Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM

Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM
Ketua STIKOM Bali

Hidup Harus Bermanfaat Bagi Keluarga dan Orang Lain

Darah pendidik mengalir deras dalam diri, Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM. Kedua orang tua pria yang biasa dipanggil Dadang ini adalah pendidik sejati yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa. Meskipun secara materi tidak berlimpah, tetapi masyarakat sangat menghormati dan menghargai profesi keduanya.

Panggilan hati untuk menjadi pendidik seperti kedua orang tua, membuat kiprah Dadang tidak jauh dari dunia pendidikan. Memasuki tahun kedua perkuliahannya di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Padjadjaran, Bandung, ia bekerja sebagai guru di beberapa SMA di Kabupaten Bandung. Selain itu, ia juga menjadi instruktur di beberapa lembaga kursus/bimbingan belajar serta asisten dosen untuk beberapa penelitian.

“Bahkan sejak tingkat tiga, dalam usia 21 tahun saya menjadi wakil kepala sekolah di sebuah SMA di Kabupaten Bandung. Semua itu, terinspirasi dari kedua orang tua yang menjadi guru, meskipun sampai saat ini secara materi tidak punya apa-apa. Kecuali harta warisan dari kakek, nenek dan buyut saya yang merupakan orang terpandang di tingkat kecamatan pada zamannya,” kata Ketua STIKOM Bali ini.

Dadang sendiri tidak secara langsung mengambil jurusan kependidikan saat kuliah. Ia lebih memilih akuntansi yang hingga sekarang menjadi jurusan favorit. Tidak heran, setelah menyelesaikan kuliah pada 1986, dua tahun kemudian ia meninggakan dunia pendidikan. Tuntutan ekonomi keluarga, membuat ia beralih haluan sebagai PNS dan menjadi auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Pria kelahiran Bandung, hari Sabtu, tanggal 10 Agustus 1963 ini ditempatkan di perwakilan Bali.

Namun jiwa pendidik yang diwarisi dari kedua orang tuanya, membuat Dadang terpanggil. Setelah delapan tahun mengabdi, ia mengundurkan diri dari BPKP untuk kembali menekuni dunia pendidikan. Ia menjadi pimpinan sebuah lembaga pendidikan terkenal di Pulau Dewata tersebut. Sejak itu, ia terjun total di dunia pendidikan melalui berbagai lembaga pendidikan yang didirikannya.

“Tahun 2002, bersama beberapa kolega saya mendirikan sebuah perguruan tinggi di Denpasar dengan nama STMIK STIKOM Bali atau yang lebih populer dengan nama STIKOM Bali. Sekarang ini, STIKOM Bali merupakan kiblat sekolah ICT di Bali dengan jumlah mahasiswa sekitar 5.000 orang,” tegasnya.

Selain STIKOM Bali, ia juga mengasuh dan mendirikan tiga SMK, lima lembaga pendidikan keterampilan dan tiga perguruan tinggi yang tersebar di Bali, Jawa dan Sumatera. “Banyak suka duka dalam menekuni profesi ini. Sukanya jika ada alumni yang sukses tetapi tetap tidak lupa kepada almamaternya. Dukanya jika ada mahasiswa yang tidak tamat kuliah sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,” imbuhnya.

Semua yang dilakukan Dadang, tidak terlepas dari motivasi kuat dalam dirinya. Selain mewarisi jiwa pendidik, keinginan untuk mengabdikan hidup bagi orang banyak juga melandasi tindakannya. Seiring perjalanan waktu, pilihan hidup sebagai pendidik jauh lebih kuat menarik dirinya daripada cita-cita masa kecil sebagai dokter.

Ia juga mengabaikan penghargaan masyarakat terhadap profesi pendidik yang semakin berkurang. Berbeda dengan masa ayah dan ibunya, pendidik mendapat penghargaan tinggi dari masyarakat karena profesinya. Walaupun profesi tidak memberikan materi berlebihan, tetapi jerih payah seorang guru “terbayar” berkat penghargaan dari masyarakat di sekitarnya.

“Motivasi saya dalam menekuni bidang pendidikan adalah bahwa hidup harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk keluarga dan orang lain. Dengan bergerak di bidang pendidikan, secara langsung maupun tidak langsung saya telah memberikan manfaat kepada seluruh anak didik. Baik berupa pemberian ilmu yang akan menjadi bekal mereka di masa mendatang. Saya akan merasa bahagia kalau mendengar anak didik kita berhasil bekerja baik di sektor swasta maupun pemerintah. Begitu juga ketika mereka berwiraswasta,” ungkapnya.

Awalnya Istri Tidak Mendukung

Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM, menghabiskan masa kecilnya di kota Kembang. Semasa SMA hingga kuliah S1, berbagai macam aktivitas digeluti. Mulai menjadi pengurus Remaja Masjid, pengurus olahraga, kesenian, kepemudaan, Pramuka, kemahasiswaan dan berbagai organisasi lainnya. Pengalamannya tersebut, sangat berguna ketika harus membagi konsentrasi dalam mengurus belasan lembaga pendidikan yang dimilikinya.

Sebagai pemilik lembaga pendidikan, Dadang sendiri tentu saja tidak melupakan pendidikan bagi dirinya sendiri. Setelah S1, pada tahun 2002 ia berhasil menyelesaikan S2 di Universitas Udayana Denpasar dan saat ini sedang mengikuti proses penerimaan pada program S3 Universitas Brawijaya Malang. Semua dilakukan dalam rangka perbaikan diri dan lembaga pendidikan yang diasuhnya. “Saya ingin terus melakukan perbaikan dalam segala hal. Baik pribadi maupun yang berkaitan dengan lembaga yang saya asuh,” tandasnya.

Sebenarnya, kisah Dadang, saat beralih dari PNS di BPKP dan sepenuhnya mengabdi ke dunia pendidikan bukan tanpa tentangan. Dengan karier dan posisi yang saat itu sudah cukup “lumayan”, masa depan keluarga terjamin. Orang pertama yang menentang keras keputusan tersebut berasal dari istri Dadang sendiri. Perbedaan pandangan membuat sang istri merasa “sayang” atas karier panjang suaminya di pemerintahan.

“Istri kurang mendukung saya berpindah lagi ke sektor pendidikan. Biasa, namanya juga perempuan inginnya tetap di zona aman sebagai PNS. Tetapi setelah ikut berkecimpung, seluruh keluarga sangat mendukung dan memahami tentang profesi yang saya jalani sekarang,” kata ayah empat anak ini.

Seperti juga orang tua yang lain, Dadang membesarkan dan memotivasi anak-anaknya dengan memberikan pengertian dan kesadaran tentang arti hidup dan kehidupan.  Bahwa keberhasilan dan kegagalan dalam hidup adalah hal biasa yang dialami setiap manusia di muka bumi ini. Keempat anaknya di bebaskan untuk menentukan pilihan pendidikan masing-masing tanpa paksaan untuk memilih jurusan sesuai keinginan kedua orang tuanya.

“Semua terserah mereka. Dari empat anak kami, tiga orang anak sudah tamat SMA. Bahkan anak yang paling besar telah menamatkan S1-nya di Unair Surabaya dan telah bekerja di salah satu bank milik pemerintah. Kecuali yang bungsu, tiga anak tersebut tidak ada yang mengikuti jejak bapaknya. Tapi si bungsu pun nggak tahu juga akan ke mana, pilihan ada di tangannya,” tuturnya.

Dadang menyadari, anak-anaknya sebagai generasi muda sekarang memiliki eranya sendiri. Seperti juga anaknya, dalam pengamatannya dengan mata pendidik, generasi muda sekarang sangat cerdas dan rasional. Hanya, ada sedikit kekurangan pada generasi sekarang yang secara umum kurang memiliki karakter atau ciri khas sebagai orang timur. “Tetapi tidak semua begitu. Tugas pendidiklah bagaimana menjadikan mereka pintar tapi tetap santun, canggih tapi tidak sombong dan brillian tapi tetap jujur. Saya berpendapat bahwa kita harus optimis bahwa mereka bisa melanjukan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini,” tegasnya.

Heran Pendidikan Tidak Gratis

Menurut Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM perkembangan pendidikan di Indonesia jauh lebih maju. Setidaknya apabila dibandingkan dengan dunia pendidikan Indonesia 20 tahun belakangan ini. Namun demikian, harus diakui bahwa pendidikan di negeri ini masih jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi pendidikan di negara-negara Eropa, Indonesia termasuk negara “tertinggal” serta terbelakang.

Banyak faktor memengaruhi kondisi tersebut. Antara lain adalah faktor besarnya jumlah penduduk dan tersebar pada wilayah yang sangat luas. Apalagi kekurangan aparatur yang menangani masalah pendidikan belum benar-benar ikhlas untuk memajukan bangsa ini. Wacana yang dikembangkan hanya baik pada permukaan tetapi jauh dari kondisi ideal dalam pelaksanaan.

“Sering kita dengar bagaimana sulitnya izin penyelenggaraan pendidikan dari tingkat TK sampai PT dikeluarkan pejabat berwenang kalau tanpa “pelicin”. Begitu juga dengan masih banyaknya kebocoran anggaran pendidikan dan lain-lain. Ini memerlukan pengkajian dan penelaahan yang menyeluruh dari semua pemangku kepentingan pendidikan. Terutama para pejabat yang berkepentingan di bidang pendidikan untuk selalu bersih dan ikhlas dalam memajukan bidang pendidikan di negara kita,” tuturnya.

Dengan alokasi anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, Dadang keheranan melihat masih banyak masyarakat yang tidak mampu mengenyam pendidikan dasar dan menengah. Padahal dengan dana sebesar itu, seharusnya tidak hanya kesejahteraan guru saja yang dipenuhi, tetapi juga pendidikan murah dan bermutu bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun, pada kenyataannya semua itu jauh dari kenyataan sebenarnya. Masih banyak rakyat yang memiliki potensi untuk berkembang bahkan tidak mampu mengakses pendidikan dasar sekalipun.

“Saya kadang heran, dalam dua tahun terakhir ini anggaran pendidikan hampir di semua tingkatan pemerintahan baik itu pusat, propinsi maupun kabupaten/kota telah secara umum mengalokasikan 20 % atau lebih untuk sektor pendidikan. Belum lagi dari berbagai perusahaan dengan dana CSR-nya. Anggaran tersebut kalau dijumlah mencapai ratusan triliun rupiah, kok masih tidak cukup untuk menggratiskan sekolah dari tingkat SD sampai SMA. Ini ada yang salah dalam pelaksanaan anggaran kita dan perlu kajian lebih lanjut,” katanya sembari mencontohkan sebuah kabupaten di Bali yang telah mampu menggratiskan pendidikan SD sampai SMA bagi rakyatnya. “Padahal jika dilihat dari PAD-nya sangat kecil, ini yang perlu dicontoh oleh daerah-daerah lainnya,” tambahnya.

Semua akan berbeda dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan swasta (dari TK sampai dengan PT). Lembaga pendidikan swasta yang membiayai sendiri seluruh kegiatannya sehingga harus berorientasi bisnis. Artinya pendapatan dari berbagai sumber baik dari warga belajar maupun lainnya harus selalu surplus dibandingkan dengan pengeluarannya.

“Bagaimana lembaga tersebut bisa berkembang jika pendapatannya selalu minus? Mau terus-terusan minta bantuan? Yang membantu pun ada batasnya apakah itu pengurus yayasan, dermawan maupun pemerintah. Jadi menurut saya para pengelola pendidikan ini harus mampu berpikir dan menciptakan berbagai sumber pendapatan untuk kemajuan lembaga yang dikelolanya. Tapi setelah surplus, dana tersebut  bukan untuk dibagikan kepada para pendirinya tapi dipakai untuk peningkatan sarana dan prasarananya,” ungkap Anggota Pengurus APTISI VIII-A Bali, sejak 2009  ini.

Selain itu, lanjut Dadang, pada tingkat pendidik harus sadar bahwa mereka bukan sekadar pengajar. Karena seorang pendidik bukan hanya memberikan materi pelajaran di kelas tetapi setelah itu acuh tak acuh. Pendidik juga harus memperhatikan bagaimana orang-orang yang diajar mengerti apa tidak, paham atau tidak dan seterusnya. “Seorang pendidik harus memberi tauladan yang baik. Antara tindakan dan perbuatannya harus sesuai. Dan yang lebih penting lagi, seorang pendidik harus benar-benar sabar, ikhlas dan tawakal menghadapi anak didiknya yang tidak sesuai dengan keinginan pendidik itu sendiri,” ujarnya.

Biodata Singkat:
N a m a : Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM
Tempat dan Tanggal Lahir     : Bandung, 10 Agustus 1963

Riwayat Pendidikan :
1.    Sekolah Dasar Negeri Tahun 1968 – 1974
2.    Sekolah Menengah Pertama Negeri Tahun 1975 – 1977
3.    Sekolah Menengah Atas Negeri Tahun 1978 – 1981
4.    Perguruan Tinggi :
- S1 : Fak. Ekonomi Jur. Akuntansi Universitas Padjadjaran, 1986
- S2 : MM Universitas Udayana, 2002
- S3 : Sedang Proses Penerimaan di Universitas Brawijaya
5. Pendidikan Tambahan :
1.    Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa, 1984
2.    Melbourne Language Centre, Australia, 1996
3.    Berbagai seminar, lokakarya, workshop, baik sebagai pembicara, moderator maupun peserta di dalam maupun luar negeri

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.