Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM.

Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM.
Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon
Mengubah Nasib Melalui Pendidikan
Semangat untuk maju membuat manusia mampu menghadapi hambatan yang dihadapi. Setiap rintangan dan halangan yang menghadang jalan menuju cita-citanya akan diterjang. Setidaknya, solusi terbaik atas segala permasalahan yang dihadapi akan selalu diperjuangkan pemecahannya. Semua dilakukan dengan konsisten dan terus menerus dan berdoa kepada Alloh SWT, serta tidak pernah berputus asa sampai tercapainya keinginan.
Begitulah gambaran sekilas mengenai liku-liku perjalanan hidup Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM., Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon. Profil pendidik kelahiran desa terpencil di pegunungan Tasikmalaya Selatan tanggal 6 Desember 1947 ini, terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya adalah seorang guru Sekolah Dasar, sementara sang ibu seorang ibu rumah tangga biasa. Anak kedua dari sepuluh bersaudara ini, sudah harus memperjuangkan segala sesuatunya semenjak kecil.
“Bisa dibayangkan begaimana sulitnya seorang ayah membesarkan sepuluh anak dengan gaji guru yang pas-pasan. Meskipun demikian, almarhum ayahnya menerapkan disiplin tinggi dan memicu anak-anaknya untuk bersemangat menuntut ilmu, baik ilmu umum maupun agama. Setelah pulang sekolah umum, sore harinya saya mengaji di madrasah. Saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 1961. Sejak itu, terbersit keinginan untuk mengubah nasib dan bercita-cita membantu kehidupan orang tua dan saudara-saudaranya”, katanya mengawali kisah.
Jalur pendidikan, lanjut Prof Djalil, saat itu merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Ia siap menempuh segala resiko terkait cita-citanya tersebut, salah satunya adalah berpisah dengan kedua orang tua dan sanak famili. Karena untuk melanjutkan pendidikan, pilihan satu-satunya adalah pergi ke kota kabupaten. Maklum, secara geografis desa tempatnya tinggal terletak  sejauh 12 kilometer dari kecamatan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.
“Meskipun sudah ada jalan, tetapi tidak beraspal. Sesekali memang ada truk pengangkut hasil bumi dan mobil pejabat yang lewat. Saya berkhayal, suatu saat saya ingin mempunyai mobil seperti mereka. Dan dengan semangat mengejar mimpi, saya melanjutkan sekolah di SMEP Negeri di kota kabupaten. Saya tinggal di asrama/pesantren karena tidak bayar alias gratis”, ujarnya.
Saat sekolah di SMEP Negeri, prestasi Prof. Djalil terlihat sangat menonjol. Ia selalu menjadi juara umum sehingga tidak pernah membayar uang sekolah. Bahkan, salah satu toko buku terbesar di Tasikmalaya, Sutraco, memberi buku-buku pelajaran selama ia belajar, sebagai hadiah atas prestasinya. Setelah lulus SMEP pada tahun 1964, ia melanjutkan sekolah ke SMEA Negeri Tasikmalaya dengan harapan bisa secepatnya bekerja.
Masih dengan prestasi yang membanggakan, Prof. Djalil lulus dari SMEA Negeri Tasikmalaya pada tahun 1967. Melihat potensi besar yang tersimpan pada anak didiknya, guru-guru SMEA Negeri menganjurkan salah satu lulusan terbaiknya ini untuk melanjutkan kuliah dan menunda keinginan untuk mencari nafkah. Berbekal semangat dan doa dari kedua orang tua, ia berangkat ke bandung untuk melanjutkan kuliah dan diterima di AAN Negeri Bandung.
“Selama di Bandung saya menumpang hidup dirumah saudara yang mempunyai sebuah pabrik textil di kota Cirebon yang bernama PT. Fintexco. Alhamdulillah, beliau menerima kehadiran saya di rumahnya dengan baik. Setelah lulus AAN Negeri pada tahun 1974 dengan predikat memuaskan, saya malah langsung ditempatkan di pabriknya dengan jabatan Manager keuangan”, ungkapnya penuh syukur.
Meskipun sudah memiliki pekerjaan mapan, Prof. Djalil tidak pernah berhenti mewujudkan cita-citanya. Mengejar ilmu dan melanjutkan kuliah adalah keyakinan yang terus dipupuk agar tercapainya segala keinginan dan cita-cita. Apalagi, dalam pemikirannya, sebagai anak muda yang dinamis, bekerja di pabrik sebagai karyawan akan membosankan terkait dinamika pekerjaan. Oleh karena itu, ia kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti program S1 di Untag 1945 Jakarta.
“Setelah lulus dengan predikat cum laude pada tahun 1976, saya ditawari mengajar di Untag Cirebon oleh Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, rektor saat itu. Saya mau, tetapi saat itu saya masih menjabat Direktur di PT. Fintexco. Saya takut terjadi conflict of interest terkait posisi saya itu, tetapi beliau menjamin asalkan setiap sore mengajar tidak akan terjadi apa-apa. Jadilah saya dosen di Untag Cirebon ini.
Pada tahun 1979 saya sempat mendirikan PT. Sari Angin Cirebon, sebuah perusahaan oxygen yang ide dan gagasan pendiriannya terinspirasi dari hasil penelitian skripsi saya di PN ZATAS, ketika saya menyelesaikan tugas akhir di AAN Negeri Bandung”. ungkapnya.
Membangun Untag Cirebon
Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM. kemudian memulai tugasnya sebagai Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Cirebon. Perguruan tinggi swasta yang saat itu masih belum memiliki kampus sehingga terpaksa menumpang di gedung SMP Negeri 2 di Jl. Siliwangi, Cirebon. Sebagai Dosen muda, dengan semangat tinggi untuk memajukan Universitas, ia mengupayakan agar perguruan tinggi tempatnya mengabdi memiliki kampus sendiri.
“Dalam pikiran saya, sebuah perguruan tinggi idealnya kan mempunyai kampus sendiri. Akhirnya kami mendapat bantuan dari pemerintah berupa satu lokal gedung meskipun  sulit dijangkau karena lokasinya jauh dari pusat kota dan tidak dilewati angkutan kota. Akibatnya, ketika kampus ingin dipindahkan, mahasiswa angkatan tua banyak yang protes dan tidak mau dipindahkan”, ujarnya.
Akhirnya gedung bantuan pemerintah tersebut digunakan untuk kepentingan administrasi sambil menunggu saat yang tepat untuk memindahkan kegiatan belajar mengajar. Disisi lain, karier Prof. Djalil semakin terbuka di jalur pendidikan. Tahun 1979, pemerintah membuka penawaran Dosen Kopertis dengan persyaratan harus bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia. Ia mengikuti prosedur penerimaan dosen tersebut hingga berakhirnya proses seleksi.
Atas kehendak Alloh, pada tahun 1981 Prof. Djalil ditempatkan sebagai Dosen Kopertis Wil. IV Jabar di Untag Cirebon. Ia mengajukan permohonan kepada pihak Kopertis agar penempatannya di Untag Cirebon.
“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas pengangkatan saya sebagai PNS. Karena ini merupakan ungkapan rasa terima kasih kepada orang tua, guru-guru dan saudara saya Bpk. H.D Ma’mun & Kel. yang membantu dimasa-masa sulit dahulu. Saya ingin mendarmabaktikan ilmu dan pengetahuan saya kepada seluruh masyarakat melalui jalur pendidikan. Saya senantiasa ingin membantu dan mempunyai rasa empati yang sangat dalam kepada setiap anak didik dan kepada orang-orang disekitar saya, manakala ia mendapat hambatan dan kesulitan dalam meraih cita-cita. Saya sangat puas dan bersyukur dengan profesi sebagai pendidik, boleh jadi gen pendidik dari almarhum ayah saya mengalir deras dalam diri saya”. Katanya.
Tahun 1981, Prof. Djalil menjabat sebagai ketua Jurusan Administrasi (FISIP) Untag Cirebon. Rencananya untuk memindahkan mahasiswa ke gedung baru mulai direalisasikan. Setelah lengkap dengan segala fasilitasnya, mahasiswa baru langsung ditempatkan di gedung baru. Begitu seterusnya, sehingga pada tahun 1987, seluruh mahasiswa Untag menempati gedung di lokasi sekarang ini.
Saat menjabat sebagai Dekan Fisip Untag, Prof. Djalil memiliki akses ke seluruh Untag yang ada di Indonesia. Dari situ, ia melihat keunggulan dan kelemahan di setiap perguruan tinggi Untag yang sudah menunjukkan eksistensinya. Salah satu kelemahan mendasar dari Untag Cirebon adalah tidak adanya leader yang benar-benar bekerja dan mengabdi dengan sungguh-sungguh.
“kebetulan, tahun 1990-an saat rapat di Jakarta, saya sempat berbincang dengan mantan Gubernur DKI, Bpk Cokropranolo yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua yayasan Untag Jakarta. Kami terlibat perbincangan untuk memajukan pendidikan di Cirebon dan beliau menyarankan saya mencari orang-orang Cirebon yang sukses di Jakarta untuk membantu. Saat itu juga, saya membuat surat permohonan bantuan seperti beliau sarankan”’ kisahnya.
Prof. Djalil kemudian “berburu” para pengusaha, profesional dan pejabat asli Cirebon untuk mengharapkan bantuannya. Maka dengan izin Alloh SWT, saya dan Bpk. Drs. H. Andi Kusma (sekertaris yayasan Untag Cirebon) dipertemukan dengan Bpk. H. Ir. Iman Taufik Pengusaha Nasional yang asli kelahiran Cirebon (sekarang Ketua Pembina Untag 1945 Cirebon). Meskipun sebelumnya tidak kenal sama sekali, namun respon beliau terhadap ide tersebut cukup tinggi. Setelah membaca proposal, beliau sangat antusias dan cepat tanggap dengan memberikan bantuan pendidikan ke kampung halamannya. Perlahan namun  pasti, akhirnya gedung dan perlengkapan yang canggih sehingga kampus Untag semakin lengkap dan modern.
Selanjutnya beliau menyarankan untuk mencari Rektor Untag yang sudah guru besar, atas bantuan Prof. DR. Maman P Rukmana (ketika itu beliau menjabat sebagai Rektor Unpad Bandung) dan meminta Prof. DR. Yuyu Wahyu dari IPB agar mau menjadi Rektor Untag Cirebon menggantikan Rektor Untag sebelumnya. Syukur alhamdulillah beliau bersedia menjadi Rektor Untag Cirebon periode tahun 1992 sampai dengan tahun 2000.
Selepas Prof. DR Maman P Rukmana habis masa jabatan Rektor di Unpad Bandung, beliau langsung menggantikan Prof. DR. Wahyu menjadi Rektor Untag Selanjutnya.
Tahun 2006, secara kepangkatan Prof. Djalil sudah bisa mengajukan diri sebagai Guru Besar. Apalagi secara persyaratan S3, satu publikasi di jurnal Internasional dan dua publikasi di jurnal Nasional pun sudah tercapai, sehingga tahun 2007 SK Mendiknas sebagai Guru Besar sudah keluar. April 2008 akhirnya ia dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Administrasi Negara melalui SK Mendiknas. Prof. Djalil juga sangat peduli terhadap kesejahteraan masyarakat di kota Cirebon, semua ini terimplementasikan dalam disertasi Doktornya yang berjudul “Pengaruh Implementasi Kebijakan Desetralisasi, Revitalisasi Ritel Pasar Tradisional, Pengaturan Ritel Pasar Modern terhadap Kesejahteraan Pedagang Kecil Di Kota Cirebon Provinsi Jawa Barat.
Pada bulan Maret 2008, Prof. DR. Maman P Rukmana yang menggantikan Prof. DR. Wahyu sebagai Rektor meninggal dunia. Saat itu, senioritas dan kapasitasnya membuat Prof. Djalil diangkat sebagai Pjs Rektor Untag Cirebon. Di lingkungan Untag akhirnya terjadi polemik untuk menentukan pengganti Rektor, apakah harus mencari guru besar dari luar atau guru besar dari Untag yang sudah tahu kondisinya dengan baik.
“Sebenarnya saya tidak berambisi menjadi Rektor. Tetapi saya memberikan pilihan dan kalaupun tidak terpilih tidak apa-apa, semua demi kemajuan Untag Cirebon. Akhirnya secara aklamasi saya terpilih menjadi Rektor, dan dilantik pada tanggal 1 April 2008, dan kebetulan hari itu juga sebenarnya SK Guru Besar saya sudah turun, hanya saja belum ada di tangan. Meskipun baru saya terima tiga bulan kemudian”, ungkapnya.
Dalam kepemimpinan Prof. DR. Djalil, Untag Cirebon mengalami beberapa perubahan. Setidaknya, rektor-rektor sebelumnya tidak pernah bekerja penuh di Untag karena menetap di Bandung atau Bogor, sementara dirinya bekerja penuh di Cirebon. Beberapa pengembangan seperti kesejahteraan karyawan dan dosen pun dilakukannya. Begitu juga dialog antara Universitas dengan mahasiswa sehingga menjamin berlangsungnya kegiatan akademik di kampus.
Dengan berpegang pada Visi, Misi dan tujuan Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon, Prof. DR. Djalil mengelola Universitas 17 Agustus 1945 yang memiliki 5 Fakultas dan 10 Program Studi (Prodi) yaitu :
1.    Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
a.    Program Studi : Administrasi Negara (S1)
b.    Program Studi : Administrasi Niaga (S1)
2.    Fakultas Hukum
Program studi : Ilmu Hukum (S1)
3.    Fakultas teknik
a.    Program Studi    : Teknik Elektro (S1)
Konsentrasi :
-    Teknik Energi Listrik
-    Teknik Telekomunikasi
b.    Program Studi    :Teknik Mesin
Konsentrasi :
-    Teknik Konversi Energi
-    Teknik Industri
4.    Fakultas Ekonomi
a.    Program Studi    :Manajemen (S1)
Konsentrasi    :
-    Manajemen Keuangan
-    Manajemen Pemasaran
-    Manajemen Perpajakan
b.    Program Studi    : Akuntansi (D3)
c.    Program Studi: Manajemen   Perhotelan (D3)
5.    Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
a.    Program Studi: Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (S1)
Konsentrasi     :
-    Teknologi Penangkapan Ikan
-    Penyuluh Tani dan Nelayan
Adapun visi, misi dan tujuan Untag Cirebon adalah sebagai berikut :
Visi Untag Cirebon :
·    Terwujudnya  lembaga pendidikan tinggi yang modern, berbasis penelitian, profesional, bermutu dan siap bersaing baik tingkat regional, nasional maupun internasional.

Misi Untag Cirebon :
·    Menyelenggarakan pendidikan tinggi modern yang berbasis penelitian.
·    Mengembangkan kelembagaan manajemen modern yang berorientasi mutu, profesionalisme dan keterbukaan serta mampu bersaing di tingkat Regional, Nasional maupun Internasional.
·    Menggerakan pembangunan pedesaan dengan berasaskan pada pengelolaan dan pemenfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk kesejahteraan bangsa indonesia dan umat manusia.

Tujuan UNTAG Cirebon :
o    Mengembangkan program pendidikan yang menghasilkan lulusan yang siap pakai, profesional, mandiri, mampu menciptakan lapangan kerja sendiri dan berakhlak terpuji.
o    Membentuk kampus sebagai pusat ilmu berwawasan lingkungan yang berperan sebagai mitra pembangunan di wilayahnya.
o    Mengembangkan dan membina kehidupan masyarakat akademik melalui sistem manajemen pendidikan tinggi yang profesional.
Prof. Djalil memiliki perhatian yang besar terhadap mahasiswanya, “Sebagai rektor, saya siap berdiskusi, dialog dan bahkan dikritik sekalipun. Karena yang kita hadapi ini adalah jiwa muda yang dinamis dengan pola pikir yang sangat idealis. Tetapi dengan pendekatan persuasif dan demokratis, saya menegaskan bahwa untuk kondisi dalam kampus tidak perlu dengan demo, cukup dialog. Sedangkan mengenai kondisi sosial politik di masyarakat saya persilahkan untuk berdemo  asalkan dengan cara-cara yang santun dan bertanggungjawab”. Katanya bijak.
Prof. Djalil sangat ingin memiliki mahasiswa yang ketika lulus dari Untag langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan, baik di tempat kerja maupun di dalam masyarakat. Ada salah satu prodi yaitu Manajemen Perhotelan di bawah Fakultas Ekonomi yang melaksanakan Job Training nya di luar negeri selama enam bulan, sehingga ketika pulang ke tanah air mahasiswa sudah mahir berbahasa asing dan siap bekerja. Akan tetapi ia juga berharap agar mahasiswa setelah lulus mampu hidup mandiri serta menciptakan lapangan pekerjaan membangun negeri sendiri sehingga berguna bagi masyarakat sekitarnya. Dan lulusan Untag tersebar dibeberapa lembaga/instansi baik di pemerintahan maupun swasta, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Khususnya di sekitar Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, majalengka dan kuningan).
Untuk membina hubungan baik dengan mahasiswa, dosen dan karyawan Untag, Prof. Djalil mengadakan apel sebulan sekali. Apel diikuti oleh seluruh civitas akademika Untag Cirebon dengan tujuan agar program-program yang diinginkannya berjalan dengan baik sesuai Program yang direncakanan.

Pendidikan Indonesia Ketinggalan
Menurut Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM., secara umum sumber daya manusia Indonesia sebenarnya sangat bagus. Bahkan apabila dibandingkan dengan negara maju sekalipun, SDM Indonesia tidak kalah kualitas. Terbukti dari berbagai olimpiade pengetahuan yang diselenggarakan secara internasional, kontingen Indonesia selalu kembali dengan medali.
“Orang Indonesia banyak yang pintar dan menjadi dosen di perguruan tinggi luar negeri. Mereka di sini kurang mendapat penghargaan terhadap tingkat keilmuan mereka, baik secara materi maupun fasilitas serta untuk mengadakan penelitian tersedia dana yang melimpah di luar negeri. Tidak heran, kalau mereka mengabdikan ilmu dan kecerdasannya bagi bangsa lain”, katanya.
Di sisi lain, Prof. Djalil juga mengungkapkan kegalauan hatinya terhadap dunia pendidikan Indonesia. Ia mengingatkan bagaimana di masa lalu, pendidikan Indonesia sangat terkenal karena berkualitas. Malaysia adalah salah satu negara yang mengirimkan ribuan mahasiswa dan pelajarnya untuk menuntut ilmu di Indonesia. Persamaan budaya, bahasa, dan kualitas pendidikan yang tinggi adalah salah satu alasan pemerintah Malaysia mengirim generasi mudanya belajar di negara kita ini.
Pemerintah Malaysia juga tidak segan mengundang para dosen dan guru dari Indonesia untuk menularkan ilmunya di Perguruan Tinggi dan sekolah-sekolah di negaranya. Namun, siapa sangka kalau 30 tahun kemudian kondisi berbalik 180 derajat. Malaysia jauh melangkah dalam pendidikan berkualitas international dengan basis pendidikan Indonesia. Pola-pola pendidikan hasil kreasi pendidik asal Indonesia mengalami modifikasi dan metamorfosis sesuai kebutuhan bangsa Malaysia.
“Sekarang pendidikan kita ketinggalan jauh dari Malaysia. Luar biasa mereka itu. Artinya ada sesuatu yang salah  dengan kita, karena sejak dahulu pendidikan Indonesia sudah terkenal bagus. Oleh karena itu, Indonesia harus menata kembali dan mengubah mindset orang Indonesia di hati mereka. Mungkin ESQ harus dipakai untuk mengubah hati dan akhlaknya. Karena secara umum kualitas manusia Indonesia bisa bersaing. Yang menjadi masalah adalah perubahan akhlak”, tegasnya.
Ayah empat orang anak ini mengungkapkan bahwa yang diperlukan Indonesia sekarang ini adalah seorang pemimpin yang mampu memberikan keteladanan. Pemimpin tersebut harus menanggalkan seluruh kepentingan pribadi, golongan, partai, kesukuan dan kekeluargaan demi memajukan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Tidak ada alasan untuk kegagalan tercapainya kemajuan dan kesejahteraan bangsa dengan sumber daya alam yang melimpah tersebut.
“Itu yang kita cari, karena reformasi yang kita jalankan memang kebablasan. Sekarang ini, antara eksekutif dan legislatif masing-masing memiliki peran dalam menentukan perjalanan bangsa. Dan yang terjadi adalah saling  intervensi satu sama lain sehingga tujuan yang ingin dicapai malah justru tidak efektif dijalankan. Kalau bisa dibereskan, kesejahteraan tinggal tunggu waktu saja”. Tegasnya.
Untuk mengubah semua itu, jelasnya, peran generasi muda sangat besar. Prof. Djalil berharap agar dalam era globalisasi sekarang ini generasi muda Indonesia menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan kemajuan teknologi informasi (IT) yang sangat canggih membuat akses informasi mudah diperoleh dimana-mana. Artinya, sekarang ini sekat antar bangsa semakin tipis sehingga generasi muda siap tidak siap harus berhadapan dengan generasi muda bangsa lain.
“Dengan internet dan teknologi lainnya yang semakin canggih, seharusnya generasi muda mendatang mampu bersaing di dunia Internasional. Karena sebetulnya manusia itu sama pintarnya kok, orang luar negeri atau bangsa sendiri. Kalau zaman saya memang susah, tetapi sekarang ini sudah mudah semua. Sarana, peralatan dan lain-lain dalam menunjang kemajuan”, ungkapnya.
Prof. Djalil mengakui, peran keluarga sangat besar dalam menunjang karier panjangnya di dunia pendidikan. Oleh karena itu, ia sangat berterima kasih kepada istri dan anak-anaknya. Terutama kepada istri tercinta, Hj. Yuyun Sartika yang dinikahinya pada tahun 1975, yang selalu mendampinginya dalam suka dan duka. Kepada istrinya, Prof. Djalil menghadiahkan sebuah perusahaan jasa out sourcing yang bekerjasama dengan beberapa perusahaan nasional bernama PT. RAFI FAMILI. Di samping itu Prof. Djalil adalah pendiri dan pengurus beberapa Lembaga pendidikan, salah satu diantaranya adalah Lembaga Pendidikan Al-Azhar 3 Cirebon.
Kakek lima orang cucu ini, dalam nasehat-nasehatnya kepada anak dan cucunya selalu menekankan pentingnya menuntut ilmu. Ia juga menganjurkan kepada mereka untuk mempersiapkan diri membangun kemandirian sejak dini. Dengan begitu, mereka tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga tetapi juga bagi orang lain, bangsa dan negara.
“saya memotivasi anak-anak dengan selalu menekankan untuk senantiasa belajar dan belajar, mencari ilmu dan menumbuhkan kemandirian. Bahkan, kalau mampu anak-anak saya bisa berprestasi melebihi bapaknya dengan segala fasillitas kehidupan sekarang yang lebih mudah dan akses meraih prestasi lebih terbuka. Asal betul-betul dijalani dengan tekun dan semangat tinggi pasti akan tercapai”, Kata Prof. DR. H. A. Djalil Idris Saputra, Drs. MM. menutup pembicaraan.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.