H. Hardjani HS

H. Hardjani HS
Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi

Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi Sangat Strategis untuk Pengembangan SDM

Upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan terus dilakukan oleh Muhammadiyah Cabang Cileungsi. Yayasan ini mengelola pendidikan mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, SMP, SMK, SMA dan Perguruan Tinggi. Sesuai dengan ayat Alquran bahwa “Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya”, Yayasan berusaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Cileungsi khususnya.

Caranya, Muhammadiyah mencoba memberikan pendidikan berbiaya murah bagi anak-anak usia sekolah dari tingkat terendah sampai tertinggi. Meskipun upaya tersebut terkendala minimnya dana –yayasan tidak mempunyai sumber dana tetap dari donatur yang pasti- tetapi berbagai cara digunakan untuk menyiasati kendala tersebut. Seperti subsidi silang dari siswa mampu kepada siswa tidak mampu melalui biaya pendidikan, Muhammadiyah juga memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi dan kurang mampu.

“Untuk mencapai biaya relative murah itu belum bisa full, karena tidak ada bantuan dari manapun. Kita mencari uang sendiri, memanfaatkan uangnya sendiri. Untuk sampai ke situ, sistem pendidikan di sini menggunakan sistem sentralisasi. Artinya mulai dari TK hingga PT manajemennya adalah satu, tidak sekolah per sekolah. Sehingga untuk pengaturan kepegawaian, kesejahteraan dan lain-lain berada dalam satu manajemen,” kata H Hardjani HS., Ketua Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

Menurut Hardjani, pihak yayasan selain memberikan beasiswa dalam jumlah besar juga mencarikan dana bagi orang-orang yang tidak mampu, fakir miskin dan yatim piatu. Kepada mereka bahkan diberikan pembebasan biaya sekolah apabila dipandang benar-benar tidak mampu. Yayasan juga memberikan keringanan biaya hingga 50 persen bagi keluarga karyawan. Hal tersebut merupakan bagian dari sistem Sentralisasi Manajemen Muhammadiyah Cileungsi.

Hardjani menjelaskan, Muhammadiyah memiliki kegiatan pendidikan, kesehatan, sosial dan lain-lain, di mana antara kegiatan satu dengan yang lain saling menguatkan. Dengan begitu, meskipun tanpa bantuan pemerintah mampu membantu meringankan tugas dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Terbukti, selain guru dan karyawan berjumlah 350 orang, juga tumbuhnya entrepreneur baru di sekitar yayasan. Yakni orang-orang yang mengais rezeki dengan berjualan di sekitar sekolah yang disiapkan tempat, listrik dan air bersih.

“Jadi visi saya adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah Cileungsi dengan menggunakan sistem manajemen secara sentral. Dengan sistem ini, meskipun biaya pendidikan relative murah, tetap prestasi tidak kalah. Alhamdulilah siswa SD menjadi juara lukis untuk Jawa Barat dan masuk Olimpiade Matematika tingkat Nasional. Artinya dengan kondisi seadanya prestasi kita cukup membanggakan,” kata pria kelahiran Magelang, 19 September 1958 ini.

Belajar Sampai China

Menurut H Hardjani HS, kemajuan teknologi yang pesat tidak terlalu berdampak buruk bagi dunia pendidikan. Tinggal bagaimana teknologi tersebut diaplikasikan pada dunia pendidikan. Meskipun harus diakui bahwa penggunaan teknologi sangat tergantung pada siapa penggunannya. Oleh karena itu teknologi pendidikan harus benar-benar dipahami pengguaannya. Tetapi bagaimanapun kehadiran teknologi dalam pendidikan tidak perlu ditakutkan.

“Teknologi seperti pisau, kalau dipakai dengan baik menjadi baik kalau dipakai jelek ya menjadi jelek. Contohnya pisau dapur kalau dipakai untuk masak ya bagus, tetapi kalau untuk nodong ya berbahaya. Begitu juga dengan teknologi, semua tergantung pada penggunaannnya. Makanya kita di sini, melengkapi teknologi dari semua tingkatan mulai TK hingga PT, yang menjadi bagian dari sarana,” katanya.

Hardjani mengakui adanya perbedaan dalam sistem pendidikan di Indonesia dan luar negeri yang cukup jauh cara pandangnya. Di luar negeri sekolah memiliki pelajaran yang sangat terspesialisasi menjadi empat mata pelajaran. Sementara di Indonesia 17 mata pelajaran harus diketahui siswa. Dengan empat pelajaran, siswa di luar negeri sangat menguasai spesialisasinya. Sementara di Indonesia, siswa “tahu” segala macam pengetahuan meskipun tidak “bisa” mengaplikasikannya.

Sistem kualitas tersebut, lanjut Hardjani, membedakan antara pendidikan di Indonesia dan luar negeri. Apalagi, target sistem yang berubah-ubah dari legislator pendidikan di Indonesia membuat perubahan yang signifikan. Ia mencontohkan bagaimana sistem UAN yang diterapkan sekarang, di mana banyak siswa harus mengulang ujian. Kejadian ini, merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan di Indonesia.

“Selama ini kita berorientasi pada kuantitas yang merupakan target orde baru dalam pemberantasan buta aksara. Sementara di era Reformasi ini sudah mulai mengutamakan kualitas. Memang ada yang tidak setuju, tetapi sistem UAN sudah dilakukan sejak Indonesia merdeka hingga tahun 1977. Ketika Orba berkuasa UAN dihapus karena perbedaan target tersebut,” tandasnya.

Padahal, lanjutnya, seorang muslim -sesuai dengan sunah Rasul- diwajibkan untuk belajar bahkan hingga ke negeri China. Sunah tersebut bahkan bisa diartikan secara harfiah melihat kondisi negeri China belakangan ini yang menjadi kekuatan ekonomi baru. China dalam waktu singkat telah tumbuh menjadi negara berpengaruh setelah Amerika Serikat dan Jepang. Kemampuan seperti yang ditunjukkan bangsa China berasal dari sifat mereka yang pantang menyerah, pekerja keras, prihatin dan pintar berdagang.

“Sabda Rasulullah, ‘Belajarlah meskipun harus sampai ke negeri China’ benar-benar terbukti melihat kondisinya sekarang. Sunah Rasul yang lain menyatakan bahwa, 80 persen rezeki yang diturunkan Allah adalah perdagangan, sementara yang lain hanya bernilai 20 persen saja. Tetapi semua orang Indonesia mengejar yang 20 persen dan meninggalkan yang 80 persen. Entrepreneurship baru wacana dan belum benar-benar dilakukan. Jadi kalau mau maju, jadikan sekolah sebagai pengetahuan dan setelah lulus diarahkan sebagai entrepreneur,” ujar pria yang bercita-cita menjadikan Cileungsi sebagai kota pelajar, terutama di daerah Bogor timur ini.

Hardjani memberikan catatan bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan di Indonesia. Yakni mengamalkan sunah Rasul untuk belajar sampai negeri China dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena umat Islam sudah dibekali dengan surat Al Ash’r yang mengingatkan pentingnya waktu karena tidak dapat terulang kembali. Sementara yang terjadi di Indonesia yang mayoritas beragama Islam malah meninggalkan perintah Islam. “Kalau orang-orang di luar negeri menggunakan Al Quran untuk dilaksanakan harian. Sementara di Indonesia kitab ini hanya digunakan sebagai bahan bacaan dan tidak dilaksanakan,” katanya.

Di sisi lain, lanjutnya, perintah Al Quran dalam Al Insyiro sangat jelas, yakni memerintahkan setiap manusia untuk bekerja keras. “Kalau selesai pekerjaan yang satu pekerjaan yang lain harus dilakukan. Dan setiap melakukan pekerjaan itu pasti ada kesulitan, tetapi dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan”. “Masalahnya orang Indonesia tidak pernah mau bersulit-sulit, maunya yang enak-enak saja. Artinya apa yang ada di konsep Islam itu semua dipakai oleh Barat, sehingga Barat lebih maju daripada kita,” imbuhnya.

Hijrah untuk Berubah

H Hardjani HS merasa terbantu dengan adanya BOS, BOM dan RKB yang diprogramkan pemerintah. Meskipun untuk itu harus berusaha “mengejar” kepada pihak pemerintah agar program tersebut. Menurut Hardjani, seharusnya pemerintah yang harus datang ke sekolah-sekolah dalam rangka mensukseskan program yang dirancangnya.

Hal ini dirasakan berbeda ketika Yayasan yang diketuai Hardjani memperoleh bantuan dari United Way di USA. Meskipun berkantor di Illinois, USA tetapi mendatangi sekolah-sekolah di seluruh dunia –termasuk Cileungsi- untuk memberikan bantuan. Bahkan ketika kesepakatan untuk me-launching program tersebut, pihak donatur jauh-jauh datang dari USA.

“Jam empat subuh mereka masih di Singapura padahal acara kita jam sembilan pagi. Tetapi mereka sudah memiliki komitmen sehingga jam sembilan tepat perwakilannya sudah datang untuk meresmikannya. Sementara pejabat kita, jam sebelas baru datang di sini, padahal tinggalnya hanya di Cibinong. Jadi  komitmen waktu itu yang di antara kita tidak terlaksana dengan baik. Menganggap pejabat yang harus dilayani,” ungkap Karyawan Teladan Provinsi Jawa Barat Tahun 2000 ini.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengingatkan, bahwa -dalam bahasa Rasullulah- bangsa Indonesia harus hijrah dan setiap saat berubah. Bangsa Indonesia jangan menggunakan manajemen beton yang kokoh dan tidak bisa diubah-ubah. “Kita harus hijrah untuk berubah. Kita harus mengikuti jejak Rasul dengan meniru sifat-sifat baiknya yakni amanah, fatonah, siddiq dan tablig. Karena banyak orang Islam yang tidak menggunakan ilmunya,” tuturnya.

Ia berharap, agar aturan pemerintah segera diimplementasikan seperti pemberian BOS dan bantuan-bantuan lainnya. Setidaknya, buku sekolah digunakan sistem seperti zaman dahulu yang tidak diperjualbelikan dan dapat dipergunakan oleh generasi berikutnya. Kebijakan tersebut sangat berguna untuk mendukung pendidikan murah karena mengurangi biaya pembelian buku.

Kepada generasi muda, Hardjani berpesan berpikir sebagai umat Islam yang rahmatan lil’alamin yang tidak membedakan suku, ras, agama dan lain-lain. Dengan pola pemikiran seperti itu, generasi muda akan berusaha untuk berbuat baik bagi kepentingan orang lain. ia mencontohkan, pada saat berusia 24 tahun, ia sudah terjun ke dunia pendidikan. Visinya saat itu adalah untuk menyejahterakan masyarakat melalui pendidikan.

“Bukan warisan. Karena kalau warisan akan habis dibagi-bagi, sementara dengan berpendidikan anak keturunan dari pemilik warisan tidak akan menjual warisannya. Karena anak-anaknya berusaha untuk mendapatkan rezeki Tuhan yang 80 persen bukannya membagi-bagi warisan leluhurnya,” ujarnya.

Setelah 26 tahun, buah pemikiran Hardjani telah berhasil menanggulangi pengangguran meskipun dalam skala kecil. Selain 350 guru, karyawan dan pedagang yang bangkit karena Yayasan Perguruan Muhammadiyah beroperasi. Masyarakat yang ada di sekitar yayasan pun dibantu untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Artinya, dari segi tenaga kerja dan sosial, Yayasan Perguruan Muhammadiyah telah membantu pemerintah.

“Artinya kalau PCM Cileungsi saja bisa memberikan lapangan kerja bagi 500 orang, dengan 5000 siswa, maka seandainya dalam satu kecamatan ada 10 orang yang pola pikirnya (mindset) seperti saya, di Indonesia tidak ada pengangguran lagi. Bahkan pengangguran intelektual pun tidak ada. Kita menggaji karyawan di sini pun sudah lebih dari UMK, lengkap dengan jaminan sosial, kalau secara umum kesejahteraan karyawan sudah relative cukup. Standar,” katanya.

Adapun visi yang dipegang teguh Hardjani selama ini adalah melaksanakan surat Al Maa’uun (Q.S:107) dan surat Al ‘Ashr (Q.S:103). Dalam surat Al Maa’uun terkandung perintah untuk mengentaskan kemiskinan. Dimana dalam mengentaskan kemiskinan bukan dengan membagi-bagikan uang, tetapi memberikan ilmu pengetahuan. Artinya dengan membekali ilmu, kemiskinan dengan sendirinya tidak ada. Sementara surat Al ‘Ashar mengharuskan manusia untuk menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Ia melihat, bangsa Indonesia belum dapat menghargai waktu dengan baik.

Ia melukiskan pengalaman saat membuat sekolah yang tidak mau menunda-nunda waktu untuk memulai. Apa yang menjadi keinginannya langsung dikerjakan terlebih dahulu dan diperbaiki sambil berjalan, tanpa harus menunggu hal-hal yang ideal. Karena ia sadar kalau menunggu yang ideal –seperti kecukupan dana dan bantuan dari pemerintah– cita-citanya tidak dapat berjalan.

“Kalau saya yang penting punya niat, akan saya tanamkan. Kalau sudah punya tekat saya tanamkan terlebih dahulu, meskipun nggak punya duit harus mulai. Karena bisa sambil jalan, sambil menghimpun dana. Visi saya melaksanakan amanah kedua surat tersebut yang menyangkut IPOLEKSOSBUDHANKAM. Kedua surat itu yang menjadi pegangan saya dan sekaligus menjadi visi saya,” katanya.

Sedangkan mengenai misi yang diembannya, Hardjani menyebut pengentasan kemiskinan melalui pendidikan dan kesehatan. “Karena itu, saya menyelenggarakan pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi (TK:5 unit, SD: 2 unit, SMP: 2 unit, SMA: 1 unit, SMK: 3 unit, Sekolah Tinggi Teknologi Muhammadiyah Cileungsi, Asrama Yatim Piatu Al-Maun: 2 Unit) yang diharapkan berguna untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk kesehatan, mulai pengobatan gratis sampai rumah sakit. Itu misi saya,” kata pria yang berkantor di dua tempat sekaligus ini. Pagi di salah satu perusahaan semen di kawasan Bogor Timur, kemudian malam hari dan hari libur berkantor di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cileungsi.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.