Tag: beasiswa

Ruslan Effendy

No Comments

Ruslan Effendy
Ketua Koperasi Jasa Marga Bhakti I

Pengurus Tidak Boleh Memiliki Kepentingan di Koperasi

Usaha bersama dengan semangat kerakyatan yang kental adalah “roh” dari koperasi. Bentuk usaha yang menjadi “soko guru” perekonomian bangsa tersebut bertujuan untuk menyejahterakan rakyat, utamanya anggota koperasi. Sebagai pilar perekonomian, koperasi yang dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang besar. Tidak hanya bagi anggota koperasi tetapi juga masyarakat di sekitarnya.

Namun sebuah koperasi hanya bisa menjadi tumpuan perekonomian apabila dikelola dengan baik. Untuk mengelola koperasi memerlukan orang-orang yang benar-benar kompeten, menguasai bidang perkoperasian dan memiliki naluri bisnis yang tajam. Selain itu, seorang pengurus koperasi harus tahu akan dibawa ke mana koperasi yang berada dibawah kendalinya.

“Sebagai pengurus koperasi harus memahami perkoperasian dengan baik. Memahami UU Perkoperasian, aturan-aturannya, bentuk, anggota dan tujuan pendirian koperasi. Satu catatan untuk pengurus koperasi adalah mereka tidak boleh memiliki kepentingan di dalam koperasi. Kalau itu dilakukan koperasi akan maju karena itu tidak gampang, memerlukan mental yang kuat,” kata Ruslan Effendy, Ketua Koperasi Jasa Marga Bhakti I.

Mental yang kuat dipelukan untuk mencegah pengurus “bermain” dalam pengelolaan bisnis koperasi. Karena koperasi sebagai institusi bisnis memiliki peluang-peluang besar untuk mendatangkan keuntungan besar yang sangat “menggoda” iman. Salah-salah, pengurus koperasi yang tidak kuat mental akan menggunakan kesempatan tersebut bagi keuntungannya sendiri. Bisa dikatakan tidak mudah menjadi pengurus yang tetap bertahan tanpa kepentingan di koperasi.

Selain itu, lanjutnya, pengurus koperasi juga harus “open” kepada keluarga. Karena sifat kepengurusan di koperasi lebih banyak sosial yang tidak banyak mendatangkan materi. Sementara tugas sebagai pengurus koperasi sangat menyita waktu kebersamaan dengan keluarga. Apalagi bagi pengurus koperasi yang “merangkap” sebagai karyawan seperti dirinya, memerlukan waktu ekstra untuk melaksanakan kedua tugasnya.

“Kegiatan koperasi dari Senin sampai Jumat, Sabtu untuk kuliah. Sementara tugas di PT Jasa Marga tidak mengenal waktu, bahkan hari libur nasional pun kami tetap masuk. Nah, keluarga yang melihat kesibukan luar biasa yang kami lakukan akan menuntut sebagai kompensasinya. Karena mereka merasa tidak mendapat apa-apa,” ujarnya. Ia bersyukur, mendapat kepercayaan sepenuhnya dari keluarga. Sang istri, Mardahlena dan anak-anaknya tidak keberatan ia hanya menyisihkan waktu beberapa saat bersama mereka. “Mereka memahami meskipun saya pergi pagi dan pulang pagi. Mungkin beberapa tahun lagi saya akan melepaskan semuanya dan lebih fokus pada keluarga,” imbuhnya.

Untuk itu, Ruslan sedang menggodok sistem yang menetapkan honor dan target pengurus Koperasi JMB I. Dengan standar yang jelas dan pasti, seorang pengurus koperasi memiliki kejelasan tentang hak dan kewajibannya. “Jangan sampai anggota punya target, tetapi pengurus tidak punya kebebasan gerak dan honor yang pasti,” tegasnya.

Adu Bidding

Dalam tiga periode kepemimpinannya, Ruslan Effendy belakangan membawa koperasi berkiprah “keluar” dan lebih fokus pada penawaran jasa outsourcing dan investasi. Meskipun untuk itu, koperasi harus berhadapan langsung dengan sektor swasta yang lebih berorientasi keuntungan. Karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk memainkan peran dalam ketatnya persaingan bisnis.

“Kalau kurang punya strategi sudah pasti kita akan kalah. Makanya kita kemudian banyak ikut tender pengadaan, terutama di lingkungan PT Jasa Marga. Kita bekerja sama dengan perbankan untuk pendanaannya, karena rasanya berat kalau pakai dana sendiri. Kita juga bekerja sama dengan perusahaan otomotif seperti PT Astra Internasional dalam pengadaan kendaraan. Kerjasama seperti inilah, yang membuat kita berani ‘adu bidding’ dengan perusahaan swasta,” tuturnya.

Menurut Ruslan, dukungan dari pihak luar seperti itulah yang harus dipertahankan oleh koperasi. Apalagi di tengah persaingan global yang semakin sengit, pengurus koperasi harus “cerdas” mengembangkan koperasinya. Kalau hanya berkutat pada satu unit usaha saja koperasi tidak akan berkembang. Seperti diatur dalam UU Koperasi, disebutkan bahwa koperasi bisa mengembangkan usaha seluas-luasnya. Dengan mengembangkan diri, koperasi akan mampu memenuhi kebutuhan anggota yang setiap tahun bertambah dan meningkat.

“Tentu memerlukan kebijakan pengurus untuk mendorong dan memotivasi perkembangan koperasi. Koperasi kita sendiri sudah menerapkan sistem penggajian yang sangat rapi, naik secara gradual dan sistematis. Nah, kalau tidak diimbangi dengan pengembangan usaha atau usahanya mandeg, mungkin untuk menggaji karyawan sudah suli. Koperasi bisa hancur,” tandasnya.
Strategi yang diterapkan Ruslan adalah dengan membuat publik percaya atas kiprah Koperasi Jasa Marga Bhakti I. Selain itu, koperasi harus tetap menjaga hubungan baik dengan anggota maupun mitra usaha. Untuk ekspansi usaha, koperasi mendirikan anak perusahaan sebagai sarana memperlancar penetrasi bisnis. Ia mencontohkan, bagaimana koperasi bersama perusahaan “maju bersama” dalam proses penawaran lelang sebuah proyek.

“Ini strategi kita, bukan curang. Saya tahu strategi ini banyak digunakan orang dalam sebuah lelang. Saya pernah mendapati bahwa lima perusahaan lawan lelang saya, pemiliknya hanya satu orang. Dari pengalaman saya, kalau tidak mengikuti sistem seperti itu koperasi tidak akan pernah menang. Meskipun proyek tersebut berasal dari Jasa Marga,” tegasnya.

Efek Keseimbangan

Ruslan Effendy menuturkan, Koperasi Jasa Marga Bhakti I memiliki dua seksi usaha, anggota dan non-anggota. Seksi usaha anggota lebih mengedepankan sisi sosial, yang meliputi penyediaan barang-barang kebutuhan anggota, simpan pinjam dan waserba (warung serba ada). Koperasi juga melayani usaha penyediaan barang bagi anggota mulai kendaraan roda dua, roda empat bahkan sampai kredit perumahan.

“Bahkan pembuatan SIM dan STNK pun kita fasilitasi. Pokoknya setiap keinginan anggota untuk memenuhi kebutuhannya, kita usahakan untuk dapat direalisasikan. Unit usaha ini tidak mengambil keuntungan dan lebih bersifat sosial. Untuk itu, kami memberikan subsidi yang didatangkan dari kegiatan non anggota,” tuturnya.

Unit usaha non anggota yang dijalankan koperasi, lanjut Ruslan, meliputi bisnis yang cukup besar. Karena induknya pengelola jalan tol, koperasi memiliki unit usaha armada derek jalan tol. Kemudian rental kendaraan dengan kekuatan 60 armada mobil keluaran terbaru siap disewakan kepada anggota dan umum. Selain itu, koperasi memiliki usaha service AC, pemasangan dan pemeliharaan lengkap dengan teknisi untuk urusan pendingin ruangan tersebut. Usaha lain yang dijalankan adalah unit fotokopi dan ATK, jasa cleaning service dan jasa outsourcing untuk pekerjaan-pekerjaan sipil yang bersifat tidak rutin, seperti pembuatan marka jalan dan lain-lain. Koperasi juga memiliki unit usaha bengkel di beberapa lokasi yang cukup mendatangkan pendapatan memadai.

“Untuk pekerjaan-pekerjaan yang bersifat bisnis pengurus turun langsung. Karena kalau kita pakai manajer, nanti pengurus tidak terlibat langsung dan santai-santai saja,” katanya.

Meskipun begitu, disadari bahwa dengan tidak menggunakan manajer koperasi akan menyalahi ketentuan perundangan. Karena sudah diatur dalam UU, bahwa koperasi karyawan yang berkembang besar harus menggunakan jasa manager dalam pengelolaannya. Sementara Koperasi Jasa Marga Bahkti I memiliki 565 anggota dengan aset sekitar Rp 18 miliar dan dikelola oleh tiga orang pengurus merangkap sebagai manajer. “Pembagian tugas manajerial berkaitan dengan anggota ditangani bendahara, kegiatan bisnis sekretaris, tetapi semua keputusan berada di tangan ketua koperasi. Bukannya kita tidak percaya manajer, tetapi cukup susah mengubah budaya bangsa kita ini,” ungkapnya.

Meskipun tanpa manajer, lanjut Ruslan, koperasi mampu memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi anggota. Program baru yang diluncurkannya adalah memberikan pinjaman lunak bagi anggota untuk meneruskan kuliah hingga selesai. Biaya kuliah -di universitas manapun- akan dilunasi oleh koperasi dan anggota tinggal mencicil pinjaman tanpa bunga tersebut setiap bulan. Setiap anggota memiliki satu hak untuk mendapatkan pinjaman tersebut yang bisa digunakan untuk anggota tersebut atau keluarganya.

“Idenya datang dari seringnya anggota meminjam untuk biaya kuliah, dengan begini anggota tidak perlu pusing tiap enam bulan sekali memikirkannya. Koperasi juga memberikan beasiswa dari tingkat SD-SMA, yang diberikan setiap bulan November kepada lebih dari 30 orang, sehubungan dengan Ultah Jasa Marga cabang Tangerang. Beasiswa ini berpatokan pada nilai yang diperoleh siswa yakni bagi anak-anak dengan nilai rata-rata di atas 8,” ungkanya.

Ke depan, koperasi akan terus harus mengembangkan sayap utamanya kepemilikan aset tak bergerak. Karena selama ini koperasi banyak mempunyai aset bergerak seperti kendaraan baik operasional maupun yang disewakan. Sebagai ketua, Ruslan ingin membuat aset-aset tidak bergerak diperbanyak di masa-masa mendatang. Dalam waktu dekat koperasi akan membuat kontrakkan dengan fasilitas lengkap terdiri dari minimal 40 kamar, dengan lokasi yang strategis dan harga sewa rendah. Pendapatan koperasi akan diperoleh dari toko kebutuhan hidup yang berada di tengah areal kontrakkan, listrik, keamanan dan lain-lain.

Dengan program-program tersebut tidak heran banyak anggota yang sayang melepaskan keanggotaannya meskipun dimutasi ke daerah lain. Banyak manfaat yang diberikan koperasi Jasa Marga Bhakti I dibawah kepemimpinan Ruslan Effendi bagi anggota. Bahkan saat lebaran, koperasi mengadakan bazar dan anggota memperoleh uang tunai serta voucher belanja, untuk digunakan membeli keperluan menyambut hari raya. Koperasi juga menyediakan angkutan antar jemput bagi anggota untuk membawa hasil belanjanya tersebut.

“Anggota yang dimutasi tetapi sayang melepas keanggotaannya, membuat pernyataan kalau tidak mau keluar dari keanggotaan koperasi. Kita angkat mereka sebagai anggota luar biasa. Bahkan kita merubah Aanggaran Dasar, yakni ketika anggota berhenti dari keanggotaan, ia tetap mendapatkan haknya dari dana cadangan,” katanya. Prinsipnya, saat tercatat sebagai anggota asset koperasi hanya ratusan juta, sehingga akan tidak adil ketika 20 tahun kemudian seorang anggota yang keluar hanya mendapatkan uang pokok saja. Padahal asset koperasi telah berkembang menjadi puluhan miliar. “Karena saya pernah belajar efek keseimbangan dan itu saya berikan di koperasi ini,” imbuhnya.

ISO Koperasi

Memasuki tahun 2010, Ruslan Effendy memiliki rencana besar untuk pengembangan koperasi. Seiring dengan diterapkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan China Free Trade Area (CFTA), ia mencoba sebuah sistem di Koperasi Jasa Marga Bhakti I yang sangat kuat. Dengan sistem yang kuat tersebut, siapapun yang akan menggantikannya kelak akan mampu membawa koperasi semakin maju.

“Untuk itu saya sedang berusaha agar koperasi bisa memperoleh ISO. Kalau sistem sudah bagus, siapapun yang masuk tidak menimbulkan masalah, karena kita sudah siap. Jadi bukan hanya kaderisasi orang, tetapi juga penguatan sistem. Memang membutuhkan biaya besar, tetapi mau tidak mau koperasi di Indonesia itu harus di-ISO-kan. Karena untuk jangka panjang saya yakin sangat berguna,” ujarnya.

Oleh karena itu, sebelum Ruslan mengakhiri masa jabatan sebagai ketua koperasi untuk ketiga kalinya, ia memantapkan sistem. Semua itu belajar dari pengalamannya saat pertama kali mengemban amanat sebagai ketua. Ia saat itu tidak tahu apapun mengenai perkoperasian. Hanya dengan kemauan kuat dan kesadaran untuk belajar –melalui berbagai pelatihan- ia mampu membesarkan Koperasi Jasa Marga Bhakti I. Dari koperasi karyawan yang “amburadul” disulap menjadi koperasi beraset belasan miliar yang akan terus tumbuh membesar.

“Kalau sekarang koperasi sudah cukup besar. Saya khawatir begitu saya tinggalkan nanti anggota bertanya-tanya mengenai koperasinya. Kalau sistem sudah terbentuk dan mantap, begitu saya meninggalkan koperasi tidak akan menimbulkan masalah. Saya tidak ingin koperasi ini menjadi hancur seperti tahun 1998 lalu,” katanya. Ruslan mengungkapkan bahwa dengan sistem yang tertata rapi, kepengurusan bisa diserahkan kepada siapa saja. “Kemampuan manajerial pengurus akan digembleng melalui pelatihan-pelatihan,” imbuh penyuka liburan di Malang dan Bali ini.

Elnino M. Husein Mohi

No Comments

Elnino M. Husein Mohi
Anggota DPD-RI, Gorontalo

Sebuah Kisah Perlawanan Terhadap Money Politics

Seantero Provinsi Gorontalo tercengang. Penghujung April 2009, ketika penghitungan suara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mulai mendekati final. Para elit lokal tersentak. Nyaris tiada seorang pun yang percaya dengan munculnya nama Elnino M. Husein Mohi di peringkat ketiga di antara 19 tokoh besar dan konglomerat Gorontalo yang jadi calon anggota DPD-RI. Dia, secara mengejutkan, bahkan memenangkan Pemilu Legislatif tanpa sedikit pun melakukan pelanggaran peraturan Pemilu.

Elnino. Dia bukan orang kaya. Bukan pula politisi, bukan elit, bukan pejabat—bahkan bukan keluarga pejabat, bukan tokoh lokal. Pemuda bertubuh kecil berkulit gelap itu hanyalah seorang wartawan. Hanya seorang aktifis. Maka hampir tidak ada yang percaya, dengan tabungan pribadinya sebesar Rp. 2,5 juta, Elnino meraih hampir 50 ribu suara atau 9% dari total pemilih Gorontalo.

Sungguh tidak mungkin dengan dana segitu Elnino mampu menjangkau wilayah Gorontalo—yang luasnya lebih dari 12 ribu kilometer persegi—di masa kampanye. Tim Pemenangan Elnino menyadari kendala itu. Dengan usaha keras dan cara yang simpatik, mereka mengumpulkan sumbangan dari ribuan sahabat Elnino. “Dalam waktu 9 bulan, kami berhasil mengumpulkan cukup banyak, totalnya Rp. 55.545.000. Jumlah itu kami laporkan ke KPUD dan Panwaslu,” ungkap Thariq Modanggu, Ketua Tim Pemenangan Elnino.

Mungkin itu adalah ongkos politik termurah, karena bila dibagi dengan jumlah suara Elnino akan mendapatkan rata-rata sekitar Rp. 1100 per suara. Uang itu bukan dibagi-bagi ke pemilih, melainkan untuk biaya bensin dan sewa kendaraan berkeliling Gorontalo, biaya administrasi kelengkapan syarat calon, biaya iklan radio, pencetakan baliho, stiker, leaflet untuk alat kampanye, dll.

Bagi Elnino dan para sahabatnya, pada hakikatnya setiap individu tidak menginginkan praktek money politics. “Tidak satu orang pun, sejatinya, yang mau menjual suaranya. Tidak ada yang nuraninya memilih seseorang hanya karena sudah diberi sesuatu. Orang memilih seorang caleg atau calon pemimpin pasti bukan semata-mata karena uang, mesti ada alasan lain,” tutur Elnino.

Hanya saja, sekarang ini sebagian besar rakyat telah bersikap masa bodoh dan apatis terhadap “pesta demokrasi”. Padahal, triliunan rupiah uang negara/rakyat dihabiskan untuk event tersebut. Di mata sebagian besar rakyat, wakilnya di parlemen tidak memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan mereka. Yang benar-benar nyata dan bisa dinikmati rakyat hanyalah ketika mereka membagi-bagikan uang, sembako, dll.

Kenapa rakyat mau money politics, menjual suaranya? Karena menurut rakyat, semua Caleg/Cabup/Cawali/Cagub…semuanya tidak bisa dipercaya. Jadi, daripada memilih seseorang tanpa dapat apa-apa, ya sudah…pilih saja yang sudah memberi sesuatu. Toh siapa pun yang kita pilih, nasib kita begini-begini saja. Begitu pikiran sebagian besar rakyat. Sangat apatis, putus asa.

Apatisme itulah yang berusaha dikikis habis oleh Elnino dan para sahabatnya—kelompok intelektual muda Gorontalo yang terdiri dari para aktifis pemuda, mahasiswa, dosen, wartawan dan PNS. Mereka mencoba membuktikan kepada rakyat, bahwa tidak semua calon tidak bisa dipercaya, bahwa pasti ada di antara calon yang masih memiliki kecerdasan dan nurani. Pasti ada yang masih pantas untuk mengemban kepercayaan orang banyak sesuai kewenangan institusionalnya.

PERJUANGAN NILAI LOKAL

Setahun sebelum Pemilu, April 2008, Elnino bersama puluhan sahabatnya bersepakat untuk memberikan warna lain dalam Pemilu 2009, yaitu dengan melakukan gerakan pencerahan politik hingga ke desa-desa. Targetnya adalah menjadikan para opinion leaders di tingkat desa memahami nilai-nilai demokrasi berdasarkan nilai-nilai luhur Gorontalo.

Nilai-nilai luhur Gorontalo itu sendiri bermuara pada empat nilai utama ; kecerdasan, akhlak, kekeluargaan dan persahabatan. Keempat nilai inilah yang menciptakan Empat Zaman Keemasan Gorontalo—dikenal dalam sejarah daerah tersebut dengan “Ilomata Wopato”—sebelum masuknya penjajah Belanda. (Masa kepemimpinan Ilahudu 1382-1427, Matolodulakiki 1550-1580, Eyato-Popa 1673-1677 dan Botutihe 1728-1755). Empat Zaman dimana para raja/presiden dan pejabat negara Gorontalo Serikat dipilih secara demokratis dengan pertimbangan empat nilai luhur tersebut.

Jadi, seseorang menjadi raja/presiden di Gorontalo dipilih oleh rakyat karena yang bersangkutan adalah orang yang paling cerdas, akhlaknya paling bagus, rasa kekeluargaan dan persahabatannya paling tinggi. Tidak ada pertimbangan uang atau pemberian atau sogokan dalam bentuk apa pun ketika memilih penyelenggara negara! Itulah jati diri orang Gorontalo.

“Sebetulnya nilai-nilai luhur tersebut sifatnya universal. Ada di semua suku. Ada di semua bangsa di dunia ini. Hanya saja, perkembangan zaman belakangan ini yang menjadikan kita di Indonesia semakin melupakan nilai-nilai lokal…yang sebetulnya universal itu, kita semakin materialistik…bahkan ketika negara-negara maju mulai meninggalkan budaya materialistik,” papar Elnino.

Dari desa ke desa, Elnino dkk membawa laptop dan LCD pinjaman. Mereka presentasi menjelaskan tentang nilai-nilai tersebut. Mereka bicara dalam tiga konteks; sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia, perkembangan nasional, dan terutama nilai-nilai lokal tersebut.

“Kami jelaskan bahwa peradaban yang maju seperti Mesir, Yunani, Romawi di jaman lama, serta Amerika, Eropa, Jepang, Korea, China, India di jaman baru, semuanya memiliki budaya yang bersandar pada supremasi intelektual, supremasi ilmu pengetahuan dan bukan supremasi uang atau kekuasaan,” ujarnya.

POLITIK PENCERAHAN

Pada Juni 2008 Elnino didaulat oleh kelompoknya untuk menjadi calon anggota DPD. Non partai. Alasannya ada tiga. Pertama, sebagai tindakan konkrit dalam politik. “Elnino harus menjadi contoh calon legislatif. Dia mesti terikat dengan nilai-nilai yang dikampanyekan. Dia harus memberi teladan, bagaimana menjadi calon. Dia mesti memberi contoh sikap calon yang kalah bila dia kalah atau memberi contoh bagaimana seharusnya wakil rakyat bila dia menang,” papar Ketua Tim Pemenangan, Thariq Modanggu.

Kedua, perjuangan nilai harus ikut masuk ke semua partai politik. “Bila Elnino menjadi calon anggota DPR, maka akan sulit bagi kami untuk masuk ke semua kalangan di Gorontalo karena dibatasi secara psikologis oleh dinding parpol. Karena itu, dia kami calonkan ke DPD-RI dan slogan yang kami pakai untuk menghindari benturan dengan parpol adalah “Apa pun partainya, Elnino DPD-nya”. Itu membuatnya jadi inklusif,” tutur Thariq.

Alasan ketiga, bahwa pencalonan adalah pengabdian. “Tidak ada target kami untuk menang. Kami hanya ingin mengukur sejauh mana efektifitas gerakan pencerahan politik ini. Pencalonan Elnino itu sendiri adalah pengabdian kami. Jadi, kami bergerak tanpa beban sama sekali,” kata Thariq yang juga seorang dosen itu.

Selama 11 bulan, Elnino dkk hanya sempat mendatangi 192 dari total 585 desa yang ada di Gorontalo. Di setiap desa pun Elnino hanya berdiskusi tidak lebih dari 12 orang. “Biasanya di setiap pertemuan atau tiap desa kami hanya mengundang dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh kunci saja ; aparatur desa, guru, imam, tokoh pemuda desa. Biasanya tidak lebih dari dua belas orang saja,” kisah Elnino.

Uniknya, di setiap kesempatan presentasi, Elnino nyaris tak pernah meminta untuk dipilih. Mengapa? “Dua latar kenapa tak minta dipilih. Pertama, alasan yang terdengar klasik, yaitu nabi kita tidak menganjurkan memberi jabatan kepada yang meminta. Kedua, dalam komunikasi pun akan terasa sangat tidak elegan bila kita minta dipilih. Nggak sreg gitu…rasanya kayak pengemis jabatan,” jawab Elnino.

Luar biasa akibat politik yang diperoleh Elnino dan para sahabatnya. Mereka bukan saja memperoleh pemilih atau pendukung di desa-desa yang mereka datangi, tetapi bahkan membuat para tokoh desa secara sukarela dan militan menjadi juru kampanye mereka secara informal. Tak heran bila di antara tokoh-tokoh desa itu ada juga yang sukarela menyumbangkan bantuan logistik untuk kampanye Elnino.

Berbasis kampus serta dibantu oleh para wartawan, ribuan sahabatnya dan tokoh-tokoh desa, Elnino M. Husein Mohi membalikkan asumsi di Gorontalo bahwa politik hanya milik orang berduit. Kini semakin banyak orang-orang muda Gorontalo yang mengkader dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Mereka terorganisir dengan baik dalam organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa. Mereka ingin menjadi Elnino-Elnino baru yang akan mencerdaskan masyarakatnya, bukan hanya di bidang politik, tapi juga di bidang lainnya.

IDE DI DPD

Merasa dipilih melalui jalan yang “benar”, membuat Elnino memiliki beban yang cukup berat untuk membuktikan bahwa masyarakat tidak salah pilih. Hanya saja ia menghadapi kendala besar terkait minimnya wewenang DPD-RI, yakni hanya sekedar mengusulkan ke DPR-RI. Agar tidak mengecewakan konstituen, ia melaporkan seluruh usulannya di DPD-RI ke daerah pemilihannya.

Salah satu konsep penting yang sedang diperjuangkan Elnino adalah mengenai sistem otonomi daerah. “Semestinya struktur pemerintahan daerah di seluruh Indonesia bisa meniru struktur Pemda DKI Jakarta. Lebih produktif untuk membangun bangsa,” tutur Elnino.

Seperti kita ketahui, di Jakarta, hanya gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat. Bupati/walikota ditunjuk oleh gubernur. Hanya ada DPRD Provinsi, tidak ada DPRD Kabupaten/Kota. Artinya, 15 juta penduduk Jakarta ditangani oleh hanya 102 pejabat politik, yaitu gubernur, wakil gubernur dan 100 anggota DPRD Provinsi. “Bandingkan dengan Gorontalo yang penduduknya hanya 1 juta jiwa, ditangani oleh tujuh kepala daerah, tujuh wakil kepala daerah dan 215 anggota DPRD Prov/Kab/Kota. Sangat tidak efisien,” papar Elnino yang pernah menguraikan idenya tersebut beserta berbagai alasannya dalam artikel di Koran Jakarta, detik.com, dll.

Elnino juga melontarkan ide untuk memindahkan ibukota negara ke luar Pulau Jawa. “Jakarta sudah tidak representatif lagi untuk kelancaran urusan pemerintahan, karna kota ini sudah terlanjur menjadi pusat segala-galanya; ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, pemerintahan, dll. Jadi, ada baiknya urusan pemerintahan negara ini dipusatkan di tempat lain. Kalau perlu, ke luar Pulau Jawa untuk membuktikan bahwa bangsa ini benar-benar satu kesatuan, juga bahwa orang Jawa—walaupun mayoritas—tetap rela ibukota pindah ke pulau lain,” paparnya.

Sedangkan mengenai peraturan Pilkada, Elnino mengusulkan agar calon bertahan (incumbent) diharuskan cuti besar di luar tanggungan negara selama 3 bulan sebelum hari pencoblosan. Ini untuk menghindari penggunaan asset maupun aparatur pemerintah daerah dalam kampanye.

Seperti para senator lainnya, Elnino merasa harus berusaha melakukan perubahan konstitusi. Salah satu alasannya adalah kewenangan DPD-RI yang belum seperti idealnya. “Sekarang ini DPD-RI seperti majelis rendah, hanya mengusulkan ke DPR. Mestinya DPD diberi kewenangan yang sama dengan DPR, menetapkan dan mengesahkan undang-undang, walaupun hanya untuk bidang-bidang tertentu,” ungkapnya.

Ide-ide seperti di atas tentu akan mendapatkan tantangan yang berat. Banyak kepentingan yang harus dilanggar bila ide-ide tersebut menjadi kenyataan. “Tapi bagi saya, soal berhasil atau tidak, tidak masalah. Yang penting konstituen tahu bahwa saya serius berpikir dan bekerja untuk bangsa ini. Toh saya tetap meyakini, ide-ide itu akan menjadi nyata, walaupun mungkin harus menunggu 10-15 tahun lagi,” tuturnya.

SENATOR TINGGAL DI ASRAMA MAHASISWA

Lain lagi beban moral yang wajib ditanggung Elnino. Terpilih secara murni, bahkan tak mengeluarkan ongkos yang besar, Elnino menciptakan sistem untuk mengelola seluruh uang yang diperoleh dari DPD agar dapat bermanfaat bagi konstituennya rakyat Gorontalo. “Tidak elok sebetulnya bila digembar-gemborkan soal ini. Tetapi secara garis besar, seluruh pemasukan dari DPD masuk ke Tim-9, dulu adalah Tim Pemenangan Elnino, lalu Tim-9 inilah yang memanfaatkan dana tersebut untuk menggaji Elnino, menyusun program kerakyatan dan melaksanakannya,” beber Thariq Modanggu yang saat ini menjadi Ketua Tim-9 tersebut.

Sejak dilantik 1 Oktober 2009, hingga saat buku ini diterbitkan, Elnino masih menginap di Asrama Mahasiswa Gorontalo, Jl. Salemba Tengah no. 29. Sebetulnya dia sendiri risih dengan kondisi itu. “Soal tinggal di asrama sih saya sudah biasa. Sejak SMA tinggal di asrama, hingga dua tahun lalu juga tinggal di asrama ini waktu kuliah S2 di UI. Tetapi kadang saya risih karena ada saja orang yang menganggap saya sok suci, sok miskin, hehe…,” ungkap pria murah senyum itu.

DARI TUKANG BECAK, INGIN JADI DUBES

Elnino adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Bapaknya, Mustapa Mohi adalah seorang guru, sedangkan ibunya, Hadjari Ismail Lebie adalah seorang perawat. Kehidupan masa kecilnya cukup menderita karena sang ayah meninggal saat kelas tiga SMP dan disusul ibunda ketika SMA. Untungnya, Elnino dianugerahi Tuhan kecerdasan otak luar biasa yang membuatnya mampu melanjutkan pendidikan berkat beasiswa.

“Dari tujuh saudara yang lain, saya paling tinggi sekolahnya. Sejak SMP, SMA Don Bosco Pondok Indah dan SMA Lab School di Jakarta, sampai kuliah di STT Telkom Bandung. Semua biaya sekolah saya dapatkan dari beasiswa yang berasal dari orang-orang Gorontalo yang sukses di Jakarta,” kisahnya.

Di samping beasiswa ia juga harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi di perantauan ia hidup sebatang kara, sehingga harus berjuang sendirian. Saat SMA di Jakarta, Elnino sempat mengamen, menjadi kenek bus kota dan tukang antar koran.

Perjuangan serupa dijalaninya saat menempuh pendidikan tinggi di STT Telkom Bandung, yang juga dibiayai “beasiswa”. “Saya sempat menjadi penarik becak di kampus, karena beasiswa hanya cukup untuk biaya kuliah. STT kan mahal, sekitar Rp 750 ribu per semester sedangkan biaya hidup saya Rp 50 ribu sendiri. Saya berhenti menarik becak setelah semester III karena malu sama adik kelas. Becak saya jual dan mulai usaha sablon,” jelasnya.

Untuk membiayai kuliah, Elnino mengajukan “proposal” kepada orang-orang kaya Gorontalo di Jakarta. Dari merekalah biaya kuliah yang lumayan besar tersebut didapatnya hingga menyelesaikan pendidikan. Memasuki semester VIII, Elnino sudah mulai “kaya” karena memiliki usaha di bidang sablon dan wartel. Sebagai mahasiswa perantauan dengan biaya sendiri, ia mampu membeli motor, TV dan buku-buku referensi.

Beroleh gelar Sarjana Teknik dari STT Telkom (1998), Elnino kembali ke kampung halaman dan bekerja sebagai wartawan. Meskipun mendapat tentangan dari saudara-saudaranya yang menghendakinya menjadi PNS, ia jalan terus. Ia beranggapan profesi wartawan adalah paling terhormat di antara pekerjaan lain.

“Tersinggung saya ketika dibilang sekolah tinggi ‘cuma’ menjadi wartawan. Makanya ketika kakak meminta ijazah saya didaftarkan jadi PNS, tidak saya kasih. Bagi saya, wartawan adalah profesi yang sangat terhormat,” kata Redaktur Eksekutif Radar Gorontalo ini.

Ditanya tentang cita-citanya kedepan, Elnino hanya menjawa pendek sambil tersenyum simpul, “Duta Besar.” Dubes di mana maunya? “Di Spanyol, hehehe. Anak saya akan bisa berbahasa Inggris, Spanyol, Indonesia dan Gorontalo. Saya sendiri bisa menonton pertandingan Real Madrid vs Barcelona setiap hari, gratis pula,” katanya sembari bercanda.

KEINGINAN LUHUR

Menurut Elnino, permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia bersumber dari tidak diamalkannya UUD 1945 secara konsekwen. Di mana dalam Pembukaan UUD’45 termaktub kalimat “Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”. Tanpa keinginan luhur, maka faktor Tuhan menjadi nihil. “Tanpa niatan luhur, korupsi di mana-mana, bahkan terjadi ‘penjajahan’ dari pihak luar negeri. Pelaksanaan sistem otonomi, sistem ketatanegaraan dan undang-undang, semua kacau balau. Dari pusat hingga daerah,” tegasnya.

Dia juga mengimbau, agar orang-orang cerdas, para cerdik-pandai, yang mengkampanyekan moralitas jangan hanya diam di kampus. Mereka tidak boleh hanya berteriak-teriak menyoroti kesalahan sistem tanpa harus terlibat di dalam sistem.

“Jangan hanya menikmati status sebagai intelektual, independen dan hanya menjadi pengamat. Mari rame-rame masuk partai, menjadi anggota DPR, DPRD, atau sekalian mencalonkan diri jadi kepala daerah. Minimal seperti saya, jadi calon anggota DPD. Jangan sampai karena orang baik tidak berminat mengambil alih kekuasaan, maka kekuasaan jatuh ke tangan orang jahat. Tapi… mungkin juga mereka takut kalah dalam pencalonan, padahal pencalonan itu sendiri adalah pengabdian,” ungkapnya.

Elnino kembali mengingatkan bahwa semua peradaban maju karena supremasi ilmu pengetahuan di segala bidang, termasuk dalam politik. Uang hanyalah akibat dari diterapkannya ilmu pengetahuan pada sebuah negara. Dengan mengedepankan supremasi ilmu pengetahuan, bangsa Indonesia tidak akan lagi menjadi bangsa kuli. Bahkan bukan tidak mungkin  melebihi Amerika dan negara adidaya lainnya, mengingat besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini.

BIODATA

Elnino M. Husein Mohi
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Komite I : Bidang Otonomi Daerah, Hubungan Pusat-Daerah, Pemekaran Daerah, Politik Lokal – Pilkada.

TTL : Gorontalo, 30 Oktober 1974
Alamat : Jl. Barito No. 38, BulotadaA Timur, Kota Utara, Kota Gorontalo. Website : www.elnino.web.id.
Orang tua : Mustapa Mohi (alm), Hadjari Ismail Lebie (almh)
Isteri : Umin Kango, S.Pd
Anak : Nun Farida Aryani (6 thn), Alif Lam Mohi (3 thn), Elnino Mustafa Hussein Mohi (1 thn)

PENDIDIKAN:
“Leadership and Language Training”, SILC, University of Arkansas at Fayetteville, USA (2007)
Universitas Indonesia, Program Pascasarjana Manajemen Komunikasi Politik (2007).
STT Telkom, Bandung. Jurusan Teknik dan Manajemen Industri (1998)
SMU Negeri 81 Labschool, Jakarta Timur (1993)
SMP Negeri 6 Gorontalo (1990)
SDN II Ayula, Tapa, Gorontalo (1987)

ORGANISASI:
1.    Ketua Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (Masika-ICMI) Wilayah Gorontalo.
2.    Perwakilan Yayasan Suharso Monoarfa (Sumo Foundation) untuk Provinsi Gorontalo.
3.    Sekretaris The Presnas Centre. (Himpunan para mantan pejuang pembentukan Provinsi Gorontalo)
4.    Wakil Ketua Aliansi Pengawal Perjuangan Provinsi Gorontalo (AP3G).
5.    Anggota Kehormatan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gorontalo.
6.    Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Gorontalo (2003-2005)

PEKERJAAN
1.    Redaktur Eksekutif Harian Tribun Gorontalo (sekarang Radar Gorontalo).
2.    Redaktur Harian Gorontalo Post (2001-2002)
3.    Pemimpin Redaksi “Habari Lo Lipu” (media sosialisasi perjuangan pembentukan provinsi Gorontalo, 1999-2001)

BUKU KARYA TULIS
Media Politik vs. Politik Media. (draft, diambil dari intisari thesis S-2)
Abad Besar Gorontalo. 2003. Presnas Publishing. Gorontalo. (Ditulis bersama Alim S. Niode)
Walikota Medi. 2002. Presnas Publishing. Gorontalo.
Juga menjadi kontributor, penyunting atau editor dalam 9 buku lainnya, yakni ; Moodelo (Medi Botutihe, 2006), Mahligai Bertabur Cinta (Zulhelmi Alting, 2005), Menggagas Masa Depan Gorontalo (Funco Tanipu dkk, 2004), Gorontalo Serambi Madinah (Medi Botutihe, 2003), Nani Wartabone (Tim Diknas, 2003),  Negarawan Dari Desa (La Ode Aman, 2003),  Anda dan Pemilu 2004 (KPU Provinsi Gorontalo, 2003), Sang Deklarator (Hardi Nurdin, 2002), Paradigma Baru Industri Pangan Indonesia (Thamrin Djafar, 1999)

PENGHARGAAN DAN BEASISWA
Piagam “Arkansas Ambassador” (Duta Arkansas) dari Gubernur Arkansas, Amerika Serikat (2007)
Piagam “Pejuang Pembentukan Provinsi” dari Gubernur Gorontalo (2001)
Nominator “Man of The Year—2003” versi Harian Gorontalo Post
International Fellowship Program—Ford Foundation, Amerika Serikat (2005-2007)
Beasiswa Yayasan 23 Januari ’42 (1993-1998)
Beasiswa “Program Habibie” dari Pemda Kodya Gorontalo (1990-1993).

Rudy F Subarkah

No Comments

Rudy F Subarkah
General Manager Puncak Pass Resort

Resort Bernuansa Heritage yang Berguna Untuk Masyarakat

Ribut-ribut masalah pelestarian lingkungan di wilayah Puncak dan sekitarnya sebagai daerah tangkapan air, tidak melibatkan Puncak Pass Resort. Di saat sebagian pengelola resort beramai-ramai memanfaatkan seluruh lahan miliknya –bahkan kadang mengokupasi tanah negara- Puncak Pass tidak demikian. Sejak berdiri tahun 1928, pengelola menerapkan kebijakan untuk tidak sekalipun melakukan kegiatan yang dapat merusak lingkungan.

Di antaranya adalah dengan memanfaatkan sebagian dari lahan yang difungsikan untuk keperluan usaha. Sebagian besar lainnya dibiarkan menjadi hutan dan pelestarian kehidupan flora serta fauna, sekaligus menjadi landsekap yang memperindah Puncak Pass Resort. Tidak heran, di usianya yang hampir satu abad, Puncak Pass Resort tetap menawarkan keindahan dan eksotisme suasana pegunungan yang asri dan nyaman.

“Sesuai dengan visi dan misi Puncak Pass Resort, kita ingin menjadikan resort yang bernuansa heritage dan berguna untuk masyarakat. Puncak Pass sangat peduli dengan perlindungan alam bahkan bekerja sama dengan BKSDA menangkarkan rusa serta membiakkan burung langka. Bahkan dari 5,6 hektar lahan, yang kita gunakan paling cuma 10 persen, sisanya tetap dibiarkan menjadi hutan,” kata Rudy F Subarkah, General Manager  Puncak Pass Resort.

Yayasan Dharma Karya Mandiri (YDKM) sebagai Puncak Pass Resort adalah suatu yayasan yang awalnya didirikan oleh para pejuang kemerdekaan tahun 1945 yang memiliki visi “Berjuang Tanpa Akhir”. Meskipun satu per satu generasi founder yayasan meninggal dunia, tetapi semangat tersebut terus dipertahankan. Bahkan, lama kelamaan perkembangan yayasan mengarah pada bagaimana mengupayakan kesejahteraan masyarakat.

Melalui Puncak Pass Resort, yayasan telah memberikan sumbangsih yang besar kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya dalam upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Setidaknya, beberapa orang karyawan resort berasal dari masyarakat yang tinggal di sekitar resort. Bukan itu saja, para pekerja tersebut bahkan telah diturunkan dari generasi ke generasi.

“Dari segi sejarah, bisa dibilang ini karyawan warisan. Yakni dari ayah dan kakeknya yang sebelumnya juga menjadi karyawan di sini. Maklum resort ini sudah ada sejak tahun 1928 sehingga tidak heran ada yang mendapat pasangan dari sini. Dari situ kemudian anaknya meneruskan karier bapaknya, begitu seterusnya,” ujarnya. Saat ini, dengan 27 unit resort dan restoran, Puncak Pass mempekerjakan 127 orang karyawan. “Ini bisa dikatakan padat karya, karena memerlukan tenaga perawatan yang sangat banyak. Dari kamar, taman, hewan sampai hutan,” imbuhnya.

Sejarah Puncak Pass Resort, tidak bisa dilepaskan dari masa penjajahan Belanda. Para petinggi Belanda tadinya menjadikan Puncak Pass Resort sebagai sarana peristirahatan dalam perjalanan antara Bandung dan Jakarta. Infrastruktur dan kendaraan sebagai sarana mobilitas masih sangat kurang sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk melintasinya. Puncak merupakan wilayah di tengah-tengah antara kedua kota tersebut yang tepat untuk dijadikan tempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Setelah penjajahan Belanda berakhir, atas pemikiran Muhammad Yamin untuk memberikan “kail” bagi keberlangsungan Yayasan Dana Kesejahteraan Mahasiswa, cikal bakal YDKM sekarang ini. Pembelian resort oleh yayasan pada tahun 1954, selain untuk menampung dan mengkaryakan Tentara Pelajar (TP) juga dipergunakan membiayai pendidikan bagi mantan TP yang berprestasi. Hasilnya, beberapa orang yang dibiayai Yayasan pernah mewarnai kehidupan di republik ini di bidang pendidikan, kemiliteran dan lain-lain.

“Salah satunya adalah Ketua Yayasan YKDM Prof. Widagdo. Dahulu, Muhammad Yamin selalu mampir kalau sedang menuju Bandung karena jalanan masih sangat sulit. Kalau sekarang, pengabdian Yayasan sudah tidak kepada mantan TP tetapi kepada masyarakat umum. Melalui rekomendasi dari DIKTI kita juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari seluruh Indonesia. Sejak tahun 2010, yayasan berubah nama menjadi Yayasan Dana Kesejahteraan Mandiri dan tidak terfokus kepada beasiswa bagi mahasiswa saja. Sekarang lebih kepada award yang kita berikan kepada mahasiswa dan umum,” tegasnya.

Mantan Chef

Rudy Fachruddin Subarkah mulai aktif di Puncak Pass Resort sejak 1 Maret 2008, menggantikan pendahulunya Yoen Wachyu. Pria kelahiran Bandung, 19 April 1964 ini telah malang melintang di dunia hospitality industries sejah menamatkan studinya di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bandung dalam program studi Hotel Managemen pada tahun 1993.

Berbagai jenjang pendidikan dan latihan formal dalam bidang keahlian perhotelan telah diikutinya sejak tahun 1985 – 1986 yang dimulai dengan Food Production, dilanjutkan pada 1987-1988 dan terakhir pada 1992-1993 dalam program studi Manajemen Hotel. Latihan kerja dan magang dalam mempraktekan ilmu dan teori yang didapatnya dari bangku kuliah yang diikutinya sejak tahun 1986 di restoran Oasis Jakarta, Makassar Golden Hotel, Makassar, Star Ship Atlantic, Florida-Amerika Serikat, Glossy Restaurant-Bandung, Movenpick Paradeplatz Restaurant, Zurich-Swiss.

Rudy juga pernah bekerja di King’s Hotel-Palembang, Sheraton Inn, Timika, Lido Lakes Hotel, Bogor, Radisson Makassar, Makassar, Treva International Hotel Jakarta, Quality Hotel Yogyakarta dan Quality Hotel Gorontalo. Jenjang karier profesional pilihan hidupnya dimulai dari bawah langsung berhubungan dengan bidang keahlian spesialisasinya dalam food & beverage sebagai cook hingga tingkat eksekutif yang bersifat managerial umum sebagai General Manager.

“Karier saya sebenarnya Chef, tukang masak. Terus meningkat sampai sekarang menjadi GM sejah tahun 2006 di Gorontalo. Visi saya simple saja, ingin membuat semua yang dekat dengan saya menjadi senang. Bagi keluarga maupun orang-orang yang mengenal saya sebisa mungkin menjadi senang berkat kehadiran saya. Saya yakin, kesenangan yang kita berikan kepada orang lain, pasti kembali kepada kita. Kalau mau dapat cobalah memberi terlebih dahulu meskipun kecil,” tandasnya.

Saat ini, Rudy mengandalkan keikhlasan sebagai patokan masa depannya. Selama masih diberikan kehidupan oleh Tuhan semua kemungkinan bisa terjadi. Dengan dilandasi semangat ikhlas, suami Vera Napitupulu ini berharap mampu mewujudkan cita-cita dan keinginannya. Ikhlas memiliki makna yang sangat luas, mulai jujur, ridhlo dan lain-lain. “Di sisi lain, ikhlas bukan pasrah. Kalau kita miskin terus mengandalkan pasrah ya kacau. Jadi hidup adalah ibadah dan ibadah harus dijalani dengan ikhlas. Dua itu saja, sulitnya minta ampun,” imbuhnya.

Ayah satu anak yang mendapat dukungan penuh keluarga ini, sangat bersyukur atas kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan istri yang satu almamater, membuat komunikasi pasangan ini tidak terjadi hambatan yang berarti. Termasuk ketika istrinya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah kelahiran anaknya yang saat ini sudah kelas tiga SMP.

Kepada generasi muda, Rudy berpesan agar mereka terus mengembangkan diri menjadi lebih baik. Ia meyakini bahwa dengan generasi penerus yang baik, masa depan bangsa juga akan menjadi lebih baik. Asalkan generasi muda memiliki dorongan yang kuat dalam dirinya untuk maju, masa depan bangsa akan berada di tangan yang benar.

“Tetapi yang menjadi permasalahan mungkin pengaruh lingkungan sekitarnya. Generasi muda jangan dijejali dengan pikiran negative, tetapi harus optimis. Tuhan tidak akan menghancurkan dan yang merusak adalah generasi kita sendiri. Jadi tinggal bagaimana kita mengarahkannya, selama masih wajar kita anggap biasa. Sebagai orang tua, kita tinggal membimbing dan mengarahkan,” tegasnya.

Drs. Sugiyarto, MPd

No Comments

Drs. Sugiyarto, MPd
Kepala Sekolah SMKN 4 SURAKARTA

Wirausaha Solusi Tepat Bagi Lulusan Siswa SMK

Sejak kecil bercita-cita ingin berkarier guru, membuat sugiyarto kecil, bersemangat untuk  maju meraih obsesinya tersebut, kendati setelah dewasa obsesinya itu ditujukan untuk membawa SMK Negeri 4 Surakarta berkembang dan  menjadi idola siswa dan guru. Bagaimana penuturannya memimpin sekolah kejuruan berstandar RSBI ini, berikut ceritanya :

“Sejak dulu memang saya ingin menjadi guru atau pendidik, “ungkapnya. Tak heran jika sugiyarto mampu membawa dan mengangkat  SMK Negeri 4 Surakarta sebagai sebuah sekolah kejuruan  favorit di kota bengawan ini. Memang masih butuh perjuangan panjang, buktinya bapak dua anak ini mengaku merasa belum puas jika belum menjadikan sekolah ini bertambah besar. Saat ini Sugiyarto telah menjadikan sekolah yang dahulu kelasnya hanya  21 kelas,  sekarang telah bertambah menjadi 33 kelas. Obsesinya ke depan adalah 36 kelas. Suatu tantangan, semangat dan harapan yang luar biasa, bila dibandingkan dengan karier dan cita-citanya dahulu.

Menurutnya, SMKN 4 Surakarta sejak tahun 2006  telah menekankan kepada seluruh siswanya untuk belajar berwirausaha . Tantangan ke depannya  dibutuhkan senjata yaitu kerja keras, berupa optimalisasi peran  seluruh elemen sekolah yang berjumlah 1.126 siswa, tak terkecuali pesuruh sekolah untuk bahu membahu membawa nama dan lulusan SMKN 4 Surakarta  diterima masyarakat dan perusahaan dengan baik. “Tantangan nyata, karena semua Program Studi Keahlian yang ada di SMKN 4 Surakarta yaitu Tata Boga (Jasa boga dan pastry), Tata kecantikan (Hair dresser dan Skin care), Tata busana (Busana Butik) dan Akomodasi Perhotelan menyangkut kebutuhan  manusia yang tak pernah kering, “pungkasnya.

SMKN 4 Surakarta mempunyai siswa yang 90 % adalah perempuan, dan kebanyakan berasal dari kalangan keluarga menengah kebawah. Wajar jika Sugiyarto selalu memotivasi mereka untuk senantiasa bangkit dengan tidak mengharapkan sekolah serba gratis. Artinya, jika ada siswa yang tak mampu membayar keperluan sekolah, diajak untuk  berwirausaha dengan modal dari sekolah.

Pekerjaan rumah lainnya adalah mengupayakan siswanya yang menolak untuk bekerja di luar kota,  dengan  menciptakan wirausaha. Pola  inilah yang tengah digodok pihaknya terus menerus agar siswa tetap termotivasi  untuk bekerja mandiri. “Standarnya jangan sampai siswa tidak punya kemampuan berwirausaha di rumah, dan beralih jadi pengangguran, dan ini jangan sampai terjadi, “tegas kepala sekolah.

Guna mengantisipasi semua problem tersebut itulah, Sugiyarto berobsesi membentuk laboratorium entrepreneur di kota Surakarta ini yang diberi nama “EntrepreneurshipLab SMKN 4 Solo”
Obsesinya ini sudah dirintis mulai awal tahun 2010 yang lalu dengan membuat Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4, dengan menggandeng mitra Tenaga Ahli (Expert) dari DED (German Development Service) yang sekarang berganti nama menjadi GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri yang memiliki kepedulian dengan dunia pendidikan serta Team Work yang terdiri dari guru kewirausahaan dan guru produktif. “Saat ini usaha mereka sudah berjalan dan sudah menjadi mitra kerja Business Centre yang ada di SMKN4 Surakarta dan mentor mentor dari industri.” Diharapkan modal yang diberikan kepada tiap grup sebesar 1 juta rupiah (Rp. 500.000 untuk modal kerja dan Rp. 500.000 untuk pembelian peralatan kecil) sudah dapat dikembalikan di bulan februari 2011 ini. Karena Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4 akan berakhir bulan Februari 2011 “ Inilah nilai plusnya, dan ini harus berjalan terus dan punya tanggungjawab sendiri,” paparnya.
Sugiyarto mengatakan dengan entrepreneurship diharapkan siswa-siswa dapat belajar menjadi pengusaha, bukan pekerja. Ide-ide ini akan semakin memecut siswa agar selalu berpikir bahwa enterprenership adalah solusi mandiri mereka. Untuk itu program enterprenership juga diterapkan untuk Program Studi Tata Busana yang akan launching pada tanggal 28 Februari 2011 dengan tetap menggandeng Expert dari GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri.
Teori Sugiyarto benar, karena dengan mengajak seluruh siswa mandiri dan senantiasa berpikir positif untuk berkembang, diharapkan mereka bisa menjadi masyarakat wirausahawan profesional.
Kini harapan Sugiyarto adalah bagaimana menjadikan SMKN 4 Surakarta  ini juga berbudaya lingkungan.
“Lulusan dari SMKN 4 Surakarta bisa bekerja di mana saja, gaji minimal sesuai UMK, “katanya. Memang ada juga sich, tuturnya anak yang bekerja di bawah UMK, tapi saya menganjurkan agar mereka tidak bekerja di perusahaan yang gajinya di bawah UMK. “Kalau ada kedapatan siswa bekerja dengan gaji di bawah UMK mereka dipindahkan ke industri lain.”
Penanganan lulusan SMKN 4 Surakarta dikelola dengan baik oleh BKK (Bursa Tenaga Khusus) SMKN4 Surakarta yang setiap tahun kebanjiran permintaan tenaga kerja oleh banyak industri di wilayah Jawa Tengah, DIY, Jabodetabek dan bahkan dari luar negeri. Semua seleksi rekruitment tenaga kerja dilakukan di SMKN 4 Surakarta sebelum siswa melaksanakan Ujian Nasional.  Pihak industri terkait yang datang ke SMKN 4 Surakarta, sehingga kebanyakan siswa belum lulus Ujian Nasional tapi mereka sudah punya tempat di Industri.
Jadi tidak ada cerita, lulusan SMKN 4 Surakarta keluar masuk industri cari lowongan kerja. Karena setiap tahunnya justru masih banyak permintaan tenaga kerja dari beberapa industri tetapi SMKN 4 Surakarta sudah kehabisan lulusan yang belum bekerja. Artinya penyerapan lulusan SMKN 4 Surakarta di Industri yang relevan sudah mencapai 100 %.
Memang tidak semua lulusan SMKN 4 Surakarta langsung bekerja, karena ada beberapa dari mereka yang melanjutkan sekolah (kuliah) dengan mendapatkan beasiswa dari Industri maupun PMDK dari perguruan tinggi negeri di wilayah DIY dan Jateng.
Untuk masalah beasiswa dari Industri ini, SMKN 4 Surakarta menjalin kerja sama dengan IGTC Bogor (International Garment Training Centre) yang setiap tahunnya pihak IGTC Bogor datang ke SMKN 4 Surakarta mengadakan seleksi bagi siswa kelas XII untuk mendapatkan beasiswa belajar di IGTC Bogor setelah lulus dari SMKN 4 Surakarta selama 1 tahun. Beasiswa ini meliputi biaya kuliah, asrama dan makan.
Materi test dari IGTC Bogor semuanya dalam bahasa inggris, karena IGTC adalah lembaga pelatihan bertaraf internasional.

Tantangan semakin berat, setelah sekolah SMKN 4 Surakarta diberi lebel RSBI sejak Juli 2010 yang lalu, sebab masih ada program yang harus digapainya, terutama peningkatan sumber daya manusia, dan  pola pikir global.  “Pikiran yang kolot harus diubah, kalau tidak, maka akan terjebak  dengan perubahan  yang ada, jadi bagi mereka yang tidak mau berubah harus mengerti, bahkan guru harus bisa mengefektifkan dirinya dengan jalan belajar lebih giat lagi akan kemajuan teknologi modern, bahkan kalau perlu sekolah ke luar negeri, “tegasnya.
Sugiyarto mengatakan untuk mengikat jalinan kerjasama dengan seluruh elemen sekolah agar lebih erat lagi, ia biasanya menjadikan mereka sebagai kolega.

SMKN 4 Surakarta juga memiliki Business Centre (BC) Sparta yang bergerak dibidang Catering, Pastry, Butik, Salon Kecantikan, Laundry dan juga Hotel dengan kapasitas  4 kamar ber -AC yang melayani customer dari luar SMKN 4 Surakarta. Semua pegawai Business Centre Sparta SMKN 4 Surakarta adalah alumni dari sekolah ini juga.
Khusus untuk Salon Kecantikan Sparta sudah memiliki beberapa pelanggan dari pejabat setempat. Dan untuk pastry (spesialis kue-kue kering), biasanya booming produk terjadi setiap menjelang idul fitri dan natal. Hal ini yang dimanfaatkan oleh sebagian siswa besar SMKN 4 Surakarta untuk bekerja part time setelah pulang sekolah dengan mendapatkan penghasilan yang bervariatif sesuai dengan jam terbangnya.
“Workshop di masing-masing Program Studi Keahlian sudah menggunakan peralatan teknologi tinggi sesuai standart Industri. Hal ini dikarenakan semua workshop yang ada di SMKN 4 Surakarta sudah diverifikasi oleh LSP Lisensi menjadi TUK (Tempat Uji Kompetensi) Bidang Garment, Tata Kecantikan Rambut dan Tata Kecantikan Kulit, Restourant dan Akomodasi Perhotelan, yang dapat digunakan untuk pelaksanaan Ujian Kompetensi Keahlian dari semua Instansi yang membutuhkan.
Sehingga diharapkan semua lulusan SMKN 4 Surakarta tidak akan canggung bekerja di Industri yang sudah menggunakan peralatan modern “ demikian penjelasan bapak satu istri  yang juga bekerja dengan profesi  pendidik ini.

Untuk itulah, Sugiyarto membuka pendaftaran penerimaan  siswa di SMKN 4 Surakarta dengan 2 cara, yakni dengan melihat nilai  ujian nasional yang dibobot terlebih dahulu sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan yang kedua adalah dengan teknik wawancara dan psikotes. Tujuan dari cara yang kedua ini adalah untuk menseleksi atau menyaring motivasi dan minat mereka terhadap bidang yang mereka inginkan, termasuk juga masalah kesehatan siswa. “Jangan sampai ambil jurusan tata boga, tapi mereka tidak memiliki tinggi dan berat badan yang proporsional, ini kan kurang baik ya, “ujarnya.

Menghadapi era global

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, Sugiyarto mengingatkan dampak negatifnya. Untuk mencegah dampak yang kurang baik, ia meminta seluruh jajaran di sekolahnya untuk bersikap disiplin dan tepat waktu, hal ini penting untuk meningkatkan etos kerja. “Untuk menghargai orang lain, dan tidak boleh terlambat, “ujarnya. Untuk mengawasi semua unsur tersebut, pihaknya mengaku telah membentuk tim PPKS (Pembimbing Prestasi Karakter Siswa).

“PPKS ini dibimbing 2 orang, yaitu wali kelas dan guru pendamping. Tujuannya adalah  mendidik siswa agar tidak terlambat, bagi siswa yang terlambat menunggu di luar kelas dan mendapat punishment membersihkan areal sekolah sesuai pembagian tim PPKS.

Sugiyarto menambahkan, pihaknya menerapkan disiplin masuk sekolah pukul 07.00 pagi, namun pukul 06.45 WIB diharapkan siswa sudah berada di sekolah untuk melakukan kegiatan patut diri yang meliputi kegiatan mengatur ruang kelas agar bersih dan rapih. “Jarak dijaga antara meja dan kursi, serta mengabsensi siswa.” Sedangkan untuk penilaian pelajaran, pihaknya juga menerapkan pola mengulang kembali bagi siswa yang ketahuan menyontek pekerjaan temannya. Hal ini penting untuk mendidik siswa agar berkelakuan yang baik,  disiplin, bekerja keras serta mau berusaha.”

Sementara filosofinya, ialah berpikir positif terhadap semua orang. Makanya target jangka pendek sekolahnya,adalah bagaimana menciptakan siswa didiknya dapat lebih berinovatif, tersalurkan di setiap bidang pekerjaan dan mampu bersaing dalam mendapatkan peluang kerja serta mampu berkompetisi dalam bidang kejuruan.

“Kami juga giat untuk mengikuti lomba-lomba yang diadakan sekolah lain atau perusahaan, Alhamdulillah kami sering menyabet juara, “ujarnya.

“Saat ini SMKN4 Surakarta sudah menjalin dengan kurang lebih sekitar 80 perusahaan yang siap membantu siswa dalam pelaksanaan On The Job Training (OJT) “jelasnya.

Dukungan Keluarga

Menanggapi dukungan keluarga terhadap profesinya, Sugiyarto mengatakan tidak ada masalah. “Jam berapa pun ia keluar rumah, istri dan anaknya tidak mengeluhkan.” Sebab istrinya juga adalah seorang guru dan  pendidik, jadi mengerti benar, pekerjaan dan  profesi yang diembannya.“ Menjawab bagaimana tanggapannya tentang peran pemerintah terhadap SMK, Sugiyarto mengatakan saat ini pemerintah telah memberikan input yang begitu besar terhadap perkembangan SMK, hanya saja memang masih banyak kekurangan yang ada, dan ini tugas dari masyarakat untuk memperbaiki kekurangan yang ada di SMK di seluruh Indonesia.
“Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, “ujarnya. Maklum,  tidak ada suatu makhluk yang sempurna, apalagi lembaga atau institusi di muka bumi ini,  tapi juga  bukan suatu alasan yang dapat dibuat-buat dari dasar  ketidak sempurnaan itu yang  membuat kita tidak berdaya, justru karena ketidakberdayaan itulah yang harus jadi potensi dalam diri siswa dan keluarganya untuk bangkit meraih cita-cita yang diinginkan mereka. “anak-anak yang orangtuanya punya banyak anak dan tidak mampu diharapkan bisa memunculkan potensiya, “tuturnya.

Sugiyarto mengatakan sekolahnya kini telah melengkapi segala kebutuhan peralatan untuk digunakan siswanya, alat-alat tersebut merupakan bantuan atau subsidi dari berbagai pihak untuk diberdayakan dan melengkapi berbagai peralatan yang sudah ada.

Jangka Panjang

Untuk program jangka panjang,  pihaknya menginginkan sekolah ini semakin besar. Targetnya adalah membuka kelas baru dari   33 kelas yang ada menjadi 36 kelas,  dengan harapan  jumlah  murid semakin banyak dan berkualitas. Kini jumlah siswa yang terdaftar di SMKN 4 Surakarta   telah mencapai 1.126 siswa “ Dengan semakin besarnya jumlah siswa yang terdaftar di sekolah ini, diharapkan SMKN 4 Surakarta menjadi sekolah unggulan di kemudian hari, “Jelas bapak dua putri yang sudah menginjak bangku kuliah ini.

Mengimbangi semua itu, Sugiyarto juga mengingatkan guru-guru SMKN 4 Surakarta untuk bisa menjadi assesor. Untuk itu pula, pihaknya bekerjasama dengan LEC, mengadakan training atau pelatihan bagi guru-guru dan menjadi bagian dari proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas bagi siswa dalam bidang bahasa Inggris, apalagi Sugiyarto mengaku juga seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Inilah yang harus dipikirkan seluruh guru untuk maju. Tuntutan Sister School merupakan kewajiban bagi setiap guru untuk meningkatkan kompetensi keahliannya.

Sebagai Kepala SMKN 4 Surakarta, Sugiyarto bekerja sesuai dengan Visi, Misi dan Tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Berikut ini visi, misi dan tujuan SMKN 4 Surakarta;

Visi
Terwjudnya SMK bertaraf Internasional dan berbudaya lingkungan

Misi
Menyiapkan lulusan yang siap kerja, cerdas, kompetitif dan berkepribadian luhur.
Mengembangkan potensi sekolah yang berwawasan lingkungan dan bernuansa industri
Menyiapkan wirausahawan yang handal
Mengembangkan semangat keuanggulan dan kompetisi yang positif
Meningkatkan pengalaman ajaran agama yang dianut dan budaya bangsa sebagai sumber kearifan dalam bertindak

Tujuan
Menghasilkan tamatan yang cerdas, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia
Membekali peserta didik untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan akademik serta dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar, melalui pembelajaran normatif, Adaftif dan Produktif
Menyiapkan peserta didik untuk memasuki duania kerja yang professional dan berwawasan wirausaha untuk memasuki dunia kerja
Memberikan pengalaman yang sesunggunya agar peserta didik menguasai kaahlian produktif berstandar budaya industri yang berorientasi kepada standart mutu, nilai-nilai ekonomi serta membentuk etos kerja yang tinggi, produktif dan kompetitif.
Mewujudkan sekolah menjadi SMK berstandar Nasional/Internasional.

Menanggapi pertanyaan anak muda sekarang ini, Sugiyarto, mengatakan  perlu pembimbingan untuk hadapi realita roda zaman. “Zaman saya dulu tahun 70-an, bertindak seperti itu sudah bagus, tapi kini tindakan itu harus segera diperbaiki, sekolah itu merupakan karakter, tinggal bagaimana menjadi siswa berkarakter yang baik, tidak instan.

Untuk itulah sudah menjadi tanggungjawab para orangtua, masyarakat dan pendidik harus sama-sama duduk satu meja untuk membicarakan generasi muda ini. “

Sedangkan masalah pendidikan seks, ia menyarankan untuk perlunya bimbingan orangtua, masyarakat dan pendidik. “Biar si anak melihat dari awal hingga akhir, sehingga tidak separuh-paruh mereka mendapatkan informasi tentang seks, hingga sampai akibatnya, “tegas kepala sekolah yang membawahi 98 guru dan karyawan administrasi lainnya. Dengan mereka mengenal seluk beluk semua itu, maka setelah lulus sekolah mereka mendapatkan bekal akhir yang baik.

Ekstrakurikuler di SMKN 4 Surakarta, antara lain pramuka, palang merah remaja, Pasukan Inti (paskibra), fashion show/modelling dan olahraga. “Biasanya ekskul dilaksanakan sore hari, “ujarnya. Mengakhiri perbincangan, Sugiyarto, mengatakan bahwa obsesinya kini adalah bagaimana membawa sekolah ini bisa besar dan menjadi idola semua orang. “ Bagi saya, menjadi kepala sekolah sekarang ini sudah merupakan anugrah yang besar, jadi tidak ada lagi target yang muluk-muluk untuk mengapai cita-cita.”

Sugiyarto menambahkan baginya tidak ada kesibukan lain, selain mengurus sekolah, termasuk untuk urusan bermain politik. “Politik tidak bisa, hanya organisasi sosial dan pendidikan “ungkap kepala SMKN 4 Surakarta ini.  Pesannya bagi generasi muda adalah mumpung masih muda kesempatan jangan sampai dihilangkan begitu saja, apa saja bisa dilakukan saat muda. “Kerja yang benar dan yang penting halal, itulah yang disarankan ke siswa.”