Tag: agar

Feni Desnawai

Feni Desnawai
PT Awana Travel

Dari Perawat Menjadi Pemilik Perusahaan Travel

Sudah menjadi takdir manusia untuk menghadapi tantangan dalam menjalani hidup. Besarnya hambatan membuat manusia menjadi sangat bergairah untuk “menaklukkan” tantangan tersebut. Di situ, merupakan ujian bagi manusia untuk mengukur seberapa besar kemampuannya dalam menghadapi beratnya kehidupan. Kesuksesan, sangat ditentukan oleh ketangguhan dan kemampuan dalam menyiasati tantangan.

“Saya awalnya lulusan perawat dari Bengkulu dan bekerja di rumah sakit Pelni selama empat tahun. Selama empat tahun, saya senang mengikuti tantangan ke sana-sini. Saya masuk program D1 Akuntansi Komputer tetapi belum selesai sudah saya tinggal karena lulus seleksi di LAN. Tetapi susah kuliah di LAN sambil bekerja sebagai perawat di rumah sakit, apalagi kalau shift malam sehingga saya terpaksa mencari pekerjaan baru,” kata Feni Desnawai, pemilik PT Awana Travel.

Akhirnya, Feni berhenti dari rumah sakit dan berkarier sebagai tenaga honorer di sebuah perusahaan. Meskipun itu berarti terjadi penurunan status dan pendapatan, tetapi ia sangat bersyukur karena bisa melanjutkan pendidikan dengan lancar. Pendidikan di LAN yang cukup berat berhasil diselesaikannya tepat waktu pada tahun 1994. Satu tahun kemudian, ia dipindahkan ke bagian akuntansi yang selama 19 tahun terakhir ditekuninya.

Bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya, membuat Feni memutuskan untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci. Sepulangnya dari tanah suci, anugerah yang lebih besar diterimanya. Allah mengirimkan H Nandang Akasah sebagai suami yang menjadi imam dalam hidupnya. Sebagai ungkapan rasa syukur, keduanya melakukan ibadah umrah bersama-sama.

Namun, sebelum berangkat ke tanah suci, Allah menguji Feni dengan sakit yang cukup parah. Ia pasrah menerima segala cobaan yang datang dan di depan Kabah memanjatkan doa bagi kesembuhannya. Selain itu, ia juga memanjatkan doa agar hidupnya tetap memberikan manfaat bagi orang lain. Doa yang dipanjatkan dengan penuh kepasrahan –apalagi di depan Baitullah- benar-benar sangat mustajab.

“Saya dipertemukan dengan orang Indonesia di mana saya membeli paket penyelenggaraan umrah kepadanya. Dia menyarankan agar saya membuat travel yang saat itu belum terpikirkan sama sekali. Kami sangat awam bagaimana membuat travel. Bahkan suami saya bilang bahwa kami belum punya dana untuk itu. Orang itu tetap berkata, sudahlah bikin saja dulu PT-nya,” kisahnya.

Setelah sampai di Indonesia -dengan dukungan suami- Feni memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan. Dengan mengusung nama PT Awana Travel –meskipun tidak paham sama sekali dengan bisnis tersebut- ia menghadap notaris pada tanggal 13 Agustus 2004. Ia mengurus seluruh perizinan perusahaan seorang diri karena ingin belajar dari bawah sekaligus mencegah terjadinya penipuan. “Saat itu sudah ada 18 orang mendaftar tetapi semuanya perempuan sehingga terpaksa saya oper ke travel lain,” imbuhnya.

Tahun 2005, Feni telah mengantongi seluruh izin yang diperlukan untuk mengoperasikan perusahaan travel. Meskipun harus mengontrak kantor dan terpaksa harus “nombok” antara 600 – 1000 dolar setiap keberangkatan, ia tidak berputus asa. Kerugian terus dialaminya sampai tahun ketiga ia menjalankan usaha tersebut. Semangat untuk memberikan yang terbaik bagi tamu Allah terus dipeliharanya sehingga hitungan untung rugi tidak terlalu dipikirkannya.

“Saat itu masih ada subsidi dari suami yang kebetulan wiraswasta di bidang konstruksi. Kepada suami, saya meminta waktu dua tahun untuk memulihkan semuanya. Saya baru sadar, bisnis pariwisata itu modalnya besar, tidak cukup Rp200-300 juta,” ungkapnya. Tetapi tanggung jawabnya sebagai pemilik usaha tidak menyurutkan langkahnya untuk memberikan hak-hak bagi karyawan seperti gaji dan THR. “Bahkan THR dari kantor, saya bagikan kepada mereka. Itu yang saya utamakan,” tambahnya.

Menurut perempuan yang tidak merasa hina dan malu naik ojek ini, setiap kerugian yang dialami diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia yakin, selama yang dijalaninya tidak melenceng Allah pasti akan memberikan jalan terbaik baginya. Dengan keyakinan itu, perlahan namun pasti usahanya mulai berjalan. Banyak jemaah yang mempercayakan urusan haji dan umrah kepada perusahaan miliknya. “Apalagi kalau saya ikut dalam rombongan, jemaah sangat senang. Karena kalau ada apa-apa saya langsung action,” ungkapnya.

Sayangnya, tidak setiap keberangkatan rombongan Feni bisa menyertainya. Kesibukan di kantor tempatnya bekerja sangat menyita waktu sehingga tidak setiap saat ia bisa mengajukan izin cuti. Ia mengakui bahwa dirinya masih belum bisa fokus di Awana karena terikat dengan perusahaan tempatnya bekerja. “Masih sangat sibuk di kantor. Pokoknya, yang penting saya memiliki komitmen dan tanggung jawab sebagai istri, ibu, karyawan dan titipan amanah berupa Awana ini,” katanya.

Dengan kesibukan seperti itu, Feni tetap harus bersosialisasi dengan keluarga. Solusi untuk mengatasi kesibukan yang sangat menyita waktu tersebut, ia melakukan semuanya dengan penuh disiplin. Ia merencanakan segala kegiatan hariannya bahkan ketika baru bangun tidur. Semua itu dilakukan dengan disiplin, jujur dan dibicarakan secara terbuka dengan suaminya. Ia juga “mengandalkan” saudara-saudara iparnya ketika harus meninggalkan anak semata wayangnya untuk bertugas mengantarkan jemaah.

“Saya sering tidak ada pembantu, sehingga harus dengan ipar. Pokoknya, intinya disiplin karena memang berat untuk sukses, harus bekerja keras. Meskipun capek, setiap malam saya harus membuka email. Paling tidak, sambil memasak selama sepuluh sampai lima belas menit harus menyalakan komputer. Bunyi SMS saja saya langsung terbangun, karena sudah terbiasa. Semua karena tanggung jawab saya, kewajiban saya terhadap hak-hak jemaah yang seharusnya mereka terima,” ujarnya.

Tidak Pernah Beriklan

Selama mengoperasikan PT Awana Tour & Travel, Feni Desnawai tidak pernah memasang iklan. Jemaah yang puas dengan pelayanan PT Awana dengan senang hati akan mempromosikan perusahaan kepada keluarga, sahabat atau teman-temannya. Promosi model ini terbukti ampuh “menggaet” jemaah sehingga jemaah yang menggunakan jasa perusahaan datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kita tidak pernah beriklan, promosi benar-benar hanya dari mulut ke mulut. Dan untuk menghargai jemaah yang telah mempromosikan kita, mereka direkrut sebagai marketing dengan imbalan yang memadai. Itu selalu kami berikan meskipun secara operasional kami harus nombok. Yang penting, bagaimana caranya kita menciptakan network dari jemaah di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Semua itu dilakukan sebagai cara untuk memegang komitmen dengan apa yang telah dijanjikan. Untuk memastikannya, Feni terjun langsung dalam menangani jemaah. Karena jasa yang ditawarkan perusahaan adalah servis atau pelayanan, ia harus tahu betul bahwa semua berjalan dengan baik. Meskipun status sebagai pemilik perusahaan, Feni tidak segan-segan untuk mengantar atau menjemput jemaah di bandara.

Bahkan, saat mendampingi jemaah, Feni “rela” turun ke dapur untuk membuatkan minuman bagi jemaahnya. Kalaupun tidak mendampingi jemaah, ia selalu mengontrol keberadaan mereka dari tanah air. Karena ia ingin, semua berjalan dengan baik sesuai apa yang dijanjikannya. “Saya orangnya saklek, kalau bilang A ya A, tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi karena itu, jemaah suka mencari-cari saya, karena dianggap memberikan rasa nyaman. Bahkan sebelum mendaftar mereka bertanya dulu, ‘Feni-nya ikut nggak.’ Mereka ingin bareng saya jalannya,” ungkapnya.

Kedekatan seperti itulah yang membuat usahanya semakin maju. Terbukti, hingga bulan Agustus 2010 tercatat 300 jemaah telah diberangkatkan ke tanah suci. Semua itu dilakukan Feni dengan keyakinan bahwa rezeki memiliki garis masing-masing dari Allah, sehingga ia tidak takut bersaing dengan perusahaan lain. Meskipun sering mengikuti konsorsium pemberangkatan jemaah, namun tidak pernah sekalipun menyuruh anak buahnya untuk mengajak jemaah dari perusahaan lain bergabung di PT Awana.

Bagi perempuan kelahiran Muko Muko, 17 Desember 1964 ini, persaingan malah menjadi tantangan untuk menjadi maju. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana perlakuan perusahaan lain sebagai pesaing yang menzhaliminya. Semua diserahkan kepada Allah sebagai pemilik rezeki. Landasan keyakinan tersebut membuat langkahnya tidak terbendung oleh hambatan “kecil” seperti itu.

“Kalau kita memikirkan orang lain kapan kita akan maju. Kalau perlu kita bergandengan bukan malah saling sikut. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Dan menyelenggarakan perjalanan haji dan umrah bukan mencari rezeki semata. Pengalaman saya sembuh dari kanker di tanah suci, membuat saya ingin orang lain juga bisa ikut menikmati. Itu saja,” tandasnya.

Menurut pengamatan Feni, setiap tergabung dalam konsorsium, harga dari perusahaan miliknya selalu lebih murah. Meskipun demikian, ia tidak ingin jemaah pindah ke perusahaannya karena melihat harga murah tersebut. Tetapi ia tidak akan mampu mencegah kepindahan jemaah seandainya alasan yang dikemukakan seperti mukena atau kopor PT Awana lebih bagus. “Itu saya tidak bisa mencegahnya. Kalau untuk harga, di konsorsium kami lebih murah. Untuk haji bisa 6500 dolar sementara yang lain 7000 dolar,” tambahnya.

Semua itu dilandasi niat Feni untuk berbagi pasca kesembuhan dari kanker yang menggerogotinya. Setelah berhasil bebas dari kanker berkat doa-doanya di tanah suci, ia mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama. Saat ini yang paling diinginkannya adalah hingga akhir hayatnya bisa melayani jemaah dengan baik. “Setiap kali ke tanah suci, bukan doa meminta harta berlimpah yang saya panjatkan. Tetapi memohon kesehatan dan kesempatan untuk datang lagi dan lagi ke tanah suci. Saya tidak ingin Awana menyusahkan orang lain, itu prioritas saya,” kata perempuan mandiri dan sederhana ini.

Berjiwa ‘Pembantu’

Feni Desnawai terus melihat ke depan demi kemajuan PT Awana Tour & Travel. Ia ingin lebih banyak membantu orang lain mewujudkan keinginan untuk pergi ke tanah suci melalui perusahaan miliknya. Untuk itu sebisa mungkin ia tidak menetapkan harga yang tinggi untuk pelayanan perusahaan. Yang penting, dengan harga murah ia tidak terus-terusan “nombok” tetapi mampu memenuhi kewajiban kepada karyawan.

“Saya merintis Awana Konveksi untuk keperluan mukena dan kopor jemaah. Mungkin itu salah satu sampingan Awana, selain bisa mengurangi biaya produksi juga memberikan penghasilan tambahan. Kita tidak berbicara profit yang penting positif buat perusahaan kita. Karena kalau hanya ditipu sih saya sudah kenyang, tetapi saya nggak mau pusing memikirkan semua itu karena yakin Allah akan memberikan rezeki yang lain,” tegasnya.

Feni yakin segala peristiwa memiliki hikmah tersendiri bagi orang yang berpikir positif. Ia mencontohkan, seandainya tidak diberi penyakit kanker dalam tubuhnya, belum tentu dirinya seperti sekarang. Semua itu harus disyukuri dan berpulang kepada diri masing-masing, adakah keinginan untuk berusaha atau tidak.

“Kita berusaha baik saja belum tentu mendapat balasan yang baik juga. Ketika pergi haji tahun 2008, saya ikut bersama jemaah bahkan menyediakan teh manis untuk mereka. Saya tidak apa-apa dibilang berjiwa pembantu, karena di rumah juga ngepel, nyapu, masak dan lain-lain. Semua kalau dilakukan dengan senang hati pasti terasa ringan,” tambah sulung dari dua bersaudara pasangan Rustam Effendi (Alm) dan Hj Rakimah ini.

Feni sangat  bersyukur memiliki keluarga yang sangat mendukung aktivitasnya. Suaminya, H Nandang Akasah yang menikahinya pada tahun 2001 mengerti dan memahami betul dengan kegiatan sehari-harinya. Semua terjadi karena sejak awal sudah menjadi komitmen yang telah disepakati bersama. “Saya sangat bersyukur punya suami yang mau mengerti dan memahami saya. Setelah lima tahun, baru dia terlibat mengurusi usaha ini,” ungkapnya.

Dukungan lain juga datang dari putri semata wayangnya –Salwa Samiyah Amanda- yang baru berusia empat tahun. Sedari kecil, Feni mendidik anaknya untuk hidup mandiri sesuai dengan tingkatan usianya. Cara yang dilakukannya adalah dengan memberikan contoh perilaku sehari-hari untuk ditirukan sang anak. Ke depan, ia ingin memberikan pendidikan setingi mungkin dengan harapan mampu melanjutkan bisnis PT Awana Travel.

“Kalau mampu, kita sekolahkan setinggi mungkin. Anak harus mencontoh kita, kalau kita tidak memberi contoh yang baik. Bagaimana anak menjadi baik, menjadi jujur kalau sendiri tidak jujur. Kita ingin generasi muda bangsa ini lebih bagus. Untuk itu, dimulai dari keluarga masing-masing sebagai orang tua harus menanamkan agama terlebih dahulu sebagai dasar. Kalau agamanya sudah kuat, insya Allah, berjalan dengan baik,” tegasnya.

Harkandri M Dahler

Harkandri M Dahler
Presiden Direktur Aerotrans ( PT Mandira Erajasa Wahana )

Sukses Meningkatkan Kinerja Perusahaan Melalui Rebranding

Dalam sebuah usaha yang tidak menunjukkan peningkatan, perubahan sangat perlu dilakukan. Apalagi jika produktivitas perusahaan yang ditargetkan tidak tercapai maka pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, dari internal maupun eksternal perusahaan. Dari sisi internal adalah pembenahan perusahaan, baik manajerial, produk, SDM maupun pelayanan. Sementara pembenahan eksternal adalah pembinaan terhadap pelanggan atau pengguna produk perusahaan.

Persaingan bisnis yang semakin tajam akibat globalisasi, mengharuskan sebuah perusahaan meningkatkan kinerjanya. Apalagi bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa, persaingan sangat ketat. Banyak bermunculan perusahaan baru yang menawarkan ide-ide besar untuk menarik pelanggan. Akibatnya, sebuah perusahaan jasa yang “mandhek” dan tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan akan ditinggalkan.

“Saya dikirim ke sini dengan kondisi perusahaan yang memiliki citra kurang baik di mata pelanggan. Saat itu, image bisnis jasa transportasi milik Garuda dengan nama Mandira itu terkenal dengan kendaraan yang kotor, sopir ugal-ugalan, attitude diragukan dan lain-lain. Pokoknya integritasnya diragukan sehingga dengan adanya program rebranding yang saya jabarkan di sini, kami berusaha mengangkat kinerja perusahaan,” kata Harkandri M Dahler, Presiden Direktur Aerotrans

Menurut Harkandri , program rebranding merupakan program perubahan yang dicanangkan induk perusahaan, PT Aerowisata. Anak perusahaan PT Garuda Indonesia secara serentak sejak November 2009 melaksanakan rebranding terhadap perusahaan dibawah kendalinya seperti Aerofood ACS, Aerotravel, Aerowista Hotel dan lain-lain. Tujuan rebranding adalah untuk mendorong anak perusahaan meningkatkan kinerja bisnisnya dengan mengoptimalkan sumber daya yang sudah dimiliki.

Mandira sebagai operator jasa trasportasi darat, jelas Harkandri , menggunakan  brand baru, Aerotrans. Diharapkan, perusahaan tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan mampu bersaing di pasar. Keberhasilan rebranding dapat diukur dari jumlah pelanggan yang puas atas layanan dan terus menggunakan jasa yang ditawarkan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga mampu “menggaet” pelanggan baru karena citra akibat rebranding yang semakin cemerlang.

“Nilai rebranding atau core value yang saya sosialisasikan kepada karyawan ada empat hal. Sincere yakni ketulusan dan ikhlas mengerjakan tugas. Impeccable yaitu bekerja tanpa cacat, sempurna dengan start dari proses awal yang benar. Proactive, atau komitmen untuk memberikan solusi. Imaginative yaitu mengedepankan inovasi dalam pelayanan. Tetapi mempraktekkan empat hal tersebut ternyata berat. Perusahaan yang terbentuk sejak tahun 1988 itu, sangat berat untuk mengubah tradisi yang sudah membudaya. Makanya saya mengajukan diri untuk fokus dan total di sini,” ujar profesional yang tadinya masih merangkap sebagai Direktur Keuangan dan SDM Aerofood ACS

Sosialisasi rebranding yang dirancang Harkandri  dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya dilaksanakan oleh karyawan pada level pelaksana lapangan, tetapi juga direksi, manajemen, dan karyawan operasional. Program yang dilaksanakannya meliputi semua aspek bisnis perusahaan seperti logo baru, bus baru, dekorasi dan warna kendaraan, corporate identity serta seluruh dokumen surat menyurat perusahaan. Ia juga membenahi jaringan IT dan meningkatkan fasilitas serta kesejahteraan karyawan, mulai internet, seragam, dan infra struktur lain-lain.

Untuk mensosialisasikan implementasi tujuan rebranding, Harkandri  juga meminta  dukungan dengan Serikat Pekerja (SP). Melalui PKB (Perjanjian Kerja Bersama) periode 2010-2012, ia berhasil mengajak karyawan untuk menutup masa lalu dan membuka lembaran baru menuju masa depan yang lebih baik. karyawan yang berjumlah sekitar 2200 orang diajak bekerja sebaik-baiknya demi kepuasan pelanggan. Karena dengan komitmen itu sebagai akan berguna pada kemajuan perusahaan yang berimbas pada kesejahteraan karyawan sendiri.

Dari sisi manajerial, Harkandri  menyusun pembenahan secara menyeluruh. Ia membuat restructuring balance sheet dari divisi keuangan dan melakukan analisa terhadap pembelian asset bekerja sama dengan bank. Dari perhitungannya, ia bisa mengoptimalkan pengeluaran dari bunga yang harus dibayar kepada pihak ketiga. Bunga yang tidak kompetitif harus d-restrukturisasi agar menjadi kompetitif, termasuk proses dokumennya juga harus effisien.
Dari situ, perusahaan mendapat penghematan cash flow atas bunga sebesar sekitar Rp600 juta,” tuturnya.

Harkandri  dalam melaksanakan program ini tidak hanya duduk di belakang meja saja. Ia bukan tipe direktur perusahaan yang sudah establish dan hanya tinggal tanda tangan saja. Sebagai pucuk pimpinan tertinggi, ia tidak segan-segan turun langsung bahkan untuk sekadar mengambil tagihan. Tujuannya untuk merapikan perusahaan tetapi tanpa harus mengeluarkan dana lebih. Agar pesan perubahan yang ingin disampaikannya cepat diterima seluruh karyawan, ia menerbitkan bulletin Aerotrans News. Tujuannya untuk menyosialisasikan kebijakannya dalam membenahi perusahaan mengantisipasi perbedaan persepsi ketika informasi disampaikan kepada karyawan.

“Dari saya A, mungkin sampai manager menjadi Z. Maksud saya bulletin ini untuk mengakselerasi pekerjaan dari pusat sampai grass root. Menginformasikan kebijakan dari direksi kepada seluruh karyawan. Jadi ini adalah software untuk akselerasi kemajuan perusahaan. Saya juga membenahi brosur perusahaan sehingga lebih komunikatif seperti sekarang ini,” ungkap pria yang meniatkan tugasnya untuk semata-mata ibadah ini.

Bertahan Tiga Bulan

Karier Harkandri M Dahler diawali di maskapai penerbangan Garuda Indonesia sejak tahun 1978. Ia bertahan pada perusahaan penerbangan milik pemerintah Indonesia itu sampai tahun 2002. Selama menjalani karier, berbagai tugas dan jabatan pernah diembannya berkaitan dengan administrasi dan manajemen. Padahal, sejatinya ia adalah seorang mekanik yang harus lebih banyak berkutat di bagian teknik pesawat terbang.

“Saya menjadi mekanik hanya tiga bulan, terus ‘lari’ ke bagian administrasi. Nah, setelah lepas dari Garuda, antara tahun 2002-2008 bekerja di bengkel maintenance pesawat yang menjadi bagian integral layanan PT Garuda, yakni PT GMF AeroAsia. Saya termasuk orang pertama yang bekerja disitu,” katanya.

Selama di GMF, pria kelahiran Kuala Tungkal, 1 Juli 1957 ini memegang berbagai jabatan. Mulai bergabung di divisi keuangan, menjadi corporate secretary dan jabatan terakhir adalah Kepala Marketing GMF. Kinerja yang ditunjukkan suami Mia Arbaiyah ini sangat memuaskan sehingga ia mendapat award dari perusahaan. Karena penghargaan itu, awal Januari 2009 ia mendapat amanah untuk menjadi Direktur Keuangan & SDM PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (sekarang Aerofood ACS).

Karier Harkandri  terus melesat bak meteor. Setelah dianggap sukses menangani perusahaan katering, pada bulan Maret 2010 ia dinobatkan sebagai Presiden Direktur PT Aerotrans. Meskipun sempat bertanya-tanya -karena spesialisasinya adalah teknik di bidang rangka pesawat, namun ia melihatnya sebagai tugas yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Apalagi, dukungan dari para pemegang saham yang melihat potensi dalam dirinya menambah keyakinan atas pekerjaan tersebut.

“Saya pernah bertanya, kenapa harus saya, ini kan tidak sesuai dengan latar belakang saya. Tetapi justru mereka bilang, ‘urusan itu bukan anda yang menentukan’. Mungkin ternyata pilihan mereka kepada saya anggap sebagai tantangan,dan jalankan dengan sungguh-sungguh,saat di katering itu saya juga banyak belajar,” tuturnya.

Saat memegang Aerofood ACS, Harkandri  memang menorehkan prestasi yang mengilap. Strategi pemasaran yang diterapkannya terbukti ampuh mendongkrak pendapatan perusahaan. Seperti bagaimana ia melakukan inovasi terkait kejenuhan dalam bisnis inflight catering, dengan arahan Direktur Utama dan Direksi lainnya di Aerofood ACS . Ia mengatasi kejenuhan tersebut dengan masuk wilayah industrial catering. Yakni menggarap katering bagi rumah sakit perkotaan dan pertambangan (mining) dengan tetap menjadi pemasok bagi katering perusahaan induk, PT Garuda Indonesia.

“Strategi ini terbukti meningkatkan akselerasi pendapatan perusahaan dengan omzet sekitar hampir Rp1 triliun per tahun. Jadi, konsepnya saya melihat pasar infligt catering yang mulai jenuh sehingga meskipun kita genjot bagaimana pun ya tetap ‘segitu’ saja. Makanya kita lari ke industrial catering, restoran dan kafe,” tambah ayah lima anak ini.

Bekerja Secara Terstruktur

Dalam melakukan rebranding di perusahaan yang dipimpinnya, Herkandri M Dahler mengakui banyak kendala yang harus dihadapinya. Saat pertama kali kedatangannya, kondisi perusahaan transportasi tersebut dalam keadaan nyaris bangkrut. Dengan karyawan sekitar 2000 orang dan mengelola asset sebanyak 1000 kendaraan, seharusnya perusahaan bisa berkembang dengan baik. Namun, semua itu menjadi tantangan baginya untuk membenahi dan memajukan perusahaan.

“Dilandasi niat untuk ibadah, saya berusaha membenahinya. Saya bilang kepada karyawan, bahwa perusahaan ini bangkrut. Kalau anda semua mau dibubarkan tinggal bilang saja, begitu kata saya. Tetapi mereka tidak mau dan bersedia bekerja keras untuk memajukan perusahaan ini. Mereka menyatakan siap membantu saya untuk melakukan perubahan total,” ujarnya.

Harkandri kemudian melakukan efisiensi di segala bidang. Ia mengontrol setiap fungsi dan mengevaluasi target yang dicanangkan. Kepada karyawan ia menegaskan pentingnya integritas dalam bertugas agar perusahaan berkembang dengan baik. Ia mengharapkan dukungan yang besar dari para sopir sebagai ujung tombak perusahaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Menurutnya, kepuasan pelanggan sangat tergantung dari integritas sopir saat bekerja.

“Saya biasa bekerja secara terstruktur dengan ukuran-ukuran yang jelas dan dievaluasi secara periodik. Kepada karyawan saya tidak menjanjikan mereka menjadi orang kaya, tetapi setidaknya dapat hidup layak. Saya membuat bermacam-macam program agar mereka memiliki ‘getaran’ terhadap perusahaan. Hasilnya, saya mendapat target pendapatan perusahaan tahun 2010 ini sebesar Rp156 miliar,” tandasnya.

Harkandri juga telah menyusun program jangka panjang perusahaan hingga tahun 2014. Ia memandang jauh ke depan dengan membuat perencanaan terkait target pendapatan, akumulasi biaya, diversivikasi usaha dan lain-lain. ia melihat salah satu jalan adalah penguatan struktur dan semangat karyawan dalam bekerja sehingga tercipta sebuah tim yang solid.

“Kita membangun solid team agar menjadi one team, one spirit and one goal. Jadi betul-betul menjadi bagian dari hati sehingga karyawan mantap bekerja di sini. Ke depan saya ingin mengembangkan usaha di bidang wisata dan bahkan kalau bisa menjadi perusahaan wisata. Karena pasarnya juga luar biasa. Sekarang saya kan sedang investasi dengan menempatkan orang-orang profesional dan merapikan perangkatnya. Saya yakin akan berkembang dengan baik,” tukasnya.

Keikhlasan dan Ketulusan

Harkandri M Dahler sebenarnya tidak pernah bercita-cita fomal seperti menjadi dokter atau insinyur. Sebagai orang kampung, ia mengikuti jalan hidup yang telah ditentukan Tuhan baginya. Ia hanya berprinsip bahwa dalam mengerjakan segala sesuatu dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih. Semua dikerjakan sebaik-baiknya diiringi dengan rasa tanggung jawab yang besar. Itulah yang dilihat oleh atasan-atasannya sehingga dengan cepat mendapat promosi.

“Meskipun kadang saya merasa belum siap, tetapi tugas tetap harus dilaksanakan. Yang penting, saya bekerja dengan tanpa pamrih dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Prinsip saya orang boleh tidak kenal Harkandri tetapi produknya dikenal luas. Kita juga harus siap menerima isu-isu maupun fitnah yang dihembuskan pihak lain, terkait prestasi yang dicapai. Biasa itu,” kata Harkandri yang berhasil sebagai team “membebaskan” bea

masuk dan PPn komponen pesawat terbang ini.

Dengan ketulusan dan keikhlasan terhadap apa yang dilakukan, Harkandri berharap mendapat kebaikan. Prinsip dalam menjalani hidup adalah memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki talenta luar biasa untuk mengembangkan diri. Konsep yang dipegangnya adalah orang harus dipoles menjadi intan atau berlian, yang meskipun teronggok di pasir pantai cepat atau lambat akan memancarkan sinarnya dan tetap dicari orang.

“Jadi apa yang dikasih kepada saya adalah amanah yang saya kerjakan dengan penuh totalitas,” kata Harkandri yang mendapat kepercayaan penuh dari istrinya tersebut. Istrinya sudah tahu sejak awal kalau ia adalah pekerja keras, yang sering pulang malam atau keluar kota. Yang jelas, ia tetap menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. “Faktor trust membuat saya tetap pada track-nya sehingga keluarga tahu saya memegang kepercayaan tersebut,” imbuh pria yang suka melawak di rumah ini.

Kepada generasi muda, Harkandri berpesan agar mereka mengutamakan keikhlasan dan ketulusan dalam segala aktivitasnya. Mereka juga harus tetap pada tugasnya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin dengan belajar sebanyak-banyaknya. Media belajar pun tidak harus dari pendidikan formal, tetapi juga pendidikan non formal dengan mempelajari pengalaman serta kisah hidup orang-orang sukses.

“Generasi muda harus memiliki totalitas dalam menekuni aktivitas masing-masing. Jangan sampai cepat-cepat beralih kepada aktivitas lain sehingga lambat laun, mereka akan menjadi spesialis dalam bidang yang ditekuni. Dari pengalaman orang lain bisa kita kaji sebagai pembelajaran. Suatu saat, takdir Tuhan akan membuka jalan kesuksesan kita. Karena sebenarnya takdir adalah pertemuan antara usaha manusia dengan kehendak Allah. Jadi kalau usaha kita benar hasilnya pun akan benar pula,” ungkap Harkandri M Dahler.

Sekilas Aerotrans

Aerotrans (Garuda Indonesia Group) berpengalaman dalam menyediakan transportasi darat sejak 1988.

Aerotrans mengoperasikan lebih dari 1000 unit kendaraan dalam berbagai tipe seperti big, medium, micro, dan mini bus, van, 4 wheels drive, box/pick up, hi-lift truck, low deck bus, dan sedan dengan dukungan lebih dari 2000 karyawan.

Visi Aerotrans
“Menjadi perusahaan jasa transportasi darat terbaik dan disegani dalam mendukung industri penerbangan, pariwisata nasional dan industri lainnya”

Misi Aerotrans
1.    Memaksimalkan kualitas jasa pelayanan transportasi terpadu melalui operation excellence
2.    Mengembangkan pola kemitraan yang efektif melalui customer intimacy
3.    Secara konsisten & tulus melaksanakan nilai-nilai etika SDM dan perusahaan (core values) melalui implementasi etos kerja

Perjalanan Usaha Aerotrans

⦁    1988 – tanggal 2 November 1988, Aerotrans, yang sebelumnya merupakan Divisi Transport PT Garuda Indonesia, berdiri sendiri dibawah PT Mandira Erajasa Wahana, sebagai unit usaha PT Aerowisata, anak perusahaan PT Garuda Indonesia

⦁    1991 – Melayani Aerowisata Catering Service dan Satriavi Leisure Management, sebagai customer pertama di luar PT Garuda Indonesia
⦁    1995 – Melayani angkutan Haji Jakarta untuk pertama kalinya
⦁    2002 – Mulai melayani pasar korporat di luar Garuda Indonesia Group
⦁    2009 – Aerowisata Transport rebranding menjadi Aerotrans

Layanan Aerotrans

Layanan Aerotrans terdiri dari layanan jangka panjang dan jangka pendek, sesuai kebutuhan pelanggan.  Layanan tersebut terdiri atas:

⦁    Rental Services
Jasa sewa kendaraan
⦁    Tourism
Layanan kegiatan wisata
⦁    Fleet Management
Pengelolaan transportasi internal
⦁    Ground Handling Service
Layanan transportasi untuk mendukung kegiatan operasional di wilayah Bandara
⦁    Driver Support Service
Jasa pengemudi profesional, berpengalaman dan terdidik

Keunggulan Layanan Aerotrans

Selain melayani induk perusahaan, PT Garuda Indonesia, Aerotrans juga dipercaya untuk melayani puluhan perusahaan lain. Kepercayaan tersebut karn Aerotrans memiliki berbagai keunggulan dibandingkan perusahaan lain sejenis, antara lain:

⦁    Experience
Melayani transportasi darat lebih dari 20 tahun
⦁    Safety & Eco-green service
Berbekal prosedur kerja sesuai dengan prinsip Health, Safety, Environment (HSE)
⦁    Selection
Berbagai tipe kendaraan sesuai kebutuhan
⦁    Customized Service
Penyediaan logo di kendaraan, kursi bayi, video & musik, karaoke, pewangi kendaraan, dan lain-lain
⦁    Insurance All Risk
Asuransi perjalanan bagi kendaraan
⦁    Personal Insurance
Asuransi perjalanan bagi setiap penumpang
⦁    License Support
Memiliki surat ijin beroperasi di area Bandara dan mengurus kelengkapan dokumen untuk kelancaran bisnis Anda
⦁    Reliability
Memiliki staf yang berpengalaman, fasilitas kendaraan yang lengkap dan bengkel 24 jam untuk pelayanan perjalanan berstandar tinggi
⦁    Easy Access
Contact center 24 jam, online reservation, online payment, dan wilayah operasi di kota-kota besar seluruh Indonesia

Brand Values

Semua keunggulan Aerotrans tidak terlepas dari brand values yang ditetapkan perusahaan, yaitu:
⦁    Sincere – Memberikan pelayanan yang tulus, dengan kehangatan, keterbukaan dan rasa hormat
⦁    Impeccable – Menjalankan pekerjaan secara sempurna dan tanpa cacat dengan standar tertinggi
⦁    Proactive – Berinisiatif dalam mencari dan memberikan solusi sehingga dapat memberikan pelayanan yang melebihi ekspektasi
⦁    Imaginative – Memotivasi agar berani mengambil resiko dan tantangan serta mengeksplorasi cara-cara untuk menggugah dan menyemangati pihak-pihak yang berkepentingan.

Liesna Sulistiowati Shaw

Owner Marvellous Little Maestro dan GaleriLiesna

Memupuk dan Mengeksplorasi Bakat Dengan Menyenangkan

Bakat adalah bawaan lahir yang merupakan karunia Tuhan. Namun bakat besar akan sia-sia tanpa usaha keras untuk memupuk dan mengekplorasinya. Banyak orang berbakat yang tidak berhasil dalam hidup karena mengabaikan bakatnya. Sebaliknya, banyak orang tidak berbakat justru sukses karena kerja keras dan kesadaran akan bakat yang tidak dimilikinya. Seperti ungkapan Thomas A. Edison, bahwa bakat hanyalah 1 persen dari keberhasilan, sementara 99 persen sisanya adalah hasil kerja keras.

Meskipun demikian, bukan berarti orang berbakat tidak bisa berhasil. Asalkan rajin memupuk dan mengeksplorasi bakatnya, kesuksesan akan berhasil diraih. Salah satu lembaga kursus untuk memoles bakat sejak usia dini adalah Marvellous Little Maestro yang bertempat di Kemang. Bakat yang ditangani terutama dalam seni menggambar dengan merangsang anak-anak untuk mengekspresikan diri dan mengeluarkan kemampuan dalam dirinya.

“Fungsi otak sedang berkembang pada saat usia balita, periode ini disebut juga sebagai periode emas. Demikian pula dengan kreativitas-nya, dengan memadukan brain, hand, eyes dan heart coordination, seorang anak akan mengeksplor secara visual. Kemudian pada usia lima tahun keatas, mereka mulai memperhatikan alam di sekitarnya. Nah, alat yang tepat untuk membina reflek kreativitas adalah dengan cat, kuas, krayon, kertas dan alat gambar lainnya.” kata Liesna Sulistiowati Shaw, Pendiri dan Owner Marvellous Little Maestro.

Pilihannya untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak dilandasi oleh keyakinan bahwa setiap anak bisa menggambar. Hanya saja, banyak yang kemudian merasa gambar atau lukisannya kurang bagus. Sebenarnya hal ini karena tidak pernah dilatih sejak kecil. “Padahal, ketika seorang anak pada usia tiga tahun sudah mampu menggoreskan suatu komposisi, ini sudah menunjukkan ekspresinya yang sangat kuat, terkait kemampuan dan perkembangan motorik anak,” ujar Liesna yang gemar mengumpulkan buku-buku bertema gambar dan lukis untuk kemajuan anak-anak didiknya.

Selain itu, lanjut Liesna, apresiasi masyarakat terhadap seni lukis, terutama pada anak-anak masih kurang. Berbeda dengan seni musik misalnya, yang hampir setiap stasiun televisi berlomba menayangkannya. Dengan dukungan suami dan teman-temannya, ia kemudian mendirikan Marvellous Little Maestro (MLM) pada awal tahun 2010. Tujuannya menampung sekaligus membina dan mengembangkan kreativitas dan bakat anak dalam seni gambar dan lukis.

“Kalau dibandingkan dengan bidang seni musik, apresiasi terhadap gambar menggambar masih sangat kurang di masyarakat. Begitu juga tempat memupuk bakat-bakat menggambar anak-anak masih sangat sedikit. Makanya, dengan dukungan suami dan keluarga saya membuka sanggar ini dengan harapan untuk merangsang kreativitas anak-anak secara menyenangkan,” katanya. Oleh karena itu, lembaga yang didirikannya pun mengusung tag “Explore Your Talents With So Much Fun”. “Fun-nya bagaimana? Kita membuat nyaman si anak yang belajar gambar dan lukis, serasa di rumah sendiri dengan menggunakan macam-macam medium yang disukai anak. Selain itu kami juga mengolah segala macam barang bekas menjadi berguna kembali, seperti bekas stik ice cream, kotak, kardus, dll,” lanjutnya. “Disini kami juga selalu mengingatkan anak-anak murid untuk selalu mengumpulkan hasil karya mereka.”

Awalnya, pemilik GaleriLiesna ini mengajar menggambar dan melukis dari rumah ke rumah secara privat sejak tahun 2006 sampai 2008. Saat liburan sekolah tiba, ia membuka Arts & Crafts Holiday for Children di rumahnya, di kawasan Kemang. Ternyata peminatnya sangat banyak sehingga didirikanlah sanggar dan tempat les gambar dengan materi yang menarik, edukatif sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Tahun 2009, ia mulai menyusun materi dan kurikulum yang dibutuhkan untuk pendiriannya.

“Karena orang Indonesia tertarik dengan nama-nama bahasa Inggris, akhirnya kita menggunakan nama yang keinggris-inggrisan. Walaupun telah mengumpulkan ide bermacam-macam nama, akhirnya terpilihlah Marvellous Little Maestro. Kata Marvellous ini sebenarnya kata yang sering diucapkan oleh anak sulung saya. Jadilah ide itu dan secara resmi bernama Marvellous Little Maestro!” ujarnya.

 

Berawal dari Sketsa

Ketertarikan dosen Desain Komunikasi Visual, Universitas Pelita Harapan, Karawaci ini terhadap seni lukis anak dilandasi keinginan untuk terus memajukan kreativitas anak-anak Indonesia. Menurutnya, memberikan dasar kemampuan menggambar secara dini bagi anak sangat berguna bagi masa depan mereka. Setidaknya, dari riwayat sukses para innovator dunia di masa lalu menunjukkan bahwa kemampuan sketsa, menggambar dan memvisualkan ide dari benak sangat berperan besar.

“Ini benar-benar basic yang bagus bagi anak-anak untuk berkarya dan menghargai diri sendiri dan karya mereka. Dengan menghasilkan suatu kreasi, mereka akan bangga dan percaya diri terhadap kemampuannya. Ditambah dengan apresiasi dari keluarga dan sekolah, mereka akan belajar mengekspresikan diri. Visual thinking yang baik dapat menghasilkan gambar-gambar untuk masa depan mereka. Kita bisa lihat sejarah penemu besar seperti Einstein, Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei dan lain-lain, berawal dengan membuat sebuah sketsa, coretan-coretan, sebelum menciptkan karya besar mereka,” kata ibu empat anak, istri Bima Shaw ini.

Dalam kegiatannya sebagai dosen, Liesna juga selalu menekankan kepada para mahasiswa desainnya agar membuat sketsa dulu di kertas, untuk mendapatkan ide-ide, baru kemudian dikembangkan menjadi suatu desain. Bukan tidak mungkin, dari sketsa-sketsa yang sudah terkumpul itu akan lahir karya-karya besar.

Apalagi, ia melihat bagaimana generasi muda sekarang ini jauh berbeda dengan pengalamannya. Saat ini, generasi muda dibanjiri informasi dari berbagai sumber yang lebih banyak menawarkan hiburan. Seperti televisi dan teknologi informasi (IT) yang bebas dinikmati kapan saja. Semua informasi menawarkan gaya hidup serba instant, mudah dan menyenangkan.

“Ketika saya masih sekolah dulu, hanya ada satu channel TV dan informasinya pun sangat dibatasi. Tetapi justru itulah yang membuat kita kreatif, main di luar dengan pasir, tanah, tanaman dan lain-lain. Sedangkan anak-anak jaman sekarang memiliki tantangan agar tetap kreatif di dunia yang penuh saingan, di dunia yang penuh informasi dan teknologi yang tak terbatas ini,” ungkapnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana generasi muda tetap kreatif dan orisinil di tengah gencarnya informasi di sekelilingnya. Originalitas akhirnya menjadi sangat sulit akibat informasi yang beredar di sekeliling mereka. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar generasi muda mencari jati dirinya sebagai generasi muda Indonesia. Artinya, generasi muda harus memahami dan mengerti seni dan kebudayaan Indonesia serta menjadikannya sebagai pondasi bagi karya kreatifnya.

“Mereka harus mengerti, memahami arts and culture Indonesia sebagai pondasi yang kuat. Setelah itu mereka tetap berkreasi menjadi dirinya sendiri dan terus menggali kemampuan dalam dirinya. Apapun yang disukai harus dipelajari dan dicari ilmunya, tetapi harus focus on something you like. Misalnya anak menyukai komik sekaligus culture Indonesia, bisa saja dia meng-create komik dengan culture Indonesia tetapi bisa mendunia, mengapa tidak?” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juni 1972 ini.

Putri kedua dari empat bersaudara pasangan Bambang Subianto dan Srie Wahyuni ini mencontohkan bagaimana di Amerika diciptakan tokoh-tokoh superhero seperti Superman, Batman. Penciptaan tokoh imajinasi tersebut terjadi pada abad 20, dimana di Indonesia sendiri telah memiliki banyak kisah tradisional yang menarik dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Papua dan lain-lain. Ia berharap generasi muda Indonesia ke depannya memiliki semangat kreatif dengan tetap mempertahankan jati diri dan akar budayanya.

“Dunia kreatif saat ini sangat berkembang. Kita tidak bisa lagi mengharapkan anak untuk memiliki posisi ideal seperti dokter, bankir dan lain-lain. Dunia kreatif sangat luas, bisa bekerja di TV, Majalah, Buku atau menjadi dirinya sendiri dengan fokus sebagai seniman. Intinya anak-anak harus lebih jago daripada kita dengan banyaknya informasi dan teknologi, jadi jangan malah mandek. Makanya harus dipupuk dan terus dieksplore kemampuan anak-anak ini,” kata pengajar yang sangat bangga ketika anak didiknya maju tersebut. “Itu kepuasan batin bagi saya,” imbuhnya.

Membuka Franchise

Putri mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan Presiden B.J. Habibie ini mengisahkan bahwa dirinya sejak usia tiga tahun sudah sangat senang menggambar. Masih teringat dengan jelas sang ayah yang mengajarinya untuk mengumpulkan hasil coretan ke dalam sebuah file. Liesna diajarkan agar dapat mengenali perkembangan hasil karyanya dari tahun ke tahun.

“Bapak membuat sebuah buku map untuk menaruh gambar-gambar saya dan itulah portfolio pertama saya. Sekarang saya juga mengajari anak-anak untuk menuliskan nama dan tanggal pembuatan gambar mereka masing-masing untuk dikumpulkan dalam portfolio mereka sendiri. Jadi dalam beberapa tahun kemudian mereka bisa melihat apa yang telah dibuat dan perkembangan gambar/lukisan mereka itu. Apakah semakin sempurna, halus atau apa saja,” ungkap perempuan yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda ini.

Master in Design, Curtin, University of Technology, Western Australia ini mengungkapkan keinginannya untuk pengembangan MLM. Salah satunya adalah dengan mewaralabakan lembaga pendidikan yang didirikannya. Apalagi, dukungan dari beberapa teman di wilayah lain yang sangat ingin agar lembaga serupa berdiri di sekitar tempat tinggal mereka.

“Saya ingin memajukan MLM dan menjadikannya sebagai sebuah bisnis franchise. Saat ini saya sedang menggodok materi untuk franchise, apalagi teman di Australia juga menawarkan untuk membuka di sana. Kemudian saya juga ingin membuat acara menggambar atau arts & crafts di TV yang saat ini masih cukup jarang, supaya tetap menyemangati anak Indonesia untuk berkreasi,” kata pengagum pelukis-pelukis aliran Impressionist seperti Picasso, W. Kandinsky, Cezanne dan Monet ini. Ia juga pengagum pelukis-pelukis Indonesia dan sangat terinspirasi oleh alam seperti tanaman, daun dan bunga.

Meskipun disibukkan dengan kegiatan mengajar (di Universitas Pelita Harapan dan MLM) serta mengelola galeri butik, Liesna tetap mendapat dukungan penuh dari keluarga. Apalagi lokasi pekerjaan suaminya berada dalam satu gedung dengan kegiatan yang digelutinya. Begitu juga keempat anaknya yang memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan sang ibu.

“Mereka sih tidak komplain karena sudah besar. Mereka hanya ‘menuntut’ kepada kami. Misalnya kalau kami sudah janji akan menemani mereka tetapi karena macet atau karena hal lain terlambat mereka akan protes dan menuntut supaya tidak terjadi lagi. Tetapi pada prinsipnya dukungan keluarga sangat besar kepada saya,” ungkap pemilik moto “Usaha, kerja Keras, tanggung jawab, do what you love serta bekerja sesuai dengan passion dan love life” tersebut.

Untungnya, anak-anak Liesna cukup mengerti kesibukan sang ibu. Liesna sendiri telah mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga memiliki banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Setidaknya, di pagi hari, ia dan anak-anaknya keluar rumah bersama-sama terkait jam sekolah mereka. Ia juga mengatur agar kegiatan mengajarnya bisa selesai pada pukul 16.00 sehingga terhindar dari kemacetan pulang kerja. Selain itu, paling tidak sebulan sekali untuk berjalan-jalan ke tempat wisata atau berenang ke kolam renang.

Liesna telah menetapkan moto dalam membina keluarga dalam lima poin yang telah disepakati. Yakni: “Saling menghormati, tanggung jawab, kerjasama (seperti clean up day every Saturday), menjadi contoh dan sahabat bagi anak , membangun suasana rumah yang nyaman & sehat dan menjadikan tempat keluarga & anak-anak berkreasi dan belajar”.

“Mereka sudah tahu kegiatan masing-masing. Kalau sore tidak ada kegiatan bersama suami, saya pasti pulang lebih dulu sehingga sampai rumah masih sore dan sempat bermain bulutangkis dengan anak-anak. Apalagi anak-anak saya laki-laki semua yang tidak bisa diam. Di waktu luang, saya suka mengajak anak-anak kedua dan ketiga menggambar, kebetulan mereka suka sekali menggambar. Anak pertama lebih suka olahraga, musik dan bahasa Inggris. Sementara yang bungsu masih kecil,” kata Liesna Sulistiowati Shaw.

Sekilas Profil Marvellous Little Maestro (MLM)

Liesna Sulistiowati Shaw dengan latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual membuka sanggar lukis dan gambar untuk anak-anak, Marvellous Little Maestro (MLM), pada awal tahun 2010. MLM ini didirikan untuk anak-anak (dari usia 2,5 – 12 tahun) agar dapat dengan bebas berkreasi secara visual.

Dengan mengajarkan berbagai macam media, di MLM anak-anak dapat mengekspresikan diri dalam bentuk gambar, ilustrasi dan lukisan. Adapun kelas-kelas yang ditawarkan terdiri dari:
– Arts & Crafts (Apple Class) usia 2,5 -12 tahun,
– Cool Characters (Tree Class) usia 6-8 tahun,
– Drawing and Painting with Acrylic & Watercolor (Sunflower Class) usia 8-12 tahun,
– Fun Batik! (Rainbow Class) usia 8-12 tahun.

Tujuan pendirian MLM adalah memajukan kreativitas anak-anak Indonesia secara visual dengan pemahaman global tanpa meninggalkan jati diri anak-anak sebagai anak Indonesia, sekaligus peduli terhadap lingkungan dengan menggunakan berbagai barang bekas, seperti bekas tempat susu, kardus, kotak-kotak, kertas bekas, tali, pita dan sebagainya. Liesna akan terus meng-inspire anak-anak didiknya untuk terus mencintai dunia seni gambar dan supaya terus berkreasi secara visual.

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM
Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan

Pendidikan Berkualitas Akan Meningkatkan Pelayanan Penerbangan

Dibesarkan dalam keluarga sederhana berlatar belakang militer yang kental dengan disiplin tinggi, terbawa dalam keseharian hidup Ir. Bambang Wijaya Putra, MM. Ayahnya, almarhum Musa Muhidin adalah seorang anggota TNI yang selalu menjunjung tinggi disiplin, berjiwa ksatria serta memiliki cita-cita mulia untuk memajukan bangsa dan negara.

“Semua itu beliau wujudkan dengan memulai dalam lingkungan keluarga sendiri. Jadi orang tua saya selalu menerapkan kepada anak-anaknya agar selalu berdisiplin, menghargai waktu dan mengerjakan segala sesuatu dengan hasil yang baik. Ayah sering mengatakan kepada saya bahwa ‘hidup kita harus dapat bermanfaat bagi diri sendiri, lingkungan sekitar dan selalu bekerja dengan hasil yang terbaik disertai hati yang ikhlas,” kata Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan ini.

Kebiasaan disiplin yang sudah tertanam sejak kecil terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saat bermain mobil-mobilan –permainan yang paling digemarinya- bersama teman sepermainan, ia selalu berperan sebagai pengatur lalu lintas. Tugasnya mencegah agar mobil teman-temannya tidak saling bertabrakan satu sama lain sehingga permainan menjadi lebih asik dan teratur. “Mungkin pendidikan dalam keluarga membuat saya ingin segala sesuatu berjalan teratur dan disiplin bahkan sampai hal kecil sekalipun,” imbuhnya.

Kebiasaan tersebut, lanjut Bambang, terus terbawa ketika meniti karier sebagai seorang Teknisi Penerbangan di Bandara Sultan Machmud Badaruddin II -dahulu dikenal dengan Bandara Talang Betutu- Palembang pada tahun 1981.  Sejak itu, ia menanamkan tekad dan cita-cita untuk menjadikan penerbangan yang aman, tertib, teratur, baik dan nyaman. Apalagi, ia sadar bahwa di dunia penerbangan tidak ada ruang sekecil apapun untuk melakukan satu titik kesalahan.

Dalam menekuni kariernya, Bambang terus mencoba berpikir dan menganalisa faktor apa yang terpenting dalam dunia penerbangan. Sampai suatu saat ia memiliki kesimpulan bahwa satu hal yang terpenting dalam dunia penerbangan adalah masalah pendidikannya. Yaitu bagaimana mendidik sumber daya manusia (SDM) di penerbangan yang handal, penuh disiplin, profesional dan tidak mentolerir kesalahan. Berdasarkan pemikiran seperti itu, ia kemudian memutuskan untuk memfokuskan karier pada dunia pendidikan yaitu pendidikan penerbangan.

“Sampai saat ini saya mengemban amanah untuk memimpin sebuah Pusat Pendidikan Penerbangan di Medan yaitu Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan. Dari pengalaman saya, jelas terlihat bahwa untuk menciptakan sebuah pelayanan penerbangan yang aman, tertib, teratur, disiplin, dan nyaman dibutuhkan SDM yang handal, unggul dan professional di bidangnya. Nah, untuk membentuk SDM seperti kriteria tersebut dibutuhkan proses pendidikan yang baik,” kata Direktur ATKP yang sudah empat tahun menjabat ini.

Sekilas ATKP Medan

Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan (ATKP Medan)  merupakan salah satu UPT dibawah Badan Diklat Perhubungan. Tugasnya adalah berperan aktif dalam menciptakan SDM perhubungan yang terbaik. Berdiri sejak 1989 dengan nama Pusdiklat Medan dan berganti nama menjadi Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan. ATKP Medan berlokasi di ibukota provinsi Sumatera Utara yang didirikan dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM. 80 tahun 1999, tanggal 13 Oktober 1999 tentang Pendirian Akademik Teknik dan Keselamatan Penerbangan.

ATKP menyelenggarakan pendidikan profesional program diploma bidang teknik dan keselamatan penerbangan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan profesional menekankan penerapan keahlian bidang teknik dan keselamatan penerbangan dan pembentukan kompetensi untuk menangani pekerjaan menurut praktik-praktik yang berlaku secara umum dalam bidang teknik dan keselamatan penerbangan.

Penelitian bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan daya nalar untuk berperan serta dalam memecahkan permasalahan di dunia penerbangan. Pengabdian kepada masyarakat bertujuan menjalin hubungan antara ATKP dengan dunia penerbangan dan masyarakat melalui kerjasama yang saling menguntungkan.

ATKP Medan memiliki tujuan, untuk;
Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat penerbangan yang memiliki kemampuan profesional di bidang teknik dan keselamatan penerbangan
Menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang teknik dan keselamatan penerbangan serta mengupayakan penerapannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional
Mengembangkan penerapan ilmu pengetahuan dalam bidang teknik dan keselamatan penerbangan

Tugas ATKP Medan, adalah:
Melaksanakan pendidikan profesional program diploma bidang keahlian teknik penerbangan dan keselamatan penerbangan
Melaksanaan dan pengembangan pendidikan profesional yang meliputi pengajaran, pelatihan dan pembinaan
Melaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
Mengelola perpustakaan, laboratorium, sarana dan prasarana lainnya
Membina civitas akademika dan hubungannya dengan lingkungan

“Sebagai pimpinan di sini, saya menerapkan pendidikan yang berdisiplin tinggi, menghargai waktu dan profesional pada bidang masing-masing. Saya juga menekankan agar mereka selalu mempersembahkan kinerja terbaik yang dilandasi dengan perasaan ikhlas dalam melaksanakan tugas-tugasnya,” tandasnya.

Profesi Mulia

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM menuturkan ketertarikannya menekuni profesi sebagai pendidik. Semua dilandasi pemikiran untuk membentuk dan melahirkan SDM handal dan profesional di bidang penerbangan. Berdasarkan  pengalamannya, ia tahu betul harapan masyarakat di bidang tersebut. Masyarakat sangat mendambakan terciptanya pelayanan jasa transportasi penerbangan yang professional, aman, teratur, tepat waktu, bersih dan nyaman.

Lebih jauh lagi, lanjut Bambang, masyarakat membutuhkan sebuah pelayanan transportasi penerbangan yang dapat menghubungkan manusia yang terpisah jarak dan waktu. Terhubungnya manusia antar wilayah tersebut akan mendukung perekonomian negara sehingga roda perekonomian dan pemerintahan dapat berjalan lancar. Dampak lebih nyata, kesejahteraan masyarakat semakin meningkat akibat terselenggaranya pelayanan transportasi penerbangan yang baik.

“Saya menekuni profesi ini karena menurut saya merupakan salah satu profesi yang mulia. Bayangkan, kita membentuk dan melahirkan SDM handal dan profesional yang bekerja di bidang penerbangan. Saat ini, yang saya lakukan adalah semakin meningkatkan kemampuan diri sendiri dan kualitas SDM yang kami latih. Mengingat tantangan ke depan semakin tinggi yang membuat kita belum bisa berpuas diri. Bekerja dan mengabdi kepada negara, pemerintah dan masyarakat adalah apa yang dapat kita berikan dan kita persembahkan kepada negara. Bukan apa yang telah negara berikan kepada kita,” tegasnya.

Bambang merasa “biasa” menghadapi suka, duka dan kendala dalam menjalani profesi sebagai seorang pendidik. Baginya, semua itu merupakan riak dan gelombang yang harus dilalui dalam perjalanan kariernya. Ia mencontohkan bagaimana perasaan bangga membuncah dalam hatinya ketika SDM yang dibentuk berhasil memasuki dunia kerja sebagai profesional di bidang penerbangan.

“Inilah hal yang membanggakan saya. Tetapi duka dan sekaligus menjadi tantangan bagi saya adalah sampai saat ini belum dapat menghasilkan seseorang yang profesional dalam dunia penerbangan yang sebaik dan setara dengan tenaga di negara lain. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kita semua untuk terus memompa semangat belajar, berdisiplin dan terus menerus berinovasi sehinggga tidak tertinggal jauh dari negara lain,” tambahnya.

Sebagai seorang pendidik, Bambang menyadari peran dan fungsinya sebagai ujung tombak pemerintah. Seorang pendidik mengemban tugas untuk meningkatkan kecerdasan generasi muda penerus bangsa, mewarnai masyarakat Indonesia dengan berbagai disiplin ilmu dan membentuk sumber daya manusia yang professional dan handal di bidangnya masing-masing.

“Khusus bagi saya adalah membentuk SDM perhubungan udara menjadi yang terbaik berstandard internasional dan dapat diandalkan. Bentuk yang kami berikan berupa pendidikan dan pelatihan yang baik untuk turut serta mencerdaskan bangsa melalui dunia penerbangan,” tandasnya.

Menurut Bambang, dunia pendidikan Indonesia –termasuk pendidikan penerbangan- akan semakin baik di masa mendatang. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan yang semakin besar sangat membantu kemajuan di bidang tersebut. Termasuk krisis global yang cukup memukul pendidikan penerbangan –yang merupakan pendidikan berbiaya besar- tetapi ia yakin semua akan cepat kembali berjalan dengan normal.

“Marilah kita buat agar krisis keuangan global menjadi tantangan dan motivasi dalam berjuang memajukan bangsa ini. Yang jelas, saya sangat optimis dunia pendidikan di Indonesia akan semakin baik, itu menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkannya. Untuk sementara ini, prioritas SDM pendidik sebaiknya ditingkatkan lagi. Bahkan, peningkatan kualitas dan kuantitas pendidik menjadi prioritas utama,” ungkapnya.

Bambang semakin optimis melihat perkembangan generasi muda Indonesia sekarang ini. Mereka memiliki kemampuan untuk semakin maju asalkan mendapat kesempatan, dukungan dan kepercayaan dari para seniornya. Generasi muda harus memiliki bekal pengetahuan, ilmu serta keterampilan agar mampu melanjutkan kepemimpinan bangsa di masa mendatang.

“Modal awal dari semua usaha adalah kepercayaan. Generasi penerus bangsa kita harus kita beri ilmu, kesempatan dan kepercayaan. Saya optimis dan percaya dengan mendidik generasi penerus bangsa dengan sebaik-baiknya, dengan hati ikhlas dan bertujuan baik, maka generasi penerus bangsa akan membawa negara kita ke arah yang lebih baik dan semakin baik. Amin….,” pungkas Ir. Bambang Wijaya Putra, MM.

Prof. Dr. Djohar MS

Prof. Dr. Djohar MS
Rektor Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa

Program E-Learning di Indonesia Terganjal Absensi

Model system on line atau yang kita kenal  e-learning merupakan salah satu bagian dari  tuntutan dari pengembangan teknologi computer guna memberikan kemudahan umat  manusia dalam mengakses teknologi IT. Dengan adanya model ini diharapkan kekurangan atau kebuntuan  persoalan komunikasi  dapat terpecahkan. “model on line bisa kita buka dan kita dapatkan naskahnya begitu….. lebih terbuka dan dosen bisa memberikan in-put kepada mahasiswa secara cepat, “ demikian Profesor. Doktor Djohar, Ms, mengungkapkan permasalahan itu.

Memang teknologi IT belakangan ini begitu pesat, sehingga dengan metode belajar e-learning, peserta atau siswa didik  diharapkan dapat menyerap dan menangkap pesan-pesan yang disampaikan guru atau dosen dengan mudah, dan tidak perlu lagi sibuk mencatat atau mendengarkan perkuliahan. Menurut professor Djohar, metode ini bisa memberikan interaksi langsung, yang selama ini terbatas atau mengalami kemacetan komunikasi. “Meski begitu bukan tidak ada kelemahannya dari metode ini.”

Dikatakan, professor Djohar,  anak-anak menjadi subjek dari metode pengajaran metode pengajaran tersebut. Intinya, metode ini memberikan kemudahan kepada siapa pun subjeknya, dan mereka tinggal mengisi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalam system on model e-learning  ini, seperti model latihan lks. “memang  ada baik buruknya juga model ini”. Meski system ini sedang ngetrend atau di kalangan pendidikan, bukan berarti tidak ada titik kelemahannya. Setiap program yang dibuat manusia, pasti  ada saja kekurangannya, tapi setidaknya  ini merupakan sebuah terobosan baru bidang IT.

“Untuk informasi teknologi ini lebih cepat, tapi sekali lagi masih ada persoalan loadingnya,”tuturnya. Djohar yang juga rektor universitas sarjanawiyata taman siswa ini menambahkan program ini harus betul-betul terdisain, jadi bukan hanya sekedar memberikan bahan tulisan atau materi ujian kepada mahasiswa, tapi juga metode ini juga menuntut keaktifan dosen atau tenaga pengajar atau instruktur dalam menganalisa atau membuat materi perkuliahan atau pendidikan.

“Jadi dosen bisa memberikan email kepada mahasiswanya, dan begitu sebaliknya, “pungkas Djohar. Selain itu cara ini juga benar-benar sangat efektif dan memangkas waktu yang selama ini sering terkendala oleh berbagai hal pekerjaan lain. Menurutnya, dibutuhkan waktu untuk senantiasa mengontrol atau melihat-lihat email atau bentuk website lainnya dalam rangka mempercepat kinerja. Sistem kerja secara on-line memang telah mengejala saat ini, baik  di kantor-kantor, perusahaan maupun dunia jurnalistik serta pendidikan.

Menurut profesor Djohar, system ini bisa terpakai  tergantung  subjek dan objeknya, kalau memang harus dikerjakan pada saat itu juga, atau by doing, kenapa tidak, tegasnya, dosen bisa menuliskan atau merubah  naskah ujian atau bahan materi perkuliahan secara cepat dan tepat. “Tapi harus ada objeknya.” Cara ini sangat tepat, khususnya bagi pengajaran jarak jauh atau antar pulau dan negara. Dikatakan, metode ini bisa artinya diistilahkan  dengan objek study, bukan lesson study seperti yang selalu dibicarakan.

Profesor Djohar mengatakan metode ini bisa cepat kita dapatkan atau perlukan, tatkala kita memerlukan modul-modul pembelajaran dari dalam dan luar negeri. “Saya banyak memberikan modul-modul perkuliahan ke Malaysia dan negara-negara lain.” Sebenarnya menurut Djohar, kita mestinya bangga dengan modul-modul yang ditulis bangsa sendiri, bukan bangga dengan modul yang ditulis bangsa asing. “Kita ini sama instrument, baik fisik, otak  dan kemampuan yang lainnya. Tuhan memberikan kemampuan yang sama kepada setiap makhluknya, tinggal bagaimana memanfaatkan kelebihan yang diberikan itu untuk membuat bahan-bahan atau modul yang berguna bagi pendidikan ata ilmu pengetahuan.

“Saya ini banyak memberikan modul kepada mahasiswa dan dosen, dengan memanfaatkan teknologi program  e-learning ini. Namun saat ini yang sangat saya sayangkan, ada dosen yang menulis yang semestinya untuk program pascasarjana doctor, tapi menuliskan modulnya diberikan untuk pascasarjana, “ini kan tidak benar.” Semestinya mereka memahami apa yang harus mereka berikan dan tidak menyimpangkannya.

Menurut Djohar, system e-learning baik kalau menempatkan pada tempat yang seharusnya.”Tergantung tempat, situasi dan posisi antar kita, jadi tidak harus begitu begitu.”Tidak boleh ada pemaksaan dari dosen terhadap anak didik atau mahasiswa, system perkuliahan di zaman sekarang dengan teknologi serba tinggi, semestinya perkuliahan bisa dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja. “Perkuliahan itu kan bisa dilaksanakan di café, di taman atau di ruangan terbuka, tidak harus di ruang kuliah atau dosen.”

Dengan teknologi serba tinggi, semestinya perkuliahan bisa dilaksanakan di mana saja, dan kapan saja. “Perkuliahan itu kan bisa dilaksanakan di café, di taman atau di ruangan terbuka, tidak harus di ruang kuliah atau dosen.”

Djohar mengungkapkan dibutuhkan peran aktif dari dosen untuk membuat program perkuliahan dengan teknologi on-line ini, artinya dosen dan mahasiswa sama-sama aktif untuk membuka computernya dan menanggapi atau membuah naskah atau modul untuk disampaikan kepada mahasiswa. “Dosen itu harus punya web, dan mereka mahasiswa juga harus punya, kalau tidak sulit untuk menjalankan metode online tersebut, “katanya.

Menurut profesor Djohar, metode ini telah dilakukan di fakultas ekonomi secara keseluruhan dikampusnya universitas sarjanawiyata taman siswa. “Cara ini dapat juga dimanfaatkan mahasiswa untuk melihat nilai-nilai hasil ujiannya, baik ujian tengah semester maupun akhir semester. “Kalau ini tidak dibuka-buka mahasiswa, mereka akan kesulitan mengetahui hasil ujian maupun materi perkuliahan, semestinya dosen juga harus memberitahukan bahwa materi atau hasil ujian telah disampaikan melalui system online computer e-learning, jadi bisa lebih cepat.

“E-learning dan e-library, jadi perpustakaan kita telah digital, apa pun yang diinginkan mahasiswa untuk memperoleh informasi buku atau skripsi dapat dengan cepat diperoleh, “jelasnya. Menurut Djohar dengan mengambil contoh di Manila, Philipina, di negara itu, program dan metode pembelajarannya selain tidak fleksibel juga acapkali berubah-ubah, dan ini menyulitkan mahasiswa dan siswa. “Kalau yang lain-lain sich sama.”

Djohar menambahkan, metode e-learning telah menarik mahasiswa dan dosen untuk saling berkomunikasi dengan baik, dan ini juga memberikan kepercayaan diri mahasiswa, bahwa di era teknologi seperti sekarang, mereka harus bisa mengerti, dan tidak minder. “Sebenarnya program ini sudah lama, hanya saja baru diterapkan baru-baru ini saja.”

“Sejak jadi rektor 2002 sudah menjamur program ini, “jelasnya. Sementara,  bicara teknologi dengan luar negeri tidak ada yang berbeda, sama saja. “Hanya substansinya saja yang berbeda, seperti di Australia, misalnya.”Hal yang sama juga terjadi di Malaysia, dimana pendidikan menjadi yang nomor satu, sehingga mereka lebih maju. Kini, bagaimana antara pendidikan dan pembelajaran seimbang, di Australia, mereka belajar sendiri-sendiri, tapi ini bukan sebuah solusi, sebab di negeri kita ini pendidikan merupakan yang pokok, agar siswa didik dapat belajar etika dan pola tingkah laku yang baik.

Kini tuturnya bagaimana membuat program yang baik, dan dapat mengarahkan anak-anak menjadi mahasiswa yang unggulan. “Namun semua itu kembali kepada substansi materi yang diberikan, apakah muatan pendidikannya dapat diakali ke dalam materi tersebut, dan ini tergantung besar kecilnya juga bobot pendidikan yang dimuatkan ke materi pembelajaran, “pungkasnya Menurutnya lagi, kurangnya pemanfaatan ilmu pengetahuan ke dalam bobot materi yang diberikan kepada mahasiswa, membuat  mereka hanya menerima pengetahuan saja.

Ironinya Administrasi Absensi

Profesor Djohar menjelaskan, kendati di kampus sarjanawiyata taman siswa telah diterapkan metode e-learning, namun para dosennya tetap diwajibkan untuk hadir di ruang perkuliahan, mahasiswa tetap diwajikan untuk absensi. “Jika mereka berhalangan datang, ya saya anggap tidak hadir, “begitu tandasnya. Hal inilah yang menurutnya juga menjadi belenggu bagi pemanfaatan model-model teknologi atau kemacetan IT. Perkuliahan di Indonesia, sulit untuk tidak melupakan administrasi absensi. “Ini merupakan hal yang wajib dilakukan dosen untuk mencatat  kehadiran para mahasiswa, itulah yang membedakan perkuliahan di negeri kita dengan di luar negeri. “Meskipun mahasiswa saya sudah mengirimkan email dan menjawab pertanyaan yang saya berikan dari Jakarta, kalau mahasiswa saya tidak hadir maka saya anggap bolos alias tidak hadir.”Inilah yang membelenggu pendidikan kampus di Indonesia, “tuturnya ironi.

Menurut Djohar, hancurnya pendidikan di Indonesia, lantaran tidak fleksibelnya kampus-kampus yang terdapat di Indonesia, mereka acapkali mengancam dosen yang tidak absensi dengan tidak membayar honor mereka. Inikan sangat ironi, dan merugikan semua pihak. “Bagi kampus ini merupakan sebuah ketentuan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika dosen masih mau tetap mengajar, mereka harus ikut aturan kampus, dan tidak mengambil sikap sendiri-sendiri, “jelasnya.

“Ini saya pernah alami, dan tetap saja saya dirugikan, tapi sudahlah, “celotehnya. Model online menurut Djohar cukup efektif, tapi faktor kehadiran siswa, menjadi persoalan besar bagi berjalannya system ini. “Kalau memang mau online,  ya  harus online semuanya, tidak separuh-paruh.”

Profesor Djohar mengatakan sangat menentang system yang membelenggu perkembangan teknologi saat ini. Sistem online telah mendidik kecepatan memperoleh atau akses informasi dengan cepat. “Semestinya lagi, kampus memahami hal itu.” Kalau ingin maju buatlah system yang maju, sebaliknya kalau mundur, “ jangan harap katanya.

Djohar yang tidak setuju kampus mempasung IT, menyarankan agar persoalan  teknologi informasi segera dapat dicarikan jalan keluarnya. Mengingat teknologi komunikasi telah mengajarkan kita untuk mempercepat segala persoalan atau langkah hubungan komunikasi keduabelah pihak, yakni komunikator dan komunikan. “Buat apa ada laptop dan netbook, seandainya kampus memasung perkembangan teknologi komunikasi informasi dengan urusan absensi, “tuturnya mengulang kembali cerita sebelumnya.

Dengan pemanfaatan computer sebagai sarana mempercepat hubungan komunikasi secara langsung, telah memberikan warna tersendiri bagi persoalan manusia. Nyatanya menurut Djohar, pihaknya mendapat banyak cara memberikan pemahaman kepada mahasiswa, baik berupa tulisan maupun gambar-gambar yang dapat dicerna mahasiswa.
“Kalau saya mengajar cukup dengan memberikan gambar-gambar digital dengan modul yang telah saya program terlebih dahulu, “jelasnya. Profesor Djohar juga menceritakan dirinya mengajar di berbagai kampus di negeri dan swasta, serta mendapat honor yang tidak begitu besar. “Kalau di UIN saya mendapat honor yang cukup tinggi, dan ini telah sesuai dengan keringat, dan ilmu yang saya peroleh, “tuturnya.

Ia mengatakan selama mengajar kerap menggunakan teknologi informasi, sehingga tidak sulit atau capai mengeluarkan seluruh tenaga. Cukup dengan memberikan perkuliahan dalam bentuk modul-modul dan email, maka seluruh perkuliahan seselesai.”Saya dengan teknologi, maka saya bisa mengefesiensikan tenaga dan pikiran, “jelasnya. Perkembangan teknologi e-learning telah popular di Indonesia, seyogyanya ini diikuti oleh seluruh kampus lainnya, agar mereka juga maju dan tidak ketinggalan zaman.

Kampus-kampus harus bisa menerapkan teknologi e-learning, atau kalau tidak maka ia akan tertinggal atau paling tidak  belajar dengan melaksanakan study banding  ke  kampus-kampus  yang  telah lebih dahulu menerapkan metode ini. “Ini cukup efektif dan baik, agar teknologi ini berkembang.”Saya memasukan bahan  kuliah ke internet dan mentranfernya ke mahasiswa. Ini tidak lain agar mahasiswa bisa belajar di rumahnya, tanpa harus tertinggal catatan atau pekerjaannya. Sebelum mengirimkan seluruh bahan saya konsep terlebih dahulu, agar tertata dengan baik. Ia mengatakan merasa bangga dengan mahasiswanya yang telah memahami teknologi IT ini, dan berhasil mengantarkan mahasiswa bimbingannya meraih gelar ke sarjanaan secara cum laude.

Model e-learning tidak harus dilakukan di gedung, tapi bisa di sawah, di laut dan di ruang tamu atau rumah. Sekali lagi, profesor Doktor  Djohar Ms, menekankan pentingnya pemanfaatan IT e – learning, khususnya membantu teman-teman yang membutuhkan informasi pihaknya. E-learning menurutnya juga sangat efektif untuk semua orang. Dengan lima fakultas yang ada, diharapkan kampusnya dapat menggunakan system ini secara cepat dan tepat guna. “Khususnya dalam pemanfaatan ketidaktahuan mahasiswa, maupun dalam praktik diskusi dan seminar, “jelasnya mengakhiri perbincangan.

SM Panjaitan

Direktur Utama PT Surya Global Security Service

Sukses Menyeluruh Sulit Dicapai

Setiap menjalankan sebuah usaha, diperlukan planning (perencanaan), money (uang), man (manusia), peralatan ditambah dengan strategi yang jitu. Semua itu, digabungkan dalam sebuah pentahapan pencapaian yang terencana sejak memulai (start), lokasi usaha, sampai tujuan terukur yang ingin dicapai. Misalnya, usaha jangka panjang yang terukur antara 5-25 tahun, jangka sedang dalam hitungan 12 bulan sementara jangka pendek maksimal 30 hari.

Meskipun demikian, semua itu tergantung pada sasaran atau target yang ingin dicapai oleh pemilik usaha. Yang jelas, kesuksesan bisa diukur dengan berbagai patokan, mulai sukses dalam bentuk uang, kepemimpinan, kesejahteraan dan lain-lain.

“Untuk sukses secara menyeluruh sangat sulit dijangkau. Karena usaha itu bisnis dengan motto ‘Modal sedikit dengan hasil yang banyak’. Harus tetap sejahtera tetapi tidak melanggar aturan dan berjalan sesuai Undang-Undang dan peraturan. Pengusaha harus berpedoman pada ilmu ekonomi, kepemimpinan dan managerial yang menyesuaikan perkembangan zaman, serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dan canggih. Dia juga harus terus berinovasi untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan sesuai Asta Gatra, ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan keamanan,” kata SM Panjaitan, Direktur Utama PT Surya Global Security Service.

Pengusaha sukses, lanjutnya, tidak akan tergantung kepada nasib. Ia sangat tergantung pada kegigihan, keuletan, ketekunan, kedisplinan, ketelitian dan kecermatan di segala hal. Pengusaha yang sukses memiliki selektivitas dan prioritas dalam mengambil keputusan, memahami kebutuhan pasar serta perkiraan tentang masa depan. Tentu saja, semua itu melalui perhitungan yang sangat matang, berdasarkan angka-angka sehingga bisa menentukan sasaran-sasaran tambahan. Yakni melalui usaha mendapat inovasi baru dan bukan sekadar “coba-coba”. Kalau pun dilakukan hanya “coba-coba” tetapi melalui perhitungan menurut teori penelitian.

Menurut Panjaitan, seorang pengusaha adalah sekaligus pemimpin, yang mengerahkan orang lain untuk mewujudkan gagasan dan idenya. Pengusaha yang pemimpin, menduduki salah satu golongan dalam kategori umum manusia yang terdiri atas empat kategori. Kategori pertama adalah orang yang tidak tahu kalau dirinya tahu. Kedua orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga selalu menjadi penghalang. Ketiga orang yang tahu kalau dirinya tahu dan keempat orang yang tahu dirinya tidak tahu.

“Apabila dua kategori terakhir berada dalam diri satu orang, maka dialah yang akan menjadi pemimpin. Karena dia mampu memberdayakan sumber daya yang ada –manusia, uang dan alat- mampu menggerakkan, memotivasi, menuntun dan membimbing. Dia juga mampu memberdayakan uang, mampu menempatkan orang dengan tepat sesuai kapasitas masing-masing. Bahkan, seorang pemimpin bisa membuat orang yang dinilai bodoh menjadi sangat ahli di bidangnya,” tegasnya.

Seorang pemimpin, jelas Panjaitan, memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh. Masing-masing manusia dalam keyakinan pemimpin telah mendapat porsi tugas, fungsi dan peranan yang tidak persis sama. Untuk itulah, seorang pemimpin menciptakan sistem yang berupa suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari banyak unsur yang saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Masing-masing orang memiliki talenta yang membutuhkan kompetensi hasil belajar latihan dalam berbagai tingkatan. Semua itu dapat ditentukan oleh seorang pemimpin melalui kriteria-kriteria tertentu yang jelas dan terukur.

Seorang pemimpin perusahaan, menurut Panjaitan, harus bijak dalam menerima kritikan positif. Dia tidak boleh terlalu fanatif terhadap sebuah pendapat dan mengabaikan saran-saran yang berasal dari anak buahnya. Seorang pemimpin harus mempertimbangkan sebelum memutuskan, tidak egois, fleksibel, luwes dan energik. Selain itu, pemimpin harus gampang menyesuaikan diri, lembut tetapi prinsip dan keyakinan harus tercapai.

“Seorang pemimpin itu harus seperti air, yang selalu mengalir, merembes atau menguap tetapi selalu mencapai laut. Itulah tujuan sebenarnya dari air yang tidak dapat dibendung oleh apapun sebelum mencapai laut sebagai tujuan akhir. Tidak ada yang dapat menghentikan gerakan tersebut bahkan kalau perlu tsunami menggerakkan air. Seperti itulah pengusaha sukses menurut pandangan saya,” ungkapnya.

Seorang pengusaha sukses, imbuhnya, adalah orang yang sukses dalam penggunaan uang (money) dan menikmati hasilnya. Dia juga sukses menggerakkan orang (man) dengan kesejahteraan rohani dan batin. Pengusaha yang sukses juga berhasil dalam memaksimalkan penggunaan alat, profesional dan proporsional, tepat guna dan berhasil guna. Artinya pengusaha sukses harus berguna bagi orang banyak dan bukan keuntungan pribadi atau kelompok saja.

Memerlukan Inovasi

Dalam memimpin perusahaan, menurut Panjaitan akan sangat berbeda dengan pimpinan dalam kemiliteran. Kalau dalam kemiliteran garis komando sangat jelas penanggung jawab antara yang dipimpin dengan pimpinan, pengusaha tidak bisa melakukannya. Pimpinan di militer lebih gampang mengendalikan anak buahnya terkait adanya garis komando tersebut. Sementara pimpinan perusahaan tidak memiliki hubungan yang tegas dengan para karyawan yang dipekerjakannya.

“Kedudukan antara pemilik perusahaan dan karyawan relative sejajar. Karyawan hanya takut dipecat atau dikeluarkan dari pekerjaan oleh kekuasaan sehingga tanggung jawabnya kurang. Kebanyakan karyawan ingin bekerja sesedikit mungkin dengan hasil semaksimal mungkin dengan berbagai dalih atau alasan. Karyawan tidak sadar bahwa mereka ikut pemilik perusahaan dengan saham tenaga. Oleh karena itu, bagi pimpinan perusahaan harus mencari cara dan strategi atau formula yang paling baik dan terus melakukan inovasi yang berkesinambungan,” tandasnya.

Sebenarnya, kemajuan atau kemunduran sebuah usaha merupakan sebuah kejadian biasa dan normal. Seperti grafik dalam kehidupan di dunia ini, kenaikan atau penurunan adalah sesuatu yang wajar. Yang penting, tujuan akhirnya adalah tercapainya sasaran yang telah direncanakan. Kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan, yang mengetahui dengan pasti adalah pimpinan atau pemilik perusahaan. Pencapaian kemajuan perusahaan sampai 65 persen akan dinilai berhasil pada tahapan jangka pendek, sedang dan panjang. Meskipun demikian, angka 100 persen pencapaian dalam bisnis bukan tidak mungkin terjadi.

Seorang pengusaha, jelasnya, dapat melatih indera penciuman terhadap peluang bisnis di sekitarnya. Salah satu latihan yang paling berguna adalah dengan melatih panca indera untuk penguasaan terhadap informasi. Karena ketika informasi sudah dikuasai, bisa diibaratkan seorang pengusaha telah menguasai dunia. Semua itu bisa diperoleh melalui olah pikir dari membaca, baik ilmu pengetahuan maupun media massa. Kemudian banyak melihat, mendengar, merasa dan mencium sehingga banyak pengalaman, baik media massa, elektronik dan lain-lain.

“Kemudian kita harus menguasai banyak bahasa. Kemudian olah fisik atau olahraga juga menggunakan otak. Kalau sudah pintar, bijak melalui olah fakir tentu membutuhkan fisik yang sehat. Orang pintar juga harus dengan fisik yang sehat dan kuat. Bila ini dimiliki seseorang, kami yakin indera penciuman di bidang usaha atau bisnis pasti tajam. Bahkan mereka akan mampu secara otomatis mencium peluang usaha yang baik untuk bisnis di masa depan,” tegasnya.

Menarik Becak

SM Panjaitan adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Komisaris Polisi. Ia telah menjalani tugas panjang di kepolisian selama 37 tahun 10 bulan dari pangkat terendah, Bharada pada tahun 1969 (14 Februari 1970, resmi menjadi polisi). Selama bertugas di kepolisian, ia menjalani pendidikan kedinasan sampai 14 kali untuk meningkatkan kompetensinya sebagai petugas yang mengabdi kepada masyarakat. Setelah pensiun pada tahun 2006 (30 Desember 2006), ia mengisi masa pensiun dan membuka usaha pada bulan Oktober 2008.

Saat menjalankan tugas sebagai polisi, Panjaitan menyadari bahwa pekerjaan adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ia harus mengutamakan tugas di atas segalanya. Adapun tugas mengurus anak dan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada istri tercinta. Di luar tugas, barulah tenaga, pikiran dan seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk mencari penghasilan yang halal.

“Saya pernah menarik beca dari tahun 1976-1977, mencatak dan memasok sol sepatu, mandor angkot, beternak, membuat ember dari tong aspal dan lain-lain. Semua itu saya kerjakan di luar tugas kepolisian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena saat itu, adik-adik datang dari kampung dan kebetulan saya tinggal di luar asrama. Nah, saat saya berpangkat sersan dan menjadi komandan regu maka saya harus masuk asrama. Terpaksa, kegiatan di luar saya hentikan demi kelancaran tugas dan karier. Meskipun secara penghasilan banyak berkurang, tetapi itu peraturan yang harus ditaati,” kisahnya.

Panjaitan tentu saja harus mematuhi aturan yang berlaku di asrama sehingga tidak bisa menjalankan bisnisnya di luar jam kerja. Ia terikat peraturan asrama yang bahkan untuk keluar asrama pun harus mendapat izin dari Ka. Asrama kecuali untuk kepentingan tugas. Di sini ia banyak belajar bagaimana tugas dan kriteria pimpinan militer atau kepolisian yang penuh disiplin. Pimpinan militer (perwira) bagaikan martil, yang menokok paku adalah bintara –penghubung antara atas dan bawah- sedangkan yang dipalu adalah bawahan (tamtama( yang banyak menjadi satu agar kuat dan tahan. “Pemimpin militer memimpin prajurit yang telah dilatih tegas dan keras dalam disiplin dan tanggung jawab. Jadi baik yang memimpin maupun yang dipimpin sama-sama keras,” ujarnya.

Pengalaman disiplin di kepolisian, sedikit banyak dipraktekkan Panjaitan dalam mengendalikan perusahaan. Ia berharap perusahaan yang dipimpinnya menjadi sarana mendapatkan manusia yang sejahtera, bertanggung jawab dan berguna bagi kesejahteraan keluarganya. Baginya, bekerja merupakan pengalaman berharga dan menjadi ilmu yang dapat digunakan untuk dijadikan ilmu pengetahuan bagi para staf dan karyawan perusahaan. Setidaknya, para karyawan mampu mengembangkan perusahaan sesuai perkembangan zaman karena mereka lah penggerak dan motor perusahaan.

Panjaitan sadar, sedikit banyak usaha yang digelutinya sekarang adalah merupakan bagian dari program pemerintah. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah turut campur tangan mengenai masa depan perusahaan. Yakni dalam hal perencanaan, man, money, peralatan dan produk hukum serta peraturan dengan batasan-batasan tertentu. Kemajuan perusahaan akan memberikan andil dalam mensejahterakan rakyat sedangkan kemundurannya berakibat sebaliknya.

“Sebagai pemimpin, saya harus menggugah dan memotivasi karyawan atau generasi muda. Saya juga berkewajiban mendorong dari belakang dengan menjadi contoh di depan, bersikap adil dan bijaksana, berusaha memberi pandangan visi ke depan agar jangan jalan di tempat. Namun, sekarang semua itu menjadi sangat terbatas, hanya di lingkungan kerja saja. Akibat kesibukan pekerjaan yang sangat padat, membuat saya harus membatasi aktivitas di tempat lain,” kata SM Panjaitan.

 

E. Kurniawan, S.Si MT

PT Indonesian Environment Consultant

Masalah Lingkungan dan Manusia Menjadi Passion Dalam Bisnis

Lingkungan hidup sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya.
Manusia dengan kemampuan berpikir dan kepekaan emosinnya merupakan mahluk yang mumpuni di bumi ini. Telah menjadi sifat manusia untuk selalu meningkatkan taraf hidup, sehingga ia melakukan berbagai inovasi yang dapat mempermudah dan meningkatkan kehidupannya. Hal ini dimungkinkan oleh karena tangannya yang dapat membuat alat (prehensile hands) dan matanya yang stereoskopik, sehingga ia dapat melakukan konseptualisasi dan mengimplementasikan konsepnya.
Dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kehidupan dalam perateknya haruslah dapat memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksinya secara sungguh-sungguh dengan tujuan akhir adalah tersediannya sumber daya alam yang lestari.
PT. Indonesia Environment Consultant hadir dalam rangka mewujudkan terciptanya penyelarasan antara imperatif peningkatan taraf hidup dan kehidupan dan kewajiban moral untuk mewujudkan lingkungan yang lestari dengan mengusung satu visi besar kedepan yaitu Menjadi perusahaan Green Business terbaik di Indonesia dan sebagai mitra bagi institusi lain dalam upaya menciptakan Planet bumi yang lestari.

“Menurut saya, setiap manusia lahir dimuka bumi ini pasti punya alasan tertentu, oleh karena itu saya sangat menyadari bahwa Tunah SWT menciptakan saya dimuka bumi ini untuk 2 (dua) alasan yaitu manusia dan lingkungan. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya memilih manusia dan lingkungan menjadi passionnya hidup saya. Saya berharap dengan segala apa yang telah saya miliki dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan pelestarian fungsi lingkungan. Untuk saat ini kegiatan dan aktivitas yang saya kerjakan selalu terkait di kedua koridor tersebut yaitu lingkungan dan manusia termasuk didalamnya menjalankan aktivitas bisnis yang saya lakukan. Mungkin nanti, sesudah semua berjalan sesuai harapkan akan mengembangkan ke ranah yang lain terutama untuk kegiatan bisnis dibidang lainnya,” ujar E. Kurniawan, President Director/CEO PT Indonesian Environment Consultant.

Enang –panggilan akrabnya- adalah lulusan S1 Jurusan Biologi Lingkungan di Universitas Sriwijaya tahun 2001. Setelah lulus, selama dua bulan bekerja di sebuah bank internasional, Citibank NA. Ketika perusahaan otomotif terkemuka, PT. Astra Internasional Tbk membuka lowongan pekerjaan ia melamar dan diterima di PT. Astra International-Toyota Cabang Sudirman dan cabang Ambasador Jakarta. Di tempat inilah, ia belajar mengenai ilmu bisnis, filosofi perusahaan dan lain-lain, yang akhirnya diimplementasikan di perusahaan sekarang.

Meskipun demikian, sembari bekerja Enang tetap menyimpan cita-cita besarnya, ia mengumpulkan modal untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus tes di Program Megister Teknik Lingkungan ITB Bandung, ia memutuskan keluar dari PT. Astra International Tbk. Semua orang terhenyak mendengar keputusan yang sangat radikal tersebut. Dari orang tua, saudara, tetangga dan sahabat-sahabatnya keheranan. Bagaimana mungkin, pada usianya yang baru 25 tahun dan memiliki penghasilan cukup baik ditinggalkan begitu saja untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti.

“Cukup besar tentangan saat itu. Tetapi saya katakan, mungkin inilah jalan hidup yang digariskan Tuhan. Saya berjanji kepada orang tua dan saudara-saudara untuk tidak akan mengganggu hidup mereka dan tetap akan menjalankan peran saya sesuai harapan dan ekspetasi mereka. Makanya, demi cita-cita akhirnya saya keluar dari Astra.

Ketika setelah keluar dari Astra dan hampir satu bulan saya tidak bekerja di Astra rupanya Tuhan justru memberikan jalan terbaik karena atasan menyuruh saya bekerja part time di Auto 2000 Pasteur Bandung. Masih ingat pada waktu itu ketika wawancara dengan kepala cabang di Auto 2000 Pasteur justru atasnnya tersebut sangat mendukung sekolah saya. Ia bahkan mau menerima saya dengan syarat agar saya fokus kepada kuliah menjadi hal utama, bukan pekerjaan. Wah, ini memang rezeki untuk ku, bukan syarat itu,” katanya.

Enang menyelesaikan kuliahnya selama hampir dua tahun yaitu pada 2004-2006. Selama masa perkuliahan perjuangan berat harus dijalani karena menjalankan dua aktivitas sekaligus yaitu kuliah sambil bekerja. Sempet ia berpikir kuliah di program masternya saat ini tentunya tidak akan terlalu berat seperti program sarjana, namun rupannya beliau keliru aktifitas diperkuliahan justru menyita pikiran dan tenaga cukup besar sehingga diperlukan effort yang cukup besar untuk mengatur semuanya agar aktifitas perkuliahan dan bekerjanya tetap berjalan dengan baik. Aktifitas sehari-hari terkadang kuliah dimulai jam 7 pagi sampai dengan jam 1 siang lalu dilanjutkan dengan pergi kekantor untuk jalankan aktifitas pekerjaannya pulang pada malam harinya, dan dilanjutkan dengan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang terkadang harus begadang semalaman untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, kadang saat itu ia berfikir ini terlalu berat, tapi ia disadarkan bahwa semua akan indah pada waktunya, kilahnya.

Di ujung Akhir perkuliahnnya, saatnya ia disadarkan kembali untuk memilih jalan hidup yang menjadi cita-cita dan mimpinya dengan menggunakan kontrak hidup “berani” ia benar-benar menggunakannya untuk keluar dari perusahaan otomotif tersebut yang hampir 5 tahun membesarkannya. Sayangnya, ia harus menanggung “masalah besar” karena ketika setelah beberapa saat mengajukan diri untuk keluar suatu masalah membelitnya. Permasalahannya dengan customernya, membuat ia harus kehilangan seluruh tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja, bukan hanya itu bahkan dia merasa disinilah titik terendah yang pernah dialaminya.

“Itu sebagai kompensasi dan mungkin itu juga resiko yang harus saya bayar untuk mendapatkan mimpi saya kelak. Tinggallah saya yang sudah keluar dari perusahaan, tak punya pekerjaan dan hanya menyisakan uang Rp49 ribu di rekening. Disinilah saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Bahwa ketika kita berani bermimpi, kita tidak hanya siap menghadapi risiko. Tetapi kita bahkan harus berani membayar risiko dari apa yang dicita-citakan apapun itu, karena saya percaya untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa tidak bisa ditempuh dengan cara yang biasa yang kebanyakan orang dilakukan,” ungkapnya.

Dari situ, Enang kemudian membangun perusahaan setahap demi setahap. Modal awalnya adalah semangat karena selepas dari Astra dan harus menghabiskan seluruh tabungan di akhir kariernya, ia tidak memiliki dana sama sekali. Hanya keinginan dan cita-cita yang membuatnya membangun perusahaan yakni melalui passion di bidang lingkungan dan sesekali menjalankan aktifitas lainnya seperti menjadi fasilitator dan co trainer di lembaga training untuk memuaskan hasratnya di passion lainnya terkait manusia.

“Saya merasa dikirimkan Tuhan untuk dua tujuan, lingkungan dan manusia. Tidak untuk orang lain makanya saya ambil risiko dan membangun ini. Dari berkantor ikut orang sekarang sudah memiliki kantor yang layak. Saat ini kami berkantor di Menara Hijau Building MT Haryono Jakarta. Tahun pertama dan kedua perusahaan berjalan, saya tidak pernah berbicara tentang manajemen, tetapi lebih banyak kepada value dan budaya corporate. Karena saya menganggap pondasi perusahaan terletak pada velue dan budaya corporate, katanya.

Keberanian dan Komitmen

Indonesian Environment Consultant memulai dengan membangun bisnis lingkungan berawal sebagai konsultan. Belakangan, IEC juga memasuki bisnis dalam kategori services di bidang lingkungan. Tahun 2012, ia ingin membuat award untuk teknologi lingkungan yang hasilnya akan diimplementasikan dalam industrial scale.

“Mungkin akan kita bangun bersama sponsor. Tujuan kita adalah membangun industri yang berbasis green business, kelak kita berharap akan menjadi pusat inkubasi bisnis untuk Greeen Technology. IEC nanti akan terjun ke pengolahan limbah, manufaktur dan energi,” kata finalis Teknopreuneur Award dan New Ventures Indonesia ini.

Menilik kembali perjalanan IEC, Enang menjelaskan bahwa perusahaan yang didirikannya menjadikan tekad sebagai modal utamanya dan dalam menjalankan usahannya adalah spirit sebagai motor dalam menggerakan roda perusahaan sesuai yang dikehendaki. Dengan spirit itu akan mudah meningkatkan kepercayaan dari para kolega yang disertai dengan filosofi penjualan spirit power selling yakni menjual by spirit. Jadi rahasianya adalah menyampaikan spirit yang dimiliki kepada calon pelanggan,” tuturnya.

Setiap perusahaan memiliki cara yang tersendiri untuk tumbuh dan berkembang, begitu juga dengan IEC ketika tahun-tahun awal focus terhadap value dan budaya corporate baru satu tahun belakangan fokus terhadap manajeman dan profit. Meskipun demikian, sebagai pemilik Enang sangat bersyukur karena semua itu sesuai harapannya dan semua perjalanan itu terasa indah lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. Bagi pengagum Bung Karno ini, membangun pondasi bisnis yang kuat lebih berguna daripada harus untung dahulu. Dengan memiliki bisnis yang kuat dan akhirnya menguntungkan, berarti ia telah menjawab dan menepis keraguan orang tua dan saudara-saudaranya saat keluar dari Astra.

“Butuh pemahaman yang kuat terhadap proses berjalan dan siap menerima dinamika yang akan terjadi dalam membangun usaha ini. Hobinya naik gunung sewaktu kuliah telah memberinya pelajaran berharga, bahwa kita haruslah tetap fokus terhadap tujuan, dimana tujuan utama kita naik gunung untuk tiba di puncak dan pulang kembali ke rumah dengan selamat. Saya mengumpamakan dalam hidup sama seperti kita mendaki gunung sering sekali kita temukan jalan teramat terjal dan curam dengan segala liku dan kelok tetapi kalau ditelusuri lebih jauh bukankah semua itu menjadi sahabat setia yang akan menuntun kita menuju puncak untuk tiba tepat esok pagi.

Dalam meraih mimpi membutuhkan keberanian dan komitmen. Tidak cukup hanya keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan besar tapi harus memiliki komitmen yang jelas dengan segala resiko yang siap dibayar bukan diterima. Ini bukan tentang apa yang kita bisa tetapi apa yang kita mau. Ini baru gentle,” tegasnya.

Enang yang dibesarkan dari dunia pendidikan –ayahnya Kepala Sekolah SMP ibunya Kepala Sekolah SD- meyakini bahwa power of spirit adalah modal utama. Spirit yang luar biasa sudah cukup untuk membangun perusahaan, meniti karier atau mengejar impian untuk hidup lebih baik. Karena dengan spirit, segala sesuatu baik kondisi baik atau buruk, senang atau susah akan dihadapi dengan besar hati.

“Hambatan itu bukan ketika susah saja lho, bahkan kesenangan juga bisa menjadi hambatan dalam meraih cita-cita kita. Contohnya saya pernah ditawari headhunter untuk menjadi vice president di perusahaan UK tentunya dengan gaji yang cukup menggiurkan. Disinilah kembali saya diuji untuk mengambil keputusan besar dalam menentukan pilihan. Setelah melalui shalat istikharah dan lain-lain, saya putuskan untuk tetap di sini. Karena menurut saya ini bukan tentang uang semata, tetapi menjalankan passion saya yang membuat saya lebih memberi nilai besar pada diri saya, inilah sebuah pilihan walaupun terkadang pilihan tersebut terasa tak popular, tetapi keyakinan yang besar untuk tiba pada cita-cita luhur mengantarkan saya untuk mengambil keputusan besar untuk tetap menjalankan dan mengendalikan perusahaan yang menjadi passionnya,” jelasnya.

Enang sangat bersyukur, perusahaan yang dikembangkan melalui power of spirit tersebut mulai menuai harapan. Ini membuat semangatnya semakin terbakar untuk membangun perusahaan menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan permasalahan lingkungan di Indonesia yang sangat banyak dan regulasi semakin ketat, akan menjadi modal cukup untuk menjalankan green business yang dijalaninya dan pada waktunya nanti uang akan datang dengan sendirinya.

“Saya sangat beryukur bisa seperti ini karena orang-orang di sekitar saya,
orang tua, sahabat, guru-guru spiritual dan lain-lain untuk memastikan agar saya menjalani semua ini dengan sungguh-sungguh. Balik lagi perumpamaan seperti naik gunung, semua tidak bisa dilakukan sendiri tetapi diperlukan rekan-rekan dimana disitu kita biasa saling support, selain itu sama halnya naik gunung ataupun pada saat meraih cita-cita kita perlu untuk istirahat sejenak untuk mencapai puncak tapi ingat jangan lama karena akan buat tubuh ini beku selanjutnya jalan lagi kalau perlu berlari agar cepat sampai di puncak gunung,” tuturnya.

Nikmati Proses

Pilihan Enang untuk menggeluti bisnis lingkungan atau Green Business tidak lepas dari latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Pria kelahiran Bogor, 27 Juli 1978 ini, menggabungkan pengalaman sebagai karyawan dan latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan ITB yang akan membuat sebuah bisnis berjalan dengan baik membuat penguasaha muda bungsu delapan bersaudara ini tetap dapat memberikan solusi dan kontribusi terhadap permasalahan lingkungan sangat prima.

“Alhamdulilah, prospek usaha ini pun ke depan sangat bagus. Karena hanya sedikit perusahaan seperti ini. Ditambah, sebagai mantan karyawan Astra yang bisa mengerti bagaimana Astra membangun business serta alumni Teknik Lingkungan ITB yang mengerti lingkungan, sehingga perpaduannya cocok dan klop mudah-mudahan akan menjadi modal besar untuk mengantarkan IEC menjadi salah satu perusahaan besar dinegeri ini,” kata anak pasangan H. E Padma (alm) dan H.R. Djulaeha ini.

Ke depan, Enang memiliki cita-cita untuk menjadikan perusahaan miliknya tidak kalah dengan perusahaan lain. Bahkan, cita-citanya menjadikan Indonesia Environment Consultant (IEC) memiliki brand yang kuat seperti IBM dan Microsoft. Di mana brand-brand itu telah memiliki nama besar dan memberikan kontribusi besar dengan produk yang dikeluarkan perusahaan tersebut.

“Saya mempunyai cita-cita, ke depan seperti perusahaan-perusahaan tersebut, ketika orang mengingat lingkungan maka nama IEC langsung disebut. Bahkan nanti saya berharap, IEC bukan lagi Indonesian Environment Consultant tetapi Indonesian Environment Corporation,” sebagai Holding Company harapnya.

Untuk saat ini, IEC mengerjakan proyek-proyek seperti studi lingkungan, AMDAL, desain CSR, Water Treatment yang lengkap dengan konstruksinya dan mengerjakan project-project Green Property. Kedepan IEC akan menjadi Green Incubator untuk para pebisnis lingkungan dan membangun projek-projek yang berbasis lingkungan seperti peyedia energy renewable seperti pembangkit tenaga mikrohidro.

Enang merasa diuntungkan dengan semakin tingginya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dari berbagai pihak. Selain pemerintah, masyarakat dan perusahaan juga memiliki kesadaran yang meningkat. Termasuk perusahaan vendor yang akan memilih perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap lingkungan untuk memproduksi produk yang dihasilkan.

Setelah berhasil dengan passion-nya pada lingkungan dan manusia, Enang telah menetapkan tujuan hidup yang pasti. Suatu saat, ia nanti akan menyumbangkan tenaga dan pemikiran kepada penyelenggara negara. Bukan sebagai politikus, tetapi dengan berbekal keahlian dan pengetahuan yang dimiliki serta passionnya dibidang lingkungan dan manusia berharap dapat berkontribusi untuk kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan. “Tentu setelah saya melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan terbaik, bagi khalayak,” imbuhnya.

Bagi generasi muda, Enang mengingatkan pada suatu hal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan. Pertama adalah menikmati proses yang sedang dijalankannya. Apapun itu, bagaimana kondisi yang dihadapi semua tidak lepas dari proses. Ibaratnya, seseorang yang ingin menjadi seseorang yang “luar biasa” dan pastilah dia melakukan sesuatu yang luar biasa juga, bukan melakukan hal biasa yang kebanyakan orang lakukan.

Selain itu, setiap orang harus memiliki keberanian untuk bertransformasi menjadi manusia lebih baik, baik menjadi seseorang yang berani, seseorang yang penuh cinta, seseorang yang jujur atau apapun itu, berharap akan menuntun kita menuju mimpi yang dicita-citakanya, mimpi hanya akan menjadi milik mereka yang percaya akan dirinya. Satuhal lagi Ketika mulai berjalan melenceng dari tujuan hidup yang dicita-citakan, generasi muda harus kembali pada track yang sudah ditentukannya sendiri. Tanpa itu, kesuksesan akan semakin jauh dari jangkauan dan generasi muda akan menjadi orang yang sangat biasa.

“Generasi muda harus belajar menikmati proses, meskipun itu berat. Mereka harus membayar lebih -waktu dan apa saja- untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak. Kemudian, alangkah baiknya jika kita memiliki komitmen hidup sendiri. Seperti saya dengan kontrak hidup “Berani”. Jadi ketika merasa takut, saya ingatkan diri sendiri bahwa ‘Mr Enang kontrak hidup Anda adalah berani, menjadi laki-laki yang berani, bagaimana sih….?’ Intinya jikalau kita ingin menjadi orang yang lebih, harus dibayar dengan cara yang lebih juga. Sekali lagi Tidak ada orang luar biasa tetapi melakukan usaha seperti apa yang biasa dilakukan orang. “I need to believe that something extra ordinary is possible.” Saya percaya sesuatu yang luar biasa akan terjadi pada orang yang bersungguh-sungguh. Bukan hanya pada diri saya sendiri tapi pada mereka yang percaya akan mimpinya.’ tegasnya.

Thomas Aquino Bima Priadi

Country Manager PT ESRI Indonesia

Lulusan Teknik Sipil yang Pakar IT

Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan setara dengan bangsa lain. Bahkan sejak dahulu kala, sejarah Indonesia telah menunjukkan kebesarannya sebagai sebuah bangsa yang disegani. Kalau sekarang terjadi kemunduran yang mengakibatkan ketinggalan, tentu sebuah kesalahan telah terjadi pada bangsa ini.

Padahal, bukan hanya Malaysia yang beberapa dekade sebelumnya mengirimkan ribuan pemuda untuk digembleng di Indonesia. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal kesejahteraan negeri jiran tersebut belakangan ini. Tidak hanya itu, negara semaju Jepang pun pernah menggunakan jasa pemuda Indonesia dalam industri teknologi informasi (IT/information technology).

Salah satunya adalah saya yang mendapat kesempatan dari Prof. BJ Habibie yang memiliki gagasan membangun industri IT Indonesia bagi pasar asing. Waktu itu beliau dapat challenge dari Jepang untuk mengisi programmer di sana yang sangat kekurangan. Saat itu, Habibie merekrut sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik IT di IPTN. Setelah itu, kami dikirim untuk job training di IBM Jepang. Selesai job training itu, kami bekerja di Jepang untuk mengerjakan beberapa proyek,” kata Thomas Aquino Bima Priadi, Country Manager PT ESRI Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, lanjutnya, banyak industri Jepang yang melakukan relokasi proyeknya ke Indonesia. Para programmer yang asli Indonesia menjadi tumpuan harapan untuk menggarap proyek-proyek perusahaan Jepang di sini. Selain itu, para programmer juga memiliki kesempatan untuk mengerjakan proyek-proyek bagi pasar perusahaan lokal.

Saat itu, Bima –panggilan akrabnya- harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus memilih bidang IT yang menjadi minatnya. Sebagai lulusan teknik sipil FT UGM Yogyakarta, ia sangat berminat pada engineering. Meskipun demikian perkenalannya dengan sistem informasi geografi telah membuat dirinya jatuh cinta dan berminat untuk mengembangkan sistem ini di tanah air.

Saya memang tidak memiliki pengalaman di bidang ini. karena Ketika lulusan dari Teknik Sipil UGM Yogyakarta, Tetapi market bidang konstruksi saat itu kurang bagus, sehingga saya banting stir ke bidang IT yang belum sepenuhnya berkembang seperti sekarang. Ketika mengenal sistem informasi geografi, saya jatuh cinta dan bertekad menekuni usaha di bidang ini karena yakin berpeluang besar akan tumbuh dengan baik,” tegasnya.

Bima menyadari bahwa tantangan di bidang ini adalah minimnya data yang tersedia. Buktinya, banyak proyek yang tidak berlanjut karena data spasial yang dibutuhkan tidak tersedia. Akibatnya, banyak proyek perusahaan yang terpaksa tidak diselesaikan karena harus berinvestasi dalam jumlah besar untuk mengumpulkan data spasial ini.

Oleh karena itu, saya mengadakan koordinasi dengan lembaga penyedia data agar kebutuhan terhadap data selalu tersedia ketika diperlukan. Saya juga bertukar gagasan untuk mendorong kemajuan sistem informasi geografi di Indonesia. Saya berharap, tidak ada lagi proyek di Indonesia yang gagal diselesaikan karena ketersediaan data sangat minim,” tegasnya.

Standar IT Indonesia

Thomas Aquino Bima Priadi menuturkan PT ESRI Indonesia memiliki visi menyebarkan software ESRI menjadi acuan utama teknologi GIS di Indionesia. Ia berharap, teknologi ini dapat dipergunakan oleh seluruh lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

Pertama menjadi standar yang dibutuhkan, kedua kita mampu menjadi bagian dari dunia teknologi informasi Indonesia. Kita ingin perusahaan menjadi leader dan standar sehingga siapapun nanti akan mengacu kepada perusahaan kita,” tegasnya.

Ke depan, lanjutnya, ESRI Indonesia ingin membangun SDM Indonesia. Utamanya SDM yang diperlukan untuk membangun dunia IT, khususnya didalam bidang Sistim Informasi Geografi di Indonesia. Upaya yang ditempuh adalah mencoba berkolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi. Dengan pertimbangan, bahwa perguruan tinggi memiliki knowledge yang diperlukan sementara perusahaan memiliki teknologi.

Itu yang harus kita gabungkan dan menjadi simpul-simpul kemajuan dunia IT Indonesia. Mereka juga harus mampu menangkap respon dan kebutuhan-kebutuhan IT dunia. Sementara ini yang kami sudah mengawali upaya kerjasama dengan kami adalah ITB dan UI. Sedangkan di timur, ITS Surabaya dan Unhas Makassar, sementara ke barat kita sudah kerjasama dengan Unsyah Banda Aceh,” tandasnya.

Pria kelahiran Purworejo, 1 April 1962 ini mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan keluarga yang sangat luar biasa terhadap karier yang ditekuninya selama ini. Sang istri, Dr. Banon Lupi Edi (dokter di rumah sakit Harapan Bunda) dan kedua anaknya tidak pernah mengajukan komplain atas kesibukan suami dan ayahnya. Meskipun harus ditinggal pagi-pagi dan kembali ke rumah dini hari, mereka menerima kondisi tersebut.

Saya pulang ke rumah paling cepat pukul sembilan malam. Tidak jarang malah pukul dua pagi, jadi mereka semua sudah tidur. Tetapi bagi saya justru itulah dukungan luar biasa dari keluarga karena mereka memberikan pengertian terhadap kesibukan saya. Oleh karena itu, terhadap pengorbanann dan kerelaan mereka itu tidak akan saya sia-siakan. Keluarga telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkembang semaksimal mungkin,” imbuh anak kedua dari lima bersaudaran pasangan Petrus Suyoso (Alm.) dan Henrica Sri Adiarti.

 Berbicara mengenai generasi muda, Thomas Aquino Bima Priadi mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang lebih lengkap fasilitasnya. Apalagi bila dibandingkan dengan kondisi generasi muda di zamannya yang minim akses ke mana-mana. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak bisa mempelajari dan memanfaatkan segala sesuatu di sekelilingnya agar menjadi lebih hebat lagi.

Yang perlu dilakukan adalah membantu memotivasi dan mengarahkan generasi muda agar kehidupan mereka lebih pasti dalam menatap masa depan. Generasi muda sekarang boleh saja menyukai yang serba instant karena sesuai dengan zamannya. Namun mereka juga tidak boleh mengabaikan proses yang harus dilakukan secara bertahap untuk memperoleh sesuatu. Diharapkan proses tersebut memiliki value bagi mereka sendiri, organisasi, masyarakat dan lain-lain,” tandasnya.

Tergantung Teknologi

Menurut Thomas Aquino Bima Priadi, banyak perusahaan sejenis yang menjalankan usaha di Indonesia. Tentu saja, semua perusahaan IT sangat mengandalkan kemajuan teknologi masing-masing karena itulah “jualan” perusahaan. Begitu juga dengan persaingan di dalam usaha ini tidak lepas dari kecanggihan teknologi yang ditanamkan pada produk IT.

Semua tergantung teknologi. Jadi bagaimana sebuah perusahaan memiliki teknologi yang cukup mumpuni sehingga mampu bersaing secara sehat. Tetapi yang jelas kita berpikir jangka panjang sehingga bisa dilihat sebagai mitra pemerintah yang sangat konsisten,” ungkap penyuka liburan di kampung halaman ini.

 Saat ini, lanjut penerima Most Strategic Win Tahun 2011 dari ESRI Inc. ini, dunia IT sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup setiap manusia. Bisa dikatakan, umat manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepaskan hidupnya dari sarana yang berhubungan dengan IT. Oleh karena itu, mau tidak mau-suka tidak suka, meskipun berlatar belakang pendidikan teknik sipil, dunia IT diselaminya.

Akhirnya saya mempunyai passion dalam bisnis ini. Meskipun awalnya memang berbagai kesulitan saya hadapi. Karena awalnya saya tidak pernah dididik di situ, bukan di set-up untuk itu. Tetapi saya diberi kesempatan, sehingga untuk masuk ke situ juga saya nikmati. Meskipun terjadi gap yang sangat berat, karena teman-teman yang lain sudah lebih dahulu menguasai kondisi dengan baik,” ungkapnya.

PT ESRI Indonesia di bawah pimpinan Thomas Aquino Bima Priadi sebagai Country Manager memiliki klien hampir seluruh kementerian di Indonesia. Beberapa perusahaan perminyakan dan perkebunan kelapa sawit juga turut menjadi klien perusahaan dalam masalah teknologi Sistim Informasi Geografi (SIG). Semua itu, membuktikan eksistensi perusahaan yang semakin dikenal sebagai penyedia jasa IT, khususnya SIG, terkemuka di Indonesia.

Di samping itu, Bima memiliki misi pribadi untuk menjadikan Indonesia sebagai penguasa informasi bagi dirinya sendiri tentang bangsa dan Negara Indonesia dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya. Karena dari sisi informasi, justru orang lain yang menjadi penguasa yang menurutnya sangat tidak bagus. Seharusnya, informasi tersebut menjadi sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang di Indonesia. Jangan sampai informasi-informasi yang sangat penting disediakan asing untuk keuntungan mereka sendiri dan bukan keuntungan bangsa kita.

 “Banyak informasi yang dikuasai oleh pribadi-pribadi sehingga kurang dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Seperti bank-bank Indonesia itu berlangganan informasi intelijen perbankan dari Malaysia, Hongkong, dan lain-lain. Padahal sumber informasi dari lembaga kita sendiri seperti BPS dan lain-lain. Ditambah sedikit pengolahan informasi, mereka jual kembali kepada kita dengan harga mahal. Oleh karena itu, sebenarnya bangsa Indonesia sangat dirugikan karena keuntungan akan datang kepada investor asing yang seharusnya dinikmati bangsa ini,” kata Thomas Aquino Bima Priadi.

H Abdul Hakim Fouad Attamimi

No Comments

Direktur Utama Faryha Tour

(PT Ronaldhitya Tour & Travel)

Sukses Dengan Terus Menerus Belajar dan Menekuni Satu Bidang

Dalam berkarier atau berbisnis, ketekunan terhadap salah satu bidang akan membuat orang menjadi sangat ahli. Selama menjalani karier atau bisnisnya, berbagai pelajaran berharga akan membuatnya menjadi spesialis di bidang yang ditekuninya. Proses yang dijalani selama menekuni pekerjaan akan menjadi pengalaman yang membawa kesuksesan.

Seperti yang dijalani oleh pengusaha biro perjalanan haji & umrah, H Abdul Hakim Fouad Attamimi, Direktur Utama Faryha Tour (PT Ronaldhitya Tour & Travel). Pilihannya untuk belajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali Jurusan Manajemen Pariwisata (lulus tahun 1993) adalah langkah awalnya menuju tangga kesuksesan. Pengusaha asli Bali kelahiran Klungkung, 1 November 1969 ini mengisahkan perjalanan hidupnya, berikut ini.

Saya asli Bali tetapi muslim dan hingga saat ini orang tua dan saudara-saudara semua ada di Bali. Tahun 1993, saya diterima bekerja di perusahaan biro perjalanan wisata, Nusa Dua Bali Tour & Travel. Awal Januari 1994, saya langsung dikirim ke Jakarta sebagai representative, karena banyak tamu dari Eropa yang ke Jakarta dahulu. Jadi, awalnya saya bekerja di biro perjalanan umum,” katanya.

Pertengahan tahun 1994, Hakim –panggilan akrabnya- pimpinan Nusa Dua Bali Tour Jakarta berangkat umrah bersama keluarga. Ia diajak dan menjadi tour leader dalam perjalanan spiritual tersebut. Terkesan atas pengalaman pertamanya di Tanah Suci, membuat ia sangat tertarik di bidang umrah & haji. Dua tahun kemudian, ia memutuskan keluar dari PT Nusa Dua Bali Tour dan bergabung dengan PT. Insan Salsabila, biro perjalanan umrah & haji.

 Sejak itu, Hakim mulai berkecimpung di bisnis umrah & haji. Beberapa kali ia berangkat untuk mengawal para jemaah umrah & haji plus. Kadang, kegiatan jemaah disambung dengan perjalanan wisata ke berbagai negara, seperti; Mesir, Turkey, Jordan, Jerussalem, Maroko, bahkan sampai Spanyol. Setelah beberapa kali pindah kerja di perusahaan umrah & haji, ia memperoleh pekerjaan sebagai Kepala Perwakilan Travel dari Saudi Arabia di Jakarta selama tiga tahun (2006-2009).

Tetapi tahun 2006 itu, saya mulai merintis usaha sendiri dengan membuka biro perjalanan wisata, khusus Umrah & Haji. Namun, sampai tahun 2010, izin umrah & haji belum keluar, hingga akhirnya saya membeli perusahaan yang sudah punya izin, PT. Ronaldhitya Tour & Travel dan mengganti merk dagang menjadi ‘Faryha Tour’. Saya membuka usaha ini karena melihat bahwa ke depan, dengan daftar tunggu pemberangkatan haji regular antara 6 – 10 tahun, umrah & haji plus menjadi pilihan alternative untuk ke tanah suci. Karena banyak yang lebih memilih umrah sambil menunggu jadwal keberangkatannya,” katanya.

Menurut Hakim, Fahyra Tour sekarang memiliki cabang di Surabaya dan perwakilan di berbagai daerah di Indonesia seperti; Tangerang, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Balikpapan, Bali, Palu dan lain-lain. Dengan dibukanya perwakilan di berbagai daerah, jemaah akan semakin mudah mendapatkan informasi tentang segala sesuatu mengenai rencana perjalanan umrah atau haji.

Perwakilan Daerah

Sebagai perusahaan yang baru beberapa tahun berdiri, menurut Hakim banyak kendala yang harus diatasi. Selain perizinan perusahaan umrah & haji yang sekarang dihentikan pemerintah RI, peraturan mengenai umrah & haji dari pemerintah Indonesia dan Arab Saudi pun terus berubah-ubah. Perubahan terjadi bahkan setiap tahun sehingga perusahaan travel umrah & haji kesulitan untuk mengikutinya.

Kendala lain, lanjutnya, datang dari customer sendiri yang rata-rata mendaftarkan diri pada detik-detik terakhir. Akibatnya perusahaan kesulitan untuk reservasi tiket pesawat dan akomodasi mereka di Arab Saudi. Selain itu, dengan visa yang sekarang menggunakan sistem kuota apabila waktunya terlalu mepet perusahaan akan kehabisan dan kesulitan mendapatkan kuota visa umrah & haji.

Minimal satu atau dua bulan sebelum berangkat mereka mendaftar. Kalau yang last minute itu biasanya jemaah dari Jakarta, sementara yang dari daerah biasanya lebih tepat waktu. Kebetulan kita membuka perwakilan sampai ke daerah sehingga informasi yang benar disampaikan kepada calon jemaah melalui perwakilan kami. Kita juga mengantisipasi dengan sistem reservasi penerbangan serta informasi masalah kuota visa kepada jemaah,” tegasnya.

 Hakim tidak pernah menyembunyikan informasi terkait keberangkatan ibadah umrah & haji kepada calon jemaah. Ia selalu menjelaskan kondisi yang dihadapi perusahaan terkait kendala perizinan dan lain-lain serta menawarkan alternative terbaik bagi jemaah, seperti memberikan alternative program atau alternative tanggal keberangkatan dan lain-lain. Kita juga jelaskan kepada jemaah segala kondisi selama di tanah suci agar para jama’ah siap dengan segala kondisi tersebut sebelum berangkat,” imbuh penyuka liburan ke Bali ini.

Untuk menghindari kejadian seperti itu, Hakim menggandeng jemaah melalui sponsorship seperti dari jemaah pengajian, pondok pesantren dan komunitas Islam lainnya. Sponsor itulah yang akan membuat paket umrah atau haji dan mendaftarkan diri ke perusahaan jauh hari sebelumnya. Ia juga membentuk pengajian bulanan yang diselenggarakan di berbagai daerah bagi mantan jemaah haji & umrah yang mempercayakan kepengurusannya kepada Fahyra Tour.

Jadi begitu selesai ibadah jemaah tidak kita lepas begitu saja, tetap ada komunikasi. Karena mungkin di lain waktu mereka akan menggunakan jasa kita lagi. Boleh dibilang umrah sangat berkembang baik, karena orang tidak selalu berlibur atau holiday ke Eropa. Ini perjalanan religius, berwisata sambil ibadah yang belakangan sangat diminati masyarakat,” tegasnya.

Dalam menyikapi persaingan, Hakim menyambutnya dengan sangat baik. Baginya, semakin banyak kompetitor bisnis travel umrah & haji semakin bagus. Ia menyerahkan kepada calon jemaah untuk menilai pelayanan yang diberikan perusahaan. Artinya, semua perusahaan yang bergerak di bidang umrah & haji akan berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah. Tinggal jemaah yang akan menentukan perusahaan travel mana yang menurut mereka paling baik.

Yang jelas komitmen kami adalah bahwa yang kami layani adalah ‘Tetamu Allah’ atau ‘Duyufurrahman’ sehingga kami tidak main-main dalam urusan ini. Kami secara profesional melayani jemaah karena itu adalah amanah, itu yang kita pegang. Karena biaya yang sudah dibayarkan itu adalah amanah yang harus kita pegang. Kita dahulukan & prioritaskan seluruh hak dan kewajiban jemaah,”tegasnya.

Hakim hanya berharap dari sisa biaya yang sudah dikeluarkan menjadi keuntungan perusahaan. Tidak pernah ia mengambil keuntungan di awal pembayaran yang telah dilakukan jemaah. Kebijakan perusahaan adalah memaksimalkan pelayanan kepada jemaah sementara urusan keuangan adalah belakangan. “Kalau tidak ada sisa, ya tidak apa-apa, karena yang kita layani itu adalah tetamu Allah sehingga ‘Dia’ nanti yang akan menggantinya,” tuturnya.

Kebanggaan Keluarga

Menurut H. Abdul Hakim Fouad Attamimi, usahanya lebih fokus pada bidang umrah & haji. Meskipun memiliki pengalaman bekerja di perusahaan travel pariwisata umum –bukan umrah & haji- namun ia tidak tertarik untuk ikut meramaikan bisnis tersebut. Persaingan dan banyaknya perusahaan besar yang “bermain” di travel pariwisata umum membuat ia lebih memilih menekuni umrah & haji.

Jadinya kita malah semakin fokus pada pelayanan jemaah. Karena seperti yang saya gariskan kepada karyawan, bahwa jemaah itu adalah tetamu Allah yang harus dilayani dengan sepenuh hati serta ikhlas dalam bekerja,” kata ayah tiga putri dari pernikahannya dengan Wahidah Rasjid Bawazier ini. Hakim mendapat dukungan penuh dari keluarga atas usaha yang ditekuninya selama ini. “Saya setiap tahun juga membawa keluarga untuk pergi umrah ataupun haji. Itu merupakan kebanggaan bagi keluarga juga, lho…,” imbuhnya.

Sulung dari lima bersaudara pasangan Fouad Abdullah Attamimi dan Latifah Usman ini melambungkan harapan besar pada usahanya. Langkah awal adalah dengan mengokohkan, memantapkan pundi-pundi dan tiang-tiang penyangga Fariha Tour terlebih dahulu. Baik dari segi permodalan, manajemen maupun SDM semua harus dibenahi dengan baik agar cita-citanya untuk menjadikan Faryha sebagai leader dalam pelayanan hamba Allah. “Terutama dalam pelayanan serta menjadi amanah atau dapat dipercaya masyarakat luas,” tambahnya.

Kepada pemerintah khususnya Kementerian Agama RI, Hakim berharap agar umrah & haji plus lebih ditingkatkan pengurusannya. Karena selama ini, haji plus dikelola sendiri oleh travel agen. Sedangkan pemerintah sering mengulur waktu dalam hal pelunasan sehingga travel agen mengalami kesulitan dalam penyiapan pelayanan kepada jemaah, terutama penerbangan dan akomodasi. Sistem yang berlaku sekarang, pemerintah menerapkan kebijakan pelunasan pembayaran bersamaan dengan jemaah regular. Akibatnya, waktu yang dimiliki agen untuk mempersiapkan kebutuhan jemaah sangat sedikit sehingga menjadi tidak maksimal.

Peran pemerintah dalam ONH Plus masih minim, karena birokrasi terlalu kaku. Apalagi perizinan sekarang masih distop untuk umrah & haji dan sangat dibatasi. Sebenarnya kalau pemerintah tegas, banyak travel yang punya izin umrah & haji tetapi tidak memiliki customer namun kebalikannya banyak travel yang notebene tidak punya izin umrah & haji tetapi memiliki dan memberangkatkan banyak jamaah,” tutur pemilik moto “Melayani tamu Allah dengan Amanah” ini.

Hakim yang menjadi anggota HIMPUH dan ASITA ini, berpesan kepada para generasi muda untuk tidak takut menjalankan sebuah usaha. Generasi muda juga harus mempergunakan waktu yang mereka miliki sebaik mungkin. Ia sangat menyayangkan talenta muda berbakat yang disia-siakan. Apalagi dengan derasnya tayangan TV yang menawarkan mimpi instant untuk menjadi terkenal dan sukses. Akibatnya, banyak generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar mimpi yang tidak pasti.

Seharusnya generasi muda bisa lebih tekun dan bersabar mengejar kesuksesan melalui proses yang panjang. Seperti yang saya alami, artinya dari saya mulai menjadi pegawai biasa, manager dan merintis usaha sendiri. Jadi saya harapkan para pemuda, yang baru lulus sekolah berusaha dan mempergunakan waktu sebaik mungkin. Selain itu, selalu gunakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka,” ujar H Abdul Hakim Fouad Attamimi.

Tjindra Parma Wignyoprayitno

No Comments

Rektor Universitas Jakarta
Antara Birokrat dan Perguruan Tinggi
Banyak cara untuk mengisi tujuan dari kemerdekaan negeri ini, salah satunya adalah dengan berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengisinya, maka kemerdekaan yang telah di perjuangkan oleh para pahlawan pendahulu kita dari penindasan penjajah tak tersia-siakan. Untuk mengisi kemerdekaan itu, salah satunya adalah menyelenggarakan pendidikan yang baik, dan pengelolaan yang super profesional, sehingga rakyat yang dulu tertinggal pendidikannya dapat mengenyam dan menikmati, serta mengejarnya. Dengan demikian, tidak ada lagi rakyat yang bodoh, atau dibodoh-bodohi orang atau penjajah, karena mereka telah ‘melek’ dari ketertidurannya selama ini.
Adalah Tjindra Parma Wignyoprayitno ( 62 th ), seorang mantan birokrat dari Departemen Pekerjaan Umum, yang memiliki tujuan tersebut. Sebagai Rektor Universitas Jakarta yang baru, ia berharap amanat UUD 1945 tersebut dapat mengisi sisa hidupnya. Untuk itulah ia mengaku terpanggil untuk menjalankan amanah itu dengan terjun di bidang pendidikan tinggi. “Saya memang sejak tahun 1974 telah bergelut di dunia pendidikan tinggi, hal itu dirintisnya sebagai asisten dosen luar biasa di salah satu Universitas Negeri terbesar di Asia Tenggara Universitas Indonesia, atau tepat di fakultas hukum UI, “ungkapnya.
Ditambahkan Tjindra, sejak itulah mulai 1975, ia berkecimpung sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, sebut saja Universitas Jakarta, Ibnu Chaldun, Universitas 17 Agustus 1945, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta dan sebagainya. Karier dan kompetisi yang ketat, dan berbagai pertimbangan lainnya, terutama hidup di Jakarta, telah membuatnya kemudian- memilih untuk bermuara di salah satu Departemen yakni PUTL, atau Pekerjaan Umum DAN Tenaga Listrik. Di sinilah, ia mengabdikan diri hingga masa pensiun 2009. ”Saya mempertimbangkan kehidupan di Jakarta, memilih Kementrian PU, dan bertugas selama 34 tahun, “ceritanya.
Tjindra menjelaskan, meski kegiatan birokrasi begitu padatnya, namun pekerjaan awalnya sebagai dosen tetap dijalankan. Hal itu dilakukan Tjindra pada saat selepas jam kantor alias sore hari “ jalan jalan sore “ hilaknya , namun ia mengaku sempat membolos dari kantor, tatkala ada kegiatan mengampu mata kuliah di pagi hari. “Curi-curi waktu itu tidak lain adalah demi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa juga, “pungkasnya. Sebagai Rektor di Universitas Jakarta, ia mengatakan aktif kegiatan di kampus ini sejak 1978, Kala itu kampusnya berdomisili di Pulo Mas, Jakarta dan Tangerang, atau tepatnya dibelakang Rutan. “Tak heran jika mahasiswanya kebanyakan berasal dari Rumah Tahanan dan orang-orang sekitar Rutan.”
Perjuangan waktu itu untuk menuju Tangerang begitu kerasnya, bayangkan menurutnya, ia harus bolak balik Pulo Mas dan Tangerang, dengan kondisi macet dan padat merayap. Barulah pada tahun 2000, ia mengaku mendapat mandat dan tanggung jawab untuk memegang posisi jabatan Dekan di Fakultas Hukum Universitas Jakarta. Pada saat itu, ia harus menggantikan posisi Profesor DR. Loebby Lukman, SH, MH yang naik posisi jabatan menjadi Rektor Universitas Jakarta (UNIJA). Barulah tahun 2010, kembali naik dan dipercaya untuk memimpin perguruan tinggi UNIJA sebagai Rektor menggantikan posisi Profesor Loebby Lukman.
Dalam kiprahnya membangun kampus UNIJA, Tjindra Parma, menuturkan pertama yang dilakukan adalah dengan merombak susunan cabinet kampusnya, yakni mengganti atau memperbaharui seluruh dekan yang berada di bawah jajarannya. Hal ini penting guna membangun sinergi dan koordinasi serta kepercayaan. Periode awal yang berat ini berhasil dijalaninya dengan baik, semua itu tidak terlepas dari elit bawahannya yang ditunjuk masing-masing untuk memimpin empat Fakultas, yakni Fakultas Hukum dipimpin Dekan Arif Hartanto (mantan pejabat di Garuda Indonesia), Fakultas Teknik, Iwan Nusyirwan yang juga mantan Dirjen SDA, Fakultas Ilmu Administrasi Niaga, Dekan Abdul Malik (pejabat PU), dan Fakultas FISIP, dengan Dekan, Triyadi, mantan pejabat birokrat Imigrasi.
Sejarah lahirnya kampus UNIJA sendiri, bermula dari usaha pendahulu mereka yang ingin menjadikan masyarakat sekitarnya khususnya etnis Betawi cerdas dan mandiri. Tak heran jika hanya bermodal dua Fakultas semula yang ada, yakni Fakultas Ilmu Administrasi Niaga dan Fakultas Teknik. Menurut Tjindra Parma, pada awalnya yang menonjol di Universitas Jakarta, ialah Fakultas Ilmu Administrasi Niaga dan Fakultas Teknik jurusan Sipil dan Arsitektur. Dua fakultas inilah yang semula dibuka dan merupakan fakultas tertua. Saat ini keduanya sedang dalam proses penelitian Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Jumlah mahasiswa di UNIJA mencapai 500 orang, meliputi 300 mahasiswa Fakultas Hukum dan sisanya masuk di masing-masing tiga fakultas lainnya. Ia mengaku tuntutan zaman telah membuat perguruan tinggi ini mengembangkan atau membuka kembali beberapa fakultas. Fakultas yang telah terakreditasi B yakni Fakultas Hukum. Akreditasi itu dicapainya pada Mei 2011. Tjindra mengatakan, meski Fakultas ini tergolong baru, tapi animo masyarakat yang besar untuk memasuki dunia pendidikan di bidang hukum, menjadikan UNIJA melebarkan sayapnya untuk membuka Fakultas baru. “Ramainya Fakultas Hukum, karena banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai Kementrian dan instansi terkait membutuhkan pemahaman tentang hukum. Mereka kebanyakan berasal dari D-3 bidang Imigrasi, Pemasyarakatan, TNI, Polri, Kantor-kantor Pengacara, dan Notaris. “
Mereka menurut Parma, menjalani kuliah sore hari, sepulang dari kegiatan rutin kantornya. Ia berharap akan banyak lagi mahasiswa lain yang masuk ke UNIJA, mengingat biaya SPP masuk ke UNIJA tidak besar, dan tidak dimintai biaya gedung. “Kami punya motto, yakni cepat, dekat dan murah,”tuturnya. UNIJA sendiri saat ini telah memiliki infrastruktur berupa bangunan, ruang kuliah dengan gedung berlantai 4, berada di tengah Jakarta dan berposisi di Pulo Mas, Jakarta.
Berbekal semua itulah, ia yakin kampusnya akan banyak memiliki mahasiswa, apalagi dalam penyusunan kurikulum, dibenarkan mahasiswa kuliah lebih cepat atau kurang dari 4 tahun. “Dari D-3 bisa lebih cepat, dan mahasiswa butuh 2 tahun untuk menyelesaikan kuliah S-1, “katanya. Namun begitu, Parma yang memiliki 3 anak ini ( drh Retty ,ing Adechar ST dan Dhanny ) merasa sedikit pesimis untuk mengenjot target mahasiswa masuk ke UNIJA, mengingat di wilayah yang sama juga terdapat kampus-kampus besar, seperti Universitas Trisakti, Jayabaya, dan Mpu Tantular. “Kesulitan kita adalah banyaknya kampus di sini, seperti STIE Indonesia, Universitas Jayabaya, Trisakti, Mpu Tantular artinya timbul persaingan juga. “ungkapnya.
Namun ia yakin, banyaknya kemudahan yang diperoleh mahasiswa atau lulusan SMA/SMK yang masuk ke UNIJA, terutama yang ingin cepat bekerja dan ingin melanjutkan kembali kuliah S-1 nya, peluang itu tetap ada dan semoga tercapai target.
Parma juga mengaku mengalami kendala dalam akreditasi fakultasnya.”Assesornya sedikit sekali, sementara kampus begitu banyak dan tersebar di seluruh Indonesia, jadinya saat dilakukan penelitian dan survey, biasanya mereka mengambil hari libur, dan kita tidak bisa meminta waktu lain, “katanya.
Parma menambahkan kembali, uniknya UNIJA saat ini mendapat julukan sebagai universitas atau kampus mantan pejabat tinggi. “Mungkin karena seluruh pimpinannya berasal dari mantan birokrat atau pejabat tinggi, sehingga masyarakat sekitar atau para mahasiswa menilai UNIJA sebagai kampus pejabat tinggi, “tuturnya.
Wajar jika UNIJA mendapat julukan atau panggilan kampus pejabat tinggi, mengingat pimpinan fakultasnya yang baru adalah pejabat dan mantan pejabat pemerintah. Untuk itulah ia optimis pimpinan yang baru ini bisa menjalankan roda perguruan tinggi. “Dengan mereka mantan pejabat tinggi diharapkan mereka bisa menghimbau teman-teman atau koleganya untukmengajak anak buahnya kuliah di UNIJA. Jaringan inilah yang diharapkan dapat mengisi kelas-kelas mahasiswa di seluruh fakultas, “katanya.
Ia menuturkan sebenarnya Perguruan Tinggi Swasta itu hidup dari mahasiswa, jadi kalau tidak ada mahasiswa, maka, perkuliahan tidak akan berjalan. “Jadi kami menanamkan kepada seluruh dosen untuk senantiasa untuk tidak henti-hentinya mengingatkan mahasiswa agar menjadi sarjana yang memiliki jiwa kebangsaan dan nilai-nilai lebih, dan bukan intelektual penipu dan koruptor, “tuturnya.
Ia menambahkan juga bukan berarti mahasiswa banyak, tapi kualitas minimalis, tapi mahasiswa banyak, kalau dapat seluruhnya berpotensi.” Orang pintar banyak yang ditangkap, lantaran gara-gara tidak punya integritas yang memadai,” tegasnya. Mereka seperti itu , karena tidak punya rasa percaya diri yang tinggi, dan kerjanya senang menipu.
Menanggapi pertanyaan seputar rutinitas pertemuannya dengan mahasiswa, Tjindra Parma mengatakan hampir setiap Sabtu ia ketemu mahasiswa, sebab selain sebagai Rektor ia juga berkesempatan untuk mengampu mahasiswa pula. “Saya sering berdialog dengan dosen , termasuk Dekan. Mahasiswa itu inti dari perguruan tinggi, jadi kalo tidak ada mahasiswa, bagaimana juga kelanjutan dari perguruan tinggi ini,” paparnya.
Dengan kondisi adanya beberapa fakultas yang belum memiliki akreditasi, ia mengaku sedikit nelangsa, pasalnya ada perintah atau penegasan dari sebagian instansi pemerintah untuk tidak mengizinkan pegawainya kuliah di perguruan tinggi yang memiliki akreditasi C. “ Ini kan kurang adil dan tidak bijak, “ujarnya. “Memang ada persoalan dari instansi pemerintah . Mereka melarang agar pegawainya tidak kuliah di Perguruan Tinggi yang mempunyai akreditasi C atau belum terakreditasi. Mereka meminta pegawainya kuliah di Perguruan tinggi yang memiliki akreditasi B atau A.”
Rektor Unija memaparkan Visi dan Misi Unija. Visi UNIJA adalah Pertama, menjadikan UNIJA sebuah universitas yang mampu menghasilkan SDM yang profesional dibidangnya. Kedua, bertakwa dan mampu berperan aktif dalam membangun bangsa dan menyesuaikan diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dalam lingkungan global. “Memajukan seni, bukan saja hanya science dan teknologi.” Sedangkan Misi UNIJA adalah pertama, melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat agar peserta didik menjadi manusia berkualitas, profesional, bertakwa dan entrepreneur.Kedua, menyebarkan ilmu pengetahuan dan teknologi,humaniora untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat secara nasional. Ketiga, menjadikan universitas yang mandiri dan berkelanjutan punya tata kelola yang baik.
Sementara obsesi UNIJA adalah ingin berperan aktif dalam mengemban tugas negara memajukan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa. “untuk itu kita ingin tenaga pengajar yang ada di sini terdiri dari tenaga yang memang profesional, berbudi luhur, disiplin, rendah hati, bekerjasama dan tanggungjawab. “Unija tanggap dan peka terhadap IPTEK”
Selain itu juga UNIJA melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler ke masyarakat. Dengan peduli terhadap masyarakat yang terkena musibah, dekat dengan kehidupan agama. Itulah yang menjadikan UNIJA dalam promosinya sebagai kampus yang keren dan unggulan, karena memiliki citra yang baik di masyarakat dan kalangan profesional lainnya. Tjindra Parma yang sibuk ini mengaku bisa membagi waktu untuk keluarga dan dirinya, meski ada juga yang menanyakan pekerjaan dan kritik dari anaknya.”Anak dan istri saya telah memahami pekerjaan ayahnya, Jadi mereka memahami dan mendukungnya, Apalagi saya juga memberikan waktu Sabtu dan Minggu, meski kerap juga waktu tersebut dipakai untuk Resepsi dan undangan lainnya, “ungkapnya.