Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM

Guru Besar dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Pendidikan Sebaiknya Mengutamakan Pembinaan Mental dan Keterampilan

Beberapa tahun belakangan, di Indonesia bertebaran sekolah internasional. Pendidikan yang mengacu pada kurikulum luar negeri tersebut segera saja menarik minat orang tua. Meskipun harus mengeluarkan dana sangat besar, mereka berbondong-bondong mengirim anak-anaknya ke sekolah yang dianggap bermutu global tersebut.

Daya tarik yang segera terlihat dari sekolah internasional adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar. Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik, selama ini terbukti sangat membantu karier di kemudian hari. Sedangkan kurikulum, silabus dan lain-lain adalah alat untuk meningkatkan kemampuan akademis siswa.

“Sebenarnya dalam pendidikan di samping terkait pembinaan mental, attitude, keterampilan dan lain-lain, tidak ada yang terkait langsung dengan bisnis. Tetapi pendidikan menurut hemat saya lebih mengutamakan pembinaan sifat mental di samping keterampilan. Karena kalau sikap mental tidak diperkuat dalam diri peserta didik, tidak tertutup kemungkinan menghasilkan manusia-manusia yang seluruh aktivitas seakan-akan hanya mengejar keuntungan material belaka,” kata Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., Guru Besar dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tentu saja, pendidikan bermutu bukan berarti tidak boleh mencari keuntungan. Apalagi kalau pendidikan yang diselenggarakan terkait dengan pendidikan entrepreneur, wira usaha dan lain-lain. Meskipun demikian, pendidikan bermutu internasional belum teruji secara akademik karena baru muncul beberapa tahun belakangan. Berbeda dengan perguruan tinggi yang sudah lahir berabad-abad lamanya, sehingga produk perguruan tinggi –dengan berbagai spesialisasinya- sudah teruji di lapangan.

Yang perlu disadari, lanjut Prof. Amin, pendidikan bermutu internasional harus diuji dalam jangka panjang. Karena bagaimana pun hasilnya, pendidikan tidak hanya harus bermanfaat bagi diri orang yang bersangkutan tetapi juga orang lain, bangsa dan negara. Dalam bahasa agama, pendidikan tidak hanya peduli dengan hal-hal yang bersifat fardhlu ain, tetapi juga berorientasi kepada kepentingan orang banyak atau fardhlu kifayah.

“Itu harus selalu seimbang. Dan terkait dengan itu, perlu dipikirkan tentang keseimbangan mengenai hal-hal yang bersifat proporsional dan profesional. Harus diperhatikan juga bagaimana pemerataan kesejahteraan dan harus mempertimbangkan komposisinya juga. Jangan sampai yang kaya mendapatkan sama seperti orang miskin. Begitu juga dengan keadilan, karena keadilan tidak identik dengan persamaan perlakuan. Ada yang mutlak perlu dibantu, tetapi ada juga yang hanya sedikit memerlukan bantuan,” tukas guru besar kelahiran Cilegon, 5 Mei 1955 ini.

Kemerdekaan dan Kebebasan

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., menyebutkan pentingnya peningkatan tingkat pemahaman agama dan budaya secara matang. Peristiwa-peristiwa yang marak terjadi di tanah air tidak lepas dari minimnya upaya untuk memberikan pengetahuan yang baik kepada masyarakat. Pemerintah lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan secara ekonomi tanpa memedulikan efek sosial yang negative di lingkungan masyarakat kelas bawah.

“Masalah keamanan mungkin masyarakat sudah cukup aman terhadap tindakan kriminal. Tetapi masalah kenyamanan masih sangat jauh dari kondisi ideal, pokoknya masih perlu ditingkatkan lagi. Ini akibat berbagai faktor, diantaranya faktor ekonomi, tingkat pemahaman agama, dan budaya yang relatif rendah. Penyuluhan melalui media memang perlu, tetapi efektivitasnya perlu ditinjau lagi. Soalnya lebih banyak hiburannya,” tegasnya.

Prof. Amin juga mengingatkan meskipun demokratisasi di Indonesia sangat diperlukan, tetapi tidak identik dengan liar, tidak terkontrol, lepas kendali dan tidak tertib. Begitu juga dengan eforia kebebasan sejak reformasi hingga sekarang terus berlanjut harus disikapi dengan bijaksana. Jangan karena mengatasnamakan reformasi dan kebebasan, kemudian mengkritik orang lain dengan semena-mena, apalagi sampai merugikan bangsan dan negara.

“Tidak boleh itu, kritik harus diutarakan dengan bahasa baku, yang sopan dan santun, sesusai karakter bangsa timur yang beradab dan berbudaya. Boleh juga dengan bahasa sindiran tapi tetap yang sopan dan humanis. Tapi memang harus diakui, bahwa keterbukaan sekarang sudah jauh berbeda dari masa lalu. Kemerdekaan dan kebebasan di segala bidang bisa dinikmati seluruh bangsa ini. Meskipun demikian, kemerdekaan berserikat, berkumpul harus berada dalam koridor yang jelas. Terus terang, saya merindukan adanya GBHN sebagai guidance dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” cetusnya.

Kepemilikan guidance sebagai acuan, jelas Prof. Amin, siapapun partai pemenang Pemilu memiliki pedoman yang pasti dalam menjalankan roda pemerintahan. Pemerintah tinggal menjalankan “blueprint” dalam pembangunan di segala bidang dan akan dilanjutkan oleh pemerintahan berikutnya. Dengan begitu, program pembangunan akan terus berkesinambungan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia secara adil dan merata.

Harus diakui, bahwa terjadi peningkatan tingkat perekonomian di Indonesia pasca reformasi. Geliat perekonomian sangat terlihat di kota-kota besar meskipun tidak berimbas pada kesejahteraan secara langsung. Pada sebagian masyarakat bisa menikmati pergerakan ekonomi sehingga mampu hidup sejahtera. Sementara sebagian lainnya masih tetap berkutat di tengah himpitan kemiskinan, dengan tanpa tahu jalan keluarnya.

“Jadi bukan hanya semata, ekonomi sudah normal tetapi kesejahteraan yang harus diperhatikan. Mungkin kalau keadilan bisa terukur, kemerataan terukur, keberkahan pasti datang. Kalau sekarang belum bisa mengatakan bahwa kita bangsa yang penuh keberkahan, karena keadilan bisa dilihat seperti apa. Tetapi yang membuat khawatir, sektor riil belum sebaik yang diharapkan. Terutama menyangkut lapangan pekerjaan untuk orang kecil. Itu yang perlu diatasi,” katanya.

Pendidikan Entrepreneurship

Menyoroti kemandirian bangsa, Prof. Amin mengungkapkan perlunya penciptaan lapangan pekerjaan. Dengan kondisi bangsa seperti saat ini, sangat diperlukan insan-insan yang mampu menciptakan lapangan kerja, termasuk memperhatikan sektor riil. Selama ini, sektor riil kurang mendapat perhatian memadai oleh pemerintah yang lebih mengagungkan tercapainya kondisi makro perekonomian.

“Akibatnya, pengangguran akan semakin membengkak yang berakibat keamanan semakin rawan. Kalau penciptaan lapangan pekerjaan tidak memproduksi sesuatu yang dibutuhkan manusia –misalnya keterampilan yang sifatnya tidak menghasilkan produk bagi hajat hidup orang banyak- hasilnya justru menciptakan masalah tersendiri. Karena kesiapan pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan lain-lain tidak diperhatikan menjadi salah satu penyebab ketimpangan sosial,” ujarnya.

Masalah yang sangat mengundang keprihatinan adalah orientasi pembangunan yang hanya fokus di daerah perkotaan. Padahal, pembangunan di daerah pedesaan juga harus diperkuat agar terjadi keseimbangan. Selain itu, masyarakat petani di pedesaan harus ditingkatkan daya saingnya sehingga mampu menghasilkan produk pertanian berkelas internasional. Begitu juga masyarakat perikanan atau perkebunan, dengan daya saing yang meningkat mereka bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Generasi muda sekarang, lanjutnya, terutama mahasiswa memiliki kreativitas yang lebih tinggi. Apalagi bila dibandingkan dengan saat dirinya masih menjadi mahasiswa tahun 1970-an. Sedikit banyak telah terjadi pergeseran orientasi dari mahasiswa yang hanya menuntut ilmu sebanyak mungkin menjadi mahasiswa yang selalu mengaitkan aktivitas keilmuannya dengan masalah pekerjaan. Bahkan, mahasiswa sekarang sudah memikirkan gaji yang akan diterimanya apabila lulus sebagai sarjana.

“Yang harus didorong adalah orientasi generasi muda untuk menciptakan pekerjaan dan bukan hanya sekadar mencari pekerjaan. Ini akan sangat membantu negara untuk mengatasi pengangguran, meskipun harus ada bekal pengetahuan bagi mereka. Salah satunya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang sukses adalah mengirim anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin. Anak-anak itupun harus dipekerjakan untuk menimba pengalaman dilandasi bahwa pengalaman tidak ada gurunya, harus melalui proses,” tegasnya.

Namun, lanjutnya, untuk membangkitkan jiwa entrepreneurship di kalangan generasi muda bukanlah perkara mudah. Untuk menjadi entrepreneur yang baik dan tangguh generasi muda harus memiliki pengetahuan yang mumpuni dan tidak setengah hati menggarap bidang yang ditekuninya. Selain itu, generasi muda juga harus membangkitkan semangat dan spirit optimisme dalam menatap masa depan yang lebih baik. Generasi muda sebagai entrepreneur harus memperhatikan hal-hal yang menyangkut aqidah, moral dan attitude.

“Dari kacamata agama, Imam Syafei misalnya mengatakan bahwa pemuda akan bermakna kalau memiliki dua hal. Pertama ilmu pengetahuan, kedua ketakwaan dari dalam dirinya. Ketiga ingin saya tambahkan yaitu keterampilan. Yang dari luar adalah lapangan pekerjaan dan bila perlu dia yang menciptakan lapangan pekerjaan tersebut. Sehingga jiwa entrepreneurship hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Kalau tidak punya percaya diri, susah membangun entrepreneurship,” tegasnya.

Bergilir dan Bergulir

Menurut Prof. Amin, terdapat perbedaan besar antara entrepreneurship dan kepemimpinan. Entrepreneurship lebih banyak mengedepankan kemauan kuat, usaha yang gigih serta keuletan dalam berusaha. Sementara kepemimpinan terkait erat dengan jenjang karier dan tahun-tahun penuh pengalaman. Tempaan dalam pengalaman akan membuat seseorang tumbuh menjadi pemimpin baik, bijaksana dan tangguh dalam menghadapi persoalan.

“Sulit bagi seorang entrepreneur untuk memahami sikap pemimpin dan kepemimpinan. Oleh karena itu, jenjang karier tetap penting karena tidak bisa seorang tanpa pengalaman memadai tiba-tiba menjadi pemimpin. Pemimpin yang tidak berpengalaman akan mengalami kesulitan, baik memimpin perusahaan atau negara. Pengalaman kepemimpinan adalah sesuatu yang mutlak perlu, tidak bisa ditawar-tawar dan tidak dapat dicapai dalam satu atau dua bulan. Karena, selain bekal ilmu dan bantuan orang lain, memimpin adalah seni yang tidak semua orang memilikinya,” tuturnya.

Namun, di era modern sekarang ini cukup susah bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman sebagai kepemimpinan. Kurangnya upaya pelatihan kepemimpinan membuat kesempatan menjadi sempit untuk mengembangkan diri sebagai pemimpin. Kalau pun ada pelatihan, biasanya dimaksudkan untuk kepentingan-kepentingan pragmatis pekerjaan saja. Sangat mungkin, penyebab minimnya pelatihan kepemimpinan adalah akibat kesibukan masing-masing.

Berbeda ketika Prof. Amin masih duduk di bangku kuliah saat itu serta generasi sebelumnya. Saat itu, untuk menjadi pemimpin seseorang cukup mengandalkan kemampuan dan skill individu yang dimilikinya. Sementara untuk sekarang ini, siapapun asalkan memiliki dana yang mencukupi bisa meng-higher dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Banyak lembaga-lembaga konsultan profesional yang dapat memberikan nasihat mengenai seputar kepemimpinan.

“Bahkan sampai pada teknik pidato dan penampilan pun sudah disiapkan. Sebelum reformasi, kepemimpinan berdasarkan pengalaman dengan ditunjang lembaga-lembaga masyarakat. Sementara sesudahnya, pengaruh partai sangat luar biasa dominan di segala bidang sehingga pemimpin sudah terkader melalui parpol-parpol yang ada. Kalau PNS dahulu, kariernya yang sangat menentukan, tetapi sekarang, sedikit banyak Parpol bahkan organisasi lain sudah turut mempengaruhi. Mungkin sudah tidak ada tempat yang steril tanpa partai (baca: politik),” ungkapnya.

Meskipun demikian, harus diakui bahwa saat ini pemerintah tidak memiliki pedoman sebagai agenda masa depan bangsa. Mestinya, bangsa Indonesia harus menoleh sejenak ke masa-masa lalu, walau Orde Baru sekalipun memiliki langkah-langkah strategis pembangunan masa depan bangsa yang tertuang dalam GBHN. Sementara saat ini, bangsa Indonesia tidak memiliki pedoman untuk tujuan masa depannya sendiri.

Seyogyanya, lanjut Prof. Amin, pedoman seperti itu harus tetap dimiliki oleh bangsa besar seperti Indonesia. Pedoman sebagai agenda masa depan bangsa harus jelas dan mudah dipahami, baik oleh pimpinan maupun masyarakat luas sehingga, semua orang tahu apa yang akan dituju. Dengan jelasnya tujuan, apapun yang terjadi selama perjalanan akan dianggap sebagai bagian dari agenda tersebut.

“Kalau sejak awal sudah jelas, perjalanan kita pun akan lancar dan efisien, meskipun pemerintahan berganti secara periodik. Pembangunan itu yang penting Bergilir dan Bergulir. Bergulirnya, satu periode diprioritaskan dalam suatu hal, setelah itu berganti fokus pada bidang yang lain. Nah, bergilirnya setiap lima tahun sekali pemerintahan berganti. Makanya kita harus optimis, tidak boleh pesimis,” tandasnya.

Integrasi Agama dan Umum

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., dibesarkan dalam lingkungan santri yang sangat kuat. Ayah dan ibunya, Sulaiman bin Semaun dan Hj Maimunah Munawarah binti H Ali Hasan, adalah sepasang guru ngaji yang sangat disegani di kampungnya, Cilurah – Kepuh Ciwandan – Cilegon. Selain memberikan pelajaran mengaji Al Quran secara gratis, keduanya menekuni pertanian sebagai tulang punggung perekonomian keluarga.

“Bapak dan Ibu sangat menyayangi anak-anaknya sekaligus sebagai teman bermain yang sangat menyenangkan. Bapak dan Ibu juga merupakan guru saya yang pertama dan terakhir, terutama dalam bidang baca Al Quran serta penghayatan dan pengamalan agama secara konsisten dan continues. Termasuk juga dalam syiar agama Islam melalui pengajian Al Quran,” kata pengajar S1, S2 dan S3 di berbagai perguruan tinggi agama Islam di Indonesia ini.

Masih lekat dalam ingatan Prof. Amin, bagaimana ayahnya membuatkan mainan layang-layang yang sangat disukainya. Sang ayah juga memberikan dukungan penuh terhadap hobinya untuk menangkap ikan atau belut di sawah (ngobor), berburu burung dan memancing ikan di laut. Ia juga tidak segan-segan untuk “ngangon kerbau” sambil ikut membajak sawah sampai mencarikan rumput untuk kerbau-kerbau piaraannya.

Namun, semua kegiatan yang sangat menyenangkan tersebut harus terhenti saat dirinya mondok/ sekolah di Citangkil. Ia diwajibkan untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya sampai selesai, dan kalau perlu sampai ke negeri China. Saat itu, banyak nasihat-nasihat indah dan menjadi pegangannya melayari kehidupan yang terucap dari mulut bapak, ibu dan H. Ali Hasan, kakeknya.

“Bapak bilang kalau saya harus fokus sekolah dan belajar dengan penuh semangat, supaya pintar tetapi benar. Nanti kalau sudah pintar, mau apapun atau kemanapun, insya Allah terlaksana. Sebelum masuk IAIN, beliau berpesan agar kuliah dengan benar dan kalau sudah menemukan perempuan yang baik langsung menikah saja. Sementara kakek mendoakan saya agar menjadi kyai yang kaya raya, karena meskipun pintar tanpa harta kurang dihargai masyarakat,” kata professor yang berlatar belakang pondok pesantren ini.

Selain itu, Prof. Amin juga sangat memegang teguh nasihat dari paman kebanggaannya, KH Mahmud. Nasihatnya agar dirinya “mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum” terus diamalkannya hingga kini. Nasihat tersebut, karena saat itu terjadi dikotomi antara pendidikan agama dan umum, terpisah jurang yang menganga lebar. Hampir mustahil untuk mempertemukan kaum santri dengan sekolah bernapas Islam sekalipun.

Hal itulah yang mendorong Prof. Amin dalam pendidikannya untuk selalu menempuh dua bidang secara bersamaan, agama dan umum. Ia menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada saat berbeda, ia juga mengikuti pendidikan Strata 1 di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Begitu juga saat mengambil S2, yakni Magister Syariah pada Pasca Sarjana IAIN Jakarta dan Magister Manajemen pada Pasca Sarjana Universitas Tama Jakarta.

“Keinginan kuliah double degree ini terus terang semakin terpicu dengan nasihat beberapa orang dosen saya ketika masih duduk di bangku Fakultas Syariah IAIN Jakarta. Dua dari padanya adalah dosen ilmu hukum, yakni DR. H. Anwar Harjono, SH (Alm) dan terutama Prof. H Arso Sosroatmodjo, SH. Prof. Arso yang paling getol mendorong seraya meyakinkan bahwa mahasiswa Fakultas Syariah hampir dapat dipastikan mampu menyelesaikan kuliah pada Fakultas Hukum, meskipun belum tentu sebaliknya,” ungkap suami Hj Kholiyah, S.Ag, MA, dan ayah dari sebelas orang anak serta tiga orang cucu ini.

Sebelum menjadi dosen dan guru besar pada berbagai perguruan tinggi, Prof. Amin telah memiliki bakat mengajar sejak muda. Prof. Amin antara lain tercatat sebagai guru tidak tetap Madrasah Ibtidaiyah Mathalub Falah Cilurah (1972-1974), guru SMP Kelurahan Ciracas Jakarta Timur (1980), MAN 3 Jakarta (1982-1985). Selain itu, Prof. Amin sampai sekarang masih aktif menjadi nara sumber pada beberapa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Depag RI, Pusdiklat Mahkamah Agung RI, Pusdiklat Departemen Hukum dan HAM RI, Pusdiklat Kejaksaan Agung RI dan lain-lain. Bidang yang diajarkannya terutama dalam kajian ilmu hukum Islam, ekonomi Islam serta agama dan budi pekerti.

Prof. Amin memulai kariernya di dunia pendidikan benar-benar dari bawah. Dimulai dari Staf di Fakultas Syariah (1981-1982) kemudian menjadi Kepala Seksi Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Syariah (1982-1984), Kepala Seksi Pendidikan dan Pengajaran Fakultas Syariah (1984-1986), Koordinator Praktikum Fakultas Syariah (1989-1990), Ketua Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah (1990-1992), Kepala Pusat Pengabdian Pada Masyarakat IAIN Syarif Hidayatullah (1992-1995), Kepala Pusat Penelitian IAIN (1995-1998). Kemudian Dekan Fakultas Syariah (1998-2002), Hakim Ad. Hoc HAM pada Pengadilan Tinggi Jakarta (2002-2006), Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2002-2006 dan periode 2010-2014.

Sebagai seorang cendekiawan muslim, Prof. Amin yang pernah menjadi anggota tim pakar hokum Departemen Hukum dan HAM RI ini, telah melahirkan karya ilmiah yang dibukukan sebanyak 20-an buku. Sementara ratusan makalah, artikel dan lain-lain yang disampaikan dalam berbagai ceramah dan seminar di dalam dan luar negeri, dapat dikatakan tak terhitung banyaknya. Buku-buku karya Prof. Amin yang telah diterbitkan, antara lain:
 Ijtihad Ibnu Taimiyah Dalam Bidang Fiqh Islam
 Tafsir Ahkam 1
 Studi Ilmu Al Quran 1-3
 Pluralisme Agama
 Pengantar Tafsir Ahkam
 Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam
 Lima Pilar Islam
 Membangun Ekonomi Berbasis Kitab Suci
 Menggali Akar Mengurai Serat Ekonomi dan Keuangan Islam
 Asuransi Syariah dan Konvensional
 Tafsir Ayat Ekonomi
 Dan lain-lain

Aktivitas organisasai Prof. Amin:
1. Anggota Pelajar Islam Indonesia (PII), tahun 1972-1974
2. Anggota Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat, Komisioner Fakultas Syariah (1979-1980)
3. Salah seorang Anggota Pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat (1991), Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Provinsi DKI Jakarta (2005-2009), Ketua Umum ICMI Orsat Ciputat (1993-1996), Ketua Dewan Pakar ICMI Tangerang Selatan (2010-sekarang)
4. Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (200-2010)
5. Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI (2010-sekarang)
6. Ketua Umum Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) tahun 2008-sekarang
7. Dan lain-lain

Dukungan Keluarga Luar Biasa

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM, merasa sangat bersyukur memiliki seorang pendamping hidup yang sangat setia, Hj Kholiyah Thahir, S.Ag, MA. Perempuan yang dinikahinya sejak mahasiswa tersebut, benar-benar menjadi pendorong semangat dalam menjalani hidup. Tidak hanya mendukung pencapaian suami, prestasinya pun tidak kalah gemilang dengan suaminya. Semua dilakukan dengan tanpa mengabaikan tugas-tugasnya sebagai ibu 11 orang anak.

“Terus terang, saya mengagumi istri saya –yang maaf- benar-benar hebat dan boleh dikatakan mendekati sempurna. Setiap kali memandangi wajah teduhnya, selalu kekaguman yang keluar dari mulut saya. Betapa anugerah Allah SWT begitu besar kepada saya yang telah mengirimkan seorang perempuan yang benar-benar hebat sebagai pendamping hidup saya,” ungkapnya.

Kehebatan istrinya, lanjut Prof. Amin, tidak hanya terbatas pada bagaimana melahirkan 13 anak (dua anak lahir premature dan keguguran). Dorongan dan dukungan selalu diberikan dalam hampir setiap kali suaminya melakukan hal-hal terberat sekalipun. Salah satu contoh, adalah bagaimana dengan ikhlas Hj Kholiyah merelakan dirinya “cuti kuliah” agar suaminya fokus mengambil kuliah S2 dan S3. Bahkan, ketika sang suami telah mencapai gelar tertinggi dalam pendidikan pun, dukungannya tidak pernah surut. “Artinya, istri saya adalah salah seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Kesetiaan Hj Kholiyah untuk mengurus anak-anaknya di rumah, menurut Prof. Amin adalah salah satu jasa terbesarnya. Terutama saat-saat dirinya menjalani kegiatan-kegiatan di berbagai kota sampai manca negara untuk seminar atau memberikan ceramah. Sebagai “upah” terhadap kerja keras sang istri dalam mengasuh anak-anaknya, semenjak kegiatan menyusui terhenti, Prof. Amin hampir selalu mengajak istrinya ke berbagai kegiatan, baik di dalam dan luar negeri.

Prof. Amin mengakui, selama 30 tahun istri tercinta mendampinginya dengan begitu setia tanpa pernah menghadapi permasalahan yang berarti. Sejak awal pernikahan yang penuh perjuangan, sampai kehidupan menjadi sebaik sekarang kesetiannya benar-benar utuh dan menentukan kehidupan rumah tangganya. Betapa tidak, Kholiyah selalu mendukung seluruh perjuangan dan cita-cita suaminya, dari menempuh pendidikan yang tiada henti serta organisasi yang menyita waktu serta pengorbanan material lainnya.

“Semua tetap didukung istri dan anak-anak. Pendeknya, terlalu sulit untuk menguraikan 1001 kebaikan dan kelebihan istri maupun anak-anak saya. Yang jelas secara umum dan keseluruhan, saya merasa puas mempunyai seorang istri bernama Hj Kholiyah Thahir, SAg, MA. Bukan saja karena kesalehannya terhadap suami dan anak-anak, melainkan juga kerelaannya berkorban demi meraih ridhla illahi. Ia benar-benar seorang istri sholehah yang menghormati dan membahagiakan suami serta sekaligus ‘mendekap’ anak-anaknya dengan kasih sayang,” ujarnya.

Prof. Amin menguraikan bagaimana peran istrinya yang sangat besar dalam melahirkan dan mengasuh ke-11 anaknya dengan baik. Terbukti, di antara anak-anaknya tak satupun yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Tidak ada di antara mereka yang terjebak dalam pergaulan bebas, menggunakan narkoba ataupun hal-hal negative yang dilarang agama lainnya. Pendidikan mereka pun –mengikuti jejak kedua orang tuanya- sangat baik dan terarah.

Fakta bahwa 5 dari 11 anak sudah meraih gelar sarjana –S1 dan S2- adalah buktinya. Disamping enam anaknya yang lain sekarang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sekolah-sekolah (TK-SMA) unggulan dan pondok pesantren terkemuka di tanah air.

“Saya tahu betul bahwa dalam diri istri saya banyak bakat yang dimilikinya. Namun karena alasan tertentu –terutama saat anak-anak masih kecil-kecil- saya melarang untuk mengembangkan bakat itu. Tetapi seiring perkembangan waktu, saya memberikan kebebasan baginya unjuk kebolehan berorganisasi. Beberapa tahun terakhir, dia menjadi Ketua Lembaga Pendidikan Ketilang dan beberapa aktivitas lainnya,” ungkapnya.

Sekilas Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Syari’ah dan Hukum merupakan fakultas dengan program studi terbanyak di UIN Jakarta. Fakultas ini memiliki fokus kajian di bidang hukum Islam. Sejalan dengan perkembangan masalah-masalah dan spesialisasi dalam keahlian hukum Islam, maka Fakultas Syari’ah dan Hukum menawarkan berbagai program studi yang siap mengantisipasi kebutuhan masyarakat akan berbagai profesi baru yang terkait dengan hukum Islam, seperti ahli perbankan syariah, ahli asuransi syariah, dan sebagainya.

Beberapa tahun terakhir ini antusiasme calon mahasiswa untuk memasuki Fakultas Syari’ah dan Hukum cukup tinggi. Hal ini bisa diindikasikan dengan jumlah mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum yang menduduki peringkat kedua terbanyak setelah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Fakultas Syari’ah dan Hukum bertujuan menyiapkan lulusan yang ahli dan profesional dalam bidang hukum Islam.

Program studi Fakultas Syari’ah dan Hukum:
1. Jurusan Ahwal Syakhshiyyah (Perdata/Peradilan Islam)
2. Jurusan Jinayah/Siyasah Syar’iyyah (Pidana/Tata Negara)
3. Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum
4. Jurusan Mu’amalat (Ekonomi Islam)
5. Ilmu Hukum

Fakultas Syari’ah mengemban tugas mengembangkan ilmu hukum Islam dan hukum umum. Kini Fakultas Syari’ah dan Hukum sedang mengembangkan program studi-program studi dalam lingkungan jurusan-jurusan yang telah ada, seperti Program Studi Kepaniteraan Kepengacaraan, Administrasi Perkawinan, dan Manajemen Wakaf dan Zakat (dalam Jurusan Al-Ahwal Al-Syakh-siyah), Program Studi Pidana Islam, Tata Negara (dalam Jurusan Jinayah/Siyasah), Program Studi Perbandingan Mazhab Fiqh, Perbandingan Hukum, Konsultan dan Fatwa Hukum, dan Manajemen Haji dan Pariwisata (dalam Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum), Program Studi Perbankan Syari’ah, Takaful (Asuransi), Kewirausahaan, dan Agribisnis (dalam Jurusan Mu’amalat dan Perbankan).

1. Jurusan Ahwal Syakhshiyyah (Perdata/Peradilan Islam)
1. Program Studi Peradilan Agama
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi peradilan agama, serta mampu mengemban tugas di bidang keahliannya untuk kepentingan negara dan masyarakat. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Hukum Acara Peradilan Agama, Fiqh Munakahat, Fiqh Mawarits, Fiqh Ibadah, Hukum Perdata, Hukum Pidana, Peradilan Agama di Indonesia, Ilmu Falak, Qawaidh Fiqhiyah, dan Hukum Perdata Islam di Indonesia.

2. Program Studi Administrasi Keperdataan Islam
Program studi ini bertujuan untuk meng-hasilkan sarjana yang menguasai bidang administrasi keperdataan, serta mampu mengemban tugas di bidang keahlian administrasi keperdataan tersebut. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Fiqh Munakahat, Fiqh Muamalat, Fiqh Ibadat, Fiqh Mawaris, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Hukum Perdata Internasional, Hukum Administrasi Negara, Hukum Acara Peradilan Agama, Hukum Perdata Internasional, Hukum Agraria, Penyuluhan Perkawinan dan Keluarga, dan Perundang-undangan di Indonesia.

2. Jurusan Jinayah Siyasah (Pidana/Tata Negara)
1. Program Studi Pidana Islam
Program studi ini bertujuan meng-hasilkan sarjana yang menguasai bidang studi pidana Islam. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan dalam Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir, Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Fiqh Siyasah, Fiqh Jinayah, Al-Fatwa, Metodologi Penelitian Siyasah, Ilmu Falak, Fiqh Mawaris, Fiqh Munakahat, Qawaid Fiqhiyah, Hukum Pidana dan Acara Pidana, Hukum Tata Negara, Hukum Islam di Indonesia, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Tarikh Tasyri’, Kriminologi, dan Fiqh Ibadah.

2. Program Studi Siyasah Syar’iyah
Program studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi tata negara. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir, Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Fiqh Siyasah, Fiqh Jinayah, Al-Fatwa, Metodologi Penelitian, Siyasah, Ilmu Falak, Fiqh Mawarits, Fiqh Munakahat, Qawaid Fiqhiyah, Hukum Pidana dan Acara Pidana, Hukum Tata Negara, Hukum Islam di Indonesia, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Tarikh Tasyri’, Kriminologi, dan Fiqh Ibadah.

3. Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum
1. Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum
Program studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi Perbandingan Mazhab Fiqh, serta mampu mengemban ilmu Perbandingan Mazhab Fiqh tersebut untuk kepentingan agama dan masyarakat. Adapun Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Perbandingan Mazhab dalam Hukum Islam, Fiqh Kontemporer, Muqaranah Mazhab fi al-Mu’amalat, Tarikh Tasyri’.

2. Program Studi Perbandingan Hukum
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi perbandingan hukum, serta mampu mengemban tugas di bidang keahlian perbandingan hukum tersebut. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Hukum, Perbandingan Hukum dan Perundang-undangan, Metode Penelitian, Ushul Fiqh, Muqaranah Mazahib fi al-Mu’amalat, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Orientalisme dalam Hukum Islam, Hukum Acara Perdata dan Pidana Agama.

4. Jurusan Mu’amalat (Ekonomi Islam)
1. Program Studi Perbankan Syari’ah
Dewasa ini berkembang Bank Muamalat Indonesia, BMT, BPR, dan bank-bank Islam di dunia. Seiring dengan pesatnya perkembangan sistem perbankan konvensional, sistem perbankan Islam mulai dilirik oleh banyak kalangan. Karena itu, kajian tentang ekonomi Islam, khususnya perbankan Islam, tampaknya semakin mendesak untuk dikembangkan.

Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan tenaga-tenaga profesional di bidang perbankan syari’ah untuk mengisi kebutuhan tenaga di lembaga-lembaga perbankan Islam dan lembaga-lembaga keuangan lain yang membutuhkan. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan meliputi: Ilmu Ekonomi Makro, Perbankan, Fiqh Muamalat, Pengantar Akuntansi, Ilmu Ekonomi Mikro Islam, Lembaga Perekonomian Umat, Manajemen Perbankan Syari’ah, Akuntansi Perbankan Syari’ah, Ilmu Ekonomi Makro Islam, Hukum Peribadatan Islam, Hukum Perbankan Syari’ah, Hukum Dagang, Lembaga Keuangan non-Bank, Akuntansi Biaya Kewirausahaan, Praktek Lembaga Perekonomian Umat, Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Matematika dan Statistik Ekonomi, Praktikum Perbankan Syari’ah.

2. Program Studi Takaful/Asuransi Islam
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi asuransi Islam, serta mampu mengemban tugas di bidang yang dikuasainya tersebut pada instansi yang memerlukannya. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan meliputi: Ilmu Ekonomi Mikro, Manajemen Asuransi, Fiqh Muamalat, Pengantar Akuntansi, Ilmu Ekonomi Mikro Islam, Lembaga Perekonomian Umat, Akuntansi Takaful, Ilmu Ekonomi Makro Islam, Investasi Takaful, Hukum Asuransi, Kewirausahaan, Hukum Peribadatan Islam, Manajemen Takaful, Manajemen Keuangan, Hukum Dagang, Manajemen Pemasaran, Matematika dan Statistika Asuransi.

Pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Dekan: Prof. Dr. M. Amin Suma, MA, SH, MM
Pembantu Dekan Bidang Akademik: Dr. Mukri Aji, MA
Pembantu Dekan Bidang Admimistrasi Umum: Dr. Jaenal Aripini, MAg
Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan: Dr. JM Muslimin, MA

Alamat: Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15412
Telepon: (021) 701925, (021) 74711537
Fax: (021) 7402982
Email: info@uinjkt.ac.id

Pendapat mengenai Dekan FSH UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. KH Muhammad Amin Suma, MA, SH, MM

Dr. Mukri Aji, MA – Pembantu Dekan Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah

“Kontribusi Prof. Amin Sangat Besar”

UIN Syarif Hidayatullah dalam kurikulum yang diterapkan mengombinasikan antara hukum Islam dan umum. Diharapkan para alumni bisa menguasai aspek studi secara spesifik tanpa melupakan aspek ayat, hadits nabi serta pandangan yuridis formal.

Kita memang menghendaki bahwa kita full materi Fakultas Hukum umum tetapi juga memasukkan mata kuliah berbasis Islam. Para alumni diharapkan nanti bisa menjadi hakim atau advokat, tetapi juga khatib, penceramah dan lain-lain. Pokoknya alumni kami serba dalam hidup di tengah masyarakat.

Dalam mewujudkan itu, peran Prof. Amin sebagai pimpinan tinggi sekali kontribusinya. Berbagai aspek agar mereka menjadi alumni yang cerdas dan lain-lain, terus digelorakan. Tetapi perhatian beliau yang luar biasa terhadap kurikulum tersebut sehingga ada benang merah yang membedakan dengan perguruan tinggi yang lain.

Salah satu kontribusi nyata Prof. Amin adalah mampu memberikan motivasi kepada seluruh civitas akademika di sini sehingga mereka mampu beradaptasi dengan siapapun. Itu merupakan keberpihakan beliau terhadap kurikulum, disamping pembekalan karakter yang baik sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan. Sifat-sifat kepemimpinan seperti kejujuran yang menjadi culture, amanah, akhlak dan perilaku Nabi Muhammad, selalu digelorakannya.

Dr. JM Muslimin, MA, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah

“Prof. Amin Bukan Pemimpin Karbitan”

Faktanya, Fakultas Syariah dan Hukum ini memiliki mahasiswa dengan jumlah terbesar. Banyak program dengan berbagai masa depan mahasiswa seperti Program studi Perbankan Syariah serta kaderisasi ulama. Minat calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Fakultas Syariah dan Hukum UIN sangat tinggi dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Saya sebagai Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan sejak Mei 2010 menilai kelebihan Prof. Amin adalah beliau berkarier dari bawah. Beliau bukan tipe pimpinan “karbitan” yang tidak menguasai masalah sama sekali. Sebagai pemimpin yang berangkat dari bawah, selain menguasai strategis beliau juga menguasai teknis. Inilah kemampuan yang melekat pada diri Prof Amin yang bisa menggabungkan antara kebijakan teknis dengan sesuatu yang bersifat strategis.

Saya melihat ini karena beliau merangkak dari bawah, sehingga ditempa pengalaman yang membentuk karakter dirinya. Karena kadang orang lain tidak memiliki hal itu, tidak ada tempaan dalam meniti karier dan langsung menjadi pimpinan. Semua itu bisa saya lihat dalam aktivitas sehari-hari, yakni bagaimana beliau memimpin kami.

Keunggulan Fakultas Syariah dan Hukum UIN adalah pada tiga rumpun keilmuan, ilmu-ilmu syariah –ilmu-ilmu hukum Islam dan ilmu perbankan Islam- yang diintegrasikan dalam sebuah keilmuan yang bersifat spiritual. Integrasi dalam ilmu agama dan umum itu dalam bahasa awamnya adalah ilmu umum yang bersifat ilmiah dan ilmu umum yang bersifat ilahiyah. Dalam bahasa akademis, integrasi itulah yang membedakan antara Fakultas Syariah dan Hukum UIN dengan fakultas-fakultas di universitas lain. Mungkin dari sisi nomenklatur atau keilmuan seolah-olah sama, tetapi kalau dicermati nilai komparatif kita terletak di situ.

UIN, dibandingkan dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi yang lain, relative memiliki basis dukungan yang lebih komplit. Karena input kita berasal dari pesantren, madrasah dan lain-lain. Kita bisa merekrut orang-orang tersebut yang tadinya berpola pikir tradisional, menjadi mengenal pola pikir akademis modern yang rasional. Akhirnya mereka bisa mengintegrasikan antara kedua pola pikir tersebut dalam kehidupan mereka.

Ke depan, kita ingin standardisasi universitas –nasional maupun internasional- sehingga memiliki akreditasi formal dan sosial. Pembinaan yang kita lakukan secara menyeluruh, meliputi talenta mahasiswa di berbagai bidang. Mulai seni, olahraga dan lain-lain semua kita lakukan. Untuk menambah kapasitas dosen dalam rangka standardisasi tersebut, UIN mengirimkan dosen-dosennya melanjutkan pendidikan pada universitas terkemuka di luar negeri, seperti pendidikan S2 di Universitas Leiden, Belanda dan S3 di Universitas Hamburg, Jerman. Target yang dicanangkan, UIN mampu mendekati kualitas perguruan tinggi ternama seperti UI dan UGM dengan dukungan SDM, dosen bergelar Doktor dan Profesor yang memadai dalam jumlah dan keunggulan kualitas.

Tags: , , ,
Copyright © 2014 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.