ASEP SUPRIATNA

ASEP SUPRIATNA

CV Arkon Super Panel

BELAJAR TENTANG KEJUJURAN DAN TANGGUNGJAWAB

IMG_3140

      Drs. Asep Supriatna, atau biasa dipanggil dengan Asep lahir di Bandung, Jawa Barat, tepatnya pada tanggal 18 Juni 1967. Lulusan IKIP Bandung ini sebenarnya tak ingin menjadi pengusaha, karena profesi sebelumnya seorang guru. Terjunnya ia ke dunia usaha lantaran merasa penghasilannya tak mencukupi untuk memenuhi kehidupan rumahtangganya, terutama membiayai kebutuhan anak-anaknya. “Saya punya anak dua, kesulitan dalam hal biaya anak,” ujarnya. Kemudian, Asep memutuskan untuk mengembangkan usaha. Usaha apa saja. Segala macam bisnis ia coba. Pernah ikut MLM, tapi hasilnya tak memuaskan. Dirinya tak berkembang di bisnis model MLM. Kemudian mencoba di agency asuransi, dagang kerupuk, dagang baju, apapun ia lakukan sesuai dengan lingkungan yang ada.

Suatu saat Asep melihat di lingkungan rumah tinggalnya ada pabrik beton, ia coba  promosikan produk pabrik tersebut, lalu ada konsumen yang tertarik Asep membawa calon konsumen itu ke pabrik, setelah itu ia mendapat komisi dari pabrik. Cuma kelemahan bekerja seperti itu, kata Asep, ketika seseorang sudah tahu pabriknya orang itu akan langsung ke pabrik tanpa lewat perantara dirinya lagi. Akhirnya, Asep meminta ke pabrik jika ada orang yang mau pasang beton dirinya saja yang menangani, dari mulai pengadaan barang hingga pemasang. Dengan demikian, Asep pun menjadi tenaga freelance di pabrik tersebut.   Pekerjaan Asep memuaskan, banyak konsumen yang pesan, walhasil pabrik pun percaya, Asep diijinkan mengambil barang terlebih dulu  dan pembayaran dilunasi setelah barang terpasang.  “Jadi saya modal dengkul. Itu namanya prinsip usaha. Yang namanya modal uang itu prinsip kecil, yang utama itu kejujuran, kepercayaan dan tanggungjawab. Maka ketika saya jujur, pabrik percaya,” tuturnya. Kerja di pabrik itu dilakoninya dalam kurun tahun 2010-2013.

 

IMG_3151

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Asep, bekerja seperti itu bukan tanpa resiko. Kelemahannya, ketika owner perusahaan yang memasang beton komplen karena barangnya kurang bagus, dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Palingan ia sampaikan komplen itu ke pabrik. Tapi dirinya tak bisa langsung mengganti pemasangan. Belajar dari pengalaman tersebut akhirnya Asep berfikir dan ambil keputusan bahwa ia harus bikin pabrik sendiri. Selanjutnya, ia pun membuka pabrik, kualitas ia perbaiki dan akhirnya owner atau konsumen pun puas. “Masalah kualitas teratasi dan banyak orang percaya. Semua saya kerjakan dengan tanggungjawab dan tak semata profit, karena tujuannya memang kita menjual tak cukup sekali tapi harus panjang,” tegasnya.

Dalam babak hidup berikutnya, keberhasilan seperti berpihak pada Asep. Pelanggan meningkat, otomatis produksi pabrik pun meningkat. Dari situ Asep mulai berfikir ingin punya tanah sendiri. Lalu mulailah, sedikit demi sedikit ia kumpulkan uang kemudian membeli sebidang tanah, dan tepat di tahun 2014, Asep pun mempunyai pabrik sendiri dan diberinya nama CV Arkon Super Panel.

“Intinya, yang mau saya sampaikan bahwa usaha itu yang penting ada kemauan, kejujuran, itu modal besar. Makanya kalau orang bilang mau usaha gak ada modal (uang) itu salah besar. Makanya orang gak maju-maju. Cuma berteori, ketika mau usaha bilangnya gak ada modal, gak akan jadi usahanya.” terang pria yang selalu menekankan pada karyawannya bahwa yang utama itu adalah kejujuran.

Menurut Asep, bekerja di pabriknya memerlukan tenaga yang sangat kuat, jadi tidak mungkin sampai usia tua. Oleh karenanya, Asep ingin semua pekerjanya berlaku jujur. Dengan kejujuran nantinya akan bisa buka usaha sendiri karena orang lain percaya pada kita. “Saya arahkan semua seperti itu. Dan, Alhamdulillah saat ini karyawan saya ada yang bisa buka warung, beternak ayam. Soalnya kerja di sini gak mungkin sampai tua, karena disini berat, harus angkat beton dan sebagainya,” tuturnya. Asep juga menekankan pada karyawannya jangan merasa pabrik ini milik orang lain. Anggaplah pabrik ini milik sendiri, kualitas dikontrol sendiri. Prinsipnya begitu, imbuh Asep

IMG_3152

 

Dijelaskan Asep, pihaknya telah bekerjasama dengan dengan perusahaan besar, seperti Waskita, Shanghai, JRP (Jaya Real Property), dan juga dengan individu-individu. Nama Arkon sendiri, kata Asep, bermula dari nama precast, besi jari, yang biasanya disebut arcon. “Itu bahasa sehari-hari orang proyek, ya sudah kita pakai aja nama itu, sekarang malah familiar. Saya gak tahu apa saya salah denger ya sudah kita namain Arkon,” ujarnya.

Penambahan kata super karena Asep berkeinginan produknya harus berkualitas super, lebih baik dari orang lain. Sedang kata panel itu artinya potongan-potongan, yang dimaksud tentu-tentu produknya merupakan bagian-bagian kecil (panel), sebelum pemasangan, maka jadilah nama Arkon Super Panel.  “Saya pernah searching kayaknya nama Arkon belum ada, ada juga Arcon, pakai huruf “C” sedang saya Arkon, pakai “K”. Ya sudah saya pakai nama Arkon, yang penting namanya baru,” katanya. Menurut Asep, soal kualitas produk ia tak sembarangan, karena telah melewati serangkaian uji tes laboratorium PU dan juga ITB. Hal itu dilakukan karena ia butuh bukti fisik sebab perusahaan yang levelnya bagus selalu menanyakan sertifikat uji lab.

Visinya dalam membangun bisnisnya ialah membuat pagar beton yang berkualitas. Sedang misinya adalah pengadaan bahan beton yang berkualitas, peningkatan pembuatan pagar beton berkualitas. Kemudian, peningkatan alat-alat pembuat pagar beton yang berkualitas. Dijelaskan Asep, kalau perusahaan lain mencetak produknya hanya dengan satu molen, perusahaannya memakai dua sampai tiga molen untuk adukan bahan bakunya. Perbedaannya, menurutnya, kalau pakai satu molen adukan biasanya tidak matang. Betonnya mudah pecah.

Kemudian produknya juga memakai obat penguat. “Kalau orang lain mungkin gak mau pakai karena gak mau rugi. Kalau saya, kalau masih ada margin untungnya kenapa enggak,” ujarnya. Kalau tak pakai obat penguat, tambahnya, setahun saja sudah hancur. Beda dengan produknya yang memakai obat penguat hingga 8 tahun masih kokoh. Masih putih, tak berlumut, karena lumut itu tergantung dari bahan bakunya,

p kalau olahannya tak matang, berpori-pori maka akan hitam dan berlumut.  Pembuktiannya beton buatan Asep hingga 5 tahun tidak menghitam, dan masih cerah warnanya.

 Misi lainnya ialah peningkatan kualitas SDM, itu dimulai dari kejujuran dan tanggungjawabnya, agar karyawannya bisa berfikir bahwa kerja di sini tidak sampai tua. Jadi Asep selalu mengarahkan agar lepas dari sini bisa lebih baik lagi. Kemudian, meningkatkan kesejahteraan karyawan perusahaan, memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar pabrik. Misal, perbaikan jalan-jalan kampung sekitar pabriknya dengan limbah beton, yakni serbuk dari sisa pengecoran. Limbah tersebut bila diolah lagi kualitasnya jelek maka digunakan untuk mengecor jalan-jalan di kampung. “Kalau dibuat jalan itu kuat, kokoh. Kalau diolah precast lagi malah gak bagus. Saya gak masalah. Intinya kita memberi manfaat untuk masyarakat sekitar pabrik,” ujarnya

Strategi pemasaran dan inovasi ke depan

Untuk merebut pangsa pasar Asep berupaya terus menjaga kualitas produknya. Menurutnya, yang namanya owner pasti mencari yang terbaik. Makanya menjaga kualitas, menjaga kepercayaan adalah hal penting dalam berbisnis. Selain itu, untuk lebih memperkenalkan produknya ia selalu promo melalui internet, karena kalau konsumen individu biasanya tahu dari internet, sedang perusahaan-perusahaan biasanya mendapat referensi dari Waskita.

Asep menjelaskan bahwa saat ini pemasaran produknya masih terbatas di Bekasi, Jakarta dan Banten, karena jika harus dipasarkan jauh, misal ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, pihaknya masih terkendala biaya transportasi. Nanti akan mahal dibiaya angkutnya. Namun, tak menutup kemungkinan bila suatu saat nanti ada yang minat berjasama dan kita membuka di daerah lain, Asep siap.   Produk-produk Arkon biasanya untuk kebutuhan pabrik, jalan tol, sementara untuk individu masyarakat biasanya untuk memagar wilayah tanahnya. Untuk beton precast hubungannya dengan perusahaan besar, misal pengelola jalan-jalan tol, umumnya

IMG_3159

banyak membutuhkan beton precast. Asep akan mencoba membuat yang lebih besar lagi. Jadi ke depannya ia akan tetap fokus di precast tapi bentuknya dibuat beragam, demikian salah satu inovasinya ke depan.

 

Saat ini jumlah karyawan di pabriknya sekitar 30-an, sedang yang diluar ada sekitar 50 orang. Yang diluar memakai sistem borongan pemasangan. Untuk SDM, Asep mempunyai prinsip bahwa ia mempekerjakan orang lain, dibuat kaya oleh mereka, jadi bukan dirinya yang membayar mereka, mereka yang membantunya. Tanpa mereka Asep mengakui tak bisa apa-apa. “Jadi saya ingin membantu mereka untuk lebih baik di masa depannya,” ujar bapak dari Fikri Alifani (lahir tahun 1996), dan Kania Pinasti Solehah (lahir tahun 1997) ini.

Dirinya selalu menghormati karyawannya. Menurutnya, yang namanya atasan justru bukan dirinya tapi mereka yang kerja. Ia hanya berusaha selalu lebih baik. Walau kadang suka juga marah pada karyawannya tapi marahnya tidak dari hati, marah untuk memotivasi karyawannya agar meningkatkan kualitas kerjanya. Yang jelas, Asep selalu menyayangi karyawannya, karena mereka juga menyayanginya dengan tanggungjawab kerja 24 jam sehari. “Maka, saya malu pada mereka. Semua saya dayagunakan, yang penting kejujuran dan tanggungjawab,” ujar pria yang beristrikan Euis Halimah, mojang Purwakarta ini.

Disinggung soal kempetitor baginya tak ada masalah, karena semua orang berhak membangun bisnis yang sama. Menurutnya yang penting berkompetisi di segi kualitas atau di pemasaran. Konsumen bebas memilih, memakai produk pabrik orang, atau produk pabriknya, yang penting kualitas, ada perbandingan, mana yang bagus, mana yang jelek. Adanya persaingan justru memicu meningkatkan kualitas. Jadi, baginya ambil positifnya saja. Orang bisa lihat perbandingannya. Untuk memenangkan persainagn prosuk sejenis, Asep memiliki rencana ingin mencoba sampah plastik dijadikan krikil sebagai bahan baku beton. Karena bisa jadi dengan bahan baku plastik precast-nya mungkin tak berat.

 

a

Termasuk soal bisnisnya, Asep tak menuntut anaknya harus menjadi penerus di Arkon Super Panel. Biar itu kemauan anaknya sendiri. Yang penting sang anak belajar dulu, karena itu modalnya. Ia tak pernah menekankan, tapi kalau sang anak mau menjadi penerus, silahkan, kalau tidak ya tak masalah. Menurutnya, kerja itu jangan terpaksa. Walau uangnya banyak kalau terpaksa pasti capek. Tapi kalau enjoy, uangnya sedikit pasti nikmat. Jadi, tegasnya, ia tak pernah memaksakan kehendak pada anak-anaknya.

 

Menutup percakapan Asep berpesan, untuk berusaha atau berbisnis itu intinya, pertama, harus belajar dulu. Artinya belajar itu belajar kejujuran, tanggungjawab. Belajar pengetahuan juga perlu, karena jujur tapi tak berpengetahuan itu juga sulit. Kalau yang masih sekolah, sekolah dulu yang benar. Modalnya itu. Modal belajar paling penting. Andai sudah selesai sekolah, lalu bekerja tapi tetap harus belajar. Jangan merasa sudah tahu dan pintar. Mau jadi buruh di pabrik juga tak apa-apa, tapi jangan berfikir selamanya menjadi buruh. Karena menurutnya, yang namanya bekerja untuk orang lain bukan kerja namanya, itu mengabdi pada orang lain. Kalau kerja itu jika sudah membangun bisnis sendiri.

 

Kerja di orang lain itu, intinya belajar bukan mencari uang. Kalau kerja di orang lain untuk mencari uang tak akan dapat apa-apa. Uang pasti akan cepat habis. Setelah belajar dan berpengalaman, baru buka usaha sendiri. Nanti pasti akan ketemu usaha apa yang cocok dijalani, karena usaha itu unik, tak bisa cuma mencontoh dari orang lain. Orang lain bisa sukses di satu bidang, kita mencontoh belum tentu bisa. Karena kita tak tahu seluk beluknya. Usaha itu melakukan sesuatu yang kita pahami, baru bisa maju. Kalau cuma meniru biasanya tak berhasil. [] (baguspram)

 

 

Copyright © 2018 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.