Tag: Indonesia

Deddy Herfiandi

Deddy Herfiandi
Direktur PT Ratu Oceania Raya

Bekerja di Cruise Line Mendidik Profesionalisme

Dalam dunia kerja, setiap SDM dituntut untuk bekerja secara profesional. Manajemen yang mempekerjakannya, sangat menghargai seorang SDM yang bekerja berdasarkan aturan standar yang sudah ditentukan. Seorang pekerja akan dihargai sesuai dengan profesionalitasnya dalam melakukan tugas. Semakin profesional, pekerja tersebut memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang memadai.

Salah satu pekerjaan yang menawarkan pendapatan memadai berdasarkan profesionalisme adalah menjadi awak kapal pada industri cruise line atau kapal pesiar. Meskipun industri kapal pesiar banyak terdapat di perairan Karibia, Eropa dan sedikit di Singapura, tetapi menawarkan kesempatan kerja yang sangat terbuka bagi tenaga kerja terlatih dari seluruh dunia. Termasuk juga tenaga kerja dari Indonesia yang memiliki kualifikasi tertentu.

“Yang mungkin perlu kita berikan adalah informasi yang benar kepada masyarakat. Bahwa alternatif untuk generasi muda dalam mencari penghasilan lebih, pengalaman, kualifikasi, profesionalisme mereka, cruise line industry cukup bagus. Karena di samping dapat kerja dan gaji dengan dolar, juga dapat pengalaman luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan di tempat lain,” kata Deddy Herfiandi, Direktur PT Ratu Oceania Raya.

Menurut Deddy, dibandingkan pekerjaan sejenis di darat -seperti di hotel-hotel- kapal pesiar masih memiliki nilai lebih. Sesibuk-sibuknya bekerja di hotel, masih tidak sebanding dengan kesibukan kerja di kapal pesiar. Gaji yang ditawarkan pun masih tetap lebih baik dengan pekerjaan lain. Bekerja di kapal pesiar, merupakan ajang untuk mendidik generasi muda menjadi profesional. Selain berurusan dengan manajemen, seorang pekerja juga berkesempatan untuk memiliki pengalaman dan belajar mengenal budaya bangsa lain.

Bagi pekerja perempuan pun, Deddy menjamin kapal pesiar merupakan tempat paling aman dari sexual harassment. Bahkan dibandingkan dengan pekerjaan yang sama di hotel berintang di darat, kapal pesiar tetap lebih unggul. Hal ini terkait dengan perjanjian ekstra ketat yang diterapkan manajemen dalam menjamin hak-hak perempuan di kapal.

“Suitan atau tatapan mata yang dianggap menggangu, bisa mengakibatkan seseorang diturunkan dari kapal. Jadi sangat aman bagi perempuan untuk bekerja di kapal pesiar, tanpa harus takut mengalami pelecehan seksual. Pokoknya bekerja di kapal pesiar menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Kita lebih memahami bangsa lain dan kebiasaan sehari-hari mereka karena bisa saja, teman sekamar datang dari mana saja. It’s a good society, kumpulan orang-orang yang bekerja bareng satu kepentingan, tetapi bisa share knowledge dan lain-lain,” imbuhnya.

Deddy menjamin, dibandingkan pekerjaan lain di darat, bekerja di kapal pesiar masih tetap lebih unggul. Meskipun kapal berlayar di tengah laut, fasilitas yang dimiliki sangat memadai mulai rumah sakit hingga tempat ibadah. “Ibadah juga dihormati meskipun dianggap sebagai kebutuhan personal seperti anggapan dunia barat umumnya. Makanya, kita sendiri yang mengatur kapan waktu untuk salat. Memang tidak bisa seperti di darat, tetapi waktu untuk ibadah bisa kita atur sendiri,” tandasnya.

Jemput Bola

Setelah dua tahun menempati kantor baru, PT Ratu Oceania Raya yang dinakhodai oleh Deddy Herfiandi semakin maju. Dari tiga karyawan berkembang menjadi 16 orang karyawan dan memiliki kantor representative di Bali dengan 10 orang karyawan. Selain itu, banyak permintaan untuk menambah kantor representative di beberapa kota lain.

“Tetapi itu akan membuat beban menjadi lebih berat. Makanya saya hanya mempunyai perwakilan di Bali untuk Indonesia Timur dan Jakarta untuk daerah lainnya. Kita juga mempekerjakan expatriate yang kita tempatkan di Bali. Cita-cita saya bahwa suatu hari nanti kami bisa membuat kantor representative di Medan dan Makassar,” ungkapnya.

Alasannya, pada kedua kota tersebut memiliki sekolah pariwisata yang cukup bagus, STP Medan dan Makassar. Hal ini mengingat kebanyakan tenaga kerja  yang dibutuhkan untuk kapal pesiar banyak dipasok oleh sekolah perhotelan dan pariwisata. Apalagi, permintaan tenaga kerja untuk kapal pesiar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk saat ini, setiap tahun Deddy mampu memenuhi permintaan 800 tenaga kerja per tahun.

“Saya berharap, mulai tahun depan mampu menyuplai 1000 orang tenaga kerja per tahun. Karena kita juga membuka kerjasama dengan perusahaan lain, kalau dulu hanya dengan Royal dan Celebrity, sekarang kami berafiliasi bisnis dengan Disney Cruise Line, Apollo Ship Chandlers, Seabourn Flat Services dan ISPL. Yang menjadi andalan adalah empat perusahaan kapal pesiar ini –Royal Karibian, Disney, Celebrity dan Apollo- yang bisa kita harapkan akan meningkatkan jumlah crew dari Indonesia,” tuturnya.

Selain kerjasama dengan STP Medan dan STP Makassar, perusahaan milik Deddy menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan lain seperti Trisakti, NHI, SPB Bali. Bahkan perusahaan sudah membuat Culinary Program di Trisakti dan institusi pendidikan yang lain. “Saat ini kita sedang melakukan policy baru dengan sistem jemput bola. Artinya, kebutuhan tenaga kerja banyak tetapi yang melamar tidak sesuai kebutuhan,” ungkapnya.

Meskipun telah memasang iklan di mana-mana, kebutuhan tetap belum teratasi. Deddy akhirnya menjawab kebutuhan tersebut dengan mencetak tenaga kerja sendiri. Saat ini, perusahaan secara intensif bekerja sama dengan sekolah kuliner untuk cook, kursus bahasa Inggris dan kursus kapal pesiar untuk kuliner. “Jadi kita menampung lulusan yang sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kalau nunggu ya nggak jadi-jadi, saking banyaknya, sehingga kita menjemput bola atau mencetak sendiri tenaga yang kita butuhkan,” tuturnya.

Dari Hotel ke Hotel

Deddy Herfiandi lahir di Cimahi, Bandung 14 Maret 1959, orangtua Deddy bekerja di Kesdam (Kesehatan Kodam) dan berdinas di RS Dustira Cimahi. Deddy menempuh pendidikan di Akademi Perhotelan Bandung dan lulus pada tahun 1977. Dua tahun kemudian ia pergi merantau ke Jakarta dan bekerja di Hotel Borobudur. “Belum setahun bekerja saya pindah ke Hilton Hotel. Karena Hilton is the best hotels in town, waktu itu tahun 80-an,” kisahnya mengenang.

Waktu itu, kisahnya, ia bekerja di fine dinning room Taman Sari Hotel Hilton selama 8 tahun. Deddy memulai pekerjaannya merangkak dari bawah, yakni bekerja posisi dari busboy –sebagai entry position. Deddy bertahan selama delapan tahun dan mencapai posisi puncak sebagai Restaurant Manager. Ia merupakan Restaurant Manager ke-4 di Taman Sari sepanjang sejarah berdirinya Hilton Hotel.

Deddy mengembangkan karirnya dan bekerja di kapal pesiar, Holland American Lines, yang berkantor pusat di Seattle, Woshington DC. Dari situ ia bertemu banyak orang, teman dan kenalan, yang memberinya kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Michigan pada jurusan Manajemen Perhotelan. Di sana, ia menghabiskan waktu selama delapan tahun.

“Kemudian tahun 1995, saya pulang ke tanah air dan bergabung dengan Daichi Hotel. Kebetulan disana sedang membutuhkan Restoran Manager untuk French Restoran. Ini juga merupakan spesialisasi saya, karena kebetulan waktu itu, chef khusus makanan Eropa dengan Perancis sebagai spesialisasinya. Namanya Ton el Restaurant selama  kurang lebih setahun,” ungkapnya.

Deddy kemudian diajak oleh salah seorang temannya untuk mengelola restoran Imperial Karawachi. Setelah lima bulan, ia kemudian pindah kerja di Hotel Sheraton Bandara. Di situ, ia berperan menjadi pre opening team yang membantu menyiapkan konsep restoran yang sesuai dengan kualifikasi hotel bintang lima. Ia membantu Food and Beverage Manager –bernama Mr. Frank Beck- menyiapkan restoran di hotel tersebut. Ia mengakhiri karir sebagai Food and Beverage Manager selama lima tahun dan ‘mentok’ pada posisi ini. “Karena nggak mungkin menggantikan GM di situ yang pasti orang luar, Jerman atau Austria. Tetapi, itu pas dengan kemampuan dan kualifikasi saya untuk fine dinning room bukan pada restoran kecil,” tuturnya.

Lepas dari Sheraton Bandara, Deddy diajak teman-temannya dari Holland American Lines yang lebih dahulu bikin perusahaan yang namanya CTI. Perusahaan itu  merupakan perwakilan dari Carnival, Renaissance, Apollo dan lain-lain, yang membutuhkan manager dan training spesialis. Selama dua tahun ia menekuni posisi ini sebelum bergabung dengan PT Mekar Jaya, sebuah perusahaan PJTKI yang didirikan oleh Bapak Soedjangi, pensiunan pejabat Depnaker pada tahun 2002.

Saat di Mekar Jaya, lanjutnya, kebetulan ia mendapat kepercayaan sebagai perwakilan dari Celebrity Cruises yang berpusat di Miami. Empat tahun kemudian pada April  2007, Celebrity Cruises diakuisisi oleh RCCL dengan agen yang sangat solid dan establish, yakni Barber. Akhirnya hampir semua lines beralih ke agen lain, sehingga tinggal Deddy sendiri yang mengelola beberapa cruiser lines. “Kecuali Celebrity Cruises dan Royal Caribbean,   saya tinggal Regal Empress, Texas Treasure dan Caribbean Empress yang saya pegang,” ujarnya.

Dengan meninggalnya pendiri Mekar Jaya, Deddy membuat keputusan  untuk mendirikan perusahaan sendiri. Setelah seluruh surat-surat yang diperlukan terpenuhi, akhirnya pada tanggal 1 Oktober 2007, berdirilah PT Ratu Oceania Raya di Bintaro. “Yang terjadi kemudian adalah perusahaan-perusahaan yang dulu bekerja sama pada perusahaan lama, akhirnya kembali kepada saya. Seperti Royal Caribbean, Celebrity. Ditambah Club Cruise Nederland dan Regal Empress,” lanjutnya.

Tidak Ada Boss

Dalam mengelola perusahaan, suami Wiwin Winarsih ini menggunakan sistem kekeluargaan. Bahkan, orang-orang yang bekerja di PT Ratu Oceania Raya tidak memiliki bos atau atasan. Lebih ekstrim lagi di perusahaan pengerah tenaga kerja khusus kapal pesiar ini tidak menerapkan hierarki. Semua dianggap teman yang bahu membahu bekerja membesarkan perusahaan untuk kepentingan bersama.

“Di Ratu tidak ada bos dan hierarki, yang ada hanya teman. Kita hilangkan jenjang antara bawahan dan atasan. Meskipun seorang OB kita anggap kayak teman saja, dalam bersikap kita juga sama. Sejauh ini Alhamdulilah, teman-teman di kantor baik-baik dan mereka respek dengan pekerjaan masing-masing,” tuturnya.

Menurut Deddy, karyawan adalah bagian dari perusahaan yang sangat berperan besar. Tanpa kehadiran karyawan, perusahaan tidak bisa berkembang maju seperti sekarang. Tidak bisa dipungkiri, karyawan merupakan tulang punggung perusahaan dalam mencapai tujuannya. Untuk itu, sebagai perwujudan penghargaan terhadap para karyawan, Deddy membentuk Koperasi Karyawan. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan karyawan yang telah sekian lama bekerja membanting tulang demi perusahaan.

“Namanya Koperasi 16 Karat, singkatan dari enam belas Karyawan Ratu. Sudah beberapa MoU yang ditandangani atas nama koperasi, yakni proyek-proyek perusahaan dengan sekolah pariwisata. Proyek kerjasama ini menyediakan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih sesuai kebutuhan klien kita. Nah, keuntungan dari proyek menjadi milik koperasi dan hak karyawan, revenue-nya tidak masuk ke PT Ratu. Untuk yang seperti ini, saya memfasilitasi agar koperasi yang menjalankannya. Semua demi kesejahteraan bersama sehingga karyawan juga semangat bekerja,” tegasnya.

Semua itu dilakukan Deddy mengingat jasa-jasa karyawan dalam memajukan perusahaan. Ia ingat betul, beberapa bulan setelah berdiri perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan. Ia bahkan sempat meminta bantuan kakak ipar dan ponakan untuk mengelola perusahaan. Pertimbangannya, atas nama pertalian darah, masalah sensitif seperti itu lebih mudah dibicarakan, berbeda dengan karyawan lain. “Jadi sekian lama mereka bekerja tanpa bayaran, Alhamdulilah mereka sampai sekarang masih ada,” tuturnya.

Selain dari famili dekat, ayah empat anak ini menerima dukungan penuh dari istrinya. Meskipun istrinya tidak langsung terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan “hanya” fokus mengurus keluarga, tetapi sangat berarti baginya. Dengan sang istri di rumah, membuat ia tidak pernah takut terhadap masa depan anak-anaknya. Terbukti, tak satupun anaknya terlibat dalam perbuatan negative seperti terjerat narkoba atau pergaulan bebas.

“Istri saya di rumah, meskipun dulu satu pekerjaan sebelum menikah. Tetapi kami sudah sepakat, istri tidak kerja. Belajar dari keluarga-keluarga lain, yang ayah ibunya bekerja dan anak lebih dekat kepada pembantu. Makanya, dia konsentrasi membesarkan anak saja dan Alhamdulilah tidak ada yang terlibat masalah yang seram-seram. Alhamdulilah, tanpa mereka tidak ada artinya,” tukasnya. Istrinya juga membatasi diri untuk tidak terlibat dalam urusan kantor. “Bahkan ke kantor pun baru dua kali seumur hidup,” imbuhnya. Anak tertua Deddy ikut membantu mengelola perusahaan karena memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.

Mengubah Image

Sebagai “pemain” yang kenyang pengalaman di dalam dunia pengiriman tenaga kerja khusus kapal pesiar, Deddy tahu betul apa kekurangan dan kelebihan SDM Indonesia. Apalagi, tenaga kerja yang dikirimnya bukanlah “sekelas” tenaga kasar tetapi sangat  memerlukan kompetensi khusus. Untuk itu, ia berharap pemerintah melakukan beberapa pembenahan mendasar terhadap SDM asal Indonesia.

“Saya berharap pemerintah mulai berpikir untuk bersaing di dunia internasional karena itu sangat mendesak mengingat kita telah memasuki era pasar global bebas. Kita selama ini selalu kalah bersaing di semua aspek, mulai pekerjaan, sport, ilmu pengetahuan semua ketinggalan, daya saing kita  rendah sekali. Image kita terlanjur buruk, kalah dari Filipina yang jauh lebih kecil negaranya. Jadi kalau daya saing menjadi prioritas, semua harus dirombak,” tegasnya.

Selain sistem, lanjut Deddy, pemerintah juga perlu mengubah image bangsa yang sudah terlanjur jatuh. Sayangnya, bangsa Indonesia di era ini tidak memiliki public relation yang handal seperti Bung Karno, Bung Hatta, H Agus Salim, Syahrir dan lain-lain. Mereka di masanya telah menjadi PR yang handal dalam membangun image bangsa ini menjadi bangsa besar yang disegani oleh bangsa lain dan menjadi kebanggaan dari bangsanya sendiri. “Kalau sekarang belum ada yang seperti itu,” tambahnya.

Tulang punggung dari perubahan tersebut, menurut Deddy terletak di pundak generasi muda. Generasi muda harus memupuk dan menumbuhkan semangat bersaing yang kuat dengan bangsa lain. Ia secara khusus menyoroti kemampuan bahasa asing yang sangat minim dari orang-orang yang dikirim bekerja di luar negeri sebagai pekerja di kapal pesiar.

“Kemampuan komunikasi pekerja Indonesia di luar negeri dikenal sangat buruk, karena bahasa Inggrisnya minim. Kita kalah dari pekerja Filipina dan India, meskipun secara kualitas pekerjaan berani bersaing. Itulah kelemahan paling mendasar dari bangsa kita,” tegasnya.

Untuk itu, bagi pekerja Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri melalui PT Ratu Oceania Raya, Deddy menetapkan empat kriteria. Pertama kemampuan bahasa Inggris yang cukup karena akan berguna dalam pekerjaan, safety serta untuk membela hak-haknya yang mungkin terabaikan. Kedua experience, skill and knowledge terhadap pekerjaan yang harus benar-benar menguasai. Jangan sampai, pekerja asal Indonesia hanya untuk disuruh-suruh saja. Setidaknya mereka mencapai tahap men-supervisi pekerja yunior dari manapun.

“Ketiga appearance, kalau kita bekerja di luar negeri harus bisa menempatkan diri. Kita tahu Indonesia disangka sebagai sarang teroris, jangan kemudian malah ke mana-mana makai sorban, dan lain-lain. Keempat attitude yang professional dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Menurut saya yang terpenting adalah menjadi individu-individu yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Karena spirit itu akan terbawa ke semua aspek, mulai olahraga, kreativitas dan lain-lain,” tandasnya.

Deddy merasa “ngenes” melihat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar tetapi terseok-seok. Sebagai negara kaya dengan sumber daya alam dengan penduduk terbesar keempat di dunia, tetapi tidak mampu memanfaatkan kelebihan tersebut untuk kesejahteraan rakyat. Ia mencontohkan bagaimana China sebagai negara yang memiliki penduduk yang sangat besar tetapi mampu menguasai perekonomian dunia. “Mereka memiliki kebanggaan dan prestasi. Sama seperti Jepang, yang tumbuh maju karena memiliki kreativitas dan inovasi serta daya saing yang sangat tinggi dan luar biasa,” ujarnya.

Ke depan, Deddy berharap agar terjadi sinergi antara cara pandang dunia usaha, pemerintah dan generasi muda. Dengan adanya satu pamahaman, satu visi dan misi bahwa bangsa Indonesia harus memiliki kebanggaan, itulah yang akan membawa bangsa ini menuju kemajuan yang dicita-citakan. Deddy menegaskan bahwa kebanggaan tersebut harus “keluar” seperti ketika Malaysia mengklaim batik sebagai miliknya.

“Semua orang tersentak dan tergerak untuk “mengamankan” kekayaan budaya tersebut dari keserakahan bangsa lain. Karena memang batik telah menjadi kebanggaan bangsa ini, saya berharap di bidang lain pun begitu. Ada kebanggaan yang pantas untuk dipertahankan. Makanya, marilah kita sama-sama lakukan bersama, agar semua lebih mudah, baik dan jujur. Kita harus menyiapkan diri untuk menjadi bangsa yang besar,” pungkasnya.

Ir. Eko Hari Prasetyo

Ir. Eko Hari Prasetyo
Presiden Direktur PT Unique Herbamed Indonesia

Menciptakan Formulasi Herbal Setara Produk Medis

Rakyat Indonesia tidak sadar bahwa tanah airnya menyimpan kekayaan alam luar biasa. Bukan hanya dalam bentuk hasil pertanian, pertambangan, kehutanan dan pertanian yang melimpah ruah, tetapi bumi Indonesia menyimpan kekayaan lain. Yakni banyaknya tanaman berkhasiat obat yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Sayangnya, kekayaan alam yang satu ini tidak banyak dimanfaatkan. Sebagian besar rakyat Indonesia lebih percaya kepada pengobatan modern yang berbasis obat-obatan kimia. Penggunaan herbal hanya pada kalangan tertentu yang mengenalnya secara tradisional sebagai “jamu”. Padahal, tanaman obat atau herbal melalui proses yang benar tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

“Semua berawal dari keprihatinan saya, karena jamu selalu dipandang sebelah mata dan menjadi nomor dua. Di sisi lain, pengusaha MLM obat dari luar negeri meraup keuntungan besar meskipun bahan baku herbal didatangkan dari negara lain. Padahal tanah Indonesia merupakan sumber potensi herbal terbesar di dunia. Makanya saya tergerak untuk menciptakan formulasi herbal yang spesial yakni herbal medicine yang unique, khusus dengan khasiat setara atau lebih baik dari produk medis,” kata Ir. Eko Hari Prasetyo, Presiden Direktur PT Unique Herbamed Indonesia.

Produk herbal hasil formulasinya kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui para pengobat alternatif. Dari mereka, khasiat obat herbal produksinya semakin dikenal luas. Bukan karena kemasan obat yang terkesan eksklusif dan mahal, tetapi karena formulasinya benar-benar mampu menyembuhkan penyakit. Hal ini sesuai dengan konsep pemasaran yang dikembangkan Eko, yakni menguji kualitas produk dengan tanpa beriklan sama sekali.

Eko menginginkan produk formulasi herbal ciptaannya menjadi produk terbaik dan diterima masyarakat tanpa iklan. Artinya, masyarakat menggunakan produk herbal formulasinya bukan karena terpengaruh iklan yang bombastis, tetapi benar-benar menggunakan produk terbaik, baik kualitas maupun khasiatnya. Semua itu, dibuktikan secara langsung oleh masyarakat melalui penggunaan produk dalam mencapai kesembuhan dari penyakit yang diderita.

“Saat ini, baru perusahaan kami yang mewajibkan pengambilan produk oleh mitra dengan uang muka sampai sebesar 50%. Kami juga tidak memiliki sistem konsinyasi atau diskon besar-besaran. Nyatanya, permintaan market tetap tinggi terkait kepercayaan masyarakat terhadap produk herbal kami yang bahkan mampu menembus bisnis MLM. Kami sama sekali tidak pernah beriklan, bahkan dalam bentuk brosur sekalipun,” terangnya.

Menurut Eko, tidak jarang agen obat-obatan yang rela membuatkan brosur sebagai sarana promosi produk perusahaan. Ia berprinsip, bahwa produk obat yang bagus pasti laku walaupun tidak diiklankan. Sesuai arahan mentor marketing-nya yang menyarankan untuk tidak membuat iklan kalau memiliki produk terbaik. Karena memiliki positioning tersendiri, produk terbaik tidak akan kesulitan menembus pasar dan menghadapi persaingan. “Produk yang bagus tidak boleh diiklankan karena iklan hanya untuk produk murah. Biarlah pasarnya berkembang karena masyarakat yang akan memberikan penilaian. Itulah yang kami lakukan dan kami fokus pada kemampuan produk,” imbuhnya.

Eko menjelaskan, salah satu evaluasi produk yang dilakukan adalah dengan membentuk HERBAMED CENTRE yang memberikan bantuan berupa konsultasi dan terapi pengobatan gratis. Layanan ini merupakan misi sosial perusahaan sekaligus sarana untuk mengukur efektivitas herbal produk perusahaan. Dari situ, sistem promosi “gethok tular” dari mulut ke mulut menyebarkan bahwa terjadi kesembuhan secara efektif dengan menggunakan herbal produk PT. Unique Herbamed Indonesia

“Dari situ sebenarnya promosi kita terjadi. Kualitas produk yang bagus ditambah kepercayaan yang kuat membuat kesembuhan semakin cepat. Itu akan dikabarkan kepada orang-orang lain. Keseriusan kita dalam produksi obat herbal antara lain dengan menggunakan bahan terbaik dari dalam negeri. Walaupun ada juga yang kami impor dari China, India ? dan Peru, yang penting kualitasnya terbaik. Makanya meskipun perusahaan kami masih kecil,  kami mendapat pengakuan dari  perusahaan MLM Asing karena telah mampu menghasilkan produk terpercaya,” tuturnya.
Bahkan ada beberapa distributor kita yang sudah mengirimkan produk obat herbal ini ke Hongkong, Taiwan dan Jerman.

Mengutamakan Kejujuran

Prestasi PT Unique Herbamed Indonesia hingga mampu menembus pasar obat internasional tidak lepas dari kiat-kiat yang dijalankan Ir. Eko Hari Prasetyo. Selain membuat produk obat herbal berkualitas, ia juga mendesain kemasan yang berbeda dari produk sejenis. Permainan warna yang menarik, berbeda, unik dan eye catching menambah daya tarik produk obat herbal perusahaannya.

“Dalam membuat kemasan saya selalu mencoba untuk keluar dari pakem, eye catching secara psikologis dan menarik perhatian dengan permainan warna. Kiat kami di dalam berbisnis adalah dengan selalu mengutamakan kejujuran. Makanya kami persilakan klien untuk tes produk, setelah cocok baru berbicara bisnis. Produk kami sudah diujioleh beberapa perusahaan MLM yang dilakukan ditiga Negara ; China, Malaysia dan Singapura, hasilnya semua lolos sehingga mereka menggunakan produk kami dalam bisnis MLM mereka. Saat ini ada beberapa MLM baik Asing maupun Lokal yang menggunakan produk kami sebagai produk andalannya. Sekarang ini, kami berada dalam tahap klien mencari produk kami. Prinsipnya, ‘Biarlah Produk yang Bicara, Bukan Kami’,” ujarnya.

Kejujuran yang diusung Eko sekaligus juga keprofesionalan dalam produksi obat-obatan herbal. Tidak tanggung-tanggung, tenaga Apoteker (Drs. Riza Sultoni, Apt.,) yang menanganinya merupakan salah satu staf ahli pemegang regulasi kesehatan tertinggi di negeri ini. Selain itu, sebuah lembaga pendidikan kesehatan di Klaten, Jawa Tengah mengajak bekerja sama untuk membuka Jurusan Herbal, yang saat ini masih dalam tahap persiapan dan penjajagan.

“Ke depan, saya ingin menggeser paradigma lama bahwa obat-obatan herbal atau jamu selalu nomor dua dibawah obat medis. Sekarang saya dalam proses pembuktian bahwa di Indonesia ada produk herbal yang bisa disandingkan dengan produk medis. Tetapi secara bertahap, karena keterbatasan modal memang belum bisa mengadakan uji fitofarmaka. Sekarang, saya lebih memilih untuk membesarkan perusahaan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Menurut Eko, rencananya ia akan membentuk sebuah grup (Unique Group) guna melebarkan usaha. Selain herbal, usaha ke depan adalah makanan dan minuman (dimulai dengan kopi) dan kosmetik yang memiliki peluang cerah. Target yang dicanangkan Eko setidaknya dalam tempo satu atau dua tahun rencana tersebut akan terealisasi. Sementara sekarang, ia berusaha memperbesar perusahaan dengan kapasitas 20.000 botol per bulan dengan 25 orang karyawan tersebut.

“Tetapi yang jelas sambutan dari masyarakat medis cukup baik. Misi saya tidak muluk-muluk, hanya ingin herbal dianggap setara dengan obat-obatan medis, karena kita melihat perilaku operator herbal yang memosisikan diri sebagai nomor dua dibawah medis. Semua itu, berawal dari tiga pertanyaan ‘Apa yang bisa saya buat untuk hari ini, apa saja yang bisa saya buat untuk hari ini, apa saja yang bisa saya buat untuk hari ini’. Begitu,” tegasnya.

Tanpa Modal

Ir. Eko Hari Prasetyo sebenarnya tidak memiliki latar belakang pengobatan herbal. Sebagai insinyur pertambangan, ia sering keluar masuk hutan di seluruh Indonesia terkait tugasnya. Bermacam-macam permasalahan di pertambangan dikuasainya mulai pertambangan emas, batubara, Penguasaan dan keahlian yang sangat luar biasa membawanya bekerja pada sebuah kantor konsultan pertambangan.

“Saya sempat keliling Indonesia karena bekerja  pada perusahaan konsultan pertambangan yang project-nya berpindah-pindah. Tetapi akhirnya saya bekerja di Hasnur Group sebelum memutuskan untuk memulai membuka usaha sendiri pada tahun 2006. Awalnya mendirikan perusahaan kosmetik berbahan dasar herbal, tetapi beberapa kali kandas karena perbedaan visi,” katanya.

Eko tidak berputus asa, karena semenjak awal lulus kuliah ia memiliki prinsip untuk tidak menjadi pegawai atau karyawan. Ia ingin menjadi entrepreneur tangguh yang tidak hanya mampu menghidupi diri tetapi juga membuka lapangan kerja bagi orang lain. Jalan itu menjadi terbuka lebar, setelah pada tahun 2007 mendirikan PT Unique Herbamed Indonesia. Modal pendirian perusahaan bisa dikatakan hampir nol. “Saya mendirikan perusahaan bisa dibilang tanpa modal, hampir nol hanya berdasarkan kemampuan yang saya miliki,” imbuh pekerja keras yang belum tidur sebelum pukul dua dinihari ini.

Meskipun tanpa dukungan modal, perusahaan yang didirikan Eko terus berjalan. Turun naik dalam menjalankan usaha pun dialaminya, namun tidak menyurutkan pilihan langkahnya. Tetapi ia menyadarinya bahwa hal tersebut merupakan dinamika dalam menjalankan usaha. Apalagi, saat memutuskan untuk memulai usaha ia harus melepaskan zona nyaman yang telah dinikmatinya selama bertahun-tahun. Ia dan keluarganya harus berjuang dari awal untuk membuka usaha sendiri.

“Alhamdulilah istri memberikan dukungan penuh dari zaman kita susah sampai sekarang. Tetapi saya juga tidak membawa urusan ke rumah, karena saya menetapkan garis yang jelas antara pekerjaan dan urusan keluarga. Memang ini yang berat, saat harus melepaskan diri dari zona nyaman, posisi bagus dengan gaji lumayan dan beban keluarga. Tetapi saya berani mengambil langkah yang memberikan perubahan yang sangat berarti bagi diri saya. Meskipun saat itu belum jelas, tetapi entry point-nya adalah di situ,” tegasnya.

Eko yakin dengan pilihannya dan sadar terhadap risiko yang dihadapi. Menurutnya, keyakinan diri berupa keberanian untuk mengambil langkah menjadi faktor pembeda antara seorang karyawan dan pengusaha. Karena setelah menakar risiko, seorang karyawan yang akan beralih menjadi pengusaha  akan memutuskan sesuatu.

“Kalau mau menjadi pengusaha, jangan banyak berpikir, gunakan logika dan hati. Kalau kita yakin jalan, ya langsung jalankan. Dari situ nanti akan ketemu seninya menjadi pengusaha. Bisnis itu harus dinikmati, bisnis ibarat seperti seniman yang secara total mencurahkan segenap hati dan jiwanya untuk menghasilkan karya besar, bisnis juga seperti pemain catur, yang penuh perhitungan untuk terus melangkah. Intinya kita tetap memperhitungkan risiko dengan manajemen risiko yang baik,” tuturnya.

Kepada generasi muda, Eko menegaskan untuk tidak pernah takut dalam memulai usaha. Mereka juga tidak boleh berhenti di tengah jalan ketika sudah memulai menjalankan usaha. Tetapi mereka tetap harus menggunakan logika, intuisi dan perhitungan yang matang dalam setiap langkahnya. “Yang membedakan seseorang adalah kemampuannya. Yakni ketika jatuh dia akan bangun lagi, kalau jatuh harus bangun lagi. Itulah orang yang dinamakan sukses,” pesannya.

Eko yang senang bersepeda motor dan “nongkrong” di tukang jamu ini mengungkapkan, inovasi secara terus menerus akan membawa lebih dekat kepada kesuksesan. Ia terbiasa melihat permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat melalui “aksi” tersebut. Dari situ, tergambar jelas di dalam masyarakat Indonesia bahwa mereka tergerak untuk membeli sesuatu karena iklan-iklan yang bombastis. Selain itu, masyarakat Indonesia juga selalu bangga terhadap barang-barang impor produk negara asing.

“Dari nongkrong di tukang jamu, jalan di pasar atau mal, saya mendengarkan keluhan mereka sekaligus mencari solusi apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Ide saya untuk menciptakan produk baru akan muncul berdasarkan realita yang terjadi di masyarakat. Karena kita tidak boleh terhenti pada produk tertentu saja, harus dinamis,” tegas pengusaha yang tidak khawatir terhadap pasar bebas ini. Produk obat herbal PT Unique Herbamed Indonesia dalam waktu dekat akan diekspor ke China yang di dunia internasional dikenal sebagai pusat obat-obatan herbal. “Nanti produk kami akan diekspor ke China. Tanggal 21 Mei, sample produk kita dibawa ke sana oleh salah seorang kolega dari Malaysia,” imbuhnya.

Feni Desnawai

Feni Desnawai
PT Awana Travel

Dari Perawat Menjadi Pemilik Perusahaan Travel

Sudah menjadi takdir manusia untuk menghadapi tantangan dalam menjalani hidup. Besarnya hambatan membuat manusia menjadi sangat bergairah untuk “menaklukkan” tantangan tersebut. Di situ, merupakan ujian bagi manusia untuk mengukur seberapa besar kemampuannya dalam menghadapi beratnya kehidupan. Kesuksesan, sangat ditentukan oleh ketangguhan dan kemampuan dalam menyiasati tantangan.

“Saya awalnya lulusan perawat dari Bengkulu dan bekerja di rumah sakit Pelni selama empat tahun. Selama empat tahun, saya senang mengikuti tantangan ke sana-sini. Saya masuk program D1 Akuntansi Komputer tetapi belum selesai sudah saya tinggal karena lulus seleksi di LAN. Tetapi susah kuliah di LAN sambil bekerja sebagai perawat di rumah sakit, apalagi kalau shift malam sehingga saya terpaksa mencari pekerjaan baru,” kata Feni Desnawai, pemilik PT Awana Travel.

Akhirnya, Feni berhenti dari rumah sakit dan berkarier sebagai tenaga honorer di sebuah perusahaan. Meskipun itu berarti terjadi penurunan status dan pendapatan, tetapi ia sangat bersyukur karena bisa melanjutkan pendidikan dengan lancar. Pendidikan di LAN yang cukup berat berhasil diselesaikannya tepat waktu pada tahun 1994. Satu tahun kemudian, ia dipindahkan ke bagian akuntansi yang selama 19 tahun terakhir ditekuninya.

Bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya, membuat Feni memutuskan untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci. Sepulangnya dari tanah suci, anugerah yang lebih besar diterimanya. Allah mengirimkan H Nandang Akasah sebagai suami yang menjadi imam dalam hidupnya. Sebagai ungkapan rasa syukur, keduanya melakukan ibadah umrah bersama-sama.

Namun, sebelum berangkat ke tanah suci, Allah menguji Feni dengan sakit yang cukup parah. Ia pasrah menerima segala cobaan yang datang dan di depan Kabah memanjatkan doa bagi kesembuhannya. Selain itu, ia juga memanjatkan doa agar hidupnya tetap memberikan manfaat bagi orang lain. Doa yang dipanjatkan dengan penuh kepasrahan –apalagi di depan Baitullah- benar-benar sangat mustajab.

“Saya dipertemukan dengan orang Indonesia di mana saya membeli paket penyelenggaraan umrah kepadanya. Dia menyarankan agar saya membuat travel yang saat itu belum terpikirkan sama sekali. Kami sangat awam bagaimana membuat travel. Bahkan suami saya bilang bahwa kami belum punya dana untuk itu. Orang itu tetap berkata, sudahlah bikin saja dulu PT-nya,” kisahnya.

Setelah sampai di Indonesia -dengan dukungan suami- Feni memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan. Dengan mengusung nama PT Awana Travel –meskipun tidak paham sama sekali dengan bisnis tersebut- ia menghadap notaris pada tanggal 13 Agustus 2004. Ia mengurus seluruh perizinan perusahaan seorang diri karena ingin belajar dari bawah sekaligus mencegah terjadinya penipuan. “Saat itu sudah ada 18 orang mendaftar tetapi semuanya perempuan sehingga terpaksa saya oper ke travel lain,” imbuhnya.

Tahun 2005, Feni telah mengantongi seluruh izin yang diperlukan untuk mengoperasikan perusahaan travel. Meskipun harus mengontrak kantor dan terpaksa harus “nombok” antara 600 – 1000 dolar setiap keberangkatan, ia tidak berputus asa. Kerugian terus dialaminya sampai tahun ketiga ia menjalankan usaha tersebut. Semangat untuk memberikan yang terbaik bagi tamu Allah terus dipeliharanya sehingga hitungan untung rugi tidak terlalu dipikirkannya.

“Saat itu masih ada subsidi dari suami yang kebetulan wiraswasta di bidang konstruksi. Kepada suami, saya meminta waktu dua tahun untuk memulihkan semuanya. Saya baru sadar, bisnis pariwisata itu modalnya besar, tidak cukup Rp200-300 juta,” ungkapnya. Tetapi tanggung jawabnya sebagai pemilik usaha tidak menyurutkan langkahnya untuk memberikan hak-hak bagi karyawan seperti gaji dan THR. “Bahkan THR dari kantor, saya bagikan kepada mereka. Itu yang saya utamakan,” tambahnya.

Menurut perempuan yang tidak merasa hina dan malu naik ojek ini, setiap kerugian yang dialami diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia yakin, selama yang dijalaninya tidak melenceng Allah pasti akan memberikan jalan terbaik baginya. Dengan keyakinan itu, perlahan namun pasti usahanya mulai berjalan. Banyak jemaah yang mempercayakan urusan haji dan umrah kepada perusahaan miliknya. “Apalagi kalau saya ikut dalam rombongan, jemaah sangat senang. Karena kalau ada apa-apa saya langsung action,” ungkapnya.

Sayangnya, tidak setiap keberangkatan rombongan Feni bisa menyertainya. Kesibukan di kantor tempatnya bekerja sangat menyita waktu sehingga tidak setiap saat ia bisa mengajukan izin cuti. Ia mengakui bahwa dirinya masih belum bisa fokus di Awana karena terikat dengan perusahaan tempatnya bekerja. “Masih sangat sibuk di kantor. Pokoknya, yang penting saya memiliki komitmen dan tanggung jawab sebagai istri, ibu, karyawan dan titipan amanah berupa Awana ini,” katanya.

Dengan kesibukan seperti itu, Feni tetap harus bersosialisasi dengan keluarga. Solusi untuk mengatasi kesibukan yang sangat menyita waktu tersebut, ia melakukan semuanya dengan penuh disiplin. Ia merencanakan segala kegiatan hariannya bahkan ketika baru bangun tidur. Semua itu dilakukan dengan disiplin, jujur dan dibicarakan secara terbuka dengan suaminya. Ia juga “mengandalkan” saudara-saudara iparnya ketika harus meninggalkan anak semata wayangnya untuk bertugas mengantarkan jemaah.

“Saya sering tidak ada pembantu, sehingga harus dengan ipar. Pokoknya, intinya disiplin karena memang berat untuk sukses, harus bekerja keras. Meskipun capek, setiap malam saya harus membuka email. Paling tidak, sambil memasak selama sepuluh sampai lima belas menit harus menyalakan komputer. Bunyi SMS saja saya langsung terbangun, karena sudah terbiasa. Semua karena tanggung jawab saya, kewajiban saya terhadap hak-hak jemaah yang seharusnya mereka terima,” ujarnya.

Tidak Pernah Beriklan

Selama mengoperasikan PT Awana Tour & Travel, Feni Desnawai tidak pernah memasang iklan. Jemaah yang puas dengan pelayanan PT Awana dengan senang hati akan mempromosikan perusahaan kepada keluarga, sahabat atau teman-temannya. Promosi model ini terbukti ampuh “menggaet” jemaah sehingga jemaah yang menggunakan jasa perusahaan datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kita tidak pernah beriklan, promosi benar-benar hanya dari mulut ke mulut. Dan untuk menghargai jemaah yang telah mempromosikan kita, mereka direkrut sebagai marketing dengan imbalan yang memadai. Itu selalu kami berikan meskipun secara operasional kami harus nombok. Yang penting, bagaimana caranya kita menciptakan network dari jemaah di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Semua itu dilakukan sebagai cara untuk memegang komitmen dengan apa yang telah dijanjikan. Untuk memastikannya, Feni terjun langsung dalam menangani jemaah. Karena jasa yang ditawarkan perusahaan adalah servis atau pelayanan, ia harus tahu betul bahwa semua berjalan dengan baik. Meskipun status sebagai pemilik perusahaan, Feni tidak segan-segan untuk mengantar atau menjemput jemaah di bandara.

Bahkan, saat mendampingi jemaah, Feni “rela” turun ke dapur untuk membuatkan minuman bagi jemaahnya. Kalaupun tidak mendampingi jemaah, ia selalu mengontrol keberadaan mereka dari tanah air. Karena ia ingin, semua berjalan dengan baik sesuai apa yang dijanjikannya. “Saya orangnya saklek, kalau bilang A ya A, tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi karena itu, jemaah suka mencari-cari saya, karena dianggap memberikan rasa nyaman. Bahkan sebelum mendaftar mereka bertanya dulu, ‘Feni-nya ikut nggak.’ Mereka ingin bareng saya jalannya,” ungkapnya.

Kedekatan seperti itulah yang membuat usahanya semakin maju. Terbukti, hingga bulan Agustus 2010 tercatat 300 jemaah telah diberangkatkan ke tanah suci. Semua itu dilakukan Feni dengan keyakinan bahwa rezeki memiliki garis masing-masing dari Allah, sehingga ia tidak takut bersaing dengan perusahaan lain. Meskipun sering mengikuti konsorsium pemberangkatan jemaah, namun tidak pernah sekalipun menyuruh anak buahnya untuk mengajak jemaah dari perusahaan lain bergabung di PT Awana.

Bagi perempuan kelahiran Muko Muko, 17 Desember 1964 ini, persaingan malah menjadi tantangan untuk menjadi maju. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana perlakuan perusahaan lain sebagai pesaing yang menzhaliminya. Semua diserahkan kepada Allah sebagai pemilik rezeki. Landasan keyakinan tersebut membuat langkahnya tidak terbendung oleh hambatan “kecil” seperti itu.

“Kalau kita memikirkan orang lain kapan kita akan maju. Kalau perlu kita bergandengan bukan malah saling sikut. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Dan menyelenggarakan perjalanan haji dan umrah bukan mencari rezeki semata. Pengalaman saya sembuh dari kanker di tanah suci, membuat saya ingin orang lain juga bisa ikut menikmati. Itu saja,” tandasnya.

Menurut pengamatan Feni, setiap tergabung dalam konsorsium, harga dari perusahaan miliknya selalu lebih murah. Meskipun demikian, ia tidak ingin jemaah pindah ke perusahaannya karena melihat harga murah tersebut. Tetapi ia tidak akan mampu mencegah kepindahan jemaah seandainya alasan yang dikemukakan seperti mukena atau kopor PT Awana lebih bagus. “Itu saya tidak bisa mencegahnya. Kalau untuk harga, di konsorsium kami lebih murah. Untuk haji bisa 6500 dolar sementara yang lain 7000 dolar,” tambahnya.

Semua itu dilandasi niat Feni untuk berbagi pasca kesembuhan dari kanker yang menggerogotinya. Setelah berhasil bebas dari kanker berkat doa-doanya di tanah suci, ia mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama. Saat ini yang paling diinginkannya adalah hingga akhir hayatnya bisa melayani jemaah dengan baik. “Setiap kali ke tanah suci, bukan doa meminta harta berlimpah yang saya panjatkan. Tetapi memohon kesehatan dan kesempatan untuk datang lagi dan lagi ke tanah suci. Saya tidak ingin Awana menyusahkan orang lain, itu prioritas saya,” kata perempuan mandiri dan sederhana ini.

Berjiwa ‘Pembantu’

Feni Desnawai terus melihat ke depan demi kemajuan PT Awana Tour & Travel. Ia ingin lebih banyak membantu orang lain mewujudkan keinginan untuk pergi ke tanah suci melalui perusahaan miliknya. Untuk itu sebisa mungkin ia tidak menetapkan harga yang tinggi untuk pelayanan perusahaan. Yang penting, dengan harga murah ia tidak terus-terusan “nombok” tetapi mampu memenuhi kewajiban kepada karyawan.

“Saya merintis Awana Konveksi untuk keperluan mukena dan kopor jemaah. Mungkin itu salah satu sampingan Awana, selain bisa mengurangi biaya produksi juga memberikan penghasilan tambahan. Kita tidak berbicara profit yang penting positif buat perusahaan kita. Karena kalau hanya ditipu sih saya sudah kenyang, tetapi saya nggak mau pusing memikirkan semua itu karena yakin Allah akan memberikan rezeki yang lain,” tegasnya.

Feni yakin segala peristiwa memiliki hikmah tersendiri bagi orang yang berpikir positif. Ia mencontohkan, seandainya tidak diberi penyakit kanker dalam tubuhnya, belum tentu dirinya seperti sekarang. Semua itu harus disyukuri dan berpulang kepada diri masing-masing, adakah keinginan untuk berusaha atau tidak.

“Kita berusaha baik saja belum tentu mendapat balasan yang baik juga. Ketika pergi haji tahun 2008, saya ikut bersama jemaah bahkan menyediakan teh manis untuk mereka. Saya tidak apa-apa dibilang berjiwa pembantu, karena di rumah juga ngepel, nyapu, masak dan lain-lain. Semua kalau dilakukan dengan senang hati pasti terasa ringan,” tambah sulung dari dua bersaudara pasangan Rustam Effendi (Alm) dan Hj Rakimah ini.

Feni sangat  bersyukur memiliki keluarga yang sangat mendukung aktivitasnya. Suaminya, H Nandang Akasah yang menikahinya pada tahun 2001 mengerti dan memahami betul dengan kegiatan sehari-harinya. Semua terjadi karena sejak awal sudah menjadi komitmen yang telah disepakati bersama. “Saya sangat bersyukur punya suami yang mau mengerti dan memahami saya. Setelah lima tahun, baru dia terlibat mengurusi usaha ini,” ungkapnya.

Dukungan lain juga datang dari putri semata wayangnya –Salwa Samiyah Amanda- yang baru berusia empat tahun. Sedari kecil, Feni mendidik anaknya untuk hidup mandiri sesuai dengan tingkatan usianya. Cara yang dilakukannya adalah dengan memberikan contoh perilaku sehari-hari untuk ditirukan sang anak. Ke depan, ia ingin memberikan pendidikan setingi mungkin dengan harapan mampu melanjutkan bisnis PT Awana Travel.

“Kalau mampu, kita sekolahkan setinggi mungkin. Anak harus mencontoh kita, kalau kita tidak memberi contoh yang baik. Bagaimana anak menjadi baik, menjadi jujur kalau sendiri tidak jujur. Kita ingin generasi muda bangsa ini lebih bagus. Untuk itu, dimulai dari keluarga masing-masing sebagai orang tua harus menanamkan agama terlebih dahulu sebagai dasar. Kalau agamanya sudah kuat, insya Allah, berjalan dengan baik,” tegasnya.

Harkandri M Dahler

Harkandri M Dahler
Presiden Direktur Aerotrans ( PT Mandira Erajasa Wahana )

Sukses Meningkatkan Kinerja Perusahaan Melalui Rebranding

Dalam sebuah usaha yang tidak menunjukkan peningkatan, perubahan sangat perlu dilakukan. Apalagi jika produktivitas perusahaan yang ditargetkan tidak tercapai maka pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, dari internal maupun eksternal perusahaan. Dari sisi internal adalah pembenahan perusahaan, baik manajerial, produk, SDM maupun pelayanan. Sementara pembenahan eksternal adalah pembinaan terhadap pelanggan atau pengguna produk perusahaan.

Persaingan bisnis yang semakin tajam akibat globalisasi, mengharuskan sebuah perusahaan meningkatkan kinerjanya. Apalagi bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa, persaingan sangat ketat. Banyak bermunculan perusahaan baru yang menawarkan ide-ide besar untuk menarik pelanggan. Akibatnya, sebuah perusahaan jasa yang “mandhek” dan tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan akan ditinggalkan.

“Saya dikirim ke sini dengan kondisi perusahaan yang memiliki citra kurang baik di mata pelanggan. Saat itu, image bisnis jasa transportasi milik Garuda dengan nama Mandira itu terkenal dengan kendaraan yang kotor, sopir ugal-ugalan, attitude diragukan dan lain-lain. Pokoknya integritasnya diragukan sehingga dengan adanya program rebranding yang saya jabarkan di sini, kami berusaha mengangkat kinerja perusahaan,” kata Harkandri M Dahler, Presiden Direktur Aerotrans

Menurut Harkandri , program rebranding merupakan program perubahan yang dicanangkan induk perusahaan, PT Aerowisata. Anak perusahaan PT Garuda Indonesia secara serentak sejak November 2009 melaksanakan rebranding terhadap perusahaan dibawah kendalinya seperti Aerofood ACS, Aerotravel, Aerowista Hotel dan lain-lain. Tujuan rebranding adalah untuk mendorong anak perusahaan meningkatkan kinerja bisnisnya dengan mengoptimalkan sumber daya yang sudah dimiliki.

Mandira sebagai operator jasa trasportasi darat, jelas Harkandri , menggunakan  brand baru, Aerotrans. Diharapkan, perusahaan tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan mampu bersaing di pasar. Keberhasilan rebranding dapat diukur dari jumlah pelanggan yang puas atas layanan dan terus menggunakan jasa yang ditawarkan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga mampu “menggaet” pelanggan baru karena citra akibat rebranding yang semakin cemerlang.

“Nilai rebranding atau core value yang saya sosialisasikan kepada karyawan ada empat hal. Sincere yakni ketulusan dan ikhlas mengerjakan tugas. Impeccable yaitu bekerja tanpa cacat, sempurna dengan start dari proses awal yang benar. Proactive, atau komitmen untuk memberikan solusi. Imaginative yaitu mengedepankan inovasi dalam pelayanan. Tetapi mempraktekkan empat hal tersebut ternyata berat. Perusahaan yang terbentuk sejak tahun 1988 itu, sangat berat untuk mengubah tradisi yang sudah membudaya. Makanya saya mengajukan diri untuk fokus dan total di sini,” ujar profesional yang tadinya masih merangkap sebagai Direktur Keuangan dan SDM Aerofood ACS

Sosialisasi rebranding yang dirancang Harkandri  dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya dilaksanakan oleh karyawan pada level pelaksana lapangan, tetapi juga direksi, manajemen, dan karyawan operasional. Program yang dilaksanakannya meliputi semua aspek bisnis perusahaan seperti logo baru, bus baru, dekorasi dan warna kendaraan, corporate identity serta seluruh dokumen surat menyurat perusahaan. Ia juga membenahi jaringan IT dan meningkatkan fasilitas serta kesejahteraan karyawan, mulai internet, seragam, dan infra struktur lain-lain.

Untuk mensosialisasikan implementasi tujuan rebranding, Harkandri  juga meminta  dukungan dengan Serikat Pekerja (SP). Melalui PKB (Perjanjian Kerja Bersama) periode 2010-2012, ia berhasil mengajak karyawan untuk menutup masa lalu dan membuka lembaran baru menuju masa depan yang lebih baik. karyawan yang berjumlah sekitar 2200 orang diajak bekerja sebaik-baiknya demi kepuasan pelanggan. Karena dengan komitmen itu sebagai akan berguna pada kemajuan perusahaan yang berimbas pada kesejahteraan karyawan sendiri.

Dari sisi manajerial, Harkandri  menyusun pembenahan secara menyeluruh. Ia membuat restructuring balance sheet dari divisi keuangan dan melakukan analisa terhadap pembelian asset bekerja sama dengan bank. Dari perhitungannya, ia bisa mengoptimalkan pengeluaran dari bunga yang harus dibayar kepada pihak ketiga. Bunga yang tidak kompetitif harus d-restrukturisasi agar menjadi kompetitif, termasuk proses dokumennya juga harus effisien.
Dari situ, perusahaan mendapat penghematan cash flow atas bunga sebesar sekitar Rp600 juta,” tuturnya.

Harkandri  dalam melaksanakan program ini tidak hanya duduk di belakang meja saja. Ia bukan tipe direktur perusahaan yang sudah establish dan hanya tinggal tanda tangan saja. Sebagai pucuk pimpinan tertinggi, ia tidak segan-segan turun langsung bahkan untuk sekadar mengambil tagihan. Tujuannya untuk merapikan perusahaan tetapi tanpa harus mengeluarkan dana lebih. Agar pesan perubahan yang ingin disampaikannya cepat diterima seluruh karyawan, ia menerbitkan bulletin Aerotrans News. Tujuannya untuk menyosialisasikan kebijakannya dalam membenahi perusahaan mengantisipasi perbedaan persepsi ketika informasi disampaikan kepada karyawan.

“Dari saya A, mungkin sampai manager menjadi Z. Maksud saya bulletin ini untuk mengakselerasi pekerjaan dari pusat sampai grass root. Menginformasikan kebijakan dari direksi kepada seluruh karyawan. Jadi ini adalah software untuk akselerasi kemajuan perusahaan. Saya juga membenahi brosur perusahaan sehingga lebih komunikatif seperti sekarang ini,” ungkap pria yang meniatkan tugasnya untuk semata-mata ibadah ini.

Bertahan Tiga Bulan

Karier Harkandri M Dahler diawali di maskapai penerbangan Garuda Indonesia sejak tahun 1978. Ia bertahan pada perusahaan penerbangan milik pemerintah Indonesia itu sampai tahun 2002. Selama menjalani karier, berbagai tugas dan jabatan pernah diembannya berkaitan dengan administrasi dan manajemen. Padahal, sejatinya ia adalah seorang mekanik yang harus lebih banyak berkutat di bagian teknik pesawat terbang.

“Saya menjadi mekanik hanya tiga bulan, terus ‘lari’ ke bagian administrasi. Nah, setelah lepas dari Garuda, antara tahun 2002-2008 bekerja di bengkel maintenance pesawat yang menjadi bagian integral layanan PT Garuda, yakni PT GMF AeroAsia. Saya termasuk orang pertama yang bekerja disitu,” katanya.

Selama di GMF, pria kelahiran Kuala Tungkal, 1 Juli 1957 ini memegang berbagai jabatan. Mulai bergabung di divisi keuangan, menjadi corporate secretary dan jabatan terakhir adalah Kepala Marketing GMF. Kinerja yang ditunjukkan suami Mia Arbaiyah ini sangat memuaskan sehingga ia mendapat award dari perusahaan. Karena penghargaan itu, awal Januari 2009 ia mendapat amanah untuk menjadi Direktur Keuangan & SDM PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (sekarang Aerofood ACS).

Karier Harkandri  terus melesat bak meteor. Setelah dianggap sukses menangani perusahaan katering, pada bulan Maret 2010 ia dinobatkan sebagai Presiden Direktur PT Aerotrans. Meskipun sempat bertanya-tanya -karena spesialisasinya adalah teknik di bidang rangka pesawat, namun ia melihatnya sebagai tugas yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Apalagi, dukungan dari para pemegang saham yang melihat potensi dalam dirinya menambah keyakinan atas pekerjaan tersebut.

“Saya pernah bertanya, kenapa harus saya, ini kan tidak sesuai dengan latar belakang saya. Tetapi justru mereka bilang, ‘urusan itu bukan anda yang menentukan’. Mungkin ternyata pilihan mereka kepada saya anggap sebagai tantangan,dan jalankan dengan sungguh-sungguh,saat di katering itu saya juga banyak belajar,” tuturnya.

Saat memegang Aerofood ACS, Harkandri  memang menorehkan prestasi yang mengilap. Strategi pemasaran yang diterapkannya terbukti ampuh mendongkrak pendapatan perusahaan. Seperti bagaimana ia melakukan inovasi terkait kejenuhan dalam bisnis inflight catering, dengan arahan Direktur Utama dan Direksi lainnya di Aerofood ACS . Ia mengatasi kejenuhan tersebut dengan masuk wilayah industrial catering. Yakni menggarap katering bagi rumah sakit perkotaan dan pertambangan (mining) dengan tetap menjadi pemasok bagi katering perusahaan induk, PT Garuda Indonesia.

“Strategi ini terbukti meningkatkan akselerasi pendapatan perusahaan dengan omzet sekitar hampir Rp1 triliun per tahun. Jadi, konsepnya saya melihat pasar infligt catering yang mulai jenuh sehingga meskipun kita genjot bagaimana pun ya tetap ‘segitu’ saja. Makanya kita lari ke industrial catering, restoran dan kafe,” tambah ayah lima anak ini.

Bekerja Secara Terstruktur

Dalam melakukan rebranding di perusahaan yang dipimpinnya, Herkandri M Dahler mengakui banyak kendala yang harus dihadapinya. Saat pertama kali kedatangannya, kondisi perusahaan transportasi tersebut dalam keadaan nyaris bangkrut. Dengan karyawan sekitar 2000 orang dan mengelola asset sebanyak 1000 kendaraan, seharusnya perusahaan bisa berkembang dengan baik. Namun, semua itu menjadi tantangan baginya untuk membenahi dan memajukan perusahaan.

“Dilandasi niat untuk ibadah, saya berusaha membenahinya. Saya bilang kepada karyawan, bahwa perusahaan ini bangkrut. Kalau anda semua mau dibubarkan tinggal bilang saja, begitu kata saya. Tetapi mereka tidak mau dan bersedia bekerja keras untuk memajukan perusahaan ini. Mereka menyatakan siap membantu saya untuk melakukan perubahan total,” ujarnya.

Harkandri kemudian melakukan efisiensi di segala bidang. Ia mengontrol setiap fungsi dan mengevaluasi target yang dicanangkan. Kepada karyawan ia menegaskan pentingnya integritas dalam bertugas agar perusahaan berkembang dengan baik. Ia mengharapkan dukungan yang besar dari para sopir sebagai ujung tombak perusahaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Menurutnya, kepuasan pelanggan sangat tergantung dari integritas sopir saat bekerja.

“Saya biasa bekerja secara terstruktur dengan ukuran-ukuran yang jelas dan dievaluasi secara periodik. Kepada karyawan saya tidak menjanjikan mereka menjadi orang kaya, tetapi setidaknya dapat hidup layak. Saya membuat bermacam-macam program agar mereka memiliki ‘getaran’ terhadap perusahaan. Hasilnya, saya mendapat target pendapatan perusahaan tahun 2010 ini sebesar Rp156 miliar,” tandasnya.

Harkandri juga telah menyusun program jangka panjang perusahaan hingga tahun 2014. Ia memandang jauh ke depan dengan membuat perencanaan terkait target pendapatan, akumulasi biaya, diversivikasi usaha dan lain-lain. ia melihat salah satu jalan adalah penguatan struktur dan semangat karyawan dalam bekerja sehingga tercipta sebuah tim yang solid.

“Kita membangun solid team agar menjadi one team, one spirit and one goal. Jadi betul-betul menjadi bagian dari hati sehingga karyawan mantap bekerja di sini. Ke depan saya ingin mengembangkan usaha di bidang wisata dan bahkan kalau bisa menjadi perusahaan wisata. Karena pasarnya juga luar biasa. Sekarang saya kan sedang investasi dengan menempatkan orang-orang profesional dan merapikan perangkatnya. Saya yakin akan berkembang dengan baik,” tukasnya.

Keikhlasan dan Ketulusan

Harkandri M Dahler sebenarnya tidak pernah bercita-cita fomal seperti menjadi dokter atau insinyur. Sebagai orang kampung, ia mengikuti jalan hidup yang telah ditentukan Tuhan baginya. Ia hanya berprinsip bahwa dalam mengerjakan segala sesuatu dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih. Semua dikerjakan sebaik-baiknya diiringi dengan rasa tanggung jawab yang besar. Itulah yang dilihat oleh atasan-atasannya sehingga dengan cepat mendapat promosi.

“Meskipun kadang saya merasa belum siap, tetapi tugas tetap harus dilaksanakan. Yang penting, saya bekerja dengan tanpa pamrih dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Prinsip saya orang boleh tidak kenal Harkandri tetapi produknya dikenal luas. Kita juga harus siap menerima isu-isu maupun fitnah yang dihembuskan pihak lain, terkait prestasi yang dicapai. Biasa itu,” kata Harkandri yang berhasil sebagai team “membebaskan” bea

masuk dan PPn komponen pesawat terbang ini.

Dengan ketulusan dan keikhlasan terhadap apa yang dilakukan, Harkandri berharap mendapat kebaikan. Prinsip dalam menjalani hidup adalah memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki talenta luar biasa untuk mengembangkan diri. Konsep yang dipegangnya adalah orang harus dipoles menjadi intan atau berlian, yang meskipun teronggok di pasir pantai cepat atau lambat akan memancarkan sinarnya dan tetap dicari orang.

“Jadi apa yang dikasih kepada saya adalah amanah yang saya kerjakan dengan penuh totalitas,” kata Harkandri yang mendapat kepercayaan penuh dari istrinya tersebut. Istrinya sudah tahu sejak awal kalau ia adalah pekerja keras, yang sering pulang malam atau keluar kota. Yang jelas, ia tetap menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. “Faktor trust membuat saya tetap pada track-nya sehingga keluarga tahu saya memegang kepercayaan tersebut,” imbuh pria yang suka melawak di rumah ini.

Kepada generasi muda, Harkandri berpesan agar mereka mengutamakan keikhlasan dan ketulusan dalam segala aktivitasnya. Mereka juga harus tetap pada tugasnya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin dengan belajar sebanyak-banyaknya. Media belajar pun tidak harus dari pendidikan formal, tetapi juga pendidikan non formal dengan mempelajari pengalaman serta kisah hidup orang-orang sukses.

“Generasi muda harus memiliki totalitas dalam menekuni aktivitas masing-masing. Jangan sampai cepat-cepat beralih kepada aktivitas lain sehingga lambat laun, mereka akan menjadi spesialis dalam bidang yang ditekuni. Dari pengalaman orang lain bisa kita kaji sebagai pembelajaran. Suatu saat, takdir Tuhan akan membuka jalan kesuksesan kita. Karena sebenarnya takdir adalah pertemuan antara usaha manusia dengan kehendak Allah. Jadi kalau usaha kita benar hasilnya pun akan benar pula,” ungkap Harkandri M Dahler.

Sekilas Aerotrans

Aerotrans (Garuda Indonesia Group) berpengalaman dalam menyediakan transportasi darat sejak 1988.

Aerotrans mengoperasikan lebih dari 1000 unit kendaraan dalam berbagai tipe seperti big, medium, micro, dan mini bus, van, 4 wheels drive, box/pick up, hi-lift truck, low deck bus, dan sedan dengan dukungan lebih dari 2000 karyawan.

Visi Aerotrans
“Menjadi perusahaan jasa transportasi darat terbaik dan disegani dalam mendukung industri penerbangan, pariwisata nasional dan industri lainnya”

Misi Aerotrans
1.    Memaksimalkan kualitas jasa pelayanan transportasi terpadu melalui operation excellence
2.    Mengembangkan pola kemitraan yang efektif melalui customer intimacy
3.    Secara konsisten & tulus melaksanakan nilai-nilai etika SDM dan perusahaan (core values) melalui implementasi etos kerja

Perjalanan Usaha Aerotrans

⦁    1988 – tanggal 2 November 1988, Aerotrans, yang sebelumnya merupakan Divisi Transport PT Garuda Indonesia, berdiri sendiri dibawah PT Mandira Erajasa Wahana, sebagai unit usaha PT Aerowisata, anak perusahaan PT Garuda Indonesia

⦁    1991 – Melayani Aerowisata Catering Service dan Satriavi Leisure Management, sebagai customer pertama di luar PT Garuda Indonesia
⦁    1995 – Melayani angkutan Haji Jakarta untuk pertama kalinya
⦁    2002 – Mulai melayani pasar korporat di luar Garuda Indonesia Group
⦁    2009 – Aerowisata Transport rebranding menjadi Aerotrans

Layanan Aerotrans

Layanan Aerotrans terdiri dari layanan jangka panjang dan jangka pendek, sesuai kebutuhan pelanggan.  Layanan tersebut terdiri atas:

⦁    Rental Services
Jasa sewa kendaraan
⦁    Tourism
Layanan kegiatan wisata
⦁    Fleet Management
Pengelolaan transportasi internal
⦁    Ground Handling Service
Layanan transportasi untuk mendukung kegiatan operasional di wilayah Bandara
⦁    Driver Support Service
Jasa pengemudi profesional, berpengalaman dan terdidik

Keunggulan Layanan Aerotrans

Selain melayani induk perusahaan, PT Garuda Indonesia, Aerotrans juga dipercaya untuk melayani puluhan perusahaan lain. Kepercayaan tersebut karn Aerotrans memiliki berbagai keunggulan dibandingkan perusahaan lain sejenis, antara lain:

⦁    Experience
Melayani transportasi darat lebih dari 20 tahun
⦁    Safety & Eco-green service
Berbekal prosedur kerja sesuai dengan prinsip Health, Safety, Environment (HSE)
⦁    Selection
Berbagai tipe kendaraan sesuai kebutuhan
⦁    Customized Service
Penyediaan logo di kendaraan, kursi bayi, video & musik, karaoke, pewangi kendaraan, dan lain-lain
⦁    Insurance All Risk
Asuransi perjalanan bagi kendaraan
⦁    Personal Insurance
Asuransi perjalanan bagi setiap penumpang
⦁    License Support
Memiliki surat ijin beroperasi di area Bandara dan mengurus kelengkapan dokumen untuk kelancaran bisnis Anda
⦁    Reliability
Memiliki staf yang berpengalaman, fasilitas kendaraan yang lengkap dan bengkel 24 jam untuk pelayanan perjalanan berstandar tinggi
⦁    Easy Access
Contact center 24 jam, online reservation, online payment, dan wilayah operasi di kota-kota besar seluruh Indonesia

Brand Values

Semua keunggulan Aerotrans tidak terlepas dari brand values yang ditetapkan perusahaan, yaitu:
⦁    Sincere – Memberikan pelayanan yang tulus, dengan kehangatan, keterbukaan dan rasa hormat
⦁    Impeccable – Menjalankan pekerjaan secara sempurna dan tanpa cacat dengan standar tertinggi
⦁    Proactive – Berinisiatif dalam mencari dan memberikan solusi sehingga dapat memberikan pelayanan yang melebihi ekspektasi
⦁    Imaginative – Memotivasi agar berani mengambil resiko dan tantangan serta mengeksplorasi cara-cara untuk menggugah dan menyemangati pihak-pihak yang berkepentingan.

Hidayat Wirasuwanda

Hidayat Wirasuwanda
Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung

Menjalankan BPR Dengan Niat yang Baik dan Benar

Semua kegiatan yang dijalankan dengan niat yang baik dan benar, akan memberikan hasil sesuai harapan. Prinsip tersebut bisa dibuktikan dalam pekerjaan apapun, baik dalam dunia usaha, jasa dan lain-lain. Syaratnya, dilakukan dengan semangat yang sama, dikerjakan secara tekun dan konsisten.

Kedua hal tersebut telah dipraktekkan di PT BPR Trisurya Marga Artha, Bandung. Bank perkreditan rakyat yang berdiri sejak 10 April 1994 ini terbukti mampu bertahan di tengah fluktuasi perekonomian Indonesia. BPR semakin maju setelah pada bulan Agustus 2007, terjadi pergantian kepemilikan.

“BPR di-take over oleh keluarga Bapak Iwan Setiawan. Saya yang bergabung sejal Februari 2007 tetap dipertahankan bahkan dipercaya memimpin BPR ini enam bulan kemudian. Apapun yang kita jalankan harus dilandasi dengan niat yang baik dan benar. Nah, dari niat baik dan benar itulah kita berharap mampu menghasilkan yang baik dan benar bagi debitur, owner maupun seluruh staf kami,” kata Hidayat Wirasuwanda, Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung.

Hidayat membuktikan dengan niat yang baik dan benar, BPR dibawah kepemimpinannya mengalami banyak kemajuan. Dari sepuluh orang karyawan, berkembang menjadi 90 orang dan mengelola dana miliaran rupiah. Bahkan, ia sudah berancang-ancang untuk membuka kantor cabang baru, di Bandung maupun daerah lain. Semua di wilayah Jawa Barat karena terbentur aturan Bank Indonesia, bahwa BPR hanya boleh beroperasi dalam satu provinsi saja.

Sikap serupa, lanjut Hidayat, diterapkan dalam melayani customer/pelanggan yang memanfaatkan jasa BPR. Kedatangan mereka, tentu dengan itikad baik yang harus diperlakukan dengan cara yang baik dan benar pula. Hasil akhirnya diharapkan akan menjadi kebaikan dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Hubungan baik antara pelanggan dan BPR tersebut terus dibina dan dipertahankan sehingga terjalin secara berkesinambungan.

“Ini tidak bisa kami bina sendiri. Seluruh karyawan mulai marketing, CSO, teller dan bagian kredit melakukannya agar hubungan baik dan personal approach tetap terjalin. Oleh karena itu, kita menjadikan karyawan dan karyawati sebagai suatu asset yang harus kita bina dan pelihara. Untuk itu, saya menyelenggarakan pendidikan dan training-training perbankan sesuai tugas masing-masing. Seperti CSO dengan program dari BI yang sangat terkenal ‘know your customer’ untuk mengenali calon customer,” tuturnya.

Membantu Masyarakat

Menurut Hidayat Wirasuwanda, pengelolaan BPR di seluruh Indonesia berada di bawah pengawasan Bank Indonesia. Otoritas perbankan Indonesia tersebut secara rutin mengadakan pembinaan terhadap operasional BPR. Apalagi, BPR sangat berperan penting dalam menggerakkan perekonomian rakyat karena terkait dengan pengusaha mikro. Yakni, bidang usaha yang tidak tersentuh oleh perbankan umum.

“BI rutin berkunjung selama empat sampai lima hari setiap tahun untuk melakukan pembinaan. Kami memang masih memerlukan pembinaan dan sangat membutuhkan saran-saran. Apa saja yang kurang harus kita perbaiki, baik dari pelayanan maupun hal-hal lainnya. Selain itu, kami juga mengadakan kerjasama pelatihan dengan ahli marketing, ahli akunting, ahli SDM untuk meningkatkan kinerja kami,” katanya.

Hidayat sadar, produk unggulan BPR yang dipimpinnya masih sangat terbatas, yakni tabungan, deposito berjangka dan kredit. Tetapi atas kebijaksanaan BI dan LPS, BPR diizinkan memberikan tingkat bunga lebih tinggi daripada bank umum pada produk tabungan dan deposito. Tujuan dari kebijaksanaan tersebut adalah untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya sehingga dana yang dapat disalurkan untuk kredit memadai.

Selama di Bandung, Hidayat mempelajari dan menganalisa banyaknya masyarakat yang “lari” ke rentenir untuk urusan keuangannya. Mereka lebih memilih meminjam dana dengan bunga mencekik leher sebesar 10-15 persen per bulan. Kemudahan syarat yang tidak berbelit-belit membuat masyarakat lebih senang berurusan dengan rentenir daripada BPR atau bank.

Ia berharap, dengan semakin berkembangnya unit BPR di Bandung maupun di Indonesia, praktek rentenir bisa ditekan. Karena terbukti, dengan bunga yang sangat tinggi tersebut bukan membantu perekonomian tetapi justru menghancurkan ekonomi rakyat. “Rentenir masih eksis di kota Bandung dan daerah lainnya. Saya berharap BPR mampu mengurangi kredit dengan bunga mencekik seperti itu,” harapnya.

Dengan kondisi perekonomian rakyat seperti itu, Hidayat melihat prospek BPR ke depan masih sangat cemerlang. Apalagi dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, potensi BPR untuk berkembang sangat luas. Hanya saja, kendala yang dihadapi saat ini adalah kerancuan “porsi” antara pangsa pasar BPR dan bank umum akibat tidak adanya peraturan yang jelas.

Dengan adanya otonomi daerah, Hidayat berharap agar pemerintah daerah mampu mendorong usulan kepada Bank Indonesia mengenai hal tersebut. Setidaknya, dengan semangat otonomi pemda mampu “menekan” BI untuk menerbitkan regulasi yang mengatur porsi dan ruang gerak yang jelas antara BPR dan bank konvensional. Demikain pula usulan kepada pihak BI agar lebih mempermudah izin pembukaan cabang-cabang baru bagi BPR.

“Jangan sampai bank umum memakan porsi BPR atau bank-bank besar bermain di sektor yang menjadi lahan kami. Pokoknya dalam hal ini sangat diperlukan aturan yang jelas. Selain itu, kami juga ingin mendapatkan kemudahan dalam pembukaan cabang BPR. Karena dengan banyaknya cabang, masyarakat kecil akan lebih mudah menjangkau layanan BPR dan mereka akan terbantu,” tuturnya.

Pendirian BPR, kisah Hidayat, harus mengikuti syarat yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Untuk kota Bandung, syarat minimal adalah modal disetor minimal Rp2 miliar dengan rekening di salah satu bank umum. Syarat kedua yang harus dipenuhi adalah memiliki tempat usaha atau gedung, SDM dan teknologi IT yang memadai. Dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, sebuah BPR baru boleh beroperasi setelah ada izin dari BI setempat dan memberikan layanan kepada masyarakat.

“Saya tetap berharap, pembinaan BI kepada BPR masih terus berlangsung. Saya juga berdoa, mudah-mudahan perizinan bagi pembukaan BPR di daerah semakin mudah. Pemda juga memberikan kemudahan dalam perizinan seperti Surat izin tempat usaha. Karena perlu diingat bahwa kehadiran kami adalah untuk membantu Pemda dalam membina masyarakat kecil, pedagang kecil dan lain-lain. Untuk itu, kami akan membuka cabang baik di kota Bandung maupun kota lain di Jawa Barat. Itu obsesi saya,” ujarnya.

Karier Perbankan

Hidayat Wirasuwanda, lahir di Cianjur, 8 September 1951. Sarjana muda pendidikan IKIP Bandung tahun 1974 ini sejak semula sudah berkarier di dunia perbankan. Dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya, ia langsung bekerja di Bank BCA cabang Bandung. Di bank swasta terbesar di Indonesia itu ia menghabiskan kariernya sampai memasuki masa pensiun pada tahun 2006.

“Saya bekerja di Bank Swasta di Bandung, sejak Juli 1976, sebagai karyawan biasa. Di situ saya menjalani berbagai macam karier mulai karyawan bagian kredit dan bagian umum personalia. Kemudian saya di bagian ekspor impor antara tahun 1982 – 1991. Dari tahun 1992 – 2001 saya dipercaya sebagai Pemimpin Cabang Pembantu, tahun 2001-2006 saya dipercaya sebagai Kepala Operasional Cabang Cianjur sampai pensiun,” tuturnya.

Setelah pensiun, Hidayat tidak langsung berhenti berkarya. Usianya yang “baru” 55 tahun masih memungkinkan untuk bekerja dengan tantangan baru. Ia kembali ke Bandung dan menerima ajakan untuk bergabung dengan rekan dan keluarga Bapak Iwan Setiawan mengelola sebuah bank perkreditan rakyat pada tahun 2007. Justru di BPR inilah, ia mencapai puncak karier di dunia perbankan. Ia ditunjuk sebagai direktur utama setelah mengikuti pendidikan, yaitu kursus Direktur BPR yang diselenggarakan Lembaga Sertifikasi Profesi Lembaga Keuangan Mikro – CERTIF Jakarta pada bulan Agustus 2007.

“Setelah lulus, saya harus mengikuti fit and proper test di Bank Indonesia Bandung. Yakni untuk menguji kelayakan saya memimpin BPR sebagai direktur,  dan Alhamdulilah saya lolos dan terhitung Agustus 2007 resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung. Itulah jenjang karier yang harus saya lewati dari karyawan menjadi direktur. Meskipun lembaganya kecil, tetapi secara professional jabatan direktur utama bagi saya sudah sangat hebat,” katanya.

Pengalaman selama puluhan tahun berkarier di perbankan, membuat Hidayat menguasai betul seluk beluk mengelola bank. Apalagi selama bertugas, ia menjalani berbagai pendidikan dan pelatihan yang menunjang profesi. Pendidikan dan pelatihan yang pernah dijalaninya antara lain, Kursus Impor dan Ekspor LPPI Jakarta, Kursus Pemimpin Cabang LPPI Jakarta, Kursus Advance Banking Managemen Program BNI 1946 Jakarta dan Kursus Direktur BPR LSP Lembaga Keuangan Mikro – CERTIF Jakarta.

Seluruh pencapain yang berhasil dilakukan Hidayat, tidak terlepas dari dukungan keluarga. Istri beserta satu orang anaknya tidak keberatan suami dan ayahnya pulang larut karena kesibukan pekerjaan. Apalagi, Hidayat sendiri tidak pernah “itung-itungan” dalam bekerja sehingga jam kerjanya pun menjadi semakin panjang.

“Keluarga terbiasa dengan aktivitas saya sebagai pekerja, sehingga mereka tetap mendukung, baik saat bekerja di bank swasta maupun di sini. Anak diberikan kebebasan untuk berkarier sesuai keinginannya. Saya persilakan untuk bekerja sesuai dengan bakat dan talenta yang dimiliki tidak harus mengikuti jejak orang tua,” tandasnya.

Kepada anaknya Hidayat hanya menekankan pentingnya untuk melakukan persiapan dalam menyongsong masa depan masing-masing. Setidaknya, penguasaan dan ilmu pengetahuan terhadap pekerjaan yang diinginkan harus dimiliki. Selain itu, semangat untuk terus belajar harus dipelihara karena belajar merupakan kewajiban seumur hidup bagi setiap manusia. Pada era sekarang ini, belajar bisa dilakukan melalui media apapun, baik dengan kursus, seminar maupun membaca buku.

“Hal itu juga harus dilakukan oleh generasi muda kita. Karena menuntut ilmu itu tidak akan ada habisnya, bahkan sampai ke negeri China selama kita mampu. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya menjadi apapun sekarang ini. Siapa tahu kita diberikan kepercayaan untuk memimpin suatu usaha atau bahkan memiliki usaha sendiri yang lebih besar,” ungkapnya.

Hidayat juga berpesan, bahwa dalam bekerja harus dianggap sebagai ibadah. Karena berangkat dari niat ibadah, pekerjaan akan dilakukan dengan perasaan tulus dan ikhlas. Dari situ, tinggal berharap bahwa berkarya dengan cara dan niat yang benar hasilnya pun akan benar pula. “Kita harus berpikir positif dan bertindak secara positif pula. Selain itu, kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT atas segala rahmat yang telah diberikan,” ujarnya.

Sekilas Profil PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung

PT BPR Trisurya Marga Artha adalah perusahaan yang bergerak di bidang Bank Perkreditan Rakyat, khususnya pembiayaan/kredit mikro bagi masyarakat. Berdiri pada tanggal 10 April 1994, produk-produk yang ada yaitu: Tabungan, Deposito Berjangka dan Kredit. Kredit yang disalurkan pada investasi, modal kerja dan konsumsi. PT BPR Trisurya Marga Artha memiliki visi “Menjadi Bank Perkreditan Rakyat yang terkemuka di bidang pembiayaan mikro dengan pelayanan terbaik”.

PT BPR Trisurya Marga Artha berharap kehadirannya dapat terus memberikan kontribusi positif di tanah air bagi pengembangan usaha mikro, oleh sebab itu akan membuka beberapa kantor cabang di Bandung dan kota-kota lainnya di Jawa Barat dengan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, memberikan pelayanan secara cepat, tepat dan akurat bagi para nasabahnya. Serta dapat meningkatkan nilai investasi bagi para pemegang saham dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh karyawan/karyawati dan jajaran pengurus.

Visi
“Menjadi BPR yang terkemuka di bidang pembiayaan mikro dengan pelayanan yang terbaik”

Misi
Mendukung pengembangan usaha mikro
Menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Memberikan pelayanan yang cepat, benar dan akurat kepada nasabah
Meningkatkan nilai investasi bagi para pemegang saham dan kesejahteraan bagi seluruh pengurus, karyawan dan karyawati

Profil nasabah PT BPR Trisurya Marga Artha

Pertanian/Peternakan:
Tani padi
Tani sayur
Tani jamur
Ternak jangkrik
Ternak bebek
Ternak ayam
Ternak sapi
Ternak kambing
Ternak kelinci

Perdagangan:
Warung kelontongan
Warung nasi
Warung sembako
Jual bubur
Jual sayur
Jual ayam potong
Jual ayam goreng
Jual hasil bumi
Jual koran/majalah
Jual beli alat elektronik
Jual beli barang bekas
Jual beli motor/mobil
Jual beli pakaian
Jual beli handphone
Jual beli kain
Jual aksesoris
Kreditan barang
Jual alat-alat kesehatan
Jual jamu
Jual ATK
Jual buah-buahan

Jasa:
Bengkel mobil
Bengkel motor
Bengkel las
Bengkel bubut
Service barang elektronik
Salon
Rias pengantin
Laundry
Tambal ban
Makloon
Kontraktor
Kost-kostan
Klinik gigi
Klinik umum
Kamasan
Warnet
Rental PS
Rental komputer
Jahit
Loper koran
Paket lebaran
Fotocopy

Industri:
Pembuatan sepatu/tas/topi/dan lain-lain
Pembuatan makanan ringan
Pembuatan meubeul
Pembuatan kue
Pembuatan telor asin
Konveksi jaket/border baju/pakaian jadi
Pembuatan sangkar burung
Percetakan
Pembuatan tahu

RICHARD SUWONDO, SH, MH

Notaris dan PPAT

Lawyer yang beralih haluan menjadi Notaris dan PPAT

Dalam dunia kerja, berpindah pekerjaan adalah hal biasa. Begitu juga pergantian profesi merupakan hal yang wajar dilakukan, apalagi bila potensi yang dimiliki seseorang ternyata lebih berkembang dalam pekerjaan atau profesi yang baru.

Pergantian profesi seperti itu juga pernah dilakukan oleh RICHARD SUWONDO, SH, setelah beberapa tahun menjalani profesi sebagai lawyer, hati nurani mendorongnya untuk beralih profesi menjadi notaris. Profesi tersebut mulai ditekuninya sejak tahun 2002 setelah menyelesaikan pendidikan kenotariatan.

“Sebelum menjadi notaris, saya bekerja di UNIBANK sekitar tahun 1995 sampai dengan 1997. Kemudian saya melanjutkan pendidikan dibidang hukum sekaligus menjadi lawyer dan konsultan pasar modal pada saat bersamaan sampai dikeluarkannya SK pengangkatan saya sebagai notaris sekitar tahun 2002, makanya saya lepas pengacaranya dan sepenuhnya menjadi notaris. Baru pertengahan tahun 2005 dikeluarkan SK pengangkatan saya sebagai PPAT” ujarnya.

Alasan berganti profesi tersebut sungguh mulia yakni karena sebagai pengacara, putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Suardi Kartakesuma dan Kartini ini belum memiliki kesiapan mental, terutama terkait dengan hati nurani mengingat sistem hukum di Indonesia pada saat ini. “Menurut kita, apa yang kita lakukan sebagai pengacara tidak sesuai dengan hati nurani. Mungkin mental kita pada saat itu yang belum kuat karena sebagai pengacara apa yang kita lakukan hanya untuk memenangkan klien dalam berpekara saja.” imbuhnya.

Pria kelahiran Jakarta, 21 Februari 1971 ini berandai-andai, apabila pada saat itu telah siap mental dan terus berkarier sebagai lawyer dan konsultan pasar modal semua pasti akan berbeda. Melihat kemampuan yang dimiliki, bukan tidak mungkin andai dijalani dengan sepenuh hati, sekarang kariernya sudah mencapai puncak. Akan tetapi, selain SK pengangkatan sebagai notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang dimilikinya setelah menyelesaikan pendidikan kenotariatan, dorongan hati nurani juga memaksanya untuk tidak melanjutkan karier sebagai lawyer, walau sewaktu-waktu ia masih menggeluti propesi lamanya tersebut.

“Meskipun demikian, sewaktu-waktu kita masih terjun sebagai lawyer bergabung dengan kantor hukum lain, tentunya tanpa meninggalkan profesi utama kita sebagai notaris. Pekerjaan notaris itu sangat luas, sejak manusia lahir sampai dengan tutup usia semua terkait dengan akta notaris. Sedangkan PPAT hanya mengurusi masalah pertanahan saja.” tegasnya.

Bicara mengenai pertanahan, pria yang biasa disapa Richard ini mengingatkan bahwa pekerjaan sebagai PPAT sebenarnya cukup nyaman. Hanya saja, pekerjaan ini harus menguras kesabaran yang lebih besar disebabkan database yang dimiliki oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) sangat kurang, khususnya data Peta Bidang Tanah, sehingga menyulitkan tugas PPAT.

“Makanya kita berharap kepada BPN untuk dapat segera merealisasikan Peta Bidang Tanah untuk seluruh wilayah di Indonesia secara lengkap. Dengan adanya itu pasti sengketa tanah akan lebih mudah diselesaikan karena database tersebut terkait dengan hukum. Dengan adanya PPAT, tinggal mekanisme yang sangat simple sebenarnya. Kalau sudah ada database yang baik, tinggal manajemennya saja dibenahi.” ujarnya dengan optimis.

Yang terpenting adalah kerja keras

Dalam menyikapi perkembangan dunia notaris dan PPAT yang sangat cepat, Richard Suwondo, SH menyiapkan diri untuk bersaing. Baginya, yang terpenting adalah kesiapan, kesungguhan dan kerja keras dalam menjalani profesinya. Dengan semakin tingginya kesadaran hukum masyarakat pada saat ini, tentunya akan berpengaruh terhadap semakin tinggi pula kebutuhan terhadap jasa notaris dan PPAT.

“Bagi kita yang terpenting adalah kerja keras, Optimalkan kinerja delapan orang SDM yang kita miliki. Kita ikuti sistem hukum yang ada, karena seiring waktu pastinya akan terus berkembang searah dengan semakin cerdasnya masyarakat. Dengan pengetahuan, kemampuan dan kerja keras, kita pasti akan mampu bersaing dalam hal, kapan dan dimana pun kita berada.” ujar pemilik motto “Hari ini harus lebih baik dari kemarin” ini.

Ayah dua orang putri dari pernikahannya dengan Jein Grace Sela ini mengungkapkan bagaimana kurangnya dukungan pemerintah terhadap profesi notaris. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah sering adanya perubahan sistem yang diterapkan dan tidak adanya standarisasi yang pasti.

“Dukungan pemerintah terhadap profesi notaris terkadang justru menjadi kendala. Sistem yang selalu berubah-ubah dan pegawai-pegawai nakal. Tetapi bagaimanapun kita harus mengikuti karena sebagai negara berkembang kita harus melewati tahapan seperti itu. Selain itu, dalam bidang pertanahan, BPN harus lebih transparan, karena seiring waktu bidang pertanahan itu akan semakin penting bagi kita semua.” ungkapnya.

Richard berharap agar pemerintah mulai bergerak untuk membenahi masalah pertanahan ini. Adanya BPN sudah tentu membantu, tetapi akan jauh laebih membantu apabila BPN ditingkatkan menjadi setara dengan kementerian mengingat masalah pertanahan di Indonesia sangat rawan terjadi konflik, baik antar masyarakat, pemerintah maupun dengan negara lain terkait perbatasan antar negara.

Sebagai orang yang sudah berkecimpung sekian lama di dunia notaris dan PPAT, Ricard sangat memahami betul kebutuhan masyarakat Indonesia. Bagaimana tingginya biaya dan ruwetnya menyelesaikan urusan pertanahan misalnya, dalam hal ini ia memiliki kiat-kiat dalam mengatasi segala problem tersebut.

“Kalau kita idealis mungkin akan selalu bersebrangan dengan BPN, entah instansi BPN itu sendiri atau mungkin pelaksananya yang kurang professional. Bergantung pada kondisi yang sudah ada, kita harus lihai. Main bersih kita siap, diluar itu juga ayo saja, tentu sedapat mungkin kita hindari, karena pada dasarnya dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu tidak dapat lepas dari hati nurani. Makanya untuk para generasi muda yang baru saja bergabung di kantor notaris kita ucapkan selamat bekerja. Ilmunya sudah ada dan dapat dipelajari darimana saja, tinggal penerapan langsung berhadapan dengan masyarakat banyak.” pungkasnya.

Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS

Kualitas SDM Tidak Kalah

Dunia kedokteran Indonesia akan memasuki zaman baru di era globalisasi. Pasien Indonesia yang sebelumnya berbondong-bondong ke luar negeri untuk berobat, di era keterbukaan tidak perlu melakukannya. Karena para dokter dan ahli kesehatan dari seluruh dunia bebas membuka praktek di negara manapun termasuk Indonesia. Di akui teknologi kesehatan di bidang orthopaedi dalam beberapa hal agak terbatas khususnya di daerah, tetapi di pusat-pusat pendidikan orthopaedi Indonesia teknologi tersebut telah memadai.

Oleh karena itu, pasien Indonesia yang biasanya berobat ke luar negeri cukup dilayani di negeri sendiri. Memang sebagian rumah sakit Indonesia telah menempatkan tenaga dokter luar negeri di RS yang dipimpinnya. Hal ini sesuai kesepakatan aturan Depkes dalam era globalisasi ini. Sekali lagi, kualitas SDM kedokteran Indonesia tidak kalah dengan para dokter asing. Dokter Indonesia bahkan memiliki kelebihan memahami karakter bangsa Indonesia secara mendalam sehingga mampu memahami pasien dengan baik.

“Di daerah, khususnya dari segi teknologi kedokteran kita memang kurang. Tetapi secara kualitas, dokter Indonesia mampu mengimbangi dokter luar negeri. Sebenarnya, kemampuan dan prestasi kedokteran kita masih bisa mengimbangi luar negeri. Jadi kita tidak perlu minder atau menjadi luar negeri minded,” kata Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS.

Spesialis orthopaedi dari RS Orthopaedi Dr. Soeharso Solo ini, mengungkapkan bagaimana sebuah operasi putus tendon Achilles menjadi berita besar beberapa tahun lalu. Penyebabnya, operasi tersebut dilakukan di sebuah rumah sakit besar di luar negeri. Pemberitaan media massa yang cukup gencar, membuat peristiwa tersebut seolah-olah operasi besar yang hanya bisa dilakukan oleh seorang spesialis dan pakar dari rumah sakit besar dan luar negeri.

Sejatinya, operasi putus tendon Achilles serta kasus-kasus serupa lainnya bisa dilakukan di Indonesia. Di rumah sakit Dr. Soeharso Solo, operasi sejenis sering dilakukan. Baik untuk “sekadar” me-repair tendon Achilles maupun untuk merekonstruksinya hingga berfungsi seperti sedia kala.

“Sayangnya, operasi tersebut tidak pernah dimuat di koran,” ujarnya. Sutopo mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk menggalakkan ’Aku Cinta Indonesia’ dan meningkatkan rasa handarbeni (memiliki) Indonesia. “Saya senang sekali acara ‘Beli Indonesia’ di Solo beberapa waktu lalu, 20 Juni 2011, itu akan menggugah masyarakat Indonesia untuk mencintai produk bangsa sendiri,” imbuh Sutopo yang berharap masyarakat Indonesia tidak silau terhadap hal-hal yang berbau luar negeri ini.

Sutopo mengakui globalisasi memberi pengaruh positif di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi orthopaedi. Hanya saja, ia mengingatkan pengaruh tersebut harus disikapi dan disesuakan dengan kondisi di dalam negeri itu, khususnya menyangkut dana yang diperlukan. Karena dana sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan dunia orthopaedi terkait peralatan yang berharga cukup mahal.

Di sisi lain, lanjutnya, Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas memerlukan banyak sekali sarana dan prasarana kesehatan. Utamanya wilayah luar Jawa yang sangat minim fasilitas kesehatan serta fasilitas umum lainnya. Kondisi tersebut, membuat tenaga-tenaga kesehatan enggan ditugaskan ke daerah, meskipun belum termasuk daerah terpencil. Akibatnya, rakyat di daerah yang harus menanggung akibatnya sehingga sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Dokter, baik orthopaedi maupun lainnya, dalam bekerja memerlukan sarana dan prasarana. Itu harus disiapkan oleh pemerintah. Sehubungan dengan itu, alat-alat untuk operasi, fasilitas transportasi dan perumahan harus dipenuhi, jadi tidak melulu gaji bulanan saja. Pemerintah juga harus memberikan saran-saran untuk mengarahkan mereka. Karena tugas dokter tidak hanya di Jakarta atau Jawa saja, tetapi di daerah banyak diperlukan dokter. Kalau tidak, anak daerah harus belajar keras hingga menjadi dokter atau ahli lainnya untuk membangun daerah masing-masing,” tegasnya.

Falsafah ‘Mbanyu Mili”

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada pada tanggal 30 Agustus 1969, Dr. H. Sutopo Somaprawiro, SpOT, FICS, tidak segera mengurus penempatan kerja. Saat itu, ia masih menikmati masa bakti sosial, kegiatan yang lebih dikenal dengan sebutan ‘turba’ atau turun ke bawah. Kegiatan turba, saat itu sedang ngetrend dilakukan oleh sarjana kedokteran yang baru lulus.

Ia selalu mengikuti kegiatan berkeliling daerah, mulai di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Lampung, sampai Sumatera Selatan. Memang sejak belum lulus kuliah, ia sudah aktif mengikuti turba bersama para senior. Bahkan setelah lulus pun, ia masih aktif dalam kegiatan ini. “Saya ikut turba baik sebagai tim medis maupun sebagai bagian tim lengkap yang terdiri atas tim pertanian, tim dakwah, maupun tim sosial lain,” ujarnya.

Hingga akhirnya, Sutopo tersentak oleh kesadaran yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Pertanyaan tersebut adalah, kapan dirinya akan bekerja sebagai dokter sungguhan. Berkat jasa Prof. Dr. R. Soeharso (alm), ia ditempatkan di Lembaga Orthopaedi dan Prothese (LOP) Surakarta, sebagai pegawai bulanan. “Beliau mengajukan nama saya kepada pihak Departemen Kesehatan RI untuk menempatkan saya di LOP Surakarta. Saat ini LOP Surakarta menjadi RS Orthopaedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta dan Bagian Prothese hanya menjadi bagian dari Rehabilitasi Medik di RS Orthopaedi tersebut,” katanya.

Mengenai orthopaedi, spesialisasi yang ditekuninya selama ini, Sutopo mengetengahkan batasannya yang diambil dari American Academy of Orthopaedic Surgery (1960), yaitu: ‘Orthopaedics is the medical specialty that includes the investigation, preservation, restoration, and development of the form and function of the extremities, spine, and associated structure by medical, surgical, and physical method.’

Berdasarkan batasan itu maka ruang lingkup orthopaedi dan traumatologi sama dengan ruang lingkup kedokteran pada umumnya, yaitu kelainan bawaan (sejak lahir), trauma, infeksi, neoplasma (tumor), kelainan degeneratif (kemunduran), kelainan metabolic, bahkan kelainan fungsi dan bentuk akibat/segualae cerebral palsy dan poliomyelitis, yang mengenali anggota gerak atas, anggota gerak bawah, dan tulang belakang, baik mengenai tulangnya sendiri maupun mengenai associated structure.

Di Indonesia, lanjutnya, digunakan singkatan SpOT untuk Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi yang diletakkan di belakang nama dokter. SpOT ini tergabung dalam Perhimpunan Ahli Bedah Orthopaedi Indonesia atau PABOI yang berinduk pada Ikatan Dokter Indonesia. Saat ini anggota PABOI sudah lebih dari 400 orang dokter ahli ortopedi. Menurut Sutopo, jumlah tersebut sangat sedikit mengingat jumlah penduduk Indonesia mencapai 234 juta jiwa. Saat ini PABOI memiliki 13 cabang di Indonesia, meliputi seksi yang jumlahnya ada tujuh, yakni seksi-seksi spine, hand, orthopaedic pediatric, sport, joint replacement, orthopaedic oncology dan yang terbaru yaitu orthopaedic rheumatology. Indonesia Orthopaedic Rheumatology Association (IORA) dibentuk pada tanggal 16 Juni 2011 di Pekanbaru.

“Solo menjadi center pendidikan orthopedi yang kelima, sekarang sudah bertambah tiga lagi. Jakarta, Surabaya, Makassar, Bandung, Solo, Medan, Denpasar dan lain-lain. Sekitar ada sepuluh center ortopedi di seluruh Indonesia, dengan dokter ahli orthopaedi di hampir seluruh kabupaten di Jawa sudah,” ujarnya. Ia mengacu pada keberadaan pusat pendidikan orthopaedi di tanah air ini. Semula hanya ada di UI Jakarta dan Unair Surabaya. Kemudian berkembang pula di Unhas Makassar, Unpad Bandung, UNS Surakarta, dan akan diikuti oleh pusat pendidikan lain di Indonesia. “Khusus di Solo, pendidikan orthopaedi diselenggarakan oleh UNS yang bekerjasama dengan RSOP Prof. Dr. R. Soeharso dan RSUD Dr. Moewardi,” imbuhnya.

Sutopo memasuki masa pensiun per tanggal 1 April 2002, saat menginjak usia 60 tahun setelah menjalani masa bakti selama 32 tahun. Pria kelahiran Purworejo, 25 Maret 1942 ini mengaku tidak punya alasan khusus menggeluti profesi di bidang ini. “Saya mengikuti falsafah ‘mbanyu mili, yaitu mengalir seperti air. Sesuai sifatnya, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Ini juga yang menjadi salah satu sunatullah,” kata anak dari pasangan H. Mustofa dan Hj. Sutirah ini.

Sesuai dengan falsafah tersebut, kita harus qonaah yaitu merasa cukup, puas dan senang hati serta ridhlo atas apa yang telah dianugerahkan atau ditakdirkan oleh Allah SWT kepada kita dan yakin bahwa itu yang terbaik bagi kita. Qonaah tidak berarti fasilitas serta menerima nasib secara pasif tanpa ikhtiar. Setelah ikhtiar secara maksimal dan sambil berdoa, maka harus ridhlo atas hasilnya atau keputusan Allah SWT. “Saya telah ditakdirkan untuk berbakti di Solo,” ujarnya.

Berkutat di lingkungan orthopaedi, Sutopo menemui kenyataan banyaknya masyarakat yang memerlukan pelayanannya. Berbarengan dengan itu, menurutnya, orthopaedi sebagai ilmu atau disiplin kedokteran masih belum dikenal secara meluas. “Secara tidak langsung, timbul rasa cinta pada ilmu atau disiplin kedokteran ini sehingga saya termotivasi untuk mempelajari dan mengamalkannya pada mereka yang memerlukan pelayanan ini,” ujarnya.

Sutopo prihatin karena keberadaan spesialis orthopaedi dan traumaologi masih sangat terbatas untuk rasio penduduk Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa. Maka, ia dituntut berlaku istiqomah, yaitu memiliki keteguhan hati untuk mempelajari, menekuni, dan mengamalkan ilmu ini. Komitmen kuat Sutopo untuk menekuni bidang ini menemui kendala besar, terlebih untuk berprofesi sebagai ahli bedah orthopaedi. Kendala ini terkait dengan sistem pendidikan yang ada. Sistem pendidikan di Solo waktu itu, LOP mensyaratkan pendidikan ahli bedah orthopaedi selama lima tahun hanya bisa di ikuti oleh dokter umum.

Sutopo yang baru satu tahun menjadi asisten Soeharso harus menerima kenyataan pembimbingnya itu wafat pada tanggal 27 Juli 1971. Sementara di Jakarta mensyaratkan pendidikan ahli bedah orthopaedi selama dua tahun dan bisa diikuti oleh dokter umum. “Jalan buntu menghadang di depan saya. Saya sempat ditawari oleh Direktur LOP ke dua – alm. Dr. Hermawan Sukarman Sp.BO – untuk mengambil keahlian tertentu yang masih ada hubungannya dengan orthopaedi di Australia seperti ahli paraplegi atau ahli rheumatologi. Atau, saya dianjurkan mengambil spesialis lain di dalam negeri,” ujar Sutopo yang mengambil sikap untuk tetap bekerja di LOP Surakarta. Di situ ia bisa terus memberi pelayanan dan tentu saja sambil belajar.

Sampai akhirnya, atas jasa Prof. Dr. H. Sularto Reksoprojo, FICS (alm), ia diijinkan mengikuti pendidikan Ahli Bedah Orthopaedi di FKUI Jakarta mulai Mei 1976 secara resmi. Sebelumnya, ia juga berkesempatan berpartisipasi dalam The First National Congress of the Indonesian Orthopaedi Association, Jakarta, 1-3 Nopember 1974 dan Simposium Orthopaedi Daerah, Jakarta, 25 Oktober1975.

Setelah lulus pendidikan ahli bedah orthopaedi pada 17 Nopember 1978, Sutopo merasa lebih mantap bekerja. Ia melaksanakan pengabdian kepada begitu banyak pasien dengan beragam penyakit orthopaedi dan cacat fisik orthopaedi. Berdasarkan pengamatannya Sutopo berpendapat, pertambahan jumlah spesialis orthopaedi dan traumatologi dibarengi dengan pertambahan jumlah pasiennya. “Jumlah pasien orthopaedi di Solo tidak berkurang. Ternyata ungkapan ‘The orthopaedic surgery is A surgery for yesterday, today and tomorrow’ menjadi benar adanya,” ujarnya.

Meski demikian, Sutopo tak ingin menyangkal perkembangan ilmu orthopaedi dan traumatologi di Indonesia cukup maju. Baik pengetahuan mau pun teknologinya selalu mengikuti perkembangan mutakhir. Menurutnya kemajuan ini dipicu oleh:
 Pertama, Continuing Orthopaedic Education (COE) rutin dilaksanakan setiap enam bulan. Ini merupakan ajang pertemuan para spesialis orthopaedi dan traumatologi sekaligus untuk menyimak presentasi yang disampaikan oleh para ahli-ahli dari dalam dan luar negeri.
 Ke dua, kongres PABOI yang rutin diadakan setiap dua tahun. Forum yang lebih akbar ini menghadirkan presentasi para ahli dari luar negeri dengan porsi yang lebih besar pula.
 Ke tiga, simposium atau seminar baik yang dilaksanakan oleh bagian orthopaedi fakultas kedokteran berbagai universitas di Indonesia mau pun rumah sakit tertentu.
 Ke empat, para ahli dari Indonesia aktif mengikuti pertemuan-pertemuan international.

Mengaitkan kemajuan ini dengan keberadaan dirinya saat ini, Sutopo yang telah menjadi “lansia” secara fisik dan talenta, merasa mengalami penurunan kompetensi seperti dalam hand surgery, micro surgery, dan navigated surgery. Meskipun demikian, ia sangat bersyukur karena sebagian rekan-rekan spesialis orthopaedi dan traumatologi –tentu yang lebih muda dan potensial– sangat aktif dan involved. Bahkan sebagian dari rekan-rekannya tersebut telah go international, sehingga minimal kita tidak makin tertinggal.

“Beberapa hari lalu, tanggal 16-18 Juni 2011 di Pekanbaru, saya menghadiri COE ke-58. Di sana, diketahui bahwa Dr. Andri MT Lubis, SpOT, baru saja berhasil meraih Juara II dalam sebuah forum internasional di Amerika. Ini merupakan salah satu indikasi bahwa kita tidak perlu rendah diri terhadap kemajuan kedokteran dunia luar. Meskipun saya tidak pernah mendapat seperti itu, tetapi saya turut bangga atas pencapaian tersebut,” ungkapnya bangga.

Pelayanan Orthopaedi Meluas

Harapan Sutopo terhadap kedokteran orthopaedi tidak terlalu muluk. Ia hanya mengharapkan agar tetap bisa melayani penderita-penderita orthopaedi di usia senjanya. Selain itu, ia ingin menolong siapa pun -baik kaum dhuafa atau pun pasien biasa- yang datang menemui sampai saat-saat terakhir dalam hidupnya. Satu hal yang selalu diinginkannya adalah, meskipun dengan usia yang semakin menua, Sutopo ingin masuk dalam kategori manusia yang baik, yaitu manusia yang berumur panjang dan baik amalnya.

“Saya ingin baik dalam bersikap dan beramal untuk masyarakat umum, anak cucu, dan keturunan-keturunan selanjutnya. Bukan saja di bidang orthopaedi tapi juga dalam kehidupan sosial keagamaan. Harapan saya yang lain dapat menangi (Jawa) selesainya pendidikan anak keempat, bisa mensupport dan mendukung sampai dia berkeluarga,” katanya.

Khusus bagi para spesialis orthopaedi dan traumatologi yang lebih muda, Sutopo berharap mereka senantiasa terpacu untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan ke-orthopaediannya. Ia berharap mereka bisa meningkatkan pelayanan tanpa pilih-pilih pasien miskin atau dhuafa dan pasien VIP atau elit. Sehingga, terjadi pula peningkatan pengabdian dan dedikasi kepada masyarakat dan bangsa, selain tentu saja untuk peningkatan kesejahteraan diri dan keluarga semata. “Masyarakat Indonesia harus tahu, bahwa spesialis orthopaedi dan traumatologi Indonesia telah sejajar dengan sejawatnya di luar negeri yang ipteknya sudah sangat maju,” ujarnya bersemangat.

Di sisi lain, Sutopo mengaku tidak menemui hambatan berarti dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya kepada masyarakat. Kesibukan yang nyaris menyita waktunya 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu tidak menjadi beban selama keluarga tetap mendukungnya.

“Itu dulu, tetapi secara umum, tidak ada masalah dengan dukungan keluarga. No problem. Paling-paling, terkadang mereka harus membukakan pintu pada setengah atau sepertiga malam terakhir, saat saya harus pergi meninggalkan rumah atau pun pulang dari rumah sakit. Atau kesibukan saya terkadang mengganggu acara keluarga yang sudah direncanakan,” kata ayah dari Dr. Vita Susianawati, Sp.A, M.Kes; Afiani Dwi Handayani, SPsi., Psi; Arif Nugroho, ST, SE; dan Muhammad Subarkah ini.

Sutopo tetap memegang erat pendapatnya yang menyatakan dokter adalah profesi mulia dan luhur. Agaknya, pendapat pribadi Sutopo sejalan dengan pendapat yang berlaku umum, menjadikan profesi ini sebagai ladang untuk berbakti kepada masyarakat dan pengguna jasa kedokteran. Selain itu, ia juga menjadikan profesi ini sebagai sarana mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

“Saya sudah semakin tua. Tetapi saya semakin merasakan bertambahnya kewajiban untuk membantu dan menolong masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah mereka. Khusunya pada masalah kesehatan dan masalah sosial keagamaan pada umumnya,” kata suami Hj. Siti Awalina ini dan kakek tujuh orang cucu ini.

Tanpa bermaksud menggurui, ia mencoba mengingatkan bahwa tujuan penting menjalani kehidupan ini adalah mencapai kebaikan di dunia dan akhirat. “Kita akan mencapai posisi tertinggi saat berhasil menjadi muttaqin, yaitu orang yang bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya,” kata Sutopo yang tergerak untuk menyampaikan pesan reliji kepada generasi muda. Sebuah hadist Nabi menyebutkan, Allah SWT mencintai orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, tapi lebih mencintai orang-orang muda yang bertakwa, tanpa memandang profesi dan pekerjaannya.

Akhir kata, setelah penisun dari PNS, Sutopo saat ini menjadi dokter mitra di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dan RS Islam Yarsis Surakarta di Pabelan, Sukoharjo.

H. Yusuf Nasih, S.Sos., MM

Wakil Ketua DPRD Bekasi

Harus Sigap Menghadapi Pasar Bebas

Pada era perdagangan bebas -ditandai diterapkannya AFTA dengan China, Januari 2010- siap tidak siap Indonesia harus menghadapinya. Perjanjian tersebut membuat wilayah Asean menjadi pasar bagi produk industri China tanpa biaya masuk sama sekali. Aturan itu, membuat peta persaingan usaha di Indonesia berubah seiring banjir produk berharga murah dari negeri tirai bambu.

Akibatnya bisa ditebak, perlahan namun pasti pasar bebas akan mematikan sektor industri di Indonesia. Bahkan sebelum diterapkan AFTA pun, sektor perdagangan eceran (ritel) skala internasional yang masuk hingga pelosok kampung telah melumpuhkan pasar tradisional. Di sisi lain, pemerintah Indonesia terkesan melakukan “pembiaran” terhadap desakan yang mengancam kehidupan rakyat tersebut.

“Belum terdengar sekali pun komentar pemerintah mengenai AFTA ini, tidak ada penjelasan sama sekali. Padahal kondisi di lapangan sudah tidak bisa menunggu lagi dalam menghadapi serbuan produk luar negeri. Saya berkesimpulan bahwa pemerintah tidak tegas memberikan program kepada masyarakat kita. Tetapi pemerintah malah membiarkan masyarakat mencari tahu sendiri, mencari solusi masing-masing atas problematika yang dihadapinya. Masyarakat dibiarkan sendiri tanpa pengayoman,” kata H. Yusuf Nasih, S.Sos., MM., Wakil Ketua DPRD Bekasi.

Menurut Haji Yunas –panggilan akrab pria kelahiran Bekasi, 25 September 1954 ini, secara politik pun pemerintahan sekarang tidak berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Bahkan terdapat “kekurangan” yang sangat mengganggu, yakni ketegasan dari pimpinan tertinggi pemerintahan, Presiden. Kinerja presiden yang dipilih secara langsung dan mendapat suara mutlak tersebut belum bisa meyakinkan masyarakat.

Ia mencontohkan, bagaimana dari beberapa polling yang diselenggarakan oleh lembaga independent, terlihat bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin menurun. Selain kurang responsive terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat, pemerintah juga terbebani dengan berbagai masalah. Seperti kasus Bank Century, yang hampir-hampir mewacanakan pemakzulan terhadap kepemimpinan Presiden SBY.

“Semua diserahkan kepada masyarakat, yang penting jangan sampai melanggar koridor hukum dan ketatanegaraan. Karena itu, orang sekarang harus sigap dalam menghadapi situasi pasar bebas. Bagi masyarakat Bekasi, nampaknya mereka juga belum siap, baik di pasar tradisional, ritel serta pabrik-pabrik yang banyak terdapat di wilayah ini,” ujarnya.

Meskipun demikian, Haji Yunas berharap besar generasi muda mampu membawa bangsa ini keluar dari kemelut. Tetapi generasi muda memerlukan modal yang memadai, seperti harus rajin belajar, peka terhadap situasi bangsa dan secara terus menerus belajar kepada kelompok masyarakat yang mempunyai kharisma. “Generasi muda sekarang jangan pesimis, mereka harus optimis, pantang mundur dalam menghadapi tantangan ke depan. Mereka harus banyak belajar dari generasi terdahulu,” imbuhnya.

Dunia Politik Dinamis

Karier sulung delapan bersaudara anak pasangan Pani dan Ny Minah di politik sudah dimulai sejak tahun 80-an. Sejak dirinya menjadi Kepala Desa, politisi dari Partai Golkar ini aktif di kelembagaan partai hingga menjadi Ketua PK Golkar Kecamatan Jatisampurna, hingga sepuluh 10 tahun lamanya. Hingga akhirnya tahun 2004, ia terpilih sebagai Anggota DPRD Bekasi.

“Saya sebelumnya sudah mencalonkan diri tetapi gagal. Tetapi untuk masuk dan terpilih sebagai anggota DPRD ini juga tidak gampang. Karena selain saingan eksternal, secara internal pun kita bersaing. Bahkan barangkali lebih banyak saingannya. Makanya kita perlu melakukan sesuatu yang dapat mempercayai kelembagaan partai, sehingga paling tidak kita bisa melanjutkan perjuangan partai di DPRD,” tuturnya.

Perjuangan panjang dan melelahkan yang dilakoninya membuahkan hasil. Kini ia adalah Wakil Ketua DPRD Bekasi, setelah sebelumnya menduduki beberapa posisi strategis seperti Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar. Ketika perpecahan di tubuh Partai Golkar terjadi saat Pilkada Bekasi, ia konsisten untuk mendukung calon dari partainya.

“Dari situ saya dapat reward dari partai untuk menduduki jabatan Ketua Fraksi. Itu kan sangat strategis karena ketua fraksi bisa mengatur semua anggota-anggotanya dan ketua fraksi bisa melobi fraksi lainnya untuk menentukan kebijakan DPRD yang dianggap terbaik. Hingga saya menjadi Ketua DPRD Bekasi pengganti antar waktu selama sembilan bulan. Di DPRD, saya telah mengalami jabatan dari yang terkecil hingga terbesar,” kata wakil rakyat yang terpilih untuk kedua kalinya ini.
Menurut Haji Yunas, dunia politik terus bergerak sangat dinamis. Bagaikan tiupan angin, arah politik bisa berubah-ubah. Kecermatan dalam mengamati arah angin akan membawa kepada keputusan yang tepat. Semua itu, membutuhkan perjuangan, ketekunan dan “jam terbang” yang cukup. “Karena politik itu benar-benar dinamis yang setiap saat harus kita ikuti perkembangannya kalau ingin berkarier di sini,” katanya.

Apalagi, lanjutnya, ketika dalam perjuangan tersebut mendapat kepercayaan masyarakat. Para wakil rakyat harus betul-betul mengerjakan tugasnya dengan baik. Adapun tugas-tugas sebagai wakil rakyat secara garis besar ada tiga tugas pokok, yakni legislasi, budgeting dan pengawasan. Ketiga tugas tersebut terintegrasi dalam diri setiap wakil rakyat di Indonesia yang menjadi kewajibannya.

“Menjadi perjuangan kita sebagai anggota dewan agar program-program yang kita perjuangkan betul-betul menjadi kenyataan di masyarakat. Apalagi sebagai anggota dewan dari sebuah kota yang otonom, bagaimana memberikan support terbaik bagi masyarakat. Seperti Pemda Bekasi yang memiliki visi “Bekasi Bersih, Bekasi Cerdas”, “Bekasi Sehat”, hal seperti itu yang dinantikan masyarakat. Mereka menunggu bentuk-bentuk konkretnya pelayanan pemerintah yang mengarah kepada visi-visi tersebut,” jelas Koordinator Komisi A dan Koordinator Badan Kehormatan Dewan ini.

Menjadi tugas lembaga pengawas untuk melihat apakah yang dilakukan pemerintah sudah mendekati visi-visi yang dicanangkan. DPRD menginvestigasi dan mengevaluasi sejauh mana pelaksanaan program tersebut sampai kepada masyarakat. Seandainya pelaksanaan program tidak merata, harus didorong lagi sehingga program yang direncanakan terlaksana dengan baik. “Dengan tiga fungsi tadi, sebagai anggota dewan yang bertugas mengontrol pemerintah, kita menginginkan program yang dilaksanakan pemerintah berjalan dengan baik,” tambah ayah tujuh anak dari perkawinannya dengan Hj Mimin tahun 1979 tersebut.

Melakukan Yang Terbaik

Selain sebagai Wakil Ketua DPRD Bekasi, H. Yusuf Nasih, SSos., MM, juga menjabat sebagai Ketua DDI (Donor Darah Indonesia) Cabang Bekasi serta Ketua Asosiasi LPM Bekasi. Meskipun sangat sibuk, ia telah mencanangkan untuk menyelesaikan tugas dengan baik selama lima tahun ke depan. Tentu saja, dengan mengerahkan segenap kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan masyarakat Bekasi yang telah memilihnya selama dua periode ini.

“Saya selalu melakukan introspeksi terhadap diri saya sendiri. Kemudian saya kombinasikan dengan kondisi keluarga -utamanya anak-anak saya sendiri karena yang paling kecil baru kelas II SMP- untuk memberikan apa yang saya mampu, apa yang saya bisa dan melakukan yang terbaik untuk masyarakat Bekasi. Selanjutnya, bagaimana nanti kita lihat situasinya karena episode ini bisa berlanjut,” kata pria yang lahir dan besar di Bekasi ini.

Alasan untuk terlebih dahulu melihat kondisi keluarga, menurut Haji Yunas tidak lepas dari dukungan yang diberikan mereka. Karena di awal keterlibatannya di DPRD Bekasi, keluarga besarnya tidak tahu bagaimana tugas seorang anggota dewan. Mereka shock melihat panutannya, ayahnya dan suaminya bekerja tidak kenal waktu, sehingga terkesan lebih memilih pekerjaan daripada keluarga. “Tetapi melalui perkumpulan istri anggota dewan yang sering berkumpul dan berdiskusi, lama kelamaan keluarga mengerti, memahami dan mendukung tugas-tugas kami,” tegas kakek empat cucu ini.

Membandingkan situasi politik zaman dahulu dan sekarang, menurut Haji Yunas sangat terasa perbedaannya. Ia mencontohkan bagaimana saat menjabat sebagai Kepala Desa sekaligus Pembina Golkar di wilayahnya. Sebagai Pembina Golkar tugasnya adalah bagaimana memenangkan Golkar dalam setiap Pemilu, tidak lebih. Pembina Golkar, hanya dijadikan sebagai pelaksana program oleh pimpinan di atasnya.

“Artinya kita tidak boleh meminta melakukan sesuatu ke atas, manut saja jadi bemper pimpinan. Berbeda dengan sekarang, masyarakat bisa berpikir, berkreasi dan bercita-cita lebih luas. Dulu masyarakat kecil kelihatan tenang dan tidak ada gejolak, tidak ada perbedaan satu dengan lainnya karena struktur politik sudah merasuk ke unit-unit terkecil. Seperti adanya KB, 10 Program PKK, sehingga masyarakat yang ada di pedesaan dan perkotaan itu benar-benar terbina dan mendapat motivasi dari Dinas Penerangan,” tandasnya.

Liesna Sulistiowati Shaw

Owner Marvellous Little Maestro dan GaleriLiesna

Memupuk dan Mengeksplorasi Bakat Dengan Menyenangkan

Bakat adalah bawaan lahir yang merupakan karunia Tuhan. Namun bakat besar akan sia-sia tanpa usaha keras untuk memupuk dan mengekplorasinya. Banyak orang berbakat yang tidak berhasil dalam hidup karena mengabaikan bakatnya. Sebaliknya, banyak orang tidak berbakat justru sukses karena kerja keras dan kesadaran akan bakat yang tidak dimilikinya. Seperti ungkapan Thomas A. Edison, bahwa bakat hanyalah 1 persen dari keberhasilan, sementara 99 persen sisanya adalah hasil kerja keras.

Meskipun demikian, bukan berarti orang berbakat tidak bisa berhasil. Asalkan rajin memupuk dan mengeksplorasi bakatnya, kesuksesan akan berhasil diraih. Salah satu lembaga kursus untuk memoles bakat sejak usia dini adalah Marvellous Little Maestro yang bertempat di Kemang. Bakat yang ditangani terutama dalam seni menggambar dengan merangsang anak-anak untuk mengekspresikan diri dan mengeluarkan kemampuan dalam dirinya.

“Fungsi otak sedang berkembang pada saat usia balita, periode ini disebut juga sebagai periode emas. Demikian pula dengan kreativitas-nya, dengan memadukan brain, hand, eyes dan heart coordination, seorang anak akan mengeksplor secara visual. Kemudian pada usia lima tahun keatas, mereka mulai memperhatikan alam di sekitarnya. Nah, alat yang tepat untuk membina reflek kreativitas adalah dengan cat, kuas, krayon, kertas dan alat gambar lainnya.” kata Liesna Sulistiowati Shaw, Pendiri dan Owner Marvellous Little Maestro.

Pilihannya untuk melakukan pembinaan terhadap anak-anak dilandasi oleh keyakinan bahwa setiap anak bisa menggambar. Hanya saja, banyak yang kemudian merasa gambar atau lukisannya kurang bagus. Sebenarnya hal ini karena tidak pernah dilatih sejak kecil. “Padahal, ketika seorang anak pada usia tiga tahun sudah mampu menggoreskan suatu komposisi, ini sudah menunjukkan ekspresinya yang sangat kuat, terkait kemampuan dan perkembangan motorik anak,” ujar Liesna yang gemar mengumpulkan buku-buku bertema gambar dan lukis untuk kemajuan anak-anak didiknya.

Selain itu, lanjut Liesna, apresiasi masyarakat terhadap seni lukis, terutama pada anak-anak masih kurang. Berbeda dengan seni musik misalnya, yang hampir setiap stasiun televisi berlomba menayangkannya. Dengan dukungan suami dan teman-temannya, ia kemudian mendirikan Marvellous Little Maestro (MLM) pada awal tahun 2010. Tujuannya menampung sekaligus membina dan mengembangkan kreativitas dan bakat anak dalam seni gambar dan lukis.

“Kalau dibandingkan dengan bidang seni musik, apresiasi terhadap gambar menggambar masih sangat kurang di masyarakat. Begitu juga tempat memupuk bakat-bakat menggambar anak-anak masih sangat sedikit. Makanya, dengan dukungan suami dan keluarga saya membuka sanggar ini dengan harapan untuk merangsang kreativitas anak-anak secara menyenangkan,” katanya. Oleh karena itu, lembaga yang didirikannya pun mengusung tag “Explore Your Talents With So Much Fun”. “Fun-nya bagaimana? Kita membuat nyaman si anak yang belajar gambar dan lukis, serasa di rumah sendiri dengan menggunakan macam-macam medium yang disukai anak. Selain itu kami juga mengolah segala macam barang bekas menjadi berguna kembali, seperti bekas stik ice cream, kotak, kardus, dll,” lanjutnya. “Disini kami juga selalu mengingatkan anak-anak murid untuk selalu mengumpulkan hasil karya mereka.”

Awalnya, pemilik GaleriLiesna ini mengajar menggambar dan melukis dari rumah ke rumah secara privat sejak tahun 2006 sampai 2008. Saat liburan sekolah tiba, ia membuka Arts & Crafts Holiday for Children di rumahnya, di kawasan Kemang. Ternyata peminatnya sangat banyak sehingga didirikanlah sanggar dan tempat les gambar dengan materi yang menarik, edukatif sekaligus menyenangkan bagi anak-anak. Tahun 2009, ia mulai menyusun materi dan kurikulum yang dibutuhkan untuk pendiriannya.

“Karena orang Indonesia tertarik dengan nama-nama bahasa Inggris, akhirnya kita menggunakan nama yang keinggris-inggrisan. Walaupun telah mengumpulkan ide bermacam-macam nama, akhirnya terpilihlah Marvellous Little Maestro. Kata Marvellous ini sebenarnya kata yang sering diucapkan oleh anak sulung saya. Jadilah ide itu dan secara resmi bernama Marvellous Little Maestro!” ujarnya.

 

Berawal dari Sketsa

Ketertarikan dosen Desain Komunikasi Visual, Universitas Pelita Harapan, Karawaci ini terhadap seni lukis anak dilandasi keinginan untuk terus memajukan kreativitas anak-anak Indonesia. Menurutnya, memberikan dasar kemampuan menggambar secara dini bagi anak sangat berguna bagi masa depan mereka. Setidaknya, dari riwayat sukses para innovator dunia di masa lalu menunjukkan bahwa kemampuan sketsa, menggambar dan memvisualkan ide dari benak sangat berperan besar.

“Ini benar-benar basic yang bagus bagi anak-anak untuk berkarya dan menghargai diri sendiri dan karya mereka. Dengan menghasilkan suatu kreasi, mereka akan bangga dan percaya diri terhadap kemampuannya. Ditambah dengan apresiasi dari keluarga dan sekolah, mereka akan belajar mengekspresikan diri. Visual thinking yang baik dapat menghasilkan gambar-gambar untuk masa depan mereka. Kita bisa lihat sejarah penemu besar seperti Einstein, Leonardo Da Vinci, Galileo Galilei dan lain-lain, berawal dengan membuat sebuah sketsa, coretan-coretan, sebelum menciptkan karya besar mereka,” kata ibu empat anak, istri Bima Shaw ini.

Dalam kegiatannya sebagai dosen, Liesna juga selalu menekankan kepada para mahasiswa desainnya agar membuat sketsa dulu di kertas, untuk mendapatkan ide-ide, baru kemudian dikembangkan menjadi suatu desain. Bukan tidak mungkin, dari sketsa-sketsa yang sudah terkumpul itu akan lahir karya-karya besar.

Apalagi, ia melihat bagaimana generasi muda sekarang ini jauh berbeda dengan pengalamannya. Saat ini, generasi muda dibanjiri informasi dari berbagai sumber yang lebih banyak menawarkan hiburan. Seperti televisi dan teknologi informasi (IT) yang bebas dinikmati kapan saja. Semua informasi menawarkan gaya hidup serba instant, mudah dan menyenangkan.

“Ketika saya masih sekolah dulu, hanya ada satu channel TV dan informasinya pun sangat dibatasi. Tetapi justru itulah yang membuat kita kreatif, main di luar dengan pasir, tanah, tanaman dan lain-lain. Sedangkan anak-anak jaman sekarang memiliki tantangan agar tetap kreatif di dunia yang penuh saingan, di dunia yang penuh informasi dan teknologi yang tak terbatas ini,” ungkapnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana generasi muda tetap kreatif dan orisinil di tengah gencarnya informasi di sekelilingnya. Originalitas akhirnya menjadi sangat sulit akibat informasi yang beredar di sekeliling mereka. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar generasi muda mencari jati dirinya sebagai generasi muda Indonesia. Artinya, generasi muda harus memahami dan mengerti seni dan kebudayaan Indonesia serta menjadikannya sebagai pondasi bagi karya kreatifnya.

“Mereka harus mengerti, memahami arts and culture Indonesia sebagai pondasi yang kuat. Setelah itu mereka tetap berkreasi menjadi dirinya sendiri dan terus menggali kemampuan dalam dirinya. Apapun yang disukai harus dipelajari dan dicari ilmunya, tetapi harus focus on something you like. Misalnya anak menyukai komik sekaligus culture Indonesia, bisa saja dia meng-create komik dengan culture Indonesia tetapi bisa mendunia, mengapa tidak?” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 30 Juni 1972 ini.

Putri kedua dari empat bersaudara pasangan Bambang Subianto dan Srie Wahyuni ini mencontohkan bagaimana di Amerika diciptakan tokoh-tokoh superhero seperti Superman, Batman. Penciptaan tokoh imajinasi tersebut terjadi pada abad 20, dimana di Indonesia sendiri telah memiliki banyak kisah tradisional yang menarik dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, Papua dan lain-lain. Ia berharap generasi muda Indonesia ke depannya memiliki semangat kreatif dengan tetap mempertahankan jati diri dan akar budayanya.

“Dunia kreatif saat ini sangat berkembang. Kita tidak bisa lagi mengharapkan anak untuk memiliki posisi ideal seperti dokter, bankir dan lain-lain. Dunia kreatif sangat luas, bisa bekerja di TV, Majalah, Buku atau menjadi dirinya sendiri dengan fokus sebagai seniman. Intinya anak-anak harus lebih jago daripada kita dengan banyaknya informasi dan teknologi, jadi jangan malah mandek. Makanya harus dipupuk dan terus dieksplore kemampuan anak-anak ini,” kata pengajar yang sangat bangga ketika anak didiknya maju tersebut. “Itu kepuasan batin bagi saya,” imbuhnya.

Membuka Franchise

Putri mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan Presiden B.J. Habibie ini mengisahkan bahwa dirinya sejak usia tiga tahun sudah sangat senang menggambar. Masih teringat dengan jelas sang ayah yang mengajarinya untuk mengumpulkan hasil coretan ke dalam sebuah file. Liesna diajarkan agar dapat mengenali perkembangan hasil karyanya dari tahun ke tahun.

“Bapak membuat sebuah buku map untuk menaruh gambar-gambar saya dan itulah portfolio pertama saya. Sekarang saya juga mengajari anak-anak untuk menuliskan nama dan tanggal pembuatan gambar mereka masing-masing untuk dikumpulkan dalam portfolio mereka sendiri. Jadi dalam beberapa tahun kemudian mereka bisa melihat apa yang telah dibuat dan perkembangan gambar/lukisan mereka itu. Apakah semakin sempurna, halus atau apa saja,” ungkap perempuan yang menguasai bahasa Inggris dan Belanda ini.

Master in Design, Curtin, University of Technology, Western Australia ini mengungkapkan keinginannya untuk pengembangan MLM. Salah satunya adalah dengan mewaralabakan lembaga pendidikan yang didirikannya. Apalagi, dukungan dari beberapa teman di wilayah lain yang sangat ingin agar lembaga serupa berdiri di sekitar tempat tinggal mereka.

“Saya ingin memajukan MLM dan menjadikannya sebagai sebuah bisnis franchise. Saat ini saya sedang menggodok materi untuk franchise, apalagi teman di Australia juga menawarkan untuk membuka di sana. Kemudian saya juga ingin membuat acara menggambar atau arts & crafts di TV yang saat ini masih cukup jarang, supaya tetap menyemangati anak Indonesia untuk berkreasi,” kata pengagum pelukis-pelukis aliran Impressionist seperti Picasso, W. Kandinsky, Cezanne dan Monet ini. Ia juga pengagum pelukis-pelukis Indonesia dan sangat terinspirasi oleh alam seperti tanaman, daun dan bunga.

Meskipun disibukkan dengan kegiatan mengajar (di Universitas Pelita Harapan dan MLM) serta mengelola galeri butik, Liesna tetap mendapat dukungan penuh dari keluarga. Apalagi lokasi pekerjaan suaminya berada dalam satu gedung dengan kegiatan yang digelutinya. Begitu juga keempat anaknya yang memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan sang ibu.

“Mereka sih tidak komplain karena sudah besar. Mereka hanya ‘menuntut’ kepada kami. Misalnya kalau kami sudah janji akan menemani mereka tetapi karena macet atau karena hal lain terlambat mereka akan protes dan menuntut supaya tidak terjadi lagi. Tetapi pada prinsipnya dukungan keluarga sangat besar kepada saya,” ungkap pemilik moto “Usaha, kerja Keras, tanggung jawab, do what you love serta bekerja sesuai dengan passion dan love life” tersebut.

Untungnya, anak-anak Liesna cukup mengerti kesibukan sang ibu. Liesna sendiri telah mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga memiliki banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Setidaknya, di pagi hari, ia dan anak-anaknya keluar rumah bersama-sama terkait jam sekolah mereka. Ia juga mengatur agar kegiatan mengajarnya bisa selesai pada pukul 16.00 sehingga terhindar dari kemacetan pulang kerja. Selain itu, paling tidak sebulan sekali untuk berjalan-jalan ke tempat wisata atau berenang ke kolam renang.

Liesna telah menetapkan moto dalam membina keluarga dalam lima poin yang telah disepakati. Yakni: “Saling menghormati, tanggung jawab, kerjasama (seperti clean up day every Saturday), menjadi contoh dan sahabat bagi anak , membangun suasana rumah yang nyaman & sehat dan menjadikan tempat keluarga & anak-anak berkreasi dan belajar”.

“Mereka sudah tahu kegiatan masing-masing. Kalau sore tidak ada kegiatan bersama suami, saya pasti pulang lebih dulu sehingga sampai rumah masih sore dan sempat bermain bulutangkis dengan anak-anak. Apalagi anak-anak saya laki-laki semua yang tidak bisa diam. Di waktu luang, saya suka mengajak anak-anak kedua dan ketiga menggambar, kebetulan mereka suka sekali menggambar. Anak pertama lebih suka olahraga, musik dan bahasa Inggris. Sementara yang bungsu masih kecil,” kata Liesna Sulistiowati Shaw.

Sekilas Profil Marvellous Little Maestro (MLM)

Liesna Sulistiowati Shaw dengan latar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual membuka sanggar lukis dan gambar untuk anak-anak, Marvellous Little Maestro (MLM), pada awal tahun 2010. MLM ini didirikan untuk anak-anak (dari usia 2,5 – 12 tahun) agar dapat dengan bebas berkreasi secara visual.

Dengan mengajarkan berbagai macam media, di MLM anak-anak dapat mengekspresikan diri dalam bentuk gambar, ilustrasi dan lukisan. Adapun kelas-kelas yang ditawarkan terdiri dari:
– Arts & Crafts (Apple Class) usia 2,5 -12 tahun,
– Cool Characters (Tree Class) usia 6-8 tahun,
– Drawing and Painting with Acrylic & Watercolor (Sunflower Class) usia 8-12 tahun,
– Fun Batik! (Rainbow Class) usia 8-12 tahun.

Tujuan pendirian MLM adalah memajukan kreativitas anak-anak Indonesia secara visual dengan pemahaman global tanpa meninggalkan jati diri anak-anak sebagai anak Indonesia, sekaligus peduli terhadap lingkungan dengan menggunakan berbagai barang bekas, seperti bekas tempat susu, kardus, kotak-kotak, kertas bekas, tali, pita dan sebagainya. Liesna akan terus meng-inspire anak-anak didiknya untuk terus mencintai dunia seni gambar dan supaya terus berkreasi secara visual.

Drs. Adrianto, M.Hum

Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels

Mengajar Adalah Cara Terbaik Untuk Belajar 

Tanpa penguasaan yang tinggi terhadap bahasa Inggris, Drs. Adrianto, M.Hum., nekat membuka kursus. Berbekal pemasangan iklan di suratkabar dan lokasi “elit” di sebuah hotel, lembaga kursus menerima siswa dari berbagai kalangan. Tidak hanya murid sekolah, tetapi juga petinggi kepolisian di wilayah Jakarta.

Namun siapa sangka, kalau ternyata tutor yang memberikan kursus merasa kurang menguasai bahasa Inggris. Mahasiswa Universitas Indonesia yang mendirikan kursus hanya bermodal menghapal materi yang akan diajarkannya kepada siswa. Tidak heran, dalam beberapa sesi ia “gelagapan” menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya.

“Karena saya memang waktu itu belum benar-benar menguasai bahasa Inggris. Dan untuk bahan mengajar pun ‘hanya’ menghapal bahan yang akan saya ajarkan. Peserta kursus saya sedikit tetapi berkualitas, antara lain istri Panglima Polisi wilayah Jakarta. Oleh karena itu, saya harus benar-benar menguasai materinya,” kata Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels ini.

Tentu saja, Adri –panggilan akrab pria kelahiran Semarang, 19 November 1958- ini, tidak ingin dihukum karena ternyata penguasaan bahasa Inggris-nya minim. Dengan terpaksa, ia belajar bahasa Inggris sekuat tenaga agar mampu menguasainya dengan baik. Ia tidak ingin kredibilitasnya turun dan mendapat malu di depan siswa yang notabene belajar darinya.

Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Upayanya untuk menghapal materi pelajaran bahasa Inggris berhasil positif. Akhirnya ia menguasai bahasa internasional tersebut dan percaya diri untuk menggunakannya pada berbagai kesempatan.

“Jadi kesimpulannya saya mampu berbahasa Inggris karena mengajar, meskipun hanya ngapalin saja. Intinya drive saya itu berasal dari keterpaksaan, yang tadinya terpaksa menjadi bisa. Ilmu yang saya dapat, mengajar adalah cara belajar yang sangat bagus,” tandasnya.

Sebenarnya tekad kuat Adri untuk belajar bahasa Inggris dilandasi oleh keinginannya bekerja di kedutaan besar. Namun ia terbentur syarat bekerja di kedutaan adalah penguasan bahasa Inggris yang mumpuni. Sementara dirinya saat itu tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik. “Logikanya, kalau ingin belajar bahasa Inggris kenapa saya tidak mengajar bahasa Inggris. Makanya saya mendirikan lembaga kursus itu karena menjadi guru kan harus lebih pinter dari muridnya,” kilah pria dengan moto “Menyenangkan Orang Lain” ini.

Terlalu Teoritis

Menurut Drs. Adrianto, M.Hum, dunia pendidikan Indonesia saat ini terlalu banyak mata pelajaran yang harus dikuasai. Anak didik dijejali mata pelajaran yang sebenarnya belum perlu diajarkan. Selain itu, mereka sebagai peserta pembelajaran kebanyakan menerima pelajaran yang bersifat teori belaka.

“Pelajaran yang banyak itu, dipenuhi dengan teori, tapi praktek dalam pembelajaran bahasa Inggris. Sekarang ini banyak yang diajarkan secara teoritis, sementara gurunya sendiri terkesan kurang menguasai bahasa Inggris yang pas. Kalau untuk bahasa asing, harusnya guru-guru yang mengajar anak-anak dengan hapalan kemudian mempraktekkan,” kata pengagum Bunda Theresa tersebut.

Adri mencontohkan dirinya sendiri dalam belajar bahasa Inggris dengan metode awal, menghapal. Ia menghapalkan percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris, bukan kata per kata baru disusun dalam sebuah kalimat. Adri mempraktekkan percakapan-percakapan tersebut di kamar kosnya layaknya sebuah sandiwara monolog.

Saking seriusnya Adri menghapal, penah ibu kosnya sempat mendobrak masuk kamar. Ibu kosnya menyangka di dalam kamarnya terjadi pertengkaran antara dirinya dengan orang lain. “Tetapi saya jalan terus, untuk mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris. Anak-anak sekarang juga harus begitu, jangan takut salah dalam mempraktekkan bahasa asing. Salah nggak apa-apa, lama-lama toh akan bisa. Mengenai teori dengan praktek itulah kita bisa menggali teorinya,” kata ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Titiek Sayekti ini.

Menurut sulung dari empat saudara pasangan R Ng KH Rois Ibrahim dan Ny R Ng Sumarni ini, dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah maju. Secara keseluruhan dunia pendidikan Indonesia tidak ketinggalan dengan negara lain. Hanya saja, pada beberapa perlu dilakukan pembenahan sesuai dengan kebutuhan zaman. “Pendidikan kita maju. Generasi muda sejak kecil harus diberi landasan, sehingga akan berkembang ketika mereka besar nanti,” tambahnya.

Tangan Tuhan

Adrianto memimpin Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (Akpar JIH) sejak dua tahun lalu. Sebenarnya ia sendiri tidak merencanakan kariernya akan mencapai puncak di lembaga pendidikan pencetak tenaga kepariwisataan. Semua yang dilakukannya berjalan mengalir begitu saja dilandasi dengan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Selebihnya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan untuk membimbing perjalanannya.

“Sebenarnya saya sendiri merasa bahwa semua itu tangan Tuhan. Adanya saya disini dan sebagainya tidak saya rencanakan terlebih dahulu. Tadinya lembaga ini dipegang oleh rekan dari Trisakti. Kemudian setelah masa jabatannya habis saya menggantikannya,” katanya.

Adri mengisahkan ketertarikannya di dunia pariwisata. Dimana untuk menggeluti dunia pariwisata harus tahu akar pariwisata itu sendiri. Indonesia dengan primadona kepariwisataan di Bali, akarnya pun terletak di Pulau Dewata tersebut. Sadar akan hal itu, ia belajar dan bekerja di Bali selama tiga tahun.

Kepada investor asal Singapura tempatnya bekerja, Adri menyarankan untuk membuka lembaga pendidikan pariwisata di Jimbaran. Sarannya diterima dan bekerjasama dengan Universitas Udayana dan berdirilah Politeknik Negeri Bali. Selama di Bali, ia tinggal di Ubud. Pertimbangannya, Ubud adalah pusat budaya Bali sehingga tinggal di tengah sentra akar pariwisata sangat tepat. “Nawaitu saya adalah mempelajari budaya Bali dan pariwisata, karena Bali termasuk primadona pariwisata dunia,” tambahnya.

Kesimpulan selama mempelajari pariwisata Bali, menurut Adri adalah lekatnya agama Hindu dalam kehidupan masyarakat. Saking kuat dan mengakarnya agama Hindu –bahkan mengalahkan ketaatan masyarakat dalam beragama Hindu di India. Ketaatan masyarakat Bali terhadap agamanya telah menjelma menjadi budaya. Bahkan sebutannya pun sudah menjadi khas Bali, yakni agama Hindu Bali.

“Meskipun demikian, seperti pemeluk agama lain, orang Bali sendiri banyak yang tidak tahu secara detail terhadap arti ritual agamanya,” ungkap penyuka liburan bernuansa “Back to nature” tersebut.

Setelah tiga tahun di Bali, Adri kemudian kembali ke Akpar dan diangkat sebagai Pembantu Direktur (Pudir I). Pengangkatan tersebut, menurut dirinya terkait dengan pengetahuannya mengenai masalah budaya yang dipelajarinya di Bali. “Mungkin dianggap oleh direktur saya sudah menguasai ilmunya selama belajar di Bali. Sebenarnya saya hanya senang karena belajar sesuatu yang menarik untuk dipelajari,” kata kepala keluarga dengan moto “Biarkan anak berkembang secara alamiah dengan dasar pembinaan dan pendidikan yang baik dari kami” ini.

Akpar JIH Sekilas

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels berdiri pada tahun 1994. Kampus pertama menempati lokasi Hotel Borobudur di Lapangan Banteng Jakarta Pusat selama tiga tahun. Pertama kali berdiri, merupakan program apprentice Hotel Borobudur untuk memenuhi tenaga kerja terampil dan siap pakai untuk memenuhi kebutuhan Hotel Borobudur sendiri.

Seiring dengam jumlah mahasiswa yang terus meningkat, kapasitas kelas tidak mencukupi sehingga lokasi kampus dipindahkan ke Kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD) Jalan Jend Sudirman kav 52-53. Dimana di kawasan ini juga terdapat Hotel Ritz Carlton, gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Gedung Artha Graha, Apartemen Capital, Apartemen SCBD, Apartemen Kusuma Chandra, JakTV dan beberapa gedung bisnis lainnya.

Akpar JIH ini merupakan anak perusahaan dari PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) yang juga merupakan induk organisasi Hotel Borobudur. PT JIHD selaku pemilik dari Akpar JIH dan Hotel Borobudur merupakan anak perusahaan dari Bank Artha Graha.

Sampai saat ini, Akpar JIH terus mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan industri perhotelan baik dalam keahlian maupun praktek.

Lulusan Akpar JID tidak hanya bekerja di Indonesia, tapi telah menjangkau Amerika, Jepang, Dubai dan Negara-Negara di Timur Tengah termasuk untuk mensuplai tenaga kerja ke Kapal pesiar di Amerika dan Eropa.

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels merupakan sebuah akademi pariwisata terkemuka di Jakarta yang memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan dunia pariwisata dengan mengembangkan berbagai program pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi yang merupakan tuntutan dari industri pariwisata pada umumnya dan industri perhotelan pada khususnya.

Keahlian yang berbasis kompetensi inilah yang sampai saat ini membantu lulusan Akpar JIH dalam mendapatkan pekerjaan. Dalam penyaluran lulusan, Akpar JIH mendapat bantuan dari beberapa hotel dalam group sendiri seperti Hotel Borobudur, the Ritz Carlton Pacific Place, Prameswari Puncak dan Kartika Plaza Discovery di Bali.

Program praktek lapangan Akpar JIH adalah dengan mengirimkan mahasiswa ke hotel-hotel berbintang lima di Jakarta, Bali, Malaysia dan Singapura.

Selain program pendidikan yang baik, Akpar JIH juga terletak di lokasi yang strategis dan dilalui oleh berbagai angkutan umum dari selurauh area di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Hal ini menyebabkan mahasiswa Akpar JIH datang dari berbagai penjuru kota karena akses angkutan yang mudah dan murah dengan ditunjang oleh jaringan Transjakarta dan suttlebus di kawasan kampus.

Fasilita belajar Akpar JIH terdiri dari kelas ber-AC dengan kapasitas 20 orang per kelas. Selama pelajaran menggunakan multi media seperti Over Head Projector, Video Presentation dan LCD. Tenaga pengajar terdiri dari 37 orang dosen dari praktisi dengan gelar S1 dan S2, serta guest lecturer. Akpar JIH juga dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium untuk prakterk. Saat melakukan latihan kerja lapangan (PKL) Akpar JIH bekerja sama dengan hotel bintang lima dalam dan luar negeri.

Profil Akpar JIH

Jenjang pendidikan: D1, D3

Jumlah alumni: 300

Ikatan alumni: Ikatan Alumni Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (ILUNI APJIH), Jakarta International Hotels

Jumlah dosen tetap: 37 (pendidikan S1: 30, S2: 7)

Luas kampus: 2.500 m2

Fasilitas Kampus

Jumlah ruang kuliah: 8

Perpustakaan: luas 50 m2, koleksi buku: 200 judul, 400 eksemplar

Laboratorium: 6 unit (Front Office, Model Room, Kitchen, Restaurant, Laundry, Komputer)

Lembaga penelitian: Lembaga Pengembangan Manajemen Pariwisata (LPMP)

Unit kegiatan mahasiswa: olahraga (sepak bola, basket, badminton, voli, tenis meja, futsal), pencinta alam, rohani Islam, rohani Kristen, kesenian (paduan suara), bela diri (karate), English Club, Bartender Club, out bound

Fasilitas lain: lapangan olahraga, bergabung dengan Artha Graha Group

Akpar JIH melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi lain di luar negeri: HILDIKTRIPARI-Conrad Hilton Huston USA dalam studi banding

Kerjasama dengan instansi/lembaga lain di dalam negeri: Artha Graha Group, Kopertis III Ditjen Dikti

Prestasi:

– Juara I Table Set Up antarakademi se-DKI

– Juara II Food Competition dalam acara Indonesian Food Exhibition

– Masuk dalam 6 besar pada acara Bread Competition yang diselenggarakan oleh Bogasari

Beasiswa: disediakan oleh Jakarta International Hotels and Development bagi mahasiswa berprestasi