Liesna Sulistiowati Shaw

Owner Marvellous Little Maestro dan GaleriLiesna

Memupuk dan Mengeksplorasi Bakat Dengan Menyenangkan

Bakat adalah bawaan lahir yang merupakan karunia Tuhan. Namun bakat besar akan sia-sia tanpa usaha keras untuk memupuk dan mengekplorasinya. Banyak orang berbakat yang tidak berhasil dalam hidup karena mengabaikan bakatnya. Sebaliknya, banyak orang tidak berbakat justru sukses karena kerja keras dan kesadaran akan bakat yang tidak dimilikinya. Seperti ungkapan Thomas A. Edison, bahwa bakat hanyalah 1 persen dari keberhasilan, sementara 99 persen sisanya adalah hasil kerja keras.

Meskipun demikian, bukan berarti orang berbakat tidak bisa berhasil. Asalkan rajin memupuk dan mengeksplorasi bakatnya, kesuksesan akan berhasil diraih. Salah satu lembaga kursus untuk memoles bakat sejak usia dini adalah Marvellous Little Maestro yang bertempat di Kemang. Bakat yang ditangani terutama dalam seni menggambar dengan merangsang anak-anak untuk mengekspresikan diri dan mengeluarkan kemampuan dalam dirinya.

“Fungsi otak sedang berkembang pada saat usia balita, periode ini disebut juga sebagai periode emas. Demikian pula dengan kreativitas-nya, dengan memadukan brain, hand, eyes dan heart coordination, seorang anak akan mengeksplor secara visual. Kemudian pada usia lima tahun keatas, mereka mulai memperhatikan alam di sekitarnya. Nah, alat yang tepat untuk membina reflek kreativitas adalah dengan cat, kuas, krayon, kertas dan alat gambar lainnya.” kata Liesna Sulistiowati Shaw, Pendiri dan Owner Marvellous Little Maestro.

Pilihannya untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak dilandasi oleh keyakinan bahwa setiap anak bisa menggambar. Hanya saja, banyak yang kemudian merasa gambar atau lukisannya kurang bagus. Sebenarnya hal ini karena tidak pernah dilatih sejak kecil. “Padahal, ketika seorang anak pada usia tiga tahun sudah mampu menggoreskan suatu komposisi, ini sudah menunjukkan ekspresinya yang sangat kuat, terkait kemampuan dan perkembangan motorik anak,” ujar Liesna yang gemar mengumpulkan buku-buku bertema gambar dan lukis untuk kemajuan anak-anak didiknya.

Selain itu, lanjut Liesna, apresiasi masyarakat terhadap seni lukis, terutama pada anak-anak masih kurang. Berbeda dengan seni musik misalnya, yang hampir setiap stasiun televisi berlomba menayangkannya. Dengan dukungan suami dan teman-temannya, ia kemudian mendirikan Marvellous Little Maestro (MLM) pada awal tahun 2010. Tujuannya menampung sekaligus membina dan mengembangkan kreativitas dan bakat anak dalam seni gambar dan lukis.

“Kalau dibandingkan dengan bidang seni musik, apresiasi terhadap gambar menggambar masih sangat kurang di masyarakat. Begitu juga tempat memupuk bakat-bakat menggambar anak-anak masih sangat sedikit. Makanya, dengan dukungan suami dan keluarga saya membuka sanggar ini dengan harapan untuk merangsang kreativitas anak-anak secara menyenangkan,” katanya. Oleh karena itu, lembaga yang didirikannya pun mengusung tag “Explore Your Talents With So Much Fun”. “Fun-nya bagaimana? Kita membuat nyaman si anak yang belajar gambar dan lukis, serasa di rumah sendiri dengan menggunakan macam-macam medium yang disukai anak. Selain itu kami juga mengolah segala macam barang bekas menjadi berguna kembali, seperti bekas stik ice cream, kotak, kardus, dll,” lanjutnya. “Disini kami juga selalu mengingatkan anak-anak murid untuk selalu mengumpulkan hasil karya mereka.”

Awalnya, pemilik GaleriLiesna ini mengajar menggambar dan melukis dari rumah ke rumah secara privat sejak tahun 2006 sampai 2008. Saat liburan sekolah tiba, ia membuka Arts & Crafts Holiday for Children di rumahnya, di kawasan Kemang. Ternyata peminatnya sangat banyak sehingga didirikanlah sanggar dan tempat les gambar dengan materi yang menarik, edukatif sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Tahun 2009, ia mulai menyusun materi dan kurikulum yang dibutuhkan untuk pendiriannya.

“Karena orang Indonesia tertarik dengan nama-nama bahasa Inggris, akhirnya kita menggunakan nama yang keinggris-inggrisan. Walaupun telah mengumpulkan ide bermacam-macam nama, akhirnya terpilihlah Marvellous Little Maestro. Kata Marvellous ini sebenarnya kata yang sering diucapkan oleh anak sulung saya. Jadilah ide itu dan secara resmi bernama Marvellous Little Maestro!” ujarnya.

 

Berawal dari Sketsa

Ketertarikan dosen Desain Komunikasi Visual, Universitas Pelita Harapan, Karawaci ini terhadap seni lukis anak dilandasi keinginan untuk terus memajukan kreativitas anak-anak Indonesia. Menurutnya, memberikan dasar kemampuan menggambar secara dini bagi anak sangat berguna bagi masa depan mereka. Setidaknya, dari riwayat sukses para innovator dunia di masa lalu menunjukkan bahwa kemampuan sketsa, menggambar dan memvisualkan ide dari benak sangat berperan besar.

“Ini benar-benar basic yang bagus bagi anak-anak untuk berkarya dan menghargai diri sendiri dan karya mereka. Dengan menghasilkan suatu kreasi, mereka akan bangga dan percaya diri terhadap kemampuannya. Ditambah dengan apresiasi dari keluarga dan sekolah, mereka akan belajar mengekspresikan diri. Visual thinking yang baik dapat menghasilkan gambar-gambar untuk masa depan mereka. Kita bisa lihat sejarah penemu besar seperti Einstein, Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei dan lain-lain, berawal dengan membuat sebuah sketsa, coretan-coretan, sebelum menciptkan karya besar mereka,” kata ibu empat anak, istri Bima Shaw ini.

Dalam kegiatannya sebagai dosen, Liesna juga selalu menekankan kepada para mahasiswa desainnya agar membuat sketsa dulu di kertas, untuk mendapatkan ide-ide, baru kemudian dikembangkan menjadi suatu desain. Bukan tidak mungkin, dari sketsa-sketsa yang sudah terkumpul itu akan lahir karya-karya besar.

Apalagi, ia melihat bagaimana generasi muda sekarang ini jauh berbeda dengan pengalamannya. Saat ini, generasi muda dibanjiri informasi dari berbagai sumber yang lebih banyak menawarkan hiburan. Seperti televisi dan teknologi informasi (IT) yang bebas dinikmati kapan saja. Semua informasi menawarkan gaya hidup serba instant, mudah dan menyenangkan.

“Ketika saya masih sekolah dulu, hanya ada satu channel TV dan informasinya pun sangat dibatasi. Tetapi justru itulah yang membuat kita kreatif, main di luar dengan pasir, tanah, tanaman dan lain-lain. Sedangkan anak-anak jaman sekarang memiliki tantangan agar tetap kreatif di dunia yang penuh saingan, di dunia yang penuh informasi dan teknologi yang tak terbatas ini,” ungkapnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana generasi muda tetap kreatif dan orisinil di tengah gencarnya informasi di sekelilingnya. Originalitas akhirnya menjadi sangat sulit akibat informasi yang beredar di sekeliling mereka. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar generasi muda mencari jati dirinya sebagai generasi muda Indonesia. Artinya, generasi muda harus memahami dan mengerti seni dan kebudayaan Indonesia serta menjadikannya sebagai pondasi bagi karya kreatifnya.

“Mereka harus mengerti, memahami arts and culture Indonesia sebagai pondasi yang kuat. Setelah itu mereka tetap berkreasi menjadi dirinya sendiri dan terus menggali kemampuan dalam dirinya. Apapun yang disukai harus dipelajari dan dicari ilmunya, tetapi harus focus on something you like. Misalnya anak menyukai komik sekaligus culture Indonesia, bisa saja dia meng-create komik dengan culture Indonesia tetapi bisa mendunia, mengapa tidak?” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juni 1972 ini.

Putri kedua dari empat bersaudara pasangan Bambang Subianto dan Srie Wahyuni ini mencontohkan bagaimana di Amerika diciptakan tokoh-tokoh superhero seperti Superman, Batman. Penciptaan tokoh imajinasi tersebut terjadi pada abad 20, dimana di Indonesia sendiri telah memiliki banyak kisah tradisional yang menarik dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Papua dan lain-lain. Ia berharap generasi muda Indonesia ke depannya memiliki semangat kreatif dengan tetap mempertahankan jati diri dan akar budayanya.

“Dunia kreatif saat ini sangat berkembang. Kita tidak bisa lagi mengharapkan anak untuk memiliki posisi ideal seperti dokter, bankir dan lain-lain. Dunia kreatif sangat luas, bisa bekerja di TV, Majalah, Buku atau menjadi dirinya sendiri dengan fokus sebagai seniman. Intinya anak-anak harus lebih jago daripada kita dengan banyaknya informasi dan teknologi, jadi jangan malah mandek. Makanya harus dipupuk dan terus dieksplore kemampuan anak-anak ini,” kata pengajar yang sangat bangga ketika anak didiknya maju tersebut. “Itu kepuasan batin bagi saya,” imbuhnya.

Membuka Franchise

Putri mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan Presiden B.J. Habibie ini mengisahkan bahwa dirinya sejak usia tiga tahun sudah sangat senang menggambar. Masih teringat dengan jelas sang ayah yang mengajarinya untuk mengumpulkan hasil coretan ke dalam sebuah file. Liesna diajarkan agar dapat mengenali perkembangan hasil karyanya dari tahun ke tahun.

“Bapak membuat sebuah buku map untuk menaruh gambar-gambar saya dan itulah portfolio pertama saya. Sekarang saya juga mengajari anak-anak untuk menuliskan nama dan tanggal pembuatan gambar mereka masing-masing untuk dikumpulkan dalam portfolio mereka sendiri. Jadi dalam beberapa tahun kemudian mereka bisa melihat apa yang telah dibuat dan perkembangan gambar/lukisan mereka itu. Apakah semakin sempurna, halus atau apa saja,” ungkap perempuan yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda ini.

Master in Design, Curtin, University of Technology, Western Australia ini mengungkapkan keinginannya untuk pengembangan MLM. Salah satunya adalah dengan mewaralabakan lembaga pendidikan yang didirikannya. Apalagi, dukungan dari beberapa teman di wilayah lain yang sangat ingin agar lembaga serupa berdiri di sekitar tempat tinggal mereka.

“Saya ingin memajukan MLM dan menjadikannya sebagai sebuah bisnis franchise. Saat ini saya sedang menggodok materi untuk franchise, apalagi teman di Australia juga menawarkan untuk membuka di sana. Kemudian saya juga ingin membuat acara menggambar atau arts & crafts di TV yang saat ini masih cukup jarang, supaya tetap menyemangati anak Indonesia untuk berkreasi,” kata pengagum pelukis-pelukis aliran Impressionist seperti Picasso, W. Kandinsky, Cezanne dan Monet ini. Ia juga pengagum pelukis-pelukis Indonesia dan sangat terinspirasi oleh alam seperti tanaman, daun dan bunga.

Meskipun disibukkan dengan kegiatan mengajar (di Universitas Pelita Harapan dan MLM) serta mengelola galeri butik, Liesna tetap mendapat dukungan penuh dari keluarga. Apalagi lokasi pekerjaan suaminya berada dalam satu gedung dengan kegiatan yang digelutinya. Begitu juga keempat anaknya yang memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan sang ibu.

“Mereka sih tidak komplain karena sudah besar. Mereka hanya ‘menuntut’ kepada kami. Misalnya kalau kami sudah janji akan menemani mereka tetapi karena macet atau karena hal lain terlambat mereka akan protes dan menuntut supaya tidak terjadi lagi. Tetapi pada prinsipnya dukungan keluarga sangat besar kepada saya,” ungkap pemilik moto “Usaha, kerja Keras, tanggung jawab, do what you love serta bekerja sesuai dengan passion dan love life” tersebut.

Untungnya, anak-anak Liesna cukup mengerti kesibukan sang ibu. Liesna sendiri telah mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga memiliki banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Setidaknya, di pagi hari, ia dan anak-anaknya keluar rumah bersama-sama terkait jam sekolah mereka. Ia juga mengatur agar kegiatan mengajarnya bisa selesai pada pukul 16.00 sehingga terhindar dari kemacetan pulang kerja. Selain itu, paling tidak sebulan sekali untuk berjalan-jalan ke tempat wisata atau berenang ke kolam renang.

Liesna telah menetapkan moto dalam membina keluarga dalam lima poin yang telah disepakati. Yakni: “Saling menghormati, tanggung jawab, kerjasama (seperti clean up day every Saturday), menjadi contoh dan sahabat bagi anak , membangun suasana rumah yang nyaman & sehat dan menjadikan tempat keluarga & anak-anak berkreasi dan belajar”.

“Mereka sudah tahu kegiatan masing-masing. Kalau sore tidak ada kegiatan bersama suami, saya pasti pulang lebih dulu sehingga sampai rumah masih sore dan sempat bermain bulutangkis dengan anak-anak. Apalagi anak-anak saya laki-laki semua yang tidak bisa diam. Di waktu luang, saya suka mengajak anak-anak kedua dan ketiga menggambar, kebetulan mereka suka sekali menggambar. Anak pertama lebih suka olahraga, musik dan bahasa Inggris. Sementara yang bungsu masih kecil,” kata Liesna Sulistiowati Shaw.

Sekilas Profil Marvellous Little Maestro (MLM)

Liesna Sulistiowati Shaw dengan latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual membuka sanggar lukis dan gambar untuk anak-anak, Marvellous Little Maestro (MLM), pada awal tahun 2010. MLM ini didirikan untuk anak-anak (dari usia 2,5 – 12 tahun) agar dapat dengan bebas berkreasi secara visual.

Dengan mengajarkan berbagai macam media, di MLM anak-anak dapat mengekspresikan diri dalam bentuk gambar, ilustrasi dan lukisan. Adapun kelas-kelas yang ditawarkan terdiri dari:
- Arts & Crafts (Apple Class) usia 2,5 -12 tahun,
- Cool Characters (Tree Class) usia 6-8 tahun,
- Drawing and Painting with Acrylic & Watercolor (Sunflower Class) usia 8-12 tahun,
- Fun Batik! (Rainbow Class) usia 8-12 tahun.

Tujuan pendirian MLM adalah memajukan kreativitas anak-anak Indonesia secara visual dengan pemahaman global tanpa meninggalkan jati diri anak-anak sebagai anak Indonesia, sekaligus peduli terhadap lingkungan dengan menggunakan berbagai barang bekas, seperti bekas tempat susu, kardus, kotak-kotak, kertas bekas, tali, pita dan sebagainya. Liesna akan terus meng-inspire anak-anak didiknya untuk terus mencintai dunia seni gambar dan supaya terus berkreasi secara visual.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.