Rudy F Subarkah

Rudy F Subarkah
General Manager Puncak Pass Resort

Resort Bernuansa Heritage yang Berguna Untuk Masyarakat

Ribut-ribut masalah pelestarian lingkungan di wilayah Puncak dan sekitarnya sebagai daerah tangkapan air, tidak melibatkan Puncak Pass Resort. Di saat sebagian pengelola resort beramai-ramai memanfaatkan seluruh lahan miliknya –bahkan kadang mengokupasi tanah negara- Puncak Pass tidak demikian. Sejak berdiri tahun 1928, pengelola menerapkan kebijakan untuk tidak sekalipun melakukan kegiatan yang dapat merusak lingkungan.

Di antaranya adalah dengan memanfaatkan sebagian dari lahan yang difungsikan untuk keperluan usaha. Sebagian besar lainnya dibiarkan menjadi hutan dan pelestarian kehidupan flora serta fauna, sekaligus menjadi landsekap yang memperindah Puncak Pass Resort. Tidak heran, di usianya yang hampir satu abad, Puncak Pass Resort tetap menawarkan keindahan dan eksotisme suasana pegunungan yang asri dan nyaman.

“Sesuai dengan visi dan misi Puncak Pass Resort, kita ingin menjadikan resort yang bernuansa heritage dan berguna untuk masyarakat. Puncak Pass sangat peduli dengan perlindungan alam bahkan bekerja sama dengan BKSDA menangkarkan rusa serta membiakkan burung langka. Bahkan dari 5,6 hektar lahan, yang kita gunakan paling cuma 10 persen, sisanya tetap dibiarkan menjadi hutan,” kata Rudy F Subarkah, General Manager  Puncak Pass Resort.

Yayasan Dharma Karya Mandiri (YDKM) sebagai Puncak Pass Resort adalah suatu yayasan yang awalnya didirikan oleh para pejuang kemerdekaan tahun 1945 yang memiliki visi “Berjuang Tanpa Akhir”. Meskipun satu per satu generasi founder yayasan meninggal dunia, tetapi semangat tersebut terus dipertahankan. Bahkan, lama kelamaan perkembangan yayasan mengarah pada bagaimana mengupayakan kesejahteraan masyarakat.

Melalui Puncak Pass Resort, yayasan telah memberikan sumbangsih yang besar kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya dalam upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Setidaknya, beberapa orang karyawan resort berasal dari masyarakat yang tinggal di sekitar resort. Bukan itu saja, para pekerja tersebut bahkan telah diturunkan dari generasi ke generasi.

“Dari segi sejarah, bisa dibilang ini karyawan warisan. Yakni dari ayah dan kakeknya yang sebelumnya juga menjadi karyawan di sini. Maklum resort ini sudah ada sejak tahun 1928 sehingga tidak heran ada yang mendapat pasangan dari sini. Dari situ kemudian anaknya meneruskan karier bapaknya, begitu seterusnya,” ujarnya. Saat ini, dengan 27 unit resort dan restoran, Puncak Pass mempekerjakan 127 orang karyawan. “Ini bisa dikatakan padat karya, karena memerlukan tenaga perawatan yang sangat banyak. Dari kamar, taman, hewan sampai hutan,” imbuhnya.

Sejarah Puncak Pass Resort, tidak bisa dilepaskan dari masa penjajahan Belanda. Para petinggi Belanda tadinya menjadikan Puncak Pass Resort sebagai sarana peristirahatan dalam perjalanan antara Bandung dan Jakarta. Infrastruktur dan kendaraan sebagai sarana mobilitas masih sangat kurang sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk melintasinya. Puncak merupakan wilayah di tengah-tengah antara kedua kota tersebut yang tepat untuk dijadikan tempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Setelah penjajahan Belanda berakhir, atas pemikiran Muhammad Yamin untuk memberikan “kail” bagi keberlangsungan Yayasan Dana Kesejahteraan Mahasiswa, cikal bakal YDKM sekarang ini. Pembelian resort oleh yayasan pada tahun 1954, selain untuk menampung dan mengkaryakan Tentara Pelajar (TP) juga dipergunakan membiayai pendidikan bagi mantan TP yang berprestasi. Hasilnya, beberapa orang yang dibiayai Yayasan pernah mewarnai kehidupan di republik ini di bidang pendidikan, kemiliteran dan lain-lain.

“Salah satunya adalah Ketua Yayasan YKDM Prof. Widagdo. Dahulu, Muhammad Yamin selalu mampir kalau sedang menuju Bandung karena jalanan masih sangat sulit. Kalau sekarang, pengabdian Yayasan sudah tidak kepada mantan TP tetapi kepada masyarakat umum. Melalui rekomendasi dari DIKTI kita juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari seluruh Indonesia. Sejak tahun 2010, yayasan berubah nama menjadi Yayasan Dana Kesejahteraan Mandiri dan tidak terfokus kepada beasiswa bagi mahasiswa saja. Sekarang lebih kepada award yang kita berikan kepada mahasiswa dan umum,” tegasnya.

Mantan Chef

Rudy Fachruddin Subarkah mulai aktif di Puncak Pass Resort sejak 1 Maret 2008, menggantikan pendahulunya Yoen Wachyu. Pria kelahiran Bandung, 19 April 1964 ini telah malang melintang di dunia hospitality industries sejah menamatkan studinya di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bandung dalam program studi Hotel Managemen pada tahun 1993.

Berbagai jenjang pendidikan dan latihan formal dalam bidang keahlian perhotelan telah diikutinya sejak tahun 1985 – 1986 yang dimulai dengan Food Production, dilanjutkan pada 1987-1988 dan terakhir pada 1992-1993 dalam program studi Manajemen Hotel. Latihan kerja dan magang dalam mempraktekan ilmu dan teori yang didapatnya dari bangku kuliah yang diikutinya sejak tahun 1986 di restoran Oasis Jakarta, Makassar Golden Hotel, Makassar, Star Ship Atlantic, Florida-Amerika Serikat, Glossy Restaurant-Bandung, Movenpick Paradeplatz Restaurant, Zurich-Swiss.

Rudy juga pernah bekerja di King’s Hotel-Palembang, Sheraton Inn, Timika, Lido Lakes Hotel, Bogor, Radisson Makassar, Makassar, Treva International Hotel Jakarta, Quality Hotel Yogyakarta dan Quality Hotel Gorontalo. Jenjang karier profesional pilihan hidupnya dimulai dari bawah langsung berhubungan dengan bidang keahlian spesialisasinya dalam food & beverage sebagai cook hingga tingkat eksekutif yang bersifat managerial umum sebagai General Manager.

“Karier saya sebenarnya Chef, tukang masak. Terus meningkat sampai sekarang menjadi GM sejah tahun 2006 di Gorontalo. Visi saya simple saja, ingin membuat semua yang dekat dengan saya menjadi senang. Bagi keluarga maupun orang-orang yang mengenal saya sebisa mungkin menjadi senang berkat kehadiran saya. Saya yakin, kesenangan yang kita berikan kepada orang lain, pasti kembali kepada kita. Kalau mau dapat cobalah memberi terlebih dahulu meskipun kecil,” tandasnya.

Saat ini, Rudy mengandalkan keikhlasan sebagai patokan masa depannya. Selama masih diberikan kehidupan oleh Tuhan semua kemungkinan bisa terjadi. Dengan dilandasi semangat ikhlas, suami Vera Napitupulu ini berharap mampu mewujudkan cita-cita dan keinginannya. Ikhlas memiliki makna yang sangat luas, mulai jujur, ridhlo dan lain-lain. “Di sisi lain, ikhlas bukan pasrah. Kalau kita miskin terus mengandalkan pasrah ya kacau. Jadi hidup adalah ibadah dan ibadah harus dijalani dengan ikhlas. Dua itu saja, sulitnya minta ampun,” imbuhnya.

Ayah satu anak yang mendapat dukungan penuh keluarga ini, sangat bersyukur atas kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan istri yang satu almamater, membuat komunikasi pasangan ini tidak terjadi hambatan yang berarti. Termasuk ketika istrinya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah kelahiran anaknya yang saat ini sudah kelas tiga SMP.

Kepada generasi muda, Rudy berpesan agar mereka terus mengembangkan diri menjadi lebih baik. Ia meyakini bahwa dengan generasi penerus yang baik, masa depan bangsa juga akan menjadi lebih baik. Asalkan generasi muda memiliki dorongan yang kuat dalam dirinya untuk maju, masa depan bangsa akan berada di tangan yang benar.

“Tetapi yang menjadi permasalahan mungkin pengaruh lingkungan sekitarnya. Generasi muda jangan dijejali dengan pikiran negative, tetapi harus optimis. Tuhan tidak akan menghancurkan dan yang merusak adalah generasi kita sendiri. Jadi tinggal bagaimana kita mengarahkannya, selama masih wajar kita anggap biasa. Sebagai orang tua, kita tinggal membimbing dan mengarahkan,” tegasnya.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.