Saiman Sholeh, MPd

Saiman Sholeh, MPd
Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang

Sepanjang Masih Bisa Bernapas Akan Berdakwah, Meskipun Hampir Dikeroyok dan Dibunuh

Tidak selamanya niat baik menuai kebajikan. Kadang tindakan-tindakan yang sesuai dengan ajaran agama pun, menurut orang lain bisa salah. Karena menghadapi manusia dengan keyakinan dan pemikiran masing-masing, persepsi pun bisa berbeda-beda. Apalagi bila manusia itu berjumlah banyak dan terkonsentrasi dalam satu tempat, mereka mudah terprovokasi dan tersulut amarahnya.

Massa yang marah secara bersamaan, seringkali kehilangan akal sehat. Apapun penjelasan yang diberikan tidak mempan, apalagi bila kemarahan tersebut disulut oleh keyakinan yang terusik. Kemarahan semakin mengganas apabila orang yang dianggap “mengusik” keyakinan tersebut berasal dari kelompok lain, lebih muda dan masih hijau, atau kurang pengetahuan. Meskipun yang disampaikan adalah kebenaran, namun kepercayaan terlanjur luntur.

“Tanggal 31 Oktober 1987, saya diusir dari perumahan karena dianggap berbeda keyakinan dengan penghuni lainnya. Ceritanya, ketika memberi ceramah, saya menganjurkan agar mereka tidak terjebak dalam kemusrikan. Mereka tidak terima karena itu adalah bagian dari kepercayaan agamanya. Ya terpaksa, setelah lima tahun tinggal di situ, saya, istri bersama anak pertama harus angkat kaki,” kata Saiman Sholeh, MPd., Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang mengisahkan perjalanan hidupnya.

Saiman Sholeh sebagai ustadz yang menyebarkan ajaran agama Islam jalan terus. Keyakinan untuk berdakwah di jalan Allah, membuat dirinya tetap pada pendirian, meskipun banyak aral melintang menghadangnya. Seperti situasi dilematis yang dihadapinya saat menjadi katib di sebuah masjid yang umatnya terbagi dua. Sebagian menginginkan azan dua kali sementara yang lain cukup sekali dalam ibadah salat Jumat.

Pertikaian terjadi bahkan ketika Saiman sudah berdiri di atas mimbar. Terjadi rebutan “mikrofon” antara kedua belah pihak, sampai-sampai ia harus menerobos di antara kaki-kaki orang yang bertikai. Dengan penuh kesabaran, akhirnya ia berhasil mendamaikan pihak-pihak yang bertikai dan ibadah berjalan seperti biasa.

Namun, rupanya peristiwa tersebut tidak terhenti sampai di situ. Salah satu pihak menyimpan dendam kepadanya. Pada suatu malam, rumah Saiman “digerebek” oleh orang-orang yang kecewa. Ia dimaki-maki dan dibanting-banting agar mengikuti keinginan orang banyak. Tetapi Saiman tidak bergeming selama tidak ada dalil yang mengharuskan itu dalam Al Quran dan Hadits. “Saya tetap keukeuh, kecuali untuk membuat KTP saya tunduk pada Pak RT dan Pak Lurah. Kalau hukum agama ya Al Quran dan Hadits,” tegasnya.

Satu minggu kemudian, Saiman diundang untuk berceramah di wilayah orang-orang yang mendatanginya. Meskipun sadar kalau itu adalah pancingan/jebakan tetapi ia tetap datang dan berceramah di depan mereka. Bahkan istrinya yang sampai “nangis-nangis” melarangnya pun tidak digubris. Sebagai ustadz yang bertanggun jawab terhadap kemaslahatan umat, ia tetap memberikan tausyiah kepada umat.

“Dengan mengucap basmalah dan meminta pertolongan Allah saya berangkat. Setelah selesai ceramah, saya diundang ke rumah salah seorang tokoh wilayah itu. Namanya Pak Muis, untuk mengadakan pertemuan dengan pemuka masyarakat. Di situ terbuka bahwa rencananya saya akan digebuki dan dibunuh. Tetapi karena saya tetap tegar dan “berani” menerima tantangan untuk ceramah, mereka akhirnya malah meminta maaf. Alhamdulilah, hingga sekarang jalinan silaturahmi tetap terjalin,” ujarnya.

Ustadz kelahiran Tangerang, 5 Mei 1955 ini membeberkan rahasia sukses dalam menghadapi orang-orang “keras” dan menantang seperti itu. Saiman sebagai ustadz mengedepankan akhlak yang baik kepada mereka. Dengan senyum, sapa, ramah, dan berusaha memahami keinginan mereka. Ia menambahinya dengan mendoakan orang-orang tersebut agar Allah memberikan hidayah-Nya. Seperti ketika sedang berkutbah dan diminta turun dari mimbar, ia jalan terus dan mendoakan orang tersebut.

“Akhirnya mereka mendapat hidayah dan saya mendapat jadwal tetap untuk kutbah. Bahkan orang yang menyuruh saya turun itu, setiap ada jadwal saya kutbah di masjidnya, malamnya nelpon dua tiga kali. Ia hanya memastikan dan mewanti-wanti saya untuk menjadi katib salat Jumat di masjidnya,” tutur suami E. Kurniyati, MA ini.

Sang istri bahkan pernah melarangnya untuk mengurus umat karena perlakuan terhadap dirinya seperti itu. Karena pelayanan yang diberikan mendapat balasan yang baik malah akan dianiaya bahkan dibunuh. “Saya jawab, sepanjang Bapak –panggilan istri kepada saya- masih bernapas tidak akan berhenti berdakwah. Alhamdulilah sampai sekarang istri tidak pernah mengeluh lagi,” tambahnya.

Menggarap Jamaah Pabrik

Saiman Sholeh, MPd, belajar agama di pesantren dari tahun 1965 sampai 1977. Tetapi ia juga melengkapinya dengan pendidikan formal dari tingkat MI hingga pendidikan pasca sarjana. Rencananya ia akan mengambil program doktor (S3) untuk melengkapi persayaratan sebagai seorang pendidik professional.

“Jadi pendidikan saya itu, dari konservatif Pesantren hingga formal seperti ini. Saya masuk menjadi pengajar di sini tahun 1993.  Kita mulai dari beberapa fakultas –Fakultas Ekonomi, Fakultas Agama Islam, Fakultas Ilmu Kesehatan, Fakultas Teknik, FKIP, FISIP dan Fakultas Hukum pada Agustus 2009, dengan mahasiswa sekitar empat ribuan. Saya ikut membidani lahirnya Fakultas Teknik, Hukum dan Fisip,” ungkapnya.

Selain itu, Saiman sejak lama aktif berdakwah di masjid-masjid wilayah Tangerang. Disamping memberikan tausiyah-tausiyah keagamaan juga bertugas sebagai khatib ibadah salat Jumat. Ia merupakan lokomotif yang menggerakkan pelaksanaan ibadah salat Jumat di lingkungan perusahaan. Karena sekitar tahun 1980-an, perusahaan-perusahaan di Tangerang belum memberikan keleluasaan bagi karyawan.

Masalahnya, dalam ajaran Islam seorang muslim diwajibkan dan tidak boleh meninggalkan ibadah. Ia berusaha untuk mengubah kebijakan tersebut dengan menyelenggarakan ibadah di lingkungan perusahaan sendiri. “Tahun 1980-an, karyawan tidak boleh jumatan di lingkungan perusahaan. Saya mencoba mengadakan konsultasi dengan majelis ulama di sekitar perusahaan serta manajemen perusahaan sendiri,” ungkapnya.

Sedikit demi sedikit, lanjutnya, perusahaan mulai mengizinkan karyawan untuk mengadakan salat Jumat. Bahkan tidak sedikit perusahaan yang tadinya hanya memberikan satu ruangan sempit, atau lapangan parkir, akhinya membangun masjid megah untuk kepentingan peribadatan karyawan. “Pabrik milik Hartati Murdaya, bahkan memberikan satu lantai untuk masjid. Setelah itu stabil, saya berikan kepada teman untuk diteruskan. Sementara saya berkeliling di perusahaan-perusahaan lain untuk berdahwah,” tuturnya.

Perbedaan adalah Sunatullah

Pada awalnya, Saiman Sholeh, MPd sangat ditentang orang tua untuk masuk Muhammadiyah. Menurut mereka, Muhammadiyak adalah organisasi keagamaan yang “berbahaya” akibat pola pemikiran yang dipengaruhi oleh didikan penjajah Belanda. Stigma yang tertanam dalam benak orang tua Islam adalah orang-orang yang menggunakan kopiyah dan sarung.

“Tadinya orang tua sangat antipati terhadap Muhammadiyah, karena beliau didikan Belanda. Akhirnya setelah mereka tahu ayat-ayat dan dalilnya, meskipun tanpa sorban dan kopiyah, tidak masalah. Hasilnya ya seperti ini, saya berdakwah sudah 35 tahun, sejak Januari 1975,” ujarnya.

Saiman mengisahkan, justru karena mendapat tentangan dari orang tua itulah yang membuatnya semakin tertarik dan mendalami Muhammadiyah. Dari situ, ia semakin tahu bahwa Muhammadiyah tidak berbeda dengan organisasi Islam di luar Muhammadiyah. Perbedaan yang ditemukannya hanya terkait dengan cara pandang terhadap agama yang dianut.

Ia menjelaskan, perbedaan antara Muhammadiyah dan organisasi Islam lain bagaikan orang membuat pagar bambu. Titik tolak awal saat membelah bambu itulah yang membedakannya, meskipun tujuannya sama-sama membuat pagar. Muhammadiyah membelah bambu dari pangkalnya, sementara organisasi diluar Muhammadiyah memulai dari ujung bambu.

“Intinya begini, kalau ada permasalahan Muhammadiyah menguraikan dari Al Quran, Hadits, dan pendapat ulama/fikih. Sementara diluar Muhammadiyah, dari pendapat ulama/fikih, Hadits dan Al Quran. Hanya berbeda pada titik berangkatnya, tetapi kalau sudah sama-sama paham, sama-sama pinter dalam menjalankan agama, ya tidak ada masalah, semua oke saja,” tegasnya.

Saiman mencontohkan, pada beberapa kegiatan yang diikutinya antara petinggi Muhammadiyah dan organisasi Islam lainnya dapat saling menerima. Mereka memahami perbedaan serta persamaan yang dimiliki sebagai sebuah keindahan dalam menjalankan agama Islam yang mereka anut. Karena perbedaan seperti dikatakan dalam Al Quran merupakan kehendak Allah, yang sebenarnya bisa dengan mudah disatukan-Nya.

“Insya Allah kalau nalar kita pelihara dengan baik, berbeda pemikiran itu tidak ada masalah. Itu kan sunatullah, saya temukan dalam hadits, Ibnu Abbas yang sahabat rasul dan Fatimah dalam menafsirkan ayat itu berbeda. Gus Dur dan Gus Solah juga berbeda dalam menafsirkan ayat, begitu juga dengan yang lain. Oleh karena itu, semakin banyak membaca, semakin luas wawasan dan kita menjadi dewasa. Saya juga sering mengisi tausiyah di masjid yang bukan Muhammadyah, mereka menerima dengan baik,” tuturnya.

Kepada generasi muda, Saiman Sholeh menyarankan agar mereka rajin belajar. Generasi muda juga harus banyak mempelajari otobiografi para pendahulu-pendahulunya. Yakni orang-orang yang sudah berkiprah dan menorehkan prestasinya dalam berbagai bidang, baik dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) maupun bidang yang lain. Semua itu harus didasari dengan semangat akhlakul karimah, tidak pernah berhenti berpikir dan belajar.

“Dalam istilah orang sana “tarkuuma si wardas” yaitu tinggalkan segala sesuatu kecuali untuk belajar. Artinya dalam setiap gerak dan langkah harus ada nilai-nilai edukatifnya. Syukuri pemberian Allah Yang Maha Esa, karena pada akhirnya kita akan menghadap-Nya. Hidup dengan mulia dan mati dalam keadaan khusnul khotimah,” ungkapnya.

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.