Prof. Dr. Djohar MS

Prof. Dr. Djohar MS
Rektor Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa

Program E-Learning di Indonesia Terganjal Absensi

Model system on line atau yang kita kenal  e-learning merupakan salah satu bagian dari  tuntutan dari pengembangan teknologi computer guna memberikan kemudahan umat  manusia dalam mengakses teknologi IT. Dengan adanya model ini diharapkan kekurangan atau kebuntuan  persoalan komunikasi  dapat terpecahkan. “model on line bisa kita buka dan kita dapatkan naskahnya begitu….. lebih terbuka dan dosen bisa memberikan in-put kepada mahasiswa secara cepat, “ demikian Profesor. Doktor Djohar, Ms, mengungkapkan permasalahan itu.

Memang teknologi IT belakangan ini begitu pesat, sehingga dengan metode belajar e-learning, peserta atau siswa didik  diharapkan dapat menyerap dan menangkap pesan-pesan yang disampaikan guru atau dosen dengan mudah, dan tidak perlu lagi sibuk mencatat atau mendengarkan perkuliahan. Menurut professor Djohar, metode ini bisa memberikan interaksi langsung, yang selama ini terbatas atau mengalami kemacetan komunikasi. “Meski begitu bukan tidak ada kelemahannya dari metode ini.”

Dikatakan, professor Djohar,  anak-anak menjadi subjek dari metode pengajaran metode pengajaran tersebut. Intinya, metode ini memberikan kemudahan kepada siapa pun subjeknya, dan mereka tinggal mengisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalam system on model e-learning  ini, seperti model latihan lks. “memang  ada baik buruknya juga model ini”. Meski system ini sedang ngetrend atau di kalangan pendidikan, bukan berarti tidak ada titik kelemahannya. Setiap program yang dibuat manusia, pasti  ada saja kekurangannya, tapi setidaknya  ini merupakan sebuah terobosan baru bidang IT.

“Untuk informasi teknologi ini lebih cepat, tapi sekali lagi masih ada persoalan loadingnya,”tuturnya. Djohar yang juga rektor universitas sarjanawiyata taman siswa ini menambahkan program ini harus betul-betul terdisain, jadi bukan hanya sekedar memberikan bahan tulisan atau materi ujian kepada mahasiswa, tapi juga metode ini juga menuntut keaktifan dosen atau tenaga pengajar atau instruktur dalam menganalisa atau membuat materi perkuliahan atau pendidikan.

“Jadi dosen bisa memberikan email kepada mahasiswanya, dan begitu sebaliknya, “pungkas Djohar. Selain itu cara ini juga benar-benar sangat efektif dan memangkas waktu yang selama ini sering terkendala oleh berbagai hal pekerjaan lain. Menurutnya, dibutuhkan waktu untuk senantiasa mengontrol atau melihat-lihat email atau bentuk website lainnya dalam rangka mempercepat kinerja. Sistem kerja secara on-line memang telah mengejala saat ini, baik  di kantor-kantor, perusahaan maupun dunia jurnalistik serta pendidikan.

Menurut profesor Djohar, system ini bisa terpakai  tergantung  subjek dan objeknya, kalau memang harus dikerjakan pada saat itu juga, atau by doing, kenapa tidak, tegasnya, dosen bisa menuliskan atau merubah  naskah ujian atau bahan materi perkuliahan secara cepat dan tepat. “Tapi harus ada objeknya.” Cara ini sangat tepat, khususnya bagi pengajaran jarak jauh atau antar pulau dan negara. Dikatakan, metode ini bisa artinya diistilahkan  dengan objek study, bukan lesson study seperti yang selalu dibicarakan.

Profesor Djohar mengatakan metode ini bisa cepat kita dapatkan atau perlukan, tatkala kita memerlukan modul-modul pembelajaran dari dalam dan luar negeri. “Saya banyak memberikan modul-modul perkuliahan ke Malaysia dan negara-negara lain.” Sebenarnya menurut Djohar, kita mestinya bangga dengan modul-modul yang ditulis bangsa sendiri, bukan bangga dengan modul yang ditulis bangsa asing. “Kita ini sama instrument, baik fisik, otak  dan kemampuan yang lainnya. Tuhan memberikan kemampuan yang sama kepada setiap makhluknya, tinggal bagaimana memanfaatkan kelebihan yang diberikan itu untuk membuat bahan-bahan atau modul yang berguna bagi pendidikan ata ilmu pengetahuan.

“Saya ini banyak memberikan modul kepada mahasiswa dan dosen, dengan memanfaatkan teknologi program  e-learning ini. Namun saat ini yang sangat saya sayangkan, ada dosen yang menulis yang semestinya untuk program pascasarjana doctor, tapi menuliskan modulnya diberikan untuk pascasarjana, “ini kan tidak benar.” Semestinya mereka memahami apa yang harus mereka berikan dan tidak menyimpangkannya.

Menurut Djohar, system e-learning baik kalau menempatkan pada tempat yang seharusnya.”Tergantung tempat, situasi dan posisi antar kita, jadi tidak harus begitu begitu.”Tidak boleh ada pemaksaan dari dosen terhadap anak didik atau mahasiswa, system perkuliahan di zaman sekarang dengan teknologi serba tinggi, semestinya perkuliahan bisa dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja. “Perkuliahan itu kan bisa dilaksanakan di café, di taman atau di ruangan terbuka, tidak harus di ruang kuliah atau dosen.”

Dengan teknologi serba tinggi, semestinya perkuliahan bisa dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja. “Perkuliahan itu kan bisa dilaksanakan di café, di taman atau di ruangan terbuka, tidak harus di ruang kuliah atau dosen.”

Djohar mengungkapkan dibutuhkan peran aktif dari dosen untuk membuat program perkuliahan dengan teknologi on-line ini, artinya dosen dan mahasiswa sama-sama aktif untuk membuka computernya dan menanggapi atau membuah naskah atau modul untuk disampaikan kepada mahasiswa. “Dosen itu harus punya web, dan mereka mahasiswa juga harus punya, kalau tidak sulit untuk menjalankan metode online tersebut, “katanya.

Menurut profesor Djohar, metode ini telah dilakukan di fakultas ekonomi secara keseluruhan dikampusnya universitas sarjanawiyata taman siswa. “Cara ini dapat juga dimanfaatkan mahasiswa untuk melihat nilai-nilai hasil ujiannya, baik ujian tengah semester maupun akhir semester. “Kalau ini tidak dibuka-buka mahasiswa, mereka akan kesulitan mengetahui hasil ujian maupun materi perkuliahan, semestinya dosen juga harus memberitahukan bahwa materi atau hasil ujian telah disampaikan melalui system online computer e-learning, jadi bisa lebih cepat.

“E-learning dan e-library, jadi perpustakaan kita telah digital, apa pun yang diinginkan mahasiswa untuk memperoleh informasi buku atau skripsi dapat dengan cepat diperoleh, “jelasnya. Menurut Djohar dengan mengambil contoh di Manila, Philipina, di negara itu, program dan metode pembelajarannya selain tidak fleksibel juga acapkali berubah-ubah, dan ini menyulitkan mahasiswa dan siswa. “Kalau yang lain-lain sich sama.”

Djohar menambahkan, metode e-learning telah menarik mahasiswa dan dosen untuk saling berkomunikasi dengan baik, dan ini juga memberikan kepercayaan diri mahasiswa, bahwa di era teknologi seperti sekarang, mereka harus bisa mengerti, dan tidak minder. “Sebenarnya program ini sudah lama, hanya saja baru diterapkan baru-baru ini saja.”

“Sejak jadi rektor 2002 sudah menjamur program ini, “jelasnya. Sementara,  bicara teknologi dengan luar negeri tidak ada yang berbeda, sama saja. “Hanya substansinya saja yang berbeda, seperti di Australia, misalnya.”Hal yang sama juga terjadi di Malaysia, dimana pendidikan menjadi yang nomor satu, sehingga mereka lebih maju. Kini, bagaimana antara pendidikan dan pembelajaran seimbang, di Australia, mereka belajar sendiri-sendiri, tapi ini bukan sebuah solusi, sebab di negeri kita ini pendidikan merupakan yang pokok, agar siswa didik dapat belajar etika dan pola tingkah laku yang baik.

Kini tuturnya bagaimana membuat program yang baik, dan dapat mengarahkan anak-anak menjadi mahasiswa yang unggulan. “Namun semua itu kembali kepada substansi materi yang diberikan, apakah muatan pendidikannya dapat diakali ke dalam materi tersebut, dan ini tergantung besar kecilnya juga bobot pendidikan yang dimuatkan ke materi pembelajaran, “pungkasnya Menurutnya lagi, kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan ke dalam bobot materi yang diberikan kepada mahasiswa, membuat  mereka hanya menerima pengetahuan saja.

Ironinya Administrasi Absensi

Profesor Djohar menjelaskan, kendati di kampus sarjanawiyata taman siswa telah diterapkan metode e-learning, namun para dosennya tetap diwajibkan untuk hadir di ruang perkuliahan, mahasiswa tetap diwajikan untuk absensi. “Jika mereka berhalangan datang, ya saya anggap tidak hadir, “begitu tandasnya. Hal inilah yang menurutnya juga menjadi belenggu bagi pemanfaatan model-model teknologi atau kemacetan IT. Perkuliahan di Indonesia, sulit untuk tidak melupakan administrasi absensi. “Ini merupakan hal yang wajib dilakukan dosen untuk mencatat  kehadiran para mahasiswa, itulah yang membedakan perkuliahan di negeri kita dengan di luar negeri. “Meskipun mahasiswa saya sudah mengirimkan email dan menjawab pertanyaan yang saya berikan dari Jakarta, kalau mahasiswa saya tidak hadir maka saya anggap bolos alias tidak hadir.”Inilah yang membelenggu pendidikan kampus di Indonesia, “tuturnya ironi.

Menurut Djohar, hancurnya pendidikan di Indonesia, lantaran tidak fleksibelnya kampus-kampus yang terdapat di Indonesia, mereka acapkali mengancam dosen yang tidak absensi dengan tidak membayar honor mereka. Inikan sangat ironi, dan merugikan semua pihak. “Bagi kampus ini merupakan sebuah ketentuan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika dosen masih mau tetap mengajar, mereka harus ikut aturan kampus, dan tidak mengambil sikap sendiri-sendiri, “jelasnya.

“Ini saya pernah alami, dan tetap saja saya dirugikan, tapi sudahlah, “celotehnya. Model online menurut Djohar cukup efektif, tapi faktor kehadiran siswa, menjadi persoalan besar bagi berjalannya system ini. “Kalau memang mau online,  ya  harus online semuanya, tidak separuh-paruh.”

Profesor Djohar mengatakan sangat menentang system yang membelenggu perkembangan teknologi saat ini. Sistem online telah mendidik kecepatan memperoleh atau akses informasi dengan cepat. “Semestinya lagi, kampus memahami hal itu.” Kalau ingin maju buatlah system yang maju, sebaliknya kalau mundur, “ jangan harap katanya.

Djohar yang tidak setuju kampus mempasung IT, menyarankan agar persoalan  teknologi informasi segera dapat dicarikan jalan keluarnya. Mengingat teknologi komunikasi telah mengajarkan kita untuk mempercepat segala persoalan atau langkah hubungan komunikasi keduabelah pihak, yakni komunikator dan komunikan. “Buat apa ada laptop dan netbook, seandainya kampus memasung perkembangan teknologi komunikasi informasi dengan urusan absensi, “tuturnya mengulang kembali cerita sebelumnya.

Dengan pemanfaatan computer sebagai sarana mempercepat hubungan komunikasi secara langsung, telah memberikan warna tersendiri bagi persoalan manusia. Nyatanya menurut Djohar, pihaknya mendapat banyak cara memberikan pemahaman kepada mahasiswa, baik berupa tulisan maupun gambar-gambar yang dapat dicerna mahasiswa.
“Kalau saya mengajar cukup dengan memberikan gambar-gambar digital dengan modul yang telah saya program terlebih dahulu, “jelasnya. Profesor Djohar juga menceritakan dirinya mengajar di berbagai kampus di negeri dan swasta, serta mendapat honor yang tidak begitu besar. “Kalau di UIN saya mendapat honor yang cukup tinggi, dan ini telah sesuai dengan keringat, dan ilmu yang saya peroleh, “tuturnya.

Ia mengatakan selama mengajar kerap menggunakan teknologi informasi, sehingga tidak sulit atau capai mengeluarkan seluruh tenaga. Cukup dengan memberikan perkuliahan dalam bentuk modul-modul dan email, maka seluruh perkuliahan seselesai.”Saya dengan teknologi, maka saya bisa mengefesiensikan tenaga dan pikiran, “jelasnya. Perkembangan teknologi e-learning telah popular di Indonesia, seyogyanya ini diikuti oleh seluruh kampus lainnya, agar mereka juga maju dan tidak ketinggalan zaman.

Kampus-kampus harus bisa menerapkan teknologi e-learning, atau kalau tidak maka ia akan tertinggal atau paling tidak  belajar dengan melaksanakan study banding  ke  kampus-kampus  yang  telah lebih dahulu menerapkan metode ini. “Ini cukup efektif dan baik, agar teknologi ini berkembang.”Saya memasukan bahan  kuliah ke internet dan mentranfernya ke mahasiswa. Ini tidak lain agar mahasiswa bisa belajar di rumahnya, tanpa harus tertinggal catatan atau pekerjaannya. Sebelum mengirimkan seluruh bahan saya konsep terlebih dahulu, agar tertata dengan baik. Ia mengatakan merasa bangga dengan mahasiswanya yang telah memahami teknologi IT ini, dan berhasil mengantarkan mahasiswa bimbingannya meraih gelar ke sarjanaan secara cum laude.

Model e-learning tidak harus dilakukan di gedung, tapi bisa di sawah, di laut dan di ruang tamu atau rumah. Sekali lagi, profesor Doktor  Djohar Ms, menekankan pentingnya pemanfaatan IT e – learning, khususnya membantu teman-teman yang membutuhkan informasi pihaknya. E-learning menurutnya juga sangat efektif untuk semua orang. Dengan lima fakultas yang ada, diharapkan kampusnya dapat menggunakan system ini secara cepat dan tepat guna. “Khususnya dalam pemanfaatan ketidaktahuan mahasiswa, maupun dalam praktik diskusi dan seminar, “jelasnya mengakhiri perbincangan.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.