Tag: motivasi

Hj. IVA LATIVAH THAHIR

No Comments

Hj. IVA LATIVAH THAHIR
“Mengembangkan Profesi Sekaligus Syiar Islam”

Untuk mencapai sesuatu keberhasilan tidaklah mungkin diperoleh hanya dengan berpangku tangan atau bekerja seadanya artinya harus mau bekerja keras, berusaha maksimal, bersemangat, banyak belajar dan yakin dengan apa yang dikerjakan akan berhasil, dengan di iringi  rasa penuh tanggung jawab. Ketika kerja keras dan usaha yang maksimal telah kita jalani, masih ada hal lain yang tidak bisa diabaikan dan dilupakan oleh manusia untuk mencapai keberhasilan tersebut, yakin berdo’a mengharapkan pertolongan dari Allah SWT. Demikian kunci sukses Hj. Iva Lativah Thahir yang merupakan Owner dari Galeri IVA di dalam menjalani kehidupannya maupun menekuni profesinya sebagai seorang perancang busana muslim.

“Kita harus selalu berusaha untuk memotivasi diri kita sendiri bahwa kita ini mampu untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, tentu saja disamping keinginan dan semangat yang kita punya, kita juga harus punya keterampilan, pengetahuan, wawasan, dan kemauan untuk belajar. Kalau orang lain mampu, kenapa kita tidak?!”, ungkap sosok wanita yang saat ini di percaya pula menjabat sebagai Ketua Umum dari Ikatan Perancang Busana Muslim  (IPBM) Jawa Barat, yang selalu ramah dan santun dengan setiap orang.

Menciptakan Busana Muslim yang Santun dan Modis

Dalam ketentuan agama Islam, setiap wanita muslim diwajibkan untuk menutup auratnya. Dengan mengenakan busana yang sesuai sehingga bagian-bagian tubuh yang seharusnya “tidak dipamerkan” dan tetap tersembunyi. Tentu bagi wanita muslim yang taat, penggunaan busana muslim dalam aktivitas sehari-hari merupakan kewajiban.

Apalagi, Indonesia tidak mengenal larangan bagi wanita untuk beraktivitas di luar rumah. Wanita Indonesia bebas melakukan aktivitas seperti bekerja atau sekadar bersosialisasi di luar rumahnya sendiri. Tentu bagi wanita muslim harus pandai-pandai dalam memilih busana yang dikenakannya setiap keluar rumah. Karena syariat Islam mengatur secara ketat, cara berbusana bagi wanita muslim yang benar.

Berbeda dengan busana wanita Arab di tempat Islam berasal, model busana wanita muslim Indonesia disesuaikan dengan budaya asli bangsa ini. Berbagai macam rancangan busana wanita muslim mengambil corak dan bahan dasar dari berbagai etnik dan suku bangsa di Indonesia banyak beredar. Padu-padan antara budaya Islam dan adat istiadat lokal menghasilkan paduan yang harmonis tetapi tidak melanggar ketentuan.

Salah satu perancang busana muslim handal di Indonesia adalah Hj Iva Lativah  atau yang akrab di sapa Iva. Hasil karya wanita asal Bandung ini telah berhasil menembus pasar busana muslim internasional. Artinya, pengakuan terhadap rancangan-rancangan busana muslim yang dihasilkannya bukan hanya di Indonesia tetapi telah diakui dunia. Padahal, semula putri ke-5 pasangan      DR. KH. E.Z. Muttaqien dan  Siti Syamsiah ini “hanya” melaksanakan amanat agama yang sering disampaikan sang ayah.

“Saya menekuni profesi sebagai perancang busana muslim berdasarkan amanat agama yang sering disampaikan ayahanda perihal perlunya wanita muslimah berbusana muslim. Tetapi saya berpikir, busana muslimah itu harus modis sehingga mampu digandrungi kaum wanita, baik tua maupun muda. Saya mendapatkan kepuasan setelah lebih dari 21 tahun rancangan saya bisa memuslimahkan wanita-wanita muslim dengan menggunakan busana muslim yang santun tetapi tetap modis,” kata wanita yang mengambil namanya sendiri, IVA LATIVAH sebagai merek dagang ini.

Wanita yang sempat mengenyam pendidikan di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran ini, mulai tergugah jiwa wira usahanya setelah melalui gerbang pernikahan. Sebagai ibu rumah tangga biasa istri seorang PNS, ia mulai menata kehidupan dengan berdagang kecil-kecilan. Pada awalnya, lahan bisnisnya adalah teman-temannya sendiri. Seiring dengan perjalanan waktu, ia melebarkan sayapnya hingga mampu memiliki galeri busana sendiri. Bahkan, galerinya bertempat di Bandung dan Jakarta, dengan hasil rancangan busana mampu menembus hingga manca negara.

“Impian masa kecil saya adalah ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan hidup cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, simple memang. Banyak kenangan yang menjadi motivasi dalam kehidupan ini karena masa kecil yang sangat prihatin di antara 10 bersaudara. Ini menjadi motivasi juga bagi anak-anak dan karyawan saya,” tutur penerima berbagai penghargaan terkait dengan prestasinya dalam rancang busana muslim tersebut, diantaranya    Anugerah Citra Perempuan Indonesia (tahun 2002), Penghargaan  Indonesia Good Professional Selection, Penghargaan Islamic Award, Penghargaan Jimmy’s Enterprise Mas, Penghargaan International Professional Association (tahun 2005), Penghargaan Indonesian Best Designer Of The Year 2006   dari Yayasan Penghargaan Prestasi Indonesia, Penghargaan  Indonesian Best Business & Professional Innovation dari World Achievement Association (tahun 2007) dan masih banyak lagi yang lainnya ini.

Perempuan kelahiran Bandung, 28 Mei 1958 yang banyak mengikuti fashion show di luar negeri ini, menyatakan bahwa penghargaan masyarakat terhadap apa yang dilakukannya terlalu tinggi. Padahal, masih banyak orang-orang lain dengan karya-karya yang jauh lebih hebat dan lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang telah diperbuatnya. Namun demikian, apresiasi masyarakat tersebut harus tetap dijaga dan dikembangkan dengan sepenuh hati serta keikhlasan.

Minat Perancang Muda

Dalam menjalankan usaha, Hj Iva Lativah Thahir seperti juga para perancang busana lainnya, mendirikan galeri sebagai sarana “memajang” hasil karyanya. Selain di Bandung, Galeri IVA juga terdapat di Jakarta untuk melayani konsumen ibukota. Banyak suka dan duka telah dialami dalam menjalankan usaha tersebut.

“Terlebih bila harus mengeksplor rancangan-rancangan baru yang sejalan dengan model busana dunia sehingga busana rancangan saya mampu memenuhi trend dunia. Alhamdulilah rancangan busana muslim rancangan saya mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional,” ujar wanita yang sering mengadakan berbagai peragaan busana baik di dalam negeri dan luar negeri seperti,  Bali Fashion Weeks, Hongkong Fashion Weeks, Kuala Lumpur Fashion Weeks,  Fashion Tendance APPMI Jawa Barat,  Myanmar Fashion, Malaysian Islamic Fashion Festival, Maroko Kampoeng Indonesia, Fashion Show di 80th Anniversary Charity Ladies high Tea 2008, Singapore., Cape Town Moslem Fashion Singapore: Ex Chanting Indonesia, Fashion Show di Melbourne,  Fashion Show di Brunei dan Fashion Show di Dubai.

Ke depan, Iva memiliki obsesi untuk menciptakan perancang-perancang muda kreatif. Diharapkan para perancang muda mampu menggunakan bahan dasar hasil produksi budaya masyarakat. Mengingat banyak produk tekstil hasil produksi daerah berdasarkan adat yang memiliki tekstur indah dan langka menunggu dikembangkan lebih lanjut.

Iva mengisahkan bahwa dalam 20 tahun terakhir ia telah menggeluti batik, baik tradisional maupun kontemporer dalam rancangannya. Ia juga “memasukkan” kain sutera sebagai bahan utama rancangan-rancangannya. Ia bersyukur, karya-karya rancangan busana yang dihasilkannya sudah “go international”. Rasa syukurnya semakin membuncah, tatkala menyadari bahwa sekarang telah lahir perancang-perancang muda handal yang memiliki tanggung jawab moral, religi, dan budaya nasional.

“Alhamdulilah…. Harapan saya adalah akan menumbuhkan minat generasi muda berikutnya untuk megikuti jejak langkah saya sebagai perancang busana muslimah yang handal dan dihargai di pasar dunia. Tetapi usaha ini adalah usaha yang membutuhkan talenta, sehingga cukup sulit untuk regenerasi maupun kaderisasi. Yang jelas, usaha ini adalah sebuah profesi yang harus dijalankan secara professional. Bagi saya, sepanjang masih mampu dan berkemampuan akan saya tekuni terus sebagai langkah ibadah,” tuturnya.

Iva yang mendapatkan dukungan penuh dari keluarga ini sangat bersyukur, anak ketiga –Adila Aafiyah- memperlihatkan bakatnya dalam rancang busana.  Kesukaan menggambar yang menjadi modal dasar sebagai perancang telah dimiliki siswi SMA Taruna Bakti ini. Sang anak juga mulai banyak bertanya tentang berbagai macam busana rancangan ibunya. “Terkadang saya suka mengajaknya berdiskusi mengenai warna-warni rancangan busana karya saya. Tampaknya dia memiliki talenta yang kuat,” kata wanita yang mendapat dukungan sepenuhnya dari suami tercinta dan dua anak laki-lakinya, yaitu Muhammad Reva, ST., dan Muhammad Faisal, ST.

Meskipun begitu, Iva tidak memaksakan kehendak bagi masa depan anak-anaknya. Mereka dibebaskan untuk mengembangkan kemampuan berdasarkan bakat atau talentanya masing-masing. Ia bersama sang suami hanya menjadi fasilitator untuk mendukung langkah-langkah yang dilakukan ketiga anaknya. Untuk lebih “mengenal” aktivitas ketiga anaknya, Iva dan keluarga sering melakukan aktivitas bersama-sama sambil mendiskusikan pengalaman mereka di luar rumah. “Terkadang dengan melakukan traveling bersama ke berbagai tempat. Pendidikan anak kita landaskan kepada kemampuannya bukan berdasarkan obsesi kita sebagai orang tua,” imbuh wanita yang murah senyum ini menambahkan.

Dengan begitu, lanjut Iva generasi muda penerus bangsa secara alamiah akan berkembang. Pada perkembangannya, mereka juga akan memiliki kemampuan untuk memimpin bangsa ini. Yang mana untuk mencapai hal tersebut, seluruh komponen bangsa harus memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk memimpin bangsa dan terus mengawalnya. “Allah Maha Perencana bagi bangsa dan negara tercinta ini,” ujarnya.

Hj Iva Lativah menyebutkan bahwa kondisi Indonesia di masa mendatang akan menjadi lebih baik. Dengan kepemilikan atas SDM yang lebih baik dari sekarang ini, nampaknya “Indonesia yang lebih baik” tersebut tidak terbendung. Prioritas di bidang pendidikan dan penciptaan lapangan kerja yang dilakukan pemerintah mempertegas tercapainya tujuan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah prioritas dalam bidang pertanian dan hasil usaha tani serta usaha mikro lainnya.

“Semua harus didorong untuk pencapaian kesejahteraan dan penghapusan kemiskinan di Indonesia. Insya Allah Indonesia di masa datang akan lebih baik apabila kita semua berpijak kepada asas budaya bangsa dengan dilandasi syariat agama,” tegas perempuan yang kurang memahami masalah politik ini. “Tetapi paling tidak politisi masa depan akan lebih baik dan memiliki tanggung jawab moral yang tinggi terhadap bangsa dan negara,” tambahnya sambil menutup perbincangan di siang hari yang cerah dengan Tim Profil.

Surungan Sitorus

No Comments

Surungan Sitorus
Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Memberikan Pelayanan Terbaik Bagi Nasabah

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondisi masyarakat menengah ke bawah di Indonesia masih memprihatinkan. Meskipun memiliki produktivitas yang bisa meningkatkan kesejahteraan, tetapi banyak kendala yang menghalangi. Yang mana, apabila potensi yang mereka miliki dapat dikembangkan, selain meningkatkan kesejahteraan juga membuka lapangan kerja.

Ironisnya, kendala yang menghalangi pengoptimalan produktivitas kalangan tersebut berasal dari birokrasi sektor perbankan yang bertele-tele. Padahal, kehadiran sektor perbankan sangat diperlukan untuk permodalan yang mereka perlukan agar produktivitas semakin meningkat. Akibatnya, banyak di antara masyarakat menengah ke bawah yang enggan berhubungan dengan pihak bank.

“Itulah yang memotivasi saya dalam menekuni pekerjaan ini. Keengganan masyarakat untuk bekerja sama dengan bank, membuat saya berpikir harus menekuni profesi ini. Saya harus mampu memberi pelayanan terbaik bagi nasabah, sehingga mereka akan memilih perusahaan yang saya pimpin untuk mengembangkan usaha,” kata Surungan Sitorus, Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda.

Selain itu, motivasi lain yang meningkatkan semangat Sitorus dalam menekuni usaha ini adalah cita-cita masa kecilnya. Saat masih berada di desa Parsambilan, Kecamatan Silaen Kabupaten –Tobasa, ia bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang perbankan. Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, setelah lulus SMA 5 Medan tahun 1985, ia menempuh pendidikan D3 di Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia melengkapinya dengan melanjutkan S1 pada Jurusan Manajemen, FE STIE Labuhan Batu.

Meskipun demikian, pria kelahiran 11 Desember 1966 ini, merasa belum puas dengan raihan prestasi selama ini. Sitorus yakin, dengan dukungan dari seluruh komponen terkait dari ruang lingkup perusahaan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik. “Saya yakin dengan profesi yang saya tekuni memiliki kesempatan untuk melahirkan prestasi yang lebih baik lagi. Asalkan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen di perusahaan ini,” tandas pria yang menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di kampung halamannya ini.

Dalam menjalani profesi, Sitorus tidak lepas dari perasaan suka dan duka. Seperti juga manusia lain, dalam berkarier masalah tersebut ditambah kendala harus dihadapinya. Ia berbagi pengalaman bahwa perasaan suka biasanya akan datang kalau mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan hasil memuaskan.

“Duka saya adalah ketika karyawan terbaik saya cuti atau sakit padahal tenaganya sangat dibutuhkan. Sedangkan kendala, seperti juga masalah yang dihadapi dunia perbankan lain adalah kredit bermasalah. Apalagi kalau jumlahnya besar dan susah ditagih,” tandasnya.

Sitorus memiliki obsesi untuk mewujudkan impian agar perusahaan dibawah pimpinannya menjadi pilihan dan solusi terbaik bagi masyarakat Labuhan Batu Utara dan sekitarnya. Untuk itu, ia telah menyusun rencana agar pelayanan perusahaan kepada masyarakat semakin meningkat dan tampil menjadi yang terbaik. “Kita harus bekerja lebih professional, supaya mampu menaikkan kepercayaan masyarakat untuk bermitra dengan perusahaan,” tambahnya.

Menyiapkan Pengganti

Surungan Sitorus merasa sangat terbantu dengan peran pemerintah terhadap profesi yang digelutinya. Meskipun secara institusi pemerintah memberi dukungan yang sangat besar, tetapi ruang gerak BPR sangat terbatas. Karena secara struktural perusahaan seperti BPR dibawah pimpinannya memiliki posisi setingkat di bawah bank konvesional.

“Pemerintah, melalui Bank Indonesia melakukan pengawasan rutin satu kali dalam satu tahun. Sebagai pimpinan perusahaan, saya mendapat ilmu dan pengalaman dari pengawasan tersebut. Semua itu bisa langsung saya aplikasikan di perusahaan melalui pimpinan setingkat middle manager, dibawah jenjang saya,” tuturnya.

Menurut Sitorus, peran besar BPR di tengah-tengah masyarakat saat ini harus diakui. Karena BPR telah menjadi solusi terbaik bagi pelaku produksi/usaha yang ingin mengembangkan usahanya, tetapi terganjal oleh ketatnya persyaratan yang ditetapkan oleh bank lain (The five C’S on Credit). “Dengan demikian, BPR telah berkiprah di tengah masyarakat karena syarat-syarat pinjaman yang relatif mudah. Ini sesuai dengan fungsi BPR untuk pertama menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito. Kedua memberikan pinjaman kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai orang yang matang dan besar dalam usaha BPR, Sitorus bertekad untuk terus mengabdikan diri dan menggeluti profesi yang dicintainya tersebut. Ia akan “berhenti” ketika sudah mampu mengkader “sahabat-sahabat-nya” – karyawan maupun karyawati perusahaan- menjadi top leader untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan yang telah dicanangkannya.

Secara khusus, Sitorus telah mempersiapkan langkah-langkah kaderisasi dan regenerasi, sebagai berikut:

Menerapkan prinsip keteladanan, sehingga tim yang dipimpinnya mampu menangkap pelajaran dari contoh yang diberikan pimpinannya tanpa harus berteori panjang lebar
Bagi karyawan atau karyawati potensial, diberi pelatihan baik berupa keterampilan dasar maupun keterampilan manajerial. Seperti pada bulan Juli lalu, sebanyak 12 orang Pimpinan Cabang dan Karyawan telah mengikuti Training Off Management di Hotel JW Mariott Medan dengan instruktur dari Jhon Robert Power (JRP) Jakarta
Sebagai pimpinan, tak segan-segan ia memberi reward bagi karyawan atau karyawati terbaik, sebagai motivasi agar selalu bekerja sungguh-sungguh dan menunjukan prestasi dan kinerja terbaik

“Untuk menyerap informasi yang lebih actual, saya memberi fasilitas berlibur bersama Keluarga Besar BPR Mangatur Ganda. Dengan demikian, keakraban antar karyawan, pimpinan dan keluarganya lebih terjalin. Nah, disela-sela liburan saya bisa melakukan komunikasi lebih intensif, sehingga saya mampu mengenali karakter sahabat-sahabat saya itu, siapa saja yang layak diberi kepercayaan untuk memimpin. Sebab bagi saya, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mencetak calon pemimpin berikutnya tanpa ada rasa tersaingi,” ungkapnya.

Sebelum Patah Sudah Tumbuh

Menurut pengamatan Surungan Sitorus, ada beberapa catatan mengenai generasi muda zaman sekarang. Pertama, ia merasa sangat prihatin melihat gaya hidup generasi muda yang mengadopsi gaya hidup penuh hura-hura dan kurang tekun dalam belajar/pendidikan. Selain itu, generasi muda juga cenderung bangga dengan pola hidup mereka yang sangat konsumtif.

Sitorus, mencontohkan bagaimana generasi muda sekarang tergila-gila dan bangga menggunakan sarana komunikasi canggih, Blackberry. Padahal, sejatinya mereka hanyalah diperbudak oleh produk-produk semacam itu. Karena di negara asalnya, penemu Blackberry masih belum puas dengan pencapaian mereka untuk menguasai dunia. Apalagi belakangan terjadi aksi boikot di beberapa negara akibat pembatasan RIM (Research in Motion), produsen Blackberry tersebut.

Disisi lain, Sitorus juga bangga dengan prestasi yang ditorehkan anak-anak muda bangsa ini. Seperti keberhasilan kelompok mahasiswa ITS Surabaya menjuarai ”Festival Mobil Hemat Energi” di Malaysia beberapa waktu lalu. Bahkan di bidang olimpiade science, pelajar Indonesia berkali-kali meraih medali emas, perak, dan perunggu.

“Dengan kondisi tersebut, saya masih mempunyai keyakinan bahwa mereka mampu membawa ‘Tongkat Estafet’ kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Hal ini dapat dicapai dengan lebih menitikberatkan pada peran ‘Generasi yang lebih tua’, yaitu dengan memberi mereka keteladanan. Mari kita rangkul mereka supaya komunikasi lebih lancar karena ‘Satu aksi lebih dari seribu teori’. Begitu,” katanya.

Sitorus sangat yakin bahwa bangsa Indonesia bisa memercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Asalkan dengan bimbingan, dukungan dan perhatian penuh dari generasi sekarang, mereka mampu menjadi nakhoda bangsa ini. Di sisi lain, generasi tua harus mampu menstranfer ilmu, akhlak dan moral yang dimiliki. Demi generasi muda, mereka harus mampu menahan diri untuk tidak korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), anarkisme dan hal-hal buruk lainnya.

“Generasi tua pasti akan berlalu seiring waktu, maka mari kita mempercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Kalau perlu kita ubah peribahasa lama, ‘patah tumbuh hilang berganti’ menjadi ‘Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti’,” tegasnya.

Sedangkan kondisi Indonesia sendiri, menurut prediksi Sitorus, masih akan mengalami krisis ekonomi sekali lagi. Pendapat ini dilandasi dengan situasi global seperti terjadinya bencana di berbagai negara yang menyebabkan kenaikan harga pangan dunia akibat kegagalan panen dan rusaknya infrastruktur. Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang kontra produktif seperti konversi minyak tanah ke gas, pengumuman kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil tangal 16 Agustus 2010, dan lain-lain, semua bermuara pada satu hal yaitu kenaikan harga-harga.

“Indonesia akan kembali dihantam krisis ekonomi babak kedua setelah tahun 1997. Tetapi dengan kondisi sekarang, Indonesia masih bisa tertata dengan baik meskipun dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak. Bidang yang harus diproritaskan adalah sektor riil yang benar-benar ‘Bersentuhan dengan masyarakat yaitu pelaku ekonomi kelompok menengah dan kecil’,” tuturnya.

Sitorus telah membuktikan bahwa sektor ekonomi kelompok kecil dan menengah terbukti mampu bertahan di tengah krisis ekonomi. Ia mengingatkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar bertumbangan pada saat krisis moneter 1998, tetapi tidak berarti apa-apa dengan ekonomi kelompok kecil dan menengah yang mampu bertahan dengan baik.

“Semangat itu harus dimiliki oleh generasi muda untuk tetap bertahan di tengah deraan krisis. Pesan saya, raih kesempatan di masa muda, belajarlah dengan sungguh-sunguh, bertemanlah dengan seluruh lapisan masyarakat, gunakan mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkan masa sehat sebelum masa sakit, TAKE THE CHANCE,” kata pria yang berharap pemerintah memberi kemudahan untuk perijinan membuka usaha penukaran uang (Money Changer) ini. “Karena hingga hari ini, belum dapat terwujut selama BPR berdiri di Labuhan Batu Utara,” tambahnya.

Sitorus sangat bersyukur, dalam menjalani pekerjaan mendapat dukungan sepenuhnya dari keluarga. Anak dan istrinya sangat memahami profesi yang ditekuninya dengan menunjukkan sikap positive thinking meskipun ia sering terlambat pulang ke rumah. Sambutan keluarga tetap hangat karena mereka memahami apa yang dikerjakan oleh ayah dan suaminya untuk kepentingan mereka juga.

“Begitu sampai di depan pintu, anak-anak berebut membawa tas kerja sedangkan si ibu menyediakan air minum untuk saya. Karena anak-anak baru beranjak dewasa, sehingga belum terlihat apakah mereka berminat pada profesi saya atau tidak. Untuk memotivasi mereka saya berusaha menanamkan pengertian, bahwa hanya dengan ketekunan, kerja keras dan kejujuran kita akan menjadi orang sukses. Apabila anak meminta sesuatu, saya tidak langsung memberikan, tetapi saya beri tugas terlabih dahulu. Misalnya memijat kaki dengan hitungan sampai 50 kali, supaya mereka paham bahwa segala sesuatu diperoleh melalui sebuah upaya,” tegasnya.

Biodata singkat

Nama : Surungan Sitorus
Tempat tanggal lahir: Tobasa, 11 Desember 1966
Pekerjaan: Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Riwayat pendidikan:
SD Negeri Parsambilan, tahun 1978
SMP Negeri Silaen, tahun 1982
SMA Negeri 5 Medan, tahun 1985
D3 Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Strata 1, STIE Labuhan Batu – Ekonomi/Manajemen

Riwayat Pekerjaan
Tahun 1989 – Marketing koperasi simpan pinjam (selama 2 tahun)
Tahun 1991 – Marketing BPR Mangatur Ganda
Tahun 1996 – Pimpinan Cabang PT BPR DIORI GANDA, Indra Pura – Asahan (SUMUT)
Tahun 1997 – Pimpinan Cabang PT BPR MANGATUR GANDA, Cabang Aek Nabara Labuhan Batu SUMUT
Tahun 1998 – Direktur Operasional PT BPR Mangatur Ganda, Aek Kanopan Labuhan Batu Utara
Tahun 2000 – Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda s/d sekarang

Rahmatullah Sidik

No Comments

Rahmatullah Sidik
Presiden Direktur “Rahmatan Lil Alamin” – PT Happy Prima Wisata

Selalu Menjadi Pelayan Tamu Allah

Semangat untuk terus maju dan berkembang harus dimiliki oleh setiap manusia. Pengorbanan dan cobaan yang berat, harus dilalui manusia-manusia yang ingin menggapai kesuksesan dalam hidup. Dengan dilandasi semangat belajar yang tinggi untuk mencari jalan keluar dari permasalahan, tangga menuju sukses semakin dekat.

Semua itu harus dilandasi semangat pantang menyerah dan kerja keras untuk mewujudkannya. Tanpa itu, jangan berharap keajaiban dari Allah yang mengubah kegagalan menjadi kesuksesan. Seperti juga yang dialami oleh sosok pengusaha Rahmatullah Sidik dalam mengelola perusahaan jasa perjalanan haji dan umrah. Berbekal pengalaman menjadi guide jemaah haji dan umrah saat masih kuliah di Al Azhar, Kairo, ia belajar dan mencari tahu operasional penyelenggaraan haji dan umrah.

“Karena untuk mencapai kesuksesan memerlukan pengorbanan yang berat. Saat masih kuliah di Al Azhar, saya selalu membantu tamu-tamu Allah dalam pelaksanaan ibadah haji. Pada tahun 1996, saya kembali ke Indonesia dan berniat untuk melayani tamu Allah yang beribadah di sana. Karena saya tidak mempunyai pengalaman operasional di Indonesia seperti pengurusan visa, paspor atapun tentang hal lain berkaitan dengan umrah dan haji. Karena urusan saya di sana hanyalah menjadi guide umrah dan haji,” kata Presiden Direktur “Rahmatan Lil Alamin” – PT Happy Prima Wisata ini.

Tekad dan niat yang bulat untuk melayani tamu Allah, memempertemukannya dengan seorang sahabat seselam alumni Al Azhar. Sahabatnya tersebut mengajak dirinya untuk bergabung di perusahaan penyelenggara umrah dan haji. Di sana, ia memulai karier sebagai marketing pada tahun 1998. Ia memulainya dengan belajar teori marketing karena harus banyak bertemu dengan klien calon jemaah haji dan umrah.

Disamping itu, Rahmat –panggilan akrabnya- juga harus sering bertemu dengan para kyai, majelis taklim dan masyarakat pada umumnya. Dengan penguasaan agama yang mumpuni, mudah saja baginya untuk masuk ke lingkungan tersebut dan memberikan materi umrah dan haji. Dari situ, ia memberikan pemahaman dan kesadaran untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji. Ia mengakui, pada tahun 1998-1999 adalah fase pertama dalam hidupnya dengan banyaknya ujian yang harus dilalui.

Salah satu yang hampir mengubur cita-citanya untuk menjadi pelayan tamu Allah adalah kematian ayahnya. Usaha ayahnya di bidang perdagangan tidak ada penerusnya sehingga masa depan keluarga besarnya terancam. Apalagi saat itu, adik-adiknya masih memerlukan biaya pendidikan. Meskipun berperang dalam dilemma, tanggung jawab memanggilnya untuk mengambil alih bisnis almarhum ayahnya.

“Saya melihat dari segi mudharat dan manfaatnya, lebih condong ke usaha yang ditinggalkan orang tua. Akhirnya saya tinggalkan pekerjaan di travel umrah dan haji, masuk ke bidang perniagaan. Alhamdulilah, tahun 1999 mencapai kemajuan dan cukup berhasil bagi orang seusia saya waktu itu, 24 tahun. Karena keberhasilan saya tidak didukung oleh keilmuan agama tentang penggunaan uang, mungkin Allah sayang sama saya. Rezeki melimpah itu kemudian diambil kembali melalui seorang klien sehingga saya jatuh bangkrut,” ujarnya.

Semua itu, lanjutnya, berdasarkan pada latar belakang pendidikan berlandaskan agama yang sangat kental. Sejak SD hingga SMA ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren yang kemudian dilanjutkan dengan Universitas Al Azhar, perguruan tinggi yang dikenal sebagai pencetak ilmuwan muslim. Di dunianya tersebut, semua dibangun berlandaskan kepercayaan belaka. Tidak ada istrilah hitam di atas putih, akte notaris dan perjanjian lainnya.

Namun ternyata di dunia “nyata” kondisi ideal tersebut tidak berjalan sebagai mana mestinya. Banyak orang dilandasi bermacam-macam kepentingan siap mengambil kesempatan. Orang-orang “benar” dan baik seperti Rahmat adalah mangsa empuk bagi mereka sehingga mudah ditipu. Akibatnya, ia mengalami kerugian hingga mencapai ratusan juta.

“Selama satu tahun kondisi saya sempat drop.  Tetapi karena pondasi agama saya kuat, Alhamdulilah saya bangkit dan kembali ke niat awal untuk melayani tamu allah. Tahun 1999, saya masuk PT Happy Prima Wisata dan dipercaya sebagai Manager Marketing. Karena niatan dan skill saya juga mencari jaringan umrah dan haji, makanya Alhamdulilah sampai 2004 saya mengelola jemaah yang cukup banyak,” tuturnya.

Pembicaraan dengan Ustadz Quraish Shihab mengenai tatanan kehidupan di masa mendatang membawa angin segar bagi Rahmat. Senior di Al Azhar itu sudah dianggapnya sebagai orang tua serta tempat berkeluh kesah dan berdiskusi. Kesimpulan dari pembicaraan dengan Ustadz Quraish Shihab mengenai kendala yang dihadapi calon jemaah haji dan umrah yakni “mampu” sebagai syaratnya, kemudian didiskusikan dengan ustadz-ustadz lainnya.

“Kita tempuh jalan untuk memotivasi orang-orang yang tadinya tidak mampu menjadi mampu berangkat ke tanah suci. Akhirnya muncul konsep ta’awun atau tolong menolong yakni memberikan motivasi kepada saudara-saudara yang berniat tulus melaksanakan ibadah umrah atau haji tetapi terbatas karena materi. Kita angkat mereka menjadi orang mampu untuk berangkat ke sana, dengan cara membantu kami sebagai penyelenggara umrah dan haji. Yakni mencari calon-calon hamba Allah, seperti marketing freelance,” jelas pengagum Emha Ainun Nadjib ini.

Konsep yang mulai diterapkan dan berjalan pada tahun 2005 tersebut mulai menuai hasil satu tahun kemudian. Kejadian-kejadian yang tidak mungkin terjadi di mata manusia bermunculan sebagai keajaiban karena kehendak Allah. Ia mencontohkan bagaimana seorang supir taksi yang secara logika tidak mungkin menjadi tamu Allah -karena untuk menutupi biaya hidup anak istrinya saja kurang- tahun 2006 bergabung dan satu tahun kemudian sudah terlihat tanda-tanda kemampuan taraf hidup.

“Yang tadinya membawa uang untuk anak istrinya perhari Rp20-30 ribu menjadi satu hingga lima juta rupiah per satu minggu. Karena kita berikan profit share bagi orang yang membawa calon jemaah. Hingga akhirnya, dengan menangis berurai air mata, akhirnya ia berhasil bersujud di depan Ka’bah, kiblat umat Islam seluruh dunia. Alhamdilah,” katanya.

Berkat konsep yang mulia tersebut, tahun 2008 salah seorang pemilik perusahaan menjual sahamnya kepada Rahmat. Akhirnya secara resmi, PT Happy Prima Wisata Travel menjadi miliknya sebagai pemegang saham tunggal. Ia sangat bersyukur karena niatnya untuk menjadi pelayan dan penjamu tamu-tamu Allah kesampaian. Tidak tanggung-tanggung, Allah memberinya kesempatan memiliki perusahaan yang mengurusi pelayanan haji dan umrah, sesuai cita-citanya.

“Saya kemudian mengubah image PT Happy Wisata Travel dengan merk dagang Rahmatan Lil Alamin Tour & Travel. Niat saya adalah ibadah kepada Allah dan memegang amanah yang diberikan calon tamu Allah untuk menjadi tamu Allah di Mekah dan Medinah. Saya juga berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dengan membuktikan janji-janji kita kepada jemaah. Seperti hotel-hotel terdekat dengan Masjidil Haram, air zam-zam sepuluh liter, makanan Indonesia dan lain-lain, semua kita penuhi,” tegasnya.

Konsep Ta’awun

Sebagai pengelola biro perjalanan haji dan umrah, Rahmat menetapkan harga yang tidak murah untuk layanannya. Ia tidak khawatir dengan paket harga murah yang ditawarkan biro-biro perjalanan lain. Pengalaman selama sepuluh tahun (1998-2008), sangat terlihat bahwa dengan paket murah pelayanannya pun tergolong murah. Dampaknya, tujuan seluruh umat muslim dalam melaksanakan ibadah haji atau umrah dengan nyaman tidak tercapai.

“Padahal mereka sudah mengumpulkan uang untuk berangkat ke tanah suci selama bertahun-tahun. Tetapi karena tergiur harga murah, saat beribadah mereka menjadi tidak nyaman. Kalau Rahmatan Lil Alamin selalu ingin memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah, hingga jemaah mencapai tingkat kenyamanan yang optimal dalam menjalankan ibadah,” ujar pria yang menyebut Saudi Arabia sebagai tempat liburan favoritnya ini.

Menurut Rahmat, tingkat kenyamanan dalam beribadah sangat tergantung kepada akomodasi jemaah selama di tanah suci. Dengan harga yang dibayarkan, Rahmatan Lil Alamin memberikan akomodasi terbaik dan paling dekat dengan Masjidi Haram. Dengan demikian, jemaah tidak mengalami hambatan dalam beribadah sesuai keinginannya. Rahmatan Lil Alamin juga memberikan layanan makanan sesuai dengan selera orang Indonesia.

Berbeda dari biro lain, Rahmatan Lil Alamin menerapkan rasio pembimbing jemaah (mutawif) yang lebih besar. Apabila perusahaan lain perbandingannya 40 jemaah dibimbing seorang mutawif, Rahmatan Lil Alamin satu mutawif membimbing 20 jemaah. “Jadi ketika jemaah ingin diantarkan ke mana-mana ada yang mengantar. Pelayanan seperti itu, tidak bisa dibeli dengan harga murah karena terkait kenyamanan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Tetapi sebenarnya harga kita berada di tengah-tengah, mahal tidak murah pun juga tidak,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Rahmat tidak pernah mempromosikan usahanya di media massa. Iklan merupakan “barang” yang tidak terlalu dipedulikannya karena ia lebih suka melakukan pendekatan langsung kepada calon jemaah. Apalagi, pasar yang dituju perusahaan adalah orang-orang daerah di luar Jakarta. Hingga saat ini, cabang produk tersebar dari provinsi Aceh sampai Sulawesi.

Rahmat menjelaskan, untuk merekrut calon jemaah perusahaan menerapkan sistem hubungan pertemanan atau mitra ta’awun. Sistem ini berjalan berkat adanya profit sharing bagi mitra yang berhasil mengajak jemaah untuk bergabung dalam urusan haji dan umrah di perusahaan. Selain itu, pada saat mitra berhasil mengajak jemaah dengan jumlah yang ditargetkan, mitra berhak untuk berangkat menunaikan ibadah haji atau umrah tanpa harus menambah biaya.

“Orang-orang yang bergabung dengan kita sebagai mitra ta’awun diberikan bekal keilmuwan tentang umrah dan haji. Kemudian mereka kita berikan kantong-kantong jemaah Allah dimana mereka bisa masuk dan mengajak bergabung dengan kita. Dengan pola itu Alhamdulilah target selalu tercapai meskipun kita tidak ‘jualan’ dengan harga murah,” tegasnya. Hingga memasuki tahun 2010, Rahmatan Lil Alamin telah memberangkatkan 1000 jemaah umrah. “Jemaah haji kuota 123 kuota,” imbuhnya.

Semua prestasi yang telah dilakukan perusahaan, membuat obsesi Rahmat semakin mendekati kenyataan. Obsesi yang menjadi mimpinya adalah memberangkatkan orang-orang yang ingin berangkat haji atau umrah dengan konsep ta’awun. Keberhasilan mereka untuk berangkat haji atau umrah merupakan kebahagiaan terbesar baginya.

“Obsesi terbesar saya itu, memberangkatkan orang-orang yang seratus persen ingin ke Baitullah,” tutur pria yang menciptakan merk dagang PT Happy Wisata Travel dengan Rahmatan Lil Alamin agar tampak lebih Islami tersebut. Nama tersebut didapatnya setelah melalui diskusi panjang dengan seorang ustadz, tetapi tidak berkaitan sama sekali dengan namanya sendiri. “Jam dua pagi, seolah-olah ada yang memberi bisikan kalau nama yang tepat adalah Rahmatan Lil Alamin. Dan terbukti, memberikan rahmat bagi masyarakat di Indonesia,” tambahnya.

Tukang Koran

Rahmatullah Sidik, lahir di Jakarta 5 Juni 1976 sebagai anak keempat dari enam bersaudara pasangan H Ruslan dan Hj Maemunah. Pada umur 25 tahun, ia menikah dengan Susi Yusianti yang telah memberinya tiga orang anak, seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia merasa -kalau sekarang dianggap sukses- keberhasilannya tidak pernah lepas dari peran keluarga.

Menurut Rahmat, dukungan keluarga terutama dari istrinya sangat besar. Ia mengisahkan bagaimana harus jatuh bangun memberikan usaha, tetapi sang istri tetap memberikan motivasi dan dukungan yang sangat besar dan berarti baginya. Pada saat dirinya jatuh ke titik terendah setelah usaha dagangnya bangkrut, tidak terdengar keluhan sedikit pun darinya. Padahal, saat itu istrinya sedang hamil anak pertama dan terpaksa harus makan hanya dengan garam.

“Alhamdulilah, saya mendapatkan istri solekah. Sesuai sunah rasul, saya menikah di umur 25 tahun. Sejak saat itu istri selaku pendamping hidup selalu mendukung saya terutama materi. Tidak ada istilah punya uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang,” kisahnya.

Setelah usaha dagangnya bangkrut, Rahmat mengalami kejatuhan secara psikologis. Selama satu tahun, jiwanya drop dan merasa terpuruk dengan kondisinya. Meskipun demikian, ia tidak menyerah begitu saja dan mengalihkan usaha ke bidang lain. Tetapi, ia belum berani kembali ke pekerjaan semula di bidang umrah dan haji karena tidak percaya diri, terpuruk dan ingin menyendiri.

“Sebenarnya banyak teman yang mengajak bergabung. Semua saya tolak dan memilih untuk menjadi tukang koran saja. Dengan menjadi tukang koran, penghasilan saya antara Rp10 – 20 ribu per hari. Jam kerjanya juga singkat, berangkat subuh dan jam tujuh atau delapan pulang. Tetapi saya yakin orang yang selalu berusaha dari titik bermasalahan, 99 persen akan kembali lagi. Apalagi istri tetap setia menanti,” ujarnya.

Pelajaran yang didapat Rahmat dari pengalaman tersebut adalah sebagai manusia tidak boleh sekali pun menjadi “kufur” nikmat Allah. Apabila rezeki berlimpah yang diberikan Allah tidak digunakan sebaik-baiknya, maka akan diambil kembali oleh-Nya. Hal ini pernah dilakukannya saat memperoleh kesuksesan dalam bisnis perniagaan di saat usianya baru menginjak 24 tahun.

Materi berlimpah dari usaha yang berjalan sukses membuat Rahmat terlena. Dari hasil perniagaan peninggalan orang tua, ia mampu memiliki segala macam kebutuhan hidup. Mulai rumah lengkap dengan isinya, motor, mobil dan kemewahan hidup lainnya. Ia menjadi sombong dan melalui salah seorang klien, Allah mengambil semuanya. Rahmat jatuh dalam kemiskinan dan hanya menyisakan iman dan motivasi dari sang istri.

“Subhanallah, istri saya tetap setia dan selalu memberikan motivasi untuk suaminya. Ia tidak pernah menuntut materi dan menerima saja meskipun harus makan dengan garam. Istri paham betul bahwa semua itu adalah ujian dari Allah dan terus mendorong saya untuk berusaha bangkit lagi. Katanya, ‘Apapun yang akan menjadi milik kita, pasti akan kembali’. Dengan iman dan motivasi, ditambah istri yang selalu memberikan semangat, saya bangkit,” ujarnya.

Semangat tersebut, membuat Rahmat tidak “malu-malu” lagi untuk kembali menekuni dunia travel haji dan umrah. Ia kembali fokus untuk berusaha kembali ke jalan semula, melayani tamu-tamu Allah yang ingin mengunjungi Baitullah. Lepas dari semua itu, dalam melayani tamu Allah diniatkan semata-mata untuk ibadah. Tugasnya hanyalah memegang amanah calon tamu Allah untuk menjembatani menuju Baitullah.

“Sebagai manusia harus berusaha. Karena Allah sudah memberikan garis hidup kepada manusia, tetapi bisa saja garis tersebut terputus. Kalau orang itu tidak mau berusaha. Bisa saja orang itu garis hidupnya bagus, tetapi karena tidak mau berusaha, ya jadi jelek dan putus. Makanya jangan sekali-kali kita lepas dari doa dan usaha,” ungkapnya.

Berkaca dari pengalaman yang pernah dijalaninya, Rahmat memiliki pesan untuk generasi muda sekarang. Beberapa catatan yang harus generasi muda menurut Rahmat adalah:
Jangan pernah berputus asa, selalu berjuang untuk hidup dan menggapai ridhlo Illahi
Jangan pernah melihat ke atas untuk hal duniawi, tetapi lihatlah ke atas untuk ilmu. Kalau duniawi tidak pernah habis, sementara ilmu akan termotivasi untuk mencari ilmu terus
Jangan selalu mengeluh mengenai pekerjaan, yang namanya sedang dibawah selalu menghadapi cobaan. Jadikan pekerjaan untuk dinikmati, apapun ujian dan cobaan, harus dijalani dan tidak mengeluh karena akan menurunkan semangat kerja
Jangan mengeluh tentang hasil yang didapat dari pekerjaan itu. Karena dengan memperkarakan hasil akibatnya akan menurunkan semangat kerja

“Serahkan kepada Allah untuk menggapai cita-cita, untuk menggapai kemenangan dunia akhirat. Pesan kyai saya di Ponpes, kalau kita ingin menggapai cita-cita, pertama harus dibekali dengan ilmu. Kedua jangan pernah menengok ke kiri dan ke kanan. Ketiga jangan pernah mendengar dari kuping kiri dan kuping kanan. Artinya pada saat cita-cita ada di depan kamu, gapai itu. Jangan pernah melihat atau mendengar dari kiri-kanan, karena itu gangguan yang membuat cita-cita berantakan. Pokoknya, gapai dulu cita-cita itu, setelah diraih, barulah melihat kiri kanan dan mendengar dari kuping kiri kanan,” katanya menutup pembicaraan.