Prof. Drs. John A Titaley, Th.D

Prof. Drs. John A Titaley, Th.D
Rektor Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Indonesia Mini Universitas Kristen Satya Wacana

Sejak berdiri pada tahun 1956, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga telah mengusung semangat nasionalisme dan kebangsaan. Ini nampak dalam sejarah kelahirannya setelah kepulangan para guru dari sekolah-sekolah yang ada pulang ke negeri Belanda, pengadaan guru adalah kebutuhan. Oleh karena itu, didirikanlah Universitas Kristen Satya Wacana untuk memenuhi kebutuhan guru dengan nama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Kristen Indonesia (PTPG-KI).

UKSW merupakan perguruan tinggi yang didukung oleh gereja-gereja dari Nias sampai Papua yang mengirimkan warganya dari seluruh penjuru tanah air untuk belajar di UKSW. Pada perkembangan berikutnya, UKSW tidak hanya mempersiapkan calon guru saja. Beberapa fakultas dan jurusan unggulan lainnya kemudian berdiri.

“Sebenarnya tahun 50-an itu kita baru belajar sebagai bangsa. Dengan mengundang mahasiswa dari berbagai daerah, UKSW berharap untuk mempersatukan bangsa melalui perkenalan mahasiswa. Kita berkeinginan agar universitas ini menjadi miniature Indonesia, sehingga disebut Indonesia Mini. Mahasiswa berasal dari Sumatera sampai Papua, sehingga sekaligus membina hubungan secara nasional yang humanis. Karena itu visinya ingin menciptakan pemimpin-pemimpin yang berwawasan nasional,” kata Prof. John A Titaley, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Selain itu, UKSW juga berupaya mendidik mahasiswa sebagai calon-calon pemimpin masyarakat dan gereja di daerahnya masing-masing. Juga  untuk melakukan penelitian di bidang agama, terutama hubunggan antara iman Kristen dan ilmu pengetahuan. Juga menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat untuk menciptakan komunitas akademis yang kritis, kreatif, prinsipiil dan non-konformis. Apalagi dalam lingkungan iman Kristen unsur pluralisme belum secara luas dipahami dan dikembangkkan.

Mahasiswa dan dosen yang direkrut, dengan sengaja berasal dari berbagai gereja pendukung agar supaya benar-benar tercipta Indonesia Mini. Gereja melihat semua itu sebagai sumbangan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Namun, saat tahun-tahun pertama di Salatiga sering terjadi ketegangan kecil antar suku bangsa. Namun semua itu merupakan bagian dari proses pembelajaran sebagai satu bangsa.

“Tahun 80-90an kita mulai mengenal gagasan pluralisme, makanya untuk itulah program pascasarjana dala bidang keagamaan membuka kesempatan bagi mahasiswa dari berbagai agama untuk belajar di UKSW. Kita menyebutnya Program Pasca Sarjana Sosiologi Agama. Ini memang universitas Kristen, tetapi kita mengajarkan agama dengan mempertimbangkan realitas sosial sosialnya dan tidak dilihat dari sisi doktrinalnya. Agama dalam pendidikan ini  tetap dilihat sebagai realitas kemasyarakan yang memiliki unsur-unsur budaya dan kemayarakatan di dalamnya. Bukan semata-mata soal ketuhanan saja,” tegasnya.

Tujuan dari program tersebut adalah membuat umat beragama realistik, bahwa meskipun memiliki agama yang berbeda tetapi sebenarnya tujuannya satu, bergumul tentang kehidupannya yang diyakininya melibatkan Tuhan yang Maha Kuasa. Dengan tujuan yang sama seperti itu, timbul pertanyaan kenapa harus beragama secara eksklusif tanpa mengindahkan agama lain. Oleh karena itu, UKSW mengembangkan pemahaman agama berdimensi sosial yang didengungkan sejak tahun 80-an dengan program Pasca Sarjana Sosiologi Agama.

Pihak universitas, ingin menjadikan UKSW dan Indonesia yang memiliki berbagai etnis, agama dan bahasa, untuk bertemu dan belajar hidup bersama. Semua itu akan berguna ketika mahasiswa selesai belajar, mereka mampu menjadi pemimpin-pemimpin yang memiliki pengalaman kebersamaan sebagai bangsa, baik dari sisi budaya maupun agama. Diharapkan, ketika mereka pulang ke daerah masing-masing dan menjadi pemimpin, dosen, guru, dan apapun profesi yang digeluti, wawasan tersebut diterapkan.
“Kami ingin ada yang melakukan program seperti itu dengan sengaja. Memang ada UKI di Jakarta, Petra di Surabaya, Universitas Kristen di Manado, Kupang, dan Ambon, serta Universitas Maranatha di Bandung. Tetapi kita mencoba melakukan sesuatu sebagai kontribusi umat Kristiani dalam mendukung persatuan dan kesatuan bangsa. Sejauh ini nasionalisme sangat nyata di sini lewat pertemuan intensif antar mahasiswa dari berbagai suku yang kadang berlanjut ke jenjang pernikahan. Salatiga sendiri, sekarang dikenal sebagai Kota Indonesia Mini karena kedatangan mahasiswa dari seluruh Indonesia sehingga menjadi sangat nasionalis. Apalagi penduduknya menerima kondisi tersebut,” ungkapnya.

Karakter Unggul

Menurut Prof. John Titaley, keunggulan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang menarik calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di sini sangat banyak. Sepuluh tahun yang lalu, UKSW dikenal sebagai universitas dengan fakultas ekonomi dan elektero yang unggul. Namun, peta kekuatan itu sekarang menjadi merata seiring dengan kemajuan zaman dan penambahan tenaga pendidik (dosen).

“Tetapi memang yang seperti itu musiman. Jadi kalau ditanya yang menjadi ciri khas, UKSW adalah universitas yang membimbing mahasiswa menjadi nasionalis, humanis dan pluralis. Dalam arti kita ingin alumni universitas ini berbeda dari universitas lain karena memiliki karakter unggul. Akhir-akhir ini kita mengadakan program pendidikan yang mengacu ke arah situ. Bisa dilihat, kalau ada gereja yang mendukung universitas ini memiliki banyak alumni yang menjadi pemimpin di daerahnya,” tukasnya.

Sebagai pakar pendidikan, Prof. John menyoroti masalah mendasar pendidikan di Indonesia. Menurut pandangannya, meskipun alokasi dana pendidikan mencapai 20 persen dari APBN tetapi tidak menyentuh substansi permasalahannya. Salah satunya adalah pendidikan di Indonesia belum memberikan keterampilan belajar yang mendasar atau basic learning skill. Ia mencontohkan saat menempuh pendidikan di USA, anak sulungnya yang kelas III SD mampu membuat sebuah paper walaupun hanya setebal lima halaman. Di Indonesia kemampuan ini baru diajarkan ketika anak sudah di kelas III SMA.

Namun, jelasnya, untuk memiliki kemampuan menulis paper di kelas II SD tidak semudah membalik telapak tangan. Sejak TK di USA itu, anaknya sudah dilatih membuat kalimat yang baik di sekolah. Guru-gurunya setiap hari mewajibkan anak didiknya menulis sepuluh kata yang harus dipakai membuat kalimat. Begitu masuk kelas I, mulai dilatih untuk menyusun kalimat dalam satu paragraph. Kelas II, latihan ditingkatkan dengan mencari informasi dan belajar membuka kamus, ensiklopedi dan informasi lapangan.

“Kombinasi dalam menuangkan informasi dalam kalimat dengan pengumpulan data dari berbagai sumber itulah yang dikembangkan pada saat kelas III. Sayangnya, kita tidak memiliki keterampilan seperti itu dan baru mengajarkan menulis buku pada kelas III SMA. Itu permasalahan kita, pendidikan tidak memberikan keterampilan belajar yang mendasar. Akibatnya di universitas, kita kesulitan untuk menyuruh mereka mencari informasi yang diperlukan. Mereka hanya sekadar duduk saja saat kuliah, sampai mereka menjadi sarjana berbekal hasil kuliah saja,” ungkapnya.

Dengan dana besar dari kementerian pendidikan nasional dan yang dipenuhi pakar di bidangnya, seharusnya pendidikan Indonesia menjadi lebih maju. Meskipun demikian, Prof. John tidak terlalu optimis terjadi perubahan signifikan di dunia pendidikan. Salah satu yang selalu dikritiknya adalah pendidikan agama di sekolah. Sejak akhir tahun 1960an, pendidikan agama yang diberikan di sekolah hanya untuk agama yang dianut siswa, tanpa pengetahuan agama lain. Padahal diluar agamanya, masih ada agama lain dengan kebiasaan, ritual dan pengikut yang berbeda-beda.

“Saya melihat sistem pendidikan nasional tidak mendidik anak Indonesia menjadi orang Indonesia. Salah satunya, saat belajar agama, dia hanya tahu agamanya sendiri, sehingga ketika keluar dari sekolah, dia baru tahu kalau diluar dirinya ternyata ada orang Indonesia lain yang memeluk agama berbeda. Jadi, pendidikan agama tidak menyiapkan anak Indonesia untuk hidup di tengah keragaman Indonesia. Seharusnya sistem pendidikan Indonesia membentuk anak Indonesia menjadi orang Indonesia yang beragam itu. Sayangnya, tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk mengubah sistem pendidikan nasional. Mereka harus belajar dari para pendiri bangsa yang memiliki wawasan begitu luas ketika membentuk negara ini tahun 1945,” tandasnya.

Namun, Prof. John merasakan dukungan yang luar biasa dari Pemerintah Kota Salatiga. Keberadaan kampus UKSW –dan dua perguruan tinggi lainnya- merupakan salah satu penggerak roda perekonomian kota berhawa sejuk tersebut. Karena awalnya, Salatiga hanyalah sebuah kotamadya dengan wilayah satu kecamatan saja. Tetapi sejak tahun 1992, pemerintah memperluas wilayah Salatiga dengan menambahkan 12 desa di empat kecamatan.

“Di Salatiga ada tiga perguruan tinggi, yaitu UKSW, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo yang kemudian menjadi STAIN dan STIE AMA, milik Pemkot Salatiga. Kehadiran UKSW sejak tahun 1956 telah menjadikan Salatiga sebuah kota perguruan tinggi, dengan 150 ribu penduduknya kini, termasuk 12 ribu mahasiswa. Kalau 10 ribu dari 12 ribu mahasiswa UKSW berasal dari luar kota Salatiga dikirimi uang sebesar Rp 1juta setiap bulannya, maka akan masuk uang sebesar Rp10 miliar ke kota Salatiga. Artinya, kehadiran kita juga berpengaruh terhadap perekonomian di Salatiga. Tdaklah mengherankan kalauantara  Salatiga dan Satya Wacana terdapat satu kesatuan yang sulit dipisahkan,” ungkapnya.

Kiprah Putra Papua

Prof. DR. John A Titaley lahir di Sorong 19 Juni 1950 dan ke Ambon saat berusia sembilan tahun menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Saparua, SMP di Ambon dan SMA di Surabaya. Tahun 1970 ia melanjutkan pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

“Tetapi karena kesibukan organisasi, saya baru selesai tahun 1978. Jadi saya aktif di Dewan Mahasiswa dan juga Senat Mahasiswa Fakultas Teologi UKSW dari tahun 1971-1978. Setelah selesai sarjana, saya diminta mengajar di Fakultas Teologi kemudian saya melanjutkan studi doktor di Graduate Thelogical Union (GTU) yang berafilisasi dengan University of California (UC)  Berkeley Amerika Serikat. Setelah selesai tahun 1991, saya kembali mengajar di UKSW,” tegasnya.

Kariernya sebagai pengajar di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga sangat cemerlang. Sejak menjadi dosen biasa di almamaternya tahun 1979, ia juga tercatat sebagai guru besar di berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Ia menjadi pengajar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.

Sementara di luar negeri, ia adalah Visiting Scholar pada Summer Program Advanced PastoraL Studies  di San Francisco Theological Seminary (SFTS), San Anselmo, USA, Visiting Professor pada Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, USA dan Research Fellow pada Temple University dan Louisville Presbyterian Theological Seminary (LPTS) di Louisville, Kentucky, USA dengan Beasiswa Program Akademik Recharging DIKTI.

Semua prestasi yang diraihnya, tidak lepas dari perhatiannya terhadap pluralitas dalam beragama yang bisa disejajarkan dengan Gus Dur, Frans Magnis Suseno dan tokoh-tokoh lainnya. Tidak heran, apabila pengidola Sukarno ini memiliki obsesi besar tentang pluralisme. Ia berpendapat bahwa bangsa Indonesia yang memiliki keragaman budaya, suku dan agama ini sejak dahulu sudah sangat pluralis, sehingga amat disayangkan, apabila belakangan semangat pluralisme itu semakin memudar dalam diri para pemimpin bangsa masa kini.

“Pluralisme adalah tanggung jawab bersama karena kita adalah bangsa yang sangat pluralis. Sebagai orang yang bergelut dengan teologi agama, keinginan saya adalah menghasilkan lulusan Pasca Sarjana dengan wawasan pluralistik. Karena negara ini memerlukan tokoh-tokoh agama dengan wawasan pluralisme yang luas,” ungkapnya.

Prof. John yang mengusung motto “Mengajar dengan Teladan” ini menyerukan agar lembaga-lembaga pendidikan keagamaan membuka diri untuk mengajarkan pluralisme bagi mahasiswa. Tugas lembaga pendidikan keagamaan tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa. Lembaga pendidikan keagamaan harus menyelipkan semangat pluralisme di antara ilmu pengetahuan sektarian yang diajarkan.

“Saya berharap agar lembaga-lembaga keagamaan nanti memiliki arah seperti itu. Masa depan kita ada di generasi muda kita yang menghargai pluralisme. Kalau kita tidak mendidik calon pemimpin agama yang pluralis, masa depan kita akan suram. Itu obsesi saya,” kata pria 60 tahun ini.

Menurut putra ketiga dari lima bersaudara pasangan Robert Titaley dan Lien Tho ini memiliki tugas berat mendidik generasi muda di era keterbukaan informasi. Panutan generasi muda sekarang bukan lagi guru atau orang tua, karena mereka bisa mendapatkan semua kebutuhannya melalui internet. Generasi muda sekarang menjadi lebih longgar, permisif dan lebih bebas menyampaikan pendapat-pendapatnya yang celakanya tidak hormat dan tidak memiliki tata krama menurut generasi sebelumnya.

“Memang kita hidup di era seperti itu. Menjadi tugas kita untuk menuntun mereka agar bisa memilih secara tepat. Terutama untuk menyadarkan mereka bahwa meskipun dunia ini menjadi satu tetapi kita sebagai bangsa memiliki ciri-ciri tersendiri. Kita di Indonesia harus merumuskan identitas itu,” ungkapnya.

Prof. John menyadarkan mahasiswa dan dosen di UKSW mengenai kondisi tersebut. Mahasiswa bisa belajar banyak melalui internet dan dosen harus memahami ketika informasi yang dimiliki mahasiswa lebih banyak dari dirinya. Karena internet adalah wahana bebas dan terbuka yang dapat diakses oleh semua orang.

“Misi UKSW adalah menjalin kerjasama antara dosen dan mahasiswa. Harus kita sadarkan bahwa mahasiswa bukan orang yang kosong otaknya. Oleh karena itu, dalam pertemuan di dalam kelas diharapkan terjadi dialog yang seimbang antara dosen dan mahasiswa. Karena informasi bisa didapatkan dengan membuka internet,” tegas pendeta yang ditugaskan gereja mengadakan pelayanan di bidang pendidikan ini. “Jadi saya bukan pendeta di gereja,” tambahnya.

Suami dari Ida Imam dan ayah dua anak ini mengungkapkan kebahagiannya terhadap dukungan keluarga yang sangat besar. Akibat kesibukannya yang sangat menyita waktu, bersama-sama mereka memutuskan agar sang isteri  tidak bekerja. Pasangan ini sepakat bahwa perhatian terhadap anak-anak sangat penting bagi masa depan mereka. Karena sadar, bahwa mereka hanya memiliki sisa hidup dengan anak sampai lulus SMA saja.

“Kalau dia melanjutkan pendidikan di UKSW, masih bisa bertemu empat lima tahun. Tetapi kalau di tempat lain, dia akan menjadi orang lain. Jadi karena waktunya singkat hanya sampai 17-18 tahun, makanya kalau masih ada waktu bersama mereka kenapa tidak dimanfaatkan? Kami merasa kalau dengan didampingi ibunya, mereka merasa hidup mereka menjadi lebih berarti dan mandiri. Dan kami bersyukur, setelah selesai dari UKSW anak sulung saya ke Amerika dan adiknya menyusul setelah SMA,” kata Prof. Drs. John A Titaley, Th.D.

Biodata Singkat
Nama                 :
Prof. Drs. John A Titaley, Th.D
Tempat dan tanggal lahir    :
Sorong, 19 Juni 1950
Status Pernikahan        :
Menikah dengan Ida Imam, tanggal 24 Januari 1981
Anak-anak            :
Vina, lahir 12 Mei 1982 di Salatiga;
Ivan, lahir 29 November 1990 di San Francisco
Kewarganegaraan        :
Indonesia
Keanggotaan Gereja    :
Ditahbiskan sebagai Pelayan Firman dan Sakramen pada Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Tamansari Jl. Jend. Sudirman 1 SALATIGA 50711 INDONESIA 1 Juni 1986.

Jabatan Akademik
2001 – sekarang – Guru Besar dalam Ilmu Teologi Fakultas Teologi UKSW Jl. Diponegoro 52-60 SALATIGA  50711  INDONESIA

2000 –2006 – Guru Besar Luar Biasa Sosiologi Agama di Center for Religious and Cross-cultural Studies Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Pendidikan
Th.D., Graduate Theological Union (GTU), Berkeley, dan San Francisco Theological Seminary (SFTS), San Anselmo dalam bidang Inter-Area Studies (Perjanjian Lama dan Agama dan Masyarakat)
Drs. (Sarjana dalam Ilmu Teologi), Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana
1974 B.Th. (Sarjana Muda), Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana

Pengalaman Mengajar
a. Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
2001 –     Guru Bear dalam Ilmu Teologi
1991 – 2001 Dosen Teologi dan Sosiologi
1978 – 1991 Dosen Teologi

b. Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta 1991 – 1996
Dosen Luar Biasa dalam Ilmu Teologi dan Sosiologi PPs Teologi

c. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 2000 – 2006
Guru Besar Luar Biasa dalam Ilmu Teologi dan Sosiologi  CRCS

d. Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta 2002
Guru Besar Luar Biasa PPs Agama dan Filsafat

e. Visiting Scholar (Mengajar dan Meneiliti)
1993 – Mengajar Summer Program Advanced PastoraL Studies  di San Francisco Theological Seminary, San Anselmo, USA

2006 – Visiting Professor pada Graduate Theological Union, Berkeley, USA

2009 – Research Fellow pada Temple University dan Presbyterian Louisville Theological Seminary di Louisville, Kentucky, USA dengan Beasiswa Program Akademik Recharging DIKTI

Jabatan Administratif
a.    Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
2009        Rektor
2009 – 2009    Dekan Fakultas Teologi
2007 – 2009     Kaprogdi PPs (S2 dan S3) Sosiologi Agama
2007 –     Ketua Pusat Studi Agama-Agama Asli Indonesia (PSAAI)
2001 – 2005    Rektor
1995 – 2001    Dirktur PPs
1998 – 2001    Dekan Fakultas Teologi
1991 – 1995    Kaprogdi PPs Agama dan Masyarakat
1983 – 1986    Pembantu Rektor urusan Kemahasiswaan
1978 – 1983    Sekretaris Fakultas Teologi
1977 – 1978    Ketua Umum Dewan Mahasiswa
1976 – 1977    Wakil Ketua Umum Dewan Mahasiswa
1973 – 1975    Ketua III Dewan Mahasiswa
1970 – 1972    Sekretaris Senat Mahasiswa Fakultas Teologi

Afiliasi Professional
a. Perhimpunan Sekolah Teologi di Indonesia (Persetia), Jakarta

1998 – 2002    Terpilih Ulang sebagai Ketua
1994 – 1998    Ketua
1982 – 1986    Sekretaris

b.Yayasan  Bina Darma, Salatiga
1996     – 2001 Anggota
1997     – 1986 Sekretaris

c. Institute for Advanced Studies in Asian Cultures and Theologies (IASACT) United Board for Christian Higher Education in Asia (UBCHEA), Hong Kong 2004 – Advisor

d. Yayasan Perguruan Tinggi (Yaperti) GPM, Ambon
2008 – 2010    Ketua Pembina

f. Association for Theological Education in South East Asia (ATESEA), Manila 2009 -    Executice Committee, Member.

Penghargaan    :
Alumnus of the Year dari
Graduate Theological Union, Berkeley, USA 2002.

Copyright © 2014 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.