Drs. Nana Supriatna

Drs. Nana Supriatna
Kepala Sekolah SMP Negeri 212 Jakarta

Mempersembahkan Prestasi Melalui Imtaq dan Moving Class

Di zaman sekarang, pada profesi dan posisi apapun, orang harus kreatif untuk menyiasati keadaan. Carut marutnya kondisi di tanah air, memaksa setiap orang untuk lebih keras memutar otak dalam memenuhi kebutuhannya. Upaya pembangunan yang dilakukan pemerintah memang sangat membantu namun masih memerlukan proses panjang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Tidak terkecuali di dunia pendidikan. Meskipun alokasi anggaran pendidikan dari APBN sebeser 20 persen, namun waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan prosesnya masih panjang. Seperti yang dialami Drs. Nana Supriatna, Kepala Sekolah SMP Negeri 212 Jakarta, saat sekolah yang dipimpinnya sedang dalam proses pembangunan.

“Waktu itu, kami mengadakan kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar di sekitar sekolah. Kami terpaksa menyebar anak-anak di beberapa SD karena mereka sendiri kekurangan ruang kelas. Bahkan, ketika salah satu SD yang kami tumpangi juga direhab, kami terpaksa menggunakan kelas kami yang baru setengah jadi,” katanya menceritakan pengalaman saat menjadi Kepala Sekolah di SMP N 145.

Ia memutar otak untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi kegiatan belajar mengajar (KBM). Dengan terpaksa, ia membagi-bagi siswanya untuk ditempatkan di kelas yang masih setengah jadi. Bagi siswa yang beruntung, mereka bisa menempati ruang kelas di lantai I yang sudah jadi.

Sementara yang lain terpaksa menggunakan ruang kelas di lantai II yang belum berpintu dan jendela. Akibatnya, mereka harus menahan kencangnya tiupan angin serta limpasan air hujan. Itupun masih menyisakan beberapa kelas yang tertinggal di SD yang berbaik hati memberikan tumpangan.

“Ruangannya masih tidak berlistrik. Akhinya kita atur masuknya bergantian, ada yang pagi dan siang. Tahun 2008 saya mencoba melakukan inovasi pembelajaran, dengan melakukan studi banding ke sekolah lain yang lebih maju. Namun belum sempat diterapkan, saya keburu mutasi ke sini awal Januari 2009,” tuturnya.

Tantangan yang dihadapi Nana begitu menginjakkan kaki di SMP 212 cukup berat. Saat itu, dari 223 siswa yang mengikuti Ujian Nasional tingkat kelulusan belum mencapai 100 persen. Ranking sekolah pun, untuk wilayah Jakarta Selatan tergolong masih rendah dengan nilai rata-rata 7,8. Sebagai kepala sekolah baru, ia merancang sistem untuk mempercepat akselerasi kemajuan sekolah yang dipimpinnya.

Dari studi banding yang dilakukan bersama para guru, Nana kemudian memperkenalkan metode moving class. Metode ini berjalan dengan menyiapkan kelas untuk mata pelajaran tertentu dengan guru dan kelengkapan belajar lengkap. Para siswa yang memiliki jadwal mata pelajaran akan mendatangi kelas-kelas tersebut untuk belajar.

“Secara teknis begitu. Tetapi kita terus melakukan evaluasi sejauh mana efektivitas sistem yang kami adopsi dari sekolah lain ini. Diharapkan anak-anak tidak jenuh sehingga selalu segar dengan adanya pergantian kelas tersebut. Karena perputarannya anak-anak diberi waktu lima menit untuk perpindahan kelas setiap dua jam pelajaran. Dengan moving class, kita harapkan mampu mempersembahkan prestasi dengan dilandasi Imtaq,” tegasnya.

Nana bersyukur, karena program ini bukan seratus persen kehendaknya sehingga berjalan dengan baik. Dukungan para staf guru yang bersama-sama melakukan studi banding mengenai sistem ini sangat besar. Sehingga ketika diterapkan tidak menimbulkan pertanyaan dari staf guru. “Jadi langsung in saja. Tidak ada kendala sama sekali,” imbuhnya.

Perlahan namun pasti, lanjut Nana, sistem yang diterapkannya membuahkan hasil. Dari sekolah dengan nilai rata-rata 7,8 kemudian meningkat menjadi 8,4 pada kelulusan UN 2010. Selain itu, ia juga meluncurkan program penambahan standar kurikulum yang dilaksanakan dengan baik. Hasilnya terjadi peningkatan  standar penilaian yang digunakan sebagai agar pada nantinya sekolah menjadi berstandar Sekolah Standar Nasional (SSN).

“Itu harapannya, tetapi semua tergantung dari anak didik, guru, orang tua serta para karyawan. Dan kita harus mengkomunikasikannya dengan baik sehingga keinginan itu bisa terwujud,” kata Kepala Sekolah yang memimpin 43 guru, 10 tenaga Tata Usaha dan 3 orang pesuruh/Satpam ini. “Siswa terbagi dalam 18 kelas dengan jumlah total 682 siswa,” tambahnya.

Darah Pengajar

Drs. Nana Supriatna dilahirkan di Kuningan, tanggal 28 Juli 1962. Ia memulai kariernya sebagai guru sejak tahun 1983 saat bertugas di SMP 200 Jakarta Utara. Sambil mengajar, tahun 1984 ia kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta dengan target menggenggam gelar Sarjana Muda. Setelah itu, ia merencanakan untuk melanjutkan pendidikan di UNJ.

“Saat itu sekolah masih berada di tengah sawah. Karena tidak ada angkutan, saya harus berjalan kaki karena tidak ada mobil. Kadang saya juga ‘numpang’ truk container yang banyak berseliweran di daerah tersebut. Saat itu, saya ingin mempelajari bagaimana cara belajar mengajar. Saya ikut Wakasek untuk mempelajari bagaimana cara menulis kurikulum, rencana mengajar dan lain-lain,” kisahnya.

Selama bertahun-tahun, Nana menekuni pekerjaannya sebagai guru. Sambil kuliah, ia juga mengikuti berbagai pendidikan dan latihan (Diklat) untuk meningkatkan kompetensinya. Diklat yang diikutinya antara lain, Diklat Administrasi dan Supervisi (1996), Diklat Calon Kepala Sekolah (1999), Pelatihan Pengembangan Manajemen SMP (2006) dan Pelatihan Pengembangan Manajemen SMP (2008).

Tahun 1998, Nana mengikuti tes kepala sekolah tetapi gagal. Tidak berputus asa, tahun 1999 ia mengikuti tes kepala sekolah dan berhasil. Meskipun demikian, ia tidak memperoleh kesempatan untuk memimpin sekolah. Ia tetap ditugaskan sebagai guru menunggu adanya ‘lowongan’ kepala sekolah di SMP lain.

“Pada saat itu, sekolah kami kedatangan Kepala Sekolah baru, pindahan dari wilayah timur. Mungkin beliau kaget juga melihat kondisi sekolah panas dan gersang, murid-muridnya kacau serta setiap hari ramai dilintasi trailer yang besar-besar. Sudah begitu sering terjadi tawuran pelajar lagi, jadi kacau banget deh,” kisahnya.

Suatu saat terjadi tawuran pelajar yang melibatkan anak-anak di SMP-nya. Nana yang sudah terbiasa dengan situasi tersebut langsung menenangkan siswanya. Ia mengumpulkan orang tua murid dan menemukan “jawara” yang memiliki anak paling badung pentolan tawuran. Entah karena apa, setelah kepala sekolah “memarahi” jawara tersebut ia langsung jatuh sakit.

“Kepala Sekolah kemudian mengajukan cuti panjang. Saya sebagai Wakasek akhirnya menjadi Plt Kepala Sekolah yang menjalankan sekolah. Semua saya lakukan kecuali tanda tangan dokumen yang dilakukan Kepsek dibantu istrinya yang mengantarkan atau mengambil dokumen ke sekolah. Saya banyak belajar dari situ meskipun secara prestasi menduduki posisi paling bawah,” ujarnya.

Nana membuktikan dirinya layak menjadi pucuk pimpinan sekolah. Salah satunya adalah ketika sekolah menduduki peringkat I di kecamatan. Ini dijadikannya sebagai bahan pembelajaran, sembari menunggu turunnya SK pengangkatan sebagai Kepala Sekolah. Ia menjaga betul prestasi dan kemajuan sekolah untuk memelihara peluangnya menjadi Kepala Sekolah.

“Karena tidak boleh ada reaksi atau kondisi sekolah menjadi cacat yang berarti saya tidak bisa menunjukkan bagaimana menjalankan sekolah. Itu menjadi tantangan buat saya, untuk menciptakan kondisi yang kondusif untuk proses belajar mengajar. Saya akhirnya diangkat sebagai Kepala sekolah di SMP 145, tahun 2005.  Tetapi sampai pelantikan, saya tidak bilang sama siapapun, hanya kepada istri saja. Takut nggak jadi kan malu,” katanya sembari tertawa.

Semua yang dilakukan oleh Drs. Nana Supriatna di dunia pendidikan, nampaknya tidak bisa dilepaskan dari keluarga. Karena sebagian besar keluarganya, baik dari ayah ataupun ibunya berprofesi sebagai guru. Tidak heran, darah pendidik mengalir deras di dalam dirinya.

“Bapak saya memang guru, dua adik bapak juga guru. Begitu juga dengan paman dari pihak ibu hampir semuanya guru sehingga darah guru sudah ada dalam diri saya,” katanya. Selama ini, dengan memiliki intuisi sebagai pengajar ia berusaha untuk melaksanakan tugas dengan baik. “Kalau ada tantangan kita upayakan untuk dipecahkan,” imbuhnya.

Nana menilai, peran pemerintah sekarang dalam dunia pendidikan cukup baik. Penggunaan teknologi pendidikan juga dirasakan sebagai kemajuan yang sangat berarti. Ia mencontohkan bagaimana sistem penerimaan siswa baru (PSB) secara online telah menghapus kesenjangan. Karena sistem tersebut tidak memungkinkan bagi anak orang kaya melewati jalur “belakang” untuk mendapatkan sekolah yang bermutu.

“Sistem PSB Online menghapus itu semua, asalkan nilainya bagus, anak bisa masuk sekolah yang diinginkan. Begitu juga dengan BOS serta kebijakan Pemda DKI terhadap pendapatan guru, saya sangat setuju. Pokoknya pemerintah sekarang dalam hal pendidikan sangat bagus untuk kemajuan pendidikan,” katanya menutup pembicaraan.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.