AHMAD HIDAYAT ASSEGAF

PT Green Construction

KESUKSESAN DATANG BERSAMA KEIKHLASAN

IMG-20170727-WA0046 20170210202456_00001 - Copy

 

Ahmad, pria berdarah Sumatra ini lahir pada 7 Agustus 1977, sebelum dua bulan ia terlahir tepatnya 11 Juni 1977 ayahnya wafat. Terlahir sebagai anak yatim membuatnya menjadi pribadi yang mandiri sekaligus selalu bersyukur. Kondisi tersebut yang membuatnya dapat bertahan dan sukses menjadi Direktur Utama sekaligus pemilik Green Construction City.

Mengenyam pendidikan dasar dan agama di Palembang, setelah lulus dari STM jurusan teknik listrik ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta dengan tujuan meneruskan pendidikannya. Namun, setelah menginjakan kaki di tanah Jawa ia merubah pikiran untuk lebih memilih bekerja karena tidak ingin memberatkan orangtua maupun saudara-saudaranya. Mengawali karir dari perusahaan satu ke perusahaan yang lain, banyak profesi yang ditekuni hingga akhirnya ia merasa tidak menemukan dirinya jika hanya menjadi seorang karyawan dan memutuskan mendirikan usaha sendiri.

‘Sambil menyelam dua tiga pulau terlampaui’ mungkin pepatah itu yang tepat untuknya. Awal mula Ahmad mengenal dunia proyek, ia membantu teman sekaligus mencari ilmu tentang property ini. Ahmad mengaku kala itu tidak mempermasalahkan perihal gaji yang didapatkan, untuk urusan biaya hidup ia bekerja ekstra dengan mencari pekerjaan sampingan memasang instalasi listrik dengan ilmu yang didapat semasa sekolah. Hampir satu tahun selama, tiga sampai empat kali dalam sebulan ia ikut kesana kemari mencari pekerjaan sampingan sekaligus investasi jaringan pertemanan.

Masuk ke ranah proyek perumahan pertama tepatnya di Bojong Baru Indah ia menjabat sebagai Humas, lalu merambah sebagai logistik, pelaksana hingga project manager. Ahmad mengaku selama menjadi manager selalu mengalami masalah serta berbagai kendala namun dari situ ia belajar dan mulai mengerti segala hal. Setelah itu, ia pun akhirnya menjadi kontraktor. Lari dari masalah tidak ada dalam kamus Ahmad, walaupun berulang kali ditipu dan tidak dibayar tetap ia selesaikan sampai tuntas. Semua proses dinikmati hingga bisa bangkit sekalipun sudah dijatuhkan berkali-kali. “Tidak mungkin Allah memberikan masalah jika tidak sesuai kemampuan hambanya,” tuturnya.

Dikisahkan Ahmad, ia pernah menjalankan program kemanusiaan di beberapa daerah di Indonesia yaitu Jakarta, Padang, dan Aceh. NGO atau LSM dari luar negeri langsung mempercayakannya untuk membangun kota-kota besar yang terkena bencana tersebut. Ahmad mendirikan 41 sekolah pasca gempa Padang berlangsung, ia pun mengaku menjadi sebuah kepuasan batin tersendiri dapat membantu sesama dengan ilmu yang dimilikinya.

PT. Green Construction

IMG-20170727-WA0040 IMG-20170727-WA0017

Dengan membeli tanah beserta perusahannya, Ahmad merintis bisnis perumahan bersubsidi ini. Nama Green Construction City sendiri diambil dari nama perumahan Green Citayam City yang telah dikenal oleh hal layak ramai. Sesuai dengan namanya, konsep yang diusung pun konstruksi kota hijau dimana rumah dibangun bersamaan dengan alam yang berkembang agar seimbang.

“Berharap mampu membangun secara nasional perumahan murah bersubsidi,” tandasnya yang menjadi visi perusahaan. Konsumen dari kalangan kementrian, TNI dan Polri menjadi prioritas sebagai bentuk apresiasi kepada program Presiden Joko Widodo yang disebut Nawa Cita. Namun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat umum untuk memiliki hunian dengan hanya cicilan 800ribu/bulan tersebut, sebab target pasar mengarah kepada masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah. Sehingga misi seluruh rakyat Indonesia memiliki rumah dapat terwujud.

Target untuk tahun ini membangun 4400 unit rumah, terbukti sudah terbangun sebanyak 2700 unit. Rencana untuk 2018, 4800 rumah dibangun dan persiapan untuk membangun di kota-kota besar lain pun sedang dicanangkan seperti Solo, Jogjakarta & Palembang. Fasilitas yang lengkap seperti pesantren, SPBU, sekolah, rumah sakit, sport center, dan mini stadium dibuat. Bahkan aula untuk RT dan RW mengadakan pertemuan pun didirikan juga. Tujuannya agar semua masyarakat baik di komplek maupun di kampung dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik.

Suami dari Dewi Hermawati ini menuturkan pesantren yang bernama Yayasan Bani Hasyim merupakan inti dari proyeknya tersebut. “Hasil dari proyek ini 30%-nya menjadi milik pesantren, pesantren tersebut gratis dan tidak butuh donatur,” jelasnya. Jika ia telah wafat saham untuk pesantren dinaikkan menjadi 49% dan pengurus pun dipilih secara aklamasi. Pesantren tersebut diperuntukan oleh anak yatim dan kaum dhuafa. Ahmad tahu betul rasanya menjadi anak yatim sedari kecil, baginya semua hak anak yatim sama namun yang membedakan adalah jalan dan kesempatan. Maka dari itu, ia ingin membuka jalan dan kesempatan tersebut untuk anak-anak yang lain menggapai impiannya salah satunya dengan mendirikan pesantren tersebut.

Disanggah mengenai kompetitor, Ahmad mengatakan strategi yang dipakainya adalah komitmen dan kualitas yang terbaik yang dijualnya. Hingga detik ini ia tidak terlalu menggencarkan pemasaran malah konsumen yang berdatangan sendiri. “Hanya GCC yang memakai dinding double, kusen alumunium, atap baja ringan, plafon gypsum dan sistem drainase yang cukup baik serta jalan utama 12.5 meter dan jalan lingkungan 7.5 meter. Walaupun rumah subsidi namun dapat bersaing dengan rumah komersil,” jelas Ahmad.

IMG-20170727-WA0026 IMG-20170727-WA0012

Dengan karyawan lebih dari 100 orang, terjun langsung ke lapangan masih menjadi cara Ahmad membina SDM yang dimilikinya. Memposisikan diri sebagai pemilik rumah dengan begitu ia tak ingin sembarangan mengurus rumahnya, maka tak jarang berangkat subuh dan pulang tengah malam. “Saya bukan bekerja, saya berkarya. Tidak ada kata lelah,” tandasnya. Baginya, komitmen untuk mensejahterakan orang banyak jauh lebih penting begitupula dikerjakan dengan hati yang tulus maka tidak menjadi beban.

Dukungan Keluarga

Kesuksesan tidak datang tanpa kerja keras namun dukungan pun penting sebagai motivasi menuju kesuksesan. Dukungan dari keluarga terus mengalir terutama sang istri yang ikut ambil bagian sebagai Komisaris Utama sekaligus pemegang saham sebesar 10% dari penjualan. Menikah pada tahun 2001, Ahmad dikaruniai tiga anak bernama Zahra Assegaf, Nazwa Assegaf dan Baihaqi Assegaf.

 

Lalu, apakah ingin anak meneruskan perusahaan yang telah dirintis hingga kini? Ahmad menjawab tidak memaksakan, ia biarkan anak tumbuh dengan obsesi dan keinginan secara alami. Jika memang anaknya tidak melanjutkan perusahaan ini, Ahmad mempunyai keinginan agar PT Green Construction City ini tidak boleh dijual dan terjual. Karena setengah saham jika ia wafat diberikan ke pesantren dan sisanya dibagikan kepada orang yang mampu menjalankan perusahaan ini kelak. “Semua adalah syariat, saya ini gak ada apa-apanya. Saya hanya menjalankan apa yang dititipkan oleh Allah,” jelas pengusaha yang ingin pemerintah mendukung semua usaha agar program pemerintah tercapai pula. Banyak yang bertanya apa yang menjadi prinsip kesuksesan Ahmad yang telah mendapatkan empat penghargaan nasional ini, ia hanya berkata “Barakallah, keberkahan Allah yang saya cari tidak ada yang lain.”(mutiararizky)

WhatsApp-Image-2017-02-10-at-22.11.19 - Copy WhatsApp-Image-2017-02-10-at-22.11.17

Copyright © 2017 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.