Category: Pengusaha

ASEP SUPRIATNA

No Comments

ASEP SUPRIATNA

CV Arkon Super Panel

BELAJAR TENTANG KEJUJURAN DAN TANGGUNGJAWAB

IMG_3140

      Drs. Asep Supriatna, atau biasa dipanggil dengan Asep lahir di Bandung, Jawa Barat, tepatnya pada tanggal 18 Juni 1967. Lulusan IKIP Bandung ini sebenarnya tak ingin menjadi pengusaha, karena profesi sebelumnya seorang guru. Terjunnya ia ke dunia usaha lantaran merasa penghasilannya tak mencukupi untuk memenuhi kehidupan rumahtangganya, terutama membiayai kebutuhan anak-anaknya. “Saya punya anak dua, kesulitan dalam hal biaya anak,” ujarnya. Kemudian, Asep memutuskan untuk mengembangkan usaha. Usaha apa saja. Segala macam bisnis ia coba. Pernah ikut MLM, tapi hasilnya tak memuaskan. Dirinya tak berkembang di bisnis model MLM. Kemudian mencoba di agency asuransi, dagang kerupuk, dagang baju, apapun ia lakukan sesuai dengan lingkungan yang ada.

Suatu saat Asep melihat di lingkungan rumah tinggalnya ada pabrik beton, ia coba  promosikan produk pabrik tersebut, lalu ada konsumen yang tertarik Asep membawa calon konsumen itu ke pabrik, setelah itu ia mendapat komisi dari pabrik. Cuma kelemahan bekerja seperti itu, kata Asep, ketika seseorang sudah tahu pabriknya orang itu akan langsung ke pabrik tanpa lewat perantara dirinya lagi. Akhirnya, Asep meminta ke pabrik jika ada orang yang mau pasang beton dirinya saja yang menangani, dari mulai pengadaan barang hingga pemasang. Dengan demikian, Asep pun menjadi tenaga freelance di pabrik tersebut.   Pekerjaan Asep memuaskan, banyak konsumen yang pesan, walhasil pabrik pun percaya, Asep diijinkan mengambil barang terlebih dulu  dan pembayaran dilunasi setelah barang terpasang.  “Jadi saya modal dengkul. Itu namanya prinsip usaha. Yang namanya modal uang itu prinsip kecil, yang utama itu kejujuran, kepercayaan dan tanggungjawab. Maka ketika saya jujur, pabrik percaya,” tuturnya. Kerja di pabrik itu dilakoninya dalam kurun tahun 2010-2013.

 

IMG_3151

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Asep, bekerja seperti itu bukan tanpa resiko. Kelemahannya, ketika owner perusahaan yang memasang beton komplen karena barangnya kurang bagus, dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Palingan ia sampaikan komplen itu ke pabrik. Tapi dirinya tak bisa langsung mengganti pemasangan. Belajar dari pengalaman tersebut akhirnya Asep berfikir dan ambil keputusan bahwa ia harus bikin pabrik sendiri. Selanjutnya, ia pun membuka pabrik, kualitas ia perbaiki dan akhirnya owner atau konsumen pun puas. “Masalah kualitas teratasi dan banyak orang percaya. Semua saya kerjakan dengan tanggungjawab dan tak semata profit, karena tujuannya memang kita menjual tak cukup sekali tapi harus panjang,” tegasnya.

Dalam babak hidup berikutnya, keberhasilan seperti berpihak pada Asep. Pelanggan meningkat, otomatis produksi pabrik pun meningkat. Dari situ Asep mulai berfikir ingin punya tanah sendiri. Lalu mulailah, sedikit demi sedikit ia kumpulkan uang kemudian membeli sebidang tanah, dan tepat di tahun 2014, Asep pun mempunyai pabrik sendiri dan diberinya nama CV Arkon Super Panel.

“Intinya, yang mau saya sampaikan bahwa usaha itu yang penting ada kemauan, kejujuran, itu modal besar. Makanya kalau orang bilang mau usaha gak ada modal (uang) itu salah besar. Makanya orang gak maju-maju. Cuma berteori, ketika mau usaha bilangnya gak ada modal, gak akan jadi usahanya.” terang pria yang selalu menekankan pada karyawannya bahwa yang utama itu adalah kejujuran.

Menurut Asep, bekerja di pabriknya memerlukan tenaga yang sangat kuat, jadi tidak mungkin sampai usia tua. Oleh karenanya, Asep ingin semua pekerjanya berlaku jujur. Dengan kejujuran nantinya akan bisa buka usaha sendiri karena orang lain percaya pada kita. “Saya arahkan semua seperti itu. Dan, Alhamdulillah saat ini karyawan saya ada yang bisa buka warung, beternak ayam. Soalnya kerja di sini gak mungkin sampai tua, karena disini berat, harus angkat beton dan sebagainya,” tuturnya. Asep juga menekankan pada karyawannya jangan merasa pabrik ini milik orang lain. Anggaplah pabrik ini milik sendiri, kualitas dikontrol sendiri. Prinsipnya begitu, imbuh Asep

IMG_3152

 

Dijelaskan Asep, pihaknya telah bekerjasama dengan dengan perusahaan besar, seperti Waskita, Shanghai, JRP (Jaya Real Property), dan juga dengan individu-individu. Nama Arkon sendiri, kata Asep, bermula dari nama precast, besi jari, yang biasanya disebut arcon. “Itu bahasa sehari-hari orang proyek, ya sudah kita pakai aja nama itu, sekarang malah familiar. Saya gak tahu apa saya salah denger ya sudah kita namain Arkon,” ujarnya.

Penambahan kata super karena Asep berkeinginan produknya harus berkualitas super, lebih baik dari orang lain. Sedang kata panel itu artinya potongan-potongan, yang dimaksud tentu-tentu produknya merupakan bagian-bagian kecil (panel), sebelum pemasangan, maka jadilah nama Arkon Super Panel.  “Saya pernah searching kayaknya nama Arkon belum ada, ada juga Arcon, pakai huruf “C” sedang saya Arkon, pakai “K”. Ya sudah saya pakai nama Arkon, yang penting namanya baru,” katanya. Menurut Asep, soal kualitas produk ia tak sembarangan, karena telah melewati serangkaian uji tes laboratorium PU dan juga ITB. Hal itu dilakukan karena ia butuh bukti fisik sebab perusahaan yang levelnya bagus selalu menanyakan sertifikat uji lab.

Visinya dalam membangun bisnisnya ialah membuat pagar beton yang berkualitas. Sedang misinya adalah pengadaan bahan beton yang berkualitas, peningkatan pembuatan pagar beton berkualitas. Kemudian, peningkatan alat-alat pembuat pagar beton yang berkualitas. Dijelaskan Asep, kalau perusahaan lain mencetak produknya hanya dengan satu molen, perusahaannya memakai dua sampai tiga molen untuk adukan bahan bakunya. Perbedaannya, menurutnya, kalau pakai satu molen adukan biasanya tidak matang. Betonnya mudah pecah.

Kemudian produknya juga memakai obat penguat. “Kalau orang lain mungkin gak mau pakai karena gak mau rugi. Kalau saya, kalau masih ada margin untungnya kenapa enggak,” ujarnya. Kalau tak pakai obat penguat, tambahnya, setahun saja sudah hancur. Beda dengan produknya yang memakai obat penguat hingga 8 tahun masih kokoh. Masih putih, tak berlumut, karena lumut itu tergantung dari bahan bakunya,

p kalau olahannya tak matang, berpori-pori maka akan hitam dan berlumut.  Pembuktiannya beton buatan Asep hingga 5 tahun tidak menghitam, dan masih cerah warnanya.

 Misi lainnya ialah peningkatan kualitas SDM, itu dimulai dari kejujuran dan tanggungjawabnya, agar karyawannya bisa berfikir bahwa kerja di sini tidak sampai tua. Jadi Asep selalu mengarahkan agar lepas dari sini bisa lebih baik lagi. Kemudian, meningkatkan kesejahteraan karyawan perusahaan, memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar pabrik. Misal, perbaikan jalan-jalan kampung sekitar pabriknya dengan limbah beton, yakni serbuk dari sisa pengecoran. Limbah tersebut bila diolah lagi kualitasnya jelek maka digunakan untuk mengecor jalan-jalan di kampung. “Kalau dibuat jalan itu kuat, kokoh. Kalau diolah precast lagi malah gak bagus. Saya gak masalah. Intinya kita memberi manfaat untuk masyarakat sekitar pabrik,” ujarnya

Strategi pemasaran dan inovasi ke depan

Untuk merebut pangsa pasar Asep berupaya terus menjaga kualitas produknya. Menurutnya, yang namanya owner pasti mencari yang terbaik. Makanya menjaga kualitas, menjaga kepercayaan adalah hal penting dalam berbisnis. Selain itu, untuk lebih memperkenalkan produknya ia selalu promo melalui internet, karena kalau konsumen individu biasanya tahu dari internet, sedang perusahaan-perusahaan biasanya mendapat referensi dari Waskita.

Asep menjelaskan bahwa saat ini pemasaran produknya masih terbatas di Bekasi, Jakarta dan Banten, karena jika harus dipasarkan jauh, misal ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, pihaknya masih terkendala biaya transportasi. Nanti akan mahal dibiaya angkutnya. Namun, tak menutup kemungkinan bila suatu saat nanti ada yang minat berjasama dan kita membuka di daerah lain, Asep siap.   Produk-produk Arkon biasanya untuk kebutuhan pabrik, jalan tol, sementara untuk individu masyarakat biasanya untuk memagar wilayah tanahnya. Untuk beton precast hubungannya dengan perusahaan besar, misal pengelola jalan-jalan tol, umumnya

IMG_3159

banyak membutuhkan beton precast. Asep akan mencoba membuat yang lebih besar lagi. Jadi ke depannya ia akan tetap fokus di precast tapi bentuknya dibuat beragam, demikian salah satu inovasinya ke depan.

 

Saat ini jumlah karyawan di pabriknya sekitar 30-an, sedang yang diluar ada sekitar 50 orang. Yang diluar memakai sistem borongan pemasangan. Untuk SDM, Asep mempunyai prinsip bahwa ia mempekerjakan orang lain, dibuat kaya oleh mereka, jadi bukan dirinya yang membayar mereka, mereka yang membantunya. Tanpa mereka Asep mengakui tak bisa apa-apa. “Jadi saya ingin membantu mereka untuk lebih baik di masa depannya,” ujar bapak dari Fikri Alifani (lahir tahun 1996), dan Kania Pinasti Solehah (lahir tahun 1997) ini.

Dirinya selalu menghormati karyawannya. Menurutnya, yang namanya atasan justru bukan dirinya tapi mereka yang kerja. Ia hanya berusaha selalu lebih baik. Walau kadang suka juga marah pada karyawannya tapi marahnya tidak dari hati, marah untuk memotivasi karyawannya agar meningkatkan kualitas kerjanya. Yang jelas, Asep selalu menyayangi karyawannya, karena mereka juga menyayanginya dengan tanggungjawab kerja 24 jam sehari. “Maka, saya malu pada mereka. Semua saya dayagunakan, yang penting kejujuran dan tanggungjawab,” ujar pria yang beristrikan Euis Halimah, mojang Purwakarta ini.

Disinggung soal kempetitor baginya tak ada masalah, karena semua orang berhak membangun bisnis yang sama. Menurutnya yang penting berkompetisi di segi kualitas atau di pemasaran. Konsumen bebas memilih, memakai produk pabrik orang, atau produk pabriknya, yang penting kualitas, ada perbandingan, mana yang bagus, mana yang jelek. Adanya persaingan justru memicu meningkatkan kualitas. Jadi, baginya ambil positifnya saja. Orang bisa lihat perbandingannya. Untuk memenangkan persainagn prosuk sejenis, Asep memiliki rencana ingin mencoba sampah plastik dijadikan krikil sebagai bahan baku beton. Karena bisa jadi dengan bahan baku plastik precast-nya mungkin tak berat.

 

a

Termasuk soal bisnisnya, Asep tak menuntut anaknya harus menjadi penerus di Arkon Super Panel. Biar itu kemauan anaknya sendiri. Yang penting sang anak belajar dulu, karena itu modalnya. Ia tak pernah menekankan, tapi kalau sang anak mau menjadi penerus, silahkan, kalau tidak ya tak masalah. Menurutnya, kerja itu jangan terpaksa. Walau uangnya banyak kalau terpaksa pasti capek. Tapi kalau enjoy, uangnya sedikit pasti nikmat. Jadi, tegasnya, ia tak pernah memaksakan kehendak pada anak-anaknya.

 

Menutup percakapan Asep berpesan, untuk berusaha atau berbisnis itu intinya, pertama, harus belajar dulu. Artinya belajar itu belajar kejujuran, tanggungjawab. Belajar pengetahuan juga perlu, karena jujur tapi tak berpengetahuan itu juga sulit. Kalau yang masih sekolah, sekolah dulu yang benar. Modalnya itu. Modal belajar paling penting. Andai sudah selesai sekolah, lalu bekerja tapi tetap harus belajar. Jangan merasa sudah tahu dan pintar. Mau jadi buruh di pabrik juga tak apa-apa, tapi jangan berfikir selamanya menjadi buruh. Karena menurutnya, yang namanya bekerja untuk orang lain bukan kerja namanya, itu mengabdi pada orang lain. Kalau kerja itu jika sudah membangun bisnis sendiri.

 

Kerja di orang lain itu, intinya belajar bukan mencari uang. Kalau kerja di orang lain untuk mencari uang tak akan dapat apa-apa. Uang pasti akan cepat habis. Setelah belajar dan berpengalaman, baru buka usaha sendiri. Nanti pasti akan ketemu usaha apa yang cocok dijalani, karena usaha itu unik, tak bisa cuma mencontoh dari orang lain. Orang lain bisa sukses di satu bidang, kita mencontoh belum tentu bisa. Karena kita tak tahu seluk beluknya. Usaha itu melakukan sesuatu yang kita pahami, baru bisa maju. Kalau cuma meniru biasanya tak berhasil. [] (baguspram)

 

 

INDRA

No Comments

Pak_Indra

PT Sukses Abadi Teknik

Segudang Profesi digeluti sebagai Pondasi

 

Indra, Siapa sangka lahir dari keluarga yang pas-pasan serta pernah menjadi tukang cuci piring menjelma menjadi nakhoda perusahaan besar importir. Dibesarkan tanpa kasih sayang orangtua, membuatnya menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh. Sembari bersekolah, ia pun menafkahi dirinya beserta adiknya dengan cara kerja serabutan paruh waktu.

 

Sempat berulang kali hampir tidak lulus sekolah akibat terhambat biaya. Namun, berkat kegigihannya ia mampu menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Budi Mulia. Selepas lulus SMA, ia langsung terjun ke dunia sales, marketing sampai multilevel dari situlah ia mengaku mendapat banyak pembelajaran tentang leadership. Akibat terjun di dunia kerja dalam usia muda, ia banyak bertemu teman-teman yang jauh berpengalaman.

 

Dikisahkan Indra, pada tahun 2006 timah tengah menjadi bisnis yang digandrungi para pebisnis. Indra pun mengambil kesempatan itu bersama keempat temannya sepakat membuat perusahaan pertambangan. Dengan usianya yang baru menginjak 19 tahun, ia mampu mengurusi semua perizinan pembuatan perusahaan. Hanya bertahan selama satu tahun, perusahaan yang baru saja dirintis pun akhirnya menemui ujungnya. Modal serta pengalaman yang kurang menjadi faktor utama.

 

Kembali lagi kerja serabutan bahkan sempat membuka toko handphone, namun keberuntungan belum berpihak padanya. Jatuh bangun soal biasa, belajar dan belajar menemukan solusi dari setiap masalah adalah kunci yang Indra percaya. Diterima sebagai karyawan di bank ternama tidak membuat Indra puas, pola pikir yang telah ia anut adalah sebagai pengusaha. “Walaupun ada gengsi dan gaji yang cukup kerja di bank, tapi tetap saja 10 tahun pun saya kerja disitu saya tidak akan pernah bisa membuka bank. Karena saya tidak punya tujuan itu,” begitu jelasnya.

 

Peran teman pun Indra akui sangat berpengaruh terlepas dekat atau tidak, jika Tuhan berkehendak maka selalu ada jalan. Hingga akhirnya Indra masuk ke perusahaan importir yang juga merupakan cikal bakal perusahaannya sekarang, karena menurutnya importir adalah usaha yang cocok dan berpotensi untuk dikembangkan. Bekerja dengan gaji yang lebih kecil dibandingkan pekerjaan sebelumnya, Indra berani mematok waktu apabila selama tiga bulan kinerjanya bagus maka perusahaan tersebutlah yang harus memberikan apresiasi lebih. Pada bulan kedua, tantangan datang ia tak tinggal diam langsung dihantam. Menjalani pameran berskala internasional sendirian tanpa pengarahan ia ambil, seperti yang telah dikatakan belajar dan belajar membuat Indra tak menganggap hal tersebut adalah masalah yang besar.

IMG_0276 IMG_0543

 

Sukses menghadapi tantangan, ia akhirnya diangkat menjadi Manager hingga menduduki jabatan Jendral Manager. “Jika ingin sukses harus all out, jika mau perang jangan setengah-setengah. Saya sudah terpasang mindset ownership, merasa seperti pemilik perusahaan. Bukan maksud mendahului owner, namun agar kinerja saya memuaskan,” ujarnya. Sebab ia merasa perlu membenahi beberapa bagian di perusahaan yang ia tempati. Setelah dirasa cukup untuk berkontribusi, Indra berniat untuk keluar dan mulai membangun usahanya sendiri.

 

Sejarah PT. Sukses Abadi Teknik

“Saya ingin besar, saya harus punya macan. Kalo gak saya mau berdiri di mana? Kaki saya ‘kan belum kuat,” pungkasnya. Sebelum keluar dari perusahaannya dulu, ia berkonsultasi dan menyerahkan proposal usaha yang akan dibangun kepada bos-nya. Dengan dukungan mantan atasannya tersebut, akhirnya mulailah merangkak dengan berbekal dana hasil dari perusahaan yang lama.

 

PT Sukses Abadi Teknik merupakan perusahaan importir barang mesin untuk mengolah dan produksi makanan. Lalu, mengapa memilih pasar mesin produksi makanan? Menurut pandangan Indra, pasar yang paling berkembang itu pada bidang makanan, obat dan logistik. Makanan itu mencakup paling besar seperti bahan baku, mesin produksi, hingga horeka (hotel, restoran, kafé) dan yang paling penting semua orang butuh makan.

 

Lalu, mengapa dinamai Sukses Abadi Teknik? Sukses sendiri Indra menjelaskan bahwa semua berasal dari nol besar dan juga hanya memiliki pengalaman sebagai karyawan, bukan siapa-siapa namun memiliki visi yang sama yaitu sukses. “Sukses, sukses, sukses seterusnya ya, jangan cuma hanya untuk saat ini saja, istilah sekarangnya itu abadi,” katanya menjabarkan. Terakhir, kata teknik diambil karena mengacu dengan produk yang dipasarkan.

 

Omset pada awal bulan hanya berkisar dua juta rupiah ditambah dengan dana yang ia punya hanya cukup unruk menutupi biaya operasional untuk dua bulan. Namun, Indra telah matang mempersiapkan kerangka usaha yang dirintisnya sehingga ia pun sudah tahu langkah-langkah yang harus diambil. Membuat tim sukses adalah salah satunya, Indra mengajak teman kuliahnya dulu yang bernama Wendi Wijaya. “Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa waktu itu ke dia, saya hanya menceritakan mimpi saya kedepannya. Saya salut, ia akhirnya mau berkontribusi tanpa digaji,” ungkapnya.

 

DSCN0195 IMG_2285

Karena kekurangan biaya maka karyawan masih diambil dari keluarga sendiri, Indra mengajak adik serta mertuanya untuk turut ambil bagian. Berawal hanya 4 karyawan hingga sekarang kurang lebih sekitar 20 orang. Omset mengalami peningkatan yang pesat, lokasi kantor pun berpindah bermula di tempat yang kecil sekarang telah berpindah ke tempat yang lebih besar. Cabang-cabang di seluruh Indonesia pun telah dicanangkan seperti Medan yang sudah berdiri dan akan menyusul Makassar, Bali, Surabaya. Cabang-cabang di pusat tersebut pun membantu pelayanan kepada pelanggan agar lebih cepat.

 

Dijelaskan Indra, visi dari PT Sukses Abadi Teknik adalah menjadi perusahaan perdagangan pengolahan makanan, pengemasan makanan, dan perlengkapan kelas dunia. Misinya sendiri target pada tahun 2022 telah dikenal di dunia Internasional, oleh karena itu menguatkan perdagangan di pasar Indonesia sendiri dahulu agar matang melangkah ke pasar yang lebih besar. “Semua yang besar dilakukan dari langkah kecil, tidak peduli dampak yang ditimbulkan apa yang saya tahu kerja, kerja dan kerja,” imbuhnya seraya melontarkan slogan Presiden Joko Widodo. Selain itu, misi yang lain adalah menyiapkan segala kebutuhan bagi orang yang ingin membuka usaha makanan seperti tempat, peralatan hingga outsourcing SDM. Semua masih ingin diperbaiki dan dikembangkan dari penjualan, pelayanan dan yang lainnya.

 

Baginya, SDM adalah masalah utama di setiap lini usaha karena yang diatur atau dibina itu bukan robot tapi manusia yang masih punya kepentingan sendiri. Maka itu, Indra menganggap karyawan adalah partner dan kepercayaan adalah kuncinya. “Kita ini satu kapal, mereka harus percaya saya sebagai nakhodanya. Jika tidak, kita tidak akan menjadi apa-apa,” tandasnya.

 

Disinggung masalah kompetitor, Indra mengatakan bahwa kompetitor itu teman karena sesungguhnya mereka juga sama-sama mencari nafkah dan berjuang. Sempat berpikir musuh karena ingin mengambil market place kompetitor lain, namun setelah diulik lebih dalam semua itu mempunyai pasar masing-masing yang tidak bisa dimasuki oleh kompetitor manapun. “Kalau perlu bikin asosiasi sesama kompetitor, sharing bareng walaupun berbeda pendapat. Tanpa kompetitor pun, kita tidak pernah menjadi apa-apa. Jika suatu usaha tidak memiliki kompetitor maka usaha tersebut jelek,” jelasnya.

 

Harapan kepada Pemerintah

Seharusnya pemerintah lebih ditegaskan aturan regulasi untuk pengusaha start up atau baru, karena dewasa ini menurutnya persaingan sudah seperti di hutan rimba. Aturan siapa yang paling kuatlah yang akan bertahan berlaku. “Ditentukan lah satu lini usaha itu harus punya margin atas dan bawah, ya, jadi semua sudah diatur,” ungkap ayah beranak dua ini. Selain itu ia menyanggah masalah pajak, menurutnya sebagai pengudaha ia taat pajak. Namun, setelah beredarnya berita akhir-akhir ini mengenai pengkorupsian hasil pajak tersebut membuat khawatir dan merasa percuma saja membayar atau tidak membayar.

 

Suami dari istri Agnes L. ini bercerita kendati sedari kecil tidak dibesarkan oleh orangtua akibat broken home, tetapi kedua orangtuanya tersebut selalu mendukung dan memberikan bantuan sekecil apapun. Baginya, anak tetap anak begitupun orangtua. Begitupula istrinya yang selalu hadir memberi dukungan, kini ia telah dikarunai dua buah hati bernama Kimberly Inez Mauresia (4) dan Kennard Ian Matthew (2).

 

Lalu, apa obsesi pribadi yang dimiliki saat ini? Indra berkisah sewaktu kecil untuknya pengusaha adalah suatu profesi yang bisa membagikan ilmu unruk orang banyak maka dari itu ia ingin menjadi pengusaha Internasional sehingga dapat berbagi ilmu. Ia mengaku senang telah mencapai apa yang menjadi harapannya selama ini, tetapi ia menyayangkan banyak orang maupun anak muda di luar sana yang bahkan tak tahu harapan maupun tujuan hidup mereka. Hanya melihat akhir yang sukses namun tidak dibarengi dengan pemikiran bahwa butuh usaha yang lebih untuk mendapatkannya. “Perjalanan masih jauh, masih banyak hal yang bisa dilakukan. Jangan menyerah,” ucap Indra menutup perbincangan.(mutiararizky)

CHARLES ANTONNY MELATI

No Comments

DSC_0328

R. Wahyu Alibasya Wisnu Memahami Maqom Diri Sendiri Merupakan Kunci Sukses Karirnya R. Wahyu Alibasya Wisnu, terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, namun tak membuat dirinya menjadi anak manja. Bapak dan ibunya yang berasal dari Yogyakarta dan Kebumen, mendidik Wisnu –begitu ia disapa- sebagai anak yang tahan banting dan mandiri. Didikan itu dirasakannya sejak Wisnu kecil. Tempaan yang demikianlah yang kemudian membawa pria kelahiran Jakarta ini sukses merintis karir dan kini menjadi Manager di PT Wijaya Karya (Wika) Gedung Tbk. Pilihannya bekerja di PT Wika Gedung Tbk memang merupakan cita-citanya sejak kuliah. Tak ada pertimbangan khusus, misal soal gaji, ketika dirinya ingin bekerja di PT Wika. Yang melatarbelakangi cita-citanya tersebut hanya karena ia melihat suasana kerja di PT Wika terasa nyaman dan kekeluargaan. Itu dirasakan ketika dulu ia Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT Wika. Karirnya di PT Wika memang bukan datang dengan sendirinya. Semua seperti sudah dirintis sejak Wisnu lulus SMA. Hal ini dapat dilihat dari jenjang pendidikan yang ditempuh, yakni lulus SMA, Wisnu meneruskan kuliah di Politeknik Universitas Indonesia, kemudian menempuh jenjang S-1 di Intitut Teknologi (ITS) Surabaya, lalu mengambil S-2 di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Nah, saat kuliah di ITS Surabaya itulah Wisnu “berkenalan” dengan PT Wika, melalui praktek kerja lapangan, dan seolah menemukan tempat kerja yang cocok baginya. Maka ia pun merintis karir di perusahaan tersebut. “Saya masuk Wika usia 25 tahun. Di Wika memang cita-cita dari jaman kuliah. Saya lebih melihat pada lingkungan kerja di Wika, kekeluargaan dibanding perusahaan lain. Usia 27 menjabat Kepala Seksi. Usia 32 jadi manager,” tutur suami dari Dewi Ismayati . Karir di PT Wika Gedung Tbk

DSC_0341 DSC_0334

Karirnya di PT Wika dimulai dari bawah, seperti menangani proyek-proyek jalan simpang di Kalimantan Timur. proyek di Mangga Dua Square, Cideng Office, lalu proyek di Balipapan, Paragon di Semarang. Berikutnya membangun Apartemen Tebet. Mini Office, Kemayoran, Jakarta, apartemen Capitol Park Salemba, dan Tamansari Prospero, Sidoarjo. “Saya belum kepikiran usaha sendiri, karena takut gak focus. Saya suka semua, karena saya punya prinsip hidup itu harus dijalani,” ujarnya. Lebih jauh dijelaskan Wisnu bahwa apartemen Tamansari Prospero merupakan proyek kerjasama dua perusahaan developer besar yaitu PT Wika Gedung dengan Mutiara Sejahatera, pemilik kawasan Kahuripan Nirwana. Ditambahkan Wisnu, Tamansari Prospero sebenarnya brand-nya Wijaya Karya Tbk. Kata Prospero itu berasal dari bahasa Latin yang artinya kesejahteraan, sedang Tamansari merupakan tamannya raja-raja. “Ini adalah KSO atau kerjasama operasi. Dua developer besar membentuk KSO, membentuk satu development Tamansari Prospero,” ujar bapak 4 anak ini. Lalu, kenapa harus di Sidoarjo? Menuru Wisnu, pilihan Sidoarjo tak lepas dari pandangan bahwa segitiga emasnya Jawa Timur itu ada di Sidoarjo, Surabaya dan Malang. Dan, ini bisa menjadi satu wadah untuk kegiatan-kegiatan orang-orang Sidoarjo. Jadi sentra aktifitas warga Sidoarjo. Prospero sendiri artinya bersama-sama. jadi, menangkap akrifitas warga Sidoarjo untuk membuat satu kegiatan, demikian visi dan misi perusahaan. “Yang pasti Tamansari Prospero pasar utamanya Sidoarjo, sebenarnya gak ada strategi yang besar karena pasar kita di Sidoarjo dan Surabaya, sekitar 70 persen. Ini apartemen pertama di Sidoarjo Kota,” tuturnya. Dibanding apartemen lain, misal di Surabaya, dapat dipastikan fasilitas apartemen Tamansari lebih lengkap. Istilahnya,  apartemen dengan fasilitas menyerupai Hotel bintang 5 dengan harga kompetitif. Jadi, orang berinvestasi di Tamansari sesuai dengan harga yang ditawarkan.  Dimana harga yang ditawarkan di kisaran mulai Rp 300 juta,dan  yang paling tinggi mencapai Rp 1 M dengan 3 kamar tidur. Menurut Wisnu, akan dibangun 3 tower. Dimana tower pertama itu untuk pasar middle, tower kedua untuk middle up, tower ketiga untuk yang premium.  Yang middle diberi nama tower fortuna atau keberuntungan. Lalu ada nama-nama tower betrus artinya kesejahteraan, dan aorum artinya emas, dengan perbedaan setiap tower memiliki karakter dan luas yang berbeda serta harga yang berbeda pula. Target dari Tamansari Prospero sendiri adalah pada tahun 2017 bisa terjual habis untuk tower yang pertama. Sementara untuk tower kedua, akan re-branding, dikarenakan adanya perubahan konsep menjadi lebih minimalis. “Tapi, tahun 2017 sold out. Dalam waktu dekat  kita akan serah kunci untuk tower yang pertama. Di sekitar awal bulan September. Kalau 2017 sold out tower satu, Insya Allah 2020 running semua,” ujarnya. Disinggung soal kompetitor di usaha sejenis, Wisnu  menganggap tak ada kompetitor dalam bisnisnya dalam arti

DSC_0319 DSC_0315

pesaaing, karena yang disebut kompetitor justru bisa menjadi tolok ukur buat posisi kita. “Kompetitor kan kalau ada persaingan  head to head. Barang sama, harga sama. Kalau kita yang ditawarin kan beda.  Kita gak merasa ada kompetitor. Pasar kita juga udah tahu sendiri,” tambahnya. Namun demikian, bukan berarti Wisnu tetap santai dalam bekerja. Untuk menggenjot kemajuan perusahaan, pihaknya tetap memperhatikan kinerja SDM-nya. Dan, untuk perbaikan kinerja SDM ada pelatihan-pelatihan, yang mana tujuannya adalah untuk meningkatkan Individu value masing-masing. Tak Butuh Dukungan Keluarga Ditanya soal peranan keluarga, tegas Wisnu mengatakan bahwa dirinya tak butuh dukungan dari keluarga. Menurutnya, keluarga bukan faktor pendukung, tapi motivasi baginya. Yang penting dirinya menjalani takdir kehidupan, yaitu kalau takdirnya menjadi seperti sekarang, bekerja di PT Wika ya harus dimaksimalkan, bekerja dengan professional. No matter  keluarga, istri, atau teman. Baginya,  itu tak penting. “Saya gak butuh dukungan keluarga, tapi saat saya berkarir, keluarga itu motivasi saya. Saya gak butuh dukungan,” tegasnya. Lalu, apa visi dan misi pribadinya? Menjadi yang terbaik, tandasnya. Cuma, dirinya juga tak mau dibilang ambisius.  Karena menurutnya, ambisi itu untuk orang-orang yang tidak tahu tugasnya di dunia. Dia tak tahu untuk apa diciptakan di dunia. “Kalau saya, bukan ambisi, karena saya tahu tugas saya apa dan diciptakan untuk siapa, ya sudah begitu. Karir, jabatan itu datang sendiri. Saya gak ada ambisi. Ya pasti tujuan dan tugas saya, mendidik. Artinya ilmu yang saya miliki harus di-share ke orang lain. Berbagi ilmu, itu tugas saya yang saya sadari. Rejeki itu datang sendiri. Saya lagi susah rejeki datang sendiri. Dulu waktu muda saya iya ambisi, saya berfikir usia 30 jadi kepala seksi. Ternyata umur 26 jadi Kepala seksi. Saya targetkan umur 35-40 jadi manager, ternyata diumur 32 saya jadi manager. Kerja itu kan ibadah, hidup itu option, pilihan, mau susah atau mau senang itu pilihan. Tergantung kita. Kalau kita gak bisa nahan hawa nafsu ya gak ada batasnya,” urainya panjang lebar. Karena ingin selalu berbagi ilmu itulah, Wisnu yang juga suka  menulis kerap pula menjadi narasumber perusahaan untuk pelatihan dan sebagainya. Lalu apakah secara pribadi ia merasa sukses? Baginya sukses itu nisbi. Misal, ia memimpin satu tim kerja, dan bila tim itu gagal berarti dirinya tak sukses. Jadi, ukuran sukses baginya ialah jika memimpin satu tim lalu tim itu menjadi educated, lebih pengalaman, tambah pinter, itu baru namanya sukses.  Tapi, kalau sukses pribadi, menurutnya,  tak bisa diukur. “Saya gak pernah ada pikiran harus sukses. Tapi saya punya pikiran satu pekerjaan harus selesai. Misal, proyek selesai, mau itu untung atau rugi gak masalah. Saya lebih mengutamakan proses, bukan hasil. Tuhan juga begitu. Yang dihakmi adalah proses kamu menuju Aku. Jadi, misalnya kita mau sukses maka ikutin aja cara Tuhan bekerja.  Saya punya prinsip takdir itu bisa diubah dengan usaha kita,” ungkapnya. Ditambahkan oleh Wisnu bahwa dalam Islam ada “istilah” semua sudah tertulis di lahul mahfuz. Menurutnya, lahul mahfuz itu adalah potensi. Setiap manusia itu memiliki potensi yang sama. Analoginya, semua HP itu sama. Tapi kalau tak dipakai ya tak ada apa-apanya. Coba dipakai buat sharing, janji bisnis, akan ada potensi. Dan, dalam Al Quran disebutkan Allah takkan mengubah satu kaum, sebelum kaum itu mengubah dirinya sendiri. Itu artinya, manusia harus mengembangkan potensi yang dimilikinya, sehingga Allah akan mengubah hidupnya. “Saya tak berprinsip seperti air mengalir, saya justru menciptakan aliran air sendiri.  Saya bukan melawan arus tapi membuat arus sendiri,” ujarnya. Baginya hasil tak penting. Yang penting kerja keras, bahkan kalau bisa melebihi ekspektasi atasan, kemudian  ikhlas, tak pernah mengeluh, no complain. Hasil itu orang lain yang melihat bukan diri sendiri yang menilai. Kalau ada orang mengeluh soal gajinya kurang, salahnya sendiri kenapa dia mau bekerja disitu. Menjalani hidup itu, terang Wisnu, melihat benang merahnya Tuhan bekerja, lalu meng-create satu alur histori. Hal ini bisa dipelajari, karena melalui pengalaman/ experience. Takdir itu fakta dan terjadi dibawah alam sadar. Tapi kalau manusia bisa mengangkatnya di alam sadar maka dia akan bisa mengatur dirinya. Dan, semua orang harus sesuai maqom-nya, wadahnya. Kerja di satu profesi, karena sukanya di situ, bakatnya di situ, maka rejekinya unlimited. “Saya kerja di sini karena saya cinta dan karena hobi. Maka timbullah ikhlas. Maqom saya ya di sini. Bakat saya di sini,” ujarnya. Dijelaskan Wisnu, maqom seperti hadist qudsi yang mengatakan  “siapa yang tidak mengenali dirinya maka tidak akan mengenali Tuhannya.”  Maqom itu wadah kita, tentang pencapaian kita dimana. Ibarat keris itu warangkanya seperti apa. Terbuat dari apa. Itu artinya keris kita itu apa. Dan, yang bisa menemukan ya kita masing-masing. Tubuh kita ini warangkanya. Keris itu jati diri kita. Yang cocok dengan tubuh kita itu apa. Kerisnya itu apa. Itu maqomnya. Kita senangnya apa, itu yang harus digali. Itu yang rejekinya unlimited. Kita bisa mengenali diri kita dengan melihat kita sukanya apa, kelemahannya dimana. Wisnu menguraikan bahwa dirinya memilih kerja berdasar  cita-cita, yaitu cita-cita pertama, kerja di Wika, kedua, di Pertamina, ketiga, di Perumka. Dan ternyata, Allah memberi kesempatan untuk ketiganya. Setelah bekerja di PT Wika, Wisnu mencoba melamar di Pertamina, ia dapat panggilan untuk tes tapi tak ambil. Lalu, di Perumka (KAI sekarang) dirinya punya jaringan, karena pernah bikin skripsi tentang Perumka. Tapi, ia tak mau serakah karena sudah bekerja di Wika. Mendidik Anak-Anak “Saya liberal demokratis, free will,” tegasnya. Menurutnya, sSetiap manusia itu punya qudrat iradat-nya masing-masing.  Tugas sebagai orangtua adalah mengarahkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Menjadi inspirasi untuk anak-anak. Sebagai contoh, suatu hari ia melihat anaknya malas sekolah dengan alasan capek. Wisnu hanya omong pada sang anak, malu dong sama Ayah, karena Ayah juga sekolah. Alhasil, sang anak kembali semangat untuk bersekolah. Wisnu membebaskan anak-anaknya hendak menjadi apa kelak. Karena ia tak mau membunuh qudrat iradat sang anak. Qudrat iradat itu artinya keinginan dan tindakan. Jadi harus seimbang. Seperti maqom. Contoh, qudrat-nya lapar tapi kalau iradatnya tak ada ya akan tetap lapar. Seperti keris dan warangkanya. Contoh lainnya, misal qudratnya ingin traveling tapi tak ada dana, terus berfikir bagaimana caranya bisa traveling secara gratis, lalu berusaha mencari sponsor dan berhasil. Itu namanya qudrat dan iradatnya jalan, seimbang, seperti keris dan warangkanya. Itu terbuka maqomnya. Efeknya, finansial freedom. Tak perlu mikirin uang karena uang datang dengan sendirinya. Penyuka motor touring dan music ini berujar bahwa dalam hidup dirinya memegang prinsip; 1. doa anak yang soleh, 2. ilmu yang bermanfaat, 3. amal jariyah dan sodaqoh. Sehingga apa yang dikerjakan selalu didasari keikhlasan. Bukan sekedar mengharap pahala. Dan, yang lebih berarti itu, tambahnya, kalau kita bisa menangkap sinyal Al Quran dan menjalaninya. Kalau kita mengamalkan ayat Al Quran dalam keseharian maka rejeki akan mengalir. “Itu yang saya rasakan.  Sholat bagi saya itu adalah bentuk komunikasi dengan Allah, dengan berdzikir dan bermunajat. Bermunajat itu seperti curhat. Kalau kita mau dibuka maqom-maqom kita maka jadikanlah Tuhan itu seperti Kekasihmu,” terang Wisnu. Harapan kepada pemerintah Seharusnya pemerintah mendukung proyek-proyek apartemen seperti bisnisnya. Karena manusia kan terus bertambah, otomatis solusi yang terbaik itu highrisk building. Selain itu, birokrasi jangan berbelit, sehingga Indonesia ini bagus untuk investor. “Kalau di sini (Sidoarjo) lancar praktis dan pemerintah di sini mendukung, karena Prospero ini merupakan kebanggan tersendiri bagi pemerintah setempat. (dengan) tinggi 30 lantai, tinggi bangunan lbih kurang 100 meteran,” tukas Wisnu.. Possisinya sebagai Manajer di PT Wika memang belum merupakan top-position. Di atasnya masih ada manager divisi, dan dua step lagi menjadi direktur. Tapi, dirinya tak pernah berfikir jabatan tersebut,, karena Wisnu berfikir lebih jauh lagi yakni menjadi pemilik perusahaan, sehingga hidupnya bisa bermanfaat karena memberi hidup untuk orang banyak. “Itu tujuan hidup saya. Ini bukan obsesi, tapi proses yang harus saya capai, memiliki perusahaan, mensejahterakan banyak orang,” jelasnya. Baginya hidup itu seperti puzzle, dari A sampai Z sudah tersedia, tapi masih berantakan. Oleh karena itu, ia pun menmpuh pendidikan S-2 Magister yang diumpamakan sebagai kunci untuk merapikan puzzle hidupnya.  “Yang berantakan ini kan ide-ide, nah ada ilmu yang untuk merapikan itu yaitu S-2 Magister saya,” tandas Wisnu. Menurut istri dari Dewi Ismayati ini, ilmu itu harus dibagi sehingga ilmu itu sendiri akan terus bertambah. Oleh karena itu, agar ilmunya  terus bertambah, Wisnu menerapkan aturan main perusahaan bahwa bila di setiap project ada masalah maka satu jam harus selesai. dengan aturan demikian, ilmu kita bertambah, karena kita ditekan untuk cari solusi. Lalu, kenapa bertambah? Karena ilmu kita terpakai atau bermanfaat. Ibarat sebuah teko yang isinya ilmu, kalau isinya tak dituangkan maka isinya akan stagnan dan tak bertambah ilmu yang baru.  Sebagai contoh, cerita Wisnu, ketiak ia menggarap proyek Paragon Semarang, proyek itu telah divonis menjadi proyek merugi karena permasalahan beton, dimana dalam kontrak kerja perhitungannya memakai system silinder. Tapi yang dihitung oleh rekan-rekan kerjanya adalah sistem kubus. Dengan demikian ada selisih harga sekitar RP 100.000 per kubik . Padahal saat itu ada 40.000 kubik yang harus dipasang. Bayangkan, hampir Rp 4 milyar kerugian yang harus ditanggung. Namun, dengan ilmu yang dimiliki Wisnu mencoba mendesain ulang dan mengajukan desain itu pada mitra kerjanya. Saat itu, ia tak meminta royalty, karena prinsipnya ia ingin sodaqoh ilmu. Alhasil,  desainnya disetujui dan dipakai. “Berikutnya, rejeki saya malah datang dengan sendirinya. Itu karena saya ikhlas,” pungkas bapak dari Nabila, Mahija, Raja dan Sekar ini mengakhiri pembicaraan. (baguspram)

SUSILO KARTRI WINARTO

No Comments

s4President Board of Directors PT United Tractors Semen Gresik Indonesia

 

Be Different, Be the First, Be the Best

 

Kesuksesan seseorang di masa mendatang tentu tak terlepas dari bekal didikan orangtuanya semasa kecil. Ketika orangtua mengajarkan disiplin dan kerja keras, maka sikap itulah yang nantinya membentuk karakter seseorang dalam memperjuangkan hidup dan kehidupannya. Demikianlah halnya dengan tokoh kita yang satu ini, bapak Susilo Kartri Winarno, President Board of Directors PT United Tractors Semen Gresik Indonesia.

 

Susilo, begitu saja ia kita sapa, terlahir dari ayah seorang militer (almarhum). dengan pangkat terakhir Mayor Infantri (Purnawirawan) Susilo kecil dididik oleh ayahandanya ala militer dengan kedisiplinan tinggi. Didikan yang pada akhrnya membuahkan hasil manis, dimana dalam perjalanan hidup sang anak, Susilo, terus meraih prestasi demi prestasi, seperti juara 2 dan 3 saat sekolah di SMP 1 Slawi. Kemudian, saat dipercaya menjadi kapten tim sepakbola SMAnya sukses membawa timnya menembus kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Tengah, mewakili Kabupaten Tegal dan Karesidenan Pekalongan. Semakin dewasa kesuksesan terus direngkuh, sampai akhirnya Susilo pun dipercaya menjadi President Board of Directors PT United Tractors Semen Gresik Indonesia.

 

Namun demikian, keberhasilan yang dicapai oleh Susilo tidaklah mudah. Semua perlu kerja keras dan kesabaran. Dirinya juga tak serta merta menduduki jabatan seperti yang sekarang ini. Semua dimulai dari bawah. Berawal di tahun 1990 ia ditempatkan sebagai Technical Officer PT. United Tractors Tbk. Posisi yang dilakoninya hingga tahun 1995. Kemudian, dipercaya sebagai Customer Support Officer PT. United Tractors Tbk (1995 – 2003). Tahun 2003 hingga 2009 Susilo diangkat menjadi Administration Department Head  PT. United Tractors Tbk, Lalu di tahun 2009 sebagai Senior Site Manager PT. United Tractors Tbk hingga tahun 2013. Barulah di tahun 2013 ia dipercaya sebagai President Board of Directors PT United Tractors Semen Gresik Indonesia.

Terlahir sebagai anak kembar (laki-laki dan perempuan) Susilo menghabiskan masa sekolahnya di SD 4 Slawi, SMP 1 Slawi, kemudian menamatkan sekolah lanjutannya di SMAN 1 Slawi. Selepas SMA pria penghobi sepakbola yang lahir pada tanggal 17 Februari ini melanjutkan studi D3 Politeknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, lalu menempuh jenjang S1 di Universitas Indonesia (UI), Depok, dan mengambil program Magister Management di Universitas Pancasila (UP), Jakarta.

DCIM100MEDIADJI_0051.JPG BROSUR COMPANY PROFILE UTSG 2017 R1_001

Bagi Susilo, masa muda adalah masa belajar, menuntut ilmu dan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif untuk menyalurkan semangat muda. Maka tak heran bila Susilo muda pun giat belajar dan aktif berkegiatan, seperti ikut beladiri karate, kungfu, silat, juga aktif berorganisasi di sekolah seperti OSIS, PMR, dan Pramuka.  Menurutnya, belajar merupakan proses menjalani hidup.  “Dalam hidup ini hormatilah proses, ikuti dengan seksama, menjadilah yang terbaik,” demikian tegas pria yang memiliki filosofi hidup berkembang terus dan belajar tiada henti ini.

 

Filosofi di atas menjadi spirit bagi Susilo untuk terus maju dan menjadi yang terbaik. Hal ini sesuai dengan visi dan misi pribadinya, yakni menjadi the best mining quarry dan be different, be the first, and be the best. Jadi, menurutnya, semua harus melakukan yang terbaik, menjalankan anugrah yang diberikan Allah SWT dengan semangat, sabar, dan serius. Dan, satu hal yang tak bisa diabaikan pula adalah dukungan keluarga. “Keluarga menjadi (tempat) diskusi di setiap kesempatan,” ungkap pria yang mempunyai istri lulusan terbaik FISIPOL Undip tahun 1991 ini.

 

Lalu dengan kesuksesannya sekarang apakah Susilo menginginkan anak-anaknya mengikuti jejaknya, dengan tegas pria kelahiran Slawi, Jawa Tengah ini mengatakan bahwa dirinya takkan memaksa anak-anaknya harus meneruskan karirnya. Susilo membebaskan anak-anaknya berkembang mencari jati dirinya sendiri, namun tetap diarahkan, dikenalkan sikap atau perilaku-perilaku survival, leadership, kesederhanaan, mental juara dan kesalehan.

 

Sejarah Perusahaan

 

PT. UTSG didirikan tanggal 15 Oktober 1992, dengan nama PT. Usaha Tambang Selo Giri dan pada tanggal 04 Desember 1992 berubah nama menjadi PT. United Tractors Semen Gresik. Merupakan anak perusahaan dari dua perusahaan terbuka yang terdepan dibidangnya yaitu PT. United Tractors Tbk sebagai distributor terkemuka dan berpengalaman dibidang pertambangan di Indonesia dan PT. Semen Gresik (Persero) Tbk yang merupakan produsen semen dengan Market Share terbesar di Indonesia. Adapun arti dari nama dan latar belakang pemilihan nama PT. UTSG adalah UT singkatan dari United Tractors, sedang SG  artinya Semen Gresik.

 

UTSG didirikan oleh entitas perusahaan Semen Gresik yang sekarang berevolusi menjadi Semen Indonesia Tbk dengan kepemilikan sahamnya 55 % dan Anak Usaha ASTRA International Divisi Alat Berat yaitu PT.  United Tractors Tbk dengan kepemilikan saham 45 %. Visi perusahaan ini adalah Menjadi Penyedia Layanan Solusi Bisnis Pertambangan Quarry  Regional Terkemuka di Tingkat Asia Tenggara

 

Sedang misi dari PT UTSG adalah :

  1. Melaksanakan bisnis tambang dan bisnis terkait yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dan harapan pemangku kepentingan lainnya yang berpedoman pada improvement berkelanjutan.
  2. Berkontribusi positif sebagai Strategic Tools di lingkungan operasi tambang bahan baku semen di lingkungan Semen Indonesia Group dengan mengedepankan Cost Leadership namun tetap mendapatkan keuntungan yang memadai.
  3. Mengelola bisnis melalui praktek terbaik, optimalisasi asset dan sumber daya manusia yang unggul dengan menciptakan organisasi yang tangguh, teknologi yang kompetitif dan mitra bisnis yang sinergi
  4. Membangun perusahaan yang menginspirasi pengembangan pengetahuan manajemen bisnis quarry dan pemimpin yang memiliki entrepreneur leadership.
  5. Membangun budaya perusahaan yang gigih, konsisten, integritas, beretika dan menghargai orang lain dengan budaya “an Iconic” melalui 9K.
  6. Peduli terhadap keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan serta tanggung jawab sosial perusahaan juga manajemen keamanan dan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) dalam proses pelaksanaan operasional bisnisnya.

 

Kemajuan suatu perusahaan tentu tak lepas dari kiat dan strategi yang diterapkan. Demikian pula dengan PT UTSG, ada beberapa kiat dan strategi yang dijalankan sehingga PT UTSG bisa menjadi besar, yakni :

  1. Memiliki visi yang jelas
  2. Dinamis dalam menyusun misi
  3. Spirit an Iconic of Quarry
  4. Mengimplementasikan Nilai-Nilai Perusahaan dengan dijalankan melalui 9K
  5. Adaptability yang cukup
  6. Mengedepankan value preparation di setiap segment
  7. Kesadaran sustainability growing of business dan bottom line
  8. Menerapkan ROOMS (Realtime, On Demand, Opend Mind, Militansi, Speed)

 

Dalam perkembangannya PT UTSG memiliki keunggulan diferensiasi, difersifikasi dan Inovasi yang diakui oleh mitra kerjanya, seperti :

  1. Differensiasi
  2. Militan
  3. Value preparation to client
  4. Aggressive to growing
  5. Innovation  Improvement berkelanjutan
  6. Sinergi dengan Induk Perusahaan
  7. Adaptability di atas rata-rata
  8. Pembelajar yang baik
    1. Diversifikasi
    2. Comfort Zone
    3. Arogansi
      1. Innovation

Menjadikan budaya tiap individu/karyawan untuk melaksanakan Inovasi dan improvement berkelanjutan dan di implementasikan.

 

Lalu, saat ditanya apa obsesi Susilo dalam memimpin PT UTSG, pria yang memang memiliki latar pendidikan teknik mesin ini menjelaskan bahwa dirinya ingin menjadikan UTSG The Best Mining in Quarry melalui Most Trusted Company dengan 3 pilar yaitu :

  1. Portofolio Strategy
  2. People Srategy
  3. Public Contribution Strategy
  4. BROSUR COMPANY PROFILE UTSG 2017 R1_001 s2

 

Namun demikian, Susilo juga menyadari untuk menjadi yang terbaik bukan hal mudah, terlebih tak sedikit pesaing yang berkiprah di bidang sejenis, dan untuk menyikapi kompetitor/pesaing, Susilo memiliki kiat antara lain :

  1. Amati dan pelajari betul
  2. Implementasikan yang baik dan cocok
  3. Modifikasi yang diperlukan
  4. Jadikan sparing partner
  5. Buat Inisiasi-inisiasi baru.

 

Dan, hal lain yang tak kalah penting agar perusahaan tetap unggul di antara para pesaing adalah factor SDMnya. Untuk meningkatkan mutu SDM, pihaknya selalu menerapkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Ciptakan Harmonisasi
  2. Ciptakan Spirit
  3. Ciptakan Target dan Harapan
  4. People Development Strategy
  5. Reward and Punishment System
  6. Kesederhanaan dan keterbukaan

 

Semua strategi di atas tentu merupakan asset untuk tumbuhkembangnya perusahan, hal ini juga merupakan rencana ke depan bagi perusahaan, yakni :

  1. Rencana IPO dengan strong line yang baik sehingga bernilai
  2. Menjadi Perusahaan Kelas Asia Tenggara

 

Disinggung  soal peran pemerintah dan apa yang diharapkan dari pemerintah untuk dunia usaha khususnya bidang yang ditekuninya, Susilo menegaskan hendaknya ada kebijakan-kebijakan yang mendukung hal-hal seperti kepatuhan terhadap GCG, public contribution yang optimal, tumbuh dan berkembang bersama lingkungan, dan menjadi aset negara. “Terkait kegiatan bisnis UTSG, pemerintah berharap UTSG bisa berkontribusi positif terhadap lingkungan dimana operasi bisnis berada,” pungkas Susilo mengakhiri pembicaraan. [] (baguspram)

 

 

 

 

 

DEDI DIANTO

No Comments

pendiri MAZTA FARMA

IMG_20160101_123509 IMG-20170724-WA0010

Dedi Dianto, pria yang mengenyam pendidikan dasar di Riau dan Padang ini sejak kecil telah dididik untuk menjadi mandiri. Ia pun melanjutkan pendidikan sarjananya di Jakarta tepatnya di Universitas Atma Jaya dengan prodi jurusan Manajemen. Lulus pada tahun 1999, ia mempunyai tekad untuk serius merintis kariernya hingga sukses seperti sekarang ini.

Kariernya bermula menjadi karyawan di salah satu perusahaan farmasi yaitu Interbat. Setelah betah berlama-lama selama 8 tahun bekerja di perusahaan tersebut akhirnya ia pun hengkang dan pindah ke perusahaan yang baru. Satu tahun berjalan, ia digaet oleh perusahaan importer barang untuk memasarkan produk baru mereka. Hingga akhirnya pada tahun 2010 ia memberanikan diri untuk memulai membuka perusahaan sendiri.

Keyakinan dan Usaha Menyelamatkan

Bukanlah hal yang mudah membuka perusahaan sendiri, Dedi pun mengaku cukup khawatir dan takut. Dengan modal yang ada dan pengalaman yang masih sebatas karyawan, ia menepis semua ketakutan itu dengan kepercayaanya kepada Tuhan yang selalu akan melindunginya. Oleh karena itu pula nama perusahaan tersebut berasal, Mazta yang terdiri dari singkatan sebuah perikop Alkitab yang bernama Mazmur dan The Sayaka. Mazmur 91, menjadi motivasi dan petunjuk baginya untuk selalu percaya dan tidak pernah menyerah dalam keadaan sesulit apapun karena berada dalam lindungan Allah.

Awal mula ketika membuat perusahaan Dedi lakukan dengan membuka outsoucing marketing. Langkah tersebut diambilnya bukan tanpa alasan, hal tersebut ia lihat dari  masalah kebanyakan perusahaan adalah penjualan yang belum maksimal. Oleh karena itu, ia ingin mencabut akar masalah tersebut dengan awal membentuk tim markering yang masih bisa dihitung dengan jari hingga sekarang mencapai 110 orang totalnya.

Bukan kesuksesan namanya jika tak menemui aral yang melintang, Mazta Farma pun pernah hampir mengalami kemunduran. “Jika flashback mengingat tahun pertama dan kedua, hampir tidak bisa bertahan. Sampai-sampai salah satu owner pemegang sahampun keluar karena dianggap sudah ‘bleeding’ alias berdarah-darah, sudah harus ditutup katanya selamatkan yang masih ada,” jelasnya menceritakan. Namun kembali lagi pada kepercayaanya kepada Tuhan yang selalu akan melindungi hingga akhirnya terselamatkan.

Mazta Farma

Menurut Dedi, visi perusahaan Mazta Farma sendiri menjadi perusahaan yang selalu dipercayakan oleh mitra-mitra kerja dalam memasarkan produknya baik untuk PMA maupun local Indonesia terutama produk kosmetik, healthcare, serta suplemen. Mengenai misi ia lebih menjurus kepada para SDM, ia ingin perusahaan yang ia bangun menjadi tempat sekaligus kesempatan bagi orang-orang berprestasi dan berpotensi untuk berkembang di perusahaan ini. “Serta yang terakhir, memberikan kesejahteraan yang lebih untuk seluruh karyawan yang ada,” begitu tambah ayah satu anak ini.

Produk yang unik dan berbeda serta memiliki kualitas yang terbaik dari yang lain adalah salah satu keunggulan yang dimiliki perusahannya. Produk unggulan dari Mazta Farma sendiri yaitu Mansion produk kecantikan langsung diimpor dari Amerika serta filler dari Prancis. Selain itu, sistem kerja yang ia terapkan pun berbeda. Salah satunya dalam perihal jabatan, karena semua merintis dari nol baik tim marketing, staff, dan lain-lain. “Tidak ada manager top dari awal semua dari awal staff dan saya yang handle sendiri”, begitu tandasnya. Lain hal dengan perusahaan lain, suami dari Kristina Arifin ini membuka kesempatan bagi karyawan yang memiliki kontribusi, prestasi, dan niat yang kuat dapat naik jabatan tanpa perlu waktu yang lama.

Sebab ia percaya, setiap orang itu mempunyai empat faktor motivasi bekerja yang berbeda yaitu motivasi uang, motivasi karier, motivasi pengembangan diri, dan motivasi kenyamanan kerja. Semua faktor itu ia ciptakan di Mazta Farma ini. Ia menuturkan pula, jelas jika karier karyawan meningkat maka aliran uang pun akan mengikuti.

 

 

Hidup untuk Bermanfaat bagi Orang Lain

IMG_3942 IMG-20170724-WA0007 IMG-20170724-WA0008

“Untuk apa hidup jika tak bermanfaat bagi orang lain,” tandasnya setelah ditanyai tentang obsesi. Membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya adalah obsesi seorang Dedi Dianto. Pasalnya selain tingkat pengangguran di Indonesia yang cukup tinggi, banyaknya perusahaan asing yang menempati wilayah tanah air ini yang menurutnya semestinya warga Indonesia-lah sebagai tuan rumah yang mampu memajukan tanahnya sendiri.

Untuk menghadapi kompetitor, ia mempunyai motto yang berbunyi ‘jika perusahaan lain bisa lakukan seharusnya perusahaan ini bisa lakukan, serta melakukan apa yang perusahaan lain tidak bisa lakukan’. “Belajar dan terus belajar maka semua masalah akan menemukan jalan keluar”, tuturnya itu menjadi strategi menjadi sukses. Rencana yang akan dijalankan kedepan untuk perusahaan Mazta Farma kemungkinan besar adalah membuat perusahaan distributor, perusahaan industri kosmetik dan suplemen sendiri tentunya di Indonesia.

Harapan untuk Pemerintah

Menurutnya proses izin-perizinan untuk membuka usaha di Indonesia ini memerlukan jangka waktu yang lama. Sedangkan di negara lain, Singapore misalnya, saru sampai dua hari perizinan bisa langsung didapatkan. Hal itupun berdampak pada proses pemasaran yang lebih cepat memperkenalkan produk tersebut.

Alhasil, akibat proses yang panjang dan lama perusahaan asing seperti Eropa harus melewati perbatasan Singapore dulu agar produknya sampai ke Indonesia. Padahal, Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduk keempat di dunia yang bukan menjadi rahasia lagi menjadi pasar yang sangat diincar oleh perusahaan asing. Maka, harapan Dedi agar pemerintah lebih memudahkan regulasi bagi pengusaha-pengusaha di dalam Indonesia.

 

 

Dukungan Keluarga yang Terus Mengalir

“Dukungan serta doa dari keluarga terutama istri”, jelas Dedi. Istri mempunyai peran penting selalu siap menemani suka dan duka. Karenanya, ia dapat lebih fokus mengurusi masalah yang ada di perusahaan. Dengan dikaruniainya satu putra bernama Kevin van Matthew yang kini baru berusia 7 tahun, tidak membuat Dedi memaksakan kehendak putra tunggalnya itu untuk meneruskan perusahaan yang dirintisnya. Dedi lebih membebaskan dan mendukung apapun yang menjadi pilihan anaknya, namun ia akan sangat bersyukur jika memang anak satu-satunya yang ia miliki itu mengikuti jejaknya.

IMG-20170724-WA0006 IMG-20170724-WA0005

Jika ada kesempatan dan peluang, peraih award Indonesia Best Company 2017 ini ingin mencoba membuka usaha lain untuk mencapai obsesinya membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya.(mutiararizky)

 

DIDIT TRI HARYADI

No Comments

Raja Walet Indonesia

Didit Tri Haryadi_Direktur Utama PT. Raja Walet Indonesia

SATU DALAM GENGGAMAN

Pengalaman adalah pelajaran berharga bagi kelanjutan hidup seseorang. Masa lalu bisa menjadi pemicu semangat untuk bangkit dan meraih sukses di masa kini. Itulah yang terjadi dalam hidup Didit Tri H, owner PT Raja Walet Indonesia, perusahaan yang bergerak di bisnis kecantikan dengan produk-produknya seperti; balckwalet reguler, blackwalet neo, dan blackwalet highclass.

Saat ini, Didit, demikian sosok ini kita panggil, memang sukses dengan bisnisnya tapi tak berarti semua mudah diraih. Dulu iapun pernah mengalami kegagalan, kolaps, bahkan jatuh sakit. Menurut pria yang suka naik motor trail ini, 16 tahun ia menggeluti bidang bisnis ini. Pengalaman pahit, getir, manis sudah dialami. Dari pengalaman itu ia rangkum menjadi pelajaran sehingga ketika di tahun 2015 ingin membangun usaha ia niatkan sebagai ibadah. “Saya sakit 2 tahun, 6 bulan terakhir saya tak bisa jalan. Saat saya jatuh dulu, sakit dan hampir meninggal, saya lalu berdoa, kalau saya diberi kehidupan lagi saya akan berkarya yang bisa bermanfaat untuk orang banyak. Dan, Alhamdulillah, kita ciptakan Raja Walet ini dan banyak orang yang terbantu,” cerita pria yang hobi travelling ini.

Sejarah Berdirinya

Raja Walet Indonesia berdiri di tahun 2015. Soft launching dilakukan pada tanggal 27 Juni 2015, lalu launching resmi tanggal 29 November 2015. Sampai hari ini, dalam kurun dua tahun, perusahaan ini sudah mencetak puluhan ribu jutawan-jutawan di pelosok nusantara. Bahkan, bukan hanya di Indonesia, anggotanya pun telah merambah di 11 negara dan menerima dua kali penghargaan yakni Best Bussinness 2017 dan Best Winner 2017.

Menurut Didit, perusahaannya telah banyak membantu masyarakat Indonesia. Orang-orang yang dulu kolaps, hutangnya banyak, bisa bangkit setelah bergabung di Raja Walet. Perusahaan yang dulu dikejar-kejar hutang bisa teratasi dengan adanya perusahaan ini. Jadi, bukan hanya 2-3 orang yang bisa merasakan tapi sudah puluhan ribu. Bahkan sampai sekarang ini banyak anggotanya yang terima bonus Rp 3 juta sampai Rp 7 juta / hari, “Karena kita pakai sistem member card member, ada fee di situ,misal dengan omset sekian dapat sekian. Mayoritas mereka bisa dapat 1 juta / hari. Itu dapat dicapai dalam kurun waktu 3 bulan, 6 bulan, tergantung orangnya. Tapi sudah banyak yang hanya dalam kurun 3 bulan sudah dapat 1 juta/hari. Bahkan sekarang ada anggota kita yang mencapai Rp 1,5 M dalam kurun waktu 1 tahun,” ujar Didit.

Dikisahkan Didit, perusahaannya berdiri  tanpa investor, tanpa hutang bank. Didit memulai bersama satu orang teman saja. Niatnya murni ingin membantu mengatasi kemiskinan di Indonesia. Alhamdulillah, niat tersebut diterima oleh masyarakat.dan sekarang ini dengan member lebih 2 juta orang perusahaannya bisa memberi bonus lebih kurang Rp 400-500 juta/hari pada seluruh anggotanya.

Gebyar Blackwalet BBT

Jadi intinya, tambah Didit,  ia membangun bisnis dengan niat  hanya ibadah, dan ingin bermanfaat untuk orang banyak. “Kami pernah jatuh dan tak punya apa-apa, dan itu rasanya gak enak. Maka, kami berkarya, kami punya karya, semoga bermanfaat untuk orang banyak. Kami mungkin masih kecil, tapi kami berusaha berkarya untuk Indonesia, kami berusaha membantu mengatasi kemiskinan di Indonesia. Itu harapan kita,” ujarnya. Jadi, bukan uang yang ia cari. Baginya, bila ada ucapan terima kasih dari orang lain karena terbantu dari bisnisnya, maka itu sudah lebih dari sekedar keuntungan.

Lalu, kenapa Raja Walet menjadi brand bisnisnya. Menurut Didit, awalnya ia berfikir yang paling bagus dalam dunia bisnis itu pertama adalah kesehatan, kedua, kecantikan. Tapi, dengan seiring berjalannya waktu, pemikiran orangpun jadi terbalik. Sekarang orang lebih berfikir pada kecantikan, pada penampilan dulu bukan sehatnya. Dalam keseharian orang merasa sehat, padahal itu cuma merasa saja, dan yang penting cantik dulu, tampil menarik, akhirnya Diditpun berfikir untuk menghasilkan produk kecantikan yang bagus. Kemudian, ia melihat walet itu luar biasa. Manfaatnya banyak, akhirnya dibikinlah produk dari bahan baku walet dan diberi nama blackwalet.

Brand Raja Walet dipakai karena nantinya semua produk yang dihasilkan perusahaan berbahan baku walet. Diambil dari air liurnya kemudian diekstrak dan dijadikan produk kecantikan. Menurut Didit, semua diproduksi sendiri. Dan untuk produksi ada di empat tempat. “Insya Allah tahun 2018 kita akan bikin satu pabrik dan semua kita jadikan satu,” tuturnya.

Dari pertama berdiri hingga 1,5 tahun perusahaan berjalan, Raja Walet hanya punya satu produk. Lalu memasuki tahun kedua, diciptakan lagi produk baru dengan nama blackwalet neo. “Itu hampir sama dengan yang pertama, harganya murah, satu paket Rp 100.000. Tapi dengan harga segitu orang bisa jadi jutawan. Pangsa kita memang menengah ke bawah, tapi sekarang kalangan artis (menengah ke atas) menjadi anggota kita,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilannya membangun  bisnisnya bukan karena dirinya yang hebat, tapi karena dukungan dan doa dari anak-anak panti yang selama ini disantuni dan direkrutnya menjadi karyawan. Oleh karena itu, di tahun 2018 nanti, ia mendirikan gedung bukan hanya untuk pabrik tapi di lokasi tersebut juga ada gedung untuk yayasan panti asuhan.

Visi dan Misi

Disinggung prihal visi dan misinya, pria yang suka bermain bilyar dan bulutangkis ini menjelaskan bahwa dirinya ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi siapapun dan mendidik orang bukan hanya menjadi pengusaha tapi menjadi entreupreneur. Karena itu pihak perusahaan selalu mengadakan pelatihan-pelatihan untuk mendidik orang bagaimana menjadi pengusaha, bagaimana meningkatkan mutu dan kualitas.

Menurut Didit, di Indonesia ini sesungguhnya potensi masyarakatnya luar biasa, tapi karena tidak ada pendukungnya maka tak ada hasilnya. Oleh karenanya, ia memberi wadah untuk orang-orang yang mau berkarya dan menjadi jutawan-jutawan melalui perusahaan ini. Jadi visi, misinya, tegas Didit, semata beribadah, memberi lapangan pekerjaan dan bermanfaat untuk orang banyak.

BlackWalet Business Opportunity-21 brosur_blackwalet_depan[1]

Karena niatnya ibadah dan bermanfaat untuk orang banyak. Maka pihaknya pun berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik. Itu strateginya dalam memajukan perusahaan. Selain itu,  iapun selalu mengingatkan anggota/karyawannya untuk selalu sedekah, berbagi, karena semua ini hanya titipanNya. Jadi kalau kita di atas, berpenghasilan banyak, jangan lupa berbagi sesama. Itu konsep yang diajarkan Didit pada semua karyawan/anggota. “Sehebat apapun kemampuan dan kekuatan kita tanpa pertolongan Yang Di Atas, tak akan mungkin bisa berhasil. Maka kami selalu menghimbau untuk selalu berbagi, selalu membantu siapapun yang membutuhkan. Dua tahun perusahaan bisa berjalan mulus, mempunyai anggota lebih dari 2 juta, itu karena niat kita yang tulus untuk membantu dan ibadah. Itu saja,” tekannya.

Ditanya soal pesaing, Didit mengatakan bahwa orang Indonesia pintar-pintar semua, jadi kompetitor produk-produk sejenis itu banyak. Produknya juga banyak ditiru. Tapi hal itu biasa saja, karena masyarakat jualah yang menilai. Yang penting, perusahaannya memberi produk yang berkualitas, bukan abal-abal. Dirinya tak mau main-main. Jadi semua kembali ke masyrakat, mereka yang menilai.

“Kami berikan produk itu sesuai kebutuhan masyarakat. Kita memberi RIS, Rajawalet International Siposystem, yaitu mendidik anggota bukan hanya mencari uang saja, tapi mendidik mereka menjadi entepreuneur, menjadi seorang pengusaha yang memiliki mental pengusaha juga memiliki jiwa kepemimpinan,” tuturnya.

Lalu untuk meningkatkan kualitas anggota, pihak perusahaan selalu mengadakan pertemuan pemngembangan diri, seperti BBT (Blackwalet Basic Training), For Leader Training, dan Master Training. Semua ada tingkatan-tingkatannya. Dari pelatihan  tersebut bisa diketahui seseorang bisa masuk tingkatan mana dulu sesuai kapasitasnya.

Kemudian ada BBOP (Blackwalet Bussinness Oportunity Presentase) yang diikuti lebih dari 300 orang, dan Grand BBOP dengan peserta di atas 1.000 orang. Ditiap kota pertemuan BBOP dilaksanakan seminggu sekali, sedang Grand BBOP dilakukan sebulan sekali. Pada pertemuan Grand BBOP Didit selalu datang, melakuan roadshow guna memberi motivasi dan pengarahan pada para anggotanya (member). Ditambahkan Didit,  dengan jumlah SDM 60-70 karyawan, Raja Walet merupakan satu keluarga besar.

Oleh karenanya, pembinaan  karyawanpun dengan memperlakukan mereka layaknya keluarga, sehingga karyawan merasa enjoy, bekerja tak ada beban. Menurut Didit, untuk menghargai kebersamaan dengan karyawan, perusahaan juga mengajak seluruh karyawan/anggota wisata bersama, dan Insya Allah, di tahun 2018 ada sekitar 80 orang anggota yang akan diajak umroh bersama, juga akan ada trip ke Hongkong. “Kemarin (2017) kita trip ke Singapura dan Malaysia. Dan itu gratis. Ini salah satu wujud reward bagi prestasi mereka, kita beri gratis,” jelas Didit.

Peran Pemerintah

Disinggung soal peran pemerintah pada bisnisnya, Didit menjawab singkat bahwa sampai sekarang bisnis seperti miliknya belum dilirik oleh pemerintah. Paling dirinya hanya mendapat penghargaan-penghargaan. Namun demikian, Didit punya angan-angan suatu ketika bisa masuk MURI dengan rekor memiliki member yang banyak, sehingga pemerintah bisa tahu bahwa perusahaannya berperan juga mengatasi kemiskinan di Indonesia, walaupun angkanya mungkin tak terlalu besar.

Kembali pada produk perusahaan, Didit menegaskan bahwa sedari awal dirinya memang ingin menghasilkan produk kecantikan. Dan, target kedepannya pihaknya akan membikin produk yang highclass. Nantinya akan ada 5 produk dalam satu paket dan dijual seharga Rp 1.400.000 ke konsumen.

Menurut Didit, produk tersebut memang lebih mahal tapi member akan mendapatkan bonus lebih besar. Dengan adanya produk highclass, orang mendapat bonus hingga 10 juta rupiah bahkan 100 juta rupiah / hari. Rewardnya mulai dari smartphone, tablet, motor, mobil, dan rumah senilai Rp 1 milyar. Lalu, diberikan dana pensiun per 3 bulan sekali. Diberikan cuma-cuma untuk anggota yang berprestasi di awal. Selain itu, jalan-jalan gratis ke Eropa dan Asia.

Lebih jauh Didit menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia itu sering trauma karena adanya sistem usaha seperti yang ia jalankan. Para owner bikin perusahaan dengan target sekian, mencari keuntungan sekian, lalu orang ditinggalkan, buka perusahaan lagi, bikin lagi, akhirnya masyarakat kecewa dan trauma.

Namun, hal itu tak berlaku bagi perusahaannya, karena konsep perusahaannya yakni ingin memberikan pencerdasan pada masyarakat bukan pembodohoan. Contoh, dengan produk blackwalet, dengan mengeluarkan Rp 100.000 orang mendapat fee Rp 20.000, karena harga jualnya Rp 120.000, dan itu free member, berlaku seumur hidup.

Karena memang, dari awal niat Didit ibadah, bermanfaat bagi orang banyak, dan mencerdaskan masyarakat. Jadi, jika orang menjadi anggota perusahaannya maka tak ada ruginya. Secara akad istilahnya ada uang ada barang, itu sah. “Yang tidak boleh itu jika seseorang mengeluarkan uang tapi tak ada barangnya,” jelasnya.

Didit ingin blackwalet ini menjadi pionir, sehingga para owner yang bikin perusahaan tidak membodohi masyarakat dengan keinginan hanya mencari keuntungan, kemudian bikin perusahaan baru lagi. Itu jelas merugikan masyarakat. Menurutnya, yang namanya berbisnis itu harus menguntungkan semua pihak, bukan menguntungkan pemilik perusahaan saja. Jika bisa berbisnis dengan hati maka masyarakat Indonesia akan menjadi jauh lebih baik.

Terakhir Didit menegaskan, kedepannya perusahaannya akan terus menciptakan produk-produk yang lebih bagus dan berkualitas. “Kita mengutamakan kualitas karena itu nilai jual kita. Produk murah itu bukan murahan. Slogan kita satu dalam genggaman. Artinya, blackwalet itu satu tapi menggenggam semuanya karena kita memberikan semuanya pada anggota dan masyarakat luas,” ucapnya.[] (baguspram)

Kegiatan Bersama Anak Yatim Piatu

YAKOBUS JANO

No Comments

45

Bertahan Dalam Asa (Kisah 50 perintis Kopdit Pintu Air) “Kita dibesarkan dengan sakit, diejek, diolok dan dicemooh. Tapi karena komitmen kita pada kesejahteraan bersama dan kepada Tuhan yang menjadi dasar keyakinan kita, maka Kopdit Pintu Air bisa bertahan sampai hari ini.” Demikian ketua Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano melukiskan ziarah kopdit yang menempati urutan ketiga dari seluruh koperasi kredit Indonesia ini dalam kesempatan peresmian cabang Kopdit Pintu Air ke-33 yakni cabang Lembor tahun lalu. Itu artinya perjalanan kopdit dengan 36 cabang ini tidak berjalan mulus. Selalu ada tantangan yang menghadang. Tantangan itu sudah ada sejak kopdit yang berpusat di Rotat ini dirintis oleh 50 warga dusun Rotat, desa Ladogahar, kecamatan Nita, Sikka, NTT. Ke-50 perintis ini tahu betul betapa sakitnya melahirkan usaha bersama bernama Pintu Air. Sejak awal para perintis berhadapan dengan situasi sosial yang kurang enak di kampung Rotat. Dari penuturan mereka, ada empat soal yang mengitari Rotat pada era tahun 90-an. Pertama, sebagian besar warga dusun Rotat bermatapencaharian sebagai petani. Tahun-tahun itu, mereka memanfaatkan areal di sekitar sungai wair puang-sungai yang terletak di wilayah dusun Rotat sekaligus menjadi inspirasi bagi nama Pintu Air- untuk membudidayakan sayur mayur terutama kangkung. Hasilnya dijual ke pasar di Maumere. Kala itu, kangkung wair puang sempat menjadi primadona. Mereka juga berharap banyak dari hasil kakao dan kelapa. Tapi hasil pertanian ini menurun setiap tahunnya. Tentu saja hal ini tidak mampu menyanggah kebutuhan ekonomi keluarga dan biaya pendidikan anak. Dibutuhkan tiang lain untuk menyokongnya. Kedua, kehadiran rentenir yang meresahkan. Menjual uang dengan bunga tinggi membuat para renternir meraup keuntungan besar. Di sisi lain, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, warga Rotat yang bergejolak akibat hasil panen yang minim menelan pil pahit dari kerja kotor rentenir. Sudah sulit bertahan hidup dan membiayai pendidikan anak-anak, warga pun harus mengembalikan pinjaman uang dengan bunga selangit. Apa mau dikata. Ketiga, pada tahun 1990-an koperasi tumbuh subur di wilayah kabupaten Sikka. Beberapa koperasi mendaraskan cerita sukses. Tidak sedikit juga koperasi yang ambruk. Usianya tidak panjang.

 

91133 DSC08174

Hal ini dirasakan oleh warga dusun di lereng gunung Kimang Buleng ini. “Di Sikka dulu terkenal dengan koperasi Kopra. Tapi sudah mati. Waktu itu di kampung Rotat ada juga beberapa koperasi. Ada yang datang dari luar. Ada juga yang di dalam kampung ini. Umurnya tidak lama. Ini membuat kita juga pikir-pikir kalau bentuk koperasi,” tutur salah satu anggota perintis kopdit Pintu Air, Wandelinus Botu (64). Keempat, suasana dusun Rotat pada tahun 1990-an sangat rawan. Para pemuda acapkali membuat keributan di kampung. Setelah meneguk miras secara berkelompok, mereka berlaku onar. Aksi pencurian oleh beberapa oknum juga marak terjadi. Hal ini dibiarkan begitu saja karena sulit untuk diberantas. “Jangan lihat kecilnya kampung ini. Dulu banyak orang kacau. Ada juga para pencuri. Mereka berasal dari sini. Kami tidak mampu menegur atau melarang mereka karena mereka juga keluarga,” tutur Wandelinus. Keempat situasi sosial ekonomi ini menjadi tantangan awal para perintis. Ini juga sekaligus menjadi keprihatinan awal. Adalah Maria Densiana (57), seorang bidan desa mengajak kerabat dekatnya untuk membentuk usaha bersama simpan pinjam (UBSP). Menurut Maria, ajakan ini didasari oleh tujuan untuk perbaikan ekonomi. “Waktu itu saya sempat belajar dari koperasi di dinas kesehatan Sikka. Saya juga pernah menjabat sekretaris di koperasi di Bola. Manfaatnya baik. Apa salahnya kalau saya ajak orang sekampung untuk bentuk koperasi,” kata bidan Maria. Ide ini terwujud. Beberapa orang tertarik dan bergabung. Beberapa warga lain masih ragu-ragu. Mereka belum yakin. Jangan-jangan koperasi yang dibentuk ini akan mengulang kisah kelam koperasi sebelumnya yang usianya tak panjang. Bahkan ada yang berprasangka buruk dengan ide yang dicetus oleh bidan Maria ini. “Ada orang yang tidak masuk karena ragu-ragu. Ini pilihan masing-masing orang. Ada pihak yang menghasut orang supaya jangan ikut saya. Katanya, saya sudah kaya karena gaji PNS. Nanti uang yang dikumpul itu kasih kenyang saya,” tutur bidan Maria. Tidak peduli dengan pandangan miring itu, bidan Maria dan kawan-kawan memulai usaha ini. Setiap bulan mereka berkumpul di bawah rimbunan pohon kakao di tengah kampung. Mereka bertemu untuk membahas usaha bersama yang baru dimulai itu. Untuk urusan makan minum,

CendanaNewsNTTEbedDeRosary2 ???????????????????????????????

setiap anggota dengan swadaya, membawa beras, kayu api, kopi dan gula. Dan ada anggota yang membawa lebih dari yang telah disepakati bersama. Dalam pertemuan bulanan ini selalu ada selisih paham atau beda pendapat di antara anggota perintis itu sendiri. Entah itu menyangkut uang atau juga soal kebijakan yang diputuskan. Tak jarang suasana pertemuan menjadi gaduh manakala setiap orang ngotot mempertahankan idenya. Yang satu maunya begini. Yang lain maunya begitu. Tidak ada titik temu. Ketika direfleksikan sekarang, anggota perintis nomor urut pertama, Robertus Belarminus mengakui, kejadian 22 tahun silam ini adalah proses yang harus dilalui. Entah sadar atau tidak, hal itulah yang pelan-pelan membesarkan Pintu Air. Pada saat yang sama setiap bulan, ada juga yang berkumpul di tempat yang tidak jauh dari tempat pertemuan ke-50 perintis ini. Entah tujuannya apa. Tapi yang pasti setiap kali bertemu, mereka ditemani beberapa botol moke (minuman tradisional beralkohol di Flores). Alur cerita yang sama mereka pertontonkan setiap bulan. Duduk bercerita, kemudian meneguk moke secara bergilir dengan menggunakan satu gelas kaca, tidak lama kemudian mereka menciptakan keributan. Hal ini mengganggu pertemuan para perintis. Felix Wajong, salah satu anggota perintis melihatnya sebagai bagian dari perjuangan dan hidup kopdit Pintu Air yang layak disyukuri. Pandangan miring juga menghujam masing-masing anggota perintis dalam kesehariaan hidupnya. Romanus Bura (64) sungguh merasakan hal ini. Oleh para tetangganya, ia dianggap salah dalam mengambil keputusan. Menurut tetangganya, apa yang ia putuskan yakni bergabung di koperasi akan membuatnya menyesal di kemudian hari. “Saya dicemooh. Mereka omong dengan sinis. Mereka bilang, baik engkau anggota di Credit Union, nanti kalau mati masuk surga,” tutur Romanus. Anggota perintis yang lain, Apolonia Lio juga mengalami hal yang sama. Namun baginya, ini soal pilihan. Apapun yang orang katakan untuk dirinya, Apolonia menganggapnya sebagai hal yang biasa. Setiap bulan ia rutin mengikuti pertemuan dan terlibat aktif dalam kegiatan simpan pinjam. Lusia Lio pun demikian. Ia paham bahwa tujuan koperasi untuk hal yang baik. Kuncinya adalah kepercayaan. “Waktu awal saya percaya saja. Saya waktu itu masuk untuk biaya pendidikan anak-anak,” tutur nenek yang berusia 92 tahun ini. Menarik juga apa yang diceritakan anggota perintis lainnya, Arnoldus Yansen (61) yang bergabung di koperasi pada awalnya hanya ikut-ikutan. Tidak ada alasan khusus.

DSC08211

Karena ia tidak tahu apa-apa tentang koperasi. “Memang di Rotat waktu itu ada koperasi yang sudah mati. Yang saya tahu, kalau bentuk koperasi, uang pasti habis. Uang tidak tahu lari ke mana-mana. Kita tidak tahu. Tapi saya ikut saja. Saya percaya bapak Jano,” kata Arnoldus. Marianus Wara (49), anggota awal lainnya masih ingat betul dengan pengalaman ketika ia dianggap sebagai buruh bangunan yang bodoh. Marianus yang sekarang dikenal sebagai ‘tukangnya Pintu Air’ ini ikut membantu pengerjaan bangunan awal kopdit Pintu Air meski bayarannya murah. Padahal waktu itu, ada orang yang menawarinya dengan harga yang terbilang tinggi. “Saya dicap tukang bodoh. Tapi kan saya anggota. Saya harus bantu. Ya, memang bayarnya kecil sekali.” Primus Inter Pares Tantangan pada tahun-tahun awal ini membuat para perintis tidak pernah berpikir bahwa kopdit Pintu Air akan bertahan hingga hari ini. Hanya satu hal yang mereka harapkan dari koperasi waktu itu yakni bisa keluar dari kemelut ekonomi. Tidak lebih dari itu. Tidak demikian untuk anggota perintis yang satu ini. Yakobus Jano (63) yang sekarang dipercayakan sebagai ketua kopdit Pintu Air mampu melihat jauh ke depan. Ia memang sama dengan para perintis yang lainnya. Tapi ia menjadi ‘yang pertama’ dalam arti mampu melihat harapan yang menyelinap dalam setiap tantangan. Jano berhasil mengolah selisih paham, ocehan, ejekan, cemooh, fitnah menjadi menjadi energi untuk membangun. “Saya disebut kera putih, pencuri dengan cara yang santun karena waktu itu saya orang bank. Saya juga melihat yang kaya tetap menjadi kaya, sementara orang miskin tidak tersentuh. Hati saya bergejolak. Walau begitu, saya harus membangun kampung halaman sendiri, sebab situasi waktu itu sangat memprihatinkan. Kita harus maju,” ungkap pensiunan Bank BRI cabang Maumere ini. Putera dari pasangan Petrus Moa dan Yuliana Sareng ini punya credo tersendiri yakni “Tidak ada yang tidak mungkin karena kita berjalan bersama moang gete (Tuhan)”. Kalimat ini menjadi roh yang menyemangatinya untuk mengembangkan Pintu Air bersama yang lain.

Ketua-Kopdit-Pintu-Air-Bapak-Yakobus-Jano-ketika-menerima-Penghargaan-di-Semarang-Jawa-Tengah-1024x576

Dalam usahanya itu, ia berhasil merangkum cita-cita, kerja, usaha, rencana, program, anggota, para pengurus, pihak manajemen, pengawas dalam kesetiannya yang luar biasa. Alhasil, Kopdit Pintu Air sukses menyebarkan sauh pelayanannya di hampir seluruh wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT). Mulai dari Alor, Lembata, Adonara, Atambua, Kefa, Soe, Kupang, Sumba, Larantuka, Mamuere, Paga, Mbay, Mataloko, Bajawa, Aimere, Kisol, Ruteng, Lembor, hingga Labuan Bajo. Bahkan di luar NTT yakni Makassar, Dompu dan Surabaya. Dan hingga sekarang ini terdapat 36 kantor cabang dan 16 KCP Pintu Air dengan total anggota mencapai 170.000 orang. Fakta ini menyiratkan bahwa apapun tantangan yang kita hadapi dalam mengembangkan usaha untuk kebaikan bersama harus dihadapi. Para perintis Pintu Air telah berhasil melewatinya. Dan bukan tidak mungkin tantangan dalam wujud yang berbeda akan dihadapi esok hari. Asalkan kita bertahan dalam asa, pasti air akan mengalir dan memberi kesegaran bagi kita. (*)

AHMAD HIDAYAT ASSEGAF

No Comments

PT Green Construction

KESUKSESAN DATANG BERSAMA KEIKHLASAN

IMG-20170727-WA0046 20170210202456_00001 - Copy

 

Ahmad, pria berdarah Sumatra ini lahir pada 7 Agustus 1977, sebelum dua bulan ia terlahir tepatnya 11 Juni 1977 ayahnya wafat. Terlahir sebagai anak yatim membuatnya menjadi pribadi yang mandiri sekaligus selalu bersyukur. Kondisi tersebut yang membuatnya dapat bertahan dan sukses menjadi Direktur Utama sekaligus pemilik Green Construction City.

Mengenyam pendidikan dasar dan agama di Palembang, setelah lulus dari STM jurusan teknik listrik ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta dengan tujuan meneruskan pendidikannya. Namun, setelah menginjakan kaki di tanah Jawa ia merubah pikiran untuk lebih memilih bekerja karena tidak ingin memberatkan orangtua maupun saudara-saudaranya. Mengawali karir dari perusahaan satu ke perusahaan yang lain, banyak profesi yang ditekuni hingga akhirnya ia merasa tidak menemukan dirinya jika hanya menjadi seorang karyawan dan memutuskan mendirikan usaha sendiri.

‘Sambil menyelam dua tiga pulau terlampaui’ mungkin pepatah itu yang tepat untuknya. Awal mula Ahmad mengenal dunia proyek, ia membantu teman sekaligus mencari ilmu tentang property ini. Ahmad mengaku kala itu tidak mempermasalahkan perihal gaji yang didapatkan, untuk urusan biaya hidup ia bekerja ekstra dengan mencari pekerjaan sampingan memasang instalasi listrik dengan ilmu yang didapat semasa sekolah. Hampir satu tahun selama, tiga sampai empat kali dalam sebulan ia ikut kesana kemari mencari pekerjaan sampingan sekaligus investasi jaringan pertemanan.

Masuk ke ranah proyek perumahan pertama tepatnya di Bojong Baru Indah ia menjabat sebagai Humas, lalu merambah sebagai logistik, pelaksana hingga project manager. Ahmad mengaku selama menjadi manager selalu mengalami masalah serta berbagai kendala namun dari situ ia belajar dan mulai mengerti segala hal. Setelah itu, ia pun akhirnya menjadi kontraktor. Lari dari masalah tidak ada dalam kamus Ahmad, walaupun berulang kali ditipu dan tidak dibayar tetap ia selesaikan sampai tuntas. Semua proses dinikmati hingga bisa bangkit sekalipun sudah dijatuhkan berkali-kali. “Tidak mungkin Allah memberikan masalah jika tidak sesuai kemampuan hambanya,” tuturnya.

Dikisahkan Ahmad, ia pernah menjalankan program kemanusiaan di beberapa daerah di Indonesia yaitu Jakarta, Padang, dan Aceh. NGO atau LSM dari luar negeri langsung mempercayakannya untuk membangun kota-kota besar yang terkena bencana tersebut. Ahmad mendirikan 41 sekolah pasca gempa Padang berlangsung, ia pun mengaku menjadi sebuah kepuasan batin tersendiri dapat membantu sesama dengan ilmu yang dimilikinya.

PT. Green Construction

IMG-20170727-WA0040 IMG-20170727-WA0017

Dengan membeli tanah beserta perusahannya, Ahmad merintis bisnis perumahan bersubsidi ini. Nama Green Construction City sendiri diambil dari nama perumahan Green Citayam City yang telah dikenal oleh hal layak ramai. Sesuai dengan namanya, konsep yang diusung pun konstruksi kota hijau dimana rumah dibangun bersamaan dengan alam yang berkembang agar seimbang.

“Berharap mampu membangun secara nasional perumahan murah bersubsidi,” tandasnya yang menjadi visi perusahaan. Konsumen dari kalangan kementrian, TNI dan Polri menjadi prioritas sebagai bentuk apresiasi kepada program Presiden Joko Widodo yang disebut Nawa Cita. Namun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat umum untuk memiliki hunian dengan hanya cicilan 800ribu/bulan tersebut, sebab target pasar mengarah kepada masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah. Sehingga misi seluruh rakyat Indonesia memiliki rumah dapat terwujud.

Target untuk tahun ini membangun 4400 unit rumah, terbukti sudah terbangun sebanyak 2700 unit. Rencana untuk 2018, 4800 rumah dibangun dan persiapan untuk membangun di kota-kota besar lain pun sedang dicanangkan seperti Solo, Jogjakarta & Palembang. Fasilitas yang lengkap seperti pesantren, SPBU, sekolah, rumah sakit, sport center, dan mini stadium dibuat. Bahkan aula untuk RT dan RW mengadakan pertemuan pun didirikan juga. Tujuannya agar semua masyarakat baik di komplek maupun di kampung dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik.

Suami dari Dewi Hermawati ini menuturkan pesantren yang bernama Yayasan Bani Hasyim merupakan inti dari proyeknya tersebut. “Hasil dari proyek ini 30%-nya menjadi milik pesantren, pesantren tersebut gratis dan tidak butuh donatur,” jelasnya. Jika ia telah wafat saham untuk pesantren dinaikkan menjadi 49% dan pengurus pun dipilih secara aklamasi. Pesantren tersebut diperuntukan oleh anak yatim dan kaum dhuafa. Ahmad tahu betul rasanya menjadi anak yatim sedari kecil, baginya semua hak anak yatim sama namun yang membedakan adalah jalan dan kesempatan. Maka dari itu, ia ingin membuka jalan dan kesempatan tersebut untuk anak-anak yang lain menggapai impiannya salah satunya dengan mendirikan pesantren tersebut.

Disanggah mengenai kompetitor, Ahmad mengatakan strategi yang dipakainya adalah komitmen dan kualitas yang terbaik yang dijualnya. Hingga detik ini ia tidak terlalu menggencarkan pemasaran malah konsumen yang berdatangan sendiri. “Hanya GCC yang memakai dinding double, kusen alumunium, atap baja ringan, plafon gypsum dan sistem drainase yang cukup baik serta jalan utama 12.5 meter dan jalan lingkungan 7.5 meter. Walaupun rumah subsidi namun dapat bersaing dengan rumah komersil,” jelas Ahmad.

IMG-20170727-WA0026 IMG-20170727-WA0012

Dengan karyawan lebih dari 100 orang, terjun langsung ke lapangan masih menjadi cara Ahmad membina SDM yang dimilikinya. Memposisikan diri sebagai pemilik rumah dengan begitu ia tak ingin sembarangan mengurus rumahnya, maka tak jarang berangkat subuh dan pulang tengah malam. “Saya bukan bekerja, saya berkarya. Tidak ada kata lelah,” tandasnya. Baginya, komitmen untuk mensejahterakan orang banyak jauh lebih penting begitupula dikerjakan dengan hati yang tulus maka tidak menjadi beban.

Dukungan Keluarga

Kesuksesan tidak datang tanpa kerja keras namun dukungan pun penting sebagai motivasi menuju kesuksesan. Dukungan dari keluarga terus mengalir terutama sang istri yang ikut ambil bagian sebagai Komisaris Utama sekaligus pemegang saham sebesar 10% dari penjualan. Menikah pada tahun 2001, Ahmad dikaruniai tiga anak bernama Zahra Assegaf, Nazwa Assegaf dan Baihaqi Assegaf.

 

Lalu, apakah ingin anak meneruskan perusahaan yang telah dirintis hingga kini? Ahmad menjawab tidak memaksakan, ia biarkan anak tumbuh dengan obsesi dan keinginan secara alami. Jika memang anaknya tidak melanjutkan perusahaan ini, Ahmad mempunyai keinginan agar PT Green Construction City ini tidak boleh dijual dan terjual. Karena setengah saham jika ia wafat diberikan ke pesantren dan sisanya dibagikan kepada orang yang mampu menjalankan perusahaan ini kelak. “Semua adalah syariat, saya ini gak ada apa-apanya. Saya hanya menjalankan apa yang dititipkan oleh Allah,” jelas pengusaha yang ingin pemerintah mendukung semua usaha agar program pemerintah tercapai pula. Banyak yang bertanya apa yang menjadi prinsip kesuksesan Ahmad yang telah mendapatkan empat penghargaan nasional ini, ia hanya berkata “Barakallah, keberkahan Allah yang saya cari tidak ada yang lain.”(mutiararizky)

WhatsApp-Image-2017-02-10-at-22.11.19 - Copy WhatsApp-Image-2017-02-10-at-22.11.17

PUTRI NUNUT SERENATA

No Comments

Pemilik Everglam Aesthethic Center

Membesarkan Nama Sendiri

Everglam 1

Putri, adalah tokoh profil kita. Wanita yang sukses menukangi bisnis yang sedang ramai di pasar modern saat ini yaitu kecantikan. Sejak dulu hingga kini, wanita mana yang tidak ingin memiliki kulit sehat dan cantik. Terlebih pada tahun millenial ini tengah digandrungi oleh tren ala-ala negeri boyband sana, dimana mata sipit, kulit putih, tubuh yang proporsional adalah dambaan para wanita. Hal tersebutlah yang mendorong Putri untuk membuka klinik kecantikan selain ingin membantu masyarakat Indonesia mempercantik diri sekaligus menjadi sumber pundi-pundi rupiah yang bisa dibilang bisnis kecantikan itu tidak ada matinya.

Wanita lulusan Universitas Indonesia ini memang sempat terjun pula ke bidang klinik kecantikan di Jakarta namun masih berupa franchise dan menjadi mitra kerja sebuah perusahaan orang. “Untuk apa terus membesarkan nama orang lain. Lebih baik start from zero, usaha sendiri jerih payah sendiri,” tandasnya dengan penuh semangat. Jiwa wirausaha yang dimilikinya memang sudah melekat dan alasan tersebut pula yang membawanya hijrah ke kota kembang untuk mencoba peruntungannya dengan nama yang dibawanya itu.

Everglam Aesthetic Center

BANNER

Berdiri pada 21 April 2017, klinik kecantikan Everglam Aesthetic Centre ini menjadi angin segar bagi warga Bandung khususnya dan warga Indonesia. Mengapa Bandung? Putri pun menyebut sebab Bandung itu kota yang indah dan diisi oleh orang-orang yang tentunya mencintai keindahan, kecantikan, juga karena Bandung merupakan kota yang cepat mengikuti arus tren masa kini.  Makna dari nama Everglam sendiri berdasar dari wanita yang ingin selalu terlihat glamour dan cantik yang pastinya kecantikan tersebut bertahan selamanya atau ever. “Ingin membuat orang-orang itu selalu tampil cantik, percaya diri, selalu merasa glamour dan merasa special,” begitu tuturnya.

Seperti tagline yang diusung yaitu ‘One Stop Dermatology Solution’ yaitu klinik kecantikan yang memberikan komprehensif dan menyeluruh dari ujung kaki hingga ujung rambut semua dapat  teratasi. Aesthetic Centre pun mempunyai makna yaitu menjadi pusat rujukan bagi para pasien yang mungkin telah ditolak di beberapa klinik kecantikan karena berbagai faktor dari alat yang kurang memadai hingga obat yang tidak cocok. Berkiblat dari negeri-negeri pusat kecantikan, seperti Korea, Taiwan, Italia dan Amerika membuat klinik kecantikan Everglam ini mempunyai visi menjadi klinik kecantikan No. 1 Indonesia dengan menghadirkan inovasi baru sekaligus mensejajarkan diri dengan klinik-klinik bertaraf Internasional. Tidak ada yang tidak mungkin, Putri pun mengaku tidak ingin melulu menjadi pecontoh karya luar negeri, ia pun ingin  menciptakan treatment khas sendiri, resep terbaru sendiri namun tetap kepuasan dan kenyamanan pasien yang menjadi tujuan utamanya.

Putri mengaku bahwa pasar yang disasarnya adalah semua kalangan serta semua lapisan masyarakat. Dari remaja hingga dewasa bisa mendapatkan treatment yang dibutuhkan di klinik kecantikannya ini. Harga yang dipatok pun tergolong murah mulai dari Rp 150,000 saja hingga Rp 26jt pun tersedia. Di klinik kecantikannya ini membantu pasien untuk menentukan pilihan kebutuhan dengan harga yang pas dikantong, maka tak jarang promo dan diskon pun hadir tiap bulannya. Pilihan treatment yang dihadirkan sangatlah beragam mulai dari Facial, Thereadlift, Botox, Skin Rejuvination, hingga Body Sculpsure.

IMG_20170516_052655 IMG_20170516_052914-696x462 IMG_20170516_052335 Everglam 2

Terdapat tiga treatment yang menjadi andalan dan dicari-cari oleh pelanggan. Pertama, Facial Neorivive adalah facial biasa namun tidak manual menggunakan tangan dan uniknya memakai batu apung yang bertujuan mengangkat sel-sel kulit mati sekaligus massage, lalu diberikan serum juga gold mask (masker emas). Efek yang dihasilkan langsung terasa menjadikan kulit lembut, kenyal, dan bercahaya karena sari batu pualam dan yang lainnya bersatu padu dan meresap, Kedua, Laser Viva Fractional perawatan ini bertujuan untuk menghilangkan bekas jerawat dari flek hitam hingga bopeng yang sudah parah dan tentu saja hasilnya akan terlihat. Dan yang terakhir, Laser for Rejuvination adalah treatment yang menggunakan laser, perawatan yang satu ini memiliki segudang manfaat yaitu mencerahkan kulit, menghilangkan flek, melasma bahkan menghilangkan tatto.  Hasil pun tergantung dari tipe kulit yang dimiliki pasien, karena pada dasarnya terdapat tiga tipe kulit yaitu normal, kering dan berminyak. “Rata-rata pasien itu pasti kulitnya normal-kering atau normal-berminyak dan disini bisa langsung dicek tipe kulit yang mana,” jelasnya.

“Terus terang, saya paling tidak mau memakai alat yang sama untuk menangani keluhan kulit yang berbeda karena disitu kepuasan berasal,” jelasnya. Mantan penyiar radio ini mengaku demi kepuasan dan memenuhi kebutuhan pasien Everglam hadir dengan alat yang lengkap dan canggih untuk semua treatment. Dari hal tersebutlah yang menjadi keunggulan dan poin plus yang tidak dimiliki oleh klinik-klinik kecantikan lainnya. Maka dari itu, Putri tak pernah mengganggap klinik kecantikan lain adalah kompetitor pasarnya hanya terkecuali bagi yang memiliki alat lengkap seperti milik kliniknya. Nanun bukan berarti Putri tinggal diam saja dengan keunggulan tersebut. Strateginya dalam pasar era modern ini ia fokuskan pada sistem marketing yang menyasar pada influencer-infulencer muda yang berpengaruh. Contohnya pada saat Grand Opening Everglam yang berlangsung di Hotel Hilton tersebut mengundang para beauty blogger Bandung. Hal tersebut memberikan efek domino yang cukup bagus bagi berkibarnya nama Everglam di tanah Pasundan tersebut.

 

Membina Sumber Daya Manusia

Lalu, bagaimana cara Putri dalam mengelola SDM yang dimilikinya? Ia pun menuturkan hal pertama yang paling penting membina karyawannya adalah satu visi dalam menjalankan tugas. Karena bisnis yang dijalaninya adalah menjual jasa, maka keramahan dan pelayanan yang maksimal yang perlu dijaga. “Trainingnya juga harus sama, bagaimana massage harus sama. Jangan melayani satu pasien namun cara massage-nya berbeda,” katanya menjelaskan.  Total karyawan yang dimilikinya saat ini berjumlah 9 orang, tenaga profesional yang selalu menjadi pilihannya sebagai nilai utama.

Targetnya mengembangkan lagi usaha klinik kecantikan ini hingga menelurkan cabang-cabang baru. “Masih banyak yang perlu ditingkatkan terutama dalam keterampilan serta dalam hal mengambil tindakan,” tuturnya. Wanita yang sempat bekerja di salah satu RS Nasional ini pun memiliki filosofi yang sederhana namun melekat dalam ingatan yaitu “Don’t be afraid to face the world against all odds

Every Victory comes in time, work today to change tomorrow”. Dari situlah ia selalu ingin melakukan yang lebih baik lagi dan lagi untuk semua orang maka itu kita akan mendapat yang terbaik pula. Sebab baginya Tuhan adalah sumber khidmat, berdoa nomor satu selebihnya adalah usaha dan kerja keras karena kerja pun adalah sebagian dari ibadah. (mutiararizky)

Brosur-III-2 Brosur-III-1