Lolok Sudjatmiko

Chairman PT. Niaga Sapta Samudera

Kepuasan Batin Menekuni Bisnis Angkutan Laut

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang mempunyai lebih dari 17 ribu pulau besar dan kecil dan mempunyai garis pantai lebih dari 8 juta KM merupakan negara dengan garis pantai terpanjang ke 2 setelah Canada, membuat transportasi laut antar pulau di Indonesia mempunyai peran yang sangat penting dan akan menjadi sektor yang dominan. Penggunaan pesawat terbang memang praktis dan cepat, tetapi daya angkut yang terbatas untuk mobilitas orang dan barang menjadi kurang efektif dan mahal.

Angkutan menggunakan kapal adalah solusi yang paling tepat untuk Indonesia yang paling tepat untuk Indonesia. Kapasitas angkut kapal yang massal baik orang maupun barang membuat moda transportasi ini seharusnya bisa menjadi andalan tumpuan dalam pengembangan pembangunan. Namun, minimnya infrastruktur yang di sediakan pemerintah membuat industri angkutan laut Indonesia sedikit terhambat. Padahal, nenek moyang bangsa ini di kenal sebagai pelaut yang tangguh.

“Angkutan Laut di Indonesia sekarang semakin diperlukan. Pertumbuhan penduduk yang semakin cepat membuat pulau-pulau kecil pun mulai berpenghuni. Untuk mobilitas mereka diperlukan angkutan kapal yang memadai. Kendalanya, banyak infrastruktur yang kurang mendukung angkutan laut modern di beberapa daerah. Misalnya pelabuhan yang di bangun ala kadarnya sehingga tidak dapat di sandari kapal-kapal besi di atas 800 DWT. Keberadaan armada tradisional yang menjadi tulang punggung transportasi lokal bagi orang dan barang di daerah, berkembang apa adanya dan masih sangat perlu pembinaan dan dukungan dari Pemerintah” kata Lolok Sudjatmiko, Chairman PT. Niaga Sapta Samudera.

Wakil Ketua Umum DPP INSA periode 2008-2011 ini berharap, organisasinya mampu membantu masyarakat di daerah terpencil. Seperti bagaimana memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian atau perkebunan di daerah terpencil dengan membawa keluar dari wilayah tersebut. Ia mengusulkan agar hasil pertanian di angkut oleh kapal-kapal tradisional ke suatu titik pelabuhan. Pada lokasi yang sudah di tentukan menunggu kapal-kapal INSA yang lebih besar untuk di angkut ke daerah lain atau luar negeri sehingga nilai jualnya menjadi tinggi.

Menurut Djatmiko panggilan akrabnya, pemerintah perlu mengembangkan angkutan laut sebaik mungkin. Sebagai negara kepulauan, sudah selayaknya kalau lalu lintas laut di wilayah Indonesia mendapat perhatian lebih.

“Saya tertarik menggeluti bisnis angkutan laut salah satunya karena faktor geografis negara kita. Dengan penyebaran penduduk yang tersebar di mana-mana. Semua itu bias di jangkau dengan angkutan laut, karena angkutan laut itu merupakan angkutan massal yang tidak dipunyai oleh moda angkutan lain seperti angkutan darat maupun udara,” ungkapnya.

Di sisi lain, Djatmiko yang senang traveling mengaku bangga dengan usaha yang dilakukannya. Selain bekerja, ia juga berkesempatan untuk mengunjungi pulau-pulau besar dan kecil di seluruh wilayah Indonesia. Meskipun demikian, ia juga harus siap menanggung risiko bisnis angkutan laut seperti pengaruh anomaly cuaca yang tidak bias diprediksi belakangan ini.

“Kendala lain dalam bisnis angkutan laut adalah kurang terkoordinirnya pelayanan antar lembaga baik lembaga swasta maupun lembaga pemerintah, contohnya beberapa peraturan bahkan undang-undang masih diartikan dan di terapkan secara ego sektoral, sehingga membuat kebingungan para pengusaha pelayaran. Kurang fokusnya pemerintah dalam mengembangkan dan memperbaiki sarana dan prasarana pelabuhan, adalah salah satu penyebab ekonomi biaya tinggi di sector transportasi laut. Dengan harapan suatu saat kalau dukungan pemerintah sudah baik, saya percaya transportasi laut akan menjadi primadona. Yang jelas segala kelebihan dan kekurangan yang ada saya memiliki kepuasan batindengan berkiprah di bisnis angkutan laut,” tegasnya.

Laporan Harian

Sebagai pengelola perusahaan tongkang dan tugboat, Djatmiko memiliki kiat sendiri menghadapi persaingan. Selain mengutamakan service, perusahaan miliknya juga memberikan layanan lebih baik kepada pelanggan. Salah satunya adalah dengan memberikan laporan berkala terhadap pemilik barang shipper yang mempercayakan pengirimannya. Tujuannya, pelanggan mengetahui dengan pasti proses pengiriman barang miliknya.

“Bisnis tongkang dan tugboat ini bias diibaratkan tanpa managemen pun sudah jalan, namun pengalaman saya yang pernah bekerja di beberapa perusahaan pelayaran besar yang di manage dengan baik, menggerakan saya agar berusaha mengaplikasikannya di perusahaan sendiri. Makanya meskipun perusahaan tongkang dan tugboat jarang memberikan laporan harian dan keterbukaan akses informasi kepada penyewa, tetapi menjadi keharusan di perusahaan kami, itu salah satunya” tegasnya.

Meskipun masih berkutat di bisnis kapal tongkang dan tugboat, Djatmiko menargetkan di masa mendatang memiliki armada kapal yang lebih besar. Saat ini, dengan tongkang dan tugboat jangkauan layanan yang diberikan baru berkisar Negara-negara ASEAN. Sementara kapal besar mampu mengjangkau seluruh dunia. Untuk itu, ia sedang menyiapkan SDM yang akan mengoperasionalkan kapal besar di kantornya dalam waktu yang tidak lama lagi.

Di perusahaan yang didirikan tahun 2005 tersebut, Djatmiko baru memiliki delapan set tongkang dan tugboat. Ia merencanakan, tahun ini armadanya bertambah 4-5 set dan akan di pertahankan pertumbuhan perusahaan setiap tahun. Untuk jangka panjang, ia akan terjun di armada kapal lebih yang lebih besar dengan membeli dan mengoperasikan kapal-kapal type Handy Max dan Pana Max. Seperti juga nama perusahaan PT. Niaga Sapta Samudera yang memiliki harapan suatu saat nati armadanya akan mengarungi tujuh samudera di dunia ini demi kejayaan armada Merah Putih.

“Harapan saya, kapal-kapal Merah Putih kami akan bias mengarungi tujuh samudera dan menyinggahi lima benua. Saya memulai usaha ini tahun 2005 dengan secara intensif mencarter kapal. Baru tahun 2008 saya mulai membangun armada kapalsendiri sampai sekarang. Dengan dukungan karyawan darat sekitar 20 orang dan di laut sekitar 80 orang karena setiap tugboat dioperasikan oleh 10 orang,” ujarnya. Dalam menjalin gubungan dengan karyawan. Djatmiko tetap menggunakan jalur hirarki untuk urusan rutinitas pekerjaan, “Tetapi diluar kedinasan kita harus kembali sebagai makhluk Tuhan yang saling menghormati, saling memberi dan menjalankan aspek sosiallainnya,” imbuhnya.

Keinginan memiliki kapal besar seperti bulker, tanker dan lain-lain, menurut Djatmiko tidak lepas dari keinginannya untuk meberi sumbangsih bagi Negara. Karena dalam jangka panjang, ia merasa tidak puas apabila hanya berkutat di bisnis tongkang dan tugboat saja. Apalagi, sebagai Wakil Ketua Umum INSA ia sangat paham seperti di gariskan dalam AD/ART organisasi tersebut. “Keberadaan organisasi inimembantu anggota mencapai tujuan yang lebih baik. Kemudian membantu infrastruktur dan non infrastruktur di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Masuk Militer

Sebetulnya, Lolok Sudjatmiko tidak memiliki latar belakang kelautan sama sekali, Bahkan ia lahir di Kota Kediriyang jauh dari laut dan dibesarkan di Bandung. Orang tuanya, Lasmijan W. Sudjatmiko dan Sutati adalah anggota kesatuan TNI Angkatan Udara. Selepas SMA di Bandung, anak kedua dari tiga bersaudara ini memilih untuk tidak mendaftarkan diri di perguruan tinggi mana pun dan langsung memilih Akademi Maritim Indonesia untuk belajar dasar-dasar Manajemen Pelayaran Niaga.

“Karena saya menolak keinginan orang tua yang men-drill saya untuk masuk militer. Makanya saya masuk Akademi Maritim Indonesia yang berhasil saya selesaikan tahun 1998. Saya sempat meneruskan sebentar di CaliforniaMaritime Academy, Valejo, California melalui program khusus bagi mahasiswa/taruna asing,” kisahnya.

Tahun 1990, Djatmiko kemudian bergabung di PT. Gesury Group. Perusahaan ini merupakan perusahaan pelayaran yang cukup besar dan terkenal di tanah air dan di Dunia hingga akhir tahun 2002.

Keinginan untuk berkiprah di dunia angkutan laut yang memiliki jangkauan luas membuat Djatmiko mengundurkan diri. Bersama ibeberapa orang rekan mendirikan usaha sendiri di bidang tongkang dan tugboat tahun 2005. Menurut perhitungannya, untuk belajar bisnis di dunia pelayaran dengan memulai dari tongkang dan tugboat sangat bagus untuk belajar.

“Untuk entry di bisnis pelayaran niaga, tongkang dan tugboat bagus untuk belajar. Harapan saya ke depan perusahaan terus maju hingga mempunyai kapal-kapal yang bias melayani barang-barang ekspor ke luar negeri. Saya yakin, kedepan bisnis angkatan laut akan lebih mendominasi sebagai alat distribusi di tanah air. Ini bisa kita lihat, meskipun Surabaya-Madura memiliki jembatan Suramadu tetapi feri tetap penuh. Begitu juga dengan jalur Merak dan Bakaehuni, kapal berapapun beroperasi di sana tetap kurang,” tegas suami Rumiris Hermina dengan tiga anak ini.

Lolok Sudjatmiko sangat berterima kasih atas dukungan keluarga yang luar biasa terhadap kariernya. Pria kelahiran Kediri, 01 Februari 1967 ini telah menanamkan kepada keluarga bahwa perusahaan adalah sumber kehidupan bagi masa depan keluarga sehingga ia tidak bisa main-main. Ia harus total membesarkan perusahaan demi masa depan mereka semua.

“Sejauh ini, langka-langka saya mendapat dukungan dari keluarga. Istri dan ketiga anak saya, dua perempuan dan satu laki-laki, pertama SMP kelas II, ke-II SD kelas VI dan terakhir SD kelas II mendukung karier saya. Untuk itu pada hari-hari kerja saya bisa mencurahkan perhatian saya ke perusahaan, tetapi kalau hari Sabtu saya tidak jarang mencurahkan waktu saya untuk bermain bersama keluarga. Kalau hari Minggu saya dari pagi sampai sore full ke gereja menunggu anak-anak. Setiap pagi saya sempatkan untuk mengantar anak sekolah dan pada hari-hari libur terkadang juga mengajak mereka berkunjung ke kapal kalau lagi dok,” kisahnya.

Dengan begitu, Djatmiko berharap agar setiap saat masih bisa memantau perkembangan anak-anaknya. Jangan sampai kejadian seperti yang dialami oleh beberapa orang temannya yang karena kesibukan menjadi tidak mengenal sifat dan kehidupan anaknya sendiri. Ia berharap, suatu saat salah seorang anaknyaakan mewarisi bakatnya untuk meneruskan usaha ini. “Mudah-mudahan saja. Saya percayakan perawatan anak-anak kepada istrinya. Nanti kalau dua-duanya sibuk malah repot,” tambahnya.

Kepada generasi muda, Lolok Sudjatmiki berpesan agar mereka memberikan yang terbaik kepada Bangsa dan Negara. Kalau memiliki sebuah cita-cita mereka harus total dan berjuang untuk mewujudkannya. Seperti dirinya yang terjun di bisnis angkutan laut, mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan transportasi laut dan sector kemaritiman lainnya di Indonesia.

“Kalau perlu, apapun harus dikobarkan untuk meraih cita-cita kita, sepanjang pengorbanan itu dapat di pertanggung jawabkan di muka Hukum, terlebih di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Selain itu, kita harus jujur terhadap pemerintah dalam membayar segala kewajiban sebagai warga Negara, jujur kepada mitra kerja kita, jujur terhadap diri sendiri dan keluarga,” kata Lolok Sudjatmiko.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.