Tag: MBA

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA

No Comments

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA
Managing Associate ALI LEONARDI N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES
Advocate – Legal Consultant – Attorney – Solicitor

Menjadi Kantor Advocate Dengan Reputasi Terbaik di Sumatera Utara dan Indonesia

Berdiri pada tahun 1993, ALI LEONARDI N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES pada awalnya menangani kasus-kasus pidana dan perdata. Seiring perkembangan dunia usaha maupun reformasi hukum, pelayanan ditingkatkan untuk memenuhi permintaan klien yang sangat majemuk. Sang pendiri, Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA memutuskan, lembaganya harus memposisikan diri dan memperluas serta meningkatkan bidang pelayanan hukum secara maksimal di seluruh Indonesia.

“Kami melayani client kami baik dari segi pemahaman hukum maupun peraturan di Indonesia sekaligus melakukan perlindungan hukum baik dalam bidang bisnis maupun kepentingan hukum lainnya. Kami, ALI  LEONARDI  N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES bangga menjadi salah satu kantor Advocate dengan reputasi terbaik di Sumatera Utara dan Indonesia. Di mana kasus-kasus besar yang mendapat perhatian publik di Indonesia selalu ditangani secara professional dan memuaskan,” katanya.

Melalui service dan pendekatan secara personal touch, Ali memberikan kenyamanan dan kerahasiaan klien. Ali senantiasa menjalin kehangatan serta membina hubungan baik dengan klien, sehingga setelah berjalan sekian lama, reputasi dan kepercayaan dari ratusan perusahaan besar dan kecil, baik industri maupun trading berhasil diperoleh.

Klien yang datang ke kantor ALI  LEONARDI  N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES, disambut dengan tata ruang modern minimalis. Berbagai elemen tradisional diolah hingga menghadirkan estetika yang unik. Ruang kantor tampak elegan dengan komposisi yang simple, namun unik, apik dan bersih. Dilengkapi dengan full air conditioned plasma lingkungan kantor tercipta suasana yang nyaman dan memanjakan bagi klien.

Selain itu, kantor dilengkapi dengan fasilitas computer, teknologi yang up to date, ruang meeting yang nyaman, dan dukungan Media Digital serta para Advocate dan staff yang ramah, professional dan energik. Sebagai garda depan dalam pelayanan klien, ruang kantor merupakan wadah interaksi antara lembaga dan klien, sehingga sudah selayaknya estetika penampilan interior ruangan diperhatikan. Karena, ruang yang nyaman dan menarik (eye catching), secara psikologis mampu menciptakan kehangatan dan kenyamanan bagi siapapun yang berada di dalamnya.

Sekilas Profile Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA lahir di Pulau Halang, Kab Bengkalis Riau, 14 Juni 1966. Pengacara handal ini berdarah blasteran Jepang – Chinese dengan marga Nakamura. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada dua bidang sekaligus secara bersamaan, yaitu: S1 Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa Medan tahun 1990 dan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Dharma Agung Medan tahun 1990. Sementara Pendidikan S2 berasal dari Pasca Sarjana Ekonomi, Jakarta Institute of Management Studies tahun 1999.

Pendidikan non formal yang diikuti Ali Leonardi N antara lain:
Pendidikan Perbankan tahun 1987
Pendidikan Akuntansi tahun 1983 – 1984
Lokakarya Management Personalia-IPMS tahun 1992
Pelatihan Management Mutu ISO 9000 Series tahun 1997 dan 1998
serta berbagai Seminar Hukum sejak tahun 1985 – sekarang.

Tujuan hidup atau the meaning of life yang dipegang teguh oleh Ali Leonardi N adalah “Tujuan hidup adalah hidup yang punya tujuan agar bermakna dan menjadi berguna untuk orang lain (sosial)”. Sedangkan agar selalu eksis dalam menjalani karier dan profesinya, ia menegaskan perlunya beberapa hal yang harus dikuasai. “Selain kecerdasan akal diperlukan juga kecerdasan emosional dan spiritual, kemampuan beradaptasi, inisiatif, optimisme dan ketangguhan,” ungkapnya.

Ali Leonardi Nakamura mengungkapkan dirinya selalu menerapkan bagaimana berusaha “Merangkul Client menjadi Partner”. Dengan cara dan strategi seperti ini, klien tidak merasa sedang berurusan dengan pengacara secara legal dan formal. Tetapi klien justru berhubungan dengan seorang partner, rekan kerja yang hangat dan ramah sehingga segala problematika yang dihadapinya diutarakan dengan jujur dan menyeluruh, layaknya curhat dengan seorang sahabat. Di dunia kepengacaraan, kejujuran dan keterbukaan klien akan memudahkan pengacara untuk menyusun langkah-langkah pembelaan bagi kliennya.

“Prinsip leadership saya adalah ‘Memanfaatkan kelemahan menjadi kekuatan dengan tidak menjadikan karyawan sebagai Superman tapi menjadi Superteam untuk mencapai tujuan perusahaan’. Adapun visi saya ’Selalu berorientasi pada tujuan akhir terhadap setiap langkah yang dibuat secara optimal dan disiplin, memiliki kendali diri dan sosial. Serta senantiasa belajar dari lingkungan dan selalu ambil hikmahnya atau positif thinking,” tandasnya.

Para Advocate maupun staff yang tergabung di ALI  LEONARDI  N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES adalah Advocate yang mempunyai dedikasi dan keahlian sesuai dengan bidangnya masing-masing. “Klien dapat berkonsultasi langsung dengan para advocate maupun staff kami serta dapat juga mempergunakan akses yang dimiliki oleh TEAM kami secara proporsional dan professional,” tegasnya.

Berikut ini daftar Associate yang tergabung dalam ALI LEONARDI N., SH, SE, MBA & ASSOCIATES:
Ali  Leonardi  N., S.H., S.E., MBA.
Karle Sitanggang, S.H.
Pramudya Eka Wijaya Tarigan, S.H.
Budi Abdullah, S.Ag., S.H.
Johan, S.H., M.M., M.H.
Erly Marliah, S.H.
Nurafni, S.E.
Hamsan Siregar, S.Pd.
Vera Adrian S., S.H.

Organisasi dan Badan Hukum

Ketua Umum    : Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin) Sumatera Utara Periode tahun 1997 s/d 2003
Wakil Ketua: Dewan Pimpinan Daerah Sumatera Utara Patriot Bela Bangsa (PBB)
Wakil Ketua: Ikatan Alumni Universitas Dharmawangsa (IKADHA) periode 2000-2003 dan periode 2003 s/d sekarang
Ketua Bidang Hukum: Partai Demokrasi Perbaruan DPD Sumatera Utara
Ketua Bidang Hukum : Patriot Bela Bangsa DPD Sumatera Utara
Ketua Bidang Hukum: AR Center Calon Walikota Medan Period ke 2 tahun 2005
Dewan Pakar: Pujakesuma DPD Medan
Ketua Bidang Hukum: Yayasan Rokan Jaya
Pengurus: Lion Clubs Medan Metropolitan periode 2008 – 2009 Charter 3rd Vice President
Ketua Bidang Hukum: Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) cabang Medan
Komisaris Utama: – PT. Kharimantara Indonesia: – PT. Cimeric Indonesia – PT Digital Media Indonesia
Wakil Ketua Medan Lawyers Club periode 2011 – 2015

Pengalaman Penanganan Perkara

Penanganan kasus-kasus PT. Adam Skyconnection Airlines (Adam Air) secara Nasional di  seluruh Cabang di Indonesia)
Kasus PHK massal PT. Cakra Compact (PMA Singapore) – Medan
Kasus PHK massal PT. Healthcare Glovindo (PMA Malaysia) – Medan
Kasus PHK massal PT. Fulijaya toothbrush Indonesia (PMA Malaysia) – Medan
Kasus PHK massal PT. Baja Utama Wirasta Inti (BUWI Group)  – Medan
Kasus PHK massal PT. Indotechno Multi Industri – Tanjung Morawa
Kasus Narkoba, Graham CP (WN Australia)
Kasus Pemalsuan Merek Tanaka & Precision Tooling, PT. SCM (Jakarta, Manado, Gorontalo, Ngawi, Gombong, Jambi)
Kasus Penikaman di Palladium Plaza – Medan
Kasus Pembunuhan Pengusaha Muda di Capital Building – Medan
Kasus Tanker Terbakar di Sungai Siak dan KM Intan 9 – Pekanbaru
Kasus Palang Merah Perancis  (French Red Cross) di Aceh
Kasus Perceraian BRIAN DW, WN Australia
Kasus Sengketa Tanah CV. Paluh Jaya – Paluh Kurau Hamparan Perak
Kasus Sengketa Tanah dan Rumah,  di Kompleks Jati – Medan
Kasus Trafficking Jaringan International  di Rohir – Bagansiapiapi
Kasus Sengketa Tug Boat WN Singapore

“Saat ini, ALI LEONARDI N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES merupakan Legal Consultant atau Penasehat Hukum Tetap bagi 200 perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak dalam bidang Trading, Industri, PMA, PMDN di berbagai daerah, seperti di Pulau Jawa -Jakarta, Tangerang, Sumatera Barat  – Padang, Kepulauan Riau, Pekan Baru – Dumai dan Bagan Batu, Sumatera Utara – Medan, Tanjung Morawa, Binjai, Stabat, Pangkalan Berandan, dan Langkat,” kata Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA seperti email-nya kepada PPBI.

Drs. Winardi, MBA

No Comments

Drs. Winardi, MBA
Presiden Direktur PT BTS Cargo

Menjadi Diri Sendiri Untuk Membangun Perusahaan

Dalam kondisi serba kekurangan, seorang kreatif mampu menemukan jalan keluar terbaik. Berbagai cara digunakan untuk menyiasati permasalahan kehidupan yang dihadapinya. Perjuangan keras tak kenal lelah selama bertahun-tahun untuk mengubah nasib akan menghasilkan kesuksesan yang mengubah jalan hidup.

Gambaran singkat seperti itulah jalan hidup yang ditempuh Drs. Winardi, MBA. Terus berusaha dan berjuang untuk memperbaiki kehidupan keluarga terus dilakukannya. Bahkan sejak meninggalnya sang ayah pada usianya yang ke-15, bersama keempat saudaranya yang lain, ia berusaha membantu kehidupan keluarga.

“Kami membantu ibu yang berjuang sendirian membesarkan kelima anaknya. Kita melakukan pekerjaan apa saja untuk membantu keluarga, karena tidak mau terlalu menyusahkan orang tua. Semua itu kami lakukan atas kemauan sendiri semata-mata untuk membantu perjuangan ibu,” kata Presiden Direktur PT BTS Cargo ini.

Winardi dan empat saudaranya (dua orang laki-laki dan dua orang perempuan) bekerja serabutan dengan harapan memperoleh penghasilan. Ia sendiri baru benar-benar terjun ke pekerjaan “formal” setelah lulus dari SMA. Saat itu, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan selama tiga tahun.

Lepas dari biro perjalanan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan kimia sebagai marketing. Mengendarai scooter butut, ia keliling dari kota-kota untuk menawarkan produk perusahaan tempatnya bekerja. Meskipun cukup melelahkan, ia melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Baginya perjuangan hidup untuk keluarganya jauh lebih penting dari sekadar rasa lelahnya.

“Ke manapun akan saya kejar, karena kita harus berjuang dengan penuh tanggung jawab. Tetapi saya sebenarnya tidak mempunyai impian dan cita-cita untuk menjadi apapun. Semua mengalir begitu saja, karena saya ingin menjadi diri sendiri tetapi bertanggung jawab terhadap apa yang saya lakukan,” tuturnya.

Setelah sekian lama berkutat sebagai karyawan, Winardi memperoleh kesempatan yang mengubah jalan hidupnya. Sebuah perusahaan travel bangkrut dan hampir tutup sehingga pemilik menjual seluruh sahamnya. Bersama keluarga dan dukungan teman, ia memberanikan diri untuk membeli perusahaan tersebut.

Meskipun saat itu usianya masih sangat muda, namun Winardi memiliki keyakinan yang tinggi. Apalagi, dalam menjalankan perusahaan barunya ia benar-benar hanya bermodal “dengkul” sehingga selain sebagai pemilik, ia juga yang menjadi pekerja. Namun, ia yakin bahwa dengan ketekunan dan kemauan yang tinggi, setiap orang “bisa” mewujudkan keinginan dan cita-citanya.

“Dengan kemauan yang betul-betul kita jalankan, akhirnya pelan-pelan perusahaan biro perjalanan menanjak. Dari hanya satu ruko, kemudian meningkat menjadi dua ruko dan seterusnya. Banyak kendala yang kami hadapi, tetapi semua kan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kalau dibilang kendala ya menjadi kendala, tetapi kalau tidak ya bukan kendala. Tergantung bagaimana pola pikir kita,” ungkapnya.

Perusahaan Winardi mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Dari perusahaan travel, ia kemudian merambah bidang usaha cargo, pendidikan, penerbangan dan lain-lain. Bidang pendidikan sangat lengkap dari berbagai jenjang, mulai TK, SD, SMP dan SMA sampai Perguruan Tinggi.

Untuk mengenang jasa orang tuanya, Winardi menggunakannya sebagai nama perusahaan. Salah satunya adalah penamaan perusahaan cargo, PT BTS Cargo yang merupakan singkatan dari Buana Trans Seantero. Sebenarnya, nama tersebut adalah julukan bagi sang ibu di kalangan keluarga dan teman-temannya.

“Ibu saya dipanggil BATAK SO oleh keluarga dan teman-temannya. Karena dulu, julukan atau panggilan ayah oleh rekan-rekannya adalah BATAK sehingga ibu saya menjadi BATAK SO. Dari nama tersebutlah saya singkat menjadi BTS dan nama perusahaan diberi BTS Cargo,” kisahnya.

Winardi mengakui bahwa kegigihan keluarganya dalam membangun perusahaan adalah semata-mata berkat Tuhan. Tanpa-Nya, seluruh usaha yang dilakukannya menjadi tidak berarti. Meskipun sering jatuh bangun, ia tidak pernah berputus asa dan selalu yakin bahwa Tuhan akan membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.

“Tuhan memang Maha Baik”, ujar WInardi yang mempunyai 4 orang anak, 1 laki-laki dan 3 perempuan ini. “Hal ini yang saya tekankan kepada anak-anak, agar mereka memiliki kemauan sendiri, tanpa harus disuruh dan mengerjakan apa yang mereka suka kerjakan. Karena jika kita memaksakan kehendak kepada anak, belum tentu dia suka dan mau melakukannya. Jadi mereka melakukannya dengan penuh suka cita sehingga pekerjaan itu tidak menjadi beban bagi mereka,” tegasnya.

Tidak Memiliki Cita-Cita

Memimpin perusahaan dengan berbagai bidang usaha, Drs. Winardi, MBA memiliki motivasi dalam dirinya sendiri. Motivasi paling penting adalah keinginan untuk membuktikan bahwa ketika orang lain mampu, ia juga bisa melakukan hal serupa. Dan memiliki berbagai bidang usaha, sebenarnya bukanlah cita-citanya. Tetapi itu pemberian Tuhan.

“Semua datang dan terjadi begitu saja dengan sendirinya. Saya bahkan tidak memiliki cita-cita. Karena kalau mempunyai cita-cita tetapi kita tidak menekuninya pasti tidak akan tercapai. Tetapi jika kita tekun dan kita jalankan sebagai mana mestinya, apa saja cita-cita dan keinginan kita pasti tercapai,” kata pria yang mengaku puas dengan pemberian Tuhan kepadanya ini.

Namun demikian, meskipun puas atas pencapaiannya, Winardi tidak akan pernah berhenti. Ia terus berjalan dan mengembangkan perusahaan agar memberikan kebaikan bagi umat manusia. Sambil menjalankan usaha, ia terus menerus mengucapkan syukur atas segala karunia dan kesuksesan yang diberikan Tuhan kepada dirinya dan keluarga.

Winardi menyadari, tanpa berkat Tuhan kesuksesan tidak akan hadir dalam hidupnya. Karena sebenarnya setiap manusia diberkati Tuhan untuk mencapai kesuksesan dengan profesi masing-masing. Selama manusia mampu mengatasi kendala, rintangan dan tantangan, serta kemauan untuk sukses Tuhan tidak akan menghalangi.

“Simple saja, yang penting ada kemauan karena siapapun bisa asalkan memiliki kemauan kuat untuk sukses. Kesuksesan itu merupakan milik semua orang. Boleh saja kita membaca buku tentang kiat sukses, tetapi semua tergantung pada kemauan masing-masing. Apa yang ada di buku bukan jaminan kesuksesan kalau karakter manusianya sendiri pemalas. Semua tergantung kemauan sendiri dan tekad yang kuat. Mereka juga jangan terlalu mengikuti orang lain karena memiliki bakat berbeda-beda,” tegasnya.

Bahkan, Winardi juga menegaskan bahwa dalam kamus bisnisnya tidak ada kompetitor. Setidaknya, kompetitor bukanlah menjadi prioritas untuk dikhawatirkan. Apa yang disebut kompetitor oleh orang lain, baginya adalah relasi yang mungkin akan menjalin kerjasama dengan perusahaan. Bukan tidak mungkin pula, perusahaan miliknya akan menjalin kerjasama dengan pesaingnya sendiri.

Dengan begitu, lanjutnya, ia bebas dari kepusingan dan membebani hidup dalam arena kompetisi. Tidak heran, Winardi bahkan tidak memiliki rencana pasti untuk masa depan perusahaan. Ia juga tidak memaksakan obsesi muluk-muluk untuk meraih impian dalam hidupnya. “Bagi saya hidup itu simple, kebahagiaan adalah hal paling utama dalam hidup saya. Apa yang saya mau lakukan ya lakukan saja. Ibaratnya, saya ingin perusahaan menjadi nomor satu, ya harus saya wujudkan menjadi perusahaan nomor satu. Just do it,” imbuhnya.

Karyawan Bukan Aset

Sebagai seorang pimpinan, Winardi menerapkan sistem kekeluargaan dalam menjalin hubungan dengan karyawan. Dengan sistem kekeluargaan, ia dapat langsung melihat dan memantau hasil kinerja karyawan. Sosoknya yang rendah hati dan jarang marah membuat anak buahnya sangat menyayangi dirinya. Meskipun apabila membuat kesalahan, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Bagi Winardi, karyawan sudah menjadi bagian dari perusahaan yang bersama-sama mengupayakan kemajuan perusahaan. Antara karyawan dan pimpinan harus satu hati demi kesejahteraan bersama. Untuk itu, ia tidak pernah menganggap karyawan-karyawan sebagai asset perusahaan.

“Saya tidak pernah bilang itu pegawai tetapi anggota. Saya tidak bisa bilang pegawai sebagai asset, karena mereka tidak bisa kita “pelihara” sampai tua. Kalau asset itu seperti komputer, kendaraan dan lain-lain, yang dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM, bisa melakukan manipulasi dan merugikan bukan menguntungkan perusahaan. Jadi tidak ada loyal customer, loyal employee, dan lain-lain sehingga yang tepat SDM adalah partner,” tegasnya.

(Revisi hlm 4 alinea 2)
Saya tidak pernah mengatakan karyawan saya adalah pegawai tetapi “anggota”. Dan semua orang mengatakan bahwa SDM itu asset, bagi saya SDM bukan asset tetapi partner saya dalam bekerja, karena kita sama-sama berjuang untuk memajukan perusahaan.
“Anggota” tidak bisa di “keep”, makin dipoles,  makin bagus, makin pintar malah semakin parah. INI FAKTA. Kita tidak bisa memelihara mereka sampai tua. Mereka bisa beralih ke perusahaan lain karena mendapatkan pekerjaan  dengan mendapatkan gaji yang lebih tinggi misalnya, apakah itu dikatakan ASSET????

Bagi saya yang dikatakan asset misalnya seperti komputer, kendaraan, karena dibeli dari hasil usaha dan dapat menghasilkan dan menguntungkan perusahaan. Sementara SDM yang melakukan manipulasi misalnya, malah merugikan dan bukan memajukan perusahaan. Apakah itu dikatakan ASSET????
“Dan kenapa SDM dikatakan asset sementara SDM itu kan manusia, bukan benda. Mungkin dikatakan SDM sebagai “asset” hanya sebagai arti kiasan, tetapi menurut saya tidak layak kalau SDM dikatakan “asset”.
Saya rasa lebih tepat SDM itu dikatakan PARTNER”.

Selama menjalankan usaha yang berkembang besar, Winardi selalu mengedepankan untuk bekerja keras. Ia bahkan tidak pernah memikirkan harapannya tentang perusahaan ke depan, baik jangka panjang maupun pendek. Keyakinannya adalah bahwa selama perusahaan mengikuti perkembangan zaman tidak akan mengalami kehancuran. Bahkan ia tidak memiliki rencana apapun tentang masa depan perusahaan.

“Just do it saja. Tidak ada rencana dan harapan jangka apapun. Yang penting saya mau, itu saja. Kalau sekarang saya mau memiliki hotel tetapi belum dikasih sama Yang Diatas, berarti itu yang terbaik. Pokoknya dalam hidup saya itu, plan do made planning. Lakukan yang bisa dilakukan, yang penting tidak membahayakan dan merugikan orang lain,” kata pemilik motto “Kesuksesan itu Milik Semua Orang” ini.

Winardi menegaskan bahwa agar setiap manusia ingin hidup berbahagia. Salah satu cara yang paling ampuh sesuai dengan pengalamannya adalah dengan membahagiakan kedua orang tua. Karena atas doa orang tualah, cita-cita dan harapan seorang anak akan diwujudkan oleh Tuhan. Bahkan, Tuhan menjamin restu orang tua akan membuat langkah-langkah seorang anak sangat mudah menjalani hidup. “Tidak ada yang mustahil dan tidak bisa. Just do it,” imbuhnya.

Begitu juga dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini. Menurut Winardi tidak perlu ketakutan berlebihan terhadap datangnya era tersebut. Ia mencontohkan bagaimana zaman dahulu kantor menggunakan mesin ketik untuk menuliskan laporan perusahaan. Seiring perkembangan zaman, mesin ketik berganti dengan komputer atau laptop dan tidak menimbulkan masalah berarti.

Winardi hanya mengingatkan bagaimana perhatian pemerintah terhadap rakyatnya. Karena di tengah perkembangan zaman globalisasi, rakyat hanya mampu menjerit menyuarakan penderitaan yang dialami. Sementara pemerintah terkadang cenderung mengabaikan dan kurang menanggapi keinginan masyarakat. Padahal, banyak sekali yang harus dibenahi untuk mendorong rakyat agar mampu bersaing di dunia global.

“Pemerintah harus memiliki kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Selama ini yang dipersiapkan untuk duduk di kabinet kan orang-orang politik. Tetapi akibatnya, sedikit-sedikit digoyang oleh saingan politiknya sehingga kalau mau menyalahkan pemerintah juga tidak bisa. Itu harus dibenahi secepatnya,” tambahnya.

PENDAPAT PERIHAL PEMERINTAHAN SEKARANG).

Semua juga sudah tahu bagaimana dengan pemerintahan kita saat ini. Perubahan sudah ada tetapi masih pada sektor tertentu, masih banyak yang perlu dibenahi.
Kelemahan pemerintah kita sampai saat ini bahwa masih kurang cepat dan tanggap dalam membenahi yang seharusnya dibenahi.  Jika sudah terjadi baru sibuk untuk berbenah.
Menurut saya pemerintah harus memiliki kabinet-kabinet yang mampu untuk memperbaiki masing-masing sektor dalam arti kata sudah paham, mengetahui dan mengerti betul akan bidangnya. Segalanya harus dibenahi. Tidak sibuk mengurus masalah politik terus. Sedikit digoyang sudah menanggapi masalah politik yang ada.
Mau menyalahkan pemerintah, juga tidak bisa karena jadi pemerintah juga tidak gampang. Yang perlu saat ini adalah semua jajaran/masyarakat harus kerjasama dan segala sesuatunya harus cepat dibenahi.

Winardi berpendapat bahwa generasi muda sekarang harus memiliki pola pikir yang global. Mereka tidak boleh melepaskan diri dari ajaran agamanya masing-masing. Generasi muda harus menyadari bahwa agama mampu membantu mengubah pola pikir dan karakter mereka. Selain itu, generasi muda juga harus memiliki kesadaran dan kemauan untuk berjuang demi kebaikan semua umat manusia.

“Generasi muda juga harus memiliki ilmu yang tinggi. Kesimpulan saya, lakukan yang terbaik. Jangan lihat orang lain harus dilihat pada diri sendiri dan jangan sekalipun mengikuti orang lain. Itu juga saya tekankan pada anak-anak saya sembari memberikan dorongan kepada mereka untuk mengembangkan bakat dan minat masing-masing. Saya tidak pernah mengekang kegiatan mereka selama masih positif. Karena sebagai keluarga, kami saling mendukung dan bekerja dalam satu team,” ungkap Drs. Winardi, MBA menutup pembicaraan.

Ir. Russel Tambunan, MBA

No Comments

Ir. Russel Tambunan, MBA
PT Agrifish Consultama Investment

Membina dan Mencetak Pengusaha Mandiri

Setiap pengusaha selalu berharap keuntungan besar dari usaha yang dijalaninya. Berbagai cara digunakan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan. Kadang, pengusaha bahkan melakukan kegiatan yang digolongkan sebagai pelanggaran hukum demi mewujudkan cita-citanya.

Namun, di antara pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, masih ada pengusaha berhati mulia. Pengusaha seperti ini tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri tetapi juga kesejahteraan bagi orang lain. Salah satunya, Ir. Russel Tambunan, MBA yang berusaha sekuat tenaga mengangkat kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dalam salah satu perusahaan net-work marketing yang didirikannya, Ia memiliki 20 ribu orang  marketer yang diharapkan mampu menjadi pengusaha mandiri.

“Menjadi tanggung jawab saya lah untuk membina mereka”. Kepada mereka saya sering mengatakan bahwa untuk menjadi pengusaha mandiri, harus penuh semangat, disiplin, ulet, fokus dan tidak boleh cengeng. Bersama-sama kita mencoba menjadi orang yang benar-benar mandiri, berkembang dan maju. Saat ini saya fokus terhadap pembinaan mereka ini sehingga nantinya mampu membuka usaha baru mandiri,” kata Presiden Direktur PT Agrifish Consultama Investment ini.

Keinginan dan cita-citanya untuk mencetak entrepreneur di Indonesia terinspirasi oleh konglomerat yang melakukan hal serupa. Ia mencontohkan bagaimana Ciputra, Surya Paloh, Sampurna, Lippo atau Abu Rizal Bakrie dengan dana dan kesempatan  yang dimiliki, sebagian diperuntukkan untuk  mengkader dan mencetak pengusaha baru. Terciptanya pengusaha atau entrepreneur baru akan sangat memudahkan membangun Indonesia dan mensejahterakan bangsa.

Apalagi, jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat kecil dan hanya mencapai dua persen dari jumlah penduduk. Idealnya, agar tercipta kesejahteraan yang merata di segala lapisan masyarakat, jumlah pengusaha minimal tujuh persen dari total jumlah penduduk. Kondisi ini jauh berbeda dari Singapura, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Ia berharap, lebih banyak lagi pengusaha baru yang lahir sehingga tercipta kesejahteraan yang diinginkan seluruh lapisan masyarakat.

“Proses pengkaderan harus terus terjadi, sehingga banyak pengusaha baru dan mandiri di seluruh Indonesia”. Dalam membangun Indonesia kita harus memiliki banyak pengusaha sehingga tidak kalah dari negara lain. Yang penting, semua harus bergerak bersama-sama dengan semangat saling percaya dilandasi niat baik. Tetapi niat baik saja tanpa pengetahuan dan keterampilan menjadi mubazir, tidak sampai pada tujuan. Saya berharap, mudah-mudahan di sisa hidup saya, banyak orang terbantu dan menjadi pengusaha-pengusaha muda sehingga saya bisa “merasa puas dan merasa berguna” diakhir karir saya, ungkapnya.

Pria kelahiran Tarutung, 10 Desember 1955 ini mengungkapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada konglomerat yang berperan terhadap kepentingan orang banyak. Apalagi mereka yang mendedikasikan diri bergerak di bidang pendidikan yang merupakan salah satu titik lemah bangsa kita. Sesuatu yang juga dilakukan oleh konglomerat dunia seperti Bill Gates yang telah memberikan begitu banyak dari keuntungan bisnisnya untuk kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan bagi penduduk miskin dan terlantar di seluruh dunia. “Saya mungkin tidak bisa mencapai seperti itu tetapi saya berusaha agar apa yang saya lakukan memiliki arti bagi orang banyak,” imbuhnya.

Memperbaiki Diri

Ir. Russel Tambunan, MBA menyelesaikan pendidikan SD-SMP di Sumatera Utara. Sedangkan pendidikan SMA di Tanjung Pinang, Riau. Selepas SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikan di  Sekolah Tinggi  Perikanan (STP) Jakarta.

“Saya lulus tahun 1979 dan langsung bekerja di perusahaan ekspor impor makanan, PT Semarang Cold Storage & Industri, Semarang selama lima tahun. Dari situ saya kemudian kembali ke Jakarta dan bekerja di Djayanti Group – Devisi Perikanan. Karier saya di sini cukup lama hingga mencapai posisi Direktur Utama disalah satu anak perusahaan selama enam tahun. Sebelumnya selama tujuh tahun saya menjabat sebagai Direktur,” ungkapnya.

Tidak hanya dalam karier Russel menonjol. Ia terus berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya. Tahun 1985, ia kembali ke kampus untuk mengambil Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan di Fakultas Perikanan Unibraw, Malang. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil meraih gelar Insinyur. Tidak puas sampai di situ, ia mengejar gelar MBA di Monash University – Melbourne, Australia yang berhasil diselesaikannya pada tahun 1999.

Dengan kemampuan luar biasa yang dimilikinya, Russel kemudian mendirikan perusahaan sendiri. Sambil terus berkarier sebagai profesional di Djayanti Group, diam-diam ia mendirikan perusahaan sendiri pada tahun 1994. Perusahaan pertama yang didirikannya adalah PT Agrifish Consultama Investment yang bergerak dibidang konsultan manajemen dan investasi. Setahun kemudian, ia mendirikan satu perusahaan lagi yang bergerak di bidang perikanan.

Tangan dinginnya dalam menangani perusahaan membuahkan hasil yang cukup gemilang. Perkembangan perusahaan mengalami kemajuan pesat sehingga tahun 2005, ia mendirikan perusahaan pelayaran. Tidak berhenti di situ, ia kemudian mendirikan PT Bangun Mandiri Wisesa tahun 2008 yang bergerak dibidang perdagangan dan impor – ekspor. Satu tahun kemudian, ia mendirikan PT Tama Sarana Development yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan penyewaan alat-alat berat. Perusahaan terakhirnya, yang sekarang sedang dikembangkannya adalah perusahaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Perusahaan ini sangat disenanginya karena banyak berhubungan dengan masyarakat dari golongan bawah yang kemungkinan bisa dikader menjadi pengusaha baru kecil dan menengah sebelun nantinya menjadi pengusaha besar.

“Sebagai pengusaha, saya juga tidak luput menghadapi kendala yang harus diatasi. Salah satunya adalah masalah kelesuan ekonomi yang kadang susah untuk diprediksi, masalah lain juga birokrasi yang menurut saya harus terus ditingkatkan khususnya masalah simplifikasi aturan dan kecepatan sehingga dengan aturan yang simple dan cepat dengan sendirinya menghasilkan efisiensi dan dapat bersaing dengan perusahaan lainnya khususnya perusahaan di luar negeri.  Pemerintah kita bisa saja belajar dari pemerintah Negara maju lainnya agar bisa semakin baik, cepat dan kalau bisa lebih baik dari Negara pesaing kita.  Makanya baik kita sebagai pengusaha maupun pemerintah kita harus terus belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Menurut Russel, dalam memperbaiki diri harus introspeksi dengan tanpa mencari-cari kesalahan orang atau pihak lain. Untuk membangun Indonesia semua pihak harus saling membantu satu sama lain. Apalagi karena sama-sama bertujuan untuk kesejahteraan bangsa sehingga tidak ada gunanya untuk saling menyalahkan. Di sisi lain, ia juga berharap agar pemerintah terus mengadakan penelitian mendalam sehingga dalam mengambil keputusan pemerintah menggunakan data tepat dan terbaru. Pemerintah harus terus menerus menerjunkan tim untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan. Dengan demikian “Peraturan yang dikeluarkan pemerintah tepat sasaran dan langsung mendukung kegiatan pengembangan para pengusaha”. Karena kalau peraturan dibuat kebanyakan berdasarkan teori pengetahuan dan perasaan birokrat saja dan pembuatannya juga terlalu lama,  sehingga begitu keluar selain tidak kena sasaran sudah terlambat dari dinamika kemajuan dilapangan dan akhirnya menjadi kontra produktif.

Kendala lain secara internal dari sisi pengusaha kadang ada miss planning karena sebagai pengusaha saya kadang terlalu menggebu-gebu. Tetapi bagi saya semua itu adalah pelajaran untuk terus memperbaiki diri, karena seorang pengusaha harus terus maju, tidak boleh menyerah dan harus tetap tenang dengan prediksi yang bagus dalam mengambil keputusan,” tambahnya.

Ke depan, Russel berharap agar perusahaan miliknya semakin maju dan berkembang. Bahkan, kalau mungkin berkembang menjadi perusahaan terbaik dan terbesar dibidangnya, dan kalau sempat menjadi perusahaan konglomerat baik local maupun internasional. Setidaknya, ia telah menyampaikan kepada anak-anaknya akan impiannya tersebut. Menjadi tugas anak-anaknya untuk meneruskan dan mewujudkan cita-citanya tersebut.

Saya memiliki 2 anak dari istri saya Ritha Frida SH. Anak saya yang pertama Allen Lawrence Tambunan sekarang masih mahasiswa di Fakultas Teknik Industri, di Swiss German Univercity. Sedangkan anak kedua saya masih kecil, Athina Theresia Tambunan, sekolah di St Pieter International School. Selagi masih muda, saya berharap agar mereka mendengarkan saya untuk meneruskan perusahaan ini. Saya memberikan gambaran tentang kondisi dan ke depannya bagaimana, sehingga langkah mereka semakin mudah dan fokus,” tegasnya.

Belajar dari China

Sebagai pemilik beberapa perusahaan sekaligus, Ir. Russel Tambunan, MBA berpendapat bahwa dunia usaha sekarang tidak bisa terlepas dari pasar bebas dan globalisasi. Pengaruhnya terhadap seluruh sendi kehidupan sangat terasa sehingga diperlukan kearifan dan kejelian dalam menyikapinya. Untuk menyiasatinya, ia menyarankan agar belajar dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang muncul belakangan.

“Kita tidak perlu malu belajar dari perusahaan-perusahaan yang sudah berprestasi dan maju”. Contohnya kita tidak perlu malu belajar dari China, bagaimana mereka mampu memproduksi barang yang menguasai dunia. Sewaktu saya tour ke Eropa dan Amerika, banyak sekali barang kebutuhan rumah tangga, barang fashion dan souvenir adalah buatan China. Oleh karena itu, kita mesti belajar dari China. Selain dari pada China saya juga melihat kemajuan luar biasa dari India. Untuk itu juga kita perlu belajar dari sana, karena memiliki karakter yang serupa. Negara yang berpenduduk banyak tetapi menghasilkan produk bermutu sekaligus murah,” tuturnya.

Menurut Russel, produk China saat ini sudah membanjiri seluruh negara di dunia termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Dengan situasi serupa, India juga telah berubah menjadi kekuatan ekonomi baru menggeser negara produsen yang lain. Karena alasan itulah, ia menyarankan agar Indonesia lebih baik mencontoh kedua negara tersebut dibandingkan Negara Eropa atau Amerika karena bisa lebih cepat dan lebih sesuai dengan karakteristik Indonesia yang berpenduduk banyak.

Hanya pada masalah pendidikan, Russel menyarankan untuk tetap mengacu pada sistem pendidikan Amerika atau Eropa. Kualitas pendidikan di wilayah tersebut masih tetap jauh lebih bermutu dibandingkan di negara-negara Asia. Untuk itu, pemerintah harus berani mengirimkan sebanyak-banyaknya anak-anak bangsa yang pandai untuk menyerap ilmu dari luar negeri. Pemerintah harus mau dan berusaha menyediakan dana besar untuk keperluan ini karena pada akhirnya juga untuk kepentingan dan kemajuan bangsa.

“Intinya pendidikan adalah hal yang penting dan urgen” Karena untuk meningkatkan kualitas manusia di suatu negara, pendidikan adalah hal yang paling utama dan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, pendidikan harus diutamakan, ditingkatkan dan membuka diri untuk pendidikan dari luar negeri. Dengan pendidikan dan pengalaman banyak di luar negeri, manusia Indonesia akan mempunyai pengetahuan dan komparasi yang banyak sehingga bisa memilih yang terbaik,” tandasnya. Beliau memberikan contoh suatu negara yang cukup maju akhir-akhir ini yaitu Malaysia. Malaysia banyak memiliki putra putri yang berpendidikan tinggi di luar negeri. Anak muda Malaisya banyak sekolah di Inggris karena sangat didukung oleh pemerintahnya sekaligus didukung oleh pemerintah Inggris yang merasa ikut betanggung jawab atas kemajuan Negara bekas jajahannya.

Pengusaha yang tertarik untuk terjun ke dunia politik ini, menganjurkan perbaikan pendidikan secara terus memerus dan utama. Pendidikan juga harus memperhatikan pendidikan entrepreneur. Sudah seharusnya pendidikan entrepreneur digalakkan pada setiap tingkatan pendidikan. Ia mengingatkan, secara statistik, entrepreneur di Indonesia baru mencapai 2 persen sementara Singapura sudah 7 persen dari jumlah penduduk.

Tidak diragukan lagi, lanjutnya, dalam membangun sebuah negara semua warga negara harus memiliki pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, ia sangat setuju dengan alokasi dana sebesar 20 persen dari APBN untuk pendidikan. Karena memang, kebutuhan untuk memajukan pendidikan sangat mendesak dilakukan. Diharapkan, ketika semua warga negara terdiri dari orang-orang pintar, maka sangat mudah dalam mengatur dan membangun negara.

“Pendidikan memang memerlukan biaya apalagi untuk bangsa yang besar ini”. Oleh karena itu, salah satu solusinya adalah dengan menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur baru. Saya berharap, pengusaha sukses bisa menciptakan pengusaha-pengusaha baru sebanyak-banyaknya. Dan, selagi ada waktu saya akan terus menerus berusaha untuk menciptakan sebanyak mungkin pengusaha baru yang mandiri dan yang lebih hebat dari saya. Semua saya lakukan untuk kepentingan bersama, membangun bersama dan sukses bersama. Itulah yang akan saya lakukan, mentransfer pengetahuan dalam membangun manusia Indonesia, bangsa dan negara,” kata Ir. Russel Tambunan, MBA.

Motto perusahaan saya adalah: “ Solid – Growth and Worth”, sementara motto pribadinya adalah “ Do My Best, beyond is God Will”

Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA

No Comments

Founder & Managing Director Bali Tropic Resort & Spa

Indonesia Harus Dipimpin oleh Orang yang Mampu Menjauhkan Kepentingan Diri Sendiri

Indonesia kembali diguncang peristiwa besar. Setelah kasus Gayus –pegawai Ditjen Pajak golongan III A yang mampu melakukan korupsi luarbiasa besarnya- usai, kini menyusul kasus yang lain. Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazarudin tertangkap oleh Interpol di Kolombia setelah berbulan-bulan buron.

Kasus ini menjadi besar tidak hanya korupsi karena melibatkan partai yang sedang berkuasa, tetapi “nyanyian” Nazarudin juga menyeret orang-orang penting di negeri ini. Apalagi, kabarnya nilai uang yang dikorupsi Nazarudin mencapai hitungan Rp6,7 triliun. Sebuah jumlah yang sangat mencengangkan mengingat uang sebanyak itu bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan dikorupsi yang hanya menguntungkan segelintir orang saja.

Meskipun demikian, pengungkapan kasusnya sendiri –seperti juga kasus yang lain- kelihatannya akan menemukan jalan buntu. Penyebabnya, nuansa politis yang sangat kental membuat pihak berwenang kesulitan membongkarnya. Begitu pun, pelakunya yang belakangan “lempar handuk” terhadap kasus yang membelitnya tersebut.

Sejatinya, Indonesia harus terbebas dari segala jenis korupsi agar mencapai kesejahteraan rakyat seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa ini. Jangan sampai, karena korupsi yang sudah demikian akut dan merajalela, kepentingan bangsa justru terlupakan. Kesejahteraan rakyat menjadi bukan prioritas lagi dan hanya sekadar menumpuk pundi-pundi kekayaan para pemimpinnya. 

“Semua bicara tentang bagaimana menyejahterakan bangsa ini, tetapi kenyataannya rakyat kecil menderita karena tidak mendapat perhatian pemerintah. Kunci mengatasi permasalahan tersebut ada pada pemimpinnya, yaitu sepanjang pemimpin melanjutkan visinya dengan penuh tanggung jawab. Orang yang memimpin Indonesia adalah orang yang bisa menjauhkan kepentingan diri sendiri dan mengutamakan rakyat,” kata Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA., Founder & Managing Director Bali Tropic Resort & Spa…

Jro Gede –panggilan akrabnya- menyebutkan salah satu budaya kepemimpinan Bali, yakni adanya Tri Kaya Parisudha yang berarti “Apa yang dipikirkan itu yang diutarakan”. Ungkapan tersebut bermakna kurang lebih sebagai kejujuran dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dalam pengamatannya, sikap yang mencerminkan Tri Kaya Parisudha tidak ada pada kalangan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia.

Selain itu, menurut Jro Gede, untuk mengatasi korupsi yang semakin merajalela di seluruh lini kehidupan, sistem kepartaian di Indonesia harus dievaluasi. Cara-cara untuk duduk sebagai anggota dewan perwakilan rakyat (DPR atau DPRD) dengan menyogok harus dihentikan. Artinya seorang pejabat yang terpilih karena menyogok akan berusaha untuk mengembalikan modal yang sudah dikeluarkannya.

“Jadi untuk mencapai target yang ideal, Indonesia masih sulit karena pimpinannya tidak bisa membuat rencana yang luar biasa hebat untuk kepentingan rakyat Indonesia. Prinsip how much for my pocket, for myself harus ditinggalkan demi kesejahteraan rakyat.. Seharusnya untuk duduk di eksekutif, bukan dengan menggunakan uang tetapi murni kemampuan yang ada. Jangan hanya lip service saja dalam memimpin Indonesia, harus ada tindakan nyata,” tandasnya. 

Pembangunan Tanpa Rencana

Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA., mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Apabila kondisi seperti saat ini masih terus bertahan, bukan tidak mungkin cita-cita kesejahteraan bangsa hanyalah ilusi belaka. Tidak ada patokan yang bisa digunakan untuk meramalkan terjadinya kemakmuran di bumi nusantara. Apalagi, pembangunan yang dilaksanakan pemerintah sekarang ini tidak mempunyai rencana sama sekali. 

“Pembangunan di Indonesia sekarang tidak memiliki planning sama sekali, berbeda dengan zaman Soeharto. Seharusnya disusun program yang baku sehingga siapapun yang melanjutkan pemerintahan sekarang dan seterusnya tinggal melanjutkan program yang sudah ada. Kenapa, karena yang melanjutkan itu tidak akan berkutat dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, harus ada lagi repelita, harus ada rencana pembangunan. Jangan sampai karena presiden dan kementerian baru, kebijakan pun menjadi baru dan melupakan pondasi yang lama,” tegasnya.  

Ia mencontohkan pada Kementerian Pendidikan yang setiap berganti menteri terjadi pergantian kurikulum. Akibatnya, buku-buku pelajaran pun harus diganti sehingga sangat menyulitkan masyarakat bawah. Zaman Presiden Soeharto, buku jarang diganti-ganti sehingga bisa diberikan kepada generasi berikutnya.. Sementara sekarang, selain kurikulum selalu berubah setiap pergantian kabinet, buku-buku pelajaran pun dirancang untuk sekali pakai saja.

“Kurikulum terus berubah menyesuaikan selera menterinya sehingga bongkar pasang terus. Padahal kalau dilihat secara cermat, sebenarnya materi akademik memang terus berkembang tetapi tidak harus semuanya diubah. Artinya, memang secara prinsipil ada beberapa perubahan di bidang akademik tetapi harus tetap memperhatikan basic materi pendidikan yang harus tetap ada. Mungkin perlu diadakan penambahan-penambahan terhadap perubahan baru di bidang akademis,” katanya.

Dari kacamata pengusaha, lanjut Jro Gede, pemerintah seharusnya mengutamakan pembangunan infrastruktur. Utamanya, infrastruktur yang bisa mempermudah aktivitas masyarakat. Yaitu sarana dan prasarana yang diperlukan untuk rakyat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Karena sebenarnya masyarakat memiliki potensi masing-masing yang karena terkendala kurangnya infrastruktur membuat mereka sulit mengubah hidupnya.

Potensi tersebut, menurut Jro Gede terletak pada sosok generasi muda Indonesia. Syaratnya, generasi muda harus memiliki semangat tinggi untuk membangun bangsa. Dengan menggunakan dan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di sekitarnya, generasi muda memiliki kemampuan untuk menguasai dunia. Apalagi kemajuan teknologi internet memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi yang mendukung kemajuan generasi muda.

“Anak-anak muda tidak seharusnya hanya berkeinginan untuk menjadi karyawan atau PNS. Mereka harus berusaha menjadi wirausaha mandiri sehingga bisa menggandeng beberapa orang dan membuka lapangan pekerjaan bagi rakyat agar tidak bergantung kepada pemerintah. Tidak perlu menjadi pegawai dan lebih baik menjadi entrepreneur untuk membantu kesejahteraan bangsa ini,” tandasnya.

Jro Gede yakin, sektor pariwisata masih  merupakan penyumbang terbesar bagi kemakmuran Indonesia di masa mendatang. Mengingat potensi Indonesia sebagai sebuah negara yang menawarkan keindahan yang sangat eksotis dan menarik wisatawan. Baik di darat, laut dan udara, pariwisata Indonesia menawarkan sesuatu yang berbeda. Tinggal pemerintah yang harus menyediakan infrastruktur pendukung. “Karena kami yang swasta tidak mampu melakukan itu,” imbuhnya.

Pria kelahiran Bangli, 22 Januari 1943 ini, menyarankan agar pemerintah membentuk “poros” pariwisata antar kementerian. Poros pariwisata tersebut terdiri dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan serta Kementerian Pariwisata dengan mengoptimalkan tugas masing-masing. Kementerian Kelautan dan Perikanan menjaga kelestarian laut beserta hasilnya, Kementerian Perhubungan menyediakan saranan dan prasanana infrastruktur yang lengkap dan memadai. “Semua itu dibawah koordinasi Kementerian Pariwisata,” tegas pria yang bersama istrinya menjadi “mandor” pembangunan resort-nya itu.  

Namun, Jro Gede menyayangkan kepedulian pemerintah yang sangat kecil terhadap dunia pariwisata. Beberapa kali proposal terkait pengembangan pariwisata yang diajukannya tidak dipedulikan Menteri Pariwisata. Padahal masukan-masukan yang diberikannya untuk kepentingan memajukan pariwisata Bali dan Indonesia pada umumnya. Sebagai pelaku industri pariwisata, ia sangat menguasai kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh Indonesia.

Selalu Kelihatan Premium

Sebagai pengelola hotel di salah satu kawasan pariwisata tersibuk di dunia, Jro Gede memiliki berbagai kiat. Pengalaman puluhan tahun membuat ia tahu betul inovasi apa yang harus dilakukannya. Salah satunya adalah menghadirkan manusia Bali yang utuh di dalam hotelnya. Tidak hanya sekadar pelayan dan karyawan hotel yang menggunakan seragam dengan adat Bali, namun ia juga menghadirkan budaya Bali dalam hotel lengkap dengan pura besar sebagai tempat ibadah bagi karyawan yang beragama Hindu.

“Kebijakan saya adalah bahwa sebuah hotel harus selalu kelihatan premium. Inovasi yang kita lakukan salah satunya dengan all in inclusive services. Selain itu, kami selalu menghaturkan sesajian yang lengkap di Pura didalam hotel yang dapat disaksikan langsung oleh tamu. Pura di hotel kami bukanlah suatu pajangan tetapi merupakan tempat ibadah bagi umat Hindu di Bali Tropic dan juga merupakan tempat untuk memperkenalkan dan mempromosikan budaya dan tradisi Bali bahkan pada hari-hari tertentu kami melaksanakan upacara yang cukup besar yang dapat menarik perhatian para tamu yang menginap” katanya.

Langkah-langkah inovasi yang dilakukan Jro Gede sangat membantu dalam menjaga Bali sebagai tujuan wisata dunia. Bali yang merupakan “sepotong surga yang tertinggal di bumi” setiap tahun di kunjungi oleh jutaan wisatawan dari seluruh dunia untuk menikmati keindahannya. Banyak di antara wisatawan yang tinggal berbulan-bulan atau bahkan menetap seumur hidup dan berbaur dengan kehidupan masyarakat asli Bali.

Sebagai pengusaha asli Bali yang tetap kokoh mempertahankan tradisi Bali, Jro Gede sangat serius menjaga tradisi Bali dan melebur dengan ajaran agama yang diyakininya. Semangatnya semakin tinggi, ketika di sekelilingnya banyak orang-orang asing yang “lebih” Bali dari orang yang terlahir di Pulau Dewata tersebut. Ia sadar, orang Bali harus kokoh dan kuat dalam memegang dan mempertahankan budayanya dan tidak terpengaruh budaya asing. 

Semangat untuk mempertahankan budaya asli Bali terus digelorakan oleh tokoh pariwisata yang sangat idealis ini. Berbagai ide dan gagasan dituangkannya, salah satunya melalui pembangunan Bali Tropic Resort & Spa yang dibangun pada tahun 1988. Ia merancang dan mengawasi (bersama sang istri-Jro Istri Karang Sumerti Suarshana) proses pembangunannya yang disesuaikan dengan filosofi Bali yang diyakininya, “TRI HITA KARANA”.

Jro Gede membangun resort di tepi pantai tersebut dengan menggunakan konsep Tri Hita Karana, Asta Bumi dan Asta Kosala-Kosali. Sedangkan fasilitas di dalamnya disesuaikan dengan standar hotel internasional berbintang lima. Dengan begitu, wisatawan asing dapat menikmati keindahan dan keunikan arsitektur serta nuansa Bali tetapi menggunakan fasilitas hotel bintang lima.

“Kami memiliki 150 kamar dan mungkin akan terus ditambah. Karena banyak divers yang tinggal lama di sini dan menyebarkan promosi gratis dari mulut ke mulut,” ujar kakek dengan 4 orang cucu ini yang berharap kelak salah satu cucunya menjadi seorang dokter. Ia ingin suatu saat, Indonesia juga memiliki rumah sakit yang menjadi rujukan bagi pasien di luar negeri. “Selalu Singapura atau Thailand. Makanya saya ingin membangun sebuah rumah sakit di Bali yang komplit. Tetapi belum terwujud meskipun idenya sudah ada,” tambahnya.

Dalam membangun hotel, Jro Gede menyesuaikan dengan idealismenya. Ajeg Bali adalah mempertahankan budaya Bali seutuhnya, tetapi menggunakan konsep internasional. Untuk membangun gazebo yang menghubungkan antar cottage, ia mengukur dengan Asta Bumi menggunakan ukuran tapak kaki. Selain menerapkan ajaran agama, ia selalu ingin mempertahankan budaya asli Bali tetap seperti sedia kala. 

Tri Hita Karana, menurut Jro Gede adalah tiga aspek yang akan membuat hidup manusia berbahagia. Aspek pertama adalah hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, kemudian hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Ketiga aspek tersebut betul-betul dijaga agar terjalin dengan harmonis dan seimbang. Dalam agama Hindu, untuk menjaga keselarasan dan keseimbangan tersebut setiap tahun diselenggarakan upacara besar dan tiap hari upacara kecil. 

Tidak berhenti di situ, Jro Gede menerapkan filosofi Tri Hita Karana dalam mengelola hotel. Salah satunya dengan membangun instalasi pengolahan air limbah di Bali Tropic Resort & Spa. Di mana, limbah yang dihasilkan akibat aktivitas tamu hotel seperti mandi, buang air dan lain-lain, diolah kembali menjadi pupuk kompos dan air bersih untuk menyiram tanaman di halaman hotel.

“Airnya layak konsumsi. Ikan yang kami pelihara menggunakan air hasil olahan limbah berkembang dengan baik. Pupuk yang dihasilkan juga menyuburkan tanaman di hotel ini. Jadi filosofi Tri Hita Karana  saya terapkan di sini sehingga limbah yang keluar dari aktivitas Bali Tropic Resort & Spa tidak akan mencemari lingkungan,” ungkap Dr.. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA..

Biodata:

Nama: Dr. (HC) Jro Gede Karang Tangkid Suarshana, MBA

Tempat tanggal lahir: Desa Undisan, Klod-Bangli, 22 Januari 1943

Nama Istri: Jro Istri Karang Sumerti Suarshana

Nama Ayah: I Made Bude

Nama Ibu: Ni Wayan Janji

Nama Anak-anak:

  • Ni Luh Putu Sri Utami
  • I Made Arya Karang Utama Yasa

Nama Cucu:

  • I Gede Eka Dharma Putra Karang S. Suarshana
  • Komang Astiti Bhakti Adnyana Mahardika Putra Karang S. Suarshana
  • Ketut Putra Dalem Krishnayoga Karang S. Suarshana
  • Putu Keisha Putri Karang Suarshana (cucu terakhir dari putra yang kedua)

Pendidikan:

  • Program S2 Sales & Marketing Pariwisata Global Institute of Management
  • Gelar Doctor Honoris Causa (HC) dalam bidang Budaya & Pariwisata dari World University, USA yang diterima di London, Inggris

Pekerjaan:

  • Pendiri dan Presdir PT Gumi Bali (2002)
  • Pendiri dan Managing Director Bali Tropic Resort & Spa (1988-sekarang)
  • Pendiri dan Direktur Wisata Nusa Damai Transport (1982-sekarang)
  • Pendiri dan Direktur Suartur (1981-sekarang)

Organisasi:

  • Wakil Ketua Majelis Perimbangan Partai Demokrat Provinsi Bali (2006-sekarang)
  • Ketua Panitia Pengembangan Desa Miskin/Teringgal menjadi desa Ekowisata “Taman Sari” di desa Undisan, Bangli (2006-sekarang)
  • Ketua Tim Sukses SBY-Kalla (2004)
  • Ketua Bali Travel Mart (2000)
  • Pendiri Yayasan Ibu Pertiwi (2000)
  • Sekjen Bali Promo/Promotor Resque Program Pariwisata Bali (1998-1999)
  • Ketua Konferensi ASITA Nasional (1986)
  • Ketua ASITA Bali (1985-1987)

Penghargaan:

  • Best Quality Service Of The Year untuk Bali Tropic Resort & Spa dari International Business & Company Award 2010 (bulan Juli 2010)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (Emerald Medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Penghargaan Red Star Award dari ITS Reisen (salah satu travel agent terbesar di Jerman) tahun 2009
  • Penghargaan ASEAN Green Hotel Award 2010-2011 untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Sertifikat Emas dari Tim Verifikasi Standarisasi Keamanan dan Keselamatan Hotel untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2009)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (gold medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2008)
  • Satya Lencana Emas – Karya Karana Pariwisata Tertinggi (Juara Pengembangan Pariwisata dari Pemerintah Provinsi Bali) tahun 2007
  • Penghargaan ASEAN Green Hotel Award 2008-2009 untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (gold medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan One of The Best 99 Favorite Hotel in The World untuk Bali Tropic Resort & Spa oleh Holiday Check, Berlin – Germany (tahun 2007)
  • Sertifikat Emas dari Tim Verifikasi Standarisasi Keamanan dan Keselamatan Hotel untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2007)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (silver medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2006)
  • Penghargaan Tri Hita Karana (bronze medal) untuk Bali Tropic Resort & Spa (tahun 2005)
  • Juara I (Medali Emas) Rumah Luga Pedesaan untuk Puri Karang (tahun 1996)
  • Juara II (Medali Perak) Rumah Luga Pedesaan untuk Puri Karang (tahun 1995)
  • Juara II (Medali Perak) Rumah Perkotaan se provinsi Bali untuk Suartur (tahun 1990)