Susanto Ali

Direktur Utama PT Ciptalestari Ideanusa/ Exatex

Irasional bila kita harus Mengemis, Lakukanlah dengan lebih baik lagi. Analisa Kelebihan dan Kelemahan kita

Pasca krisis moneter melanda perekonomian dunia dan sangat dirasakan di Indonesia, dunia bisnis nyaris runtuh. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang terpaksa melakukan PHK besar-besaran untuk mencegah kebangkrutan. Dampak krisis masih dirasakan selama beberapa tahun kemudian karena pemulihan pasca krisis sangat lamban.

Akibatnya, likuiditas pasar sangat rendah sehingga banyak transaksi yang tertunda. Pemilik produk terpaksa harus “menjajakan” dagangan dari pintu ke pintu dengan system pembayaran terhutang. Celakanya, di saat hutang jatuh tempo pembeli akan berusaha mengulur-ulur waktu pembayaran dengan mencari gara gara.

“Tahun 1999, saya menjajakan dagangan dari pintu ke pintu di pasar Tanah Abang dari blok A sampai blok F. Saya sampai mengemis order pada pelanggan, begitu juga dengan tagihannya harus mengemis baru dibayar. Irasional dengan itu, saya membuat perbandingan kenapa di pabrik kain lain tidak begitu. Kemudian saya studi analisis kelebihan dan kelemahan produk saya. Ternyata di pabrik saya lebih banyak kelemahannya daripada keunggulannya, sehingga saya mencari guru-guru untuk menganalisa ini,” Susanto Ali, Direktur Utama PT Ciptalestari Ideanusa/ Exatex

Menurut Santo, urusan mengelola pabrik tekstil yang memproduksi kain seragam dan batik merupakan amanah orang tua, Muhasan Ali dan Tan Giok Khim. Keluarganya sudah mengelola industri ini sejak dirinya masih berada dalam kandungan. Saat itu, ibunya sangat terkenal sebagai pekerja keras dan pakar celup kain di daerah Karet Kuningan. Sayangnya, keahlian tersebut tidak didukung oleh mesin yang mumpuni karena keterbatasan modal dan tempat, meskipun sangat memahami know how dalam menciptakan produk bermutu.

Santo sangat menyadari bahwa dalam dunia industri harus memperhatikan supporters yaitu 5 M (material, mesin, manusia, market dan modal). Terhadap kelima hal tersebut, seorang pengusaha harus menerapkan disiplin tinggi dan akurat dalam bertindak. Bagian per bagian harus saling mendukung dengan harmonis satu sama lain.

“Saya belajar dari guru-guru saya tentang segala hal. Sejak itu pengetahuan saya mulai terbuka. Mereka juga memberikan nasihat dalam pemilihan mesin misalnya yang menganjurkan untuk menggunakan mesin Jerman dibandingkan mesin lainnya. Akhirnya saya pilih dan beli mesin tekstil dari Jerman dengan keunggulan setelah dicuci kain tidak susut dan tidak kusut, warna tidak mudah pudar, Bahkan kain produksi kita tidak menyebabkan iritasi pada kulit yang sensitive sekalipun pada kulit bayi,” kata pria dengan prinsip kerja jujur, adil, bijaksana, setia, tabah dan sederhana ini.

Karyawan adalah Perhiasan

Susanto Ali saat ini mempekerjakan 120 orang SDM di pabriknya. Bungsu dari tujuh bersaudara ini terus meningkatkan keterampilan karyawan. Menurut pria kelahiran Jakarta, 13 April 1974 ini, sebagai pucuk pimpinan perusahaan ia tidak pernah menerapkan PHK kecuali terjadi kasus kriminal.

“Karyawan saya anggap sebagai perhiasan kita. Karena jelas saya tidak bisa hidup tanpa mereka. Skill mereka pun terus dipoles dari yang masih mentah sampai mereka ‘matang’. setelah matang kita tawarkan untuk usaha mandiri. Saya menerapkan prinsip bahwa ketika di pabrik ini kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi,” kata suami Diyan Wahyuni ini.

Dalam memajukan pabrik, ayah dua orang putri ini, memperbarui mesin-mesin yang dimiliki dengan mesin yang mendukung penghematan air, listrik, SDM dan chemical. Dengan mengadopsi mesin-mesin yang sangat efisien tersebut ia berhasil mengurangi biaya tinggi sekaligus meningkatkan produktivitas. Semua itu untuk mendukung target produksi, yang terus meningkat setiap tahun.

“Saya berkesimpulan bahwa industri hanya bisa hidup dari repeatabilitas order, bila tidak ada repeatabilitas order industrinya akan pendek umur. Untuk mendapatkan repeatabilitas tersebut, kita harus menjamin kepuasan pembeli. Supporters yang berbisnis dengan kita tidak perlu memakai helm alias tidak akan diketok harganya atau dianiaya. customers juga boleh compare membandingkan dengan produk serupa di pabrik lain, inspeksi proses pemesanan mereka dan lain-lain, sesuai UU Anti Monopoli,” tegasnya.

Dalam menyikapi ketatnya persaingan, Susanto Ali selalu berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian. Termasuk setiap kesulitan yang dihadapinya dengan belajar berpikir positif. Ketika krisis katun akibat ulah spekulan, ia dengan cepat belajar untuk beralih memproduksi kain seragam berbahan T/R . Yang jelas, untuk mempertahankan kualitas agar lebih baik lagi ia mengandalkan mesin-mesin Eropa dengan label GmbH atau AG. Sampai-sampai kalau bukan GmbH/ AG saya tidak confident. Jadi mesin-mesin pabrik ini mayoritas dari Jerman semua. Saking fanatiknya sampai saya bersumpah tidak akan naik mobil Eropa sebelum mayoritas mesin-mesin saya buatan Eropa,” tuturnya.

Santo sadar, bahwa sebuah pabrik tidak bisa dilepaskan mata rantainya dalam produksi. Mulai dari bahan baku yang harus dipilih dan dibeli sampai finishing processing yang cukup complicated semua terhubung dan saling tergantung satu sama lain. Pabrik tekstil juga tergantung pada kredit perbankan untuk membiayai pembelian teknologi maupun biaya produksi.

“Selama ini, perkembangan perusahaan cukup baik. Alhamdulilah tetap jalan, mesin semuanya jalan, karyawan bekerja dengan baik, biaya ter-cover dari penjualan dan lain-lainnya. Dalam tekstil itu ada moto bahwa selama masih ada peradaban tentu masih ada yang menggunakan kain. Bagaimana pun sepinya pasar tentu ada kain yang sedang laris di pasar . Dengannnya kita lengkapi fasilitas permesinan produksi kita. We don’t need too smart, what we need is reality.

Gempuran Produk China

Saat diminta menangani pabrik oleh ayahnya, Santo memiliki visi untuk menyehatkan perusahaan di bidang keuangan, lingkungan dan lainnya. Menjaga dan meningkatkan qualitas produk. Menjaga dan meningkatkan volume output produksi, yang otomatis kita mendapatkan efisiensi dan penghematan biaya produksi. Melakukan dengan lebih baik lagi untuk segala hal yang positif.

Perlahan namun pasti, pabrik berkembang menjadi sehat dalam keuangan dan produknya mulai dilirik pasar. Yang namanya kepercayaan itu tidak boleh minta dipercaya, kepercayaan itu menunjukkan sikap dan penilaian supporters kepada perusahaan kita,” ujarnya.

Menurut Santo, dibukanya pasar bebas yang memungkinkan segala macam produk dunia masuk ke Indonesia justru membawa keuntungan tersendiri. Ia mencontohkan bagaimana produk-produk tekstil asal China yang membanjiri pasaran justru membuat pengusaha Indonesia introspeksi diri. Bagaimana pasar global telah mengancam industri dalam negeri sehingga lebih sadar akan masa depan mereka sendiri.

“Kalau tidak digempur produk China kita tidak sadar, lengah. Malah saya berharap suatu saat kita bisa ekspor ke China. Karena saat ini semua negara mengemis ke China bahkan negara maju seperti Italia sekalipun. Sebenarnya kalau mau Indonesia bisa menjadi negara yang maju asalkan semua orang bekerja, mendapat gaji, punya tabungan sehingga produk apapun akan memiliki pangsa pasarnya. Semua laku karena Indonesian people is the most consumptive people in the world,” tegasnya.

Berbicara mengenai cita-citanya, Susanto Ali mengungkapkan secara sederhana. Ia menginginkan bagaimana kedua putrinya mendapatkan perlakuan yang sama seperti orang tuanya memperlakukan dirinya. Misalnya, ia akan memberikan sebuah restoran untuk anak pertama sebagai ladang usaha. Sementara anak kedua akan mendapatkan sebuah perkebunan sebagai tumpuan masa depan.

“Saya tidak banyak menuntut ini itu, karena saya ini generasi kedua di perusahaan ini. Saya juga tidak mengharuskan anak-anak saya untuk mengelolanya kecuali putri putri saya sendiri yang terpanggil untuk mengelolanya . Makanya saya harus objektif memilih di antara anak-anak saudara saya atau keponakan-keponakan yang benar-benar mumpuni mengendalikan perusahaan ini. Kami kan bertujuh, sehingga dari belasan cucu orang tua saya harus dilihat siapa yang mampu, berkualitas dan mumpuni. Artinya harus mau berkotor-kotor dan berpanas-panas di pabrik ini,” tegas Santo.

Santo hanya menegaskan bahwa keputusan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas produk perusahaan telah final. Bahwa tekstil produksi PT Ciptalestari Ideanusa/exatex adalah tidak susut, tidak kusut, tidak menimbulkan iritasi kulit dan tidak berubah warna. Keputusan tersebut merupakan hasil riset dengan menempatkan diri sebagai konsumen sehingga memahami dengan baik kebutuhan mereka.

“Jadi tidak asal produksi dan jual saja, namun tempatkan diri kita sebagai pembeli dengan empati. Bila kita produksi asal asalan sebenarnya yang rugi bukan hanya pembeli. Namun produsen yang rugi duluan karena pembeli tidak balik lagi. Simple saja, saya tanamkan kain yang kita kirim ke pasar tidak boleh balik namun ordernya harus balik. Bahwa semakin simple akan semakin sedikit kita membuat produk gagal,” ujarnya.

Selain itu, dengan tetap mengandalkan Pasar Tanah Abang untuk melempar produknya, justru permintaan meningkat setiap tahun. Apalagi sejak ia lebih memfokuskan diri pada pembuatan kain seragam dan produk batik. Tanah Abang itu highly competitive and the market place to be. “Di sana multi etnis, dari China, Arab, Padang dan lain-lain. Semuanya memiliki jaringan di seluruh daerah di Indonesia. Jadi kita masuk Tanah Abang berarti produk kita disebarkan di pasar-pasar di seluruh Indonesia dan manca negara. Saya pelajari, industri tekstil yang masuk ke Tanah Abang hartanya tidak berkurang. Itu saja pedomannya,” akunya.

Kepada generasi muda, Susanto Ali berpesan agar bekerja lebih baik lagi, memiliki sifat prihatin dan peduli terhadap sesama. Rela berkorban untuk kepentingan yang lebih luas. Apabila sikap sikap itu dimiliki generasi muda tentu kesejahteraan bangsa tinggal menunggu waktu. Dengan nilai-nilai yang dimiliki membuat bangsa Indonesia akan tumbuh menjadi sebuah negara dengan masyarakat yang semakin baik. Dari kebaikan-kebaikan itulah yang membuat penyelenggaraan negara menjadi maksimal dan efisien. “Tidak ada yang instant dalam dunia ini, karena kalau instant dapatnya tentu instant pula lenyapnya. Jelas, semakin lama kita mendapatkan tentu semakin lama pula kita lenyapnya. Kita harus kembali ke siklus alam,” kata Susanto Ali.

 

Copyright © 2016 Profil Indonesia | kisah sukses – profil daerah- profil top – biografi – company profile – profil sukses.