Author: Profil Indonesia

Profil Indonesia.com merupakan Media Prestasi dan Kebanggan Indonesia memiliki jangkauan yang luas

DR. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.Agr.Sc

No Comments

Kepala KP4 Universitas Gajah Mada Yogyakarta

Pendidik Adalah Agent of Change dan Penentu Kualitas Sumber Daya Manusia

Di belahan dunia manapun, peran seorang pendidik sangat penting. Meskipun sistem pendidikan suatu bangsa dirancang dengan canggih dan modern, tanpa pendidik tidak bisa diaplikasikan dengan baik. Sebaliknya, rancangan sistem pendidikan yang sederhana pun akan menjadi hebat ketika disampaikan oleh seorang pendidik yang handal.

Pentingnya seorang pendidik dalam memajukan sebuah bangsa telah dibuktikan oleh Jepang. Negara yang pernah luluh lantak pada Perang Dunia II (tahun 1942-1945) dan hancur karena tsunami 2010 tersebut dengan cepat bangkit menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia. Usai PD II, Kaisar Jepang yang mengetahui kehancuran akibat perang tidak pernah menanyakan jumlah korban di pihaknya. Pertanyaan pertama yang terlontar adalah berapa jumlah guru yang tersisa untuk mendidik generasi muda mengejar ketertinggalan.

Hasilnya menakjubkan, Jepang tumbuh menjadi negara yang sangat perkasa. Ekspansi yang dilakukan terhadap bangsa-bangsa lain tidak lagi berupa invasi pasukan bersenjata. Jepang “hanya” membanjiri seluruh pelosok dunia, dari negara maju sampai terbelakang, dengan produk-produk yang dihasilkan industrinya. Dari produk elektronik sampai otomotif, industri Jepang berhasil menggusur produsen ternama dari Eropa dan Amerika. Semua itu, dihasilkan oleh lembaga pendidikan, sistem pendidikan dan tenaga pendidik handal yang dimiliki Negeri Matahari Terbit.

“Profesi sebagai pendidik sangat mulia, karena menjadi agent of change dan penentu kualitas sumber daya manusia yang diberi amanah oleh Allah SWT sebagai khalifah di bumi ini. Ilmu yang disampaikan kepada anak didik akan menjadi amal jariyah dan diamalkan secara nyata untuk kemakmuran rakyat dan bangsa. Sebagai dosen, kita mempunyai kesempatan luas untuk menimba ilmu sampai derajat tertinggi di negara maju. Ini juga merupakan amanat pemeluk agama Islam, agar menuntut ilmu meski sampai negeri yang tak mengenal agama, seperti China,” kata DR. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.AGR.SC.

Kepala KP4 Universitas Gajah Mada Yogyakarta ini menegaskan bahwa negara-negara maju berhasil membangun bangsanya berdasarkan ilmu pengetahuan. Yang mana, ilmu pengetahuan sangat krusial dan nyata bagi percepatan kemajuan bangsa. Namun, ilmu pengetahuan hanya menjadi sebatas pajangan di rak-rak buku ketika tidak ada pendidik untuk “merangsang” generasi muda mempelajarinya. Oleh karena itu, salah satu motivasi dirinya menjadi seorang dosen adalah agar mempunyai mempunyai peran dan mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. “Saya ingin mempunyai peran dan kontribusi nyata,” tegasnya.

Cahyono, merasa bersyukur dapat berkiprah di lembaga pendidikan tinggi dengan jabatan fungsional. Karena akan memungkinkan baginya untuk secara leluasa namun penuh tanggung jawab mengembangkan seluruh potensi dan kemampuannya secara optimal. Selain itu, dunia pendidikan memiliki hambatan struktural dan birokrasi yang tidak seketat pada instansi pemerintah lainnya. Bahkan, kenaikan pangkat yang biasanya sangat tergantung urutan dan kedekatan pada atasan, tidak berlaku di dunia pendidikan.

“Dengan jabatan fungsional dosen, maka penilaian dan kenaikan pangkat lebih didasarkan pada kinerja Tridarma Perguruan Tinggi yang ditekuni. Kesempatan untuk mengembangkan diri maupun orang lain akan terbuka lebar. Kreativitas, inovasi, pengembangan serta kontribusi diri pada bangsa dan negara dapat dikembangkan lintas sektoral tanpa batas sesuai potensi diri tanpa terlalu tergantung pada faktor atasan dan birokrasi. Meskipun demikian, semua masih dalam koridor aturan yang berlaku,” tegasnya.

Dekat Dengan Ibunda

DR. Ir. Cahyono Agus DK M.Sc menikah di Klaten pada tanggal 24 Desember 1993 dengan Ratih Subekti, SH. Dari pernikahannya, pasangan ini dikarunia dua orang anak, Imamuddin Jati Wicaksono (SMAN 2 Yogyakarta) dan Pita Asih Bekti Cahyani (masih di SMPN 1 Yogyakarta). Sebagai orang tua Cahyono tidak pernah memaksa kedua anaknya untuk belajar keras agar nilainya bagus. Kepada mereka hanya dijelaskan pengertian bagaimana arti penting belajar bagi masa depannya sendiri.

“Mereka sadar dengan sendirinya tanpa harus disuruh-suruh. Dalam hal cita-cita, saya tidak pernah memaksa kelak akan menjadi apa. Yang penting saya mengarahkan agar cita-citanya tercapai. Karena setiap anak mempunyai potensi masing-masing, seperti putra pertama beliau yang dari TK sudah kelihatan bakatnya di bidang teknologi tinggi serta berkeinginan menjadi pilot pesawat terbang. Maka yang bisa saya lakukan adalah dengan selalu mendukungnya,” ujarnya.

Anak pertamanya pernah mendapatkan penghargaan dalam finalis lomba Karya Tulis dengan tema “Sanitasi Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik”, yang diselenggarakan oleh Departemen Pekerjaan Umum RI tahun 2008. Selanjutnya, pada tahun 2009, mendapatkan medali emas dalam lomba National Young Innovator Awards ke-2 (NYIA II) yang diselenggarakan LIPI Jakarta. Tahun ini, sulungnya tersebut sedang mengikuti NYIA IV LIPI. Putranya memiliki hobi fotografi dan pernah menjadi juara I lomba foto di sekolahnya pada tahun 2011 ini.

Sedangkan anak kedua, lebih menyenangi bidang sosial, kebudayaan dan kesehatan. Meskipun baru sekolah pada tingkat SLTP tetapi kegiatanya cukup menyita waktu. Mulai aktif sebagai pengurus PMR (Palang Merah Remaja), Dewan Penggalang Pramuka sampai ekstrakurikuler tarian tradisional selalu diikuti di sekolah. Bahkan, tahun 2011 ini pernah meraih Juara I Lomba Tari di sekolah.

Cahyono banyak belajar dari ayahnya, Rubijo Rachmad Wijono -seorang anggota TNI AU- dalam memberikan didikan kuat dalam hal kedisiplinan serta rasa syukur. Masa kecilnya yang indah dihabiskan untuk membantu tugas-tugas rumah tangga. Sebagai anak tertua, ia tidak segan-segan untuk membantu ibunya, Sundariyah, belanja di pasar. Tanpa malu-malu, ia membeli segala sesuatu yang telah dicatatkan ibunya. Ia bahkan menyiapkan seluruh bahan masakan agar selepas tugas bekerja di Kantor Pos, ibunya tidak terlalu capai.

“Saya sangat dekat dengan ibunda, namun sayang belum bisa banyak membalas kebaikannya, karena wafat pada tahun 1997. Ketika ayah pensiun dan mengisi hari tuanya dengan membuka toko kelontong kecil di dekat rumah, saya sering menemani ibu berjualan di warung kalau tidak praktikum. Kadang saya mengantarkan minyak tanah ke pelanggan dengan menggunakan sepeda butut yang saya punyai. Sebagai anak lelaki tertua, setiap sore juga mendapat tugas menimba air sumur dan mengisi bak mandi. Maka ketika saya mendapatkan rapelan beasiswa saat semester V uangnya dipakai untuk membeli pompa air listrik. Tugas saya menjadi lebih ringan,” terangnya.

Menurut Cahyono, profesi di bidang pendidikan tidak akan pernah mati dan terhenti. Prinsip “life long education” juga menjadi bagian komitmen pribadi yang dipegangnya dengan teguh. Ia telah menetapkan, bahwa setelah purna tugas nanti akan tetap mengabdi pada bangsa, negara dan masyarakat Indonesia tanpa henti. Seperti dalam ajaran agama yang dianutnya bahwa ”amal yang tidak putus meskipun kita sudah meninggal adalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh dan solehah”.

Cahyono selalu berusaha untuk melaksanakan prinsip yang dipegangnya tersebut dengan sebaik-baiknya. Contohnya dalam proses pembelajaran dan konsultasi dengan para mahasiswa dapat dilakukan setiap waktu dan tempat. Ia juga “melayani” mahasiswa yang konsultasi melalui berbagai multi media, seperti e-learning, web, email, SMS maupun media lain. Di samping itu, ia juga ringan tangan dalam membantu orang-orang yang mengalami kesusaha seperti tsunami di Aceh, tanggul Situ Gintung yang jebol maupun Gempa Bantul, Yogyakarta.

Perbaikan Kualitas SDM

Berbicara mengenai kehidupan berbangsa, menurut DR. Ir. Cahyono Agus DK M.Sc., Indonesia saat ini baru melaksanakan reformasi saja. Namun, reformasi tersebut belum benar-benar total dalam pelaksaannya. Untuk itu, ia berpesan kepada generasi muda agar memilih lingkungan pergaulan dan pendidikan yang baik, selalu gigih berjuang, jangan mudah patah semangat dan tergoda hal-hal yang menyesatkan. Pendidikan (formal, nonformal dan informal) diharapkan mampu menyisipkan wawasan dan konsep secara luas, mendalam dan futuristik tentang lingkungan global dengan memberi kesadaran dan kemampuan kepada semua orang, utamanya generasi mendatang untuk berkontribusi lebih baik bagi pengembangan berkelanjutan.

“Generasi muda harus sadar tentang tanggung jawab individu yang harus dikontribusikan, yang menghormati hak-hak orang lain, alam dan diversitas, serta dapat menentukan pilihan/keputusan yang bertanggung-jawab, dan mampu mengartikulasikan semua itu dalam tindakan nyata. Kita harus ikut bersama mempunyai komitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik, dunia yang lebih aman-nyaman bagi kita semua, baik sekarang maupun di masa mendatang bagi anak cucu kita,” pesannya.

Sosok DR. Ir. Cahyono Agus DK M.Sc selaku kepala/pengelola KP4 UGM tidak hanya sekadar berpesan tetapi juga mencontohkan dengan tindakan nyata. Seperti bagaimana KP4 UGM yang berkat kepemimpinannya menjadi maju dan berkembang pesat. Diharapkan, KP4 UGM kelak bisa menjadi unsur penunjang universitas terkemuka di Indonesia itu, terutama dalam pengembangan Sustainable Life and Environment. Tentu menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia memiliki DR. Ir. Cahyono Agus DK M.Sc dengan ilmu yang tinggi dan telah mengabdikan diri untuk negara Indonesia agar tidak tertinggal dari negara lain.

Cahyono sangat menyayangkan, Indonesia yang mempunyai sumber daya alam melimpah tetapi belum dikelola dengan optimal. Penyebabnya, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang belum baik. Selama ini, Indonesia dikelola berdasarkan ”resource based development” yang mengandalkan eksploitasi kekayaan alam melimpah tetapi tanpa sistem yang baik. Penambangan dan pemanenan sumber daya alam Indonesia yang berlebihan dan tidak mengindahkan lingkungan dan sosial budaya setempat, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang amat parah dan kesengsaraan rakyat jelata.

Keuntungan dan kesejahteraan hanya dinikmati oleh segelintir orang penentu kebijakan atau bahkan lebih parah oleh orang asing. Untuk itu, kekayaan alam Indonesia harus dikelola berdasarkan “knowledge based development” sehingga mempunyai nilai tambah dan mampu menyejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Peran Perguruan Tinggi didalam melakukan inovasi teknologi dan menyediakan sumber daya manusia yang handal diharapkan mampu mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat yang adil dan beradab di Indonesia.

Menurut pengamatan Cahyono, saat ini banyak generasi muda yang terjun dalam kancah politik tanpa bekal dan pengalaman yang cukup. Euforia dan sistem politik Indonesia telah memberi kesempatan akses seluasnya kepada setiap warga negara untuk berpolitik praktis, asal melalui saluran partai politik yang legal. Namun demikian, karena sistem politik yang terbentuk belum optimal, maka upaya jalan pintas dan instan para pelaku politik praktis melalui “money politik, KKN, ancaman, pelanggaran etika moral, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, aji mumpung dan sebagainya” justru tumbuh subur dalam sistem politik Indonesia.

“Sistem regenerasi kader dan perekrutan yang tidak optimal, justru semakin memperburuk kehidupan bertata negara kita. Era reformasi justru menumbuh-suburkan dan memperluas perilaku korup pada seluruh pelaku politik, sebagaimana dilansir oleh Transparansi Indonesia. Untuk itu, pendidikan politik dan kaderisasi harus dilakukan secara berjenjang dan memberikan wawasan ‘Sustainable Development’ agar sinergisme aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial budaya dapat terjadi secara harmonis,” ungkapnya.

Cahyono menegaskan agar politik uang yang merajalela harus dipangkas dan digantikan dengan sistem yang mampu memaksa para pelaku politik berkontribusi nyata bagi perbaikan sistem tata negara dan kehidupan yang lebih baik. Nurani yang masih tersisa dalam setiap insan politik perlu dimunculkan dan dijadikan landasan etika moral berpolitik yang amanah dan bertanggung jawab. Pendidikan terstruktur secara formal, informal dan non formal tentang pengembangan karakter, akhlak mulia, etika, tepo seliro harus diajarkan dan menjadi dasar bertindaknya para penguasa, pengusaha, penegak hukum, pemimpin dan seluruh masyarakat.

Perjalanan Karier

Cahyono Agus adalah sulung dari pasangan Rubijo Rachmad Wijono dan Sundariyah. Lahir pada tanggal 10 Maret 1965, Cahyono dibesarkan dalam situasi penuh disiplin ala militer. Maklum, ayahnya adalah seorang prajurit TNI AU yang mengamalkan Sapta Marga dengan penuh tanggung jawab. Meskipun demikian, ayahnya juga yang selalu menekankan kepada putra-putrinya bahwa pendidikan itu sangat penting, sehingga mereka harus memprioritaskan kepentingan sekolah.

“Orang tua berpesan bahwa mereka tidak dapat mewariskan harta, namun akan mempersiapkan agar kami, anak-anaknya, mempunyai bekal ilmu yang memadai. Dengan ilmu tersebut, maka kami bisa mendapatkan harta, harkat dan martabat yang lebih baik untuk diterapkan bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat,” tegasnya.

Cahyono menyelesaikan pendidikan formal di SD Taman Siswa Ibu Pawiyatan Yogyakarta, kemudian SMP N 2 Yogyakarta, dilanjutkan SMA N 3 (3 Bhe Padmanaba) Yogyakarta. Pendidikan S1 ditempuh di Universitas Gadjah Mada serta mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan program Master dan Doktor di Tokyo Jepang. Pada tahun 2003 pernah mendapat juara 2 Kontes Thesis seluruh Jepang dan tahun 2008 meraih penghargaan sebagai dosen DPL terbaik di UGM. Tahun 2011 ini, Cahyono sedang diusulkan dalam jabatan Guru Besar atau Profesor bidang Ilmu Tanah Hutan pada Fakultas Kehutanan UGM, sehingga diharapkan akan menjadi profesor termuda di fakultasnya.

Cahyono Agus pernah memenangkan kompetisi dana hibah penelitian RUK-IV, RUT XII, Hibah Bersaing, Hibah Kompetensi dari Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas. Hasil penelitiannya telah dipublikasikan pada berbagai pertemuan ilmiah/seminar internasional di Malaysia, Thailand, Philiphines, Finlandia, Jepang, Hongkong, Amerika, Australia dsb. Beberapa papernya juga dipublikasikan di jurnal internasional seperti New Forest, Forest Environment, Indonesian Journal of Agricultural Sciences, Journal of the Japanese Forest Society, TROPICS, International Journal of Environment, maupun Journal of Japanese Institute of Energy dan sebagainya.

Beberapa buku ilmiah populer yang pernah ditulisnya adalah: “Pengelolaan Bahan organik: Peran dalam Kehidupan dan Lingkungan”, “Pertanian Terpadu untuk mendukung Kedaulatan Pangan Nasional”, dan “Tanaman Langka Indonesia di KP4 UGM”. Bersama para penulis lain yang pernah belajar di Jepang, ikut menulis Buku non fiksi berjudul “La Tahzan for Student”, yang berisi kisah-kisah inspiratif dan perjuangan pelajar Indonesia di Jepang, menjadi buku terlaris terbitan Mizan dan direncanakan akan difilmkan. Tulisan populernya juga beberapa kali dimuat di media cetak di Yogyakarta. Pada tahun 2011 ini, terpilih menjadi salah satu Profil Pendidik dalam buku “Citra Prestasi Indonesia 2020: Pemikiran, Konsep & Stretegi Pribadi Berprestasi”.

Pada tahun 2005-2008, diangkat menjadi Kepala Bidang Tanaman Pertanian KP4 UGM dan diangkat menjadi Kepala KP4 UGM untuk masa jabatan tahun 2008-2012. Pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif PHK-A3 Fakultas Kehutanan, Koordinator program SP4 KP4 UGM, Koordinator Program PBI (Program Pengembangan Ilmu) KP4 UGM, Direktur Eksekutif PSF (Presidential Scholarship Fund) UGM, Direktur Eksekutif program kerjasama KP4 UGM-UNDP (United Nation Development Program), Direktur Eksekutif program kerjasama KP4 UGM-AIP (Australian Indonesian Partnership), Koordinator program kerjasama KP4 UGM dengan IOM (International Organization for Migration). Saat ini, menjabat sebagai Direktur Eksekutif I_MHERE (Indonesia Managing Higher Education for Relevancy & Efficiency) komponen B2c UGM untuk periode 2009-2012 dan Direktur Eksekutif Kerjasama pemanfaatan hasil penelitian dengan KPWN Kemenhut RI mulai 2010.

Cahyono juga aktif terlibat sebagai Reviewer DPT (Dewan Pendidikan Tinggi) Ditjen Dikti bidang PHK (Program Hibah Kompetisi), maupun sebagai Reviewer pada DP2M Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) bidang Akreditasi jurnal ilmiah, Reviewer Ditjen Dikti bidang Penelitian, KKN PPM, disamping sebagai Reviewer penelitian di tingkat Fakultas Kehutanan maupun UGM mulai tahun 2005 sampai sekarang. Saat ini masih aktif sebagai editor pada ‘Jurnal Ilmu Kehutanan’ yang diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan UGM dan ‘Jurnal Hutan Tanaman’ yang diterbitkan oleh Balitbang, Kementerian Kehutanan RI.

Profil KP4 UGM

Indonesia adalah negara agraris sehingga pertanian telah menjadi “way of life” dan sumber kehidupan masyarakat. Namun masyarakat mempunyai paradigma pola pikir lama, bahwa pertanian hanya untuk dikonsumsi sendiri. Perlu terobosan baru bahwa pertanian multi-fungsi, artinya dari pertanian bisa sebagai pemasok utama sandang, pangan dan papan bagi seluruh makhluk hidup di dunia. Juga sebagai konservasi alam berkelanjutan, wisata agro, penghasil bio-farmaka dan bio-energi.

Untuk itu, KP4 (Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian/University Farm) UGM Yogyakarta mengembangkan Integrated Farming based Agribussiness System for Sustainable Life and Environment (sistem agribisnis berbasis pertanian terpadu untuk kehidupan dan lingkungan hidup berkelanjutan) yang diharapkan menjadi salah satu alternatif pengelolaan lahan, memakmurkan petani dan pengejawantahan RPPK (Revitaliasi Pertanian, Perikanan and Kehutanan) yang dicanangkan Presiden SBY Juni 2005 lalu.

Disini KP4 UGM seluas 35 hektar didirikan pertama kali tahun 1975 dengan bantuan dari Rockefeller Foundation, USA. Saat ini, proses serta sarana prasarana untuk pembelajaran tentang kehidupan dan lingkungan hidup yang lebih baik, dapat dilakukan langsung di University Farm ini. Para mahasiswa, dosen, pelajar, peneliti, wisatawan dari luar negeri (Jepang, Nambia, Korea dsb) maupun dalam negeri (PT, SMA, SMP, SD, TK, pebisnis, pemda, masyarakat awam dsb) juga pernah melihat langsung dan sangat terkesan dengan konsep EfSD (Eduaction for Sustainable Development, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan) yang dikembangkan.

Di sisi lain, terjadi perubahan paradigma baru dari Tri Darma Perguruan Tinggi. Dari yang tadinya hanya meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang berdiri sendiri-sendiri akan disinergiskan menjadi research based learning and servives (pendidikan dan pengabdian berbasis penelitian) Kurikulum berbasis kompetensi yang dikembangkan UGM mengharuskan pada mahasiswa agar dapat mengerti (Learn to know), mengerjakan sendiri (Learn to do), menjadi aktor (Learn to be) dan bekerja bersama (Learn to work together), sehingga lulusannya mempunyai kompetensi (competence), komitmen (committment), keberpihakan (compassion), dan nurani (conscience) terhadap masyarakat awam.

KP4 sebagai university farm UGM yang mempunyai visi sebagai universitas riset akan diberdayakan sepenuhnya sebagai wahana untuk tranfer pengetahuan (Transfer of knowledge), ketrampilan (Transfer of skills) dan nilai-nilai luhur (Transfer of values) di bidang pertanian terpadu dengan praktek langsung di lapangan.

Cahyono Agus menerapkan sistem manejemen modern di KP4 UGM dengan memberdayakan 6M (man, money, material, method, machine, management), yang SERBA TEPAT (tepat orang, tepat waktu, tepat cara, tepat tempat, tepat sasaran, tepat bentuk, tepat tujuan), melalui KERJA optimal (kerja keras, kerja cerdas, kerja sama, kerja benar, kerja iklas) dengan cara 4K (komunikatif, koordinatif, konsolidatif dan konstruktif) yang KNPI (kreatif, normatif, produktif dan inovatif) perlu terus diupayakan, MULAI MO-LIMO (mulai dari sekarang, mulai diri sendiri, mulai dari yang sederhana, mulai dari tempat kita dan mulai dengan yang ada) agar revitalisasi pertanian dan lingkungan benar-benar menjadikan adanya kenyamanan hidup yang berkelanjutan bagi petani dan seluruh kehidupan di bumi ini.

Dr. Ir. Cahyono Agus DK, M.Sc selaku direktur membawahi 38 karyawan/staff tetap, sejak tahun 2008 mempunyai peran sangat penting untuk kemajuan dan keberhasilan dari KP4 maupun UGM. Sejak beliau menjabat sebagai kepala KP4, telah berhasil mengembangkan:
1. Program Pengembangan “Program bantuan rumah sementara bagi korban gempa Bantul” sumber dana UNDP (United nation Development Program) dan Bappenas RI jumlah dana Rp. 250.000.000,00 (Dua ratus lima puluh juta rupiah) tahun 2008. Telah berhasil memfasilitasi 125 rumah tinggal sementara yang materialnya dapat digunakan untuk membangun rumah permanen. Pemberdayaan masyarakat dilakukan bersama mahasiswa KKN Internasional dari UGM dan Korea Selatan.
2. Program Pengembangan Bidang Ilmu UGM “Peningkatan Kapasitas KP4 UGM” sumber dana APBN-P Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Depdiknas jumlah dana Rp. 2.667.920.000,00 (Dua milyar enam ratus enam puluh tujuh juta sembilan ratus dua puluh ribu rupiah) tahun 2008. Telah berhasil mengembangkan sistem informasi dan data base tanah, lahan dan iklim, Peningkatan pelayanan pendidikan dan penelitian, Peningkatan keamanan proses dan materi penelitian maupun unit usaha, Pengembangan agribisnis berbasis Integrated Farming , dan Peningkatan mobilitas dan sarana transportasi.
3. Program livelihood AIP (Australian Indonesia Partnership) “ Pemberdayaan industri rumah tangga kecil dan kerajinan sebagai upaya pemulihan sumber kehidupan korban gempa di Desa Trimulyo, Jetis, Bantul” sumber dana AIP (Australian Indonesia Partnership) jumlah dana Rp. 928.000.000,00 (Sembilan ratus dua puluh delapan juta rupiah) Juli 2008. Telah Memulihkan dan perbaikan sumber kehidupan masyarakat pasca gempa di Kalurahan Trimulyo,Jetis, Bantul melalui pengembangan industri kecil rumah tangga agar terdapat peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyrakat berkelanjutan serta penurunan tingkat kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan bersama mahasiswa KKN Internasional dari UGM dan Korea Selatan, secara berkelanjutan selama 3 periode KKN.
4. Program I_MHERE (Indonesian Managing Higher Education for Relevancy and Efficiency) component B2c sumber dana World Bank dan Kemendiknas dengan dana US$ 3.000.000 (setara dengan Rp. 30.000.000.000, tiga puluh milyar) ditambah dana pendamping sekitar Rp. 5.000.000.000 (lima milyar). Program yang berlangsung tahun 2009-2012 ini dimaksudkan untuk membentuk pusat-pusat unggulan di bidang EfSD (Education for Sustainable Development, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan) yang juga melibatkan Fakutas Biologi, Fakultas Kehutanan dan Fakultas Farmasi UGM.
5. PSF (Presidensial Scholarship Fund) UGM dengan sumber dana dari Ditjen Dikti untuk memberikan beasiswa bagi 39 kandidat doktor dari 4 pusat unggulan di lingkungan UGM. Program ini selanjutnya diintegrasikan dengan program beasiswa lainnya di lingkungan Ditjen Dikti.

Penelitian Unggulan Layak Publikasi, Layak Paten dan Layak Bisnis di KP4 UGM.

Dibawah Koordinasi oleh Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM Yogyakarta dengan dana dari DIPA, berhasil membuat program 10 GAMA. Program penelitian dan pengembangan unggulan pertanian dan peternakan ini telah dipublikasikan di media ilmiah nasional maupun internasional.

Beberapa penelitian juga sedang didaftarkan paten, PVT (perlindungan varitas Tanaman). Rintisan kerjasama dengan KPWN Kemenhut, Kementrian Pertanian, Kementrian ESDM, Kementrian Koperasi, Kementrian Daerah Tertinggal¸ telah dilakukan KP4 untuk melakukan kerjasama pemanfaatan hasil penelitian bagi program kemakmuran masyarakat secara profesional. Program itu diantaranya adalah :
1. GAMA ANGGREK: Perakitan dan Perbanyakan Klonal Kultivar Unggul GAMA Anggrek Phalaenopsis-Vanda-Dencrobium. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kultivar baru Gama Anggrek hasil persilangan anggrek lokal. Hasilnya diperoleh kultivar baru “GAMA ANGGREK” yang unggul, sering berbunga, tahan lama, unik, indah, tidak mudah layu dan bernilai jual tinggi.
2. GAMA BIOGAS: Pemurnian biogas metana dengan teknik absorbsi untuk pengemasan dalam tabung bertekanan. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan limbah peternakan dan pertanian untuk menghasilkan biogas murni yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif, untuk memasak dan penerangan maupun menggerakan kendaraan bermotor. Hasilnya berupa produk “GAMA BIOGAS” dengan kemurnian tinggi yang praktis, ekonomis, dan marketable. Inovasi ini sangat ramah lingkungan karena mengubah metana yang merupakan emiter karbon berbahaya menjadi sumber energi alternatif terbarukan yang mampu mengurangi pemanasan global.
3. GAMA KARBON: Peningkatan serapan karbon dalam pola tanam tadah hujan pengukuran tingkat emisi-siklus karbon baseline dan benchmark. Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan baseline dalam penghitungan emisi gas rumah kaca (CO2) yang berkontribusi besar dalam Global Warming pada sektor pertanian, melalui (i) Teknik pengukuran emisi (CO2), (ii) Informasi mengenai perilaku emisi gas rumah kaca, beserta faktor pengendali lingkungan, dan fisiologi, (iii) Menjadi baseline untuk kegiatan pengamatan tingakat emisi CO2 lebih lanjut, (iv) Inisiasi dalam pemodelan mengenai kemampuan serapan karbon dari beberapa tipe pola tanam tadah hujan. Hasilnya berupa Model emisi “GAMA KARBON” pada sektor pertanian terpadu.
4. GAMA TANI TERPADU: Pengelolaan hara terpadu dalam pertanian terpadu yang berkelanjutan, bertujuan : Pengelolaan hara terpadu menggunakan bahan organik untuk meningkatkan kualitas lahan dan produktivitas lahan serta mensinergiskan pertumbuhan tanaman dalam sistem pertanian terpadu. Hasilnya berupa Pengembangan “GAMA TANI TERPADU” sebagai model Agribisnis berbasis pertanian terpadu untuk kehidupan dan lingkungan hidup yang lebih baik.
5. GAMA SOYA: Optimalisasi diversifikasi produk olahan kedelai hitam lokal sebagai makanan dan pengembangan daging sintetis dan tahu sehat. Tujuan penelitian adalah melakukan perubahan orientasi dan postioning kedelai hitam dari bahan baku olahan pangan biasa menjadi produk olahan pangan kesehatan yang berupa pengembangan Daging Sintetis dan Tahu Sehat yang kaya serat, antosianin, dan isoflavon. Hasilnya berupa pengembangan teknologi pengolahan pasca panen kedelai hitam “GAMA SOYA” menjadi “Daging Sintetis” dan “Tahu Sehat” yang Kaya serat, antosianin, dan isoflavon.
6. GAMA MELON: Pengembangan Melon Varietas Baru “Gama Melon”. Tujuan penelitian adalah: (i) Mengetahui keseragaman dan kestabilan karakter fenotip buah dan benih “Melodi Gama-Basket” sebagai melon unggul yang tahan terhadap penyakit (virus dan jamur tepung), ii) Memperoleh benih melon unggul tahan penyakit serta mempunyai karakter fenotip buah yang unik, seragam, dan stabil sebagai benih melon komersial. Hasilnya: Pengembangan varian melon baru “GAMA MELON” yang unggul, manis, marketable, sehat, dan tahan hama penyakit, tanpa insektisida
7. GAMA AYAM: Peningkatan performance ayam lokal melalui perakitan sumber genetik. Tujuan penelitian adalah mendapatkan karakter fenotip (F1) yaitu warna bulu dan berat badan serta area dan jumlah miofiber otot Pectoralis thoracicus ayam (F1) persilangan antara ayam pelung dengan ayam Parent Stock Broiler Strain Coob-500 sebagai alat identifikasi potensi ayam lokal tipe daging. Hasilnya: Pengembangan “GAMA AYAM” hasil persilangan ayam pelung dan broiler, yang mempunyai daging baik dan pertumbuhan cepat
8. GAMA JAGUNG: Pengembangan Varietas Jagung Unggul “Gama Jagung”. Tujuannya adalah mengembangkan potensi varietas jagung lokal Madura dengan pemuliaan sehingga menghasilkan jagung yang mengandung gen penyandi ketahanan terhadap virus dan kandungan protein tinggi. Hasilnya: Pengembangan varietas baru “Gama Jagung” hasil persilangan jagung lokal Madura yang unggul, mempunyai umur pendek, tinggi dan ukuran sedang
9. GAMA PADI: Pengembangan Teknologi Budidaya Padi Hemat air, Perakitan Kultivar Padi Tahan Kering. Tujuannya mengembangkan teknologi budidaya padi hemat air dengan merakit kultivar padi tahan kering dengan pendekatan koleksi, penyaringan dan percobaan. Hasilnya: Pengembangan kultivar baru “Gama Padi” yang unggul, tahan kering, produksi tinggi, dan marketable
10. GAMA SAPI BALI: Peningkatan mutu genetis sapi bali sebagai ternak potong dan plasma nutfah nasional dengan penerapan bioteknologi pakan dan reproduksi. Tujuannya meningkatkan mutu genetis sapi bali sebagai plasma nutfah nasional maupun sebagai sapi potong dilakukan dengan perbaikan pakan, serta penerapan bioteknologi reproduksi. Hasilnya: Pengembangan mutu genetik sapi lokal “Gama Sapi Bali” yang unggul, pertumbuhan cepat

Visi dan misi KP4 UGM
Visi
Menjadi unsur penunjang universitas terbaik di Asia Tenggara di bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan pertanian, makluk hidup maupun lingkungan
Misi
Peran aktif dalam upaya mewujudkan pengelolaan pertanian Indonesia secara berkelanjutan dalam hal produktivitas, diversitas biologi dan kualitas lingkungan maupun kehidupan

Fasilitas di KP4 UGM
 Lahan seluas 35 ha, Rumah kaca 4 unit, Laboratorium dan Lantai jemur, Perumaham dan Guest house 5 unit, Traktor besar 2 unit dan Traktor tangan 5 unit, Alat Prosesing hasil Pertanian, Kendaraan 5 unit, Mushola, Camping Ground, Sarana outbond dan sebagainya
Pengembangan yang dilakukan KP4 UGM
 Laboratorium Daur Ulang Sampah (LDUS). LDUS yang dikembangkan oleh KP4 UGM merupakan bentuk pengembangan fasilitas dan pemanfaatan berbasisi EfSD (Education for Sustainable Development). Daur ulang sampah adalah proses untuk menjadikan suatu bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang tidak dimanfaatkan yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas methane. Pengelolaan sampah organik (daun) untuk dijadikan pupuk organik melalui proses pengomposan. Untuk sementara cakupan pengelolaan sampah meliputi lingkungan UGM serta lingkungan sekitar
 Outbond. Outbond yang dikembangkan oleh KP4 UGM merupakan kegiatan outbond berbasis EfSD (Education for Sustainable Development) yang mana tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan dan aplikatif. Konsep outbond berbasis EfSD ini yang nantinya dikembangkan sebagai center of excellent EfSD tingkat Nasional di KP4 UGM sehingga menunjang adanya program eco-edu-tourism KP4 UGM

Fasilitas outbond yang dimiliki oleh KP4 UGM meliputi:
 Lahan camping ground (± 2 Ha) yang dilengkapi dengan fasilitas MCK (kamar mandi), paket outbond flyingfox bagi anak-anak dan dewasa, showroom (masih dalam pengembangan).
 Guest house (3 unit)
 IM-HERE (Indonesia Managing Higher Education for Relevance and Efficiency), merupakan kegiatan pengembangan di KP4 UGM yang didanai oleh Word Bank yang diperoleh melalui competitive proposal. KP4 UGM memperoleh 2 (dua) kali periode IM-HERE yaitu:
1. IM-HERE b.2b, pengembangan image building dan pengembangan networking KP4 UGM
2. IM-HERE b.2c, melalui kegiatan ini KP4 UGM bekerjasama dengan Fakultas Biologi, Fakultas Kehutanan dan Fakultas Farmasi

Bidang peternakan yang ada di KP4 saat ini mempunyai sapi peranakan Ongole (PO) sebanyak 46 ekor (32 ekor jantan dan 14 ekor betina), pedet PO betina 5 ekor, Sapi perah betina 8 ekor dan pedet perah 1 ekor. Sedangkan Kambing yang dimiliki ada 30 ekor jenis Bligon (4 jantan dan 26 betina), kambing peranakan Etawa (PE) betina ada 10 ekor. Pengembangan bidang peternakan tidak hanya budidaya ternak namun dikembangkan teknologi peningkatan nutrisi pakan yaitu burger pakan sapi dan ikan. Feses sapi yang mana merupakan penghasil methane terbanyak dimanfaatkan sebagai energi biogas yang nantinya digunakan sebagai bahan bakar kompor maupun listrik. Selain feses, urine sapi juga dimanfaatkan sebagai pupuk cair (Liquid Bio Fertilizer) yang dapat menggantikan sebagian pupuk kimia. Teknologi ini dikembangkan guna memperpanjang rantai biologi sehingga diharapkan tidak ada sesuatu yang menjadi sampah atau tidak dimanfaatkan.
Biodata
I. Pribadi
1. Nama Lengkap : Dr. Ir. Cahyono Agus Dwi Koranto, M.Agr.Sc
2. Nama Panggilan : Cahyono
3. Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 10 Maret 1965,
4. Pendidikan Terakhir : Program Doktor
5. Tokoh Favorit :
6. Prinsip /Motto Hidup :
 amal yang tidak putus meskipun kita sudah meninggal adalah amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh/ah”
• 6 Kerja (Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, Kerja Cepat, Kerja Sama, Kerja Benar),
• Serba Tepat (Tepat Cara, Tepat Bentuk, Tepat Situasi, Tepat Kondisi, Tepat Sasaran, Tepat Tujuan, Tepat Tempat, Tepat Waktu, Tepat Orang,)
• KNPI (Kreatif, Normatif, Profesional, Inovatif),
• K3 (Komunikasi, Koordinasi, Konsolidasi),
• Mulai Mo limo (mulai dari diri sendiri, mulai dengan yang ada, mulai dari sekarang, mulai dari tempat ini, mulai dengan cara yang sederhana),
• Pemberdayaan 6M (man, money, material, method, machine, management)

7. Tempat Liburan : Wisata alam

Motto dalam membina Keluarga :
Setiap anak mempunyai bakat dan keunggulan sendiri-sendiri, biarkan berkembang sesuai dengan hati nurani, kita tinggal memfasilitasi dan mendukung agar cita cita anak bias diraih secara optimal

II. Perusahaan/ lembaga
1. Perusahaan / Lembaga yang dimiliki saat ini :
a. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
Sebagai Dosen
b. Kebun Pendidikan, Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM
Sebagai Kepala
c. Kost Putri Amanah Jl Golo, sebagai pemilik
d. Pondok Makan “Sambal NGASEM” sebagai pemilik
2. Tanggal & tahun pendirian : 2001
4. Jumlah Staff ( karyawan ) : 44 Orang.
5. Penghargaan yang pernah diterima
a Wisudawan terbaik Fakultas Pertanian UGM 1989
b. Dosen DPL terbaik di UGM Tahun 2008
c. Kontes Thesis seluruh Jepang Tahun 2003
6 Kerjasama khusus yang pernah dilakukan
a. United Nation Development Program
b. Australia-Indonesia Partnership
c. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional
d. KPWN Kementrian Kehutanan
e. Kementrian Kehutanan

 

Muhammad Arifin

No Comments

PT Catur Bijaksana

Keluar Daerah Untuk Mengembangkan Diri

Jakarta sejak dahulu menjadi tujuan utama urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota. Tujuan para “manusia” urban tersebut adalah untuk memperbaiki kehidupan masing-masing. Di desa, waktu seolah terhenti dan kehidupan tidak berkembang karena ketiadaan lapangan kerja, pembangunan dan infrastruktur. Akibatnya peluang untuk hidup lebih baik sangat kecil sehingga merantau ke kota adalah pilihan yang masuk akal untuk mengembangkan diri.

“Awalnya saya tertarik hijrah ke Jakarta karena ingin keluar dari daerah. Karena kalau hanya berkutat di daerah sangat sulit berkembang dan tidak memiliki kesempatan untuk maju. Mau tidak mau, orang daerah seperti saya harus berani keluar untuk mengembangkan diri. Jakarta menjadi pilihan untuk merantau setelah saya selesai kuliah di Kupang. Di ibukota juga sudah ada saudara yang merantau untuk sekolah,” kata Muhammad Arifin, Direktur Utama PT Catur Bijaksana.

Arifin berbekal ijazah sarjana teknik sipil segera mendapat pekerjaan di ibukota tahun 1990-an itu. Awalanya ia bekerja di proyek-proyek milik perusahaan asing dari Australia,India, korea dan jepang dengan sistem kontrak. Setelah beberapa kali pindah pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya (semua asing), ia mendapat tawaran dari seorang insinyur asal Jepang untuk membuka perusahaan sendiri.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, pepatah ini rasanya sangat cocok disematkan kepada Arifin. Pria kelahiran Rote, 20 Juli 1970 ini, dengan sigap menyambut idea tersebut. Apalagi pengalaman selama bertahun-tahun di perusahaan kontraktor asing ditambah kariernya yang cemerlang, dirasakan cukup untuk membuka perusahaan sendiri. Jabatan sebagai manager satu-satunya yang diduduki oleh orang lokal, menambah kepercayaan dirinya untuk berdiri sendiri.

“Akhirnya saya menerima tantangan tersebut sehingga terbentuklah PT Pemalang Konstruksi, terletak di Pemalang Jawa Tengah. Lokasi tersebut dipilih karena kerja sama terakhir dengan ahli dari Jepang terjadi di Pemalang. Pengalaman dari orang-orang asing itu membuat saya banyak belajar dalam memanage perusahaan,” kata anak kedua dari empat bersaudara pasangan Yahya Muhammad Arief dan Nurati Arief tersebut.

Melalui PT Pemalang Konstruksi, Arifin menuai banyak keuntungan. Setelah berdiri pada tahun 2002, ruang lingkup perusahaan semakin luas. Tidak hanya mendapat sub contractor dari main contractor di seluruh pulau Jawa tetapi juga Sumatera. Semakin lama, perusahaan yang didirikan bapak 4 anak (2 laki-laki dan 2 perempuan) itu semakin maju dan berkembang.

“Makanya agar lebih eksis di dunia konstruksi, kita kemudian membuka usaha Kontraktor Umum , PT Catur Bijaksana. Tujuannya agar perusahaan kontraktor kita bisa mengambil pekerjaan langsung ke owner. Sementara nama Catur Bijaksana diberikan oleh anak perempuan saya. Anak saya empat maka catur, sementara bijaksana berarti arif bijaksana,” tegas suami Yeni Triyani tersebut.

Keluarga Tentara

Muhammad Arifin mengisahkan bahwa ia berasal dari keluarga sederhana dengan latar belakang sebagai tentara. Tugasnya ayahnya selalu berpindah-pindah di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sesuai dengan perintah atasan. Ia menghabiskan masa kecil dan bersekolah SD-SMP di Manggarai. Sementara pendidikan STM dan perguruan tinggi ditempuhnya di Kupang.

“Ayah tidak pernah memaksa keempat anaknya yang semua laki-laki untuk mengikuti jejaknya menjadi tentara. Orang tua memberi keleluasan kepada anak-anaknya untuk memilih pekerjaan, ‘Yang penting baik’ katanya. Kami berempat memilih Teknik Sipil dan bekerja pada bidang konstruksi. Kakak saya bekerja di perusahaan asing, kemudian adik saya di perusahaan swasta nasional sementara si bungsu ikut saya di sini,” ujarnya.

Arifin sangat bersyukur dukungan keluarga terhadap karier yang digeluti sangat besar. Pengertian terhadap tugas-tugasnya di pembangunan konstruksi membuat ia sering pulang pagi atau menginap. Namun, keluarga memiliki pengertian yang tinggi sehingga merelakan suami dan ayahnya untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Di sisi lain, sang istri pun memiliki bisnis sendiri berupa studio musik sehingga pasangan ini sama-sama sibuk.

“Makanya kita kalau sudah libur tidak boleh diganggu gugat waktu bersama keluarga. Jalan-jalan, nonton konser dan lain-lain karena anak-anak saya bisa bermain musih mewarisi bakat ibunya. Untuk meneruskan usaha ini, anak saya yang arsitek sepertinya cocok. Karena arsitek dengan perusahaan konstruksi seperti ini sangat dekat, menyatu dalam satu bidang,” ungkapnya.

Meskipun sudah menyiapkan anak untuk melanjutkan perusahaan, Arifin menyadari bahwa anaknya pun seperti juga generasi muda lainnya. Yakni generasi yang lebih senang yang serba instant, cepat dan menghasilkan uang yang banyak. Hal itu, menurut Arifin memang seperti hukum ekonomi namun anak-anaknya dipesan agar meskipun mengikuti tren tetapi perencanaan masa depan harus dipikirkan.

“Generasi muda Indonesia lainnya saya rasa masih baik-baik saja selama tetap dibimbing dan mendapat kontrol orang tua. Mereka jangan sampai dilepas seratus persen, bahaya. Yang harus dimiliki mereka adalah sifat jujur,kerja keras dan rajin karena akan berguna bagi masa depannya. Dari situ, mereka mendapat tambahan ilmu pengetahuan melalui pelatihan, seminar dan lain-lain. Generasi muda juga tidak boleh terlalu berharap menjadi pegawai, mereka harus memiliki mindset untuk menjadi entrepreneur,” tandasnya.

Memberikan Pelayanan Terbaik

PT Catur Bijaksana saat ini mempekerjakan karyawan dalam jumlah besar. Terdiri atas 15 karyawan di kantor dan ratusan lainnya karyawan lapangan dan workshop. Sebagai perusahaan, terkait kemajuan yang dicapai sekarang ini tentu tidak lepas dari tantangan, suka dan duka yang harus diatasinya. Yang paling menyakitkan adalah ketika proyek berhasil diselesaikan tetapi main kontraktor yang nakal malah kabur.

“Kita sebagai sub contractor tinggal menghitung kerugiannya. Makanya kita buat perusahaan PT.Catur Bijaksana yang berkedudukan di BSD serpong Tangerang dengan sertifikasi Gred-5, itu agar kita juga bisa ‘bermain’ sebagai kontraktor, tidak sub lagi. Moto kami adalah ‘Kami memberikan pelayanan terbaik’ seperti yang tertanam di seragam kerja karyawan ‘We serve you better’. Kami berharap pelayanan kami memuaskan sehingga klien menggunakan jasa kami lagi berulang-ulang,” karena kesuksesan kami dalam melaksanakan proyek bukan hanya diukur dari keuntungan dan selesainya proyek saja, tetapi apakah kami diundang lagi untuk mengerjakan proyek-proyek klien tersebut, tandasnya.

Dengan mengusung moto “Kami memberikan pelayanan yang terbaik”, membuat Arifin pantang untuk mengecewakan klien. Tidak menepati janji, tidak mengerjakan pekerjaan dengan baik atau pekerjaan lewat dari deadline yang sudah ditetapkan juga menjadi pantangan besar di perusahaan miliknya. “Staf saya kasih pengertian bahwa pimpinan mereka adalah saya tetapi bos kita adalah klien. Karena kalau kita baik terhadap klien, pekerjaan akan berlangsung terus,” imbuhnya.

Menurut Muhammad Arifin prospek perusahaan konstruksi ke depan sangat menjanjikan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin menggembirakan, pembangunan di Indonesia semakin tinggi intensitasnya. Kebutuhan akan tempat tinggal akibat ledakan jumlah penduduk serta gedung, jalan dan jembatan sangat tinggi. Ia yakin, selama masih ada lahan terbuka perusahaan konstruksi miliknya terpakai untuk pembangunan.

Hanya saja, kendala yang dihadapi saat ini dan ke depan adalah peran pemerintah dalam pembangunan. Selama ini pemerintah melalui APBN adalah pemilik proyek terbesar di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah sebagai pemilik proyek sudah memiliki rekanan tertentu dengan kelengkapan persyaratan seperti sertifikasi. Tanpa sertifikasi di perusahaan, jangan pernah bermimpi untuk memperoleh pekerjaan dari proyek pemerintah.

“Makanya melalui asosiasi perusahaan kontraktor kita berusaha mendapatkan sertifikat keahlian, pelatihan dan lain-lain. Ini juga sangat berguna dalam menghadapi era globalisasi yang harus menyiapkan SDM handal. Kami mengirimkan staf-staf untuk mengikuti pelatihan sehingga memperoleh sertifikasi agar mampu bersaing dengan perusahaan lainnya. Misalnya kalau kita masuk ke departemen tertentu, dengan kualifikasi orang-orang kita, maka kita masih bisa diterima,” tambah pengagum HM Jusuf Kalla ini.

Selain mengirimkan karyawan untuk mendapatkan sertifikasi, Arifin juga mengembangkan hubungan kekeluargaan dengan karyawan. Apalagi para staf yang bekerja padanya sudah memiliki hubungan kerja yang cukup lama. Yakni sejak ia masih bekerja pada perusahaan asing, mereka juga anak buah dibawah kepemimpinannya. Bahkan ia pun sudah mengenal dekat keluarga karyawan dengan baik.

“Rata-rata mereka datang dari jauh seperti Jawa, Lampung, Palembang dan lain-lain. Mereka ini terhadap saya sudah sangat setia dan loyal. Karena tempat tinggal mereka jauh maka saya sediakan mess, lengkap dengan kebutuhan mereka sehari-hari. Jadi mereka tinggal berpikir bekerja untuk keluarga dan perusahaan,” katanya menutup pembicaraan.

 

Lolok Sudjatmiko

No Comments

Chairman PT. Niaga Sapta Samudera

Kepuasan Batin Menekuni Bisnis Angkutan Laut

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih dari 17 ribu pulau besar dan kecil dan mempunyai garis pantai lebih dari 8 juta KM merupakan negara dengan garis pantai terpanjang ke 2 setelah Canada, membuat transportasi laut antar pulau di Indonesia mempunyai peran yang sangat penting dan akan menjadi sektor yang dominan. Penggunaan pesawat terbang memang praktis dan cepat, tetapi daya angkut yang terbatas untuk mobilitas orang dan barang menjadi kurang efektif dan mahal.

Angkutan menggunakan kapal adalah solusi yang paling tepat untuk Indonesia yang paling tepat untuk Indonesia. Kapasitas angkut kapal yang massal baik orang maupun barang membuat moda transportasi ini seharusnya bisa menjadi andalan tumpuan dalam pengembangan pembangunan. Namun, minimnya infrastruktur yang di sediakan pemerintah membuat industri angkutan laut Indonesia sedikit terhambat. Padahal, nenek moyang bangsa ini di kenal sebagai pelaut yang tangguh.

“Angkutan Laut di Indonesia sekarang semakin diperlukan. Pertumbuhan penduduk yang semakin cepat membuat pulau-pulau kecil pun mulai berpenghuni. Untuk mobilitas mereka diperlukan angkutan kapal yang memadai. Kendalanya, banyak infrastruktur yang kurang mendukung angkutan laut modern di beberapa daerah. Misalnya pelabuhan yang di bangun ala kadarnya sehingga tidak dapat di sandari kapal-kapal besi di atas 800 DWT. Keberadaan armada tradisional yang menjadi tulang punggung transportasi lokal bagi orang dan barang di daerah, berkembang apa adanya dan masih sangat perlu pembinaan dan dukungan dari Pemerintah” kata Lolok Sudjatmiko, Chairman PT. Niaga Sapta Samudera.

Wakil Ketua Umum DPP INSA periode 2008-2011 ini berharap, organisasinya mampu membantu masyarakat di daerah terpencil. Seperti bagaimana memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian atau perkebunan di daerah terpencil dengan membawa keluar dari wilayah tersebut. Ia mengusulkan agar hasil pertanian di angkut oleh kapal-kapal tradisional ke suatu titik pelabuhan. Pada lokasi yang sudah di tentukan menunggu kapal-kapal INSA yang lebih besar untuk di angkut ke daerah lain atau luar negeri sehingga nilai jualnya menjadi tinggi.

Menurut Djatmiko panggilan akrabnya, pemerintah perlu mengembangkan angkutan laut sebaik mungkin. Sebagai negara kepulauan, sudah selayaknya kalau lalu lintas laut di wilayah Indonesia mendapat perhatian lebih.

“Saya tertarik menggeluti bisnis angkutan laut salah satunya karena faktor geografis negara kita. Dengan penyebaran penduduk yang tersebar di mana-mana. Semua itu bias di jangkau dengan angkutan laut, karena angkutan laut itu merupakan angkutan massal yang tidak dipunyai oleh moda angkutan lain seperti angkutan darat maupun udara,” ungkapnya.

Di sisi lain, Djatmiko yang senang traveling mengaku bangga dengan usaha yang dilakukannya. Selain bekerja, ia juga berkesempatan untuk mengunjungi pulau-pulau besar dan kecil di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun demikian, ia juga harus siap menanggung risiko bisnis angkutan laut seperti pengaruh anomaly cuaca yang tidak bias diprediksi belakangan ini.

“Kendala lain dalam bisnis angkutan laut adalah kurang terkoordinirnya pelayanan antar lembaga baik lembaga swasta maupun lembaga pemerintah, contohnya beberapa peraturan bahkan undang-undang masih diartikan dan di terapkan secara ego sektoral, sehingga membuat kebingungan para pengusaha pelayaran. Kurang fokusnya pemerintah dalam mengembangkan dan memperbaiki sarana dan prasarana pelabuhan, adalah salah satu penyebab ekonomi biaya tinggi di sector transportasi laut. Dengan harapan suatu saat kalau dukungan pemerintah sudah baik, saya percaya transportasi laut akan menjadi primadona. Yang jelas segala kelebihan dan kekurangan yang ada saya memiliki kepuasan batindengan berkiprah di bisnis angkutan laut,” tegasnya.

Laporan Harian

Sebagai pengelola perusahaan tongkang dan tugboat, Djatmiko memiliki kiat sendiri menghadapi persaingan. Selain mengutamakan service, perusahaan miliknya juga memberikan layanan lebih baik kepada pelanggan. Salah satunya adalah dengan memberikan laporan berkala terhadap pemilik barang shipper yang mempercayakan pengirimannya. Tujuannya, pelanggan mengetahui dengan pasti proses pengiriman barang miliknya.

“Bisnis tongkang dan tugboat ini bias diibaratkan tanpa managemen pun sudah jalan, namun pengalaman saya yang pernah bekerja di beberapa perusahaan pelayaran besar yang di manage dengan baik, menggerakan saya agar berusaha mengaplikasikannya di perusahaan sendiri. Makanya meskipun perusahaan tongkang dan tugboat jarang memberikan laporan harian dan keterbukaan akses informasi kepada penyewa, tetapi menjadi keharusan di perusahaan kami, itu salah satunya” tegasnya.

Meskipun masih berkutat di bisnis kapal tongkang dan tugboat, Djatmiko menargetkan di masa mendatang memiliki armada kapal yang lebih besar. Saat ini, dengan tongkang dan tugboat jangkauan layanan yang diberikan baru berkisar Negara-negara ASEAN. Sementara kapal besar mampu mengjangkau seluruh dunia. Untuk itu, ia sedang menyiapkan SDM yang akan mengoperasionalkan kapal besar di kantornya dalam waktu yang tidak lama lagi.

Di perusahaan yang didirikan tahun 2005 tersebut, Djatmiko baru memiliki delapan set tongkang dan tugboat. Ia merencanakan, tahun ini armadanya bertambah 4-5 set dan akan di pertahankan pertumbuhan perusahaan setiap tahun. Untuk jangka panjang, ia akan terjun di armada kapal lebih yang lebih besar dengan membeli dan mengoperasikan kapal-kapal type Handy Max dan Pana Max. Seperti juga nama perusahaan PT. Niaga Sapta Samudera yang memiliki harapan suatu saat nati armadanya akan mengarungi tujuh samudera di dunia ini demi kejayaan armada Merah Putih.

“Harapan saya, kapal-kapal Merah Putih kami akan bias mengarungi tujuh samudera dan menyinggahi lima benua. Saya memulai usaha ini tahun 2005 dengan secara intensif mencarter kapal. Baru tahun 2008 saya mulai membangun armada kapalsendiri sampai sekarang. Dengan dukungan karyawan darat sekitar 20 orang dan di laut sekitar 80 orang karena setiap tugboat dioperasikan oleh 10 orang,” ujarnya. Dalam menjalin gubungan dengan karyawan. Djatmiko tetap menggunakan jalur hirarki untuk urusan rutinitas pekerjaan, “Tetapi diluar kedinasan kita harus kembali sebagai makhluk Tuhan yang saling menghormati, saling memberi dan menjalankan aspek sosiallainnya,” imbuhnya.

Keinginan memiliki kapal besar seperti bulker, tanker dan lain-lain, menurut Djatmiko tidak lepas dari keinginannya untuk meberi sumbangsih bagi Negara. Karena dalam jangka panjang, ia merasa tidak puas apabila hanya berkutat di bisnis tongkang dan tugboat saja. Apalagi, sebagai Wakil Ketua Umum INSA ia sangat paham seperti di gariskan dalam AD/ART organisasi tersebut. “Keberadaan organisasi inimembantu anggota mencapai tujuan yang lebih baik. Kemudian membantu infrastruktur dan non infrastruktur di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Masuk Militer

Sebetulnya, Lolok Sudjatmiko tidak memiliki latar belakang kelautan sama sekali, Bahkan ia lahir di Kota Kediriyang jauh dari laut dan dibesarkan di Bandung. Orang tuanya, Lasmijan W. Sudjatmiko dan Sutati adalah anggota kesatuan TNI Angkatan Udara. Selepas SMA di Bandung, anak kedua dari tiga bersaudara ini memilih untuk tidak mendaftarkan diri di perguruan tinggi mana pun dan langsung memilih Akademi Maritim Indonesia untuk belajar dasar-dasar Manajemen Pelayaran Niaga.

“Karena saya menolak keinginan orang tua yang men-drill saya untuk masuk militer. Makanya saya masuk Akademi Maritim Indonesia yang berhasil saya selesaikan tahun 1998. Saya sempat meneruskan sebentar di CaliforniaMaritime Academy, Valejo, California melalui program khusus bagi mahasiswa/taruna asing,” kisahnya.

Tahun 1990, Djatmiko kemudian bergabung di PT. Gesury Group. Perusahaan ini merupakan perusahaan pelayaran yang cukup besar dan terkenal di tanah air dan di Dunia hingga akhir tahun 2002.

Keinginan untuk berkiprah di dunia angkutan laut yang memiliki jangkauan luas membuat Djatmiko mengundurkan diri. Bersama ibeberapa orang rekan mendirikan usaha sendiri di bidang tongkang dan tugboat tahun 2005. Menurut perhitungannya, untuk belajar bisnis di dunia pelayaran dengan memulai dari tongkang dan tugboat sangat bagus untuk belajar.

“Untuk entry di bisnis pelayaran niaga, tongkang dan tugboat bagus untuk belajar. Harapan saya ke depan perusahaan terus maju hingga mempunyai kapal-kapal yang bias melayani barang-barang ekspor ke luar negeri. Saya yakin, kedepan bisnis angkatan laut akan lebih mendominasi sebagai alat distribusi di tanah air. Ini bisa kita lihat, meskipun Surabaya-Madura memiliki jembatan Suramadu tetapi feri tetap penuh. Begitu juga dengan jalur Merak dan Bakaehuni, kapal berapapun beroperasi di sana tetap kurang,” tegas suami Rumiris Hermina dengan tiga anak ini.

Lolok Sudjatmiko sangat berterima kasih atas dukungan keluarga yang luar biasa terhadap kariernya. Pria kelahiran Kediri, 01 Februari 1967 ini telah menanamkan kepada keluarga bahwa perusahaan adalah sumber kehidupan bagi masa depan keluarga sehingga ia tidak bisa main-main. Ia harus total membesarkan perusahaan demi masa depan mereka semua.

“Sejauh ini, langka-langka saya mendapat dukungan dari keluarga. Istri dan ketiga anak saya, dua perempuan dan satu laki-laki, pertama SMP kelas II, ke-II SD kelas VI dan terakhir SD kelas II mendukung karier saya. Untuk itu pada hari-hari kerja saya bisa mencurahkan perhatian saya ke perusahaan, tetapi kalau hari Sabtu saya tidak jarang mencurahkan waktu saya untuk bermain bersama keluarga. Kalau hari Minggu saya dari pagi sampai sore full ke gereja menunggu anak-anak. Setiap pagi saya sempatkan untuk mengantar anak sekolah dan pada hari-hari libur terkadang juga mengajak mereka berkunjung ke kapal kalau lagi dok,” kisahnya.

Dengan begitu, Djatmiko berharap agar setiap saat masih bisa memantau perkembangan anak-anaknya. Jangan sampai kejadian seperti yang dialami oleh beberapa orang temannya yang karena kesibukan menjadi tidak mengenal sifat dan kehidupan anaknya sendiri. Ia berharap, suatu saat salah seorang anaknyaakan mewarisi bakatnya untuk meneruskan usaha ini. “Mudah-mudahan saja. Saya percayakan perawatan anak-anak kepada istrinya. Nanti kalau dua-duanya sibuk malah repot,” tambahnya.

Kepada generasi muda, Lolok Sudjatmiki berpesan agar mereka memberikan yang terbaik kepada Bangsa dan Negara. Kalau memiliki sebuah cita-cita mereka harus total dan berjuang untuk mewujudkannya. Seperti dirinya yang terjun di bisnis angkutan laut, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan transportasi laut dan sector kemaritiman lainnya di Indonesia.

“Kalau perlu, apapun harus dikobarkan untuk meraih cita-cita kita, sepanjang pengorbanan itu dapat di pertanggung jawabkan di muka Hukum, terlebih di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, kita harus jujur terhadap pemerintah dalam membayar segala kewajiban sebagai warga Negara, jujur kepada mitra kerja kita, jujur terhadap diri sendiri dan keluarga,” kata Lolok Sudjatmiko.

Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA

No Comments

Founder & Managing Director Bali Tropic Resort & Spa

Indonesia Harus Dipimpin oleh Orang yang Mampu Menjauhkan Kepentingan Diri Sendiri

Indonesia kembali diguncang peristiwa besar. Setelah kasus Gayus –pegawai Ditjen Pajak golongan III A yang mampu melakukan korupsi luarbiasa besarnya- usai, kini menyusul kasus yang lain. Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazarudin tertangkap oleh Interpol di Kolombia setelah berbulan-bulan buron.

Kasus ini menjadi besar tidak hanya korupsi karena melibatkan partai yang sedang berkuasa, tetapi “nyanyian” Nazarudin juga menyeret orang-orang penting di negeri ini. Apalagi, kabarnya nilai uang yang dikorupsi Nazarudin mencapai hitungan Rp6,7 triliun. Sebuah jumlah yang sangat mencengangkan mengingat uang sebanyak itu bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan dikorupsi yang hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Meskipun demikian, pengungkapan kasusnya sendiri –seperti juga kasus yang lain- kelihatannya akan menemukan jalan buntu. Penyebabnya, nuansa politis yang sangat kental membuat pihak berwenang kesulitan membongkarnya. Begitu pun, pelakunya yang belakangan “lempar handuk” terhadap kasus yang membelitnya tersebut.

Sejatinya, Indonesia harus terbebas dari segala jenis korupsi agar mencapai kesejahteraan rakyat seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa ini. Jangan sampai, karena korupsi yang sudah demikian akut dan merajalela, kepentingan bangsa justru terlupakan. Kesejahteraan rakyat menjadi bukan prioritas lagi dan hanya sekadar menumpuk pundi-pundi kekayaan para pemimpinnya. 

“Semua bicara tentang bagaimana menyejahterakan bangsa ini, tetapi kenyataannya rakyat kecil menderita karena tidak mendapat perhatian pemerintah. Kunci mengatasi permasalahan tersebut ada pada pemimpinnya, yaitu sepanjang pemimpin melanjutkan visinya dengan penuh tanggung jawab. Orang yang memimpin Indonesia adalah orang yang bisa menjauhkan kepentingan diri sendiri dan mengutamakan rakyat,” kata Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA., Founder & Managing Director Bali Tropic Resort & Spa…

Jro Gede –panggilan akrabnya- menyebutkan salah satu budaya kepemimpinan Bali, yakni adanya Tri Kaya Parisudha yang berarti “Apa yang dipikirkan itu yang diutarakan”. Ungkapan tersebut bermakna kurang lebih sebagai kejujuran dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dalam pengamatannya, sikap yang mencerminkan Tri Kaya Parisudha tidak ada pada kalangan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia.

Selain itu, menurut Jro Gede, untuk mengatasi korupsi yang semakin merajalela di seluruh lini kehidupan, sistem kepartaian di Indonesia harus dievaluasi. Cara-cara untuk duduk sebagai anggota dewan perwakilan rakyat (DPR atau DPRD) dengan menyogok harus dihentikan. Artinya seorang pejabat yang terpilih karena menyogok akan berusaha untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkannya.

“Jadi untuk mencapai target yang ideal, Indonesia masih sulit karena pimpinannya tidak bisa membuat rencana yang luar biasa hebat untuk kepentingan rakyat Indonesia. Prinsip how much for my pocket, for myself harus ditinggalkan demi kesejahteraan rakyat.. Seharusnya untuk duduk di eksekutif, bukan dengan menggunakan uang tetapi murni kemampuan yang ada. Jangan hanya lip service saja dalam memimpin Indonesia, harus ada tindakan nyata,” tandasnya. 

Pembangunan Tanpa Rencana

Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA., mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Apabila kondisi seperti saat ini masih terus bertahan, bukan tidak mungkin cita-cita kesejahteraan bangsa hanyalah ilusi belaka. Tidak ada patokan yang bisa digunakan untuk meramalkan terjadinya kemakmuran di bumi nusantara. Apalagi, pembangunan yang dilaksanakan pemerintah sekarang ini tidak mempunyai rencana sama sekali. 

“Pembangunan di Indonesia sekarang tidak memiliki planning sama sekali, berbeda dengan zaman Soeharto. Seharusnya disusun program yang baku sehingga siapapun yang melanjutkan pemerintahan sekarang dan seterusnya tinggal melanjutkan program yang sudah ada. Kenapa, karena yang melanjutkan itu tidak akan berkutat dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, harus ada lagi repelita, harus ada rencana pembangunan. Jangan sampai karena presiden dan kementerian baru, kebijakan pun menjadi baru dan melupakan pondasi yang lama,” tegasnya.  

Ia mencontohkan pada Kementerian Pendidikan yang setiap berganti menteri terjadi pergantian kurikulum. Akibatnya, buku-buku pelajaran pun harus diganti sehingga sangat menyulitkan masyarakat bawah. Zaman Presiden Soeharto, buku jarang diganti-ganti sehingga bisa diberikan kepada generasi berikutnya.. Sementara sekarang, selain kurikulum selalu berubah setiap pergantian kabinet, buku-buku pelajaran pun dirancang untuk sekali pakai saja.

“Kurikulum terus berubah menyesuaikan selera menterinya sehingga bongkar pasang terus. Padahal kalau dilihat secara cermat, sebenarnya materi akademik memang terus berkembang tetapi tidak harus semuanya diubah. Artinya, memang secara prinsipil ada beberapa perubahan di bidang akademik tetapi harus tetap memperhatikan basic materi pendidikan yang harus tetap ada. Mungkin perlu diadakan penambahan-penambahan terhadap perubahan baru di bidang akademis,” katanya.

Dari kacamata pengusaha, lanjut Jro Gede, pemerintah seharusnya mengutamakan pembangunan infrastruktur. Utamanya, infrastruktur yang bisa mempermudah aktivitas masyarakat. Yaitu sarana dan prasarana yang diperlukan untuk rakyat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Karena sebenarnya masyarakat memiliki potensi masing-masing yang karena terkendala kurangnya infrastruktur membuat mereka sulit mengubah hidupnya.

Potensi tersebut, menurut Jro Gede terletak pada sosok generasi muda Indonesia. Syaratnya, generasi muda harus memiliki semangat tinggi untuk membangun bangsa. Dengan menggunakan dan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di sekitarnya, generasi muda memiliki kemampuan untuk menguasai dunia. Apalagi kemajuan teknologi internet memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi yang mendukung kemajuan generasi muda.

“Anak-anak muda tidak seharusnya hanya berkeinginan untuk menjadi karyawan atau PNS. Mereka harus berusaha menjadi wirausaha mandiri sehingga bisa menggandeng beberapa orang dan membuka lapangan pekerjaan bagi rakyat agar tidak bergantung kepada pemerintah. Tidak perlu menjadi pegawai dan lebih baik menjadi entrepreneur untuk membantu kesejahteraan bangsa ini,” tandasnya.

Jro Gede yakin, sektor pariwisata masih  merupakan penyumbang terbesar bagi kemakmuran Indonesia di masa mendatang. Mengingat potensi Indonesia sebagai sebuah negara yang menawarkan keindahan yang sangat eksotis dan menarik wisatawan. Baik di darat, laut dan udara, pariwisata Indonesia menawarkan sesuatu yang berbeda. Tinggal pemerintah yang harus menyediakan infrastruktur pendukung. “Karena kami yang swasta tidak mampu melakukan itu,” imbuhnya.

Pria kelahiran Bangli, 22 Januari 1943 ini, menyarankan agar pemerintah membentuk “poros” pariwisata antar kementerian. Poros pariwisata tersebut terdiri dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan serta Kementerian Pariwisata dengan mengoptimalkan tugas masing-masing. Kementerian Kelautan dan Perikanan menjaga kelestarian laut beserta hasilnya, Kementerian Perhubungan menyediakan saranan dan prasanana infrastruktur yang lengkap dan memadai. “Semua itu dibawah koordinasi Kementerian Pariwisata,” tegas pria yang bersama istrinya menjadi “mandor” pembangunan resort-nya itu.  

Namun, Jro Gede menyayangkan kepedulian pemerintah yang sangat kecil terhadap dunia pariwisata. Beberapa kali proposal terkait pengembangan pariwisata yang diajukannya tidak dipedulikan Menteri Pariwisata. Padahal masukan-masukan yang diberikannya untuk kepentingan memajukan pariwisata Bali dan Indonesia pada umumnya. Sebagai pelaku industri pariwisata, ia sangat menguasai kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh Indonesia.

Selalu Kelihatan Premium

Sebagai pengelola hotel di salah satu kawasan pariwisata tersibuk di dunia, Jro Gede memiliki berbagai kiat. Pengalaman puluhan tahun membuat ia tahu betul inovasi apa yang harus dilakukannya. Salah satunya adalah menghadirkan manusia Bali yang utuh di dalam hotelnya. Tidak hanya sekadar pelayan dan karyawan hotel yang menggunakan seragam dengan adat Bali, namun ia juga menghadirkan budaya Bali dalam hotel lengkap dengan pura besar sebagai tempat ibadah bagi karyawan yang beragama Hindu.

“Kebijakan saya adalah bahwa sebuah hotel harus selalu kelihatan premium. Inovasi yang kita lakukan salah satunya dengan all in inclusive services. Selain itu, kami selalu menghaturkan sesajian yang lengkap di Pura didalam hotel yang dapat disaksikan langsung oleh tamu. Pura di hotel kami bukanlah suatu pajangan tetapi merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu di Bali Tropic dan juga merupakan tempat untuk memperkenalkan dan mempromosikan budaya dan tradisi Bali bahkan pada hari-hari tertentu kami melaksanakan upacara yang cukup besar yang dapat menarik perhatian para tamu yang menginap” katanya.

Langkah-langkah inovasi yang dilakukan Jro Gede sangat membantu dalam menjaga Bali sebagai tujuan wisata dunia. Bali yang merupakan “sepotong surga yang tertinggal di bumi” setiap tahun di kunjungi oleh jutaan wisatawan dari seluruh dunia untuk menikmati keindahannya. Banyak di antara wisatawan yang tinggal berbulan-bulan atau bahkan menetap seumur hidup dan berbaur dengan kehidupan masyarakat asli Bali.

Sebagai pengusaha asli Bali yang tetap kokoh mempertahankan tradisi Bali, Jro Gede sangat serius menjaga tradisi Bali dan melebur dengan ajaran agama yang diyakininya. Semangatnya semakin tinggi, ketika di sekelilingnya banyak orang-orang asing yang “lebih” Bali dari orang yang terlahir di Pulau Dewata tersebut. Ia sadar, orang Bali harus kokoh dan kuat dalam memegang dan mempertahankan budayanya dan tidak terpengaruh budaya asing. 

Semangat untuk mempertahankan budaya asli Bali terus digelorakan oleh tokoh pariwisata yang sangat idealis ini. Berbagai ide dan gagasan dituangkannya, salah satunya melalui pembangunan Bali Tropic Resort & Spa yang dibangun pada tahun 1988. Ia merancang dan mengawasi (bersama sang istri-Jro Istri Karang Sumerti Suarshana) proses pembangunannya yang disesuaikan dengan filosofi Bali yang diyakininya, “TRI HITA KARANA”.

Jro Gede membangun resort di tepi pantai tersebut dengan menggunakan konsep Tri Hita Karana, Asta Bumi dan Asta Kosala-Kosali. Sedangkan fasilitas di dalamnya disesuaikan dengan standar hotel internasional berbintang lima. Dengan begitu, wisatawan asing dapat menikmati keindahan dan keunikan arsitektur serta nuansa Bali tetapi menggunakan fasilitas hotel bintang lima.

“Kami memiliki 150 kamar dan mungkin akan terus ditambah. Karena banyak divers yang tinggal lama di sini dan menyebarkan promosi gratis dari mulut ke mulut,” ujar kakek dengan 4 orang cucu ini yang berharap kelak salah satu cucunya menjadi seorang dokter. Ia ingin suatu saat, Indonesia juga memiliki rumah sakit yang menjadi rujukan bagi pasien di luar negeri. “Selalu Singapura atau Thailand. Makanya saya ingin membangun sebuah rumah sakit di Bali yang komplit. Tetapi belum terwujud meskipun idenya sudah ada,” tambahnya.

Dalam membangun hotel, Jro Gede menyesuaikan dengan idealismenya. Ajeg Bali adalah mempertahankan budaya Bali seutuhnya, tetapi menggunakan konsep internasional. Untuk membangun gazebo yang menghubungkan antar cottage, ia mengukur dengan Asta Bumi menggunakan ukuran tapak kaki. Selain menerapkan ajaran agama, ia selalu ingin mempertahankan budaya asli Bali tetap seperti sedia kala. 

Tri Hita Karana, menurut Jro Gede adalah tiga aspek yang akan membuat hidup manusia berbahagia. Aspek pertama adalah hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, kemudian hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Ketiga aspek tersebut betul-betul dijaga agar terjalin dengan harmonis dan seimbang. Dalam agama Hindu, untuk menjaga keselarasan dan keseimbangan tersebut setiap tahun diselenggarakan upacara besar dan tiap hari upacara kecil. 

Tidak berhenti di situ, Jro Gede menerapkan filosofi Tri Hita Karana dalam mengelola hotel. Salah satunya dengan membangun instalasi pengolahan air limbah di Bali Tropic Resort & Spa. Di mana, limbah yang dihasilkan akibat aktivitas tamu hotel seperti mandi, buang air dan lain-lain, diolah kembali menjadi pupuk kompos dan air bersih untuk menyiram tanaman di halaman hotel.

“Airnya layak konsumsi. Ikan yang kami pelihara menggunakan air hasil olahan limbah berkembang dengan baik. Pupuk yang dihasilkan juga menyuburkan tanaman di hotel ini. Jadi filosofi Tri Hita Karana  saya terapkan di sini sehingga limbah yang keluar dari aktivitas Bali Tropic Resort & Spa tidak akan mencemari lingkungan,” ungkap Dr.. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA..

Biodata:

Nama: Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA

Tempat tanggal lahir: Desa Undisan, Klod-Bangli, 22 Januari 1943

Nama Istri: Jro Istri Karang Sumerti Suarshana

Nama Ayah: I Made Bude

Nama Ibu: Ni Wayan Janji

Nama Anak-anak:

  • Ni Luh Putu Sri Utami
  • I Made Arya Karang Utama Yasa

Nama Cucu:

  • I Gede Eka Dharma Putra Karang S. Suarshana
  • Komang Astiti Bhakti Adnyana Mahardika Putra Karang S. Suarshana
  • Ketut Putra Dalem Krishnayoga Karang S. Suarshana
  • Putu Keisha Putri Karang Suarshana (cucu terakhir dari putra yang kedua)

Pendidikan:

  • Program S2 Sales & Marketing Pariwisata Global Institute of Management
  • Gelar Doctor Honoris Causa (HC) dalam bidang Budaya & Pariwisata dari World University, USA yang diterima di London, Inggris

Pekerjaan:

  • Pendiri dan Presdir PT Gumi Bali (2002)
  • Pendiri dan Managing Director Bali Tropic Resort & Spa (1988-sekarang)
  • Pendiri dan Direktur Wisata Nusa Damai Transport (1982-sekarang)
  • Pendiri dan Direktur Suartur (1981-sekarang)

Organisasi:

  • Wakil Ketua Majelis Perimbangan Partai Demokrat Provinsi Bali (2006-sekarang)
  • Ketua Panitia Pengembangan Desa Miskin/Teringgal menjadi desa Ekowisata “Taman Sari” di desa Undisan, Bangli (2006-sekarang)
  • Ketua Tim Sukses SBY-Kalla (2004)
  • Ketua Bali Travel Mart (2000)
  • Pendiri Yayasan Ibu Pertiwi (2000)
  • Sekjen Bali Promo/Promotor Resque Program Pariwisata Bali (1998-1999)
  • Ketua Konferensi ASITA Nasional (1986)
  • Ketua ASITA Bali (1985-1987)

Penghargaan:

  • Best Quality Service Of The Year untuk Bali Tropic Resort & Spa dari International Business & Company Award 2010 (bulan Juli 2010)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (Emerald Medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Penghargaan Red Star Award dari ITS Reisen (salah satu travel agent terbesar di Jerman) tahun 2009
  • Penghargaan ASEAN Green Hotel Award 2010-2011 untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Sertifikat Emas dari Tim Verifikasi Standarisasi Keamanan dan Keselamatan Hotel untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (gold medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2008)
  • Satya Lencana Emas – Karya Karana Pariwisata Tertinggi (Juara Pengembangan Pariwisata dari Pemerintah Provinsi Bali) tahun 2007
  • Penghargaan ASEAN Green Hotel Award 2008-2009 untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (gold medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan One of The Best 99 Favorite Hotel in The World untuk Bali Tropic Resort & Spa oleh Holiday Check, Berlin – Germany (tahun 2007)
  • Sertifikat Emas dari Tim Verifikasi Standarisasi Keamanan dan Keselamatan Hotel untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (silver medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2006)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (bronze medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2005)
  • Juara I (Medali Emas) Rumah Luga Pedesaan untuk Puri Karang (tahun 1996)
  • Juara II (Medali Perak) Rumah Luga Pedesaan untuk Puri Karang (tahun 1995)
  • Juara II (Medali Perak) Rumah Perkotaan se provinsi Bali untuk Suartur (tahun 1990)

 

Johan Wang

No Comments

Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya

Mengalami Keajaiban dan Mukjizat Hidup Diwujudkan pada Miracle Agency

Beberapa kali kejadian ajaib dialami oleh Johan Wang, Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya. Kejadian ajaib tersebut selalu berhubungan dengan keselamatan dirinya sehingga nyawanya berada di ujung tanduk. Salah satunya, ketika masih  kuliah tahun 1999, ia terserempet metromini saat naik motor ke kampus. Celakanya, ia jatuh ke kolong truk kontainer yang sedang melaju. Tak ayal, tubuhnya terseret truk kontainer sejauh sepuluh meter.

Meskipun demikian Johan Wang selamat. Ia “hanya” mengalami patah tulang di hampir sekujur tubuhnya. Setelah tergolek di rumah sakit selama satu tahun lamanya, ia dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Sejak itulah, ia sangat antipati terhadap obat dan dokter. Trauma tersebut terus dibawanya hingga bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga suatu saat, vonis dokter menyatakan dirinya suspect leukemia dan harus menjalani perawatan intensif.

“Ini keajaiban dan mukjizat untuk kali kedua setelah dilindas kontainer. Suami saya dinyatakan menderita leukemia akut saat menjalani pengecekan di Singapura. Peluang untuk sembuh diperkirakan hanya 30 persen kalau tidak segera ditangani. Rumah sakit di sana mengajukan dana Rp1 miliar untuk perawatan suami saya. Tetapi saya bersikeras membawanya pulang ke tanah air,” kata istrinya.

Ia dan suaminya kemudian kembali ke Indonesia untuk menjalani pengobatan herbal. Berbagai macam obat-obatan herbal dari seluruh penjuru nusantara dicoba demi kesembuhan sang suami. Ratusan juta rupiah telah dihabiskan untuk pengobatan yang ternyata tidak membuahkan hasil tersebut.

Bukannya berkurang, leukemia yang diderita Johan Wang semakin parah. Dari hidung dan gusinya terus menerus terjadi pendarahan, sementara di sekujur tubuhnya timbul bercak-bercak besar kemerahan. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi kesembuhan suaminya.

“Tuhan memang Maha Baik. Suatu hari, Dia mengirimkan penderita leukemia kronis ke rumah. Orang tersebut menyarankan untuk tetap konsultasi ke dokter sebagai pegangan meskipun menggunakan herbal untuk pengobatan. Kami menurutinya dan mempercayakan pengobatan kepada dokter yang disarankan orang tersebut,” tandasnya.

Johan Wang, kemudian disarankan untuk menjalani kemoterapi di RS Ciptomangunkusumo  oleh dokter tersebut. Satu kali kemoterapi dan menghuni ruang isolasi selama 45 hari tidak menunjukkan hasil maksimal. Mungkin penyebaran sel kanker yang sudah mencapai paru-paru menjadi penyebabnya. Bahkan, sel kanker didiagnosa telah menguasai 90 persen darah yang beredar di tubuh. Dikhawatirkan, apabila sel kanker sudah mencapai otak nyawa Johan  Wang tidak tertolong.

Sekali lagi, Johan Wang harus mengulang proses kemoterapi dan isolasi dari awal. Sang istri hanya diperbolehkan menunggui suaminya dari luar ruangan. Tanpa henti, ia memanjatkan doa untuk kesembuhan Wang sembari mengasuh anaknya yang kala itu belum genap berumur satu tahun. Perlahan namun pasti, tanda-tanda kesembuhan mulai nampak. Setelah satu tahun tergolek di rumah sakit, Johan Wang dinyatakan terbebas dari leukemia.

“Puji Tuhan, ini benar-benar keajaiban dan mukjizat dari-Nya. Kebahagiaan dan rasa syukur tiada tara kami rasakan. Apalagi setelah keluar dari rumah sakit, kita masih mendapat bonus jalan-jalan ke Turki dari Prudential. Semua berkat mukjizat Tuhan, mulai terlindas kontainer sampai sembuh total dari leukemia, tanpa campur tangan Tuhan tidak akan terjadi. Oleh karena itu, saat bulan Januari 2011 membuka perusahaan, kita namakan Miracle Agency,” tuturnya.

Berkat Tuhan pula yang membuat brand Miracle Agency dari perusahaan PT Jocelyn Anugrah Jaya dengan cepat berkembang. Dengan persaudaraan dan pertemanan yang sangat kuat, dalam waktu singkat telah memiliki 1000 agen dengan 110 leader. Bahkan cabang perusahaan pun berdiri tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Bangka, Jambi, Sungai Liat, Bandung dan lain-lain. Tidak hanya itu, dari 220 insurance agency di seluruh Indonesia Miracle Agency menduduki peringkat 10 nasional.

Membantu Orang

Awalnya Johan Wang tidak begitu tertarik dengan dunia asuransi. Sebagai perantau dari Jambi dan kuliah di Jakarta, ia indekos di kamar berukuran dua kali tiga meter. Setelah lulus kuliah ia bekerja sebagai staf auditor. Salah satu teman kos Johan bernama Heri, dilihatnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ternyata Heri adalah agen perusahaan asuransi Prudential.

“Suami saya melalui Heri kemudian bergabung dengan Prudential. Meskipun awalnya ia menyangka MLM, tetapi ia berketetapan hati untuk bergabung dan bekerja sebagai agen asuransi. Ia pun resmi mengundurkan diri dari perusahaan lama –meskipun sempat diiming-imingi kenaikan gaji- tetapi ia sudah bulat keputusan untuk bergabung di Prudential. Di sini ia memiliki misi yang luar biasa, yakni membantu orang menyiapkan masa depan mereka,” kisahnya.

Landasan misi mulia tersebut, lanjutnya, membuat karier Johan Wang dengan cepat meroket. Hanya dalam tempo tujuh tahun, ia sudah menduduki posisi paling atas sebagai agency manager (2008). Hampir setiap tahun perusahaan mengeluarkan bonus untuk Johan Wang berupa jalan-jalan ke luar negeri. Selain itu, penghasilan besar dari asuransi membuatnya mampu membeli rumah, mobil dan lain-lain.

Bahkan, saat dinyatakan suspect leukemia pun penghasilan Johan Wang tidak berkurang. Uplink managernya menjamin bahwa usaha sales asuransi yang dijalankannya tetap berjalan seperti biasa. Bisa dibilang, inilah bisnis yang menjadi pasif income sebenarnya. Karena saat Johan sakit, biaya operasional –seperti cicilan rumah, mobil dan biaya hidup keluarga- sebesar Rp60 juta per bulan tertutupi.

“Jadi saya tidak perlu menjual rumah atau asset lain sama sekali. Apalagi, semua biaya pengobatan suami saya benar-benar ditanggung oleh Prudential. Untungnya, perusahaan memiliki kebijaksanaan apabila nasabah menderita penyakit akut seperti kanker, leukemia dan lain-lain, polis diberikan secara cash. Yang lebih menenangkan lagi, saat suami jatuh sakit teman-teman sudah siap menggalang dana. Tetapi berkat Prudential semua telah terbantu,” kisahnya penuh syukur.

Di saat-saat sedang menderita cobaan hidup seperti itu, Johan Wang dan istrinya menyadari siapa teman dan sahabat sejati. Disamping ada yang dengan sukarela memberikan bantuan materi, ada juga yang mengetahui kondisinya lantas meninggalkan pasangan ini begitu saja. ”Kalau lagi senang, semua teman berdatangan tetapi ketika kita jatuh satu per satu meninggalkan kita. Nah, saat Johan sakit itulah baru kelihatan siapa teman-teman kita,” imbuhnya.

Melalui Miracle Agency, pasangan Johan Wang dan istri, membangun kesuksesan bersama. Mereka tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi tetapi juga membuat banyak orang sukses. Dengan berbisnis di agen asuransi Prudential kesempatan untuk memperbaiki kehidupan terbuka lebar. Ia mengisahkan bagaimana banyak anak buahnya yang memiliki keinginan kuat untuk maju berhasil meraih impiannya.

Apalagi dalam menjalankan bisnis agen asuransi Prudential relative tidak memerlukan modal sama sekali. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk maju mencapai impian yang dicita-citakan mencapai kehidupan yang lebih baik. Seorang agen hanya dituntut untuk ulet, memiliki tujuan yang jelas dan siap dengan risiko yang sangat kecil.

“Risikonya hanya menghadapi penolakan dari nasabah, itu saja. Dan penolakan akan tidak menjadi masalah kalau kita memiliki goal dan dream. Saya bilang belum ada bisnis seluar biasa Prudential. Tanpa modal, nilainya ratusan juta, hasilnya juga luar biasa, dengan risiko hanya penolakan. Saya dalam kurun waktu tujuh tahun sudah mampu memperoleh income diatas Rp100 juta per bulan. Padahal modal awal hanya Rp6 ribu untuk materai,” tegasnya.

Risiko Penolakan

PT Jocelyn Anugrah Jaya dibawah Johan Wang sebagai Direktur Utama setelah mencapai ranking 10 besar agen asuransi menetapkan untuk masuk 5 besar dalam beberapa tahun ke depan. Tetap bervisi untuk membantu orang mencapai kehidupan lebih baik, perusahaan mengalami akselerasi kemajuan yang sangat pesat. Beberapa bulan berjalan, perusahaan telah mencatatkan omzet rata-rata Rp1,5 miliar per minggu.

“Saya cuma menerapkan kekeluargaan, kekompakan dan lain-lain. Untuk merangsang sales, kita membuat kontes jalan-jalan, ke Hongkong, Phuket dan lain-lain. Atau angpao bagi mereka yang berhasil mendapatkan tiga nasabah. Yang jelas, karena percepatan usaha kita sangat luar biasa, kami yakin tembus sepuluh besar. Pokoknya tetap mengusung visi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan menjadi lebih tinggi. Bring miracle for every family yaitu memberikan keajaiban bagi setiap agen dan leader yang bernaung dalam Miracle Agency. Sementara bagi nasabah banyak manfaat yang mereka rasakan dari produk-produk Prudential,” tegasnya.

Untuk mencapai visi tersebut, selain mengadakan kontes dan jalan-jalan perusahaan juga memberikan bantuan berupa training dan pelatihan. Tujuannya untuk membekali para agen agar mereka memiliki skill yang cukup untuk menghadapi tantangan ke depan, menguasai produk yang dijual serta motivasi yang tinggi untuk maju. Ibarat handphone, mereka di-charge untuk menambah stamina sebelum terjun dalam persaingan pasar asuransi yang semakin sengit.

Selain itu, Johan Wong menargetkan untuk membawa perusahaan mencapai lima besar agen asuransi di Indonesia. Karena dengan predikat lima besar berarti akan semakin mudah dalam mencari nasabah. Selain itu, banyaknya produk asuransi dari Prudential yang memenuhi kebutuhan nasabah juga memudahkan tugas agen asuransi. Di sisi lain, manfaat asuransi bagi nasabah juga sangat banyak. Mulai merancang masa pensiun, anak sekolah, sakit parah dan lain-lain dapat tercover asuransi.

“Masyarakat harus tahu bahwa setiap tahun selalu ada penyakit baru yang terdeteksi, karena mutasi penyakit semakin beragam. Nah, nasabah kalau sudah sakit, ujung-ujungnya masuk rumah sakit juga. Kenyataannya banyak orang di rumah sakit yang tidak tertolong gara-gara kesulitan dana. Di situlah pentingnya asuransi, kalau terjadi apa-apa tidak perlu menjual asset yang dengan susah payah dikumpulkan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, secara pekerjaan bekerja sebagai agen asuransi cukup mudah. Bagi agen yunior, untuk mencapai kesuksesan cukup melakukan persis seperti yang dikerjakan oleh para seniornya. Karena para senior telah berpengalaman dan membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya dalam bisnis ini telah menghasilkan limpahan materi bagi keluarga.

Selain itu, bagi generasi muda yang belum memiliki pekerjaan tetap, bekerja di perusahaan asuransi seperti Prudential sangat menjanjikan masa depan. Penghasilan sebagai agen asuransi mampu mencukupi kebutuhan hidup, dengan peluang karier yang terbuka lebar serta kesempatan keliling dunia. Agen asuransi juga mempunyai kesempatan untuk memiliki kebebasan financial tidak terbatas dengan keikutsertaannya pada program perusahaan tempatnya bekerja.

“Untuk yang sudah bekerja di Prudential, saya sarankan agar mereka mengikuti sistem saja untuk sukses. Kunci suksesnya cuma copy paste, mengikuti omongan leader karena mereka sudah membuktikan. Seperti saya bisa beli rumah, mobil dan lain-lain yang merupakan hasil dari pekerjaan sebagai agen asuransi. Apalagi untuk ke depan, market kita masih luar biasa. Karena selama masih ada kehidupan –kelahiran, pertumbuhan penduduk dan lain-lain- asuransi akan terus diperlukan. Sementara tenaga pemasaran asuransi pun masih sangat sedikit, dan yang harus diingat adalah risiko pekerjaan ini hanya sekadar penolakan saja,” katanya.

Profil PT Jocelyn Anugrah Jaya

PT Jocelyn Anugrah Jaya merupakan salah satu kantor manager mandiri (Agency) dari PT Prudential Life Assurance yang didirikan pada tanggal 15 April 2010 oleh Bapak Johan sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan dan disyahkan dengan akte notaris Hannywati Gunawan, SH, No 34. Perusahaan bergerak di bidang jasa khususnya asuransi jiwa dan mulai beroperasi pada tanggal 3 Januari 2011, beralamat di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan.

Perusahaan lebih di kenal dengan brand Miracle Agency untuk mempermudah komunikasi antara pihak Prudential (kantor pusat) dengan agency. Karena setiap agency memiliki kode kantor yang berbeda satu dengan lainnya dan bernaung dalam satuan region.

Miracle Agency di bawah pimpinan Johan Wang telah banyak melahirkan leader – leader yang solid dan berkomitmen dari semua tingkatan jenjang karier. Antara lain Unit Manager (UM), Senior Unit Manager (SUM) dan tingkatan yang paling tinggi yaitu Agency Manager (AM). Untuk sebuah agency baru dengan begitu banyaknya leader merupakan suatu kekuatan group yang besar. Selain di Jakarta, Miracle Agency juga memiliki kantor cabang di Bandung, Jambi, Bangka, Pangkalpinang dan Sungai Liat.

Visi dan misi PT Jocelyn Anugrah Jaya

Visi

Menggapai semua kesuksesan dengan satu tujuan demi keberhasilan perusahaan dalam perkembangannya

Misi

Menjadi agency terbaik dan memiliki suatu komitmen untuk berkembang terus dan melampaui semua pengharapan yang ada

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari misi, Miracle Agency mempunyai landasan sebagai suatu kekuatan dasar berdiri dan berkembangnya perusahaan sebagai berikut:

  • Semangat untuk menjadi yang terbaik
  • Organisasi yang memberikan kepada orang lain untuk belajar
  • Bekerja sebagai suatu keluarga

 

Hadi Sukarno

No Comments

PT Urip Lancar Abadi

Menaklukkan Ibukota dengan Ijazah SLTP

Kerja keras, berusaha mencari peluang dan selalu berdoa adalah kunci kesuksesan. Ketiganya bisa dilakukan oleh siapa pun yang menginginkan kebaikan dalam hidupnya. Tak peduli latar belakang pendidikan dan keluarganya, asalkan memiliki kemauan untuk maju, jalan kesuksesan akan terbentang.

Perjalanan hidup Hadi Sukarno bisa menjadi contoh bagaimana perjuangan membuahkan kesuksesan. Ia merantau dari daerah asalnya di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta ke ibukota tanpa modal apapun. Menumpang pada tetangganya yang bekerja di Bank Indonesia, ia bertarung memperjuangkan hidupnya di ibukota. Modalnya, selembar ijazah Sekolah Tekni (ST) yang baru saja diperolehnya pada tahun 1969.

“Saya agak minder karena setamat Sekolah Teknik, setara dengan SLTP tidak mampu melanjutkan sekolah lagi. Maka, pada hari Senin Kliwon, 1 Januari 1971  saya berangkat ke Jakarta. Saya ikut tetangga yang karyawan BI dan tinggal di Grogol. Saya bekerja pada tetangganya yang memiliki bengkel,” kata pemilik PT Urip Lancar Abadi ini.

Karena baru lulus tingkat SLTP, perawakan Karno –panggilan akrabnya- masih  sangat kecil. Oleh karena itu, ia hanya diterima bekerja untuk sekadar membantu-bantu di bengkel seperti mengepel, menyeterika dan antar jemput anak sekolah. Ia “tidak dianggap” untuk bekerja di bengkel yang harus mengangkat mesin-mesin yang berat. Meskipun demikian, ia tidak berputus asa dan tetap bertekad untuk bekerja di bengkel. Di saat tugas rumah tangga selesai, ia akan membantu pekerjaan di bengkel.

Cita-cita Karno untuk bekerja di bengkel baru tercapai tiga tahun kemudian. Melihat pekerjaan yang dilakukannya dalam waktu singkat kariernya pun menanjak. Ia sempat menjadi Kepala Bengkel PT Rosiba Sakti meskipun banyak montir yang lebih piawai darinya. Perusahaan tempatnya bekerja memiliki angkutan peti kemas di Tanjung Priok dan ia diangkat sebagai Kepala Operasional Peti Kemas.

“Tahun 1975, saya menikah dan memiliki anak pertama tiga tahun kemudian. Anak kedua saya lahir pada tahun 1984 dan tahun 1988 kami pindah ke Bekasi.  Akibat kepindahan itu, saya terpaksa mengundurkan diri secara baik-baik dari pekerjaan karena terlalu capai. Rumah di Bekasi sementara pool-nya di Kapuk setiap hari harus bolak-balik, lumayan menguras tenaga,” ungkapnya.

Setelah tidak bekerja Karno belajar mandiri. Dari pesangon dan uang simpanan yang dimiliknya ia membeli sebuah mobil. Dengan mobil tersebut, ia bergabung di Tanjung Priok untuk menawarkan jasa antar barang. Saat itu, ia sering mengantarkan barang di PT IFF. Akhirnya karena melihat penampilan Karno yang selalu rapi dan necis, ia ditarik perusahaan tersebut untuk mengantarkan produk kepada customer-customer-nya.

Sebuah peristiwa yang terjadi pada PT IFF mengubah perjalanan hidup Hadi Sukarno. Yakni ketika barang produk perusahaan baru selesai dikerjakan pukul 20.00 dan harus dikirim ke Surabaya untuk digunakan produksi pada pukul 13.00 keesokan harinya. Biasanya, untuk pengiriman barang keluar kota digunakan perusahaan ekspedisi yang biasanya tutup pukul 16.00. Akhirnya diputuskan Karno yang akan mengirimkan barang tersebut ke Surabaya.

“Tugas tersebut saya terima. Dengan menyewa kendaraan yang biasa membawa barang rute Jakarta – Surabaya, barang diterima pukul 11.15 siang. Saat perusahaan di Jakarta telepon, pihak Surabaya mengonfirmasi kalau barang sudah diterima. Atas prestasi tersebut, saat sampai di Jakarta seluruh karyawan sampai general manager yang orang Inggris memberikan ucapan selamat. Selain itu, diputuskan bahwa mulai hari itu pengiriman ke Surabaya diserahkan kepada saya, tidak lagi menggunakan jasa perusahaan ekspedisi,” kisahnya.

Mendirikan Perusahaan

Meskipun sudah “memegang” pengiriman barang PT IFF, pria kelahiran Wonosari, 24 Agustus 1952 ini tetap bekerja secara pribadi. Belum pernah terpikirkan untuk mendirikan perusahaan sendiri dan terpaksa menggunakan PT Rosiba sebagai bendera. Untungnya, pemilik perusahaan tersebut masih  berbaik hati terhadap anak buah kesayangan yang sudah keluar tersebut.

“Jadi namanya PT Rosiba, tetapi proyek yang mengerjakan saya. Kalau urusan keuangan saya tinggal minta pada bos Rosiba. Suatu saat bos sedang ke luar negeri, sementara saya butuh uang sehingga tidak bisa mengambil. Dia menyuruh saya untuk membuat PT sendiri dan membuat rekomendasi ke Bukopin. Akhirnya saya menggunakan jasa notaris dan mengajukan dua nama perusahaan ke Departemen Kehakiman, PT Lancar Abadi dan PT Urip Lancar. Kedua nama tersebut sudah ada maka Departemen Kehakiman mengusulkan nama PT Urip Lancar Abadi. Jadilah nama itu sampai sekarang,” tuturnya.

Seiring perjalanan waktu, perusahaan milik sulung dari lima bersaudara pasangan Darto Pawiro dan Karmi ini semakin berkembang. Salah satunya adalah pemeringkatan yang dilakukan oleh PT Unilever setiap tiga bulan sekali bagi para supplier. Check record tersebut digunakan sebagai indikator untuk melihat ketepatan pengiriman barang untuk perusahaan tersebut dari supplier.

Dari data yang ada, terlihat bahwa PT IFF yang menggunakan jasa pengiriman milik Karno –saat itu belum memiliki perusahaan- menjadi nomor satu dalam ketepatan. Oleh karena itu, direktur PT IFF tidak segan-segan untuk merekomendasikan angkutan tanpa nama miliknya untuk mengangkut barang-barang mereka. Akhirnya, perusahaan-perusahaan besar menggunakan jasa perusahaan meskipun berdasarkan iklan dari mulut ke mulut.

“Saya bisa ‘menguasai’ angkutan barang ke Surabaya dari perusahaan-perusahaan tersebut yang biasanya menggunakan jasa ekspedisi. Saking tepatnya, Wing Surya Group di Surabaya memberikan julukan kepada PT Urip Lancar Abadi sebagai perusahaan one day service. Tetapi saya bilang kepada mereka, bahwa saya tidak berani mencantumkan itu meskipun layanan tersebut diakui. Yang jelas, moto saya adalah ‘Kami ada melayani anda’. Saya berusaha untuk memberikan bukti bukan janji,” tegas suami Sumarmi ini.

Menurut Karno, dengan tingkat kondisi jalan sekarang ini, pengiriman barang dari Jakarta – Surabaya melalui darat memakan waktu maksimal 20 jam.  Sesuai dengan tuntutan pekerjaan, dari hanya satu mobil perusahaan mampu membeli beberapa armada lagi. Hingga saat ini, armada yang dimiliki perusahaan mencapai 25 mobil.

Menurut Karno, pasca tahun 2010 banyak perusahaan kelas internasional yang menuntut standar ISO. Tidak ketinggalan, PT Urip Lancar Abadi pun menerapkan ISO bagi perusahaan. Angkutan yang tadinya hanya terdiri atas truk sekarang sudah menggunakan mobil box semua. “Berdasarkan pengalaman, setiap mobil uzur langsung diganti mobil baru, untuk efisiensi. Meskipun mobil banyak, tetapi saya tidak pernah memakai tenaga montir untuk maintenance. Mobil saya sehat semua, kalau perawatan kecil dikerjakan sendiri dan sebelum turun mesin mobil sudah diganti baru,” tandasnya.

Meniatkan untuk Ibadah

Hadi Sukarno sebagai pelaku usaha berharap agar pemerintah memberikan rasa aman terhadap dunia usaha. Bagi pengusaha, kebutuhan terhadap keamanan yang kondusif sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usahanya di Indonesia. Meskipun demikian, kondisi aman tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kondisi politik di tanah air.

“Banyak perusahaan yang ‘pura-pura’ bangkrut padahal memindahkan perusahaannya ke luar negeri. Harapan saya tetap keamanan saja, karena kalau kondisi sudah aman mudah-mudahan banyak investor datang dari luar negeri. Ke depan, mudah-mudahan saya akan membawa perusahaan menjadi besar, profesional dengan meniatkan diri untuk ibadah. Karena saya bisa merekrut orang-orang yang sedang menganggur, membantu anak yatim dan lain-lain,” tegasnya.

Saat ini, Karno berusaha untuk membantu anak-anak yang kurang mampu tetapi memiliki kemampuan tinggi. Ia memiliki sembilan anak asuh sembilan yang dua di antaranya sedang menempuh pendidikan tinggi. Selain itu, ia juga berusaha untuk merekrut anak-anak kampung yang memiliki kemampuan tetapi tidak ada biaya untuk mengembangkan kemampuannya.

Sepanjang bulan Ramadhan, Karno bekerja sama dengan Polres setempat memberikan takjil bagi orang-orang yang berpuasa. Kegiatannya tersebut mendapat dukungan penuh dari gereja tempatnya beribadah. “Tadinya saya hanya ikut-ikutan bersama Polres untuk memberikan takjil kepada para pengendara yang melintas,” imbuhnya.

Setelah berlangsung beberapa saat, akhirnya Karno memutuskan untuk mengadakan bakti sosial selama sebulan penuh dengan memberikan takjil bagi umat muslim yang puasa. Akhirnya pihak gereja menganggarkan dana bakti sosial untuk hal yang sama. “Kalau anggaran bakti sosial gereja itu ada yang untuk orang miskin beragama Kristen dan anggaran bakti sosial untuk umum yang harus disampaikan, seperti takjil ini. Kebetulan ketua seksinya adalah saya,” tambahnya.

Sesuai dengan sikapnya yang selalu berusaha “Berbagi Kasih”, Karno juga menerapkan standar penggajian dan kesehatan yang tinggi bagi karyawan.  Meskipun dikelola secara tradisional, ia memberikan gaji yang melebihi UMR dan menggunakan asuransi kesehatan dengan jaminan lebih tinggi dari Jamsostek, standar Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia.

“Untuk ukuran kesehatan paling unggul karena kita menggunakan asuransi AIA. Karena kita tahu pekerjaan sopir di ekspedisi ini risikonya cukup tinggi. Dengan tanggungan keluarga dan menjadi gantungan mencari nafkah, perlindungan seperti itu layak mereka dapatkan. Bahkan kalau ada karyawan yang sudah keluar pun, asalkan dengan baik-baik mereka boleh menggunakannya. Lha, sudah kita bayar,” kata pengusaha yang baru saja membayar asuransi karyawan sebesar Rp 40 juta ini.

Takjil Kepedulian

Pada dua tahun terakhir ini, jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jalan Jatiluhur Kota Bekasi menyediakan takjil gratis bagi umat muslim yang beribadah puasa Ramadhan. Bekerja sama dengan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Bekasi Kota, takjil gratis disediakan di empat lokasi, yakni Pos Polisi Sumber Arta Jalan KH Nur Ali Kalimalang, di depan Pos Polisi Ahmad Yani Jalan Hasibuan, Pos Polisi Tol Bekasi Timur dan Pos Polisi Bulak Kapal.

Hadi Sukarno sebagai salah satu anggota majelis Gereja Kristen Jawa (GKJ) –bersama anggota majelis lainnya Mudoyo dan Eko Londo- sering turun langsung membagikan takjil. Biasanya disediakan sebanyak 1500 paket bagi pejalan kaki dan pengendara yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing. Berbagai sajian khas Ramadhan seperti bubur kacang hijau, kolak, teh kotak dan air mineral dibagi-bagikan kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.

“Apa yang kami lakukan adalah sebuah kegiatan sosial dan solidaritas bagi sesama sebagai bentuk kepedulian. Kami juga akan mengadakan penjualan sembako murah khusus bagi warga kurang mampu di sekitar gereja di luar jemaat. Sembako yang nilainya sekitar Rp 65 ribu akan kami jual Rp 10 ribu menjelang Lebaran,” katanya.

 

Kondisi tersebut, menurut Kepala Unit Pendidikan Rekayasa (Dikyas) Satuan Lalu Lintas Polresta Bekasi Kota, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Erna RA, membuktikan bahwa solidaritas antarumat beragama di wilayah Kota Bekasi telah berjalan dengan baik. Artinya, berbagi, peduli sesama dan indahnya kebersamaan sebagai solidaritas antarumat beragama di bulan suci Ramadhan, “Telah menjadi sebuah kenyataan,” tegasnya seperti pada harian Sinar Harapan edisi Selasa, 23 Agustus 2011.