Surungan Sitorus

Surungan Sitorus
Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Memberikan Pelayanan Terbaik Bagi Nasabah

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondisi masyarakat menengah ke bawah di Indonesia masih memprihatinkan. Meskipun memiliki produktivitas yang bisa meningkatkan kesejahteraan, tetapi banyak kendala yang menghalangi. Yang mana, apabila potensi yang mereka miliki dapat dikembangkan, selain meningkatkan kesejahteraan juga membuka lapangan kerja.

Ironisnya, kendala yang menghalangi pengoptimalan produktivitas kalangan tersebut berasal dari birokrasi sektor perbankan yang bertele-tele. Padahal, kehadiran sektor perbankan sangat diperlukan untuk permodalan yang mereka perlukan agar produktivitas semakin meningkat. Akibatnya, banyak di antara masyarakat menengah ke bawah yang enggan berhubungan dengan pihak bank.

“Itulah yang memotivasi saya dalam menekuni pekerjaan ini. Keengganan masyarakat untuk bekerja sama dengan bank, membuat saya berpikir harus menekuni profesi ini. Saya harus mampu memberi pelayanan terbaik bagi nasabah, sehingga mereka akan memilih perusahaan yang saya pimpin untuk mengembangkan usaha,” kata Surungan Sitorus, Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda.

Selain itu, motivasi lain yang meningkatkan semangat Sitorus dalam menekuni usaha ini adalah cita-cita masa kecilnya. Saat masih berada di desa Parsambilan, Kecamatan Silaen Kabupaten –Tobasa, ia bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang perbankan. Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, setelah lulus SMA 5 Medan tahun 1985, ia menempuh pendidikan D3 di Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia melengkapinya dengan melanjutkan S1 pada Jurusan Manajemen, FE STIE Labuhan Batu.

Meskipun demikian, pria kelahiran 11 Desember 1966 ini, merasa belum puas dengan raihan prestasi selama ini. Sitorus yakin, dengan dukungan dari seluruh komponen terkait dari ruang lingkup perusahaan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik. “Saya yakin dengan profesi yang saya tekuni memiliki kesempatan untuk melahirkan prestasi yang lebih baik lagi. Asalkan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen di perusahaan ini,” tandas pria yang menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di kampung halamannya ini.

Dalam menjalani profesi, Sitorus tidak lepas dari perasaan suka dan duka. Seperti juga manusia lain, dalam berkarier masalah tersebut ditambah kendala harus dihadapinya. Ia berbagi pengalaman bahwa perasaan suka biasanya akan datang kalau mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan hasil memuaskan.

“Duka saya adalah ketika karyawan terbaik saya cuti atau sakit padahal tenaganya sangat dibutuhkan. Sedangkan kendala, seperti juga masalah yang dihadapi dunia perbankan lain adalah kredit bermasalah. Apalagi kalau jumlahnya besar dan susah ditagih,” tandasnya.

Sitorus memiliki obsesi untuk mewujudkan impian agar perusahaan dibawah pimpinannya menjadi pilihan dan solusi terbaik bagi masyarakat Labuhan Batu Utara dan sekitarnya. Untuk itu, ia telah menyusun rencana agar pelayanan perusahaan kepada masyarakat semakin meningkat dan tampil menjadi yang terbaik. “Kita harus bekerja lebih professional, supaya mampu menaikkan kepercayaan masyarakat untuk bermitra dengan perusahaan,” tambahnya.

Menyiapkan Pengganti

Surungan Sitorus merasa sangat terbantu dengan peran pemerintah terhadap profesi yang digelutinya. Meskipun secara institusi pemerintah memberi dukungan yang sangat besar, tetapi ruang gerak BPR sangat terbatas. Karena secara struktural perusahaan seperti BPR dibawah pimpinannya memiliki posisi setingkat di bawah bank konvesional.

“Pemerintah, melalui Bank Indonesia melakukan pengawasan rutin satu kali dalam satu tahun. Sebagai pimpinan perusahaan, saya mendapat ilmu dan pengalaman dari pengawasan tersebut. Semua itu bisa langsung saya aplikasikan di perusahaan melalui pimpinan setingkat middle manager, dibawah jenjang saya,” tuturnya.

Menurut Sitorus, peran besar BPR di tengah-tengah masyarakat saat ini harus diakui. Karena BPR telah menjadi solusi terbaik bagi pelaku produksi/usaha yang ingin mengembangkan usahanya, tetapi terganjal oleh ketatnya persyaratan yang ditetapkan oleh bank lain (The five C’S on Credit). “Dengan demikian, BPR telah berkiprah di tengah masyarakat karena syarat-syarat pinjaman yang relatif mudah. Ini sesuai dengan fungsi BPR untuk pertama menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito. Kedua memberikan pinjaman kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai orang yang matang dan besar dalam usaha BPR, Sitorus bertekad untuk terus mengabdikan diri dan menggeluti profesi yang dicintainya tersebut. Ia akan “berhenti” ketika sudah mampu mengkader “sahabat-sahabat-nya” – karyawan maupun karyawati perusahaan- menjadi top leader untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan yang telah dicanangkannya.

Secara khusus, Sitorus telah mempersiapkan langkah-langkah kaderisasi dan regenerasi, sebagai berikut:

Menerapkan prinsip keteladanan, sehingga tim yang dipimpinnya mampu menangkap pelajaran dari contoh yang diberikan pimpinannya tanpa harus berteori panjang lebar
Bagi karyawan atau karyawati potensial, diberi pelatihan baik berupa keterampilan dasar maupun keterampilan manajerial. Seperti pada bulan Juli lalu, sebanyak 12 orang Pimpinan Cabang dan Karyawan telah mengikuti Training Off Management di Hotel JW Mariott Medan dengan instruktur dari Jhon Robert Power (JRP) Jakarta
Sebagai pimpinan, tak segan-segan ia memberi reward bagi karyawan atau karyawati terbaik, sebagai motivasi agar selalu bekerja sungguh-sungguh dan menunjukan prestasi dan kinerja terbaik

“Untuk menyerap informasi yang lebih actual, saya memberi fasilitas berlibur bersama Keluarga Besar BPR Mangatur Ganda. Dengan demikian, keakraban antar karyawan, pimpinan dan keluarganya lebih terjalin. Nah, disela-sela liburan saya bisa melakukan komunikasi lebih intensif, sehingga saya mampu mengenali karakter sahabat-sahabat saya itu, siapa saja yang layak diberi kepercayaan untuk memimpin. Sebab bagi saya, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mencetak calon pemimpin berikutnya tanpa ada rasa tersaingi,” ungkapnya.

Sebelum Patah Sudah Tumbuh

Menurut pengamatan Surungan Sitorus, ada beberapa catatan mengenai generasi muda zaman sekarang. Pertama, ia merasa sangat prihatin melihat gaya hidup generasi muda yang mengadopsi gaya hidup penuh hura-hura dan kurang tekun dalam belajar/pendidikan. Selain itu, generasi muda juga cenderung bangga dengan pola hidup mereka yang sangat konsumtif.

Sitorus, mencontohkan bagaimana generasi muda sekarang tergila-gila dan bangga menggunakan sarana komunikasi canggih, Blackberry. Padahal, sejatinya mereka hanyalah diperbudak oleh produk-produk semacam itu. Karena di negara asalnya, penemu Blackberry masih belum puas dengan pencapaian mereka untuk menguasai dunia. Apalagi belakangan terjadi aksi boikot di beberapa negara akibat pembatasan RIM (Research in Motion), produsen Blackberry tersebut.

Disisi lain, Sitorus juga bangga dengan prestasi yang ditorehkan anak-anak muda bangsa ini. Seperti keberhasilan kelompok mahasiswa ITS Surabaya menjuarai ”Festival Mobil Hemat Energi” di Malaysia beberapa waktu lalu. Bahkan di bidang olimpiade science, pelajar Indonesia berkali-kali meraih medali emas, perak, dan perunggu.

“Dengan kondisi tersebut, saya masih mempunyai keyakinan bahwa mereka mampu membawa ‘Tongkat Estafet’ kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Hal ini dapat dicapai dengan lebih menitikberatkan pada peran ‘Generasi yang lebih tua’, yaitu dengan memberi mereka keteladanan. Mari kita rangkul mereka supaya komunikasi lebih lancar karena ‘Satu aksi lebih dari seribu teori’. Begitu,” katanya.

Sitorus sangat yakin bahwa bangsa Indonesia bisa memercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Asalkan dengan bimbingan, dukungan dan perhatian penuh dari generasi sekarang, mereka mampu menjadi nakhoda bangsa ini. Di sisi lain, generasi tua harus mampu menstranfer ilmu, akhlak dan moral yang dimiliki. Demi generasi muda, mereka harus mampu menahan diri untuk tidak korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), anarkisme dan hal-hal buruk lainnya.

“Generasi tua pasti akan berlalu seiring waktu, maka mari kita mempercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Kalau perlu kita ubah peribahasa lama, ‘patah tumbuh hilang berganti’ menjadi ‘Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti’,” tegasnya.

Sedangkan kondisi Indonesia sendiri, menurut prediksi Sitorus, masih akan mengalami krisis ekonomi sekali lagi. Pendapat ini dilandasi dengan situasi global seperti terjadinya bencana di berbagai negara yang menyebabkan kenaikan harga pangan dunia akibat kegagalan panen dan rusaknya infrastruktur. Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang kontra produktif seperti konversi minyak tanah ke gas, pengumuman kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil tangal 16 Agustus 2010, dan lain-lain, semua bermuara pada satu hal yaitu kenaikan harga-harga.

“Indonesia akan kembali dihantam krisis ekonomi babak kedua setelah tahun 1997. Tetapi dengan kondisi sekarang, Indonesia masih bisa tertata dengan baik meskipun dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak. Bidang yang harus diproritaskan adalah sektor riil yang benar-benar ‘Bersentuhan dengan masyarakat yaitu pelaku ekonomi kelompok menengah dan kecil’,” tuturnya.

Sitorus telah membuktikan bahwa sektor ekonomi kelompok kecil dan menengah terbukti mampu bertahan di tengah krisis ekonomi. Ia mengingatkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar bertumbangan pada saat krisis moneter 1998, tetapi tidak berarti apa-apa dengan ekonomi kelompok kecil dan menengah yang mampu bertahan dengan baik.

“Semangat itu harus dimiliki oleh generasi muda untuk tetap bertahan di tengah deraan krisis. Pesan saya, raih kesempatan di masa muda, belajarlah dengan sungguh-sunguh, bertemanlah dengan seluruh lapisan masyarakat, gunakan mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkan masa sehat sebelum masa sakit, TAKE THE CHANCE,” kata pria yang berharap pemerintah memberi kemudahan untuk perijinan membuka usaha penukaran uang (Money Changer) ini. “Karena hingga hari ini, belum dapat terwujut selama BPR berdiri di Labuhan Batu Utara,” tambahnya.

Sitorus sangat bersyukur, dalam menjalani pekerjaan mendapat dukungan sepenuhnya dari keluarga. Anak dan istrinya sangat memahami profesi yang ditekuninya dengan menunjukkan sikap positive thinking meskipun ia sering terlambat pulang ke rumah. Sambutan keluarga tetap hangat karena mereka memahami apa yang dikerjakan oleh ayah dan suaminya untuk kepentingan mereka juga.

“Begitu sampai di depan pintu, anak-anak berebut membawa tas kerja sedangkan si ibu menyediakan air minum untuk saya. Karena anak-anak baru beranjak dewasa, sehingga belum terlihat apakah mereka berminat pada profesi saya atau tidak. Untuk memotivasi mereka saya berusaha menanamkan pengertian, bahwa hanya dengan ketekunan, kerja keras dan kejujuran kita akan menjadi orang sukses. Apabila anak meminta sesuatu, saya tidak langsung memberikan, tetapi saya beri tugas terlabih dahulu. Misalnya memijat kaki dengan hitungan sampai 50 kali, supaya mereka paham bahwa segala sesuatu diperoleh melalui sebuah upaya,” tegasnya.

Biodata singkat

Nama : Surungan Sitorus
Tempat tanggal lahir: Tobasa, 11 Desember 1966
Pekerjaan: Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Riwayat pendidikan:
SD Negeri Parsambilan, tahun 1978
SMP Negeri Silaen, tahun 1982
SMA Negeri 5 Medan, tahun 1985
D3 Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Strata 1, STIE Labuhan Batu – Ekonomi/Manajemen

Riwayat Pekerjaan
Tahun 1989 – Marketing koperasi simpan pinjam (selama 2 tahun)
Tahun 1991 – Marketing BPR Mangatur Ganda
Tahun 1996 – Pimpinan Cabang PT BPR DIORI GANDA, Indra Pura – Asahan (SUMUT)
Tahun 1997 – Pimpinan Cabang PT BPR MANGATUR GANDA, Cabang Aek Nabara Labuhan Batu SUMUT
Tahun 1998 – Direktur Operasional PT BPR Mangatur Ganda, Aek Kanopan Labuhan Batu Utara
Tahun 2000 – Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda s/d sekarang

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.