktinya. Disamping enam anaknya yang lain sekarang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sekolah-sekolah (TK-SMA) unggulan dan pondok pesantren terkemuka di tanah air.

“Saya tahu betul bahwa dalam diri istri saya banyak bakat yang dimilikinya. Namun karena alasan tertentu –terutama saat anak-anak masih kecil-kecil- saya melarang untuk mengembangkan bakat itu. Tetapi seiring perkembangan waktu, saya memberikan kebebasan baginya unjuk kebolehan berorganisasi. Beberapa tahun terakhir, dia menjadi Ketua Lembaga Pendidikan Ketilang dan beberapa aktivitas lainnya,” ungkapnya.

Sekilas Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Syari’ah dan Hukum merupakan fakultas dengan program studi terbanyak di UIN Jakarta. Fakultas ini memiliki fokus kajian di bidang hukum Islam. Sejalan dengan perkembangan masalah-masalah dan spesialisasi dalam keahlian hukum Islam, maka Fakultas Syari’ah dan Hukum menawarkan berbagai program studi yang siap mengantisipasi kebutuhan masyarakat akan berbagai profesi baru yang terkait dengan hukum Islam, seperti ahli perbankan syariah, ahli asuransi syariah, dan sebagainya.

Beberapa tahun terakhir ini antusiasme calon mahasiswa untuk memasuki Fakultas Syari’ah dan Hukum cukup tinggi. Hal ini bisa diindikasikan dengan jumlah mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum yang menduduki peringkat kedua terbanyak setelah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Fakultas Syari’ah dan Hukum bertujuan menyiapkan lulusan yang ahli dan profesional dalam bidang hukum Islam.

Program studi Fakultas Syari’ah dan Hukum:
1. Jurusan Ahwal Syakhshiyyah (Perdata/Peradilan Islam)
2. Jurusan Jinayah/Siyasah Syar’iyyah (Pidana/Tata Negara)
3. Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum
4. Jurusan Mu’amalat (Ekonomi Islam)
5. Ilmu Hukum

Fakultas Syari’ah mengemban tugas mengembangkan ilmu hukum Islam dan hukum umum. Kini Fakultas Syari’ah dan Hukum sedang mengembangkan program studi-program studi dalam lingkungan jurusan-jurusan yang telah ada, seperti Program Studi Kepaniteraan Kepengacaraan, Administrasi Perkawinan, dan Manajemen Wakaf dan Zakat (dalam Jurusan Al-Ahwal Al-Syakh-siyah), Program Studi Pidana Islam, Tata Negara (dalam Jurusan Jinayah/Siyasah), Program Studi Perbandingan Mazhab Fiqh, Perbandingan Hukum, Konsultan dan Fatwa Hukum, dan Manajemen Haji dan Pariwisata (dalam Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum), Program Studi Perbankan Syari’ah, Takaful (Asuransi), Kewirausahaan, dan Agribisnis (dalam Jurusan Mu’amalat dan Perbankan).

1. Jurusan Ahwal Syakhshiyyah (Perdata/Peradilan Islam)
1. Program Studi Peradilan Agama
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi peradilan agama, serta mampu mengemban tugas di bidang keahliannya untuk kepentingan negara dan masyarakat. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Hukum Acara Peradilan Agama, Fiqh Munakahat, Fiqh Mawarits, Fiqh Ibadah, Hukum Perdata, Hukum Pidana, Peradilan Agama di Indonesia, Ilmu Falak, Qawaidh Fiqhiyah, dan Hukum Perdata Islam di Indonesia.

2. Program Studi Administrasi Keperdataan Islam
Program studi ini bertujuan untuk meng-hasilkan sarjana yang menguasai bidang administrasi keperdataan, serta mampu mengemban tugas di bidang keahlian administrasi keperdataan tersebut. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Fiqh Munakahat, Fiqh Muamalat, Fiqh Ibadat, Fiqh Mawaris, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Hukum Perdata Internasional, Hukum Administrasi Negara, Hukum Acara Peradilan Agama, Hukum Perdata Internasional, Hukum Agraria, Penyuluhan Perkawinan dan Keluarga, dan Perundang-undangan di Indonesia.

2. Jurusan Jinayah Siyasah (Pidana/Tata Negara)
1. Program Studi Pidana Islam
Program studi ini bertujuan meng-hasilkan sarjana yang menguasai bidang studi pidana Islam. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan dalam Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir, Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Fiqh Siyasah, Fiqh Jinayah, Al-Fatwa, Metodologi Penelitian Siyasah, Ilmu Falak, Fiqh Mawaris, Fiqh Munakahat, Qawaid Fiqhiyah, Hukum Pidana dan Acara Pidana, Hukum Tata Negara, Hukum Islam di Indonesia, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Tarikh Tasyri’, Kriminologi, dan Fiqh Ibadah.

2. Program Studi Siyasah Syar’iyah
Program studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi tata negara. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir, Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Fiqh Siyasah, Fiqh Jinayah, Al-Fatwa, Metodologi Penelitian, Siyasah, Ilmu Falak, Fiqh Mawarits, Fiqh Munakahat, Qawaid Fiqhiyah, Hukum Pidana dan Acara Pidana, Hukum Tata Negara, Hukum Islam di Indonesia, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Tarikh Tasyri’, Kriminologi, dan Fiqh Ibadah.

3. Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum
1. Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum
Program studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi Perbandingan Mazhab Fiqh, serta mampu mengemban ilmu Perbandingan Mazhab Fiqh tersebut untuk kepentingan agama dan masyarakat. Adapun Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Perbandingan Mazhab dalam Hukum Islam, Fiqh Kontemporer, Muqaranah Mazhab fi al-Mu’amalat, Tarikh Tasyri’.

2. Program Studi Perbandingan Hukum
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi perbandingan hukum, serta mampu mengemban tugas di bidang keahlian perbandingan hukum tersebut. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Hukum, Perbandingan Hukum dan Perundang-undangan, Metode Penelitian, Ushul Fiqh, Muqaranah Mazahib fi al-Mu’amalat, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Orientalisme dalam Hukum Islam, Hukum Acara Perdata dan Pidana Agama.

4. Jurusan Mu’amalat (Ekonomi Islam)
1. Program Studi Perbankan Syari’ah
Dewasa ini berkembang Bank Muamalat Indonesia, BMT, BPR, dan bank-bank Islam di dunia. Seiring dengan pesatnya perkembangan sistem perbankan konvensional, sistem perbankan Islam mulai dilirik oleh banyak kalangan. Karena itu, kajian tentang ekonomi Islam, khususnya perbankan Islam, tampaknya semakin mendesak untuk dikembangkan.

Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan tenaga-tenaga profesional di bidang perbankan syari’ah untuk mengisi kebutuhan tenaga di lembaga-lembaga perbankan Islam dan lembaga-lembaga keuangan lain yang membutuhkan. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan meliputi: Ilmu Ekonomi Makro, Perbankan, Fiqh Muamalat, Pengantar Akuntansi, Ilmu Ekonomi Mikro Islam, Lembaga Perekonomian Umat, Manajemen Perbankan Syari’ah, Akuntansi Perbankan Syari’ah, Ilmu Ekonomi Makro Islam, Hukum Peribadatan Islam, Hukum Perbankan Syari’ah, Hukum Dagang, Lembaga Keuangan non-Bank, Akuntansi Biaya Kewirausahaan, Praktek Lembaga Perekonomian Umat, Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Matematika dan Statistik Ekonomi, Praktikum Perbankan Syari’ah.

2. Program Studi Takaful/Asuransi Islam
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi asuransi Islam, serta mampu mengemban tugas di bidang yang dikuasainya tersebut pada instansi yang memerlukannya. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan meliputi: Ilmu Ekonomi Mikro, Manajemen Asuransi, Fiqh Muamalat, Pengantar Akuntansi, Ilmu Ekonomi Mikro Islam, Lembaga Perekonomian Umat, Akuntansi Takaful, Ilmu Ekonomi Makro Islam, Investasi Takaful, Hukum Asuransi, Kewirausahaan, Hukum Peribadatan Islam, Manajemen Takaful, Manajemen Keuangan, Hukum Dagang, Manajemen Pemasaran, Matematika dan Statistika Asuransi.

Pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Dekan: Prof. Dr. M. Amin Suma, MA, SH, MM
Pembantu Dekan Bidang Akademik: Dr. Mukri Aji, MA
Pembantu Dekan Bidang Admimistrasi Umum: Dr. Jaenal Aripini, MAg
Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan: Dr. JM Muslimin, MA

Alamat: Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15412
Telepon: (021) 701925, (021) 74711537
Fax: (021) 7402982
Email: info@uinjkt.ac.id

Pendapat mengenai Dekan FSH UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. KH Muhammad Amin Suma, MA, SH, MM

Dr. Mukri Aji, MA – Pembantu Dekan Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah

“Kontribusi Prof. Amin Sangat Besar”

UIN Syarif Hidayatullah dalam kurikulum yang diterapkan mengombinasikan antara hukum Islam dan umum. Diharapkan para alumni bisa menguasai aspek studi secara spesifik tanpa melupakan aspek ayat, hadits nabi serta pandangan yuridis formal.

Kita memang menghendaki bahwa kita full materi Fakultas Hukum umum tetapi juga memasukkan mata kuliah berbasis Islam. Para alumni diharapkan nanti bisa menjadi hakim atau advokat, tetapi juga khatib, penceramah dan lain-lain. Pokoknya alumni kami serba dalam hidup di tengah masyarakat.

Dalam mewujudkan itu, peran Prof. Amin sebagai pimpinan tinggi sekali kontribusinya. Berbagai aspek agar mereka menjadi alumni yang cerdas dan lain-lain, terus digelorakan. Tetapi perhatian beliau yang luar biasa terhadap kurikulum tersebut sehingga ada benang merah yang membedakan dengan perguruan tinggi yang lain.

Salah satu kontribusi nyata Prof. Amin adalah mampu memberikan motivasi kepada seluruh civitas akademika di sini sehingga mereka mampu beradaptasi dengan siapapun. Itu merupakan keberpihakan beliau terhadap kurikulum, disamping pembekalan karakter yang baik sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan. Sifat-sifat kepemimpinan seperti kejujuran yang menjadi culture, amanah, akhlak dan perilaku Nabi Muhammad, selalu digelorakannya.

Dr. JM Muslimin, MA, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah

“Prof. Amin Bukan Pemimpin Karbitan”

Faktanya, Fakultas Syariah dan Hukum ini memiliki mahasiswa dengan jumlah terbesar. Banyak program dengan berbagai masa depan mahasiswa seperti Program studi Perbankan Syariah serta kaderisasi ulama. Minat calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Fakultas Syariah dan Hukum UIN sangat tinggi dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Saya sebagai Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan sejak Mei 2010 menilai kelebihan Prof. Amin adalah beliau berkarier dari bawah. Beliau bukan tipe pimpinan “karbitan” yang tidak menguasai masalah sama sekali. Sebagai pemimpin yang berangkat dari bawah, selain menguasai strategis beliau juga menguasai teknis. Inilah kemampuan yang melekat pada diri Prof Amin yang bisa menggabungkan antara kebijakan teknis dengan sesuatu yang bersifat strategis.

Saya melihat ini karena beliau merangkak dari bawah, sehingga ditempa pengalaman yang membentuk karakter dirinya. Karena kadang orang lain tidak memiliki hal itu, tidak ada tempaan dalam meniti karier dan langsung menjadi pimpinan. Semua itu bisa saya lihat dalam aktivitas sehari-hari, yakni bagaimana beliau memimpin kami.

Keunggulan Fakultas Syariah dan Hukum UIN adalah pada tiga rumpun keilmuan, ilmu-ilmu syariah –ilmu-ilmu hukum Islam dan ilmu perbankan Islam- yang diintegrasikan dalam sebuah keilmuan yang bersifat spiritual. Integrasi dalam ilmu agama dan umum itu dalam bahasa awamnya adalah ilmu umum yang bersifat ilmiah dan ilmu umum yang bersifat ilahiyah. Dalam bahasa akademis, integrasi itulah yang membedakan antara Fakultas Syariah dan Hukum UIN dengan fakultas-fakultas di universitas lain. Mungkin dari sisi nomenklatur atau keilmuan seolah-olah sama, tetapi kalau dicermati nilai komparatif kita terletak di situ.

UIN, dibandingkan dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi yang lain, relative memiliki basis dukungan yang lebih komplit. Karena input kita berasal dari pesantren, madrasah dan lain-lain. Kita bisa merekrut orang-orang tersebut yang tadinya berpola pikir tradisional, menjadi mengenal pola pikir akademis modern yang rasional. Akhirnya mereka bisa mengintegrasikan antara kedua pola pikir tersebut dalam kehidupan mereka.

Ke depan, kita ingin standardisasi universitas –nasional maupun internasional- sehingga memiliki akreditasi formal dan sosial. Pembinaan yang kita lakukan secara menyeluruh, meliputi talenta mahasiswa di berbagai bidang. Mulai seni, olahraga dan lain-lain semua kita lakukan. Untuk menambah kapasitas dosen dalam rangka standardisasi tersebut, UIN mengirimkan dosen-dosennya melanjutkan pendidikan pada universitas terkemuka di luar negeri, seperti pendidikan S2 di Universitas Leiden, Belanda dan S3 di Universitas Hamburg, Jerman. Target yang dicanangkan, UIN mampu mendekati kualitas perguruan tinggi ternama seperti UI dan UGM dengan dukungan SDM, dosen bergelar Doktor dan Profesor yang memadai dalam jumlah dan keunggulan kualitas.

Tokoh , , ,