Tag: kata

Drs. Adrianto, M.Hum

Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels

Mengajar Adalah Cara Terbaik Untuk Belajar 

Tanpa penguasaan yang tinggi terhadap bahasa Inggris, Drs. Adrianto, M.Hum., nekat membuka kursus. Berbekal pemasangan iklan di suratkabar dan lokasi “elit” di sebuah hotel, lembaga kursus menerima siswa dari berbagai kalangan. Tidak hanya murid sekolah, tetapi juga petinggi kepolisian di wilayah Jakarta.

Namun siapa sangka, kalau ternyata tutor yang memberikan kursus merasa kurang menguasai bahasa Inggris. Mahasiswa Universitas Indonesia yang mendirikan kursus hanya bermodal menghapal materi yang akan diajarkannya kepada siswa. Tidak heran, dalam beberapa sesi ia “gelagapan” menjawab pertanyaan-pertanyaan muridnya.

“Karena saya memang waktu itu belum benar-benar menguasai bahasa Inggris. Dan untuk bahan mengajar pun ‘hanya’ menghapal bahan yang akan saya ajarkan. Peserta kursus saya sedikit tetapi berkualitas, antara lain istri Panglima Polisi wilayah Jakarta. Oleh karena itu, saya harus benar-benar menguasai materinya,” kata Direktur Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels ini.

Tentu saja, Adri –panggilan akrab pria kelahiran Semarang, 19 November 1958- ini, tidak ingin dihukum karena ternyata penguasaan bahasa Inggris-nya minim. Dengan terpaksa, ia belajar bahasa Inggris sekuat tenaga agar mampu menguasainya dengan baik. Ia tidak ingin kredibilitasnya turun dan mendapat malu di depan siswa yang notabene belajar darinya.

Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Upayanya untuk menghapal materi pelajaran bahasa Inggris berhasil positif. Akhirnya ia menguasai bahasa internasional tersebut dan percaya diri untuk menggunakannya pada berbagai kesempatan.

“Jadi kesimpulannya saya mampu berbahasa Inggris karena mengajar, meskipun hanya ngapalin saja. Intinya drive saya itu berasal dari keterpaksaan, yang tadinya terpaksa menjadi bisa. Ilmu yang saya dapat, mengajar adalah cara belajar yang sangat bagus,” tandasnya.

Sebenarnya tekad kuat Adri untuk belajar bahasa Inggris dilandasi oleh keinginannya bekerja di kedutaan besar. Namun ia terbentur syarat bekerja di kedutaan adalah penguasan bahasa Inggris yang mumpuni. Sementara dirinya saat itu tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik. “Logikanya, kalau ingin belajar bahasa Inggris kenapa saya tidak mengajar bahasa Inggris. Makanya saya mendirikan lembaga kursus itu karena menjadi guru kan harus lebih pinter dari muridnya,” kilah pria dengan moto “Menyenangkan Orang Lain” ini.

Terlalu Teoritis

Menurut Drs. Adrianto, M.Hum, dunia pendidikan Indonesia saat ini terlalu banyak mata pelajaran yang harus dikuasai. Anak didik dijejali mata pelajaran yang sebenarnya belum perlu diajarkan. Selain itu, mereka sebagai peserta pembelajaran kebanyakan menerima pelajaran yang bersifat teori belaka.

“Pelajaran yang banyak itu, dipenuhi dengan teori, tapi praktek dalam pembelajaran bahasa Inggris. Sekarang ini banyak yang diajarkan secara teoritis, sementara gurunya sendiri terkesan kurang menguasai bahasa Inggris yang pas. Kalau untuk bahasa asing, harusnya guru-guru yang mengajar anak-anak dengan hapalan kemudian mempraktekkan,” kata pengagum Bunda Theresa tersebut.

Adri mencontohkan dirinya sendiri dalam belajar bahasa Inggris dengan metode awal, menghapal. Ia menghapalkan percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris, bukan kata per kata baru disusun dalam sebuah kalimat. Adri mempraktekkan percakapan-percakapan tersebut di kamar kosnya layaknya sebuah sandiwara monolog.

Saking seriusnya Adri menghapal, penah ibu kosnya sempat mendobrak masuk kamar. Ibu kosnya menyangka di dalam kamarnya terjadi pertengkaran antara dirinya dengan orang lain. “Tetapi saya jalan terus, untuk mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris. Anak-anak sekarang juga harus begitu, jangan takut salah dalam mempraktekkan bahasa asing. Salah nggak apa-apa, lama-lama toh akan bisa. Mengenai teori dengan praktek itulah kita bisa menggali teorinya,” kata ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Titiek Sayekti ini.

Menurut sulung dari empat saudara pasangan R Ng KH Rois Ibrahim dan Ny R Ng Sumarni ini, dunia pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah maju. Secara keseluruhan dunia pendidikan Indonesia tidak ketinggalan dengan negara lain. Hanya saja, pada beberapa perlu dilakukan pembenahan sesuai dengan kebutuhan zaman. “Pendidikan kita maju. Generasi muda sejak kecil harus diberi landasan, sehingga akan berkembang ketika mereka besar nanti,” tambahnya.

Tangan Tuhan

Adrianto memimpin Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (Akpar JIH) sejak dua tahun lalu. Sebenarnya ia sendiri tidak merencanakan kariernya akan mencapai puncak di lembaga pendidikan pencetak tenaga kepariwisataan. Semua yang dilakukannya berjalan mengalir begitu saja dilandasi dengan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Selebihnya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan untuk membimbing perjalanannya.

“Sebenarnya saya sendiri merasa bahwa semua itu tangan Tuhan. Adanya saya disini dan sebagainya tidak saya rencanakan terlebih dahulu. Tadinya lembaga ini dipegang oleh rekan dari Trisakti. Kemudian setelah masa jabatannya habis saya menggantikannya,” katanya.

Adri mengisahkan ketertarikannya di dunia pariwisata. Dimana untuk menggeluti dunia pariwisata harus tahu akar pariwisata itu sendiri. Indonesia dengan primadona kepariwisataan di Bali, akarnya pun terletak di Pulau Dewata tersebut. Sadar akan hal itu, ia belajar dan bekerja di Bali selama tiga tahun.

Kepada investor asal Singapura tempatnya bekerja, Adri menyarankan untuk membuka lembaga pendidikan pariwisata di Jimbaran. Sarannya diterima dan bekerjasama dengan Universitas Udayana dan berdirilah Politeknik Negeri Bali. Selama di Bali, ia tinggal di Ubud. Pertimbangannya, Ubud adalah pusat budaya Bali sehingga tinggal di tengah sentra akar pariwisata sangat tepat. “Nawaitu saya adalah mempelajari budaya Bali dan pariwisata, karena Bali termasuk primadona pariwisata dunia,” tambahnya.

Kesimpulan selama mempelajari pariwisata Bali, menurut Adri adalah lekatnya agama Hindu dalam kehidupan masyarakat. Saking kuat dan mengakarnya agama Hindu –bahkan mengalahkan ketaatan masyarakat dalam beragama Hindu di India. Ketaatan masyarakat Bali terhadap agamanya telah menjelma menjadi budaya. Bahkan sebutannya pun sudah menjadi khas Bali, yakni agama Hindu Bali.

“Meskipun demikian, seperti pemeluk agama lain, orang Bali sendiri banyak yang tidak tahu secara detail terhadap arti ritual agamanya,” ungkap penyuka liburan bernuansa “Back to nature” tersebut.

Setelah tiga tahun di Bali, Adri kemudian kembali ke Akpar dan diangkat sebagai Pembantu Direktur (Pudir I). Pengangkatan tersebut, menurut dirinya terkait dengan pengetahuannya mengenai masalah budaya yang dipelajarinya di Bali. “Mungkin dianggap oleh direktur saya sudah menguasai ilmunya selama belajar di Bali. Sebenarnya saya hanya senang karena belajar sesuatu yang menarik untuk dipelajari,” kata kepala keluarga dengan moto “Biarkan anak berkembang secara alamiah dengan dasar pembinaan dan pendidikan yang baik dari kami” ini.

Akpar JIH Sekilas

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels berdiri pada tahun 1994. Kampus pertama menempati lokasi Hotel Borobudur di Lapangan Banteng Jakarta Pusat selama tiga tahun. Pertama kali berdiri, merupakan program apprentice Hotel Borobudur untuk memenuhi tenaga kerja terampil dan siap pakai untuk memenuhi kebutuhan Hotel Borobudur sendiri.

Seiring dengam jumlah mahasiswa yang terus meningkat, kapasitas kelas tidak mencukupi sehingga lokasi kampus dipindahkan ke Kawasan Niaga Terpadu Sudirman (SCBD) Jalan Jend Sudirman kav 52-53. Dimana di kawasan ini juga terdapat Hotel Ritz Carlton, gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Gedung Artha Graha, Apartemen Capital, Apartemen SCBD, Apartemen Kusuma Chandra, JakTV dan beberapa gedung bisnis lainnya.

Akpar JIH ini merupakan anak perusahaan dari PT Jakarta International Hotels & Development (JIHD) yang juga merupakan induk organisasi Hotel Borobudur. PT JIHD selaku pemilik dari Akpar JIH dan Hotel Borobudur merupakan anak perusahaan dari Bank Artha Graha.

Sampai saat ini, Akpar JIH terus mengembangkan berbagai program yang sesuai dengan kebutuhan industri perhotelan baik dalam keahlian maupun praktek.

Lulusan Akpar JID tidak hanya bekerja di Indonesia, tapi telah menjangkau Amerika, Jepang, Dubai dan Negara-Negara di Timur Tengah termasuk untuk mensuplai tenaga kerja ke Kapal pesiar di Amerika dan Eropa.

Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels merupakan sebuah akademi pariwisata terkemuka di Jakarta yang memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan dunia pariwisata dengan mengembangkan berbagai program pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi yang merupakan tuntutan dari industri pariwisata pada umumnya dan industri perhotelan pada khususnya.

Keahlian yang berbasis kompetensi inilah yang sampai saat ini membantu lulusan Akpar JIH dalam mendapatkan pekerjaan. Dalam penyaluran lulusan, Akpar JIH mendapat bantuan dari beberapa hotel dalam group sendiri seperti Hotel Borobudur, the Ritz Carlton Pacific Place, Prameswari Puncak dan Kartika Plaza Discovery di Bali.

Program praktek lapangan Akpar JIH adalah dengan mengirimkan mahasiswa ke hotel-hotel berbintang lima di Jakarta, Bali, Malaysia dan Singapura.

Selain program pendidikan yang baik, Akpar JIH juga terletak di lokasi yang strategis dan dilalui oleh berbagai angkutan umum dari selurauh area di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Hal ini menyebabkan mahasiswa Akpar JIH datang dari berbagai penjuru kota karena akses angkutan yang mudah dan murah dengan ditunjang oleh jaringan Transjakarta dan suttlebus di kawasan kampus.

Fasilita belajar Akpar JIH terdiri dari kelas ber-AC dengan kapasitas 20 orang per kelas. Selama pelajaran menggunakan multi media seperti Over Head Projector, Video Presentation dan LCD. Tenaga pengajar terdiri dari 37 orang dosen dari praktisi dengan gelar S1 dan S2, serta guest lecturer. Akpar JIH juga dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium untuk prakterk. Saat melakukan latihan kerja lapangan (PKL) Akpar JIH bekerja sama dengan hotel bintang lima dalam dan luar negeri.

Profil Akpar JIH

Jenjang pendidikan: D1, D3

Jumlah alumni: 300

Ikatan alumni: Ikatan Alumni Akademi Pariwisata Jakarta International Hotels (ILUNI APJIH), Jakarta International Hotels

Jumlah dosen tetap: 37 (pendidikan S1: 30, S2: 7)

Luas kampus: 2.500 m2

Fasilitas Kampus

Jumlah ruang kuliah: 8

Perpustakaan: luas 50 m2, koleksi buku: 200 judul, 400 eksemplar

Laboratorium: 6 unit (Front Office, Model Room, Kitchen, Restaurant, Laundry, Komputer)

Lembaga penelitian: Lembaga Pengembangan Manajemen Pariwisata (LPMP)

Unit kegiatan mahasiswa: olahraga (sepak bola, basket, badminton, voli, tenis meja, futsal), pencinta alam, rohani Islam, rohani Kristen, kesenian (paduan suara), bela diri (karate), English Club, Bartender Club, out bound

Fasilitas lain: lapangan olahraga, bergabung dengan Artha Graha Group

Akpar JIH melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi lain di luar negeri: HILDIKTRIPARI-Conrad Hilton Huston USA dalam studi banding

Kerjasama dengan instansi/lembaga lain di dalam negeri: Artha Graha Group, Kopertis III Ditjen Dikti

Prestasi:

– Juara I Table Set Up antarakademi se-DKI

– Juara II Food Competition dalam acara Indonesian Food Exhibition

– Masuk dalam 6 besar pada acara Bread Competition yang diselenggarakan oleh Bogasari

Beasiswa: disediakan oleh Jakarta International Hotels and Development bagi mahasiswa berprestasi

Dessy Arnas

No Comments

Runway Indonesia – Personality School

Mengajar Pengembangan Diri Sebagai Passion Kehidupan

Setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama bertahun-tahun, adakalanya kejenuhan menghinggapi seseorang. Apalagi kalau selama menekuni pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat, hingga lupa diri dalam bekerja dan tanpa terasa karier sudah tidak bisa meningkat lagi.

Kondisi seperti ini hanya bisa disikapi dengan menetapkan tiga pilihan. Pertama menyerah terhadap tuntutan pekerjaan sampai memasuki masa pensiun dan menikmati segala konsekuensinya. Kedua melepaskan diri dari seluruh aktivitas pekerjaan untuk menikmati istirahat. Sedangkan ketiga adalah menciptakan tantangan baru sehingga menumbuhkan semangat untuk terus berkembang.

“Saya merasa lelah setelah dua belas tahun bekerja pada sekolah pengembangan diri internasional. Setelah karier dirasa mentok, saya berpikir untuk berdiri sendiri. Apalagi saya ditegur Allah dengan sakit yang cukup keras karena bekerja terlalu ngoyo. Saya kemudian memutuskan untuk istirahat setelah selama bertahun-tahun agak lupa diri dalam bekerja,” kata Dessy Arnas, Runway Indonesia – Personality School.

Dessy kemudian mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu seperti mengajar. Belajar dari pengalaman sebagai marketing yang hampir-hampir tidak memiliki waktu luang, ia mengajukan pengunduran diri dan bergabung di Runway Indonesia, April 2011. Perusahaan pengembangan diri internasional tempatnya bergabung selama 12 tahun pun ditinggalkan.

Sedangkan Runway Indonesia sendiri sebelumnya merupakan sekolah modeling dan acting sejak tahun 2007. Pendirinya Agung Saputra adalah pemilik sebuah management artis dan Nonny Chirilda yang memiliki management model. Keduanya sepakat mengembangkan sekolah yang mereka miliki menjadi personality school atau sekolah pengembangan diri, terbentuklah Runway Indonesia.

“Kemudian bergabunglah saya yang experience di sekolah pengembangan diri, personality. Di sini, saya tidak hanya sekadar mengajar yang sudah menjadi passion kehidupan saya. Tetapi saya juga membuat design program training, desain program kelas, nanti murid-muridnya bisa kita encourage agar dapat lebih mendapatkan sesuatu, begitu,” kata salah satu stakeholder Runway Indonesia ini.

Dessy telah menyusun program pengembangan diri di Runway Indonesia yang terbagi dalam tiga program, yakni program anak-anak, remaja dan dewasa. Bagi kelas dewasa diutamakan untuk mempelajari Self Improvement untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kelas anak-anak bisa belajar percaya diri dan kemandirian sehingga terlepas dari ketergantungan pada ibunya, suster dan lain-lain. Sementara kelas remaja -masa transisi yang kritis dan harus diwaspadai- sehingga harus diberikan wawasan agar tidak melenceng, mampu mengatur diri sendiri, manajemen waktu dan lain-lain.

“Kalau bidang entertainment, seperti model dan artis, kemudian bidang karir, semua itu kita terus kembangkan. Karena sasaran kita memang untuk kalangan anak muda, seperti program karier bagi mahasiswa untuk menyiapkan diri dalam berkarier. Seperti bagaimana mereka ‘menjual dirinya’ saat melamar pekerjaan. Karena kebanyakan perusahaan ingin karyawan yang sudah jadi. Di sini, lama pendidikan hanya dua bulan atau 12-14 pertemuan saja,” katanya.

Terbiasa Hidup Mandiri

Perempuan kelahiran 12 Desember 1972 ini mengisahkan, ketertarikannya ke dunia kerja tidak lepas dari peran sang ibu –Hj Suharti- yang seorang wanita karier. Istri H Nasrun Ismail –ayah Dessy- ini bekerja sebagai Sekretaris Kepala Telkom dan sempat melakukan tugas mengepang rambut tiga anak perempuan, menyiapkan perlengkapan satu anak laki-laki serta kebutuhan suaminya.

“Ibu bahkan masih sempat menyasak rambut sendiri, menyetir mobil ke kantor sendiri dengan sepatu hak tinggi. Kayaknya enak banget ya menjadi wanita karier. Makanya sejak sekolah saya ikut sanggar dan kegiatan lain yang menghasilkan uang. Saya terbiasa hidup mandiri meskipun kedua orang tua secara finansial tidak kekurangan. Pada semester 6, saya ikut menjadi pramugari seasonal di Garuda saat musim haji,” katanya.

Ayahnya terusik melihat “keusilan” anak ketiganya ini. Dessy pun mendapat teguran untuk memilih salah satu dengan serius, melanjutkan kuliah atau bekerja mencari uang saja. Sebagai orang yang konsekwen atas pilihannya, Dessy pun kemudian bekerja. Saat usianya menjelang 22 tahun, ia bekerja di Surabaya dan memutuskan untuk menikah satu tahun kemudian.

Sayang, saat karier Dessy sudah bagus dan mapan, suaminya dipindah tugaskan ke Banda Aceh. Dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa dan lain-lain, karier yang sudah dibangunnya pun ditinggalkan begitu saja. Dengan kondisi seadanya, sebagai istri ia patuh terhadap suami. Selama lima tahun (1997-2002), Dessy menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

“Setelah dipindahkan ke Jakarta, suami mengijinkan saya untuk kembali bekerja. Atas rekomendasi mantan atasan ditempat bekerja terdahulu, saya bekerja di cabang Jakarta perusahaan lama. Setelah lima tahun di Aceh, saya merasa seperti orang kampung. Saya sangat minder, tetapi mantan atasan saya selalu memotivasi. Dalam tiga minggu saya sudah dapat client dan bulan berikutnya sudah dapat client salah satu bank swasta terkemuka,” tuturnya.

Karier Dessy Arnas dengan cepat meroket. Hanya dalam waktu tiga tahun, ia diangkat sebagai General Manager di perusahaan tersebut. Ia menganggap perusahaan tempatnya bekerja tersebut merupakan sekolah kehidupan baginya. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk tetap survive hidup di Jakarta. Dan juga saya memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan karir imbuh ibu dari Rakha Aditya Afrizal dan Rania Adelia Afrizal ini.

Belajar dari perjalanan hidupnya, Dessy Arnas mengimbau generasi muda untuk tidak salah persepsi tentang emansipasi. Baginya, seorang perempuan tidak mungkin mampu mengalahkan seorang laki-laki. Bahkan dalam ajaran agama pun lelaki adalah imam, sehingga sebagai perempuan harus tunduk pada laki-laki. Perempuan-perempuan yang mempunyai potensi, seharusnya disalurkanlah ke tempat yang benar dalam waktu yang benar pula.

“Aturlah diri kita sebagai perempuan yang harus bisa berfungsi dan berguna buat orang lain. Tidak usah karier kantoran seperti sayalah, ibu rumah tangga juga sebuah karier yang sangat mulia. Saya sangat respek pada ibu rumah tangga karena saya sudah mengalaminya selama lima tahun, full time hanya dirumah” kisahnya.

Saat menjadi ibu rumah tangga, Dessy merasakan bagaimana sulitnya untuk sekadar membuat menu makanan harian. Menurutnya, perempuan boleh memiliki ambisi besar tetapi harus tetap pada porsinya dan tidak terlalu berlebihan. Ukuran yang digunakan adalah rumah tangganya sendiri, sehingga ketika berhasil mengorganisasi sebuah organisasi terkecil -yakni rumah tangga- pasti akan berhasil mengelola organisasi yang lebih besar.

“Pagar dan aturannya memang harus ada, mana yang porsi laki-laki mana yang porsi perempuan. Kalau ada yang tidak pas, kan ada kompromi yang bisa kita lakukan. Kalau sudah memutuskan berkarier, kita juga harus bertanggungjawab terhadap karier kita. Tetapi jangan melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan harus benar-benar bisa mempertanggungjawabkan keduanya,” imbuh pemilik motto “Never Stop to Learn” ini.

Setiap Orang Memiliki Kelebihan

Menurut Dessy, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Pendidikan kepribadian membantu orang untuk meningkatkan nilai tambah sehingga dalam setiap kesempatan selalu terlihat lebih bernilai dan menonjol. Meskipun demikian, kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan kepribadian bukanlah sesuatu yang penting.

“Tidak belajar pun juga tidak apa-apa karena sudah ada dalam diri setiap orang. Biasanya orang malah khawatir, setelah mengikuti pendidikan di sini akan menjadi jaim dan lain-lain. Tetapi kami yakinkan bahwa kita hanya men-suggest dalam segala sesuatu. Tidak cantik atau tidak ganteng tidak apa-apa tetapi tetap percaya diri. Saya ingin menularkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita berusaha membangkitkan self control yang baik sehingga kita bisa menampilkan citra positif serta potensi diri yang kita miliki,” tandas sarjana Marketing & Communication ini.

Dalam menyikapi persaingan bisnis, Dessy menanggapinya dengan wajar. Baginya, setiap institusi memiliki segmen berbeda-beda lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Di Runway Indonesia dengan konsep yang baru serta para pengajar yang memiliki visi sama, ia yakin akselerasinya pun lebih kencang.

“Saya bilang kepada staf, kalau kita lari sudah tidak bisa direm. Kalau jatuh itu wajar, harus segera bangun dan lari lagi.Terjatuh dan segala kendala lain merupakan hal yang biasa dan bagian dari sekolah saya. Karena semua itu terkait dengan proses yang akan terus berkembang seiring dengan pengalaman,” kata perempuan yang menganggap stafnya sebagai adik-adiknya sendiri ini. “Kalau menegur pasti dalam jam kerja, diluar itu tidak saya lakukan,” tambahnya.

Istri Hendri Afrizal, SE, MM ini berharap agar lembaga yang dikelolanya menjadi lebih besar dan memiliki beberapa cabang. Dengan memiliki cabang di tempat lain, ia mampu berbagi dengan orang yang ingin mengembangkan diri. Ia juga berharap agar program pengembangan diri ini bisa masuk ke sekolah-sekolah. Untuk itu, pemerintah harus memiliki program terkait bagaimana seorang anak belajar soft skill, mengelola stress dan kepercayaan diri.

“Bidang saya kan di pendidikan, saya ingin sekali agar bidang ini tidak ketinggalan. Kenapa bisnis seperti ini laku, karena kita ini kurang pede seperti bangsa lain di dunia ini. Padahal, rasa percaya diri itu bisa ditumbuhkan dan dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Nilai-nilai yang bisa dieksplore ya harus dikeluarkan. Kita harus konsen terhadap nilai-nilai tersebut agar kita tidak ketinggalan. Jadi sekarang bagaimana caranya untuk membangun kepercayaan diri kita dengan mengeksplore apa yang ada di dalam diri kita menjadi ‘sesuatu’ yang bisa diandalkan,” kata penyuka liburan di pantai ini.

 

 
Personality School
Wajah Baru Runway Indonesia

Selama empat tahun, Runway Indonesia sudah berhasil mencetak hampir 300 talenta yang sukses menghiasi panggung mode dan layar kaca di Tanah Air. Kini, Runway Indonesia hadir dengan wajah baru sebagai Personality School.

Runway Indonesia pertama kali hadir pada 2008 dan mengambil lokasi di Jalan Boulevard Raya-Blok CN2 No. 10, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, program yang diperkenalkan lebih fokus pada dunia Modelling dan Acting. Para lulusan dari sekolah ini hampir mencapai 300 orang dan sebagian di antara mereka bersinar sebagai public figure yang membintangi beberapa sinetron dan film layar lebar. Selain itu, mereka juga sering dilibatkan untuk ikut berpartisipasi di ajang peragaan busana karya desainer papan atas.

Melihat perkembangan yang bagus setiap tahun, maka Founder Runway Indonesia yang terdiri atas Nonny Chirilda, Agung Saputra, dan Dessy Arnas yang masing-masing memiliki pengalaman di bidang modeling, talent management dan kepribadian ini, berupaya memberikan ruang yang lebih luas lagi kepada para talenta di Indonesia untuk mendapatkan ilmu Personality yang menjadi modal mereka lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain.

Saat ini Runway Indonesia memiliki konsep baru sebagai Personality School. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan setiap individu untuk bisa tampil menarik serta percaya diri, sehingga profesi apapun yang akan digeluti, akan berhasil dengan baik. Apakah itu di bidang entertainment, ataupun di bidang karir dan bisnis.

Program-program unggulan yang ditawarkan Runway Indonesia, meliputi Self Improvement, Career Enrichment, Proficient MC & Presenter, Runway Modelling, Professional Acting, Teens Clique, dan Kiddos.

Runway Indonesia menerima anak didik mulai dari tingkat anak-anak (4-10 tahun), remaja (11-16 tahun), dan dewasa (17 tahun ke atas). Mereka akan menerima materi pengajaran selama 14 sesi, dan bisa dilakukan setiap hari, seminggu dua kali, atau setiap Sabtu. Untuk setiap pertemuan akan dilakukan selama 2-3 jam.

Selain kelas regular, Runway Indonesia juga memiliki Corporate Training, dimana materi pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan dari klien atau perusahaan yang bersangkutan.

Adapun pengajar yang diberikan kepercayaan untuk berbagi ilmu Runway Indonesia adalah para praktisi yang sudah berpengalaman di bidang masing-masing. Setiap pengajar akan memberikan materi pelajaran berdasarkan tingkat usia dan kebutuhan peserta, baik itu di kelas regular atau kelas perusahaan.

Target ke depan, bahwa Runway Indonesia – Personality School dapat membantu setiap individu untuk menjadi apa yang mereka inginkan, sesuai dengan potensi yang ada didalam diri mereka. Sehingga apapun yang mereka cita-citakan dapat terwujud dengan baik.

-Run your Way to Success with Runway Indonesia-

Berlilana S, PS.Kom, MSi

No Comments

Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto

Menciptakan SDM Berbasis Teknologi Informasi

Perkembangan dunia sekarang tidak bisa dilepaskan dengan teknologi informasi (IT). Hampir seluruh kebutuhan manusia bisa dipastikan menggunakan teknologi informasi sebagai penunjang kegiatannya. Bisa dikatakan, sejak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, manusia dikelilingi peralatan yang didalamnya memiliki unsur teknologi informasi.

Meskipun demikian, perkembangan dunia IT di Indonesia bisa dikatakan tertinggal dibandingkan negara lain. Seperti Singapura dan Malaysia, jauh meninggalkan Indonesia dalam penggunaan IT bagi warganya. Faktor biaya akses IT yang mahal di Indonesia merupakan salah satu hambatan besar yang membuat tertinggal. Sementara dari sisi SDM, sebenarnya masyarakat Indonesia tidak kalah berkualitas. Apalagi banyak pendidikan tinggi yang mendedikasikan pengembangan SDM khusus IT di Indonesia.

“Kami memiliki visi dan misi menciptakan SDM yang mampu bersaing di dunia internasional, berbasis pada teknologi informasi atau IT. Untuk itu, kami menyusun kurikulum menyesuaikan dengan dunia kerja dengan dukungan fasilitas memadai. Semua itu untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di dunia IT yang menurut pantaun saya masih agak tertinggal. Itu menjadi persoalan dan PRODUK bersama agar kita menyusul dan menyamai perkembangan dunia IT di negara lain,” kata Berlilana S, PS Kom, MSi., Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto.

Menurut Berlilana, kondisi tersebut disebabkan oleh efek pembangunan yang tidak merata di Indonesia. Akibatnya, insfrastruktur yang disediakan pemerintah hanya dinikmati oleh penduduk di wilayah tertentu seperti perkotaan. Sementara bagi penduduk pedesaan harus hidup dengan segala keterbatasan dan harus mengandalkan potensi alam yang ada.

Kondisi seperti itulah, yang menghambat perkembangan dunia IT di Indonesia. Akibat pembangunan infrastruktur yang tidak merata, berimbas pada dunia IT di Indonesia meskipun potensi untuk berkembang sangat besar. Menurut Berlilana, untuk mempercepat akselerasi kemajuan IT di Indonesia ada beberapa hal yang harus dibenahi. Pertama dengan memompakan semangat dari dalam diri sendiri dalam menyikapi kemajuan negara-negara luar agar terpacu untuk menjadi lebih baik.

“Setidaknya, minimal harus menyamai mereka. Tetapi semua itu membutuhkan dukungan pemerintah, dalam rangka membuat kebijakan agar teknoloni informasi yang ada di negara kita berkembang dengan baik. Kita bersyukur dengan adanya Keminfo menunjukkkan pemerintah sudah memiliki komitmen terhadap perkembangan IT di negara kita. Mudah-mudahan, adanya kementerian khusus seperti itu, kita mampu bersaing di negara luar,” ujarnya.

Filosofi Pohon Pisang

Berlilana S, PS.Kom, MSi, lahir di Jakarta, 2 Desember 1973. Setelah lulus kuliah dan bergelar sarjana, ia berusaha mewujudkan cita-citanya, menjadi dosen. Langkah yang dilakukannya adalah dengan melamar pekerjaan sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta maupun Purwokerto. Nilai indeks prestasi yang pas-pasan adalah alasan ditolaknya lamaran yang diajukannya.

“Akhirnya saya bekerja di asuransi serta beberapa perusahan swasta di Jakarta. Tetapi saya tidak betah karena jiwa pendidik dan cita-cita sebagai guru/dosen begitu tinggi. Akhirnya cita-cita saya kesampain, pada bulan Maret 1998 saya diterima sebagai dosen di Lembaga Pendidikan IMKI Prima. Lembaga ini merupakan grup Primagama yang bergerak di bidang pendidikan diploma Profesi Komputer 1 tahun,” kisahnya.

Berlilana bekerja mengawali karier di IMKI Prima sebagai tenaga humas dan pengajar. Tahun 2002, ia dipercaya menjadi pimpinan cabang IMKI Prima Purwokerto. Dibawah pimpinannya, perkembangan IMKI Prima Purwokerto mengalami kemajuan yang sangat pesat sampai tahun 2005. Melihat perkembangan IMKI Prima Purwokerto yang sangat pesat tersebut, Manajemen Pusat dan STMIK AMIKOM Yogyakarta tertarik dan mendirikan STMIK AMIKOM Purwokerto. Di bawah arahan dan binaan Prof. Dr. M. Suyanto, Berlilana terpilih untuk menjadi Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto hingga sekarang ini.

Semua yang dilakukan Berlilana, tidak terlepas dari pesan almarhum ayahnya pada saat kecil. Pelajaran yang sangat berharga adalah bagaimana seseorang mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Seorang manusia harus bisa menyerupai pohon pisang dalam kehidupan. Karena pohon pisang, dari akar sampai pucuk daunnya dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Menurut sang ayah, akar pohon pisang dapat digunakan sebagai obat-obatan, batangnya untuk panggung pagelaran wayang kulit, daunnya untuk membungkus, buahnya sangat bergizi, kulit buah untuk pakan ternak dan lain-lain.

“Yang lebih hebat lagi, pohon pisang tidak akan mati sebelum menghasilkan sesuatu yang berguna yaitu buah. Kalau ditebang sebelum berbuah dia akan tumbuh lagi dan apabila sudah berbuah, dia siap mati tetapi sudah menyiapkan tunas-tunas pisang baru yang siap menggantikan posisinya. Filosofi ini sangat membekas sekali di hati dan membuat saya berusaha terus hidup sampai menghasilkan sesuatu untuk diri sendiri, keluarga dan bangsa ini. Saya baru siap ‘mati’ setelah menyiapkan tunas-tunas pengganti, generasi penerus yang lebih handal. Salah satunya adalah mahasiswa-mahasiswa saya yang walaupun bukan anak sendiri tetapi bisa sukses itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi diri saya,” tuturnya.

Sebenarnya, cita-cita Berlilana di masa kecil adalah menjadi seorang pilot meniru kesuksesan pamannya yang bekerja sebagai pilot. Namun, karena filosofi pohon pisang lebih kuat menariknya untuk berguna bagi orang lain dengan menjadi pendidik. Setelah tercapai cita-citanya menjadi pendidik, ia merasa sangat puas apalagi tanggapan masyarakat terhadap profesi yang ditekuninya pun sangat baik. Semua itu menjadi “benteng” baginya untuk tidak berbuat salah yang dapat mencemari profesinya sebagai seorang pendidik

Berlilana mengakui bahwa menjadi seorang pendidik merupakan kebahagian tersendiri. Apalagi ia berkesempatan merintis perguruan tinggi ini –STMIK AMIKOM Purwokerto- dari awal berdirinya sampai sekarang. Dari modal seadanya dan kampus menumpang, sekarang mempunyai kampus sendiri yang cukup megah, lima lantai dengan fasilitas lengkap. Semua pencapaian itu, tidak lepas dari dukungan luar biasa dari keluarganya. Karena mereka merelakan ayah dan suaminya bekerja sampai larut malam dan mengurangi jatah libur bersama.

“Keluarga sangat mendukung. Terutama istri saya, Dwi Murni Handayani dan ke tiga anak saya, Muhammad Agriawan Satria Utama, Kayla Fatimatuzzahra, Aisyah Mulia Permata Akhir. Bagi saya, profesi apapun yang nanti ditekuni anak-anak akan saya bebaskan asalkan mereka nantinya bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Seperti filosofi pohon pisang yang diajarkan kakeknya,” ungkapnya.

Barlilana menilai, perkembangan pendidikan di Indonesia sudah cukup baik. Meskipun demikian, perbaikan dan pemerataan antara kota dan desa perlu diperhatikan yang terkait dengan fasilitas pendukung proses pembelajaran. Begitu juga perbedaan lembaga pendidikan negeri dan swasta, di mana sekolah/perguruan tinggi negeri sepenuhnya disubsidi dan dibantu pemerintah. Sementara lembaga pendidikan swasta jauh lebih mandiri meskipun harus diakui menjadi salah satu penyebab kesenjangan dan ketimpangan yang sangat jauh pada dunia pendidikan di Indonesia.

“Perkembangan dunia pendidikan kita sudah bagus, terbukti banyak prestasi-prestasi anak bangsa di level perlombaan tingkat dunia. Hanya saja kadang komitmen penyelenggara pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan lagi. Jangan sampai dengan semakin banyaknya putra bangsa yang berprestasi, justru bangsa lain yang memanfaatkan kecemerlangan dan kemampuan otaknya,” tegasnya.

Agent of Change

Sebagai orang yang terbiasa membina generasi muda, Berlilana sangat memahami kondisi generasi muda sekarang ini. Dengan membanjirnya informasi melalui TV dan teknologi IT, tentu saja cukup banyak dampak negative dan positif yang ditimbulkan. Positifnya, kehadiran teknologi apabila disikapi dengan baik akan sangat membantu kehidupan manusia. Namun, apabila disikapi secara keliru sisi negative dari teknologi juga sangat mengkhawatirkan.

Ia mencontohkan bagaimana internet sekarang sudah sangat merakyat. Seluruh lapisan masyarakat mampu mengakses jaringan internet dengan bebas dan murah. Apalagi, teknologi hand phone yang semakin canggih dengan tariff operator murah, membuat internet bisa diakses dari mana saja. Namun sangat disayangkan sesuatu yang baik itu tidak bisa digunakan, sekadar iseng, ikut-ikutan atau penggunaan tidak bermanfaat lainnya.

Dalam pandangannya, salah satu “korban” dari perkembangan teknologi informasi tersebut adalah generasi muda. Dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, telah menyeret generasi muda untuk beralih kepada segala sesuatu yang serba cepat, praktis, instant dan lain-lain. Celakanya, kondisi tersebut diperparah dengan tayangan televisi yang tidak mendidik dan hanya menjual mimpi saja.

“Semua itu jelas-jelas mematikan kreativitas generasi muda. Ini sangat berbeda dengan generasi muda di zaman saya atau sebelumnya. Padahal, sebagai generasi muda kita harus siap menjadi agent of change terkait perubahan teknologi yang sangat cepat itu. Sebagai generasi muda kita harus siap menerima perubahan tadi, karena teknologi kalau digunakan dengan benar sangat ampuh bagi kemajuan kita. Tetapi di sisi lain, teknologi apabila disalahgunakan akan menjadi mesin pembunuh bagi karakter kita sendiri,” tandasnya.

Salah satu ketakutan yang timbul terhadap tayangan televisi yang tidak mendidik adalah minimnya kelahiran pemimpin di negeri ini. Kreativitas dari generasi muda yang kering dan tidak bermakna, membuat perkembangan bangsa ke depan cukup mengkhawatirkan. Artinya, ke depan Indonesia akan semakin sedikit melahirkan entrepreneur handal di bidangnya masing-masing. Padahal, entrepreneur membuat ketahanan bangsa terhadap krisis ekonomi sangat tinggi.

“Pendidikan entrepreneur sangat penting karena negara kita sangat sedikit orang-orang yang berwira usaha. Contohnya di Singapura 2 % penduduknya adalah seorang wirausaha, sedangkan di Indonesia masih jauh, sekitar 0,6 % saja. Karena kebanyakan pendidikan sekarang banyak menciptakan seorang karyawan atau pekerja saja,” ungkapnya.

Sekolah Tinggi Nomor Satu

STMIK AMIKOM Purwokerto setelah lima tahun berjalan semakin menunjukkan perkembangan yang baik. Berbagai kerjasama dengan pihak lain terus dijalin sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan sekolah tinggi ini. Selain mempekerjakan 62 dosen muda bergelar S2, STMIK juga mengundang dosen tamu dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Kerjasama juga dilakukan dengan alumni STMIK AMIKOM Purwokerto yang sudah bekerja di perusahaan-perusahaan. Tujuannya agar mengajak adik-adiknya untuk bekerja di perusahaan-perusahaan mereka agar bisa mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah. “Kita bekerjasama dengan Microsoft Indonesia. Kita juga ditunjuk oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk menyelenggarakan sertifikasi Profesi di Indonesia. Hal ini menggambarkan bahwa perusahaan-perusahaan dan industri di Indonesia sudah mempercayai AMIKOM,” tuturnya.

STMIK AMIKOM Purwokerto cukup menarik minat calon mahasiswa di sekitar eks Karesidenan Banyumas. Artinya masyarakat di wilayah kabupaten Banyumas, Purwokerto, Cilacap dan lain-lain, mempercayai AMIKOM sebagai perguruan tinggi yang menjadi rujukan utama. Bahkan dari website Dikti, AMIKOM menduduki level tertinggi dari jumlah mahasiswa se Jawa Tengah. Di Purwokerta sendiri, terdapat 11 perguruan tinggi yang sama, tetapi STMIK AMIKOM Purwokerto tetap menjadi yang nomor satu bahkan di tingkat Jawa Tengah untuk perguruan tinggi swasta bidang komputer.

Beberapa program unggulan AMIKOM sangat diminati oleh mahasiswa. Antara lain, multimedia, yakni kemampuan multimedia yang berbeda dengan perguruan tinggi lain. Di mana para mahasiswa dibekali agar betul-betul menguasai materi dengan baik. STIMIK juga memberikan soft skill kepada mahasiswa berkaitan dengan pengembangan diri, dimulai sejak mahasiswa baru sampai menjelang kelulusan.

“Tujuannya agar mahasiswa nanti memiliki pengembangan kepribadian yang positif. Ketiga, desain kurikulum kita itu lebih kita arahkan agar mereka mampu menjadi technopreneur seperti bisa membuka usaha, berusaha atau bahkan bekerja pada saat mereka masih berstatus mahasiswa. Ini yang membedakan antara STMIK AMIKOM Purwokerto dengan perguruan tinggi lainnya,” ungkapnya.

Jumlah mahasiswa STIMIK AMIKOM Purwokerto sampai memasuki tahun kelima mencapai 1600 mahasiswa dan meluluskan tiga kali angkatan. Berlilana berharap, lima tahun pertama AMIKOM menjadi perguruan tinggi IT terbesar di Jawa Tengah. Harapan tersebut tercapai dengan sukses –sesuai data Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah sehingga ditingkatkan target programnya. Target lima tahun kedua adalah membangun STMIK menjadi lebih besar dan bisa berbicara di level internasional.

“Di mana ada target-target khusus, bahwa perguruan tinggi kami tahun ini bisa teakreditasi dari BAN PT. Target kedua menyusun standar mutu internasional yang akan didukung dengan ISO maupun standar mutu nasional yang mana standar mutu tersebut membuat semua pekerjaan di semua lini sudah tersistem dengan baik. Ketiga, bahwa kita tetap menjaga kepercayaan masyarakat agar STMIK AMIKOM ini tetap positif dan keberadaannya bisa diterima masyarakat luas. Seperti induk kami, STMIK AMIKOM Yogyakarta yang dipilih UNESCO menjadi perguruan tinggi percontohan tingkat dunia yang dikelola secara entrepreneur,” tegas Berlilana.

Open Supriadi

No Comments

Open Supriadi
Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang

Membenahi PDAM Dengan Komitmen untuk Bekerja Sebaik-baiknya
Banyak pilihan yang dapat diambil generasi muda sekarang setelah menyelesaikan pendidikan SLTA. Bekerja bagi lulusan kejuruan atau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Namun tidak demikian halnya bagi generasi sebelumnya, mereka tidak memiliki pilihan sebanyak generasi muda sekarang.
Banyak masalah yang membelit kehidupan di masa lalu menjadi penyebabnya. Minimnya infrastruktur dan lembaga pendidikan yang memadai adalah faktor yang sangat dominan. Seperti dialami oleh Open Supriadi pada tahun 1970-an yang mengalami kesulitan dalam melanjutkan pendidikan. Kedua orang tuanya menyuruh menjual sawah untuk biaya pendidikan tinggi, pasca kelulusanya dari SMEA.
“Lulus SMEA saya ingin masuk AKABRI tetapi ternyata tidak bisa. Makanya saya hanya memiliki dua pilihan, melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan. Tetapi ketika disuruh menjual tanah, saya pertimbangkan lagi. Kalau sekolah saya ‘bener’ tidak masalah, tetapi kalau tidak kan kacau. Akhirnya tidak jadi jual tanah dan saya memutuskan untuk mencari pejerjaan,” Kata Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang ini.
Open Supriadi tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena sejak kecil terbiasa membantu orang tua yang petani sekaligus pedagang dari mengembala itik, kerbau dan bekerja di sawah sepulang sekolah. Berbekal ijazah SMEA, ia bertolak ke jakarta dalam rangka mencari kerja. Tetapi kehidupan ibukota yang sangat keras dengan aroma konsumtif yang kental memaksanya pulang ke kampung halaman.
Sekembalinya di Karawang, Open bekerja sebagai guru ekonomi pertanian dan pendidikan jasmani di SPMA. Setelah dua tahun menjadi guru, ia mendapat tawaran bekerja di Bappeda Karawang. Meskipun honor yang didapatnya sangat kecil, namun komitmennya terhadap pekerjaa sangat tinggi. Baginya, pekerjaan adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
“Komitmen saya, susah atau senang saya akan tetap bekerja sebaik-baiknya. Saya bekerja rangkap karena tetap menjadi guru, hingga akhirnya saya disuruh memilih di Bappeda atau menjadi guru. Saya memilih menjadi pegawai Bappeda dan tahun 1974 dipindahkan ke Dinas PU Karawang. Prinsifnya saya tetap, bekerja dengan baik dimanapun ditempatkan. Sambil bekerja, saya berusaha melanjutkan pendidikan dengan kuliah di FE Universitas Jayabaya, Jurusan Akuntansi, namun S1 diselesaikan di Fakulta Ekonomi universitas Singaperbangsa” kisahnya.
Open terpaksa menunda menyelesaikan kuliahnya karena diminta oleh orang tuanya untuk menikah. Tahun 1977, ia menikah dengan seorang PNS dan menjalani kehidupan dari nol. Ia memutar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan berusaha di luar jam kerja. Salah satunya adalah menjalin kerjasama dengan pihak bank untuk membeli truk melalui fasilitas kredit KMKP/KIK
Sedikit demi sedikit, kehidupan rumah tangga Open semakin membaik. Seiring dengan kelahiran tiga anaknya, kariernya pun semakin meningkat apalagi setelah menyelesaikan pendidikan dan mengajar di Universitas Kabuaten Karawang serta menjabat Pembantu Dekan III dan II. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan mengambil S2 bidang keuagan di sebuah perguruan tinggi di Jakarta.
Karier kedinasanya pun ikut terdongkrak. Setelah 12 tahun (1974-1986) di Dinas PU, Open ditarik kembali ke Bappeda. Dari situ, berturut-turut ia meniti karier di kantor Lingkungan Hdup, Dinas Pendapatan Daerah, Bagian Perekonomian, Dinas Lingkungan Hidup dan kembali lagi ke Bagian Perekonomian. Disini , ia sampai memasuki masuk Masa Persiapan Pensiun (MPP) terkait usianya yang sudah memasuki 55 tahun.
“Dalam bekerja saya tetap berpegang pada filosofi , bekerja dengan kemampun terbaik dan tidak pernah memikirkan yang lain-lain. Bulan Mei 2006 saya diminta Bupati untuk memperbaiki PDAM Karawang yang kondisinya cukup amburadul. Pesan Bupati, ‘perbaiki serta sehatkan PDAM’ karena air adalah kebutuhan dasar hidup manusia,” tegasnya. Dan sebelumnya juga memeperbaiki Lembaga Perbankan yaitu BPR BKPD dan LPK milik Pemerintah Daerah Kab. Karawang.
Pesan Bupati tersebut memiliki implikasi yang sangat luas. Apalagi saat itu, kesan terhadap kinerja PDAM Karawang adalah kondisi, pelayanan dan kualitasnya sangat buruk. Saat masuk, ia langsung melaksanakan berbagai evaluasi termasuk “kekuatan” saldo kas untuk membiayai operasional perusahaan. Hitung-hitungan ekonomi menyebutkan syarat perusahaan yang sehat adalah saldo kas mampu membiayai operasional perusahaan selama minimal 45 hari kerja dan idealnya 60 hari kerja.
Mosi Tidak Percaya
Open Supriadi sadar, untuk membenahi kinerja PDAM Tirata Tarum Karawang Tidak bisa serta merta “potong kompas” dengan menaikan tarif. Ia lebih memilih alternatif lain untuk meningkatkan pendapatan perusahaan tanpa harus melakukan investasi. Cara ideal adalah dengan menghentikan tingkat kebocoran/NRW sebesar 46 persen pertahun yang dialami PDAM tersebut. Artinya, kebijakan pertama saat menjabat Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang adalah melakukan efisiensi pembiayaan di segala bidang dengan efektif.
“Tetapi efisiensi terkait dengan pembiayaan. Tidak heran ketika saya sosialisasikan kepada karyawan, respon yang diberikan adalah saya didemo dan diberi mosi tidak percaya. Tetapi saya tetap tegar karena sebagai pemimpin harus siap menghadapi  hal-hal seperti itu, sudah resiko. Saya hanya mencoba memahami kenapa mereka demo. Artinya ada sesuatu dibalik semua itu.” Ungkapnya.
Mesikupun demikian, Open mendapat dukungan dari Bupati dan DPRD Karawang. Akhirnya ia mengambil tindakan tegas dengan menerapkan disiplin bagi seluruh pegawai di lingkungan PDAM Tirta Tarum Karawang. Program efisiensi dilanjutkan dengan hasil yang cukup mencengangkan. Dalam tempo delapan bulan, ia berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp. 989 juta.
Open tidak puas hanya berhenti sampai disitu dalam menata perusahaan daerah dengan titik tolak produksi air tersebut. Ia kemudian beranjak kebagian distribusi dan produksi, karena untuk melakukan investasi belum memungkinkan. Program yang dijalankan berhasil dengan efektif dalam mendongkrak pendapatan perusahaan. Tahun pertama hanya Rp. 1,5 miliar meningkat menjadi Rp. 1,7 miliar tahun kedua dan Rp. 3 miliar pada tahun keempat. Pelanggan pun meningkat dari 32.000 SR (Sambunga n Rumah) menjadi 48 ribu SR pada tahun 2010.
“Cukup fantastis peningkatanya. Saya juga memikirkan kesejahteraan pegawai, karena bagaimana mereka disuruh bekerja disiplin kalau kesejahteraan terabaikan? Makanya kesejahteraan setahap demi setahap kami perbaiki. Karena efisiensi menghemat pembiayaan lembur, listrik, kimia, sakit dan lain-lain sampai 12 komponen jumlahnya. Saya tata kembali, karena dalam filosofi saya, jika dalam tiga bulan tidak bisa menjebol PDAM saya akan mundur,” ungkapnya.
Alhamdulilah berkat kerja keras dan kebersamaan dalam memperbaiki PDAM hasilnya sudah dapat dirasakan oleh semua pihak diantaranya perbaikan pelayanan, pembayaran utang, PAD dan khususnya perbaikan kesejahteraan karyawan PDAM seperti gaji ke 13, 14 dan 15 serta tunjangan kendaraan, dll.
Dari program-program yang dilaksanakannya, PDAM Tirta Tarum Karawang dinyatakan sehat oleh BPKP pada tahun 2009. Hingga tahun 2010, PDAM Karawang dipercaya untuk membangun infrastruktur air bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, hibah dari pemerintah Asutralia (AusAID). PDAM Tirta Tarum Karawang berhasil membangun 3000 SR senilai Rp. 8 miliar bagi masyarakat kurang mampu serta tambahan 1000 SR senilai Rp. 2 miliar yang dilokasikan tahun 2011 dengan pengerjaan  jadwal yang ditetapkan. Sebuah prestasi fantastis yang dicapai seorang direktur yang tadinya mendapat mosi tidak percaya dari anak buahnya termasuk dari anggota DPRD Kab. Karawang dan Bupati pun kurang percaya akan mendapatkan bantuan hibah dari pemerintah pusat yang bersumber dari hibah pemerintah Australia sebanyak itu.
“Saya sudah pensiun dari PNS dan hanya konsen bagaimana berbuat terbaik untuk kepentingan orang banyak. Keberhasilan adalah kepuasan tersendiri yang penuh tantangan. Alhamdulilah, tantangan telah menghasilkan kepuasan yang harus disukuri. Jadi di akhir karier ini, saya bersyukur kepada Allah SWT atas karunia dan hidayah yang diberikan. Terlepas Pro dan Kontra, kebenaran adalah milik tuhan dan manusia tempatnya salah. Yang penting kita yakin, apa yang kita lakukan benar, sesuai dan selalu berbuat yang terbaik,” tuturnya penerima Piagam Tanda Kehormatan Presiden RI Satya Lancana Karya Satya 20 dan 30 tahun.
Medirikan LSM
Sukses dengan kehidupan sekarang, Open Supriadi, ingin memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi masyarakat sekitarnya. Ia berharap, pengalaman dan pemikiran untuk selalu berbuat yang terbaik mampu menggugah masyarakat. Apalagi, banyak potensi yang ada ditengah masyarakat yang kurang mendapat tempat, selagi kesempatan ini ada untuk dimanfaatkan sebaik mungkin dan ia ingin memberdayakan masyarakat dengan potensi yang dimiliki masing-masing.
“setidaknya bisa memberikan kegiatan positif dan produktif sehingga mereka memiliki penghasilan guna memperbaiki daya beli masyarakat . karena demand ada, tinggal kita menyiapkan supply. Obsesi saya setelah berhenti menjadi Direktur Utama akan membentuk LSM Karawang. Saya akan turun dan berjibaku dengan modal yang dimiliki dan filosofi berbuat untuk kepentingan orang banyak. ‘sedikit demi sedikit kita himpun, lama kelamaan akan besar’. Kalau kita mulai dari yang kecil setahap demi setahap akan menjadi kuat, lama kelamaan membesar.  Itulah sebuah harapan dan mudah-mudahan Tuhan yang Maha Esa meridhoinya. Amin
Pria yang mendapat dukungan penuh dari keluarga ini, dalam bekerja tidak bisa begitu saja melepaskan kepada anak buahnya. Ia turut mengawasi jalanya pekerjaan hingga sesuai dengan program yang ditetapkan. Prinsifnya, ketika pekerjaan tidak bisa dilanjutkan oleh anak buahnya, ia sendiri yang mengambil alih.
“Learning by doing harus jalan. Saya tidak bisa mengandalkan anak buah begitu saja. Karena dalam bekerja, tidak dibantu pun saya bisa kerjakan sendiri. Itu resiko dalam pekerjaan sebagai pimpinan. Tidak hanya sekedar memberi perintah. Ketika tidak jalan, kita harus turun tangan menjalankanya,” kata open yang menyempatkan diri menemui keluarga disela-sela jam makan siang ini. “karena hari minggu saya juga kerja, sehingga setelah Dzuhur saya menemui keluarga,” imbuhnya.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan, pria gila kerja (workaholic) ini menerapkan prinsip keteladanan. Ia tidak hanya mengandalkan kekuasaannya sebagai puncak pimpinan dengan sekedar memeberikan arahan melalui omongan. Contoh langsung dalam berbagai hal mulai selalu ditunjukan dengan mengacu pada pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ia juga selalu menjalin komunikasi dengan anak buahnya untuk mendapat masukan, ide dan gagasan demi keberhasilan.
Saya terus berusaha, karena manusia itu kan tidak sempurna. Seminggu sekali saya berolahraga bersama mereka, dengan harapan ini menjadi upaya preventif agar kita tidak mudah sakit. Selain itu, kita menjalin komunikasi dengan mereka, termasuk menerima keritik dan saran kepada saya begitu juga sebaliknya. Kita ada K3, Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas,” katanya.
Ketiga hal tersebut terus diupayakan oleh Open Supriadi selaku Dirut PDAM Tirta Tarum Karawang. Untuk menjaga kontinuitas pasokan misalnya, ia melengkapi PDAM dengan genset berkekuatan 500 kilowat. Hal tersebut mencegah terhentinya pasokan air bagi pelanggan saat listrik PLN tiba-tiba mati.
Saya konsisten terhadap konsep dan idealis dengan yang saya  pikirkan. Itu saya buktikan dengan kinerja keuangan, di mana dari 6 cabang dan 10 Unit IKK PDAM Kab. Karawang. Kinerja terbaik dan ketika awal saya masuk kondisinya kurang baik dan kurang sehat. Semua itu tercapai dalam empat tahun karena fokus untuk bekerja,” katanya membeberkan kiat sukses.
Menurut Open, dalam kerja harus dibarengi ketulusan dan keiklasan dengan menyerahkan kepada  Allah SWT hasil pekerjaan tersebut. Tugas manusia hanya berusaha dan Tuhan yang menentukan. Namun yang perlu diingat adalah melakukan kebajikan akan menghasilkan kebajikan dan tindak kejahatan akan menerima kejahatan.” Itu saja yang harus dipegang. Jangan anggap rejeki akan datang sendiri akan tetapi yang harus dilakukan adalah doa, usaha dan ikhlas. Bukankah kenikmatan dan cobaan itu datang dari Tuhan yang Maha Esa?” nasehatnya.
Open Supriadi mengakui bahwa generasi muda sekarang dipenuhi dengan budaya instant. Pengaruh globalisasi telah mengubah mereka menjadi sosok-sosok yang sangat tergantung pada teknologi informasi (TI). Celakanya, pengaruh tersebut sudak merasuk begitu dalam sehingga sangat sulit untuk dibendung. Untuk itu, menyarankan agar orang tua memperkuat keyakinan agama masing-masing dan menularkan kepada anak-anaknya.
Orang tua, lanjut Open, tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan bakat dan keinginan anak harus didukung kearah yang baik. Orang tua harus memotivasi anak untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Meskipun demikian, fungsi kontrol orang tua harus tetap dijalankan sehingga anak tidak salah arah.
“karena proses pembelajaran tidak pernah berakhir dan harus disesuaikan dengan perkembanganya. Karena generasi muda menghadapi sesuatu yang berbeda dari zaman orang tuanya. Jadi tipsnya adalah, pertama pendidikan, kedua contoh dan keteladanan ketiga evaluasi dan kontrol yang terbangun dengan baik. Komunikasi dengan anak harus intensif dan orang tua harus mau berkorban demi anak. Tetapi agama juga perlu, konsisten dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Terus terang, saya merasa belum berhasil mendidik anak,” kata open Supriadi, Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang.

Ny Jeveline Lengkong Hilliard

No Comments

Ny Jeveline Lengkong Hilliard
Ketua Yayasan Talitha Cumi

Membangun Yayasan untuk Membangkitkan Spirit Anak Terlantar

Hidup nyaman di luar negeri, tidak membuat Ny Jeveline Lengkong Hilliard melupakan tanah leluhurnya. Setelah lima belas tahun bermukim di Skotlandia, panggilan jiwa untuk pulang ke tanah air sangat kuat. Begitu kuatnya panggilan itu, sehingga ia rela meninggalkan kehidupan mapan dan modern negara maju di kawasan Eropa tersebut.

Tahun 2000, ia bersama sang suami kembali ke Indonesia. Kebetulan keduanya aktif memberikan pelayanan kerohanian gereja, karena suami Ny Jeveline adalah pendeta. Keduanya sering keliling Indonesia untuk memberikan kotbah dan kebaktian bagi umat. Hingga suatu saat, sekitar tahun 2003, ketika memberikan pelayanan di tempat kelahirannya, Kalimantan, Jeveline melihat banyak anak-anak usia sekolah berkeliaran di jalanan.

“Pendeta di sana bilang, kalau mereka kebingungan untuk ‘melempar’ anak-anak tersebut. Kebiasaan di sana, orang tua yang memiliki anak usia sekolah mencari tempat penampungan bagi anaknya. Karena biasanya mereka memiliki anak banyak-banyak. Ibu saya yang tahu kalau saya suka anak kecil mendorong untuk mengurus anak-anak itu,” kata Ketua Yayasan Talitha Cumi ini.

Meskipun awalnya keberatan, Ny Jeveline meminta pertimbangan suaminya. Akhirnya disepakati –setelah melihat anak-anak usia sekolah ditelantarkan dan dijadikan pekerja tambang emas oleh orang tuanya sendiri- untuk mengambil beberapa anak sesuai kemampuannya. Pasangan ini ingin berusaha semaksimal mungkin mengubah nasib anak-anak terlantar tersebut.

Untuk langkah pertama, mereka mengambil 45 anak dan dibawa ke Bogor.  Karena targetnya hanya lima belas anak tetapi membengkak tiga kali lipatnya, Ny Jeveline kebingungan. Untungnya, saat di Skotlandia ia mengambil diploma tentang pengurusan orang jompo, Alzheimer dan lain-lain. Ilmu dari situ dipraktekkan untuk merawat anak-anak tersebut.

“Mungkin Tuhan sudah menunjukkan jalan ke arah ini. Karena saat belajar itu saya sudah tua. Saya iseng saja mengambil diploma karena di Scotland, orang-orang berumur diatas 50 tahun tetapi sekolah lagi, biayanya gratis bahkan malah dibayar. Kita sebagai orang tua dianggap produktif,” kisahnya.

Dari situ, Ny Jeveline tahu betul kapan harus bersikap keras atau lembut terhadap anak-anak. Awalnya sangat susah untuk menerapkan disiplin tinggi kepada anak-anak yang terbiasa hidup seenaknya. Namun, perlahan-lahan pengaruh Mami –begitu Ny Jeveline dipanggil- merasuk ke dalam diri anak-anak tersebut. Mereka yang tadinya hidup tanpa arah yang jelas, kehilangan orientasi masa depan bahkan semangat hidup dan mulai menata pondasi kehidupan masing-masing.

Anak-anak yang tadinya hanya sempat sekolah sampai kelas II atau IV SD, bisa melanjutkan sekolah kembali. Mereka tidak lagi terbebani pekerjaan sebagai penambang, membantu orang tua di ladang atau sekedar bermain bersama teman-teman senasib. Berlindung Yayasan Talitha Cumi membuat mereka -seperti anak-anak seusianya- fokus meretas harapan menuju masa depan yang lebih baik.

“Angkatan pertama sekarang sudah ada yang lulus S1. Tadinya, berbohong, mencuri dan merokok sudah menjadi keseharian mereka karena tanpa pengawasan orang tua yang disiplin. Memang, menurut kita orang Dayak itu sangat malas karena tergantung pada nature, alam. Untuk makan mereka berburu dan  bercocok tanam sedikit. Saya sendiri ada darah Dayak dari nenek saya, seorang anak raja Dayak Tunjung di Kaltim,” kata perempuan berdarah Dayak, Portugis dan Manado ini.

“Kemalasan” orang Dayak sebenarnya disebabkan alam telah menyediakan segala keperluan hidupnya. Kekayaan alam yang luar biasa tersebut membuat mereka tidak pernah kekurangan dalam urusan hajat hidup, seperti makan dan minum. Namun, kemajuan zaman membuat kekayaan alam dieksploitasi dan mereka tersisih serta terpinggirkan di rumahnya sendiri.

Di sisi lain, tradisi Dayak yang dipegang teguh turut memberikan andil dalam memperburuk keadaan. Seperti tradisi bahwa anak perempuan berumur 14 tahun sudah harus menikah dan untuk laki-laki berumur 18 tahun. Akibatnya ketika memasuki usia tersebut, remaja putra dan putri tidak bisa konsentrasi untuk melanjutkan sekolah. Mereka memilih “kabur” dari sekolah dengan berbagai alasan untuk menikah.

“Melalui Yayasan Talitha Cumi saya mencoba membangkitkan spirit mereka. Seperti di Alkitab, Talitha Cumi artinya bangkit anakku bangkit. Mereka harus bangkit untuk mengelola kekayaan daerahnya sendiri. Jangan seperti sekarang, kalau orang datang dan ingin memanfaatkan potensi alam, mereka sudah ‘ngajak’ perang saja,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Ny Jeveline, Yayasan Talitha Cumi memiliki beberapa unit kegiatan. Mulai panti asuhan, sekolah –play group hingga SMA- dengan tujuh macam izin kegiatan sosial. Yayasan juga memberikan bantuan dana pendidikan bagi anak-anak terlantar di luar yayasan tanpa memandang agama, suku dan ras. Anak-anak di panti asuhan yayasan juga diajarkan pada setiap menjelang Idul Fitri mengumpulkan beras dan mie untuk dibagi-bagikan kepada saudara-saudaranya yang sedang merayakan hari bahagia tersebut.

“Saya tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan. Bahkan rumah kami di Scotland sudah kami jual, agar anak-anak di sini mendapat penghidupan yang layak. Anak-anak dididik disiplin, mandiri, kebersihan, sopan santun dan menghormati orang lain terutama orang tua. Akhirnya setiap anak punya kamar dan satu loker, serta bisa sekolah setinggi mungkin. Saya hanya memberikan sedikit yang saya miliki untuk membantu pemerintah dalam program mencerdaskan bangsa. Saya kutip kata-kata Presiden John F. Kennedy yang berbunyi, ‘jangan tanya apa yang negara bisa berikan padamu, tanyalah apa yang bisa kau berikan kepada negara (Do not ask what the nation can give to you, but ask what can you give to the nation),” tuturnya.

Hidup Susah

Kedermawanan Ny Jeveline Lengkong Hilliard tidak bisa dilepaskan dari kisah pahit masa lalunya. Sejak kecil, ia termasuk “orang susah” yang harus berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri. Keluarga besar dengan delapan anak, membuat ia sebagai anak sulung kurang mendapat perhatian dan limpahan kasih sayang.

Apalagi situasi negeri ini yang pada masa kecilnya sangat tidak kondusif. Perang Dunia II baru saja usai dan situasi politik dalam negeri sedang bergolak di mana-mana. Peristiwa Permesta (pemberontakan di Menado dan Padang) serta G30S/PKI menambah situasi tanah air semakin kacau sehingga rakyat tidak terurus karena pemerintah disibukkan urusan politik.

“Sejak kecil saya terbiasa hidup susah. Untuk sekolah saja harus berjalan lima kilometer, tanpa uang saku dan tanpa buku. Untunglah, Tuhan memberikan talenta yang banyak, sehingga saya cepat menyerap apapun yang saya pelajari,” ujarnya.

Selagi SMEA, pada usianya yang ke-18 Ny Jeveline bekerja di Japex dan mampu melakukan inspeksi kapal. Tugasnya antara lain menentukan apakah sebuah kapal diizinkan berlayar atau tidak dengan muatan yang ada di dalamnya. Cita-citanya saat itu adalah menjadi syahbandar wanita pertama di Indonesia.

Namun salah satu pamannya melarang untuk melanjutkan pendidikan kesyahbandaran. Ia justru menyarankan sang keponakan untuk bekerja sebagai pramugari. Saran pamannya diikuti oleh Ny Jeveline dan berkarier sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways pada tahun 1966. Ia juga bekerja menjadi pramugari di maskapai penerbangan milik Belanda, KLM hingga tahun 1970. “Penguasaan bahasa Belanda saya cukup baik, karena terbiasa di rumah,” katanya.

Seolah balas dendam terhadap masa lalunya yang suram, setelah menjadi pramugari Ny Jeveline membeli buku banyak-banyak. Ia juga membeli sepatu sejumlah dua belas pasang karena sebelumnya tidak pernah memiliki sepatu yang layak. “Sebelumnya tidak pernah punya buku dan sepatu, sehingga ketika beli langsung 12 pasang. Saya sudah janji sama Tuhan, gaji pertama akan saya kasih orang tua. Saya diberi satu talenta untuk selalu suka memberi, sama siapapun,” tandasnya.

Setelah menikah, Ny Jeveline beberapa kali menjadi pramugari seasonal untuk pelayanan haji. Tahun 1979, Ny Jeveline berkarier di perhotelan selama lima tahun dengan jabatan terakhir Assistant Public Relation, dibawah arahan bosnya, Rae Sita Supit. Ny Jeveline kemudian keluar untuk menekuni bisnis pemasaran komoditi di Indonesia. Sebelum akhirnya menetap di Skotlandia, ia memegang perwakilan American Airlines di Indonesia.

“Saya kemudian menetap di Skotlandia dan punya rumah makan dengan nama Indonesian  Jev’s  Tea Room. Saya tidak tahu kenapa Tuhan memberikan bermacam-macam bakat kepada saya, sehingga saya lebih mendalami kerohanian,” tuturnya.

Saat memutuskan kembali ke Indonesia dan menekuni kegiatan sosial, ketiga anak Ny Jeveline memprotes keras. Menurut mereka, ayah dan ibunya seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Dari ketiga anaknya, hanya satu anak yang ikut ke Indonesia dan turut membantunya mengurus yayasan, sementara dua anaknya yang lain tetap tinggal di Skotlandia.

“Keliling dunia, tour dengan kapal pesiar dan lain-lain. Itu mau mereka, tetapi saya ini orangnya workaholic banget. Sejak dulu, saat menjadi pramugari saya sering di-grounded oleh dokter penerbangan. Saya dianggap kebanyakan jam terbang karena anytime siap berangkat ke mana-mana. Sampai sekarang umur sudah 66 tahun saya masih workaholic, tetap seperti itu. Karena saya memang diberkati Tuhan dengan berbagai bakat,” ungkapnya penuh syukur.

Generasi Baik

Ny Jeveline merasa rencana jangka pendek ketika memutuskan untuk mendirikan yayasan sudah tercapai. Dengan memiliki sekolah hingga tingkat SMA, ia berencana untuk mendirikan universitas. Ia berharap, untuk mendirikan sekolah pemerintah memberikan fasilitas sosial (fasos) berupa sebidang tanah karena hingga sekarang masih menyewa ruko dengan harga tinggi. Bertempat di ruko sangat tidak sehat bagi para siswa karena ruang geraknya menjadi sangat terbatas.

“Kami sudah usaha tanya sana sini, tapi katanya untuk sekolah swasta tidak dapat fasilitas sosial. Sama seperti yayasan kami, dalam kurun waktu tujuh tahun ini kami belum pernah mendapat bantuan dana dari Depsos. Padahal anak-anak jumlahnya cukup banyak, 98 di dalam dan 24 di luar yang kami bantu dengan beras dan lain-lain. Jika ada kelebihan, agar anak-anak siap pakai saya ingin mendirikan sekolah kejuruan,” katanya.

“Itu kalau ada orang yang mau menangani. Saya juga senang membina olahraga dan sekarang sedang sangat involve dalam penyelenggarakan kejuaraan sepakbola. Kita menjadi promotor Sunday League kerjasaa dengan BRITCHAM (British Chambers of Commerce) yang diikuti 112 SD  di Bogor. Dan kebetulan kompetisi terakhir dihadiri oleh Mr Ian Rush. Pemain sepakbola legendaries Liverpool yang berlangsung di LSB Sumantri Brojonegoro. Sayangnya anak-anak kami hanya juara II, kalah adu penalti,” ujarnya.

Perempuan yang memberikan pelayanan setiap Minggu ini berharap generasi yang berada dalam bimbingannya akan menjadi generasi muda yang jujur dan tulus. “Paling tidak untuk 50 tahun ke depan, akan lahir generasi berikutnya yang sama baiknya. Itu akan terus berkembang dan kita harus mulai dari satu titik,” imbuhnya.

Kepada generasi muda, Ny Jeveline berpesan agar perempuan belajar tentang masalah kewanitaan. Karena masalah tersebut sangat penting bagi kelestarian dan kelangsungan keluarga. Yang apabila mampu memanage dengan baik, keberhasilan akan diraih dalam dua arah.

“Di dalam keluarga berhasil, pasti di luar juga berhasil dengan baik. Karena itu perempuan harus belajar jujur, sama suami dan anak, untuk melahirkan anak-anak yang jujur. Berusaha menopang suami, jangan menjadi konsumtif, jangan saingi suami. Begitu juga suami harus menyayangi istri, kita harus selalu saling terbuka satu sama lain,” kata wanita tegas yang tidak pernah membedakan agama, suku dan ras ini.

Hj. IVA LATIVAH THAHIR

No Comments

Hj. IVA LATIVAH THAHIR
“Mengembangkan Profesi Sekaligus Syiar Islam”

Untuk mencapai sesuatu keberhasilan tidaklah mungkin diperoleh hanya dengan berpangku tangan atau bekerja seadanya artinya harus mau bekerja keras, berusaha maksimal, bersemangat, banyak belajar dan yakin dengan apa yang dikerjakan akan berhasil, dengan di iringi  rasa penuh tanggung jawab. Ketika kerja keras dan usaha yang maksimal telah kita jalani, masih ada hal lain yang tidak bisa diabaikan dan dilupakan oleh manusia untuk mencapai keberhasilan tersebut, yakin berdo’a mengharapkan pertolongan dari Allah SWT. Demikian kunci sukses Hj. Iva Lativah Thahir yang merupakan Owner dari Galeri IVA di dalam menjalani kehidupannya maupun menekuni profesinya sebagai seorang perancang busana muslim.

“Kita harus selalu berusaha untuk memotivasi diri kita sendiri bahwa kita ini mampu untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, tentu saja disamping keinginan dan semangat yang kita punya, kita juga harus punya keterampilan, pengetahuan, wawasan, dan kemauan untuk belajar. Kalau orang lain mampu, kenapa kita tidak?!”, ungkap sosok wanita yang saat ini di percaya pula menjabat sebagai Ketua Umum dari Ikatan Perancang Busana Muslim  (IPBM) Jawa Barat, yang selalu ramah dan santun dengan setiap orang.

Menciptakan Busana Muslim yang Santun dan Modis

Dalam ketentuan agama Islam, setiap wanita muslim diwajibkan untuk menutup auratnya. Dengan mengenakan busana yang sesuai sehingga bagian-bagian tubuh yang seharusnya “tidak dipamerkan” dan tetap tersembunyi. Tentu bagi wanita muslim yang taat, penggunaan busana muslim dalam aktivitas sehari-hari merupakan kewajiban.

Apalagi, Indonesia tidak mengenal larangan bagi wanita untuk beraktivitas di luar rumah. Wanita Indonesia bebas melakukan aktivitas seperti bekerja atau sekadar bersosialisasi di luar rumahnya sendiri. Tentu bagi wanita muslim harus pandai-pandai dalam memilih busana yang dikenakannya setiap keluar rumah. Karena syariat Islam mengatur secara ketat, cara berbusana bagi wanita muslim yang benar.

Berbeda dengan busana wanita Arab di tempat Islam berasal, model busana wanita muslim Indonesia disesuaikan dengan budaya asli bangsa ini. Berbagai macam rancangan busana wanita muslim mengambil corak dan bahan dasar dari berbagai etnik dan suku bangsa di Indonesia banyak beredar. Padu-padan antara budaya Islam dan adat istiadat lokal menghasilkan paduan yang harmonis tetapi tidak melanggar ketentuan.

Salah satu perancang busana muslim handal di Indonesia adalah Hj Iva Lativah  atau yang akrab di sapa Iva. Hasil karya wanita asal Bandung ini telah berhasil menembus pasar busana muslim internasional. Artinya, pengakuan terhadap rancangan-rancangan busana muslim yang dihasilkannya bukan hanya di Indonesia tetapi telah diakui dunia. Padahal, semula putri ke-5 pasangan      DR. KH. E.Z. Muttaqien dan  Siti Syamsiah ini “hanya” melaksanakan amanat agama yang sering disampaikan sang ayah.

“Saya menekuni profesi sebagai perancang busana muslim berdasarkan amanat agama yang sering disampaikan ayahanda perihal perlunya wanita muslimah berbusana muslim. Tetapi saya berpikir, busana muslimah itu harus modis sehingga mampu digandrungi kaum wanita, baik tua maupun muda. Saya mendapatkan kepuasan setelah lebih dari 21 tahun rancangan saya bisa memuslimahkan wanita-wanita muslim dengan menggunakan busana muslim yang santun tetapi tetap modis,” kata wanita yang mengambil namanya sendiri, IVA LATIVAH sebagai merek dagang ini.

Wanita yang sempat mengenyam pendidikan di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran ini, mulai tergugah jiwa wira usahanya setelah melalui gerbang pernikahan. Sebagai ibu rumah tangga biasa istri seorang PNS, ia mulai menata kehidupan dengan berdagang kecil-kecilan. Pada awalnya, lahan bisnisnya adalah teman-temannya sendiri. Seiring dengan perjalanan waktu, ia melebarkan sayapnya hingga mampu memiliki galeri busana sendiri. Bahkan, galerinya bertempat di Bandung dan Jakarta, dengan hasil rancangan busana mampu menembus hingga manca negara.

“Impian masa kecil saya adalah ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan hidup cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, simple memang. Banyak kenangan yang menjadi motivasi dalam kehidupan ini karena masa kecil yang sangat prihatin di antara 10 bersaudara. Ini menjadi motivasi juga bagi anak-anak dan karyawan saya,” tutur penerima berbagai penghargaan terkait dengan prestasinya dalam rancang busana muslim tersebut, diantaranya    Anugerah Citra Perempuan Indonesia (tahun 2002), Penghargaan  Indonesia Good Professional Selection, Penghargaan Islamic Award, Penghargaan Jimmy’s Enterprise Mas, Penghargaan International Professional Association (tahun 2005), Penghargaan Indonesian Best Designer Of The Year 2006   dari Yayasan Penghargaan Prestasi Indonesia, Penghargaan  Indonesian Best Business & Professional Innovation dari World Achievement Association (tahun 2007) dan masih banyak lagi yang lainnya ini.

Perempuan kelahiran Bandung, 28 Mei 1958 yang banyak mengikuti fashion show di luar negeri ini, menyatakan bahwa penghargaan masyarakat terhadap apa yang dilakukannya terlalu tinggi. Padahal, masih banyak orang-orang lain dengan karya-karya yang jauh lebih hebat dan lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang telah diperbuatnya. Namun demikian, apresiasi masyarakat tersebut harus tetap dijaga dan dikembangkan dengan sepenuh hati serta keikhlasan.

Minat Perancang Muda

Dalam menjalankan usaha, Hj Iva Lativah Thahir seperti juga para perancang busana lainnya, mendirikan galeri sebagai sarana “memajang” hasil karyanya. Selain di Bandung, Galeri IVA juga terdapat di Jakarta untuk melayani konsumen ibukota. Banyak suka dan duka telah dialami dalam menjalankan usaha tersebut.

“Terlebih bila harus mengeksplor rancangan-rancangan baru yang sejalan dengan model busana dunia sehingga busana rancangan saya mampu memenuhi trend dunia. Alhamdulilah rancangan busana muslim rancangan saya mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional,” ujar wanita yang sering mengadakan berbagai peragaan busana baik di dalam negeri dan luar negeri seperti,  Bali Fashion Weeks, Hongkong Fashion Weeks, Kuala Lumpur Fashion Weeks,  Fashion Tendance APPMI Jawa Barat,  Myanmar Fashion, Malaysian Islamic Fashion Festival, Maroko Kampoeng Indonesia, Fashion Show di 80th Anniversary Charity Ladies high Tea 2008, Singapore., Cape Town Moslem Fashion Singapore: Ex Chanting Indonesia, Fashion Show di Melbourne,  Fashion Show di Brunei dan Fashion Show di Dubai.

Ke depan, Iva memiliki obsesi untuk menciptakan perancang-perancang muda kreatif. Diharapkan para perancang muda mampu menggunakan bahan dasar hasil produksi budaya masyarakat. Mengingat banyak produk tekstil hasil produksi daerah berdasarkan adat yang memiliki tekstur indah dan langka menunggu dikembangkan lebih lanjut.

Iva mengisahkan bahwa dalam 20 tahun terakhir ia telah menggeluti batik, baik tradisional maupun kontemporer dalam rancangannya. Ia juga “memasukkan” kain sutera sebagai bahan utama rancangan-rancangannya. Ia bersyukur, karya-karya rancangan busana yang dihasilkannya sudah “go international”. Rasa syukurnya semakin membuncah, tatkala menyadari bahwa sekarang telah lahir perancang-perancang muda handal yang memiliki tanggung jawab moral, religi, dan budaya nasional.

“Alhamdulilah…. Harapan saya adalah akan menumbuhkan minat generasi muda berikutnya untuk megikuti jejak langkah saya sebagai perancang busana muslimah yang handal dan dihargai di pasar dunia. Tetapi usaha ini adalah usaha yang membutuhkan talenta, sehingga cukup sulit untuk regenerasi maupun kaderisasi. Yang jelas, usaha ini adalah sebuah profesi yang harus dijalankan secara professional. Bagi saya, sepanjang masih mampu dan berkemampuan akan saya tekuni terus sebagai langkah ibadah,” tuturnya.

Iva yang mendapatkan dukungan penuh dari keluarga ini sangat bersyukur, anak ketiga –Adila Aafiyah- memperlihatkan bakatnya dalam rancang busana.  Kesukaan menggambar yang menjadi modal dasar sebagai perancang telah dimiliki siswi SMA Taruna Bakti ini. Sang anak juga mulai banyak bertanya tentang berbagai macam busana rancangan ibunya. “Terkadang saya suka mengajaknya berdiskusi mengenai warna-warni rancangan busana karya saya. Tampaknya dia memiliki talenta yang kuat,” kata wanita yang mendapat dukungan sepenuhnya dari suami tercinta dan dua anak laki-lakinya, yaitu Muhammad Reva, ST., dan Muhammad Faisal, ST.

Meskipun begitu, Iva tidak memaksakan kehendak bagi masa depan anak-anaknya. Mereka dibebaskan untuk mengembangkan kemampuan berdasarkan bakat atau talentanya masing-masing. Ia bersama sang suami hanya menjadi fasilitator untuk mendukung langkah-langkah yang dilakukan ketiga anaknya. Untuk lebih “mengenal” aktivitas ketiga anaknya, Iva dan keluarga sering melakukan aktivitas bersama-sama sambil mendiskusikan pengalaman mereka di luar rumah. “Terkadang dengan melakukan traveling bersama ke berbagai tempat. Pendidikan anak kita landaskan kepada kemampuannya bukan berdasarkan obsesi kita sebagai orang tua,” imbuh wanita yang murah senyum ini menambahkan.

Dengan begitu, lanjut Iva generasi muda penerus bangsa secara alamiah akan berkembang. Pada perkembangannya, mereka juga akan memiliki kemampuan untuk memimpin bangsa ini. Yang mana untuk mencapai hal tersebut, seluruh komponen bangsa harus memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk memimpin bangsa dan terus mengawalnya. “Allah Maha Perencana bagi bangsa dan negara tercinta ini,” ujarnya.

Hj Iva Lativah menyebutkan bahwa kondisi Indonesia di masa mendatang akan menjadi lebih baik. Dengan kepemilikan atas SDM yang lebih baik dari sekarang ini, nampaknya “Indonesia yang lebih baik” tersebut tidak terbendung. Prioritas di bidang pendidikan dan penciptaan lapangan kerja yang dilakukan pemerintah mempertegas tercapainya tujuan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah prioritas dalam bidang pertanian dan hasil usaha tani serta usaha mikro lainnya.

“Semua harus didorong untuk pencapaian kesejahteraan dan penghapusan kemiskinan di Indonesia. Insya Allah Indonesia di masa datang akan lebih baik apabila kita semua berpijak kepada asas budaya bangsa dengan dilandasi syariat agama,” tegas perempuan yang kurang memahami masalah politik ini. “Tetapi paling tidak politisi masa depan akan lebih baik dan memiliki tanggung jawab moral yang tinggi terhadap bangsa dan negara,” tambahnya sambil menutup perbincangan di siang hari yang cerah dengan Tim Profil.

Drs. Winardi, MBA

No Comments

Drs. Winardi, MBA
Presiden Direktur PT BTS Cargo

Menjadi Diri Sendiri Untuk Membangun Perusahaan

Dalam kondisi serba kekurangan, seorang kreatif mampu menemukan jalan keluar terbaik. Berbagai cara digunakan untuk menyiasati permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Perjuangan keras tak kenal lelah selama bertahun-tahun untuk mengubah nasib akan menghasilkan kesuksesan yang mengubah jalan hidup.

Gambaran singkat seperti itulah jalan hidup yang ditempuh Drs. Winardi, MBA. Terus berusaha dan berjuang untuk memperbaiki kehidupan keluarga terus dilakukannya. Bahkan sejak meninggalnya sang ayah pada usianya yang ke-15, bersama keempat saudaranya yang lain, ia berusaha membantu kehidupan keluarga.

“Kami membantu ibu yang berjuang sendirian membesarkan kelima anaknya. Kita melakukan pekerjaan apa saja untuk membantu keluarga, karena tidak mau terlalu menyusahkan orang tua. Semua itu kami lakukan atas kemauan sendiri semata-mata untuk membantu perjuangan ibu,” kata Presiden Direktur PT BTS Cargo ini.

Winardi dan empat saudaranya (dua orang laki-laki dan dua orang perempuan) bekerja serabutan dengan harapan memperoleh penghasilan. Ia sendiri baru benar-benar terjun ke pekerjaan “formal” setelah lulus dari SMA. Saat itu, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan selama tiga tahun.

Lepas dari biro perjalanan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan kimia sebagai marketing. Mengendarai scooter butut, ia keliling dari kota-kota untuk menawarkan produk perusahaan tempatnya bekerja. Meskipun cukup melelahkan, ia melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Baginya perjuangan hidup untuk keluarganya jauh lebih penting dari sekadar rasa lelahnya.

“Ke manapun akan saya kejar, karena kita harus berjuang dengan penuh tanggung jawab. Tetapi saya sebenarnya tidak mempunyai impian dan cita-cita untuk menjadi apapun. Semua mengalir begitu saja, karena saya ingin menjadi diri sendiri tetapi bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan,” tuturnya.

Setelah sekian lama berkutat sebagai karyawan, Winardi memperoleh kesempatan yang mengubah jalan hidupnya. Sebuah perusahaan travel bangkrut dan hampir tutup sehingga pemilik menjual seluruh sahamnya. Bersama keluarga dan dukungan teman, ia memberanikan diri untuk membeli perusahaan tersebut.

Meskipun saat itu usianya masih sangat muda, namun Winardi memiliki keyakinan yang tinggi. Apalagi, dalam menjalankan perusahaan barunya ia benar-benar hanya bermodal “dengkul” sehingga selain sebagai pemilik, ia juga yang menjadi pekerja. Namun, ia yakin bahwa dengan ketekunan dan kemauan yang tinggi, setiap orang “bisa” mewujudkan keinginan dan cita-citanya.

“Dengan kemauan yang betul-betul kita jalankan, akhirnya pelan-pelan perusahaan biro perjalanan menanjak. Dari hanya satu ruko, kemudian meningkat menjadi dua ruko dan seterusnya. Banyak kendala yang kami hadapi, tetapi semua kan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau dibilang kendala ya menjadi kendala, tetapi kalau tidak ya bukan kendala. Tergantung bagaimana pola pikir kita,” ungkapnya.

Perusahaan Winardi mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dari perusahaan travel, ia kemudian merambah bidang usaha cargo, pendidikan, penerbangan dan lain-lain. Bidang pendidikan sangat lengkap dari berbagai jenjang, mulai TK, SD, SMP dan SMA sampai Perguruan Tinggi.

Untuk mengenang jasa orang tuanya, Winardi menggunakannya sebagai nama perusahaan. Salah satunya adalah penamaan perusahaan cargo, PT BTS Cargo yang merupakan singkatan dari Buana Trans Seantero. Sebenarnya, nama tersebut adalah julukan bagi sang ibu di kalangan keluarga dan teman-temannya.

“Ibu saya dipanggil BATAK SO oleh keluarga dan teman-temannya. Karena dulu, julukan atau panggilan ayah oleh rekan-rekannya adalah BATAK sehingga ibu saya menjadi BATAK SO. Dari nama tersebutlah saya singkat menjadi BTS dan nama perusahaan diberi BTS Cargo,” kisahnya.

Winardi mengakui bahwa kegigihan keluarganya dalam membangun perusahaan adalah semata-mata berkat Tuhan. Tanpa-Nya, seluruh usaha yang dilakukannya menjadi tidak berarti. Meskipun sering jatuh bangun, ia tidak pernah berputus asa dan selalu yakin bahwa Tuhan akan membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.

“Tuhan memang Maha Baik”, ujar WInardi yang mempunyai 4 orang anak, 1 laki-laki dan 3 perempuan ini. “Hal ini yang saya tekankan kepada anak-anak, agar mereka memiliki kemauan sendiri, tanpa harus disuruh dan mengerjakan apa yang mereka suka kerjakan. Karena jika kita memaksakan kehendak kepada anak, belum tentu dia suka dan mau melakukannya. Jadi mereka melakukannya dengan penuh suka cita sehingga pekerjaan itu tidak menjadi beban bagi mereka,” tegasnya.

Tidak Memiliki Cita-Cita

Memimpin perusahaan dengan berbagai bidang usaha, Drs. Winardi, MBA memiliki motivasi dalam dirinya sendiri. Motivasi paling penting adalah keinginan untuk membuktikan bahwa ketika orang lain mampu, ia juga bisa melakukan hal serupa. Dan memiliki berbagai bidang usaha, sebenarnya bukanlah cita-citanya. Tetapi itu pemberian Tuhan.

“Semua datang dan terjadi begitu saja dengan sendirinya. Saya bahkan tidak memiliki cita-cita. Karena kalau mempunyai cita-cita tetapi kita tidak menekuninya pasti tidak akan tercapai. Tetapi jika kita tekun dan kita jalankan sebagai mana mestinya, apa saja cita-cita dan keinginan kita pasti tercapai,” kata pria yang mengaku puas dengan pemberian Tuhan kepadanya ini.

Namun demikian, meskipun puas atas pencapaiannya, Winardi tidak akan pernah berhenti. Ia terus berjalan dan mengembangkan perusahaan agar memberikan kebaikan bagi umat manusia. Sambil menjalankan usaha, ia terus menerus mengucapkan syukur atas segala karunia dan kesuksesan yang diberikan Tuhan kepada dirinya dan keluarga.

Winardi menyadari, tanpa berkat Tuhan kesuksesan tidak akan hadir dalam hidupnya. Karena sebenarnya setiap manusia diberkati Tuhan untuk mencapai kesuksesan dengan profesi masing-masing. Selama manusia mampu mengatasi kendala, rintangan dan tantangan, serta kemauan untuk sukses Tuhan tidak akan menghalangi.

“Simple saja, yang penting ada kemauan karena siapapun bisa asalkan memiliki kemauan kuat untuk sukses. Kesuksesan itu merupakan milik semua orang. Boleh saja kita membaca buku tentang kiat sukses, tetapi semua tergantung pada kemauan masing-masing. Apa yang ada di buku bukan jaminan kesuksesan kalau karakter manusianya sendiri pemalas. Semua tergantung kemauan sendiri dan tekad yang kuat. Mereka juga jangan terlalu mengikuti orang lain karena memiliki bakat berbeda-beda,” tegasnya.

Bahkan, Winardi juga menegaskan bahwa dalam kamus bisnisnya tidak ada kompetitor. Setidaknya, kompetitor bukanlah menjadi prioritas untuk dikhawatirkan. Apa yang disebut kompetitor oleh orang lain, baginya adalah relasi yang mungkin akan menjalin kerjasama dengan perusahaan. Bukan tidak mungkin pula, perusahaan miliknya akan menjalin kerjasama dengan pesaingnya sendiri.

Dengan begitu, lanjutnya, ia bebas dari kepusingan dan membebani hidup dalam arena kompetisi. Tidak heran, Winardi bahkan tidak memiliki rencana pasti untuk masa depan perusahaan. Ia juga tidak memaksakan obsesi muluk-muluk untuk meraih impian dalam hidupnya. “Bagi saya hidup itu simple, kebahagiaan adalah hal paling utama dalam hidup saya. Apa yang saya mau lakukan ya lakukan saja. Ibaratnya, saya ingin perusahaan menjadi nomor satu, ya harus saya wujudkan menjadi perusahaan nomor satu. Just do it,” imbuhnya.

Karyawan Bukan Aset

Sebagai seorang pimpinan, Winardi menerapkan sistem kekeluargaan dalam menjalin hubungan dengan karyawan. Dengan sistem kekeluargaan, ia dapat langsung melihat dan memantau hasil kinerja karyawan. Sosoknya yang rendah hati dan jarang marah membuat anak buahnya sangat menyayangi dirinya. Meskipun apabila membuat kesalahan, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Bagi Winardi, karyawan sudah menjadi bagian dari perusahaan yang bersama-sama mengupayakan kemajuan perusahaan. Antara karyawan dan pimpinan harus satu hati demi kesejahteraan bersama. Untuk itu, ia tidak pernah menganggap karyawan-karyawan sebagai asset perusahaan.

“Saya tidak pernah bilang itu pegawai tetapi anggota. Saya tidak bisa bilang pegawai sebagai asset, karena mereka tidak bisa kita “pelihara” sampai tua. Kalau asset itu seperti komputer, kendaraan dan lain-lain, yang dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM, bisa melakukan manipulasi dan merugikan bukan menguntungkan perusahaan. Jadi tidak ada loyal customer, loyal employee, dan lain-lain sehingga yang tepat SDM adalah partner,” tegasnya.

(Revisi hlm 4 alinea 2)
Saya tidak pernah mengatakan karyawan saya adalah pegawai tetapi “anggota”. Dan semua orang mengatakan bahwa SDM itu asset, bagi saya SDM bukan asset tetapi partner saya dalam bekerja, karena kita sama-sama berjuang untuk memajukan perusahaan.
“Anggota” tidak bisa di “keep”, makin dipoles,  makin bagus, makin pintar malah semakin parah. INI FAKTA. Kita tidak bisa memelihara mereka sampai tua. Mereka bisa beralih ke perusahaan lain karena mendapatkan pekerjaan  dengan mendapatkan gaji yang lebih tinggi misalnya, apakah itu dikatakan ASSET????

Bagi saya yang dikatakan asset misalnya seperti komputer, kendaraan, karena dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM yang melakukan manipulasi misalnya, malah merugikan dan bukan memajukan perusahaan. Apakah itu dikatakan ASSET????
“Dan kenapa SDM dikatakan asset sementara SDM itu kan manusia, bukan benda. Mungkin dikatakan SDM sebagai “asset” hanya sebagai arti kiasan, tetapi menurut saya tidak layak kalau SDM dikatakan “asset”.
Saya rasa lebih tepat SDM itu dikatakan PARTNER”.

Selama menjalankan usaha yang berkembang besar, Winardi selalu mengedepankan untuk bekerja keras. Ia bahkan tidak pernah memikirkan harapannya tentang perusahaan ke depan, baik jangka panjang maupun pendek. Keyakinannya adalah bahwa selama perusahaan mengikuti perkembangan zaman tidak akan mengalami kehancuran. Bahkan ia tidak memiliki rencana apapun tentang masa depan perusahaan.

“Just do it saja. Tidak ada rencana dan harapan jangka apapun. Yang penting saya mau, itu saja. Kalau sekarang saya mau memiliki hotel tetapi belum dikasih sama Yang Diatas, berarti itu yang terbaik. Pokoknya dalam hidup saya itu, plan do made planning. Lakukan yang bisa dilakukan, yang penting tidak membahayakan dan merugikan orang lain,” kata pemilik motto “Kesuksesan itu Milik Semua Orang” ini.

Winardi menegaskan bahwa agar setiap manusia ingin hidup berbahagia. Salah satu cara yang paling ampuh sesuai dengan pengalamannya adalah dengan membahagiakan kedua orang tua. Karena atas doa orang tualah, cita-cita dan harapan seorang anak akan diwujudkan oleh Tuhan. Bahkan, Tuhan menjamin restu orang tua akan membuat langkah-langkah seorang anak sangat mudah menjalani hidup. “Tidak ada yang mustahil dan tidak bisa. Just do it,” imbuhnya.

Begitu juga dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Menurut Winardi tidak perlu ketakutan berlebihan terhadap datangnya era tersebut. Ia mencontohkan bagaimana zaman dahulu kantor menggunakan mesin ketik untuk menuliskan laporan perusahaan. Seiring perkembangan zaman, mesin ketik berganti dengan komputer atau laptop dan tidak menimbulkan masalah berarti.

Winardi hanya mengingatkan bagaimana perhatian pemerintah terhadap rakyatnya. Karena di tengah perkembangan zaman globalisasi, rakyat hanya mampu menjerit menyuarakan penderitaan yang dialami. Sementara pemerintah terkadang cenderung mengabaikan dan kurang menanggapi keinginan masyarakat. Padahal, banyak sekali yang harus dibenahi untuk mendorong rakyat agar mampu bersaing di dunia global.

“Pemerintah harus memiliki kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Selama ini yang dipersiapkan untuk duduk di kabinet kan orang-orang politik. Tetapi akibatnya, sedikit-sedikit digoyang oleh saingan politiknya sehingga kalau mau menyalahkan pemerintah juga tidak bisa. Itu harus dibenahi secepatnya,” tambahnya.

PENDAPAT PERIHAL PEMERINTAHAN SEKARANG).

Semua juga sudah tahu bagaimana dengan pemerintahan kita saat ini. Perubahan sudah ada tetapi masih pada sektor tertentu, masih banyak yang perlu dibenahi.
Kelemahan pemerintah kita sampai saat ini bahwa masih kurang cepat dan tanggap dalam membenahi yang seharusnya dibenahi.  Jika sudah terjadi baru sibuk untuk berbenah.
Menurut saya pemerintah harus memiliki kabinet-kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Segalanya harus dibenahi. Tidak sibuk mengurus masalah politik terus. Sedikit digoyang sudah menanggapi masalah politik yang ada.
Mau menyalahkan pemerintah, juga tidak bisa karena jadi pemerintah juga tidak gampang. Yang perlu saat ini adalah semua jajaran/masyarakat harus kerjasama dan segala sesuatunya harus cepat dibenahi.

Winardi berpendapat bahwa generasi muda sekarang harus memiliki pola pikir yang global. Mereka tidak boleh melepaskan diri dari ajaran agamanya masing-masing. Generasi muda harus menyadari bahwa agama mampu membantu mengubah pola pikir dan karakter mereka. Selain itu, generasi muda juga harus memiliki kesadaran dan kemauan untuk berjuang demi kebaikan semua umat manusia.

“Generasi muda juga harus memiliki ilmu yang tinggi. Kesimpulan saya, lakukan yang terbaik. Jangan lihat orang lain harus dilihat pada diri sendiri dan jangan sekalipun mengikuti orang lain. Itu juga saya tekankan pada anak-anak saya sembari memberikan dorongan kepada mereka untuk mengembangkan bakat dan minat masing-masing. Saya tidak pernah mengekang kegiatan mereka selama masih positif. Karena sebagai keluarga, kami saling mendukung dan bekerja dalam satu team,” ungkap Drs. Winardi, MBA menutup pembicaraan.

Trisno Alianto

No Comments

Trisno Alianto
PT Mastindo Agung Semesta

Menyuplai Bahan Bangunan Termurah Untuk Indonesia

Setelah meraih gelar Bachelor of Science di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat, Trisno Alianto memutuskan bekerja di Singapura. Selama enam bulan, ia bekerja di negeri tersebut. Namun, kedua orang tuanya meminta untuk kembali dan bekerja di tanah air. Tujuannya untuk membantu keduanya mengelola perusahaan keluarga yang dimiliki.

“Kami memiliki berbagai usaha seperti pabrik sepatu, pabrik aluminium dan pabrik tekstil. Tetapi akhirnya pada tahun 1998 saya mendirikan Mastindo setelah melihat adanya peluang pasca kerusuhan Mei 1998. Akibat krisis harga property turun dan banyak yang membutuhkan bahan bangunan. Di sisi lain, saya memiliki akses ke China karena pernah bekerja di sana. Makanya, saya terdorong untuk membantu mengimpor kebutuhan material dari China yang lebih murah,” kata pendiri PT Mastindo Agung Semesta ini.

Keberaniannya di tengah krisis moneter yang melumpuhkan sendi-sendi perekonomian tidak lepas dari kejelian pengamatannya. Perekonomian dunia yang jatuh terpuruk ke titik nadlir justru menjadi peluang emas baginya. Tanpa keraguan sedikit pun, ia “melepaskan” diri dari perusahaan keluarga yang ditekuninya selama beberapa tahun. Meskipun demikian, ia tetap menjalin hubungan kerja dengan perusahaan keluarga sebagai induk perusahaan.

Trisno –panggilan akrabnya- bahkan mengabadikan nama kedua orang tuanya menjadi nama perusahaan. “Mastindo itu sebenarnya nama ayah dan ibu saya. MA adalah singkatan Muhadi Alianto, ST adalah Srimurni Tjandra dan saya tambah INDO, Indonesia. Jadilah PT Mastindo Agung Semesta untuk mengimpor barang dari berbagai negara, seperti China, Malaysia dan lain-lain. Tadinya perusahaan mengimpor ATK, handphone dan sekarang spesialis di bahan bangunan,” terangnya.

Sebagai pengusaha, lanjut Trisno, tentu saja banyak kendala yang harus dihadapinya. Ia mencontohkan bagaimana di awal operasional perusahaan dari dalam negeri menghadapi kontrol impor dari pemerintah, bea masuk, pajak dan lain-lain. Sementara dari negara produsen, terutama China kendala yang dihadapinya adalah kesulitan untuk mencari supplier yang terpercaya. Penyebabnya, di China sendiri terjadi perang harga yang mengakibatkan kesulitan mengimpor barang yang benar-benar berkualitas.

Produsen material bangunan di China pada harga berapapun dapat memproduksi sesuai kemampuan. Hanya saja, kualitas dikorbankan untuk mengejar harga yang sangat murah. Akibatnya, konsumen di Indonesia harus kecewa karena membeli barang yang tidak berkualitas. Untuk menyiasatinya, ia berencana membangun pabrik di Jakarta atau Surabaya.

“Kita akan membuat beberapa produk yang dibuat di Indonesia, seperti stainless steel dan mungkin nanti menyusul poly carbonate. Rencananya pabrik akan dibangun di Jakarta atau Surabaya. Sesuai dengan visi kita, ‘Menyuplai bahan bangunan termurah untuk kawasan Indonesia.’ Banyak barang yang murah tetapi kualitasnya kurang. Kalau barang dari China umumnya begitu, harga berapa pun mereka bisa produksi, tanpa jaminan kualitas. Kalau kita produksi di Indonesia harganya bisa murah dengan kualitas yang baik,” tegasnya.

Menurut Trisno, ia sangat optimis bahwa ke depan produksi perusahaan mendapat sambutan dari konsumen di Indonesia. Seiring dengan pembangunan yang semakin meningkat di tanah air, produk perusahaan –baik impor maupun produksi sendiri- akan memenuhi kebutuhan pembangunan. Bahkan untuk sekarang, pelanggan perusahaan seperti kontraktor dan bengkel yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Makassar dan Indonesia Timur lainnya menjadi pelanggan setia PT Mastindo Agung Semesta.

“Sebagai importir dan distributor bahan bangunan, kita sudah melayani 23 kota di seluruh Indonesia. Ke depan, kita berencana untuk merakit bahan di Indonesia supaya lebih stabil. Karena kalau impor terus, agak susah mengingat tren di masyarakat juga berubah-ubah. Sementara kita harus menyediakan banyak barang untuk menyiapkan kebutuhan konsumen. Yang penting, pelanggan tidak perlu ke mana-mana mencari bahan yang diperlukannya. Pokoknya, kita one stop shopping untuk material ini,” ungkap pria kelahiran Medan, 15 Februari 1966 ini.

Generasi Muda Kompetitif

Berbicara mengenai generasi muda, Trisno Alianto mengungkapkan optimismenya. Mereka mampu mengembangkan Indonesia menjadi jauh lebih baik lagi. Masa depan Indonesia, tak pelak lagi sangat tergantung dari bagaimana generasi muda mengembangkan kemampuan dan potensinya masing-masing.

“Saya kira, generasi muda sekarang sudah mengenal hi tech yang dikuasianya. Saya yakin generasi muda di masa mendatang akan mampu menguasai Indonesia. Kalau kita sendiri tidak ikut dengan knowledge kita sendiri yang akan susah. Kita mau mencari apa saja, dengan membuka internet semua langsung keluar,” tutur ayah tiga orang putra dari pernikahannya dengan Luciawati Purnomo ini.

Kepada generasi muda, Trisno berpesan agar mereka tidak sekali-kali meninggalkan teknologi. Karena di kemudian hari, persaingan yang terjadi di dunia internasional lebih banyak di bidang teknologi. Oleh karena itu, generasi muda harus tetap menyadari bahwa ke depan persaingan semakin ketat dengan teknologi sebagai kendaraannya.

“Generasi muda ke depan harus lebih kompetitif, karena semua sudah jelas informasinya tinggal bagaimana efisiensi dilakukan. Makanya mulai sekarang kita harus mengikuti teknologi. Dan ini harus diajarkan sejak dini di sekolah,” ungkap pengagum Mao Tse Tong dan John F Kennedy ini.

Untuk itu, Trisno mendukung upaya pemerintah yang memberikan anggaran 20 persen dari APBN bagi pendidikan. Setidaknya pada setiap sekolah tersedia komputer dengan jaringan internet untuk mengenalkan teknologi informasi sejak dini. “Anak-anak harus mengikuti knowledge semaksimal mungkin dengan teknologi ini. Jangan sampai anak-anak kita kalah dari anak-anak di luar negeri. Semuanya meningkat tetapi kita memang kalah cepat dari bangsa lain,” kata anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Meskipun demikian, pria dengan moto “Menyiapkan diri adalah arti dari suatu kehidupan” ini, tidak mempersiapkan anak-anaknya untuk menggantikan posisinya. Ia menyerahkan secara penuh keinginan mereka dalam mengejar cita-cita sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Anak saya ada tiga laki-laki semua, yang paling besar SMA sedangkan yang kecil baru SD. Saya tidak mengarahkan mereka untuk meneruskan usaha ini. Tergantung mereka karena setelah kuliah anak-anak pasti memiliki rencana masing-masing. Semua sudah open, terserah mereka. Yang penting kita sudah siapkan semuanya, mulai sekolah sampai kuliah,” tegas penyuka liburan di Bali, Singapura dan USA ini.

Lima Besar Dunia

Terhadap pemerintah sekarang, Trisno Alianto menyadari kesulitan yang mereka hadapi. Masalah waktu adalah problema terbesar yang dihadapi dunia usaha terhadap kebijakan pemerintah. Ia mencontohkan bagaimana impor barang harus tertunda di Bea Cukai. Sementara di negara seperti Singapura, dalam beberapa hari masalah kepabeanan pasti teratasi.

“Kita tahu kapan barang kita keluar karena prosedurnya sudah tetap. Tetapi memang memerlukan proses yang sangat panjang, meskipun sudah terdapat perubahan yang sangat berarti. Perbaikannya sudah sangat drastis. Contohnya masalah pajak, dari dahulu sistem yang digunakan sudah sangat bagus begitu juga cara meng-handle yang dilakukan dengan baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Trisno berharap pemerintah mampu membenahi sektor riil. Karena meskipun secara makro kemajuan perekonomian di Indonesia sangat bagus, tetapi pada sektor riil semuanya hanya sebatas angka. Sementara pemulihan ekonomi tidak mungkin hanya dari satu decision saja dan harus didukung oleh market/pasar dan faktor-faktor lainnya.

Menurut pemilik usaha pergudangan PT Cita Bumi Kendari ini, pemerintah harus melakukan dua hal, menstabilkan nilai kurs rupiah dan menurunkan suku bunga. Karena saat ini, nilai suku bunga perbankan Indonesia merupakan tertinggi di Asia sebesar 14 persen. Padahal, di negara-negara lain suku bunga sudah mencapai di bawah 1 persen. Apabila kedua hal tersebut terwujud, kemajuan perekonomian di Indonesia akan meningkat secara signifikan.

“Indonesia negara yang sangat makmur, semua itu hanya masalah waktu saja. Karena semua bahan tambang ada di bumi Indonesia sehingga kesejahteraan tinggal beberapa langkah lagi. Bahkan, seorang ekonom meramal, nanti tahun 2030 Indonesia akan menjadi top five in the world, lima besar kekuatan ekonomi di belakang China, Brazil, dan India. Saya kira proses menuju itu sangat sulit, karena banyak personal interest yang harus disingkirkan. Tetapi kalau personal interest bisa dikesampingkan, akan lebih mudah untuk menyejahterakan rakyat,” kata Trisno Alianto menutup pembicaraan.

Nyoman Wana Putra, BA

No Comments

Nyoman Wana Putra, BA
Presiden Direktur PT Taman Sari Wisata Bahari

Perintis Pengembangan Wisata Bahari di Bali

Bali dikenal sebagai tujuan wisata dunia sejak zaman dahulu kala. Keindahan panorama alam dan budaya Bali yang sangat eksotis menjadi daya tarik tersendiri. Tidak heran, di luar negeri Bali bahkan lebih terkenal dari pada Indonesia.

Eksotisme alam dan budaya Bali membuat provinsi ini dijuluki sebagai Pulau Dewata. Setiap daerah di wilayah ini menjadi sangat menarik bagi wisatawan, sehingga “apapun” yang berada di pulau ini bisa “dijual” sebagai daerah tujuan wisata. Tinggal bagaimana pengusaha dan pengelola suatu wilayah mengemasnya menjadi daerah tujuan wisata yang memikat.

“Akhir tahun 1970-an di wilayah Sanur mulai terlihat potensi dan kondisi perekonomian masyarakat semakin membaik. Penggeraknya adalah pembangunan hotel di kawasan PTDC, Nusa Dua. Dengan ekonomi Indonesia yang mulai membaik, Bali dikedepankan sebagai penyangga pariwisata dunia. Melihat peluang tersebut, saya kemudian merintis desa wisata yang memiliki potensi wisata bahari dengan kekayaan terumbu karang dan lautnya,” kata Nyoman Wana Putra, BA, Presiden Direktur PT Taman Sari Wisata Bahari.

Bersama teman-temannya, ia mengembangkan sebuah resort di pulau kecil tempat penyu mendarat dan bertelur. Selain itu, layanan bagi wisatawan untuk melakukan parasailing, snorkeling, diving dan wisata laut lainnya pun disediakan. Dengan semakin majunya perkembangan wisata di wilayah tersebut, ia harus mendatangkan instruktur dari Australia.

Dari Sanur, Nyoman Wana Putra kemudian mengembangkan tujuan wisata baru di Benoa pada tahun 1985. Lulusan ASMI Denpasar ini kemudian membuka dan mengembangkan wisata bahari di wilayah dengan pasir putih dan terumbu karang yang sangat menawan tersebut. Kekayaan alam yang ditawarkan mendapat sambutan hangat dari wisatawan asal Australia, Jepang, Taiwan dan Eropa. “Kalau wisatawan domestik masih sangat jarang. Tetapi belakangan kita juga banyak menerima wisatawan dari Arab,” tuturnya.

Melihat sepak terjang Nyoman Wana Putra yang sangat gigih dalam memperjuangkan wisata, masyarakat di sekitar Benoa memilihnya sebagai Kepala Lingkungan. Dengan mendapat kepercayaan dari masyarakat tersebut, ia terus mengembangkan desa bahari untuk kemajuan pariwisata di daerahnya. Tahun 1992, ia mendirikan PT Taman Sari Wisata Bahari yang fokus pada layanan snorkeling dan restoran.

Perkembangan usaha yang dirintis bersama teman-temannya tersebut berkembang dengan pesat. Karena kesibukannya, Nyoman Wana Putra  memutuskan untuk berhenti sebagai kepala lingkungan pada tahun 2000. Tetapi tidak hanya berhenti di situ, ia berjuang memekarkan lingkungan tempat tinggalnya menjadi satu satu kelurahan baru. Usahanya mendapat dukungan luas dari masyarakat sehingga terbentuklah kelurahan Tanjung Benoa.

“Setelah itu saya bisa konsentrasi untuk menekuni bisnis wisata bahari. Meskipun tampil apa adanya, tetapi masyarakat memilih saya sebagai Wakil Pendesa Adat. Pendesa Adat adalah ketua adat yang sejak sebelum kemerdekaan sudah ada di Bali. Tugas Pendesa Adat memacu dan mendongkrak teman-teman pengusaha untuk terus mengembangkan wisata bahari sehingga dicintai juga oleh wisatawan domestik. Usaha itu menuai hasil sehingga turis domestik tidak merasa berlibur di Bali sebelum merasakan water spot ini,” kata pria yang terpilih sebagai Pendesa Adat sejak tahun 2006 ini.

Dalam menjalankan tugas sebagai Pendesa Adat, Nyoman Wana Putra tidak hanya memacu kemajuan wisata bahari. Ia juga mengupayakan kerukunan antar umat beragama yang berada di wilayah tugasnya. Karena tidak bisa dipungkiri, dengan semakin pesatnya kemajuan wisata yang menggerakkan perekonomian, banyak berdatangan masyarakat dari wilayah lain untuk mencari pekerjaan.

Sebagai warga Bali yang egaliter dan terbuka, Nyoman Wana Putra tidak menampik kehadiran warga pendatang. Bahkan, ia merasa sangat terbantu dengan kehadiran mereka yang bekerja di sektor informal. Tidak heran, ia dan warga Bali lainnya berharap saat Lebarang tiba para pendatang tidak menghabiskan masa liburan mudiknya dengan berlama-lama di kampung halaman masing-masing.

“Wah susah kita kalau mereka tidak ada. Karena kita di sini saling bahu membahu, saling membantu tanpa melihat latar belakang agama sehingga tidak pernah terjadi gesekan. Apalagi, sejak dahulu Tanjung Benoa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh tiga agama, Islam, Hindu dan Buddha,” tegasnya.

Pada hari-hari besar keagamaan masing-masing agama, Nyoman Wana Putra selalu mengadakan koordinasi sehingga tercipta kondisi yang kondusif. Silaturahmi antara pemeluk agama yang berbeda pun tetap terjalin sehingga semua dapat hidup berdampingan secara harmonis. “Kita saling mendoakan tanpa pelecehan. Walaupun kepercayaan berbeda-beda tetapi semua tetap yakin bahwa Tuhan adalah satu. Perasaan seperti itu sudah menjadi milik masyarakat dalam kelurahan Tanjung Benoa,” tandasnya.

Tidak heran, dengan toleransi beragama yang sangat kental seperti itu, perkawinan silang antar agama pun tidak menjadi persoalan yang rumit. Pasangan yang ingin menikah mendapat kebebasan untuk memilih dan berpindah agama sesuai keyakinan masing-masing. Masyarakat tidak pernah mempermasalahkan misalnya seorang pria Islam memperistri wanita Hindu atau sebaliknya. Begitu juga dengan perkawinan antara pemeluk agama yang lain.

“Semua berdasarkan suka sama suka dan cinta-sama cinta. Kita menyadari bahwa cinta itu turun dari Tuhan dan bukan kehendak manusia. Kalau sudah suka sama suka, kita serahkan kepada mereka mau masuk agama apa saja terserah. Itu yang saya bangun di desa adat Tanjung Benoa, bersaudara antara pemeluk Hindu, Buddha dan Islam. Tahun 1970-1976 datang orang-orang dari Flores yang beragama Kristen dan bergabung bersama kami untuk bertahan hidup sampai sekarang,” katanya.

Dukungan Pemerintah Besar

Menurut Nyoman Wana Putra, pemerintah sangat mendukung pengembangan dunia pariwisata di Bali. Apalagi Bali terbukti menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara yang mendatangkan devisa yang besar bagi negara. Selain itu, Bali juga tetap menarik bagi kunjungan wisatawan domestik yang ingin menikmati wisata bahari.

“Pemerintah sangat mendukung, terutama pemerintah Badung dan provinsi Bali. Setiap tahun, pengusaha restoran, perhotelan dan pariwisata lainnya mengikuti promosi secara langsung di tingkat nasional maupun internasional.  Kami juga berterima kasih karena stasiun TV juga banyak menayangkan obyek wisata yang kami kelola,” ungkap Ketua DPC Gahawisri (Gabungan Pengusaha Wisata Bahari) Kabupaten Badung ini.

Bantuan pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Badung sangat dirasakan penggiat wisata bahari seperti Nyoman Wana Putra. Melalui lembaga tersebut pengusaha di bidang pariwisata mengetahui kelemahan dan kekurangan masing-masing. Terutama mengenai kekurangan dalam pelayanan yang dirasakan oleh para pengguna jasa di lapangan sehingga dapat dikoreksi untuk perbaikan. “Karena seluruh komplain dari wisatawan ditampung di dinas tersebut,” tambahnya.

Pemerintah juga sangat berperan besar dalam memulihkan kondisi pariwisata Bali pasca serangan Bom Bali I tahun 2001. Selain promosi besar-besaran, pemerintah terutama pihak keamanan mengadakan kerjasama dengan Pecalang atau petugas keamanan adat yang dimiliki setiap desa di Bali. Setelah Bom Bali II tahun 2005, sistem keamanan antara pecalang dan pihak kepolisan semakin ditingkatkan dalam mencegah dan mewaspadai terjadinya serangan teroris.

“Dari situ tercipa sebuah sistem dalam suatu taksu yaitu Taksu Bali yang disebut dengan Pengamanan Pecalang. Di mana Pecalang dilengkapi dengan perlengkapan sarana adat untuk pengamanan. Kita tidak mengadakan sweeping tetapi sidak yang terkesan lebih manusiawi. Yakni pendekatan untuk mengetahui kelengkapan data, keperluan kedatangan ke Bali dan lain-lain,” ungkapnya.

Sidak gabungan, lanjut Nyoman Wana Putra, biasanya dilakukan antara pecalang bersama pihak kepolisian. Pendatang yang jelas tujuannya diajak dan disarankan untuk mengikuti kata pepatah bahwa “di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung.” Semua itu menunjukkan bahwa warga Tanjung Benoa dan Bali pada umumnya menginginkan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Secara khusus, sebagai Pendesa Adat ia memohon kepada para pendatang untuk mengikuti aturan yang disebut Awig-Awig.

“Para pendatang silakan mengais rezeki di wilayah kami, namun tolong menunjukkan identitas yang jelas untuk dicatat. Karena kami menempati wilayah Tanjung Benoa ini dengan mengedepankan kerukunan dan kedamaian. Kami secara rutin mengadakan pertemuan untuk mengevaluasi situasi dan kondisi di daerah kami. Semua perwakilan agama dihadirkan, sehingga sekecil apapun permasalahan kami selesaikan secepatnya. Apapun yang terjadi, apakah itu kematian, kelahiran, perkawinan dan lain-lain, selalu terkontrol serta terkendali,” ujarnya.

Nyoman Wana Putra menerapkan hal tersebut pada perusahaan yang didirikannya, PT Taman Sari Wisata Bahari. Dari 54 SDM yang dipekerjakannya –mulai tingkat manager sampai staf- terdiri dari orang-orang dari seluruh wilayah Indonesia dengan keragaman budaya serta keyakinan yang dianut. Dilandasi oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki pulau yang luar biasa banyak dengan garis pantai yang sangat panjang, memungkinkan untuk mengembangkan potensi wisata bahari lebih besar.

“Itu merupakan potensi yang sangat luar biasa dalam wisata bahari. Makanya, meskipun pendidikan mereka kurang, tetapi kami training agar menjadi bekal sebagai bahan untuk mengembangkan daerah masing-masing. Banyak di antara mereka yang sudah mampu berdiri sendiri setelah kami didik di Bali. Mereka kami didik sebagai kapten, crew driver dan lain-lain. Nah, kalau mereka mampu dan daerah asalnya memungkinkan, mereka akan mengembangkan wisata bahari di daerah sendiri. Syaratnya mereka harus memiliki niat yang baik, jujur dan berkemauan keras untuk belajar,” tegasnya.

Jangan Menjadi Kuli

Sukses mengembangkan wisata bahari, membuat Nyoman Wana Putra berharap dapat melebarkan sayap bisnisnya. Apalagi potensi wisata bahari di Indonesia dengan ribuan pulau sangat menarik untuk dijadikan obyek wisata karena tersebar di seluruh garis pantai Indonesia. Peluang untuk berkembang sangat terbuka lebar dan tidak hanya mengandalkan pulau Bali semata.

“Kita harus mengembangkan pesisir lain di Indonesia sehingga saya bisa membuka cabang di daerah lain. Bahkan kita juga bisa mengembangkan wisata bahari di seluruh Indonesia, karena Indonesia terkenal dengan laut dan terumbu karangnya. Banyak potensi wisata bahari yang bisa kita jual, kenapa kita tidak bisa kembangkan. Karena sumbangan dari pariwisata cukup besar bagi pendapatan negara,” tandasnya.

Dengan pengembangan wisata pantai di seluruh Indonesia, lanjutnya, berarti terjadi pemerataan pembangunan. Kesejahteraan tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan tetapi juga di daerah-daerah. Dengan begitu tidak perlu terjadi masyarakat yang berbondong-bondong menjadi TKI ke luar negeri atau “merantau” ke Jakarta, yang menambah keruwetan ibukota. Majunya pariwisata daerah, juga mencegah pemindahan ibukota negara ke kota lain.

“Karena pemindahan ibukota negara ke luar Jakarta bukan solusi mengatasi permasalahan. Yang penting adalah pemerataan pembangunan sehingga tidak semua orang tertarik untuk mengadu nasib di Jakarta. Kalau di pusat hanya sekadar mencari pengetahuan atau sistem untuk dikembangkan di daerah. Bukan disikapi dengan memindahkan ibukota, kalau begitu kita mundur lagi, dari awal lagi,” ungkapnya.

Pemindahan ibukota, menurut Nyoman Wana Putra akan mengubah tatanan sejarah yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa dengan tetesan darah, air mata dan keringat. Indonesia tidak perlu meniru Malaysia yang memindahkan ibukota negaranya, karena memiliki karakter yang berbeda. “Jangan sekali-sekali mengubah jalannya sejarah. Mungkin kita perlu duduk bersama antara pusat dan daerah agar saling memahami keinginan masing-masing,” kata ayah empat anak ini.

Semangat untuk melestarikan sejarah dan budaya sendiri, jelasnya, harus dimiliki oleh generasi muda penerus bangsa. Di tangan mereka terletak masa depan bangsa menuju Indonesia yang lebih baik. Sikap tanpa melupakan sejarah dan budaya Indonesia, generasi muda akan maju dengan karakter bangsa sendiri. Ia berpesan agar setelah memiliki menyelesaikan pendidikan dan memiliki gelar, generasi muda tidak bermimpi untuk menjadi PNS atau karyawan.

“Kembangkan potensi yang ada dalam diri masing-masing. Kalau bisa menjadi raja -meskipun kecil- jangan jadi kuli. Kita dilahirkan dan hidup bukan untuk disiksa, tetapi berdiri di atas kaki sendiri. Dahulu kita hidup di zaman kerajaan, maka kitalah yang sekarang harus berpikir untuk menjadi raja. Mari kita kembangkan apa yang bisa dilakukan dengan menjadi entrepreneur di daerah masing-masing. Pemerintah juga harus menuntun generasi muda sehingga daerah berkembang sehingga kita semua sejahtera,” tegas Nyoman Wana Putra.

PT Taman Sari Wisata Bahari
Jl Konco No 9, Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali
Telp: (0361) 772583
Fax: (0361) 775242
Website: www.balimarinesport.com

Drs. Tarwan , MT

No Comments

Drs. Tarwan , MT
Kepala Sekolah Menengah SMK Penerbangan Dirghantara

Terus Membangun Demi Terwujudnya Target Sekolah Unggulan Tahun 2010

Sebelum berhasil meluluskan siswanya, Sekolah Menengah Kejururuan  Penerbangan Dirghantara ( SMK-PD ) telah memperoleh predikat akreditasi “B”. Dengan predikat tersebut kualitas ataupun persyaratan Sekolah  Menengah Penerbangan di Curug ini diakui pihak yang berwenang. Tentu saja ukuran untuk sekolah baru SMK-PD yang baru berdiri tahun 2005 predikat ini sangat membanggakan.

Pada awal berdirinya SMK-PD ini banyak berkonsultasi/ berhubungan dengan SMKN 29 Jakarta, meliputi sistem kurikulum, sistem pembelajaran, tenaga pengajar kebutuhan laboratorium dan lain-lain. Seiring dengan perjalanan waktu SMK-PD dapat Mandiri, artinya diperkenankan melaksanakan Ujian Nasional sendiri. Padahal diperkirakan sebelumnya Ujian Nasional pertama harus bergabung dengan SMK lain yang sesjenis dan  yang terdekat adalah SMK 29 Jakarta, dan apabila hal itu terjadi memerlukan biaya  tak sedikit yang harus ditanggung oleh para siswanya terutama untuk transportasi.

Bermodalkan predikat akreditasi, dapat membantu sekolah dalam menyampaikan beberapa hal dan kendala yang dihadapi oleh sekolah kepada masyarakat. Dengan kerja keras dan berbagai upaya, akhirnya sedikit demi sedikit fasilitas sekolah dapat dilengkapi. Lulusan pertama SMK-PD adalah 73 orang siswa, sebagian besar sudah diterima dan bekerja di maskapai penerbangan dan sebagian melanjutkan studi. Tidak tahu kenapa anak-anak kami cepat terserap oleh pasar”kata Drs. Tarwan, MT, Kepala Sekolah SMK Penerbangan Dirghantara.

Tidak hanya berhenti disitu, tahun berikutnya bahkan beberapa maskapai penerbangan nasional mendatangi SMK-PD, dengan tujuan  merekrut dan mengikat siswa sebelum mereka “ diambil” oleh perusahaan lain setelah lulus sekolah. Tahun  2009/2010 GMF dapat merekrut 16 siswa, sebagian sedang mengikuti proses rekrut Lion Air. Sementara lulusan umumnya direkrut melalui jalur normal di berbagai maskapai penerbangan, sebagian lainya melanjutkan ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI-Curug), Universitas Nurtanio ( UNUR –Bandung ) dan lainnya.

Kepada siswa yang sudah lulus, Tarwan panggilan akrabnya berpesan agar mereka agar tidak pernah berhenti belajar. Lulus dari SMK bukan berarti tugas anda telah selesai, justeru tugas lebih besar telah menanti didepan kita. Mereka akan menghadapi dunia penerbangan yang sebenarnya, yaitu dunia yang tidak mentolerir kesalahan sedikitpun, yang bisa berakibat fatal.

“Mereka harus terus belajar dan belajar.Tantangan di dunia penerbangan relatif berat, karena teknologi penerbangan selalu berkembang dan akan

terus berkembang . Kami mendidik sesuai   dengan kemampuan yang kami miliki, dan kami akui masih banyak lubang yang kitaenahi. benahi” kata pria kelahiran Purwokerto, 12 Agustus 1948 ini
Tarwan sadar, sebagai lembaga pendidikan  baru, baik secara fisik maupun sofware masih banyak kekurangan. Untuk itu  secara operasional setiap saat sekolah melakukan perbaikan-perbaikan yang dirasakan  mendesak, tidak tanggung-tanggung ia merencanakan menjadi SMK Penerbangan Dirghantara Curug sebagai SMK Penerbangan Unggulan pada tahun 2020.

Saat ini, Tarwan sedang membangun kesamaan visi dari semua unsur yang ada di sekolah. Tidak bosan bosanya ia mensosialisasikan secara terus menerus agar komitmen dari semua unsur dapat terbangun. Karena syarat untuk mencapai target menjadi sekolah unggulan tahun 2020 salah satunya adalah adanya komitmen dari semua unsur, sumber daya uang dan sumber daya lainya.

Sebagai sekolah yang ingin mendapatkan predikat sekolah Unggulan, Tarwan telah membuat suatu program semacam master plan dari tahun 2010 – 2020.
Tahun 2010, berkonsentrasi pada pembangunan prasarana/fisik untuk kesiapan akreditasi ulang, membuka kompetensi keahlian baru ( Instrumen Avionic Pesawat Udara ) untuk meningkatkan kinerja.
Tahun 2011, SMK-PD berkonsentrasi untuk pembenahan administrasi guru, administrasi perkantoran, administrasi pembelajaran, dan juga persiapan administrasi ulang ( 2 ) dengan sasaran mendapatkan predikat “A”
Tahun 2012, SMK-PD konsentrasi pada pelaksanaan akreditasi ulang, pembinaan tenaga kependidikan, peninjauan struktur organisasi guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tahun 2013, SMK-PD kembali konsentrasi pada pembangunan prasarana / fisik lanjutan , pengadaan sarana pendidikan lanjutan dan mengajukan usulan Sekolah Standar Nasional ( SSN )
Tahun 2015, SMK-PD konsentrasi pada implementasi SSN, pemantapan SSN, penerapan ISO, usulan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) , SBI untuk menuju Sekolah Unggulan
Tahun 2020, diharapkan target yang dicanangkan  SMK-PD bisa tercapai  kalau tak ada perubahan kebijakan yang mendasar, menjadi Sekolah Unggulan di Indonesia.

“ Semua itu memang perlu kerja keras dan perjuangan berat. Karena sistem dalam sekolah ini belum satu jalan,  maka masih perlu pembenahan . Sebenarnya untuk mencapai SSN persyaratan  hampir memenuhi, yaitu tinggal kelengkapan peralatan  plus pengajar dengan bahasa inggris hanya  beberapa orang, untuk ISO dengan  syarat tertib administrasi tidak terlalu masalah kalau memang kita ingin komitmen

Komitmen menjalankanya. Kemudian seperti diuraikan diatas setelah SSN, ditingkatkan RSBI yang mensyaratkan guru yang mengajar dengan pengantar bahasa Inggris lebih banyak lagi. Bagi kami hal ini tidak terlalu bermasalah, karena sebagian pengajar kami yang notabene dosen STPI terbiasa mengajar siswa dari negara asing, yakinnya.

Semua rancanan yang disusun Tarwan dimaksudkan untuk membangun SDM penerbangan yang handal dalam menghadapi globalisasi. Disamping membekali ketrampilan teknis, lulusan SMK Penerbangan Dirghantara diharapkan mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Rencananya, ia ingin merekrut tenaga pengajar dengan penguasaan bahara Arab. Mengingat sekarang ini di era globalisasi persaingan tenaga kerja sangat ketat dari seluruh penjuru dunia.

“Jadi kalau bisa tidak hanya bahasa Inggris tetapi bahasa asing lainnya juga, karena peluang bidang ini masih sangat terbuka lebar. Kalau kita mampu mencetak lulusan yang qualified di luar negeri masih banyak yang bisa  menampungnya. Dari pada kita mengirim TKI yang non ketrampilan, mendingan mengirim yang begitu kan . Maka saya berangan-angan merekrut lulusan dari Madrasah, kita didik dan kita kirim ke luar negeri, beherja sama dengan Depnaker. Peluang besar di bisnis bidang penerbangan untuk orang-orang kompeten dan punya sikap,”tandasnya.

Jajaran Perintis

Drs. Tarwan, MT, sebelumnya  sebagai salah satu Instruktur Sekolah Tinggggi Indonesia (STPI), pada tahun 1987 ditugaskan sebagai pengajar Mekanika Teknik pada Jurusan Teknik Penerbangan. Ia juga ditugaskan sebagai tenaga fungsional sebagai Pimpinan Instalasi Teknik Umum.

Tahun 1996, Tarwan mendapat kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan pada jenjang Magister(S2) di ITB jurusan yang diambilnya sesuai dengan pekerjaan sehari-hari berkutat didunia penerbangan. Magister Teknik  diselesaikan pada tahun 1998, masih tetap mengajar. Kemudian  ditugaskan sebagai Kepala Sup Penyusunan Program kurang lebih selama setahun. Selanjutnya diberikan kesempatan sebagai Kepala Balai Diklat Penerbangan di Palembang( akhir 2000 s/d akhir 2004.

Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Sumardi dan Rakyah (almh) kemudian ditugaskan sebagai dosen tetap di STPI dengan pangkat Lektor Kepala. Tugas ini memberinya banyak waktu luang pada sore hari yang dimanfaatkan untuk mengabdi kepada masyarakat. Salah satunya ikut bergabung sebagai  staf pengajar pada SMK  dilingkungan Curug.

Secara resmi SMK Penerbangan Dirghantara berdiri pada tahun 2005 berlokasi  di kompleks STPI Curug. Sejak awal ia ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum kemudian merangkap  sebagai Pelaksana Teknis Operasional (PTO) SMK-PD ( 2008-2009). Pekerjaan yang dilakukanya laksana Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah sudah sepuh hanya saja PTO tak berwenang menandatangani surat-surat resmi. Baru pada bulan Maret 2010  Tarwan kemudian diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK-PD secara definitif.

“Visi kami para lulusan SMK Penerbangan Dirghantara Curug, handal dibidangnya masing-masing. Visi yang kita usung adalah “ Menyiapkan teknisi handal dibidang Mesin dan Rangka Pesawat Udara, Instrument dan Avionic Pesawat Udara, berdisiplin, bertanggung jawab dan bermartabat, target kami

terutama ingin membina anak didik agar tangguh, kreatif dan bertanggung jawab dilapangan sesuai bidangnya masing-masing”ungkap ayah empat anak hasil pernikahannya dengan Theresia Haryatun ini.

Oleh karena itu SMK Penerbangan Dirghantara dibawah kepemimpinan Tarwan pada pembinaan sikap yang salah satunya adalah disiplin. Sebagai tolok ukur atau tepatnya cermin adalah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia ( STPI ) Curug Tangerang, walaupun secara umum belum mencapai kondisi yang menyerupai dalam cermin, tetapi upaya menumbuhkan sikap tersebut terus dilakukan, apalagi sebagian adalah dosen STPI.
“Kita mencoba  menekankan sikap disiplin sebagai budaya yang harus dilaksanakan . Disamping itu sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku kami juaga mengupayakan beberapa type mesin sebagai sarana pelatihan. Meskipun  kita hanya beli mesin bekas karena harga mesin baru mahal dan tak terjangkau , karena kita harus memiliki guna memenuhi persyaratan. Karena predikat akreditasi kita baru “B” nanti kita ingin meningkat menjadi “A”. Kita sedang berupaya untuk bisa memiliki pesawat/mesin yang untuk praktek, bisa juga diterbangkan”ujar pemilik motto ‘Semua yang dihadapi dijalani dengan ikhlas’ ini menguraikan harapanya.

Masuk Angkatan Laut.

Awalnya Drs. Tarwan, MT tidak sedikitpun bercita-cita mejadi guru. Sebagai anak petani biasa, lebih tertarik menjadi tentara. Karena pada saat itu masuk AKABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ) masih relatif mudah, tak perlu koneksi maupun persyaratan lai, semua berdasarkan atas prestasi dan kemampuan masing-masing secara obyektif.

“Sejak kecil saya ingin masuk Angkatan Laut, itu cita-cita saya karena pakaianya putih rapi dan kalau berbaris bagus. Tetapi orang tua punya pepatah Jawa “ mangan ora mangan anggere kumpul” maka saya mendaftar sekolah yang relatif dekat rumah. Pada saat itu yang sejalan dengan lulusan STM adalah APTN ( Akademi Pendidikan Teknologi Negeri ) yang lulusanya menjadi calon guru STM dan berubah menjadi ATN ( Akademi Teknologi Negeri ) sementara saya sendiri tidak senang menjadi guru. Karena pada saat itu menjadi guru relatif mudah ( untuk mengisi lowongan karena banyak guru tersangkut G.30 SS/PKI ), sehingga bila punya Ijasah setinggkat SLTP, kita ikut kursus beberapa bulan sudah bisa jadi guru ( SR). Jadi saat itu menurut saya profesi guru kurang menantang” tuturnya.

Setelah lulus dari Akademi Teknologi tahun 1974, Tarwan kemudian “merantau” ke Tangerang. Saat itu kota satelit Jakarta ini sedang giat pembangunan pabrik secara besar-besaran. Ia bekerja dibidang pemasangan mesin dan kemudian bekerja pada suatu perusahaan di Tangerang, dengan jabatan Kepala Seksi Maintenance Produksi hingga memiliki anak. Tahun 1978, ia mulai berpikir sesuai dengan karakternya yang tidak bisa berspekulasi, karena bekerja di swasta terasa pasang surut, sehingga kurang tenang, maka mencari peluang untuk menjadi PNS, karena walaupun gaji kecil  tetapi kontinyu.

Tarwan kemudian mencoba mendaftarkan diri ke Departemen Perhubungan yang saat itu membuka lowongan. Ia diterima dan ditempatkan di Curug sebagai Instruktur. Artinya  profesi yang selama ini dihindari dan dianggap kurang menantang akhirnya harus dijalani. Awalnya ia bertugas sebagai seorang Instruktur hanya sebatas  tanggung jawab pekerjaan saja. Namun lambat laun ia sangat menikmati dan enjoy sebagai guru.

“Karena setiap hari mengajar dan merasa enjoy tadi, sekarang bahkan saya ingin menularkan pengetahuan yang saya miliki kepada orang lain . Jadi guru senang bila melihat siswa-siswanya lebih maju menjadi orang yang bermanfaat. Filosofi hidup saya adalah “bekerja apa yang saya bisa kerjakan dengan kesungguhan dan keikhlasan”, kata pria yang tidak suka bawa pekerjaan kerumah ini.

Sebagai pimpinan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Swasta, Tarwan merasa perhatian pemerintah masih terbatas. Dengan dana APBN 20 persen, perhatian kepada sekolah swasta masih tetap kecil. Ia mengibaratkan masih terasa dianak tirikan  sedangkan sekolah negeri dianak emaskan.

“Ini masih kurang adil, mestinya sekolah swasta agak lebih diperhatikan lagi. Harusnya ada keseimbangan, meskipun sekarang sudah mulai menerima bantuan terkesan sekadarnya saja” kata pria yang terkesan awet muda ini. Ia membocorkan rahasia awet muda yang dimilikinya, yaitu tidak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “ Saya tidak bisa hati saya berdebar-debar. Pokoknya saya bersyukur dengan hidup apa adanya seperti  sekarang ini” imbuhnya.

Mengakhiri pembicaraan, Tarwan berpesan kepada generasi muda agar bersungguh –sungguh dalam mengembangkan bakatnya . Setiap bakat merupakan anugerah Tuhan, apapun bentuknya tidak boleh disia-siakan dan harus ditekuni. Sebisa mungkin orang tua tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan bakat anak” cukup mengarahkan dan menunjangnya.” Yang nantinya malah bisa kontra produktif dan dapat menghancurkan masa depan si anak “ Pokoknya talent atau bakat apapun bagus asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Semua harus dilakukan dengan benar-benar dan secara total, yang Insya Allah hasilnya akan optimal” tegasnya.