Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA

Founder & Managing Director Bali Tropic Resort & Spa

Indonesia Harus Dipimpin oleh Orang yang Mampu Menjauhkan Kepentingan Diri Sendiri

Indonesia kembali diguncang peristiwa besar. Setelah kasus Gayus –pegawai Ditjen Pajak golongan III A yang mampu melakukan korupsi luarbiasa besarnya- usai, kini menyusul kasus yang lain. Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazarudin tertangkap oleh Interpol di Kolombia setelah berbulan-bulan buron.

Kasus ini menjadi besar tidak hanya korupsi karena melibatkan partai yang sedang berkuasa, tetapi “nyanyian” Nazarudin juga menyeret orang-orang penting di negeri ini. Apalagi, kabarnya nilai uang yang dikorupsi Nazarudin mencapai hitungan Rp6,7 triliun. Sebuah jumlah yang sangat mencengangkan mengingat uang sebanyak itu bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan dikorupsi yang hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Meskipun demikian, pengungkapan kasusnya sendiri –seperti juga kasus yang lain- kelihatannya akan menemukan jalan buntu. Penyebabnya, nuansa politis yang sangat kental membuat pihak berwenang kesulitan membongkarnya. Begitu pun, pelakunya yang belakangan “lempar handuk” terhadap kasus yang membelitnya tersebut.

Sejatinya, Indonesia harus terbebas dari segala jenis korupsi agar mencapai kesejahteraan rakyat seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa ini. Jangan sampai, karena korupsi yang sudah demikian akut dan merajalela, kepentingan bangsa justru terlupakan. Kesejahteraan rakyat menjadi bukan prioritas lagi dan hanya sekadar menumpuk pundi-pundi kekayaan para pemimpinnya. 

“Semua bicara tentang bagaimana menyejahterakan bangsa ini, tetapi kenyataannya rakyat kecil menderita karena tidak mendapat perhatian pemerintah. Kunci mengatasi permasalahan tersebut ada pada pemimpinnya, yaitu sepanjang pemimpin melanjutkan visinya dengan penuh tanggung jawab. Orang yang memimpin Indonesia adalah orang yang bisa menjauhkan kepentingan diri sendiri dan mengutamakan rakyat,” kata Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA., Founder & Managing Director Bali Tropic Resort & Spa…

Jro Gede –panggilan akrabnya- menyebutkan salah satu budaya kepemimpinan Bali, yakni adanya Tri Kaya Parisudha yang berarti “Apa yang dipikirkan itu yang diutarakan”. Ungkapan tersebut bermakna kurang lebih sebagai kejujuran dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dalam pengamatannya, sikap yang mencerminkan Tri Kaya Parisudha tidak ada pada kalangan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia.

Selain itu, menurut Jro Gede, untuk mengatasi korupsi yang semakin merajalela di seluruh lini kehidupan, sistem kepartaian di Indonesia harus dievaluasi. Cara-cara untuk duduk sebagai anggota dewan perwakilan rakyat (DPR atau DPRD) dengan menyogok harus dihentikan. Artinya seorang pejabat yang terpilih karena menyogok akan berusaha untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkannya.

“Jadi untuk mencapai target yang ideal, Indonesia masih sulit karena pimpinannya tidak bisa membuat rencana yang luar biasa hebat untuk kepentingan rakyat Indonesia. Prinsip how much for my pocket, for myself harus ditinggalkan demi kesejahteraan rakyat.. Seharusnya untuk duduk di eksekutif, bukan dengan menggunakan uang tetapi murni kemampuan yang ada. Jangan hanya lip service saja dalam memimpin Indonesia, harus ada tindakan nyata,” tandasnya. 

Pembangunan Tanpa Rencana

Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA., mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Apabila kondisi seperti saat ini masih terus bertahan, bukan tidak mungkin cita-cita kesejahteraan bangsa hanyalah ilusi belaka. Tidak ada patokan yang bisa digunakan untuk meramalkan terjadinya kemakmuran di bumi nusantara. Apalagi, pembangunan yang dilaksanakan pemerintah sekarang ini tidak mempunyai rencana sama sekali. 

“Pembangunan di Indonesia sekarang tidak memiliki planning sama sekali, berbeda dengan zaman Soeharto. Seharusnya disusun program yang baku sehingga siapapun yang melanjutkan pemerintahan sekarang dan seterusnya tinggal melanjutkan program yang sudah ada. Kenapa, karena yang melanjutkan itu tidak akan berkutat dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, harus ada lagi repelita, harus ada rencana pembangunan. Jangan sampai karena presiden dan kementerian baru, kebijakan pun menjadi baru dan melupakan pondasi yang lama,” tegasnya.  

Ia mencontohkan pada Kementerian Pendidikan yang setiap berganti menteri terjadi pergantian kurikulum. Akibatnya, buku-buku pelajaran pun harus diganti sehingga sangat menyulitkan masyarakat bawah. Zaman Presiden Soeharto, buku jarang diganti-ganti sehingga bisa diberikan kepada generasi berikutnya.. Sementara sekarang, selain kurikulum selalu berubah setiap pergantian kabinet, buku-buku pelajaran pun dirancang untuk sekali pakai saja.

“Kurikulum terus berubah menyesuaikan selera menterinya sehingga bongkar pasang terus. Padahal kalau dilihat secara cermat, sebenarnya materi akademik memang terus berkembang tetapi tidak harus semuanya diubah. Artinya, memang secara prinsipil ada beberapa perubahan di bidang akademik tetapi harus tetap memperhatikan basic materi pendidikan yang harus tetap ada. Mungkin perlu diadakan penambahan-penambahan terhadap perubahan baru di bidang akademis,” katanya.

Dari kacamata pengusaha, lanjut Jro Gede, pemerintah seharusnya mengutamakan pembangunan infrastruktur. Utamanya, infrastruktur yang bisa mempermudah aktivitas masyarakat. Yaitu sarana dan prasarana yang diperlukan untuk rakyat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Karena sebenarnya masyarakat memiliki potensi masing-masing yang karena terkendala kurangnya infrastruktur membuat mereka sulit mengubah hidupnya.

Potensi tersebut, menurut Jro Gede terletak pada sosok generasi muda Indonesia. Syaratnya, generasi muda harus memiliki semangat tinggi untuk membangun bangsa. Dengan menggunakan dan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di sekitarnya, generasi muda memiliki kemampuan untuk menguasai dunia. Apalagi kemajuan teknologi internet memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi yang mendukung kemajuan generasi muda.

“Anak-anak muda tidak seharusnya hanya berkeinginan untuk menjadi karyawan atau PNS. Mereka harus berusaha menjadi wirausaha mandiri sehingga bisa menggandeng beberapa orang dan membuka lapangan pekerjaan bagi rakyat agar tidak bergantung kepada pemerintah. Tidak perlu menjadi pegawai dan lebih baik menjadi entrepreneur untuk membantu kesejahteraan bangsa ini,” tandasnya.

Jro Gede yakin, sektor pariwisata masih  merupakan penyumbang terbesar bagi kemakmuran Indonesia di masa mendatang. Mengingat potensi Indonesia sebagai sebuah negara yang menawarkan keindahan yang sangat eksotis dan menarik wisatawan. Baik di darat, laut dan udara, pariwisata Indonesia menawarkan sesuatu yang berbeda. Tinggal pemerintah yang harus menyediakan infrastruktur pendukung. “Karena kami yang swasta tidak mampu melakukan itu,” imbuhnya.

Pria kelahiran Bangli, 22 Januari 1943 ini, menyarankan agar pemerintah membentuk “poros” pariwisata antar kementerian. Poros pariwisata tersebut terdiri dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan serta Kementerian Pariwisata dengan mengoptimalkan tugas masing-masing. Kementerian Kelautan dan Perikanan menjaga kelestarian laut beserta hasilnya, Kementerian Perhubungan menyediakan saranan dan prasanana infrastruktur yang lengkap dan memadai. “Semua itu dibawah koordinasi Kementerian Pariwisata,” tegas pria yang bersama istrinya menjadi “mandor” pembangunan resort-nya itu.  

Namun, Jro Gede menyayangkan kepedulian pemerintah yang sangat kecil terhadap dunia pariwisata. Beberapa kali proposal terkait pengembangan pariwisata yang diajukannya tidak dipedulikan Menteri Pariwisata. Padahal masukan-masukan yang diberikannya untuk kepentingan memajukan pariwisata Bali dan Indonesia pada umumnya. Sebagai pelaku industri pariwisata, ia sangat menguasai kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh Indonesia.

Selalu Kelihatan Premium

Sebagai pengelola hotel di salah satu kawasan pariwisata tersibuk di dunia, Jro Gede memiliki berbagai kiat. Pengalaman puluhan tahun membuat ia tahu betul inovasi apa yang harus dilakukannya. Salah satunya adalah menghadirkan manusia Bali yang utuh di dalam hotelnya. Tidak hanya sekadar pelayan dan karyawan hotel yang menggunakan seragam dengan adat Bali, namun ia juga menghadirkan budaya Bali dalam hotel lengkap dengan pura besar sebagai tempat ibadah bagi karyawan yang beragama Hindu.

“Kebijakan saya adalah bahwa sebuah hotel harus selalu kelihatan premium. Inovasi yang kita lakukan salah satunya dengan all in inclusive services. Selain itu, kami selalu menghaturkan sesajian yang lengkap di Pura didalam hotel yang dapat disaksikan langsung oleh tamu. Pura di hotel kami bukanlah suatu pajangan tetapi merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu di Bali Tropic dan juga merupakan tempat untuk memperkenalkan dan mempromosikan budaya dan tradisi Bali bahkan pada hari-hari tertentu kami melaksanakan upacara yang cukup besar yang dapat menarik perhatian para tamu yang menginap” katanya.

Langkah-langkah inovasi yang dilakukan Jro Gede sangat membantu dalam menjaga Bali sebagai tujuan wisata dunia. Bali yang merupakan “sepotong surga yang tertinggal di bumi” setiap tahun di kunjungi oleh jutaan wisatawan dari seluruh dunia untuk menikmati keindahannya. Banyak di antara wisatawan yang tinggal berbulan-bulan atau bahkan menetap seumur hidup dan berbaur dengan kehidupan masyarakat asli Bali.

Sebagai pengusaha asli Bali yang tetap kokoh mempertahankan tradisi Bali, Jro Gede sangat serius menjaga tradisi Bali dan melebur dengan ajaran agama yang diyakininya. Semangatnya semakin tinggi, ketika di sekelilingnya banyak orang-orang asing yang “lebih” Bali dari orang yang terlahir di Pulau Dewata tersebut. Ia sadar, orang Bali harus kokoh dan kuat dalam memegang dan mempertahankan budayanya dan tidak terpengaruh budaya asing. 

Semangat untuk mempertahankan budaya asli Bali terus digelorakan oleh tokoh pariwisata yang sangat idealis ini. Berbagai ide dan gagasan dituangkannya, salah satunya melalui pembangunan Bali Tropic Resort & Spa yang dibangun pada tahun 1988. Ia merancang dan mengawasi (bersama sang istri-Jro Istri Karang Sumerti Suarshana) proses pembangunannya yang disesuaikan dengan filosofi Bali yang diyakininya, “TRI HITA KARANA”.

Jro Gede membangun resort di tepi pantai tersebut dengan menggunakan konsep Tri Hita Karana, Asta Bumi dan Asta Kosala-Kosali. Sedangkan fasilitas di dalamnya disesuaikan dengan standar hotel internasional berbintang lima. Dengan begitu, wisatawan asing dapat menikmati keindahan dan keunikan arsitektur serta nuansa Bali tetapi menggunakan fasilitas hotel bintang lima.

“Kami memiliki 150 kamar dan mungkin akan terus ditambah. Karena banyak divers yang tinggal lama di sini dan menyebarkan promosi gratis dari mulut ke mulut,” ujar kakek dengan 4 orang cucu ini yang berharap kelak salah satu cucunya menjadi seorang dokter. Ia ingin suatu saat, Indonesia juga memiliki rumah sakit yang menjadi rujukan bagi pasien di luar negeri. “Selalu Singapura atau Thailand. Makanya saya ingin membangun sebuah rumah sakit di Bali yang komplit. Tetapi belum terwujud meskipun idenya sudah ada,” tambahnya.

Dalam membangun hotel, Jro Gede menyesuaikan dengan idealismenya. Ajeg Bali adalah mempertahankan budaya Bali seutuhnya, tetapi menggunakan konsep internasional. Untuk membangun gazebo yang menghubungkan antar cottage, ia mengukur dengan Asta Bumi menggunakan ukuran tapak kaki. Selain menerapkan ajaran agama, ia selalu ingin mempertahankan budaya asli Bali tetap seperti sedia kala. 

Tri Hita Karana, menurut Jro Gede adalah tiga aspek yang akan membuat hidup manusia berbahagia. Aspek pertama adalah hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, kemudian hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Ketiga aspek tersebut betul-betul dijaga agar terjalin dengan harmonis dan seimbang. Dalam agama Hindu, untuk menjaga keselarasan dan keseimbangan tersebut setiap tahun diselenggarakan upacara besar dan tiap hari upacara kecil. 

Tidak berhenti di situ, Jro Gede menerapkan filosofi Tri Hita Karana dalam mengelola hotel. Salah satunya dengan membangun instalasi pengolahan air limbah di Bali Tropic Resort & Spa. Di mana, limbah yang dihasilkan akibat aktivitas tamu hotel seperti mandi, buang air dan lain-lain, diolah kembali menjadi pupuk kompos dan air bersih untuk menyiram tanaman di halaman hotel.

“Airnya layak konsumsi. Ikan yang kami pelihara menggunakan air hasil olahan limbah berkembang dengan baik. Pupuk yang dihasilkan juga menyuburkan tanaman di hotel ini. Jadi filosofi Tri Hita Karana  saya terapkan di sini sehingga limbah yang keluar dari aktivitas Bali Tropic Resort & Spa tidak akan mencemari lingkungan,” ungkap Dr.. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA..

Biodata:

Nama: Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA

Tempat tanggal lahir: Desa Undisan, Klod-Bangli, 22 Januari 1943

Nama Istri: Jro Istri Karang Sumerti Suarshana

Nama Ayah: I Made Bude

Nama Ibu: Ni Wayan Janji

Nama Anak-anak:

  • Ni Luh Putu Sri Utami
  • I Made Arya Karang Utama Yasa

Nama Cucu:

  • I Gede Eka Dharma Putra Karang S. Suarshana
  • Komang Astiti Bhakti Adnyana Mahardika Putra Karang S. Suarshana
  • Ketut Putra Dalem Krishnayoga Karang S. Suarshana
  • Putu Keisha Putri Karang Suarshana (cucu terakhir dari putra yang kedua)

Pendidikan:

  • Program S2 Sales & Marketing Pariwisata Global Institute of Management
  • Gelar Doctor Honoris Causa (HC) dalam bidang Budaya & Pariwisata dari World University, USA yang diterima di London, Inggris

Pekerjaan:

  • Pendiri dan Presdir PT Gumi Bali (2002)
  • Pendiri dan Managing Director Bali Tropic Resort & Spa (1988-sekarang)
  • Pendiri dan Direktur Wisata Nusa Damai Transport (1982-sekarang)
  • Pendiri dan Direktur Suartur (1981-sekarang)

Organisasi:

  • Wakil Ketua Majelis Perimbangan Partai Demokrat Provinsi Bali (2006-sekarang)
  • Ketua Panitia Pengembangan Desa Miskin/Teringgal menjadi desa Ekowisata “Taman Sari” di desa Undisan, Bangli (2006-sekarang)
  • Ketua Tim Sukses SBY-Kalla (2004)
  • Ketua Bali Travel Mart (2000)
  • Pendiri Yayasan Ibu Pertiwi (2000)
  • Sekjen Bali Promo/Promotor Resque Program Pariwisata Bali (1998-1999)
  • Ketua Konferensi ASITA Nasional (1986)
  • Ketua ASITA Bali (1985-1987)

Penghargaan:

  • Best Quality Service Of The Year untuk Bali Tropic Resort & Spa dari International Business & Company Award 2010 (bulan Juli 2010)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (Emerald Medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Penghargaan Red Star Award dari ITS Reisen (salah satu travel agent terbesar di Jerman) tahun 2009
  • Penghargaan ASEAN Green Hotel Award 2010-2011 untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Sertifikat Emas dari Tim Verifikasi Standarisasi Keamanan dan Keselamatan Hotel untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (gold medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2008)
  • Satya Lencana Emas – Karya Karana Pariwisata Tertinggi (Juara Pengembangan Pariwisata dari Pemerintah Provinsi Bali) tahun 2007
  • Penghargaan ASEAN Green Hotel Award 2008-2009 untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (gold medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan One of The Best 99 Favorite Hotel in The World untuk Bali Tropic Resort & Spa oleh Holiday Check, Berlin – Germany (tahun 2007)
  • Sertifikat Emas dari Tim Verifikasi Standarisasi Keamanan dan Keselamatan Hotel untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (silver medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2006)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (bronze medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2005)
  • Juara I (Medali Emas) Rumah Luga Pedesaan untuk Puri Karang (tahun 1996)
  • Juara II (Medali Perak) Rumah Luga Pedesaan untuk Puri Karang (tahun 1995)
  • Juara II (Medali Perak) Rumah Perkotaan se provinsi Bali untuk Suartur (tahun 1990)

 

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.