Drs. PARLINDUNGAN HUTAHAEAN, MM

Drs. PARLINDUNGAN HUTAHAEAN, MM

“Ketekunan dan Penyerahan pada Yang Maha Kuasa Menghasilkan Lebih dari yang Diharapkan”

“Pendidikan adalah jembatan untuk membangun masa depan.  Melalui pendidikan yang baik  pasti akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang menjadi syarat bagi kemajuan suatu bangsa.  Bangsa yang besar dan maju adalah bangsa yang mengutamakan bidang pendidikan di banding bidang  yang lain!!!,” itulah kata yang terucap dari  sosok pria bernama lengkap Drs. Parlindungan Hutahaean, MM  yang kini dipercaya menjabat sebagai Direktur dari Polikteknik Pajajaran Insan Cinta Bangsa (ICB) Bandung, sekaligus Pembina Sekolah Menengah Kejuruan Insan Cinta Bangsa (SMK-ICB).

Mendidik tidaklah serupa dengan mengajar. Seseorang dapat mudah mengajarkan sesuatu kepada orang  lain namun belum tentu dapat memberi didikan yang bermanfaat bagi yang lainnya. Falsafah ini tidaklah omong kosong belaka, melainkan hendaknya bisa  diterapkan dalam keseharian kita. Kata-kata bijak itulah yang telah mendorong  dirinya terjun dan menggeluti bidang pendidikan.  Menurutnya, melalui pendidikan dapat pula ditanamkan nilai-nilai budi pekerti yang sangat membantu seseorang untuk berdisiplin dan memahami kehidupan.

Cita-cita awalnya memang ingin menjadi orang yang berkecimpung di bidang pendidikan. Tapi bukan hanya sebagai pengajar, melainkan juga pendidik. Keberhasilan seorang pendidik, menurutnya, bukan semata-mata jika anak didik-nya  menguasai ilmu yang diberikan, tetapi yang lebih penting adalah secara nyata bisa mengamalkan ilmu itu dibidang tugasnya masing-masing. Karena, ilmu yang tinggi tidak akan ada gunanya kalau jatuh ke tangan orang yang tidak bermoral. Oleh karena itu, tugas seorang pendidik tidak hanya  mengajar, memberikan ilmu namun juga mendidik, membentuk moral peserta didiknya. “Supaya ilmunya itu bisa dimanfaatkan, diamalkan,  yang dengan demikian juga menjadi manfaat bagi guru atau pendidiknya,” ucap peraih Candidate Doctor di bidang Manajemen Pendidikan ini. “Bagi saya, mencerdaskan anak bangsa, khususnya generasi muda merupakan tujuan dari seorang pendidik, dimana tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu yang bersifat materi ataupun prestise,” ujarnya menambahkan.

Mengawali  karir sebagai Tenaga Ahli Laboratorium Peledak di PINDAD Bandung (tahun1964), perlahan namun pasti, Parlindungan  biasa akrab  disapa, diangkat sebagai Kepala Laboratorium Pelumas di PINPAD Bandung (tahun 1970), lalu dipercaya sebagai Kepala Laboratorium Pelumas & Coating pada (tahun 1973). Kemudian pada tahun 1974, ia di angkat sebagai Kepala Bengkel Slagkwik di PINDAD. Dan pada (tahun 1976) sebagai Staff Gudang Induk di PINDAD. Setahun kemudian karirnya terus meningkat dimana ia di percaya sebagai Guru Militer Bidang Sosial tepatnya pada tahun 1978 di PUSDIKINT-AD, dan pada tahun 1981, ia mulai menjajakan langkah kakinya di dunia pendidikan dengan di angkat menjadi Guru Militer Golongan V.  Di tahun 1983, ia diangkat sebagai Kepala Guru Militer Pembekalan dan beranjak satu tahun tepatnya pada tahun 1984, Parlindungan diangkat sebagai Asisten Litbangdik dan Asisten Pendidikan Pengajaran di tahun 1985, yang kedua-duanya masih di PUSDIKINT-AD. Lalu pada tahun 1986, pria yang sempat menjadi Anggota DPRD Tk. II Kab. Lebak Jawa Barat pada periode tahun 1987 – 1992 dan Anggota DPRD Tk.II untuk daerah  Kab. Sumedang Jawa Barat  periode tahun 1992 – 1997 ini,  di angkat sebagai Kepala Departemen Makanan PUSDIKBEKANG-AD.

Sebagai Abdi Negara, dan setelah Purnawirawan ia memperoleh berbagai bintang jasa dan penghargaan dari pemerintah, diantaranya: Sapta Lencana Dwidya Sistha pada tahun 1983, Satya Lencana Kesetiaan 24 tahun pada tahun 1993 dan Bintang Eka Pakci Naraya pada tahun 1995. Demikian juga dalam kiprahnya di berbagai bidang pendidikan di masyarakat, pria kelahiran           30 September 1940 ini menerima berbagai penghargaan dari  beberapa Lembaga Swasta, diantaranya; Tahun 2003 menerima 2 Penghargaan sekaligus yaitu sebagai TOP Executive Award dan sebagai International Professional of The Year, di tahun 2004 menerima Penghargaan  Citra Insan Pembangunan Indonesia. Tahun 2005 menerima Penghargaan International Bussiness & Company Award, di tahun 2008 menerima Penghargaan Leadership Award dan di tahun 2009 menerima Penghargaan Professional and Educator Award.

Pengalaman Hidup Membentuk Karakter

Terlahir sebagai anak seorang guru, membuat suami dari Ny. Bonur Parlindungan, SH, MH ini merasakan betapa berat perjuangan orangtuanya sebagai pendidik yang ketika itu harus ditangkap dan di intrograsi oleh Belanda hanya karena membimbing pelajaran kepada sekelompok anak di kampungnya dan dianggap pihak Belanda tidak memiliki ijin dari penguasa. “Saya merasakan kehidupan yang berat takala secara terpaksa saya harus mengungsi dari satu kampung ke kampung lain hanya untuk menghindar dari cengkraman pihak Belanda.” Ujar pria yang ketika kecil merasakan hidup diantara rimbunnya pepohonan hutan di daerahnya. Namun hal itu tidak membuat niatnya surut untuk berbuat sesuatu yang berguna demi kemajuan pendidikan di negeri ini. Ia tetap memutuskan untuk meneruskan jejak langkah kaki kedua orang tuanya sebagai seorang pendidiik.

Bersekolah di Sekolah Rakyat, Parlindungan kecil tidak diperlakukan berbeda dengan murid lainnya walaupun saat ini ayahnya menjabat sebagai kepala Sekolah Sigumpar 2. “Guru-guru yang mengajarnya saat itu, mendidik dengan keras dan tidak pandang bulu”. Namun hal itulah yang diakuinya, membentuk karakter dan kepribadiannya sampai saat ini. Setelah menjalani pendidikan di SMP dan melanjutkannya sampai SMA, Parlindungan muda memutuskan untuk berangkat menuju kota Medan dikarenakan kondisi keamanan yang sedang bergejolak saat itu.

Terdidik Untuk Menjadi Pendidik

Semangat mendidik tidak pernah hilang dalam benak pria  yang satu ini. Hal ini dapat terlihat dari jejak langkah hidupnya, dimana setelah Parlindungan masuk menjadi seorang meliter, ia ditempatkan sebagai guru militer dan pada tahun 1978 terpilih untuk menimba ilmu di USA untuk bidang Supply Management, Management Acquisition dan Logistic Management serta pada tahun 1980 sebagai Observer Training Logistic tepatnya di  Hawai – USA. Dan saat ia kembali ke tanah air  tepatnya pada tahun 1979, sebuah tempat kursus bahasa Inggris bernama International College Laboratory Of English, dipercayakan kepadanya untuk dikelola.  Sehingga  terwujudlah cita-citanya untuk mencerdaskan anak bangsa melalui dunia pendidikan.

Dibawah kepemimpinannya dalam waktu hitungan bulan, International Collage  Bandung terus berkembang. Kursus yang tadinya hanya membuka kursus Bahasa Inggris saja, ia kembangkan dengan membuka jurusan-jurusan baru, diantaranya; kursus Bahasa Jepang, Bahasa Belanda, Mengetik, Tata Buku dan Akuntansi. Melalui tangan dinginnya, maka International Collage Bandung  mendapat kemajuan. Terbukti setahun kemudian berdirilah Lembaga Pendidikan Sekretaris Program 6 bulan. Kemudian pendidikan administrasi, Accounting, Perhotelan, Perbankan dan Jurnalistik, dimana semuanya melalui program  1 tahun.

Dari awal berdirinya lembaga ini telah memiliki gedung dan labotarium sendiri, namun lembaga pendidikan ini semuanya bersifat pendidikan luar sekolah. Sehingga keinginan untuk memformalkan baru terwujud pada tahun 1986 dengan terbentuknya Yayasan. Melalui Yayasan ini, maka berdirilah secara berturut-turut Pendidikan Formal. Dimulai dengan mendirikan SMIP pada tahun 1989, di lanjutkan pada tahun 1991 STM, tahun 1993 SMEA, tahun 1993 Politeknik, tahun 1997 Program Sertifikasi, tahun 2002 SMA dan pada tahun 2005 ini pengajuan program Diploma IV.

Hingga saat ini Lembaga Pendidikan yang dipimpin oleh Drs. Parlindungan Hutahaean, MM ini, telah menyerap lebih dari 50 staff akamedika, 220 guru dan dosen serta + 2.500 siswa dan mahasiswa. Dimana Lembaga pendidikan ini telah melahirkan lebih kurang 11.400 alumni yang telah tersebar diseluruh pelosok Nusantara dan bahkan diluar negeri.

Kebanggaannya terhadap bangsa dan negara ditunjukkannya dengan perbuatan. Hal ini dapat terlihat dengan begitu banyaknya alumni yang telah berhasil, baik di pekerjaannya maupun berwiraswasta. Terlebih Lembaga kami saat ini telah dapat menyediakan lapangan pekerjaan untuk + 290 orang sebagai kegiatan yang bermanfaat dan itu merupakan komitmen sejak awal. Namun, disisi lain, pria yang menikah pada tahun 1968 ini menyayangkan perekonomian Negara yang tidak stabil sehingga berpengaruh terhadap keuangan orang tua murid, yang mengakibatkan mereka jadi sulit membayar iuran sekolah ( SPP ). Tidak Cuma itu, Ia pun  menyayangkan ketertinggalan Indonesia di bidang pendidikan terutama begitu banyak kasus berhentinya siswa atau anak didik dari sekolah hanya karena tidak memiliki daya juang atau ketidakmampuan membiayai sekolahnya.

Parlindungan Hutahaean dan Keluarga

Keluarga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keseharian Parlindungan, hal ini terbukti dari dukungan istri dan putra-putrinya dalam membantu menjalankan Lembaga pendidikan yang dipimpinnya hingga saat ini. Sang istri tercinta, Ny. Bonur Parlindungan, SH., MH., (Candidate Doctor di bidang Manajemen Pendidikan), yang juga menjabat sebagai Ketua dari  Yayasan Insan Cinta Bangsa senantiasa menyempatkan diri terjun dan melihat langsung kondisi tugas-tugas pada masih-masing unit pendidikan yang ada dilingkungan  ICB.

Demikian juga tak mau ketinggalan, putra-putrinya selalu memberikan dukungan bagi pengembangan unit-unit pendidikan yang ada di lembaganya, mereka banyak memberikan masukan-masukan baik secara langsung maupun melalui diskusi by internet karena sebagian dari mereka sedang berada di luar negeri, bahkan diantara putra-putrinya sangking ingin membantu mengembangkan lembaga pendidikan orang tuanya, ada yang sampai mengirim bantuan peralatan pendidikan untuk menunjang sarana prasarana lembaga sebagai bentuk dukungannya.

Bakat mengajar di lingkungan keluarganya hampir melekat pada setiap anggota keluarga, hal ini dapat terlihat dan dibuktikan dengan ikut sertanya mereka mengajar sebagai tenaga pendidik pada lembaga yang dimilikinya dan bahkan pada event-event tertentu, mereka ikut andil memberikan pelatihan-pelatihan pengembangan bagi staff di lingkungan Yayasan  Insan Cinta Bangsa.

Dukungannya terhadap tumbuh kembang anak-anaknya pun dapat terlihat lewat keberhasilan Parlindungan dalam membesarkan putra-putrinya khususnya dalam menyelesaikan pendidikan, dimana mereka  telah berhasil dan sukses meraih berbagai gelar pendidikan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini dapat terlihat dari gelar pendidkan yang mereka miliki, diantaranya, Ir. Robert PM. Hutahaean, MM., dan sang istri Ir. Meita P. Simangunsong, MM., (Candidat Doktor Ilmu Manajemen), Winbert PM. Hutahaean, S.IP, MA., dan istrinya Daisy Pasaribu, S.Sos., (seorang Diplomat dan bertugas di Canada), kemudian anaknya yang ketiga Elfrida Hutahaean, S.Sos., dan anak yang ke empat  Elyana Hutahaean, S.IP, MA., (meraih gelar dan bekerja di Australia) dan si bungsu Ir. Limbert PM.Hutahaean, MA., saat ini sedang menempuh S3 di Sunderland University dan istrinya Ai Permanasari, SH., sedang menempuh S2 di Glasgow -  Inggris.

Generasi Muda dan Perkembangan Pendidikan

Sebagai salah satu tokoh panutan Generasi Muda, Drs. Parlindungan Hutahaean, MM., mengakui betapa besarnya potensial generasi muda dalam membangun kehidupannya, oleh karena itu kita sebagai generasi yang lebih senior wajib memberikan contoh dan tauladan kepada generasi muda. Jangan pernah bosan untuk membina semangat generasi muda dalam berbangsa dan bernegara.

Cukup memprihatinkan memang, jika kita mengamati perkembangan ekspresi generasi muda yang dipengaruhi lingkungan yang kurang baik. Mereka kerap kali berkata-kata dan bertingkah laku kasar. Namun, dengan bimbingan yang baik niscaya mereka bisa berkembang menjadi generasi penerus yang nantinya akan memimpin bangsa ini.

Hal ini pun tidak jauh dari perkembangan pendidikan di Negara ini yang secara umum masih tertinggal jika dibandingkan dengan Negara-negara lain. Ada beberapa sekolah, yang secara fasilitas sudah mencukupi tapi dari segi pendidikannya belum efektif. Bahkan secara nasional, perkembangan pendidikan masih belum merata sehingga timbul kesan hanya mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomis mampu memperoleh pendidikan yang layak.

Tumbuh sebagai warga Negara yang bangga berbangsa dan bernegara Indonesia, lulusan Sekolah Sigumpar 1 ini pun selalu membaktikan hidupnya demi kemajuan pendidikan Indonesia “Dunia pendidikan sudah melekat pada dirinya sejak saya kecil oleh karena itu, hingga saat ini dan sepanjang Tuhan YME masih mengijinkan saya untuk bekerja, maka saya akan berkomitmen untuk terus mengabdi dilingkungan pendidikan. Filosofi pendidikan yang mengatakan bahwa “pendidikan sepanjang hayat”  menginspirasi saya untuk tidak akan pernah berhenti mendidik, long life education,” imbuhnya..

Pemerintah dan Dunia Pendidikan

Ber-visi dan misi-kan “Kebutuhan pendidikan pasti akan terus berkembang, maju terus tanpa pernah merasa bosan. Diharapkan melalui pendidikan, hidup manusia akan lebih baik dan sejahtera” pria yang ramah dan sangat santun dengan setiap orang ini, berusaha dengan segenap kekuatannya untuk memajukan perkembangan pendidikan di Indonesia, namun tak bisa dipungkiri peranan pemerintah sangatlah dibutuhkan. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan sekolah Negara yang sepenuhnya di biayai oleh negara khususnya bagi keluarga yang tidak mampu. Pemberian beasiswa dinilainya jalan terbaik untuk meningkatkan perkembangan pendidikan, khususnya bagi orang yang kurang mampu agar mereka dapat menyelesaikan pendidikannya pada tinggat dasar, menengah bahkan pendidikan tinggi sekalipun.

Hal terpenting lainnya adalah bagaimana caranya pemerintah dapat memberikan pendidikan yang bermutu, yaitu program pendidikan yang berkualitas, baik dari segi programnya, prosesnya, peralatannya maupun staf pengajarnya sehingga nantinya dapat menghasilkan anak didik yang berkualitas yang akhirnya dapat berguna bagi bangsa dan negara ini.

“Tidak seperti bidang-bidang usaha yang lain, kami mengelola usaha pendidikan dengan model berwirausaha, artinya segala sesuatu yang akan kita lakukan harus kita hitung dengan cermat agar memberikan hasil yang baik dan berkualitas. Usaha di bidang pendidikan merupakan usaha jangka panjang yang harus mengedepankan mutu dan kualitas pengajaran. Penciptaan pengajaran yang bermutu dan berkualitas tentunya tidak bisa instan tetapi harus berkesinambungan ” Ujar pria yang murah senyum ini.

“Pendidikan yang berorientasi pada enterpreneurship atau kewiraswastaan adalah berjuang demi kemajuan dan mampu mengabdikan diri kepada masyarakat sebagai wujud pendidikan dan setiap anak didik nantinya diharapkan memiliki tekad dan kemampuan sendiri untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang makin meningkat dan memperluas lapangan kerja”. Konsep inilah yang sekarang sedang kita usung menjadi acuan untuk mengembangkan program-program pendidikan di Lembaga kami, baik di tingkat menengah kejuruan maupun di pendidikan tinggi.

Ia pun menambahkan, dalam kiprahnya setiap perguruan tinggi di Indonesia harus mampu berperan dan memberikan kontribusinya dalam membangun Intellectual Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient kepada setiap mahasiswanya, hal ini dapat diwijudkan dalam meramu kurikulum yang berbasis kepada pembentukan kompetensi yang berfokus pada skill (keterampilan), Knowledge (Pengetahuan) dan Attitude ( Perilaku).

Seseorang yang hanya bisa mengajar tapi ajarannya tidak mendidik maka hasilnya bisa menyesatkan anak didik. Setiap pendidik  harus mampu mengajar sesuai dengan tugasnya dan apapun yang diajarkannya harus bersifat mendidik. Untuk itu seluruh pendidik diharapkan dapat terus meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta meningkatkan pengetahuan mereka demi kemajuan bangsa, pendidik harus memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya, karena lewat tangan para pendidiklah, anak didik yang tangguh, cerdas dan berguna bagi bangsa depan bangsa dan negara ini dapat diciptakan. Maju tidaknya bangsa ini bisa ditentukan oleh para pendidik.

“Pendidikan formal terkadang menjadikan orang mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun hal itu akan berjalan lebih baik jika disertai pendidikan non formal, seperti pendidikan ahlak, budi pekerti, sopan santun, kedisiplinan dan tanggung jawab. Dasar-dasar norma tersebut akan membentuk kepribadian diri seseorang sehingga meraih sukses dan mudah menyesuaikan diri ditengah masyarakat.

Demikian juga dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, mereka harus mampu dan mau menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan zaman, seperti halnya perkembangan teknologi dan informasi yang dapat diaplikasikan dalam penerapan metode pengajaran dan mereka pun dapat mengikuti pelatihan-pelatihan tentang penggunaan teknologi atau perkembangan informasi. Jangan sampai seorang pendidik nantinya tertinggal oleh anak didiknya dalam penggunaan teknologi informasi yang terus berkembang.

Mata pelajaran yang diberikan pun harus memiliki muatan-muatan pengembangan kepribadian, kemampuan keilmuan dan keterampilan, kemampuan berkarya, kemampuan perilaku berkarya, kemampuan hidup bermasyarakat. Jika hal itu dilakukan maka lulusan perguruan tinggi yang dihasilkan dapat lebih berdaya guna di tengah masyarakat.”Kualitas suatu Negara dapat tercermin dari sistem pendidikan dan hasil dari pendidikan itu sendiri. Tentu untuk mencapai hasil yang diinginkan tidak semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan dedikasi, pengorbanan dan keinginan yang kuat dari para pendidik itu sendiri maupun dan semua pihak.”

Obsesi di Masa Depan

Bagi pria berusia 69 tahun ini, hidup di tentukan oleh pendidikan. Hasil didapatkan dari bekerja dan untuk bisa bekerja dibutuhkan keahlian, karena itu ia berobsesi dapat menuntun anak didiknya menghadapi persaingan di dunia pendidikan saat ini dengan latihan, pengajaran dan kepemimpinan, karena kita hidup dalam dunia usaha dimana jiwa entrepreneur harus diterapkan dalam diri setiap anak didiknya.

“Kita harus menanamkan sifat senang memberi kontribusi kepada masyarakat tanpa pamrih, walau tetap berjiwa entrepreneur yaitu berjiwa win win solution (kedua pihak merasa diuntungkan),” ucap pria yang selalu menerapkan system pengajaran yang bijak dengan tidak mengucapkan ‘kamu salah’ atau ‘ jangan lakukan’ itu. ”Kita harus percaya kalau anak didik kita bisa melewati kompetisi ini. Dengan begitu, rasa percaya diri mereka bisa terlatih sejak dini  dan lihat saja apa yang mungkin terjadi nanti,” ujarnya menutup pembicaraan dengan Tim Profil.

Tags: , , ,
Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.