Tag: kerjasama

Deddy Herfiandi

Deddy Herfiandi
Direktur PT Ratu Oceania Raya

Bekerja di Cruise Line Mendidik Profesionalisme

Dalam dunia kerja, setiap SDM dituntut untuk bekerja secara profesional. Manajemen yang mempekerjakannya, sangat menghargai seorang SDM yang bekerja berdasarkan aturan standar yang sudah ditentukan. Seorang pekerja akan dihargai sesuai dengan profesionalitasnya dalam melakukan tugas. Semakin profesional, pekerja tersebut memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang memadai.

Salah satu pekerjaan yang menawarkan pendapatan memadai berdasarkan profesionalisme adalah menjadi awak kapal pada industri cruise line atau kapal pesiar. Meskipun industri kapal pesiar banyak terdapat di perairan Karibia, Eropa dan sedikit di Singapura, tetapi menawarkan kesempatan kerja yang sangat terbuka bagi tenaga kerja terlatih dari seluruh dunia. Termasuk juga tenaga kerja dari Indonesia yang memiliki kualifikasi tertentu.

“Yang mungkin perlu kita berikan adalah informasi yang benar kepada masyarakat. Bahwa alternatif untuk generasi muda dalam mencari penghasilan lebih, pengalaman, kualifikasi, profesionalisme mereka, cruise line industry cukup bagus. Karena di samping dapat kerja dan gaji dengan dolar, juga dapat pengalaman luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan di tempat lain,” kata Deddy Herfiandi, Direktur PT Ratu Oceania Raya.

Menurut Deddy, dibandingkan pekerjaan sejenis di darat -seperti di hotel-hotel- kapal pesiar masih memiliki nilai lebih. Sesibuk-sibuknya bekerja di hotel, masih tidak sebanding dengan kesibukan kerja di kapal pesiar. Gaji yang ditawarkan pun masih tetap lebih baik dengan pekerjaan lain. Bekerja di kapal pesiar, merupakan ajang untuk mendidik generasi muda menjadi profesional. Selain berurusan dengan manajemen, seorang pekerja juga berkesempatan untuk memiliki pengalaman dan belajar mengenal budaya bangsa lain.

Bagi pekerja perempuan pun, Deddy menjamin kapal pesiar merupakan tempat paling aman dari sexual harassment. Bahkan dibandingkan dengan pekerjaan yang sama di hotel berintang di darat, kapal pesiar tetap lebih unggul. Hal ini terkait dengan perjanjian ekstra ketat yang diterapkan manajemen dalam menjamin hak-hak perempuan di kapal.

“Suitan atau tatapan mata yang dianggap menggangu, bisa mengakibatkan seseorang diturunkan dari kapal. Jadi sangat aman bagi perempuan untuk bekerja di kapal pesiar, tanpa harus takut mengalami pelecehan seksual. Pokoknya bekerja di kapal pesiar menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Kita lebih memahami bangsa lain dan kebiasaan sehari-hari mereka karena bisa saja, teman sekamar datang dari mana saja. It’s a good society, kumpulan orang-orang yang bekerja bareng satu kepentingan, tetapi bisa share knowledge dan lain-lain,” imbuhnya.

Deddy menjamin, dibandingkan pekerjaan lain di darat, bekerja di kapal pesiar masih tetap lebih unggul. Meskipun kapal berlayar di tengah laut, fasilitas yang dimiliki sangat memadai mulai rumah sakit hingga tempat ibadah. “Ibadah juga dihormati meskipun dianggap sebagai kebutuhan personal seperti anggapan dunia barat umumnya. Makanya, kita sendiri yang mengatur kapan waktu untuk salat. Memang tidak bisa seperti di darat, tetapi waktu untuk ibadah bisa kita atur sendiri,” tandasnya.

Jemput Bola

Setelah dua tahun menempati kantor baru, PT Ratu Oceania Raya yang dinakhodai oleh Deddy Herfiandi semakin maju. Dari tiga karyawan berkembang menjadi 16 orang karyawan dan memiliki kantor representative di Bali dengan 10 orang karyawan. Selain itu, banyak permintaan untuk menambah kantor representative di beberapa kota lain.

“Tetapi itu akan membuat beban menjadi lebih berat. Makanya saya hanya mempunyai perwakilan di Bali untuk Indonesia Timur dan Jakarta untuk daerah lainnya. Kita juga mempekerjakan expatriate yang kita tempatkan di Bali. Cita-cita saya bahwa suatu hari nanti kami bisa membuat kantor representative di Medan dan Makassar,” ungkapnya.

Alasannya, pada kedua kota tersebut memiliki sekolah pariwisata yang cukup bagus, STP Medan dan Makassar. Hal ini mengingat kebanyakan tenaga kerja  yang dibutuhkan untuk kapal pesiar banyak dipasok oleh sekolah perhotelan dan pariwisata. Apalagi, permintaan tenaga kerja untuk kapal pesiar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk saat ini, setiap tahun Deddy mampu memenuhi permintaan 800 tenaga kerja per tahun.

“Saya berharap, mulai tahun depan mampu menyuplai 1000 orang tenaga kerja per tahun. Karena kita juga membuka kerjasama dengan perusahaan lain, kalau dulu hanya dengan Royal dan Celebrity, sekarang kami berafiliasi bisnis dengan Disney Cruise Line, Apollo Ship Chandlers, Seabourn Flat Services dan ISPL. Yang menjadi andalan adalah empat perusahaan kapal pesiar ini –Royal Karibian, Disney, Celebrity dan Apollo- yang bisa kita harapkan akan meningkatkan jumlah crew dari Indonesia,” tuturnya.

Selain kerjasama dengan STP Medan dan STP Makassar, perusahaan milik Deddy menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan lain seperti Trisakti, NHI, SPB Bali. Bahkan perusahaan sudah membuat Culinary Program di Trisakti dan institusi pendidikan yang lain. “Saat ini kita sedang melakukan policy baru dengan sistem jemput bola. Artinya, kebutuhan tenaga kerja banyak tetapi yang melamar tidak sesuai kebutuhan,” ungkapnya.

Meskipun telah memasang iklan di mana-mana, kebutuhan tetap belum teratasi. Deddy akhirnya menjawab kebutuhan tersebut dengan mencetak tenaga kerja sendiri. Saat ini, perusahaan secara intensif bekerja sama dengan sekolah kuliner untuk cook, kursus bahasa Inggris dan kursus kapal pesiar untuk kuliner. “Jadi kita menampung lulusan yang sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kalau nunggu ya nggak jadi-jadi, saking banyaknya, sehingga kita menjemput bola atau mencetak sendiri tenaga yang kita butuhkan,” tuturnya.

Dari Hotel ke Hotel

Deddy Herfiandi lahir di Cimahi, Bandung 14 Maret 1959, orangtua Deddy bekerja di Kesdam (Kesehatan Kodam) dan berdinas di RS Dustira Cimahi. Deddy menempuh pendidikan di Akademi Perhotelan Bandung dan lulus pada tahun 1977. Dua tahun kemudian ia pergi merantau ke Jakarta dan bekerja di Hotel Borobudur. “Belum setahun bekerja saya pindah ke Hilton Hotel. Karena Hilton is the best hotels in town, waktu itu tahun 80-an,” kisahnya mengenang.

Waktu itu, kisahnya, ia bekerja di fine dinning room Taman Sari Hotel Hilton selama 8 tahun. Deddy memulai pekerjaannya merangkak dari bawah, yakni bekerja posisi dari busboy –sebagai entry position. Deddy bertahan selama delapan tahun dan mencapai posisi puncak sebagai Restaurant Manager. Ia merupakan Restaurant Manager ke-4 di Taman Sari sepanjang sejarah berdirinya Hilton Hotel.

Deddy mengembangkan karirnya dan bekerja di kapal pesiar, Holland American Lines, yang berkantor pusat di Seattle, Woshington DC. Dari situ ia bertemu banyak orang, teman dan kenalan, yang memberinya kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Michigan pada jurusan Manajemen Perhotelan. Di sana, ia menghabiskan waktu selama delapan tahun.

“Kemudian tahun 1995, saya pulang ke tanah air dan bergabung dengan Daichi Hotel. Kebetulan disana sedang membutuhkan Restoran Manager untuk French Restoran. Ini juga merupakan spesialisasi saya, karena kebetulan waktu itu, chef khusus makanan Eropa dengan Perancis sebagai spesialisasinya. Namanya Ton el Restaurant selama  kurang lebih setahun,” ungkapnya.

Deddy kemudian diajak oleh salah seorang temannya untuk mengelola restoran Imperial Karawachi. Setelah lima bulan, ia kemudian pindah kerja di Hotel Sheraton Bandara. Di situ, ia berperan menjadi pre opening team yang membantu menyiapkan konsep restoran yang sesuai dengan kualifikasi hotel bintang lima. Ia membantu Food and Beverage Manager –bernama Mr. Frank Beck- menyiapkan restoran di hotel tersebut. Ia mengakhiri karir sebagai Food and Beverage Manager selama lima tahun dan ‘mentok’ pada posisi ini. “Karena nggak mungkin menggantikan GM di situ yang pasti orang luar, Jerman atau Austria. Tetapi, itu pas dengan kemampuan dan kualifikasi saya untuk fine dinning room bukan pada restoran kecil,” tuturnya.

Lepas dari Sheraton Bandara, Deddy diajak teman-temannya dari Holland American Lines yang lebih dahulu bikin perusahaan yang namanya CTI. Perusahaan itu  merupakan perwakilan dari Carnival, Renaissance, Apollo dan lain-lain, yang membutuhkan manager dan training spesialis. Selama dua tahun ia menekuni posisi ini sebelum bergabung dengan PT Mekar Jaya, sebuah perusahaan PJTKI yang didirikan oleh Bapak Soedjangi, pensiunan pejabat Depnaker pada tahun 2002.

Saat di Mekar Jaya, lanjutnya, kebetulan ia mendapat kepercayaan sebagai perwakilan dari Celebrity Cruises yang berpusat di Miami. Empat tahun kemudian pada April  2007, Celebrity Cruises diakuisisi oleh RCCL dengan agen yang sangat solid dan establish, yakni Barber. Akhirnya hampir semua lines beralih ke agen lain, sehingga tinggal Deddy sendiri yang mengelola beberapa cruiser lines. “Kecuali Celebrity Cruises dan Royal Caribbean,   saya tinggal Regal Empress, Texas Treasure dan Caribbean Empress yang saya pegang,” ujarnya.

Dengan meninggalnya pendiri Mekar Jaya, Deddy membuat keputusan  untuk mendirikan perusahaan sendiri. Setelah seluruh surat-surat yang diperlukan terpenuhi, akhirnya pada tanggal 1 Oktober 2007, berdirilah PT Ratu Oceania Raya di Bintaro. “Yang terjadi kemudian adalah perusahaan-perusahaan yang dulu bekerja sama pada perusahaan lama, akhirnya kembali kepada saya. Seperti Royal Caribbean, Celebrity. Ditambah Club Cruise Nederland dan Regal Empress,” lanjutnya.

Tidak Ada Boss

Dalam mengelola perusahaan, suami Wiwin Winarsih ini menggunakan sistem kekeluargaan. Bahkan, orang-orang yang bekerja di PT Ratu Oceania Raya tidak memiliki bos atau atasan. Lebih ekstrim lagi di perusahaan pengerah tenaga kerja khusus kapal pesiar ini tidak menerapkan hierarki. Semua dianggap teman yang bahu membahu bekerja membesarkan perusahaan untuk kepentingan bersama.

“Di Ratu tidak ada bos dan hierarki, yang ada hanya teman. Kita hilangkan jenjang antara bawahan dan atasan. Meskipun seorang OB kita anggap kayak teman saja, dalam bersikap kita juga sama. Sejauh ini Alhamdulilah, teman-teman di kantor baik-baik dan mereka respek dengan pekerjaan masing-masing,” tuturnya.

Menurut Deddy, karyawan adalah bagian dari perusahaan yang sangat berperan besar. Tanpa kehadiran karyawan, perusahaan tidak bisa berkembang maju seperti sekarang. Tidak bisa dipungkiri, karyawan merupakan tulang punggung perusahaan dalam mencapai tujuannya. Untuk itu, sebagai perwujudan penghargaan terhadap para karyawan, Deddy membentuk Koperasi Karyawan. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan karyawan yang telah sekian lama bekerja membanting tulang demi perusahaan.

“Namanya Koperasi 16 Karat, singkatan dari enam belas Karyawan Ratu. Sudah beberapa MoU yang ditandangani atas nama koperasi, yakni proyek-proyek perusahaan dengan sekolah pariwisata. Proyek kerjasama ini menyediakan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih sesuai kebutuhan klien kita. Nah, keuntungan dari proyek menjadi milik koperasi dan hak karyawan, revenue-nya tidak masuk ke PT Ratu. Untuk yang seperti ini, saya memfasilitasi agar koperasi yang menjalankannya. Semua demi kesejahteraan bersama sehingga karyawan juga semangat bekerja,” tegasnya.

Semua itu dilakukan Deddy mengingat jasa-jasa karyawan dalam memajukan perusahaan. Ia ingat betul, beberapa bulan setelah berdiri perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan. Ia bahkan sempat meminta bantuan kakak ipar dan ponakan untuk mengelola perusahaan. Pertimbangannya, atas nama pertalian darah, masalah sensitif seperti itu lebih mudah dibicarakan, berbeda dengan karyawan lain. “Jadi sekian lama mereka bekerja tanpa bayaran, Alhamdulilah mereka sampai sekarang masih ada,” tuturnya.

Selain dari famili dekat, ayah empat anak ini menerima dukungan penuh dari istrinya. Meskipun istrinya tidak langsung terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan “hanya” fokus mengurus keluarga, tetapi sangat berarti baginya. Dengan sang istri di rumah, membuat ia tidak pernah takut terhadap masa depan anak-anaknya. Terbukti, tak satupun anaknya terlibat dalam perbuatan negative seperti terjerat narkoba atau pergaulan bebas.

“Istri saya di rumah, meskipun dulu satu pekerjaan sebelum menikah. Tetapi kami sudah sepakat, istri tidak kerja. Belajar dari keluarga-keluarga lain, yang ayah ibunya bekerja dan anak lebih dekat kepada pembantu. Makanya, dia konsentrasi membesarkan anak saja dan Alhamdulilah tidak ada yang terlibat masalah yang seram-seram. Alhamdulilah, tanpa mereka tidak ada artinya,” tukasnya. Istrinya juga membatasi diri untuk tidak terlibat dalam urusan kantor. “Bahkan ke kantor pun baru dua kali seumur hidup,” imbuhnya. Anak tertua Deddy ikut membantu mengelola perusahaan karena memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.

Mengubah Image

Sebagai “pemain” yang kenyang pengalaman di dalam dunia pengiriman tenaga kerja khusus kapal pesiar, Deddy tahu betul apa kekurangan dan kelebihan SDM Indonesia. Apalagi, tenaga kerja yang dikirimnya bukanlah “sekelas” tenaga kasar tetapi sangat  memerlukan kompetensi khusus. Untuk itu, ia berharap pemerintah melakukan beberapa pembenahan mendasar terhadap SDM asal Indonesia.

“Saya berharap pemerintah mulai berpikir untuk bersaing di dunia internasional karena itu sangat mendesak mengingat kita telah memasuki era pasar global bebas. Kita selama ini selalu kalah bersaing di semua aspek, mulai pekerjaan, sport, ilmu pengetahuan semua ketinggalan, daya saing kita  rendah sekali. Image kita terlanjur buruk, kalah dari Filipina yang jauh lebih kecil negaranya. Jadi kalau daya saing menjadi prioritas, semua harus dirombak,” tegasnya.

Selain sistem, lanjut Deddy, pemerintah juga perlu mengubah image bangsa yang sudah terlanjur jatuh. Sayangnya, bangsa Indonesia di era ini tidak memiliki public relation yang handal seperti Bung Karno, Bung Hatta, H Agus Salim, Syahrir dan lain-lain. Mereka di masanya telah menjadi PR yang handal dalam membangun image bangsa ini menjadi bangsa besar yang disegani oleh bangsa lain dan menjadi kebanggaan dari bangsanya sendiri. “Kalau sekarang belum ada yang seperti itu,” tambahnya.

Tulang punggung dari perubahan tersebut, menurut Deddy terletak di pundak generasi muda. Generasi muda harus memupuk dan menumbuhkan semangat bersaing yang kuat dengan bangsa lain. Ia secara khusus menyoroti kemampuan bahasa asing yang sangat minim dari orang-orang yang dikirim bekerja di luar negeri sebagai pekerja di kapal pesiar.

“Kemampuan komunikasi pekerja Indonesia di luar negeri dikenal sangat buruk, karena bahasa Inggrisnya minim. Kita kalah dari pekerja Filipina dan India, meskipun secara kualitas pekerjaan berani bersaing. Itulah kelemahan paling mendasar dari bangsa kita,” tegasnya.

Untuk itu, bagi pekerja Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri melalui PT Ratu Oceania Raya, Deddy menetapkan empat kriteria. Pertama kemampuan bahasa Inggris yang cukup karena akan berguna dalam pekerjaan, safety serta untuk membela hak-haknya yang mungkin terabaikan. Kedua experience, skill and knowledge terhadap pekerjaan yang harus benar-benar menguasai. Jangan sampai, pekerja asal Indonesia hanya untuk disuruh-suruh saja. Setidaknya mereka mencapai tahap men-supervisi pekerja yunior dari manapun.

“Ketiga appearance, kalau kita bekerja di luar negeri harus bisa menempatkan diri. Kita tahu Indonesia disangka sebagai sarang teroris, jangan kemudian malah ke mana-mana makai sorban, dan lain-lain. Keempat attitude yang professional dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Menurut saya yang terpenting adalah menjadi individu-individu yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Karena spirit itu akan terbawa ke semua aspek, mulai olahraga, kreativitas dan lain-lain,” tandasnya.

Deddy merasa “ngenes” melihat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar tetapi terseok-seok. Sebagai negara kaya dengan sumber daya alam dengan penduduk terbesar keempat di dunia, tetapi tidak mampu memanfaatkan kelebihan tersebut untuk kesejahteraan rakyat. Ia mencontohkan bagaimana China sebagai negara yang memiliki penduduk yang sangat besar tetapi mampu menguasai perekonomian dunia. “Mereka memiliki kebanggaan dan prestasi. Sama seperti Jepang, yang tumbuh maju karena memiliki kreativitas dan inovasi serta daya saing yang sangat tinggi dan luar biasa,” ujarnya.

Ke depan, Deddy berharap agar terjadi sinergi antara cara pandang dunia usaha, pemerintah dan generasi muda. Dengan adanya satu pamahaman, satu visi dan misi bahwa bangsa Indonesia harus memiliki kebanggaan, itulah yang akan membawa bangsa ini menuju kemajuan yang dicita-citakan. Deddy menegaskan bahwa kebanggaan tersebut harus “keluar” seperti ketika Malaysia mengklaim batik sebagai miliknya.

“Semua orang tersentak dan tergerak untuk “mengamankan” kekayaan budaya tersebut dari keserakahan bangsa lain. Karena memang batik telah menjadi kebanggaan bangsa ini, saya berharap di bidang lain pun begitu. Ada kebanggaan yang pantas untuk dipertahankan. Makanya, marilah kita sama-sama lakukan bersama, agar semua lebih mudah, baik dan jujur. Kita harus menyiapkan diri untuk menjadi bangsa yang besar,” pungkasnya.

Thomas Aquino Bima Priadi

Country Manager PT ESRI Indonesia

Lulusan Teknik Sipil yang Pakar IT

Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan setara dengan bangsa lain. Bahkan sejak dahulu kala, sejarah Indonesia telah menunjukkan kebesarannya sebagai sebuah bangsa yang disegani. Kalau sekarang terjadi kemunduran yang mengakibatkan ketinggalan, tentu sebuah kesalahan telah terjadi pada bangsa ini.

Padahal, bukan hanya Malaysia yang beberapa dekade sebelumnya mengirimkan ribuan pemuda untuk digembleng di Indonesia. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal kesejahteraan negeri jiran tersebut belakangan ini. Tidak hanya itu, negara semaju Jepang pun pernah menggunakan jasa pemuda Indonesia dalam industri teknologi informasi (IT/information technology).

Salah satunya adalah saya yang mendapat kesempatan dari Prof. BJ Habibie yang memiliki gagasan membangun industri IT Indonesia bagi pasar asing. Waktu itu beliau dapat challenge dari Jepang untuk mengisi programmer di sana yang sangat kekurangan. Saat itu, Habibie merekrut sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik IT di IPTN. Setelah itu, kami dikirim untuk job training di IBM Jepang. Selesai job training itu, kami bekerja di Jepang untuk mengerjakan beberapa proyek,” kata Thomas Aquino Bima Priadi, Country Manager PT ESRI Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, lanjutnya, banyak industri Jepang yang melakukan relokasi proyeknya ke Indonesia. Para programmer yang asli Indonesia menjadi tumpuan harapan untuk menggarap proyek-proyek perusahaan Jepang di sini. Selain itu, para programmer juga memiliki kesempatan untuk mengerjakan proyek-proyek bagi pasar perusahaan lokal.

Saat itu, Bima –panggilan akrabnya- harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus memilih bidang IT yang menjadi minatnya. Sebagai lulusan teknik sipil FT UGM Yogyakarta, ia sangat berminat pada engineering. Meskipun demikian perkenalannya dengan sistem informasi geografi telah membuat dirinya jatuh cinta dan berminat untuk mengembangkan sistem ini di tanah air.

Saya memang tidak memiliki pengalaman di bidang ini. karena Ketika lulusan dari Teknik Sipil UGM Yogyakarta, Tetapi market bidang konstruksi saat itu kurang bagus, sehingga saya banting stir ke bidang IT yang belum sepenuhnya berkembang seperti sekarang. Ketika mengenal sistem informasi geografi, saya jatuh cinta dan bertekad menekuni usaha di bidang ini karena yakin berpeluang besar akan tumbuh dengan baik,” tegasnya.

Bima menyadari bahwa tantangan di bidang ini adalah minimnya data yang tersedia. Buktinya, banyak proyek yang tidak berlanjut karena data spasial yang dibutuhkan tidak tersedia. Akibatnya, banyak proyek perusahaan yang terpaksa tidak diselesaikan karena harus berinvestasi dalam jumlah besar untuk mengumpulkan data spasial ini.

Oleh karena itu, saya mengadakan koordinasi dengan lembaga penyedia data agar kebutuhan terhadap data selalu tersedia ketika diperlukan. Saya juga bertukar gagasan untuk mendorong kemajuan sistem informasi geografi di Indonesia. Saya berharap, tidak ada lagi proyek di Indonesia yang gagal diselesaikan karena ketersediaan data sangat minim,” tegasnya.

Standar IT Indonesia

Thomas Aquino Bima Priadi menuturkan PT ESRI Indonesia memiliki visi menyebarkan software ESRI menjadi acuan utama teknologi GIS di Indionesia. Ia berharap, teknologi ini dapat dipergunakan oleh seluruh lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

Pertama menjadi standar yang dibutuhkan, kedua kita mampu menjadi bagian dari dunia teknologi informasi Indonesia. Kita ingin perusahaan menjadi leader dan standar sehingga siapapun nanti akan mengacu kepada perusahaan kita,” tegasnya.

Ke depan, lanjutnya, ESRI Indonesia ingin membangun SDM Indonesia. Utamanya SDM yang diperlukan untuk membangun dunia IT, khususnya didalam bidang Sistim Informasi Geografi di Indonesia. Upaya yang ditempuh adalah mencoba berkolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi. Dengan pertimbangan, bahwa perguruan tinggi memiliki knowledge yang diperlukan sementara perusahaan memiliki teknologi.

Itu yang harus kita gabungkan dan menjadi simpul-simpul kemajuan dunia IT Indonesia. Mereka juga harus mampu menangkap respon dan kebutuhan-kebutuhan IT dunia. Sementara ini yang kami sudah mengawali upaya kerjasama dengan kami adalah ITB dan UI. Sedangkan di timur, ITS Surabaya dan Unhas Makassar, sementara ke barat kita sudah kerjasama dengan Unsyah Banda Aceh,” tandasnya.

Pria kelahiran Purworejo, 1 April 1962 ini mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan keluarga yang sangat luar biasa terhadap karier yang ditekuninya selama ini. Sang istri, Dr. Banon Lupi Edi (dokter di rumah sakit Harapan Bunda) dan kedua anaknya tidak pernah mengajukan komplain atas kesibukan suami dan ayahnya. Meskipun harus ditinggal pagi-pagi dan kembali ke rumah dini hari, mereka menerima kondisi tersebut.

Saya pulang ke rumah paling cepat pukul sembilan malam. Tidak jarang malah pukul dua pagi, jadi mereka semua sudah tidur. Tetapi bagi saya justru itulah dukungan luar biasa dari keluarga karena mereka memberikan pengertian terhadap kesibukan saya. Oleh karena itu, terhadap pengorbanann dan kerelaan mereka itu tidak akan saya sia-siakan. Keluarga telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkembang semaksimal mungkin,” imbuh anak kedua dari lima bersaudaran pasangan Petrus Suyoso (Alm.) dan Henrica Sri Adiarti.

 Berbicara mengenai generasi muda, Thomas Aquino Bima Priadi mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang lebih lengkap fasilitasnya. Apalagi bila dibandingkan dengan kondisi generasi muda di zamannya yang minim akses ke mana-mana. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak bisa mempelajari dan memanfaatkan segala sesuatu di sekelilingnya agar menjadi lebih hebat lagi.

Yang perlu dilakukan adalah membantu memotivasi dan mengarahkan generasi muda agar kehidupan mereka lebih pasti dalam menatap masa depan. Generasi muda sekarang boleh saja menyukai yang serba instant karena sesuai dengan zamannya. Namun mereka juga tidak boleh mengabaikan proses yang harus dilakukan secara bertahap untuk memperoleh sesuatu. Diharapkan proses tersebut memiliki value bagi mereka sendiri, organisasi, masyarakat dan lain-lain,” tandasnya.

Tergantung Teknologi

Menurut Thomas Aquino Bima Priadi, banyak perusahaan sejenis yang menjalankan usaha di Indonesia. Tentu saja, semua perusahaan IT sangat mengandalkan kemajuan teknologi masing-masing karena itulah “jualan” perusahaan. Begitu juga dengan persaingan di dalam usaha ini tidak lepas dari kecanggihan teknologi yang ditanamkan pada produk IT.

Semua tergantung teknologi. Jadi bagaimana sebuah perusahaan memiliki teknologi yang cukup mumpuni sehingga mampu bersaing secara sehat. Tetapi yang jelas kita berpikir jangka panjang sehingga bisa dilihat sebagai mitra pemerintah yang sangat konsisten,” ungkap penyuka liburan di kampung halaman ini.

 Saat ini, lanjut penerima Most Strategic Win Tahun 2011 dari ESRI Inc. ini, dunia IT sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup setiap manusia. Bisa dikatakan, umat manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepaskan hidupnya dari sarana yang berhubungan dengan IT. Oleh karena itu, mau tidak mau-suka tidak suka, meskipun berlatar belakang pendidikan teknik sipil, dunia IT diselaminya.

Akhirnya saya mempunyai passion dalam bisnis ini. Meskipun awalnya memang berbagai kesulitan saya hadapi. Karena awalnya saya tidak pernah dididik di situ, bukan di set-up untuk itu. Tetapi saya diberi kesempatan, sehingga untuk masuk ke situ juga saya nikmati. Meskipun terjadi gap yang sangat berat, karena teman-teman yang lain sudah lebih dahulu menguasai kondisi dengan baik,” ungkapnya.

PT ESRI Indonesia di bawah pimpinan Thomas Aquino Bima Priadi sebagai Country Manager memiliki klien hampir seluruh kementerian di Indonesia. Beberapa perusahaan perminyakan dan perkebunan kelapa sawit juga turut menjadi klien perusahaan dalam masalah teknologi Sistim Informasi Geografi (SIG). Semua itu, membuktikan eksistensi perusahaan yang semakin dikenal sebagai penyedia jasa IT, khususnya SIG, terkemuka di Indonesia.

Di samping itu, Bima memiliki misi pribadi untuk menjadikan Indonesia sebagai penguasa informasi bagi dirinya sendiri tentang bangsa dan Negara Indonesia dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya. Karena dari sisi informasi, justru orang lain yang menjadi penguasa yang menurutnya sangat tidak bagus. Seharusnya, informasi tersebut menjadi sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang di Indonesia. Jangan sampai informasi-informasi yang sangat penting disediakan asing untuk keuntungan mereka sendiri dan bukan keuntungan bangsa kita.

 “Banyak informasi yang dikuasai oleh pribadi-pribadi sehingga kurang dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Seperti bank-bank Indonesia itu berlangganan informasi intelijen perbankan dari Malaysia, Hongkong, dan lain-lain. Padahal sumber informasi dari lembaga kita sendiri seperti BPS dan lain-lain. Ditambah sedikit pengolahan informasi, mereka jual kembali kepada kita dengan harga mahal. Oleh karena itu, sebenarnya bangsa Indonesia sangat dirugikan karena keuntungan akan datang kepada investor asing yang seharusnya dinikmati bangsa ini,” kata Thomas Aquino Bima Priadi.

Ir. Hj Soepariyani Santoso Dharmoprodjo

No Comments

Ir. Hj Soepariyani Santoso Dharmoprodjo

Presiden Direktur PT Hobson Interbuana Indonesia

Mempertahankan Perusahaan Sebagai Kebanggaan Keluarga

Memiliki perusahaan, bagi keluarga adalah sebuah kebanggaan. Selain memberikan kehidupan yang lebih baik, perusahaan juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Bagi pemilik usaha, mewariakan perusahaan bagi anak dan cucunya juga menjadi fenomena tersendiri. Karena dengan tetap berjalannya perusahaan, masa depan keluarga terjamin.

”Perusahaan yang didirikan oleh suami ini merupakan kenangan dari suami sekaligus kebanggaan saya. Makanya saya berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keberadaannya. Dahulu pernah beberapa tahun merugi, tetapi saya tetap bertahan. Hingga sekarang, saya melibatkan anak dan cucu saya untuk mengelola perusahaan,” kata Ir. Hj soepariyani santoso Dharmoprodjo, Presiden Direktur PT Hobson Interbuana Indonesia.

Perusahaan yang didirikan oleh sang suami, Ir. Santoso Dharmoprodjo tersebut kemudian berkembang pesat. Dari warkshop pada tahun 1998. kemudian tumbuh besar menjadi pabrik pada tahun 1991. Saat itu, perusahaan yang bergerak di agricultur tersebut baru berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas Produk-produknya.

Sayangnya, sebelum bisa melihat usaha yang dirintisknya berhasil, Ir. Santoso meninggal dunia. Ia meninggalkan Istrinya yang baru saja bergabung di perusahaan sebagai direktur komersil setelah pensiun dari PN Dharma Niaga. sebagai ”pewaris” tunggal PT. Hobson, Nani panggilan akrabnya bukan berdiam diri menagisi nasibnya. kepergian suaminya menjadi pelecut semangat untuk terus mengembangkan perusahaan yang baru saja berdiri tersebut.

”Saya termasuk perempuan beruntung di zaman itu. karena Mas Santoso tidak pernah mengekang saya mengembangkan karier. tahun 1969-an, saya dibebaskan untuk keluar negeri seorang diri. baliau tidak pernah iri kalau karier saya lebih maju. mas Santoso selalu mendorong saya,” kisahnya.

memperoleh dorongan dari almarhum suaminya, Nani semakin bertekad memajukan perusahaan. apalagi tidak beberapa lama, perusahaan mendapat proyek pengembangan Pupuk Mikroba Multi Guna (PPMG) Rhizo-Plus kerjasama dengan Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan Bogor dalam rangka pelaksanaan RUK ( Riset Unggulan Kemitraan) yang dibiayai dengan dana Rp. 2 Miliar. Pembiayaan proyek tersebut meruipakan patungan antara DRN
(Dewan Riset Nasional) dengan PT. Hobson Interbuana Indonesia.

setelah kertjasama tersebut, lanjut Nani, PT. Hobson Interbuana Indonesia semakin berkembang. beberapa penelitian budidaya kerjasama dengan IPB untuk menghasilkan produk pupuk mikroba menunjukkan hasil yang memuaskan. penggunaan pupuk mikroba pada tanaman padi, kedelai, jagung dan lain-lain memberikan gambaran yang menyakinkan tentang masa depan pertanian Indonesia. Tak ayal lagi, pemasaran produk-produk perusahaan pun meningkatkan drastis.

”Sekarang pabrik sudah bagus dan lumayan. apalagi di era sekarang ini, dengan internet dan telepon, banyak orang-orang yang membutuhkan cukup mengangkat telepon saja. pemasaran kami pun sudah mencapai seluruh Indonesia dengan karyawan yang cukup banyak, sebagian besar perempuan. Pokoknya, saya sangat bersyukur, karena kehidupan saya menjadi sangat baik saat ini,” tegasnya.

Perempuan dengan filosofi ”Menebarkan Kasih Sayang Bagi Sesama” ini, menempatkan orang-orang terdekatnya untuk bersama-sama mengelola perusahaan. Mulai anak, menantu hingga cucu yang memiliki kemampuan diajak membantu memajukan perusahaan. ”Salah satunya, adalah cucu dari anak ketiga yang lulusan ITB. Dialah yang memperbaharui mesin-mesin kami sehingga produksi menjadi efektif. kemudian anak pertama menjadi Direktur Keuangan dan dibantu oleh beberapa cucu yang lain,” tuturnya.

Motivasi Kebenaran

Perempuan kelahiran Bojonegoro, 24 Juli 1931 ini mengisahkan bagaimana dirinya mengasah kemampuan. Semenjak lulus dari Teknik Kimia, ia bekerja di Piterschoen & Son, sebuah pabrik cat dari tahun 1961-1967. setelah itu, ia kemudian pindah bekerja disebuah perusahaan BUMN milik Departemen Perdagangan, Dharma Niaga dari tahun 1967 sampai tahun 1988.

”Masuk pertama kali sebagai General Manager dan pensiun sebagai Direktur dan komersial pada tahun 1988. Setelah itu, saya diminta untuk membantu Mas Santoso di perusahaan yang didirikannya, PT. Hobson ini. Dalam menjalankan aktivitas, saya selalu termotivasi bahwa kalau orang lain bisa kenapa saya tidak. selama itu benar, saya pasti akan menjalaninya,” kisah ibu enam anak ini.

Namun, berbeda dengan sang suami yang Workaholic, Nani lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan dirinya. Ia tidak ingin seperti suami yang dicintainya, tidak memikirkan kondisi badannya dalam mengurus pekerjaan. Nani ingat bagaimana suaminya setiap hari hilir mudik antara Jakarta-Puncak untuk mengurus pabrik sehingga mengabaikan kesehatannya sendiri.

”Akibatnya, ketika perusahaan mulai maju, Bapak kesusu meninggal sehingga saya yang meneruskan. Tetapi apapun itu, saya sangat bangga bisa meneruskan apa yang dicita-citakannya. Sehingga seluruh keluarga pada meledek saya sebagai Dirut Hobson. Ini kan sebagai kenang-kenangan dan peninggalan dari Mas Santoso Sehingga harus diteruskan dan dilestarikan. Apalagi, prospek kita juga bagus dan semakin maju terus,” ungkapnya bangga terhadap sang suami yang sama-sama lulusan Teknik Kimia.

Karena sama-sama memiliki latar belakang Teknik Kimia, jelas Nani, suami dan dirinya saling memahami satu sama lain. Mereka berdua setiap saat melakukan diskusi dan sharing mengenai pekerjaan masing-masing. Dari situ, lahirlah ide-ide, kebijakan, pembagian tugas dalam keluarga, strategi perusahaan dan lain-lain.

Sebagai wanita karier, Nani mengajarkan kepada keenam anaknya untuk hidup mandiri. Kepada mereka, ia mengajarkan bahwa kepergiannya keluar rumah adalah bekerja demi kehidupan keluarga sehingga tidak bisa mengurus anak-anaknya dengan sempurna. ”Bahkan, pada saat wisuda anak pertama saya tidak hadir karena harus pergi untuk menandatangani kontrak. Jadi yang datang hanya bapak sama anak kedua saja,” kisah putri kedua dari empat bersaudara pasangan Soeyitno (Alm) dan Hj. Amini Soeyitno ini.

Di sisi lain, ia juga mempunyai seorang suami yang sangat sederhana, tidak konsumtif dan pekerja keras. seperti dituturkan oleh putri keempat yang menyatakan bahwa sang ibu dimanjakan oleh lingkungan. Yakni suami yang sangat mengerti dan toleran atas segala kegiatan-kegiatannya dan anak-anak yang sangat mandiri. Kedua hal tersebut membuat ia berkembang menjadi wanita karier yang profesional tanpa harus terbebani pemikiran keluarga.

”Kami, anak-anaknya semua mandiri dan tidak manja karena sadar kalau ibu bekerja untuk kita. Jadi meskipun tidak mengurusi kita seperti ibu-ibu yang lain, tetapi ibu bekerja untuk kita. Sementara ayah mengajarkan kesederhanaan dan tidak konsumtif, diiringi kerelaan untuk melepas ibu bekerja di luar rumah.

Sekilas PT. Hobson Interbuana Indonesia

Tertantang untuk berkarya serta komitment pada pembangunan bidang pertanian, pertengahan tahun 1988, Bapak Ir. Santoso Dharmoprodjo (Alm) memprakarsai pendirian sebuah usaha. Tujuan pendirian perusahaan tersebut adalah untuk melayani berbagai kebutuhan yang berhubungan dengan proses pembangunan pertanin.

Bersama 21 industri lainnya, pabrik Zat Pengatur Tumbuh tanaman diresmikan pendiriannya oleh presiden Soeharto pada tanggal 21 Maret 1991 bertempat di pabrik pupuk PT Kujang. Secara histories, pabrik zat pengatur tumbuh tanaman dengan merek Hobsanol merupakan andalan utama usaha.

Namun, dalam perjalanannya seiring dengan kegiatan diversivikasi usaha, dari PT Hobson Interbuana Indonesia kemudian lahir satu produk unggulan lainnya. Produk Pupuk Mikroba Multi Guna (PMMG) dengan brand “ Rhizo-Plus” tersebut merupakan hasil kerjasama kemitraan dengan Balitbio Bogor dalam rangka pelaksanaan RUK (Riset Unggulan Kemitraan) yang didukung oleh DRN (Dewan Riset Nasional) memiliki performance dan efikasi yang bagus serta memiliki prospek pemasaran yang sangat cerah.

Pada tahun 1997, perusahaan mendapat kepercayaan dari pemerintah/Dirjen Tanaman Pangan untuk mensuplai Rhizo-Plus bagi proyek Pembangunan Pertanian Rakyat Terpadu Pembinaan Tanaman Pangan dan Horlikultura (P2RT-PTPH) di 24 provinsi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia seluas 273.013 Ha.

Badan Hukum

Oleh para pendirianya, usaha ini diberi badan hukum dengan nama PT Hobson Interbuana Indonesia yang diserahkan oleh notaris Soetomo Ramelan, SH pada tahun 1988. Pada tanggal 26 juli 1988, PT Hobson Interbuana Indonesia mempunyai pengesahan sebagai Badan Hukum berdasarkan keputusan Dirjen Hukum dan Perundang-undangan Depkeh dengan nomor C2-6182-HT0101

Visi dan Misi PT. Hobson Interbuana Indonesia

Visi
Terbangunnya masyarakat pertanian indonesia yang maju, mandiri, berdaya saing dan akrab lingkungan sebagai dasar bagi terbangunnya sistem ekonomi kerakyatan

Misi
Meningkatkan produktivitas sektor pertanian yang akrab lingkungan dan berkelanjutan
Meningkatkan nilai tambah sektor pertanian melalui pengembangan industri hilir
Mendukung peningkatan daya saing nasional melalui sektor pertanian yang berdimensi kerakyatan dan tanggap terhadap dinamika perubahan
Membangun kehidupan sektor pertanian yang adil, sejahtera dan maju

Produk PT. Hobson Interbuana Indonesia

Prduk awal dari perusahaan adalah ZPT Hobsanol 5 EC dengan keunggulan komparatif dibandingkan produk yang sudah ada. Hobsanol 5 EC adalah zat pengatur tumbuh yang mampu dan efektif menstimulasi pembentukan dan meningkatkan hormone tanaman seperti Auksin, Sitokinin,  Etilin, Giberilin maupun enzim-enzim lainnya. Hobsanol 5 EC bukan hormone, tetapi bila diaplikasikan pada tanaman akan merangsang aktivitas pembentukan hormon alami.

Penggunaan Hobsanol 5 EC terbukti meningkatkan produksi padi 15-31%, kedelai 20-30%, cabai 20%, teh 30-40% dan masih banyak lagi. Dari bahan  aktif Triacontanol, PT Hobson Interbuana Indonesia mengembangkan produk pupuk pelengkap cair ( PPC ) dengan nama Nutrisanol. Produk ini merupakan formula Hobsanol 5 EC yang diencerkan menjadi 10 kali lipat dan diperkaya dengan unsur hara makro nitrogen dan kalium serta unsur mikro Zn dan Ca.

PT. Hobson Interbuana Indonesia telah mampu memproduksi sendiri Zat Pengatur Tumbuh Hobsanol 5EC dngan bahan baku asli indonesia dengan kandungan bahan aktif yang lebih tinggi dari pada bahan ex impor. Dengan demikian, seluruh teknologi produksi Hobsanol 5 EC mulai dari pembuatan bahan aktif, formulasi sampai dengan pengendalian mutu sudah dapat dikuasai sepenuhnya oleh tenaga ahli PT. Hobson Interbuana Indonesia.

PT. Hobson Interbuana Indonesia kemudian mengembangkan Pupuk Mikroba Multiguna Rhizo – Plus. Pupuk mikroba ini merupakan pupuk hayati mengandung beberapa jenis dan strain mikroba unggul, yang efektif bersifat multiguna dan mempunyai adaptasi yang luas. Pupuk mikroba multiguna Rhizo – Plus merupakan pengembangan dari inokulum Rhizobium komersial yang teleh ada, terdiri dari beberapa janis mikroba efektif multiguna asal indonesia dan terpilih hasil seleksi intensif terhadap kemampuannya mengikat N-udara, melarutkan fosfat dari kompleks Ca-Pada dan AI-P, serta toleransinya terhadap kondisi mencekam kemasaman AI dan kekeringan.

Drs. Winardi, MBA

No Comments

Drs. Winardi, MBA
Presiden Direktur PT BTS Cargo

Menjadi Diri Sendiri Untuk Membangun Perusahaan

Dalam kondisi serba kekurangan, seorang kreatif mampu menemukan jalan keluar terbaik. Berbagai cara digunakan untuk menyiasati permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Perjuangan keras tak kenal lelah selama bertahun-tahun untuk mengubah nasib akan menghasilkan kesuksesan yang mengubah jalan hidup.

Gambaran singkat seperti itulah jalan hidup yang ditempuh Drs. Winardi, MBA. Terus berusaha dan berjuang untuk memperbaiki kehidupan keluarga terus dilakukannya. Bahkan sejak meninggalnya sang ayah pada usianya yang ke-15, bersama keempat saudaranya yang lain, ia berusaha membantu kehidupan keluarga.

“Kami membantu ibu yang berjuang sendirian membesarkan kelima anaknya. Kita melakukan pekerjaan apa saja untuk membantu keluarga, karena tidak mau terlalu menyusahkan orang tua. Semua itu kami lakukan atas kemauan sendiri semata-mata untuk membantu perjuangan ibu,” kata Presiden Direktur PT BTS Cargo ini.

Winardi dan empat saudaranya (dua orang laki-laki dan dua orang perempuan) bekerja serabutan dengan harapan memperoleh penghasilan. Ia sendiri baru benar-benar terjun ke pekerjaan “formal” setelah lulus dari SMA. Saat itu, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan selama tiga tahun.

Lepas dari biro perjalanan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan kimia sebagai marketing. Mengendarai scooter butut, ia keliling dari kota-kota untuk menawarkan produk perusahaan tempatnya bekerja. Meskipun cukup melelahkan, ia melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Baginya perjuangan hidup untuk keluarganya jauh lebih penting dari sekadar rasa lelahnya.

“Ke manapun akan saya kejar, karena kita harus berjuang dengan penuh tanggung jawab. Tetapi saya sebenarnya tidak mempunyai impian dan cita-cita untuk menjadi apapun. Semua mengalir begitu saja, karena saya ingin menjadi diri sendiri tetapi bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan,” tuturnya.

Setelah sekian lama berkutat sebagai karyawan, Winardi memperoleh kesempatan yang mengubah jalan hidupnya. Sebuah perusahaan travel bangkrut dan hampir tutup sehingga pemilik menjual seluruh sahamnya. Bersama keluarga dan dukungan teman, ia memberanikan diri untuk membeli perusahaan tersebut.

Meskipun saat itu usianya masih sangat muda, namun Winardi memiliki keyakinan yang tinggi. Apalagi, dalam menjalankan perusahaan barunya ia benar-benar hanya bermodal “dengkul” sehingga selain sebagai pemilik, ia juga yang menjadi pekerja. Namun, ia yakin bahwa dengan ketekunan dan kemauan yang tinggi, setiap orang “bisa” mewujudkan keinginan dan cita-citanya.

“Dengan kemauan yang betul-betul kita jalankan, akhirnya pelan-pelan perusahaan biro perjalanan menanjak. Dari hanya satu ruko, kemudian meningkat menjadi dua ruko dan seterusnya. Banyak kendala yang kami hadapi, tetapi semua kan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau dibilang kendala ya menjadi kendala, tetapi kalau tidak ya bukan kendala. Tergantung bagaimana pola pikir kita,” ungkapnya.

Perusahaan Winardi mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dari perusahaan travel, ia kemudian merambah bidang usaha cargo, pendidikan, penerbangan dan lain-lain. Bidang pendidikan sangat lengkap dari berbagai jenjang, mulai TK, SD, SMP dan SMA sampai Perguruan Tinggi.

Untuk mengenang jasa orang tuanya, Winardi menggunakannya sebagai nama perusahaan. Salah satunya adalah penamaan perusahaan cargo, PT BTS Cargo yang merupakan singkatan dari Buana Trans Seantero. Sebenarnya, nama tersebut adalah julukan bagi sang ibu di kalangan keluarga dan teman-temannya.

“Ibu saya dipanggil BATAK SO oleh keluarga dan teman-temannya. Karena dulu, julukan atau panggilan ayah oleh rekan-rekannya adalah BATAK sehingga ibu saya menjadi BATAK SO. Dari nama tersebutlah saya singkat menjadi BTS dan nama perusahaan diberi BTS Cargo,” kisahnya.

Winardi mengakui bahwa kegigihan keluarganya dalam membangun perusahaan adalah semata-mata berkat Tuhan. Tanpa-Nya, seluruh usaha yang dilakukannya menjadi tidak berarti. Meskipun sering jatuh bangun, ia tidak pernah berputus asa dan selalu yakin bahwa Tuhan akan membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.

“Tuhan memang Maha Baik”, ujar WInardi yang mempunyai 4 orang anak, 1 laki-laki dan 3 perempuan ini. “Hal ini yang saya tekankan kepada anak-anak, agar mereka memiliki kemauan sendiri, tanpa harus disuruh dan mengerjakan apa yang mereka suka kerjakan. Karena jika kita memaksakan kehendak kepada anak, belum tentu dia suka dan mau melakukannya. Jadi mereka melakukannya dengan penuh suka cita sehingga pekerjaan itu tidak menjadi beban bagi mereka,” tegasnya.

Tidak Memiliki Cita-Cita

Memimpin perusahaan dengan berbagai bidang usaha, Drs. Winardi, MBA memiliki motivasi dalam dirinya sendiri. Motivasi paling penting adalah keinginan untuk membuktikan bahwa ketika orang lain mampu, ia juga bisa melakukan hal serupa. Dan memiliki berbagai bidang usaha, sebenarnya bukanlah cita-citanya. Tetapi itu pemberian Tuhan.

“Semua datang dan terjadi begitu saja dengan sendirinya. Saya bahkan tidak memiliki cita-cita. Karena kalau mempunyai cita-cita tetapi kita tidak menekuninya pasti tidak akan tercapai. Tetapi jika kita tekun dan kita jalankan sebagai mana mestinya, apa saja cita-cita dan keinginan kita pasti tercapai,” kata pria yang mengaku puas dengan pemberian Tuhan kepadanya ini.

Namun demikian, meskipun puas atas pencapaiannya, Winardi tidak akan pernah berhenti. Ia terus berjalan dan mengembangkan perusahaan agar memberikan kebaikan bagi umat manusia. Sambil menjalankan usaha, ia terus menerus mengucapkan syukur atas segala karunia dan kesuksesan yang diberikan Tuhan kepada dirinya dan keluarga.

Winardi menyadari, tanpa berkat Tuhan kesuksesan tidak akan hadir dalam hidupnya. Karena sebenarnya setiap manusia diberkati Tuhan untuk mencapai kesuksesan dengan profesi masing-masing. Selama manusia mampu mengatasi kendala, rintangan dan tantangan, serta kemauan untuk sukses Tuhan tidak akan menghalangi.

“Simple saja, yang penting ada kemauan karena siapapun bisa asalkan memiliki kemauan kuat untuk sukses. Kesuksesan itu merupakan milik semua orang. Boleh saja kita membaca buku tentang kiat sukses, tetapi semua tergantung pada kemauan masing-masing. Apa yang ada di buku bukan jaminan kesuksesan kalau karakter manusianya sendiri pemalas. Semua tergantung kemauan sendiri dan tekad yang kuat. Mereka juga jangan terlalu mengikuti orang lain karena memiliki bakat berbeda-beda,” tegasnya.

Bahkan, Winardi juga menegaskan bahwa dalam kamus bisnisnya tidak ada kompetitor. Setidaknya, kompetitor bukanlah menjadi prioritas untuk dikhawatirkan. Apa yang disebut kompetitor oleh orang lain, baginya adalah relasi yang mungkin akan menjalin kerjasama dengan perusahaan. Bukan tidak mungkin pula, perusahaan miliknya akan menjalin kerjasama dengan pesaingnya sendiri.

Dengan begitu, lanjutnya, ia bebas dari kepusingan dan membebani hidup dalam arena kompetisi. Tidak heran, Winardi bahkan tidak memiliki rencana pasti untuk masa depan perusahaan. Ia juga tidak memaksakan obsesi muluk-muluk untuk meraih impian dalam hidupnya. “Bagi saya hidup itu simple, kebahagiaan adalah hal paling utama dalam hidup saya. Apa yang saya mau lakukan ya lakukan saja. Ibaratnya, saya ingin perusahaan menjadi nomor satu, ya harus saya wujudkan menjadi perusahaan nomor satu. Just do it,” imbuhnya.

Karyawan Bukan Aset

Sebagai seorang pimpinan, Winardi menerapkan sistem kekeluargaan dalam menjalin hubungan dengan karyawan. Dengan sistem kekeluargaan, ia dapat langsung melihat dan memantau hasil kinerja karyawan. Sosoknya yang rendah hati dan jarang marah membuat anak buahnya sangat menyayangi dirinya. Meskipun apabila membuat kesalahan, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Bagi Winardi, karyawan sudah menjadi bagian dari perusahaan yang bersama-sama mengupayakan kemajuan perusahaan. Antara karyawan dan pimpinan harus satu hati demi kesejahteraan bersama. Untuk itu, ia tidak pernah menganggap karyawan-karyawan sebagai asset perusahaan.

“Saya tidak pernah bilang itu pegawai tetapi anggota. Saya tidak bisa bilang pegawai sebagai asset, karena mereka tidak bisa kita “pelihara” sampai tua. Kalau asset itu seperti komputer, kendaraan dan lain-lain, yang dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM, bisa melakukan manipulasi dan merugikan bukan menguntungkan perusahaan. Jadi tidak ada loyal customer, loyal employee, dan lain-lain sehingga yang tepat SDM adalah partner,” tegasnya.

(Revisi hlm 4 alinea 2)
Saya tidak pernah mengatakan karyawan saya adalah pegawai tetapi “anggota”. Dan semua orang mengatakan bahwa SDM itu asset, bagi saya SDM bukan asset tetapi partner saya dalam bekerja, karena kita sama-sama berjuang untuk memajukan perusahaan.
“Anggota” tidak bisa di “keep”, makin dipoles,  makin bagus, makin pintar malah semakin parah. INI FAKTA. Kita tidak bisa memelihara mereka sampai tua. Mereka bisa beralih ke perusahaan lain karena mendapatkan pekerjaan  dengan mendapatkan gaji yang lebih tinggi misalnya, apakah itu dikatakan ASSET????

Bagi saya yang dikatakan asset misalnya seperti komputer, kendaraan, karena dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM yang melakukan manipulasi misalnya, malah merugikan dan bukan memajukan perusahaan. Apakah itu dikatakan ASSET????
“Dan kenapa SDM dikatakan asset sementara SDM itu kan manusia, bukan benda. Mungkin dikatakan SDM sebagai “asset” hanya sebagai arti kiasan, tetapi menurut saya tidak layak kalau SDM dikatakan “asset”.
Saya rasa lebih tepat SDM itu dikatakan PARTNER”.

Selama menjalankan usaha yang berkembang besar, Winardi selalu mengedepankan untuk bekerja keras. Ia bahkan tidak pernah memikirkan harapannya tentang perusahaan ke depan, baik jangka panjang maupun pendek. Keyakinannya adalah bahwa selama perusahaan mengikuti perkembangan zaman tidak akan mengalami kehancuran. Bahkan ia tidak memiliki rencana apapun tentang masa depan perusahaan.

“Just do it saja. Tidak ada rencana dan harapan jangka apapun. Yang penting saya mau, itu saja. Kalau sekarang saya mau memiliki hotel tetapi belum dikasih sama Yang Diatas, berarti itu yang terbaik. Pokoknya dalam hidup saya itu, plan do made planning. Lakukan yang bisa dilakukan, yang penting tidak membahayakan dan merugikan orang lain,” kata pemilik motto “Kesuksesan itu Milik Semua Orang” ini.

Winardi menegaskan bahwa agar setiap manusia ingin hidup berbahagia. Salah satu cara yang paling ampuh sesuai dengan pengalamannya adalah dengan membahagiakan kedua orang tua. Karena atas doa orang tualah, cita-cita dan harapan seorang anak akan diwujudkan oleh Tuhan. Bahkan, Tuhan menjamin restu orang tua akan membuat langkah-langkah seorang anak sangat mudah menjalani hidup. “Tidak ada yang mustahil dan tidak bisa. Just do it,” imbuhnya.

Begitu juga dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Menurut Winardi tidak perlu ketakutan berlebihan terhadap datangnya era tersebut. Ia mencontohkan bagaimana zaman dahulu kantor menggunakan mesin ketik untuk menuliskan laporan perusahaan. Seiring perkembangan zaman, mesin ketik berganti dengan komputer atau laptop dan tidak menimbulkan masalah berarti.

Winardi hanya mengingatkan bagaimana perhatian pemerintah terhadap rakyatnya. Karena di tengah perkembangan zaman globalisasi, rakyat hanya mampu menjerit menyuarakan penderitaan yang dialami. Sementara pemerintah terkadang cenderung mengabaikan dan kurang menanggapi keinginan masyarakat. Padahal, banyak sekali yang harus dibenahi untuk mendorong rakyat agar mampu bersaing di dunia global.

“Pemerintah harus memiliki kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Selama ini yang dipersiapkan untuk duduk di kabinet kan orang-orang politik. Tetapi akibatnya, sedikit-sedikit digoyang oleh saingan politiknya sehingga kalau mau menyalahkan pemerintah juga tidak bisa. Itu harus dibenahi secepatnya,” tambahnya.

PENDAPAT PERIHAL PEMERINTAHAN SEKARANG).

Semua juga sudah tahu bagaimana dengan pemerintahan kita saat ini. Perubahan sudah ada tetapi masih pada sektor tertentu, masih banyak yang perlu dibenahi.
Kelemahan pemerintah kita sampai saat ini bahwa masih kurang cepat dan tanggap dalam membenahi yang seharusnya dibenahi.  Jika sudah terjadi baru sibuk untuk berbenah.
Menurut saya pemerintah harus memiliki kabinet-kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Segalanya harus dibenahi. Tidak sibuk mengurus masalah politik terus. Sedikit digoyang sudah menanggapi masalah politik yang ada.
Mau menyalahkan pemerintah, juga tidak bisa karena jadi pemerintah juga tidak gampang. Yang perlu saat ini adalah semua jajaran/masyarakat harus kerjasama dan segala sesuatunya harus cepat dibenahi.

Winardi berpendapat bahwa generasi muda sekarang harus memiliki pola pikir yang global. Mereka tidak boleh melepaskan diri dari ajaran agamanya masing-masing. Generasi muda harus menyadari bahwa agama mampu membantu mengubah pola pikir dan karakter mereka. Selain itu, generasi muda juga harus memiliki kesadaran dan kemauan untuk berjuang demi kebaikan semua umat manusia.

“Generasi muda juga harus memiliki ilmu yang tinggi. Kesimpulan saya, lakukan yang terbaik. Jangan lihat orang lain harus dilihat pada diri sendiri dan jangan sekalipun mengikuti orang lain. Itu juga saya tekankan pada anak-anak saya sembari memberikan dorongan kepada mereka untuk mengembangkan bakat dan minat masing-masing. Saya tidak pernah mengekang kegiatan mereka selama masih positif. Karena sebagai keluarga, kami saling mendukung dan bekerja dalam satu team,” ungkap Drs. Winardi, MBA menutup pembicaraan.

Ir. Sanjaya Aryatnie

No Comments

Ir. Sanjaya Aryatnie
Presiden Direktur PT Erakarya Konstruksi Nusantara

Sukses Tidak Lahir dari Kebetulan dan Keberuntungan

Setiap kesuksesan yang berhasil diraih seseorang, pasti melahirkan kekaguman bagi orang lain. Kesuksesan akan menginspirasi orang lain untuk mencapai prestasi serupa meskipun dengan cara yang berbeda. Karena sebuah kesuksesan tidak bisa diraih begitu saja tetapi memerlukan perjuangan dan kesabaran untuk mewujudkannya.

“Kami senantiasa berkomitmen menjunjung tinggi dan meyakini bahwa sebuah sukses lahir bukan karena kebetulan atau keberuntungan semata. Sebuah sukses terwujud karena diikhtiarkan melalui perencanaan yang matang, kerja keras, keuletan disertai dengan niat baik dan kejujuran,” kata Ir. Sanjaya Aryatnie, Presiden Direktur PT Erakarya Konstruksi Nusantara.

Komitmen seperti itulah yang menjadikan perusahaan miliknya, PT Erakarya Konstruksi Nusantara melangkah maju. Perusahaan memperoleh kepercayaan yang luas di kalangan pengusaha dari seluruh Indonesia. Terutama dalam menangani proyek-proyek milik para pengusaha tersebut di Medan, Sumatera Utara. Adapun proyek-proyek yang ditangani EKK Nusantara adalah proyek basement, rumah tinggal, Fisik Perkantoran – Klinik – Sekolah, pabrik/gudang, tower konstruksi baja, jembatan timbang & girder crane, silo dan pekerjaan tanah; cut and fill.

Awal pendirian perusahaan, jelasnya, berlandaskan pengalaman sebagai sarjana Teknik Sipil dari Universitas HKBP Nommensen tahun 1989. Selama enam tahun, ia berpengalaman sebagai pelaksana pemborongan pekerjaan interior dan rumah tinggal di Medan dan sekitarnya. Setelah merasa memiliki bekal yang cukup –ia juga berpengalaman sebagai guru- pada tahun 1996, ia mendirikan PT Erakarya Konstruksi Nusantara. Perusahaan kontraktor ini bergerak di bidang struktur beton, struktur baja dan pemancangan.

“Dengan didukung peralatan kerja dari alat berat berupa excavator, dump truck, derek tadano, mesin pancang hydraulic pressing system serta alat-alat pendukung lainnya, perusahaan mendapat kepercayaan dari kalangan pengusaha. Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan serta kerjasama yang terjalin dengan baik ini. Semoga segalanya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya dan selalu dalam sentuhan kasih sayang Tuhan Yang Maha Kuasa,” ungkapnya.

Menjadi Guru

Ir. Sanjaya Aryatnie tidak serta merta memiliki perusahaan kontraktor seperti sekarang ini. Perlu perjuangan dan upaya sungguh-sungguh untuk merintis karier yang membawa kesuksesan seperti sekarang. Berbagai profesi pernah ditekuni oleh pengusaha penganut Buddha yang taat ini.

“Saya berangkat dari bekal menjadi guru. Lalu mencoba joint usaha dengan dua teman kuliah. Tetapi pada pertengahan tahun 1989 saya keluar dan berangkat menuju Jakarta. Tujuan saya untuk bekerja dan menetap di ibukota,” katanya.

Namun, baru beberapa hari di Jakarta salah seorang pemilik rumah meneleponnya. Pemilik rumah tersebut memberikan kesempatan pekerjaan untuk membangun rumahnya di Medan. Padahal saat itu, Sanjaya sudah sampai pada taraf interview di sebuah perusahaan terkenal. Setelah berdiskusi dengan seorang teman yang belakangan menjadi istrinya, ia membatalkan interview dan bertolak ke Medan.

“Dorongan dari calon istri membuat saya tidak ragu kembali ke Medan untuk menemui pemilik rumah tersebut. Hebatnya, beliau tambahkan lima juta lebih besar dari tawaran salah satu kontraktor ternama di Medan, sambil berpesan yang penting rumahnya dikerjakan dengan baik. Ini benar-benar luar biasa dan sungguh merupakan anugrah dari Tuhan yang luar biasa,” kisahnya.

Pada saat memasuki tahap pembangunan rumah tersebut, Sanjaya banyak dikenalkan dengan rekan-rekan bisnis pemilik rumah tersebut. Hal inilah yang menjadi titik terang perjalanan bisnisnya berawal. Satu demi satu rekan bisnisnya mempercayakan pembangunan maupun renovasi rumah tinggal mereka kepada Sanjaya. “Memasuki tahun 1996, mulai ada tawaran membangun gudang maupun perbaikan pabrik-pabrik.  Saya berpikir agar bisa berkembang dengan baik dan lebih dipercaya, maka saya membuka perusahaan dengan nama PT. Erakarya Konstruksi Nusantara,” tegasnya.

Setelah mempunyai wadah sendiri berupa PT Erakarya Konstruksi Nusantara, Sanjaya merasa semuanya berjalan dengan baik.  Agar memperoleh lebih banyak pekerjaan, ia bekerja sama dengan meminta bantuan beberapa pegawai Tatakota Medan yang dikenalnya. Ia meminta informasi mengenai nama dan alamat para pemohon IMB yang masuk ke kantor tersebut. Dari data yang diperolehnya, ia kemudian menghubunginya  satu persatu sehingga semakin banyak job yang diperolehnya.

“Saya juga sempat terpuruk saat krisis moneter 1998. Proyek-proyek menjadi sangat mahal akibat melambungnya harga bahan baku. Sementara saya sudah terlanjur tanda tangan proyek yang saya kerjakan. Memang ada orang yang mau bertoleransi dan mengoreksi anggaran dan menambah biaya bahan bakunya. Tetapi ada juga yang tidak mau dan bahkan memenjarakan saya,” imbuhnya.

Sanjaya mengisahkan bagaimana saat itu dipercaya membangun sebuah pabrik yang terletak di dataran yang sangat rendah. Lahan pembangunan pabrik harus ditimbun setinggi tiga meter lebih yang dikerjakan oleh pihak lain. Namun akibat krisis, penimbunan dihentikan sehingga lokasi yang seharusnya untuk pembangunan pabrik dibiarkan terlantar begitu saja sehingga biaya semakin membengkak.

Apalagi dengan kenaikan bahan baku yang meroket, Sanjaya terpaksa mengajukan koreksi anggaran. Karena dengan biaya yang lama, ia jelas tidak mampu melanjutkan pembangunan pabrik tersebut. Tetapi pemilik pabrik tidak bergeming untuk menambah dana bahkan mengadukan Sanjaya ke Laksus di Gaperta Medan. Pemilik pabrik bahkan meminta dirinya untuk ditahan selama tiga hari. Tidak puas sampai di situ, pemilik pabrik bahkan mengadukannya ke Polsek Percut Sei Tuan.

Sanjaya dipanggil, diperiksa dan diputuskan untuk menahan dirinya selama 20 hari. Ia kemudian meminta bantuan seorang pemilik pabrik seng kenalannya dan membantunya sehingga tidak ditahan. Pesan dari temannya tersebut adalah ia harus berhati-hati karena pemilik pabrik mengenal dengan baik Kapolri saat itu. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang dengan baik, beberapa hari kemudian ia mendatangi rumah pemilik pabrik. Ia menyatakan kesanggupannya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

“Saya mohon ditambah, berapapun saya terima. Akan tetapi setelah selesai, jangankan ditambah, malah sisa termin sebesar 5% juga tidak dibayar sampai saat ini. Belajar dari pengalaman pahit ini, banyak sekali hikmahnya dan berlanjut waktu ke waktu pekerjaan terus berdatangan dan berjalan dengan baik, sampai dengan tahun 2009, saya mendirikan satu perusahaan baru yang bergerak khusus dibidang Pondasi yaitu PT Jaya Pondasi Nusantara,” tambahnya.

Pesaing adalah Partner

Setelah berhasil lolos dari hantaman krisis moneter, Ir. Sanjaya Aryatnie sebagai pemilik PT Erakarya Konstruksi Nusantara semakin maju. Meskipun persaingan yang dihadapinya sangat ketat, namun berbekal kemampuan dan strategi yang baik, perusahaan mampu bertahan. Bahkan di era globalisasi sekarang pun, dominasi perusahaan di Medan dan sekitarnya tak tergoyahkan mengalahkan para pesaingnya.

“Pesaing adalah partner kerja kita. Pesaing juga barometer untuk saling koreksi dan sebagai pembanding atas kinerja kita. Yang lebih baik dan menonjol di perusahaan lain, harus kita akui lebih baik. Jangan ada keraguan serta malu mengakuinya, makanya kita harus belajar dan segera menerapkan pola serupa ke perusahaan saya,” kisahnya.

Sanjaya mengungkapkan bagaimana teknik untuk memperkenalkan perusahaan lewat agenda yang pasti. Seperti pada acara menyambut tahun baru, perusahaan selalu mengambil kesempatan. Salah satunya adalah mengirimkan kartu ucapan selamat tahun baru sekaligus profil perusahaan. Di situ juga, ia menyisipkan penawaran kerjasama kepada perusahaan tersebut dengan pertimbangan momen tahun baru universal dan dirayakan oleh semua orang.
Menurut Sanjaya, perusahaan miliknya memiliki visi dan misi yang jelas. Adapun visi PT Erakarya Konstruksi Nusantara adalah “Memajukan perusahaan PT Erakarya Konstruksi Nusantara dan menjadikannya sebagai perusahaan yang handal dan dikenal luas sebagai Perusahaan yang jalannya lurus & jujur.” Sedangkan misi PT Erakarya Konstruksi Nusantara adalah mendidik tenaga yang handal di bidang Teknik Sipil dan Arsitektur yang merupakan asset bangsa, serta menciptakan lapangan kerja yang luas.

Ke depan, Ir. Sanjaya Aryatnie merancang program baik jangka panjang maupun jangka pendek. Program jangka pendek PT Erakarya Konstruksi Nusantara adalah menjalankan semua program yang sudah berjalan dengan baik. Sedangkan program jangka panjang adalah setelah adanya PT. JAYA PONDASI NUSANTARA, diharapkan dapat dilanjutkan dengan Perusahaan pendukung lainnya dibidang readymix lengkap dengan usaha galian C berupa pasir  & stone crusher.

“Saya juga berkeinginan mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang ready mix lengkap dengan usaha penggalian C berupa pasir dan batu untuk saling mendukung dengan perusahaan yang sudah ada. Saya berharap ke depan, PT Erakarya Konstruksi Nusantara dapat bersaing di pasar yang semakin ketat persaingannya dengan menguasai produk dari hulu sampai ke hilir,” tandasnya.

Hingga puluhan tahun pengabdiannya, PT Erakarya Konstruksi Nusantara miliknya telah memberikan berbagai penghargaan bagi Ir. Sanjaya Aryatnie. Tahun 2010, perusahaan berhasil meraih penghargaan dengan kategori “Best Construction of The Year” – “International Good Company Award 2010” dari Menkokesra RI DR. HR Agung Laksono dan Menbudpar RI, Ir, Jero Wacik, SE.
“Saya sangat bersyukur meskipun menghadapi berbagai kendala perusahaan tetap bertahan. Sejak pertengahan tahun 2007 harga besi mengalami kenaikan yang luar biasa dan turun, terus naik lagi akhir 2010, kami tetap bertahan. Semua itu tidak lepas dari peran karyawan yang merupakan asset terbesar perusahaan. Karena merekalah ujung tombak bagi tajam atau tumpulnya keberhasilan perusahaan,” katanya.

Sekilas PT Erakarya Konstruksi Nusantara

EKK Nusantara merupakan perusahaan dengan ruang lingkup layanan mulai dari rancang bangun, analisa perhitungan konstruksi, manajemen mutu hingga pelaksanaan proyek.

Untuk mendukung kelancaran keseluruhan pekerjaan, EKK Nusantara memiliki tim kerja mulai dari penyediaan alat-alat berat berupa excavator, mobil crane, bulldozer, mesin pancang hydraulic pressing system, compressor, dan keseluruhan alat pendukung pelaksanaan pekerjaan konstruksi lapangan.

Tim kerja EKK Nusantara merupakan sarjana lulusan Teknik Sipil dan Arsitektur yang dapat dibanggakan, memiliki wawasan luas dengan manajemen yang handal dan dapat diandalkan sehingga dipercaya oleh banyak perusahaan swasta di Medan Sumatera Utara, untuk menangani pelaksanaan lingkup kerja mulai dari pekerjaan pondasi, basement, konstruksi baja, pekerjaan tangki, jembatan timbang sampai dengan pembuatan grider crane serta sekolah, rumah sakit maupun rumah tinggal.

Kepercayaan pelanggan pada kualitas kerja EKK Nusantara adalah suatu kebanggaan dan sebagai wujud komitmen PT Erakarya Konstruksi Nusantara senantiasa akan melayani pelanggan dengan mempersembahkan proyek konstruksi yang mengacu pada kehandalan faktor kekuatan, keamanan, keselamatan, kesehatan, dan kepekaan terhadap estetika yang berwawasan lingkungan.

Untuk itu, segenap Tim Kerja EKK Nusantara menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan serta kerjasama yang terjalin dengan baik.

Proyek-proyek PT Erakarya Konstruksi Nusantara

Proyek Basement
Proyek Rumah Tinggal
Proyek Fisik Perkantoran – Klinik – Sekolah
Proyek Pabrik
Proyek Tower Konstruksi Baja
Proyek Jembatan Timbang & Girder Crane
Proyek Silo
Pekerjaan Tanah: Cut & Fill

Company Name : PT Erakarya Konstruksi Nusantara
Office : Jl Kapten Soemarsono No 63  (Kompleks perkantoran Graha Metropolitan) Medan 20124 – Sumut Indonesia
Business Scope: Architecture, Civil Engineering & Construction
Telephone: (061) 77369893 – 77834011
Fascimile: (061) 8462487
Email: sanjaya_ekkn@yahoo.co.id

Sekilas Biodata

Nama        : Ir. Sanjaya Aryatnie
Umur             : 46 tahun
Tanggal lahir  : 21 Agustus 1964
Jenis  kelamin : Laki – laki
Bangsa           : Warga Negara Indonesia
Agama           : Buddha
Tempat tinggal      : Jl. K L Yos Sudarso No. 225 – V Medan 20116 SUMUT

Pendidikan
Tamatan tahun 1976 – SD Perguruan Islamiyah TUANKU IMAM BONJOL –  berijazah
Tamatan tahun 1980 – SMP Perguruan Islamiyah TUANKU IMAM BONJOL – berijazah
Tamatan tahun 1983 – SMA Katolik BUDI MURNI – berijazah
Tamatan tahun 1988 – S-1 Teknik Sipil – Universitas HKBP NOMMENSEN – berijazah

Pengalaman Kerja
Dari tahun 1981 s/d tahun 1985 – Guru Les SD, SMP & SMA
Dari tahun 1985 s/d tahun 1988 – Mengajar Ahli Bangunan di Bina Siswa Medan &
Asisten Laboratorium Mekanika Tanah Universitas HKBP Nommensen
Dari tahun 1989 s/d tahun 1996 – Kontraktor Interior & Sipil Rumah-rumah tinggal
Dari Tahun 1996 s/d saat ini sebagai Direktur PT Erakarya Konstruksi Nusantara

Ir. Purnomo Hariprianto

No Comments

Ir. Purnomo Hariprianto
Direktur PT Citra Gemilang Apik

Memberikan Solusi Terbaik Dengan Harga Kompetitif

Memasuki pasar bebas 2010, persaingan di dunia usaha semakin keras. Antar perusahaan saling bersaing satu sama lain untuk bertahan hidup. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk memeras otak mencari jalan keluar agar tetap survive. Hanya perusahaan penuh inovasi yang mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan.

Apalagi pasar bebas juga memberikan kebebasan kepada setiap perusahaan untuk beroperasi di belahan dunia manapun. Globalisasi telah menyatukan dunia sekaligus menjadikannya sebagai pasar antar negara dari produk yang dihasilkan suatu negara. Untuk memenangkan persaingan yang berada pada taraf tertinggi, memerlukan siasat yang tepat dan jitu.

“Namanya juga bisnis, persaingan pasti ada. Namun orang pasti akan melihat kompetensi perusahaan tersebut. Nah, kita sendiri harus paham apa yang dibutuhkan customer dan memberikan solusi yang terbaik dengan biaya yang wajar. Itu solusi yang kami berikan,” kata Ir. Purnomo Hariprianto, Direktur PT Citra Gemilang Apik.

Pelajaran berharga yang diperoleh Purnomo –panggilan akrabnya- dari bekerja bersama expert asing, membuat ia mampu memberikan pilihan terbaik bagi customer di tanah air. Pengetahuan terhadap behavior, attitude, adat istiadat dan karakter masyarakat Indonesia sangat beragam. Antara satu daerah dengan daerah lainnya memberikan pendekatan yang berbeda.

Penguasaan atas keberagaman masyarakat Indonesia inilah yang menjadi pegangan untuk memenangkan persaingan dengan perusahaan dari luar negeri. Karena mereka kurang tahu akan karakter masyarakat kita, sehingga ada yang kurang pas pada saat pengoperasian.

Kontraktor asing datang dengan spesifikasi untuk pola operasi yang seusai dengan karakter masyrakat di negara asalnya. Di negara kita karakter masyarakatnya berbeda, hal ini kita masukkan dalam input desain. Sehingga hasil pekerjaan kita disamping mempunyai keandalan, juga membuat operator mudah memahami dan nyaman dalam bekerja.

Secara definisi, Purnomo menjelaskan adanya masyarakat agraris, industri dan informasi. Masyarakat agraris adalah masyarakat tradisional yang menggantungkan hidup secara alamiah (nature). Masyarakat industri adalah masyarakat yang sudah bisa mengelola potensi di sekelilingnya untuk kepentingan ekonomis. Sedangkan masyarakat informasi menggunakan teknologi informasi di manapun berada. “Masalahnya ketiga golongan masyarakat ini muncul bersamaan di Indonesia. Itu yang harus kita pahami,” tegasnya.

Menurut Purnomo kondisi seperti itulah yang menjadi dasar keyakinannya bahwa perusahaannya serta perusahaan lokal Indonesia mampu bersaing menyambut pasar. Apalagi pasar bebas juga memberikan nilai yang sama terhadap harga total material atau komponen. Artinya, yang membedakan antara satu produk dengan produk yang lainnya terletak pada perusahaan yang memberikan nilai tambah dan keunggulan pada produknya. “Kalau harga hardware komputer di seluruh dunia sama, yang membedakan adalah software yang ditanam di dalamnya,” tandasnya.

Murni Bangsa Indonesia

Ir. Purnomo Hariprianto adalah lulusan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang tahun 1988. Sulung dari lima bersaudara pasangan Suwarno dan Sundari ini setelah kuliah bekerja di PT Bisma Indra di Surabaya. Perusahaan rekayasa rancang bangun dan manufacture  tersebut memberikan dasar profesionalitas yang baik bagi kariernya di kemudian hari.

“Di situ, saya pertama kali bekerja langsung bertemu expert dari negara lain. Karakter bekerja terbentuk di situ, seperti bagaimana bekerja, mempersiapkan dokumen, satu hasil karya dalam menghasilkan pekerjaan yang benar, mudah di-maintenance dan lain-lain. Pokoknya kami dapat ilmu dari expert-expert tersebut,” ungkapnya.

Dari Surabaya, Purnomo kemudian bergabung dengan PT LEN Industri di Bandung. Kali ini, ia bekerja pada tim dalam bidang sistem persinyalan dan traksi. Setelah 12 tahun bekerja di perusahaan ini, ia diajak rekannya untuk mendirikan perusahaan dengan fokus pada system integrator di bidang DC traction substation untuk sistem perkeretaapian.

Purnomo menjelaskan bahwa DC traction substation sudah ada sejak zaman Belanda. Secara prinsip antara substation zaman dahulu dengan sekarang masih sama. Hanya saja, dengan kemajuan teknologi seperti sekarang ini perusahaan mengeluarkan suatu model substation yang baru, mudah dirawat dan bersifat smart.

“Artinya alat itu bisa memberitahu keadaan dirinya sendiri. Bagaimana kondisinya apakah rusak, terjadi masalah di mana, dia bisa melaporkan dengan detail. Semua engineering dan integrasi alat ini murni tenaga asli Indonesia sendiri. Meskipun memang pada saat ini  kita membeli barang dari luar, karena keterbatasan peralatan dan perlengkapan yang secara ekonomis lebih menguntungkan membeli. Karena kalau kita produksi di sini, memerlukan investasi yang sangat mahal, sementara pekerjaan yang kami kerjakan belum besar,” ujarnya.

Menurut Purnomo, komponen yang khusus adalah High Speed Ciruit Breaker, HSCB. Komponen ini memiliki sifat yang sangat khusus, yakni dapat memutus arus dengan sangat cepat apabila terjadi gangguan. Partner perusahaan kami adalah Secheron, Swiss, yang memiliki pabrik di Ceko. Secheron sudah seratus tahun lebih mengembangkan teknologi ini, sejak 1879. Artinya, perusahaan tersebut telah membuat komponen yang sejenis sejak lebih dari satu abad.

“Makanya kita putuskan untuk membeli dari mereka dan sekaligus kami menjadi distributor di Indonesia. Untuk itu, kami diberi otoritas begitu barang sampai di sini bisa di re-engineering dan digabungkan dengan unit apapun sesuai dengan desain kita. Makanya total substation yang kami kerjakan di Jakarta merupakan desain dari kita,” tutur suami Erna Sri Sugesti, seorang dosen di Intitut Teknologi Telkom Bandung ini.

Purnomo mengakui, ia bertanggung jawab terhadap electrical engineering secara keseluruhan dari substation produk perusahaan. Meskipun untuk bagian yang lain perusahaan menggandeng kerjasama dengan perusahaan lain di Indonesia. Kerjasama ini telah menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dengan kualitas yang unggul karena setiap perusahaan bekerja sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Menurut Purnomo, kerjasama seperti inilah yang membuat produk-produk dari China dibanderol dengan harga murah. Orang-orang di negeri tirai bambu tersebut bekerja sesuai dengan keahlian dan kompetensi masing-masing. Perusahaan besar tinggal memesan dan menggabungkan hasil kerja perusahaan lain untuk keperluan produksinya. Teknik ini berguna untuk menyiasati tingginya biaya investasi apabila semua dikerjakan sendiri dari hulu ke hilir.

“Biarkan masing-masing bekerja sesuai dengan kompetensinya. Kami juga seperti itu, menggabungkan perusahaan lain sesuai dengan keahlian masing-masing. Jadi kita sudah punya jaringan yang siap membantu pekerjaan kita dan kami sangat mengutamakan pembentukan partnership ini. Karena kami juga ingin, kalau perusahaan ini tumbuh mereka juga tumbuh bersama kami,” tuturnya.

Dukungan Pemerintah Besar

Ir. Purnomo Hariprianto menjelaskan bahwa saat ini terjalin kerjasama harmonis antara perusahaan dengan pemerintah Indonesia. Di mana pemerintah melalui Departemen Perhubungan adalah sedang giat mengembangkan perkerataapian di Indonesia. Untuk saat ini, peralatan produksi perusahaan diperuntukkan bagi sistem kereta rel listrik (KRL) sehingga hanya untuk wilayah Jabodetabek saja.

“Tetapi tidak menutup kemungkinan pemerintah mengembangkan KRL ke Bandung, Surabaya, Medan dan lain-lain. Karena saat ini moda angkutan kereta api tetap yang paling murah, massal ribuan orang terangkut secara serentak, hemat, tidak polusi dan tidak macet,” ujarnya.

Kerjasama yang terjalin antara perusahaan dengan pemerintah, menurut Purnomo, saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bahkan kalau ditelusuri lebih jauh bisa menguntungkan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Karena pemerintah membutuhkan kontraktor untuk membangun infrastruktur, sementara perusahaan menawarkan jasanya untuk kelangsungan usaha. Dengan memberikan proyek kepada perusahaan Indonesia, artinya dana yang dikeluarkan pemerintah untuk membangun infrastruktur akan kembali ke masyarakat.

“Tidak hanya infrastruktur yang dimanfaatkan, bahkan dana yang dikeluarkan untuk membangunnya pun kembali ke orang Indonesia sendiri. Jadi tidak dibawa keluar negeri karena dikerjakan oleh kontraktor asing, karena SDM kita pun sudah mampu. Itu merupakan bentuk dukungan pemerintah yang cukup bagus bagi kami yang diberi kesempatan untuk maju dengan diberi pekerjaan. Tetapi semua tetap dalam koridor yang benar, artinya kami juga ikut tender segala,” tuturnya.

Perusahaan dalam group PT Citra Gemilang Apik, lanjut Purnomo, juga menjalin kerjasama dengan PT INKA yang merupakan integrator kereta api di Indonesia. Sementara kompetensi perusahaan di bidang electrical untuk membangun jaringan catenary dan substation. “Jadi ketika PT INKA membutuhkan kontraktor yang sesuai dengan kompetensi kami, mereka menghubungi kami. Begitu,” katanya mengenai kerjasama dengan perusahaan yang berpusat di Madiun tersebut.

Meskipun menghadapi pasar bebas, Purnomo tetap optimis dan berharap generasi muda mengikuti jejaknya. Ia mengimbau agar mereka memiliki kompetensi tertentu yang bisa dijadikan tumpuan menyongsong masa depan. Mereka juga tidak boleh egois dengan mengerjakan semua hal secara sendirian tanpa mengikut setakan orang lain. Karena untuk sukses, generasi muda muda harus menjalin jaringan/network seluas-luasnya.

“Kompetensi dan network adalah kunci sukses. Kalau modal dana, asalkan memiliki network pasti akan ada yang membantu. Karena itu dibutuhkan keberanian untuk memulainya. Jangan bingung dan berpikir bagaimana mendapatkan modal atau capital. Yang jelas, modal sudah kita bawa ke mana-mana. Yaa.. keahlian itu adalah kapital kita untuk maju dan sukses. Jangan disia-siakan,” ujar pria yang bercita-cita menjadi insinyur ini memotivasi generasi muda. “Kalau menjadi pengusaha dan profesional hanyalah jalan untuk mencari nafkah saja,” imbuhnya menutup pembicaraan.

Kurnia

No Comments

Kurnia
CV Hazna Indonesia/Shasmira

Membangun Indonesia Menjadi Kiblat Fashion Muslim Dunia

Umat Islam semenjak zaman Nabi Muhammad SAW telah menentukan kiblat untuk shalat, menghadap Kabah. Tetapi seiring perjalanan waktu, terjadi pergeseran kiblat umat Islam. Bukan lagi menuju Kabah, tetapi mengarah ke Bandung, Indonesia. Namun jangan salah sangka, karena kiblat yang mengarah ke Bandung bukan untuk shalat dan ibadah yang lain. Kiblat umat Islam ke Kota Kembang adalah tren fashion busana muslim.

Pencetus tren tersebut adalah CV Hazna Indonesia, produsen segala pernak-pernik busana muslim. Mulai kerudung atau jilbab, baju gamis, kopiah, sarung, sajadah, dan lain-lain. Dengan mempekerjakan, 40 staf, 100 penjahit dan 600 pengrajin, Hazna Indonesia dengan brand Shasmira telah hadir di 55 kota di Indonesia. Bahkan, produk busana muslim Haznah Indonesia telah menjangkau Brunei, Singapura, Malaysia dan Bangladesh.

“Ide awalnya dari istri saya untuk membuat kado spesial berupa kerudung sebagai oleh-oleh sepulang ibadah haji. Ternyata kerudung desain istri saya tersebut sangat disukai. Dan, karena kebetulan istri saya berkerudung kami memutuskan untuk mengembangkan produk ini sebagai sebuah bisnis,” kata Kurnia, pemilik dan pendiri CV Hazna Indonesia/Shasmira.

Saat itu, sebenarnya Kurnia sendiri masih bekerja di perusahaan swasta. Ia mencoba membuat beberapa kerudung dengan desain minimalis yang ternyata sangat disukai konsumen saat dilempar ke pasar. Kerudung minimalis segera saja menjadi tren karena terlihat fashionable dan tidak ketinggalan zaman. Dari situ, ia menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk memasarkan desain kerudung miliknya.

Setelah beberapa lama, timbul keyakinan dalam diri Kurnia bahwa bisnis kerudung cukup menjanjikan. Ia kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri dan membawa brand sendiri dengan nama Nisa 59. Menyusul kemudian pada bulan Agustus 2007 secara resmi ia meluncurkan brand Shasmira dengan produk yang lebih variatif sehingga dapat diterima bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal jilbab sama sekali.

“Saat ini jilbab bukan hanya sekadar untuk syariah, tetapi sudah menjadi fashionable. Sudah merupakan life syle, sehingga tidak sedikit orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab tetapi begitu pakai jilbab menjadi lebih modis dan fashionable. Kedua kita harus menyadari bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, sehingga itu adalah potensi pasar yang luar biasa. Saya perkirakan Indonesia akan menjadi kiblatnya fashion muslim tingkat dunia,” ungkapnya.

Kurnia sebagai seorang pebisnis, melihat bahwa prospek bisnis busana muslim ke depan cukup menjanjikan. Selain karena mayoritas penduduk Indonesia muslim, kesadaran masyarakat untuk memakai jilbab sangat tinggi. Ia mencontohkan bagaimana daerah-daerah seperti Aceh, Padang, dan Jawa Tengah penggunaan kerudung resmi menjadi aturan daerah. Selain itu, dunia hiburan pun ternyata turut mendongkrak popularitas kerudung dengan seringnya ditayangkan sinetron bernuansa religi.

“Oleh karena itu, kita juga melakukan penetrasi pasar dengan menggunakan sistem keagenan dengan empat tingkatan. Ada agen, member, distributor dan house network. Alhamdulilah kita sudah mampu membangun sekitar 600 jaringan distributor di seluruh Indonesia. Termasuk juga Asia, di Hongkong, Nederland, Brunei, Singapura dan Malaysia. Kita memiliki toko berkonsep kerjasama kemitraan dengan investor yang sekarang sudah berjumlah 55 House of Shasmira,” ujarnya.

Quality Control System

Sebagai tren setter busana muslim dunia, Kurnia memiliki berbagai kiat untuk memperteguh eksistensi produknya. Jaringan pemasaran yang luas dan harga produk yang terjangkau adalah salah satu strategi bisnisnya. Meskipun di pasaran juga beredar produk tanpa merek yang beredar di pasar-pasar tradisional.

“Tetapi kalau kita menaikkan harga sesuai dengan kompetitor, kita akan kalah. Makanya ini harus disiasati dengan mencari solusi alternatif dengan harga yang lebih rendah tetapi kualitasnya sama. Biasanya, itu kita lakukan dengan menembus langsung produksi barang tanpa perantara. Jadi langsung pada sumbernya,” tegasnya.

Selain itu, Kurnia juga terus meningkatkan skill dan kemampuan SDM. Tujuannya agar hasil kerja SDM sesuai program dan harapan perusahaan. Caranya melalui berbagai bimbingan dan pelatihan yang secara berkala diberikan perusahaan kepada seluruh SDM. Ia juga menerapkan sistem yang mampu mengontrol seluruh hasil kerja karyawan.

“Kita menambahkan sistem kontrol dari semua pekerja kita dengan menerapkan sistem QC. Jadi setiap barang yang masuk kita kontrol lagi dan barang yang tidak sesuai kita kembalikan untuk diperbaiki. Kenapa, karena kalau diserahkan kepada mereka tanpa kontrol yang ketat, maka kualitas kita nanti menjadi tidak seragam,” sergahnya.

Apalagi, lanjut Kurnia, meskipun pengguna brand di persaingan bisnis baju muslim jarang, tetapi ia harus tetap waspada. Hingga saat ini, jumlah pengusaha busana muslim sekitar 50-100 pengusaha. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan 200 juta penduduk muslim di Indonesia. “Kita harus bersaing dengan produk lokal seperti di Bukittinggi, tetapi kita harus siap untuk go international,” tegasnya.

Menurut Kurnia, yang patut diwaspadai dalam persaingan usaha busana muslim global adalah kemampuan China dalam memproduksi barang. Produsen China mampu membuat barang sesuai dengan pesanan harga yang diinginkan pelanggan. Dari yang paling mahal sampai termurah mereka mampu membuat dengan desain yang cukup bagus.

“Kita memang bisa menyesuaikan diri dengan mengurangi margin keuntungan. Tetapi produk China dengan harga murah ini cukup berdampak pada pemasaran kami untuk menjangkau kalangan menengah bawah. Kalau kalangan menengah ke atas, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menggunakannya, terkait kualitasnya. Sedangkan masyarakat bawah, tidak terlalu peduli yang penting fungsi dan harga. Masalah kekuatan dan kenyamanan nomor dua,” tuturnya.

Ke depan, Kurnia berharap akan melakukan berbagai pengembangan pemasaran. Salah satnya adalah dengan menempatkan satu orang perwakilan Shasmira pada setiap kota di Indonesia. Ia juga ingin setiap orang Indonesia mengenal produk perusahaan dan tidak terbatas hanya sekadar mengenal tetapi juga membeli dan mereferensikan produk Shasmira kepada orang lain.

“Kita ingin Shasmira tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga go international. Target itu kita lakukan dengan terus menerus mengembangkan difersifikasi produk itu sendiri, dengan mengikuti tren yang ada di masyarakat. Karena pergantian mode sangat cepat sekali di masyarakat dan mencapai hitungan per bulan. Konsumen itu raja yang berhak menentukan pilihan sesuai keinginan masing-masing,” tegasnya.

Generasi Berpikir “Bisa”

Kurnia menjelaskan arti harfiah shasmira untuk menamakan brand busana muslim besutannya. Shasmira merupakan nama bunga sangat indah yang berasal dari India. Sementara dalam sejarah Islam, Shasmira juga dikenal sebagai pejuang wanita yang gagah berani sehingga identik dengan wanita. Di zaman sekarang pun, ia mendapati kisah tentang Siti Shasmira yang berjuang demi kemajuan anak-anak bangsa di lokasi terpencil.

“Shasmira juga sebuah nama yang unik sehingga mudah diingat. Jadi kalau orang menyebut shasmira, mereka akan mengasosiasikan dengan baju muslim. Saya juga membangun ini dengan penuh perjuangan, tetapi saya berharap agar perusahaan semakin besar dan memberikan kontribusi bagi pemerintah untuk menanggulangi pengangguran. Harapan saya nanti ke depan, anak-anak bisa melanjutkan dan mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Di sisi lain, Kurnia berharap agar pemerintah bisa membantu UMKM seperti usahanya. Bantuan yang sangat diharapkan berupa bantuan permodalan yang sangat berguna bagi perusahaan kecil dan menengah seperti CV Hazna Indonesia dengan persyaratan yang mudah. Ia juga berharap agar pemerintah terjun langsung melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil. Tujuannya agar mereka bisa meningkatkan pengetahuan sehingga perusahaan semakin besar dan menyerap banyak tenaga kerja. Dengan begitu, terjadi hubungan saling membutuhkan satu sama lain antara pemerintah dan dunia usaha.

Kurnia mengingatkan, bahwa angkatan kerja setiap tahun selalu bertambah. Sementara peran pemerintah adalah mengubah pola pikir masyarakat, terutama orang tua untuk mengetuk kesadaran generasi muda agar memiliki jiwa entrepreneur. Yakni bagaimana mereka tidak berpikir mencari kerja di mana setelah lulus kuliah, tetapi bagaimana timbul pemikiran untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Itu yang harus digalakkan pemerintah, sehingga apabila semua lulusan perguruan tinggi mampu berusaha sendiri, income per capita meningkat, mengikis pengangguran dan lain-lain. Di sisi lain, pemerintah juga harus memfasilitasi kemitraan antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Setidaknya untuk memperoleh proyek mereka harus membantu pengusaha kecil terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan berwira usaha kepada setiap penduduk. Kalau sudah begitu, saya yakin masyarakat Indonesia akan semakin baik di masa mendatang,” ujarnya.

Kepada generasi muda, Kurnia berpesan agar mereka menanamkan dalam diri masing-masing bahwa untuk mendapatkan penghasilan tidak harus dengan bekerja. Generasi muda mampu menghasilkan pendapatan dengan cara berkarya, yakni menciptakan sebuah karya yang memiliki nilai jual. Generasi muda juga harus memikirkan bagaimana karya yang tercipta memiliki nilai komersial dengan menggandeng orang lain untuk berkolabarosi.

“Itu akan lebih baik daripada selesai kuliah kemudian melayangkan surat lamaran ke mana-mana dan menunggu. Ini misalnya dilakukan oleh Bill Gates yang meng-create sebuah karya dan mencari mitra untuk membesarkan Microsoft. Oleh karena itu, generasi muda harus selalu berpikir bahwa mereka bisa. Karena berpikir bisa akan merangsang kreativitas, inovasi, dan lain-lain. Sementara kalau berpikir tidak bisa akan mematikan potensi yang dimiliki. Makanya berpikirlah bisa. Saya bisa menjadi pengusaha, saya bisa menghasilkan karya yang baik dan sebagainya,” pungkas Kurnia, pemilik CV Hazna Indonesia.

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd

No Comments

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd
Kepala Sekolah SMAN 4 Cirebon
Kerja Keras dan Tujuan Yang Jelas Mengangkatnya Berprestasi
Berangkat dari menjadi guru di SMP Negeri 3 Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1978, Drs. Haji Wirsad Yuniuswoyo, M.Pd, yang pegawai negeri sipil dan  kepala sekolah SMAN 4 Cirebon ini mengaku  kalau karier pendidikan gurunya selalu berpindah-pindah sekolah. Sebab satu tahun kemudian tepatnya 1979, guru bidang study matematika ini berpindah kembali ke SMP Negeri 4 Cirebon. “Di SMPN 4 inilah, masa pengabdian saya cukup panjang, “ungkapnya.
Sebab pada tahun 1990, barulah ia berpindah sekolah lagi, atau tepatnya ke SMAN 3 Cirebon. Namun sebelumnya, kata Wirsad, pada tahun 1987,  ia sempat masuk menjadi guru inti PKG (Pemantapan Kerja Guru) sebagai guru inti di bidang  mata pelajaran matematika selama 3 tahun. Bapak tiga anak ini mengaku perjalanannya cukup panjang untuk sampai ke jabatan kepala sekolah.
Program pemantapan kerja guru ini merupakan hasil kerjasama dengan world bank. Hasilnya cukup baik, dan banyak dijadikan model pelatihan oleh guru lingkungan sekolah. Selain itu  PKG juga telah sedikit mengubah paradigma tentang ketakutan siswa pada bidang study matematika, “Artinya ketakutan yang berlebihan itu bisa kita atasi, jadi kalau ada siswa yang nilai matematikanya buruk, itu karena mereka tidak memahami dan mengerti, termasuk kurangnya latihan,“ paparnya.
Menurutnya, berbagai pengalaman yang telah ditimbanya, mulai dari guru teladan Tingkat Jawa Barat, pada tahun 1997 hingga kepada organisasi  persaudaraan haji, sebelum kemudian menjadi kepala sekolah berprestasi di tahun 2007. “Pada tahun 1993 hingga 1996, saya pernah mengabdi menjadi guru di SMAN 6 Cirebon, yang dahulu adalah Sekolah Guru Olahraga (SGO),“ katanya. Bahkan di tahun yang sama, ia sempat mengikuti RECSAM (Regional Education Course Science An Mathematic) di Malaysia selama 6 bulan kemudian menjadi instruktur PKG matematika se-Jawa Barat.
“Sebelum Propinsi Banten meminta memisahkan diri untuk menjadi Propinsi baru dari propinsi Jawa Barat, saya sering mengadakan perjalanan (study banding dan pembinaan kepada guru-guru Matematika) ke daerah tersebut, “ungkapnya. Bukan hanya Serang, Pandeglang, tapi juga hingga ke daerah Lebak dan Cibakung.
Memang pengalaman panjang telah membuatnya banyak menorehkan prestasi akademik. Namun bukan Wirsad, kalau tidak bisa membawa sekolah yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dengan bekal berpindah-pindah sekolah, dan pengalaman mengikuti training serta pendidikan leadership, lambat laun bapak yang beristrikan hajjah Yanthi Sri Iryanti ini pun semakin matang. Tak heran, jika ia pun menyelesaikan kembali sekolahnya di program pascasarjana/M.Pd.
Sarjana pertamanya ia selesaikan S1 bidang Matematika. Wajar saja bapak dua putra dan satu putri ini mengenyam banyak bidang prestasi, karena pada tahun 1993 hingga 1998, ia pernah menjadi penulis buku Matematika, yakni Aritmatika untuk SMP-SMA dengan penerbit Intan Pariwara,  Tiga Serangkai, dan Pakaraya serta LKS Matematika. “Sayangnya LKS yang semula merupakan pembelajaran yang dikembangkan oleh negara Inggris untuk memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran dengan metoda penemuan, di Indonesia justru dijadikan tempat menulis soal-soal, ini sebuah ironi,” tuturnya dengan nada kecewa.
Karakternya yang kalem dan penuh karismatik, telah membuatnya disenangi berbagai warga sekolah yang dipimpinnya. Tak heran bila ia telah mengikuti berbagai pendidikan yang sifatnya menunjang profesinya. “Kerjasama antar sekolah (sister school) dengan berbagai negara, telah membuatnya makin kaya akan pengetahuan yang didapat. Ia pun kerap bepergian untuk mengadakan studi banding tentang pendidikan pada sekolah di negara yang dikunjunginya.
Namun begitu, tidak dipungkiri pula untuk menjalin kerjasama dengan negara lain seperti China dan Australia. Setelah dipikirkan, Australia merupakan pilihan utama dan solusi yang tepat, mengingat jarak kedua negara ini relative dekat dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk sampai ke Australia. “Namun begitu, saya sebagai Kepala SMAN 2 Cirebon juga mendapat tawaran untuk bekerja sama dalam rangka sister school di negara Turki. Pada saat ke Turki ada sedikit kemacetan komunikasi, terutama masalah penggunaan bahasa Inggris, mereka/orang Turki lebih senang bicara bahasa Turki, “jelasnya. Namun belum lama beristirahat sepulangnya dari Turki, ia pun mendapat tugas baru menjadi untuk memimpin sebuah sekolah SMAN lagi yaitu SMAN 4 Cirebon.
Panggilan itu pun diterimanya dengan tenang, tanpa terpaksa, apalagi gundah gulana. Baginya jiwa pendidik merupakan nomor satu untuk mengabdi, tantangan di bidang pendidikan. Tantangan itu pun ditanamkan dalam benaknya, dan berusaha untuk menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah unggulan dan memiliki prestasi yang menonjol. “Saat ini yang terpenting adalah mutu atau kualitas. Jadi apakah itu sekolah swasta atau negeri, kalau memang kualitasnya bagus, maka ia berhak untuk menjadi sekolah favorit.”
“Semangat, disiplin, serta menerapkan peraturan sekolah kepada warga sekolah, merupakan mutu keharusan,“ ungkapnya. Peraturan yang ketat ini dilakukan, sebagai wujud kasih sayangnya kepada warga sekolah agar mereka hidup teratur jiwa dan raganya. Tidak boleh ada siswa maupun guru terlambat masuk sekolah. Baginya keterlambatan mereka sama saja dengan membuat sekolah menjadi berantakan.
Bapak yang memiliki motto Segala yang akan dilakukan harus jelas tujuannya ini mengaku juga pernah menjadi kepala sekolah  di SMAN 9 Cirebon pada tahun 1999-2001. “Waktu itu sekolah ini masih baru lagi, dan saya ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah, Namun biarlah dan ini merupakan tantangan,“ ungkapnya. Sebab katanya, selain harus berhadapan dengan lingkungan yang baru siswa-siswinya, juga kepada masyarakat sekitar. “Hal ini bukan pekerjaan yang mudah, mengingat dibutuhkan sosialisasi yang tinggi, agar masyarakat mau menerima kehadiran sekolah dan isinya.
“Saya terpaksa harus bersikap tenggang rasa dan tidak ketat, maklum lingkungan baru dan sekolah baru, jadi harus dipahami dan dimengerti persoalan mereka.” Namun, bukan begitu juga lembeknya atau membiarkan sekolah tanpa kerjasama dengan masyarakat, Wirsad juga mengaku pernah memberikan semacam ultimatum berupa ancaman kepada masyarakat, agar mau dan  rela membantu sekolah baru tersebut. Sebab jika masyarakat setempat enggan membantu perkembangan sekolah, ia pun mengancam akan melaporkan kepada Walikota untuk memindahkan sekolah tersebut, namun sebaliknya jika mereka membantu dan mendukung sekolah, maka pihaknya akan meminta walikota untuk membuatkan proyek jalan masuk ke sekolah dan desa-desa sekitarnya.
Akhirnya masyarakat yang semula menolak kehadiran sekolah tersebut bersedia mendukungnya dengan menjaga dan melestarikan kawasan sekolah dari aksi vandalisme alias coret-coret, termasuk mengizinkan angkot masuk ke kawasan sekolah. “Semula mereka menolak kehadiran angkot, karena mereka menganggap kehadiran angkot telah mengambil ladang mata pencaharian ojeknya,“ tutur Wirsad.
Ia menambahkan walaupun sebagai guru matematika, namun tidak bisa memaksakan kehendaknya agar siswa-siswi di SMAN 9 menjadi juara matematika, mengingat kemampuan siswa dari desa tersebut kurang mumpuni. Namun setelah melihat badan siswa-siswi sekolah itu  besar-besar, barulah ia berpikir untuk membawa potensi keunggulan tersebut dalam bidang olahraga. “Akhirnya mereka dapat meraih prestasi dengan  menjadi juara cabang atletik, volley ball, di berbagai kompetisi sekolah maupun kejuaraan tingkat daerah,“ ceritanya.
Padahal tempat latihan volley ball pun tidak memadai, tiang net terbuat dari bambu, garis di tanah dari kapur, tapi semangat mereka yang pantang menyerah untuk berprestasi memecutnya untuk meraih juara. Memang bukan hanya cabang atletik, lomba baris berbaris atau paskibraka juga meraih juara. “Tapi ya itu juaranya dalam bidang fisik, tetapi belum ke bidang sains/keilmuan,“ paparnya. Dua tahun menurutnya ia memimpin sekolah di SMAN 9 Cirebon tersebut.
Selanjutnya, kepala sekolah di SMAN 7 Cirebon pada tahun 2001-2007. Ironinya, belum memimpin sekolah, ia sudah mendapat laporan dari kepala kelurahan dan RW setempat bahwa sekolah ini sering tawuran dengan sekolah SMK. Bukan Wirsad kalau tidak bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, dengan bekal pengalaman yang banyak memimpin dan mengajar di sekolah, ia pun lalu berpikir untuk  menjembatani dan mengajak berdamai  atau menggalang kerjasama dengan pihak SMK. “Kebetulan kepala sekolah SMKnya adalah adik kelas saya saat kuliah di S2, jadi mudah untuk diajak berkomunikasinya, “paparnya. Setelah keduabelah pihak mengadakan pertemuan, baik guru maupun siswanya, tawuran yang selalu terjadi itu, akhirnya berdamai.
Berturut-turut kepala sekolah di SMAN 3 Cirebon Januari hingga Juni 2008, dan SMAN 2 Cirebon tahun 2008 -2010. Kini perjalanannya sekarang adalah sebagai kepala sekolah di SMAN 4 Cirebon. “Penempatan itu baru diberikan pada bulan Juni 2010, “paparnya.
Banyak liku-liku yang dihadapinya dalam mengabdi sebagai kepala sekolah. Mulai dari membenahi infrastruktur sekolah, hingga kepada bagaimana mensosialisasikan sekolah ke masyarakat, dan mendidik siswa dan guru-guru untuk selalu unggul. “Bayangkan saja di SMAN 3 Cirebon, saya harus memperbaiki sarana dan prasarana olahraga, “ungkapnya.
Selain sebagai kepala sekolah, Haji Wirsad, juga menyempatkan diri untuk memberikan motivasi untuk siswa-siswinya dengan memberikan motto berupa bekerja penuh ihklas sehingga merasa tidak beban, kedua, rajin beribadah, ketiga, semangat, keempat, tidak mudah putus asa, kelima, tanggungjawab dan jujur, keenam, setiap kesempatan jangan ditunda-tunda, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, ketujuh, mengerjakan sesuatu langsung jangan sampai ditunda-tunda, kedelapan, dapatkan informasi secepatnya/duluan, mendapatkan informasi duluan, berarti ilmu pengetahuan kita dapat duluan, dan kesembilan, berserah diri pada Allah. Jika kita menerapkan atas sikap-sikap di atas, insya Allah kita dapat menjadi orang yang sukses.
“Pak Wirsad adalah tipe pekerja keras, terbukti hanya dalam hitungan bulan di SMAN 4 Cirebon sudah banyak yang dibenahi, terutama pada infrastruktur, seperti rehabilitasi laboratorium computer dan ruang PSB (Pusat Sumber Belajar), perbaikan kursi, taman dan sarana prasarana kegiatan ekstrakurikuler,“ jelas Kepala Tata Usaha SMAN 4 Cirebon
Dalam bidang pembinaan kesiswaan, Wirsad yang lahir di Cirebon 29 Juni 1957 ini, juga telah mencanangkan kedisiplinan dengan menggunakan system point, mengadakan apel siaga pada jedah waktu, antara pasca UAS hingga dengan menjelang pembagian raport. “Obsesinya adalah bagaimana agar lulusan siswa-siswi SMAN 4 Cirebon ini dapat berkompetisi dan bersaing di dunia nasional maupun internasional,“ kata Drs. Irman Darojat, Guru SMAN 4 Cirebon.
Menurut Wirsad, visi dalam sekolah ini  adalah bagaimana menjadikan siswa yang bertakwa dan berprestasi. Bertakwa disini, maksudnya kata Wirsad adalah yang berkaitan dengan masalah kecerdasan spiritual, sedangkan berprestasi pengertiannya luas, menyangkut akademisi, non akademis, atau intelegensia, dan berakhlak mulia menjadikan siswa sebagai insan kamil, sopan santun, cerdas, dan berbudi pekerti.
Ditambahkan untuk misi sendiri itu ada lima besar, yakni pertama,  membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan, artinya siswa yang masuk sekolah di sini, harus sudah memiliki keimanan dan juga ketakwaan. “Jadi jangan sampai kering begitu.” Kedua, Mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada keunggulan, artinya pendidikan itu harus dikembangkan, jangan begitu saja, atau hanya sekedarnya, melainkan bagaiman pendidikan berkualitas. Ketiga, meningkatkan kemampuan dan kecakapan peserta didik, serta membina minat dan bakat secara kreatif, artinya, siswa dituntut untuk mampu dan memiliki ketrampilan, serta minat dan bakat yang baik. Dengan bakat dan minat yang berbeda-beda, diharapkan mereka bisa memilih mana yang sesuai dengan hati nuraninya atau tidak, misalnya mereka ingin memilih kedokteran, “kalau memang arahnya ke sana, maka kita bimbing, begitu pula dengan bakat, jika bakatnya di bidang olahraga, maka kita arahkan ke olahraga, begitu dan seterusnya, “jelas Wirsad. Harapan lainnya adalah bagaimana unsur tersebut bisa mengangkat nama sekolah, sehingga sekolah  bisa unggul. Ternyata misi sekolah ini membuktikan dengan siswa berprestasi di bidang olahraga, seperti silat, tinju dan atletik dan sebagainya. “Mereka ini merupakan atlet-atlet nasional, yang banyak berkiprah membantu dan mengharumkan nama bangsa dan negara di arena internasional, “ungkap Wirsad. Keempat, membina sikap ilmiah, disiplin dan tanggungjawab.
Selain harus menjalankan visi dan misi sekolah, strategi lain yang dikembangkan Wirsad, adalah melakukan pendekatan dengan siswa dan guru. Cara ini cukup efektif, kenyataan banyak siswanya memberikan segudang prestasi dan piala. Begitu pula dengan guru-gurunya,  mereka pun menunjukan kualitas pengajarannya dengan baik. Bahkan Wirsad tak segan-segan membantu mereka untuk mendatangkan para ahli untuk dijadikan nara sumber tukar menukar pikiran atau pendapat “Shearing” guna kemajuan sang guru. Ia pun juga kerap terjun memberikan nasihat dan wejangan, terutama terkait dengan metode belajar mengajar yang bisa dipahami siswa.
Kenyataan sikapnya yang ramah, sopan santun, dan demokratis kepada semua orang, membawa dirinya banyak diminati warga sekolah. ”Mereka mengaku merasa kehilangan jika Pak Wirsad harus pindah sekolah,“ kata Dra. Siti Rochani, Guru Ekonomi. Prinsip Wirsad adalah bagaimana mencontohkan sikapnya yang benar kepada warga sekolah. “Seribu nasihat tidak akan bermanfaat, jika contoh atau sikap yang kita tunjukan tidak sesuai dengan tingkah laku.”
Pola pendekatan dalam bentuk tingkah laku ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan kepemimpinan Wirsad. Terbukti banyak sekolah yang telah ditinggalkan, saat berkunjung ke tempat itu lagi, ia mengaku mendapat sambutan yang berlebihan. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kinerjanya yang dirasakan warga sekolah sebagai hal yang baik dan profesional.
Banyaknya sekolah yang dipimpinnya berkembang dan maju, juga merupakan bukti bahwa kemampuannya dalam mengembangkan sekolah sudah profesional dan managerial. Untuk itu, tidak ada sesuatu hal yang berhasil tanpa dibarengi kerja keras yang sungguh-sungguh. Itulah harapannya kepada semua guru, agar generasi  berikut  bisa mengikuti langkahnya yang baik. Ia berharap siswa dan guru serta orangtua murid memahami konsepsinya akan kemajuan sekolah. Sebab katanya, kepala sekolah hanya jabatan sesaat, selanjutnya mereka yang akan menjalani. Demikian ungkapan Haji Wirsad Yuniuswoyo dalam bincang-bincangnya. Semoga apa yang dicita-citakan untuk kemajuan sekolah dapat terkabulkan, dan generasi muda dapat melanjutkan kegiatannya untuk menjadikan pendidikan yang bermutu.

Sutar, SE, MM

No Comments

Sutar, SE, MM
Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Hidup Penuh Tantangan Menuju Kesuksesan

Setiap orang sadar akan perjuangan dalam hidup. Yakni jalan yang harus ditempuh untuk menuju kesuksesan. Di mana setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapainya. Semua tinggal bagaimana upaya yang dilakukan untuk mencapai keinginan tersebut. Selebihnya, ada kuasa Tuhan yang menentukan sukses tidaknya kehidupan seorang manusia.

“Hidup adalah perjuangan, pekerjaan adalah harapan dan kesuksesan merupakan impian manusia di dunia yang penuh dengan dinamika. Semua manusia mengharapkan kehidupan yang layak, pekerjaan yang mapan serta kesuksesan dalam setiap langkahnya. Tetapi impian tinggal impian. Manusia hanya bisa berharap dan berangan-angan untuk kesuksesan hidup karena Allah SWT telah menentukan jalan hidup setiap manusia,” kata Sutar, SE, MM., Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu.

Nasib setiap manusia, lanjutnya, sudah tertulis dan tersirat dalam garis kehidupan masing-masing. Setiap manusia tinggal menunggu kapan tepatnya waktu kesuksesan berpihak dalam kehidupannya. Dan, pada detik-detik penantian tersebut manusia harus termasuk berusaha untuk menciptakan dan meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Salah satu contoh paling tepat adalah pengalaman hidup Sutar sendiri. Dengan tanpa berhenti berusaha dan bekerja keras, perlahan namun pasti kesuksesan demi kesuksesan diraihnya. Bagaimana tidak, berangkat dari keluarga sederhana dan miskin di kampung halaman, ia berkembang menjadi seorang pendidik yang sukses mengelola tiga buah sekolah.

Perjalanan hidup penuh liku dan perjuangan harus dilalui Sutar sejak kecil. Ia datang ke Jakarta ikut pamannya dengan tujuan melanjutkan sekolah. Di luar jam sekolah, ia membantu pekerjaan sang paman di Yayasan Perguruan Ksatrya. Di yayasan inilah, ia juga menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMK Ksatrya.

“Saya awalnya dari nol, datang ke Jakarta ikut paman untuk melanjutkan sekolah. Pagi membantu paman, setelah itu masuk sekolah dan kemudian membantu paman lagi, ikut bekerja di sini. Saya ketemu dengan pengurus, dan sambil bekerja di sini saya bisa menyelesaikan sekolah sampai jenjang S1 dengan biaya sendiri,” tuturnya.

Pendiri yayasan, Prof. DR. RP Soejono sedikit demi sedikit mulai memberikan kepercayaan kepada Sutar. Salah satunya, adalah dengan memberikan dorongan penuh untuk melanjutkan pendidikan S2-nya. Setelah menyelesaikan studi, tugas besar diberikan pendiri yayasan kepadanya, yaitu memimpin yayasan dengan 1400 siswa di dalamnya.

“Ini amanah yang sangat besar untuk mencerdaskan anak bangsa. Mudah-mudahan apa yang kami kerjakan sampai tahun 2015 dapat berjalan dengan lancar. Semoga program-program yang kami canangkan selama masa kepengurusan kami berjalan dengan baik. Begitu juga dengan rintangan dan halangan semoga mampu kami atasi,” kata pria 35 tahun dengan dua orang anak ini.

Bertahun-tahun berkutat di dunia pendidikan, membuat Sutar merasa memiliki kecocokan. Bahkan, seluruh tantangan yang dihadapi selama menekuninya sudah tumbuh menjadi semacam “roh” dalam hidupnya. Ia berharap dengan terjun di dunia pendidikan mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga mengingat latar belakang kehidupan keluarganya. “Kebetulan keluarga kami sangat sederhana sehingga bisa seperti ini menjadi kebanggaan orang tua. Karena kami betul-betul orang tidak mampu di kampung,” ungkap dosen STIE Pertiwi dan STIE Muhammadiyah Jakarta ini.

Sutar menjawab kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan sekolah serta yayasan yang sangat dicintainya. Di bawah kepemimpinannya, ia berharap yayasan semakin maju dengan fokus utama pada kesejahteraan guru dan karyawan yang lebih baik. ia sadar betul, kesejahteraan merupakan tonggak utama untuk meningkatkan kemajuan sekolah dan Yayasan Perguruan Ksatrya.

“Bagaimana cara agar guru bisa sejahtera, nanti pelan-pelan akan kami upayakan. Mungkin dengan kenaikan gaji. Kami juga memiliki program jangka panjang untuk perbaikan sarana dan prasarana, yang kami bangun dengan jerih payah kami, keluarga besar Yayasan Perguruan Ksatrya- bersama tim kami sehingga terwujud empat lokal kelas yang representative. Mohon doanya, setelah lebaran ini akan terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Peningkatan Mutu SDM

Selama dua tahun memegang jabatan sebagai Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya, Sutar mencoba membenahi kualitas SDM. Ia memulai dari tenaga guru yang mengajar di tiga sekolah di bawah yayasan, SMP Ksatrya, SMA Ksatrya dan SMK Ksatrya. Setidaknya, para staf pengajar terus ditingkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan.

“Ini merupakan hal yang utama dari kegiatan yayasan. Dari segi peningkatan mutu SDM, Bapak dan Ibu guru terus kita pacu. Demikian juga sarana dan prasarana sedikit demi sedikit akan berjalan sesuai dengan keinginan kami serta aturan pemerintah,” ujarnya.

Sutar juga melaksanakan hal serupa terhadap anak didik yang akan menempuh pendidikan pada sekolah-sekolah yang dikelola yayasan. Setelah lolos seleksi, siswa baru akan “digojlok” pada saat liburan semester I. Siswa kelas I akan diajak tour ke daerah dalam rangka observasi siswa baru. Kegiatan yang dilakukan selama tour bukanlah perploncoan melainkan mendidik siswa untuk mandiri.

“Kegiatan di sana banyak, baik yang sosial seperti pasar murah, bakti sosial dan pengobatan masal untuk menunjang kehidupan masyarakat di lokasi tersebut. Itu menjadi ciri khas kami yang unik dan belakangan banyak diikuti oleh sekolah lain,” katanya bangga. Ia juga sangat bangga terkait banyak prestasi yang telah diukir oleh sekolah. “Alhamdulilah prestasinya banyak sekali, apalagi kalau dilihat dari pialanya. Karena dari segi ekskul kita tidak terhitung banyaknya,” imbuhnya.

Prestasi yang ditorehkan, lanjutnya, membuat animo masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang dikelola yayasan sangat tinggi. Bahkan, SMK Ksatrya terbilang sangat maju sehingga harus “menolak” siswa yang mendaftar. Dengan tiga jurusan yang dimiliki –perkantoran, manajemen bisnis dan akuntansi- banyak siswa yang tidak tertampung. “Itupun, ruangan yang tadinya aula terpaksa dialihfungsikan menjadi kelas,” ujarnya.

Dibantu 150 orang staf dan guru, Sutar terus berusaha meningkatkan kemajuan dan kualitas sekolah. Untuk itu, ia mengembangkan budaya kekeluargaan di antara para guru dan staf di lingkungan yayasan. Semua dilandasi dengan tetap mengedepankan moto, Trisila Ksatrya yakni pendidikan, pengajaran dan kekeluargaan. “Ketiga hal itu kita rangkum seperti ungkapan Jawa, makan tidak makan asal ngumpul,” tambahnya.

Untuk menciptakan situasi kekeluargaan yang kondusif, Sutar sebagai ketua yayasan sering “turun ke bawah” untuk melayani para staf dan guru. Ia tidak menjalin hubungan atasan bawahan, tetapi mengembangkan hubungan antara keluarga sendiri. “Mungkin ada bedanya antara kami saat ngumpul, becanda dan lain-lain. pokoknya secara profesional kami bisa membedakannya,” tuturnya.

Sister School

Sebagai ketua yayasan yang mengelola sekolah swasta, Sutar SE, MM sadar betul besarnya persaingan yang dihadapi. Selain menghadapi sekolah negeri yang mendapat fasilitas lengkap dari pemerintah, ia juga bersaing dengan sekolah swasta lain bertaraf internasional. Untuk itu, ia mengedepankan pelayanan kepada masyarakat sebagai konsumen.

“Karena produk kami jasa, ya kami mengutamakan pelayanan kepada konsumen. Makanya kami melayani dengan baik masyarakat sekitar sini yang berurusan dengan kami. Mungkin mulai dari segi tata usahanya, fasilitas dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, demi kemajuan sekolah ia juga mengadakan kerjasama dengan lembaga pendidikan lain. Ia juga menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di sekitar sekolah untuk kepentingan “magang” siswa atau praktek kerja lapangan (PKL). Uniknya, setelah lulus banyak siswa praktek yang diterima bekerja di perusahaan tempatnya magang.

“Itu salah satu prestasi juga bagi kami. Karena kami terus berusaha meningkatkan mutu sekolah. Salah satunya kami mengadakan program sister school dengan SMK Negeri 14 dan setiap minggu anak-anak mengikuti pelatihan di BLK milik Depnaker,” terangnya.

Menurut Sutar, sister school merupakan semacam pertukaran pelajar antar sekolah. Salah satu manfaatnya adalah menunjang kekurangan sekolah sekaligus melihat perbandingan kualitas pelajar antar sekolah. Ia mencontohkan, sister school dengan SMKN 14 yang berstandar internasional dan ber-ISO, membuat siswa SMK Ksatrya bisa menggunakan fasilitas sekolah tersebut.

“Antusias sekali pertukaran pelajar seperti itu, karena besar manfaatnya bagi sekolah swasta seperti kami. Karena kami semuanya dikerjakan sendiri, dibiayai sendiri dan kalau pun maju, ya kami maju sendiri. Pokoknya bagaimana kami mengolah sekolah swasta agar tidak ketinggalan. Semua itu harus diawali dari diri sendiri,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah juga memberikan perhatian kepada sekolah swasta sehingga tidak terjadi sekolah swasta yang ditutup atau bahkan roboh dimakan usia. Tetapi dengan kerja keras, selama 58 tahun yayasan berhasil mempertahankan sekolah agar tidak gulung tikar. “Kami masih bisa berdiri dengan modal sendiri. Kami membangun tiga lantai dengan dana dari kami sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Kami juga memiliki visi jangka pendek untuk membuat nyaman sekolah ini dengan membangun sarana yang memadai,” tambah ketua yayasan yang membuka pintu selama 24 jam bagi para pengajar ini.

Menyikapi carut marut dunia pendidikan, Sutar menyatakan bahwa dunia pendidikan Indonesia ketinggalan dari negara lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan Malaysia yang dahulu banyak mengirimkan pelajar dan mahasiswa ke Indonesia pun, masih jauh tertinggal. Kondisi sekarang justru terbalik, karena pelajar dan mahasiswa Indonesia banyak yang menuntut ilmu ke negara tersebut.

“Pemerintah sebenarnya tidak tahu persis kondisi di lapangan seperti apa dalam membenahi kualitas pendidikan. Hal tersebut diperparah dengan pejabat-pejabat kita yang menetapkan standar kelulusan yang terlihat sangat dipaksakan. Akibatnya, banyak sekolah di Jakarta banyak tidak siap seperti terlihat pada tingkat kelulusan UN yang sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut semakin parah di daerah-daerah pedalaman seperti Papua, NTT dan lain-lain. Itulah gambaran dunia pendidikan yang diperjuangkan oleh pahlawan tanpa tanda jasa,” kata Sutar, SE, MM.

Profil Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Terutama dalam menyongsong era globalisasi yang penuh dengan persaingan tak terkecuali dalam pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Yayasan Perguruan Ksatrya telah mempersiapkan diri menjadi wadah yang tepat bagi putra-putri kita untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dalam ilmu pengetahuan umum dan dilengkapi ilmu agama sehingga dapat mencetak generasi muda yang berwawasan global serta unggul dalam IPTEK dan IMTAQ.

Yayasan Perguruan Ksatrya merupakan lembaga pendidikan yang didirikan sejak tahun 19Lima Satu oleh Prof. DR. RP Soejono dkk, hingga kini terus mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan antara lain dengan membangun gedung tiga lantai dan dua lantai serta dua laboratorium komputer terbaru (P4) dilengkapi sistem jaringan (LAN) dan internet, laboratorium IPA, ruang multimedia, sarana olahraga, perpustakaan serta kegiatan ekstra kurikuler antara lain Paripurna, serba daya, Paskibra, futsal, basket dan lain-lain. Pendidikan agama yang diberikan kepada siswa antara lain baca tulis Al Quran dan sholat berjamaah yang didampingi oleh para guru.

Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu mengelola tiga sekolah, yakni:

SMA Ksatrya
Memiliki dua jurusan IPA dan IPS serta terakreditasi “A”

Visi
Terwujudnya kehidupan yang religius, cerdas dan bermartabat
Misi
1.    Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianutnya sehingga menjadi lebih arif dalam berperilaku
2.    Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimilikinya
3.    Menumbuhkan rasa percaya diri sehingga siswa berani dan mampu menghadapi tantangan

SMK Ksatrya
Memiliki tiga studi keahlian, Perkantoran, Bisnis Manajemen dan Akuntasi, serta terakreditasi “B”
Visi
Menjadikan SMK Ksatrya sebagai wahana layanan pendidikan yang menghasilkan tamatan yang beriman, bertakwa dan professional, berjiwa wira usaha serta berdaya kompetisi global

Misi
1.    Meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui peningkatan pembelajaran secara efektif dan menyenangkan
2.    Menumbuhkembangkan sikap disiplin dalam belajar
3.    Menumbuhkembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan memiliki tata karma
4.    Menumbuhkembangkan sikap rajin dan konsisten dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianut
5.    Meningkatkan daya saing yang berwawasan kecakapan hidup

SMP Ksatrya
Visi
Unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan iman dan takwa

Misi
1.    Menciptakan generasi muda yang berbakat dan berakhlak mulia
2.    Meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar
3.    Mengembangkan potensi siswa yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan

Fasilitas dan Sarana Pendidikan
1.    Sarana praktek ibadah (mushola)
2.    Gedung sekolah tiga lantai milik sendiri
3.    Lapangan dan fasiltias olahraga yang lengkap
4.    Staf pengajar yang profesional di bidangnya
5.    Perpustakaan
6.    Laboratorium komputer terbaru (P4) dan full AC serta dilengkapi dengan LAN dan internet
7.    Laboratorium bahasa
8.    Tempat parkir luas
9.    Koperasi
10.    Kantin