Drs. Adrianto, M.Hum

Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels

Mengajar Adalah Cara Terbaik Untuk Belajar 

Tanpa penguasaan yang tinggi terhadap bahasa Inggris, Drs. Adrianto, M.Hum., nekat membuka kursus. Berbekal pemasangan iklan di suratkabar dan lokasi “elit” di sebuah hotel, lembaga kursus menerima siswa dari berbagai kalangan. Tidak hanya murid sekolah, tetapi juga petinggi kepolisian di wilayah Jakarta.

Namun siapa sangka, kalau ternyata tutor yang memberikan kursus merasa kurang menguasai bahasa Inggris. Mahasiswa Universitas Indonesia yang mendirikan kursus hanya bermodal menghapal materi yang akan diajarkannya kepada siswa. Tidak heran, dalam beberapa sesi ia “gelagapan” menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya.

“Karena saya memang waktu itu belum benar-benar menguasai bahasa Inggris. Dan untuk bahan mengajar pun ‘hanya’ menghapal bahan yang akan saya ajarkan. Peserta kursus saya sedikit tetapi berkualitas, antara lain istri Panglima Polisi wilayah Jakarta. Oleh karena itu, saya harus benar-benar menguasai materinya,” kata Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels ini.

Tentu saja, Adri –panggilan akrab pria kelahiran Semarang, 19 November 1958- ini, tidak ingin dihukum karena ternyata penguasaan bahasa Inggris-nya minim. Dengan terpaksa, ia belajar bahasa Inggris sekuat tenaga agar mampu menguasainya dengan baik. Ia tidak ingin kredibilitasnya turun dan mendapat malu di depan siswa yang notabene belajar darinya.

Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Upayanya untuk menghapal materi pelajaran bahasa Inggris berhasil positif. Akhirnya ia menguasai bahasa internasional tersebut dan percaya diri untuk menggunakannya pada berbagai kesempatan.

“Jadi kesimpulannya saya mampu berbahasa Inggris karena mengajar, meskipun hanya ngapalin saja. Intinya drive saya itu berasal dari keterpaksaan, yang tadinya terpaksa menjadi bisa. Ilmu yang saya dapat, mengajar adalah cara belajar yang sangat bagus,” tandasnya.

Sebenarnya tekad kuat Adri untuk belajar bahasa Inggris dilandasi oleh keinginannya bekerja di kedutaan besar. Namun ia terbentur syarat bekerja di kedutaan adalah penguasan bahasa Inggris yang mumpuni. Sementara dirinya saat itu tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik. “Logikanya, kalau ingin belajar bahasa Inggris kenapa saya tidak mengajar bahasa Inggris. Makanya saya mendirikan lembaga kursus itu karena menjadi guru kan harus lebih pinter dari muridnya,” kilah pria dengan moto “Menyenangkan Orang Lain” ini.

Terlalu Teoritis

Menurut Drs. Adrianto, M.Hum, dunia pendidikan Indonesia saat ini terlalu banyak mata pelajaran yang harus dikuasai. Anak didik dijejali mata pelajaran yang sebenarnya belum perlu diajarkan. Selain itu, mereka sebagai peserta pembelajaran kebanyakan menerima pelajaran yang bersifat teori belaka.

“Pelajaran yang banyak itu, dipenuhi dengan teori, tapi praktek dalam pembelajaran bahasa Inggris. Sekarang ini banyak yang diajarkan secara teoritis, sementara gurunya sendiri terkesan kurang menguasai bahasa Inggris yang pas. Kalau untuk bahasa asing, harusnya guru-guru yang mengajar anak-anak dengan hapalan kemudian mempraktekkan,” kata pengagum Bunda Theresa tersebut.

Adri mencontohkan dirinya sendiri dalam belajar bahasa Inggris dengan metode awal, menghapal. Ia menghapalkan percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris, bukan kata per kata baru disusun dalam sebuah kalimat. Adri mempraktekkan percakapan-percakapan tersebut di kamar kosnya layaknya sebuah sandiwara monolog.

Saking seriusnya Adri menghapal, penah ibu kosnya sempat mendobrak masuk kamar. Ibu kosnya menyangka di dalam kamarnya terjadi pertengkaran antara dirinya dengan orang lain. “Tetapi saya jalan terus, untuk mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris. Anak-anak sekarang juga harus begitu, jangan takut salah dalam mempraktekkan bahasa asing. Salah nggak apa-apa, lama-lama toh akan bisa. Mengenai teori dengan praktek itulah kita bisa menggali teorinya,” kata ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Titiek Sayekti ini.

Menurut sulung dari empat saudara pasangan R Ng KH Rois Ibrahim dan Ny R Ng Sumarni ini, dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah maju. Secara keseluruhan dunia pendidikan Indonesia tidak ketinggalan dengan negara lain. Hanya saja, pada beberapa perlu dilakukan pembenahan sesuai dengan kebutuhan zaman. “Pendidikan kita maju. Generasi muda sejak kecil harus diberi landasan, sehingga akan berkembang ketika mereka besar nanti,” tambahnya.

Tangan Tuhan

Adrianto memimpin Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (Akpar JIH) sejak dua tahun lalu. Sebenarnya ia sendiri tidak merencanakan kariernya akan mencapai puncak di lembaga pendidikan pencetak tenaga kepariwisataan. Semua yang dilakukannya berjalan mengalir begitu saja dilandasi dengan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Selebihnya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan untuk membimbing perjalanannya.

“Sebenarnya saya sendiri merasa bahwa semua itu tangan Tuhan. Adanya saya disini dan sebagainya tidak saya rencanakan terlebih dahulu. Tadinya lembaga ini dipegang oleh rekan dari Trisakti. Kemudian setelah masa jabatannya habis saya menggantikannya,” katanya.

Adri mengisahkan ketertarikannya di dunia pariwisata. Dimana untuk menggeluti dunia pariwisata harus tahu akar pariwisata itu sendiri. Indonesia dengan primadona kepariwisataan di Bali, akarnya pun terletak di Pulau Dewata tersebut. Sadar akan hal itu, ia belajar dan bekerja di Bali selama tiga tahun.

Kepada investor asal Singapura tempatnya bekerja, Adri menyarankan untuk membuka lembaga pendidikan pariwisata di Jimbaran. Sarannya diterima dan bekerjasama dengan Universitas Udayana dan berdirilah Politeknik Negeri Bali. Selama di Bali, ia tinggal di Ubud. Pertimbangannya, Ubud adalah pusat budaya Bali sehingga tinggal di tengah sentra akar pariwisata sangat tepat. “Nawaitu saya adalah mempelajari budaya Bali dan pariwisata, karena Bali termasuk primadona pariwisata dunia,” tambahnya.

Kesimpulan selama mempelajari pariwisata Bali, menurut Adri adalah lekatnya agama Hindu dalam kehidupan masyarakat. Saking kuat dan mengakarnya agama Hindu –bahkan mengalahkan ketaatan masyarakat dalam beragama Hindu di India. Ketaatan masyarakat Bali terhadap agamanya telah menjelma menjadi budaya. Bahkan sebutannya pun sudah menjadi khas Bali, yakni agama Hindu Bali.

“Meskipun demikian, seperti pemeluk agama lain, orang Bali sendiri banyak yang tidak tahu secara detail terhadap arti ritual agamanya,” ungkap penyuka liburan bernuansa “Back to nature” tersebut.

Setelah tiga tahun di Bali, Adri kemudian kembali ke Akpar dan diangkat sebagai Pembantu Direktur (Pudir I). Pengangkatan tersebut, menurut dirinya terkait dengan pengetahuannya mengenai masalah budaya yang dipelajarinya di Bali. “Mungkin dianggap oleh direktur saya sudah menguasai ilmunya selama belajar di Bali. Sebenarnya saya hanya senang karena belajar sesuatu yang menarik untuk dipelajari,” kata kepala keluarga dengan moto “Biarkan anak berkembang secara alamiah dengan dasar pembinaan dan pendidikan yang baik dari kami” ini.

Akpar JIH Sekilas

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels berdiri pada tahun 1994. Kampus pertama menempati lokasi Hotel Borobudur di Lapangan Banteng Jakarta Pusat selama tiga tahun. Pertama kali berdiri, merupakan program apprentice Hotel Borobudur untuk memenuhi tenaga kerja terampil dan siap pakai untuk memenuhi kebutuhan Hotel Borobudur sendiri.

Seiring dengam jumlah mahasiswa yang terus meningkat, kapasitas kelas tidak mencukupi sehingga lokasi kampus dipindahkan ke Kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD) Jalan Jend Sudirman kav 52-53. Dimana di kawasan ini juga terdapat Hotel Ritz Carlton, gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Gedung Artha Graha, Apartemen Capital, Apartemen SCBD, Apartemen Kusuma Chandra, JakTV dan beberapa gedung bisnis lainnya.

Akpar JIH ini merupakan anak perusahaan dari PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) yang juga merupakan induk organisasi Hotel Borobudur. PT JIHD selaku pemilik dari Akpar JIH dan Hotel Borobudur merupakan anak perusahaan dari Bank Artha Graha.

Sampai saat ini, Akpar JIH terus mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan industri perhotelan baik dalam keahlian maupun praktek.

Lulusan Akpar JID tidak hanya bekerja di Indonesia, tapi telah menjangkau Amerika, Jepang, Dubai dan Negara-Negara di Timur Tengah termasuk untuk mensuplai tenaga kerja ke Kapal pesiar di Amerika dan Eropa.

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels merupakan sebuah akademi pariwisata terkemuka di Jakarta yang memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan dunia pariwisata dengan mengembangkan berbagai program pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi yang merupakan tuntutan dari industri pariwisata pada umumnya dan industri perhotelan pada khususnya.

Keahlian yang berbasis kompetensi inilah yang sampai saat ini membantu lulusan Akpar JIH dalam mendapatkan pekerjaan. Dalam penyaluran lulusan, Akpar JIH mendapat bantuan dari beberapa hotel dalam group sendiri seperti Hotel Borobudur, the Ritz Carlton Pacific Place, Prameswari Puncak dan Kartika Plaza Discovery di Bali.

Program praktek lapangan Akpar JIH adalah dengan mengirimkan mahasiswa ke hotel-hotel berbintang lima di Jakarta, Bali, Malaysia dan Singapura.

Selain program pendidikan yang baik, Akpar JIH juga terletak di lokasi yang strategis dan dilalui oleh berbagai angkutan umum dari selurauh area di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Hal ini menyebabkan mahasiswa Akpar JIH datang dari berbagai penjuru kota karena akses angkutan yang mudah dan murah dengan ditunjang oleh jaringan Transjakarta dan suttlebus di kawasan kampus.

Fasilita belajar Akpar JIH terdiri dari kelas ber-AC dengan kapasitas 20 orang per kelas. Selama pelajaran menggunakan multi media seperti Over Head Projector, Video Presentation dan LCD. Tenaga pengajar terdiri dari 37 orang dosen dari praktisi dengan gelar S1 dan S2, serta guest lecturer. Akpar JIH juga dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium untuk prakterk. Saat melakukan latihan kerja lapangan (PKL) Akpar JIH bekerja sama dengan hotel bintang lima dalam dan luar negeri.

Profil Akpar JIH

Jenjang pendidikan: D1, D3

Jumlah alumni: 300

Ikatan alumni: Ikatan Alumni Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (ILUNI APJIH), Jakarta International Hotels

Jumlah dosen tetap: 37 (pendidikan S1: 30, S2: 7)

Luas kampus: 2.500 m2

Fasilitas Kampus

Jumlah ruang kuliah: 8

Perpustakaan: luas 50 m2, koleksi buku: 200 judul, 400 eksemplar

Laboratorium: 6 unit (Front Office, Model Room, Kitchen, Restaurant, Laundry, Komputer)

Lembaga penelitian: Lembaga Pengembangan Manajemen Pariwisata (LPMP)

Unit kegiatan mahasiswa: olahraga (sepak bola, basket, badminton, voli, tenis meja, futsal), pencinta alam, rohani Islam, rohani Kristen, kesenian (paduan suara), bela diri (karate), English Club, Bartender Club, out bound

Fasilitas lain: lapangan olahraga, bergabung dengan Artha Graha Group

Akpar JIH melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi lain di luar negeri: HILDIKTRIPARI-Conrad Hilton Huston USA dalam studi banding

Kerjasama dengan instansi/lembaga lain di dalam negeri: Artha Graha Group, Kopertis III Ditjen Dikti

Prestasi:

- Juara I Table Set Up antarakademi se-DKI

- Juara II Food Competition dalam acara Indonesian Food Exhibition

- Masuk dalam 6 besar pada acara Bread Competition yang diselenggarakan oleh Bogasari

Beasiswa: disediakan oleh Jakarta International Hotels and Development bagi mahasiswa berprestasi

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.