Nasrudin

Koperasi BMT Al-Ijtihad Memacu Usaha dengan mengedepankan

Profesionalismedan mengutamakan System Informasi Technology

NasrudinKesulitan ekonomi membuat Nasruddin remaja berpikir keras untuk berusaha. Berbagai cara dan upaya dilakukan untuk bisa menghidupi dirinya, ibunda dan adik-adiknya. Beliau, ibunda dan adik-adiknya ditinggal sang kepala keluarga/ ayahna yang meninggal dunia. “Saat itu saya masih berusia tiga tahun, dan kebetulan ada adik saya yang masih dalam kandungan, “ceritanya mengenang.

Nasruddin menggambarkan secara sederhana terlebih dahulu arti BMT. BMT itu sendiri memiliki kepanjangan Baitul Mal Wattamwil adalah lembaga Pembiayaaan Mikro didalam pengoperasiannya sehari hari menerapkan hukum Negara plus hukum Syariah. Sebagai Lembaga Pembiayaan BMT mengacuk kepada aturan, strategi dan kiat usaha penggalangan dana, menciptakan produk/jasa pembiayaan yang beragam dan menarik, promosi, dan mengedukasi pasar. Menceritakan keberhasilannya menjadi orang nomor satu di Baitul Mal Tanwil atau BMT Al-ijtihad Pekanbaru, Riau ini.Nasruddin merasa dan melihatnya sebagai keberhasilan seluruh unsure di BMT yang utamanya adalah anggota yang telah menepatkan dananya dan yg telah memanfaatkan jasa pembiayaan yang ditawarkan. Mereka-mereka inilah awal mula pergerakan roda kegiatan pembiayaan di BMT yang kami beri sentuhan managemen usaha yang bersih, tenaga yang professional, penggajian karyawan yang memadai dan terpenting pemanfaatan sistim Technology Informasi telah membuat loncatan perkembangan dan keberhasilan BMT Ittihad yang diakui beberapa kalangan terkagum. Memang beberapa kunci Utama maju dan kokohnya BMT Al Ittihad ini tidak terlepas dari kepercayaan anggota, orang pemilik dana untuk menempatkan dananya di BMT Al Ittihad ditambah pula pemanfaatan System Technology Informasi. Sebelum mengelola BMT Itthad, tokoh kita ini sudah membaur didalam berbagai kegiatan di masyarakattermasuk menjadi pengurus sebuah koperasi konvensional di Pekanbaru bermodal gemuk selama puluhan tahun. Setelah selesai masa baktinya selama 3 periode di koperasi konvensional itu, Pimpinan kerjanya di PT CHevrom Pacific Indonesia (CPI) yang juga Ketua Umum Pengurus Yayasan Kesatuan Pendidikan Islam dimana BMT ini bernaung, memintanya duduk di Kepengurusan BMT Al Ittihad untuk mengembangkan lebih pesat dan kuat lagi lagi koperasi BMT Al Ittihad ini. Bapak Haji Ely Azhar, SE yang memberinay peluang ini juga menempatkan Bapak Haji Tegus Soelastyo P, SE Ak, MAk, sebagai ketua Pengurus dan Nasruddin sebagai Wakil Ketua. Selang beberapa bulan, Pak Teguh juga “dibajak” koperasi lain, sehingga Bapak Nasruddin Naik ke posisi Ketua Pengurus sampai sekarang setelah 2 kali pemilihan dan penggantian Kepengurusan. Rupanya Pak Haji Ely Azharini mempunyai niat luhur untuk menitipkan BMT ini kepada orang-orang yg diyakini mampu melanjutkan kerja beliau sembari juga mempersiapkan saat pensiun dari CPI di Rumbai dan akan bermukim diluar Ppekanbaru.Pada saat beliau mengadakan acara pamitan kepada Bapak Teguh dan Bapak Nasruddin beliau titip untuk melanjutkan pengelolaan dan pengurusan BMT ini denga sebaik mungkin. “Benar kesempatan saya sekarang ini tidak terlepas dari kepercayaan orang untuk menempatkan saya selaku pucuk pimpinan, saya pun yang telah berusia 55 tahun sekarang menginginkan koperasi ini maju, berkembang dengan kokoh karena itu harus dikelola oleh orang-orang yang profesional dan dibantu oleh sebuah system Technology Informasi keuangan yang mutachir, “ujarnya.

Nasruddin 1 cSejak tahun 1977, lepas dari SMU di Kota Pekanbaru, Riau, Nasruddin remaja melamar berbagai pekerjaan.Ia mulai dari seorang sales asuransi di kota Pekanbaru, Riau.Di Chevron, Agraria, Telkom, BPS, sampai STPDN/APDN dia memasukkan lamaran baik utk bekerja maupun untuk menjadi mahasiswa. “Alhamdulilllah saya diterima di semua lembaga itu, hanya saja saya mengambil pekerjaan PNS di BPS (Kantor Sensus & Stistik Provinsi Riau) Pekanbaru, karna BPS itu yang cepat member tanggapan, memanggil saya untuk bekerja dan tampa prasyarat lain“ungkapnya.

Selain itu tuturnya, beliau juga sempat memberikan les privat kepada anak-anak tetangga secara pribadi untuk mengisi hari-harinya usai lulus di SMU tahun 1977, di kala usianya memasuki 19 tahun, beliau pun mengaku mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan Asing pembuat Anjungan Minyak Lepas Pantai di Batam, Riau, atau tepatnya PT. McDermott Indonesia. Perusahaan itu menerimanya untuk bekerja dan ditempatkan di bagian administrasi Engineering perusahaan tersebut sebelum mengundurkan diri untuk masuk PNS di BPS tahun 1979. Setelah itu “Dari lamaran saya setelah tamat SMU, saya lulus di dua perusahaan yakni PT Telkom dan PT Caltex Pacific Indonesia.“ujarnya. Menurut Nasruddin, pada saat itu ia kebingungan untuk memilih tempat bekerja yang paling tepat, akhirnya beliau pun memilih berhenti dari PBS masuk ke perusahaan minyak PT Caltex (CPI) yang beroperasi di Riau.

Lahir 25 Mei 1958, Nasruddin kemudian menjalani pekerjaan itu dengan sebaik-baiknya. Anak kedua dari empat bersaudara yang kini mengaku telah memiliki enam anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan ini merasa bersyukur telah dikarunia keberhasilan pekerjaannya dari Allah Tuhan Yang Maha Pemurah. “Meski dahulu susah, tapi berkat kerja keras dan kesungguhan, semuanya dapat dilaluinya dengan sebaik-baiknya, “katanya. Nasruddin yang sejak di bangku sekolah dasar selalu juara kelas bahkan juara umum ini mengaku bahwa saat SD dia dibiayai oleh salah seorang gurunya karna ibunya belum sanggup membayar biaya sekolahnya waktu itu. Kebaikan Gurunya itu dibalas Nasruddin dengan menammatkan SD dalam waktu 5 tahun saja, sebelum kemudian masuk SMP PGRI Riau dan SMA Negeri 1 di Pekanbaru Riau. Lagi-lagi raportnay sering terlulis Juara.

Bekerja di Perusahaan Minyak Chevron

Nasruddin 2Bekerja di perusahaan minyak asing Chevron sejak July 1981, ditahun-tahun awal dia dikursuskan bahasa dan akuntansi dengan bahasa pengantar bahasa asing pula dan mendapat pendidikan dari orang asing membuatnya tambah kaya pengalaman kerja dan ilmu. Hal itu dilakukan sampai 1985. “Saya tidak diterima sebagai pekerja lapangan, tapi saya kemudian dipekerjakan di Kantor. Saya bekerja di Chevron sudah 29 tahun (1981 – sekarang ).

Pengalaman menarik lainnya adalah saat saya bekerja sebagai sales asuransi. Pada saat itu saya menawarkan asuransi kepada seorang bapak yang baru pulang dari adu burung perkutu dan beliau konon kalah taruhan perkutut tersebut. Saat saya disuruh masuk ke rumahnya untuk nasabah mengisi formulir, saya pikir nasabah mau mengambil pulpen mengisinya, tapi yang saya dapat bukan formulir yang diisi, di dalam rumah, melainkan Bapak itu mengambil parang untuk mengusir saya keluar dari rumahnya, ujarnya mengenang masa pahitnya selama bekerja sebagai sales asuransi di Pekanbaru. Begitu juga waktu bekerja di Biro Pusat Statistik atau BPS, saat saja mendapat tugas Mengawasi Sensus Penduduk 1980 di sebauk Kabupaten, bukannya saya disuruh masuk untuk Pengawasan Pelaksanaan Sensus penduduk di Kantor pemerintahan daerah, melainkan saya disuruh duduk saja di lobi tamu. Baru menjelang sore, saya ditanya, sedang menunggu siapa dik, “Saya bilang bahwa saya utusan dari BPS Provinsi untuk melakukan Penmgawasan SP1080 di kantor bapak, karuhan saja mereka pun sibuk berbenah membenahi kantornya yang berantakan administrasinya, “papar Nasruddin.

Nasruddin juga bercerita bahwa beliau juga pernah mendapat pendidikan bahasa Asing dari tenaga pengajar luar negeri, saat bekerja di perusahaan minyak Chevron. “Saya mendapat 70 kursus dan pelatihan yang beberapa diantaranya langsung diberikan orang asing dengan pengantar bahasa Inggris, kebetulan saya memahaminya. Tapi, yang ironi adalah saat saya harus mempelajari akutansi. Saya ini adalah lulusan SMU jurusan IPA. “Saya kebingungan sekali untuk mengerjakan PR-PR nya. Nasib elok, ada dosen yang menilai saya bagus pekerjaannya, sehingga perlu dipoles lagi untuk terus mereka didik sampai ilmu Akuntansi ku selesai. “paparnya. Sampai kini Nasruddin masih menjadi tenaga pekerja di Chevron,“Saya memulai kerja di Chevron sejak tahun 1981 hingga sekarang selama hampir 29 tahun. Bekerja sampai jam 16.00 setelah itu memikirkan dan memegang pekerjaan di KOPSYAH BMT AL Ittihad untuk kegiatan susial lainnya dan keluarga pastinya.

Mengenal istri

Nasruddin 1 b Nasrudin_Page_2Sebagai anak petani, Nasruddin mengaku mengenal istri, saat masuk ke perusahaan minyak Chevron, saat itu usianya 23 tahun dan istrinya 19 tahun. Setamat SMU, mereka menikah dan dikarunia 6 anak kini. “Istri saya menerima saya apa adanya, tulus tanpa neko-neko, “ungkapnya. Di perusahaan inilah saya membina Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) al Ittihad bersama teman-teman. Selain aktif di koperasi, Nasruddin juga aktif di masyarakat Pengurus Masjid, Panitia Qurban, Penasihat di 4 Koperasi Konvensional, dan Pembawa acara Hari-hari besar Islam seperti Hari Raya Fitri, dan Adha sehingga begitu banyak pertemanan yang memudahkan koperasinya berkembang dan maju. Hal itu dilakukan saat di luar jam kerjanya di PT CPI.

Selama menjadi pimpinan koperasi, Nasruddin menjalaninya dengan seadil-adilnya. Ia majukan sumber daya manusianya, dengan memberi gaji karyawan yang memadai dan memasukan mereka dalam koperasi. Sehingga ketika karyawan butuh barang, dan modal bisa pinjam di koperasi. Koperasi ini melayani berbagai skim pembiayaan atau simpan pinjam tetapi juga melayani semua golongan dan lapisan masyarakat dengan demikian tidak ada kesulitan untuk memperlebar dan meperdalam pasar ke pelosok yg melayani orang-orangdari banyak profesi, diantaranya pedagang pasar, pandai besi, peternak ayam dan pekolam, petani sayur, perbengelan sanpai kepada para guru dan PNS non guru. “Duit selalu ada di kota besar, sedangkan orang dan usaha yang membutuhkan modal kadang dan lebih banyak ada di pedesaan atau pedalaman. Mereka harus dilayani dan bisa mendapatkan modal usaha, dapat keuntungan, kesempatan ikut maju bersama peluang usaha yang terbuka luas. Dengan demikian modal masuk ke pelosok, roda ekoni berputar, tenaga kerja dan produksi masyarakat terserap dalam perputaran ekonomi sedemikian rupa memberikan nilai tambah beredampak ganda (value added from multiplier effect). Sangat ideal mengelola koperasi. Tidaka da habisnya peluang dan terobosan dapat dikembangkan di sector ini. Namun demikian, mengelola BMT (baca Lembaga keuangan mikro) bukan tampa hambatan atau kelemahan. Saudara BMT ini yaitu Koperasi sudah terlanjut sudah punya nama jelek. Banyak korupsi dan jarang dapat untung luamayan. Mudah di bawa kabur atau tilep orang dalam sendiri. Buku laporan banyak direkayasa. Kita masuk untuk perbaikan, kita buktikan kepada anggota dan masyarakat bahwa koperasi dan BMT mampu dan bisa lebih baik lagi. Kepercayaan ini harus kita bina dan tumbuhkan. Kalo orang sudah percaya mereka akan merasa nyaman bergabung, menyimpan duitnya dan sangat mudah masuk. Bahwa kaitan barang dan uang di BMT berbeda sekali dengan koperasi konvensional. BMT menjalin rapih hubungan barang dan uang, sehingga selalu sinkron dan krisis moneter tidak akan pernah terjadi secara partial dan menyakitkan. Baitul Mal Tanwil al-Ijtihad, kami memakai kaidah-kaidah ekonomi syariah, walaupun pada awalnya saya tidak punya dasar ilmu Ekonomi Syaraih dan saat itu punya pengalaman nol hanya punya pengalaman berkoperasi konvensional. BMT berdiri atas prakarsa orang-orang brilliant seperti Haji Ely Azhar, Hj Nurbaity Maas dan H. R Awan Setiawan, H. Lukman Tedji dan lain lian. Yayasan Kesatuan Pendidikan Islam, mmembawahi unit pendidikan, Unit Da’wah, UKS, Unit Muammalah sector ril, unit Pengelolaan Asset dan BMT.

Visi dan Misi

Visi BMT Al Ittihad adalah maju berdasarkan syariah. Sedangkan Missi BMT mensejahterakan ummat lahir bathin dengan menjadi pusat pengembangan, semangat dan penerapan ekonomi syariah.

Untuk mengelola koperasi Islam ini dari Bapak Haji Ely Azhar dan Mas Haji Tguh Soelastyo P. Nasruddin mengaku sangat serius dan bekerja keras, hingga berkembang pesat seperti sekarang

“ Saya diminta untuk memimpin BMT Ittihad ini menggantikan Ketua yaitu Mas Teguh Soelstyo P. “dibajak’ oleh koperasi lain sedang Ketua sebelum yaitu Pak Haji Ely Azahr sudah Pensiun dan pindah domisili. Dengan sangat besemangat akhirnya saya pimpin lembaga ini mulai tahun 2006. Sudah enam tahun ini BMT Al Ittihad saya pimpin. Di tingkat kota pekanbaru kita selalu menjadi koperasi unggulan sejak 2006 itu terus naik trendnya pada posisi provinsi Riau dan konon sedang disevaluasi oleh Kemenkop untuk level Nasional. Prediket dan Pengahrgaan harus kami syukurin dan sambut dengan sukacita, namun kami sangat bersyukur lagi jika kami dapat menyelaraskan anatara pedikat itu, denga kwalitas pelayanan dan dampak langsungnya kepada anggota pada khususnya dan ummat dilingkungannya pad aumumnya. Kita menanam benih kepercayaan dan memupuknya supaya tumbuh subur produktip. Saya pertama dibimbing untuk memajukan koperasi ini.

Pertama saya membuat Perencanaan dan skala prioritas, menetapkan unsur-unsur apa yg harus digarap buat meningkatkan daya tahan dan keuntung bisnis.

Kedua, saya yakin saya harus mengutamakan pegawai profesional, saya ambil manager yang bukan sembarang. Seperti Manager Pengelola BMT Ittihad yang sekarang Pak Indra Putra adalah mantan Mangkir dari salas sebuah bank. Kepada Pak Indra Putra dan jajarannya saya katakana “ saya hanya bisa member kalian semua semangat, arah dan dukungan moral maupun material agar kalian mendapat penghasilan yang layak disini dan koperasi bisa maju berkat tangan-tangan professional kalian semua.Ini tempat kita mencari nafkah dan tempat menimba amal untuk kepentingan umat. Saya ketuk tular kepada Pak Manager agar koperasi dengan segala potensi yang ada harus dipacu. Ini tempat saya bekerja hingga pensiunan. Agar sejahtera dan makmur mari jadikan BMT Al Ittihad ini bank kecil yang professional dimana satu saat mampu member hak pensiunan yang memadai pada para karyawan. Karyawan ini yang tlh membantu saya menjadikan BMT berkembang. Yang memasak harus dapat makanan cukup.

Ketiga, saya merasa zaman sekarang ini penting akrab dengan sistem teknologi informasi untuk mendukung percepatan, ketepatan, kecepatan dan kerahsiaan data, saya ajak semua komponen berfikir, menambah ilmu dan menenamkan uang utk IT untuk segera memajukan sistem IT pendukung operasi dan misi BMT . Kita memakia modul perbankan yang ukurannya sudah disesuaikan untuk Pembiayaan Mikro oleh USIBandung dan Jakarta. Kami masih memiliki beberapa jurus kunci lagi dalam hal IT ini agar perjuangan membesarkan BMT Al Ittihad ini berlanjut dengan percepatan yg dieskalasi. BMT Al Ittihad harus menjadi pemakai terdepan Teknologi informasi bukan karena gagah-gagahan tetapi meletakkan pondasi yang kuat bagi pertumbuhannya BMT kedepan.

Ke-empat. Keterbukaan. Apapun tindakan strategis yang kami ambil harus mendapatkan persetujuan pemilik uang (anggota) terlebih dahulu. Jika itu belum kami lakukan sedangkan peluang sdh didepan mata maka kami akan membuat keputusan khusus yang segera harus dilaporkan dengan justifikasi kepada Anggota (pemilik Uang).

Menurutnya, Undang-undang koperasi nomor 17 tahun 2012 yang baru, telah memungkinkan setiap Koperasi atau BMT dapat beroperasi diseluruh wilayah NKRI ini termasuk di Jakarta. “Di Riau kami sedang menunggu kelahiran kantor Cabang ke 3. Kami berharap sampai 2015 kami bisa mebuka cabang di setiap ibu kota kabupaten di Provinsi Riau.

Obsesi Nasruddin

Bagi Nasruddin obsesinya tidak muluk-muluk. Prinsip beliau, bagaimana menjaring orang untuk berani dan menaruh uang di BMT Al Ittihad. “Saya harus mempunyai sistem IT dan orang yang profesional mengelola uang mereka selain aman, dan juga memberi keuntungan yang menarik. Sebagai tindak lanjutnya kami harus aggressive memberi pembiayaan kepada masyarakat, “pungkasnya. Ia mengaku sangat terbantu karan kepercayaan masyarakat di dalam dan di luar lingkup PT CPI tergalang dengan baik. “Dahulu kami hanya punya Modal Rp 300 juta. Per hari ini Asset BMT AL Ittihad Rp 47 milyar,jadi dalam 12 tahun usia koperasi ini pertumbuhan kepercayaan atau yg tergambar dari kenaikan nialai aseet itu adala 153 kali lipat .

Menghadapi persaingan yang negatif, beliau mengaku juga suka berdiskusi dengan para pesaingnya, terutama bagaimana mendengarkan mereka, agar saya punya strategi jitu menyikapi situasi bmt. “Mengambil ide pesaing, saya melihat pesaing sebagai sparing partner. Untuk mengukur dan membanding dengan adanya persaingan, mengembangkan potensi untuk maju ke depan. “Pesaing membuat kita tidak puas untuk maju terus.”

Sedangkan pembinaan SDM di BMT alijtihad. “Mereka kita rekrut disesuaikan antara kebutuhan dengan tawaran gaji dan inteligensi selektif dengan mengutamakan pengalaman. Yang saya terima adalah yang bisa bekerjasama. Beberapa diantaranya kita awasi untuk pengkaderan Kepemiminan yang akan datang, “katanya mantap.

Selanjutnya, tentang inovasi, saya menyambut adanya inovasi agar ada loncatan berkembang dan modernisasi. Alhamdulillah, Sejak April 2013 BMT AL Ittihad sudah memakai transaksi Mobile dengan sistem satelit tanpa harus disetorkan ke bmt, lewat orang bmt datanya sudah ada di pusat. Jika bermasalah data dan uangnya, maka petugas yang bermasalah. “Disetorkan sekian ke bmt pekanbaru, telah dapat diterima dan diketahui via satelit ke pusat.”

Menanggapi peran pemerintah, Nasruddin mengatakan yang kita rasakan, bmt ini atau koperasi ini, kita aktif dulu baru pemerintah bantu. “Mereka punya program banyak dan jadi wasit dalam industri bmt. Sangat wajar jika mereka memberi kontribusi kepada kita. Koperasi ini sejak bung hatta gelorakan, memberi manfaat yang sangat besar. Namun sebaliknya koperasi sekarang dianaktirikan”. Pemerintah harus bisa memajukan koperasi, via alat tulis kantor. Pemerintah sekarang tidak lagi memberi peran kepada koperasi, justru bank swasta yang dinomorsatukan. Ideologi dan praktik masih perlu pemikiran yang sejajar, komitmen harus sungguh-sungguh dan luar biasa.

Menikah selama 31 tahun, Nasruddin mengaku peran keluarga saling memahami keduabelah pihak. “Kita jalani masing-masing. Indahnya keluarga. Sebelum bersama saya istri mengjar sebentar, setelah ada momongan jadi ibu rumah tangga. Kita mempunyai anak 6 tiga laki2 dan 3 perempuan, yang pertama dosen di riau s2 di unpadj, nomor 2 sakit sampai sma, dan ketiga tamatan elektro usu kerja di kalimantan, nomor empat bisnis tamat smu, nomor 5 di s2 unisba bandung, dan keenam nomor kelas 6 sd. Hidup ini saya anggap menikmati. “

Tentang usia muda, Nasruddin mengatakan harus kita manfaatkan dengan baik, dan kesempatan yang baik harus kita mampu analisa keadaan, agar pada usia muda dapat berbuat manfaat di usia produktif antara 15 hingga 55 tahun. “Peluang harus kita baca, saat saya kini peluang itu muncul saat saya sudah tua. Ini berbeda dengan dengan orang china, yang rata2 berusia muda telah menjadi manager atau direktur atau pimpinan puncak. Anak saya s2, tatanan teoritis dia sempurna dan tatanan praktis dia nol. Julius tahiya orang pertama pimpinan minyak, Pengalaman tidak bisa dijemput di bangku kuliah, pengalaman tidak bisa memenggal atau memutus waktu. Dari kecil kita bina untuk merebut peluang, maka kita bisa menangkap peluang. Kenali diri anda, kelebihan dan kekrangan anda, setelah tahu kelebihan asah, dan kekurangan diminimalisir, jangan dihilangkan. Semua kelemahan kita dikurangi. Kita harus mampu bersaing. Kenali diri anda, maka anda kenal dengan tuhannya. Pada usia muda capai yang terbaik.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.