Tag: pengalaman

Daniel Santosa

Daniel Santosa
Direktur Utama PT Primaland Development
Arsitek Yang Berkembang Menjadi Developer
Bidang Arsitektur tidak hanya urusan gambar mengambar dan design dari sebuah bangunan. Tetapi bisa mencakup bidang yang lebih luas lagi. Seseorang lulusan sekolah Jurusan Arsitektur tidak harus menjadi seorang Arsitek, tetapi ia bisa mempraktekan ilmunya ke bidang-bidang lain, seperti misalnya bekerja di bidang interior, kontraktor bangunan, supplier bahan bangunan, konsultan lighting, agen property, exhibition, constuction management dan lain lain, bahkan menjadi seorang developer sekalipun.
Hal ini yang dialami oleh sosok Daniel Santosa, Direktur Utama PT Primaland Development, lulusan dari Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara, Jakarta dan University of New South Wales, Sydney.
“Setelah lulus kuliah S1 tahun 1990, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan arsitektur di Jakarta. Setahun kemudian saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke level yang lebih tinggi. Meski dengan biaya sendiri tanpa mengandalkan orang tua, saya bertekad untuk melanjutkan sekolah lagi ke University of New South Wales, Australia, mengambil jurusan Building Design. Disana saya bekerja sembari kuliah. Bahkan bekerja sebagai kitchen hand atau  pencuci piring di sebuah restaurant pun pernah saya lakoni demi mengejar cita cita sejak kecil untuk bisa lulus dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri,” kata penerima penghargaan sebagai salah satu pengembang terbaik 2010 versi International Business and Company Award ini.
Setelah kuliah selesai pada tahun 1992, Daniel mencoba untuk bekerja di Australia, tetapi karena pada saat itu sedang terjadi resesi ekonomi disana, sehingga mencari pekerjaan sebagai seorang arsitek merupakan hal yang cukup sulit, apalagi untuk pendatang seperti dia. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dengan bakat menggambar yang ada, ia mencoba untuk mendirikan usaha dibidang Consultan Design, dibantu seorang teman dan 2 orang pegawai dengan menumpang tempat di sebuah rumah kontrakan.  Karena hubungan antara design dan konstruksi sangat erat, maka sejalan dengan waktu bidang konstruksi pembangunan juga ditekuninya. Beberapa proyek berhasil diselesaikannya.
Dalam perkembangannya, setelah mengalami jatuh bangun akibat krisis moneter dan sebagainya, pada tahun 2000 dengan menggunakan uang tabungan yang ada, Daniel mencoba untuk membeli beberapa kavling tanah, mengingat pada waktu itu setelah krisis banyak dijual tanah yang cukup murah . Beberapa tahun kemudian setelah keadaan ekonomi membaik, kavling-kavling tanah tersebut mulai dibangun dan berhasil dipasarkan. Semua dikerjakan secara in house, mulai dari design, konstruksi sampai pemasarannya. Sampai saat ini sudah ratusan unit bangunan yang berhasil dipasarkan, tidak terbatas pada rumah tinggal, tetapi juga rumah kantor atau ruko, pergudangan dan perkantoran.
Saat ini di bawah bendera Primaland Development, ia sedang memasarkan sebuah kawasan bisnis yang dinamakan Kapuk Business Park, berlokasi di daerah strategis jalan Kapuk Raya. Kapuk Busines Park adalah sebuah kawasan yang unik, merupakan perpaduan antara perkantoran, pergudangan sekaligus nyaman jika digunakan untuk tempat tinggal. Menurutnya kawasan seperti ini sangat dibutuhkan di Jakarta dan demandnya cukup tinggi. Didasari dengan pemikiran akan kemacetan kota Jakarta yang setiap hari semakin parah tanpa ada solusi yang berarti dari pemerintah, orang akan semakin berpikir realistis dan efisien, mereka membutuhkan suatu tempat tinggal, tempat bekerja dan tempat menyimpan barang yang saling berdekatan, bahkan bila memungkinkan di satu tempat sekaligus tanpa terganggu kemacetan. Maka Kapuk Business Park merupakan salah satu solusi kawasan dengan konsep 3 in 1 yang mengakomodasi pemikiran di atas. Bahkan kawasan ini juga sangat strategis untuk jalur distribusi barang. Akses ke Bandara hanya di tempuh dalam beberapa menit, juga ada akses tol langsung menuju ke arah pelabuhan. Tepatnya dari dan menuju seluruh penjuru Jakarta ada akses tol langsung dari arah kawasan ini.
Menurut Daniel, yang membedakan kawasan ini dengan kawasan serupa, selain dari lokasi adalah penataan lingkungan, design dan fasilitasnya. Diakuinya memang harga di kawasan ini tergolong tidak murah, tetapi dari harga yang dibayarkan konsumen itu mereka mendapatkan sesuatu yang berbeda dari kawasan lain, baik dari segi kualitas bangunan, kualitas infrastructure, fasilitas, keamanan dan costumize design. Mereka akan merasa nyaman untuk bekerja dan merasa aman untuk menyimpan barang.
“Sebagai seorang arsitek, saya merasa lebih puas jika produk yang saya pasarkan adalah rancangan saya sendiri. Selain dari design unit-unit saya kerjakan sendiri dengan bantuan beberapa drafter, masterplan maupun infrastructure juga dikerjakan secara inhouse. Diluar itu, untuk lebih memuaskan konsumen, kami juga melayani konsumen yang unitnya ingin dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan mereka.” Kemudian lanjutnya, ”Gambar yang kita design dan tawarkan ke konsumen seperti gambar gambar di brosur dsb, ya seperti itulah jadinya bangunan dan fasilitas yang mereka dapatkan. Kita selalu commit dengan apa yang kita tawarkan.”
Transparan dan Konsekuen
Menurut Daniel Santosa, perusahaan yang didirikannya belum tergolong perusahaan besar dalam bidang property, namun perusahaan yang sedang dan masih berkembang. Sebelum memulai mengembangkan suatu kawasan, hal hal yang biasa ia lakukan adalah membuat perhitungan yang matang atau feasibility study,  survey dengan melihat kebutuhan dan tingkah laku pasar secara jeli, memberikan kualitas  bangunan yang baik dan fasilitas  yang disediakan juga faktor tidak kalah penting, disamping tentunya faktor lokasi yang strategis dan kelengkapan surat surat. Hal ini akan sangat menentukan produk kita akan diminati konsumen dan mampu bersaing dengan pengembang lain. Selain itu kita sebagai pengembang juga dituntut harus jujur, transparan dan memegang komitmen.
Dengan perpegang pada hal-hal di atas, terbukti kami selama ini tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam memasarkan produk kami, meskipun kami belum mempunyai nama besar sebagai pengembang.
Belajar dan Menekuni Pekerjaan
Untuk saat ini yang sedang Daniel kerjakan adalah berkonsentrasi terhadap proyek proyek yang sedang berjalan supaya dapat terealisasi dengan baik dan tepat waktu. Sehingga komitmen terhadap konsumen dapat benar benar terwujud
Untuk ke depannya Daniel berharap perusahaannya untuk terus berkembang dengan skala yang lebih besar. Menurutnya semuanya harus melalui sebuah proses, tahap demi tahap, tidak ada yang instant, semuanya ia anggap sebagai proses pembelajaran. Karena mengingat dahulu ia memulai dari nol, hal ini  tentunya bisa terwujud jika didukung kondisi ekonomi tanah air yang terus membaik, sehingga daya beli masyarakat juga terus meningkat.
”Siapa sih yang tak ingin perusahaannya menjadi besar? Yang sudah kami lakukan dan akan terus kami lakukan adalah kerja keras,  jika saya sekarang bisa lebih maju dari waktu waktu sebelumnya  menurut saya itu adalah hasil dari proses belajar dan kerja keras, semua itu saya anggap sebagai suatu anugerah dari Tuhan, karena saya diberi kesempatan untuk belajar dan menjalankan pekerjaan ini, saya selalu bersyukur untuk segala sesuatunya…,”tuturnya.
Pengalaman yang ingin disampaikan untuk generasi muda yang baru mulai bekerja. Seperti yang pernah dialami dirinya, “Setelah lulus kuliah saya bingung dihadapkan dengan berbagai pilihan, apakah membuka usaha sendiri, atau berkarier di sebuah perusahaan. Menurut saya yang terpenting kita harus mencari pengalaman sebanyak banyaknya. Belajarlah dari pengalaman pengalaman itu, manfaatkan peluang dan kesempatan. We have to trust our feeling, taking chances, appreciating and learning from the past, to achieve a better future. Saya rasa setiap orang mempunyai kesempatan, tetapi mungkin timingnya berbeda. Kita harus selalu optimis, bersungguh sungguh dalam bekerja, jujur, pandai memanfaatkan kesempatan dan selalu berserah dalam doa”.
“Untuk mereka yang sudah berhasil dalam berusaha, supaya tidak lupa, bahwa keberhasilan yang telah kita capai selain hasil dari kerja keras, adalah kemurahan dan berkat dari Tuhan, hendaknya kita juga selalu bisa menjadi saluran berkat buat orang di sekeliling kita”, demikian katanya menutup pembicaraan.

Deddy Herfiandi

Deddy Herfiandi
Direktur PT Ratu Oceania Raya

Bekerja di Cruise Line Mendidik Profesionalisme

Dalam dunia kerja, setiap SDM dituntut untuk bekerja secara profesional. Manajemen yang mempekerjakannya, sangat menghargai seorang SDM yang bekerja berdasarkan aturan standar yang sudah ditentukan. Seorang pekerja akan dihargai sesuai dengan profesionalitasnya dalam melakukan tugas. Semakin profesional, pekerja tersebut memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang memadai.

Salah satu pekerjaan yang menawarkan pendapatan memadai berdasarkan profesionalisme adalah menjadi awak kapal pada industri cruise line atau kapal pesiar. Meskipun industri kapal pesiar banyak terdapat di perairan Karibia, Eropa dan sedikit di Singapura, tetapi menawarkan kesempatan kerja yang sangat terbuka bagi tenaga kerja terlatih dari seluruh dunia. Termasuk juga tenaga kerja dari Indonesia yang memiliki kualifikasi tertentu.

“Yang mungkin perlu kita berikan adalah informasi yang benar kepada masyarakat. Bahwa alternatif untuk generasi muda dalam mencari penghasilan lebih, pengalaman, kualifikasi, profesionalisme mereka, cruise line industry cukup bagus. Karena di samping dapat kerja dan gaji dengan dolar, juga dapat pengalaman luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan di tempat lain,” kata Deddy Herfiandi, Direktur PT Ratu Oceania Raya.

Menurut Deddy, dibandingkan pekerjaan sejenis di darat -seperti di hotel-hotel- kapal pesiar masih memiliki nilai lebih. Sesibuk-sibuknya bekerja di hotel, masih tidak sebanding dengan kesibukan kerja di kapal pesiar. Gaji yang ditawarkan pun masih tetap lebih baik dengan pekerjaan lain. Bekerja di kapal pesiar, merupakan ajang untuk mendidik generasi muda menjadi profesional. Selain berurusan dengan manajemen, seorang pekerja juga berkesempatan untuk memiliki pengalaman dan belajar mengenal budaya bangsa lain.

Bagi pekerja perempuan pun, Deddy menjamin kapal pesiar merupakan tempat paling aman dari sexual harassment. Bahkan dibandingkan dengan pekerjaan yang sama di hotel berintang di darat, kapal pesiar tetap lebih unggul. Hal ini terkait dengan perjanjian ekstra ketat yang diterapkan manajemen dalam menjamin hak-hak perempuan di kapal.

“Suitan atau tatapan mata yang dianggap menggangu, bisa mengakibatkan seseorang diturunkan dari kapal. Jadi sangat aman bagi perempuan untuk bekerja di kapal pesiar, tanpa harus takut mengalami pelecehan seksual. Pokoknya bekerja di kapal pesiar menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Kita lebih memahami bangsa lain dan kebiasaan sehari-hari mereka karena bisa saja, teman sekamar datang dari mana saja. It’s a good society, kumpulan orang-orang yang bekerja bareng satu kepentingan, tetapi bisa share knowledge dan lain-lain,” imbuhnya.

Deddy menjamin, dibandingkan pekerjaan lain di darat, bekerja di kapal pesiar masih tetap lebih unggul. Meskipun kapal berlayar di tengah laut, fasilitas yang dimiliki sangat memadai mulai rumah sakit hingga tempat ibadah. “Ibadah juga dihormati meskipun dianggap sebagai kebutuhan personal seperti anggapan dunia barat umumnya. Makanya, kita sendiri yang mengatur kapan waktu untuk salat. Memang tidak bisa seperti di darat, tetapi waktu untuk ibadah bisa kita atur sendiri,” tandasnya.

Jemput Bola

Setelah dua tahun menempati kantor baru, PT Ratu Oceania Raya yang dinakhodai oleh Deddy Herfiandi semakin maju. Dari tiga karyawan berkembang menjadi 16 orang karyawan dan memiliki kantor representative di Bali dengan 10 orang karyawan. Selain itu, banyak permintaan untuk menambah kantor representative di beberapa kota lain.

“Tetapi itu akan membuat beban menjadi lebih berat. Makanya saya hanya mempunyai perwakilan di Bali untuk Indonesia Timur dan Jakarta untuk daerah lainnya. Kita juga mempekerjakan expatriate yang kita tempatkan di Bali. Cita-cita saya bahwa suatu hari nanti kami bisa membuat kantor representative di Medan dan Makassar,” ungkapnya.

Alasannya, pada kedua kota tersebut memiliki sekolah pariwisata yang cukup bagus, STP Medan dan Makassar. Hal ini mengingat kebanyakan tenaga kerja  yang dibutuhkan untuk kapal pesiar banyak dipasok oleh sekolah perhotelan dan pariwisata. Apalagi, permintaan tenaga kerja untuk kapal pesiar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk saat ini, setiap tahun Deddy mampu memenuhi permintaan 800 tenaga kerja per tahun.

“Saya berharap, mulai tahun depan mampu menyuplai 1000 orang tenaga kerja per tahun. Karena kita juga membuka kerjasama dengan perusahaan lain, kalau dulu hanya dengan Royal dan Celebrity, sekarang kami berafiliasi bisnis dengan Disney Cruise Line, Apollo Ship Chandlers, Seabourn Flat Services dan ISPL. Yang menjadi andalan adalah empat perusahaan kapal pesiar ini –Royal Karibian, Disney, Celebrity dan Apollo- yang bisa kita harapkan akan meningkatkan jumlah crew dari Indonesia,” tuturnya.

Selain kerjasama dengan STP Medan dan STP Makassar, perusahaan milik Deddy menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan lain seperti Trisakti, NHI, SPB Bali. Bahkan perusahaan sudah membuat Culinary Program di Trisakti dan institusi pendidikan yang lain. “Saat ini kita sedang melakukan policy baru dengan sistem jemput bola. Artinya, kebutuhan tenaga kerja banyak tetapi yang melamar tidak sesuai kebutuhan,” ungkapnya.

Meskipun telah memasang iklan di mana-mana, kebutuhan tetap belum teratasi. Deddy akhirnya menjawab kebutuhan tersebut dengan mencetak tenaga kerja sendiri. Saat ini, perusahaan secara intensif bekerja sama dengan sekolah kuliner untuk cook, kursus bahasa Inggris dan kursus kapal pesiar untuk kuliner. “Jadi kita menampung lulusan yang sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kalau nunggu ya nggak jadi-jadi, saking banyaknya, sehingga kita menjemput bola atau mencetak sendiri tenaga yang kita butuhkan,” tuturnya.

Dari Hotel ke Hotel

Deddy Herfiandi lahir di Cimahi, Bandung 14 Maret 1959, orangtua Deddy bekerja di Kesdam (Kesehatan Kodam) dan berdinas di RS Dustira Cimahi. Deddy menempuh pendidikan di Akademi Perhotelan Bandung dan lulus pada tahun 1977. Dua tahun kemudian ia pergi merantau ke Jakarta dan bekerja di Hotel Borobudur. “Belum setahun bekerja saya pindah ke Hilton Hotel. Karena Hilton is the best hotels in town, waktu itu tahun 80-an,” kisahnya mengenang.

Waktu itu, kisahnya, ia bekerja di fine dinning room Taman Sari Hotel Hilton selama 8 tahun. Deddy memulai pekerjaannya merangkak dari bawah, yakni bekerja posisi dari busboy –sebagai entry position. Deddy bertahan selama delapan tahun dan mencapai posisi puncak sebagai Restaurant Manager. Ia merupakan Restaurant Manager ke-4 di Taman Sari sepanjang sejarah berdirinya Hilton Hotel.

Deddy mengembangkan karirnya dan bekerja di kapal pesiar, Holland American Lines, yang berkantor pusat di Seattle, Woshington DC. Dari situ ia bertemu banyak orang, teman dan kenalan, yang memberinya kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Michigan pada jurusan Manajemen Perhotelan. Di sana, ia menghabiskan waktu selama delapan tahun.

“Kemudian tahun 1995, saya pulang ke tanah air dan bergabung dengan Daichi Hotel. Kebetulan disana sedang membutuhkan Restoran Manager untuk French Restoran. Ini juga merupakan spesialisasi saya, karena kebetulan waktu itu, chef khusus makanan Eropa dengan Perancis sebagai spesialisasinya. Namanya Ton el Restaurant selama  kurang lebih setahun,” ungkapnya.

Deddy kemudian diajak oleh salah seorang temannya untuk mengelola restoran Imperial Karawachi. Setelah lima bulan, ia kemudian pindah kerja di Hotel Sheraton Bandara. Di situ, ia berperan menjadi pre opening team yang membantu menyiapkan konsep restoran yang sesuai dengan kualifikasi hotel bintang lima. Ia membantu Food and Beverage Manager –bernama Mr. Frank Beck- menyiapkan restoran di hotel tersebut. Ia mengakhiri karir sebagai Food and Beverage Manager selama lima tahun dan ‘mentok’ pada posisi ini. “Karena nggak mungkin menggantikan GM di situ yang pasti orang luar, Jerman atau Austria. Tetapi, itu pas dengan kemampuan dan kualifikasi saya untuk fine dinning room bukan pada restoran kecil,” tuturnya.

Lepas dari Sheraton Bandara, Deddy diajak teman-temannya dari Holland American Lines yang lebih dahulu bikin perusahaan yang namanya CTI. Perusahaan itu  merupakan perwakilan dari Carnival, Renaissance, Apollo dan lain-lain, yang membutuhkan manager dan training spesialis. Selama dua tahun ia menekuni posisi ini sebelum bergabung dengan PT Mekar Jaya, sebuah perusahaan PJTKI yang didirikan oleh Bapak Soedjangi, pensiunan pejabat Depnaker pada tahun 2002.

Saat di Mekar Jaya, lanjutnya, kebetulan ia mendapat kepercayaan sebagai perwakilan dari Celebrity Cruises yang berpusat di Miami. Empat tahun kemudian pada April  2007, Celebrity Cruises diakuisisi oleh RCCL dengan agen yang sangat solid dan establish, yakni Barber. Akhirnya hampir semua lines beralih ke agen lain, sehingga tinggal Deddy sendiri yang mengelola beberapa cruiser lines. “Kecuali Celebrity Cruises dan Royal Caribbean,   saya tinggal Regal Empress, Texas Treasure dan Caribbean Empress yang saya pegang,” ujarnya.

Dengan meninggalnya pendiri Mekar Jaya, Deddy membuat keputusan  untuk mendirikan perusahaan sendiri. Setelah seluruh surat-surat yang diperlukan terpenuhi, akhirnya pada tanggal 1 Oktober 2007, berdirilah PT Ratu Oceania Raya di Bintaro. “Yang terjadi kemudian adalah perusahaan-perusahaan yang dulu bekerja sama pada perusahaan lama, akhirnya kembali kepada saya. Seperti Royal Caribbean, Celebrity. Ditambah Club Cruise Nederland dan Regal Empress,” lanjutnya.

Tidak Ada Boss

Dalam mengelola perusahaan, suami Wiwin Winarsih ini menggunakan sistem kekeluargaan. Bahkan, orang-orang yang bekerja di PT Ratu Oceania Raya tidak memiliki bos atau atasan. Lebih ekstrim lagi di perusahaan pengerah tenaga kerja khusus kapal pesiar ini tidak menerapkan hierarki. Semua dianggap teman yang bahu membahu bekerja membesarkan perusahaan untuk kepentingan bersama.

“Di Ratu tidak ada bos dan hierarki, yang ada hanya teman. Kita hilangkan jenjang antara bawahan dan atasan. Meskipun seorang OB kita anggap kayak teman saja, dalam bersikap kita juga sama. Sejauh ini Alhamdulilah, teman-teman di kantor baik-baik dan mereka respek dengan pekerjaan masing-masing,” tuturnya.

Menurut Deddy, karyawan adalah bagian dari perusahaan yang sangat berperan besar. Tanpa kehadiran karyawan, perusahaan tidak bisa berkembang maju seperti sekarang. Tidak bisa dipungkiri, karyawan merupakan tulang punggung perusahaan dalam mencapai tujuannya. Untuk itu, sebagai perwujudan penghargaan terhadap para karyawan, Deddy membentuk Koperasi Karyawan. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan karyawan yang telah sekian lama bekerja membanting tulang demi perusahaan.

“Namanya Koperasi 16 Karat, singkatan dari enam belas Karyawan Ratu. Sudah beberapa MoU yang ditandangani atas nama koperasi, yakni proyek-proyek perusahaan dengan sekolah pariwisata. Proyek kerjasama ini menyediakan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih sesuai kebutuhan klien kita. Nah, keuntungan dari proyek menjadi milik koperasi dan hak karyawan, revenue-nya tidak masuk ke PT Ratu. Untuk yang seperti ini, saya memfasilitasi agar koperasi yang menjalankannya. Semua demi kesejahteraan bersama sehingga karyawan juga semangat bekerja,” tegasnya.

Semua itu dilakukan Deddy mengingat jasa-jasa karyawan dalam memajukan perusahaan. Ia ingat betul, beberapa bulan setelah berdiri perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan. Ia bahkan sempat meminta bantuan kakak ipar dan ponakan untuk mengelola perusahaan. Pertimbangannya, atas nama pertalian darah, masalah sensitif seperti itu lebih mudah dibicarakan, berbeda dengan karyawan lain. “Jadi sekian lama mereka bekerja tanpa bayaran, Alhamdulilah mereka sampai sekarang masih ada,” tuturnya.

Selain dari famili dekat, ayah empat anak ini menerima dukungan penuh dari istrinya. Meskipun istrinya tidak langsung terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan “hanya” fokus mengurus keluarga, tetapi sangat berarti baginya. Dengan sang istri di rumah, membuat ia tidak pernah takut terhadap masa depan anak-anaknya. Terbukti, tak satupun anaknya terlibat dalam perbuatan negative seperti terjerat narkoba atau pergaulan bebas.

“Istri saya di rumah, meskipun dulu satu pekerjaan sebelum menikah. Tetapi kami sudah sepakat, istri tidak kerja. Belajar dari keluarga-keluarga lain, yang ayah ibunya bekerja dan anak lebih dekat kepada pembantu. Makanya, dia konsentrasi membesarkan anak saja dan Alhamdulilah tidak ada yang terlibat masalah yang seram-seram. Alhamdulilah, tanpa mereka tidak ada artinya,” tukasnya. Istrinya juga membatasi diri untuk tidak terlibat dalam urusan kantor. “Bahkan ke kantor pun baru dua kali seumur hidup,” imbuhnya. Anak tertua Deddy ikut membantu mengelola perusahaan karena memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.

Mengubah Image

Sebagai “pemain” yang kenyang pengalaman di dalam dunia pengiriman tenaga kerja khusus kapal pesiar, Deddy tahu betul apa kekurangan dan kelebihan SDM Indonesia. Apalagi, tenaga kerja yang dikirimnya bukanlah “sekelas” tenaga kasar tetapi sangat  memerlukan kompetensi khusus. Untuk itu, ia berharap pemerintah melakukan beberapa pembenahan mendasar terhadap SDM asal Indonesia.

“Saya berharap pemerintah mulai berpikir untuk bersaing di dunia internasional karena itu sangat mendesak mengingat kita telah memasuki era pasar global bebas. Kita selama ini selalu kalah bersaing di semua aspek, mulai pekerjaan, sport, ilmu pengetahuan semua ketinggalan, daya saing kita  rendah sekali. Image kita terlanjur buruk, kalah dari Filipina yang jauh lebih kecil negaranya. Jadi kalau daya saing menjadi prioritas, semua harus dirombak,” tegasnya.

Selain sistem, lanjut Deddy, pemerintah juga perlu mengubah image bangsa yang sudah terlanjur jatuh. Sayangnya, bangsa Indonesia di era ini tidak memiliki public relation yang handal seperti Bung Karno, Bung Hatta, H Agus Salim, Syahrir dan lain-lain. Mereka di masanya telah menjadi PR yang handal dalam membangun image bangsa ini menjadi bangsa besar yang disegani oleh bangsa lain dan menjadi kebanggaan dari bangsanya sendiri. “Kalau sekarang belum ada yang seperti itu,” tambahnya.

Tulang punggung dari perubahan tersebut, menurut Deddy terletak di pundak generasi muda. Generasi muda harus memupuk dan menumbuhkan semangat bersaing yang kuat dengan bangsa lain. Ia secara khusus menyoroti kemampuan bahasa asing yang sangat minim dari orang-orang yang dikirim bekerja di luar negeri sebagai pekerja di kapal pesiar.

“Kemampuan komunikasi pekerja Indonesia di luar negeri dikenal sangat buruk, karena bahasa Inggrisnya minim. Kita kalah dari pekerja Filipina dan India, meskipun secara kualitas pekerjaan berani bersaing. Itulah kelemahan paling mendasar dari bangsa kita,” tegasnya.

Untuk itu, bagi pekerja Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri melalui PT Ratu Oceania Raya, Deddy menetapkan empat kriteria. Pertama kemampuan bahasa Inggris yang cukup karena akan berguna dalam pekerjaan, safety serta untuk membela hak-haknya yang mungkin terabaikan. Kedua experience, skill and knowledge terhadap pekerjaan yang harus benar-benar menguasai. Jangan sampai, pekerja asal Indonesia hanya untuk disuruh-suruh saja. Setidaknya mereka mencapai tahap men-supervisi pekerja yunior dari manapun.

“Ketiga appearance, kalau kita bekerja di luar negeri harus bisa menempatkan diri. Kita tahu Indonesia disangka sebagai sarang teroris, jangan kemudian malah ke mana-mana makai sorban, dan lain-lain. Keempat attitude yang professional dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Menurut saya yang terpenting adalah menjadi individu-individu yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Karena spirit itu akan terbawa ke semua aspek, mulai olahraga, kreativitas dan lain-lain,” tandasnya.

Deddy merasa “ngenes” melihat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar tetapi terseok-seok. Sebagai negara kaya dengan sumber daya alam dengan penduduk terbesar keempat di dunia, tetapi tidak mampu memanfaatkan kelebihan tersebut untuk kesejahteraan rakyat. Ia mencontohkan bagaimana China sebagai negara yang memiliki penduduk yang sangat besar tetapi mampu menguasai perekonomian dunia. “Mereka memiliki kebanggaan dan prestasi. Sama seperti Jepang, yang tumbuh maju karena memiliki kreativitas dan inovasi serta daya saing yang sangat tinggi dan luar biasa,” ujarnya.

Ke depan, Deddy berharap agar terjadi sinergi antara cara pandang dunia usaha, pemerintah dan generasi muda. Dengan adanya satu pamahaman, satu visi dan misi bahwa bangsa Indonesia harus memiliki kebanggaan, itulah yang akan membawa bangsa ini menuju kemajuan yang dicita-citakan. Deddy menegaskan bahwa kebanggaan tersebut harus “keluar” seperti ketika Malaysia mengklaim batik sebagai miliknya.

“Semua orang tersentak dan tergerak untuk “mengamankan” kekayaan budaya tersebut dari keserakahan bangsa lain. Karena memang batik telah menjadi kebanggaan bangsa ini, saya berharap di bidang lain pun begitu. Ada kebanggaan yang pantas untuk dipertahankan. Makanya, marilah kita sama-sama lakukan bersama, agar semua lebih mudah, baik dan jujur. Kita harus menyiapkan diri untuk menjadi bangsa yang besar,” pungkasnya.

SM Panjaitan

Direktur Utama PT Surya Global Security Service

Sukses Menyeluruh Sulit Dicapai

Setiap menjalankan sebuah usaha, diperlukan planning (perencanaan), money (uang), man (manusia), peralatan ditambah dengan strategi yang jitu. Semua itu, digabungkan dalam sebuah pentahapan pencapaian yang terencana sejak memulai (start), lokasi usaha, sampai tujuan terukur yang ingin dicapai. Misalnya, usaha jangka panjang yang terukur antara 5-25 tahun, jangka sedang dalam hitungan 12 bulan sementara jangka pendek maksimal 30 hari.

Meskipun demikian, semua itu tergantung pada sasaran atau target yang ingin dicapai oleh pemilik usaha. Yang jelas, kesuksesan bisa diukur dengan berbagai patokan, mulai sukses dalam bentuk uang, kepemimpinan, kesejahteraan dan lain-lain.

“Untuk sukses secara menyeluruh sangat sulit dijangkau. Karena usaha itu bisnis dengan motto ‘Modal sedikit dengan hasil yang banyak’. Harus tetap sejahtera tetapi tidak melanggar aturan dan berjalan sesuai Undang-Undang dan peraturan. Pengusaha harus berpedoman pada ilmu ekonomi, kepemimpinan dan managerial yang menyesuaikan perkembangan zaman, serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dan canggih. Dia juga harus terus berinovasi untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan sesuai Asta Gatra, ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan keamanan,” kata SM Panjaitan, Direktur Utama PT Surya Global Security Service.

Pengusaha sukses, lanjutnya, tidak akan tergantung kepada nasib. Ia sangat tergantung pada kegigihan, keuletan, ketekunan, kedisplinan, ketelitian dan kecermatan di segala hal. Pengusaha yang sukses memiliki selektivitas dan prioritas dalam mengambil keputusan, memahami kebutuhan pasar serta perkiraan tentang masa depan. Tentu saja, semua itu melalui perhitungan yang sangat matang, berdasarkan angka-angka sehingga bisa menentukan sasaran-sasaran tambahan. Yakni melalui usaha mendapat inovasi baru dan bukan sekadar “coba-coba”. Kalau pun dilakukan hanya “coba-coba” tetapi melalui perhitungan menurut teori penelitian.

Menurut Panjaitan, seorang pengusaha adalah sekaligus pemimpin, yang mengerahkan orang lain untuk mewujudkan gagasan dan idenya. Pengusaha yang pemimpin, menduduki salah satu golongan dalam kategori umum manusia yang terdiri atas empat kategori. Kategori pertama adalah orang yang tidak tahu kalau dirinya tahu. Kedua orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga selalu menjadi penghalang. Ketiga orang yang tahu kalau dirinya tahu dan keempat orang yang tahu dirinya tidak tahu.

“Apabila dua kategori terakhir berada dalam diri satu orang, maka dialah yang akan menjadi pemimpin. Karena dia mampu memberdayakan sumber daya yang ada –manusia, uang dan alat- mampu menggerakkan, memotivasi, menuntun dan membimbing. Dia juga mampu memberdayakan uang, mampu menempatkan orang dengan tepat sesuai kapasitas masing-masing. Bahkan, seorang pemimpin bisa membuat orang yang dinilai bodoh menjadi sangat ahli di bidangnya,” tegasnya.

Seorang pemimpin, jelas Panjaitan, memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh. Masing-masing manusia dalam keyakinan pemimpin telah mendapat porsi tugas, fungsi dan peranan yang tidak persis sama. Untuk itulah, seorang pemimpin menciptakan sistem yang berupa suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari banyak unsur yang saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Masing-masing orang memiliki talenta yang membutuhkan kompetensi hasil belajar latihan dalam berbagai tingkatan. Semua itu dapat ditentukan oleh seorang pemimpin melalui kriteria-kriteria tertentu yang jelas dan terukur.

Seorang pemimpin perusahaan, menurut Panjaitan, harus bijak dalam menerima kritikan positif. Dia tidak boleh terlalu fanatif terhadap sebuah pendapat dan mengabaikan saran-saran yang berasal dari anak buahnya. Seorang pemimpin harus mempertimbangkan sebelum memutuskan, tidak egois, fleksibel, luwes dan energik. Selain itu, pemimpin harus gampang menyesuaikan diri, lembut tetapi prinsip dan keyakinan harus tercapai.

“Seorang pemimpin itu harus seperti air, yang selalu mengalir, merembes atau menguap tetapi selalu mencapai laut. Itulah tujuan sebenarnya dari air yang tidak dapat dibendung oleh apapun sebelum mencapai laut sebagai tujuan akhir. Tidak ada yang dapat menghentikan gerakan tersebut bahkan kalau perlu tsunami menggerakkan air. Seperti itulah pengusaha sukses menurut pandangan saya,” ungkapnya.

Seorang pengusaha sukses, imbuhnya, adalah orang yang sukses dalam penggunaan uang (money) dan menikmati hasilnya. Dia juga sukses menggerakkan orang (man) dengan kesejahteraan rohani dan batin. Pengusaha yang sukses juga berhasil dalam memaksimalkan penggunaan alat, profesional dan proporsional, tepat guna dan berhasil guna. Artinya pengusaha sukses harus berguna bagi orang banyak dan bukan keuntungan pribadi atau kelompok saja.

Memerlukan Inovasi

Dalam memimpin perusahaan, menurut Panjaitan akan sangat berbeda dengan pimpinan dalam kemiliteran. Kalau dalam kemiliteran garis komando sangat jelas penanggung jawab antara yang dipimpin dengan pimpinan, pengusaha tidak bisa melakukannya. Pimpinan di militer lebih gampang mengendalikan anak buahnya terkait adanya garis komando tersebut. Sementara pimpinan perusahaan tidak memiliki hubungan yang tegas dengan para karyawan yang dipekerjakannya.

“Kedudukan antara pemilik perusahaan dan karyawan relative sejajar. Karyawan hanya takut dipecat atau dikeluarkan dari pekerjaan oleh kekuasaan sehingga tanggung jawabnya kurang. Kebanyakan karyawan ingin bekerja sesedikit mungkin dengan hasil semaksimal mungkin dengan berbagai dalih atau alasan. Karyawan tidak sadar bahwa mereka ikut pemilik perusahaan dengan saham tenaga. Oleh karena itu, bagi pimpinan perusahaan harus mencari cara dan strategi atau formula yang paling baik dan terus melakukan inovasi yang berkesinambungan,” tandasnya.

Sebenarnya, kemajuan atau kemunduran sebuah usaha merupakan sebuah kejadian biasa dan normal. Seperti grafik dalam kehidupan di dunia ini, kenaikan atau penurunan adalah sesuatu yang wajar. Yang penting, tujuan akhirnya adalah tercapainya sasaran yang telah direncanakan. Kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan, yang mengetahui dengan pasti adalah pimpinan atau pemilik perusahaan. Pencapaian kemajuan perusahaan sampai 65 persen akan dinilai berhasil pada tahapan jangka pendek, sedang dan panjang. Meskipun demikian, angka 100 persen pencapaian dalam bisnis bukan tidak mungkin terjadi.

Seorang pengusaha, jelasnya, dapat melatih indera penciuman terhadap peluang bisnis di sekitarnya. Salah satu latihan yang paling berguna adalah dengan melatih panca indera untuk penguasaan terhadap informasi. Karena ketika informasi sudah dikuasai, bisa diibaratkan seorang pengusaha telah menguasai dunia. Semua itu bisa diperoleh melalui olah pikir dari membaca, baik ilmu pengetahuan maupun media massa. Kemudian banyak melihat, mendengar, merasa dan mencium sehingga banyak pengalaman, baik media massa, elektronik dan lain-lain.

“Kemudian kita harus menguasai banyak bahasa. Kemudian olah fisik atau olahraga juga menggunakan otak. Kalau sudah pintar, bijak melalui olah fakir tentu membutuhkan fisik yang sehat. Orang pintar juga harus dengan fisik yang sehat dan kuat. Bila ini dimiliki seseorang, kami yakin indera penciuman di bidang usaha atau bisnis pasti tajam. Bahkan mereka akan mampu secara otomatis mencium peluang usaha yang baik untuk bisnis di masa depan,” tegasnya.

Menarik Becak

SM Panjaitan adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Komisaris Polisi. Ia telah menjalani tugas panjang di kepolisian selama 37 tahun 10 bulan dari pangkat terendah, Bharada pada tahun 1969 (14 Februari 1970, resmi menjadi polisi). Selama bertugas di kepolisian, ia menjalani pendidikan kedinasan sampai 14 kali untuk meningkatkan kompetensinya sebagai petugas yang mengabdi kepada masyarakat. Setelah pensiun pada tahun 2006 (30 Desember 2006), ia mengisi masa pensiun dan membuka usaha pada bulan Oktober 2008.

Saat menjalankan tugas sebagai polisi, Panjaitan menyadari bahwa pekerjaan adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ia harus mengutamakan tugas di atas segalanya. Adapun tugas mengurus anak dan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada istri tercinta. Di luar tugas, barulah tenaga, pikiran dan seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk mencari penghasilan yang halal.

“Saya pernah menarik beca dari tahun 1976-1977, mencatak dan memasok sol sepatu, mandor angkot, beternak, membuat ember dari tong aspal dan lain-lain. Semua itu saya kerjakan di luar tugas kepolisian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena saat itu, adik-adik datang dari kampung dan kebetulan saya tinggal di luar asrama. Nah, saat saya berpangkat sersan dan menjadi komandan regu maka saya harus masuk asrama. Terpaksa, kegiatan di luar saya hentikan demi kelancaran tugas dan karier. Meskipun secara penghasilan banyak berkurang, tetapi itu peraturan yang harus ditaati,” kisahnya.

Panjaitan tentu saja harus mematuhi aturan yang berlaku di asrama sehingga tidak bisa menjalankan bisnisnya di luar jam kerja. Ia terikat peraturan asrama yang bahkan untuk keluar asrama pun harus mendapat izin dari Ka. Asrama kecuali untuk kepentingan tugas. Di sini ia banyak belajar bagaimana tugas dan kriteria pimpinan militer atau kepolisian yang penuh disiplin. Pimpinan militer (perwira) bagaikan martil, yang menokok paku adalah bintara –penghubung antara atas dan bawah- sedangkan yang dipalu adalah bawahan (tamtama( yang banyak menjadi satu agar kuat dan tahan. “Pemimpin militer memimpin prajurit yang telah dilatih tegas dan keras dalam disiplin dan tanggung jawab. Jadi baik yang memimpin maupun yang dipimpin sama-sama keras,” ujarnya.

Pengalaman disiplin di kepolisian, sedikit banyak dipraktekkan Panjaitan dalam mengendalikan perusahaan. Ia berharap perusahaan yang dipimpinnya menjadi sarana mendapatkan manusia yang sejahtera, bertanggung jawab dan berguna bagi kesejahteraan keluarganya. Baginya, bekerja merupakan pengalaman berharga dan menjadi ilmu yang dapat digunakan untuk dijadikan ilmu pengetahuan bagi para staf dan karyawan perusahaan. Setidaknya, para karyawan mampu mengembangkan perusahaan sesuai perkembangan zaman karena mereka lah penggerak dan motor perusahaan.

Panjaitan sadar, sedikit banyak usaha yang digelutinya sekarang adalah merupakan bagian dari program pemerintah. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah turut campur tangan mengenai masa depan perusahaan. Yakni dalam hal perencanaan, man, money, peralatan dan produk hukum serta peraturan dengan batasan-batasan tertentu. Kemajuan perusahaan akan memberikan andil dalam mensejahterakan rakyat sedangkan kemundurannya berakibat sebaliknya.

“Sebagai pemimpin, saya harus menggugah dan memotivasi karyawan atau generasi muda. Saya juga berkewajiban mendorong dari belakang dengan menjadi contoh di depan, bersikap adil dan bijaksana, berusaha memberi pandangan visi ke depan agar jangan jalan di tempat. Namun, sekarang semua itu menjadi sangat terbatas, hanya di lingkungan kerja saja. Akibat kesibukan pekerjaan yang sangat padat, membuat saya harus membatasi aktivitas di tempat lain,” kata SM Panjaitan.

 

H Abdul Hakim Fouad Attamimi

No Comments

Direktur Utama Faryha Tour

(PT Ronaldhitya Tour & Travel)

Sukses Dengan Terus Menerus Belajar dan Menekuni Satu Bidang

Dalam berkarier atau berbisnis, ketekunan terhadap salah satu bidang akan membuat orang menjadi sangat ahli. Selama menjalani karier atau bisnisnya, berbagai pelajaran berharga akan membuatnya menjadi spesialis di bidang yang ditekuninya. Proses yang dijalani selama menekuni pekerjaan akan menjadi pengalaman yang membawa kesuksesan.

Seperti yang dijalani oleh pengusaha biro perjalanan haji & umrah, H Abdul Hakim Fouad Attamimi, Direktur Utama Faryha Tour (PT Ronaldhitya Tour & Travel). Pilihannya untuk belajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali Jurusan Manajemen Pariwisata (lulus tahun 1993) adalah langkah awalnya menuju tangga kesuksesan. Pengusaha asli Bali kelahiran Klungkung, 1 November 1969 ini mengisahkan perjalanan hidupnya, berikut ini.

Saya asli Bali tetapi muslim dan hingga saat ini orang tua dan saudara-saudara semua ada di Bali. Tahun 1993, saya diterima bekerja di perusahaan biro perjalanan wisata, Nusa Dua Bali Tour & Travel. Awal Januari 1994, saya langsung dikirim ke Jakarta sebagai representative, karena banyak tamu dari Eropa yang ke Jakarta dahulu. Jadi, awalnya saya bekerja di biro perjalanan umum,” katanya.

Pertengahan tahun 1994, Hakim –panggilan akrabnya- pimpinan Nusa Dua Bali Tour Jakarta berangkat umrah bersama keluarga. Ia diajak dan menjadi tour leader dalam perjalanan spiritual tersebut. Terkesan atas pengalaman pertamanya di Tanah Suci, membuat ia sangat tertarik di bidang umrah & haji. Dua tahun kemudian, ia memutuskan keluar dari PT Nusa Dua Bali Tour dan bergabung dengan PT. Insan Salsabila, biro perjalanan umrah & haji.

 Sejak itu, Hakim mulai berkecimpung di bisnis umrah & haji. Beberapa kali ia berangkat untuk mengawal para jemaah umrah & haji plus. Kadang, kegiatan jemaah disambung dengan perjalanan wisata ke berbagai negara, seperti; Mesir, Turkey, Jordan, Jerussalem, Maroko, bahkan sampai Spanyol. Setelah beberapa kali pindah kerja di perusahaan umrah & haji, ia memperoleh pekerjaan sebagai Kepala Perwakilan Travel dari Saudi Arabia di Jakarta selama tiga tahun (2006-2009).

Tetapi tahun 2006 itu, saya mulai merintis usaha sendiri dengan membuka biro perjalanan wisata, khusus Umrah & Haji. Namun, sampai tahun 2010, izin umrah & haji belum keluar, hingga akhirnya saya membeli perusahaan yang sudah punya izin, PT. Ronaldhitya Tour & Travel dan mengganti merk dagang menjadi ‘Faryha Tour’. Saya membuka usaha ini karena melihat bahwa ke depan, dengan daftar tunggu pemberangkatan haji regular antara 6 – 10 tahun, umrah & haji plus menjadi pilihan alternative untuk ke tanah suci. Karena banyak yang lebih memilih umrah sambil menunggu jadwal keberangkatannya,” katanya.

Menurut Hakim, Fahyra Tour sekarang memiliki cabang di Surabaya dan perwakilan di berbagai daerah di Indonesia seperti; Tangerang, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Balikpapan, Bali, Palu dan lain-lain. Dengan dibukanya perwakilan di berbagai daerah, jemaah akan semakin mudah mendapatkan informasi tentang segala sesuatu mengenai rencana perjalanan umrah atau haji.

Perwakilan Daerah

Sebagai perusahaan yang baru beberapa tahun berdiri, menurut Hakim banyak kendala yang harus diatasi. Selain perizinan perusahaan umrah & haji yang sekarang dihentikan pemerintah RI, peraturan mengenai umrah & haji dari pemerintah Indonesia dan Arab Saudi pun terus berubah-ubah. Perubahan terjadi bahkan setiap tahun sehingga perusahaan travel umrah & haji kesulitan untuk mengikutinya.

Kendala lain, lanjutnya, datang dari customer sendiri yang rata-rata mendaftarkan diri pada detik-detik terakhir. Akibatnya perusahaan kesulitan untuk reservasi tiket pesawat dan akomodasi mereka di Arab Saudi. Selain itu, dengan visa yang sekarang menggunakan sistem kuota apabila waktunya terlalu mepet perusahaan akan kehabisan dan kesulitan mendapatkan kuota visa umrah & haji.

Minimal satu atau dua bulan sebelum berangkat mereka mendaftar. Kalau yang last minute itu biasanya jemaah dari Jakarta, sementara yang dari daerah biasanya lebih tepat waktu. Kebetulan kita membuka perwakilan sampai ke daerah sehingga informasi yang benar disampaikan kepada calon jemaah melalui perwakilan kami. Kita juga mengantisipasi dengan sistem reservasi penerbangan serta informasi masalah kuota visa kepada jemaah,” tegasnya.

 Hakim tidak pernah menyembunyikan informasi terkait keberangkatan ibadah umrah & haji kepada calon jemaah. Ia selalu menjelaskan kondisi yang dihadapi perusahaan terkait kendala perizinan dan lain-lain serta menawarkan alternative terbaik bagi jemaah, seperti memberikan alternative program atau alternative tanggal keberangkatan dan lain-lain. Kita juga jelaskan kepada jemaah segala kondisi selama di tanah suci agar para jama’ah siap dengan segala kondisi tersebut sebelum berangkat,” imbuh penyuka liburan ke Bali ini.

Untuk menghindari kejadian seperti itu, Hakim menggandeng jemaah melalui sponsorship seperti dari jemaah pengajian, pondok pesantren dan komunitas Islam lainnya. Sponsor itulah yang akan membuat paket umrah atau haji dan mendaftarkan diri ke perusahaan jauh hari sebelumnya. Ia juga membentuk pengajian bulanan yang diselenggarakan di berbagai daerah bagi mantan jemaah haji & umrah yang mempercayakan kepengurusannya kepada Fahyra Tour.

Jadi begitu selesai ibadah jemaah tidak kita lepas begitu saja, tetap ada komunikasi. Karena mungkin di lain waktu mereka akan menggunakan jasa kita lagi. Boleh dibilang umrah sangat berkembang baik, karena orang tidak selalu berlibur atau holiday ke Eropa. Ini perjalanan religius, berwisata sambil ibadah yang belakangan sangat diminati masyarakat,” tegasnya.

Dalam menyikapi persaingan, Hakim menyambutnya dengan sangat baik. Baginya, semakin banyak kompetitor bisnis travel umrah & haji semakin bagus. Ia menyerahkan kepada calon jemaah untuk menilai pelayanan yang diberikan perusahaan. Artinya, semua perusahaan yang bergerak di bidang umrah & haji akan berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah. Tinggal jemaah yang akan menentukan perusahaan travel mana yang menurut mereka paling baik.

Yang jelas komitmen kami adalah bahwa yang kami layani adalah ‘Tetamu Allah’ atau ‘Duyufurrahman’ sehingga kami tidak main-main dalam urusan ini. Kami secara profesional melayani jemaah karena itu adalah amanah, itu yang kita pegang. Karena biaya yang sudah dibayarkan itu adalah amanah yang harus kita pegang. Kita dahulukan & prioritaskan seluruh hak dan kewajiban jemaah,”tegasnya.

Hakim hanya berharap dari sisa biaya yang sudah dikeluarkan menjadi keuntungan perusahaan. Tidak pernah ia mengambil keuntungan di awal pembayaran yang telah dilakukan jemaah. Kebijakan perusahaan adalah memaksimalkan pelayanan kepada jemaah sementara urusan keuangan adalah belakangan. “Kalau tidak ada sisa, ya tidak apa-apa, karena yang kita layani itu adalah tetamu Allah sehingga ‘Dia’ nanti yang akan menggantinya,” tuturnya.

Kebanggaan Keluarga

Menurut H. Abdul Hakim Fouad Attamimi, usahanya lebih fokus pada bidang umrah & haji. Meskipun memiliki pengalaman bekerja di perusahaan travel pariwisata umum –bukan umrah & haji- namun ia tidak tertarik untuk ikut meramaikan bisnis tersebut. Persaingan dan banyaknya perusahaan besar yang “bermain” di travel pariwisata umum membuat ia lebih memilih menekuni umrah & haji.

Jadinya kita malah semakin fokus pada pelayanan jemaah. Karena seperti yang saya gariskan kepada karyawan, bahwa jemaah itu adalah tetamu Allah yang harus dilayani dengan sepenuh hati serta ikhlas dalam bekerja,” kata ayah tiga putri dari pernikahannya dengan Wahidah Rasjid Bawazier ini. Hakim mendapat dukungan penuh dari keluarga atas usaha yang ditekuninya selama ini. “Saya setiap tahun juga membawa keluarga untuk pergi umrah ataupun haji. Itu merupakan kebanggaan bagi keluarga juga, lho…,” imbuhnya.

Sulung dari lima bersaudara pasangan Fouad Abdullah Attamimi dan Latifah Usman ini melambungkan harapan besar pada usahanya. Langkah awal adalah dengan mengokohkan, memantapkan pundi-pundi dan tiang-tiang penyangga Fariha Tour terlebih dahulu. Baik dari segi permodalan, manajemen maupun SDM semua harus dibenahi dengan baik agar cita-citanya untuk menjadikan Faryha sebagai leader dalam pelayanan hamba Allah. “Terutama dalam pelayanan serta menjadi amanah atau dapat dipercaya masyarakat luas,” tambahnya.

Kepada pemerintah khususnya Kementerian Agama RI, Hakim berharap agar umrah & haji plus lebih ditingkatkan pengurusannya. Karena selama ini, haji plus dikelola sendiri oleh travel agen. Sedangkan pemerintah sering mengulur waktu dalam hal pelunasan sehingga travel agen mengalami kesulitan dalam penyiapan pelayanan kepada jemaah, terutama penerbangan dan akomodasi. Sistem yang berlaku sekarang, pemerintah menerapkan kebijakan pelunasan pembayaran bersamaan dengan jemaah regular. Akibatnya, waktu yang dimiliki agen untuk mempersiapkan kebutuhan jemaah sangat sedikit sehingga menjadi tidak maksimal.

Peran pemerintah dalam ONH Plus masih minim, karena birokrasi terlalu kaku. Apalagi perizinan sekarang masih distop untuk umrah & haji dan sangat dibatasi. Sebenarnya kalau pemerintah tegas, banyak travel yang punya izin umrah & haji tetapi tidak memiliki customer namun kebalikannya banyak travel yang notebene tidak punya izin umrah & haji tetapi memiliki dan memberangkatkan banyak jamaah,” tutur pemilik moto “Melayani tamu Allah dengan Amanah” ini.

Hakim yang menjadi anggota HIMPUH dan ASITA ini, berpesan kepada para generasi muda untuk tidak takut menjalankan sebuah usaha. Generasi muda juga harus mempergunakan waktu yang mereka miliki sebaik mungkin. Ia sangat menyayangkan talenta muda berbakat yang disia-siakan. Apalagi dengan derasnya tayangan TV yang menawarkan mimpi instant untuk menjadi terkenal dan sukses. Akibatnya, banyak generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar mimpi yang tidak pasti.

Seharusnya generasi muda bisa lebih tekun dan bersabar mengejar kesuksesan melalui proses yang panjang. Seperti yang saya alami, artinya dari saya mulai menjadi pegawai biasa, manager dan merintis usaha sendiri. Jadi saya harapkan para pemuda, yang baru lulus sekolah berusaha dan mempergunakan waktu sebaik mungkin. Selain itu, selalu gunakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka,” ujar H Abdul Hakim Fouad Attamimi.

Dessy Arnas

No Comments

Runway Indonesia – Personality School

Mengajar Pengembangan Diri Sebagai Passion Kehidupan

Setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama bertahun-tahun, adakalanya kejenuhan menghinggapi seseorang. Apalagi kalau selama menekuni pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat, hingga lupa diri dalam bekerja dan tanpa terasa karier sudah tidak bisa meningkat lagi.

Kondisi seperti ini hanya bisa disikapi dengan menetapkan tiga pilihan. Pertama menyerah terhadap tuntutan pekerjaan sampai memasuki masa pensiun dan menikmati segala konsekuensinya. Kedua melepaskan diri dari seluruh aktivitas pekerjaan untuk menikmati istirahat. Sedangkan ketiga adalah menciptakan tantangan baru sehingga menumbuhkan semangat untuk terus berkembang.

“Saya merasa lelah setelah dua belas tahun bekerja pada sekolah pengembangan diri internasional. Setelah karier dirasa mentok, saya berpikir untuk berdiri sendiri. Apalagi saya ditegur Allah dengan sakit yang cukup keras karena bekerja terlalu ngoyo. Saya kemudian memutuskan untuk istirahat setelah selama bertahun-tahun agak lupa diri dalam bekerja,” kata Dessy Arnas, Runway Indonesia – Personality School.

Dessy kemudian mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu seperti mengajar. Belajar dari pengalaman sebagai marketing yang hampir-hampir tidak memiliki waktu luang, ia mengajukan pengunduran diri dan bergabung di Runway Indonesia, April 2011. Perusahaan pengembangan diri internasional tempatnya bergabung selama 12 tahun pun ditinggalkan.

Sedangkan Runway Indonesia sendiri sebelumnya merupakan sekolah modeling dan acting sejak tahun 2007. Pendirinya Agung Saputra adalah pemilik sebuah management artis dan Nonny Chirilda yang memiliki management model. Keduanya sepakat mengembangkan sekolah yang mereka miliki menjadi personality school atau sekolah pengembangan diri, terbentuklah Runway Indonesia.

“Kemudian bergabunglah saya yang experience di sekolah pengembangan diri, personality. Di sini, saya tidak hanya sekadar mengajar yang sudah menjadi passion kehidupan saya. Tetapi saya juga membuat design program training, desain program kelas, nanti murid-muridnya bisa kita encourage agar dapat lebih mendapatkan sesuatu, begitu,” kata salah satu stakeholder Runway Indonesia ini.

Dessy telah menyusun program pengembangan diri di Runway Indonesia yang terbagi dalam tiga program, yakni program anak-anak, remaja dan dewasa. Bagi kelas dewasa diutamakan untuk mempelajari Self Improvement untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kelas anak-anak bisa belajar percaya diri dan kemandirian sehingga terlepas dari ketergantungan pada ibunya, suster dan lain-lain. Sementara kelas remaja -masa transisi yang kritis dan harus diwaspadai- sehingga harus diberikan wawasan agar tidak melenceng, mampu mengatur diri sendiri, manajemen waktu dan lain-lain.

“Kalau bidang entertainment, seperti model dan artis, kemudian bidang karir, semua itu kita terus kembangkan. Karena sasaran kita memang untuk kalangan anak muda, seperti program karier bagi mahasiswa untuk menyiapkan diri dalam berkarier. Seperti bagaimana mereka ‘menjual dirinya’ saat melamar pekerjaan. Karena kebanyakan perusahaan ingin karyawan yang sudah jadi. Di sini, lama pendidikan hanya dua bulan atau 12-14 pertemuan saja,” katanya.

Terbiasa Hidup Mandiri

Perempuan kelahiran 12 Desember 1972 ini mengisahkan, ketertarikannya ke dunia kerja tidak lepas dari peran sang ibu –Hj Suharti- yang seorang wanita karier. Istri H Nasrun Ismail –ayah Dessy- ini bekerja sebagai Sekretaris Kepala Telkom dan sempat melakukan tugas mengepang rambut tiga anak perempuan, menyiapkan perlengkapan satu anak laki-laki serta kebutuhan suaminya.

“Ibu bahkan masih sempat menyasak rambut sendiri, menyetir mobil ke kantor sendiri dengan sepatu hak tinggi. Kayaknya enak banget ya menjadi wanita karier. Makanya sejak sekolah saya ikut sanggar dan kegiatan lain yang menghasilkan uang. Saya terbiasa hidup mandiri meskipun kedua orang tua secara finansial tidak kekurangan. Pada semester 6, saya ikut menjadi pramugari seasonal di Garuda saat musim haji,” katanya.

Ayahnya terusik melihat “keusilan” anak ketiganya ini. Dessy pun mendapat teguran untuk memilih salah satu dengan serius, melanjutkan kuliah atau bekerja mencari uang saja. Sebagai orang yang konsekwen atas pilihannya, Dessy pun kemudian bekerja. Saat usianya menjelang 22 tahun, ia bekerja di Surabaya dan memutuskan untuk menikah satu tahun kemudian.

Sayang, saat karier Dessy sudah bagus dan mapan, suaminya dipindah tugaskan ke Banda Aceh. Dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa dan lain-lain, karier yang sudah dibangunnya pun ditinggalkan begitu saja. Dengan kondisi seadanya, sebagai istri ia patuh terhadap suami. Selama lima tahun (1997-2002), Dessy menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

“Setelah dipindahkan ke Jakarta, suami mengijinkan saya untuk kembali bekerja. Atas rekomendasi mantan atasan ditempat bekerja terdahulu, saya bekerja di cabang Jakarta perusahaan lama. Setelah lima tahun di Aceh, saya merasa seperti orang kampung. Saya sangat minder, tetapi mantan atasan saya selalu memotivasi. Dalam tiga minggu saya sudah dapat client dan bulan berikutnya sudah dapat client salah satu bank swasta terkemuka,” tuturnya.

Karier Dessy Arnas dengan cepat meroket. Hanya dalam waktu tiga tahun, ia diangkat sebagai General Manager di perusahaan tersebut. Ia menganggap perusahaan tempatnya bekerja tersebut merupakan sekolah kehidupan baginya. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk tetap survive hidup di Jakarta. Dan juga saya memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan karir imbuh ibu dari Rakha Aditya Afrizal dan Rania Adelia Afrizal ini.

Belajar dari perjalanan hidupnya, Dessy Arnas mengimbau generasi muda untuk tidak salah persepsi tentang emansipasi. Baginya, seorang perempuan tidak mungkin mampu mengalahkan seorang laki-laki. Bahkan dalam ajaran agama pun lelaki adalah imam, sehingga sebagai perempuan harus tunduk pada laki-laki. Perempuan-perempuan yang mempunyai potensi, seharusnya disalurkanlah ke tempat yang benar dalam waktu yang benar pula.

“Aturlah diri kita sebagai perempuan yang harus bisa berfungsi dan berguna buat orang lain. Tidak usah karier kantoran seperti sayalah, ibu rumah tangga juga sebuah karier yang sangat mulia. Saya sangat respek pada ibu rumah tangga karena saya sudah mengalaminya selama lima tahun, full time hanya dirumah” kisahnya.

Saat menjadi ibu rumah tangga, Dessy merasakan bagaimana sulitnya untuk sekadar membuat menu makanan harian. Menurutnya, perempuan boleh memiliki ambisi besar tetapi harus tetap pada porsinya dan tidak terlalu berlebihan. Ukuran yang digunakan adalah rumah tangganya sendiri, sehingga ketika berhasil mengorganisasi sebuah organisasi terkecil -yakni rumah tangga- pasti akan berhasil mengelola organisasi yang lebih besar.

“Pagar dan aturannya memang harus ada, mana yang porsi laki-laki mana yang porsi perempuan. Kalau ada yang tidak pas, kan ada kompromi yang bisa kita lakukan. Kalau sudah memutuskan berkarier, kita juga harus bertanggungjawab terhadap karier kita. Tetapi jangan melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan harus benar-benar bisa mempertanggungjawabkan keduanya,” imbuh pemilik motto “Never Stop to Learn” ini.

Setiap Orang Memiliki Kelebihan

Menurut Dessy, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Pendidikan kepribadian membantu orang untuk meningkatkan nilai tambah sehingga dalam setiap kesempatan selalu terlihat lebih bernilai dan menonjol. Meskipun demikian, kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan kepribadian bukanlah sesuatu yang penting.

“Tidak belajar pun juga tidak apa-apa karena sudah ada dalam diri setiap orang. Biasanya orang malah khawatir, setelah mengikuti pendidikan di sini akan menjadi jaim dan lain-lain. Tetapi kami yakinkan bahwa kita hanya men-suggest dalam segala sesuatu. Tidak cantik atau tidak ganteng tidak apa-apa tetapi tetap percaya diri. Saya ingin menularkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita berusaha membangkitkan self control yang baik sehingga kita bisa menampilkan citra positif serta potensi diri yang kita miliki,” tandas sarjana Marketing & Communication ini.

Dalam menyikapi persaingan bisnis, Dessy menanggapinya dengan wajar. Baginya, setiap institusi memiliki segmen berbeda-beda lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Di Runway Indonesia dengan konsep yang baru serta para pengajar yang memiliki visi sama, ia yakin akselerasinya pun lebih kencang.

“Saya bilang kepada staf, kalau kita lari sudah tidak bisa direm. Kalau jatuh itu wajar, harus segera bangun dan lari lagi.Terjatuh dan segala kendala lain merupakan hal yang biasa dan bagian dari sekolah saya. Karena semua itu terkait dengan proses yang akan terus berkembang seiring dengan pengalaman,” kata perempuan yang menganggap stafnya sebagai adik-adiknya sendiri ini. “Kalau menegur pasti dalam jam kerja, diluar itu tidak saya lakukan,” tambahnya.

Istri Hendri Afrizal, SE, MM ini berharap agar lembaga yang dikelolanya menjadi lebih besar dan memiliki beberapa cabang. Dengan memiliki cabang di tempat lain, ia mampu berbagi dengan orang yang ingin mengembangkan diri. Ia juga berharap agar program pengembangan diri ini bisa masuk ke sekolah-sekolah. Untuk itu, pemerintah harus memiliki program terkait bagaimana seorang anak belajar soft skill, mengelola stress dan kepercayaan diri.

“Bidang saya kan di pendidikan, saya ingin sekali agar bidang ini tidak ketinggalan. Kenapa bisnis seperti ini laku, karena kita ini kurang pede seperti bangsa lain di dunia ini. Padahal, rasa percaya diri itu bisa ditumbuhkan dan dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Nilai-nilai yang bisa dieksplore ya harus dikeluarkan. Kita harus konsen terhadap nilai-nilai tersebut agar kita tidak ketinggalan. Jadi sekarang bagaimana caranya untuk membangun kepercayaan diri kita dengan mengeksplore apa yang ada di dalam diri kita menjadi ‘sesuatu’ yang bisa diandalkan,” kata penyuka liburan di pantai ini.

 

 
Personality School
Wajah Baru Runway Indonesia

Selama empat tahun, Runway Indonesia sudah berhasil mencetak hampir 300 talenta yang sukses menghiasi panggung mode dan layar kaca di Tanah Air. Kini, Runway Indonesia hadir dengan wajah baru sebagai Personality School.

Runway Indonesia pertama kali hadir pada 2008 dan mengambil lokasi di Jalan Boulevard Raya-Blok CN2 No. 10, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, program yang diperkenalkan lebih fokus pada dunia Modelling dan Acting. Para lulusan dari sekolah ini hampir mencapai 300 orang dan sebagian di antara mereka bersinar sebagai public figure yang membintangi beberapa sinetron dan film layar lebar. Selain itu, mereka juga sering dilibatkan untuk ikut berpartisipasi di ajang peragaan busana karya desainer papan atas.

Melihat perkembangan yang bagus setiap tahun, maka Founder Runway Indonesia yang terdiri atas Nonny Chirilda, Agung Saputra, dan Dessy Arnas yang masing-masing memiliki pengalaman di bidang modeling, talent management dan kepribadian ini, berupaya memberikan ruang yang lebih luas lagi kepada para talenta di Indonesia untuk mendapatkan ilmu Personality yang menjadi modal mereka lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain.

Saat ini Runway Indonesia memiliki konsep baru sebagai Personality School. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan setiap individu untuk bisa tampil menarik serta percaya diri, sehingga profesi apapun yang akan digeluti, akan berhasil dengan baik. Apakah itu di bidang entertainment, ataupun di bidang karir dan bisnis.

Program-program unggulan yang ditawarkan Runway Indonesia, meliputi Self Improvement, Career Enrichment, Proficient MC & Presenter, Runway Modelling, Professional Acting, Teens Clique, dan Kiddos.

Runway Indonesia menerima anak didik mulai dari tingkat anak-anak (4-10 tahun), remaja (11-16 tahun), dan dewasa (17 tahun ke atas). Mereka akan menerima materi pengajaran selama 14 sesi, dan bisa dilakukan setiap hari, seminggu dua kali, atau setiap Sabtu. Untuk setiap pertemuan akan dilakukan selama 2-3 jam.

Selain kelas regular, Runway Indonesia juga memiliki Corporate Training, dimana materi pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan dari klien atau perusahaan yang bersangkutan.

Adapun pengajar yang diberikan kepercayaan untuk berbagi ilmu Runway Indonesia adalah para praktisi yang sudah berpengalaman di bidang masing-masing. Setiap pengajar akan memberikan materi pelajaran berdasarkan tingkat usia dan kebutuhan peserta, baik itu di kelas regular atau kelas perusahaan.

Target ke depan, bahwa Runway Indonesia – Personality School dapat membantu setiap individu untuk menjadi apa yang mereka inginkan, sesuai dengan potensi yang ada didalam diri mereka. Sehingga apapun yang mereka cita-citakan dapat terwujud dengan baik.

-Run your Way to Success with Runway Indonesia-

Jacob Jack Ospara, M.Th

No Comments

Jacob Jack Ospara, M.Th
Anggota DPD Provinsi Maluku

Mengajak Rakyat Maluku Bersama-sama Membangun Bangsa

Kalau ada yang melenggang ke Senayan bukan untuk mencari uang, Jacob Jack Ospara, M.Th adalah orangnya. Karena sebagai senator anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi Maluku, sangat memungkinkan untuk menggelembungkan pundi-pundi uangnya.

Sebaliknya yang dilakukan Jack –sebutan akrab baginya- adalah tetap menjaga dan melindungi idealismenya yang ditawarkan saat kampanye pemilihan senator, yakni dengan menyuarakan jeritan hati rakyat Maluku yang meskipun sudah 64 tahun bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Pembangunan baik yang dilakukan pemerintahan Orde Baru maupun Reformasi belum dapat menjawab realitas dan pergumulan rakyat Maluku.

Menurut Jack, dalam kampanye pemilihan, ia tidak menyuruh rakyat untuk memilih dirinya, tetapi mengajak rakyat untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara dengan segala sumber daya yang mereka miliki untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang sejahtera dan berkeadilan.

Jack merasa apa yang dilakukan wakil rakyat sekarang –baik di DPR maupun DPD- mengagung-agungkan ungkapan “vox populi vox dei”. Ungkapan yang berarti suara rakyat suara Tuhan yang sering diteriakkan saat kampanye tersebut, dipandang sinis olehnya. Bagi Jack, ungkapan tersebut hanya slogan belaka karena dipakai untuk memobilisasi massa dan merangsang semangat rakyat pemilik hak suara. Namun, segera setelah berhasil duduk sebagai anggota dewan yang terhormat mrg dengan serta merta menafikan kepentingan rakyat dan lebih mengutamakan kepentingan keluarga, kelompok atau golongan masing-masing.

Lembaga legislatif yang seharusnya berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah dalam menyusun dan membuat kebijakan semakin mudah ditawar dan dikendalikan. Hal inilah yang bagi kalangan LSM, media dan pengamat politik yang kritis menjuluki lembaga legislatif sebagai “tukang stempel”, akibat mereka sering meloloskan kebijakan-kebijakan yang tidak humanis dan pro rakyat.

“Negara kita dalam keadaan sakit, baik mental maupun moral. Sebagian besar dari kita sudah kehilangan sense of crisis dan cinta kasih kepada bangsa dan negaranya. Banyak dari mereka yang telah mengubah jubah dan singgasananya sebagai wakil rakyat serta melupakan khittah kemanusiaannya. Mereka menjadi seperti serigala-serigala politik yang hanya mengandalkan kekuatan, tidak ada nurani, tidak ada akal sehat, bahkan tak peduli yang kuat itu lacur. Mereka tidak lagi peduli pada kepentingan rakyat jelata yang hampir sebagian besar masih berkutat dengan masalah perut,” ujarnya.

Jack Ospara terpanggil untuk mengabdikan diri berbekal pengalaman dan ilmu pengetahuan yang sudah dialaminya selama puluhan tahun. Pengabdian dan perhatiannya yang sangat besar terhadap tanah leluhur itulah yang mengantarkannya menjadi seorang wakil rakyat utusan daerah atau anggota DPD-RI. “Saya hanya mengemukakan apa yang terbaik untuk dilaksanakan di negeri ini. Sesuai dengan visi saya, Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih,” imbuhnya.

Menurut Jack Ospara, ada empat macam kasih yang mendasari kondisi tersebut. Yakni kasih Agape yang merupakan kasih tanpa syarat dan sanggup berkorban untuk sesama. Artinya dalam membantu tidak boleh membeda-bedakan agama, suku atau ras. Kasih agape adalah cinta kasih pemberian Tuhan yang paling hakiki.

Kedua adalah kasih Eros, yakni kasih yang dilandasi nafsu seperti keindahan, kekayaan, kecantikan dan lain-lain yang mengandung unsur kenikmatan di dalamnya. Ketiga adalah kasih Filos yakni filosofi, mengasihi dan mencintai teman. Keempat adalah kasih Storgos, yakni kasih yang memiliki ikatan yang erat seperti antara kasih orang tua.

“Ketiga kasih –Eros, Filos dan Storgos- tidak memiliki kekuatan penghubung relasi antar manusia dalam keluarga dan masyarakat bila tidak diikat dengan Agape. Tanpa kasih Agape, akan sulit membangun kebersamaan, persaudaraan, pertemanan dan kesesamaan dengan orang lain. Ini artinya bahwa kalau mau mengasihi rakyat Maluku ya harus mencintai Maluku. Mau membangun Indonesia ya harus mencintai rakyat Indonesia,” tegasnya.

Belajar, Belajar dan Belajar

Menurut Jacob Jack Ospara, M.Th., ketertarikan untuk terjun memperjuangkan suara rakyat Maluku telah terasah dan terbentuk karena keyakinan pada agama yang dianutnya. Dalam ajaran Kristen, kasih Agape Tuhan Yesus mengasihi setiap orang tanpa memandang agama, suku atau ras. Bahkan bila dalam gereja dibentuk apa yang disebut sinode dalam organisasinya, itu mengisyaratkan semua elemen; para pendeta, tua-tua, maupun anggota jemaat, wajib berjalan bersamaan, bergandengan tangan melayani, mengasihi dan berbuat sesuai karunia Tuhan memlihara dan mempertahankan kehidupan manusia dan masyarakat.

“Sinode berasal dari dua kata Yunani ‘sun’ artinya bersama-sama dan ‘nodes’ yang berarti jalan. Sinode atau ‘sunnodos’ artinya semua warga gereja berjalan bersama-sama dan melayani bersama. Tahun 1974 saya diangkat sebagai Sekretaris Departemen yang membidani pendidikan, penanganan pembangunan dan kesejahteraan sosial. Penerjemahan tugasnya mengarah pada manajemen pembangunan yang menggabungkan teologi dan masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Realisasi dari karya Tuhan itu harus diwujudkan tidak hanya di rumah namun juga di masjid, gereja, rumah sakit, dan lain-lain,” tandasnya.

Jack adalah orang pertama, pada tahun 1975 yang menggagas pembentukan organisasi persatuan gereja rakyat Maluku. Untuk keperluan itu ia mengundang istri Menhan/Pangab RI, Ibu Yohanna Nasution dan Ibu Sri Sudarsono (adik BJ Habibie) ke Ambon untuk melihat dan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan rakyat Maluku.

Kepada mereka Jack menjelaskan bahwa kondisi susah yang dialami tersebut tidak pandang agama. Penganut agama Kristen, sama-sama menderita seperti saudara-saudaranya yang beragama Islam. Begitu juga sebaliknya, kondisi umat Muslim pun tidak jauh berbeda. Ini menjadi bukti bahwa Tuhan tidak pernah membedakan manusia, hanya manusia sendiri yang mengkotak-kotakkannya.

“Yang namanya kelaparan, kemiskinan tentunya dapat terjadi oleh semua umat manusia, tidak ada perbedaan agama baik Kristen, Muslim, Hindu, Budha, tidak juga ada pembedaan ras tionghoa, kulit hitam, Asia, Eropa dan lain-lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masalah kemanusiaan itu sifatnya universal, kelaparan, kemiskinan, kemelaratan, penderitaan karena konflik dapat terjadi dan dialami oleh semua lapisan masyarakat. Namun, dibalik semua itu bahwa orang yang memaknai dan memahami agama secara baik tidak akan terjebak dalam fundamentalisme agama dan primordialisme yang kebablasan,” kata murid ulama besar Buya Hamka ini.

Jack yang berkawan karib dengan pemikir Islam Indonesia, almarhum Nurcholis Madjid ini memberikan ajaran kepada generasi muda untuk terus belajar dan tidak pernah berhenti menjadi manusia pembelajar. Dengan mempelajari segala hal, baik formal, informal dan mengacu pada pengalaman di masyarakat generasi muda akan memperoleh bekal yang baik untuk kehidupannya sendiri. Kalau itu yang terjadi maka bangsa Indonesia sendiri sangat beruntung memiliki generasi muda yang bermutu untuk memperbaiki kondisi sekarang.

“Pesan saya kepada generasi muda hanya satu, yakni belajar, belajar dan belajar. Belajar baik secara formal, informal dan pengalaman di masyarakat. Karena apa, hanya dengan belajar kita bisa membentuk diri kita sebagai pribadi yang baik. Setiap peristiwa yang dialami adalah kesempatan yang baik untuk belajar. Mengenal orang dari berbagai suku dan agama adalah pengalaman yang baik,” ujarnya.

Sekilas Jacob Jack Ospara

Jacob Jack Ospara lahir di Nuwewang, 18 Mei 1947, dari pasangan Hosea Ospara dan Isabela Lepit. Kehidupan pedesaan di perbatasan wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya dan wilayah Timor Leste membuat “blue print” tentang kehidupan marginal yang dialami manusia terpatri abadi dalam pikirannya. Spirit untuk memerangi perlakuan diskriminatif tersebut kemudian mewarnai perjalanan hidup ayah tiga anak Maya, Hoberth dan Ari hasil perkawinannya dengan Maria Itje Wenno tersebut.

Meskipun orang tuanya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas III Sekolah Rakyat (Volks School), namun tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putranya. Maka ketika berumur enam tahun, Jack bersekolah di SR GPM Nuwewang dan dilanjutkan ke SMP Negeri Wonreli, Pulau-Pulau Kisar. Di sini pula, pemikiran-pemikiran Jack semakin terasah. Pergaulannya yang luas dengan pemahaman terhadap dan pengenalan terhadap adat istiadat, bahasa dan budaya daerah lain menjadi dasar pembentukan kepribadiannya.

Jack yang semasa sekolah tidak dibiayai orang tua justru tidak merasa miris, bahkan sebaliknya hal tersebut menjadi semangat baginya untuk tetap berdaya hidup. Dalam proses panjang kehidupannya, secara sadar ia mengakui bahwa karakter kebangsaan dan kepribadiannya tidak lepas dari peran serta tiga orang polisi dengan latar belakang dan budaya berbeda yang ikut membiayai sekolahnya.

Proses pembentukan kepribadian itu semakin terlihat ketika Jack meneruskan sekolah di SMA Negeri 2 Ambon tahun 1963-1966. Gejolak politik tanah air terkait adanya perjuangan pembebasan Papua (Irian Barat waktu itu) dengan Trikora serta penumpasan pemberontakan PKI, semakin memotivasi semangat kebangsaannya. Ia aktif kegiatan sosial politik yang dikoordinir oleh organisasi-organisasi yang bersifat nasional seperti GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indonesia). Jack juga aktif melakukan dialog intensif dengan siswa-siswa yang tergabung dalam GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia).

Masa SMA yang penuh pergolakan untuk mempertahankan eksistensi Negara Indonesia dari rongrongan PKI ditutup Jack dengan meneruskan pendidikan seperti yang dicita-citakannya, menjadi Pendeta. Di sisi lain, ia sebenarnya juga terpanggil untuk mengabdikan diri pada nusa dan bangsa dengan mengikuti wajib militer sukarela. Namun, setelah melalui perenungan yang dalam, cita-cita masa kecilnya lebih kuat memanggil. Jack kemudian meneruskan kuliah di Institut Teologi Gereja Protestan Maluku tahun 1967. Dua tahun kemudian, Jack dikirim ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya.

Semasa mahasiswa, Jack Ospara adalah aktivis yang banyak melakukan kegiatan-kegiatan organisasi kemahasiswaan dengan sikap yang militant. Ia bahkan menjadi anggota Dewan Mahasiswa dan aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Ambon. Saat kuliah di STT Jakarta, Jack juga menjadi anggota Dewan Mahasiswa di kampus tersebut. Pada kesempatan inilah ia berkesempatan untuk melakukan dialog intesif dengan mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Pancasila, Universitas Kristen Indonesia, STTF Driyarkara dan SAIN Syarief Hidayatullah. Aktivitas inilah yang mempertemukannya dengan Prof. DR. Hamka dan Nurcholis Madjid, dua sosok pemikir Islam terkemuka Indonesia.

“Pengalaman tersebut telah memperkaya sekaligus memperluas wawasan saya. Ini sangat berguna ketika saya menjabat di Gereja Protestan Maluku dan mengabdi di tengah masyarakat. Karena saya harus berhubungan dengan berbagai kalangan dalam lingkungan masyarakat,” tegasnya.

Berikut ini adalah aktivitas-aktivitas Jacob Jack Ospara, M.Th:

⦁    Pendiri Musyawarah Perguruan Swasta (MPS) Daerah Maluku (tahun 1971)
⦁    Pendiri Badan Koordinasi Kegiatan Masyarakat Kesejahteraan Sosial Provinsi Maluku
⦁    Pendiri Yayasan Bina Asih Leleani Ambon (tahun 1983)
⦁    Aktif menjadi Pengurus Pusat SOIna (Special Olympics  Indonesia) sebagai Sekretaris Jenderal (2006-sekarang)
⦁    Aktif di bidang Pendidikan Kristen sebagai Ketua III Majelis Pendidikan Kristen seluruh Indonesia
⦁    Ketua FKKFAC Provinsi Maluku (tahun 2006-sekarang) dan Penasehat HWPCI Provinsi Maluku (tahun 2007-sekarang)
⦁    Ketua Umum Lembaga Pengembangan Pesparawi Provinsi Maluku (tahun 1998 – sekarang)
⦁    Pekerjaan di gereja dan Perguruan Tinggi
1.    Pendeta/Penghentar Jemaat GPM di Saparua Tiouw (1973-1974)
2.    Sekretaris Klasis GPM PP Lease (1974-1975)
3.    Sekretaris Departemen Diakonia/Anggota Badan Pekerja Sinode GPM (Masa Bhakti 1974-1976 [1982])
4.    Wakil Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1982-1986)
5.    Sekretaris Umum BPH Sinode GPM (tahun 1986-1990)
6.    Dosen Fakultas Filsafat UKIM Ambon (tahun 1990 – sekarang)
7.    Pendiri dan Pimpinan Lembaga Kesejahteraan Anak dan Keluarga Inahaha (tahun 1983-1990)
8.    Dosen Agama Kristen pada FKIP Unpatti Ambon dan PGSLP Ambon (1977-1988)
9.    Penyuluh Agama Kristen di Lingkungan Bidang Bimas Kristen Kanwil Depag Provinsi Maluku (1976-1986)
Setelah terpilih sebagai Anggota DPD Provinsi Ambon, Jacob Jack Ospara berkomitmen untuk membangun daerah dan masyarakat Maluku dengan mengedepankan Visi dan Misi, yaitu:

Visi
Menjadi Wakil daerah yang dapat dipercaya, Jujur, Terbuka, Memperjuangkan Pembangunan Daerah yang Adil dan Bermartabat bagi Kesejahteraan Masyarakat Penghuni Wilayah Seribu Pulau, Berdasarkan Kasih

Misi
1.    Memperjuangkan pemanfaatan sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya alam (natural resources) guna mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
2.    Mengawal implementasi yang konsisten dan konsekuen semua perundangan dan peraturan negara guna menjamin pembangunan berbagai sektor berlangsung dengan transparan, akuntabel dan berkesinambungan demi terwujudnya kesejahteraan masyarakat
3.    Memperjuangkan terwujudnya otonomi khusus bagi Maluku sebagai Provinsi Kepulauan yang memiliki karakteristik laut – pulau
4.    Memperjuangkan pengamalan nilai-nilai dasar Pancasila sebagai Falsafah Hidup bangsa Indonesia serta penyelenggaraan negara berdasarkan UUD 1945 secara fleksibel, dengan memanfaatkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat
5.    Memperjuangkan terbukanya komunikasi sosial, politik dan kemasyarakatan antara pemerintah pusat dan daerah serta menjamin tetap tumbuhnya iklim demokrasi yang memungkinkan aspirasi daerah dan wilayah dihormati, dihargai serta diwujudkan dengan adil dan transparan.

Surungan Sitorus

No Comments

Surungan Sitorus
Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Memberikan Pelayanan Terbaik Bagi Nasabah

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondisi masyarakat menengah ke bawah di Indonesia masih memprihatinkan. Meskipun memiliki produktivitas yang bisa meningkatkan kesejahteraan, tetapi banyak kendala yang menghalangi. Yang mana, apabila potensi yang mereka miliki dapat dikembangkan, selain meningkatkan kesejahteraan juga membuka lapangan kerja.

Ironisnya, kendala yang menghalangi pengoptimalan produktivitas kalangan tersebut berasal dari birokrasi sektor perbankan yang bertele-tele. Padahal, kehadiran sektor perbankan sangat diperlukan untuk permodalan yang mereka perlukan agar produktivitas semakin meningkat. Akibatnya, banyak di antara masyarakat menengah ke bawah yang enggan berhubungan dengan pihak bank.

“Itulah yang memotivasi saya dalam menekuni pekerjaan ini. Keengganan masyarakat untuk bekerja sama dengan bank, membuat saya berpikir harus menekuni profesi ini. Saya harus mampu memberi pelayanan terbaik bagi nasabah, sehingga mereka akan memilih perusahaan yang saya pimpin untuk mengembangkan usaha,” kata Surungan Sitorus, Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda.

Selain itu, motivasi lain yang meningkatkan semangat Sitorus dalam menekuni usaha ini adalah cita-cita masa kecilnya. Saat masih berada di desa Parsambilan, Kecamatan Silaen Kabupaten –Tobasa, ia bercita-cita menjadi seorang profesional di bidang perbankan. Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, setelah lulus SMA 5 Medan tahun 1985, ia menempuh pendidikan D3 di Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Ia melengkapinya dengan melanjutkan S1 pada Jurusan Manajemen, FE STIE Labuhan Batu.

Meskipun demikian, pria kelahiran 11 Desember 1966 ini, merasa belum puas dengan raihan prestasi selama ini. Sitorus yakin, dengan dukungan dari seluruh komponen terkait dari ruang lingkup perusahaan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik. “Saya yakin dengan profesi yang saya tekuni memiliki kesempatan untuk melahirkan prestasi yang lebih baik lagi. Asalkan mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen di perusahaan ini,” tandas pria yang menyelesaikan pendidikan SD dan SMP di kampung halamannya ini.

Dalam menjalani profesi, Sitorus tidak lepas dari perasaan suka dan duka. Seperti juga manusia lain, dalam berkarier masalah tersebut ditambah kendala harus dihadapinya. Ia berbagi pengalaman bahwa perasaan suka biasanya akan datang kalau mampu menyelesaikan pekerjaan yang sulit dengan hasil memuaskan.

“Duka saya adalah ketika karyawan terbaik saya cuti atau sakit padahal tenaganya sangat dibutuhkan. Sedangkan kendala, seperti juga masalah yang dihadapi dunia perbankan lain adalah kredit bermasalah. Apalagi kalau jumlahnya besar dan susah ditagih,” tandasnya.

Sitorus memiliki obsesi untuk mewujudkan impian agar perusahaan dibawah pimpinannya menjadi pilihan dan solusi terbaik bagi masyarakat Labuhan Batu Utara dan sekitarnya. Untuk itu, ia telah menyusun rencana agar pelayanan perusahaan kepada masyarakat semakin meningkat dan tampil menjadi yang terbaik. “Kita harus bekerja lebih professional, supaya mampu menaikkan kepercayaan masyarakat untuk bermitra dengan perusahaan,” tambahnya.

Menyiapkan Pengganti

Surungan Sitorus merasa sangat terbantu dengan peran pemerintah terhadap profesi yang digelutinya. Meskipun secara institusi pemerintah memberi dukungan yang sangat besar, tetapi ruang gerak BPR sangat terbatas. Karena secara struktural perusahaan seperti BPR dibawah pimpinannya memiliki posisi setingkat di bawah bank konvesional.

“Pemerintah, melalui Bank Indonesia melakukan pengawasan rutin satu kali dalam satu tahun. Sebagai pimpinan perusahaan, saya mendapat ilmu dan pengalaman dari pengawasan tersebut. Semua itu bisa langsung saya aplikasikan di perusahaan melalui pimpinan setingkat middle manager, dibawah jenjang saya,” tuturnya.

Menurut Sitorus, peran besar BPR di tengah-tengah masyarakat saat ini harus diakui. Karena BPR telah menjadi solusi terbaik bagi pelaku produksi/usaha yang ingin mengembangkan usahanya, tetapi terganjal oleh ketatnya persyaratan yang ditetapkan oleh bank lain (The five C’S on Credit). “Dengan demikian, BPR telah berkiprah di tengah masyarakat karena syarat-syarat pinjaman yang relatif mudah. Ini sesuai dengan fungsi BPR untuk pertama menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito. Kedua memberikan pinjaman kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai orang yang matang dan besar dalam usaha BPR, Sitorus bertekad untuk terus mengabdikan diri dan menggeluti profesi yang dicintainya tersebut. Ia akan “berhenti” ketika sudah mampu mengkader “sahabat-sahabat-nya” – karyawan maupun karyawati perusahaan- menjadi top leader untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan yang telah dicanangkannya.

Secara khusus, Sitorus telah mempersiapkan langkah-langkah kaderisasi dan regenerasi, sebagai berikut:

Menerapkan prinsip keteladanan, sehingga tim yang dipimpinnya mampu menangkap pelajaran dari contoh yang diberikan pimpinannya tanpa harus berteori panjang lebar
Bagi karyawan atau karyawati potensial, diberi pelatihan baik berupa keterampilan dasar maupun keterampilan manajerial. Seperti pada bulan Juli lalu, sebanyak 12 orang Pimpinan Cabang dan Karyawan telah mengikuti Training Off Management di Hotel JW Mariott Medan dengan instruktur dari Jhon Robert Power (JRP) Jakarta
Sebagai pimpinan, tak segan-segan ia memberi reward bagi karyawan atau karyawati terbaik, sebagai motivasi agar selalu bekerja sungguh-sungguh dan menunjukan prestasi dan kinerja terbaik

“Untuk menyerap informasi yang lebih actual, saya memberi fasilitas berlibur bersama Keluarga Besar BPR Mangatur Ganda. Dengan demikian, keakraban antar karyawan, pimpinan dan keluarganya lebih terjalin. Nah, disela-sela liburan saya bisa melakukan komunikasi lebih intensif, sehingga saya mampu mengenali karakter sahabat-sahabat saya itu, siapa saja yang layak diberi kepercayaan untuk memimpin. Sebab bagi saya, pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu mencetak calon pemimpin berikutnya tanpa ada rasa tersaingi,” ungkapnya.

Sebelum Patah Sudah Tumbuh

Menurut pengamatan Surungan Sitorus, ada beberapa catatan mengenai generasi muda zaman sekarang. Pertama, ia merasa sangat prihatin melihat gaya hidup generasi muda yang mengadopsi gaya hidup penuh hura-hura dan kurang tekun dalam belajar/pendidikan. Selain itu, generasi muda juga cenderung bangga dengan pola hidup mereka yang sangat konsumtif.

Sitorus, mencontohkan bagaimana generasi muda sekarang tergila-gila dan bangga menggunakan sarana komunikasi canggih, Blackberry. Padahal, sejatinya mereka hanyalah diperbudak oleh produk-produk semacam itu. Karena di negara asalnya, penemu Blackberry masih belum puas dengan pencapaian mereka untuk menguasai dunia. Apalagi belakangan terjadi aksi boikot di beberapa negara akibat pembatasan RIM (Research in Motion), produsen Blackberry tersebut.

Disisi lain, Sitorus juga bangga dengan prestasi yang ditorehkan anak-anak muda bangsa ini. Seperti keberhasilan kelompok mahasiswa ITS Surabaya menjuarai ”Festival Mobil Hemat Energi” di Malaysia beberapa waktu lalu. Bahkan di bidang olimpiade science, pelajar Indonesia berkali-kali meraih medali emas, perak, dan perunggu.

“Dengan kondisi tersebut, saya masih mempunyai keyakinan bahwa mereka mampu membawa ‘Tongkat Estafet’ kepemimpinan bangsa di masa mendatang. Hal ini dapat dicapai dengan lebih menitikberatkan pada peran ‘Generasi yang lebih tua’, yaitu dengan memberi mereka keteladanan. Mari kita rangkul mereka supaya komunikasi lebih lancar karena ‘Satu aksi lebih dari seribu teori’. Begitu,” katanya.

Sitorus sangat yakin bahwa bangsa Indonesia bisa memercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Asalkan dengan bimbingan, dukungan dan perhatian penuh dari generasi sekarang, mereka mampu menjadi nakhoda bangsa ini. Di sisi lain, generasi tua harus mampu menstranfer ilmu, akhlak dan moral yang dimiliki. Demi generasi muda, mereka harus mampu menahan diri untuk tidak korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), anarkisme dan hal-hal buruk lainnya.

“Generasi tua pasti akan berlalu seiring waktu, maka mari kita mempercayakan masa depan di tangan generasi penerus. Kalau perlu kita ubah peribahasa lama, ‘patah tumbuh hilang berganti’ menjadi ‘Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti’,” tegasnya.

Sedangkan kondisi Indonesia sendiri, menurut prediksi Sitorus, masih akan mengalami krisis ekonomi sekali lagi. Pendapat ini dilandasi dengan situasi global seperti terjadinya bencana di berbagai negara yang menyebabkan kenaikan harga pangan dunia akibat kegagalan panen dan rusaknya infrastruktur. Di sisi lain, kebijakan pemerintah yang kontra produktif seperti konversi minyak tanah ke gas, pengumuman kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil tangal 16 Agustus 2010, dan lain-lain, semua bermuara pada satu hal yaitu kenaikan harga-harga.

“Indonesia akan kembali dihantam krisis ekonomi babak kedua setelah tahun 1997. Tetapi dengan kondisi sekarang, Indonesia masih bisa tertata dengan baik meskipun dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari semua pihak. Bidang yang harus diproritaskan adalah sektor riil yang benar-benar ‘Bersentuhan dengan masyarakat yaitu pelaku ekonomi kelompok menengah dan kecil’,” tuturnya.

Sitorus telah membuktikan bahwa sektor ekonomi kelompok kecil dan menengah terbukti mampu bertahan di tengah krisis ekonomi. Ia mengingatkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar bertumbangan pada saat krisis moneter 1998, tetapi tidak berarti apa-apa dengan ekonomi kelompok kecil dan menengah yang mampu bertahan dengan baik.

“Semangat itu harus dimiliki oleh generasi muda untuk tetap bertahan di tengah deraan krisis. Pesan saya, raih kesempatan di masa muda, belajarlah dengan sungguh-sunguh, bertemanlah dengan seluruh lapisan masyarakat, gunakan mudamu sebelum datang masa tuamu, manfaatkan masa sehat sebelum masa sakit, TAKE THE CHANCE,” kata pria yang berharap pemerintah memberi kemudahan untuk perijinan membuka usaha penukaran uang (Money Changer) ini. “Karena hingga hari ini, belum dapat terwujut selama BPR berdiri di Labuhan Batu Utara,” tambahnya.

Sitorus sangat bersyukur, dalam menjalani pekerjaan mendapat dukungan sepenuhnya dari keluarga. Anak dan istrinya sangat memahami profesi yang ditekuninya dengan menunjukkan sikap positive thinking meskipun ia sering terlambat pulang ke rumah. Sambutan keluarga tetap hangat karena mereka memahami apa yang dikerjakan oleh ayah dan suaminya untuk kepentingan mereka juga.

“Begitu sampai di depan pintu, anak-anak berebut membawa tas kerja sedangkan si ibu menyediakan air minum untuk saya. Karena anak-anak baru beranjak dewasa, sehingga belum terlihat apakah mereka berminat pada profesi saya atau tidak. Untuk memotivasi mereka saya berusaha menanamkan pengertian, bahwa hanya dengan ketekunan, kerja keras dan kejujuran kita akan menjadi orang sukses. Apabila anak meminta sesuatu, saya tidak langsung memberikan, tetapi saya beri tugas terlabih dahulu. Misalnya memijat kaki dengan hitungan sampai 50 kali, supaya mereka paham bahwa segala sesuatu diperoleh melalui sebuah upaya,” tegasnya.

Biodata singkat

Nama : Surungan Sitorus
Tempat tanggal lahir: Tobasa, 11 Desember 1966
Pekerjaan: Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda

Riwayat pendidikan:
SD Negeri Parsambilan, tahun 1978
SMP Negeri Silaen, tahun 1982
SMA Negeri 5 Medan, tahun 1985
D3 Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara
Strata 1, STIE Labuhan Batu – Ekonomi/Manajemen

Riwayat Pekerjaan
Tahun 1989 – Marketing koperasi simpan pinjam (selama 2 tahun)
Tahun 1991 – Marketing BPR Mangatur Ganda
Tahun 1996 – Pimpinan Cabang PT BPR DIORI GANDA, Indra Pura – Asahan (SUMUT)
Tahun 1997 – Pimpinan Cabang PT BPR MANGATUR GANDA, Cabang Aek Nabara Labuhan Batu SUMUT
Tahun 1998 – Direktur Operasional PT BPR Mangatur Ganda, Aek Kanopan Labuhan Batu Utara
Tahun 2000 – Direktur Utama PT BPR Mangatur Ganda s/d sekarang

Rahmatullah Sidik

No Comments

Rahmatullah Sidik
Presiden Direktur “Rahmatan Lil Alamin” – PT Happy Prima Wisata

Selalu Menjadi Pelayan Tamu Allah

Semangat untuk terus maju dan berkembang harus dimiliki oleh setiap manusia. Pengorbanan dan cobaan yang berat, harus dilalui manusia-manusia yang ingin menggapai kesuksesan dalam hidup. Dengan dilandasi semangat belajar yang tinggi untuk mencari jalan keluar dari permasalahan, tangga menuju sukses semakin dekat.

Semua itu harus dilandasi semangat pantang menyerah dan kerja keras untuk mewujudkannya. Tanpa itu, jangan berharap keajaiban dari Allah yang mengubah kegagalan menjadi kesuksesan. Seperti juga yang dialami oleh sosok pengusaha Rahmatullah Sidik dalam mengelola perusahaan jasa perjalanan haji dan umrah. Berbekal pengalaman menjadi guide jemaah haji dan umrah saat masih kuliah di Al Azhar, Kairo, ia belajar dan mencari tahu operasional penyelenggaraan haji dan umrah.

“Karena untuk mencapai kesuksesan memerlukan pengorbanan yang berat. Saat masih kuliah di Al Azhar, saya selalu membantu tamu-tamu Allah dalam pelaksanaan ibadah haji. Pada tahun 1996, saya kembali ke Indonesia dan berniat untuk melayani tamu Allah yang beribadah di sana. Karena saya tidak mempunyai pengalaman operasional di Indonesia seperti pengurusan visa, paspor atapun tentang hal lain berkaitan dengan umrah dan haji. Karena urusan saya di sana hanyalah menjadi guide umrah dan haji,” kata Presiden Direktur “Rahmatan Lil Alamin” – PT Happy Prima Wisata ini.

Tekad dan niat yang bulat untuk melayani tamu Allah, memempertemukannya dengan seorang sahabat seselam alumni Al Azhar. Sahabatnya tersebut mengajak dirinya untuk bergabung di perusahaan penyelenggara umrah dan haji. Di sana, ia memulai karier sebagai marketing pada tahun 1998. Ia memulainya dengan belajar teori marketing karena harus banyak bertemu dengan klien calon jemaah haji dan umrah.

Disamping itu, Rahmat –panggilan akrabnya- juga harus sering bertemu dengan para kyai, majelis taklim dan masyarakat pada umumnya. Dengan penguasaan agama yang mumpuni, mudah saja baginya untuk masuk ke lingkungan tersebut dan memberikan materi umrah dan haji. Dari situ, ia memberikan pemahaman dan kesadaran untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji. Ia mengakui, pada tahun 1998-1999 adalah fase pertama dalam hidupnya dengan banyaknya ujian yang harus dilalui.

Salah satu yang hampir mengubur cita-citanya untuk menjadi pelayan tamu Allah adalah kematian ayahnya. Usaha ayahnya di bidang perdagangan tidak ada penerusnya sehingga masa depan keluarga besarnya terancam. Apalagi saat itu, adik-adiknya masih memerlukan biaya pendidikan. Meskipun berperang dalam dilemma, tanggung jawab memanggilnya untuk mengambil alih bisnis almarhum ayahnya.

“Saya melihat dari segi mudharat dan manfaatnya, lebih condong ke usaha yang ditinggalkan orang tua. Akhirnya saya tinggalkan pekerjaan di travel umrah dan haji, masuk ke bidang perniagaan. Alhamdulilah, tahun 1999 mencapai kemajuan dan cukup berhasil bagi orang seusia saya waktu itu, 24 tahun. Karena keberhasilan saya tidak didukung oleh keilmuan agama tentang penggunaan uang, mungkin Allah sayang sama saya. Rezeki melimpah itu kemudian diambil kembali melalui seorang klien sehingga saya jatuh bangkrut,” ujarnya.

Semua itu, lanjutnya, berdasarkan pada latar belakang pendidikan berlandaskan agama yang sangat kental. Sejak SD hingga SMA ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren yang kemudian dilanjutkan dengan Universitas Al Azhar, perguruan tinggi yang dikenal sebagai pencetak ilmuwan muslim. Di dunianya tersebut, semua dibangun berlandaskan kepercayaan belaka. Tidak ada istrilah hitam di atas putih, akte notaris dan perjanjian lainnya.

Namun ternyata di dunia “nyata” kondisi ideal tersebut tidak berjalan sebagai mana mestinya. Banyak orang dilandasi bermacam-macam kepentingan siap mengambil kesempatan. Orang-orang “benar” dan baik seperti Rahmat adalah mangsa empuk bagi mereka sehingga mudah ditipu. Akibatnya, ia mengalami kerugian hingga mencapai ratusan juta.

“Selama satu tahun kondisi saya sempat drop.  Tetapi karena pondasi agama saya kuat, Alhamdulilah saya bangkit dan kembali ke niat awal untuk melayani tamu allah. Tahun 1999, saya masuk PT Happy Prima Wisata dan dipercaya sebagai Manager Marketing. Karena niatan dan skill saya juga mencari jaringan umrah dan haji, makanya Alhamdulilah sampai 2004 saya mengelola jemaah yang cukup banyak,” tuturnya.

Pembicaraan dengan Ustadz Quraish Shihab mengenai tatanan kehidupan di masa mendatang membawa angin segar bagi Rahmat. Senior di Al Azhar itu sudah dianggapnya sebagai orang tua serta tempat berkeluh kesah dan berdiskusi. Kesimpulan dari pembicaraan dengan Ustadz Quraish Shihab mengenai kendala yang dihadapi calon jemaah haji dan umrah yakni “mampu” sebagai syaratnya, kemudian didiskusikan dengan ustadz-ustadz lainnya.

“Kita tempuh jalan untuk memotivasi orang-orang yang tadinya tidak mampu menjadi mampu berangkat ke tanah suci. Akhirnya muncul konsep ta’awun atau tolong menolong yakni memberikan motivasi kepada saudara-saudara yang berniat tulus melaksanakan ibadah umrah atau haji tetapi terbatas karena materi. Kita angkat mereka menjadi orang mampu untuk berangkat ke sana, dengan cara membantu kami sebagai penyelenggara umrah dan haji. Yakni mencari calon-calon hamba Allah, seperti marketing freelance,” jelas pengagum Emha Ainun Nadjib ini.

Konsep yang mulai diterapkan dan berjalan pada tahun 2005 tersebut mulai menuai hasil satu tahun kemudian. Kejadian-kejadian yang tidak mungkin terjadi di mata manusia bermunculan sebagai keajaiban karena kehendak Allah. Ia mencontohkan bagaimana seorang supir taksi yang secara logika tidak mungkin menjadi tamu Allah -karena untuk menutupi biaya hidup anak istrinya saja kurang- tahun 2006 bergabung dan satu tahun kemudian sudah terlihat tanda-tanda kemampuan taraf hidup.

“Yang tadinya membawa uang untuk anak istrinya perhari Rp20-30 ribu menjadi satu hingga lima juta rupiah per satu minggu. Karena kita berikan profit share bagi orang yang membawa calon jemaah. Hingga akhirnya, dengan menangis berurai air mata, akhirnya ia berhasil bersujud di depan Ka’bah, kiblat umat Islam seluruh dunia. Alhamdilah,” katanya.

Berkat konsep yang mulia tersebut, tahun 2008 salah seorang pemilik perusahaan menjual sahamnya kepada Rahmat. Akhirnya secara resmi, PT Happy Prima Wisata Travel menjadi miliknya sebagai pemegang saham tunggal. Ia sangat bersyukur karena niatnya untuk menjadi pelayan dan penjamu tamu-tamu Allah kesampaian. Tidak tanggung-tanggung, Allah memberinya kesempatan memiliki perusahaan yang mengurusi pelayanan haji dan umrah, sesuai cita-citanya.

“Saya kemudian mengubah image PT Happy Wisata Travel dengan merk dagang Rahmatan Lil Alamin Tour & Travel. Niat saya adalah ibadah kepada Allah dan memegang amanah yang diberikan calon tamu Allah untuk menjadi tamu Allah di Mekah dan Medinah. Saya juga berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dengan membuktikan janji-janji kita kepada jemaah. Seperti hotel-hotel terdekat dengan Masjidil Haram, air zam-zam sepuluh liter, makanan Indonesia dan lain-lain, semua kita penuhi,” tegasnya.

Konsep Ta’awun

Sebagai pengelola biro perjalanan haji dan umrah, Rahmat menetapkan harga yang tidak murah untuk layanannya. Ia tidak khawatir dengan paket harga murah yang ditawarkan biro-biro perjalanan lain. Pengalaman selama sepuluh tahun (1998-2008), sangat terlihat bahwa dengan paket murah pelayanannya pun tergolong murah. Dampaknya, tujuan seluruh umat muslim dalam melaksanakan ibadah haji atau umrah dengan nyaman tidak tercapai.

“Padahal mereka sudah mengumpulkan uang untuk berangkat ke tanah suci selama bertahun-tahun. Tetapi karena tergiur harga murah, saat beribadah mereka menjadi tidak nyaman. Kalau Rahmatan Lil Alamin selalu ingin memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah, hingga jemaah mencapai tingkat kenyamanan yang optimal dalam menjalankan ibadah,” ujar pria yang menyebut Saudi Arabia sebagai tempat liburan favoritnya ini.

Menurut Rahmat, tingkat kenyamanan dalam beribadah sangat tergantung kepada akomodasi jemaah selama di tanah suci. Dengan harga yang dibayarkan, Rahmatan Lil Alamin memberikan akomodasi terbaik dan paling dekat dengan Masjidi Haram. Dengan demikian, jemaah tidak mengalami hambatan dalam beribadah sesuai keinginannya. Rahmatan Lil Alamin juga memberikan layanan makanan sesuai dengan selera orang Indonesia.

Berbeda dari biro lain, Rahmatan Lil Alamin menerapkan rasio pembimbing jemaah (mutawif) yang lebih besar. Apabila perusahaan lain perbandingannya 40 jemaah dibimbing seorang mutawif, Rahmatan Lil Alamin satu mutawif membimbing 20 jemaah. “Jadi ketika jemaah ingin diantarkan ke mana-mana ada yang mengantar. Pelayanan seperti itu, tidak bisa dibeli dengan harga murah karena terkait kenyamanan yang tidak bisa dinilai dengan uang. Tetapi sebenarnya harga kita berada di tengah-tengah, mahal tidak murah pun juga tidak,” imbuhnya.

Meskipun demikian, Rahmat tidak pernah mempromosikan usahanya di media massa. Iklan merupakan “barang” yang tidak terlalu dipedulikannya karena ia lebih suka melakukan pendekatan langsung kepada calon jemaah. Apalagi, pasar yang dituju perusahaan adalah orang-orang daerah di luar Jakarta. Hingga saat ini, cabang produk tersebar dari provinsi Aceh sampai Sulawesi.

Rahmat menjelaskan, untuk merekrut calon jemaah perusahaan menerapkan sistem hubungan pertemanan atau mitra ta’awun. Sistem ini berjalan berkat adanya profit sharing bagi mitra yang berhasil mengajak jemaah untuk bergabung dalam urusan haji dan umrah di perusahaan. Selain itu, pada saat mitra berhasil mengajak jemaah dengan jumlah yang ditargetkan, mitra berhak untuk berangkat menunaikan ibadah haji atau umrah tanpa harus menambah biaya.

“Orang-orang yang bergabung dengan kita sebagai mitra ta’awun diberikan bekal keilmuwan tentang umrah dan haji. Kemudian mereka kita berikan kantong-kantong jemaah Allah dimana mereka bisa masuk dan mengajak bergabung dengan kita. Dengan pola itu Alhamdulilah target selalu tercapai meskipun kita tidak ‘jualan’ dengan harga murah,” tegasnya. Hingga memasuki tahun 2010, Rahmatan Lil Alamin telah memberangkatkan 1000 jemaah umrah. “Jemaah haji kuota 123 kuota,” imbuhnya.

Semua prestasi yang telah dilakukan perusahaan, membuat obsesi Rahmat semakin mendekati kenyataan. Obsesi yang menjadi mimpinya adalah memberangkatkan orang-orang yang ingin berangkat haji atau umrah dengan konsep ta’awun. Keberhasilan mereka untuk berangkat haji atau umrah merupakan kebahagiaan terbesar baginya.

“Obsesi terbesar saya itu, memberangkatkan orang-orang yang seratus persen ingin ke Baitullah,” tutur pria yang menciptakan merk dagang PT Happy Wisata Travel dengan Rahmatan Lil Alamin agar tampak lebih Islami tersebut. Nama tersebut didapatnya setelah melalui diskusi panjang dengan seorang ustadz, tetapi tidak berkaitan sama sekali dengan namanya sendiri. “Jam dua pagi, seolah-olah ada yang memberi bisikan kalau nama yang tepat adalah Rahmatan Lil Alamin. Dan terbukti, memberikan rahmat bagi masyarakat di Indonesia,” tambahnya.

Tukang Koran

Rahmatullah Sidik, lahir di Jakarta 5 Juni 1976 sebagai anak keempat dari enam bersaudara pasangan H Ruslan dan Hj Maemunah. Pada umur 25 tahun, ia menikah dengan Susi Yusianti yang telah memberinya tiga orang anak, seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan. Ia merasa -kalau sekarang dianggap sukses- keberhasilannya tidak pernah lepas dari peran keluarga.

Menurut Rahmat, dukungan keluarga terutama dari istrinya sangat besar. Ia mengisahkan bagaimana harus jatuh bangun memberikan usaha, tetapi sang istri tetap memberikan motivasi dan dukungan yang sangat besar dan berarti baginya. Pada saat dirinya jatuh ke titik terendah setelah usaha dagangnya bangkrut, tidak terdengar keluhan sedikit pun darinya. Padahal, saat itu istrinya sedang hamil anak pertama dan terpaksa harus makan hanya dengan garam.

“Alhamdulilah, saya mendapatkan istri solekah. Sesuai sunah rasul, saya menikah di umur 25 tahun. Sejak saat itu istri selaku pendamping hidup selalu mendukung saya terutama materi. Tidak ada istilah punya uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang,” kisahnya.

Setelah usaha dagangnya bangkrut, Rahmat mengalami kejatuhan secara psikologis. Selama satu tahun, jiwanya drop dan merasa terpuruk dengan kondisinya. Meskipun demikian, ia tidak menyerah begitu saja dan mengalihkan usaha ke bidang lain. Tetapi, ia belum berani kembali ke pekerjaan semula di bidang umrah dan haji karena tidak percaya diri, terpuruk dan ingin menyendiri.

“Sebenarnya banyak teman yang mengajak bergabung. Semua saya tolak dan memilih untuk menjadi tukang koran saja. Dengan menjadi tukang koran, penghasilan saya antara Rp10 – 20 ribu per hari. Jam kerjanya juga singkat, berangkat subuh dan jam tujuh atau delapan pulang. Tetapi saya yakin orang yang selalu berusaha dari titik bermasalahan, 99 persen akan kembali lagi. Apalagi istri tetap setia menanti,” ujarnya.

Pelajaran yang didapat Rahmat dari pengalaman tersebut adalah sebagai manusia tidak boleh sekali pun menjadi “kufur” nikmat Allah. Apabila rezeki berlimpah yang diberikan Allah tidak digunakan sebaik-baiknya, maka akan diambil kembali oleh-Nya. Hal ini pernah dilakukannya saat memperoleh kesuksesan dalam bisnis perniagaan di saat usianya baru menginjak 24 tahun.

Materi berlimpah dari usaha yang berjalan sukses membuat Rahmat terlena. Dari hasil perniagaan peninggalan orang tua, ia mampu memiliki segala macam kebutuhan hidup. Mulai rumah lengkap dengan isinya, motor, mobil dan kemewahan hidup lainnya. Ia menjadi sombong dan melalui salah seorang klien, Allah mengambil semuanya. Rahmat jatuh dalam kemiskinan dan hanya menyisakan iman dan motivasi dari sang istri.

“Subhanallah, istri saya tetap setia dan selalu memberikan motivasi untuk suaminya. Ia tidak pernah menuntut materi dan menerima saja meskipun harus makan dengan garam. Istri paham betul bahwa semua itu adalah ujian dari Allah dan terus mendorong saya untuk berusaha bangkit lagi. Katanya, ‘Apapun yang akan menjadi milik kita, pasti akan kembali’. Dengan iman dan motivasi, ditambah istri yang selalu memberikan semangat, saya bangkit,” ujarnya.

Semangat tersebut, membuat Rahmat tidak “malu-malu” lagi untuk kembali menekuni dunia travel haji dan umrah. Ia kembali fokus untuk berusaha kembali ke jalan semula, melayani tamu-tamu Allah yang ingin mengunjungi Baitullah. Lepas dari semua itu, dalam melayani tamu Allah diniatkan semata-mata untuk ibadah. Tugasnya hanyalah memegang amanah calon tamu Allah untuk menjembatani menuju Baitullah.

“Sebagai manusia harus berusaha. Karena Allah sudah memberikan garis hidup kepada manusia, tetapi bisa saja garis tersebut terputus. Kalau orang itu tidak mau berusaha. Bisa saja orang itu garis hidupnya bagus, tetapi karena tidak mau berusaha, ya jadi jelek dan putus. Makanya jangan sekali-kali kita lepas dari doa dan usaha,” ungkapnya.

Berkaca dari pengalaman yang pernah dijalaninya, Rahmat memiliki pesan untuk generasi muda sekarang. Beberapa catatan yang harus generasi muda menurut Rahmat adalah:
Jangan pernah berputus asa, selalu berjuang untuk hidup dan menggapai ridhlo Illahi
Jangan pernah melihat ke atas untuk hal duniawi, tetapi lihatlah ke atas untuk ilmu. Kalau duniawi tidak pernah habis, sementara ilmu akan termotivasi untuk mencari ilmu terus
Jangan selalu mengeluh mengenai pekerjaan, yang namanya sedang dibawah selalu menghadapi cobaan. Jadikan pekerjaan untuk dinikmati, apapun ujian dan cobaan, harus dijalani dan tidak mengeluh karena akan menurunkan semangat kerja
Jangan mengeluh tentang hasil yang didapat dari pekerjaan itu. Karena dengan memperkarakan hasil akibatnya akan menurunkan semangat kerja

“Serahkan kepada Allah untuk menggapai cita-cita, untuk menggapai kemenangan dunia akhirat. Pesan kyai saya di Ponpes, kalau kita ingin menggapai cita-cita, pertama harus dibekali dengan ilmu. Kedua jangan pernah menengok ke kiri dan ke kanan. Ketiga jangan pernah mendengar dari kuping kiri dan kuping kanan. Artinya pada saat cita-cita ada di depan kamu, gapai itu. Jangan pernah melihat atau mendengar dari kiri-kanan, karena itu gangguan yang membuat cita-cita berantakan. Pokoknya, gapai dulu cita-cita itu, setelah diraih, barulah melihat kiri kanan dan mendengar dari kuping kiri kanan,” katanya menutup pembicaraan.

Kus Marindi

No Comments

Kus Marindi
PT Intipratama Groups

Perjuangan mengejar mimpi,

Perjalanan hidup Kus Marindi, pemilik PT Intipratama Group sangat panjang dan berliku, hambatan dan perjuangan yang mewarnai hampir di separuh hidupnya dijalani dengan penuh harapan dan keikhlasan. Kesadaran untuk memperjuangkan nasib dan  kehidupannya telah tumbuh sejak dirinya masih belia. Sekolah, saat itu merupakan pintu gerbang untuk membuka cakrawala hidup baru yang lebih baik.

Dilahirkan sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, Kus Marindi dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani di sebuah kampung di antara Sungai Bengawan Solo dengan jalan Raya kota Surabaya dan kota Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Rumah tempat dirinya dilahirkan cukup jauh dari jalan beraspal yang ada disekitarnya hanya tambak dan sawah yang terhampar sangat luas. Didaerah tersebut pada masa itu pandangan masyarakat akan pendidikan umum sangat kurang diperhatikan dan lebih cenderung ke Pesantren  (pendidikan agama)

Padahal Bapaknya termasuk orang berpendidikan  pada masanya, sebagai land lord  dan pejabat pamong desa cukup  berpengaruh dikampungnya , setelah behenti bekerja lebih konsentrasi mengelola sawah termasuk tambak dan ladangnya setiap hari hanya bekerja dan bekerja mungkin termasuk kerja maniak sebagai imbalannya secara ekonomi lebih baik  dari tetangganya.
Bahkan masih saya ingat pada saat saya masih kecil banyak sekali orang-orang yang ikut tinggal dirumah, saya pikir mereka tidak digaji hanya ingin menumpang hidup, makan dan tinggal saja.
Maklum masa itu ekonomi sangat sulit.

Tidak heran, setelah lulus dari Sekolah Rakyat S.R. (sekolah Rakyat)  sekarang SD> (Sekolah Dasar) yang tidak jauh dari rumahnya di kampung, saya dilarang melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menegah Pertama (SMP). Karena sekolah tersebut yang paling dekat terletak sekitar sembilan kilometer dari rumah. Orang tua tidak mengizinkan saya melanjutkan sekolah, karena saya diharapkan melanjutkan mengurus sawahnya,” tutur pria kelahiran 13 Maret 1952 ini.
Sebenarnya saya cukup menyadari bahwa Bapak sudah lumayan berumur saat itu karena saat saya dilahirkan umurnya sudah sekitar 40 tahun, maklum termasuk terlambat punya anak tapi begitu lahir anak pertama berturut-turut lahir sampai 7 bersaudara.
Termotivasi oleh kakaknya yang sudah melanjutkan sekolah, Kus Marindi  berusaha dengan segala cara agar mendapatkan kesempatan yang sama. Meskipun terjadi negosiasi  sangat alot, tetapi akhirnya permintaannya untuk bersekolah dikabulkan dengan fasilitas berbeda. Kakaknya sekolah di kota dan indekos karena jarak antara kampung dan sekolahnya cukup jauh sekitar dua puluh kilometer.

Sedangkan Kus Marindi harus menerima untuk sekolah di Sekolah teknik Negeri (STN.) yang terdekat. jaraknya pun terbilang cukup jauh yang harus ditempuhnya dengan sarana transportasi berupa sepeda ‘onthel’. Jalanan yang harus dilewati berupa jalan desa / jalan tanah yang belum diperkeras dengan aspal, sehingga bila musim hujan jadi becek tapi bila musim kemarau seperti layaknya  racing road saja..  Tak jarang sepeda yang seharusnya saya naiki gantian menjadi saya panggul karena tidak mungkin sepeda bisa jalankan.

Kadang terasa sedih sekali, karena di saat anak sebaya saya masih nyenyak tidur dan bermimpi, saya harus berjalan kaki ke sekolah. Selama perjalanan pun, saya tidak memiliki teman dan tanpa bantuan,” ungkapnya.

Perjalanan pulang pun dilaluinya dengan ritme yang sama. Cuaca yang tidak menentu, membuat ia sering salah perkiraan. Akibatnya, seringkali kakinya sakit karena menginjak Lumpur yang telah mongering yang memang  tanpa alas kaki menginjak tanah keras akibat terik sinar matahari. Padahal, ia memperkirakan hari akan turun hujan sehingga tidak menggunakan sepeda. Kus Marindi sering ingin menangis dikarenakan rasa lapar , capek dan panas atau dinginnya hujan hingga baru sampai di rumah rata-rata pukul 16.00.

“Pada masa akhir tahun 1965, saat rame-ramenya peristiwa G30S/PKI masalahnya menjadi lebih runyam. Jalanan menjadi tidak aman bagi orang-orang atau anak-anak yang berjalan di saat petang. Saya tidak mengerti apakah orang tua bisa tidur nyenyak bila saya tidak pulang atau terlambat pulang pada situasi genting seperti itu. Hampir setiap pagi saya jumpai mayat tergeletak di pinggir jalan, di dalam parit, sungai atau di ladang jagung. Memang mengerikan, tapi karena setiap hari saya jalani ya jadi biasa saja tanpa beban apa-apa,” ujarnya.

Menjelang ujian akhir STN., Kus Marindi terserang penyakit typus sangat parah. Ia menjalani perawatan di rumah sakit Lamongan hampir dua bulan lamanya. Bersamaan dengan waktu itu terjadi banjir besar akibat tanggul sungai Bengawan Solo yang jebol sehingga untuk mendapatkan obat untuk saya kakak harus jalan kaki ke Apotik di kota Gresik
Selama saya sakit Bapak hanya bisa mengunjungi saya dirumah sakit  sekali dan baru kali itu saya melihat bapak menangis melihati saya tergelatak sakit tidak berdaya sementara ibu saya tidak sempat sama sekali, saya sudah merasa pesimis tidak dapat menyelesaikan pendidikan STN. Ternyata Tuhan berkehendak lain, ia memberikan kesembuhan dan mampu mengikuti ujian akhir sekolah dengan baik. “Saya sudah berpikir bahwa perjuangan selama ini akan sia-sia.

Pengalaman bersekolah di STN. Yang demikian berat ternyata tidak menyurutkan keinginan untuk melanjutkan kembali walau dengan perjuangan yang tidak kalah beratnya.
Semula saya ingin tinggal bersama Mbah yang memang tinggal di Surabaya sedangkan biayanya akan saya cari sendiri ternyata keinginan saya hanya membuahkan kekecewaan karena mendapat jawaban yang kurang enak didengar, terpaksa cari tempat tinggal bersama orang lain yang gratisan.

Merantau ke Samarinda

Setelah tidak sekolah lagi pada  bulan September tahun 1970, Kus Marindi merasa sudah tidak nyaman lagi untuk hidup dan tinggal dikampung
sedangkan untuk bekerja, ia tidak tahu apa yang bisa dikerjakannya. Kalau pun harus pergi dari kampung halamannya, ia tidak tahu kemana kakinya harus melangkah.
Pada suatu hari ada teman saya bercerita katanya ada temannya yang baru pulang dari Samarinda dan akan balik lagi beberapa hari kemudian. Saya bilang, ingin dikenalkan dengan orang tersebut, karena dari cerita teman saya itu, kayaknya menarik sekali,” ujarnya.

Tidak lama kemudian, Kus Marindi berkenalan dengan tetangga kampungnya yang merantau ke Samarinda tersebut. Setelah berbincang-bincang, ia tahu bahwa orang tersebut menjalankan usaha berjualan rujak (pencok) di Samarinda. Namun, ia berpikir bahwa ada yang salah dari hidup orang yang menurut perkiraannya sudah berumur 50 tahun masih merantau untuk menghidupi keluarga. Tetapi ia tidak berani menanyakan alasannya takut menyinggung perasaan orang tersebut.

Dalam pembicaraan tersebut, keduanya sepakat untuk berangkat bersama-sama ke Samarinda. Tapi Ia merasa aneh karena orang tersebut meminta agar uang ticket naik kapal agar dia yang pegang. Ia memberi tahu bahwa uang tersebut masih menunggu hasil penjualan sepeda miliknya yang selama ini yang setia sebagai sarana transportasi ke sekolah.

Untung Kus Marindi belum menjual sepeda dan menyerahkan uangnya kepada orang tersebut. Karena setelah itu, datang orang bernama Junaidi yang sebelumnya juga tidak dikenalnya datang ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa orang yang akan diikuti ke Samarinda akan menipunya. Junaidi yang tahu rencana jahat orang tersebut menawarkan untuk pergi bersamanya saja.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kus Marindi akhirnya setuju untuk berangkat bersama Junaidi. Sehari menjelang keberangkatan, ia menjual  sepeda di pasar sepeda, Pasar Turi, Surabaya seharga Rp. 9.500,00. Dari hasil penjualan tersebut untuk beli tiket kapal kayu di pelabuhan Kalimas seharga Rp. 4,500.00. Sore itu, keduanya langsung naik ke kapal karena rencananya kapal akan berangkat berlayar subuh berikutnya..

“Naik kapal adalah pengalaman pertama saya. Tidak heran, ketika kapal bergoyang-goyang terkena gelombang besar, kepala saya pusing sampai muntah-muntah. Pengalaman sangat tidak menyenangkan ini diperparah dengan bunyi derit dinding kapal. Seolah-olah kapal yang terbuat dari kayu itu akan terbelah dan pecah di tengah laut. Terpikir di otak saya apakah perjalanan ini akan sampai tujuan ?” kenangnya.

Dalam perjalan berlayar tersebut berkenalan dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang sayur antar pulau asal kota Malang. Pedagang tersebut manyanyai saya tujuan saya ke Samarinda dan saya bilang tidak punya siapa-siapa.
Akirnya menawari megajak saya kembali dan bekerja bersamanya di Malang daripada harus melanjutkan perjalan yang tidak jelas tujuannya.
Tetapi tekat saya sudah bulat ingin pergi jauh dari kampung halaman. Ibu tersebut sangat baik dan menawari untuk tinggal bersama saudaranya yang menetap di Samarinda,” tambahnya.

Tetapi Kus Marindi memilih untuk tetap bersama dengan Junaidi yang memang dari awal sudah bersamanya dan akan mencari tetangganya yang menjadi trasmigran pada tahun 1960 an  yang kabarnya sekarang berjualan palawija di Pasar Pagi Samarinda.
Setelah ketema kami diajak kerumahnya dan ternyata di rumahnya telah  menampung banyak orang-orang satu daerah. Mereka pada umumnya bekerja di sektor non formal seperti berdagang pencok, minyak tanah, sayur mayur, makanan dan lain-lain seperti pada umum pekerjaan orang-orang dari daerah tersebut.

Kus Marindi yang tidak memiliki pengalaman dan sedikit pendidikan, akhirnya bekerja membantu ibu induk semangnya di pasar pagi. Pekerjaan yang dilakukannya adalah mengangkat barang dagangannya, baik milik induk semangnya maupun orang lain. Ia merasa sangat mudah mencari uang di kota itu, karena untuk pekerjaan yang dikerjakan dengan asal-asalan dan mengandalkan tenaga saja upahnya cukup tinggi. “Dalam satu hari, saya bisa mendapatkan uang antara Rp. 5,000.00 sampai Rp. 6.000,00. Bahkan yang sudah pengalaman bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Dalam sekejap, saya merasa menjadi jutawan karena setiap hari bisa manabung rata-rata Rp. 5.000,00. Itu lebih tinggi dari harga tiket kapal Surabaya ke Samarinda yang hanya Rp. 4.500,00 per orang,” katanya.
Ekonomi Samarinda saat itu memang sedang booming dikarenakan penebangan hutan yang sedang  marak lyar biasa dengan istilah banjir kap.

Bila mau turun keair mengangkat keranjang-keranjang bekas sayur yang dibuang ke Sungai Mahakam didalamnya pun yakin mendapatkan ikan sepat yang sangat besar dibandingkan dengan yang pernah saya lihat di Jawa.
Pada suatu hari salah satu dari teman yang tinggal bersama kedatangan isterinya dari kampong, mungkin dia sedang tidak punya uang padahal dia perlu duwit untuk keperluan keluarganya, rupanya sasaran pertama yang diincar adalah tabungan saya.
Ia sangat kecewa dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, karena meskipun menghasilkan uang banyak, tetapi merasa bukan itu yang dicarinya jauh-jauh ke Samarinda.

Ia kemudian bekerja di perusahaan yang sedang mencari karyawan untuk pekerjaan survey perminyakan di daerah Sangkulirang, 500 km ke arah utara dari Samarinda. Sejak itu, ia mulai mengenal ganasnya rimba Kalimantan yang masih perawan. Hutan yang dikenalnya di pulau Jawa hanyalah semak-semak, namun hutan di sini sangat lebat sehingga cahaya matahari pun tidak mampu menembus dasar hutan.

“Pengalaman hidup dan bekerja di hutan seperti digigit pacet dan terkena malaria adalah pengalaman yang dialami setiap orang. Bahkan sempat terpikir, apakah saya pernah melihat kampung halaman saya lagi ? Genap satu tahun saya merasa hutan bukan tempat untuk mencari pengalaman yang baik. Saya memutuskan pindah ke Balikpapan dan mencari tetangga yang telah hijrah pada saat saya masih berumur 3 tahun dan tinggal di perumahan Pelabuhan Balikpapan. Saya ikut tinggal bersamanya untuk sementara waktu,” kisahnya.

Awal bekerja di Balikpapan adalah pengalaman paling pahit yang pernah dilaluinya. Ia diajak temannya untuk mengangkat pasir ke truk dengan upah Rp. 500,00 per hari. Kus Marindi hanya mampu bertahan satu hari dan malamnya, malaria kambuh kembali. Yang paling menyedihkan, gajinya yang  Rp. 500,00 itu dipinjam temannya dan tidak pernah dikembalikan.

Hari-hari berikutnya, Kus Marindi bekerja serabutan. Ia membantu temannya menjual gorengan, belajar kerja sebagai tukang las, menjadi penjaga malam dan bermacam-macam pekerjaan tidak tetap lainnya. Baru pada awal Januari 1972, ia kembali mendapat pekerjaan di perusahaan survey perminyakan. Kali ini ditempatkan sebagai tenaga helper atau pembantu pekerjaan kasar di PT  Delta Explorasi.

Walau hanya sebagai helper perasaan saya pekerjaan ini adalah pekerjaan terbaik yang bisa saya dapatkan hingga tahun 1974.
Mungkin karena jenuh dan tidak ada pengalaman baru, saya meminta izin keluar untuk mencari pekerjaan lainnya yang lebih menantang,” tuturnya.

Berbekal ijazah mengetik, Kus Marindi diterima bekerja di perusahaan pelayaran. Di sini, ia merasa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minatnya meskipun bergaji kecil. Ia sangat menyukai pekerjaan tersebut meskipun ketika terjadi pengurangan karyawan pada tahun 1976, ia adalah orang pertama yang diberhentikan.

“Jadi pengangguran selama kurang lebih 6 bulan akhirnya saya dapat pekerjaan di EMKU yang beroperasi di pelabuhan udara Sepinggan, Balikpapan. Gajinya lebih kecil lagi, tetapi saya merasa sangat senang dengan pekerjaan itu. Walau gaji kecil saya merasa bisa ketemu dengan banyak orang termasuk orang-orang asing yang berhubungan dengan import / export barang keperluan perminyakan,” tegasnya.
Saat orang-orang lain naik pesawat udara masih merupakan mimpi saya sudah keliling Indonesia bahkan keluar Negeri tanpa bayar tiket karena terbang dengan charter flight perusahaan.
Pada masa ini mungkin karena punya dana dan waktu saya ingin kembali menyelesaikan pendidikan saya yang terbegkelai.

Jalan Kesuksesan Terbuka

Kus Marindi menemukan jalan menuju sukses ketika terjadi kebakaran (blowout) di sebuah rig (sumur minyak) milik PT Total Indonesie di daerah Tunu, Samarinda. Kebakaran hebat itu terus berkobar hingga berhari-hari lamanya karena perusahaan tidak memiliki stock material pemadaman api. Untuk memadamkan kebakaran tersebut, material harus didatangkan dari Singapura.

“Saya diundang oleh orang bule dari PT Haliburton Indonesia untuk meng-handle pengiriman material pemadaman api dari Singapura ke Balikpapan menggunakan pesawat terbang. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya tidak punya capital untuk pekerjaan tersebut. Lha, material yang diangkut jumlahnya mencapai sekitar 20 flight, tentu butuh dana besar untuk mebayar charter flight maupun import duty nya. Sementara saya nggak punya apa-apa,” katanya.  Itu terjadi pada tahun 1984.

Rupanya, Allah mulai memberikan jalan hidup yang lebih baik baginya. Sekian lama Kus menjalani kehidupan yang pas-pasan, tiba saatnya membuka cakrawala baru. Si bule, tetap memintanya membuat rincian perhitungan biaya yang diperlukan untuk proyek tersebut. Antara percaya dan tidak, semalam suntuk, tidak tidur  ia menghitung kebutuhan dana dan menuangkannya dalam sebuah proposal.

“Pagi harinya, saya kembali bertemu dengan si bule tersebut dengan rasa pesimis dan tidak tahu apa yang dipikirkan oleh sibule ternyata proposal saya disetujui.  Bahkan dia meminta  untuk segera memulai pengirimannya,” tegasnya.

Proyek perdana ini dikerjakan Kus Marindi selama kurang lebih 10 hari. Selama itu, ia bekerja keras siang malam berangkat pagi pulang pagi untuk memastikan pekerjaan selesai tepat pada waktunya. Hingga akhirnya, semua barang material pemadaman kebakaran rig sampai di Balikpapan dan diserahkan kepada PT Haliburton Indonesia. Meskipun sangat lelah dan capek, ia sangat puas karena klien pertama pada proyek pertamanya juga sangat puas.
Setelah semua clear saat itu saya bisa membeli mobil pertama saya.

Kesuksesan menggarap proyek tersebut, membuka jalan lebih luas bagi perjalanan karier Kus Marindi. Tak berapa lama, ia mendapat telepon dan tawaran kerjasama dari perusahaan jasa kargo, Airmark Group dari Singapura. Perusahaan tersebut menawarkan dirinya untuk menjadi agen di Balikpapan dan sekitarnya. Tawaran tersebut diterimanya dengan ragu tetapi  juga sangat berminat.

“Awalnya dipenuhi perasaan ragu, apakah saya mampu mengelola bisnis sendiri atau tidak. Tetapi menurut saya, ini tantangan menarik yang tidak boleh disia-siakan. Di perusahaan pertama yang saya dirikan bersama adik ipar, adik ipar saya menjadi direktur. Ternyata keberuntungan saya disini, usaha saya maju dan tumbuh dengan sangat baik, berkembang ke usaha peternakan, percetakan dan lain-lain,” ungkapnya. Usahanya terus berkembang dan tahun 1988, ia membentuk  PT Intipratama groups dengan bidang usaha utama berfokus ke logistik. “Meskipun ada juga perusahaan yang tidak berhubungan, tetapi tetap saling mendukung,” imbuhnya.

Kembali terulang saat itu rasa ingin tahu saya, apa yang dpelajari dipendiidikn tinggi terutana saya merasa tidak tahu formalnya ilmu managemen, ternyata apa yang diajarkan sudah saya kerjakan bahkan saya merasa lebih expert dari pada dosennya.

Hampir semua orang berbicara kalau mau bisnis harus ada modal dari pengalaman saya mengatakan untuk berbisnis modal utama adalah kerja keras, jujur, konsisten terhadap tujuan, kalau dipercaya orang lain modal akan ikut mengalir.

Saat ini, kegiatan usaha yang dikelola Kus Marindi dan berjalan dengan sangat baik meliputi SPBU, pabrikasi dengan bendera PT Intipratama Global Teknik, custom clearance, transportasi darat, laut dan udara dan pergudangan dengan PT Intipratama Mulyasantika. Kemudian ada juga Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Intipratama Global Services dan terakhir yang dalam project PT Intipratama Bandar Kariangau, mengelola terminal Cargo / pelabuhan khusus.

“Walaupun ada beberapa usaha yang terpaksa ditutup karena tidak mamadai antara hasil dan kesibukannya. Seperti percetakan, peternakan , supplyer secara keseluruhan semua berjalan dengan sangat sehat dan tanpa / belum ada  pinjaman dari pihak manapun termasuk pihak Bank. Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada Allah Yang Maha Esa. Kau telah memberikan yang terbaik padaku semoga hikmah ini bisa bermanfaat buat keluarga, masyarakat dan negara,” katanya.

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd

No Comments

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd
Kepala Sekolah SMAN 4 Cirebon
Kerja Keras dan Tujuan Yang Jelas Mengangkatnya Berprestasi
Berangkat dari menjadi guru di SMP Negeri 3 Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1978, Drs. Haji Wirsad Yuniuswoyo, M.Pd, yang pegawai negeri sipil dan  kepala sekolah SMAN 4 Cirebon ini mengaku  kalau karier pendidikan gurunya selalu berpindah-pindah sekolah. Sebab satu tahun kemudian tepatnya 1979, guru bidang study matematika ini berpindah kembali ke SMP Negeri 4 Cirebon. “Di SMPN 4 inilah, masa pengabdian saya cukup panjang, “ungkapnya.
Sebab pada tahun 1990, barulah ia berpindah sekolah lagi, atau tepatnya ke SMAN 3 Cirebon. Namun sebelumnya, kata Wirsad, pada tahun 1987,  ia sempat masuk menjadi guru inti PKG (Pemantapan Kerja Guru) sebagai guru inti di bidang  mata pelajaran matematika selama 3 tahun. Bapak tiga anak ini mengaku perjalanannya cukup panjang untuk sampai ke jabatan kepala sekolah.
Program pemantapan kerja guru ini merupakan hasil kerjasama dengan world bank. Hasilnya cukup baik, dan banyak dijadikan model pelatihan oleh guru lingkungan sekolah. Selain itu  PKG juga telah sedikit mengubah paradigma tentang ketakutan siswa pada bidang study matematika, “Artinya ketakutan yang berlebihan itu bisa kita atasi, jadi kalau ada siswa yang nilai matematikanya buruk, itu karena mereka tidak memahami dan mengerti, termasuk kurangnya latihan,“ paparnya.
Menurutnya, berbagai pengalaman yang telah ditimbanya, mulai dari guru teladan Tingkat Jawa Barat, pada tahun 1997 hingga kepada organisasi  persaudaraan haji, sebelum kemudian menjadi kepala sekolah berprestasi di tahun 2007. “Pada tahun 1993 hingga 1996, saya pernah mengabdi menjadi guru di SMAN 6 Cirebon, yang dahulu adalah Sekolah Guru Olahraga (SGO),“ katanya. Bahkan di tahun yang sama, ia sempat mengikuti RECSAM (Regional Education Course Science An Mathematic) di Malaysia selama 6 bulan kemudian menjadi instruktur PKG matematika se-Jawa Barat.
“Sebelum Propinsi Banten meminta memisahkan diri untuk menjadi Propinsi baru dari propinsi Jawa Barat, saya sering mengadakan perjalanan (study banding dan pembinaan kepada guru-guru Matematika) ke daerah tersebut, “ungkapnya. Bukan hanya Serang, Pandeglang, tapi juga hingga ke daerah Lebak dan Cibakung.
Memang pengalaman panjang telah membuatnya banyak menorehkan prestasi akademik. Namun bukan Wirsad, kalau tidak bisa membawa sekolah yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dengan bekal berpindah-pindah sekolah, dan pengalaman mengikuti training serta pendidikan leadership, lambat laun bapak yang beristrikan hajjah Yanthi Sri Iryanti ini pun semakin matang. Tak heran, jika ia pun menyelesaikan kembali sekolahnya di program pascasarjana/M.Pd.
Sarjana pertamanya ia selesaikan S1 bidang Matematika. Wajar saja bapak dua putra dan satu putri ini mengenyam banyak bidang prestasi, karena pada tahun 1993 hingga 1998, ia pernah menjadi penulis buku Matematika, yakni Aritmatika untuk SMP-SMA dengan penerbit Intan Pariwara,  Tiga Serangkai, dan Pakaraya serta LKS Matematika. “Sayangnya LKS yang semula merupakan pembelajaran yang dikembangkan oleh negara Inggris untuk memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran dengan metoda penemuan, di Indonesia justru dijadikan tempat menulis soal-soal, ini sebuah ironi,” tuturnya dengan nada kecewa.
Karakternya yang kalem dan penuh karismatik, telah membuatnya disenangi berbagai warga sekolah yang dipimpinnya. Tak heran bila ia telah mengikuti berbagai pendidikan yang sifatnya menunjang profesinya. “Kerjasama antar sekolah (sister school) dengan berbagai negara, telah membuatnya makin kaya akan pengetahuan yang didapat. Ia pun kerap bepergian untuk mengadakan studi banding tentang pendidikan pada sekolah di negara yang dikunjunginya.
Namun begitu, tidak dipungkiri pula untuk menjalin kerjasama dengan negara lain seperti China dan Australia. Setelah dipikirkan, Australia merupakan pilihan utama dan solusi yang tepat, mengingat jarak kedua negara ini relative dekat dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk sampai ke Australia. “Namun begitu, saya sebagai Kepala SMAN 2 Cirebon juga mendapat tawaran untuk bekerja sama dalam rangka sister school di negara Turki. Pada saat ke Turki ada sedikit kemacetan komunikasi, terutama masalah penggunaan bahasa Inggris, mereka/orang Turki lebih senang bicara bahasa Turki, “jelasnya. Namun belum lama beristirahat sepulangnya dari Turki, ia pun mendapat tugas baru menjadi untuk memimpin sebuah sekolah SMAN lagi yaitu SMAN 4 Cirebon.
Panggilan itu pun diterimanya dengan tenang, tanpa terpaksa, apalagi gundah gulana. Baginya jiwa pendidik merupakan nomor satu untuk mengabdi, tantangan di bidang pendidikan. Tantangan itu pun ditanamkan dalam benaknya, dan berusaha untuk menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah unggulan dan memiliki prestasi yang menonjol. “Saat ini yang terpenting adalah mutu atau kualitas. Jadi apakah itu sekolah swasta atau negeri, kalau memang kualitasnya bagus, maka ia berhak untuk menjadi sekolah favorit.”
“Semangat, disiplin, serta menerapkan peraturan sekolah kepada warga sekolah, merupakan mutu keharusan,“ ungkapnya. Peraturan yang ketat ini dilakukan, sebagai wujud kasih sayangnya kepada warga sekolah agar mereka hidup teratur jiwa dan raganya. Tidak boleh ada siswa maupun guru terlambat masuk sekolah. Baginya keterlambatan mereka sama saja dengan membuat sekolah menjadi berantakan.
Bapak yang memiliki motto Segala yang akan dilakukan harus jelas tujuannya ini mengaku juga pernah menjadi kepala sekolah  di SMAN 9 Cirebon pada tahun 1999-2001. “Waktu itu sekolah ini masih baru lagi, dan saya ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah, Namun biarlah dan ini merupakan tantangan,“ ungkapnya. Sebab katanya, selain harus berhadapan dengan lingkungan yang baru siswa-siswinya, juga kepada masyarakat sekitar. “Hal ini bukan pekerjaan yang mudah, mengingat dibutuhkan sosialisasi yang tinggi, agar masyarakat mau menerima kehadiran sekolah dan isinya.
“Saya terpaksa harus bersikap tenggang rasa dan tidak ketat, maklum lingkungan baru dan sekolah baru, jadi harus dipahami dan dimengerti persoalan mereka.” Namun, bukan begitu juga lembeknya atau membiarkan sekolah tanpa kerjasama dengan masyarakat, Wirsad juga mengaku pernah memberikan semacam ultimatum berupa ancaman kepada masyarakat, agar mau dan  rela membantu sekolah baru tersebut. Sebab jika masyarakat setempat enggan membantu perkembangan sekolah, ia pun mengancam akan melaporkan kepada Walikota untuk memindahkan sekolah tersebut, namun sebaliknya jika mereka membantu dan mendukung sekolah, maka pihaknya akan meminta walikota untuk membuatkan proyek jalan masuk ke sekolah dan desa-desa sekitarnya.
Akhirnya masyarakat yang semula menolak kehadiran sekolah tersebut bersedia mendukungnya dengan menjaga dan melestarikan kawasan sekolah dari aksi vandalisme alias coret-coret, termasuk mengizinkan angkot masuk ke kawasan sekolah. “Semula mereka menolak kehadiran angkot, karena mereka menganggap kehadiran angkot telah mengambil ladang mata pencaharian ojeknya,“ tutur Wirsad.
Ia menambahkan walaupun sebagai guru matematika, namun tidak bisa memaksakan kehendaknya agar siswa-siswi di SMAN 9 menjadi juara matematika, mengingat kemampuan siswa dari desa tersebut kurang mumpuni. Namun setelah melihat badan siswa-siswi sekolah itu  besar-besar, barulah ia berpikir untuk membawa potensi keunggulan tersebut dalam bidang olahraga. “Akhirnya mereka dapat meraih prestasi dengan  menjadi juara cabang atletik, volley ball, di berbagai kompetisi sekolah maupun kejuaraan tingkat daerah,“ ceritanya.
Padahal tempat latihan volley ball pun tidak memadai, tiang net terbuat dari bambu, garis di tanah dari kapur, tapi semangat mereka yang pantang menyerah untuk berprestasi memecutnya untuk meraih juara. Memang bukan hanya cabang atletik, lomba baris berbaris atau paskibraka juga meraih juara. “Tapi ya itu juaranya dalam bidang fisik, tetapi belum ke bidang sains/keilmuan,“ paparnya. Dua tahun menurutnya ia memimpin sekolah di SMAN 9 Cirebon tersebut.
Selanjutnya, kepala sekolah di SMAN 7 Cirebon pada tahun 2001-2007. Ironinya, belum memimpin sekolah, ia sudah mendapat laporan dari kepala kelurahan dan RW setempat bahwa sekolah ini sering tawuran dengan sekolah SMK. Bukan Wirsad kalau tidak bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, dengan bekal pengalaman yang banyak memimpin dan mengajar di sekolah, ia pun lalu berpikir untuk  menjembatani dan mengajak berdamai  atau menggalang kerjasama dengan pihak SMK. “Kebetulan kepala sekolah SMKnya adalah adik kelas saya saat kuliah di S2, jadi mudah untuk diajak berkomunikasinya, “paparnya. Setelah keduabelah pihak mengadakan pertemuan, baik guru maupun siswanya, tawuran yang selalu terjadi itu, akhirnya berdamai.
Berturut-turut kepala sekolah di SMAN 3 Cirebon Januari hingga Juni 2008, dan SMAN 2 Cirebon tahun 2008 -2010. Kini perjalanannya sekarang adalah sebagai kepala sekolah di SMAN 4 Cirebon. “Penempatan itu baru diberikan pada bulan Juni 2010, “paparnya.
Banyak liku-liku yang dihadapinya dalam mengabdi sebagai kepala sekolah. Mulai dari membenahi infrastruktur sekolah, hingga kepada bagaimana mensosialisasikan sekolah ke masyarakat, dan mendidik siswa dan guru-guru untuk selalu unggul. “Bayangkan saja di SMAN 3 Cirebon, saya harus memperbaiki sarana dan prasarana olahraga, “ungkapnya.
Selain sebagai kepala sekolah, Haji Wirsad, juga menyempatkan diri untuk memberikan motivasi untuk siswa-siswinya dengan memberikan motto berupa bekerja penuh ihklas sehingga merasa tidak beban, kedua, rajin beribadah, ketiga, semangat, keempat, tidak mudah putus asa, kelima, tanggungjawab dan jujur, keenam, setiap kesempatan jangan ditunda-tunda, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, ketujuh, mengerjakan sesuatu langsung jangan sampai ditunda-tunda, kedelapan, dapatkan informasi secepatnya/duluan, mendapatkan informasi duluan, berarti ilmu pengetahuan kita dapat duluan, dan kesembilan, berserah diri pada Allah. Jika kita menerapkan atas sikap-sikap di atas, insya Allah kita dapat menjadi orang yang sukses.
“Pak Wirsad adalah tipe pekerja keras, terbukti hanya dalam hitungan bulan di SMAN 4 Cirebon sudah banyak yang dibenahi, terutama pada infrastruktur, seperti rehabilitasi laboratorium computer dan ruang PSB (Pusat Sumber Belajar), perbaikan kursi, taman dan sarana prasarana kegiatan ekstrakurikuler,“ jelas Kepala Tata Usaha SMAN 4 Cirebon
Dalam bidang pembinaan kesiswaan, Wirsad yang lahir di Cirebon 29 Juni 1957 ini, juga telah mencanangkan kedisiplinan dengan menggunakan system point, mengadakan apel siaga pada jedah waktu, antara pasca UAS hingga dengan menjelang pembagian raport. “Obsesinya adalah bagaimana agar lulusan siswa-siswi SMAN 4 Cirebon ini dapat berkompetisi dan bersaing di dunia nasional maupun internasional,“ kata Drs. Irman Darojat, Guru SMAN 4 Cirebon.
Menurut Wirsad, visi dalam sekolah ini  adalah bagaimana menjadikan siswa yang bertakwa dan berprestasi. Bertakwa disini, maksudnya kata Wirsad adalah yang berkaitan dengan masalah kecerdasan spiritual, sedangkan berprestasi pengertiannya luas, menyangkut akademisi, non akademis, atau intelegensia, dan berakhlak mulia menjadikan siswa sebagai insan kamil, sopan santun, cerdas, dan berbudi pekerti.
Ditambahkan untuk misi sendiri itu ada lima besar, yakni pertama,  membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan, artinya siswa yang masuk sekolah di sini, harus sudah memiliki keimanan dan juga ketakwaan. “Jadi jangan sampai kering begitu.” Kedua, Mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada keunggulan, artinya pendidikan itu harus dikembangkan, jangan begitu saja, atau hanya sekedarnya, melainkan bagaiman pendidikan berkualitas. Ketiga, meningkatkan kemampuan dan kecakapan peserta didik, serta membina minat dan bakat secara kreatif, artinya, siswa dituntut untuk mampu dan memiliki ketrampilan, serta minat dan bakat yang baik. Dengan bakat dan minat yang berbeda-beda, diharapkan mereka bisa memilih mana yang sesuai dengan hati nuraninya atau tidak, misalnya mereka ingin memilih kedokteran, “kalau memang arahnya ke sana, maka kita bimbing, begitu pula dengan bakat, jika bakatnya di bidang olahraga, maka kita arahkan ke olahraga, begitu dan seterusnya, “jelas Wirsad. Harapan lainnya adalah bagaimana unsur tersebut bisa mengangkat nama sekolah, sehingga sekolah  bisa unggul. Ternyata misi sekolah ini membuktikan dengan siswa berprestasi di bidang olahraga, seperti silat, tinju dan atletik dan sebagainya. “Mereka ini merupakan atlet-atlet nasional, yang banyak berkiprah membantu dan mengharumkan nama bangsa dan negara di arena internasional, “ungkap Wirsad. Keempat, membina sikap ilmiah, disiplin dan tanggungjawab.
Selain harus menjalankan visi dan misi sekolah, strategi lain yang dikembangkan Wirsad, adalah melakukan pendekatan dengan siswa dan guru. Cara ini cukup efektif, kenyataan banyak siswanya memberikan segudang prestasi dan piala. Begitu pula dengan guru-gurunya,  mereka pun menunjukan kualitas pengajarannya dengan baik. Bahkan Wirsad tak segan-segan membantu mereka untuk mendatangkan para ahli untuk dijadikan nara sumber tukar menukar pikiran atau pendapat “Shearing” guna kemajuan sang guru. Ia pun juga kerap terjun memberikan nasihat dan wejangan, terutama terkait dengan metode belajar mengajar yang bisa dipahami siswa.
Kenyataan sikapnya yang ramah, sopan santun, dan demokratis kepada semua orang, membawa dirinya banyak diminati warga sekolah. ”Mereka mengaku merasa kehilangan jika Pak Wirsad harus pindah sekolah,“ kata Dra. Siti Rochani, Guru Ekonomi. Prinsip Wirsad adalah bagaimana mencontohkan sikapnya yang benar kepada warga sekolah. “Seribu nasihat tidak akan bermanfaat, jika contoh atau sikap yang kita tunjukan tidak sesuai dengan tingkah laku.”
Pola pendekatan dalam bentuk tingkah laku ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan kepemimpinan Wirsad. Terbukti banyak sekolah yang telah ditinggalkan, saat berkunjung ke tempat itu lagi, ia mengaku mendapat sambutan yang berlebihan. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kinerjanya yang dirasakan warga sekolah sebagai hal yang baik dan profesional.
Banyaknya sekolah yang dipimpinnya berkembang dan maju, juga merupakan bukti bahwa kemampuannya dalam mengembangkan sekolah sudah profesional dan managerial. Untuk itu, tidak ada sesuatu hal yang berhasil tanpa dibarengi kerja keras yang sungguh-sungguh. Itulah harapannya kepada semua guru, agar generasi  berikut  bisa mengikuti langkahnya yang baik. Ia berharap siswa dan guru serta orangtua murid memahami konsepsinya akan kemajuan sekolah. Sebab katanya, kepala sekolah hanya jabatan sesaat, selanjutnya mereka yang akan menjalani. Demikian ungkapan Haji Wirsad Yuniuswoyo dalam bincang-bincangnya. Semoga apa yang dicita-citakan untuk kemajuan sekolah dapat terkabulkan, dan generasi muda dapat melanjutkan kegiatannya untuk menjadikan pendidikan yang bermutu.