Tag: karier

Hidayat Wirasuwanda

Hidayat Wirasuwanda
Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung

Menjalankan BPR Dengan Niat yang Baik dan Benar

Semua kegiatan yang dijalankan dengan niat yang baik dan benar, akan memberikan hasil sesuai harapan. Prinsip tersebut bisa dibuktikan dalam pekerjaan apapun, baik dalam dunia usaha, jasa dan lain-lain. Syaratnya, dilakukan dengan semangat yang sama, dikerjakan secara tekun dan konsisten.

Kedua hal tersebut telah dipraktekkan di PT BPR Trisurya Marga Artha, Bandung. Bank perkreditan rakyat yang berdiri sejak 10 April 1994 ini terbukti mampu bertahan di tengah fluktuasi perekonomian Indonesia. BPR semakin maju setelah pada bulan Agustus 2007, terjadi pergantian kepemilikan.

“BPR di-take over oleh keluarga Bapak Iwan Setiawan. Saya yang bergabung sejal Februari 2007 tetap dipertahankan bahkan dipercaya memimpin BPR ini enam bulan kemudian. Apapun yang kita jalankan harus dilandasi dengan niat yang baik dan benar. Nah, dari niat baik dan benar itulah kita berharap mampu menghasilkan yang baik dan benar bagi debitur, owner maupun seluruh staf kami,” kata Hidayat Wirasuwanda, Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung.

Hidayat membuktikan dengan niat yang baik dan benar, BPR dibawah kepemimpinannya mengalami banyak kemajuan. Dari sepuluh orang karyawan, berkembang menjadi 90 orang dan mengelola dana miliaran rupiah. Bahkan, ia sudah berancang-ancang untuk membuka kantor cabang baru, di Bandung maupun daerah lain. Semua di wilayah Jawa Barat karena terbentur aturan Bank Indonesia, bahwa BPR hanya boleh beroperasi dalam satu provinsi saja.

Sikap serupa, lanjut Hidayat, diterapkan dalam melayani customer/pelanggan yang memanfaatkan jasa BPR. Kedatangan mereka, tentu dengan itikad baik yang harus diperlakukan dengan cara yang baik dan benar pula. Hasil akhirnya diharapkan akan menjadi kebaikan dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Hubungan baik antara pelanggan dan BPR tersebut terus dibina dan dipertahankan sehingga terjalin secara berkesinambungan.

“Ini tidak bisa kami bina sendiri. Seluruh karyawan mulai marketing, CSO, teller dan bagian kredit melakukannya agar hubungan baik dan personal approach tetap terjalin. Oleh karena itu, kita menjadikan karyawan dan karyawati sebagai suatu asset yang harus kita bina dan pelihara. Untuk itu, saya menyelenggarakan pendidikan dan training-training perbankan sesuai tugas masing-masing. Seperti CSO dengan program dari BI yang sangat terkenal ‘know your customer’ untuk mengenali calon customer,” tuturnya.

Membantu Masyarakat

Menurut Hidayat Wirasuwanda, pengelolaan BPR di seluruh Indonesia berada di bawah pengawasan Bank Indonesia. Otoritas perbankan Indonesia tersebut secara rutin mengadakan pembinaan terhadap operasional BPR. Apalagi, BPR sangat berperan penting dalam menggerakkan perekonomian rakyat karena terkait dengan pengusaha mikro. Yakni, bidang usaha yang tidak tersentuh oleh perbankan umum.

“BI rutin berkunjung selama empat sampai lima hari setiap tahun untuk melakukan pembinaan. Kami memang masih memerlukan pembinaan dan sangat membutuhkan saran-saran. Apa saja yang kurang harus kita perbaiki, baik dari pelayanan maupun hal-hal lainnya. Selain itu, kami juga mengadakan kerjasama pelatihan dengan ahli marketing, ahli akunting, ahli SDM untuk meningkatkan kinerja kami,” katanya.

Hidayat sadar, produk unggulan BPR yang dipimpinnya masih sangat terbatas, yakni tabungan, deposito berjangka dan kredit. Tetapi atas kebijaksanaan BI dan LPS, BPR diizinkan memberikan tingkat bunga lebih tinggi daripada bank umum pada produk tabungan dan deposito. Tujuan dari kebijaksanaan tersebut adalah untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya sehingga dana yang dapat disalurkan untuk kredit memadai.

Selama di Bandung, Hidayat mempelajari dan menganalisa banyaknya masyarakat yang “lari” ke rentenir untuk urusan keuangannya. Mereka lebih memilih meminjam dana dengan bunga mencekik leher sebesar 10-15 persen per bulan. Kemudahan syarat yang tidak berbelit-belit membuat masyarakat lebih senang berurusan dengan rentenir daripada BPR atau bank.

Ia berharap, dengan semakin berkembangnya unit BPR di Bandung maupun di Indonesia, praktek rentenir bisa ditekan. Karena terbukti, dengan bunga yang sangat tinggi tersebut bukan membantu perekonomian tetapi justru menghancurkan ekonomi rakyat. “Rentenir masih eksis di kota Bandung dan daerah lainnya. Saya berharap BPR mampu mengurangi kredit dengan bunga mencekik seperti itu,” harapnya.

Dengan kondisi perekonomian rakyat seperti itu, Hidayat melihat prospek BPR ke depan masih sangat cemerlang. Apalagi dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, potensi BPR untuk berkembang sangat luas. Hanya saja, kendala yang dihadapi saat ini adalah kerancuan “porsi” antara pangsa pasar BPR dan bank umum akibat tidak adanya peraturan yang jelas.

Dengan adanya otonomi daerah, Hidayat berharap agar pemerintah daerah mampu mendorong usulan kepada Bank Indonesia mengenai hal tersebut. Setidaknya, dengan semangat otonomi pemda mampu “menekan” BI untuk menerbitkan regulasi yang mengatur porsi dan ruang gerak yang jelas antara BPR dan bank konvensional. Demikain pula usulan kepada pihak BI agar lebih mempermudah izin pembukaan cabang-cabang baru bagi BPR.

“Jangan sampai bank umum memakan porsi BPR atau bank-bank besar bermain di sektor yang menjadi lahan kami. Pokoknya dalam hal ini sangat diperlukan aturan yang jelas. Selain itu, kami juga ingin mendapatkan kemudahan dalam pembukaan cabang BPR. Karena dengan banyaknya cabang, masyarakat kecil akan lebih mudah menjangkau layanan BPR dan mereka akan terbantu,” tuturnya.

Pendirian BPR, kisah Hidayat, harus mengikuti syarat yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Untuk kota Bandung, syarat minimal adalah modal disetor minimal Rp2 miliar dengan rekening di salah satu bank umum. Syarat kedua yang harus dipenuhi adalah memiliki tempat usaha atau gedung, SDM dan teknologi IT yang memadai. Dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, sebuah BPR baru boleh beroperasi setelah ada izin dari BI setempat dan memberikan layanan kepada masyarakat.

“Saya tetap berharap, pembinaan BI kepada BPR masih terus berlangsung. Saya juga berdoa, mudah-mudahan perizinan bagi pembukaan BPR di daerah semakin mudah. Pemda juga memberikan kemudahan dalam perizinan seperti Surat izin tempat usaha. Karena perlu diingat bahwa kehadiran kami adalah untuk membantu Pemda dalam membina masyarakat kecil, pedagang kecil dan lain-lain. Untuk itu, kami akan membuka cabang baik di kota Bandung maupun kota lain di Jawa Barat. Itu obsesi saya,” ujarnya.

Karier Perbankan

Hidayat Wirasuwanda, lahir di Cianjur, 8 September 1951. Sarjana muda pendidikan IKIP Bandung tahun 1974 ini sejak semula sudah berkarier di dunia perbankan. Dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya, ia langsung bekerja di Bank BCA cabang Bandung. Di bank swasta terbesar di Indonesia itu ia menghabiskan kariernya sampai memasuki masa pensiun pada tahun 2006.

“Saya bekerja di Bank Swasta di Bandung, sejak Juli 1976, sebagai karyawan biasa. Di situ saya menjalani berbagai macam karier mulai karyawan bagian kredit dan bagian umum personalia. Kemudian saya di bagian ekspor impor antara tahun 1982 – 1991. Dari tahun 1992 – 2001 saya dipercaya sebagai Pemimpin Cabang Pembantu, tahun 2001-2006 saya dipercaya sebagai Kepala Operasional Cabang Cianjur sampai pensiun,” tuturnya.

Setelah pensiun, Hidayat tidak langsung berhenti berkarya. Usianya yang “baru” 55 tahun masih memungkinkan untuk bekerja dengan tantangan baru. Ia kembali ke Bandung dan menerima ajakan untuk bergabung dengan rekan dan keluarga Bapak Iwan Setiawan mengelola sebuah bank perkreditan rakyat pada tahun 2007. Justru di BPR inilah, ia mencapai puncak karier di dunia perbankan. Ia ditunjuk sebagai direktur utama setelah mengikuti pendidikan, yaitu kursus Direktur BPR yang diselenggarakan Lembaga Sertifikasi Profesi Lembaga Keuangan Mikro – CERTIF Jakarta pada bulan Agustus 2007.

“Setelah lulus, saya harus mengikuti fit and proper test di Bank Indonesia Bandung. Yakni untuk menguji kelayakan saya memimpin BPR sebagai direktur,  dan Alhamdulilah saya lolos dan terhitung Agustus 2007 resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung. Itulah jenjang karier yang harus saya lewati dari karyawan menjadi direktur. Meskipun lembaganya kecil, tetapi secara professional jabatan direktur utama bagi saya sudah sangat hebat,” katanya.

Pengalaman selama puluhan tahun berkarier di perbankan, membuat Hidayat menguasai betul seluk beluk mengelola bank. Apalagi selama bertugas, ia menjalani berbagai pendidikan dan pelatihan yang menunjang profesi. Pendidikan dan pelatihan yang pernah dijalaninya antara lain, Kursus Impor dan Ekspor LPPI Jakarta, Kursus Pemimpin Cabang LPPI Jakarta, Kursus Advance Banking Managemen Program BNI 1946 Jakarta dan Kursus Direktur BPR LSP Lembaga Keuangan Mikro – CERTIF Jakarta.

Seluruh pencapain yang berhasil dilakukan Hidayat, tidak terlepas dari dukungan keluarga. Istri beserta satu orang anaknya tidak keberatan suami dan ayahnya pulang larut karena kesibukan pekerjaan. Apalagi, Hidayat sendiri tidak pernah “itung-itungan” dalam bekerja sehingga jam kerjanya pun menjadi semakin panjang.

“Keluarga terbiasa dengan aktivitas saya sebagai pekerja, sehingga mereka tetap mendukung, baik saat bekerja di bank swasta maupun di sini. Anak diberikan kebebasan untuk berkarier sesuai keinginannya. Saya persilakan untuk bekerja sesuai dengan bakat dan talenta yang dimiliki tidak harus mengikuti jejak orang tua,” tandasnya.

Kepada anaknya Hidayat hanya menekankan pentingnya untuk melakukan persiapan dalam menyongsong masa depan masing-masing. Setidaknya, penguasaan dan ilmu pengetahuan terhadap pekerjaan yang diinginkan harus dimiliki. Selain itu, semangat untuk terus belajar harus dipelihara karena belajar merupakan kewajiban seumur hidup bagi setiap manusia. Pada era sekarang ini, belajar bisa dilakukan melalui media apapun, baik dengan kursus, seminar maupun membaca buku.

“Hal itu juga harus dilakukan oleh generasi muda kita. Karena menuntut ilmu itu tidak akan ada habisnya, bahkan sampai ke negeri China selama kita mampu. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya menjadi apapun sekarang ini. Siapa tahu kita diberikan kepercayaan untuk memimpin suatu usaha atau bahkan memiliki usaha sendiri yang lebih besar,” ungkapnya.

Hidayat juga berpesan, bahwa dalam bekerja harus dianggap sebagai ibadah. Karena berangkat dari niat ibadah, pekerjaan akan dilakukan dengan perasaan tulus dan ikhlas. Dari situ, tinggal berharap bahwa berkarya dengan cara dan niat yang benar hasilnya pun akan benar pula. “Kita harus berpikir positif dan bertindak secara positif pula. Selain itu, kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT atas segala rahmat yang telah diberikan,” ujarnya.

Sekilas Profil PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung

PT BPR Trisurya Marga Artha adalah perusahaan yang bergerak di bidang Bank Perkreditan Rakyat, khususnya pembiayaan/kredit mikro bagi masyarakat. Berdiri pada tanggal 10 April 1994, produk-produk yang ada yaitu: Tabungan, Deposito Berjangka dan Kredit. Kredit yang disalurkan pada investasi, modal kerja dan konsumsi. PT BPR Trisurya Marga Artha memiliki visi “Menjadi Bank Perkreditan Rakyat yang terkemuka di bidang pembiayaan mikro dengan pelayanan terbaik”.

PT BPR Trisurya Marga Artha berharap kehadirannya dapat terus memberikan kontribusi positif di tanah air bagi pengembangan usaha mikro, oleh sebab itu akan membuka beberapa kantor cabang di Bandung dan kota-kota lainnya di Jawa Barat dengan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, memberikan pelayanan secara cepat, tepat dan akurat bagi para nasabahnya. Serta dapat meningkatkan nilai investasi bagi para pemegang saham dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh karyawan/karyawati dan jajaran pengurus.

Visi
“Menjadi BPR yang terkemuka di bidang pembiayaan mikro dengan pelayanan yang terbaik”

Misi
Mendukung pengembangan usaha mikro
Menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Memberikan pelayanan yang cepat, benar dan akurat kepada nasabah
Meningkatkan nilai investasi bagi para pemegang saham dan kesejahteraan bagi seluruh pengurus, karyawan dan karyawati

Profil nasabah PT BPR Trisurya Marga Artha

Pertanian/Peternakan:
Tani padi
Tani sayur
Tani jamur
Ternak jangkrik
Ternak bebek
Ternak ayam
Ternak sapi
Ternak kambing
Ternak kelinci

Perdagangan:
Warung kelontongan
Warung nasi
Warung sembako
Jual bubur
Jual sayur
Jual ayam potong
Jual ayam goreng
Jual hasil bumi
Jual koran/majalah
Jual beli alat elektronik
Jual beli barang bekas
Jual beli motor/mobil
Jual beli pakaian
Jual beli handphone
Jual beli kain
Jual aksesoris
Kreditan barang
Jual alat-alat kesehatan
Jual jamu
Jual ATK
Jual buah-buahan

Jasa:
Bengkel mobil
Bengkel motor
Bengkel las
Bengkel bubut
Service barang elektronik
Salon
Rias pengantin
Laundry
Tambal ban
Makloon
Kontraktor
Kost-kostan
Klinik gigi
Klinik umum
Kamasan
Warnet
Rental PS
Rental komputer
Jahit
Loper koran
Paket lebaran
Fotocopy

Industri:
Pembuatan sepatu/tas/topi/dan lain-lain
Pembuatan makanan ringan
Pembuatan meubeul
Pembuatan kue
Pembuatan telor asin
Konveksi jaket/border baju/pakaian jadi
Pembuatan sangkar burung
Percetakan
Pembuatan tahu

Dessy Arnas

No Comments

Runway Indonesia – Personality School

Mengajar Pengembangan Diri Sebagai Passion Kehidupan

Setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama bertahun-tahun, adakalanya kejenuhan menghinggapi seseorang. Apalagi kalau selama menekuni pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat, hingga lupa diri dalam bekerja dan tanpa terasa karier sudah tidak bisa meningkat lagi.

Kondisi seperti ini hanya bisa disikapi dengan menetapkan tiga pilihan. Pertama menyerah terhadap tuntutan pekerjaan sampai memasuki masa pensiun dan menikmati segala konsekuensinya. Kedua melepaskan diri dari seluruh aktivitas pekerjaan untuk menikmati istirahat. Sedangkan ketiga adalah menciptakan tantangan baru sehingga menumbuhkan semangat untuk terus berkembang.

“Saya merasa lelah setelah dua belas tahun bekerja pada sekolah pengembangan diri internasional. Setelah karier dirasa mentok, saya berpikir untuk berdiri sendiri. Apalagi saya ditegur Allah dengan sakit yang cukup keras karena bekerja terlalu ngoyo. Saya kemudian memutuskan untuk istirahat setelah selama bertahun-tahun agak lupa diri dalam bekerja,” kata Dessy Arnas, Runway Indonesia – Personality School.

Dessy kemudian mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu seperti mengajar. Belajar dari pengalaman sebagai marketing yang hampir-hampir tidak memiliki waktu luang, ia mengajukan pengunduran diri dan bergabung di Runway Indonesia, April 2011. Perusahaan pengembangan diri internasional tempatnya bergabung selama 12 tahun pun ditinggalkan.

Sedangkan Runway Indonesia sendiri sebelumnya merupakan sekolah modeling dan acting sejak tahun 2007. Pendirinya Agung Saputra adalah pemilik sebuah management artis dan Nonny Chirilda yang memiliki management model. Keduanya sepakat mengembangkan sekolah yang mereka miliki menjadi personality school atau sekolah pengembangan diri, terbentuklah Runway Indonesia.

“Kemudian bergabunglah saya yang experience di sekolah pengembangan diri, personality. Di sini, saya tidak hanya sekadar mengajar yang sudah menjadi passion kehidupan saya. Tetapi saya juga membuat design program training, desain program kelas, nanti murid-muridnya bisa kita encourage agar dapat lebih mendapatkan sesuatu, begitu,” kata salah satu stakeholder Runway Indonesia ini.

Dessy telah menyusun program pengembangan diri di Runway Indonesia yang terbagi dalam tiga program, yakni program anak-anak, remaja dan dewasa. Bagi kelas dewasa diutamakan untuk mempelajari Self Improvement untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kelas anak-anak bisa belajar percaya diri dan kemandirian sehingga terlepas dari ketergantungan pada ibunya, suster dan lain-lain. Sementara kelas remaja -masa transisi yang kritis dan harus diwaspadai- sehingga harus diberikan wawasan agar tidak melenceng, mampu mengatur diri sendiri, manajemen waktu dan lain-lain.

“Kalau bidang entertainment, seperti model dan artis, kemudian bidang karir, semua itu kita terus kembangkan. Karena sasaran kita memang untuk kalangan anak muda, seperti program karier bagi mahasiswa untuk menyiapkan diri dalam berkarier. Seperti bagaimana mereka ‘menjual dirinya’ saat melamar pekerjaan. Karena kebanyakan perusahaan ingin karyawan yang sudah jadi. Di sini, lama pendidikan hanya dua bulan atau 12-14 pertemuan saja,” katanya.

Terbiasa Hidup Mandiri

Perempuan kelahiran 12 Desember 1972 ini mengisahkan, ketertarikannya ke dunia kerja tidak lepas dari peran sang ibu –Hj Suharti- yang seorang wanita karier. Istri H Nasrun Ismail –ayah Dessy- ini bekerja sebagai Sekretaris Kepala Telkom dan sempat melakukan tugas mengepang rambut tiga anak perempuan, menyiapkan perlengkapan satu anak laki-laki serta kebutuhan suaminya.

“Ibu bahkan masih sempat menyasak rambut sendiri, menyetir mobil ke kantor sendiri dengan sepatu hak tinggi. Kayaknya enak banget ya menjadi wanita karier. Makanya sejak sekolah saya ikut sanggar dan kegiatan lain yang menghasilkan uang. Saya terbiasa hidup mandiri meskipun kedua orang tua secara finansial tidak kekurangan. Pada semester 6, saya ikut menjadi pramugari seasonal di Garuda saat musim haji,” katanya.

Ayahnya terusik melihat “keusilan” anak ketiganya ini. Dessy pun mendapat teguran untuk memilih salah satu dengan serius, melanjutkan kuliah atau bekerja mencari uang saja. Sebagai orang yang konsekwen atas pilihannya, Dessy pun kemudian bekerja. Saat usianya menjelang 22 tahun, ia bekerja di Surabaya dan memutuskan untuk menikah satu tahun kemudian.

Sayang, saat karier Dessy sudah bagus dan mapan, suaminya dipindah tugaskan ke Banda Aceh. Dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa dan lain-lain, karier yang sudah dibangunnya pun ditinggalkan begitu saja. Dengan kondisi seadanya, sebagai istri ia patuh terhadap suami. Selama lima tahun (1997-2002), Dessy menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

“Setelah dipindahkan ke Jakarta, suami mengijinkan saya untuk kembali bekerja. Atas rekomendasi mantan atasan ditempat bekerja terdahulu, saya bekerja di cabang Jakarta perusahaan lama. Setelah lima tahun di Aceh, saya merasa seperti orang kampung. Saya sangat minder, tetapi mantan atasan saya selalu memotivasi. Dalam tiga minggu saya sudah dapat client dan bulan berikutnya sudah dapat client salah satu bank swasta terkemuka,” tuturnya.

Karier Dessy Arnas dengan cepat meroket. Hanya dalam waktu tiga tahun, ia diangkat sebagai General Manager di perusahaan tersebut. Ia menganggap perusahaan tempatnya bekerja tersebut merupakan sekolah kehidupan baginya. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk tetap survive hidup di Jakarta. Dan juga saya memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan karir imbuh ibu dari Rakha Aditya Afrizal dan Rania Adelia Afrizal ini.

Belajar dari perjalanan hidupnya, Dessy Arnas mengimbau generasi muda untuk tidak salah persepsi tentang emansipasi. Baginya, seorang perempuan tidak mungkin mampu mengalahkan seorang laki-laki. Bahkan dalam ajaran agama pun lelaki adalah imam, sehingga sebagai perempuan harus tunduk pada laki-laki. Perempuan-perempuan yang mempunyai potensi, seharusnya disalurkanlah ke tempat yang benar dalam waktu yang benar pula.

“Aturlah diri kita sebagai perempuan yang harus bisa berfungsi dan berguna buat orang lain. Tidak usah karier kantoran seperti sayalah, ibu rumah tangga juga sebuah karier yang sangat mulia. Saya sangat respek pada ibu rumah tangga karena saya sudah mengalaminya selama lima tahun, full time hanya dirumah” kisahnya.

Saat menjadi ibu rumah tangga, Dessy merasakan bagaimana sulitnya untuk sekadar membuat menu makanan harian. Menurutnya, perempuan boleh memiliki ambisi besar tetapi harus tetap pada porsinya dan tidak terlalu berlebihan. Ukuran yang digunakan adalah rumah tangganya sendiri, sehingga ketika berhasil mengorganisasi sebuah organisasi terkecil -yakni rumah tangga- pasti akan berhasil mengelola organisasi yang lebih besar.

“Pagar dan aturannya memang harus ada, mana yang porsi laki-laki mana yang porsi perempuan. Kalau ada yang tidak pas, kan ada kompromi yang bisa kita lakukan. Kalau sudah memutuskan berkarier, kita juga harus bertanggungjawab terhadap karier kita. Tetapi jangan melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan harus benar-benar bisa mempertanggungjawabkan keduanya,” imbuh pemilik motto “Never Stop to Learn” ini.

Setiap Orang Memiliki Kelebihan

Menurut Dessy, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Pendidikan kepribadian membantu orang untuk meningkatkan nilai tambah sehingga dalam setiap kesempatan selalu terlihat lebih bernilai dan menonjol. Meskipun demikian, kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan kepribadian bukanlah sesuatu yang penting.

“Tidak belajar pun juga tidak apa-apa karena sudah ada dalam diri setiap orang. Biasanya orang malah khawatir, setelah mengikuti pendidikan di sini akan menjadi jaim dan lain-lain. Tetapi kami yakinkan bahwa kita hanya men-suggest dalam segala sesuatu. Tidak cantik atau tidak ganteng tidak apa-apa tetapi tetap percaya diri. Saya ingin menularkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita berusaha membangkitkan self control yang baik sehingga kita bisa menampilkan citra positif serta potensi diri yang kita miliki,” tandas sarjana Marketing & Communication ini.

Dalam menyikapi persaingan bisnis, Dessy menanggapinya dengan wajar. Baginya, setiap institusi memiliki segmen berbeda-beda lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Di Runway Indonesia dengan konsep yang baru serta para pengajar yang memiliki visi sama, ia yakin akselerasinya pun lebih kencang.

“Saya bilang kepada staf, kalau kita lari sudah tidak bisa direm. Kalau jatuh itu wajar, harus segera bangun dan lari lagi.Terjatuh dan segala kendala lain merupakan hal yang biasa dan bagian dari sekolah saya. Karena semua itu terkait dengan proses yang akan terus berkembang seiring dengan pengalaman,” kata perempuan yang menganggap stafnya sebagai adik-adiknya sendiri ini. “Kalau menegur pasti dalam jam kerja, diluar itu tidak saya lakukan,” tambahnya.

Istri Hendri Afrizal, SE, MM ini berharap agar lembaga yang dikelolanya menjadi lebih besar dan memiliki beberapa cabang. Dengan memiliki cabang di tempat lain, ia mampu berbagi dengan orang yang ingin mengembangkan diri. Ia juga berharap agar program pengembangan diri ini bisa masuk ke sekolah-sekolah. Untuk itu, pemerintah harus memiliki program terkait bagaimana seorang anak belajar soft skill, mengelola stress dan kepercayaan diri.

“Bidang saya kan di pendidikan, saya ingin sekali agar bidang ini tidak ketinggalan. Kenapa bisnis seperti ini laku, karena kita ini kurang pede seperti bangsa lain di dunia ini. Padahal, rasa percaya diri itu bisa ditumbuhkan dan dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Nilai-nilai yang bisa dieksplore ya harus dikeluarkan. Kita harus konsen terhadap nilai-nilai tersebut agar kita tidak ketinggalan. Jadi sekarang bagaimana caranya untuk membangun kepercayaan diri kita dengan mengeksplore apa yang ada di dalam diri kita menjadi ‘sesuatu’ yang bisa diandalkan,” kata penyuka liburan di pantai ini.

 

 
Personality School
Wajah Baru Runway Indonesia

Selama empat tahun, Runway Indonesia sudah berhasil mencetak hampir 300 talenta yang sukses menghiasi panggung mode dan layar kaca di Tanah Air. Kini, Runway Indonesia hadir dengan wajah baru sebagai Personality School.

Runway Indonesia pertama kali hadir pada 2008 dan mengambil lokasi di Jalan Boulevard Raya-Blok CN2 No. 10, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, program yang diperkenalkan lebih fokus pada dunia Modelling dan Acting. Para lulusan dari sekolah ini hampir mencapai 300 orang dan sebagian di antara mereka bersinar sebagai public figure yang membintangi beberapa sinetron dan film layar lebar. Selain itu, mereka juga sering dilibatkan untuk ikut berpartisipasi di ajang peragaan busana karya desainer papan atas.

Melihat perkembangan yang bagus setiap tahun, maka Founder Runway Indonesia yang terdiri atas Nonny Chirilda, Agung Saputra, dan Dessy Arnas yang masing-masing memiliki pengalaman di bidang modeling, talent management dan kepribadian ini, berupaya memberikan ruang yang lebih luas lagi kepada para talenta di Indonesia untuk mendapatkan ilmu Personality yang menjadi modal mereka lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain.

Saat ini Runway Indonesia memiliki konsep baru sebagai Personality School. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan setiap individu untuk bisa tampil menarik serta percaya diri, sehingga profesi apapun yang akan digeluti, akan berhasil dengan baik. Apakah itu di bidang entertainment, ataupun di bidang karir dan bisnis.

Program-program unggulan yang ditawarkan Runway Indonesia, meliputi Self Improvement, Career Enrichment, Proficient MC & Presenter, Runway Modelling, Professional Acting, Teens Clique, dan Kiddos.

Runway Indonesia menerima anak didik mulai dari tingkat anak-anak (4-10 tahun), remaja (11-16 tahun), dan dewasa (17 tahun ke atas). Mereka akan menerima materi pengajaran selama 14 sesi, dan bisa dilakukan setiap hari, seminggu dua kali, atau setiap Sabtu. Untuk setiap pertemuan akan dilakukan selama 2-3 jam.

Selain kelas regular, Runway Indonesia juga memiliki Corporate Training, dimana materi pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan dari klien atau perusahaan yang bersangkutan.

Adapun pengajar yang diberikan kepercayaan untuk berbagi ilmu Runway Indonesia adalah para praktisi yang sudah berpengalaman di bidang masing-masing. Setiap pengajar akan memberikan materi pelajaran berdasarkan tingkat usia dan kebutuhan peserta, baik itu di kelas regular atau kelas perusahaan.

Target ke depan, bahwa Runway Indonesia – Personality School dapat membantu setiap individu untuk menjadi apa yang mereka inginkan, sesuai dengan potensi yang ada didalam diri mereka. Sehingga apapun yang mereka cita-citakan dapat terwujud dengan baik.

-Run your Way to Success with Runway Indonesia-

Open Supriadi

No Comments

Open Supriadi
Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang

Membenahi PDAM Dengan Komitmen untuk Bekerja Sebaik-baiknya
Banyak pilihan yang dapat diambil generasi muda sekarang setelah menyelesaikan pendidikan SLTA. Bekerja bagi lulusan kejuruan atau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Namun tidak demikian halnya bagi generasi sebelumnya, mereka tidak memiliki pilihan sebanyak generasi muda sekarang.
Banyak masalah yang membelit kehidupan di masa lalu menjadi penyebabnya. Minimnya infrastruktur dan lembaga pendidikan yang memadai adalah faktor yang sangat dominan. Seperti dialami oleh Open Supriadi pada tahun 1970-an yang mengalami kesulitan dalam melanjutkan pendidikan. Kedua orang tuanya menyuruh menjual sawah untuk biaya pendidikan tinggi, pasca kelulusanya dari SMEA.
“Lulus SMEA saya ingin masuk AKABRI tetapi ternyata tidak bisa. Makanya saya hanya memiliki dua pilihan, melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan. Tetapi ketika disuruh menjual tanah, saya pertimbangkan lagi. Kalau sekolah saya ‘bener’ tidak masalah, tetapi kalau tidak kan kacau. Akhirnya tidak jadi jual tanah dan saya memutuskan untuk mencari pejerjaan,” Kata Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang ini.
Open Supriadi tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena sejak kecil terbiasa membantu orang tua yang petani sekaligus pedagang dari mengembala itik, kerbau dan bekerja di sawah sepulang sekolah. Berbekal ijazah SMEA, ia bertolak ke jakarta dalam rangka mencari kerja. Tetapi kehidupan ibukota yang sangat keras dengan aroma konsumtif yang kental memaksanya pulang ke kampung halaman.
Sekembalinya di Karawang, Open bekerja sebagai guru ekonomi pertanian dan pendidikan jasmani di SPMA. Setelah dua tahun menjadi guru, ia mendapat tawaran bekerja di Bappeda Karawang. Meskipun honor yang didapatnya sangat kecil, namun komitmennya terhadap pekerjaa sangat tinggi. Baginya, pekerjaan adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
“Komitmen saya, susah atau senang saya akan tetap bekerja sebaik-baiknya. Saya bekerja rangkap karena tetap menjadi guru, hingga akhirnya saya disuruh memilih di Bappeda atau menjadi guru. Saya memilih menjadi pegawai Bappeda dan tahun 1974 dipindahkan ke Dinas PU Karawang. Prinsifnya saya tetap, bekerja dengan baik dimanapun ditempatkan. Sambil bekerja, saya berusaha melanjutkan pendidikan dengan kuliah di FE Universitas Jayabaya, Jurusan Akuntansi, namun S1 diselesaikan di Fakulta Ekonomi universitas Singaperbangsa” kisahnya.
Open terpaksa menunda menyelesaikan kuliahnya karena diminta oleh orang tuanya untuk menikah. Tahun 1977, ia menikah dengan seorang PNS dan menjalani kehidupan dari nol. Ia memutar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan berusaha di luar jam kerja. Salah satunya adalah menjalin kerjasama dengan pihak bank untuk membeli truk melalui fasilitas kredit KMKP/KIK
Sedikit demi sedikit, kehidupan rumah tangga Open semakin membaik. Seiring dengan kelahiran tiga anaknya, kariernya pun semakin meningkat apalagi setelah menyelesaikan pendidikan dan mengajar di Universitas Kabuaten Karawang serta menjabat Pembantu Dekan III dan II. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan mengambil S2 bidang keuagan di sebuah perguruan tinggi di Jakarta.
Karier kedinasanya pun ikut terdongkrak. Setelah 12 tahun (1974-1986) di Dinas PU, Open ditarik kembali ke Bappeda. Dari situ, berturut-turut ia meniti karier di kantor Lingkungan Hdup, Dinas Pendapatan Daerah, Bagian Perekonomian, Dinas Lingkungan Hidup dan kembali lagi ke Bagian Perekonomian. Disini , ia sampai memasuki masuk Masa Persiapan Pensiun (MPP) terkait usianya yang sudah memasuki 55 tahun.
“Dalam bekerja saya tetap berpegang pada filosofi , bekerja dengan kemampun terbaik dan tidak pernah memikirkan yang lain-lain. Bulan Mei 2006 saya diminta Bupati untuk memperbaiki PDAM Karawang yang kondisinya cukup amburadul. Pesan Bupati, ‘perbaiki serta sehatkan PDAM’ karena air adalah kebutuhan dasar hidup manusia,” tegasnya. Dan sebelumnya juga memeperbaiki Lembaga Perbankan yaitu BPR BKPD dan LPK milik Pemerintah Daerah Kab. Karawang.
Pesan Bupati tersebut memiliki implikasi yang sangat luas. Apalagi saat itu, kesan terhadap kinerja PDAM Karawang adalah kondisi, pelayanan dan kualitasnya sangat buruk. Saat masuk, ia langsung melaksanakan berbagai evaluasi termasuk “kekuatan” saldo kas untuk membiayai operasional perusahaan. Hitung-hitungan ekonomi menyebutkan syarat perusahaan yang sehat adalah saldo kas mampu membiayai operasional perusahaan selama minimal 45 hari kerja dan idealnya 60 hari kerja.
Mosi Tidak Percaya
Open Supriadi sadar, untuk membenahi kinerja PDAM Tirata Tarum Karawang Tidak bisa serta merta “potong kompas” dengan menaikan tarif. Ia lebih memilih alternatif lain untuk meningkatkan pendapatan perusahaan tanpa harus melakukan investasi. Cara ideal adalah dengan menghentikan tingkat kebocoran/NRW sebesar 46 persen pertahun yang dialami PDAM tersebut. Artinya, kebijakan pertama saat menjabat Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang adalah melakukan efisiensi pembiayaan di segala bidang dengan efektif.
“Tetapi efisiensi terkait dengan pembiayaan. Tidak heran ketika saya sosialisasikan kepada karyawan, respon yang diberikan adalah saya didemo dan diberi mosi tidak percaya. Tetapi saya tetap tegar karena sebagai pemimpin harus siap menghadapi  hal-hal seperti itu, sudah resiko. Saya hanya mencoba memahami kenapa mereka demo. Artinya ada sesuatu dibalik semua itu.” Ungkapnya.
Mesikupun demikian, Open mendapat dukungan dari Bupati dan DPRD Karawang. Akhirnya ia mengambil tindakan tegas dengan menerapkan disiplin bagi seluruh pegawai di lingkungan PDAM Tirta Tarum Karawang. Program efisiensi dilanjutkan dengan hasil yang cukup mencengangkan. Dalam tempo delapan bulan, ia berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp. 989 juta.
Open tidak puas hanya berhenti sampai disitu dalam menata perusahaan daerah dengan titik tolak produksi air tersebut. Ia kemudian beranjak kebagian distribusi dan produksi, karena untuk melakukan investasi belum memungkinkan. Program yang dijalankan berhasil dengan efektif dalam mendongkrak pendapatan perusahaan. Tahun pertama hanya Rp. 1,5 miliar meningkat menjadi Rp. 1,7 miliar tahun kedua dan Rp. 3 miliar pada tahun keempat. Pelanggan pun meningkat dari 32.000 SR (Sambunga n Rumah) menjadi 48 ribu SR pada tahun 2010.
“Cukup fantastis peningkatanya. Saya juga memikirkan kesejahteraan pegawai, karena bagaimana mereka disuruh bekerja disiplin kalau kesejahteraan terabaikan? Makanya kesejahteraan setahap demi setahap kami perbaiki. Karena efisiensi menghemat pembiayaan lembur, listrik, kimia, sakit dan lain-lain sampai 12 komponen jumlahnya. Saya tata kembali, karena dalam filosofi saya, jika dalam tiga bulan tidak bisa menjebol PDAM saya akan mundur,” ungkapnya.
Alhamdulilah berkat kerja keras dan kebersamaan dalam memperbaiki PDAM hasilnya sudah dapat dirasakan oleh semua pihak diantaranya perbaikan pelayanan, pembayaran utang, PAD dan khususnya perbaikan kesejahteraan karyawan PDAM seperti gaji ke 13, 14 dan 15 serta tunjangan kendaraan, dll.
Dari program-program yang dilaksanakannya, PDAM Tirta Tarum Karawang dinyatakan sehat oleh BPKP pada tahun 2009. Hingga tahun 2010, PDAM Karawang dipercaya untuk membangun infrastruktur air bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, hibah dari pemerintah Asutralia (AusAID). PDAM Tirta Tarum Karawang berhasil membangun 3000 SR senilai Rp. 8 miliar bagi masyarakat kurang mampu serta tambahan 1000 SR senilai Rp. 2 miliar yang dilokasikan tahun 2011 dengan pengerjaan  jadwal yang ditetapkan. Sebuah prestasi fantastis yang dicapai seorang direktur yang tadinya mendapat mosi tidak percaya dari anak buahnya termasuk dari anggota DPRD Kab. Karawang dan Bupati pun kurang percaya akan mendapatkan bantuan hibah dari pemerintah pusat yang bersumber dari hibah pemerintah Australia sebanyak itu.
“Saya sudah pensiun dari PNS dan hanya konsen bagaimana berbuat terbaik untuk kepentingan orang banyak. Keberhasilan adalah kepuasan tersendiri yang penuh tantangan. Alhamdulilah, tantangan telah menghasilkan kepuasan yang harus disukuri. Jadi di akhir karier ini, saya bersyukur kepada Allah SWT atas karunia dan hidayah yang diberikan. Terlepas Pro dan Kontra, kebenaran adalah milik tuhan dan manusia tempatnya salah. Yang penting kita yakin, apa yang kita lakukan benar, sesuai dan selalu berbuat yang terbaik,” tuturnya penerima Piagam Tanda Kehormatan Presiden RI Satya Lancana Karya Satya 20 dan 30 tahun.
Medirikan LSM
Sukses dengan kehidupan sekarang, Open Supriadi, ingin memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi masyarakat sekitarnya. Ia berharap, pengalaman dan pemikiran untuk selalu berbuat yang terbaik mampu menggugah masyarakat. Apalagi, banyak potensi yang ada ditengah masyarakat yang kurang mendapat tempat, selagi kesempatan ini ada untuk dimanfaatkan sebaik mungkin dan ia ingin memberdayakan masyarakat dengan potensi yang dimiliki masing-masing.
“setidaknya bisa memberikan kegiatan positif dan produktif sehingga mereka memiliki penghasilan guna memperbaiki daya beli masyarakat . karena demand ada, tinggal kita menyiapkan supply. Obsesi saya setelah berhenti menjadi Direktur Utama akan membentuk LSM Karawang. Saya akan turun dan berjibaku dengan modal yang dimiliki dan filosofi berbuat untuk kepentingan orang banyak. ‘sedikit demi sedikit kita himpun, lama kelamaan akan besar’. Kalau kita mulai dari yang kecil setahap demi setahap akan menjadi kuat, lama kelamaan membesar.  Itulah sebuah harapan dan mudah-mudahan Tuhan yang Maha Esa meridhoinya. Amin
Pria yang mendapat dukungan penuh dari keluarga ini, dalam bekerja tidak bisa begitu saja melepaskan kepada anak buahnya. Ia turut mengawasi jalanya pekerjaan hingga sesuai dengan program yang ditetapkan. Prinsifnya, ketika pekerjaan tidak bisa dilanjutkan oleh anak buahnya, ia sendiri yang mengambil alih.
“Learning by doing harus jalan. Saya tidak bisa mengandalkan anak buah begitu saja. Karena dalam bekerja, tidak dibantu pun saya bisa kerjakan sendiri. Itu resiko dalam pekerjaan sebagai pimpinan. Tidak hanya sekedar memberi perintah. Ketika tidak jalan, kita harus turun tangan menjalankanya,” kata open yang menyempatkan diri menemui keluarga disela-sela jam makan siang ini. “karena hari minggu saya juga kerja, sehingga setelah Dzuhur saya menemui keluarga,” imbuhnya.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan, pria gila kerja (workaholic) ini menerapkan prinsip keteladanan. Ia tidak hanya mengandalkan kekuasaannya sebagai puncak pimpinan dengan sekedar memeberikan arahan melalui omongan. Contoh langsung dalam berbagai hal mulai selalu ditunjukan dengan mengacu pada pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ia juga selalu menjalin komunikasi dengan anak buahnya untuk mendapat masukan, ide dan gagasan demi keberhasilan.
Saya terus berusaha, karena manusia itu kan tidak sempurna. Seminggu sekali saya berolahraga bersama mereka, dengan harapan ini menjadi upaya preventif agar kita tidak mudah sakit. Selain itu, kita menjalin komunikasi dengan mereka, termasuk menerima keritik dan saran kepada saya begitu juga sebaliknya. Kita ada K3, Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas,” katanya.
Ketiga hal tersebut terus diupayakan oleh Open Supriadi selaku Dirut PDAM Tirta Tarum Karawang. Untuk menjaga kontinuitas pasokan misalnya, ia melengkapi PDAM dengan genset berkekuatan 500 kilowat. Hal tersebut mencegah terhentinya pasokan air bagi pelanggan saat listrik PLN tiba-tiba mati.
Saya konsisten terhadap konsep dan idealis dengan yang saya  pikirkan. Itu saya buktikan dengan kinerja keuangan, di mana dari 6 cabang dan 10 Unit IKK PDAM Kab. Karawang. Kinerja terbaik dan ketika awal saya masuk kondisinya kurang baik dan kurang sehat. Semua itu tercapai dalam empat tahun karena fokus untuk bekerja,” katanya membeberkan kiat sukses.
Menurut Open, dalam kerja harus dibarengi ketulusan dan keiklasan dengan menyerahkan kepada  Allah SWT hasil pekerjaan tersebut. Tugas manusia hanya berusaha dan Tuhan yang menentukan. Namun yang perlu diingat adalah melakukan kebajikan akan menghasilkan kebajikan dan tindak kejahatan akan menerima kejahatan.” Itu saja yang harus dipegang. Jangan anggap rejeki akan datang sendiri akan tetapi yang harus dilakukan adalah doa, usaha dan ikhlas. Bukankah kenikmatan dan cobaan itu datang dari Tuhan yang Maha Esa?” nasehatnya.
Open Supriadi mengakui bahwa generasi muda sekarang dipenuhi dengan budaya instant. Pengaruh globalisasi telah mengubah mereka menjadi sosok-sosok yang sangat tergantung pada teknologi informasi (TI). Celakanya, pengaruh tersebut sudak merasuk begitu dalam sehingga sangat sulit untuk dibendung. Untuk itu, menyarankan agar orang tua memperkuat keyakinan agama masing-masing dan menularkan kepada anak-anaknya.
Orang tua, lanjut Open, tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan bakat dan keinginan anak harus didukung kearah yang baik. Orang tua harus memotivasi anak untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Meskipun demikian, fungsi kontrol orang tua harus tetap dijalankan sehingga anak tidak salah arah.
“karena proses pembelajaran tidak pernah berakhir dan harus disesuaikan dengan perkembanganya. Karena generasi muda menghadapi sesuatu yang berbeda dari zaman orang tuanya. Jadi tipsnya adalah, pertama pendidikan, kedua contoh dan keteladanan ketiga evaluasi dan kontrol yang terbangun dengan baik. Komunikasi dengan anak harus intensif dan orang tua harus mau berkorban demi anak. Tetapi agama juga perlu, konsisten dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Terus terang, saya merasa belum berhasil mendidik anak,” kata open Supriadi, Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang.

Ir. Hj Soepariyani Santoso Dharmoprodjo

No Comments

Ir. Hj Soepariyani Santoso Dharmoprodjo

Presiden Direktur PT Hobson Interbuana Indonesia

Mempertahankan Perusahaan Sebagai Kebanggaan Keluarga

Memiliki perusahaan, bagi keluarga adalah sebuah kebanggaan. Selain memberikan kehidupan yang lebih baik, perusahaan juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Bagi pemilik usaha, mewariakan perusahaan bagi anak dan cucunya juga menjadi fenomena tersendiri. Karena dengan tetap berjalannya perusahaan, masa depan keluarga terjamin.

”Perusahaan yang didirikan oleh suami ini merupakan kenangan dari suami sekaligus kebanggaan saya. Makanya saya berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keberadaannya. Dahulu pernah beberapa tahun merugi, tetapi saya tetap bertahan. Hingga sekarang, saya melibatkan anak dan cucu saya untuk mengelola perusahaan,” kata Ir. Hj soepariyani santoso Dharmoprodjo, Presiden Direktur PT Hobson Interbuana Indonesia.

Perusahaan yang didirikan oleh sang suami, Ir. Santoso Dharmoprodjo tersebut kemudian berkembang pesat. Dari warkshop pada tahun 1998. kemudian tumbuh besar menjadi pabrik pada tahun 1991. Saat itu, perusahaan yang bergerak di agricultur tersebut baru berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas Produk-produknya.

Sayangnya, sebelum bisa melihat usaha yang dirintisknya berhasil, Ir. Santoso meninggal dunia. Ia meninggalkan Istrinya yang baru saja bergabung di perusahaan sebagai direktur komersil setelah pensiun dari PN Dharma Niaga. sebagai ”pewaris” tunggal PT. Hobson, Nani panggilan akrabnya bukan berdiam diri menagisi nasibnya. kepergian suaminya menjadi pelecut semangat untuk terus mengembangkan perusahaan yang baru saja berdiri tersebut.

”Saya termasuk perempuan beruntung di zaman itu. karena Mas Santoso tidak pernah mengekang saya mengembangkan karier. tahun 1969-an, saya dibebaskan untuk keluar negeri seorang diri. baliau tidak pernah iri kalau karier saya lebih maju. mas Santoso selalu mendorong saya,” kisahnya.

memperoleh dorongan dari almarhum suaminya, Nani semakin bertekad memajukan perusahaan. apalagi tidak beberapa lama, perusahaan mendapat proyek pengembangan Pupuk Mikroba Multi Guna (PPMG) Rhizo-Plus kerjasama dengan Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan Bogor dalam rangka pelaksanaan RUK ( Riset Unggulan Kemitraan) yang dibiayai dengan dana Rp. 2 Miliar. Pembiayaan proyek tersebut meruipakan patungan antara DRN
(Dewan Riset Nasional) dengan PT. Hobson Interbuana Indonesia.

setelah kertjasama tersebut, lanjut Nani, PT. Hobson Interbuana Indonesia semakin berkembang. beberapa penelitian budidaya kerjasama dengan IPB untuk menghasilkan produk pupuk mikroba menunjukkan hasil yang memuaskan. penggunaan pupuk mikroba pada tanaman padi, kedelai, jagung dan lain-lain memberikan gambaran yang menyakinkan tentang masa depan pertanian Indonesia. Tak ayal lagi, pemasaran produk-produk perusahaan pun meningkatkan drastis.

”Sekarang pabrik sudah bagus dan lumayan. apalagi di era sekarang ini, dengan internet dan telepon, banyak orang-orang yang membutuhkan cukup mengangkat telepon saja. pemasaran kami pun sudah mencapai seluruh Indonesia dengan karyawan yang cukup banyak, sebagian besar perempuan. Pokoknya, saya sangat bersyukur, karena kehidupan saya menjadi sangat baik saat ini,” tegasnya.

Perempuan dengan filosofi ”Menebarkan Kasih Sayang Bagi Sesama” ini, menempatkan orang-orang terdekatnya untuk bersama-sama mengelola perusahaan. Mulai anak, menantu hingga cucu yang memiliki kemampuan diajak membantu memajukan perusahaan. ”Salah satunya, adalah cucu dari anak ketiga yang lulusan ITB. Dialah yang memperbaharui mesin-mesin kami sehingga produksi menjadi efektif. kemudian anak pertama menjadi Direktur Keuangan dan dibantu oleh beberapa cucu yang lain,” tuturnya.

Motivasi Kebenaran

Perempuan kelahiran Bojonegoro, 24 Juli 1931 ini mengisahkan bagaimana dirinya mengasah kemampuan. Semenjak lulus dari Teknik Kimia, ia bekerja di Piterschoen & Son, sebuah pabrik cat dari tahun 1961-1967. setelah itu, ia kemudian pindah bekerja disebuah perusahaan BUMN milik Departemen Perdagangan, Dharma Niaga dari tahun 1967 sampai tahun 1988.

”Masuk pertama kali sebagai General Manager dan pensiun sebagai Direktur dan komersial pada tahun 1988. Setelah itu, saya diminta untuk membantu Mas Santoso di perusahaan yang didirikannya, PT. Hobson ini. Dalam menjalankan aktivitas, saya selalu termotivasi bahwa kalau orang lain bisa kenapa saya tidak. selama itu benar, saya pasti akan menjalaninya,” kisah ibu enam anak ini.

Namun, berbeda dengan sang suami yang Workaholic, Nani lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan dirinya. Ia tidak ingin seperti suami yang dicintainya, tidak memikirkan kondisi badannya dalam mengurus pekerjaan. Nani ingat bagaimana suaminya setiap hari hilir mudik antara Jakarta-Puncak untuk mengurus pabrik sehingga mengabaikan kesehatannya sendiri.

”Akibatnya, ketika perusahaan mulai maju, Bapak kesusu meninggal sehingga saya yang meneruskan. Tetapi apapun itu, saya sangat bangga bisa meneruskan apa yang dicita-citakannya. Sehingga seluruh keluarga pada meledek saya sebagai Dirut Hobson. Ini kan sebagai kenang-kenangan dan peninggalan dari Mas Santoso Sehingga harus diteruskan dan dilestarikan. Apalagi, prospek kita juga bagus dan semakin maju terus,” ungkapnya bangga terhadap sang suami yang sama-sama lulusan Teknik Kimia.

Karena sama-sama memiliki latar belakang Teknik Kimia, jelas Nani, suami dan dirinya saling memahami satu sama lain. Mereka berdua setiap saat melakukan diskusi dan sharing mengenai pekerjaan masing-masing. Dari situ, lahirlah ide-ide, kebijakan, pembagian tugas dalam keluarga, strategi perusahaan dan lain-lain.

Sebagai wanita karier, Nani mengajarkan kepada keenam anaknya untuk hidup mandiri. Kepada mereka, ia mengajarkan bahwa kepergiannya keluar rumah adalah bekerja demi kehidupan keluarga sehingga tidak bisa mengurus anak-anaknya dengan sempurna. ”Bahkan, pada saat wisuda anak pertama saya tidak hadir karena harus pergi untuk menandatangani kontrak. Jadi yang datang hanya bapak sama anak kedua saja,” kisah putri kedua dari empat bersaudara pasangan Soeyitno (Alm) dan Hj. Amini Soeyitno ini.

Di sisi lain, ia juga mempunyai seorang suami yang sangat sederhana, tidak konsumtif dan pekerja keras. seperti dituturkan oleh putri keempat yang menyatakan bahwa sang ibu dimanjakan oleh lingkungan. Yakni suami yang sangat mengerti dan toleran atas segala kegiatan-kegiatannya dan anak-anak yang sangat mandiri. Kedua hal tersebut membuat ia berkembang menjadi wanita karier yang profesional tanpa harus terbebani pemikiran keluarga.

”Kami, anak-anaknya semua mandiri dan tidak manja karena sadar kalau ibu bekerja untuk kita. Jadi meskipun tidak mengurusi kita seperti ibu-ibu yang lain, tetapi ibu bekerja untuk kita. Sementara ayah mengajarkan kesederhanaan dan tidak konsumtif, diiringi kerelaan untuk melepas ibu bekerja di luar rumah.

Sekilas PT. Hobson Interbuana Indonesia

Tertantang untuk berkarya serta komitment pada pembangunan bidang pertanian, pertengahan tahun 1988, Bapak Ir. Santoso Dharmoprodjo (Alm) memprakarsai pendirian sebuah usaha. Tujuan pendirian perusahaan tersebut adalah untuk melayani berbagai kebutuhan yang berhubungan dengan proses pembangunan pertanin.

Bersama 21 industri lainnya, pabrik Zat Pengatur Tumbuh tanaman diresmikan pendiriannya oleh presiden Soeharto pada tanggal 21 Maret 1991 bertempat di pabrik pupuk PT Kujang. Secara histories, pabrik zat pengatur tumbuh tanaman dengan merek Hobsanol merupakan andalan utama usaha.

Namun, dalam perjalanannya seiring dengan kegiatan diversivikasi usaha, dari PT Hobson Interbuana Indonesia kemudian lahir satu produk unggulan lainnya. Produk Pupuk Mikroba Multi Guna (PMMG) dengan brand “ Rhizo-Plus” tersebut merupakan hasil kerjasama kemitraan dengan Balitbio Bogor dalam rangka pelaksanaan RUK (Riset Unggulan Kemitraan) yang didukung oleh DRN (Dewan Riset Nasional) memiliki performance dan efikasi yang bagus serta memiliki prospek pemasaran yang sangat cerah.

Pada tahun 1997, perusahaan mendapat kepercayaan dari pemerintah/Dirjen Tanaman Pangan untuk mensuplai Rhizo-Plus bagi proyek Pembangunan Pertanian Rakyat Terpadu Pembinaan Tanaman Pangan dan Horlikultura (P2RT-PTPH) di 24 provinsi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia seluas 273.013 Ha.

Badan Hukum

Oleh para pendirianya, usaha ini diberi badan hukum dengan nama PT Hobson Interbuana Indonesia yang diserahkan oleh notaris Soetomo Ramelan, SH pada tahun 1988. Pada tanggal 26 juli 1988, PT Hobson Interbuana Indonesia mempunyai pengesahan sebagai Badan Hukum berdasarkan keputusan Dirjen Hukum dan Perundang-undangan Depkeh dengan nomor C2-6182-HT0101

Visi dan Misi PT. Hobson Interbuana Indonesia

Visi
Terbangunnya masyarakat pertanian indonesia yang maju, mandiri, berdaya saing dan akrab lingkungan sebagai dasar bagi terbangunnya sistem ekonomi kerakyatan

Misi
Meningkatkan produktivitas sektor pertanian yang akrab lingkungan dan berkelanjutan
Meningkatkan nilai tambah sektor pertanian melalui pengembangan industri hilir
Mendukung peningkatan daya saing nasional melalui sektor pertanian yang berdimensi kerakyatan dan tanggap terhadap dinamika perubahan
Membangun kehidupan sektor pertanian yang adil, sejahtera dan maju

Produk PT. Hobson Interbuana Indonesia

Prduk awal dari perusahaan adalah ZPT Hobsanol 5 EC dengan keunggulan komparatif dibandingkan produk yang sudah ada. Hobsanol 5 EC adalah zat pengatur tumbuh yang mampu dan efektif menstimulasi pembentukan dan meningkatkan hormone tanaman seperti Auksin, Sitokinin,  Etilin, Giberilin maupun enzim-enzim lainnya. Hobsanol 5 EC bukan hormone, tetapi bila diaplikasikan pada tanaman akan merangsang aktivitas pembentukan hormon alami.

Penggunaan Hobsanol 5 EC terbukti meningkatkan produksi padi 15-31%, kedelai 20-30%, cabai 20%, teh 30-40% dan masih banyak lagi. Dari bahan  aktif Triacontanol, PT Hobson Interbuana Indonesia mengembangkan produk pupuk pelengkap cair ( PPC ) dengan nama Nutrisanol. Produk ini merupakan formula Hobsanol 5 EC yang diencerkan menjadi 10 kali lipat dan diperkaya dengan unsur hara makro nitrogen dan kalium serta unsur mikro Zn dan Ca.

PT. Hobson Interbuana Indonesia telah mampu memproduksi sendiri Zat Pengatur Tumbuh Hobsanol 5EC dngan bahan baku asli indonesia dengan kandungan bahan aktif yang lebih tinggi dari pada bahan ex impor. Dengan demikian, seluruh teknologi produksi Hobsanol 5 EC mulai dari pembuatan bahan aktif, formulasi sampai dengan pengendalian mutu sudah dapat dikuasai sepenuhnya oleh tenaga ahli PT. Hobson Interbuana Indonesia.

PT. Hobson Interbuana Indonesia kemudian mengembangkan Pupuk Mikroba Multiguna Rhizo – Plus. Pupuk mikroba ini merupakan pupuk hayati mengandung beberapa jenis dan strain mikroba unggul, yang efektif bersifat multiguna dan mempunyai adaptasi yang luas. Pupuk mikroba multiguna Rhizo – Plus merupakan pengembangan dari inokulum Rhizobium komersial yang teleh ada, terdiri dari beberapa janis mikroba efektif multiguna asal indonesia dan terpilih hasil seleksi intensif terhadap kemampuannya mengikat N-udara, melarutkan fosfat dari kompleks Ca-Pada dan AI-P, serta toleransinya terhadap kondisi mencekam kemasaman AI dan kekeringan.

Rudy F Subarkah

No Comments

Rudy F Subarkah
General Manager Puncak Pass Resort

Resort Bernuansa Heritage yang Berguna Untuk Masyarakat

Ribut-ribut masalah pelestarian lingkungan di wilayah Puncak dan sekitarnya sebagai daerah tangkapan air, tidak melibatkan Puncak Pass Resort. Di saat sebagian pengelola resort beramai-ramai memanfaatkan seluruh lahan miliknya –bahkan kadang mengokupasi tanah negara- Puncak Pass tidak demikian. Sejak berdiri tahun 1928, pengelola menerapkan kebijakan untuk tidak sekalipun melakukan kegiatan yang dapat merusak lingkungan.

Di antaranya adalah dengan memanfaatkan sebagian dari lahan yang difungsikan untuk keperluan usaha. Sebagian besar lainnya dibiarkan menjadi hutan dan pelestarian kehidupan flora serta fauna, sekaligus menjadi landsekap yang memperindah Puncak Pass Resort. Tidak heran, di usianya yang hampir satu abad, Puncak Pass Resort tetap menawarkan keindahan dan eksotisme suasana pegunungan yang asri dan nyaman.

“Sesuai dengan visi dan misi Puncak Pass Resort, kita ingin menjadikan resort yang bernuansa heritage dan berguna untuk masyarakat. Puncak Pass sangat peduli dengan perlindungan alam bahkan bekerja sama dengan BKSDA menangkarkan rusa serta membiakkan burung langka. Bahkan dari 5,6 hektar lahan, yang kita gunakan paling cuma 10 persen, sisanya tetap dibiarkan menjadi hutan,” kata Rudy F Subarkah, General Manager  Puncak Pass Resort.

Yayasan Dharma Karya Mandiri (YDKM) sebagai Puncak Pass Resort adalah suatu yayasan yang awalnya didirikan oleh para pejuang kemerdekaan tahun 1945 yang memiliki visi “Berjuang Tanpa Akhir”. Meskipun satu per satu generasi founder yayasan meninggal dunia, tetapi semangat tersebut terus dipertahankan. Bahkan, lama kelamaan perkembangan yayasan mengarah pada bagaimana mengupayakan kesejahteraan masyarakat.

Melalui Puncak Pass Resort, yayasan telah memberikan sumbangsih yang besar kepada masyarakat sekitar. Tidak hanya dalam upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Setidaknya, beberapa orang karyawan resort berasal dari masyarakat yang tinggal di sekitar resort. Bukan itu saja, para pekerja tersebut bahkan telah diturunkan dari generasi ke generasi.

“Dari segi sejarah, bisa dibilang ini karyawan warisan. Yakni dari ayah dan kakeknya yang sebelumnya juga menjadi karyawan di sini. Maklum resort ini sudah ada sejak tahun 1928 sehingga tidak heran ada yang mendapat pasangan dari sini. Dari situ kemudian anaknya meneruskan karier bapaknya, begitu seterusnya,” ujarnya. Saat ini, dengan 27 unit resort dan restoran, Puncak Pass mempekerjakan 127 orang karyawan. “Ini bisa dikatakan padat karya, karena memerlukan tenaga perawatan yang sangat banyak. Dari kamar, taman, hewan sampai hutan,” imbuhnya.

Sejarah Puncak Pass Resort, tidak bisa dilepaskan dari masa penjajahan Belanda. Para petinggi Belanda tadinya menjadikan Puncak Pass Resort sebagai sarana peristirahatan dalam perjalanan antara Bandung dan Jakarta. Infrastruktur dan kendaraan sebagai sarana mobilitas masih sangat kurang sehingga diperlukan waktu yang cukup lama untuk melintasinya. Puncak merupakan wilayah di tengah-tengah antara kedua kota tersebut yang tepat untuk dijadikan tempat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Setelah penjajahan Belanda berakhir, atas pemikiran Muhammad Yamin untuk memberikan “kail” bagi keberlangsungan Yayasan Dana Kesejahteraan Mahasiswa, cikal bakal YDKM sekarang ini. Pembelian resort oleh yayasan pada tahun 1954, selain untuk menampung dan mengkaryakan Tentara Pelajar (TP) juga dipergunakan membiayai pendidikan bagi mantan TP yang berprestasi. Hasilnya, beberapa orang yang dibiayai Yayasan pernah mewarnai kehidupan di republik ini di bidang pendidikan, kemiliteran dan lain-lain.

“Salah satunya adalah Ketua Yayasan YKDM Prof. Widagdo. Dahulu, Muhammad Yamin selalu mampir kalau sedang menuju Bandung karena jalanan masih sangat sulit. Kalau sekarang, pengabdian Yayasan sudah tidak kepada mantan TP tetapi kepada masyarakat umum. Melalui rekomendasi dari DIKTI kita juga memberikan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi dari seluruh Indonesia. Sejak tahun 2010, yayasan berubah nama menjadi Yayasan Dana Kesejahteraan Mandiri dan tidak terfokus kepada beasiswa bagi mahasiswa saja. Sekarang lebih kepada award yang kita berikan kepada mahasiswa dan umum,” tegasnya.

Mantan Chef

Rudy Fachruddin Subarkah mulai aktif di Puncak Pass Resort sejak 1 Maret 2008, menggantikan pendahulunya Yoen Wachyu. Pria kelahiran Bandung, 19 April 1964 ini telah malang melintang di dunia hospitality industries sejah menamatkan studinya di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bandung dalam program studi Hotel Managemen pada tahun 1993.

Berbagai jenjang pendidikan dan latihan formal dalam bidang keahlian perhotelan telah diikutinya sejak tahun 1985 – 1986 yang dimulai dengan Food Production, dilanjutkan pada 1987-1988 dan terakhir pada 1992-1993 dalam program studi Manajemen Hotel. Latihan kerja dan magang dalam mempraktekan ilmu dan teori yang didapatnya dari bangku kuliah yang diikutinya sejak tahun 1986 di restoran Oasis Jakarta, Makassar Golden Hotel, Makassar, Star Ship Atlantic, Florida-Amerika Serikat, Glossy Restaurant-Bandung, Movenpick Paradeplatz Restaurant, Zurich-Swiss.

Rudy juga pernah bekerja di King’s Hotel-Palembang, Sheraton Inn, Timika, Lido Lakes Hotel, Bogor, Radisson Makassar, Makassar, Treva International Hotel Jakarta, Quality Hotel Yogyakarta dan Quality Hotel Gorontalo. Jenjang karier profesional pilihan hidupnya dimulai dari bawah langsung berhubungan dengan bidang keahlian spesialisasinya dalam food & beverage sebagai cook hingga tingkat eksekutif yang bersifat managerial umum sebagai General Manager.

“Karier saya sebenarnya Chef, tukang masak. Terus meningkat sampai sekarang menjadi GM sejah tahun 2006 di Gorontalo. Visi saya simple saja, ingin membuat semua yang dekat dengan saya menjadi senang. Bagi keluarga maupun orang-orang yang mengenal saya sebisa mungkin menjadi senang berkat kehadiran saya. Saya yakin, kesenangan yang kita berikan kepada orang lain, pasti kembali kepada kita. Kalau mau dapat cobalah memberi terlebih dahulu meskipun kecil,” tandasnya.

Saat ini, Rudy mengandalkan keikhlasan sebagai patokan masa depannya. Selama masih diberikan kehidupan oleh Tuhan semua kemungkinan bisa terjadi. Dengan dilandasi semangat ikhlas, suami Vera Napitupulu ini berharap mampu mewujudkan cita-cita dan keinginannya. Ikhlas memiliki makna yang sangat luas, mulai jujur, ridhlo dan lain-lain. “Di sisi lain, ikhlas bukan pasrah. Kalau kita miskin terus mengandalkan pasrah ya kacau. Jadi hidup adalah ibadah dan ibadah harus dijalani dengan ikhlas. Dua itu saja, sulitnya minta ampun,” imbuhnya.

Ayah satu anak yang mendapat dukungan penuh keluarga ini, sangat bersyukur atas kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan istri yang satu almamater, membuat komunikasi pasangan ini tidak terjadi hambatan yang berarti. Termasuk ketika istrinya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga setelah kelahiran anaknya yang saat ini sudah kelas tiga SMP.

Kepada generasi muda, Rudy berpesan agar mereka terus mengembangkan diri menjadi lebih baik. Ia meyakini bahwa dengan generasi penerus yang baik, masa depan bangsa juga akan menjadi lebih baik. Asalkan generasi muda memiliki dorongan yang kuat dalam dirinya untuk maju, masa depan bangsa akan berada di tangan yang benar.

“Tetapi yang menjadi permasalahan mungkin pengaruh lingkungan sekitarnya. Generasi muda jangan dijejali dengan pikiran negative, tetapi harus optimis. Tuhan tidak akan menghancurkan dan yang merusak adalah generasi kita sendiri. Jadi tinggal bagaimana kita mengarahkannya, selama masih wajar kita anggap biasa. Sebagai orang tua, kita tinggal membimbing dan mengarahkan,” tegasnya.