Tag: MT

Ir. H SugiSugiatmo Kasmungin, MT., PhD

No Comments

Ketua Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti

Goodwill Pemerintah Diperlukan untuk Mengurangi Impor Minyak

Kebutuhan Indonesia terhadap sumber energi minyak bumi cukup tinggi. Sayangnya, pasokan energi tak terbarukan ini dari dalam negeri sangat kurang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan nasional. Padahal, selama ini Indonesia memiliki sumur-sumur minyak yang sangat potensial dan dapat memenuhi pasokan kebutuhan energi konsumsi nasional.

“Dari satu juta barel minyak bumi produksi nasional, pemerintah Indonesia hanya memiliki 40 persen saja, sisanya milik asing. Akibatnya, kita harus impor dari Singapura sebesar 600 – 700 ribu barel karena kebutuhan kita 1,3 juta barel per hari. Sebenarnya kalau pemerintah mempunyai goodwill terhadap kebijakan perminyakan dengan benar, kita dapat mengurangi impor BBM dengan membangun kilang baru dan meningkatkan kapasitas kilang,” kata Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD Ketua Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti.

Sebagai ahli reservoir EOR – Enhanced Oil Recovery (peningkatan produksi minyak bumi), Sugiatmo memahami dengan baik seluk beluk dunia perminyakan di Indonesia. Banyak sumber ladang minyak yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Sayangnya, kekurangan dana dan tidak adanya kebijakan pemerintah yang tepat membuat peluang tersebut diambil investor dari luar negeri.

Meskipun demikian, Sugiatmo memahami kenapa bangsa Indonesia harus menerima kondisi tersebut. Mahalnya biaya untuk mengeksplorasi satu sumur minyak yang mencapai lima belas juta dolar saja, membuat perusahaan minyak sekelas Pertamina harus berpikir ulang untuk mencari sumur minyak sendiri dan membuka main set untuk kelas dunia.

“Dalam mencari minyak perlu modal tetapi kita tidak mempunyainya. Karena dana hasil pertambangan digunakan untuk keperluan lain, bukan untuk pertambangan itu sendiri. Sebenarnya, SDM dan sumber daya alam kita tidak kekurangan. Dengan dukungan tekonologi serta modal yang sebenarnya ada seharusnya Indonesia tidak terpuruk seperti sekarang,” jelasnya.

Sugiatmo menegaskan perlunya kebijakan politik pemerintah untuk mendukung kemajuan dunia pertambangan khusunya perminyakan di Indonesia. Salah satunya adalah regulasi perizinan pertambangan yang sering menghambat eksplorasi. Karena lamanya proses perizinan operasi pengeboran yang mengakibatkan semakin membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan pertambangan.

“Pengurusan izin pertambangan memerlukan waktu satu tahun karena melalui Kementerian Kehutanan, bupati dan lain-lain. Artinya perusahaan pertambangan selain mengeluarkan pembiayaan satu sumur yang cukup besar, juga harus mengeluarkan biaya ekstra besar untuk perizinan saja. Jadi mereka harus menanggung biaya yang membengkak semakin besar,” ujarnya.

Keluarga Perminyakan

Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD lahir di Balikpapan, sebuah kota kecil di Kalimantan yang terkenal sebagai ladang minyak terbesar di Indonesia. Sedangkan leluhurnya berasal dari Cepu, wilayah kaya minyak yang dieksplorasi sejak zaman penjajahan Belanda. Keluarganya pindah ke Sanga – Sanga (99) setelah sang ayah dipindahtugaskan ke sana.

“Jadi saya berasal dari keluarga perminyakan, karena dari nenek moyang bekerja di bidang perminyakan semua. Saya menghabiskan masa kecil sampai SMA di Balikpapan. Setelah itu, saya masuk Usakti tahun 1981 dan selesai tahun 1988. Sejak tahun 1984 saya menjadi asisten mahasiswa dan diangkat sebagai dosen tetap setelah lulus kuliah,” ujarnya.

Tahun 1991, Sugiatmo -masih seorang dosen muda- mendapat tugas belajar S2 yang mampu diselesaikan pada tahun 1994. Dua tahun kemudian, ia memperoleh kesempatan belajar lagi ke Malaysia. Di sini, ia belajar mengenai bidang keahlian teknik reservoir khususnya di bidang EOR – Enhanced Oil Recovery, yang sangat dibutuhkan Indonesia dalam meningkatkan produksi minyak. Yakni mendorong minyak yang tersisa di reservoir untuk diangkat ke permukaan.

“Saya memprakarsai berdirinya laboratorium di Universitas Trisakti meskipun menemukan sangat banyak kendala, terutama biaya dan tempat. Karena pembangunan laboratorium membutuhkan biaya yang sangat besar. Tetapi yang jelas kalau ingin maju kita harus disiplin, kerja keras, jujur dan toleransi, kerjasama dan komunikasi untuk menghindari kesalahpahaman,” tegasnya.

Dengan kesibukannya yang sangat menyita waktu -Sugiatmo harus stand by di kampus pukul enam pagi- ia tidak memiliki waktu yang leluasa dengan keluarga. Apalagi keluarganya sebagian besar tinggal di Yogyakarta karena ikut dengan sang istri yang berprofesi sama dengan dirinya, menjadi dosen. Saat ini istrinya adalah Ketua Program Studi Kedokteran Gigi FKG Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

“Jadi istri saya lebih pinter. Yang jelas, bagi kami yang penting adalah terus membina komunikasi keluarga sehingga saya pagi-pagi sudah harus telepon menanyakan kabar berita. Karena anak saya masih kecil-kecil dan memerlukan perhatian khusus. Karena kami sesama pendidik, jadi kami sudah tahu sama tahu sehingga saling mengerti kelebihan dan kekurangan pasangan,” tegas pria yang bangga mendidik orang menjadi berhasil tersebut. “Itu kebanggaan tersendiri bagi saya. Untuk saya sendiri, kalau nanti sudah bebas financial dan waktu, saya ingin membuka café segar ‘Wong Mandiri’ saja,” imbuhnya.

Terbiasa menghadapi generasi muda –jurusan perminyakan memiliki mahasiswa sekitar 1200 orang- membuat Sugiatmo sangat memahami mereka. Bagaimana dinamika kehidupan generasi muda bagi bangsa dan negara harus menjadi skala prioritas. Karena Indonesia yang sebenarnya sangat kaya raya harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama.

“Tetapi dalam kekayaan itu harus memilah-milah mana yang penting dan harus kita dahulukan. Kita harus mampu berkontribusi mensejahterakan bangsa dengan kekayaan alam dimiliki negara ini. Oleh karena itu, apakah kekayaan alam tersebut bisa menjadi sumber kebahagiaan atau malapetaka, semua tergantung bagaimana kita mengolahnya. Intinya, kita itu kaya tetapi miskin jiwa karena kita tidak pandai dalam mengelola dan mengolah,” tegasnya.

Apalagi, lanjutnya, secara kualitas SDM Indonesia juga tidak kalah dengan bangsa lain. Sugiatmo telah membuktikan sendiri dalam berbagai seminar di luar negeri yang pernah diikutinya membuktikan hal tersebut. Bahkan saat ia tugas belajar di Malaysia, justru dirinya yang melengkapi fasilitas berdirinya laboratorium EOR di universitas bergengsi tersebut dengan biaya dari universitas. “Jadi secara kualitas kita tidak kalah dalam hal skill SDM. Hanya saja diperlukan peningkatan kompetensi SDM secara terus menerus agar kita tidak ketinggalan,” tambahnya.

Orientasi Kurikulum: Masa Depan

Sejak menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Perminyakan tahun 2006, Dr. Sugiatmo Kasmungin telah membawa iklim perubahan berbagai kemajuan. Meskipun demikian, ia mengakui kemajuan yang dicapai tidak lepas dari usaha dan kerja keras semua pihak.

“Kami taat peraturan yang telah ditetapkan universitas. Setiap event profesi kita selalu melibatkan sivitas akademika, sehingga sosialisasi program studi dapat berjalan dengan baik. Pertumbuhan mahasiswa begitu pesat, sehingga diperlukan perubahan cara berpikir komprehensif bagaimana memajukan program studi dengan benar agar tidak ketinggalan dengan universitas lain,” tandasnya.

Program Studi Teknik Perminyakan mengalami peningkatan animo mahasiswa dari tahun ke tahun. Tahun 2007 mahasiswa yang diterima sebanyak 154 dan berhasil meluluskan 144 mahasiswa. Tahun 2008 mahasiswa baru meningkat menjadi 186 dan meluluskan 177 mahasiswa, tahun 2009, 289 mahasiswa baru dan 143 lulusan. Sedangkan tahun 2010 menerima 305 mahasiswa baru, 151 lulusan dan tahun 2011 program studi Teknik Perminyakan mampu menampung 375 mahasiswa dan meluluskan 152 sarjana teknik perminyakan.

Berbicara mengenai akreditasi, Sugiatmo mengakui belum memuaskan berbagai pihak. Karena Jurusan Teknik Perminyakan memiliki akreditasi B tetap pada tahun 2011 ini. Ia mengakui banyak faktor yang menentukan meskipun secara penilaian terdapat peningkatan. Hal tersebut terlihat dari angka penilaian yang mengalami peningkatan dari 316 tahun 2006 menjadi 321 pada tahun 2011.

Menurut Sugiatmo, kondisi tersebut terkait dengan dukungan bidang akademik, karya ilmiah dan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. Untuk itu diperlukan peningkatkan akreditasi yang memerlukan investasi sarana dan prasarana pendidikan, penambahan dosen baru dan peningkatan jenjang kepangkatan akademik dosen.

“Staf pengajar umumnya telah memiliki sertifikasi dosen dan pengalaman di bidang teknik perminyakan lebih dari 10 tahun. Seperti diketahui bahwa untuk lulus S-1 program studi teknik perminyakan mempunyai beban 144 SKS yang harus ditempuh selama 8 semester,” ujarnya.

Kompetensi lulusan sarjana teknik perminyakan diarahkan kepada lima bidang kompetensi yaitu: teknik reservoir, teknik pemboran, teknik produksi, teknik penilaian formasi dan pengelolaan lapangan. Semua itu dilakukan secara bertahap sejak mahasiwa semester dua yang harus mengikuti kuliah lapangan minyak dan gas bumi. Pada semester 6 mahasiswa akan dibekali kerja praktek dilanjutkan semester 7 masuk studio pengembangan lapangan dan semester 8 akan menjalani tugas akhir.

“Pada tahun ini, akan dibagi per satu kelas dihuni oleh 40-50 orang mahasiswa. Tetapi tergantung dengan kondisi yang ada sehingga setiap pelajaran terdapat 7-8 kelas paralel yang dikoordinasikan oleh seorang dosen koordinator mata kuliah pengampu dengan kepakaran sama,” ungkapnya.

Metode pengajaran di Jurusan Teknik Perminyakan membuat IPK lulusannya pun terus meningkat. Dari rata-rata 2.8 menjadi 3.0 dan mendekati target universitas meskipun secara individu terdapat mahasiswa angkatan 2006 yang lulus dengan nilai 3.81. Dari laporan EPSBED tiap angkatan juga menunjukkan terdapat mahasiswa dengan prestasi mengilap. “Bahkan angkatan 2009 sudah ada yang dibooking untuk magang di perusahaan minyak. Tiap tahun program studi meluluskan sekitar 140-180 orang atau sekitar 50-80% dari in take mahasiswa tiap tahun,” imbuhnya.

Menurut Sugiatmo, semua itu tidak lepas dari kurikulum berorientasi pemikiran ke depan. Apalagi di era global sekarang ini permasalahan harus diselesaikan secara team dan sangat cocok di dunia perminyakan. Dengan catatan, dalam sebuah team diperlukan orang-orang yang menguasai benar dengan masalah dan bagaimana menyelesaikan masalahnya tersebut. Untuk itu kurikulum program studi pada semester 7 diberikan mata kuliah pengembangan lapangan minyak dan gas bumi.

“Dalam satu team terdapat delapan mahasiswa yang diberikan suatu persoalan lapangan. Disini secara tak langsung mahasiswa belajar dan berpikir secara terpadu dalam memutuskan, merencanakan, menganaliasa dan memecahkan persoalan pengembangan lapangan menyangkut pengembangan engineering dan soft skills. Ini termasuk kurikulum yang berorientasi pemikiran global,” tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, Jurusan Teknik Perminyakan selalu terbuka dan proaktif terhadap alumni dan stakeholder. Karena lulusan program studi sebanyak 2300 orang telah tersebar di seluruh belahan dunia ini dan bekerja di berbagai perusahaan minyak. Melalui mailing list, universitas selalu memberikan informasi yang baik untuk kemajuan bersama, seperti mengundang alumni untuk memberikan kuliah tamu tiap bulan, sharing pengembangan soft skills dan trik mencari kerja serta berprestasi di bidang perminyakan.

“Untuk lebih meningkatkan mutu akademik, kami secara team berusaha melakukan kerja sama dengan Kementerian Sumber dan Energi, BP Migas, Dirjen Migas, Pertamina, DPR, Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Meksiko. Mereka kami undang, baik sebagai nara sumber ataupun partisipasi dalam kegiatan hulu migas,” kata Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD.

Drs. Hadi Sutjipto, MT

No Comments

SMK Negeri 2 Salatiga

Mengembangkan Konsep Kebersamaan dan Keterbukaan Dalam Mengelola Sekolah

Setelah Timor Leste lepas dari Indonesia pasca jajak pandapat tahun 1999, Drs. Hadi Sutjipto, MT kembali ke Indonesia. Sepuluh tahun berkarier sebagai guru STM Dili harus ditinggalkan dan dipindahkan ke SMK Negeri 2 Salatiga. Saat itu, sekolah belum memiliki gedung dan terpaksa menumpang di SMEA.

Perlahan-lahan SMK Negeri 2 Salatiga membangun gedung sendiri. Saat Drs. Reza Pahlevi ditunjuk sebagai Kepala Sekolah pertama, Hadi menjadi staf pengajar. Setelah sempat ditunjuk oleh rekan-rekannya untuk menjadi Ketua Jurusan Teknik Bangunan, pada bulan November 2009 ia diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Salatiga.

 Di bawah pimpinannya, SMKN 2 Salatiga terus berbenah. Sebagai “orang dalam” ia tahu persis kelebihan dan kekurangannya. Langkah yang dilakukannya adalah dengan meningkatkan kelebihan serta menutup kelemahan yang terdapat di sekolah. Upayanya mendapat dukungan penuh dari seluruh jajaran staf pengajar dan karyawan yang memiliki satu visi dalam memajukan SMK Negeri 2 Salatiga.

Yang kami terapkan adalah memperbaiki pola yang pernah dikelola beliau, yakni konsep kebersamaan dan keterbukaan. Kami tidak pernah menganggap ada saingan atau duri, seluruh staf dan karyawan adalah teman-teman kerja sehingga barangkali inilah yang mendidik saya menjadi semakin dewasa. Mungkin sebelum menjadi Kepala Sekolah saya belum dewasa, tetapi Alhamdulilah seperti inilah yang kami lakukan,” katanya.

Untuk meneruskan program kelembagaan, sejak menjabat Kepala SMK N 2 Salatiga prestasi SMK N 2 semakin meningkat dengan bukti diantaranya mampu meraih Juara 1 tingkat provinsi pada LKS di kota Tegal untuk 3 mata Lomba ( Cabinet Making, Joinery, dan Industrial Control), Juara 2 OSTN tingkat Nasional untuk Mata Lomba ICT. Sedangkan pencapaian nilai rata;rata UN untuk tahun 2010/2011 merupakan tertinggi selama 10 tahun meluluskan.

 Bagi Hadi, semua prestasi tersebut berkat kerja keras, perjuangan dan kepercayaan seluruh staf pengajar. Di sisi lain, staf pengajar yang merasa mendapat kepercayaan dari pimpinannya dan “dibiarkan” melakukan berbagai inovasi semakin terpacu berkat kebijakan tersebut. Hasilnya segera terlihat, SMKN 2 Salatiga tetapmenduduki peringkat satu di Salatiga dan naik ke peringkat 9 untuk provinsi Jawa Tengah.

 Untuk saat ini, SMK Negeri 2 Salatiga memiliki delapan program dengan 1468 siswa. Program-program tersebut adalah pertama Teknik Bangunan meliputi teknik gambar bangunan, teknik konstruksi bangunan dan teknik konstruksi kayu. Kedua TeknikElektronika yang terdiri atas elektronika industri dan teknikaudio video, ketiga mesin adalah teknikpermesinan dan teknikmekanik otomotif. Untukteknik informatika adalah program teknik komputer dan jaringan.

Target kami, tahun 2013 jumlah siswa akan mendekatiantara 1500 s.d 2000. Karena kami menargetkan bahwa SMKN 2 Salatiga akan menjadi sekolah yang besar, baik dari sisi jumlah, kuantitas maupun kualitas. Mudah-mudahan kita menjadi Sekolah Bertaraf Internasional atau SBIyang sesungguhnya,” katanya.

Untuk mencapainya, Hadi sudah menetapkan program jangka pendek, menengah dan panjang. Dalam jangka pendek, ia melakukan pembenahan masalah yang berhubungan langsung dengan masa depan anak. Misalnya dengan menyalurkan lulusan yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi pada perusahaan-perusahaan yang sesuai. Langkah tersebut terbukti pada tahun 2010-2011 sebanyak 35 persen siswa kelas III sudah diterima bekerja sebelum lulus.

 “Berkat prestasi tersebut, dalam dua tahun belakangan saat PSB kami menolak banyak siswa. Memang ada program-program tertentu yang menjadi idola tetapi ada juga program yang kurang diminati. Akan tetapi berkat perjuangan teman-teman, peminat sekolah ini cukup banyak sehingga kami ‘bisa’ memilih-lah. Yang jelas kami memiliki komitmen untuk menjadi yang terbaik dan dengan memiliki SDM yang mumpuni target kami akan tercapai,” ujarnya.

Untuk membentuk staf pengajar mumpuni, Hadi menggunakan unsur kepercayaan. Dengan memberikan kepercayaan kepada staf-stafnya, mereka akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Berkat kepercayaan mereka akan enjoy dan bekerja dengan seluruh kemampuan yang dimiliki. Kondisi tersebut akan sangat berbeda kalau staf selalu diawasi, dikontrol dan lain-lain. “Kami memberikan kepercayaan untuk improvisasi tetapi koordinasi tetap sehingga nyambung. Ini mungkin yang membuat akselerasi setiap SDM mengeksploitasi kemampuannya secara maksimal,” imbuhnya.

Hadi bersyukur perhatian pemerintah terhadap SMK Negeri 2 Salatiga yang dipimpinnya cukup besar. Dalam kurun waktu tiga tahun belakangan, bantuan pemerintah kota -provinsi maupun pusat- baik dalam bentuk fisik maupun non fisik terus mengalir. Pemkot Salatiga sendiri sangat membantu dan saat ini meminta untuk membuat proposal pembangunan gedung serbaguna senilai Rp1,5 miliar.

Ke depan, Hadi berharap agar pemerintah tidak menghentikan bantuannya demi kemajuan sekolah. Meskipun demikian, sebagai pengelola sekolah ia bertanggung jawab atas bantuan yang diterima dan berusaha menjadi yang terbaik sebagai bentuk pertanggungjawaban. “Intinya kami ingin bahwa pemerintah betul-betul lega dan percaya, bahwa mereka tidak salah membantu SMK N 2 Salatiga. Saya ingin menunjukkan bahwa SMKN2 berhasil dan layak dipercaya,” tambahnya.

Dengan bantuan pemerintah, kelengkapan SMK Negeri 2 Salatiga terus berkembang. Meskipun sekarang sudah melebih sekolah lain, namun Hadi telah merancang program untuk pengembangan sekolah dua atau tiga tahun ke depan. Salah satunya adalah setiap kelas pada tahun ini telahharus menggunakan IT sehingga penggunaan kertas dalam ulangan kedepan ulangan umum tidak menggun akan kertas lagi.

Semua serba computerize. Sekarang sebenarnya sudah tetapi kami terus sempurnakan. Selain itu, kami harus membimbing anak-anak agar soft skill mereka sesuai dengan kebutuhan industri. Jangan sampai kami mendidik anak tetapi ternyata skill mereka tidak sesuai dengan industri. Karena tujuan kami industri, ya kami belajar bagaimana bentuk-bentukseluk-beluk yang dibutuhkan industri,” ungkapnya.

Attitude dan Disiplin

Kemajuan pesat yang ditunjukkan SMK Negeri 2 Salatiga ternyata menarik perhatian dunia industri. Banyak perusahaan yang “berani” merekrut siswa SMK Negeri 2 Salatiga saat mereka bahkan belum lulus. Beberapa perusahaan lebih ekstrim lagi denganbahkanmengadakan kerjasama yang bersifat lebih khusus. Yang paling menonjol adalah PT Astra Daihatsu Motor (ADM), lewat implementatif kurikulum dan soft skillnya. Kemudian PT SIS yang mengembangkan class industry dengan membangun satu kelas di sini dengan alat-alat difasilitasi perusahaan tersebut.

Saya penasaran kenapa perusahaan-perusahaan tersebut memilih SMK Negeri 2 Salatiga. Ternyata sikap kita yang “nguwongke” serta kharisma SMK Negeri 2 Salatiga menarik mereka ke sini. Selain itu, ternyata anak-anak kami memiliki karakter yang dibutuhkan perusahaan. Kami sendiri menerapkan selection ratedisiplin tata tertibyang sangat tinggi sehingga ketika anak-anak sudah bergabung di perusahaan-perusahaan, attitude dan disiplinnya lebih tinggi dari alumni sekolah lain. itulah kenapa perusahaan-perusahaan memilih ke sini,” tuturnya.

Menurut Hadi, sejak sekolah berdiri sudah terjalin keinginan untuk mengubah image. Sesuai program Kemendiknas, dari “STM yang tawur menjadi SMK yang bisa” dan menggandeng CSR perusahaan otomotif, PT Astra Internasional SMKN 2 Salatiga terus berkembang. Di sinilah era penggemblengan para siswa SMKN 2 Salatiga menuju dunia industri. Utamanya bagi mereka yang tidak ingin melanjutkan pendidikan.

Kita memberikan didikan kepada siswa yang mengarah pada dunia industri, bukan melanjutkan pendidikan, maupun mampu berwirausaha. Mereka siap bekerja dan kami usahakan bekerja sesuai bidangnya di industri yang besar sehingga kesejahteraan mereka terjamin. Kami kan tidak ingin mereka memiliki masa depan mereka suram. Keinginan kami mereka maju melebihi para guru. Kami memberikan treatment kepada anak-anak agar mereka menunjukkan bahwa merekalah yang terbaik,” ujarnya.

Sejak itu, nama SMKN 2 Salatiga harum dan terkenal di mana-mana. Hasil gemblengannya ternyata membuahkan anak-anak yang unggul dalam segi etika, norma dan disiplin dibandingkan dengan alumni sekolah lain. Tentu saja dengan kualifikasi dan skill yang ditunjukkan alumni SMKN 2 Salatiga sangat menarik bagi dunia industri untuk merekutnya. Akhirnya perwakilan dari beberapa perusahaan mencari alumni SMKN 2 Salatiga untuk dipekerjakan di perusahaan masing-masing.

Kami punya BKK yang bekerjasama dengan beberapa industri untuk mengadakan rekruitmen di SMK N 2 Salatiga. Kadang industri tertentu peminatnya sampai 900 orang, dan kami juga melibatkan BKK sekolah lain yang selalu berkomunikasi untuk bisa bersaing dalam rekruitmen di tempat kami. Intinya dengan kerjasama BKK kami dengan industri, sangat membantu alumni kami“, ungkapnya.

Dengan kondisi yang dicapai tersebut, Hadi merasa mendapat tantangan yang sangat berat untuk mempertahankan image tersebut. Berkaca dari bangsa ini yang mudah mencetak juara namun sangat sulit untuk mempertahankannya. Baginya, inilah PR yang harus dikerjakan dengan selalu berupaya agar anak-anak didiknya tidak jenuh, bekerja dengan senang, bermotivasi tinggi dan lain-lain.

Kamiharus mampukesulitan untuk mempertahankan prestasi. Mungkin untuk sekadar meningkatkan masih gampang. TetapiKarenasekolah lain pun berlomba dan berjuang untuk bisa sepertimelebihikami. Meskipun demikian kami tetap membuka kesempatan sekolah lain untuk belajar agar seperti kami,” ujarnya.

Sebisa mungkin, Hadi mencegah terulangnya hubungan antara Indonesia dan Malaysia di masa lalu pada sekolahnya. Yakni Malaysia yang dahulu mengirimkan mahasiswa untuk belajar di Indonesia sekarang kondisinya berbalik. Bangsa Indonesia yang harus datang ke Malaysia untuk belajar kepada orang-orang yang dahulu dibinanya. Semua itu disebabkan karena bangsa Indonesia tidak bisa mempertahankan prestasi yang telah berhasil diraihnya.

Itu yang kami jaga agar sekolahkami tidak malah disalip oleh sekolah yang belajar pada kami. Prinsip kami, sekolah harus berbeda dengan sekolah lain, slogannya yang penting kita buktikan, kita bicara dengan fakta. Seperti kita bisa buat mobil sendiri, sehingga Direktorat Pendidikan sudah tahuPSMK tahu, akhirnya kami dipercaya untuk merakit mobil nasional SMK” ungkapnya,

Pembuatan mobil, lanjutnya, dilakukan setelah mendapat bantuan mesin mobil Daihatsu Terios dari AstraADM. Mesin tersebut kemudian dibuatkan body mobil mewahala Roll Royce, yang dibuat selama empat bulan secara handmade. Biaya pembuatan body mobil mencapai Rp57 juta dengan stir kiri bergaya Amerika. “Kami dipercaya oleh Direktorat untuk tidak sekadar merakit tetapi membuat. Kami memimpin 22 SMK untuk merakit mobil nasional SMK, mungkin nanti dari satu mobnas SMK ini, lima atau sepuluh tahun ke depan akan mampu menjadi mobil nasional sungguhan,” imbuhnya.

Workshop dan Training

Untuk mencetak tenaga-tenaga siap pakai alumni SMK Negeri 2 Salatiga diperlukan guru-guru yang mumpuni. Karena dari guru, para siswa memperoleh ilmu untuk diterapkan di dunia industri nantinya. Pengalaman dan pengetahuan guru menjadi sangat mutlak untuk ditingkatkan mengingat percepatan perkembangan dunia industri juga sangat tajam. Terutama menyangkut teknologi yang terus mengalami peningkatan dengan cepat.

Penyegaran, itu kuncinya. Kami selalu mengadakan penyegaran dalam bentuk in house training maupun workshop untuk meningkatkan keterampilan para guru. Kami adakan up date setiap tahun agar kurikulum dan guru-guru kami tidak ketinggalan. Itu langkah kami agar tidak ketinggalan dengan sekolah yang tadinya berguru kepada kami. Begitu juga dengan guru-guru yang ingin melanjutkan pendidikan S2 juga kita dorong,” tuturnya.

Menurut Hadi, sepuluh persen guru SMK Negeri 2 Salatiga sudah memiliki gelar S2. Program training sertifikasi guru-guru pun dilakukan pihak sekolah bekerjasama dengan lembaga pelatihan guru di Malang dan lain-lain. Bahkan sertifikasi kompetensi dari lembaga lain pun pihaknya mendorong agar pendidik mengikutinya. Keuntungan pribadi bagi guru dengan adanya program tersebut cukup banyak seperti diundang sebagai assessor ke mana-mana.

Sebenarnya untuk mengambil program S2 banyak guru-guru yang sudah sepuh malas. Karena mungkin untuk pendapatan sudah cukupmerasa sudah tua dan sudah tidak mampu, jadi tidak memerlukan hal-hal seperti itu. Tetapi saya tetap mendorong dengan berbagai cara agar mereka meningkatkan kompetensinya. Sekarang sudah mulai memiliki kesadaran untuk maju karena sebenarnya tidak ada yang tidak bisa, kalau kita tekuni. Orang kasat mata kok,” tandasnya.

Dalam mengatur SMK Negeri 2 Salatiga dengan 160 gurudan karyawan, Hadi menggunakan manajemen kolektif dengan menerapkan keterbukaan dan kebersamaan. Bukan one man power tetapi kolektif, di mana Kepala Sekolah mengarahkan dan akan dilepaskan begitu program berjalan untuk mencari inovasi baru. Kepercayaan dari Kepala Sekolah itulah yang akan menjadi sumber semangat dari seluruh guru.

Biasanya yang miss itu bukan masalah uang, tetapi informasi. Jadi yang terpenting adalah komunikasi supaya informasi itu nyambung dan tidak mbulet. Untuk itu, pada minggu ke-IV setiap bulan kami mengadakanmeetingstaff. Dan per unit juga mengadakan meeting untuk dilaporkan hasil program yang disusun. Sebenarnya sederhana sekali kalau dilakukan dengan ikhlas,” katanya.

Semua program dan kebijakan yang diterapkan di SMK Negeri 2 Salatiga tidak lepas dari visi dan misi yang telah ditetapkan. Adapun visi dan misinya adalah sebagai berikut:

Visi

Menyiapkan tamatan yang mampu bersaing di era global dan berimtaq tinggi”

Misi

  1. Menyiapkan tamatan yang menguasai Iptek dan Imtaq

  2. Menyiapkan tamatan siap masuk kerja

  3. Menyiapkan tamatan yang mempunyai jiwa kewirausahaan

  4. Menyiapkan tamatan yang cerdas, jujur, dan bermoral

  5. Menyiapkan tamatan dengan kompetensi bertaraf internasional

  6. Menyelenggarakan sekolah dengan pelayanan bertaraf internasional

Untuk mengajari berwiraswasta, kami memberi modal dengan kewajiban mengembalikan lebih besar. Jadi,Siswa disinitidak hanya kami fasilitasi agar match dengan industri, dengan perguruan tinggi tetapi kami juga menerapkan pendidikan wirausaha. Agar lahir wirausaha mandiri di Salatiga, jangan sampai nanti pengusaha di Salatiga malah datang dari daerah lain,” katanya.

Kepada generasi muda, Drs. Hadi Sutjipto, MT berpesan agar mereka menjadi pejuang bukan pecundang. Pesan itulah yang selalu ditanamkannya kepada anak-anak didiknya. Ia menekankan bahwa untuk mencapai kesuksesan memerlukan perjuangan dan proses sehingga tidak bisa secepatnya diraih.

Tetapi raihlah kesuksesan itu dengan penuh perjuangan. Kalau kalian menjadi pejuang, pasti natinya akan sukses. Tetapi kalau sejak awal inginyang dibayangkansukses dahulu kalian akan menjadi pecundang. Kalah sebelum bertanding dan di tengah jalan akan menyerah. Berjuanglah untuk menjadi sukses, jangan berharap kesuksesan diraih dengan mudah,” tambahnya.

Hadi mencontohkan bagaimana sebelum menjadi Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Salatiga, selama sepuluh tahun menjadi guru di Timor Timur. Ia juga pernah menjalani profesi sebagai tukang ojek,agar merasakan bagaimana sulitnya mencari uang. Selain itu, profesi sebagai kenek angkutan umum yang disambung menjadi sopir juga pernah dijalani. Tidak heran, ia bisa diterima di setiap kalangan, mulai preman, pejabat, ulama dan lain-lain.

Saya malu kalau difasilitasi, karena akan merasa “berutang budi”. Bagaimanapun sulitnya lebih baik atas usaha sendiri. Prinsip saya, “lebih baik menolong daripada ditolong”, kata Drs. Hadi Sutjipto, MT.

Drs. Tarwan , MT

No Comments

Drs. Tarwan , MT
Kepala Sekolah Menengah SMK Penerbangan Dirghantara

Terus Membangun Demi Terwujudnya Target Sekolah Unggulan Tahun 2010

Sebelum berhasil meluluskan siswanya, Sekolah Menengah Kejururuan  Penerbangan Dirghantara ( SMK-PD ) telah memperoleh predikat akreditasi “B”. Dengan predikat tersebut kualitas ataupun persyaratan Sekolah  Menengah Penerbangan di Curug ini diakui pihak yang berwenang. Tentu saja ukuran untuk sekolah baru SMK-PD yang baru berdiri tahun 2005 predikat ini sangat membanggakan.

Pada awal berdirinya SMK-PD ini banyak berkonsultasi/ berhubungan dengan SMKN 29 Jakarta, meliputi sistem kurikulum, sistem pembelajaran, tenaga pengajar kebutuhan laboratorium dan lain-lain. Seiring dengan perjalanan waktu SMK-PD dapat Mandiri, artinya diperkenankan melaksanakan Ujian Nasional sendiri. Padahal diperkirakan sebelumnya Ujian Nasional pertama harus bergabung dengan SMK lain yang sesjenis dan  yang terdekat adalah SMK 29 Jakarta, dan apabila hal itu terjadi memerlukan biaya  tak sedikit yang harus ditanggung oleh para siswanya terutama untuk transportasi.

Bermodalkan predikat akreditasi, dapat membantu sekolah dalam menyampaikan beberapa hal dan kendala yang dihadapi oleh sekolah kepada masyarakat. Dengan kerja keras dan berbagai upaya, akhirnya sedikit demi sedikit fasilitas sekolah dapat dilengkapi. Lulusan pertama SMK-PD adalah 73 orang siswa, sebagian besar sudah diterima dan bekerja di maskapai penerbangan dan sebagian melanjutkan studi. Tidak tahu kenapa anak-anak kami cepat terserap oleh pasar”kata Drs. Tarwan, MT, Kepala Sekolah SMK Penerbangan Dirghantara.

Tidak hanya berhenti disitu, tahun berikutnya bahkan beberapa maskapai penerbangan nasional mendatangi SMK-PD, dengan tujuan  merekrut dan mengikat siswa sebelum mereka “ diambil” oleh perusahaan lain setelah lulus sekolah. Tahun  2009/2010 GMF dapat merekrut 16 siswa, sebagian sedang mengikuti proses rekrut Lion Air. Sementara lulusan umumnya direkrut melalui jalur normal di berbagai maskapai penerbangan, sebagian lainya melanjutkan ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI-Curug), Universitas Nurtanio ( UNUR –Bandung ) dan lainnya.

Kepada siswa yang sudah lulus, Tarwan panggilan akrabnya berpesan agar mereka agar tidak pernah berhenti belajar. Lulus dari SMK bukan berarti tugas anda telah selesai, justeru tugas lebih besar telah menanti didepan kita. Mereka akan menghadapi dunia penerbangan yang sebenarnya, yaitu dunia yang tidak mentolerir kesalahan sedikitpun, yang bisa berakibat fatal.

“Mereka harus terus belajar dan belajar.Tantangan di dunia penerbangan relatif berat, karena teknologi penerbangan selalu berkembang dan akan

terus berkembang . Kami mendidik sesuai   dengan kemampuan yang kami miliki, dan kami akui masih banyak lubang yang kitaenahi. benahi” kata pria kelahiran Purwokerto, 12 Agustus 1948 ini
Tarwan sadar, sebagai lembaga pendidikan  baru, baik secara fisik maupun sofware masih banyak kekurangan. Untuk itu  secara operasional setiap saat sekolah melakukan perbaikan-perbaikan yang dirasakan  mendesak, tidak tanggung-tanggung ia merencanakan menjadi SMK Penerbangan Dirghantara Curug sebagai SMK Penerbangan Unggulan pada tahun 2020.

Saat ini, Tarwan sedang membangun kesamaan visi dari semua unsur yang ada di sekolah. Tidak bosan bosanya ia mensosialisasikan secara terus menerus agar komitmen dari semua unsur dapat terbangun. Karena syarat untuk mencapai target menjadi sekolah unggulan tahun 2020 salah satunya adalah adanya komitmen dari semua unsur, sumber daya uang dan sumber daya lainya.

Sebagai sekolah yang ingin mendapatkan predikat sekolah Unggulan, Tarwan telah membuat suatu program semacam master plan dari tahun 2010 – 2020.
Tahun 2010, berkonsentrasi pada pembangunan prasarana/fisik untuk kesiapan akreditasi ulang, membuka kompetensi keahlian baru ( Instrumen Avionic Pesawat Udara ) untuk meningkatkan kinerja.
Tahun 2011, SMK-PD berkonsentrasi untuk pembenahan administrasi guru, administrasi perkantoran, administrasi pembelajaran, dan juga persiapan administrasi ulang ( 2 ) dengan sasaran mendapatkan predikat “A”
Tahun 2012, SMK-PD konsentrasi pada pelaksanaan akreditasi ulang, pembinaan tenaga kependidikan, peninjauan struktur organisasi guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tahun 2013, SMK-PD kembali konsentrasi pada pembangunan prasarana / fisik lanjutan , pengadaan sarana pendidikan lanjutan dan mengajukan usulan Sekolah Standar Nasional ( SSN )
Tahun 2015, SMK-PD konsentrasi pada implementasi SSN, pemantapan SSN, penerapan ISO, usulan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) , SBI untuk menuju Sekolah Unggulan
Tahun 2020, diharapkan target yang dicanangkan  SMK-PD bisa tercapai  kalau tak ada perubahan kebijakan yang mendasar, menjadi Sekolah Unggulan di Indonesia.

“ Semua itu memang perlu kerja keras dan perjuangan berat. Karena sistem dalam sekolah ini belum satu jalan,  maka masih perlu pembenahan . Sebenarnya untuk mencapai SSN persyaratan  hampir memenuhi, yaitu tinggal kelengkapan peralatan  plus pengajar dengan bahasa inggris hanya  beberapa orang, untuk ISO dengan  syarat tertib administrasi tidak terlalu masalah kalau memang kita ingin komitmen

Komitmen menjalankanya. Kemudian seperti diuraikan diatas setelah SSN, ditingkatkan RSBI yang mensyaratkan guru yang mengajar dengan pengantar bahasa Inggris lebih banyak lagi. Bagi kami hal ini tidak terlalu bermasalah, karena sebagian pengajar kami yang notabene dosen STPI terbiasa mengajar siswa dari negara asing, yakinnya.

Semua rancanan yang disusun Tarwan dimaksudkan untuk membangun SDM penerbangan yang handal dalam menghadapi globalisasi. Disamping membekali ketrampilan teknis, lulusan SMK Penerbangan Dirghantara diharapkan mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Rencananya, ia ingin merekrut tenaga pengajar dengan penguasaan bahara Arab. Mengingat sekarang ini di era globalisasi persaingan tenaga kerja sangat ketat dari seluruh penjuru dunia.

“Jadi kalau bisa tidak hanya bahasa Inggris tetapi bahasa asing lainnya juga, karena peluang bidang ini masih sangat terbuka lebar. Kalau kita mampu mencetak lulusan yang qualified di luar negeri masih banyak yang bisa  menampungnya. Dari pada kita mengirim TKI yang non ketrampilan, mendingan mengirim yang begitu kan . Maka saya berangan-angan merekrut lulusan dari Madrasah, kita didik dan kita kirim ke luar negeri, beherja sama dengan Depnaker. Peluang besar di bisnis bidang penerbangan untuk orang-orang kompeten dan punya sikap,”tandasnya.

Jajaran Perintis

Drs. Tarwan, MT, sebelumnya  sebagai salah satu Instruktur Sekolah Tinggggi Indonesia (STPI), pada tahun 1987 ditugaskan sebagai pengajar Mekanika Teknik pada Jurusan Teknik Penerbangan. Ia juga ditugaskan sebagai tenaga fungsional sebagai Pimpinan Instalasi Teknik Umum.

Tahun 1996, Tarwan mendapat kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan pada jenjang Magister(S2) di ITB jurusan yang diambilnya sesuai dengan pekerjaan sehari-hari berkutat didunia penerbangan. Magister Teknik  diselesaikan pada tahun 1998, masih tetap mengajar. Kemudian  ditugaskan sebagai Kepala Sup Penyusunan Program kurang lebih selama setahun. Selanjutnya diberikan kesempatan sebagai Kepala Balai Diklat Penerbangan di Palembang( akhir 2000 s/d akhir 2004.

Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Sumardi dan Rakyah (almh) kemudian ditugaskan sebagai dosen tetap di STPI dengan pangkat Lektor Kepala. Tugas ini memberinya banyak waktu luang pada sore hari yang dimanfaatkan untuk mengabdi kepada masyarakat. Salah satunya ikut bergabung sebagai  staf pengajar pada SMK  dilingkungan Curug.

Secara resmi SMK Penerbangan Dirghantara berdiri pada tahun 2005 berlokasi  di kompleks STPI Curug. Sejak awal ia ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum kemudian merangkap  sebagai Pelaksana Teknis Operasional (PTO) SMK-PD ( 2008-2009). Pekerjaan yang dilakukanya laksana Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah sudah sepuh hanya saja PTO tak berwenang menandatangani surat-surat resmi. Baru pada bulan Maret 2010  Tarwan kemudian diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK-PD secara definitif.

“Visi kami para lulusan SMK Penerbangan Dirghantara Curug, handal dibidangnya masing-masing. Visi yang kita usung adalah “ Menyiapkan teknisi handal dibidang Mesin dan Rangka Pesawat Udara, Instrument dan Avionic Pesawat Udara, berdisiplin, bertanggung jawab dan bermartabat, target kami

terutama ingin membina anak didik agar tangguh, kreatif dan bertanggung jawab dilapangan sesuai bidangnya masing-masing”ungkap ayah empat anak hasil pernikahannya dengan Theresia Haryatun ini.

Oleh karena itu SMK Penerbangan Dirghantara dibawah kepemimpinan Tarwan pada pembinaan sikap yang salah satunya adalah disiplin. Sebagai tolok ukur atau tepatnya cermin adalah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia ( STPI ) Curug Tangerang, walaupun secara umum belum mencapai kondisi yang menyerupai dalam cermin, tetapi upaya menumbuhkan sikap tersebut terus dilakukan, apalagi sebagian adalah dosen STPI.
“Kita mencoba  menekankan sikap disiplin sebagai budaya yang harus dilaksanakan . Disamping itu sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku kami juaga mengupayakan beberapa type mesin sebagai sarana pelatihan. Meskipun  kita hanya beli mesin bekas karena harga mesin baru mahal dan tak terjangkau , karena kita harus memiliki guna memenuhi persyaratan. Karena predikat akreditasi kita baru “B” nanti kita ingin meningkat menjadi “A”. Kita sedang berupaya untuk bisa memiliki pesawat/mesin yang untuk praktek, bisa juga diterbangkan”ujar pemilik motto ‘Semua yang dihadapi dijalani dengan ikhlas’ ini menguraikan harapanya.

Masuk Angkatan Laut.

Awalnya Drs. Tarwan, MT tidak sedikitpun bercita-cita mejadi guru. Sebagai anak petani biasa, lebih tertarik menjadi tentara. Karena pada saat itu masuk AKABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ) masih relatif mudah, tak perlu koneksi maupun persyaratan lai, semua berdasarkan atas prestasi dan kemampuan masing-masing secara obyektif.

“Sejak kecil saya ingin masuk Angkatan Laut, itu cita-cita saya karena pakaianya putih rapi dan kalau berbaris bagus. Tetapi orang tua punya pepatah Jawa “ mangan ora mangan anggere kumpul” maka saya mendaftar sekolah yang relatif dekat rumah. Pada saat itu yang sejalan dengan lulusan STM adalah APTN ( Akademi Pendidikan Teknologi Negeri ) yang lulusanya menjadi calon guru STM dan berubah menjadi ATN ( Akademi Teknologi Negeri ) sementara saya sendiri tidak senang menjadi guru. Karena pada saat itu menjadi guru relatif mudah ( untuk mengisi lowongan karena banyak guru tersangkut G.30 SS/PKI ), sehingga bila punya Ijasah setinggkat SLTP, kita ikut kursus beberapa bulan sudah bisa jadi guru ( SR). Jadi saat itu menurut saya profesi guru kurang menantang” tuturnya.

Setelah lulus dari Akademi Teknologi tahun 1974, Tarwan kemudian “merantau” ke Tangerang. Saat itu kota satelit Jakarta ini sedang giat pembangunan pabrik secara besar-besaran. Ia bekerja dibidang pemasangan mesin dan kemudian bekerja pada suatu perusahaan di Tangerang, dengan jabatan Kepala Seksi Maintenance Produksi hingga memiliki anak. Tahun 1978, ia mulai berpikir sesuai dengan karakternya yang tidak bisa berspekulasi, karena bekerja di swasta terasa pasang surut, sehingga kurang tenang, maka mencari peluang untuk menjadi PNS, karena walaupun gaji kecil  tetapi kontinyu.

Tarwan kemudian mencoba mendaftarkan diri ke Departemen Perhubungan yang saat itu membuka lowongan. Ia diterima dan ditempatkan di Curug sebagai Instruktur. Artinya  profesi yang selama ini dihindari dan dianggap kurang menantang akhirnya harus dijalani. Awalnya ia bertugas sebagai seorang Instruktur hanya sebatas  tanggung jawab pekerjaan saja. Namun lambat laun ia sangat menikmati dan enjoy sebagai guru.

“Karena setiap hari mengajar dan merasa enjoy tadi, sekarang bahkan saya ingin menularkan pengetahuan yang saya miliki kepada orang lain . Jadi guru senang bila melihat siswa-siswanya lebih maju menjadi orang yang bermanfaat. Filosofi hidup saya adalah “bekerja apa yang saya bisa kerjakan dengan kesungguhan dan keikhlasan”, kata pria yang tidak suka bawa pekerjaan kerumah ini.

Sebagai pimpinan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Swasta, Tarwan merasa perhatian pemerintah masih terbatas. Dengan dana APBN 20 persen, perhatian kepada sekolah swasta masih tetap kecil. Ia mengibaratkan masih terasa dianak tirikan  sedangkan sekolah negeri dianak emaskan.

“Ini masih kurang adil, mestinya sekolah swasta agak lebih diperhatikan lagi. Harusnya ada keseimbangan, meskipun sekarang sudah mulai menerima bantuan terkesan sekadarnya saja” kata pria yang terkesan awet muda ini. Ia membocorkan rahasia awet muda yang dimilikinya, yaitu tidak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “ Saya tidak bisa hati saya berdebar-debar. Pokoknya saya bersyukur dengan hidup apa adanya seperti  sekarang ini” imbuhnya.

Mengakhiri pembicaraan, Tarwan berpesan kepada generasi muda agar bersungguh –sungguh dalam mengembangkan bakatnya . Setiap bakat merupakan anugerah Tuhan, apapun bentuknya tidak boleh disia-siakan dan harus ditekuni. Sebisa mungkin orang tua tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan bakat anak” cukup mengarahkan dan menunjangnya.” Yang nantinya malah bisa kontra produktif dan dapat menghancurkan masa depan si anak “ Pokoknya talent atau bakat apapun bagus asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Semua harus dilakukan dengan benar-benar dan secara total, yang Insya Allah hasilnya akan optimal” tegasnya.