SELVIA

Selvia

BM Residence

DARI KEJUJURAN AKAN TERCIPTA SEGALANYA

BM 8    Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Baik dalam hal perjodohan maupun pekerjaan atau profesi yang digeluti. Tapi, tak sedikit orang yang sulit menentukan profesi apa yang tepat baginya. Profesi yang bisa membawa kesuksesan  untuk dirinya. Terkadang, orang seperti tak sengaja menemukan profesi yang cocok untuk dirinya dan membawa sukses bagi karirnya. Hal demikian terjadi pula dalam kehidupan Selvia Pasande, pemilik BM RESIDENCE HOTEL. Sebuah hotel yang eksis di kota Palopo, lokasinya di jantung kota, Jl. Anggrek EE No 10. BM RESIDENCE kian kian menjadi salah satu hotel yang tidak asing untuk skala provinsi Sulawesi Selatan. Selain karena fasilitas yang disuguhkan cukup representative, ditopang lingkungan hotel yang asri dan higienis, juga dikelola dengan management pelayanan familiar.

      Menggeluti bisnis perhotelan bukanlah cita-citanya. Bahkan jauh sebelum ia sukses di bisnis tersebut, Selvia, demikian ia dipanggil, lebih dikenal sebagai pemain sinetron dan seorang peragawati yang sering tampil mengikuti fashion show di beberapa kota. Namun, semua berubah tatkala ia menikah dan tinggal di Palopo, kota kelahirannya.  Ketika pulang ke Palopo mengikuti sang suami yang juga asli Palopo,  Selvia justru sukses sebagai pengusaha. “Awalnya, saya bingung mau melakukan apa di Palopo. Saya terbiasa di Makassar, berkarya di Makassar serta banyak memiliki channel di Makassar, tiba-tiba harus pindah ke Palopo,” kenang ibu dari enam anak ini.  Langkah awal debut bisnisnya dimulai di Makassar saat ia membuka usaha salon rias kecantikan. Selanjutnya ketika kembali ke kampung halaman kota Palopo, Selvia merintis usaha dari nol dengan memulai usaha jual beli bahan bangunan yang lokasinya lumayan jauh dari kota Palopo, tepatnya di suatu perkampungan pinggiran kota, yakni Rantai Damai. Ada cerita menarik ketika ia melakoni bisnis ini. Kala itu, kisah Selvia.

BM 5

Tempat usahanya di Rantai Damai kira-kira ditempuh dalam satu jam perjalanan dari kediamannya. Belum punya mobil ketika itu, sehingga Selvia  menggunakan angkutan umum yang di Palopo disebut dengan pete-pete, semacam angkot jika di Jakarta. Ia biasa berangkat pagi dari rumah ke tempat usaha dan kembali sore hari. Celakanya, jika hari telah sore angkutan umum tersebut sudah nyaris tak adalagi yang beroperasi. Walhasil, bila Selvia pulang ia pun suka menumpang kendaraan lain yang bukan untuk angkutan umum. Suatu ketika, saat hujan turun dengan deras, Selvia bingung harus naik apa. Sementara tubuhnya basah kuyup kena guyuran air hujan. Di tengah kebingungannya, mendadak datang dan menepi sebuah truk angkutan pasir dan menawarkan tumpangan padanya, Selvia awalnya ragu bakal ketakutan dan dilihatnya sang sopir dan keneknya laki-laki semua, namun meski ketakutan ia terpaksa ikut mobil pasir tersebut, karna tidak ada pilihan lain karna ia harus pulang ke rumah

Dengan baju basah Selvia duduk di tengah di antara sopir dan keneknya, ikut pulang bersama mobil angkut pasir. Tapi, cerita tak hanya sampai disitu. Bak kisah sinetron perjalanan pulang dengan mobil angkut pasir semakin dramatis karena lampu mobil mati, rem mobil sedikit bermasalah, dan mobil hanya bisa berjalan pelan-pelan. Alhasil jarak tempuh yang seharusnya 1 jam sampai rumah, malam itu hampir 5 jam ia baru tiba di rumah.  Tapi kejadian itu punya kesan tersendiri dan menjadi pengalaman berharga bagi Selvia dalam perjuangan Panjang merintis usaha bisnisnya dikemudian hari.  Dengan baju basah Selvia duduk di tengah di antara sopir dan keneknya, ikut pulang bersama mobil angkut pasir. Tapi, cerita tak hanya sampai disitu. Bak kisah sinetron perjalanan pulang dengan mobil angkut pasir semakin dramatis karena lampu mobil mati, rem mobil sedikit bermasalah, dan mobil hanya bisa berjalan pelan-pelan. Alhasil jarak tempuh yang seharusnya 1 jam sampai rumah, malam itu hampir 5 jam ia baru tiba di rumah.  Tapi kejadian itu punya kesan tersendiri dan menjadi pengalaman berharga bagi Selvia dalam perjuangan Panjang merintis usaha bisnisnya dikemudian hari.

BM Logo

 

BM Residence Hotel

Usia BM Residence Hotel saat ini telah memasuki tahun ke-8, tepatnya pada bulan Juli 2009 lalu. Menurut cerita Selvia, semula ia tak pernah berniat mendirikan hotel. Memiliki kavling tanah seluas 1.000 M2 Selvia malah sempat berfikir ingin membuat sekolah setingkat Taman Kanak-Kanak tapi batal karena ia menyadari dirinya tak memiliki jiwa sebagai pendidik. Setelah berkontemplasi dan berembuk dengan orang-orang dekatnya, akhirnya muncul gagasan membikin homestay. Ide pun diwujudkan, pembangunan homestay selesai dan diresmikan oleh Walikota. Dan, di peristiwa itulah itulah muncul momentum penting yang mengubah jalan hidup Selvia sebagai pelaku bisnis. Saat peresmian Pak Walikota memberi masukan kalau homestay milik Selvia terlalu mewah fasilitasnya layak seperti hotel. Pak Walikota lalu mensupport Selvia agar homestaynya diubah menjadi hotel.

“Saya ragu karena letak bangunannya masih masuk ke dalam kira-kira 100 M dari jalan poros, tapi Pak Walikota menegaskan supaya saya jangan pesimis, lalu beliau berjanji akan mengarahkan tamu-tamunya ke tempat saya,” kenang wanita yang bersuami seorang kontraktor ini. Akhirnya, seiring waktu berjalan, bisnis hotel yang dikelolanya, yang kemudian diberi nama BM Residence Hotel, berkembang pesat. Yang berkesan bagi Selvia ialah tamu pertama yang menginap di hotelnya adalah seorang mantan Menteri cabinet era Presiden Abdurrahman Wahid yakni Alwi Shihab Bersama rombongan gubernur Provinsi Sulawesi Selatan saat itu. Dan, yang lebih membanggakan lagi sesudahnya itu, beberapa kali Gubernur melakukan kunjungan kerja ke Palopo beliau menyempatkan diri dan memilih menginap di BM Residence. “Padahal pihak protokoler pemkot Palopo sudah menyiapkan hotel lain untuk beliau tapi Pak Gubernur tetap merasa nyaman beristirahat di hotel kami” Selvia mengenang kembali saat saat yang membanggakan dirinya itu.

      Waktu terus berjalan, hotelnya menjadi booming dan menjadi tujuan pilihan tamu-tamu menginap. Lalu, untuk lebih meningkatkan performa bisnis perhotelannya, Selvia membeli tanah yang berbatasan langsung di samping dan di belakang hotel miliknya. Luas tanahnya hampir 1 hektar. Rencananya, di atas  lahan tersebut akan dibangun hotel 3 tingkat, kolam renang, kamar paviliun dan aula meeting room. Pengembangan  lainnya, mengadakan kerjasama dengan agen-agen travel perjalanan. “Saat ini sudah banyak agen travel yang berniat dan menawarkan kerjasama dengan kami,” ungkapnya. Pilihan nama BM juga bukan tanpa maksud. Menurutnya, BM itu diambil dari nama ibundanya. Tujuannya supaya anak-anak bisa mengingat jasa seorang ibu yang bekerja membawa nama baik keluarga. Selain itu,  ia ingin anak-anak selalu mengingat rumpun keluarga leluhurnya, agar mereka kelak terhindar dari perselisihan-perselisihan yang mungkin saja bisa timbul di antara mereka dimasa-masa yang akan datang.

      Disinggung soal harapan, Selvia ingin ke depannya bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi, juga berharap bisa melakukan ekspansi ke luar negeri untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Ditanya tentang competitor bagi Selvia taka da masalah. Menurutnya, untuk bersaing dengan competitor sejenis, ia hanya bermain disoal harga selain tentunya dengan pelayanan yang baik nomor satu. Pronsipnya clear dan clean. Untuk meningkatkan SDM, Selvia terus memberikan pembekalan bahkan pelatihan. “Tapi yang pertama jujur dan disiplin. Yang saya terapkan ke karyawan saya yang utama itu kejujuran, karena dengan kejujuran akan tercipta segalanya” Ujar wanita yang menjadi bendahara PHRI kota Palopo ini.

a

 Perjalanan hidup

Dikisahkan Selvia ia lahir di Palopo, Sulawesi Selatan. Jenjang pendidikannya dari SD hingga SMA ditempuhnya di Palopo. Nah, sewaktu di SMA ini ia sempat menjadi peragawati. Mengikuti fashion show di berbagai tempat termasuk di Kota Makassar, dan selalu mendapat juara satu. Dari kelas 1 hingga kelas 3 SMA memperoleh predikat juara terus.

 

Terakhir sempat mengikuti fashion show di Jakarta, dan sempat masuk nominasi juara. Kemudian kuliah hijrah ke Makassar, ambil jurusan sekretaris dan ekonomi. Saat kuliah dirinya sempat pula menjadi penyanyi dan tampil di TVRI (saat itu memang hanya ada TVRI, belum ada Televisi Swasta), juga menjadi pemain sinetron dan sempat main di film Ketika Harus Memilih, sebuah karya film yang masuk nominasi penghargaan pada festival di Jakarta.

 

Ada pengalaman lain yang dilakoninya ketika kuliah di Makassar, yakni selain menjadi pesinetron ia juga nyambi kerja di sebuah majalah marketing, kemudian menjadi sekretaris di perusahaan tersebut. Lalu bekerja dibeberapa Lembaga bisnis. untuk kemudian pindah lagi bekerja di Lippo Life, sebuah perusahaan asuransi yang bereputasi internasional. Di perusahaan yang terakhir ini karirnya termasuk mujur, karena ia sering ditugaskan ke Bandung, Cibaduyut, Jakarta dan juga ke luar negeri. “Saya waktu itu punya market prospektif ke nasabah mendapat nilai tinggi sehingga saya dikirim ke luar negeri. Setelah itu, saya lulus kuliah kemudian menikah, maka karir saya di Makassar selesai,” tutur wanita yang anak pertamanya kini bersekolah di Malaysia dan anak keduanya melanjutkan study di Bali. 

 

  

Perjalanan hidup

Dikisahkan Selvia ia lahir di Palopo, Sulawesi Selatan. Jenjang pendidikannya dari SD hingga SMA ditempuhnya di Palopo. Nah, sewaktu di SMA ini ia sempat menjadi peragawati. Mengikuti fashion show di berbagai tempat termasuk di Kota Makassar, dan selalu mendapat juara satu. Dari kelas 1 hingga kelas 3 SMA memperoleh predikat juara terus.

 

Terakhir sempat mengikuti fashion show di Jakarta, dan sempat masuk nominasi juara. Kemudian kuliah hijrah ke Makassar, ambil jurusan sekretaris dan ekonomi. Saat kuliah dirinya sempat pula menjadi penyanyi dan tampil di TVRI (saat itu memang hanya ada TVRI, belum ada Televisi Swasta), juga menjadi pemain sinetron dan sempat main di film Ketika Harus Memilih, sebuah karya film yang masuk nominasi penghargaan pada festival di Jakarta.

 

Ada pengalaman lain yang dilakoninya ketika kuliah di Makassar, yakni selain menjadi pesinetron ia juga nyambi kerja di sebuah majalah marketing, kemudian menjadi sekretaris di perusahaan tersebut. Lalu bekerja dibeberapa Lembaga bisnis. untuk kemudian pindah lagi bekerja di Lippo Life, sebuah perusahaan asuransi yang bereputasi internasional. Di perusahaan yang terakhir ini karirnya termasuk mujur, karena ia sering ditugaskan ke Bandung, Cibaduyut, Jakarta dan juga ke luar negeri. “Saya waktu itu punya market prospektif ke nasabah mendapat nilai tinggi sehingga saya dikirim ke luar negeri. Setelah itu, saya lulus kuliah kemudian menikah, maka karir saya di Makassar selesai,” tutur wanita yang anak pertamanya kini bersekolah di Malaysia dan anak keduanya melanjutkan study di Bali. 

BM 6

Obsesi Ke Depan

Diceritakan Selvia, sebenarnya ia terlahir dari kedua orangtua yang berprofesi pendidik, tapi dirinya dan 4 saudaranya tak ada satupun yang kecimpung dibidang pendidikan. Semua menjadi pengusaha. Menurutnya, semua memang kehendak Allah. Kita boleh merencanakan tapi Allah yang menentukan.

 “Untuk kedepannya saya harus lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi, karena saya anak pertama dalam keluarga, saya harus memberi contoh dan menjadi panutan bagi adik-adik saya,” demikian obsesinya. Termotivasi menjadi lebih baik. Karna dia menyadari selalu ada saja orang yang apriori dengan usahanya, tapi justru hal itulah yang membuatnya terpacu untuk menjadi lebih baik.

 Dalam mendidik anak-anaknya ia menekankan bahwa dirinya akan dikatakan berhasil kalau anak-anak menjadi baik, dan bisa dikatakan sukses jika anak-anaknya kemudian menjadi sukses. apapun pilihan bidang profesinya nanti. Sukses itu bagi Selvia harus melewati banyak proses, bukan banyak protes “prinsip saya mau jadi orang sukses jangan pernah merasa sebagai orang pintar atau paling kuat, karena sehebat apapun kita, pasti membutuhkan keberadaan orang lain. Orang sukses itu pasti berpotensi kaya, sementara kaya belum pasti sukses”. Begitu nasihatnya. Dia juga menambahkan untuk senantiasa menjaga kondisi kesehatan sebagai prioritas utama dalam berkarir. :Dengan kondisi kesehatan yang selalu prima, kita mampu melakukan banyak hal yang bermanfaat baik untuk diri kita, keluarga dan orang banyak”. Tandas Selvia dengan mimic penuh spirit. Tapi dalam banyak hal, reputasi yang kini ia raih, merupakan berkat dukungan keluarga utamanya suami tercinta. Maka Selsia selalu menekankan, bagaimanapun tingkat kesibukan dari kegiatan yang kita lakoni, kita tetap memposisikan keluarga tercinta diatas segala-galanya.

   Menurut Selvia, dalam rumah tangga ia selalu merasa memiliki tanggung jawab sama dengan suami sebagai kepala rumah tangga. Tapi bersamaan dengan itu sekaligus ia memposisikan diri sebagai seorang ibu yang baik bagi anak-anaknya. Jadi fokusnya, selain sebagai pebisnis professional juga menjadi ibu rumah tangga yang baik bagi suami dan anak-anaknya. Ia selalu menghindari masalah yang timbul dari bisnis dibawa ke keluarga dan sebaliknya juga begitu, masalah keluarga dibawa-bawa ke lingkup perusahaan. “Waktunya untuk anak-anak ya untuk anak-anak, waktunya usaha ya usaha. Saya ingin buktikan pada anak-anak bahwa saya bisa mengelola usaha dan sekaligus menjadi ibu rumah tangga yang baik”. ungkap wanita yang berpesan pada .generasi muda hendaknya bisa menciptakan lapangan kerja sendiri melalui karya-karya yang produktif.[]

 

 

 

Waktu terus berjalan, hotelnya menjadi booming dan menjadi tujuan pilihan tamu-tamu menginap. Lalu, untuk lebih meningkatkan performa bisnis perhotelannya, Selvia membeli tanah yang berbatasan langsung di samping dan di belakang hotel miliknya. Luas tanahnya hampir 1 hektar. Rencananya, di atas  lahan tersebut akan dibangun hotel 3 tingkat, kolam renang, kamar paviliun dan aula meeting room. Pengembangan  lainnya, mengadakan kerjasama dengan agen-agen travel perjalanan. “Saat ini sudah banyak agen travel yang berniat dan menawarkan kerjasama dengan kami,” ungkapnya.

 

Pilihan nama BM juga bukan tanpa maksud. Menurutnya, BM itu diambil dari nama ibundanya. Tujuannya supaya anak-anak bisa mengingat jasa seorang ibu yang bekerja membawa nama baik keluarga. Selain itu,  ia ingin anak-anak selalu mengingat rumpun keluarga leluhurnya, agar mereka kelak terhindar dari perselisihan-perselisihan yang mungkin saja bisa timbul di antara mereka dimasa-masa yang akan datang.

 

Disinggung soal harapan, Selvia ingin ke depannya bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi, juga berharap bisa melakukan ekspansi ke luar negeri untuk mengembangkan sayap bisnisnya. Ditanya tentang competitor bagi Selvia taka da masalah. Menurutnya, untuk bersaing dengan competitor sejenis, ia hanya bermain disoal harga selain tentunya dengan pelayanan yang baik nomor satu. Pronsipnya clear dan clean. Untuk meningkatkan SDM, Selvia terus memberikan pembekalan bahkan pelatihan. “Tapi yang pertama jujur dan disiplin. Yang saya terapkan ke karyawan saya yang utama itu kejujuran, karena dengan kejujuran akan tercipta segalanya” Ujar wanita yang menjadi bendahara PHRI kota Palopo ini.

 

 

Copyright © 2018 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.