Month: June 2013

RICHARD SUWONDO, SH, MH

Notaris dan PPAT

Lawyer yang beralih haluan menjadi Notaris dan PPAT

Dalam dunia kerja, berpindah pekerjaan adalah hal biasa. Begitu juga pergantian profesi merupakan hal yang wajar dilakukan, apalagi bila potensi yang dimiliki seseorang ternyata lebih berkembang dalam pekerjaan atau profesi yang baru.

Pergantian profesi seperti itu juga pernah dilakukan oleh RICHARD SUWONDO, SH, setelah beberapa tahun menjalani profesi sebagai lawyer, hati nurani mendorongnya untuk beralih profesi menjadi notaris. Profesi tersebut mulai ditekuninya sejak tahun 2002 setelah menyelesaikan pendidikan kenotariatan.

“Sebelum menjadi notaris, saya bekerja di UNIBANK sekitar tahun 1995 sampai dengan 1997. Kemudian saya melanjutkan pendidikan dibidang hukum sekaligus menjadi lawyer dan konsultan pasar modal pada saat bersamaan sampai dikeluarkannya SK pengangkatan saya sebagai notaris sekitar tahun 2002, makanya saya lepas pengacaranya dan sepenuhnya menjadi notaris. Baru pertengahan tahun 2005 dikeluarkan SK pengangkatan saya sebagai PPAT” ujarnya.

Alasan berganti profesi tersebut sungguh mulia yakni karena sebagai pengacara, putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Suardi Kartakesuma dan Kartini ini belum memiliki kesiapan mental, terutama terkait dengan hati nurani mengingat sistem hukum di Indonesia pada saat ini. “Menurut kita, apa yang kita lakukan sebagai pengacara tidak sesuai dengan hati nurani. Mungkin mental kita pada saat itu yang belum kuat karena sebagai pengacara apa yang kita lakukan hanya untuk memenangkan klien dalam berpekara saja.” imbuhnya.

Pria kelahiran Jakarta, 21 Februari 1971 ini berandai-andai, apabila pada saat itu telah siap mental dan terus berkarier sebagai lawyer dan konsultan pasar modal semua pasti akan berbeda. Melihat kemampuan yang dimiliki, bukan tidak mungkin andai dijalani dengan sepenuh hati, sekarang kariernya sudah mencapai puncak. Akan tetapi, selain SK pengangkatan sebagai notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang dimilikinya setelah menyelesaikan pendidikan kenotariatan, dorongan hati nurani juga memaksanya untuk tidak melanjutkan karier sebagai lawyer, walau sewaktu-waktu ia masih menggeluti propesi lamanya tersebut.

“Meskipun demikian, sewaktu-waktu kita masih terjun sebagai lawyer bergabung dengan kantor hukum lain, tentunya tanpa meninggalkan profesi utama kita sebagai notaris. Pekerjaan notaris itu sangat luas, sejak manusia lahir sampai dengan tutup usia semua terkait dengan akta notaris. Sedangkan PPAT hanya mengurusi masalah pertanahan saja.” tegasnya.

Bicara mengenai pertanahan, pria yang biasa disapa Richard ini mengingatkan bahwa pekerjaan sebagai PPAT sebenarnya cukup nyaman. Hanya saja, pekerjaan ini harus menguras kesabaran yang lebih besar disebabkan database yang dimiliki oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) sangat kurang, khususnya data Peta Bidang Tanah, sehingga menyulitkan tugas PPAT.

“Makanya kita berharap kepada BPN untuk dapat segera merealisasikan Peta Bidang Tanah untuk seluruh wilayah di Indonesia secara lengkap. Dengan adanya itu pasti sengketa tanah akan lebih mudah diselesaikan karena database tersebut terkait dengan hukum. Dengan adanya PPAT, tinggal mekanisme yang sangat simple sebenarnya. Kalau sudah ada database yang baik, tinggal manajemennya saja dibenahi.” ujarnya dengan optimis.

Yang terpenting adalah kerja keras

Dalam menyikapi perkembangan dunia notaris dan PPAT yang sangat cepat, Richard Suwondo, SH menyiapkan diri untuk bersaing. Baginya, yang terpenting adalah kesiapan, kesungguhan dan kerja keras dalam menjalani profesinya. Dengan semakin tingginya kesadaran hukum masyarakat pada saat ini, tentunya akan berpengaruh terhadap semakin tinggi pula kebutuhan terhadap jasa notaris dan PPAT.

“Bagi kita yang terpenting adalah kerja keras, Optimalkan kinerja delapan orang SDM yang kita miliki. Kita ikuti sistem hukum yang ada, karena seiring waktu pastinya akan terus berkembang searah dengan semakin cerdasnya masyarakat. Dengan pengetahuan, kemampuan dan kerja keras, kita pasti akan mampu bersaing dalam hal, kapan dan dimana pun kita berada.” ujar pemilik motto “Hari ini harus lebih baik dari kemarin” ini.

Ayah dua orang putri dari pernikahannya dengan Jein Grace Sela ini mengungkapkan bagaimana kurangnya dukungan pemerintah terhadap profesi notaris. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah sering adanya perubahan sistem yang diterapkan dan tidak adanya standarisasi yang pasti.

“Dukungan pemerintah terhadap profesi notaris terkadang justru menjadi kendala. Sistem yang selalu berubah-ubah dan pegawai-pegawai nakal. Tetapi bagaimanapun kita harus mengikuti karena sebagai negara berkembang kita harus melewati tahapan seperti itu. Selain itu, dalam bidang pertanahan, BPN harus lebih transparan, karena seiring waktu bidang pertanahan itu akan semakin penting bagi kita semua.” ungkapnya.

Richard berharap agar pemerintah mulai bergerak untuk membenahi masalah pertanahan ini. Adanya BPN sudah tentu membantu, tetapi akan jauh laebih membantu apabila BPN ditingkatkan menjadi setara dengan kementerian mengingat masalah pertanahan di Indonesia sangat rawan terjadi konflik, baik antar masyarakat, pemerintah maupun dengan negara lain terkait perbatasan antar negara.

Sebagai orang yang sudah berkecimpung sekian lama di dunia notaris dan PPAT, Ricard sangat memahami betul kebutuhan masyarakat Indonesia. Bagaimana tingginya biaya dan ruwetnya menyelesaikan urusan pertanahan misalnya, dalam hal ini ia memiliki kiat-kiat dalam mengatasi segala problem tersebut.

“Kalau kita idealis mungkin akan selalu bersebrangan dengan BPN, entah instansi BPN itu sendiri atau mungkin pelaksananya yang kurang professional. Bergantung pada kondisi yang sudah ada, kita harus lihai. Main bersih kita siap, diluar itu juga ayo saja, tentu sedapat mungkin kita hindari, karena pada dasarnya dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu tidak dapat lepas dari hati nurani. Makanya untuk para generasi muda yang baru saja bergabung di kantor notaris kita ucapkan selamat bekerja. Ilmunya sudah ada dan dapat dipelajari darimana saja, tinggal penerapan langsung berhadapan dengan masyarakat banyak.” pungkasnya.

Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS

Kualitas SDM Tidak Kalah

Dunia kedokteran Indonesia akan memasuki zaman baru di era globalisasi. Pasien Indonesia yang sebelumnya berbondong-bondong ke luar negeri untuk berobat, di era keterbukaan tidak perlu melakukannya. Karena para dokter dan ahli kesehatan dari seluruh dunia bebas membuka praktek di negara manapun termasuk Indonesia. Di akui teknologi kesehatan di bidang orthopaedi dalam beberapa hal agak terbatas khususnya di daerah, tetapi di pusat-pusat pendidikan orthopaedi Indonesia teknologi tersebut telah memadai.

Oleh karena itu, pasien Indonesia yang biasanya berobat ke luar negeri cukup dilayani di negeri sendiri. Memang sebagian rumah sakit Indonesia telah menempatkan tenaga dokter luar negeri di RS yang dipimpinnya. Hal ini sesuai kesepakatan aturan Depkes dalam era globalisasi ini. Sekali lagi, kualitas SDM kedokteran Indonesia tidak kalah dengan para dokter asing. Dokter Indonesia bahkan memiliki kelebihan memahami karakter bangsa Indonesia secara mendalam sehingga mampu memahami pasien dengan baik.

“Di daerah, khususnya dari segi teknologi kedokteran kita memang kurang. Tetapi secara kualitas, dokter Indonesia mampu mengimbangi dokter luar negeri. Sebenarnya, kemampuan dan prestasi kedokteran kita masih bisa mengimbangi luar negeri. Jadi kita tidak perlu minder atau menjadi luar negeri minded,” kata Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS.

Spesialis orthopaedi dari RS Orthopaedi Dr. Soeharso Solo ini, mengungkapkan bagaimana sebuah operasi putus tendon Achilles menjadi berita besar beberapa tahun lalu. Penyebabnya, operasi tersebut dilakukan di sebuah rumah sakit besar di luar negeri. Pemberitaan media massa yang cukup gencar, membuat peristiwa tersebut seolah-olah operasi besar yang hanya bisa dilakukan oleh seorang spesialis dan pakar dari rumah sakit besar dan luar negeri.

Sejatinya, operasi putus tendon Achilles serta kasus-kasus serupa lainnya bisa dilakukan di Indonesia. Di rumah sakit Dr. Soeharso Solo, operasi sejenis sering dilakukan. Baik untuk “sekadar” me-repair tendon Achilles maupun untuk merekonstruksinya hingga berfungsi seperti sedia kala.

“Sayangnya, operasi tersebut tidak pernah dimuat di koran,” ujarnya. Sutopo mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk menggalakkan ’Aku Cinta Indonesia’ dan meningkatkan rasa handarbeni (memiliki) Indonesia. “Saya senang sekali acara ‘Beli Indonesia’ di Solo beberapa waktu lalu, 20 Juni 2011, itu akan menggugah masyarakat Indonesia untuk mencintai produk bangsa sendiri,” imbuh Sutopo yang berharap masyarakat Indonesia tidak silau terhadap hal-hal yang berbau luar negeri ini.

Sutopo mengakui globalisasi memberi pengaruh positif di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi orthopaedi. Hanya saja, ia mengingatkan pengaruh tersebut harus disikapi dan disesuakan dengan kondisi di dalam negeri itu, khususnya menyangkut dana yang diperlukan. Karena dana sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan dunia orthopaedi terkait peralatan yang berharga cukup mahal.

Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas memerlukan banyak sekali sarana dan prasarana kesehatan. Utamanya wilayah luar Jawa yang sangat minim fasilitas kesehatan serta fasilitas umum lainnya. Kondisi tersebut, membuat tenaga-tenaga kesehatan enggan ditugaskan ke daerah, meskipun belum termasuk daerah terpencil. Akibatnya, rakyat di daerah yang harus menanggung akibatnya sehingga sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Dokter, baik orthopaedi maupun lainnya, dalam bekerja memerlukan sarana dan prasarana. Itu harus disiapkan oleh pemerintah. Sehubungan dengan itu, alat-alat untuk operasi, fasilitas transportasi dan perumahan harus dipenuhi, jadi tidak melulu gaji bulanan saja. Pemerintah juga harus memberikan saran-saran untuk mengarahkan mereka. Karena tugas dokter tidak hanya di Jakarta atau Jawa saja, tetapi di daerah banyak diperlukan dokter. Kalau tidak, anak daerah harus belajar keras hingga menjadi dokter atau ahli lainnya untuk membangun daerah masing-masing,” tegasnya.

Falsafah ‘Mbanyu Mili”

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tanggal 30 Agustus 1969, Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS, tidak segera mengurus penempatan kerja. Saat itu, ia masih menikmati masa bakti sosial, kegiatan yang lebih dikenal dengan sebutan ‘turba’ atau turun ke bawah. Kegiatan turba, saat itu sedang ngetrend dilakukan oleh sarjana kedokteran yang baru lulus.

Ia selalu mengikuti kegiatan berkeliling daerah, mulai di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Lampung, sampai Sumatera Selatan. Memang sejak belum lulus kuliah, ia sudah aktif mengikuti turba bersama para senior. Bahkan setelah lulus pun, ia masih aktif dalam kegiatan ini. “Saya ikut turba baik sebagai tim medis maupun sebagai bagian tim lengkap yang terdiri atas tim pertanian, tim dakwah, maupun tim sosial lain,” ujarnya.

Hingga akhirnya, Sutopo tersentak oleh kesadaran yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Pertanyaan tersebut adalah, kapan dirinya akan bekerja sebagai dokter sungguhan. Berkat jasa Prof. Dr. R. Soeharso (alm), ia ditempatkan di Lembaga Orthopaedi dan Prothese (LOP) Surakarta, sebagai pegawai bulanan. “Beliau mengajukan nama saya kepada pihak Departemen Kesehatan RI untuk menempatkan saya di LOP Surakarta. Saat ini LOP Surakarta menjadi RS Orthopaedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta dan Bagian Prothese hanya menjadi bagian dari Rehabilitasi Medik di RS Orthopaedi tersebut,” katanya.

Mengenai orthopaedi, spesialisasi yang ditekuninya selama ini, Sutopo mengetengahkan batasannya yang diambil dari American Academy of Orthopaedic Surgery (1960), yaitu: ‘Orthopaedics is the medical specialty that includes the investigation, preservation, restoration, and development of the form and function of the extremities, spine, and associated structure by medical, surgical, and physical method.’

Berdasarkan batasan itu maka ruang lingkup orthopaedi dan traumatologi sama dengan ruang lingkup kedokteran pada umumnya, yaitu kelainan bawaan (sejak lahir), trauma, infeksi, neoplasma (tumor), kelainan degeneratif (kemunduran), kelainan metabolic, bahkan kelainan fungsi dan bentuk akibat/segualae cerebral palsy dan poliomyelitis, yang mengenali anggota gerak atas, anggota gerak bawah, dan tulang belakang, baik mengenai tulangnya sendiri maupun mengenai associated structure.

Di Indonesia, lanjutnya, digunakan singkatan SpOT untuk Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi yang diletakkan di belakang nama dokter. SpOT ini tergabung dalam Perhimpunan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia atau PABOI yang berinduk pada Ikatan Dokter Indonesia. Saat ini anggota PABOI sudah lebih dari 400 orang dokter ahli ortopedi. Menurut Sutopo, jumlah tersebut sangat sedikit mengingat jumlah penduduk Indonesia mencapai 234 juta jiwa. Saat ini PABOI memiliki 13 cabang di Indonesia, meliputi seksi yang jumlahnya ada tujuh, yakni seksi-seksi spine, hand, orthopaedic pediatric, sport, joint replacement, orthopaedic oncology dan yang terbaru yaitu orthopaedic rheumatology. Indonesia Orthopaedic Rheumatology Association (IORA) dibentuk pada tanggal 16 Juni 2011 di Pekanbaru.

“Solo menjadi center pendidikan orthopedi yang kelima, sekarang sudah bertambah tiga lagi. Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, Solo, Medan, Denpasar dan lain-lain. Sekitar ada sepuluh center ortopedi di seluruh Indonesia, dengan dokter ahli orthopaedi di hampir seluruh kabupaten di Jawa sudah,” ujarnya. Ia mengacu pada keberadaan pusat pendidikan orthopaedi di tanah air ini. Semula hanya ada di UI Jakarta dan Unair Surabaya. Kemudian berkembang pula di Unhas Makassar, Unpad Bandung, UNS Surakarta, dan akan diikuti oleh pusat pendidikan lain di Indonesia. “Khusus di Solo, pendidikan orthopaedi diselenggarakan oleh UNS yang bekerjasama dengan RSOP Prof. Dr. R. Soeharso dan RSUD Dr. Moewardi,” imbuhnya.

Sutopo memasuki masa pensiun per tanggal 1 April 2002, saat menginjak usia 60 tahun setelah menjalani masa bakti selama 32 tahun. Pria kelahiran Purworejo, 25 Maret 1942 ini mengaku tidak punya alasan khusus menggeluti profesi di bidang ini. “Saya mengikuti falsafah ‘mbanyu mili, yaitu mengalir seperti air. Sesuai sifatnya, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Ini juga yang menjadi salah satu sunatullah,” kata anak dari pasangan H. Mustofa dan Hj. Sutirah ini.

Sesuai dengan falsafah tersebut, kita harus qonaah yaitu merasa cukup, puas dan senang hati serta ridhlo atas apa yang telah dianugerahkan atau ditakdirkan oleh Allah SWT kepada kita dan yakin bahwa itu yang terbaik bagi kita. Qonaah tidak berarti fasilitas serta menerima nasib secara pasif tanpa ikhtiar. Setelah ikhtiar secara maksimal dan sambil berdoa, maka harus ridhlo atas hasilnya atau keputusan Allah SWT. “Saya telah ditakdirkan untuk berbakti di Solo,” ujarnya.

Berkutat di lingkungan orthopaedi, Sutopo menemui kenyataan banyaknya masyarakat yang memerlukan pelayanannya. Berbarengan dengan itu, menurutnya, orthopaedi sebagai ilmu atau disiplin kedokteran masih belum dikenal secara meluas. “Secara tidak langsung, timbul rasa cinta pada ilmu atau disiplin kedokteran ini sehingga saya termotivasi untuk mempelajari dan mengamalkannya pada mereka yang memerlukan pelayanan ini,” ujarnya.

Sutopo prihatin karena keberadaan spesialis orthopaedi dan traumaologi masih sangat terbatas untuk rasio penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa. Maka, ia dituntut berlaku istiqomah, yaitu memiliki keteguhan hati untuk mempelajari, menekuni, dan mengamalkan ilmu ini. Komitmen kuat Sutopo untuk menekuni bidang ini menemui kendala besar, terlebih untuk berprofesi sebagai ahli bedah orthopaedi. Kendala ini terkait dengan sistem pendidikan yang ada. Sistem pendidikan di Solo waktu itu, LOP mensyaratkan pendidikan ahli bedah orthopaedi selama lima tahun hanya bisa di ikuti oleh dokter umum.

Sutopo yang baru satu tahun menjadi asisten Soeharso harus menerima kenyataan pembimbingnya itu wafat pada tanggal 27 Juli 1971. Sementara di Jakarta mensyaratkan pendidikan ahli bedah orthopaedi selama dua tahun dan bisa diikuti oleh dokter umum. “Jalan buntu menghadang di depan saya. Saya sempat ditawari oleh Direktur LOP ke dua – alm. Dr. Hermawan Sukarman Sp.BO – untuk mengambil keahlian tertentu yang masih ada hubungannya dengan orthopaedi di Australia seperti ahli paraplegi atau ahli rheumatologi. Atau, saya dianjurkan mengambil spesialis lain di dalam negeri,” ujar Sutopo yang mengambil sikap untuk tetap bekerja di LOP Surakarta. Di situ ia bisa terus memberi pelayanan dan tentu saja sambil belajar.

Sampai akhirnya, atas jasa Prof. Dr. H. Sularto Reksoprojo, FICS (alm), ia diijinkan mengikuti pendidikan Ahli Bedah Orthopaedi di FKUI Jakarta mulai Mei 1976 secara resmi. Sebelumnya, ia juga berkesempatan berpartisipasi dalam The First National Congress of the Indonesian Orthopaedi Association, Jakarta, 1-3 Nopember 1974 dan Simposium Orthopaedi Daerah, Jakarta, 25 Oktober1975.

Setelah lulus pendidikan ahli bedah orthopaedi pada 17 Nopember 1978, Sutopo merasa lebih mantap bekerja. Ia melaksanakan pengabdian kepada begitu banyak pasien dengan beragam penyakit orthopaedi dan cacat fisik orthopaedi. Berdasarkan pengamatannya Sutopo berpendapat, pertambahan jumlah spesialis orthopaedi dan traumatologi dibarengi dengan pertambahan jumlah pasiennya. “Jumlah pasien orthopaedi di Solo tidak berkurang. Ternyata ungkapan ‘The orthopaedic surgery is A surgery for yesterday, today and tomorrow’ menjadi benar adanya,” ujarnya.

Meski demikian, Sutopo tak ingin menyangkal perkembangan ilmu orthopaedi dan traumatologi di Indonesia cukup maju. Baik pengetahuan mau pun teknologinya selalu mengikuti perkembangan mutakhir. Menurutnya kemajuan ini dipicu oleh:
 Pertama, Continuing Orthopaedic Education (COE) rutin dilaksanakan setiap enam bulan. Ini merupakan ajang pertemuan para spesialis orthopaedi dan traumatologi sekaligus untuk menyimak presentasi yang disampaikan oleh para ahli-ahli dari dalam dan luar negeri.
 Ke dua, kongres PABOI yang rutin diadakan setiap dua tahun. Forum yang lebih akbar ini menghadirkan presentasi para ahli dari luar negeri dengan porsi yang lebih besar pula.
 Ke tiga, simposium atau seminar baik yang dilaksanakan oleh bagian orthopaedi fakultas kedokteran berbagai universitas di Indonesia mau pun rumah sakit tertentu.
 Ke empat, para ahli dari Indonesia aktif mengikuti pertemuan-pertemuan international.

Mengaitkan kemajuan ini dengan keberadaan dirinya saat ini, Sutopo yang telah menjadi “lansia” secara fisik dan talenta, merasa mengalami penurunan kompetensi seperti dalam hand surgery, micro surgery, dan navigated surgery. Meskipun demikian, ia sangat bersyukur karena sebagian rekan-rekan spesialis orthopaedi dan traumatologi –tentu yang lebih muda dan potensial– sangat aktif dan involved. Bahkan sebagian dari rekan-rekannya tersebut telah go international, sehingga minimal kita tidak makin tertinggal.

“Beberapa hari lalu, tanggal 16-18 Juni 2011 di Pekanbaru, saya menghadiri COE ke-58. Di sana, diketahui bahwa Dr. Andri MT Lubis, SpOT, baru saja berhasil meraih Juara II dalam sebuah forum internasional di Amerika. Ini merupakan salah satu indikasi bahwa kita tidak perlu rendah diri terhadap kemajuan kedokteran dunia luar. Meskipun saya tidak pernah mendapat seperti itu, tetapi saya turut bangga atas pencapaian tersebut,” ungkapnya bangga.

Pelayanan Orthopaedi Meluas

Harapan Sutopo terhadap kedokteran orthopaedi tidak terlalu muluk. Ia hanya mengharapkan agar tetap bisa melayani penderita-penderita orthopaedi di usia senjanya. Selain itu, ia ingin menolong siapa pun -baik kaum dhuafa atau pun pasien biasa- yang datang menemui sampai saat-saat terakhir dalam hidupnya. Satu hal yang selalu diinginkannya adalah, meskipun dengan usia yang semakin menua, Sutopo ingin masuk dalam kategori manusia yang baik, yaitu manusia yang berumur panjang dan baik amalnya.

“Saya ingin baik dalam bersikap dan beramal untuk masyarakat umum, anak cucu, dan keturunan-keturunan selanjutnya. Bukan saja di bidang orthopaedi tapi juga dalam kehidupan sosial keagamaan. Harapan saya yang lain dapat menangi (Jawa) selesainya pendidikan anak keempat, bisa mensupport dan mendukung sampai dia berkeluarga,” katanya.

Khusus bagi para spesialis orthopaedi dan traumatologi yang lebih muda, Sutopo berharap mereka senantiasa terpacu untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan ke-orthopaediannya. Ia berharap mereka bisa meningkatkan pelayanan tanpa pilih-pilih pasien miskin atau dhuafa dan pasien VIP atau elit. Sehingga, terjadi pula peningkatan pengabdian dan dedikasi kepada masyarakat dan bangsa, selain tentu saja untuk peningkatan kesejahteraan diri dan keluarga semata. “Masyarakat Indonesia harus tahu, bahwa spesialis orthopaedi dan traumatologi Indonesia telah sejajar dengan sejawatnya di luar negeri yang ipteknya sudah sangat maju,” ujarnya bersemangat.

Di sisi lain, Sutopo mengaku tidak menemui hambatan berarti dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya kepada masyarakat. Kesibukan yang nyaris menyita waktunya 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu tidak menjadi beban selama keluarga tetap mendukungnya.

“Itu dulu, tetapi secara umum, tidak ada masalah dengan dukungan keluarga. No problem. Paling-paling, terkadang mereka harus membukakan pintu pada setengah atau sepertiga malam terakhir, saat saya harus pergi meninggalkan rumah atau pun pulang dari rumah sakit. Atau kesibukan saya terkadang mengganggu acara keluarga yang sudah direncanakan,” kata ayah dari Dr. Vita Susianawati, Sp.A, M.Kes; Afiani Dwi Handayani, SPsi., Psi; Arif Nugroho, ST, SE; dan Muhammad Subarkah ini.

Sutopo tetap memegang erat pendapatnya yang menyatakan dokter adalah profesi mulia dan luhur. Agaknya, pendapat pribadi Sutopo sejalan dengan pendapat yang berlaku umum, menjadikan profesi ini sebagai ladang untuk berbakti kepada masyarakat dan pengguna jasa kedokteran. Selain itu, ia juga menjadikan profesi ini sebagai sarana mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

“Saya sudah semakin tua. Tetapi saya semakin merasakan bertambahnya kewajiban untuk membantu dan menolong masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah mereka. Khusunya pada masalah kesehatan dan masalah sosial keagamaan pada umumnya,” kata suami Hj. Siti Awalina ini dan kakek tujuh orang cucu ini.

Tanpa bermaksud menggurui, ia mencoba mengingatkan bahwa tujuan penting menjalani kehidupan ini adalah mencapai kebaikan di dunia dan akhirat. “Kita akan mencapai posisi tertinggi saat berhasil menjadi muttaqin, yaitu orang yang bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya,” kata Sutopo yang tergerak untuk menyampaikan pesan reliji kepada generasi muda. Sebuah hadist Nabi menyebutkan, Allah SWT mencintai orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, tapi lebih mencintai orang-orang muda yang bertakwa, tanpa memandang profesi dan pekerjaannya.

Akhir kata, setelah penisun dari PNS, Sutopo saat ini menjadi dokter mitra di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dan RS Islam Yarsis Surakarta di Pabelan, Sukoharjo.

Elnino M. Husein Mohi

Anggota DPD-RI, Gorontalo

 Sebuah Kisah Perlawanan

Terhadap Money Politics

Seantero Provinsi Gorontalo tercengang. Penghujung April 2009, ketika penghitungan suara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mulai mendekati final. Para elit lokal tersentak. Nyaris tiada seorang pun yang percaya dengan munculnya nama Elnino M. Husein Mohi di peringkat ketiga di antara 19 tokoh besar dan konglomerat Gorontalo yang jadi calon anggota DPD-RI. Dia, secara mengejutkan, bahkan memenangkan Pemilu Legislatif tanpa sedikit pun melakukan pelanggaran peraturan Pemilu.

Elnino. Dia bukan orang kaya. Bukan pula politisi, bukan elit, bukan pejabat—bahkan bukan keluarga pejabat, bukan tokoh lokal. Pemuda bertubuh kecil berkulit gelap itu hanyalah seorang wartawan. Hanya seorang aktifis. Maka hampir tidak ada yang percaya, dengan tabungan pribadinya sebesar Rp. 2,5 juta, Elnino meraih hampir 50 ribu suara atau 9% dari total pemilih Gorontalo.

Sungguh tidak mungkin dengan dana segitu Elnino mampu menjangkau wilayah Gorontalo—yang luasnya lebih dari 12 ribu kilometer persegi—di masa kampanye. Tim Pemenangan Elnino menyadari kendala itu. Dengan usaha keras dan cara yang simpatik, mereka mengumpulkan sumbangan dari ribuan sahabat Elnino. “Dalam waktu 9 bulan, kami berhasil mengumpulkan cukup banyak, totalnya Rp. 55.545.000. Jumlah itu kami laporkan ke KPUD dan Panwaslu,” ungkap Thariq Modanggu, Ketua Tim Pemenangan Elnino.

Mungkin itu adalah ongkos politik termurah, karena bila dibagi dengan jumlah suara Elnino akan mendapatkan rata-rata sekitar Rp. 1100 per suara. Uang itu bukan dibagi-bagi ke pemilih, melainkan untuk biaya bensin dan sewa kendaraan berkeliling Gorontalo, biaya administrasi kelengkapan syarat calon, biaya iklan radio, pencetakan baliho, stiker, leaflet untuk alat kampanye, dll.

Bagi Elnino dan para sahabatnya, pada hakikatnya setiap individu tidak menginginkan praktek money politics. “Tidak satu orang pun, sejatinya, yang mau menjual suaranya. Tidak ada yang nuraninya memilih seseorang hanya karena sudah diberi sesuatu. Orang memilih seorang caleg atau calon pemimpin pasti bukan semata-mata karena uang, mesti ada alasan lain,” tutur Elnino.

Hanya saja, sekarang ini sebagian besar rakyat telah bersikap masa bodoh dan apatis terhadap “pesta demokrasi”. Padahal, triliunan rupiah uang negara/rakyat dihabiskan untuk event tersebut. Di mata sebagian besar rakyat, wakilnya di parlemen tidak memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan mereka. Yang benar-benar nyata dan bisa dinikmati rakyat hanyalah ketika mereka membagi-bagikan uang, sembako, dll.

Kenapa rakyat mau money politics, menjual suaranya? Karena menurut rakyat, semua Caleg/Cabup/Cawali/Cagub…semuanya tidak bisa dipercaya. Jadi, daripada memilih seseorang tanpa dapat apa-apa, ya sudah…pilih saja yang sudah memberi sesuatu. Toh siapa pun yang kita pilih, nasib kita begini-begini saja. Begitu pikiran sebagian besar rakyat. Sangat apatis, putus asa.

Apatisme itulah yang berusaha dikikis habis oleh Elnino dan para sahabatnya—kelompok intelektual muda Gorontalo yang terdiri dari para aktifis pemuda, mahasiswa, dosen, wartawan dan PNS. Mereka mencoba membuktikan kepada rakyat, bahwa tidak semua calon tidak bisa dipercaya, bahwa pasti ada di antara calon yang masih memiliki kecerdasan dan nurani. Pasti ada yang masih pantas untuk mengemban kepercayaan orang banyak sesuai kewenangan institusionalnya.

PERJUANGAN NILAI LOKAL

Setahun sebelum Pemilu, April 2008, Elnino bersama puluhan sahabatnya bersepakat untuk memberikan warna lain dalam Pemilu 2009, yaitu dengan melakukan gerakan pencerahan politik hingga ke desa-desa. Targetnya adalah menjadikan para opinion leaders di tingkat desa memahami nilai-nilai demokrasi berdasarkan nilai-nilai luhur Gorontalo.

Nilai-nilai luhur Gorontalo itu sendiri bermuara pada empat nilai utama ; kecerdasan, akhlak, kekeluargaan dan persahabatan. Keempat nilai inilah yang menciptakan Empat Zaman Keemasan Gorontalo—dikenal dalam sejarah daerah tersebut dengan “Ilomata Wopato”—sebelum masuknya penjajah Belanda. (Masa kepemimpinan Ilahudu 1382-1427, Matolodulakiki 1550-1580, Eyato-Popa 1673-1677 dan Botutihe 1728-1755). Empat Zaman dimana para raja/presiden dan pejabat negara Gorontalo Serikat dipilih secara demokratis dengan pertimbangan empat nilai luhur tersebut.

Jadi, seseorang menjadi raja/presiden di Gorontalo dipilih oleh rakyat karena yang bersangkutan adalah orang yang paling cerdas, akhlaknya paling bagus, rasa kekeluargaan dan persahabatannya paling tinggi. Tidak ada pertimbangan uang atau pemberian atau sogokan dalam bentuk apa pun ketika memilih penyelenggara negara! Itulah jati diri orang Gorontalo.

Sebetulnya nilai-nilai luhur tersebut sifatnya universal. Ada di semua suku. Ada di semua bangsa di dunia ini. Hanya saja, perkembangan zaman belakangan ini yang menjadikan kita di Indonesia semakin melupakan nilai-nilai lokal…yang sebetulnya universal itu, kita semakin materialistik…bahkan ketika negara-negara maju mulai meninggalkan budaya materialistik,” papar Elnino.

Dari desa ke desa, Elnino dkk membawa laptop dan LCD pinjaman. Mereka presentasi menjelaskan tentang nilai-nilai tersebut. Mereka bicara dalam tiga konteks; sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia, perkembangan nasional, dan terutama nilai-nilai lokal tersebut.

Kami jelaskan bahwa peradaban yang maju seperti Mesir, Yunani, Romawi di jaman lama, serta Amerika, Eropa, Jepang, Korea, China, India di jaman baru, semuanya memiliki budaya yang bersandar pada supremasi intelektual, supremasi ilmu pengetahuan dan bukan supremasi uang atau kekuasaan,” ujarnya.

POLITIK PENCERAHAN

Pada Juni 2008 Elnino didaulat oleh kelompoknya untuk menjadi calon anggota DPD. Non partai. Alasannya ada tiga. Pertama, sebagai tindakan konkrit dalam politik. “Elnino harus menjadi contoh calon legislatif. Dia mesti terikat dengan nilai-nilai yang dikampanyekan. Dia harus memberi teladan, bagaimana menjadi calon. Dia mesti memberi contoh sikap calon yang kalah bila dia kalah atau memberi contoh bagaimana seharusnya wakil rakyat bila dia menang,” papar Ketua Tim Pemenangan, Thariq Modanggu.

Kedua, perjuangan nilai harus ikut masuk ke semua partai politik. “Bila Elnino menjadi calon anggota DPR, maka akan sulit bagi kami untuk masuk ke semua kalangan di Gorontalo karena dibatasi secara psikologis oleh dinding parpol. Karena itu, dia kami calonkan ke DPD-RI dan slogan yang kami pakai untuk menghindari benturan dengan parpol adalah “Apa pun partainya, Elnino DPD-nya”. Itu membuatnya jadi inklusif,” tutur Thariq.

Alasan ketiga, bahwa pencalonan adalah pengabdian. “Tidak ada target kami untuk menang. Kami hanya ingin mengukur sejauh mana efektifitas gerakan pencerahan politik ini. Pencalonan Elnino itu sendiri adalah pengabdian kami. Jadi, kami bergerak tanpa beban sama sekali,” kata Thariq yang juga seorang dosen itu.

Selama 11 bulan, Elnino dkk hanya sempat mendatangi 192 dari total 585 desa yang ada di Gorontalo. Di setiap desa pun Elnino hanya berdiskusi tidak lebih dari 12 orang. “Biasanya di setiap pertemuan atau tiap desa kami hanya mengundang dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh kunci saja ; aparatur desa, guru, imam, tokoh pemuda desa. Biasanya tidak lebih dari dua belas orang saja,” kisah Elnino.

Uniknya, di setiap kesempatan presentasi, Elnino nyaris tak pernah meminta untuk dipilih. Mengapa? “Dua latar kenapa tak minta dipilih. Pertama, alasan yang terdengar klasik, yaitu nabi kita tidak menganjurkan memberi jabatan kepada yang meminta. Kedua, dalam komunikasi pun akan terasa sangat tidak elegan bila kita minta dipilih. Nggak sreg gitu…rasanya kayak pengemis jabatan,” jawab Elnino.

Luar biasa akibat politik yang diperoleh Elnino dan para sahabatnya. Mereka bukan saja memperoleh pemilih atau pendukung di desa-desa yang mereka datangi, tetapi bahkan membuat para tokoh desa secara sukarela dan militan menjadi juru kampanye mereka secara informal. Tak heran bila di antara tokoh-tokoh desa itu ada juga yang sukarela menyumbangkan bantuan logistik untuk kampanye Elnino.

Berbasis kampus serta dibantu oleh para wartawan, ribuan sahabatnya dan tokoh-tokoh desa, Elnino M. Husein Mohi membalikkan asumsi di Gorontalo bahwa politik hanya milik orang berduit. Kini semakin banyak orang-orang muda Gorontalo yang mengkader dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Mereka terorganisir dengan baik dalam organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa. Mereka ingin menjadi Elnino-Elnino baru yang akan mencerdaskan masyarakatnya, bukan hanya di bidang politik, tapi juga di bidang lainnya.

IDE DI DPD

Merasa dipilih melalui jalan yang “benar”, membuat Elnino memiliki beban yang cukup berat untuk membuktikan bahwa masyarakat tidak salah pilih. Hanya saja ia menghadapi kendala besar terkait minimnya wewenang DPD-RI, yakni hanya sekedar mengusulkan ke DPR-RI. Agar tidak mengecewakan konstituen, ia melaporkan seluruh usulannya di DPD-RI ke daerah pemilihannya.

Salah satu konsep penting yang sedang diperjuangkan Elnino adalah mengenai sistem otonomi daerah. “Semestinya struktur pemerintahan daerah di seluruh Indonesia bisa meniru struktur Pemda DKI Jakarta. Lebih produktif untuk membangun bangsa,” tutur Elnino.

Seperti kita ketahui, di Jakarta, hanya gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat. Bupati/walikota ditunjuk oleh gubernur. Hanya ada DPRD Provinsi, tidak ada DPRD Kabupaten/Kota. Artinya, 15 juta penduduk Jakarta ditangani oleh hanya 102 pejabat politik, yaitu gubernur, wakil gubernur dan 100 anggota DPRD Provinsi. “Bandingkan dengan Gorontalo yang penduduknya hanya 1 juta jiwa, ditangani oleh tujuh kepala daerah, tujuh wakil kepala daerah dan 215 anggota DPRD Prov/Kab/Kota. Sangat tidak efisien,” papar Elnino yang pernah menguraikan idenya tersebut beserta berbagai alasannya dalam artikel di Koran Jakarta, detik.com, dll.

Elnino juga melontarkan ide untuk memindahkan ibukota negara ke luar Pulau Jawa. “Jakarta sudah tidak representatif lagi untuk kelancaran urusan pemerintahan, karna kota ini sudah terlanjur menjadi pusat segala-galanya; ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, pemerintahan, dll. Jadi, ada baiknya urusan pemerintahan negara ini dipusatkan di tempat lain. Kalau perlu, ke luar Pulau Jawa untuk membuktikan bahwa bangsa ini benar-benar satu kesatuan, juga bahwa orang Jawa—walaupun mayoritas—tetap rela ibukota pindah ke pulau lain,” paparnya.

Sedangkan mengenai peraturan Pilkada, Elnino mengusulkan agar calon bertahan (incumbent) diharuskan cuti besar di luar tanggungan negara selama 3 bulan sebelum hari pencoblosan. Ini untuk menghindari penggunaan asset maupun aparatur pemerintah daerah dalam kampanye.

Seperti para senator lainnya, Elnino merasa harus berusaha melakukan perubahan konstitusi. Salah satu alasannya adalah kewenangan DPD-RI yang belum seperti idealnya. “Sekarang ini DPD-RI seperti majelis rendah, hanya mengusulkan ke DPR. Mestinya DPD diberi kewenangan yang sama dengan DPR, menetapkan dan mengesahkan undang-undang, walaupun hanya untuk bidang-bidang tertentu,” ungkapnya.

Ide-ide seperti di atas tentu akan mendapatkan tantangan yang berat. Banyak kepentingan yang harus dilanggar bila ide-ide tersebut menjadi kenyataan. “Tapi bagi saya, soal berhasil atau tidak, tidak masalah. Yang penting konstituen tahu bahwa saya serius berpikir dan bekerja untuk bangsa ini. Toh saya tetap meyakini, ide-ide itu akan menjadi nyata, walaupun mungkin harus menunggu 10-15 tahun lagi,” tuturnya.

SENATOR TINGGAL DI ASRAMA MAHASISWA

Lain lagi beban moral yang wajib ditanggung Elnino. Terpilih secara murni, bahkan tak mengeluarkan ongkos yang besar, Elnino menciptakan sistem untuk mengelola seluruh uang yang diperoleh dari DPD agar dapat bermanfaat bagi konstituennya rakyat Gorontalo. “Tidak elok sebetulnya bila digembar-gemborkan soal ini. Tetapi secara garis besar, seluruh pemasukan dari DPD masuk ke Tim-9, dulu adalah Tim Pemenangan Elnino, lalu Tim-9 inilah yang memanfaatkan dana tersebut untuk menggaji Elnino, menyusun program kerakyatan dan melaksanakannya,” beber Thariq Modanggu yang saat ini menjadi Ketua Tim-9 tersebut.

Sejak dilantik 1 Oktober 2009, hingga saat buku ini diterbitkan, Elnino masih menginap di Asrama Mahasiswa Gorontalo, Jl. Salemba Tengah no. 29. Sebetulnya dia sendiri risih dengan kondisi itu. “Soal tinggal di asrama sih saya sudah biasa. Sejak SMA tinggal di asrama, hingga dua tahun lalu juga tinggal di asrama ini waktu kuliah S2 di UI. Tetapi kadang saya risih karena ada saja orang yang menganggap saya sok suci, sok miskin, hehe…,” ungkap pria murah senyum itu.

DARI TUKANG BECAK, INGIN JADI DUBES

Elnino adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Bapaknya, Mustapa Mohi adalah seorang guru, sedangkan ibunya, Hadjari Ismail Lebie adalah seorang perawat. Kehidupan masa kecilnya cukup menderita karena sang ayah meninggal saat kelas tiga SMP dan disusul ibunda ketika SMA. Untungnya, Elnino dianugerahi Tuhan kecerdasan otak luar biasa yang membuatnya mampu melanjutkan pendidikan berkat beasiswa.

Dari tujuh saudara yang lain, saya paling tinggi sekolahnya. Sejak SMP, SMA Don Bosco Pondok Indah dan SMA Lab School di Jakarta, sampai kuliah di STT Telkom Bandung. Semua biaya sekolah saya dapatkan dari beasiswa yang berasal dari orang-orang Gorontalo yang sukses di Jakarta,” kisahnya.

Di samping beasiswa ia juga harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi di perantauan ia hidup sebatang kara, sehingga harus berjuang sendirian. Saat SMA di Jakarta, Elnino sempat mengamen, menjadi kenek bus kota dan tukang antar koran.

Perjuangan serupa dijalaninya saat menempuh pendidikan tinggi di STT Telkom Bandung, yang juga dibiayai “beasiswa”. “Saya sempat menjadi penarik becak di kampus, karena beasiswa hanya cukup untuk biaya kuliah. STT kan mahal, sekitar Rp 750 ribu per semester sedangkan biaya hidup saya Rp 50 ribu sendiri. Saya berhenti menarik becak setelah semester III karena malu sama adik kelas. Becak saya jual dan mulai usaha sablon,” jelasnya.

Untuk membiayai kuliah, Elnino mengajukan “proposal” kepada orang-orang kaya Gorontalo di Jakarta. Dari merekalah biaya kuliah yang lumayan besar tersebut didapatnya hingga menyelesaikan pendidikan. Memasuki semester VIII, Elnino sudah mulai “kaya” karena memiliki usaha di bidang sablon dan wartel. Sebagai mahasiswa perantauan dengan biaya sendiri, ia mampu membeli motor, TV dan buku-buku referensi.

Beroleh gelar Sarjana Teknik dari STT Telkom (1998), Elnino kembali ke kampung halaman dan bekerja sebagai wartawan. Meskipun mendapat tentangan dari saudara-saudaranya yang menghendakinya menjadi PNS, ia jalan terus. Ia beranggapan profesi wartawan adalah paling terhormat di antara pekerjaan lain.

Tersinggung saya ketika dibilang sekolah tinggi ‘cuma’ menjadi wartawan. Makanya ketika kakak meminta ijazah saya didaftarkan jadi PNS, tidak saya kasih. Bagi saya, wartawan adalah profesi yang sangat terhormat,” kata Redaktur Eksekutif Radar Gorontalo ini.

Ditanya tentang cita-citanya kedepan, Elnino hanya menjawa pendek sambil tersenyum simpul, “Duta Besar.” Dubes di mana maunya? “Di Spanyol, hehehe. Anak saya akan bisa berbahasa Inggris, Spanyol, Indonesia dan Gorontalo. Saya sendiri bisa menonton pertandingan Real Madrid vs Barcelona setiap hari, gratis pula,” katanya sembari bercanda.

KEINGINAN LUHUR

Menurut Elnino, permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia bersumber dari tidak diamalkannya UUD 1945 secara konsekwen. Di mana dalam Pembukaan UUD’45 termaktub kalimat “Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”. Tanpa keinginan luhur, maka faktor Tuhan menjadi nihil. “Tanpa niatan luhur, korupsi di mana-mana, bahkan terjadi ‘penjajahan’ dari pihak luar negeri. Pelaksanaan sistem otonomi, sistem ketatanegaraan dan undang-undang, semua kacau balau. Dari pusat hingga daerah,” tegasnya.

Dia juga mengimbau, agar orang-orang cerdas, para cerdik-pandai, yang mengkampanyekan moralitas jangan hanya diam di kampus. Mereka tidak boleh hanya berteriak-teriak menyoroti kesalahan sistem tanpa harus terlibat di dalam sistem.

Jangan hanya menikmati status sebagai intelektual, independen dan hanya menjadi pengamat. Mari rame-rame masuk partai, menjadi anggota DPR, DPRD, atau sekalian mencalonkan diri jadi kepala daerah. Minimal seperti saya, jadi calon anggota DPD. Jangan sampai karena orang baik tidak berminat mengambil alih kekuasaan, maka kekuasaan jatuh ke tangan orang jahat. Tapi… mungkin juga mereka takut kalah dalam pencalonan, padahal pencalonan itu sendiri adalah pengabdian,” ungkapnya.

Elnino kembali mengingatkan bahwa semua peradaban maju karena supremasi ilmu pengetahuan di segala bidang, termasuk dalam politik. Uang hanyalah akibat dari diterapkannya ilmu pengetahuan pada sebuah negara. Dengan mengedepankan supremasi ilmu pengetahuan, bangsa Indonesia tidak akan lagi menjadi bangsa kuli. Bahkan bukan tidak mungkin melebihi Amerika dan negara adidaya lainnya, mengingat besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini.

BIODATA

Elnino M. Husein Mohi

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Komite I : Bidang Otonomi Daerah, Hubungan Pusat-Daerah, Pemekaran Daerah, Politik Lokal – Pilkada.

TTL : Gorontalo, 30 Oktober 1974

Alamat : Jl. Barito No. 38, BulotadaA Timur, Kota Utara, Kota Gorontalo. Website : www.elnino.web.id.

Orang tua : Mustapa Mohi (alm), Hadjari Ismail Lebie (almh)

Isteri : Umin Kango, S.Pd

Anak : Nun Farida Aryani (6 thn), Alif Lam Mohi (3 thn), Elnino Mustafa Hussein Mohi (1 thn)

PENDIDIKAN:

  1. Leadership and Language Training”, SILC, University of Arkansas at Fayetteville, USA (2007)

  2. Universitas Indonesia, Program Pascasarjana Manajemen Komunikasi Politik (2007).

  3. STT Telkom, Bandung. Jurusan Teknik dan Manajemen Industri (1998)

  4. SMU Negeri 81 Labschool, Jakarta Timur (1993)

  5. SMP Negeri 6 Gorontalo (1990)

  6. SDN II Ayula, Tapa, Gorontalo (1987)

ORGANISASI:

  1. Ketua Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (Masika-ICMI) Wilayah Gorontalo.

  2. Perwakilan Yayasan Suharso Monoarfa (Sumo Foundation) untuk Provinsi Gorontalo.

  3. Sekretaris The Presnas Centre. (Himpunan para mantan pejuang pembentukan Provinsi Gorontalo)

  4. Wakil Ketua Aliansi Pengawal Perjuangan Provinsi Gorontalo (AP3G).

  5. Anggota Kehormatan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gorontalo.

  6. Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Gorontalo (2003-2005)

PEKERJAAN

  1. Redaktur Eksekutif Harian Tribun Gorontalo (sekarang Radar Gorontalo).

  2. Redaktur Harian Gorontalo Post (2001-2002)

  3. Pemimpin Redaksi “Habari Lo Lipu” (media sosialisasi perjuangan pembentukan provinsi Gorontalo, 1999-2001)

BUKU KARYA TULIS

  • Media Politik vs. Politik Media. (draft, diambil dari intisari thesis S-2)

  • Abad Besar Gorontalo. 2003. Presnas Publishing. Gorontalo. (Ditulis bersama Alim S. Niode)

  • Walikota Medi. 2002. Presnas Publishing. Gorontalo.

  • Juga menjadi kontributor, penyunting atau editor dalam 9 buku lainnya, yakni ; Moodelo (Medi Botutihe, 2006), Mahligai Bertabur Cinta (Zulhelmi Alting, 2005), Menggagas Masa Depan Gorontalo (Funco Tanipu dkk, 2004), Gorontalo Serambi Madinah (Medi Botutihe, 2003), Nani Wartabone (Tim Diknas, 2003), Negarawan Dari Desa (La Ode Aman, 2003), Anda dan Pemilu 2004 (KPU Provinsi Gorontalo, 2003), Sang Deklarator (Hardi Nurdin, 2002), Paradigma Baru Industri Pangan Indonesia (Thamrin Djafar, 1999)

PENGHARGAAN DAN BEASISWA

  • Piagam “Arkansas Ambassador” (Duta Arkansas) dari Gubernur Arkansas, Amerika Serikat (2007)

  • Piagam “Pejuang Pembentukan Provinsi” dari Gubernur Gorontalo (2001)

  • Nominator “Man of The Year—2003” versi Harian Gorontalo Post

  • International Fellowship Program—Ford Foundation, Amerika Serikat (2005-2007)

  • Beasiswa Yayasan 23 Januari ’42 (1993-1998)

  • Beasiswa “Program Habibie” dari Pemda Kodya Gorontalo (1990-1993)

H. Yusuf Nasih, S.Sos., MM

Wakil Ketua DPRD Bekasi

Harus Sigap Menghadapi Pasar Bebas

Pada era perdagangan bebas -ditandai diterapkannya AFTA dengan China, Januari 2010- siap tidak siap Indonesia harus menghadapinya. Perjanjian tersebut membuat wilayah Asean menjadi pasar bagi produk industri China tanpa biaya masuk sama sekali. Aturan itu, membuat peta persaingan usaha di Indonesia berubah seiring banjir produk berharga murah dari negeri tirai bambu.

Akibatnya bisa ditebak, perlahan namun pasti pasar bebas akan mematikan sektor industri di Indonesia. Bahkan sebelum diterapkan AFTA pun, sektor perdagangan eceran (ritel) skala internasional yang masuk hingga pelosok kampung telah melumpuhkan pasar tradisional. Di sisi lain, pemerintah Indonesia terkesan melakukan “pembiaran” terhadap desakan yang mengancam kehidupan rakyat tersebut.

“Belum terdengar sekali pun komentar pemerintah mengenai AFTA ini, tidak ada penjelasan sama sekali. Padahal kondisi di lapangan sudah tidak bisa menunggu lagi dalam menghadapi serbuan produk luar negeri. Saya berkesimpulan bahwa pemerintah tidak tegas memberikan program kepada masyarakat kita. Tetapi pemerintah malah membiarkan masyarakat mencari tahu sendiri, mencari solusi masing-masing atas problematika yang dihadapinya. Masyarakat dibiarkan sendiri tanpa pengayoman,” kata H. Yusuf Nasih, S.Sos., MM., Wakil Ketua DPRD Bekasi.

Menurut Haji Yunas –panggilan akrab pria kelahiran Bekasi, 25 September 1954 ini, secara politik pun pemerintahan sekarang tidak berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Bahkan terdapat “kekurangan” yang sangat mengganggu, yakni ketegasan dari pimpinan tertinggi pemerintahan, Presiden. Kinerja presiden yang dipilih secara langsung dan mendapat suara mutlak tersebut belum bisa meyakinkan masyarakat.

Ia mencontohkan, bagaimana dari beberapa polling yang diselenggarakan oleh lembaga independent, terlihat bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin menurun. Selain kurang responsive terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat, pemerintah juga terbebani dengan berbagai masalah. Seperti kasus Bank Century, yang hampir-hampir mewacanakan pemakzulan terhadap kepemimpinan Presiden SBY.

“Semua diserahkan kepada masyarakat, yang penting jangan sampai melanggar koridor hukum dan ketatanegaraan. Karena itu, orang sekarang harus sigap dalam menghadapi situasi pasar bebas. Bagi masyarakat Bekasi, nampaknya mereka juga belum siap, baik di pasar tradisional, ritel serta pabrik-pabrik yang banyak terdapat di wilayah ini,” ujarnya.

Meskipun demikian, Haji Yunas berharap besar generasi muda mampu membawa bangsa ini keluar dari kemelut. Tetapi generasi muda memerlukan modal yang memadai, seperti harus rajin belajar, peka terhadap situasi bangsa dan secara terus menerus belajar kepada kelompok masyarakat yang mempunyai kharisma. “Generasi muda sekarang jangan pesimis, mereka harus optimis, pantang mundur dalam menghadapi tantangan ke depan. Mereka harus banyak belajar dari generasi terdahulu,” imbuhnya.

Dunia Politik Dinamis

Karier sulung delapan bersaudara anak pasangan Pani dan Ny Minah di politik sudah dimulai sejak tahun 80-an. Sejak dirinya menjadi Kepala Desa, politisi dari Partai Golkar ini aktif di kelembagaan partai hingga menjadi Ketua PK Golkar Kecamatan Jatisampurna, hingga sepuluh 10 tahun lamanya. Hingga akhirnya tahun 2004, ia terpilih sebagai Anggota DPRD Bekasi.

“Saya sebelumnya sudah mencalonkan diri tetapi gagal. Tetapi untuk masuk dan terpilih sebagai anggota DPRD ini juga tidak gampang. Karena selain saingan eksternal, secara internal pun kita bersaing. Bahkan barangkali lebih banyak saingannya. Makanya kita perlu melakukan sesuatu yang dapat mempercayai kelembagaan partai, sehingga paling tidak kita bisa melanjutkan perjuangan partai di DPRD,” tuturnya.

Perjuangan panjang dan melelahkan yang dilakoninya membuahkan hasil. Kini ia adalah Wakil Ketua DPRD Bekasi, setelah sebelumnya menduduki beberapa posisi strategis seperti Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar. Ketika perpecahan di tubuh Partai Golkar terjadi saat Pilkada Bekasi, ia konsisten untuk mendukung calon dari partainya.

“Dari situ saya dapat reward dari partai untuk menduduki jabatan Ketua Fraksi. Itu kan sangat strategis karena ketua fraksi bisa mengatur semua anggota-anggotanya dan ketua fraksi bisa melobi fraksi lainnya untuk menentukan kebijakan DPRD yang dianggap terbaik. Hingga saya menjadi Ketua DPRD Bekasi pengganti antar waktu selama sembilan bulan. Di DPRD, saya telah mengalami jabatan dari yang terkecil hingga terbesar,” kata wakil rakyat yang terpilih untuk kedua kalinya ini.
Menurut Haji Yunas, dunia politik terus bergerak sangat dinamis. Bagaikan tiupan angin, arah politik bisa berubah-ubah. Kecermatan dalam mengamati arah angin akan membawa kepada keputusan yang tepat. Semua itu, membutuhkan perjuangan, ketekunan dan “jam terbang” yang cukup. “Karena politik itu benar-benar dinamis yang setiap saat harus kita ikuti perkembangannya kalau ingin berkarier di sini,” katanya.

Apalagi, lanjutnya, ketika dalam perjuangan tersebut mendapat kepercayaan masyarakat. Para wakil rakyat harus betul-betul mengerjakan tugasnya dengan baik. Adapun tugas-tugas sebagai wakil rakyat secara garis besar ada tiga tugas pokok, yakni legislasi, budgeting dan pengawasan. Ketiga tugas tersebut terintegrasi dalam diri setiap wakil rakyat di Indonesia yang menjadi kewajibannya.

“Menjadi perjuangan kita sebagai anggota dewan agar program-program yang kita perjuangkan betul-betul menjadi kenyataan di masyarakat. Apalagi sebagai anggota dewan dari sebuah kota yang otonom, bagaimana memberikan support terbaik bagi masyarakat. Seperti Pemda Bekasi yang memiliki visi “Bekasi Bersih, Bekasi Cerdas”, “Bekasi Sehat”, hal seperti itu yang dinantikan masyarakat. Mereka menunggu bentuk-bentuk konkretnya pelayanan pemerintah yang mengarah kepada visi-visi tersebut,” jelas Koordinator Komisi A dan Koordinator Badan Kehormatan Dewan ini.

Menjadi tugas lembaga pengawas untuk melihat apakah yang dilakukan pemerintah sudah mendekati visi-visi yang dicanangkan. DPRD menginvestigasi dan mengevaluasi sejauh mana pelaksanaan program tersebut sampai kepada masyarakat. Seandainya pelaksanaan program tidak merata, harus didorong lagi sehingga program yang direncanakan terlaksana dengan baik. “Dengan tiga fungsi tadi, sebagai anggota dewan yang bertugas mengontrol pemerintah, kita menginginkan program yang dilaksanakan pemerintah berjalan dengan baik,” tambah ayah tujuh anak dari perkawinannya dengan Hj Mimin tahun 1979 tersebut.

Melakukan Yang Terbaik

Selain sebagai Wakil Ketua DPRD Bekasi, H. Yusuf Nasih, SSos., MM, juga menjabat sebagai Ketua DDI (Donor Darah Indonesia) Cabang Bekasi serta Ketua Asosiasi LPM Bekasi. Meskipun sangat sibuk, ia telah mencanangkan untuk menyelesaikan tugas dengan baik selama lima tahun ke depan. Tentu saja, dengan mengerahkan segenap kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan masyarakat Bekasi yang telah memilihnya selama dua periode ini.

“Saya selalu melakukan introspeksi terhadap diri saya sendiri. Kemudian saya kombinasikan dengan kondisi keluarga -utamanya anak-anak saya sendiri karena yang paling kecil baru kelas II SMP- untuk memberikan apa yang saya mampu, apa yang saya bisa dan melakukan yang terbaik untuk masyarakat Bekasi. Selanjutnya, bagaimana nanti kita lihat situasinya karena episode ini bisa berlanjut,” kata pria yang lahir dan besar di Bekasi ini.

Alasan untuk terlebih dahulu melihat kondisi keluarga, menurut Haji Yunas tidak lepas dari dukungan yang diberikan mereka. Karena di awal keterlibatannya di DPRD Bekasi, keluarga besarnya tidak tahu bagaimana tugas seorang anggota dewan. Mereka shock melihat panutannya, ayahnya dan suaminya bekerja tidak kenal waktu, sehingga terkesan lebih memilih pekerjaan daripada keluarga. “Tetapi melalui perkumpulan istri anggota dewan yang sering berkumpul dan berdiskusi, lama kelamaan keluarga mengerti, memahami dan mendukung tugas-tugas kami,” tegas kakek empat cucu ini.

Membandingkan situasi politik zaman dahulu dan sekarang, menurut Haji Yunas sangat terasa perbedaannya. Ia mencontohkan bagaimana saat menjabat sebagai Kepala Desa sekaligus Pembina Golkar di wilayahnya. Sebagai Pembina Golkar tugasnya adalah bagaimana memenangkan Golkar dalam setiap Pemilu, tidak lebih. Pembina Golkar, hanya dijadikan sebagai pelaksana program oleh pimpinan di atasnya.

“Artinya kita tidak boleh meminta melakukan sesuatu ke atas, manut saja jadi bemper pimpinan. Berbeda dengan sekarang, masyarakat bisa berpikir, berkreasi dan bercita-cita lebih luas. Dulu masyarakat kecil kelihatan tenang dan tidak ada gejolak, tidak ada perbedaan satu dengan lainnya karena struktur politik sudah merasuk ke unit-unit terkecil. Seperti adanya KB, 10 Program PKK, sehingga masyarakat yang ada di pedesaan dan perkotaan itu benar-benar terbina dan mendapat motivasi dari Dinas Penerangan,” tandasnya.

Liesna Sulistiowati Shaw

Owner Marvellous Little Maestro dan GaleriLiesna

Memupuk dan Mengeksplorasi Bakat Dengan Menyenangkan

Bakat adalah bawaan lahir yang merupakan karunia Tuhan. Namun bakat besar akan sia-sia tanpa usaha keras untuk memupuk dan mengekplorasinya. Banyak orang berbakat yang tidak berhasil dalam hidup karena mengabaikan bakatnya. Sebaliknya, banyak orang tidak berbakat justru sukses karena kerja keras dan kesadaran akan bakat yang tidak dimilikinya. Seperti ungkapan Thomas A. Edison, bahwa bakat hanyalah 1 persen dari keberhasilan, sementara 99 persen sisanya adalah hasil kerja keras.

Meskipun demikian, bukan berarti orang berbakat tidak bisa berhasil. Asalkan rajin memupuk dan mengeksplorasi bakatnya, kesuksesan akan berhasil diraih. Salah satu lembaga kursus untuk memoles bakat sejak usia dini adalah Marvellous Little Maestro yang bertempat di Kemang. Bakat yang ditangani terutama dalam seni menggambar dengan merangsang anak-anak untuk mengekspresikan diri dan mengeluarkan kemampuan dalam dirinya.

“Fungsi otak sedang berkembang pada saat usia balita, periode ini disebut juga sebagai periode emas. Demikian pula dengan kreativitas-nya, dengan memadukan brain, hand, eyes dan heart coordination, seorang anak akan mengeksplor secara visual. Kemudian pada usia lima tahun keatas, mereka mulai memperhatikan alam di sekitarnya. Nah, alat yang tepat untuk membina reflek kreativitas adalah dengan cat, kuas, krayon, kertas dan alat gambar lainnya.” kata Liesna Sulistiowati Shaw, Pendiri dan Owner Marvellous Little Maestro.

Pilihannya untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak dilandasi oleh keyakinan bahwa setiap anak bisa menggambar. Hanya saja, banyak yang kemudian merasa gambar atau lukisannya kurang bagus. Sebenarnya hal ini karena tidak pernah dilatih sejak kecil. “Padahal, ketika seorang anak pada usia tiga tahun sudah mampu menggoreskan suatu komposisi, ini sudah menunjukkan ekspresinya yang sangat kuat, terkait kemampuan dan perkembangan motorik anak,” ujar Liesna yang gemar mengumpulkan buku-buku bertema gambar dan lukis untuk kemajuan anak-anak didiknya.

Selain itu, lanjut Liesna, apresiasi masyarakat terhadap seni lukis, terutama pada anak-anak masih kurang. Berbeda dengan seni musik misalnya, yang hampir setiap stasiun televisi berlomba menayangkannya. Dengan dukungan suami dan teman-temannya, ia kemudian mendirikan Marvellous Little Maestro (MLM) pada awal tahun 2010. Tujuannya menampung sekaligus membina dan mengembangkan kreativitas dan bakat anak dalam seni gambar dan lukis.

“Kalau dibandingkan dengan bidang seni musik, apresiasi terhadap gambar menggambar masih sangat kurang di masyarakat. Begitu juga tempat memupuk bakat-bakat menggambar anak-anak masih sangat sedikit. Makanya, dengan dukungan suami dan keluarga saya membuka sanggar ini dengan harapan untuk merangsang kreativitas anak-anak secara menyenangkan,” katanya. Oleh karena itu, lembaga yang didirikannya pun mengusung tag “Explore Your Talents With So Much Fun”. “Fun-nya bagaimana? Kita membuat nyaman si anak yang belajar gambar dan lukis, serasa di rumah sendiri dengan menggunakan macam-macam medium yang disukai anak. Selain itu kami juga mengolah segala macam barang bekas menjadi berguna kembali, seperti bekas stik ice cream, kotak, kardus, dll,” lanjutnya. “Disini kami juga selalu mengingatkan anak-anak murid untuk selalu mengumpulkan hasil karya mereka.”

Awalnya, pemilik GaleriLiesna ini mengajar menggambar dan melukis dari rumah ke rumah secara privat sejak tahun 2006 sampai 2008. Saat liburan sekolah tiba, ia membuka Arts & Crafts Holiday for Children di rumahnya, di kawasan Kemang. Ternyata peminatnya sangat banyak sehingga didirikanlah sanggar dan tempat les gambar dengan materi yang menarik, edukatif sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Tahun 2009, ia mulai menyusun materi dan kurikulum yang dibutuhkan untuk pendiriannya.

“Karena orang Indonesia tertarik dengan nama-nama bahasa Inggris, akhirnya kita menggunakan nama yang keinggris-inggrisan. Walaupun telah mengumpulkan ide bermacam-macam nama, akhirnya terpilihlah Marvellous Little Maestro. Kata Marvellous ini sebenarnya kata yang sering diucapkan oleh anak sulung saya. Jadilah ide itu dan secara resmi bernama Marvellous Little Maestro!” ujarnya.

 

Berawal dari Sketsa

Ketertarikan dosen Desain Komunikasi Visual, Universitas Pelita Harapan, Karawaci ini terhadap seni lukis anak dilandasi keinginan untuk terus memajukan kreativitas anak-anak Indonesia. Menurutnya, memberikan dasar kemampuan menggambar secara dini bagi anak sangat berguna bagi masa depan mereka. Setidaknya, dari riwayat sukses para innovator dunia di masa lalu menunjukkan bahwa kemampuan sketsa, menggambar dan memvisualkan ide dari benak sangat berperan besar.

“Ini benar-benar basic yang bagus bagi anak-anak untuk berkarya dan menghargai diri sendiri dan karya mereka. Dengan menghasilkan suatu kreasi, mereka akan bangga dan percaya diri terhadap kemampuannya. Ditambah dengan apresiasi dari keluarga dan sekolah, mereka akan belajar mengekspresikan diri. Visual thinking yang baik dapat menghasilkan gambar-gambar untuk masa depan mereka. Kita bisa lihat sejarah penemu besar seperti Einstein, Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei dan lain-lain, berawal dengan membuat sebuah sketsa, coretan-coretan, sebelum menciptkan karya besar mereka,” kata ibu empat anak, istri Bima Shaw ini.

Dalam kegiatannya sebagai dosen, Liesna juga selalu menekankan kepada para mahasiswa desainnya agar membuat sketsa dulu di kertas, untuk mendapatkan ide-ide, baru kemudian dikembangkan menjadi suatu desain. Bukan tidak mungkin, dari sketsa-sketsa yang sudah terkumpul itu akan lahir karya-karya besar.

Apalagi, ia melihat bagaimana generasi muda sekarang ini jauh berbeda dengan pengalamannya. Saat ini, generasi muda dibanjiri informasi dari berbagai sumber yang lebih banyak menawarkan hiburan. Seperti televisi dan teknologi informasi (IT) yang bebas dinikmati kapan saja. Semua informasi menawarkan gaya hidup serba instant, mudah dan menyenangkan.

“Ketika saya masih sekolah dulu, hanya ada satu channel TV dan informasinya pun sangat dibatasi. Tetapi justru itulah yang membuat kita kreatif, main di luar dengan pasir, tanah, tanaman dan lain-lain. Sedangkan anak-anak jaman sekarang memiliki tantangan agar tetap kreatif di dunia yang penuh saingan, di dunia yang penuh informasi dan teknologi yang tak terbatas ini,” ungkapnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana generasi muda tetap kreatif dan orisinil di tengah gencarnya informasi di sekelilingnya. Originalitas akhirnya menjadi sangat sulit akibat informasi yang beredar di sekeliling mereka. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar generasi muda mencari jati dirinya sebagai generasi muda Indonesia. Artinya, generasi muda harus memahami dan mengerti seni dan kebudayaan Indonesia serta menjadikannya sebagai pondasi bagi karya kreatifnya.

“Mereka harus mengerti, memahami arts and culture Indonesia sebagai pondasi yang kuat. Setelah itu mereka tetap berkreasi menjadi dirinya sendiri dan terus menggali kemampuan dalam dirinya. Apapun yang disukai harus dipelajari dan dicari ilmunya, tetapi harus focus on something you like. Misalnya anak menyukai komik sekaligus culture Indonesia, bisa saja dia meng-create komik dengan culture Indonesia tetapi bisa mendunia, mengapa tidak?” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juni 1972 ini.

Putri kedua dari empat bersaudara pasangan Bambang Subianto dan Srie Wahyuni ini mencontohkan bagaimana di Amerika diciptakan tokoh-tokoh superhero seperti Superman, Batman. Penciptaan tokoh imajinasi tersebut terjadi pada abad 20, dimana di Indonesia sendiri telah memiliki banyak kisah tradisional yang menarik dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Papua dan lain-lain. Ia berharap generasi muda Indonesia ke depannya memiliki semangat kreatif dengan tetap mempertahankan jati diri dan akar budayanya.

“Dunia kreatif saat ini sangat berkembang. Kita tidak bisa lagi mengharapkan anak untuk memiliki posisi ideal seperti dokter, bankir dan lain-lain. Dunia kreatif sangat luas, bisa bekerja di TV, Majalah, Buku atau menjadi dirinya sendiri dengan fokus sebagai seniman. Intinya anak-anak harus lebih jago daripada kita dengan banyaknya informasi dan teknologi, jadi jangan malah mandek. Makanya harus dipupuk dan terus dieksplore kemampuan anak-anak ini,” kata pengajar yang sangat bangga ketika anak didiknya maju tersebut. “Itu kepuasan batin bagi saya,” imbuhnya.

Membuka Franchise

Putri mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan Presiden B.J. Habibie ini mengisahkan bahwa dirinya sejak usia tiga tahun sudah sangat senang menggambar. Masih teringat dengan jelas sang ayah yang mengajarinya untuk mengumpulkan hasil coretan ke dalam sebuah file. Liesna diajarkan agar dapat mengenali perkembangan hasil karyanya dari tahun ke tahun.

“Bapak membuat sebuah buku map untuk menaruh gambar-gambar saya dan itulah portfolio pertama saya. Sekarang saya juga mengajari anak-anak untuk menuliskan nama dan tanggal pembuatan gambar mereka masing-masing untuk dikumpulkan dalam portfolio mereka sendiri. Jadi dalam beberapa tahun kemudian mereka bisa melihat apa yang telah dibuat dan perkembangan gambar/lukisan mereka itu. Apakah semakin sempurna, halus atau apa saja,” ungkap perempuan yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda ini.

Master in Design, Curtin, University of Technology, Western Australia ini mengungkapkan keinginannya untuk pengembangan MLM. Salah satunya adalah dengan mewaralabakan lembaga pendidikan yang didirikannya. Apalagi, dukungan dari beberapa teman di wilayah lain yang sangat ingin agar lembaga serupa berdiri di sekitar tempat tinggal mereka.

“Saya ingin memajukan MLM dan menjadikannya sebagai sebuah bisnis franchise. Saat ini saya sedang menggodok materi untuk franchise, apalagi teman di Australia juga menawarkan untuk membuka di sana. Kemudian saya juga ingin membuat acara menggambar atau arts & crafts di TV yang saat ini masih cukup jarang, supaya tetap menyemangati anak Indonesia untuk berkreasi,” kata pengagum pelukis-pelukis aliran Impressionist seperti Picasso, W. Kandinsky, Cezanne dan Monet ini. Ia juga pengagum pelukis-pelukis Indonesia dan sangat terinspirasi oleh alam seperti tanaman, daun dan bunga.

Meskipun disibukkan dengan kegiatan mengajar (di Universitas Pelita Harapan dan MLM) serta mengelola galeri butik, Liesna tetap mendapat dukungan penuh dari keluarga. Apalagi lokasi pekerjaan suaminya berada dalam satu gedung dengan kegiatan yang digelutinya. Begitu juga keempat anaknya yang memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan sang ibu.

“Mereka sih tidak komplain karena sudah besar. Mereka hanya ‘menuntut’ kepada kami. Misalnya kalau kami sudah janji akan menemani mereka tetapi karena macet atau karena hal lain terlambat mereka akan protes dan menuntut supaya tidak terjadi lagi. Tetapi pada prinsipnya dukungan keluarga sangat besar kepada saya,” ungkap pemilik moto “Usaha, kerja Keras, tanggung jawab, do what you love serta bekerja sesuai dengan passion dan love life” tersebut.

Untungnya, anak-anak Liesna cukup mengerti kesibukan sang ibu. Liesna sendiri telah mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga memiliki banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Setidaknya, di pagi hari, ia dan anak-anaknya keluar rumah bersama-sama terkait jam sekolah mereka. Ia juga mengatur agar kegiatan mengajarnya bisa selesai pada pukul 16.00 sehingga terhindar dari kemacetan pulang kerja. Selain itu, paling tidak sebulan sekali untuk berjalan-jalan ke tempat wisata atau berenang ke kolam renang.

Liesna telah menetapkan moto dalam membina keluarga dalam lima poin yang telah disepakati. Yakni: “Saling menghormati, tanggung jawab, kerjasama (seperti clean up day every Saturday), menjadi contoh dan sahabat bagi anak , membangun suasana rumah yang nyaman & sehat dan menjadikan tempat keluarga & anak-anak berkreasi dan belajar”.

“Mereka sudah tahu kegiatan masing-masing. Kalau sore tidak ada kegiatan bersama suami, saya pasti pulang lebih dulu sehingga sampai rumah masih sore dan sempat bermain bulutangkis dengan anak-anak. Apalagi anak-anak saya laki-laki semua yang tidak bisa diam. Di waktu luang, saya suka mengajak anak-anak kedua dan ketiga menggambar, kebetulan mereka suka sekali menggambar. Anak pertama lebih suka olahraga, musik dan bahasa Inggris. Sementara yang bungsu masih kecil,” kata Liesna Sulistiowati Shaw.

Sekilas Profil Marvellous Little Maestro (MLM)

Liesna Sulistiowati Shaw dengan latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual membuka sanggar lukis dan gambar untuk anak-anak, Marvellous Little Maestro (MLM), pada awal tahun 2010. MLM ini didirikan untuk anak-anak (dari usia 2,5 – 12 tahun) agar dapat dengan bebas berkreasi secara visual.

Dengan mengajarkan berbagai macam media, di MLM anak-anak dapat mengekspresikan diri dalam bentuk gambar, ilustrasi dan lukisan. Adapun kelas-kelas yang ditawarkan terdiri dari:
– Arts & Crafts (Apple Class) usia 2,5 -12 tahun,
– Cool Characters (Tree Class) usia 6-8 tahun,
– Drawing and Painting with Acrylic & Watercolor (Sunflower Class) usia 8-12 tahun,
– Fun Batik! (Rainbow Class) usia 8-12 tahun.

Tujuan pendirian MLM adalah memajukan kreativitas anak-anak Indonesia secara visual dengan pemahaman global tanpa meninggalkan jati diri anak-anak sebagai anak Indonesia, sekaligus peduli terhadap lingkungan dengan menggunakan berbagai barang bekas, seperti bekas tempat susu, kardus, kotak-kotak, kertas bekas, tali, pita dan sebagainya. Liesna akan terus meng-inspire anak-anak didiknya untuk terus mencintai dunia seni gambar dan supaya terus berkreasi secara visual.

Moh Ilham Soeroer, SE, MM

DIREKTUR UTAMA  PT BANK SULTENG  

(Sang Direktur yang Datang Paling Pagi, Pulang Paling Belakang)

 

Moh. Ilham Soeroer,SE,MM dilahirkan di kota Pompanua pada tanggal 7 Mei 1955.   Masa kanak-kanaknya dihabiskannya di tanah kelahirannya yang  diisi dengan ikut membantu orangtuanya dengan menjajakan kue jajanan di sekolah, dan mendampingi ayahnya yang ia panggil Abah berjualan di pasar-pasar disekitar kampungnya yang termasuk dalam jadwal sepekan. Menginjak SLP dia belajar di SMEP Negeri kemudian melanjutkan ke SMEA Negeri di Sengkang.  Setelah itu ia melanjutkan kuliahnya di Akademi Ajun Akuntan di Makasar dan lulus tahun 1978 setelah tertunda selama dua tahun karena tenggelam dalam kegiatan kemahasiswaan sebagai  Sekretaris Dewan Mahasiswa pada tahun 1976-77 dan Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Dewan & Senat Mahasiswa Se Makassar  yang mengantarnya masuk dalam tahanan bersama-sama sejumlah fungsionaris mahasiswa kala itu karena tulisannya dalam editorial bulletin mahasiswa “KREASI” yang diterbitkan oleh Dewan Mahasiswa tempatnya kuliahMerasa kurang akan ilmunya ia melanjutkan kuliah di IKIP Makassar yang hanya sempat dijalani satu tahun, karena Ayahnya memasuki masa  pensiun sehingga ia banting setir masuk ke Akademi Ajun Akuntan untuk kuliah pada sore harinya dan pada pagi harinya ia gunakan untuk bekerja serabutan untuk menutupi biaya kuliahnya. Karena tantangan yang dihadapinya mendorong seorang Ilham Soeroer lebih tekun belajar sambil bekerja bahkan sempat menjadi asisten dosen. Dan hal itu pula yang mengantarnya memperoleh bea siswa dari Dep.Pendidikan RI.dua tahun berturut-turut dengan peringkat akademis no.2 se Kopertis Wilayah VII kala itu. Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Terbuka dan memasuki Fakulktas Ekonomi di Jakarta hingga lulus pada tahun 1991.  Karena tuntutan pekerjaannya dan daya pikir yang terbuka membuatnya meneruskan kuliahnya di Program S-2 pada Universitas Krisna Dwipayana di Jakarta dan lulus pada tahun 2000.

 

PERJALANAN KARIR

Awal karir Moh. Ilham Soeroer dimulai ketika ia menerima beasiswa dari Departemen Pendidikan & Kebudayaan RI melalui  Akademi Ajun Akuntan Ujung Pandang selama tiga tahun berturut-turut hingga Ia dapat selesaikan kuliah. Ia diangkat sebagai Asisten Dosen pada tahun 1975, di Makassar .

Kemudian tahun 1978 setelah menamatkan kuliah di Akademi Ajun Akuntan

Ia diminta untuk mengembangkan HRD  Learning center (Human Resource Development) di pabrik kertas, serta  perpustakaan sebagai pusat informasi pendidikan,  dalam waktu yang bersamaan Ia juga ditugaskan oleh Kopertis setempat   sebagai asisten dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar selain dikampusnya sendiri.

Tahun 1979, setahun setelah Ia menamatkan pendidikan di Akademi Ajun Akuntan Ia melamar pekerjaan di bank Indonesia Jakarta, kemudian diterima dan bertugas  di Bank Indonesia Makassar.

Ketika ditanya mengapa tertarik masuk Bank Indonesia, beliau berujar bahwa ia tertarik masuk Bank Indonesia karena melihat pegawainya rapih, dan disiplin waktu karena menurutnya disiplin dan kerapihan adalah suatu ciri keteraturan hidup dan menjadi  suatu tantangan untuk  belajar disiplin dan bekerja secara  produktif.

Karena kerja keras dan niatnya bekerja produktif mengantarnya dapat melewati beberapa jenjang karir di BI, dari tingkat Pegawai Tata Usaha (PTU), Pengawas Bank Yunior, Pengawas Bank Senior hingga akhirnya menjadi  Deputi Pemimpin BI di daerah.  Dalam perjalanan karirnya beliau mengutamakan produktifitas dan kejujuran dan mencoba selalu memegang prinsip dalam bekerja yaitu membiasakan  kebenaran bukan membenarkan kebiasaan selain kejujuran itu sendiri.

Beberapa pelatihan dan kursus telah membekalinya dengan segudang ilmu yang bermanfaat dalam pekerjaannya. Beberapa kursus dan pelatihan itu diantaranya adalah kursus pejabat dan pemberian kredit program BJJ. Pendidikan Pemeriksa dan Analisa Bank, Kursus Penyegaran Audit Bank, Training For Trainers Tingkat Manajer, Bank Analysis & Examination, pelatihan Dasar Perbankan Syariah,   Pelatihan Change Management dan Training Analisa Ekonomi Daerah serta beberapa kursus dan pelatihan lainnya yang berkaitan dengan perbankan.

MASA PENSIUN SANG KAMPIUN

            Posisi terakhir beliau adalah Deputi Pemimpin kemudian saat memasuki masa pensiun tahun 2010 dan dalam perjalanan separo pensiun, beliau dipanggil oleh Gubernur Sulawesi Tengah untuk memimpin Bank Sulteng.

            Kondisi Bank Sulteng pada saat ketika ia baru masuk adalah dalam kondisi yang paling “bontot” diantara 26 BPD lainnya. Selama 42 tahun berdiri, belum banyak dikenal masyarakat karena ketidak mampuan melakukan transformasi untuk mencapai kemajuan, termasuk untuk mengutamakan pelayanan yang prima. Semuanya dirombak sendiri olehnya, setelah mendapat amanah RUPSLB tanggal 24 Februari 2011 untuk melakukan perubahan struktur organisasi yang disesuaikan dengan arah dan target yang akan dicapai, terutama yang tertuang dalam BPD Regional Champion. Dan hal itu dilakukan tanpa mempekerjakan tenaga ahli karena high cost ditambah lagi belum adanya kesatuan pandang dewan komisaris dan direksi. Beliau banyak belajar dengan cara banyak melihat bagaimana mengelola  bank dari orang lain, dari rekaman pengalaman ketika menjadi auditor bank. Beliau bekerja begitu gigihnya dengan menerapkan prinsip datang paling pagi pulang paling akhir. Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil dalam waktu kurang lebih 6 bulan, jumlah dana pihak ketiga yang bersumber dari tabungan menanjak melalui “Gerakan Indonesia Menabung” (yang dipompanya melalui Kantor Cabang Utama, Luwuk dan cabang-cabang lainnya), disamping dana – giro pemerintah daerah.

SEKILAS BPD SULTENG

PT. Bank Sulteng awalnya adalah Bank pembangunan Daerah Sulawesi Tengah dengan surat izin dari Menteri Keuangan Republik Indonesia. No.D.15.6.1.17 tanggal 27 Januari 1970. Setelah kinerja BPD Sulteng semakin membaik, maka berdasarkan PERDA Tingkat I Sulteng, No.2 Tahun 1999 tanggal 30 Maret 1999, telah dilakukan perubahan badan hukum Bank Pembangunan Daerah dari Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas. Sejak itu, nama BPD Sulawesi Tengah berganti nama menjadi PT. Bank Sulteng.

Maksud dan pendirian PT.Bank Sulteng adalah untuk mendorong pertumbuhan daerah di segala bidang.Disamping itu, kehadiran PT.Bank Sulteng diharapkan mampu berperan sebagai salah satu alat ekonomi di bidang keuangan/perbankan untuk pengelolaan sumber pendapatan asli daerah untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat.

            Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut antara lain adalah:

–          Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk produk perbankan seperti giro, deposito, tabungan, dan lain-lain; memberikan kredit; memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah; menempatkan dana pada peminjam atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi, maupun dengan wesel, unjuk, cek dan atau sarana lainnya; menerima pembayaran tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan bank antar pihak ketiga; melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

PT. Bank Sulteng berkantor pusat di Jalan Sultan Hasanudin No.20 Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Bank ini memiliki pelayanan yang tersebar diseluruh wilayah Provinsi Sulteng, dari ibukota provinsi. Ibu kota kabupaten dan beberapa kota kecamatan. Hingga akhir tahun 2009, jaringan pelayanan bank terdiri atas: 1 kantor pusat, 1 kantor cabang utama, 7 kantor cabang, 5 kantor cabang pembantu, 6 Kantor cabang kas pelayanan 17 Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan 8 kantor payment point pajak.

Pada akhirnya ia berfikir bahwa mengelola suatu bank tidaklah sulit jika ada kemauan dan niat, sehingga pada akhirnya pemikiran dan bank yang dikelolanya dapat diterima oleh masyarakat disana.

Gebrakan awalnya adalah dengan meluncurkan kartu Pegawai negeri sipil elektronik di Palu. Kartu pegawai elektronik itu multi fungsi, seperti untuk transaksi perbankan atau transaksi keuangan seperti layaknya ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Ia menargetkan bisa mendapat sebanyak 3.000 penggunaan kartu pegawai negeri sipil elektronik hingga triwulan pertama 2011. Saat ini sebanyak 2000 dari 7.600 PNS di Sulawesi Tengah telah memiliki kartu pengawas elekteronik.Para PNS tetap bisa menggunakan kartu elektronik itu meski sudah pensiun.

Mengingat kondisi BPD pada waktu itu adalah sebagai Bank yang paling akhir atau bontot.Pada akhirnya beliau mengatakan bahwa mengelola suatu bank tidaklah sulit jika ada kemauan dan niat, sehingga pada akhirnya pemikiran dan bank yang dikelolanya dapat diterima oleh masyarakat disana. Beliau mencoba mengatasi human resources development (SDM) nya melalui rebranding. Beliau melakukan rebranding karena dari sudut pandangnya,  masyarakat Sulawesi Tengah ini belum mempunyai kebanggan terhadap bank-nya sendiri.Beliau melihat adanya pemetaan dan terlihat hambatan yang perlu diperbaiki dengan cara di-rebrain. Program rebranding masyarakat tidak dapat dikerjakan sendiri sehingga ia mengajak pengelola untuk melakukan brain storming untuk mengerjakan proyek rebranding ini. Seluruh pegawai di brain storming dimulai dari dewan direksinya, sehingga ia dapat melihat siapa saja yang setuju akan transformasi terhadap banknya. Ia melihat siapa saja yang tidak sependapat akan menjadi bahan pemikiran sedangkan yang setuju diikutkan pada program rebranding, Oleh karena itu, ketika beliau masuk untuk mengelola Bank Suteng ia tidak bilang bahwa beliaulah yang membangun tetapi hanya mendinamisasikan potensi dan energi sehingga bank itu dapat bergerak lebih dinamis dan lebih cepat.

 

Pemikiran dan Harapan

Menurut Beliau, perbankan yang baik bukan dari jumlah banknya tetapi kantor pelayanannya. Seperti bank daerah sudah saatnya ada holding. Di daerah seperti  Semarang/Pati jarang terdapat bank umum yang ada bank daerah atau BPR.Hal itu bergantung pada penerimaan daerah. Dan bergantung ada orientasi perusahaannya (corporate oriented).

Berkaitan dengan harapannya, menurutnya generasi muda saat ini belum memiliki self-confidence (kepercayaan diri) pada apa yang dikerjakan. Lain halnya dengan orang Jepang jika melakukan sesuatu maka mereka  tekuni seumur hidup. Belum ada komitmen dan loyalitas yang tinggi. Maka, Ilham Soeroer berkesimpulan penting adanya motivasi dari diri sendiri sekaligus menjadi “role model” diiringi pembinaan. Ia melihat pegawai harus memiliki keyakinan  apa yang dikerjakan sehingga menjadi total dalam berfikir, mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan berdo’a dalam menjalankan apapun. Kekurangan dalam diri sendirilah yang membuat kita harusnya lebih termotivasi. Jadi, kekurangan bukanlah menjadi suatu hambatan melainkan tantangan. Dengan adanya kekurangan atau hambatan akan membuat kita bisa berfikir bagaimana cara mengatasi kekurangan atau hambatan tersebut dan tidak pernah merasa takut terhadap sesuatu atau pekerjaan yang baru. Nantinya semua bisa teratasi dengan baik .

            Jika masuk ke sesuatu yang baru pastilah ada masalah atau konflik seperti halnya yang dialami pria kelahiran Pompanua ini. Beliau hanya mempunyai dua pilihan di depan mata saat menapaki karirnya setelah mendapat promosi Deputi Pemimpin, yaitu masuk ke Papua atau ke Palu, Beliau lebih memilih Palu dengan pertimbangan bahwa daerah Palu selain dekat dengan domisili leluhur kakeknya di Morowali, juga dinilainya Palu merupakan kota yang memiliki potensi sumber daya alam namun terbatas sumber daya manusia yang terlatih. Hal itulah yang mendorongnya untuk berperan aktif setelah terpilih sebagai Ketua I ISEI yang membidangi Pengembangan Ekonomi Regional,  Lembaga keuangan  dan Investasi daerah. Dalam suatu kesempatan kordinasi tripartite, Ia bersama-sama ISEI yang sebagiannya adalah akademisi menggagas sekaligus men”drive” diadakan “SULTENG EXPO” yang menjadi ajang promosi dengan mengajak instansi teknis terkait untuk bersinergi mewujudkan event tersebut. Pada awalnya mendapat tantangan karena selama itu promosi lebih cenderung dilaksanakan di Jakarta, sehingga Palu khususnya atau Sulawesi Tengah umumnya kurang banyak dikenal masyarakat luas dan lebih dikenalnya sebagai daerah konflik (Poso, red). Setelah melalui diskusi terbuka, akhirnya terselenggara Sulteng Expo pada tahun 2006 yang dirangkai dengan Seminar Nasional Indonesia Forum dan pelantikan Pengurus ISEI Sulawesi Tengah,  dengan menghadirkan Gubernur Bank Indonesia – Burhanuddin Abdullah. Kehadiran Gubernur Bank Indonesia saat itu selain memecah kesepian Palu dari kunjungan seorang Gubernur BI dalam rentang waktu 28 tahun,  sekaligus upaya meyakinkan kepada masyarakat luas bahwa Palu atau pun Sulawesi Tengah sudah kondisi “aman”.   Dalam menjalani hari-harinya di Bank Indonesia Palu sebelum masuk ke Bank Sulteng beliau bukanlah tipe orang yang suka berkonflik melainkan tipe pekerja yang tangguh menghadapi segala rintangan dan  ulet sehingga tak heran Ia dapat lalui selama tidak kurang dari 5 tahun di bumi Tadulako yang memberinya banyak inspirasi dan kreasi.

Menyinggung peran pemerintah untuk lembaga seperti BPD, berkat adanya dukungan dari pemerintah daerah melalui Gubernur Sulawesi Tengah (saat itu Bapak HB Paliudju) yang begitu besar sehingga Bank Sulteng dapat keluar dari bank yang tergolong akan menjadi BPR jika tidak dapat memenuhi modal  disetor Rp 100 milyar pada tahun 2007. Harapannya, adalah bagaimana upaya Pengurus Bank  Sulteng berupaya agar  tidak saja dapat di terima di kalangan masyarakat regional Sulteng saja tetapi Bank Sulteng dapat dikenal dan diterima nasional secara luas. Hal itu kemudian, Ia memasuki advetorial – beriklan melalui salahsatu koran nasional yang dikenal banyak dan luas dikalangan investor dan pebisnis. Sayangnya dikalangan Pengurus kok malah dianggap pemborosan, lha marketing kok.  Menurut Ayah 4 orang putra/putri ini, hal yang dapat dilakukan karyawan antara lain, ketika BPD setback, Ia tetap memberikan motivasi kepada pegawai tentang penerapan transformasi yang dilakukan guna mengejar ketertinggalan Bank Sulteng. Bagaimana bisa menghasilkan sesuatu yang banyak dan meluas sehingga dapat dikenal banyak orang, karena mengubah budaya kerja seadanya yg melekat selama  42 tahun bukanlah perkara yang mudah.

Ketika disinggung mengenai kebudayaan di Sulawesi Tengah yang mempengaruhi operasional suatu BPD, Beliau tidak menjelaskan lebih gamblang karena menjaga untuk tidak disalahtafsirkan seperti SARA. Beliau lebih suka menyerahkannya pada masyarakat. Masyarakat saja yang berhak menilainya. Berkat kerja kerasnya yang tak mengenal lelah, dalam kurun waktu 1 tahun beliau sudah bisa mengubah pola pikir internal maupun kebudayaan masyarakat untuk gemar menabung melalui sosialisasi “Gerakan Indonesia Menabung” ke pelosok. Antara lain masyarakat lebih mengenal budaya menabung, kebiasaan yang sifatnya konsumtif menjadi yang produktif, serta merasa bangga mempunyai bank sendiri. Beliau berusaha memberikan panutan dan tidak meremehkan orang-orang di sekitarnya sehingga bisa membawa pembaharuan karena banyak pegawai yang puluhan  tahun bekerja namun belum pernah diberi pelatihan ataupun pendidikan.

            Dalam program pengembangan bank ini tidak ada kepentingan pribadi melainkan lebih dititikberatkan untuk kepentingan Bank Sulteng semata.

 

Ilham Soeroer di mata Keluarga

 

Akan halnya harapan Ia terhadap anak-anaknya, Ia selalu menekankan anak-anaknya agar bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan dan mencintai pekerjaan yang digeluti. Kedisiplinan yang didapat dari kakek dan Ayah-Bundanya juga ditularkan pada keempat orang putranya, walau belum ada yang mengikuti jejaknya bekerja di Bank ataupun masuk di Bank Indonesia. Dengan kita mencintai pekerjaan, maka pekerjaan juga akan mencintai kita, tandas pria yang memiliki saudara sebanyak 9 orang yang hidup dari 12 orang yang dilahirkan ibundanya, yang semuanya menyebar di seluruh Indonesia ini menutup pembicaraan.

Drs. Adrianto, M.Hum

Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels

Mengajar Adalah Cara Terbaik Untuk Belajar 

Tanpa penguasaan yang tinggi terhadap bahasa Inggris, Drs. Adrianto, M.Hum., nekat membuka kursus. Berbekal pemasangan iklan di suratkabar dan lokasi “elit” di sebuah hotel, lembaga kursus menerima siswa dari berbagai kalangan. Tidak hanya murid sekolah, tetapi juga petinggi kepolisian di wilayah Jakarta.

Namun siapa sangka, kalau ternyata tutor yang memberikan kursus merasa kurang menguasai bahasa Inggris. Mahasiswa Universitas Indonesia yang mendirikan kursus hanya bermodal menghapal materi yang akan diajarkannya kepada siswa. Tidak heran, dalam beberapa sesi ia “gelagapan” menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya.

“Karena saya memang waktu itu belum benar-benar menguasai bahasa Inggris. Dan untuk bahan mengajar pun ‘hanya’ menghapal bahan yang akan saya ajarkan. Peserta kursus saya sedikit tetapi berkualitas, antara lain istri Panglima Polisi wilayah Jakarta. Oleh karena itu, saya harus benar-benar menguasai materinya,” kata Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels ini.

Tentu saja, Adri –panggilan akrab pria kelahiran Semarang, 19 November 1958- ini, tidak ingin dihukum karena ternyata penguasaan bahasa Inggris-nya minim. Dengan terpaksa, ia belajar bahasa Inggris sekuat tenaga agar mampu menguasainya dengan baik. Ia tidak ingin kredibilitasnya turun dan mendapat malu di depan siswa yang notabene belajar darinya.

Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Upayanya untuk menghapal materi pelajaran bahasa Inggris berhasil positif. Akhirnya ia menguasai bahasa internasional tersebut dan percaya diri untuk menggunakannya pada berbagai kesempatan.

“Jadi kesimpulannya saya mampu berbahasa Inggris karena mengajar, meskipun hanya ngapalin saja. Intinya drive saya itu berasal dari keterpaksaan, yang tadinya terpaksa menjadi bisa. Ilmu yang saya dapat, mengajar adalah cara belajar yang sangat bagus,” tandasnya.

Sebenarnya tekad kuat Adri untuk belajar bahasa Inggris dilandasi oleh keinginannya bekerja di kedutaan besar. Namun ia terbentur syarat bekerja di kedutaan adalah penguasan bahasa Inggris yang mumpuni. Sementara dirinya saat itu tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik. “Logikanya, kalau ingin belajar bahasa Inggris kenapa saya tidak mengajar bahasa Inggris. Makanya saya mendirikan lembaga kursus itu karena menjadi guru kan harus lebih pinter dari muridnya,” kilah pria dengan moto “Menyenangkan Orang Lain” ini.

Terlalu Teoritis

Menurut Drs. Adrianto, M.Hum, dunia pendidikan Indonesia saat ini terlalu banyak mata pelajaran yang harus dikuasai. Anak didik dijejali mata pelajaran yang sebenarnya belum perlu diajarkan. Selain itu, mereka sebagai peserta pembelajaran kebanyakan menerima pelajaran yang bersifat teori belaka.

“Pelajaran yang banyak itu, dipenuhi dengan teori, tapi praktek dalam pembelajaran bahasa Inggris. Sekarang ini banyak yang diajarkan secara teoritis, sementara gurunya sendiri terkesan kurang menguasai bahasa Inggris yang pas. Kalau untuk bahasa asing, harusnya guru-guru yang mengajar anak-anak dengan hapalan kemudian mempraktekkan,” kata pengagum Bunda Theresa tersebut.

Adri mencontohkan dirinya sendiri dalam belajar bahasa Inggris dengan metode awal, menghapal. Ia menghapalkan percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris, bukan kata per kata baru disusun dalam sebuah kalimat. Adri mempraktekkan percakapan-percakapan tersebut di kamar kosnya layaknya sebuah sandiwara monolog.

Saking seriusnya Adri menghapal, penah ibu kosnya sempat mendobrak masuk kamar. Ibu kosnya menyangka di dalam kamarnya terjadi pertengkaran antara dirinya dengan orang lain. “Tetapi saya jalan terus, untuk mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris. Anak-anak sekarang juga harus begitu, jangan takut salah dalam mempraktekkan bahasa asing. Salah nggak apa-apa, lama-lama toh akan bisa. Mengenai teori dengan praktek itulah kita bisa menggali teorinya,” kata ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Titiek Sayekti ini.

Menurut sulung dari empat saudara pasangan R Ng KH Rois Ibrahim dan Ny R Ng Sumarni ini, dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah maju. Secara keseluruhan dunia pendidikan Indonesia tidak ketinggalan dengan negara lain. Hanya saja, pada beberapa perlu dilakukan pembenahan sesuai dengan kebutuhan zaman. “Pendidikan kita maju. Generasi muda sejak kecil harus diberi landasan, sehingga akan berkembang ketika mereka besar nanti,” tambahnya.

Tangan Tuhan

Adrianto memimpin Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (Akpar JIH) sejak dua tahun lalu. Sebenarnya ia sendiri tidak merencanakan kariernya akan mencapai puncak di lembaga pendidikan pencetak tenaga kepariwisataan. Semua yang dilakukannya berjalan mengalir begitu saja dilandasi dengan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Selebihnya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan untuk membimbing perjalanannya.

“Sebenarnya saya sendiri merasa bahwa semua itu tangan Tuhan. Adanya saya disini dan sebagainya tidak saya rencanakan terlebih dahulu. Tadinya lembaga ini dipegang oleh rekan dari Trisakti. Kemudian setelah masa jabatannya habis saya menggantikannya,” katanya.

Adri mengisahkan ketertarikannya di dunia pariwisata. Dimana untuk menggeluti dunia pariwisata harus tahu akar pariwisata itu sendiri. Indonesia dengan primadona kepariwisataan di Bali, akarnya pun terletak di Pulau Dewata tersebut. Sadar akan hal itu, ia belajar dan bekerja di Bali selama tiga tahun.

Kepada investor asal Singapura tempatnya bekerja, Adri menyarankan untuk membuka lembaga pendidikan pariwisata di Jimbaran. Sarannya diterima dan bekerjasama dengan Universitas Udayana dan berdirilah Politeknik Negeri Bali. Selama di Bali, ia tinggal di Ubud. Pertimbangannya, Ubud adalah pusat budaya Bali sehingga tinggal di tengah sentra akar pariwisata sangat tepat. “Nawaitu saya adalah mempelajari budaya Bali dan pariwisata, karena Bali termasuk primadona pariwisata dunia,” tambahnya.

Kesimpulan selama mempelajari pariwisata Bali, menurut Adri adalah lekatnya agama Hindu dalam kehidupan masyarakat. Saking kuat dan mengakarnya agama Hindu –bahkan mengalahkan ketaatan masyarakat dalam beragama Hindu di India. Ketaatan masyarakat Bali terhadap agamanya telah menjelma menjadi budaya. Bahkan sebutannya pun sudah menjadi khas Bali, yakni agama Hindu Bali.

“Meskipun demikian, seperti pemeluk agama lain, orang Bali sendiri banyak yang tidak tahu secara detail terhadap arti ritual agamanya,” ungkap penyuka liburan bernuansa “Back to nature” tersebut.

Setelah tiga tahun di Bali, Adri kemudian kembali ke Akpar dan diangkat sebagai Pembantu Direktur (Pudir I). Pengangkatan tersebut, menurut dirinya terkait dengan pengetahuannya mengenai masalah budaya yang dipelajarinya di Bali. “Mungkin dianggap oleh direktur saya sudah menguasai ilmunya selama belajar di Bali. Sebenarnya saya hanya senang karena belajar sesuatu yang menarik untuk dipelajari,” kata kepala keluarga dengan moto “Biarkan anak berkembang secara alamiah dengan dasar pembinaan dan pendidikan yang baik dari kami” ini.

Akpar JIH Sekilas

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels berdiri pada tahun 1994. Kampus pertama menempati lokasi Hotel Borobudur di Lapangan Banteng Jakarta Pusat selama tiga tahun. Pertama kali berdiri, merupakan program apprentice Hotel Borobudur untuk memenuhi tenaga kerja terampil dan siap pakai untuk memenuhi kebutuhan Hotel Borobudur sendiri.

Seiring dengam jumlah mahasiswa yang terus meningkat, kapasitas kelas tidak mencukupi sehingga lokasi kampus dipindahkan ke Kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD) Jalan Jend Sudirman kav 52-53. Dimana di kawasan ini juga terdapat Hotel Ritz Carlton, gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Gedung Artha Graha, Apartemen Capital, Apartemen SCBD, Apartemen Kusuma Chandra, JakTV dan beberapa gedung bisnis lainnya.

Akpar JIH ini merupakan anak perusahaan dari PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) yang juga merupakan induk organisasi Hotel Borobudur. PT JIHD selaku pemilik dari Akpar JIH dan Hotel Borobudur merupakan anak perusahaan dari Bank Artha Graha.

Sampai saat ini, Akpar JIH terus mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan industri perhotelan baik dalam keahlian maupun praktek.

Lulusan Akpar JID tidak hanya bekerja di Indonesia, tapi telah menjangkau Amerika, Jepang, Dubai dan Negara-Negara di Timur Tengah termasuk untuk mensuplai tenaga kerja ke Kapal pesiar di Amerika dan Eropa.

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels merupakan sebuah akademi pariwisata terkemuka di Jakarta yang memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan dunia pariwisata dengan mengembangkan berbagai program pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi yang merupakan tuntutan dari industri pariwisata pada umumnya dan industri perhotelan pada khususnya.

Keahlian yang berbasis kompetensi inilah yang sampai saat ini membantu lulusan Akpar JIH dalam mendapatkan pekerjaan. Dalam penyaluran lulusan, Akpar JIH mendapat bantuan dari beberapa hotel dalam group sendiri seperti Hotel Borobudur, the Ritz Carlton Pacific Place, Prameswari Puncak dan Kartika Plaza Discovery di Bali.

Program praktek lapangan Akpar JIH adalah dengan mengirimkan mahasiswa ke hotel-hotel berbintang lima di Jakarta, Bali, Malaysia dan Singapura.

Selain program pendidikan yang baik, Akpar JIH juga terletak di lokasi yang strategis dan dilalui oleh berbagai angkutan umum dari selurauh area di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Hal ini menyebabkan mahasiswa Akpar JIH datang dari berbagai penjuru kota karena akses angkutan yang mudah dan murah dengan ditunjang oleh jaringan Transjakarta dan suttlebus di kawasan kampus.

Fasilita belajar Akpar JIH terdiri dari kelas ber-AC dengan kapasitas 20 orang per kelas. Selama pelajaran menggunakan multi media seperti Over Head Projector, Video Presentation dan LCD. Tenaga pengajar terdiri dari 37 orang dosen dari praktisi dengan gelar S1 dan S2, serta guest lecturer. Akpar JIH juga dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium untuk prakterk. Saat melakukan latihan kerja lapangan (PKL) Akpar JIH bekerja sama dengan hotel bintang lima dalam dan luar negeri.

Profil Akpar JIH

Jenjang pendidikan: D1, D3

Jumlah alumni: 300

Ikatan alumni: Ikatan Alumni Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (ILUNI APJIH), Jakarta International Hotels

Jumlah dosen tetap: 37 (pendidikan S1: 30, S2: 7)

Luas kampus: 2.500 m2

Fasilitas Kampus

Jumlah ruang kuliah: 8

Perpustakaan: luas 50 m2, koleksi buku: 200 judul, 400 eksemplar

Laboratorium: 6 unit (Front Office, Model Room, Kitchen, Restaurant, Laundry, Komputer)

Lembaga penelitian: Lembaga Pengembangan Manajemen Pariwisata (LPMP)

Unit kegiatan mahasiswa: olahraga (sepak bola, basket, badminton, voli, tenis meja, futsal), pencinta alam, rohani Islam, rohani Kristen, kesenian (paduan suara), bela diri (karate), English Club, Bartender Club, out bound

Fasilitas lain: lapangan olahraga, bergabung dengan Artha Graha Group

Akpar JIH melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi lain di luar negeri: HILDIKTRIPARI-Conrad Hilton Huston USA dalam studi banding

Kerjasama dengan instansi/lembaga lain di dalam negeri: Artha Graha Group, Kopertis III Ditjen Dikti

Prestasi:

– Juara I Table Set Up antarakademi se-DKI

– Juara II Food Competition dalam acara Indonesian Food Exhibition

– Masuk dalam 6 besar pada acara Bread Competition yang diselenggarakan oleh Bogasari

Beasiswa: disediakan oleh Jakarta International Hotels and Development bagi mahasiswa berprestasi

HM Anwar Nur, SAg

HM Anwar Nur, SAg
Ketua Yayasan Puspita Bangsa

Mengabdikan Seluruh Hidupnya Bagi Dunia Pendidikan

Totalitas sangat diperlukan untuk keberhasilan sebuah pekerjaan. Dengan totalitas disertai loyalitas tinggi, kesuksesan dari pekerjaan bertambah besar. Namun, semua tidak bisa didapat dengan mudah karena harus melalui rentang waktu yang panjang dan penuh perjuangan. Seseorang dengan totalitas dan loyalitas terhadap sebuah pekerjaan akan menekuninya sepenuh hati sepanjang hidupnya.

Seperti yang dilakukan oleh HM Anwar Nur, SAg, pada dunia pendidikan. Ketua Yayasan Puspita Bangsa ini sejak awal mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Ia memulainya saat usianya masih sangat muda, yakni selepas Pendidikan Guru Agama (PGA) yang setingkat SLTA. Tujuannya, kalau ia dengan kondisinya mampu menempuh pendidikan formal, orang-orang dengan kondisi di bawahnya pun harus bisa seperti dirinya.

“Setelah lulus PGA tahun 1964, saya mulai mengabdikan diri di masyarakat, mengajar di SD dan Madrasah Al Hidayah. Satu tahun kemudian bersama dua puluh rekan lain saya ditugaskan melanjutkan pendidikan ke IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Saya tetap berpikir bagaimana kawan-kawan di bawah kita untuk terus belajar dan sekolah. Makanya saya bersama rekan-rekan dan Dosen IAIN mendirikan sekolah (PGA/SD) untuk pertama kalinya di kami menumpang di IAIN selama tiga tahun dan di Madrasah Al Hidayah sampai tahun 1976,” katanya.

Pendirian sekolah tersebut, lanjutnya, adalah upaya yang lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi pendidikan di Ciputat dan sekitarnya. Tahun 1960-an, di wilayah Ciputat hanya terdapat sekolah dasar saja, sehingga bagi anak-anak yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi harus ke Jakarta. Ia mengingat bagaimana SMP satu-satunya yang dibuka masyarakat “bubar” begitu saja. Sekolah lain pun bernasib sama karena minat masyarakat terhadap pendidikan pun sangat kecil.

Meskipun demikian, Anwar dan kawan-kawan tidak berputus asa. Ia kemudian membuka PGA Islam sampai dengan SMP dan SMEA menyusul PGA (belakangan berganti menjadi Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Keterampilan Keluarga (SMKK) dan Madrasah Aliyah (MA) kemudian dibangunnya. Saat itu, sebagai pengajar dalam lingkungan Departemen Agama dan pemilik yayasan, ia diangkat sebagai pengawas Pendidikan Agama Kabupaten Tangerang.

“Alhamdulilah sekolah yang saya kelola sejak tahun 1965 semakin maju. Sekarang ini, bangunan sekolah mencapai tiga lantai yang dikelola yayasan pimpinan saya. Kalau zaman dahulu, di Ciputat memang tidak ada sekolah yang sampai tingkat menengah. Hanya SD saja, itupun adanya di tingkat kecamatan. Itulah yang memanggil saya untuk bergerak di bidang pendidikan sampai sekarang ini,” kata pimpinan empat yayasan yang bergerak di bidang pendidikan ini.

Modal Nekat

HM Anwar Nur, SAg, sejak kecil terbiasa berjuang hidup karena kondisinya yang serba kekurangan. Pada usia tiga bulan, ayahnya terpisah sampai meninggal dunia sehingga ia dibesarkan seorang diri oleh sang ibu. Berbagai kesulitan harus dihadapinya, karena ibunya hanya berjualan kue dan menumpang hidup di sekolah. Oleh karena itu, sejak kecil ia terbiasa membantu orang tua untuk menyambung hidup.

“Saya dibesarkan dengan berbagai usaha untuk membantu orang tua. Salah satunya adalah dengan berjualan kue di sekolah. Tahun 1958, saya masuk SMP 11 Melawai, Jakarta Selatan, karena di Ciputat belum ada SMP. Di tengah berbagai keterbatasan yang saya miliki -jangankan untuk bayar SPP, pakai seragam dan sepatu saja sudah tidak memadai- saya pulang pergi numpang truk pasir,” kisahnya.

Keterbatasan biaya, membuat Anwar harus drop out dari sekolah SMP. Di saat bersamaan, PGA Tangerang sedang mengadakan ujian masuk. Tidak menunggu waktu lama, ia mengikuti tes yang dilaksanakan oleh Kandepag Kabupaten Tangerang. Ia sangat bersyukur diterima di PGA dan dititipkan oleh kakeknya kepada Kepala Sekolah PGA di rumahnya. Di rumah Kepala Sekolah, ia bertugas membantu pekerjaan rumah tangga seperti menimba air dan mengepel lantai.

“Alhamdulilah, setelah satu tahun di PGA saya terpilih di antara 20 pelajar yang memperoleh Ikatan Dinas dengan nilai tertentu. Dari situ saya memperoleh biaya melanjutkan sekolah. Setelah satu tahun, saya memutuskan untuk keluar dari rumah Kepala Sekolah. Dengan dana ID sebesar Rp4500, saya bisa menyelesaikan sekolah pada tahun 1964,” tegasnya.

Lulus dari PGA, Anwar mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di IAIN. Pada saat bersamaan, ia juga mendirikan sekolah bersama kawan-kawan dengan menumpang di gedung IAIN. Aktivitasnya di organisasi kepemudaan seperti PII, IPNU, PMII, Karang Taruna, dan KOSGORO termasuk koperasi dan lain-lain membuat langkahnya lebih mudah. Bahkan, karena kiprahnya di dunia pendidikan yang sangat fenomenal melalui jalur ormas KOSGORO, ia akan diangkat sebagai anggota DPR di zaman pemerintah Presiden Soeharto.

“Tahun 1990, saat membuka Yayasan Puspita Bangsa itu benar-benar tanpa modal sama sekali. Bahkan sejengkal tanah pun saya tidak punya, saya tidak memiliki warisan, hanya modal tekad saja. Ibu meminta saya untuk mendirikan pondok pesantren, panti asuhan. Modal kita hanya kemauan,” tandasnya.

Namun modal nekat Anwar telah membuka jalan seluas-luasnya bagi keinginan mulianya tersebut. Dana yang dimiliki saat itu sebesar Rp500 ribu, nekat dibelikan batu dan pasir masing-masing dua truk. Ia tidak berpikir untuk membangun gedung juga memerlukan semen. Namun, entah dari mana datangnya berbagai bantuan melengkapi material yang dibutuhkannya. “Semen saja tidak kebeli saat itu. Tetapi Alhamdlulilah secara bertahap saya membangun perlahan-lahan,” ungkapnya,

Dalam membangun sekolah, Anwar mendisain serta memantau sendirian. Mulai rencana, konsep, IMB, izin operasional dan pembangunan yayasan sendiri. Baru setelah mulai terbentuk bangunan dan beroperasi, ia merekrut orang untuk membantu mengurus di yayasan yang didirikannya. Setahap demi setahap, ia membangun lokal kelas sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan. Perlahan namun pasti, perluasan kompleks sekolah dan bangunannya pun semakin meningkat.

“Ya bertahap semuanya, kalau saya butuh dua lokal saya bangun dua lokal, sampai selesai bertingkat tiga. Begitu seterusnya, setahap demi setahap sampai sekarang luas tanah total 3000 meter persegi. Pokoknya kita terus melakukan pembangunan lokal kelas ini, meskipun kadang hanya tiga tukang yang bekerja. Ahamdulilah sampai sekarang masih ajeg berjalan dan insya Allah tahun depan cita-cita saya untuk membuat pesantren dan panti asuhan tercapai. Modal saya benar-benar cuma nekat, keberanian, semangat dan ketekunan,” tuturnya.

Terus Berbuat

Yayasan Puspita Bangsa dibawah pimpinan HM Anwar Nur, SAg, memiliki 100 orang guru dan karyawan dengan 1200 siswa. Namun, ia dianggap “bertangan dingin” dalam mengelola yayasan sehingga ke pundaknya dibebankan beberapa yayasan sekaligus. Selain Yayasan Puspita Bangsa, ia juga memimpin Yayasan Al Hidayah dengan 700 siswa dan Yayasan Islamiyah dengan 2500 siswa.

“Sekarang ditambah satu yayasan lagi di Gunung Sindur. Yang jelas, saya tidak bisa diam dan terus berbuat. Saya bukannya tidak mau mengestafetkan kesibukan ini, tetapi memang harus ada kesibukan bagi saya. Jadi sampai hari ini masih saya tangani sendiri kalau ada masalah,” tandasnya.

Mengisahkan sekolah-sekolah di Yayasan, Anwar sangat bersyukur bisa memberikan yang terbaik bagi para siswa. Selain gedung tiga tingkat lengkap dengan sarana dan prasarana penunjang pendidikan seperti perpustakaan, Lab. Bahasa, Lab. Komputer dan Lab. IPA, serta ekstra kurikuler sesuai dengan keinginan dan bakat anak didik pun tersedia. Mulai basket, futsal, beladiri, Pramuka dan lain-lain disediakan sekolah. Ia menyadari bahwa para siswa yang berdatangan dari kampung-kampung di sekitarnya tersebut sangat haus ilmu pengetahuan. Dengan pembinaan yang tepat, ia berharap mereka akan tumbuh menjadi generasi muda penerus bangsa yang handal.

“Alhamdulilah, anak-anak yang sekolah di SMK Pariwisata Puspita Bangsa, yang belum lulus pun sudah banyak diminta oleh hotel-hotel. Kalau yang sudah lulus banyak yang bekerja di hotel-hotel, swalayan, kapal pesiar, bahkan ada yang bekerja di Malaysia sebagai manager hotel. Saya bangga sekali melihat keberhasilan anak didik lulusan dari sini. Kebanggaan itu tidak bisa diukur dengan materi,” kata pria yang menganggap keberhasilan tersebut semata-mata karena Allah tersebut. “Bukan karena saya yang tidak ada apa-apanya ini,” cetusnya.

Ia mengisahkan bagaimana dengan gaji Rp4 ribu pada tahun 1970-an yang tidak cukup untuk makan selama satu minggu, tetapi mampu membiayai adik-adiknya. Bahkan ketika sudah diangkat sebagai pengawas yayasan dengan gaji Rp150 ribu, ia mampu membangun gedung sekolah dan membeli rumah. “Kalau pakai rasio matematika tidak bakal ketemu. Tetapi matematika Allah melampaui semuanya, makanya saya pasrah saja kepada Allah,” imbuhnya.

Kepada pemerintah yang telah memberikan bantuan berupa BOS, BOM dan RKB, HM Anwar, SAg, menyatakan rasa terima kasihnya. Sedikit banyak, yayasan sangat terbantu atas kebijakan pemerintah tersebut. Ia juga sangat bersyukur karena pemerintah telah memberikan bantuan untuk sarana dan prasarana sekolah, sehingga tidak ketinggalan dengan sekolah lain.

“Kita juga menyediakan sarana IT yang memadai. Karena sebagai pendidik, saya menganggap kita harus mengikuti perkembangan. Jadi kalau sekolah lain sudah mengenal internet kita juga tidak ketinggalan, agar anak-anak kami berkembang menjadi pintar karena internet menyediakan segalanya. Tetapi tergantung anaknya juga bagaimana mereka belajar. Bagitu juga dengan generasi muda, mereka harus belajar yang baik dan menimba pengalaman seluas-luasnya. Karena generasi muda harus siap dalam menghadapi semua kesulitan di tengah era globalisasi dunia,” kata HM Anwar Nur, SAg.

Visi dan Misi Yayasan Puspita Bangsa

Visi:

“Sebagai lembaga pendidikan Islam berusaha membentuk kader umat yang beriman, bertaqwa serta berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bertanggung jawab pada dirinya, agama, bangsa dan negara”

Misi:

1.    Menyelenggarakan pendidikan dasar menengah sampai perguruan tinggi
2.    Mengadakan kajian-kajian dalam bidang ilmiah, keagamaan, teknologi dan kemasyarakatan
3.    Mengembangkan kreativitas peserta didik dalam memilih bakat dan kemampuannya
4.    Membantu pemerintah dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM
Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan

Pendidikan Berkualitas Akan Meningkatkan Pelayanan Penerbangan

Dibesarkan dalam keluarga sederhana berlatar belakang militer yang kental dengan disiplin tinggi, terbawa dalam keseharian hidup Ir. Bambang Wijaya Putra, MM. Ayahnya, almarhum Musa Muhidin adalah seorang anggota TNI yang selalu menjunjung tinggi disiplin, berjiwa ksatria serta memiliki cita-cita mulia untuk memajukan bangsa dan negara.

“Semua itu beliau wujudkan dengan memulai dalam lingkungan keluarga sendiri. Jadi orang tua saya selalu menerapkan kepada anak-anaknya agar selalu berdisiplin, menghargai waktu dan mengerjakan segala sesuatu dengan hasil yang baik. Ayah sering mengatakan kepada saya bahwa ‘hidup kita harus dapat bermanfaat bagi diri sendiri, lingkungan sekitar dan selalu bekerja dengan hasil yang terbaik disertai hati yang ikhlas,” kata Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan ini.

Kebiasaan disiplin yang sudah tertanam sejak kecil terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saat bermain mobil-mobilan –permainan yang paling digemarinya- bersama teman sepermainan, ia selalu berperan sebagai pengatur lalu lintas. Tugasnya mencegah agar mobil teman-temannya tidak saling bertabrakan satu sama lain sehingga permainan menjadi lebih asik dan teratur. “Mungkin pendidikan dalam keluarga membuat saya ingin segala sesuatu berjalan teratur dan disiplin bahkan sampai hal kecil sekalipun,” imbuhnya.

Kebiasaan tersebut, lanjut Bambang, terus terbawa ketika meniti karier sebagai seorang Teknisi Penerbangan di Bandara Sultan Machmud Badaruddin II -dahulu dikenal dengan Bandara Talang Betutu- Palembang pada tahun 1981.  Sejak itu, ia menanamkan tekad dan cita-cita untuk menjadikan penerbangan yang aman, tertib, teratur, baik dan nyaman. Apalagi, ia sadar bahwa di dunia penerbangan tidak ada ruang sekecil apapun untuk melakukan satu titik kesalahan.

Dalam menekuni kariernya, Bambang terus mencoba berpikir dan menganalisa faktor apa yang terpenting dalam dunia penerbangan. Sampai suatu saat ia memiliki kesimpulan bahwa satu hal yang terpenting dalam dunia penerbangan adalah masalah pendidikannya. Yaitu bagaimana mendidik sumber daya manusia (SDM) di penerbangan yang handal, penuh disiplin, profesional dan tidak mentolerir kesalahan. Berdasarkan pemikiran seperti itu, ia kemudian memutuskan untuk memfokuskan karier pada dunia pendidikan yaitu pendidikan penerbangan.

“Sampai saat ini saya mengemban amanah untuk memimpin sebuah Pusat Pendidikan Penerbangan di Medan yaitu Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan. Dari pengalaman saya, jelas terlihat bahwa untuk menciptakan sebuah pelayanan penerbangan yang aman, tertib, teratur, disiplin, dan nyaman dibutuhkan SDM yang handal, unggul dan professional di bidangnya. Nah, untuk membentuk SDM seperti kriteria tersebut dibutuhkan proses pendidikan yang baik,” kata Direktur ATKP yang sudah empat tahun menjabat ini.

Sekilas ATKP Medan

Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan (ATKP Medan)  merupakan salah satu UPT dibawah Badan Diklat Perhubungan. Tugasnya adalah berperan aktif dalam menciptakan SDM perhubungan yang terbaik. Berdiri sejak 1989 dengan nama Pusdiklat Medan dan berganti nama menjadi Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan. ATKP Medan berlokasi di ibukota provinsi Sumatera Utara yang didirikan dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM. 80 tahun 1999, tanggal 13 Oktober 1999 tentang Pendirian Akademik Teknik dan Keselamatan Penerbangan.

ATKP menyelenggarakan pendidikan profesional program diploma bidang teknik dan keselamatan penerbangan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan profesional menekankan penerapan keahlian bidang teknik dan keselamatan penerbangan dan pembentukan kompetensi untuk menangani pekerjaan menurut praktik-praktik yang berlaku secara umum dalam bidang teknik dan keselamatan penerbangan.

Penelitian bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan daya nalar untuk berperan serta dalam memecahkan permasalahan di dunia penerbangan. Pengabdian kepada masyarakat bertujuan menjalin hubungan antara ATKP dengan dunia penerbangan dan masyarakat melalui kerjasama yang saling menguntungkan.

ATKP Medan memiliki tujuan, untuk;
Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat penerbangan yang memiliki kemampuan profesional di bidang teknik dan keselamatan penerbangan
Menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang teknik dan keselamatan penerbangan serta mengupayakan penerapannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional
Mengembangkan penerapan ilmu pengetahuan dalam bidang teknik dan keselamatan penerbangan

Tugas ATKP Medan, adalah:
Melaksanakan pendidikan profesional program diploma bidang keahlian teknik penerbangan dan keselamatan penerbangan
Melaksanaan dan pengembangan pendidikan profesional yang meliputi pengajaran, pelatihan dan pembinaan
Melaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
Mengelola perpustakaan, laboratorium, sarana dan prasarana lainnya
Membina civitas akademika dan hubungannya dengan lingkungan

“Sebagai pimpinan di sini, saya menerapkan pendidikan yang berdisiplin tinggi, menghargai waktu dan profesional pada bidang masing-masing. Saya juga menekankan agar mereka selalu mempersembahkan kinerja terbaik yang dilandasi dengan perasaan ikhlas dalam melaksanakan tugas-tugasnya,” tandasnya.

Profesi Mulia

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM menuturkan ketertarikannya menekuni profesi sebagai pendidik. Semua dilandasi pemikiran untuk membentuk dan melahirkan SDM handal dan profesional di bidang penerbangan. Berdasarkan  pengalamannya, ia tahu betul harapan masyarakat di bidang tersebut. Masyarakat sangat mendambakan terciptanya pelayanan jasa transportasi penerbangan yang professional, aman, teratur, tepat waktu, bersih dan nyaman.

Lebih jauh lagi, lanjut Bambang, masyarakat membutuhkan sebuah pelayanan transportasi penerbangan yang dapat menghubungkan manusia yang terpisah jarak dan waktu. Terhubungnya manusia antar wilayah tersebut akan mendukung perekonomian negara sehingga roda perekonomian dan pemerintahan dapat berjalan lancar. Dampak lebih nyata, kesejahteraan masyarakat semakin meningkat akibat terselenggaranya pelayanan transportasi penerbangan yang baik.

“Saya menekuni profesi ini karena menurut saya merupakan salah satu profesi yang mulia. Bayangkan, kita membentuk dan melahirkan SDM handal dan profesional yang bekerja di bidang penerbangan. Saat ini, yang saya lakukan adalah semakin meningkatkan kemampuan diri sendiri dan kualitas SDM yang kami latih. Mengingat tantangan ke depan semakin tinggi yang membuat kita belum bisa berpuas diri. Bekerja dan mengabdi kepada negara, pemerintah dan masyarakat adalah apa yang dapat kita berikan dan kita persembahkan kepada negara. Bukan apa yang telah negara berikan kepada kita,” tegasnya.

Bambang merasa “biasa” menghadapi suka, duka dan kendala dalam menjalani profesi sebagai seorang pendidik. Baginya, semua itu merupakan riak dan gelombang yang harus dilalui dalam perjalanan kariernya. Ia mencontohkan bagaimana perasaan bangga membuncah dalam hatinya ketika SDM yang dibentuk berhasil memasuki dunia kerja sebagai profesional di bidang penerbangan.

“Inilah hal yang membanggakan saya. Tetapi duka dan sekaligus menjadi tantangan bagi saya adalah sampai saat ini belum dapat menghasilkan seseorang yang profesional dalam dunia penerbangan yang sebaik dan setara dengan tenaga di negara lain. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kita semua untuk terus memompa semangat belajar, berdisiplin dan terus menerus berinovasi sehinggga tidak tertinggal jauh dari negara lain,” tambahnya.

Sebagai seorang pendidik, Bambang menyadari peran dan fungsinya sebagai ujung tombak pemerintah. Seorang pendidik mengemban tugas untuk meningkatkan kecerdasan generasi muda penerus bangsa, mewarnai masyarakat Indonesia dengan berbagai disiplin ilmu dan membentuk sumber daya manusia yang professional dan handal di bidangnya masing-masing.

“Khusus bagi saya adalah membentuk SDM perhubungan udara menjadi yang terbaik berstandard internasional dan dapat diandalkan. Bentuk yang kami berikan berupa pendidikan dan pelatihan yang baik untuk turut serta mencerdaskan bangsa melalui dunia penerbangan,” tandasnya.

Menurut Bambang, dunia pendidikan Indonesia –termasuk pendidikan penerbangan- akan semakin baik di masa mendatang. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan yang semakin besar sangat membantu kemajuan di bidang tersebut. Termasuk krisis global yang cukup memukul pendidikan penerbangan –yang merupakan pendidikan berbiaya besar- tetapi ia yakin semua akan cepat kembali berjalan dengan normal.

“Marilah kita buat agar krisis keuangan global menjadi tantangan dan motivasi dalam berjuang memajukan bangsa ini. Yang jelas, saya sangat optimis dunia pendidikan di Indonesia akan semakin baik, itu menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkannya. Untuk sementara ini, prioritas SDM pendidik sebaiknya ditingkatkan lagi. Bahkan, peningkatan kualitas dan kuantitas pendidik menjadi prioritas utama,” ungkapnya.

Bambang semakin optimis melihat perkembangan generasi muda Indonesia sekarang ini. Mereka memiliki kemampuan untuk semakin maju asalkan mendapat kesempatan, dukungan dan kepercayaan dari para seniornya. Generasi muda harus memiliki bekal pengetahuan, ilmu serta keterampilan agar mampu melanjutkan kepemimpinan bangsa di masa mendatang.

“Modal awal dari semua usaha adalah kepercayaan. Generasi penerus bangsa kita harus kita beri ilmu, kesempatan dan kepercayaan. Saya optimis dan percaya dengan mendidik generasi penerus bangsa dengan sebaik-baiknya, dengan hati ikhlas dan bertujuan baik, maka generasi penerus bangsa akan membawa negara kita ke arah yang lebih baik dan semakin baik. Amin….,” pungkas Ir. Bambang Wijaya Putra, MM.

Putu Darmawan, S.Kom, MM

Putu Darmawan, S.Kom, MM
Direktur AMIK Pakarti Luhur

Terus Berinovasi Untuk Lebih Memasyarakatkan IT

Demi lebih memasyarakatkan IT – sesuatu yang dikerjakannya dengan ikhlas – ia berani menolak tawaran kerja dengan pendapatan yang lebih memadai.

Industri IT (Information Technology) dalam beberapa tahun belakangan ini berkembang dengan pesat. Suatu keadaan yang diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga kedepannya. Mengingat vitalnya peran IT dalam segala lini industri dan juga perkembangan IT itu sendiri yang begitu dinamis.

Kebutuhan akan ahli IT pun menjadi tinggi. Sehingga pendidikan-pendidikan yang berbau IT kini pun menjadi tujuan belajar favorit. Dan bukan rahasia lagi kalau pendidikan tinggi yang berkualitas mensyaratkan kemampuan finansial yang kuat dan waktu yang luang.

Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin menguasai ilmu IT tapi tidak mempunyai kemampuan finansial yang cukup atau juga tak mempunyai waktu yang luang? Hal inilah yang selalu dipikirkan oleh Putu Darmawan, S.Kom, MM, seorang Konsultan IT & dosen tetap di Universitas Budi Luhur.

Dari kegelisahan, keinginan dan perjuangannya tersebut, pada 26 Oktober 2007, terlahir AMIK (Akademi Manajemen Informatika & Komputer) Pakarti Luhur yang berada di Karawaci. Kampus tersebut pun mulai menyelenggarakan kuliah perdananya pada awal November 2007.

Inovasi-inovasi AMIK Pakarti Luhur

Ide awal untuk mendirikan AMIK Pakarti Luhur pun berasal dari keinginan Universitas Budi Luhur untuk bisa melayani masyarakat secara jauh lebih luas lagi. Terutama masyarakat yang kondisi finansialnya kurang. Hal ini mengingat segmen  peserta kuliah Universitas Budi Luhur yang tergolong menengah ke atas.

“Masuk bayar murah, kualitas setingkat (Universitas) Budi Luhur,” ujar lelaki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1972 ini. Baik itu materi, dosen dan berbagai sistem yang diterapkan di Universitas Budi Luhur, diterapkan pula di sini.

Visi  AMIK Pakarti Luhur sendiri ialah: Mencerdaskan masyarakat indonesia sesuai dengan harapan dan cita-cita kemerdekaan yaitu dengan memiliki kemampuan serta skill yang baik, dibekali akhlak dan berbudi pekerti yang luhur sehingga akan menghasilkan dan melahirkan sumber daya manusia yang berakhlak mulia.

Sedangkan misinya: Menyelenggarakan pendidikan bagi semua potensi yang ada di masyarakat; Melahirkan tenaga-tenaga profesional sebanyak-banyaknya; Memberikan pelayanan pada masyarakat sebagai implementasi keperdulian masyarakat; Menumbuhkan kembangkan sikap dan pola pikir secara professional.

Menurut Putu, dalam jangka pendek AMIK Pakarti Luhur berniat untuk mendapatkan akreditasi. Dengan adanya antusiame dari investor yang sudah menyatakan minatnya, ia pun percaya diri bisa mencapainya. Untuk itu, saat ini ia mulai mencari lahan dan mengembangkan fasilitas.

Sementara di bidang akademis sudah banyak yang ia rencanakan. Salah satunya ialah menciptakan program studi – program studi baru. “Tapi untuk sementara ia akan mencoba mencukupi fasilitas bagi mahasiswa,” selanya.

Inovasi pun dilakukan pada sistem belajar mengajar. Mengingat mahasiswanya yang kebanyakan adalah karyawan, Putu berusaha menciptakan sistem belajar mengajar yang bersifat fleksibel. Kegiatan perkuliahan pada AMIK Pakarti Luhur, dibagi atas dua waktu yaitu pagi dan malam hari. Terdapat  perbedaan antara perkuliahan pagi dan malam. Pertama, Perkuliahan pada pagi hari ditujukan bagi para siswa yang baru saja lulus SMA atau karyawan yang bekerja pada shift malam.

Perkuliahan yang dilaksanakan pada malam hari, ditujukan untuk para karyawan. Kedua, perkuliahan pada pagi hari menggunakan sistem semester dan sistem sks sedangkan perkuliahan malam menganut sistem periode dan sistem paket dalam memilih mata kuliah.

Kemudian, ada usaha untuk menjembatani keharusan persentase kehadiran peserta dan kesibukan mereka. Mulai tahun depan, pihak kampus akan memvideokan penjelasan dosen di ruang kelas. Bagi mahasiswa yang tidak dapat menghadiri perkuliahan, maka mereka harus menonton materi tersebut di perpustakaan tanpa terikat jadwal.

Target AMIK Pakarti Luhur untuk saat ini tak muluk-muluk. Ia hanya ingin menjadi Perguruan Tinggi unggulan di bidang IT di daerahnya. Akan tetapi ia pun tak ingin perguruan tinggi lainnya jatuh. Ia ingin sama-sama bersaing, sama-sama maju, berinovasi dan menjadi inspirasi bagi lingkungannya. “Dasarnya dengan meningkatkan kualitas internal lembaga itu sendiri,” jelasnya.

Merasa Tertuntun Untuk Menjadi Pengajar

Putu mengaku terjun ke dunia pendidikan secara tidak sengaja. Setelah menyelesaikan kuliahnya di  Universitas Budi Luhur, ia sempat bingung. Kala itu ia tak punya cita-cita jangka panjang, yang ada pada benaknya pada saat itu adalah secepatnya mendapatkan pekerjaan. “Maklum, saya anak pertama, ingin cepat bisa bantu orang tua,” jelasnya.

Kemudian, ia yang sempat menjadi asisten laboraturium itu diajak bergabung menjadi pengajar di almamaternya pada tahun 1996. “Iseng-iseng saya terima pekerjaan itu,” tambahnya. Awalnya ia ingin memajukan laboraturium yang kondisinya pada saat itu tak disukainya.

Setelah sekian lama, ia ternyata menemukan kesenangan tersendiri di sana. Sebagai orang yang senang selalu bertemu dengan orang lain, ia mengaku gembira bisa bertemu dengan mahasiwa-mahasiswa baru setiap semesternya. Kejadian seperti ini menurutnya mungkin sebuah jalan hidup.

Sulung dari tiga bersaudara dengan latar belakang keluarga seorang pedagang ini merasa menemukan apa yang dicarinya di Universitas Budi Luhur. Ia menemukan kesadaran bahwa yang dibutuhkannya selama ini adalah untuk menjadi seorang pelayan.

Saat karirnya meningkat pada level manajerial, ia merasa semakin nyaman. Disitu ia bisa melayani atasan, sesama dan juga bawahan. “Apa yang dikerjakan dengan keikhlasan akan membawa kita pada kenyamanan,” ujarnya bijak.

Dengan prinsip hidup yang mengalir seperti air, Putu pun terus bekarya di tempat kerjanya. Ia turut merintis dibukanya kelas karyawan di beberapa fakultas di sana. Antara lain, fakultas ekonomi serta fakultas ilmu sosial dan ilmu politik di Universitas Budi Luhur.

Didukung Keluarga Walau Tak Punya Ambisi Pribadi

Ayah dari tiga orang putri ini mengaku tidak mempunyai ambisi pribadi dan hanya fokus pada AMIK Pakarti Luhur. “Awalnya sih sempat pusing memikirkan kebutuhan keluarga,” ungkapnya. Akan tetapi ia lebih memilih untuk bisa terus melayani orang. Sesuatu yang menurutnya dilandasi oleh alasan spritual dirinya pribadi.

Untuk menerapkan ilmunya pada dunia nyata, Putu pun menjadi Konsultan IT di luar. Ia menangani kebutuhan IT tiga buah Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Ahli yang menguasai Berbagai Bahasa Pemrograman seperti VBA, Java, PHP, VB6, linux dan networking ini pun sempat ditawari untuk menjadi manajer IT di perusahaan minyak dengan gaji dollar. Tapi hal itu ditolaknya.

Untung saja ia memiliki keluarga yang mengerti. Pada awal mendirikan AMIK Pakarti Luhur, ia kerap pulang malam bahkan menginap di kantor. Akan tetapi kini tidak lagi. Karena anak sulungnya mulai bersekolah, kini ia pindah ke daerah dekat kampus. Menempati rumah yang baru dibangunnya.

Kepada generasi muda, Putu berpesan agar mereka harus membiasakan diri mempunyai mimpi. Mimpi tersebut harus segera mulai dibangun, paling tidak diawali dari lingkup keluarga. “Dan yang penting harus dilakukan dengan ikhlas,” tuturnya mengingatkan.

Secara individual, ia menginginkan agar anak muda mau mencari sesuatu yang unik. Dan membentuk karakter mereka berdasarakan sifat yang unik tersebut. Karena menurutnya segala sesuatu yang unik itu biasanya akan menjadi istimewa dan diatas rata-rata.