Hj Pocut Haslinda Syahrul

Hj Pocut Haslinda Syahrul
Ketua Yayasan Tun Sri Lanang

Perempuan Tidak Usah Menuntut Emansipasi

Tuntutan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan banyak disuarakan di Indonesia akhir-akhir ini. Banyak aktivis perempuan di Indonesia yang menuntut ruang lebih luas bagi gerakan kaum yang merasa aspirasinya tersumbat tersebut. Padahal, kalau merunut sejarah Indonesia ke belakang peran perempuan Indonesia dalam kehidupan sangat besar. Masyarakat pun, memberikan apresiasi positif terhadap peran perempuan di tengah mereka.

“Kalau melihat ke belakang, kita tidak usah menuntut jender atau emansipasi lagi. Karena sejak zaman dahulu emansipasi perempuan itu sudah ada. kisah kepahlawanan perempuan Aceh yang terkenal itu adalah sejarah, bukan kisah fiktif. Sejak abad ke-5, perempuan Aceh sudah menjadi  Laksaman / raja dengan gelar Sultanah,” kata Hj Pocut Haslinda Syahrul, Ketua Bidang Wanita Taman Iskandar Muda Jakarta.

Meskipun demikian, lanjutnya, perempuan Indonesia tetap harus membekali diri dengan keahliannya  yang dibutuhkan ditengah tengah Masyarakat yang berkembang / maju  .

Perempuan akan mendapatkan haknya tidak bisa begitu saja menuntut persamaan hak tanpa memiliki kesiapan pada diri masing-masing.  Apalagi, tanpa memiliki keahlian atau skill yang memadai, tuntutan persamaan jender justru menjadi boomerang bagi perempuan .Sebaliknya, tanpa tuntutan apapun masyarakat Aceh sudah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk mengembangkan diri.

Cut Ida Syahrul, begitu panggilan akrab
perempuan kelahiran Banda Aceh 16 Desember 1945 ini, mengisahkan persamaan gender di Aceh. Di mana sejak abad ke-7, kemampuan perempuan dalam memimpin ikut suaminya membangun  negerinya dan tetap mendidik keturunannya menjadi pewaris wilayah kerajaan yang dikuasi seperti Perlak , Samudra Pasai , Aceh Darussalam

Seperti Meurah Mayang Selundang, ibu yang bijak putri Raja Meurah Jeumpa (seorang peranakan Indocina) di Kabupaten Biureun yang menikah dengan Pangeran Maharaja Syahrial Salman dari Persia. “Mayang Selundang mampu ikut membantu suaminya membangun perlak sebagai bandar khalifah sehingga banyak didatangi pedagang dari semua penjuru . Disamping itu  mendidik ke-4 anaknya dan turun temurun  mendidik anak anak menjadi berhasil. Bahkan  cucunya  Meurah Makhdum  Qhudawi menikah dengan kaum Sayid dari Arab mamapu membangun kerajaan Perlak 5 generasi menjadi Kerajaan Islam Perlak. Jadi, semaju apapun perempuan Aceh dia tidak boleh melupakan kodratnya sebagai perempuan. Mendampingi suami, mengurus rumah tangga dan membimbing anak. Itu yang sejak dahulu sudah menjadi bagian dari perempuan Aceh. Bahkan anak Mayang Selundang itu menjadi leluhur dari Raja-raja di Nusantara,” tuturnya.

Ia mengisahkan, di zaman perang kemerdekaan pun banyak pejuang perempuan Aceh yang berjuang keluar masuk hutan melawan penjajah. Selain nama-nama yang bisa tampil dalam film atau sinetron seperti Cut Nyak Dhien, Laksamana Malahayati masih banyak srikandi Aceh yang sangat berjasa bagi bumi pertiwi. Perempuan gagah berani tersebut antara lain, Pengakuan atas pejuang dan kepemimpinan perempuan Aceh tersebut bahkan diberikan ketika usia mereka masih sangat muda. Seperti Pocut Meuligo yang pada usia 17 tahun sudah diangkat sebagai Panglima Perang dan Uleebalang Samalanga mampu memimpin peperangan bersama tokoh agama / Ulama dan masyarakat menyerang Belanda tampa menyerah tampa mundur , “Pocut Meuligo dengan gagah berani mempertahankan Samalanga dari serangan Belanda selama beberapa tahun. Namun, yang perlu dicatat dan ditiru adalah bahwa segarang apapun perempuan Aceh dia tetap menjalankan tugas sebagai ibu, istri dan mengurus rumah,” ungkapnya.

Cut Nyak Fakinah, Pocut Meurah Intan dan lain-lain..

Keluarga Pejuang

Hj Pocut Haslinda Syahrul merupakan putri ke-2 dari empat bersaudara pasangan HT Hamid Azwar dan Hj Cut Nyak Djariah Azwar. Cut Ida Syahrul mempunyai 3 (Tiga )  saudara laki-laki  yaitu H.Teuku.SyahrulAzwar,    Teuku.Syaiful Azwar  Teuku .Verdy Azwar.Keluarga ini merantau keluar dari Aceh pada tahun 1947 dan menetap di Bukittinggi. Jabatan sebagai Kepala Intendan untuk seluruh wilayah Sumatera adalah penyebab kedatangan di daerah berhawa sejuk ini. “Ayah kemudian mendirikan perusahaan dan tinggal lama di Bukittinggi.  Zaman Bung Hatta , Bapak Ahmat Tahir , Datok BDB , Haji Taher  Teuku Daud Umur 17 tahun almarhum di Aceh ayahnda Teuku Hamid Azwar banyak pengalaman  dalam mengelola pabrik penggilingan padi miliknya sendiri ,membuat langkah-langkahnya pun menjadi sangat strategis.

Ia, misalnya DiBukittingi  menyewa pesawat untuk menjual batik ke Sungapura. “Pulang dari Singapura membawa plastik untuk di jual di Sumatera. Nah, carter flight ini setelah mendapat keuntungan langsung dibelikan senjata dan lain-lain.
Orang tua kami  merupakan salah satu penyumbang pesawat terbang ke Ridengan nomor Regeter Avro 004 tahun 1947 di Bukittinggi  . Saat itu  bunda saya memberikan emas  milik pribadinya kepada  ayah saya sebanyak   15 kg emas, kita tidak ada pamrih dan hanya tersentak hati  ingin ikut  membangun perekonomian Indonesia lebih baik setelah merdeka , kami cerita ini bukan ria atau bermaksud sombong   namun mudah mudahan anak cucu kita atau genarasi muda sekarang  bisa berbuat lebih baik lagi dalam bentuk apapun  ……..ungkapnya.

Sayangnya, pesawat sumbangan dari Ibunda Cut Nyak Jariah Azwar alias Kemala putri yang diambil dari Thailand jatuh di Malaya‘““““““` dekat gua Hantu .  Saat itu pesawat dikemudikan oleh pasangan pilot dan ko-pilot, Halim Perdana Kusumah – Is Wahyudi yang sekarang namanya diabadikan menjadi pangkalan TNI AU.

Semasa hidup mama  pernah bercerita  sewaktu  Pak Halim mau berangkat ke Thailan untuk ambil Kapal terbang sumbangan dari kita tersebut , ibu dan Bapak Halim masih sempat makan siang dirumah kita depan lapangan di Bukit Tinggi dekat  tidak jauh dari gereja dan Ibu Halim  sedang mengandung dua bulan . Kalau mama bisa  bertemu pasti mama akan cerita peristiwa ini  yang sebenarnya bisa terjadi . Kapal terbang itu dipersiapkan perintah Bung Hatta untuk kunjungan Bung Karno ke Bukittinggi , tapi naas jatuh diGoa Hantu di Malaya , kerangka kerangkanya ada di Musium tersimpan baik dan saya pernah melihatnya

Tidak hanya berhenti di situ langkah ayahnya dalam membantu perjuangan meningkatkan perekonomian di Jakarta  Setelah mendengar anjuran Bung Hatta –proklamator yang berasal dari Bukittinggi- lalu ayah terjun ke dunia bisnis dan mengembangkan sayapnya keluar dan dalam negeri .  Ayah disuruh berhenti dari intendant dan fokus menangani perusahaan CTC (Panca Niaga) yang didirikannya,” kata perempuan yang memiliki idola Cut Nyak Dhien, Pocut Meuligo, Dewi Motik dan Linda Agum Gumelar ini.

Dari Bukittinggi, Teuku Hamid Azwar memboyong keluarganya ke Jakarta tahun 1949 . Di ibukota, ia terus membesarkan perusahaan Panca Niaga  Milik BUMN . Almarhum ayahnda Teuku Hamid Azwar Derektur Pertama di Indonesia BUMN Milik Negara  Dari hanya satu cabang, perusahaan berkembang sangat pesat. Tidak hanya tiga cabang di Jakarta tapi  Aceh, Medan , Bandung , Surabaya , Makassar , Menado , Panca Niaga  BUMN Perusahan milik Negara saat itu mampu melebarkan sayapnya dan membuka cabang di luar negeri  Singapura, Bangkok,Hongkong,Tokyo,NewYork,
Hambrug,London,Amsterdam, Rome dll .

Modal Sejuta

Kesuksesan yang diraih Teuku Hamid Azwar tidak diperoleh cuma-cuma. Memerlukan kerja keras dan upaya terus menerus untuk mencapai semua keberhasilan tersebut. Semangat itu ditularkan kepada anak-anaknya dengan mendidik mereka secara keras penuh disiplin.

“Ayah mendidik anak-anaknya dengan kerasdan disiplin  Ia juga menginginkan pendidikan terbaik bagi kami itu faktor utama  Makanya, kami hanya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SMA di Jakarta. Setelah itu,kami empat saudara  melanjutkan belajar tahun 1963 – 1972 T. Syahrul Azwar  (abang ) melanjutkan  Ke Hamburg ,   Tahun 1965 -1970 saya ( Cut Ida ) melanjutkan ke Hamburg , Paris dan Inggris , 1968 -1970 adik Saya TSyaiful Azwar melanjutkan ke London , dan  Tahun 1972- 1976 Adik saya T Ferdy melanjutkan ke  London Saya bersama kakak sementara dua adik saya di London memperdalam kecantikan / rambut ,” Di Vidal Sason , Molten Brwon , Maike John , Robet Feideng , Alan , Di Paris  Setion art , Antonio , Alexander ,  kisahnya.

Kalu saya mula mula 2 tahun ambil arsitek ditengah jalan, saya putar haluan saya bidang ketrampilan wanita  Kecantikan, make up , Sambut ,Fashion, etiket dimana pada zaman tahun 1970   indonesia membutuhkan  peningkat cara cara yang terbaru  mempercantik wanita tidak berlebihan dan natural sistim yang saya dapati dari jerman   Paris dan london, hingga saya membuka sekolah  kecantikan Ketrampilan wanita dengan nama La Reine Salon, Dicideng Barat , Cokro aminoto , Tengku Tjhik Ditiro , Dan Jaka Sampurna Kali Malang

Tahun 1970, Cut Ida menyelesaikan pendidikan desain dan fashionnya. Ia kemudian pulang ke Indonesia dan mempraktekkan ilmunya dalam make up dan tata rambut. Sementara di Indonesia saat itu sedang berlangsung penyelenggaraan Miss Indonesia, sehingga ia langsung terlibat dalam perhelatan itu. Ia juga membuka salon kecantikan berbarengan dengan orang-orang yang sekarang terkenal di dunia kecantikan, seperti Rudy Hadisuwarno
“Saya juga membuka sekolah kecantikan,” ujarnya.

Setelah melihat upaya gigih yang dilakukan putri keduanya tersebut, Teuku Hamid Azwar merasa sangat puas. Tidak hanya itu, ia kemudian membelikan perlengkapan salon dan kecantikan sebanyak dua kontainer untuk putri tercintanya. “Saya dimodali uang sebesar Rp 1 juta rupiah yang harus dikembalikan dalam tempo enam bulan. Saya kaget dan berusaha keras untuk mengembalikan modal salon yang saya namakan PT . La Reine yang artinya queen, usaha kita bertiga  saya, ibu dan ayahsaya ,” tandasnya.  Untuk melebarkan sayap bisnisnya, Ia juga melayani Make up Pengantin  desain pelaminan, gaun pengantin dan pernak-pernik penikahan lainnya sejak tahun 1976 saya lakukan   Upayanya  kelas kecantikan yang mempunyai siswa dari daerah seluruh  Indonesia bahkan sampai Singapura dan Malaysia pada masa liburan mereka mengambil praktek kecantikan ini cerita lagi muda dan tahun 1970 -1993  . karena saya tetap sebagai ibu rumah tangga juga. Karena setelah anak pertama lahir, empat bulan kemudian sudah hamil lagi. Begitu seterusnya sampai saya mempunyai lima orang anak,” katanya. Anak-anaknya telah mempersembahkan 12 cucu bagi Ida. Bahkan sekarang ia sedang menunggu kelahiran cucu ke-13

“Kita tidak pernah tahu rencana Allah. Dari Riefky 4, Rafly satu, Cut Vita tiga, Cut Dilla tiga anak . Yang kemarin menikah sudah hamil tiga bulan,” ungkapnya bahagia.

Seperti juga sang ayah, Cut Ida juga memberikan pendidikan yang memadai untuk anak-anaknya. Saat masih sekolah menengah, mereka menempuh pendidikan di Yayasan Al Azhar. Kemudian dilanjutkan ke Military Academy Vermont, Boston, USA.  Rafly Master di Boston Universite , Marvi Master . Ia tidak memanjakan anak-anaknya , yang penting, ia telah menyiapkan dana bagi pendidikan mereka yang cukup .

“Seperti yang dilakukan oleh kakek mereka kepada saya. Saya boleh pergi ke Paris atau London saat liburan, tetapi untuk belajar bukan jalan-jalan tapi sampai belajar .

Alhamdulilah semua anak-anak saya berhasil menyelesaikan sekolah dengan baik  dan mendapat sarjana sesuai bidang masing-masing. Dan alhmadulilah mereka  berlima sudah melakukan ibadah Haji untuk bekal nya  dunia dan akhirat .

Nama lengkap T.Riefky di sarjana komunikasi dari Norwich di  Boston,T.Rafly Master dalam bidang komunikasi dari Norwich di Boston USA,Cut Vita Pramadhi dalam bidang desain grafis dari  North Houston di  Boston USA,Cut Dilla dalam bidang desain grafis dari North Houston di Boston USA dan Yang bungsu T.Marfy Marsya Master dalam bidang Accounting di Universitas  Deakin di Melbourne Australia    ” katanya.

Cut Ida Syahrul  sangat bersyukur anak-anaknya berperan aktif dalam melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh ayah Teuku Syahrul dan kakeknya Teuku Hamid Azwar mudah- mudahan selalau dilindungi Allah SWT apapun jabatannya yang penting jangan ria , tundukan kepala kehadapan Allah SWT mohon perlindungan nya dan mau kerja keras .

Anak tertua, Teuku Riefky Harsya  saat ini menjadi Ketua Komisi III DPR RI untuk periode keanggotaan yang  kedua dari Partai Demokrat. Padahal ayahnya adalah”dedengkot” Partai Golkar .  Sementara anaknya yang lain, Teuku Rafly Pasya  menjadi penasehat / membantu Gubernur Nangroe Aceh Darussalam.

“Pas minta izin kepada ayahnya saat T.Riefky dilamar Partai Demokrat, mereka mendapat nasehat berharga dari ayahnya . Yaitu ‘asalkan untuk Aceh kepala boleh kamu serahkan, karena ayah tidak mungkin kembali ke sana’.untuk mellihat Aceh . Setelah itu mereka sangat fokus untuk mengabdi bagi tanah rencong,” tegasnya.

Sedangkan dua anak perempuannya lulusan design graphic dari North Houston University. “Mengikut bakat saya sementara Riefky  sama Rafly di ilmu komunikasi. Dipersiapkan sebagai kadernya di ANTV ,
Manusia boleh merencanakan allah menentukan lain Ayahnya kan juga pemegang saham di ANTV, kemudian saham kita lepas kepada Bakrie  .

Dengan kesendirian begini, saya betul-betul menjadi panutan hidup anak anak saya.  Dan kesibukan saya sekarang menulis buku sejarah  4 buku yang sudah saya bedah dan luncurkan .

Saya juga mempunyai Butik Baju muslim import baju Muslim  import dan  kreasi sendiri  yang berlokasi di rumah saya di Jalan Tirtayasa Raya 49

Jadi cambukan-cambukan orang tua saya itu benar-benar membekali hidup saya sekarang lahir dan bathin ,” kata Hj. Pocut Haslinda Syahrul MD.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.