DIDIT TRI HARYADI

Raja Walet Indonesia

Didit Tri Haryadi_Direktur Utama PT. Raja Walet Indonesia

SATU DALAM GENGGAMAN

Pengalaman adalah pelajaran berharga bagi kelanjutan hidup seseorang. Masa lalu bisa menjadi pemicu semangat untuk bangkit dan meraih sukses di masa kini. Itulah yang terjadi dalam hidup Didit Tri H, owner PT Raja Walet Indonesia, perusahaan yang bergerak di bisnis kecantikan dengan produk-produknya seperti; balckwalet reguler, blackwalet neo, dan blackwalet highclass.

Saat ini, Didit, demikian sosok ini kita panggil, memang sukses dengan bisnisnya tapi tak berarti semua mudah diraih. Dulu iapun pernah mengalami kegagalan, kolaps, bahkan jatuh sakit. Menurut pria yang suka naik motor trail ini, 16 tahun ia menggeluti bidang bisnis ini. Pengalaman pahit, getir, manis sudah dialami. Dari pengalaman itu ia rangkum menjadi pelajaran sehingga ketika di tahun 2015 ingin membangun usaha ia niatkan sebagai ibadah. “Saya sakit 2 tahun, 6 bulan terakhir saya tak bisa jalan. Saat saya jatuh dulu, sakit dan hampir meninggal, saya lalu berdoa, kalau saya diberi kehidupan lagi saya akan berkarya yang bisa bermanfaat untuk orang banyak. Dan, Alhamdulillah, kita ciptakan Raja Walet ini dan banyak orang yang terbantu,” cerita pria yang hobi travelling ini.

Sejarah Berdirinya

Raja Walet Indonesia berdiri di tahun 2015. Soft launching dilakukan pada tanggal 27 Juni 2015, lalu launching resmi tanggal 29 November 2015. Sampai hari ini, dalam kurun dua tahun, perusahaan ini sudah mencetak puluhan ribu jutawan-jutawan di pelosok nusantara. Bahkan, bukan hanya di Indonesia, anggotanya pun telah merambah di 11 negara dan menerima dua kali penghargaan yakni Best Bussinness 2017 dan Best Winner 2017.

Menurut Didit, perusahaannya telah banyak membantu masyarakat Indonesia. Orang-orang yang dulu kolaps, hutangnya banyak, bisa bangkit setelah bergabung di Raja Walet. Perusahaan yang dulu dikejar-kejar hutang bisa teratasi dengan adanya perusahaan ini. Jadi, bukan hanya 2-3 orang yang bisa merasakan tapi sudah puluhan ribu. Bahkan sampai sekarang ini banyak anggotanya yang terima bonus Rp 3 juta sampai Rp 7 juta / hari, “Karena kita pakai sistem member card member, ada fee di situ,misal dengan omset sekian dapat sekian. Mayoritas mereka bisa dapat 1 juta / hari. Itu dapat dicapai dalam kurun waktu 3 bulan, 6 bulan, tergantung orangnya. Tapi sudah banyak yang hanya dalam kurun 3 bulan sudah dapat 1 juta/hari. Bahkan sekarang ada anggota kita yang mencapai Rp 1,5 M dalam kurun waktu 1 tahun,” ujar Didit.

Dikisahkan Didit, perusahaannya berdiri  tanpa investor, tanpa hutang bank. Didit memulai bersama satu orang teman saja. Niatnya murni ingin membantu mengatasi kemiskinan di Indonesia. Alhamdulillah, niat tersebut diterima oleh masyarakat.dan sekarang ini dengan member lebih 2 juta orang perusahaannya bisa memberi bonus lebih kurang Rp 400-500 juta/hari pada seluruh anggotanya.

Gebyar Blackwalet BBT

Jadi intinya, tambah Didit,  ia membangun bisnis dengan niat  hanya ibadah, dan ingin bermanfaat untuk orang banyak. “Kami pernah jatuh dan tak punya apa-apa, dan itu rasanya gak enak. Maka, kami berkarya, kami punya karya, semoga bermanfaat untuk orang banyak. Kami mungkin masih kecil, tapi kami berusaha berkarya untuk Indonesia, kami berusaha membantu mengatasi kemiskinan di Indonesia. Itu harapan kita,” ujarnya. Jadi, bukan uang yang ia cari. Baginya, bila ada ucapan terima kasih dari orang lain karena terbantu dari bisnisnya, maka itu sudah lebih dari sekedar keuntungan.

Lalu, kenapa Raja Walet menjadi brand bisnisnya. Menurut Didit, awalnya ia berfikir yang paling bagus dalam dunia bisnis itu pertama adalah kesehatan, kedua, kecantikan. Tapi, dengan seiring berjalannya waktu, pemikiran orangpun jadi terbalik. Sekarang orang lebih berfikir pada kecantikan, pada penampilan dulu bukan sehatnya. Dalam keseharian orang merasa sehat, padahal itu cuma merasa saja, dan yang penting cantik dulu, tampil menarik, akhirnya Diditpun berfikir untuk menghasilkan produk kecantikan yang bagus. Kemudian, ia melihat walet itu luar biasa. Manfaatnya banyak, akhirnya dibikinlah produk dari bahan baku walet dan diberi nama blackwalet.

Brand Raja Walet dipakai karena nantinya semua produk yang dihasilkan perusahaan berbahan baku walet. Diambil dari air liurnya kemudian diekstrak dan dijadikan produk kecantikan. Menurut Didit, semua diproduksi sendiri. Dan untuk produksi ada di empat tempat. “Insya Allah tahun 2018 kita akan bikin satu pabrik dan semua kita jadikan satu,” tuturnya.

Dari pertama berdiri hingga 1,5 tahun perusahaan berjalan, Raja Walet hanya punya satu produk. Lalu memasuki tahun kedua, diciptakan lagi produk baru dengan nama blackwalet neo. “Itu hampir sama dengan yang pertama, harganya murah, satu paket Rp 100.000. Tapi dengan harga segitu orang bisa jadi jutawan. Pangsa kita memang menengah ke bawah, tapi sekarang kalangan artis (menengah ke atas) menjadi anggota kita,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilannya membangun  bisnisnya bukan karena dirinya yang hebat, tapi karena dukungan dan doa dari anak-anak panti yang selama ini disantuni dan direkrutnya menjadi karyawan. Oleh karena itu, di tahun 2018 nanti, ia mendirikan gedung bukan hanya untuk pabrik tapi di lokasi tersebut juga ada gedung untuk yayasan panti asuhan.

Visi dan Misi

Disinggung prihal visi dan misinya, pria yang suka bermain bilyar dan bulutangkis ini menjelaskan bahwa dirinya ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi siapapun dan mendidik orang bukan hanya menjadi pengusaha tapi menjadi entreupreneur. Karena itu pihak perusahaan selalu mengadakan pelatihan-pelatihan untuk mendidik orang bagaimana menjadi pengusaha, bagaimana meningkatkan mutu dan kualitas.

Menurut Didit, di Indonesia ini sesungguhnya potensi masyarakatnya luar biasa, tapi karena tidak ada pendukungnya maka tak ada hasilnya. Oleh karenanya, ia memberi wadah untuk orang-orang yang mau berkarya dan menjadi jutawan-jutawan melalui perusahaan ini. Jadi visi, misinya, tegas Didit, semata beribadah, memberi lapangan pekerjaan dan bermanfaat untuk orang banyak.

BlackWalet Business Opportunity-21 brosur_blackwalet_depan[1]

Karena niatnya ibadah dan bermanfaat untuk orang banyak. Maka pihaknya pun berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik. Itu strateginya dalam memajukan perusahaan. Selain itu,  iapun selalu mengingatkan anggota/karyawannya untuk selalu sedekah, berbagi, karena semua ini hanya titipanNya. Jadi kalau kita di atas, berpenghasilan banyak, jangan lupa berbagi sesama. Itu konsep yang diajarkan Didit pada semua karyawan/anggota. “Sehebat apapun kemampuan dan kekuatan kita tanpa pertolongan Yang Di Atas, tak akan mungkin bisa berhasil. Maka kami selalu menghimbau untuk selalu berbagi, selalu membantu siapapun yang membutuhkan. Dua tahun perusahaan bisa berjalan mulus, mempunyai anggota lebih dari 2 juta, itu karena niat kita yang tulus untuk membantu dan ibadah. Itu saja,” tekannya.

Ditanya soal pesaing, Didit mengatakan bahwa orang Indonesia pintar-pintar semua, jadi kompetitor produk-produk sejenis itu banyak. Produknya juga banyak ditiru. Tapi hal itu biasa saja, karena masyarakat jualah yang menilai. Yang penting, perusahaannya memberi produk yang berkualitas, bukan abal-abal. Dirinya tak mau main-main. Jadi semua kembali ke masyrakat, mereka yang menilai.

“Kami berikan produk itu sesuai kebutuhan masyarakat. Kita memberi RIS, Rajawalet International Siposystem, yaitu mendidik anggota bukan hanya mencari uang saja, tapi mendidik mereka menjadi entepreuneur, menjadi seorang pengusaha yang memiliki mental pengusaha juga memiliki jiwa kepemimpinan,” tuturnya.

Lalu untuk meningkatkan kualitas anggota, pihak perusahaan selalu mengadakan pertemuan pemngembangan diri, seperti BBT (Blackwalet Basic Training), For Leader Training, dan Master Training. Semua ada tingkatan-tingkatannya. Dari pelatihan  tersebut bisa diketahui seseorang bisa masuk tingkatan mana dulu sesuai kapasitasnya.

Kemudian ada BBOP (Blackwalet Bussinness Oportunity Presentase) yang diikuti lebih dari 300 orang, dan Grand BBOP dengan peserta di atas 1.000 orang. Ditiap kota pertemuan BBOP dilaksanakan seminggu sekali, sedang Grand BBOP dilakukan sebulan sekali. Pada pertemuan Grand BBOP Didit selalu datang, melakuan roadshow guna memberi motivasi dan pengarahan pada para anggotanya (member). Ditambahkan Didit,  dengan jumlah SDM 60-70 karyawan, Raja Walet merupakan satu keluarga besar.

Oleh karenanya, pembinaan  karyawanpun dengan memperlakukan mereka layaknya keluarga, sehingga karyawan merasa enjoy, bekerja tak ada beban. Menurut Didit, untuk menghargai kebersamaan dengan karyawan, perusahaan juga mengajak seluruh karyawan/anggota wisata bersama, dan Insya Allah, di tahun 2018 ada sekitar 80 orang anggota yang akan diajak umroh bersama, juga akan ada trip ke Hongkong. “Kemarin (2017) kita trip ke Singapura dan Malaysia. Dan itu gratis. Ini salah satu wujud reward bagi prestasi mereka, kita beri gratis,” jelas Didit.

Peran Pemerintah

Disinggung soal peran pemerintah pada bisnisnya, Didit menjawab singkat bahwa sampai sekarang bisnis seperti miliknya belum dilirik oleh pemerintah. Paling dirinya hanya mendapat penghargaan-penghargaan. Namun demikian, Didit punya angan-angan suatu ketika bisa masuk MURI dengan rekor memiliki member yang banyak, sehingga pemerintah bisa tahu bahwa perusahaannya berperan juga mengatasi kemiskinan di Indonesia, walaupun angkanya mungkin tak terlalu besar.

Kembali pada produk perusahaan, Didit menegaskan bahwa sedari awal dirinya memang ingin menghasilkan produk kecantikan. Dan, target kedepannya pihaknya akan membikin produk yang highclass. Nantinya akan ada 5 produk dalam satu paket dan dijual seharga Rp 1.400.000 ke konsumen.

Menurut Didit, produk tersebut memang lebih mahal tapi member akan mendapatkan bonus lebih besar. Dengan adanya produk highclass, orang mendapat bonus hingga 10 juta rupiah bahkan 100 juta rupiah / hari. Rewardnya mulai dari smartphone, tablet, motor, mobil, dan rumah senilai Rp 1 milyar. Lalu, diberikan dana pensiun per 3 bulan sekali. Diberikan cuma-cuma untuk anggota yang berprestasi di awal. Selain itu, jalan-jalan gratis ke Eropa dan Asia.

Lebih jauh Didit menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia itu sering trauma karena adanya sistem usaha seperti yang ia jalankan. Para owner bikin perusahaan dengan target sekian, mencari keuntungan sekian, lalu orang ditinggalkan, buka perusahaan lagi, bikin lagi, akhirnya masyarakat kecewa dan trauma.

Namun, hal itu tak berlaku bagi perusahaannya, karena konsep perusahaannya yakni ingin memberikan pencerdasan pada masyarakat bukan pembodohoan. Contoh, dengan produk blackwalet, dengan mengeluarkan Rp 100.000 orang mendapat fee Rp 20.000, karena harga jualnya Rp 120.000, dan itu free member, berlaku seumur hidup.

Karena memang, dari awal niat Didit ibadah, bermanfaat bagi orang banyak, dan mencerdaskan masyarakat. Jadi, jika orang menjadi anggota perusahaannya maka tak ada ruginya. Secara akad istilahnya ada uang ada barang, itu sah. “Yang tidak boleh itu jika seseorang mengeluarkan uang tapi tak ada barangnya,” jelasnya.

Didit ingin blackwalet ini menjadi pionir, sehingga para owner yang bikin perusahaan tidak membodohi masyarakat dengan keinginan hanya mencari keuntungan, kemudian bikin perusahaan baru lagi. Itu jelas merugikan masyarakat. Menurutnya, yang namanya berbisnis itu harus menguntungkan semua pihak, bukan menguntungkan pemilik perusahaan saja. Jika bisa berbisnis dengan hati maka masyarakat Indonesia akan menjadi jauh lebih baik.

Terakhir Didit menegaskan, kedepannya perusahaannya akan terus menciptakan produk-produk yang lebih bagus dan berkualitas. “Kita mengutamakan kualitas karena itu nilai jual kita. Produk murah itu bukan murahan. Slogan kita satu dalam genggaman. Artinya, blackwalet itu satu tapi menggenggam semuanya karena kita memberikan semuanya pada anggota dan masyarakat luas,” ucapnya.[] (baguspram)

Kegiatan Bersama Anak Yatim Piatu

Copyright © 2017 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.