Nurlaila

Nurlaila

 PT Sembilan Jagad Pandhito

 

 

Jiwa Produktif Tak Pernah Padam

Nurlaila, lahir dan dibesarkan di wilayah timur Indonesia tepatnya Desa Monggo, Kec. Bolo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Putri dari hasil perkawinan pasangan Ibu Siti Mainah dan Muh. Said ini sukses menjadi nakhoda bagi perusahaannya di bidang container. Alih-alih menyukai mata pelajaran Biologi dan bercita-cita menjadi seorang guru semasa sekolah, namun ombak takdir membawanya menjadi seorang pebisnis handal.

Kesuksesan yang dimilikinya saat ini tidak datang dengan sendirinya. Sempat mengenyam pendidikan kuliah di jurusan Biologi, namun pada saat yang bersamaan dengan kondisi kesehatan sang ayah yang kurang baik maka ia memutuskan untuk terjun langsung ke dunia kerja. Orangtuanya saat itu mengutarakan keinginannya Nurlaila segera membangun rumah tangga, setelah itu menikahlah ia dengan seorang pemuda dan dibawa merantau ke Ibukota Jakarta. Karena pada saat itu suami sebagai seorang PNS golongan II dengan penghasilan kurang mecukupi. Akhirnya Nurlaila memutuskan bekerja untuk membantu biaya rumah tangga. Pertama bekerja masuk ke pabrik PT Kaos Kaki di kawasan Cakung, hanya bertahan satu bulan bekerja disana sebab merasa sistem kerja yang monoton. Setelah itu masuk ke perusahaan lain di bagian cutting atau Quality Control (QC) namun berujung sama hanya bertahan tiga bulan Nurlaila memilih hengkang dari pekerjaan tersebut.

Hingga suatu ketika ia masuk bekerja ke salah satu perusahaan korea yang bergerak di bidang garmen bernama PT. Thong Kyung. Ia pun diterima sebagai General Manager. Mempelajari hal baru, Nurlaila harus belajar dari dasar dari cara memotong bahan sampai dengan bagaimana cara melayani pelanggan. Ia pun mengaku bersyukur mendapatkan atasan bernama Mr. Hong yang sangat baik dan sabar membimbingnya dalam bidang pekerjaan yang baru digelutinya. Sebagai pemilik, Mr Hong sangat loyal dalam membagi ilmu dan mengajarkan setiap hal yang kurang dipahami oleh para karyawannya. Bagi Nurlaila pekerjaannya saat itu adalah tempat untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. “Saya sangat bersyukur diberikan kepercayaan beliau untuk mengurusi perusahaan mulai dari menerima buyer, mengecek produksi, mengekspor barang, dan merekrut karyawan,” jelasnya. Hal tersebutlah yang mendorong ia berani untuk berdiri di tanduk perusahaannya sendiri. Ia tekuni perkerjaan tersebut sekitar kurang lebih lima tahun dari tahun 1987 sampai 1992.

Setelah mendengar wejangan dari sang orangtua, Nurlaila memutuskan untuk vakum dalam dunia kerja dan mengurusi putrinya yang kala itu masih balita. Sebagai wanita karier, berdiam diri di rumah malah membuat ia bosan. Jiwa produktif masih membara dalam dirinya. Maka saat itu ia mendirikan toko kelontong untuk sekedar mengilangkan kebosanan sekaligus bisa mengurusi anak. Tak bertahan lama, selama dua tahun berjalan akhirnya Nurlaila menutup tokonya dan mencari peruntungan lain.

Setelah sang putri sudah dirasa cukup besar untuk ditinggalkan bekerja, ia mulai lagi terjun kembali ke dunia kerja. Memulai dengan menjadi makelar kredit barang-barang elektronik yang dibutuhkan oleh pabrik dan pengusaha. Tanah Abang dan Glodok adalah tempat dimana ia berbelanja pesanan customer. Modal yang ia keluarkan tergolong tidak terlalu besar dibandingkan dengan distributor pada masa sekarang yang telah luas jaringannya. Namun dalam hal perhitungan keuntungan, masih relatif sama. Pada saat itu terdapat salah satu pelanggan yang menunggak membayar nominalnya kala itu cukup besar senilai 50juta rupiah. Setekah diklarifikasi, akhirnya sang pelanggan meminta maaf dan mau membayarnya dengan sebuah rumah dengan catatan Nurlaila membayar lagi sekian rupiah untuk memilikinya.

Setelah resmi miliknya, rumah tersebut pun dikontrakan kembali untuk orang lain. Perkenalan dengan dunia container dan traktor pun dimulai ketika bertemu dengan orang yang menempati rumahnya tersebut, ia mengusulkan untuk membuat usaha dengan membeli sebuah mobil trailer. Karena kala itu kebetulan biaya ekspor masih murah dan bisa menggunakan mobil pribadi berjalanlah usaha MKL yang bertempat di Enggano, Tanjung Priok. Perjalanan hidup pun membawa Nurlaila bertemu dengan Pak Sudi pemilik PT MPK (Mandiri Pita Khatulistiwa) yang merupakan cikal bakal perusahaannya saat ini. Di PT MPK tersebut Nurlaila menjadi Komisaris mengurusi bagian keuangan dengan pembagian saham 60% dan 40% dari hasil perusahaan. Dengan adanya dua kepemimpinan tersebut pastinya mempunyai ego dan pemikiran yang berbeda. Baginya, pengelolaan keuangan tersebut haruslah tertib sebab semua alat yang dipakai saat ini masih barang sewaan yang harus memiliki perhitungan yang matang namun rekan kerjanya memiliki pendapat yang berlainan bahwa bila keuntungan telah didapat langsunglah dipakai. Akhirnya berpisahlah mereka dan Nurlaila menjadi pemegang saham utama dan mendirikan perusahaan baru.

Harapan Kepada Pemerintah

“Kami sebagai pengusaha kecil itu sebenarnya adalah pejuang orang-orang susah,” ujarnya. Ia bercerita mengenai kebijakan pajak di Indonesia ini terlalu ketat, hanya telat lapor satu hari saja denda yang sekiranya cukup besar langsung turun denda selama satu bulan. Seharusnya pemerintah memberikan peringatan dan pemberitahuan terlebih dahulu, baginya sebagai pengusaha kecil cukup memberatkan dan merugikan. Namun untuk masalah perizinin, Nurlaila akui pemerintah telah melakukan peningkatan yang baik. Lebih mudah dalam mengurus perizinan dan yang paling penting tidak adanya pungli karena ketegasan pemerintah. Serta jangka waktu perizinannya yang lebih lama, jika dahulu setiap tahun harus diurusi namun sekarang lima tahun sekali.

Perihal penerus perusahaan yang ia rintis ini, Nurlaila telah menyiapkan putrinya Nurpitasari yang saat ini sedang berkuliah S2 Bisnis. Telah dilatih dengan memberikan beberapa tugas yang dapat Nurpitasari lewati, terlihat jika ia mulai menjiwai serta tekun menjalankannya. Terlebih sudah mempunyai bekal pendidikan yang tentunya memiliki pemikiran yang matang untuk meneruskan tampuk kepemimpinan di PT Sembilan Jagad Pandhito. Dalam mendidik anak, Nurlaila tidak pernah berlebihan dalam memberikan kebutuhan materi. Memupuk jiwa berbagi dan peduli kepada sesama terlebih kepada orang-orang yang tidak mampu.

Pesan kepada Penerus Bangsa

“Dengan susah, perjalanan yang agak pahit disitulah timbul ilmu ataupun pemikiran positif,” tuturnya bersemangat. Menurut kacamata Nurlaila, dewasa ini generasi muda sedikit memikirkan kesusahan dan banyak memikirkan yang mudah-mudah saja. Contoh kecil, berangkat sekolah atau beraktifitas inginnya diantar dengan kendaraan tanpa ingin tahu menahu bagaimana cara mendapatkan fasilitas yang menunjang kebutuhan tersebut. Lain halnya dengan dahulu, kerja keras yang lebih untuk sampai ke sekolah dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter. Memang jaman telah berbeda namun kekuatan mental itu keharusan dalam mengarungi kehidupan ini.

Dalam dunia usaha, modal yang paling penting adalah kejujuran dan kekuatan mental harus siap jatuh bangun menanggung resiko yang menunggu di setiap langkah. Buang jauh-jauh pemikiran pesimis, bangun keyakinan bahwa Allah-lah yang akan selalu memberi kekuatan pada dirinya sehingga bisa dan mampu layaknya ungkapan yang sering terdengar ‘jika orang lain bisa, kenapa saya tidak?’. Tidak pernah mengeluh dalam bekerja karena pekerjaan baginya adalah hobi dan kantor adalah tempatnya menuangkan ide. Harus kuat menghadapi semua terjangan, memang sejatinya kekuatan itu bersumber dari Allah SWT namun harus dibangun pula dari dalam diri sendiri. Semangat Nurlaila untuk mendapatkan pendidikan tak pernah surut, kini ia menjalani pendidikan S1 Bisnis di Universitas Jayabaya. Belajar itu tidak ada habisnya bahkan sampai ke liang lahat pun tetap terus belajar. Walaupun ilmu sedikit yang dapat diambil dari pengalaman maupun membaca namun semuanya dapat diterapkan dalam bekerja. “Generasi yang akan datang, berpikirlah positif jangan berpikir segalanya dapat dihasilkan dengan instan,” begitu pesannya.

Ia pun berharap agar buku ini dengan berisi tokoh-tokoh profil yang ikut berkontribusi dalam memajukan negeri tercinta Indonesia bisa dijadikan contoh,  pembelajaran, dan motivasi bagi hal layak terutama generasi penerus. Menjadi gambaran bagaimana kiprah orang-orang sukses yang telah menggapai impiannya dengan usaha dan kerja keras, sebab sejatinya semua itu tidak pernah membohongi hasil.

Copyright © 2018 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.