Tag: kesempatan

Daniel Santosa

Daniel Santosa
Direktur Utama PT Primaland Development
Arsitek Yang Berkembang Menjadi Developer
Bidang Arsitektur tidak hanya urusan gambar mengambar dan design dari sebuah bangunan. Tetapi bisa mencakup bidang yang lebih luas lagi. Seseorang lulusan sekolah Jurusan Arsitektur tidak harus menjadi seorang Arsitek, tetapi ia bisa mempraktekan ilmunya ke bidang-bidang lain, seperti misalnya bekerja di bidang interior, kontraktor bangunan, supplier bahan bangunan, konsultan lighting, agen property, exhibition, constuction management dan lain lain, bahkan menjadi seorang developer sekalipun.
Hal ini yang dialami oleh sosok Daniel Santosa, Direktur Utama PT Primaland Development, lulusan dari Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara, Jakarta dan University of New South Wales, Sydney.
“Setelah lulus kuliah S1 tahun 1990, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan arsitektur di Jakarta. Setahun kemudian saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke level yang lebih tinggi. Meski dengan biaya sendiri tanpa mengandalkan orang tua, saya bertekad untuk melanjutkan sekolah lagi ke University of New South Wales, Australia, mengambil jurusan Building Design. Disana saya bekerja sembari kuliah. Bahkan bekerja sebagai kitchen hand atau  pencuci piring di sebuah restaurant pun pernah saya lakoni demi mengejar cita cita sejak kecil untuk bisa lulus dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri,” kata penerima penghargaan sebagai salah satu pengembang terbaik 2010 versi International Business and Company Award ini.
Setelah kuliah selesai pada tahun 1992, Daniel mencoba untuk bekerja di Australia, tetapi karena pada saat itu sedang terjadi resesi ekonomi disana, sehingga mencari pekerjaan sebagai seorang arsitek merupakan hal yang cukup sulit, apalagi untuk pendatang seperti dia. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dengan bakat menggambar yang ada, ia mencoba untuk mendirikan usaha dibidang Consultan Design, dibantu seorang teman dan 2 orang pegawai dengan menumpang tempat di sebuah rumah kontrakan.  Karena hubungan antara design dan konstruksi sangat erat, maka sejalan dengan waktu bidang konstruksi pembangunan juga ditekuninya. Beberapa proyek berhasil diselesaikannya.
Dalam perkembangannya, setelah mengalami jatuh bangun akibat krisis moneter dan sebagainya, pada tahun 2000 dengan menggunakan uang tabungan yang ada, Daniel mencoba untuk membeli beberapa kavling tanah, mengingat pada waktu itu setelah krisis banyak dijual tanah yang cukup murah . Beberapa tahun kemudian setelah keadaan ekonomi membaik, kavling-kavling tanah tersebut mulai dibangun dan berhasil dipasarkan. Semua dikerjakan secara in house, mulai dari design, konstruksi sampai pemasarannya. Sampai saat ini sudah ratusan unit bangunan yang berhasil dipasarkan, tidak terbatas pada rumah tinggal, tetapi juga rumah kantor atau ruko, pergudangan dan perkantoran.
Saat ini di bawah bendera Primaland Development, ia sedang memasarkan sebuah kawasan bisnis yang dinamakan Kapuk Business Park, berlokasi di daerah strategis jalan Kapuk Raya. Kapuk Busines Park adalah sebuah kawasan yang unik, merupakan perpaduan antara perkantoran, pergudangan sekaligus nyaman jika digunakan untuk tempat tinggal. Menurutnya kawasan seperti ini sangat dibutuhkan di Jakarta dan demandnya cukup tinggi. Didasari dengan pemikiran akan kemacetan kota Jakarta yang setiap hari semakin parah tanpa ada solusi yang berarti dari pemerintah, orang akan semakin berpikir realistis dan efisien, mereka membutuhkan suatu tempat tinggal, tempat bekerja dan tempat menyimpan barang yang saling berdekatan, bahkan bila memungkinkan di satu tempat sekaligus tanpa terganggu kemacetan. Maka Kapuk Business Park merupakan salah satu solusi kawasan dengan konsep 3 in 1 yang mengakomodasi pemikiran di atas. Bahkan kawasan ini juga sangat strategis untuk jalur distribusi barang. Akses ke Bandara hanya di tempuh dalam beberapa menit, juga ada akses tol langsung menuju ke arah pelabuhan. Tepatnya dari dan menuju seluruh penjuru Jakarta ada akses tol langsung dari arah kawasan ini.
Menurut Daniel, yang membedakan kawasan ini dengan kawasan serupa, selain dari lokasi adalah penataan lingkungan, design dan fasilitasnya. Diakuinya memang harga di kawasan ini tergolong tidak murah, tetapi dari harga yang dibayarkan konsumen itu mereka mendapatkan sesuatu yang berbeda dari kawasan lain, baik dari segi kualitas bangunan, kualitas infrastructure, fasilitas, keamanan dan costumize design. Mereka akan merasa nyaman untuk bekerja dan merasa aman untuk menyimpan barang.
“Sebagai seorang arsitek, saya merasa lebih puas jika produk yang saya pasarkan adalah rancangan saya sendiri. Selain dari design unit-unit saya kerjakan sendiri dengan bantuan beberapa drafter, masterplan maupun infrastructure juga dikerjakan secara inhouse. Diluar itu, untuk lebih memuaskan konsumen, kami juga melayani konsumen yang unitnya ingin dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan mereka.” Kemudian lanjutnya, ”Gambar yang kita design dan tawarkan ke konsumen seperti gambar gambar di brosur dsb, ya seperti itulah jadinya bangunan dan fasilitas yang mereka dapatkan. Kita selalu commit dengan apa yang kita tawarkan.”
Transparan dan Konsekuen
Menurut Daniel Santosa, perusahaan yang didirikannya belum tergolong perusahaan besar dalam bidang property, namun perusahaan yang sedang dan masih berkembang. Sebelum memulai mengembangkan suatu kawasan, hal hal yang biasa ia lakukan adalah membuat perhitungan yang matang atau feasibility study,  survey dengan melihat kebutuhan dan tingkah laku pasar secara jeli, memberikan kualitas  bangunan yang baik dan fasilitas  yang disediakan juga faktor tidak kalah penting, disamping tentunya faktor lokasi yang strategis dan kelengkapan surat surat. Hal ini akan sangat menentukan produk kita akan diminati konsumen dan mampu bersaing dengan pengembang lain. Selain itu kita sebagai pengembang juga dituntut harus jujur, transparan dan memegang komitmen.
Dengan perpegang pada hal-hal di atas, terbukti kami selama ini tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam memasarkan produk kami, meskipun kami belum mempunyai nama besar sebagai pengembang.
Belajar dan Menekuni Pekerjaan
Untuk saat ini yang sedang Daniel kerjakan adalah berkonsentrasi terhadap proyek proyek yang sedang berjalan supaya dapat terealisasi dengan baik dan tepat waktu. Sehingga komitmen terhadap konsumen dapat benar benar terwujud
Untuk ke depannya Daniel berharap perusahaannya untuk terus berkembang dengan skala yang lebih besar. Menurutnya semuanya harus melalui sebuah proses, tahap demi tahap, tidak ada yang instant, semuanya ia anggap sebagai proses pembelajaran. Karena mengingat dahulu ia memulai dari nol, hal ini  tentunya bisa terwujud jika didukung kondisi ekonomi tanah air yang terus membaik, sehingga daya beli masyarakat juga terus meningkat.
”Siapa sih yang tak ingin perusahaannya menjadi besar? Yang sudah kami lakukan dan akan terus kami lakukan adalah kerja keras,  jika saya sekarang bisa lebih maju dari waktu waktu sebelumnya  menurut saya itu adalah hasil dari proses belajar dan kerja keras, semua itu saya anggap sebagai suatu anugerah dari Tuhan, karena saya diberi kesempatan untuk belajar dan menjalankan pekerjaan ini, saya selalu bersyukur untuk segala sesuatunya…,”tuturnya.
Pengalaman yang ingin disampaikan untuk generasi muda yang baru mulai bekerja. Seperti yang pernah dialami dirinya, “Setelah lulus kuliah saya bingung dihadapkan dengan berbagai pilihan, apakah membuka usaha sendiri, atau berkarier di sebuah perusahaan. Menurut saya yang terpenting kita harus mencari pengalaman sebanyak banyaknya. Belajarlah dari pengalaman pengalaman itu, manfaatkan peluang dan kesempatan. We have to trust our feeling, taking chances, appreciating and learning from the past, to achieve a better future. Saya rasa setiap orang mempunyai kesempatan, tetapi mungkin timingnya berbeda. Kita harus selalu optimis, bersungguh sungguh dalam bekerja, jujur, pandai memanfaatkan kesempatan dan selalu berserah dalam doa”.
“Untuk mereka yang sudah berhasil dalam berusaha, supaya tidak lupa, bahwa keberhasilan yang telah kita capai selain hasil dari kerja keras, adalah kemurahan dan berkat dari Tuhan, hendaknya kita juga selalu bisa menjadi saluran berkat buat orang di sekeliling kita”, demikian katanya menutup pembicaraan.

Deddy Herfiandi

Deddy Herfiandi
Direktur PT Ratu Oceania Raya

Bekerja di Cruise Line Mendidik Profesionalisme

Dalam dunia kerja, setiap SDM dituntut untuk bekerja secara profesional. Manajemen yang mempekerjakannya, sangat menghargai seorang SDM yang bekerja berdasarkan aturan standar yang sudah ditentukan. Seorang pekerja akan dihargai sesuai dengan profesionalitasnya dalam melakukan tugas. Semakin profesional, pekerja tersebut memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang memadai.

Salah satu pekerjaan yang menawarkan pendapatan memadai berdasarkan profesionalisme adalah menjadi awak kapal pada industri cruise line atau kapal pesiar. Meskipun industri kapal pesiar banyak terdapat di perairan Karibia, Eropa dan sedikit di Singapura, tetapi menawarkan kesempatan kerja yang sangat terbuka bagi tenaga kerja terlatih dari seluruh dunia. Termasuk juga tenaga kerja dari Indonesia yang memiliki kualifikasi tertentu.

“Yang mungkin perlu kita berikan adalah informasi yang benar kepada masyarakat. Bahwa alternatif untuk generasi muda dalam mencari penghasilan lebih, pengalaman, kualifikasi, profesionalisme mereka, cruise line industry cukup bagus. Karena di samping dapat kerja dan gaji dengan dolar, juga dapat pengalaman luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan di tempat lain,” kata Deddy Herfiandi, Direktur PT Ratu Oceania Raya.

Menurut Deddy, dibandingkan pekerjaan sejenis di darat -seperti di hotel-hotel- kapal pesiar masih memiliki nilai lebih. Sesibuk-sibuknya bekerja di hotel, masih tidak sebanding dengan kesibukan kerja di kapal pesiar. Gaji yang ditawarkan pun masih tetap lebih baik dengan pekerjaan lain. Bekerja di kapal pesiar, merupakan ajang untuk mendidik generasi muda menjadi profesional. Selain berurusan dengan manajemen, seorang pekerja juga berkesempatan untuk memiliki pengalaman dan belajar mengenal budaya bangsa lain.

Bagi pekerja perempuan pun, Deddy menjamin kapal pesiar merupakan tempat paling aman dari sexual harassment. Bahkan dibandingkan dengan pekerjaan yang sama di hotel berintang di darat, kapal pesiar tetap lebih unggul. Hal ini terkait dengan perjanjian ekstra ketat yang diterapkan manajemen dalam menjamin hak-hak perempuan di kapal.

“Suitan atau tatapan mata yang dianggap menggangu, bisa mengakibatkan seseorang diturunkan dari kapal. Jadi sangat aman bagi perempuan untuk bekerja di kapal pesiar, tanpa harus takut mengalami pelecehan seksual. Pokoknya bekerja di kapal pesiar menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Kita lebih memahami bangsa lain dan kebiasaan sehari-hari mereka karena bisa saja, teman sekamar datang dari mana saja. It’s a good society, kumpulan orang-orang yang bekerja bareng satu kepentingan, tetapi bisa share knowledge dan lain-lain,” imbuhnya.

Deddy menjamin, dibandingkan pekerjaan lain di darat, bekerja di kapal pesiar masih tetap lebih unggul. Meskipun kapal berlayar di tengah laut, fasilitas yang dimiliki sangat memadai mulai rumah sakit hingga tempat ibadah. “Ibadah juga dihormati meskipun dianggap sebagai kebutuhan personal seperti anggapan dunia barat umumnya. Makanya, kita sendiri yang mengatur kapan waktu untuk salat. Memang tidak bisa seperti di darat, tetapi waktu untuk ibadah bisa kita atur sendiri,” tandasnya.

Jemput Bola

Setelah dua tahun menempati kantor baru, PT Ratu Oceania Raya yang dinakhodai oleh Deddy Herfiandi semakin maju. Dari tiga karyawan berkembang menjadi 16 orang karyawan dan memiliki kantor representative di Bali dengan 10 orang karyawan. Selain itu, banyak permintaan untuk menambah kantor representative di beberapa kota lain.

“Tetapi itu akan membuat beban menjadi lebih berat. Makanya saya hanya mempunyai perwakilan di Bali untuk Indonesia Timur dan Jakarta untuk daerah lainnya. Kita juga mempekerjakan expatriate yang kita tempatkan di Bali. Cita-cita saya bahwa suatu hari nanti kami bisa membuat kantor representative di Medan dan Makassar,” ungkapnya.

Alasannya, pada kedua kota tersebut memiliki sekolah pariwisata yang cukup bagus, STP Medan dan Makassar. Hal ini mengingat kebanyakan tenaga kerja  yang dibutuhkan untuk kapal pesiar banyak dipasok oleh sekolah perhotelan dan pariwisata. Apalagi, permintaan tenaga kerja untuk kapal pesiar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk saat ini, setiap tahun Deddy mampu memenuhi permintaan 800 tenaga kerja per tahun.

“Saya berharap, mulai tahun depan mampu menyuplai 1000 orang tenaga kerja per tahun. Karena kita juga membuka kerjasama dengan perusahaan lain, kalau dulu hanya dengan Royal dan Celebrity, sekarang kami berafiliasi bisnis dengan Disney Cruise Line, Apollo Ship Chandlers, Seabourn Flat Services dan ISPL. Yang menjadi andalan adalah empat perusahaan kapal pesiar ini –Royal Karibian, Disney, Celebrity dan Apollo- yang bisa kita harapkan akan meningkatkan jumlah crew dari Indonesia,” tuturnya.

Selain kerjasama dengan STP Medan dan STP Makassar, perusahaan milik Deddy menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan lain seperti Trisakti, NHI, SPB Bali. Bahkan perusahaan sudah membuat Culinary Program di Trisakti dan institusi pendidikan yang lain. “Saat ini kita sedang melakukan policy baru dengan sistem jemput bola. Artinya, kebutuhan tenaga kerja banyak tetapi yang melamar tidak sesuai kebutuhan,” ungkapnya.

Meskipun telah memasang iklan di mana-mana, kebutuhan tetap belum teratasi. Deddy akhirnya menjawab kebutuhan tersebut dengan mencetak tenaga kerja sendiri. Saat ini, perusahaan secara intensif bekerja sama dengan sekolah kuliner untuk cook, kursus bahasa Inggris dan kursus kapal pesiar untuk kuliner. “Jadi kita menampung lulusan yang sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kalau nunggu ya nggak jadi-jadi, saking banyaknya, sehingga kita menjemput bola atau mencetak sendiri tenaga yang kita butuhkan,” tuturnya.

Dari Hotel ke Hotel

Deddy Herfiandi lahir di Cimahi, Bandung 14 Maret 1959, orangtua Deddy bekerja di Kesdam (Kesehatan Kodam) dan berdinas di RS Dustira Cimahi. Deddy menempuh pendidikan di Akademi Perhotelan Bandung dan lulus pada tahun 1977. Dua tahun kemudian ia pergi merantau ke Jakarta dan bekerja di Hotel Borobudur. “Belum setahun bekerja saya pindah ke Hilton Hotel. Karena Hilton is the best hotels in town, waktu itu tahun 80-an,” kisahnya mengenang.

Waktu itu, kisahnya, ia bekerja di fine dinning room Taman Sari Hotel Hilton selama 8 tahun. Deddy memulai pekerjaannya merangkak dari bawah, yakni bekerja posisi dari busboy –sebagai entry position. Deddy bertahan selama delapan tahun dan mencapai posisi puncak sebagai Restaurant Manager. Ia merupakan Restaurant Manager ke-4 di Taman Sari sepanjang sejarah berdirinya Hilton Hotel.

Deddy mengembangkan karirnya dan bekerja di kapal pesiar, Holland American Lines, yang berkantor pusat di Seattle, Woshington DC. Dari situ ia bertemu banyak orang, teman dan kenalan, yang memberinya kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Michigan pada jurusan Manajemen Perhotelan. Di sana, ia menghabiskan waktu selama delapan tahun.

“Kemudian tahun 1995, saya pulang ke tanah air dan bergabung dengan Daichi Hotel. Kebetulan disana sedang membutuhkan Restoran Manager untuk French Restoran. Ini juga merupakan spesialisasi saya, karena kebetulan waktu itu, chef khusus makanan Eropa dengan Perancis sebagai spesialisasinya. Namanya Ton el Restaurant selama  kurang lebih setahun,” ungkapnya.

Deddy kemudian diajak oleh salah seorang temannya untuk mengelola restoran Imperial Karawachi. Setelah lima bulan, ia kemudian pindah kerja di Hotel Sheraton Bandara. Di situ, ia berperan menjadi pre opening team yang membantu menyiapkan konsep restoran yang sesuai dengan kualifikasi hotel bintang lima. Ia membantu Food and Beverage Manager –bernama Mr. Frank Beck- menyiapkan restoran di hotel tersebut. Ia mengakhiri karir sebagai Food and Beverage Manager selama lima tahun dan ‘mentok’ pada posisi ini. “Karena nggak mungkin menggantikan GM di situ yang pasti orang luar, Jerman atau Austria. Tetapi, itu pas dengan kemampuan dan kualifikasi saya untuk fine dinning room bukan pada restoran kecil,” tuturnya.

Lepas dari Sheraton Bandara, Deddy diajak teman-temannya dari Holland American Lines yang lebih dahulu bikin perusahaan yang namanya CTI. Perusahaan itu  merupakan perwakilan dari Carnival, Renaissance, Apollo dan lain-lain, yang membutuhkan manager dan training spesialis. Selama dua tahun ia menekuni posisi ini sebelum bergabung dengan PT Mekar Jaya, sebuah perusahaan PJTKI yang didirikan oleh Bapak Soedjangi, pensiunan pejabat Depnaker pada tahun 2002.

Saat di Mekar Jaya, lanjutnya, kebetulan ia mendapat kepercayaan sebagai perwakilan dari Celebrity Cruises yang berpusat di Miami. Empat tahun kemudian pada April  2007, Celebrity Cruises diakuisisi oleh RCCL dengan agen yang sangat solid dan establish, yakni Barber. Akhirnya hampir semua lines beralih ke agen lain, sehingga tinggal Deddy sendiri yang mengelola beberapa cruiser lines. “Kecuali Celebrity Cruises dan Royal Caribbean,   saya tinggal Regal Empress, Texas Treasure dan Caribbean Empress yang saya pegang,” ujarnya.

Dengan meninggalnya pendiri Mekar Jaya, Deddy membuat keputusan  untuk mendirikan perusahaan sendiri. Setelah seluruh surat-surat yang diperlukan terpenuhi, akhirnya pada tanggal 1 Oktober 2007, berdirilah PT Ratu Oceania Raya di Bintaro. “Yang terjadi kemudian adalah perusahaan-perusahaan yang dulu bekerja sama pada perusahaan lama, akhirnya kembali kepada saya. Seperti Royal Caribbean, Celebrity. Ditambah Club Cruise Nederland dan Regal Empress,” lanjutnya.

Tidak Ada Boss

Dalam mengelola perusahaan, suami Wiwin Winarsih ini menggunakan sistem kekeluargaan. Bahkan, orang-orang yang bekerja di PT Ratu Oceania Raya tidak memiliki bos atau atasan. Lebih ekstrim lagi di perusahaan pengerah tenaga kerja khusus kapal pesiar ini tidak menerapkan hierarki. Semua dianggap teman yang bahu membahu bekerja membesarkan perusahaan untuk kepentingan bersama.

“Di Ratu tidak ada bos dan hierarki, yang ada hanya teman. Kita hilangkan jenjang antara bawahan dan atasan. Meskipun seorang OB kita anggap kayak teman saja, dalam bersikap kita juga sama. Sejauh ini Alhamdulilah, teman-teman di kantor baik-baik dan mereka respek dengan pekerjaan masing-masing,” tuturnya.

Menurut Deddy, karyawan adalah bagian dari perusahaan yang sangat berperan besar. Tanpa kehadiran karyawan, perusahaan tidak bisa berkembang maju seperti sekarang. Tidak bisa dipungkiri, karyawan merupakan tulang punggung perusahaan dalam mencapai tujuannya. Untuk itu, sebagai perwujudan penghargaan terhadap para karyawan, Deddy membentuk Koperasi Karyawan. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan karyawan yang telah sekian lama bekerja membanting tulang demi perusahaan.

“Namanya Koperasi 16 Karat, singkatan dari enam belas Karyawan Ratu. Sudah beberapa MoU yang ditandangani atas nama koperasi, yakni proyek-proyek perusahaan dengan sekolah pariwisata. Proyek kerjasama ini menyediakan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih sesuai kebutuhan klien kita. Nah, keuntungan dari proyek menjadi milik koperasi dan hak karyawan, revenue-nya tidak masuk ke PT Ratu. Untuk yang seperti ini, saya memfasilitasi agar koperasi yang menjalankannya. Semua demi kesejahteraan bersama sehingga karyawan juga semangat bekerja,” tegasnya.

Semua itu dilakukan Deddy mengingat jasa-jasa karyawan dalam memajukan perusahaan. Ia ingat betul, beberapa bulan setelah berdiri perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan. Ia bahkan sempat meminta bantuan kakak ipar dan ponakan untuk mengelola perusahaan. Pertimbangannya, atas nama pertalian darah, masalah sensitif seperti itu lebih mudah dibicarakan, berbeda dengan karyawan lain. “Jadi sekian lama mereka bekerja tanpa bayaran, Alhamdulilah mereka sampai sekarang masih ada,” tuturnya.

Selain dari famili dekat, ayah empat anak ini menerima dukungan penuh dari istrinya. Meskipun istrinya tidak langsung terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan “hanya” fokus mengurus keluarga, tetapi sangat berarti baginya. Dengan sang istri di rumah, membuat ia tidak pernah takut terhadap masa depan anak-anaknya. Terbukti, tak satupun anaknya terlibat dalam perbuatan negative seperti terjerat narkoba atau pergaulan bebas.

“Istri saya di rumah, meskipun dulu satu pekerjaan sebelum menikah. Tetapi kami sudah sepakat, istri tidak kerja. Belajar dari keluarga-keluarga lain, yang ayah ibunya bekerja dan anak lebih dekat kepada pembantu. Makanya, dia konsentrasi membesarkan anak saja dan Alhamdulilah tidak ada yang terlibat masalah yang seram-seram. Alhamdulilah, tanpa mereka tidak ada artinya,” tukasnya. Istrinya juga membatasi diri untuk tidak terlibat dalam urusan kantor. “Bahkan ke kantor pun baru dua kali seumur hidup,” imbuhnya. Anak tertua Deddy ikut membantu mengelola perusahaan karena memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.

Mengubah Image

Sebagai “pemain” yang kenyang pengalaman di dalam dunia pengiriman tenaga kerja khusus kapal pesiar, Deddy tahu betul apa kekurangan dan kelebihan SDM Indonesia. Apalagi, tenaga kerja yang dikirimnya bukanlah “sekelas” tenaga kasar tetapi sangat  memerlukan kompetensi khusus. Untuk itu, ia berharap pemerintah melakukan beberapa pembenahan mendasar terhadap SDM asal Indonesia.

“Saya berharap pemerintah mulai berpikir untuk bersaing di dunia internasional karena itu sangat mendesak mengingat kita telah memasuki era pasar global bebas. Kita selama ini selalu kalah bersaing di semua aspek, mulai pekerjaan, sport, ilmu pengetahuan semua ketinggalan, daya saing kita  rendah sekali. Image kita terlanjur buruk, kalah dari Filipina yang jauh lebih kecil negaranya. Jadi kalau daya saing menjadi prioritas, semua harus dirombak,” tegasnya.

Selain sistem, lanjut Deddy, pemerintah juga perlu mengubah image bangsa yang sudah terlanjur jatuh. Sayangnya, bangsa Indonesia di era ini tidak memiliki public relation yang handal seperti Bung Karno, Bung Hatta, H Agus Salim, Syahrir dan lain-lain. Mereka di masanya telah menjadi PR yang handal dalam membangun image bangsa ini menjadi bangsa besar yang disegani oleh bangsa lain dan menjadi kebanggaan dari bangsanya sendiri. “Kalau sekarang belum ada yang seperti itu,” tambahnya.

Tulang punggung dari perubahan tersebut, menurut Deddy terletak di pundak generasi muda. Generasi muda harus memupuk dan menumbuhkan semangat bersaing yang kuat dengan bangsa lain. Ia secara khusus menyoroti kemampuan bahasa asing yang sangat minim dari orang-orang yang dikirim bekerja di luar negeri sebagai pekerja di kapal pesiar.

“Kemampuan komunikasi pekerja Indonesia di luar negeri dikenal sangat buruk, karena bahasa Inggrisnya minim. Kita kalah dari pekerja Filipina dan India, meskipun secara kualitas pekerjaan berani bersaing. Itulah kelemahan paling mendasar dari bangsa kita,” tegasnya.

Untuk itu, bagi pekerja Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri melalui PT Ratu Oceania Raya, Deddy menetapkan empat kriteria. Pertama kemampuan bahasa Inggris yang cukup karena akan berguna dalam pekerjaan, safety serta untuk membela hak-haknya yang mungkin terabaikan. Kedua experience, skill and knowledge terhadap pekerjaan yang harus benar-benar menguasai. Jangan sampai, pekerja asal Indonesia hanya untuk disuruh-suruh saja. Setidaknya mereka mencapai tahap men-supervisi pekerja yunior dari manapun.

“Ketiga appearance, kalau kita bekerja di luar negeri harus bisa menempatkan diri. Kita tahu Indonesia disangka sebagai sarang teroris, jangan kemudian malah ke mana-mana makai sorban, dan lain-lain. Keempat attitude yang professional dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Menurut saya yang terpenting adalah menjadi individu-individu yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Karena spirit itu akan terbawa ke semua aspek, mulai olahraga, kreativitas dan lain-lain,” tandasnya.

Deddy merasa “ngenes” melihat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar tetapi terseok-seok. Sebagai negara kaya dengan sumber daya alam dengan penduduk terbesar keempat di dunia, tetapi tidak mampu memanfaatkan kelebihan tersebut untuk kesejahteraan rakyat. Ia mencontohkan bagaimana China sebagai negara yang memiliki penduduk yang sangat besar tetapi mampu menguasai perekonomian dunia. “Mereka memiliki kebanggaan dan prestasi. Sama seperti Jepang, yang tumbuh maju karena memiliki kreativitas dan inovasi serta daya saing yang sangat tinggi dan luar biasa,” ujarnya.

Ke depan, Deddy berharap agar terjadi sinergi antara cara pandang dunia usaha, pemerintah dan generasi muda. Dengan adanya satu pamahaman, satu visi dan misi bahwa bangsa Indonesia harus memiliki kebanggaan, itulah yang akan membawa bangsa ini menuju kemajuan yang dicita-citakan. Deddy menegaskan bahwa kebanggaan tersebut harus “keluar” seperti ketika Malaysia mengklaim batik sebagai miliknya.

“Semua orang tersentak dan tergerak untuk “mengamankan” kekayaan budaya tersebut dari keserakahan bangsa lain. Karena memang batik telah menjadi kebanggaan bangsa ini, saya berharap di bidang lain pun begitu. Ada kebanggaan yang pantas untuk dipertahankan. Makanya, marilah kita sama-sama lakukan bersama, agar semua lebih mudah, baik dan jujur. Kita harus menyiapkan diri untuk menjadi bangsa yang besar,” pungkasnya.

Thomas Aquino Bima Priadi

Country Manager PT ESRI Indonesia

Lulusan Teknik Sipil yang Pakar IT

Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan setara dengan bangsa lain. Bahkan sejak dahulu kala, sejarah Indonesia telah menunjukkan kebesarannya sebagai sebuah bangsa yang disegani. Kalau sekarang terjadi kemunduran yang mengakibatkan ketinggalan, tentu sebuah kesalahan telah terjadi pada bangsa ini.

Padahal, bukan hanya Malaysia yang beberapa dekade sebelumnya mengirimkan ribuan pemuda untuk digembleng di Indonesia. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal kesejahteraan negeri jiran tersebut belakangan ini. Tidak hanya itu, negara semaju Jepang pun pernah menggunakan jasa pemuda Indonesia dalam industri teknologi informasi (IT/information technology).

Salah satunya adalah saya yang mendapat kesempatan dari Prof. BJ Habibie yang memiliki gagasan membangun industri IT Indonesia bagi pasar asing. Waktu itu beliau dapat challenge dari Jepang untuk mengisi programmer di sana yang sangat kekurangan. Saat itu, Habibie merekrut sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik IT di IPTN. Setelah itu, kami dikirim untuk job training di IBM Jepang. Selesai job training itu, kami bekerja di Jepang untuk mengerjakan beberapa proyek,” kata Thomas Aquino Bima Priadi, Country Manager PT ESRI Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, lanjutnya, banyak industri Jepang yang melakukan relokasi proyeknya ke Indonesia. Para programmer yang asli Indonesia menjadi tumpuan harapan untuk menggarap proyek-proyek perusahaan Jepang di sini. Selain itu, para programmer juga memiliki kesempatan untuk mengerjakan proyek-proyek bagi pasar perusahaan lokal.

Saat itu, Bima –panggilan akrabnya- harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus memilih bidang IT yang menjadi minatnya. Sebagai lulusan teknik sipil FT UGM Yogyakarta, ia sangat berminat pada engineering. Meskipun demikian perkenalannya dengan sistem informasi geografi telah membuat dirinya jatuh cinta dan berminat untuk mengembangkan sistem ini di tanah air.

Saya memang tidak memiliki pengalaman di bidang ini. karena Ketika lulusan dari Teknik Sipil UGM Yogyakarta, Tetapi market bidang konstruksi saat itu kurang bagus, sehingga saya banting stir ke bidang IT yang belum sepenuhnya berkembang seperti sekarang. Ketika mengenal sistem informasi geografi, saya jatuh cinta dan bertekad menekuni usaha di bidang ini karena yakin berpeluang besar akan tumbuh dengan baik,” tegasnya.

Bima menyadari bahwa tantangan di bidang ini adalah minimnya data yang tersedia. Buktinya, banyak proyek yang tidak berlanjut karena data spasial yang dibutuhkan tidak tersedia. Akibatnya, banyak proyek perusahaan yang terpaksa tidak diselesaikan karena harus berinvestasi dalam jumlah besar untuk mengumpulkan data spasial ini.

Oleh karena itu, saya mengadakan koordinasi dengan lembaga penyedia data agar kebutuhan terhadap data selalu tersedia ketika diperlukan. Saya juga bertukar gagasan untuk mendorong kemajuan sistem informasi geografi di Indonesia. Saya berharap, tidak ada lagi proyek di Indonesia yang gagal diselesaikan karena ketersediaan data sangat minim,” tegasnya.

Standar IT Indonesia

Thomas Aquino Bima Priadi menuturkan PT ESRI Indonesia memiliki visi menyebarkan software ESRI menjadi acuan utama teknologi GIS di Indionesia. Ia berharap, teknologi ini dapat dipergunakan oleh seluruh lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

Pertama menjadi standar yang dibutuhkan, kedua kita mampu menjadi bagian dari dunia teknologi informasi Indonesia. Kita ingin perusahaan menjadi leader dan standar sehingga siapapun nanti akan mengacu kepada perusahaan kita,” tegasnya.

Ke depan, lanjutnya, ESRI Indonesia ingin membangun SDM Indonesia. Utamanya SDM yang diperlukan untuk membangun dunia IT, khususnya didalam bidang Sistim Informasi Geografi di Indonesia. Upaya yang ditempuh adalah mencoba berkolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi. Dengan pertimbangan, bahwa perguruan tinggi memiliki knowledge yang diperlukan sementara perusahaan memiliki teknologi.

Itu yang harus kita gabungkan dan menjadi simpul-simpul kemajuan dunia IT Indonesia. Mereka juga harus mampu menangkap respon dan kebutuhan-kebutuhan IT dunia. Sementara ini yang kami sudah mengawali upaya kerjasama dengan kami adalah ITB dan UI. Sedangkan di timur, ITS Surabaya dan Unhas Makassar, sementara ke barat kita sudah kerjasama dengan Unsyah Banda Aceh,” tandasnya.

Pria kelahiran Purworejo, 1 April 1962 ini mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan keluarga yang sangat luar biasa terhadap karier yang ditekuninya selama ini. Sang istri, Dr. Banon Lupi Edi (dokter di rumah sakit Harapan Bunda) dan kedua anaknya tidak pernah mengajukan komplain atas kesibukan suami dan ayahnya. Meskipun harus ditinggal pagi-pagi dan kembali ke rumah dini hari, mereka menerima kondisi tersebut.

Saya pulang ke rumah paling cepat pukul sembilan malam. Tidak jarang malah pukul dua pagi, jadi mereka semua sudah tidur. Tetapi bagi saya justru itulah dukungan luar biasa dari keluarga karena mereka memberikan pengertian terhadap kesibukan saya. Oleh karena itu, terhadap pengorbanann dan kerelaan mereka itu tidak akan saya sia-siakan. Keluarga telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkembang semaksimal mungkin,” imbuh anak kedua dari lima bersaudaran pasangan Petrus Suyoso (Alm.) dan Henrica Sri Adiarti.

 Berbicara mengenai generasi muda, Thomas Aquino Bima Priadi mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang lebih lengkap fasilitasnya. Apalagi bila dibandingkan dengan kondisi generasi muda di zamannya yang minim akses ke mana-mana. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak bisa mempelajari dan memanfaatkan segala sesuatu di sekelilingnya agar menjadi lebih hebat lagi.

Yang perlu dilakukan adalah membantu memotivasi dan mengarahkan generasi muda agar kehidupan mereka lebih pasti dalam menatap masa depan. Generasi muda sekarang boleh saja menyukai yang serba instant karena sesuai dengan zamannya. Namun mereka juga tidak boleh mengabaikan proses yang harus dilakukan secara bertahap untuk memperoleh sesuatu. Diharapkan proses tersebut memiliki value bagi mereka sendiri, organisasi, masyarakat dan lain-lain,” tandasnya.

Tergantung Teknologi

Menurut Thomas Aquino Bima Priadi, banyak perusahaan sejenis yang menjalankan usaha di Indonesia. Tentu saja, semua perusahaan IT sangat mengandalkan kemajuan teknologi masing-masing karena itulah “jualan” perusahaan. Begitu juga dengan persaingan di dalam usaha ini tidak lepas dari kecanggihan teknologi yang ditanamkan pada produk IT.

Semua tergantung teknologi. Jadi bagaimana sebuah perusahaan memiliki teknologi yang cukup mumpuni sehingga mampu bersaing secara sehat. Tetapi yang jelas kita berpikir jangka panjang sehingga bisa dilihat sebagai mitra pemerintah yang sangat konsisten,” ungkap penyuka liburan di kampung halaman ini.

 Saat ini, lanjut penerima Most Strategic Win Tahun 2011 dari ESRI Inc. ini, dunia IT sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup setiap manusia. Bisa dikatakan, umat manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepaskan hidupnya dari sarana yang berhubungan dengan IT. Oleh karena itu, mau tidak mau-suka tidak suka, meskipun berlatar belakang pendidikan teknik sipil, dunia IT diselaminya.

Akhirnya saya mempunyai passion dalam bisnis ini. Meskipun awalnya memang berbagai kesulitan saya hadapi. Karena awalnya saya tidak pernah dididik di situ, bukan di set-up untuk itu. Tetapi saya diberi kesempatan, sehingga untuk masuk ke situ juga saya nikmati. Meskipun terjadi gap yang sangat berat, karena teman-teman yang lain sudah lebih dahulu menguasai kondisi dengan baik,” ungkapnya.

PT ESRI Indonesia di bawah pimpinan Thomas Aquino Bima Priadi sebagai Country Manager memiliki klien hampir seluruh kementerian di Indonesia. Beberapa perusahaan perminyakan dan perkebunan kelapa sawit juga turut menjadi klien perusahaan dalam masalah teknologi Sistim Informasi Geografi (SIG). Semua itu, membuktikan eksistensi perusahaan yang semakin dikenal sebagai penyedia jasa IT, khususnya SIG, terkemuka di Indonesia.

Di samping itu, Bima memiliki misi pribadi untuk menjadikan Indonesia sebagai penguasa informasi bagi dirinya sendiri tentang bangsa dan Negara Indonesia dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya. Karena dari sisi informasi, justru orang lain yang menjadi penguasa yang menurutnya sangat tidak bagus. Seharusnya, informasi tersebut menjadi sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang di Indonesia. Jangan sampai informasi-informasi yang sangat penting disediakan asing untuk keuntungan mereka sendiri dan bukan keuntungan bangsa kita.

 “Banyak informasi yang dikuasai oleh pribadi-pribadi sehingga kurang dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Seperti bank-bank Indonesia itu berlangganan informasi intelijen perbankan dari Malaysia, Hongkong, dan lain-lain. Padahal sumber informasi dari lembaga kita sendiri seperti BPS dan lain-lain. Ditambah sedikit pengolahan informasi, mereka jual kembali kepada kita dengan harga mahal. Oleh karena itu, sebenarnya bangsa Indonesia sangat dirugikan karena keuntungan akan datang kepada investor asing yang seharusnya dinikmati bangsa ini,” kata Thomas Aquino Bima Priadi.

Dessy Arnas

No Comments

Runway Indonesia – Personality School

Mengajar Pengembangan Diri Sebagai Passion Kehidupan

Setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama bertahun-tahun, adakalanya kejenuhan menghinggapi seseorang. Apalagi kalau selama menekuni pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat, hingga lupa diri dalam bekerja dan tanpa terasa karier sudah tidak bisa meningkat lagi.

Kondisi seperti ini hanya bisa disikapi dengan menetapkan tiga pilihan. Pertama menyerah terhadap tuntutan pekerjaan sampai memasuki masa pensiun dan menikmati segala konsekuensinya. Kedua melepaskan diri dari seluruh aktivitas pekerjaan untuk menikmati istirahat. Sedangkan ketiga adalah menciptakan tantangan baru sehingga menumbuhkan semangat untuk terus berkembang.

“Saya merasa lelah setelah dua belas tahun bekerja pada sekolah pengembangan diri internasional. Setelah karier dirasa mentok, saya berpikir untuk berdiri sendiri. Apalagi saya ditegur Allah dengan sakit yang cukup keras karena bekerja terlalu ngoyo. Saya kemudian memutuskan untuk istirahat setelah selama bertahun-tahun agak lupa diri dalam bekerja,” kata Dessy Arnas, Runway Indonesia – Personality School.

Dessy kemudian mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu seperti mengajar. Belajar dari pengalaman sebagai marketing yang hampir-hampir tidak memiliki waktu luang, ia mengajukan pengunduran diri dan bergabung di Runway Indonesia, April 2011. Perusahaan pengembangan diri internasional tempatnya bergabung selama 12 tahun pun ditinggalkan.

Sedangkan Runway Indonesia sendiri sebelumnya merupakan sekolah modeling dan acting sejak tahun 2007. Pendirinya Agung Saputra adalah pemilik sebuah management artis dan Nonny Chirilda yang memiliki management model. Keduanya sepakat mengembangkan sekolah yang mereka miliki menjadi personality school atau sekolah pengembangan diri, terbentuklah Runway Indonesia.

“Kemudian bergabunglah saya yang experience di sekolah pengembangan diri, personality. Di sini, saya tidak hanya sekadar mengajar yang sudah menjadi passion kehidupan saya. Tetapi saya juga membuat design program training, desain program kelas, nanti murid-muridnya bisa kita encourage agar dapat lebih mendapatkan sesuatu, begitu,” kata salah satu stakeholder Runway Indonesia ini.

Dessy telah menyusun program pengembangan diri di Runway Indonesia yang terbagi dalam tiga program, yakni program anak-anak, remaja dan dewasa. Bagi kelas dewasa diutamakan untuk mempelajari Self Improvement untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kelas anak-anak bisa belajar percaya diri dan kemandirian sehingga terlepas dari ketergantungan pada ibunya, suster dan lain-lain. Sementara kelas remaja -masa transisi yang kritis dan harus diwaspadai- sehingga harus diberikan wawasan agar tidak melenceng, mampu mengatur diri sendiri, manajemen waktu dan lain-lain.

“Kalau bidang entertainment, seperti model dan artis, kemudian bidang karir, semua itu kita terus kembangkan. Karena sasaran kita memang untuk kalangan anak muda, seperti program karier bagi mahasiswa untuk menyiapkan diri dalam berkarier. Seperti bagaimana mereka ‘menjual dirinya’ saat melamar pekerjaan. Karena kebanyakan perusahaan ingin karyawan yang sudah jadi. Di sini, lama pendidikan hanya dua bulan atau 12-14 pertemuan saja,” katanya.

Terbiasa Hidup Mandiri

Perempuan kelahiran 12 Desember 1972 ini mengisahkan, ketertarikannya ke dunia kerja tidak lepas dari peran sang ibu –Hj Suharti- yang seorang wanita karier. Istri H Nasrun Ismail –ayah Dessy- ini bekerja sebagai Sekretaris Kepala Telkom dan sempat melakukan tugas mengepang rambut tiga anak perempuan, menyiapkan perlengkapan satu anak laki-laki serta kebutuhan suaminya.

“Ibu bahkan masih sempat menyasak rambut sendiri, menyetir mobil ke kantor sendiri dengan sepatu hak tinggi. Kayaknya enak banget ya menjadi wanita karier. Makanya sejak sekolah saya ikut sanggar dan kegiatan lain yang menghasilkan uang. Saya terbiasa hidup mandiri meskipun kedua orang tua secara finansial tidak kekurangan. Pada semester 6, saya ikut menjadi pramugari seasonal di Garuda saat musim haji,” katanya.

Ayahnya terusik melihat “keusilan” anak ketiganya ini. Dessy pun mendapat teguran untuk memilih salah satu dengan serius, melanjutkan kuliah atau bekerja mencari uang saja. Sebagai orang yang konsekwen atas pilihannya, Dessy pun kemudian bekerja. Saat usianya menjelang 22 tahun, ia bekerja di Surabaya dan memutuskan untuk menikah satu tahun kemudian.

Sayang, saat karier Dessy sudah bagus dan mapan, suaminya dipindah tugaskan ke Banda Aceh. Dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa dan lain-lain, karier yang sudah dibangunnya pun ditinggalkan begitu saja. Dengan kondisi seadanya, sebagai istri ia patuh terhadap suami. Selama lima tahun (1997-2002), Dessy menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

“Setelah dipindahkan ke Jakarta, suami mengijinkan saya untuk kembali bekerja. Atas rekomendasi mantan atasan ditempat bekerja terdahulu, saya bekerja di cabang Jakarta perusahaan lama. Setelah lima tahun di Aceh, saya merasa seperti orang kampung. Saya sangat minder, tetapi mantan atasan saya selalu memotivasi. Dalam tiga minggu saya sudah dapat client dan bulan berikutnya sudah dapat client salah satu bank swasta terkemuka,” tuturnya.

Karier Dessy Arnas dengan cepat meroket. Hanya dalam waktu tiga tahun, ia diangkat sebagai General Manager di perusahaan tersebut. Ia menganggap perusahaan tempatnya bekerja tersebut merupakan sekolah kehidupan baginya. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk tetap survive hidup di Jakarta. Dan juga saya memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan karir imbuh ibu dari Rakha Aditya Afrizal dan Rania Adelia Afrizal ini.

Belajar dari perjalanan hidupnya, Dessy Arnas mengimbau generasi muda untuk tidak salah persepsi tentang emansipasi. Baginya, seorang perempuan tidak mungkin mampu mengalahkan seorang laki-laki. Bahkan dalam ajaran agama pun lelaki adalah imam, sehingga sebagai perempuan harus tunduk pada laki-laki. Perempuan-perempuan yang mempunyai potensi, seharusnya disalurkanlah ke tempat yang benar dalam waktu yang benar pula.

“Aturlah diri kita sebagai perempuan yang harus bisa berfungsi dan berguna buat orang lain. Tidak usah karier kantoran seperti sayalah, ibu rumah tangga juga sebuah karier yang sangat mulia. Saya sangat respek pada ibu rumah tangga karena saya sudah mengalaminya selama lima tahun, full time hanya dirumah” kisahnya.

Saat menjadi ibu rumah tangga, Dessy merasakan bagaimana sulitnya untuk sekadar membuat menu makanan harian. Menurutnya, perempuan boleh memiliki ambisi besar tetapi harus tetap pada porsinya dan tidak terlalu berlebihan. Ukuran yang digunakan adalah rumah tangganya sendiri, sehingga ketika berhasil mengorganisasi sebuah organisasi terkecil -yakni rumah tangga- pasti akan berhasil mengelola organisasi yang lebih besar.

“Pagar dan aturannya memang harus ada, mana yang porsi laki-laki mana yang porsi perempuan. Kalau ada yang tidak pas, kan ada kompromi yang bisa kita lakukan. Kalau sudah memutuskan berkarier, kita juga harus bertanggungjawab terhadap karier kita. Tetapi jangan melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan harus benar-benar bisa mempertanggungjawabkan keduanya,” imbuh pemilik motto “Never Stop to Learn” ini.

Setiap Orang Memiliki Kelebihan

Menurut Dessy, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Pendidikan kepribadian membantu orang untuk meningkatkan nilai tambah sehingga dalam setiap kesempatan selalu terlihat lebih bernilai dan menonjol. Meskipun demikian, kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan kepribadian bukanlah sesuatu yang penting.

“Tidak belajar pun juga tidak apa-apa karena sudah ada dalam diri setiap orang. Biasanya orang malah khawatir, setelah mengikuti pendidikan di sini akan menjadi jaim dan lain-lain. Tetapi kami yakinkan bahwa kita hanya men-suggest dalam segala sesuatu. Tidak cantik atau tidak ganteng tidak apa-apa tetapi tetap percaya diri. Saya ingin menularkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita berusaha membangkitkan self control yang baik sehingga kita bisa menampilkan citra positif serta potensi diri yang kita miliki,” tandas sarjana Marketing & Communication ini.

Dalam menyikapi persaingan bisnis, Dessy menanggapinya dengan wajar. Baginya, setiap institusi memiliki segmen berbeda-beda lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Di Runway Indonesia dengan konsep yang baru serta para pengajar yang memiliki visi sama, ia yakin akselerasinya pun lebih kencang.

“Saya bilang kepada staf, kalau kita lari sudah tidak bisa direm. Kalau jatuh itu wajar, harus segera bangun dan lari lagi.Terjatuh dan segala kendala lain merupakan hal yang biasa dan bagian dari sekolah saya. Karena semua itu terkait dengan proses yang akan terus berkembang seiring dengan pengalaman,” kata perempuan yang menganggap stafnya sebagai adik-adiknya sendiri ini. “Kalau menegur pasti dalam jam kerja, diluar itu tidak saya lakukan,” tambahnya.

Istri Hendri Afrizal, SE, MM ini berharap agar lembaga yang dikelolanya menjadi lebih besar dan memiliki beberapa cabang. Dengan memiliki cabang di tempat lain, ia mampu berbagi dengan orang yang ingin mengembangkan diri. Ia juga berharap agar program pengembangan diri ini bisa masuk ke sekolah-sekolah. Untuk itu, pemerintah harus memiliki program terkait bagaimana seorang anak belajar soft skill, mengelola stress dan kepercayaan diri.

“Bidang saya kan di pendidikan, saya ingin sekali agar bidang ini tidak ketinggalan. Kenapa bisnis seperti ini laku, karena kita ini kurang pede seperti bangsa lain di dunia ini. Padahal, rasa percaya diri itu bisa ditumbuhkan dan dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Nilai-nilai yang bisa dieksplore ya harus dikeluarkan. Kita harus konsen terhadap nilai-nilai tersebut agar kita tidak ketinggalan. Jadi sekarang bagaimana caranya untuk membangun kepercayaan diri kita dengan mengeksplore apa yang ada di dalam diri kita menjadi ‘sesuatu’ yang bisa diandalkan,” kata penyuka liburan di pantai ini.

 

 
Personality School
Wajah Baru Runway Indonesia

Selama empat tahun, Runway Indonesia sudah berhasil mencetak hampir 300 talenta yang sukses menghiasi panggung mode dan layar kaca di Tanah Air. Kini, Runway Indonesia hadir dengan wajah baru sebagai Personality School.

Runway Indonesia pertama kali hadir pada 2008 dan mengambil lokasi di Jalan Boulevard Raya-Blok CN2 No. 10, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, program yang diperkenalkan lebih fokus pada dunia Modelling dan Acting. Para lulusan dari sekolah ini hampir mencapai 300 orang dan sebagian di antara mereka bersinar sebagai public figure yang membintangi beberapa sinetron dan film layar lebar. Selain itu, mereka juga sering dilibatkan untuk ikut berpartisipasi di ajang peragaan busana karya desainer papan atas.

Melihat perkembangan yang bagus setiap tahun, maka Founder Runway Indonesia yang terdiri atas Nonny Chirilda, Agung Saputra, dan Dessy Arnas yang masing-masing memiliki pengalaman di bidang modeling, talent management dan kepribadian ini, berupaya memberikan ruang yang lebih luas lagi kepada para talenta di Indonesia untuk mendapatkan ilmu Personality yang menjadi modal mereka lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain.

Saat ini Runway Indonesia memiliki konsep baru sebagai Personality School. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan setiap individu untuk bisa tampil menarik serta percaya diri, sehingga profesi apapun yang akan digeluti, akan berhasil dengan baik. Apakah itu di bidang entertainment, ataupun di bidang karir dan bisnis.

Program-program unggulan yang ditawarkan Runway Indonesia, meliputi Self Improvement, Career Enrichment, Proficient MC & Presenter, Runway Modelling, Professional Acting, Teens Clique, dan Kiddos.

Runway Indonesia menerima anak didik mulai dari tingkat anak-anak (4-10 tahun), remaja (11-16 tahun), dan dewasa (17 tahun ke atas). Mereka akan menerima materi pengajaran selama 14 sesi, dan bisa dilakukan setiap hari, seminggu dua kali, atau setiap Sabtu. Untuk setiap pertemuan akan dilakukan selama 2-3 jam.

Selain kelas regular, Runway Indonesia juga memiliki Corporate Training, dimana materi pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan dari klien atau perusahaan yang bersangkutan.

Adapun pengajar yang diberikan kepercayaan untuk berbagi ilmu Runway Indonesia adalah para praktisi yang sudah berpengalaman di bidang masing-masing. Setiap pengajar akan memberikan materi pelajaran berdasarkan tingkat usia dan kebutuhan peserta, baik itu di kelas regular atau kelas perusahaan.

Target ke depan, bahwa Runway Indonesia – Personality School dapat membantu setiap individu untuk menjadi apa yang mereka inginkan, sesuai dengan potensi yang ada didalam diri mereka. Sehingga apapun yang mereka cita-citakan dapat terwujud dengan baik.

-Run your Way to Success with Runway Indonesia-

Jacob Jack Ospara, M.Th

No Comments

Jacob Jack Ospara, M.Th
Anggota DPD Provinsi Maluku

Mengajak Rakyat Maluku Bersama-sama Membangun Bangsa

Kalau ada yang melenggang ke Senayan bukan untuk mencari uang, Jacob Jack Ospara, M.Th adalah orangnya. Karena sebagai senator anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Maluku, sangat memungkinkan untuk menggelembungkan pundi-pundi uangnya.

Sebaliknya yang dilakukan Jack –sebutan akrab baginya- adalah tetap menjaga dan melindungi idealismenya yang ditawarkan saat kampanye pemilihan senator, yakni dengan menyuarakan jeritan hati rakyat Maluku yang meskipun sudah 64 tahun bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Pembangunan baik yang dilakukan pemerintahan Orde Baru maupun Reformasi belum dapat menjawab realitas dan pergumulan rakyat Maluku.

Menurut Jack, dalam kampanye pemilihan, ia tidak menyuruh rakyat untuk memilih dirinya, tetapi mengajak rakyat untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara dengan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang sejahtera dan berkeadilan.

Jack merasa apa yang dilakukan wakil rakyat sekarang –baik di DPR maupun DPD- mengagung-agungkan ungkapan “vox populi vox dei”. Ungkapan yang berarti suara rakyat suara Tuhan yang sering diteriakkan saat kampanye tersebut, dipandang sinis olehnya. Bagi Jack, ungkapan tersebut hanya slogan belaka karena dipakai untuk memobilisasi massa dan merangsang semangat rakyat pemilik hak suara. Namun, segera setelah berhasil duduk sebagai anggota dewan yang terhormat mrg dengan serta merta menafikan kepentingan rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan keluarga, kelompok atau golongan masing-masing.

Lembaga legislatif yang seharusnya berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah dalam menyusun dan membuat kebijakan semakin mudah ditawar dan dikendalikan. Hal inilah yang bagi kalangan LSM, media dan pengamat politik yang kritis menjuluki lembaga legislatif sebagai “tukang stempel”, akibat mereka sering meloloskan kebijakan-kebijakan yang tidak humanis dan pro rakyat.

“Negara kita dalam keadaan sakit, baik mental maupun moral. Sebagian besar dari kita sudah kehilangan sense of crisis dan cinta kasih kepada bangsa dan negaranya. Banyak dari mereka yang telah mengubah jubah dan singgasananya sebagai wakil rakyat serta melupakan khittah kemanusiaannya. Mereka menjadi seperti serigala-serigala politik yang hanya mengandalkan kekuatan, tidak ada nurani, tidak ada akal sehat, bahkan tak peduli yang kuat itu lacur. Mereka tidak lagi peduli pada kepentingan rakyat jelata yang hampir sebagian besar masih berkutat dengan masalah perut,” ujarnya.

Jack Ospara terpanggil untuk mengabdikan diri berbekal pengalaman dan ilmu pengetahuan yang sudah dialaminya selama puluhan tahun. Pengabdian dan perhatiannya yang sangat besar terhadap tanah leluhur itulah yang mengantarkannya menjadi seorang wakil rakyat utusan daerah atau anggota DPD-RI. “Saya hanya mengemukakan apa yang terbaik untuk dilaksanakan di negeri ini. Sesuai dengan visi saya, Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih,” imbuhnya.

Menurut Jack Ospara, ada empat macam kasih yang mendasari kondisi tersebut. Yakni kasih Agape yang merupakan kasih tanpa syarat dan sanggup berkorban untuk sesama. Artinya dalam membantu tidak boleh membeda-bedakan agama, suku atau ras. Kasih agape adalah cinta kasih pemberian Tuhan yang paling hakiki.

Kedua adalah kasih Eros, yakni kasih yang dilandasi nafsu seperti keindahan, kekayaan, kecantikan dan lain-lain yang mengandung unsur kenikmatan di dalamnya. Ketiga adalah kasih Filos yakni filosofi, mengasihi dan mencintai teman. Keempat adalah kasih Storgos, yakni kasih yang memiliki ikatan yang erat seperti antara kasih orang tua.

“Ketiga kasih –Eros, Filos dan Storgos- tidak memiliki kekuatan penghubung relasi antar manusia dalam keluarga dan masyarakat bila tidak diikat dengan Agape. Tanpa kasih Agape, akan sulit membangun kebersamaan, persaudaraan, pertemanan dan kesesamaan dengan orang lain. Ini artinya bahwa kalau mau mengasihi rakyat Maluku ya harus mencintai Maluku. Mau membangun Indonesia ya harus mencintai rakyat Indonesia,” tegasnya.

Belajar, Belajar dan Belajar

Menurut Jacob Jack Ospara, M.Th., ketertarikan untuk terjun memperjuangkan suara rakyat Maluku telah terasah dan terbentuk karena keyakinan pada agama yang dianutnya. Dalam ajaran Kristen, kasih Agape Tuhan Yesus mengasihi setiap orang tanpa memandang agama, suku atau ras. Bahkan bila dalam gereja dibentuk apa yang disebut sinode dalam organisasinya, itu mengisyaratkan semua elemen; para pendeta, tua-tua, maupun anggota jemaat, wajib berjalan bersamaan, bergandengan tangan melayani, mengasihi dan berbuat sesuai karunia Tuhan memlihara dan mempertahankan kehidupan manusia dan masyarakat.

“Sinode berasal dari dua kata Yunani ‘sun’ artinya bersama-sama dan ‘nodes’ yang berarti jalan. Sinode atau ‘sunnodos’ artinya semua warga gereja berjalan bersama-sama dan melayani bersama. Tahun 1974 saya diangkat sebagai Sekretaris Departemen yang membidani pendidikan, penanganan pembangunan dan kesejahteraan sosial. Penerjemahan tugasnya mengarah pada manajemen pembangunan yang menggabungkan teologi dan masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Realisasi dari karya Tuhan itu harus diwujudkan tidak hanya di rumah namun juga di masjid, gereja, rumah sakit, dan lain-lain,” tandasnya.

Jack adalah orang pertama, pada tahun 1975 yang menggagas pembentukan organisasi persatuan gereja rakyat Maluku. Untuk keperluan itu ia mengundang istri Menhan/Pangab RI, Ibu Yohanna Nasution dan Ibu Sri Sudarsono (adik BJ Habibie) ke Ambon untuk melihat dan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan rakyat Maluku.

Kepada mereka Jack menjelaskan bahwa kondisi susah yang dialami tersebut tidak pandang agama. Penganut agama Kristen, sama-sama menderita seperti saudara-saudaranya yang beragama Islam. Begitu juga sebaliknya, kondisi umat Muslim pun tidak jauh berbeda. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah membedakan manusia, hanya manusia sendiri yang mengkotak-kotakkannya.

“Yang namanya kelaparan, kemiskinan tentunya dapat terjadi oleh semua umat manusia, tidak ada perbedaan agama baik Kristen, Muslim, Hindu, Budha, tidak juga ada pembedaan ras tionghoa, kulit hitam, Asia, Eropa dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah kemanusiaan itu sifatnya universal, kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, penderitaan karena konflik dapat terjadi dan dialami oleh semua lapisan masyarakat. Namun, dibalik semua itu bahwa orang yang memaknai dan memahami agama secara baik tidak akan terjebak dalam fundamentalisme agama dan primordialisme yang kebablasan,” kata murid ulama besar Buya Hamka ini.

Jack yang berkawan karib dengan pemikir Islam Indonesia, almarhum Nurcholis Madjid ini memberikan ajaran kepada generasi muda untuk terus belajar dan tidak pernah berhenti menjadi manusia pembelajar. Dengan mempelajari segala hal, baik formal, informal dan mengacu pada pengalaman di masyarakat generasi muda akan memperoleh bekal yang baik untuk kehidupannya sendiri. Kalau itu yang terjadi maka bangsa Indonesia sendiri sangat beruntung memiliki generasi muda yang bermutu untuk memperbaiki kondisi sekarang.

“Pesan saya kepada generasi muda hanya satu, yakni belajar, belajar dan belajar. Belajar baik secara formal, informal dan pengalaman di masyarakat. Karena apa, hanya dengan belajar kita bisa membentuk diri kita sebagai pribadi yang baik. Setiap peristiwa yang dialami adalah kesempatan yang baik untuk belajar. Mengenal orang dari berbagai suku dan agama adalah pengalaman yang baik,” ujarnya.

Sekilas Jacob Jack Ospara

Jacob Jack Ospara lahir di Nuwewang, 18 Mei 1947, dari pasangan Hosea Ospara dan Isabela Lepit. Kehidupan pedesaan di perbatasan wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya dan wilayah Timor Leste membuat “blue print” tentang kehidupan marginal yang dialami manusia terpatri abadi dalam pikirannya. Spirit untuk memerangi perlakuan diskriminatif tersebut kemudian mewarnai perjalanan hidup ayah tiga anak Maya, Hoberth dan Ari hasil perkawinannya dengan Maria Itje Wenno tersebut.

Meskipun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas III Sekolah Rakyat (Volks School), namun tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putranya. Maka ketika berumur enam tahun, Jack bersekolah di SR GPM Nuwewang dan dilanjutkan ke SMP Negeri Wonreli, Pulau-Pulau Kisar. Di sini pula, pemikiran-pemikiran Jack semakin terasah. Pergaulannya yang luas dengan pemahaman terhadap dan pengenalan terhadap adat istiadat, bahasa dan budaya daerah lain menjadi dasar pembentukan kepribadiannya.

Jack yang semasa sekolah tidak dibiayai orang tua justru tidak merasa miris, bahkan sebaliknya hal tersebut menjadi semangat baginya untuk tetap berdaya hidup. Dalam proses panjang kehidupannya, secara sadar ia mengakui bahwa karakter kebangsaan dan kepribadiannya tidak lepas dari peran serta tiga orang polisi dengan latar belakang dan budaya berbeda yang ikut membiayai sekolahnya.

Proses pembentukan kepribadian itu semakin terlihat ketika Jack meneruskan sekolah di SMA Negeri 2 Ambon tahun 1963-1966. Gejolak politik tanah air terkait adanya perjuangan pembebasan Papua (Irian Barat waktu itu) dengan Trikora serta penumpasan pemberontakan PKI, semakin memotivasi semangat kebangsaannya. Ia aktif kegiatan sosial politik yang dikoordinir oleh organisasi-organisasi yang bersifat nasional seperti GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indonesia). Jack juga aktif melakukan dialog intensif dengan siswa-siswa yang tergabung dalam GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia).

Masa SMA yang penuh pergolakan untuk mempertahankan eksistensi Negara Indonesia dari rongrongan PKI ditutup Jack dengan meneruskan pendidikan seperti yang dicita-citakannya, menjadi Pendeta. Di sisi lain, ia sebenarnya juga terpanggil untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa dengan mengikuti wajib militer sukarela. Namun, setelah melalui perenungan yang dalam, cita-cita masa kecilnya lebih kuat memanggil. Jack kemudian meneruskan kuliah di Institut Teologi Gereja Protestan Maluku tahun 1967. Dua tahun kemudian, Jack dikirim ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Semasa mahasiswa, Jack Ospara adalah aktivis yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dengan sikap yang militant. Ia bahkan menjadi anggota Dewan Mahasiswa dan aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Ambon. Saat kuliah di STT Jakarta, Jack juga menjadi anggota Dewan Mahasiswa di kampus tersebut. Pada kesempatan inilah ia berkesempatan untuk melakukan dialog intesif dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Pancasila, Universitas Kristen Indonesia, STTF Driyarkara dan SAIN Syarief Hidayatullah. Aktivitas inilah yang mempertemukannya dengan Prof. DR. Hamka dan Nurcholis Madjid, dua sosok pemikir Islam terkemuka Indonesia.

“Pengalaman tersebut telah memperkaya sekaligus memperluas wawasan saya. Ini sangat berguna ketika saya menjabat di Gereja Protestan Maluku dan mengabdi di tengah masyarakat. Karena saya harus berhubungan dengan berbagai kalangan dalam lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas Jacob Jack Ospara, M.Th:

⦁    Pendiri Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) Daerah Maluku (tahun 1971)
⦁    Pendiri Badan Koordinasi Kegiatan Masyarakat Kesejahteraan Sosial Provinsi Maluku
⦁    Pendiri Yayasan Bina Asih Leleani Ambon (tahun 1983)
⦁    Aktif menjadi Pengurus Pusat SOIna (Special Olympics  Indonesia) sebagai Sekretaris Jenderal (2006-sekarang)
⦁    Aktif di bidang Pendidikan Kristen sebagai Ketua III Majelis Pendidikan Kristen seluruh Indonesia
⦁    Ketua FKKFAC Provinsi Maluku (tahun 2006-sekarang) dan Penasehat HWPCI Provinsi Maluku (tahun 2007-sekarang)
⦁    Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Provinsi Maluku (tahun 1998 – sekarang)
⦁    Pekerjaan di gereja dan Perguruan Tinggi
1.    Pendeta/Penghentar Jemaat GPM di Saparua Tiouw (1973-1974)
2.    Sekretaris Klasis GPM PP Lease (1974-1975)
3.    Sekretaris Departemen Diakonia/Anggota Badan Pekerja Sinode GPM (Masa Bhakti 1974-1976 [1982])
4.    Wakil Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1982-1986)
5.    Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1986-1990)
6.    Dosen Fakultas Filsafat UKIM Ambon (tahun 1990 – sekarang)
7.    Pendiri dan Pimpinan Lembaga Kesejahteraan Anak dan Keluarga Inahaha (tahun 1983-1990)
8.    Dosen Agama Kristen pada FKIP Unpatti Ambon dan PGSLP Ambon (1977-1988)
9.    Penyuluh Agama Kristen di Lingkungan Bidang Bimas Kristen Kanwil Depag Provinsi Maluku (1976-1986)
Setelah terpilih sebagai Anggota DPD Provinsi Ambon, Jacob Jack Ospara berkomitmen untuk membangun daerah dan masyarakat Maluku dengan mengedepankan Visi dan Misi, yaitu:

Visi
Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih

Misi
1.    Memperjuangkan pemanfaatan sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya alam (natural resources) guna mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
2.    Mengawal implementasi yang konsisten dan konsekuen semua perundangan dan peraturan negara guna menjamin pembangunan berbagai sektor berlangsung dengan transparan, akuntabel dan berkesinambungan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat
3.    Memperjuangkan terwujudnya otonomi khusus bagi Maluku sebagai Provinsi Kepulauan yang memiliki karakteristik laut – pulau
4.    Memperjuangkan pengamalan nilai-nilai dasar Pancasila sebagai Falsafah Hidup bangsa Indonesia serta penyelenggaraan negara berdasarkan UUD 1945 secara fleksibel, dengan memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat
5.    Memperjuangkan terbukanya komunikasi sosial, politik dan kemasyarakatan antara pemerintah pusat dan daerah serta menjamin tetap tumbuhnya iklim demokrasi yang memungkinkan aspirasi daerah dan wilayah dihormati, dihargai serta diwujudkan dengan adil dan transparan.

Surungan Sitorus

No Comments

Surungan Sitorus
Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Memberikan Pelayanan Terbaik Bagi Nasabah

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondisi masyarakat menengah ke bawah di Indonesia masih memprihatinkan. Meskipun memiliki produktivitas yang bisa meningkatkan kesejahteraan, tetapi banyak kendala yang menghalangi. Yang mana, apabila potensi yang mereka miliki dapat dikembangkan, selain meningkatkan kesejahteraan juga membuka lapangan kerja.

Ironisnya, kendala yang menghalangi pengoptimalan produktivitas kalangan tersebut berasal dari birokrasi sektor perbankan yang bertele-tele. Padahal, kehadiran sektor perbankan sangat diperlukan untuk permodalan yang mereka perlukan agar produktivitas semakin meningkat. Akibatnya, banyak di antara masyarakat menengah ke bawah yang enggan berhubungan dengan pihak bank.

“Itulah yang memotivasi saya dalam menekuni pekerjaan ini. Keengganan masyarakat untuk bekerja sama dengan bank, membuat saya berpikir harus menekuni profesi ini. Saya harus mampu memberi pelayanan terbaik bagi nasabah, sehingga mereka akan memilih perusahaan yang saya pimpin untuk mengembangkan usaha,” kata Surungan Sitorus, Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda.

Selain itu, motivasi lain yang meningkatkan semangat Sitorus dalam menekuni usaha ini adalah cita-cita masa kecilnya. Saat masih berada di desa Parsambilan, Kecamatan Silaen Kabupaten –Tobasa, ia bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang perbankan. Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, setelah lulus SMA 5 Medan tahun 1985, ia menempuh pendidikan D3 di Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia melengkapinya dengan melanjutkan S1 pada Jurusan Manajemen, FE STIE Labuhan Batu.

Meskipun demikian, pria kelahiran 11 Desember 1966 ini, merasa belum puas dengan raihan prestasi selama ini. Sitorus yakin, dengan dukungan dari seluruh komponen terkait dari ruang lingkup perusahaan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik. “Saya yakin dengan profesi yang saya tekuni memiliki kesempatan untuk melahirkan prestasi yang lebih baik lagi. Asalkan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen di perusahaan ini,” tandas pria yang menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di kampung halamannya ini.

Dalam menjalani profesi, Sitorus tidak lepas dari perasaan suka dan duka. Seperti juga manusia lain, dalam berkarier masalah tersebut ditambah kendala harus dihadapinya. Ia berbagi pengalaman bahwa perasaan suka biasanya akan datang kalau mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan hasil memuaskan.

“Duka saya adalah ketika karyawan terbaik saya cuti atau sakit padahal tenaganya sangat dibutuhkan. Sedangkan kendala, seperti juga masalah yang dihadapi dunia perbankan lain adalah kredit bermasalah. Apalagi kalau jumlahnya besar dan susah ditagih,” tandasnya.

Sitorus memiliki obsesi untuk mewujudkan impian agar perusahaan dibawah pimpinannya menjadi pilihan dan solusi terbaik bagi masyarakat Labuhan Batu Utara dan sekitarnya. Untuk itu, ia telah menyusun rencana agar pelayanan perusahaan kepada masyarakat semakin meningkat dan tampil menjadi yang terbaik. “Kita harus bekerja lebih professional, supaya mampu menaikkan kepercayaan masyarakat untuk bermitra dengan perusahaan,” tambahnya.

Menyiapkan Pengganti

Surungan Sitorus merasa sangat terbantu dengan peran pemerintah terhadap profesi yang digelutinya. Meskipun secara institusi pemerintah memberi dukungan yang sangat besar, tetapi ruang gerak BPR sangat terbatas. Karena secara struktural perusahaan seperti BPR dibawah pimpinannya memiliki posisi setingkat di bawah bank konvesional.

“Pemerintah, melalui Bank Indonesia melakukan pengawasan rutin satu kali dalam satu tahun. Sebagai pimpinan perusahaan, saya mendapat ilmu dan pengalaman dari pengawasan tersebut. Semua itu bisa langsung saya aplikasikan di perusahaan melalui pimpinan setingkat middle manager, dibawah jenjang saya,” tuturnya.

Menurut Sitorus, peran besar BPR di tengah-tengah masyarakat saat ini harus diakui. Karena BPR telah menjadi solusi terbaik bagi pelaku produksi/usaha yang ingin mengembangkan usahanya, tetapi terganjal oleh ketatnya persyaratan yang ditetapkan oleh bank lain (The five C’S on Credit). “Dengan demikian, BPR telah berkiprah di tengah masyarakat karena syarat-syarat pinjaman yang relatif mudah. Ini sesuai dengan fungsi BPR untuk pertama menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito. Kedua memberikan pinjaman kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai orang yang matang dan besar dalam usaha BPR, Sitorus bertekad untuk terus mengabdikan diri dan menggeluti profesi yang dicintainya tersebut. Ia akan “berhenti” ketika sudah mampu mengkader “sahabat-sahabat-nya” – karyawan maupun karyawati perusahaan- menjadi top leader untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan yang telah dicanangkannya.

Secara khusus, Sitorus telah mempersiapkan langkah-langkah kaderisasi dan regenerasi, sebagai berikut:

Menerapkan prinsip keteladanan, sehingga tim yang dipimpinnya mampu menangkap pelajaran dari contoh yang diberikan pimpinannya tanpa harus berteori panjang lebar
Bagi karyawan atau karyawati potensial, diberi pelatihan baik berupa keterampilan dasar maupun keterampilan manajerial. Seperti pada bulan Juli lalu, sebanyak 12 orang Pimpinan Cabang dan Karyawan telah mengikuti Training Off Management di Hotel JW Mariott Medan dengan instruktur dari Jhon Robert Power (JRP) Jakarta
Sebagai pimpinan, tak segan-segan ia memberi reward bagi karyawan atau karyawati terbaik, sebagai motivasi agar selalu bekerja sungguh-sungguh dan menunjukan prestasi dan kinerja terbaik

“Untuk menyerap informasi yang lebih actual, saya memberi fasilitas berlibur bersama Keluarga Besar BPR Mangatur Ganda. Dengan demikian, keakraban antar karyawan, pimpinan dan keluarganya lebih terjalin. Nah, disela-sela liburan saya bisa melakukan komunikasi lebih intensif, sehingga saya mampu mengenali karakter sahabat-sahabat saya itu, siapa saja yang layak diberi kepercayaan untuk memimpin. Sebab bagi saya, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mencetak calon pemimpin berikutnya tanpa ada rasa tersaingi,” ungkapnya.

Sebelum Patah Sudah Tumbuh

Menurut pengamatan Surungan Sitorus, ada beberapa catatan mengenai generasi muda zaman sekarang. Pertama, ia merasa sangat prihatin melihat gaya hidup generasi muda yang mengadopsi gaya hidup penuh hura-hura dan kurang tekun dalam belajar/pendidikan. Selain itu, generasi muda juga cenderung bangga dengan pola hidup mereka yang sangat konsumtif.

Sitorus, mencontohkan bagaimana generasi muda sekarang tergila-gila dan bangga menggunakan sarana komunikasi canggih, Blackberry. Padahal, sejatinya mereka hanyalah diperbudak oleh produk-produk semacam itu. Karena di negara asalnya, penemu Blackberry masih belum puas dengan pencapaian mereka untuk menguasai dunia. Apalagi belakangan terjadi aksi boikot di beberapa negara akibat pembatasan RIM (Research in Motion), produsen Blackberry tersebut.

Disisi lain, Sitorus juga bangga dengan prestasi yang ditorehkan anak-anak muda bangsa ini. Seperti keberhasilan kelompok mahasiswa ITS Surabaya menjuarai ”Festival Mobil Hemat Energi” di Malaysia beberapa waktu lalu. Bahkan di bidang olimpiade science, pelajar Indonesia berkali-kali meraih medali emas, perak, dan perunggu.

“Dengan kondisi tersebut, saya masih mempunyai keyakinan bahwa mereka mampu membawa ‘Tongkat Estafet’ kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Hal ini dapat dicapai dengan lebih menitikberatkan pada peran ‘Generasi yang lebih tua’, yaitu dengan memberi mereka keteladanan. Mari kita rangkul mereka supaya komunikasi lebih lancar karena ‘Satu aksi lebih dari seribu teori’. Begitu,” katanya.

Sitorus sangat yakin bahwa bangsa Indonesia bisa memercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Asalkan dengan bimbingan, dukungan dan perhatian penuh dari generasi sekarang, mereka mampu menjadi nakhoda bangsa ini. Di sisi lain, generasi tua harus mampu menstranfer ilmu, akhlak dan moral yang dimiliki. Demi generasi muda, mereka harus mampu menahan diri untuk tidak korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), anarkisme dan hal-hal buruk lainnya.

“Generasi tua pasti akan berlalu seiring waktu, maka mari kita mempercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Kalau perlu kita ubah peribahasa lama, ‘patah tumbuh hilang berganti’ menjadi ‘Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti’,” tegasnya.

Sedangkan kondisi Indonesia sendiri, menurut prediksi Sitorus, masih akan mengalami krisis ekonomi sekali lagi. Pendapat ini dilandasi dengan situasi global seperti terjadinya bencana di berbagai negara yang menyebabkan kenaikan harga pangan dunia akibat kegagalan panen dan rusaknya infrastruktur. Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang kontra produktif seperti konversi minyak tanah ke gas, pengumuman kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil tangal 16 Agustus 2010, dan lain-lain, semua bermuara pada satu hal yaitu kenaikan harga-harga.

“Indonesia akan kembali dihantam krisis ekonomi babak kedua setelah tahun 1997. Tetapi dengan kondisi sekarang, Indonesia masih bisa tertata dengan baik meskipun dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak. Bidang yang harus diproritaskan adalah sektor riil yang benar-benar ‘Bersentuhan dengan masyarakat yaitu pelaku ekonomi kelompok menengah dan kecil’,” tuturnya.

Sitorus telah membuktikan bahwa sektor ekonomi kelompok kecil dan menengah terbukti mampu bertahan di tengah krisis ekonomi. Ia mengingatkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar bertumbangan pada saat krisis moneter 1998, tetapi tidak berarti apa-apa dengan ekonomi kelompok kecil dan menengah yang mampu bertahan dengan baik.

“Semangat itu harus dimiliki oleh generasi muda untuk tetap bertahan di tengah deraan krisis. Pesan saya, raih kesempatan di masa muda, belajarlah dengan sungguh-sunguh, bertemanlah dengan seluruh lapisan masyarakat, gunakan mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkan masa sehat sebelum masa sakit, TAKE THE CHANCE,” kata pria yang berharap pemerintah memberi kemudahan untuk perijinan membuka usaha penukaran uang (Money Changer) ini. “Karena hingga hari ini, belum dapat terwujut selama BPR berdiri di Labuhan Batu Utara,” tambahnya.

Sitorus sangat bersyukur, dalam menjalani pekerjaan mendapat dukungan sepenuhnya dari keluarga. Anak dan istrinya sangat memahami profesi yang ditekuninya dengan menunjukkan sikap positive thinking meskipun ia sering terlambat pulang ke rumah. Sambutan keluarga tetap hangat karena mereka memahami apa yang dikerjakan oleh ayah dan suaminya untuk kepentingan mereka juga.

“Begitu sampai di depan pintu, anak-anak berebut membawa tas kerja sedangkan si ibu menyediakan air minum untuk saya. Karena anak-anak baru beranjak dewasa, sehingga belum terlihat apakah mereka berminat pada profesi saya atau tidak. Untuk memotivasi mereka saya berusaha menanamkan pengertian, bahwa hanya dengan ketekunan, kerja keras dan kejujuran kita akan menjadi orang sukses. Apabila anak meminta sesuatu, saya tidak langsung memberikan, tetapi saya beri tugas terlabih dahulu. Misalnya memijat kaki dengan hitungan sampai 50 kali, supaya mereka paham bahwa segala sesuatu diperoleh melalui sebuah upaya,” tegasnya.

Biodata singkat

Nama : Surungan Sitorus
Tempat tanggal lahir: Tobasa, 11 Desember 1966
Pekerjaan: Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Riwayat pendidikan:
SD Negeri Parsambilan, tahun 1978
SMP Negeri Silaen, tahun 1982
SMA Negeri 5 Medan, tahun 1985
D3 Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Strata 1, STIE Labuhan Batu – Ekonomi/Manajemen

Riwayat Pekerjaan
Tahun 1989 – Marketing koperasi simpan pinjam (selama 2 tahun)
Tahun 1991 – Marketing BPR Mangatur Ganda
Tahun 1996 – Pimpinan Cabang PT BPR DIORI GANDA, Indra Pura – Asahan (SUMUT)
Tahun 1997 – Pimpinan Cabang PT BPR MANGATUR GANDA, Cabang Aek Nabara Labuhan Batu SUMUT
Tahun 1998 – Direktur Operasional PT BPR Mangatur Ganda, Aek Kanopan Labuhan Batu Utara
Tahun 2000 – Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda s/d sekarang

Ir. Sanjaya Aryatnie

No Comments

Ir. Sanjaya Aryatnie
Presiden Direktur PT Erakarya Konstruksi Nusantara

Sukses Tidak Lahir dari Kebetulan dan Keberuntungan

Setiap kesuksesan yang berhasil diraih seseorang, pasti melahirkan kekaguman bagi orang lain. Kesuksesan akan menginspirasi orang lain untuk mencapai prestasi serupa meskipun dengan cara yang berbeda. Karena sebuah kesuksesan tidak bisa diraih begitu saja tetapi memerlukan perjuangan dan kesabaran untuk mewujudkannya.

“Kami senantiasa berkomitmen menjunjung tinggi dan meyakini bahwa sebuah sukses lahir bukan karena kebetulan atau keberuntungan semata. Sebuah sukses terwujud karena diikhtiarkan melalui perencanaan yang matang, kerja keras, keuletan disertai dengan niat baik dan kejujuran,” kata Ir. Sanjaya Aryatnie, Presiden Direktur PT Erakarya Konstruksi Nusantara.

Komitmen seperti itulah yang menjadikan perusahaan miliknya, PT Erakarya Konstruksi Nusantara melangkah maju. Perusahaan memperoleh kepercayaan yang luas di kalangan pengusaha dari seluruh Indonesia. Terutama dalam menangani proyek-proyek milik para pengusaha tersebut di Medan, Sumatera Utara. Adapun proyek-proyek yang ditangani EKK Nusantara adalah proyek basement, rumah tinggal, Fisik Perkantoran – Klinik – Sekolah, pabrik/gudang, tower konstruksi baja, jembatan timbang & girder crane, silo dan pekerjaan tanah; cut and fill.

Awal pendirian perusahaan, jelasnya, berlandaskan pengalaman sebagai sarjana Teknik Sipil dari Universitas HKBP Nommensen tahun 1989. Selama enam tahun, ia berpengalaman sebagai pelaksana pemborongan pekerjaan interior dan rumah tinggal di Medan dan sekitarnya. Setelah merasa memiliki bekal yang cukup –ia juga berpengalaman sebagai guru- pada tahun 1996, ia mendirikan PT Erakarya Konstruksi Nusantara. Perusahaan kontraktor ini bergerak di bidang struktur beton, struktur baja dan pemancangan.

“Dengan didukung peralatan kerja dari alat berat berupa excavator, dump truck, derek tadano, mesin pancang hydraulic pressing system serta alat-alat pendukung lainnya, perusahaan mendapat kepercayaan dari kalangan pengusaha. Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan serta kerjasama yang terjalin dengan baik ini. Semoga segalanya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya dan selalu dalam sentuhan kasih sayang Tuhan Yang Maha Kuasa,” ungkapnya.

Menjadi Guru

Ir. Sanjaya Aryatnie tidak serta merta memiliki perusahaan kontraktor seperti sekarang ini. Perlu perjuangan dan upaya sungguh-sungguh untuk merintis karier yang membawa kesuksesan seperti sekarang. Berbagai profesi pernah ditekuni oleh pengusaha penganut Buddha yang taat ini.

“Saya berangkat dari bekal menjadi guru. Lalu mencoba joint usaha dengan dua teman kuliah. Tetapi pada pertengahan tahun 1989 saya keluar dan berangkat menuju Jakarta. Tujuan saya untuk bekerja dan menetap di ibukota,” katanya.

Namun, baru beberapa hari di Jakarta salah seorang pemilik rumah meneleponnya. Pemilik rumah tersebut memberikan kesempatan pekerjaan untuk membangun rumahnya di Medan. Padahal saat itu, Sanjaya sudah sampai pada taraf interview di sebuah perusahaan terkenal. Setelah berdiskusi dengan seorang teman yang belakangan menjadi istrinya, ia membatalkan interview dan bertolak ke Medan.

“Dorongan dari calon istri membuat saya tidak ragu kembali ke Medan untuk menemui pemilik rumah tersebut. Hebatnya, beliau tambahkan lima juta lebih besar dari tawaran salah satu kontraktor ternama di Medan, sambil berpesan yang penting rumahnya dikerjakan dengan baik. Ini benar-benar luar biasa dan sungguh merupakan anugrah dari Tuhan yang luar biasa,” kisahnya.

Pada saat memasuki tahap pembangunan rumah tersebut, Sanjaya banyak dikenalkan dengan rekan-rekan bisnis pemilik rumah tersebut. Hal inilah yang menjadi titik terang perjalanan bisnisnya berawal. Satu demi satu rekan bisnisnya mempercayakan pembangunan maupun renovasi rumah tinggal mereka kepada Sanjaya. “Memasuki tahun 1996, mulai ada tawaran membangun gudang maupun perbaikan pabrik-pabrik.  Saya berpikir agar bisa berkembang dengan baik dan lebih dipercaya, maka saya membuka perusahaan dengan nama PT. Erakarya Konstruksi Nusantara,” tegasnya.

Setelah mempunyai wadah sendiri berupa PT Erakarya Konstruksi Nusantara, Sanjaya merasa semuanya berjalan dengan baik.  Agar memperoleh lebih banyak pekerjaan, ia bekerja sama dengan meminta bantuan beberapa pegawai Tatakota Medan yang dikenalnya. Ia meminta informasi mengenai nama dan alamat para pemohon IMB yang masuk ke kantor tersebut. Dari data yang diperolehnya, ia kemudian menghubunginya  satu persatu sehingga semakin banyak job yang diperolehnya.

“Saya juga sempat terpuruk saat krisis moneter 1998. Proyek-proyek menjadi sangat mahal akibat melambungnya harga bahan baku. Sementara saya sudah terlanjur tanda tangan proyek yang saya kerjakan. Memang ada orang yang mau bertoleransi dan mengoreksi anggaran dan menambah biaya bahan bakunya. Tetapi ada juga yang tidak mau dan bahkan memenjarakan saya,” imbuhnya.

Sanjaya mengisahkan bagaimana saat itu dipercaya membangun sebuah pabrik yang terletak di dataran yang sangat rendah. Lahan pembangunan pabrik harus ditimbun setinggi tiga meter lebih yang dikerjakan oleh pihak lain. Namun akibat krisis, penimbunan dihentikan sehingga lokasi yang seharusnya untuk pembangunan pabrik dibiarkan terlantar begitu saja sehingga biaya semakin membengkak.

Apalagi dengan kenaikan bahan baku yang meroket, Sanjaya terpaksa mengajukan koreksi anggaran. Karena dengan biaya yang lama, ia jelas tidak mampu melanjutkan pembangunan pabrik tersebut. Tetapi pemilik pabrik tidak bergeming untuk menambah dana bahkan mengadukan Sanjaya ke Laksus di Gaperta Medan. Pemilik pabrik bahkan meminta dirinya untuk ditahan selama tiga hari. Tidak puas sampai di situ, pemilik pabrik bahkan mengadukannya ke Polsek Percut Sei Tuan.

Sanjaya dipanggil, diperiksa dan diputuskan untuk menahan dirinya selama 20 hari. Ia kemudian meminta bantuan seorang pemilik pabrik seng kenalannya dan membantunya sehingga tidak ditahan. Pesan dari temannya tersebut adalah ia harus berhati-hati karena pemilik pabrik mengenal dengan baik Kapolri saat itu. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang dengan baik, beberapa hari kemudian ia mendatangi rumah pemilik pabrik. Ia menyatakan kesanggupannya untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

“Saya mohon ditambah, berapapun saya terima. Akan tetapi setelah selesai, jangankan ditambah, malah sisa termin sebesar 5% juga tidak dibayar sampai saat ini. Belajar dari pengalaman pahit ini, banyak sekali hikmahnya dan berlanjut waktu ke waktu pekerjaan terus berdatangan dan berjalan dengan baik, sampai dengan tahun 2009, saya mendirikan satu perusahaan baru yang bergerak khusus dibidang Pondasi yaitu PT Jaya Pondasi Nusantara,” tambahnya.

Pesaing adalah Partner

Setelah berhasil lolos dari hantaman krisis moneter, Ir. Sanjaya Aryatnie sebagai pemilik PT Erakarya Konstruksi Nusantara semakin maju. Meskipun persaingan yang dihadapinya sangat ketat, namun berbekal kemampuan dan strategi yang baik, perusahaan mampu bertahan. Bahkan di era globalisasi sekarang pun, dominasi perusahaan di Medan dan sekitarnya tak tergoyahkan mengalahkan para pesaingnya.

“Pesaing adalah partner kerja kita. Pesaing juga barometer untuk saling koreksi dan sebagai pembanding atas kinerja kita. Yang lebih baik dan menonjol di perusahaan lain, harus kita akui lebih baik. Jangan ada keraguan serta malu mengakuinya, makanya kita harus belajar dan segera menerapkan pola serupa ke perusahaan saya,” kisahnya.

Sanjaya mengungkapkan bagaimana teknik untuk memperkenalkan perusahaan lewat agenda yang pasti. Seperti pada acara menyambut tahun baru, perusahaan selalu mengambil kesempatan. Salah satunya adalah mengirimkan kartu ucapan selamat tahun baru sekaligus profil perusahaan. Di situ juga, ia menyisipkan penawaran kerjasama kepada perusahaan tersebut dengan pertimbangan momen tahun baru universal dan dirayakan oleh semua orang.
Menurut Sanjaya, perusahaan miliknya memiliki visi dan misi yang jelas. Adapun visi PT Erakarya Konstruksi Nusantara adalah “Memajukan perusahaan PT Erakarya Konstruksi Nusantara dan menjadikannya sebagai perusahaan yang handal dan dikenal luas sebagai Perusahaan yang jalannya lurus & jujur.” Sedangkan misi PT Erakarya Konstruksi Nusantara adalah mendidik tenaga yang handal di bidang Teknik Sipil dan Arsitektur yang merupakan asset bangsa, serta menciptakan lapangan kerja yang luas.

Ke depan, Ir. Sanjaya Aryatnie merancang program baik jangka panjang maupun jangka pendek. Program jangka pendek PT Erakarya Konstruksi Nusantara adalah menjalankan semua program yang sudah berjalan dengan baik. Sedangkan program jangka panjang adalah setelah adanya PT. JAYA PONDASI NUSANTARA, diharapkan dapat dilanjutkan dengan Perusahaan pendukung lainnya dibidang readymix lengkap dengan usaha galian C berupa pasir  & stone crusher.

“Saya juga berkeinginan mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang ready mix lengkap dengan usaha penggalian C berupa pasir dan batu untuk saling mendukung dengan perusahaan yang sudah ada. Saya berharap ke depan, PT Erakarya Konstruksi Nusantara dapat bersaing di pasar yang semakin ketat persaingannya dengan menguasai produk dari hulu sampai ke hilir,” tandasnya.

Hingga puluhan tahun pengabdiannya, PT Erakarya Konstruksi Nusantara miliknya telah memberikan berbagai penghargaan bagi Ir. Sanjaya Aryatnie. Tahun 2010, perusahaan berhasil meraih penghargaan dengan kategori “Best Construction of The Year” – “International Good Company Award 2010” dari Menkokesra RI DR. HR Agung Laksono dan Menbudpar RI, Ir, Jero Wacik, SE.
“Saya sangat bersyukur meskipun menghadapi berbagai kendala perusahaan tetap bertahan. Sejak pertengahan tahun 2007 harga besi mengalami kenaikan yang luar biasa dan turun, terus naik lagi akhir 2010, kami tetap bertahan. Semua itu tidak lepas dari peran karyawan yang merupakan asset terbesar perusahaan. Karena merekalah ujung tombak bagi tajam atau tumpulnya keberhasilan perusahaan,” katanya.

Sekilas PT Erakarya Konstruksi Nusantara

EKK Nusantara merupakan perusahaan dengan ruang lingkup layanan mulai dari rancang bangun, analisa perhitungan konstruksi, manajemen mutu hingga pelaksanaan proyek.

Untuk mendukung kelancaran keseluruhan pekerjaan, EKK Nusantara memiliki tim kerja mulai dari penyediaan alat-alat berat berupa excavator, mobil crane, bulldozer, mesin pancang hydraulic pressing system, compressor, dan keseluruhan alat pendukung pelaksanaan pekerjaan konstruksi lapangan.

Tim kerja EKK Nusantara merupakan sarjana lulusan Teknik Sipil dan Arsitektur yang dapat dibanggakan, memiliki wawasan luas dengan manajemen yang handal dan dapat diandalkan sehingga dipercaya oleh banyak perusahaan swasta di Medan Sumatera Utara, untuk menangani pelaksanaan lingkup kerja mulai dari pekerjaan pondasi, basement, konstruksi baja, pekerjaan tangki, jembatan timbang sampai dengan pembuatan grider crane serta sekolah, rumah sakit maupun rumah tinggal.

Kepercayaan pelanggan pada kualitas kerja EKK Nusantara adalah suatu kebanggaan dan sebagai wujud komitmen PT Erakarya Konstruksi Nusantara senantiasa akan melayani pelanggan dengan mempersembahkan proyek konstruksi yang mengacu pada kehandalan faktor kekuatan, keamanan, keselamatan, kesehatan, dan kepekaan terhadap estetika yang berwawasan lingkungan.

Untuk itu, segenap Tim Kerja EKK Nusantara menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan serta kerjasama yang terjalin dengan baik.

Proyek-proyek PT Erakarya Konstruksi Nusantara

Proyek Basement
Proyek Rumah Tinggal
Proyek Fisik Perkantoran – Klinik – Sekolah
Proyek Pabrik
Proyek Tower Konstruksi Baja
Proyek Jembatan Timbang & Girder Crane
Proyek Silo
Pekerjaan Tanah: Cut & Fill

Company Name : PT Erakarya Konstruksi Nusantara
Office : Jl Kapten Soemarsono No 63  (Kompleks perkantoran Graha Metropolitan) Medan 20124 – Sumut Indonesia
Business Scope: Architecture, Civil Engineering & Construction
Telephone: (061) 77369893 – 77834011
Fascimile: (061) 8462487
Email: sanjaya_ekkn@yahoo.co.id

Sekilas Biodata

Nama        : Ir. Sanjaya Aryatnie
Umur             : 46 tahun
Tanggal lahir  : 21 Agustus 1964
Jenis  kelamin : Laki – laki
Bangsa           : Warga Negara Indonesia
Agama           : Buddha
Tempat tinggal      : Jl. K L Yos Sudarso No. 225 – V Medan 20116 SUMUT

Pendidikan
Tamatan tahun 1976 – SD Perguruan Islamiyah TUANKU IMAM BONJOL –  berijazah
Tamatan tahun 1980 – SMP Perguruan Islamiyah TUANKU IMAM BONJOL – berijazah
Tamatan tahun 1983 – SMA Katolik BUDI MURNI – berijazah
Tamatan tahun 1988 – S-1 Teknik Sipil – Universitas HKBP NOMMENSEN – berijazah

Pengalaman Kerja
Dari tahun 1981 s/d tahun 1985 – Guru Les SD, SMP & SMA
Dari tahun 1985 s/d tahun 1988 – Mengajar Ahli Bangunan di Bina Siswa Medan &
Asisten Laboratorium Mekanika Tanah Universitas HKBP Nommensen
Dari tahun 1989 s/d tahun 1996 – Kontraktor Interior & Sipil Rumah-rumah tinggal
Dari Tahun 1996 s/d saat ini sebagai Direktur PT Erakarya Konstruksi Nusantara

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd

No Comments

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd
Kepala Sekolah SMAN 4 Cirebon
Kerja Keras dan Tujuan Yang Jelas Mengangkatnya Berprestasi
Berangkat dari menjadi guru di SMP Negeri 3 Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1978, Drs. Haji Wirsad Yuniuswoyo, M.Pd, yang pegawai negeri sipil dan  kepala sekolah SMAN 4 Cirebon ini mengaku  kalau karier pendidikan gurunya selalu berpindah-pindah sekolah. Sebab satu tahun kemudian tepatnya 1979, guru bidang study matematika ini berpindah kembali ke SMP Negeri 4 Cirebon. “Di SMPN 4 inilah, masa pengabdian saya cukup panjang, “ungkapnya.
Sebab pada tahun 1990, barulah ia berpindah sekolah lagi, atau tepatnya ke SMAN 3 Cirebon. Namun sebelumnya, kata Wirsad, pada tahun 1987,  ia sempat masuk menjadi guru inti PKG (Pemantapan Kerja Guru) sebagai guru inti di bidang  mata pelajaran matematika selama 3 tahun. Bapak tiga anak ini mengaku perjalanannya cukup panjang untuk sampai ke jabatan kepala sekolah.
Program pemantapan kerja guru ini merupakan hasil kerjasama dengan world bank. Hasilnya cukup baik, dan banyak dijadikan model pelatihan oleh guru lingkungan sekolah. Selain itu  PKG juga telah sedikit mengubah paradigma tentang ketakutan siswa pada bidang study matematika, “Artinya ketakutan yang berlebihan itu bisa kita atasi, jadi kalau ada siswa yang nilai matematikanya buruk, itu karena mereka tidak memahami dan mengerti, termasuk kurangnya latihan,“ paparnya.
Menurutnya, berbagai pengalaman yang telah ditimbanya, mulai dari guru teladan Tingkat Jawa Barat, pada tahun 1997 hingga kepada organisasi  persaudaraan haji, sebelum kemudian menjadi kepala sekolah berprestasi di tahun 2007. “Pada tahun 1993 hingga 1996, saya pernah mengabdi menjadi guru di SMAN 6 Cirebon, yang dahulu adalah Sekolah Guru Olahraga (SGO),“ katanya. Bahkan di tahun yang sama, ia sempat mengikuti RECSAM (Regional Education Course Science An Mathematic) di Malaysia selama 6 bulan kemudian menjadi instruktur PKG matematika se-Jawa Barat.
“Sebelum Propinsi Banten meminta memisahkan diri untuk menjadi Propinsi baru dari propinsi Jawa Barat, saya sering mengadakan perjalanan (study banding dan pembinaan kepada guru-guru Matematika) ke daerah tersebut, “ungkapnya. Bukan hanya Serang, Pandeglang, tapi juga hingga ke daerah Lebak dan Cibakung.
Memang pengalaman panjang telah membuatnya banyak menorehkan prestasi akademik. Namun bukan Wirsad, kalau tidak bisa membawa sekolah yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dengan bekal berpindah-pindah sekolah, dan pengalaman mengikuti training serta pendidikan leadership, lambat laun bapak yang beristrikan hajjah Yanthi Sri Iryanti ini pun semakin matang. Tak heran, jika ia pun menyelesaikan kembali sekolahnya di program pascasarjana/M.Pd.
Sarjana pertamanya ia selesaikan S1 bidang Matematika. Wajar saja bapak dua putra dan satu putri ini mengenyam banyak bidang prestasi, karena pada tahun 1993 hingga 1998, ia pernah menjadi penulis buku Matematika, yakni Aritmatika untuk SMP-SMA dengan penerbit Intan Pariwara,  Tiga Serangkai, dan Pakaraya serta LKS Matematika. “Sayangnya LKS yang semula merupakan pembelajaran yang dikembangkan oleh negara Inggris untuk memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran dengan metoda penemuan, di Indonesia justru dijadikan tempat menulis soal-soal, ini sebuah ironi,” tuturnya dengan nada kecewa.
Karakternya yang kalem dan penuh karismatik, telah membuatnya disenangi berbagai warga sekolah yang dipimpinnya. Tak heran bila ia telah mengikuti berbagai pendidikan yang sifatnya menunjang profesinya. “Kerjasama antar sekolah (sister school) dengan berbagai negara, telah membuatnya makin kaya akan pengetahuan yang didapat. Ia pun kerap bepergian untuk mengadakan studi banding tentang pendidikan pada sekolah di negara yang dikunjunginya.
Namun begitu, tidak dipungkiri pula untuk menjalin kerjasama dengan negara lain seperti China dan Australia. Setelah dipikirkan, Australia merupakan pilihan utama dan solusi yang tepat, mengingat jarak kedua negara ini relative dekat dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk sampai ke Australia. “Namun begitu, saya sebagai Kepala SMAN 2 Cirebon juga mendapat tawaran untuk bekerja sama dalam rangka sister school di negara Turki. Pada saat ke Turki ada sedikit kemacetan komunikasi, terutama masalah penggunaan bahasa Inggris, mereka/orang Turki lebih senang bicara bahasa Turki, “jelasnya. Namun belum lama beristirahat sepulangnya dari Turki, ia pun mendapat tugas baru menjadi untuk memimpin sebuah sekolah SMAN lagi yaitu SMAN 4 Cirebon.
Panggilan itu pun diterimanya dengan tenang, tanpa terpaksa, apalagi gundah gulana. Baginya jiwa pendidik merupakan nomor satu untuk mengabdi, tantangan di bidang pendidikan. Tantangan itu pun ditanamkan dalam benaknya, dan berusaha untuk menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah unggulan dan memiliki prestasi yang menonjol. “Saat ini yang terpenting adalah mutu atau kualitas. Jadi apakah itu sekolah swasta atau negeri, kalau memang kualitasnya bagus, maka ia berhak untuk menjadi sekolah favorit.”
“Semangat, disiplin, serta menerapkan peraturan sekolah kepada warga sekolah, merupakan mutu keharusan,“ ungkapnya. Peraturan yang ketat ini dilakukan, sebagai wujud kasih sayangnya kepada warga sekolah agar mereka hidup teratur jiwa dan raganya. Tidak boleh ada siswa maupun guru terlambat masuk sekolah. Baginya keterlambatan mereka sama saja dengan membuat sekolah menjadi berantakan.
Bapak yang memiliki motto Segala yang akan dilakukan harus jelas tujuannya ini mengaku juga pernah menjadi kepala sekolah  di SMAN 9 Cirebon pada tahun 1999-2001. “Waktu itu sekolah ini masih baru lagi, dan saya ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah, Namun biarlah dan ini merupakan tantangan,“ ungkapnya. Sebab katanya, selain harus berhadapan dengan lingkungan yang baru siswa-siswinya, juga kepada masyarakat sekitar. “Hal ini bukan pekerjaan yang mudah, mengingat dibutuhkan sosialisasi yang tinggi, agar masyarakat mau menerima kehadiran sekolah dan isinya.
“Saya terpaksa harus bersikap tenggang rasa dan tidak ketat, maklum lingkungan baru dan sekolah baru, jadi harus dipahami dan dimengerti persoalan mereka.” Namun, bukan begitu juga lembeknya atau membiarkan sekolah tanpa kerjasama dengan masyarakat, Wirsad juga mengaku pernah memberikan semacam ultimatum berupa ancaman kepada masyarakat, agar mau dan  rela membantu sekolah baru tersebut. Sebab jika masyarakat setempat enggan membantu perkembangan sekolah, ia pun mengancam akan melaporkan kepada Walikota untuk memindahkan sekolah tersebut, namun sebaliknya jika mereka membantu dan mendukung sekolah, maka pihaknya akan meminta walikota untuk membuatkan proyek jalan masuk ke sekolah dan desa-desa sekitarnya.
Akhirnya masyarakat yang semula menolak kehadiran sekolah tersebut bersedia mendukungnya dengan menjaga dan melestarikan kawasan sekolah dari aksi vandalisme alias coret-coret, termasuk mengizinkan angkot masuk ke kawasan sekolah. “Semula mereka menolak kehadiran angkot, karena mereka menganggap kehadiran angkot telah mengambil ladang mata pencaharian ojeknya,“ tutur Wirsad.
Ia menambahkan walaupun sebagai guru matematika, namun tidak bisa memaksakan kehendaknya agar siswa-siswi di SMAN 9 menjadi juara matematika, mengingat kemampuan siswa dari desa tersebut kurang mumpuni. Namun setelah melihat badan siswa-siswi sekolah itu  besar-besar, barulah ia berpikir untuk membawa potensi keunggulan tersebut dalam bidang olahraga. “Akhirnya mereka dapat meraih prestasi dengan  menjadi juara cabang atletik, volley ball, di berbagai kompetisi sekolah maupun kejuaraan tingkat daerah,“ ceritanya.
Padahal tempat latihan volley ball pun tidak memadai, tiang net terbuat dari bambu, garis di tanah dari kapur, tapi semangat mereka yang pantang menyerah untuk berprestasi memecutnya untuk meraih juara. Memang bukan hanya cabang atletik, lomba baris berbaris atau paskibraka juga meraih juara. “Tapi ya itu juaranya dalam bidang fisik, tetapi belum ke bidang sains/keilmuan,“ paparnya. Dua tahun menurutnya ia memimpin sekolah di SMAN 9 Cirebon tersebut.
Selanjutnya, kepala sekolah di SMAN 7 Cirebon pada tahun 2001-2007. Ironinya, belum memimpin sekolah, ia sudah mendapat laporan dari kepala kelurahan dan RW setempat bahwa sekolah ini sering tawuran dengan sekolah SMK. Bukan Wirsad kalau tidak bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, dengan bekal pengalaman yang banyak memimpin dan mengajar di sekolah, ia pun lalu berpikir untuk  menjembatani dan mengajak berdamai  atau menggalang kerjasama dengan pihak SMK. “Kebetulan kepala sekolah SMKnya adalah adik kelas saya saat kuliah di S2, jadi mudah untuk diajak berkomunikasinya, “paparnya. Setelah keduabelah pihak mengadakan pertemuan, baik guru maupun siswanya, tawuran yang selalu terjadi itu, akhirnya berdamai.
Berturut-turut kepala sekolah di SMAN 3 Cirebon Januari hingga Juni 2008, dan SMAN 2 Cirebon tahun 2008 -2010. Kini perjalanannya sekarang adalah sebagai kepala sekolah di SMAN 4 Cirebon. “Penempatan itu baru diberikan pada bulan Juni 2010, “paparnya.
Banyak liku-liku yang dihadapinya dalam mengabdi sebagai kepala sekolah. Mulai dari membenahi infrastruktur sekolah, hingga kepada bagaimana mensosialisasikan sekolah ke masyarakat, dan mendidik siswa dan guru-guru untuk selalu unggul. “Bayangkan saja di SMAN 3 Cirebon, saya harus memperbaiki sarana dan prasarana olahraga, “ungkapnya.
Selain sebagai kepala sekolah, Haji Wirsad, juga menyempatkan diri untuk memberikan motivasi untuk siswa-siswinya dengan memberikan motto berupa bekerja penuh ihklas sehingga merasa tidak beban, kedua, rajin beribadah, ketiga, semangat, keempat, tidak mudah putus asa, kelima, tanggungjawab dan jujur, keenam, setiap kesempatan jangan ditunda-tunda, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, ketujuh, mengerjakan sesuatu langsung jangan sampai ditunda-tunda, kedelapan, dapatkan informasi secepatnya/duluan, mendapatkan informasi duluan, berarti ilmu pengetahuan kita dapat duluan, dan kesembilan, berserah diri pada Allah. Jika kita menerapkan atas sikap-sikap di atas, insya Allah kita dapat menjadi orang yang sukses.
“Pak Wirsad adalah tipe pekerja keras, terbukti hanya dalam hitungan bulan di SMAN 4 Cirebon sudah banyak yang dibenahi, terutama pada infrastruktur, seperti rehabilitasi laboratorium computer dan ruang PSB (Pusat Sumber Belajar), perbaikan kursi, taman dan sarana prasarana kegiatan ekstrakurikuler,“ jelas Kepala Tata Usaha SMAN 4 Cirebon
Dalam bidang pembinaan kesiswaan, Wirsad yang lahir di Cirebon 29 Juni 1957 ini, juga telah mencanangkan kedisiplinan dengan menggunakan system point, mengadakan apel siaga pada jedah waktu, antara pasca UAS hingga dengan menjelang pembagian raport. “Obsesinya adalah bagaimana agar lulusan siswa-siswi SMAN 4 Cirebon ini dapat berkompetisi dan bersaing di dunia nasional maupun internasional,“ kata Drs. Irman Darojat, Guru SMAN 4 Cirebon.
Menurut Wirsad, visi dalam sekolah ini  adalah bagaimana menjadikan siswa yang bertakwa dan berprestasi. Bertakwa disini, maksudnya kata Wirsad adalah yang berkaitan dengan masalah kecerdasan spiritual, sedangkan berprestasi pengertiannya luas, menyangkut akademisi, non akademis, atau intelegensia, dan berakhlak mulia menjadikan siswa sebagai insan kamil, sopan santun, cerdas, dan berbudi pekerti.
Ditambahkan untuk misi sendiri itu ada lima besar, yakni pertama,  membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan, artinya siswa yang masuk sekolah di sini, harus sudah memiliki keimanan dan juga ketakwaan. “Jadi jangan sampai kering begitu.” Kedua, Mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada keunggulan, artinya pendidikan itu harus dikembangkan, jangan begitu saja, atau hanya sekedarnya, melainkan bagaiman pendidikan berkualitas. Ketiga, meningkatkan kemampuan dan kecakapan peserta didik, serta membina minat dan bakat secara kreatif, artinya, siswa dituntut untuk mampu dan memiliki ketrampilan, serta minat dan bakat yang baik. Dengan bakat dan minat yang berbeda-beda, diharapkan mereka bisa memilih mana yang sesuai dengan hati nuraninya atau tidak, misalnya mereka ingin memilih kedokteran, “kalau memang arahnya ke sana, maka kita bimbing, begitu pula dengan bakat, jika bakatnya di bidang olahraga, maka kita arahkan ke olahraga, begitu dan seterusnya, “jelas Wirsad. Harapan lainnya adalah bagaimana unsur tersebut bisa mengangkat nama sekolah, sehingga sekolah  bisa unggul. Ternyata misi sekolah ini membuktikan dengan siswa berprestasi di bidang olahraga, seperti silat, tinju dan atletik dan sebagainya. “Mereka ini merupakan atlet-atlet nasional, yang banyak berkiprah membantu dan mengharumkan nama bangsa dan negara di arena internasional, “ungkap Wirsad. Keempat, membina sikap ilmiah, disiplin dan tanggungjawab.
Selain harus menjalankan visi dan misi sekolah, strategi lain yang dikembangkan Wirsad, adalah melakukan pendekatan dengan siswa dan guru. Cara ini cukup efektif, kenyataan banyak siswanya memberikan segudang prestasi dan piala. Begitu pula dengan guru-gurunya,  mereka pun menunjukan kualitas pengajarannya dengan baik. Bahkan Wirsad tak segan-segan membantu mereka untuk mendatangkan para ahli untuk dijadikan nara sumber tukar menukar pikiran atau pendapat “Shearing” guna kemajuan sang guru. Ia pun juga kerap terjun memberikan nasihat dan wejangan, terutama terkait dengan metode belajar mengajar yang bisa dipahami siswa.
Kenyataan sikapnya yang ramah, sopan santun, dan demokratis kepada semua orang, membawa dirinya banyak diminati warga sekolah. ”Mereka mengaku merasa kehilangan jika Pak Wirsad harus pindah sekolah,“ kata Dra. Siti Rochani, Guru Ekonomi. Prinsip Wirsad adalah bagaimana mencontohkan sikapnya yang benar kepada warga sekolah. “Seribu nasihat tidak akan bermanfaat, jika contoh atau sikap yang kita tunjukan tidak sesuai dengan tingkah laku.”
Pola pendekatan dalam bentuk tingkah laku ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan kepemimpinan Wirsad. Terbukti banyak sekolah yang telah ditinggalkan, saat berkunjung ke tempat itu lagi, ia mengaku mendapat sambutan yang berlebihan. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kinerjanya yang dirasakan warga sekolah sebagai hal yang baik dan profesional.
Banyaknya sekolah yang dipimpinnya berkembang dan maju, juga merupakan bukti bahwa kemampuannya dalam mengembangkan sekolah sudah profesional dan managerial. Untuk itu, tidak ada sesuatu hal yang berhasil tanpa dibarengi kerja keras yang sungguh-sungguh. Itulah harapannya kepada semua guru, agar generasi  berikut  bisa mengikuti langkahnya yang baik. Ia berharap siswa dan guru serta orangtua murid memahami konsepsinya akan kemajuan sekolah. Sebab katanya, kepala sekolah hanya jabatan sesaat, selanjutnya mereka yang akan menjalani. Demikian ungkapan Haji Wirsad Yuniuswoyo dalam bincang-bincangnya. Semoga apa yang dicita-citakan untuk kemajuan sekolah dapat terkabulkan, dan generasi muda dapat melanjutkan kegiatannya untuk menjadikan pendidikan yang bermutu.

Drs. Tarwan , MT

No Comments

Drs. Tarwan , MT
Kepala Sekolah Menengah SMK Penerbangan Dirghantara

Terus Membangun Demi Terwujudnya Target Sekolah Unggulan Tahun 2010

Sebelum berhasil meluluskan siswanya, Sekolah Menengah Kejururuan  Penerbangan Dirghantara ( SMK-PD ) telah memperoleh predikat akreditasi “B”. Dengan predikat tersebut kualitas ataupun persyaratan Sekolah  Menengah Penerbangan di Curug ini diakui pihak yang berwenang. Tentu saja ukuran untuk sekolah baru SMK-PD yang baru berdiri tahun 2005 predikat ini sangat membanggakan.

Pada awal berdirinya SMK-PD ini banyak berkonsultasi/ berhubungan dengan SMKN 29 Jakarta, meliputi sistem kurikulum, sistem pembelajaran, tenaga pengajar kebutuhan laboratorium dan lain-lain. Seiring dengan perjalanan waktu SMK-PD dapat Mandiri, artinya diperkenankan melaksanakan Ujian Nasional sendiri. Padahal diperkirakan sebelumnya Ujian Nasional pertama harus bergabung dengan SMK lain yang sesjenis dan  yang terdekat adalah SMK 29 Jakarta, dan apabila hal itu terjadi memerlukan biaya  tak sedikit yang harus ditanggung oleh para siswanya terutama untuk transportasi.

Bermodalkan predikat akreditasi, dapat membantu sekolah dalam menyampaikan beberapa hal dan kendala yang dihadapi oleh sekolah kepada masyarakat. Dengan kerja keras dan berbagai upaya, akhirnya sedikit demi sedikit fasilitas sekolah dapat dilengkapi. Lulusan pertama SMK-PD adalah 73 orang siswa, sebagian besar sudah diterima dan bekerja di maskapai penerbangan dan sebagian melanjutkan studi. Tidak tahu kenapa anak-anak kami cepat terserap oleh pasar”kata Drs. Tarwan, MT, Kepala Sekolah SMK Penerbangan Dirghantara.

Tidak hanya berhenti disitu, tahun berikutnya bahkan beberapa maskapai penerbangan nasional mendatangi SMK-PD, dengan tujuan  merekrut dan mengikat siswa sebelum mereka “ diambil” oleh perusahaan lain setelah lulus sekolah. Tahun  2009/2010 GMF dapat merekrut 16 siswa, sebagian sedang mengikuti proses rekrut Lion Air. Sementara lulusan umumnya direkrut melalui jalur normal di berbagai maskapai penerbangan, sebagian lainya melanjutkan ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI-Curug), Universitas Nurtanio ( UNUR –Bandung ) dan lainnya.

Kepada siswa yang sudah lulus, Tarwan panggilan akrabnya berpesan agar mereka agar tidak pernah berhenti belajar. Lulus dari SMK bukan berarti tugas anda telah selesai, justeru tugas lebih besar telah menanti didepan kita. Mereka akan menghadapi dunia penerbangan yang sebenarnya, yaitu dunia yang tidak mentolerir kesalahan sedikitpun, yang bisa berakibat fatal.

“Mereka harus terus belajar dan belajar.Tantangan di dunia penerbangan relatif berat, karena teknologi penerbangan selalu berkembang dan akan

terus berkembang . Kami mendidik sesuai   dengan kemampuan yang kami miliki, dan kami akui masih banyak lubang yang kitaenahi. benahi” kata pria kelahiran Purwokerto, 12 Agustus 1948 ini
Tarwan sadar, sebagai lembaga pendidikan  baru, baik secara fisik maupun sofware masih banyak kekurangan. Untuk itu  secara operasional setiap saat sekolah melakukan perbaikan-perbaikan yang dirasakan  mendesak, tidak tanggung-tanggung ia merencanakan menjadi SMK Penerbangan Dirghantara Curug sebagai SMK Penerbangan Unggulan pada tahun 2020.

Saat ini, Tarwan sedang membangun kesamaan visi dari semua unsur yang ada di sekolah. Tidak bosan bosanya ia mensosialisasikan secara terus menerus agar komitmen dari semua unsur dapat terbangun. Karena syarat untuk mencapai target menjadi sekolah unggulan tahun 2020 salah satunya adalah adanya komitmen dari semua unsur, sumber daya uang dan sumber daya lainya.

Sebagai sekolah yang ingin mendapatkan predikat sekolah Unggulan, Tarwan telah membuat suatu program semacam master plan dari tahun 2010 – 2020.
Tahun 2010, berkonsentrasi pada pembangunan prasarana/fisik untuk kesiapan akreditasi ulang, membuka kompetensi keahlian baru ( Instrumen Avionic Pesawat Udara ) untuk meningkatkan kinerja.
Tahun 2011, SMK-PD berkonsentrasi untuk pembenahan administrasi guru, administrasi perkantoran, administrasi pembelajaran, dan juga persiapan administrasi ulang ( 2 ) dengan sasaran mendapatkan predikat “A”
Tahun 2012, SMK-PD konsentrasi pada pelaksanaan akreditasi ulang, pembinaan tenaga kependidikan, peninjauan struktur organisasi guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tahun 2013, SMK-PD kembali konsentrasi pada pembangunan prasarana / fisik lanjutan , pengadaan sarana pendidikan lanjutan dan mengajukan usulan Sekolah Standar Nasional ( SSN )
Tahun 2015, SMK-PD konsentrasi pada implementasi SSN, pemantapan SSN, penerapan ISO, usulan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) , SBI untuk menuju Sekolah Unggulan
Tahun 2020, diharapkan target yang dicanangkan  SMK-PD bisa tercapai  kalau tak ada perubahan kebijakan yang mendasar, menjadi Sekolah Unggulan di Indonesia.

“ Semua itu memang perlu kerja keras dan perjuangan berat. Karena sistem dalam sekolah ini belum satu jalan,  maka masih perlu pembenahan . Sebenarnya untuk mencapai SSN persyaratan  hampir memenuhi, yaitu tinggal kelengkapan peralatan  plus pengajar dengan bahasa inggris hanya  beberapa orang, untuk ISO dengan  syarat tertib administrasi tidak terlalu masalah kalau memang kita ingin komitmen

Komitmen menjalankanya. Kemudian seperti diuraikan diatas setelah SSN, ditingkatkan RSBI yang mensyaratkan guru yang mengajar dengan pengantar bahasa Inggris lebih banyak lagi. Bagi kami hal ini tidak terlalu bermasalah, karena sebagian pengajar kami yang notabene dosen STPI terbiasa mengajar siswa dari negara asing, yakinnya.

Semua rancanan yang disusun Tarwan dimaksudkan untuk membangun SDM penerbangan yang handal dalam menghadapi globalisasi. Disamping membekali ketrampilan teknis, lulusan SMK Penerbangan Dirghantara diharapkan mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Rencananya, ia ingin merekrut tenaga pengajar dengan penguasaan bahara Arab. Mengingat sekarang ini di era globalisasi persaingan tenaga kerja sangat ketat dari seluruh penjuru dunia.

“Jadi kalau bisa tidak hanya bahasa Inggris tetapi bahasa asing lainnya juga, karena peluang bidang ini masih sangat terbuka lebar. Kalau kita mampu mencetak lulusan yang qualified di luar negeri masih banyak yang bisa  menampungnya. Dari pada kita mengirim TKI yang non ketrampilan, mendingan mengirim yang begitu kan . Maka saya berangan-angan merekrut lulusan dari Madrasah, kita didik dan kita kirim ke luar negeri, beherja sama dengan Depnaker. Peluang besar di bisnis bidang penerbangan untuk orang-orang kompeten dan punya sikap,”tandasnya.

Jajaran Perintis

Drs. Tarwan, MT, sebelumnya  sebagai salah satu Instruktur Sekolah Tinggggi Indonesia (STPI), pada tahun 1987 ditugaskan sebagai pengajar Mekanika Teknik pada Jurusan Teknik Penerbangan. Ia juga ditugaskan sebagai tenaga fungsional sebagai Pimpinan Instalasi Teknik Umum.

Tahun 1996, Tarwan mendapat kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan pada jenjang Magister(S2) di ITB jurusan yang diambilnya sesuai dengan pekerjaan sehari-hari berkutat didunia penerbangan. Magister Teknik  diselesaikan pada tahun 1998, masih tetap mengajar. Kemudian  ditugaskan sebagai Kepala Sup Penyusunan Program kurang lebih selama setahun. Selanjutnya diberikan kesempatan sebagai Kepala Balai Diklat Penerbangan di Palembang( akhir 2000 s/d akhir 2004.

Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Sumardi dan Rakyah (almh) kemudian ditugaskan sebagai dosen tetap di STPI dengan pangkat Lektor Kepala. Tugas ini memberinya banyak waktu luang pada sore hari yang dimanfaatkan untuk mengabdi kepada masyarakat. Salah satunya ikut bergabung sebagai  staf pengajar pada SMK  dilingkungan Curug.

Secara resmi SMK Penerbangan Dirghantara berdiri pada tahun 2005 berlokasi  di kompleks STPI Curug. Sejak awal ia ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum kemudian merangkap  sebagai Pelaksana Teknis Operasional (PTO) SMK-PD ( 2008-2009). Pekerjaan yang dilakukanya laksana Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah sudah sepuh hanya saja PTO tak berwenang menandatangani surat-surat resmi. Baru pada bulan Maret 2010  Tarwan kemudian diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK-PD secara definitif.

“Visi kami para lulusan SMK Penerbangan Dirghantara Curug, handal dibidangnya masing-masing. Visi yang kita usung adalah “ Menyiapkan teknisi handal dibidang Mesin dan Rangka Pesawat Udara, Instrument dan Avionic Pesawat Udara, berdisiplin, bertanggung jawab dan bermartabat, target kami

terutama ingin membina anak didik agar tangguh, kreatif dan bertanggung jawab dilapangan sesuai bidangnya masing-masing”ungkap ayah empat anak hasil pernikahannya dengan Theresia Haryatun ini.

Oleh karena itu SMK Penerbangan Dirghantara dibawah kepemimpinan Tarwan pada pembinaan sikap yang salah satunya adalah disiplin. Sebagai tolok ukur atau tepatnya cermin adalah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia ( STPI ) Curug Tangerang, walaupun secara umum belum mencapai kondisi yang menyerupai dalam cermin, tetapi upaya menumbuhkan sikap tersebut terus dilakukan, apalagi sebagian adalah dosen STPI.
“Kita mencoba  menekankan sikap disiplin sebagai budaya yang harus dilaksanakan . Disamping itu sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku kami juaga mengupayakan beberapa type mesin sebagai sarana pelatihan. Meskipun  kita hanya beli mesin bekas karena harga mesin baru mahal dan tak terjangkau , karena kita harus memiliki guna memenuhi persyaratan. Karena predikat akreditasi kita baru “B” nanti kita ingin meningkat menjadi “A”. Kita sedang berupaya untuk bisa memiliki pesawat/mesin yang untuk praktek, bisa juga diterbangkan”ujar pemilik motto ‘Semua yang dihadapi dijalani dengan ikhlas’ ini menguraikan harapanya.

Masuk Angkatan Laut.

Awalnya Drs. Tarwan, MT tidak sedikitpun bercita-cita mejadi guru. Sebagai anak petani biasa, lebih tertarik menjadi tentara. Karena pada saat itu masuk AKABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ) masih relatif mudah, tak perlu koneksi maupun persyaratan lai, semua berdasarkan atas prestasi dan kemampuan masing-masing secara obyektif.

“Sejak kecil saya ingin masuk Angkatan Laut, itu cita-cita saya karena pakaianya putih rapi dan kalau berbaris bagus. Tetapi orang tua punya pepatah Jawa “ mangan ora mangan anggere kumpul” maka saya mendaftar sekolah yang relatif dekat rumah. Pada saat itu yang sejalan dengan lulusan STM adalah APTN ( Akademi Pendidikan Teknologi Negeri ) yang lulusanya menjadi calon guru STM dan berubah menjadi ATN ( Akademi Teknologi Negeri ) sementara saya sendiri tidak senang menjadi guru. Karena pada saat itu menjadi guru relatif mudah ( untuk mengisi lowongan karena banyak guru tersangkut G.30 SS/PKI ), sehingga bila punya Ijasah setinggkat SLTP, kita ikut kursus beberapa bulan sudah bisa jadi guru ( SR). Jadi saat itu menurut saya profesi guru kurang menantang” tuturnya.

Setelah lulus dari Akademi Teknologi tahun 1974, Tarwan kemudian “merantau” ke Tangerang. Saat itu kota satelit Jakarta ini sedang giat pembangunan pabrik secara besar-besaran. Ia bekerja dibidang pemasangan mesin dan kemudian bekerja pada suatu perusahaan di Tangerang, dengan jabatan Kepala Seksi Maintenance Produksi hingga memiliki anak. Tahun 1978, ia mulai berpikir sesuai dengan karakternya yang tidak bisa berspekulasi, karena bekerja di swasta terasa pasang surut, sehingga kurang tenang, maka mencari peluang untuk menjadi PNS, karena walaupun gaji kecil  tetapi kontinyu.

Tarwan kemudian mencoba mendaftarkan diri ke Departemen Perhubungan yang saat itu membuka lowongan. Ia diterima dan ditempatkan di Curug sebagai Instruktur. Artinya  profesi yang selama ini dihindari dan dianggap kurang menantang akhirnya harus dijalani. Awalnya ia bertugas sebagai seorang Instruktur hanya sebatas  tanggung jawab pekerjaan saja. Namun lambat laun ia sangat menikmati dan enjoy sebagai guru.

“Karena setiap hari mengajar dan merasa enjoy tadi, sekarang bahkan saya ingin menularkan pengetahuan yang saya miliki kepada orang lain . Jadi guru senang bila melihat siswa-siswanya lebih maju menjadi orang yang bermanfaat. Filosofi hidup saya adalah “bekerja apa yang saya bisa kerjakan dengan kesungguhan dan keikhlasan”, kata pria yang tidak suka bawa pekerjaan kerumah ini.

Sebagai pimpinan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Swasta, Tarwan merasa perhatian pemerintah masih terbatas. Dengan dana APBN 20 persen, perhatian kepada sekolah swasta masih tetap kecil. Ia mengibaratkan masih terasa dianak tirikan  sedangkan sekolah negeri dianak emaskan.

“Ini masih kurang adil, mestinya sekolah swasta agak lebih diperhatikan lagi. Harusnya ada keseimbangan, meskipun sekarang sudah mulai menerima bantuan terkesan sekadarnya saja” kata pria yang terkesan awet muda ini. Ia membocorkan rahasia awet muda yang dimilikinya, yaitu tidak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “ Saya tidak bisa hati saya berdebar-debar. Pokoknya saya bersyukur dengan hidup apa adanya seperti  sekarang ini” imbuhnya.

Mengakhiri pembicaraan, Tarwan berpesan kepada generasi muda agar bersungguh –sungguh dalam mengembangkan bakatnya . Setiap bakat merupakan anugerah Tuhan, apapun bentuknya tidak boleh disia-siakan dan harus ditekuni. Sebisa mungkin orang tua tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan bakat anak” cukup mengarahkan dan menunjangnya.” Yang nantinya malah bisa kontra produktif dan dapat menghancurkan masa depan si anak “ Pokoknya talent atau bakat apapun bagus asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Semua harus dilakukan dengan benar-benar dan secara total, yang Insya Allah hasilnya akan optimal” tegasnya.