H. Saiful Bahri M. Ya’kub

H. Saiful Bahri M. Ya’kub
Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Saef ed Daulah, Cipondoh Kota Tangerang

Mengelola Ponpes Dilandasi Semangat Ikhlas, Pengabdian dan Kemandirian

Dalam kegiatan sosial, dituntut pengorbanan besar dari para penggiatnya. Mereka harus rela memberikan segala macam yang dipunyai untuk menggerakkan apa yang sudah dimulainya. Meskipun di mata masyarakat terlihat banyak donatur, tetapi sebenarnya para penggiat tersebut yang paling banyak mengeluarkan dana.

Salah satunya adalah kegiatan sosial dalam bentuk pendidikan berupa sekolah di bawah naungan Yayasan Pondon Pesantren Saef ed Daulah. Para siswa di Yayasan yang terletak di Cipondoh, Kota Tangerang tersebut sama sekali tidak dipungut biaya. Bahkan sekolah untuk saat ini lebih memfokuskan pada anak-anak kurang mampu yang tidak dapat mengakses pendidikan formal.

“Dalam kegiatan sosial, banyak orang menyangka dana orang lain datang kepada kita. Tetapi sebenarnya kebanyakan uang kitalah yang keluar. Makanya kami banyak mengirimkan proposal kepada Tuhan Yang Maha Esa,” kelakar H. Saiful Bahri M. Ya’kub, Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Saef ed Daulah.

Yayasan Pondok Pesantren Saef ed Daulah yang berdiri sejak tahun 1998 ini, memang membebaskan uang sekolah bagi anak didiknya. Sekarang Yayasan menyelenggarakan pendidikan pada tingkat Raudhlotul Atfal (TK) dan Madrasah Ibtidaiyah (SD). Rencananya ke depan akan membuka pendidikan MTs atau jenjang pendidikan setingkat SLTP.

Untuk sementara, pendanaan dan pembiayaan sekolah didapat dari donatur, kantong pribadi dan bantuan pemerintah. Tetapi dengan keyakinan besar terhadap apa yang dilakukan di jalan Allah pasti mendapat jalan keluar, kelanjutan Yayasan Pondok Pesantren tetap bertahan. “Yang penting kita nggak terlalu susah,” tambahnya.

Pondok Pesantren Saef ed Daulah sendiri, lanjutnya, terbentuk dari kecil. Awalnya hanya berupa Taman Pendidikan Al Quran (TPA) untuk anak-akak kampung. Seiring perjalanan waktu, masyarakat dan orang tua siswa TPA meminta untuk pendirian sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pada awal pendirian, sekolah dibanjiri murid yang ingin belajar. Tetapi lama kelamaan murid semakin menyusut karena berbagai faktor.

Baginya, merosotnya jumlah siswa harus disikapi dengan bijak. Karena penurunan semacam itu bisa terjadi kepada siapa saja dulu ada yang datang, bilang kalau mau siswanya banyak lagi nih pakai ini dijamin banyak lagi. Jawab saya, “Gak usahlah orang lagi diuji kok. Semua itu merupakan ujian dari Tuhan dalam menjalankan perintah-Nya. “Tetapi bagi saya yang penting adalah kita bangun dengan ikhlas, penuh kesabaran serta semangat kemandirian,” ujar ustadz H. Syaiful.

Pedang Negara

Ayah dua anak ini memberikan penjelasan mengenai nama pondok pesantren yang dipimpinnya “Saef ed Daulah yang senantiasa dipertanyakan orang. Ia menjelaskan bahwa Saef ed Daulah diambil dari nama pejuang. Saat ia masih belajar di IAIN Syarief Hidyatullah Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, ia sangat gemar membaca puisi-puisi Arab. Suatu saat ia sangat asyik membaca buku Balaghoh yang memuat syair indah Mutanabi. Salah satu bunyi syair tersebut adalah “Idza I’tala saifuddaulah I’talati Al-Ardhu”.

“Artinya apabila Saef ed Daulah menangis, maka seluruh penduduk bumi menangis. Saya terpana mendengarnya, karena kalau diartikan secara harfiah orang akan ngeri mendengarnya, karena saef ed daulah adalah pedang negeri. Tetapi ketika saya telusuri, ternyata saefuddaulah itu memang mulia. Makanya saya gunakan untuk nama ponpes ini. Tidak ada kaitannya dengan nama saya lho,” katanya.

Hasil penelusurannya yang cermat menyebutkan bahwa Saef ed Daulah adalah pejuang untuk orang-orang lemah. Yakni ketika di zaman kekuasaan kekhalifahan Baghdad, dikisahkan bahwa para penguasa dan pejabat saat itu sangat sibuk dengan persoalan politik. Semuanya berjuang untuk merebut kursi kekuasaan bagi kepentingan kelompok atau golongan masing-masing. Di antara mereka berada pada taraf saling mengkafirkan dan kelompok merupakan pihak yang paling benar.

Akibatnya, kehidupan dan pendidikan orang-orang lemah kurang mendapat perhatian dan terabaikan. Kondisi itulah yang menyebabkan kemunculan seorang dermawan bernama Saef ed Daulah. Dengan panggilan jiwa dan tanggung jawab moral untuk berjuang membela dan memerhatikan kehidupan serta pendidikan orang-orang lemah (dhuafa) yang terabaikan.

“Saef ed Daulah dengan ilmu dan kekayaannya disertai dengan kedermawanannya berjuang untuk orang-orang lemah. Oleh karena itu sangat pantas ketika dia dipanggil Allah, seluruh penduduk menangis. Nah berangkat dari sini nama Yayasan Saef ed Daulah terilhami, sebuah nama yang sangat baik. Meskipun begitu, tidak ada kaitannya sama sekali dengan nama saya. Mungkin persamaannya adalah Syaiful-nya kali tapi bedanya Bahri dan Daulah-nya,” canda ustadz yang tidak “jaim” ini.

Membangun Tanpa Merusak

Rasululah SAW bersabda, ”Agama dibangun di atas kebersihan.”  Wajar kiranya apabila setiap muslim yang taat, setiap hari tidak pernah lepas dari kegiatan kebersihan. Oleh karena itu, pokok pertama dalam Islam adalah lestarinya hubungan kepada sesama makhluk. Di mana seorang muslim mampu mengejawantahkan serta menauladani kemahasucian Allah dalam kehidupan. Allah SWT itu Maha Suci, Islam itu bersih yang dibangun di atas kebersihan, maka kewajiban orang Islamlah untuk menjaga dan memelihara kesucian dan kebersihan tersebut.

Kebersihan yang dimaksud adalah kebersihan lahir dan batin. Kebersihan lahir adalah cerminan kebersihan jiwa maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa membersihkan jiwanya dan merugilah orang-orang yang mengotorinya. Prinsip kebersihan ini harus dijadikan tradisi dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik pada jasmaninya, pakaiannya, makanannya dan lingkungannya. “Dan hendaklah kalian menyucikan pakaian kalian, kebersihan lahiriyah adalah salah satu bagian dari kebersihan ruhani.”

Tema kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan dan sesamanya. Hubungan interaksi itu harus harmonis sesuai petunjuk-petunjuk Allah dengan memperhatikan perkembangan sesuai dengan lingkungannya. Manusia, dilarang berlaku sewenang-wenang manakala dirinya mampu. Karena itu, Islam mengundang para penganutnya untuk membangun tanpa merusak. Ini sesuai makna kata Islam dan tauladan Nabi Muhammad SAW, maka dapatlah dipahami bahwa landasan berpijak guna tercapainya kelestarian lingkungan adalah sebagai berikut:
1.    Tidak seorang muslim yang menananm atau menyemaikan tumbuh-tumbuhan, kecuali buah atau hasilnya dimakan burung atau manusia. Yang demikian itu adalah shodaqoh baginya.
2.    Barang siapa yang memperbaiki (menyuburkan) tanah bukan untuk seseorang, maka ia berhak memanfaatkan tanah itu
3.    Hindarilah dua macam kutukan, yaitu membuang kotoran di jalan dan di tempat orang berteduh
4.    Janganlah ada di antara kamu yang membuang air kecil pada air yang tergenang, kemudian mandi pula di sana.

Kelahirannya yang bersih dan setiap manusia dilahirkan suci (fitrah) dan bi’tsahnya juga mengajak manusia untuk bersih atau suci lahir batin. Suci, yang disembah hanya Allah SWT, menggantungkan asa hanya kepada-Nya, membersihkan hati untuk tulus dan ikhlas dalam beribadah dan beramal, tidak dipenuhi sedikit pun harapan dan asa hanya selain kepada-Nya. Kemudian dengan kesucian batin akan melahirkan ketenteraman dan kedamaian dalam lingkungan, tidak terkotori oleh apapun yang akan menyebabkan dosa pada kehidupan manusia. Rasulullah menyatakan sabdanya, ”Kebanyakan siksa kubur karena baul (buang air seni).”

Biodata:

Nama            : H. Saiful Bahri M. Ya’kub
Tempat tinggal lahir: Tangerang, 25 Juli 1970
Alamat        : Jl. KH. Hasyim Ashari Gg H Halimah Rt 002/01
Kel. Poris Plawad Utara Kec. Cipondoh Kota Tangerang
Kegiatan     :
Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Saef ed Daulah Cipondoh Kota Tangerang

Riwayat Pendidikan:
1.    SD Negeri Plawad V Pagi
2.    MI Asy-Syukuriyah Sore 3. MTs NU Buntet Pesantren Cirebon
3.    MA NU Buntet Pesantren Cirebon
4.    Pondok Pesantren Buntet Pesantren Cirebon
5.    Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta
6.    S1 IAIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab
7.    S1 STAI Fatahilah Serpong, Prode Pendidikan Agama Islam
8.    S2 Sekolah Tinggi Manajemen IMMI Jakarta, Program Pasca Sarjana Konsentrasi Manajemen Pendidikan (tesis)

Riwayat Pengabdian:
1.    Tenaga pendidik Pondok Pesantren Al-Inayah Gunung Sindur Bogor, (bidang  studi bahasa Arab dan bahasa Inggris) tahun 1991-1993
2.    Tenaga pendidik MTs Darul Muqorrobin Kunciran (bidang studi bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) tahun 1993-1996
3.    Tenaga pendidik Pondok Pesantren Darus Sa’dah Tangerang (bidang studi bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan Ilmu Balaghoh) tahun 1997-1999

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.