Tag: salah

Elnino M. Husein Mohi

No Comments

Elnino M. Husein Mohi
Anggota DPD-RI, Gorontalo

Sebuah Kisah Perlawanan Terhadap Money Politics

Seantero Provinsi Gorontalo tercengang. Penghujung April 2009, ketika penghitungan suara calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mulai mendekati final. Para elit lokal tersentak. Nyaris tiada seorang pun yang percaya dengan munculnya nama Elnino M. Husein Mohi di peringkat ketiga di antara 19 tokoh besar dan konglomerat Gorontalo yang jadi calon anggota DPD-RI. Dia, secara mengejutkan, bahkan memenangkan Pemilu Legislatif tanpa sedikit pun melakukan pelanggaran peraturan Pemilu.

Elnino. Dia bukan orang kaya. Bukan pula politisi, bukan elit, bukan pejabat—bahkan bukan keluarga pejabat, bukan tokoh lokal. Pemuda bertubuh kecil berkulit gelap itu hanyalah seorang wartawan. Hanya seorang aktifis. Maka hampir tidak ada yang percaya, dengan tabungan pribadinya sebesar Rp. 2,5 juta, Elnino meraih hampir 50 ribu suara atau 9% dari total pemilih Gorontalo.

Sungguh tidak mungkin dengan dana segitu Elnino mampu menjangkau wilayah Gorontalo—yang luasnya lebih dari 12 ribu kilometer persegi—di masa kampanye. Tim Pemenangan Elnino menyadari kendala itu. Dengan usaha keras dan cara yang simpatik, mereka mengumpulkan sumbangan dari ribuan sahabat Elnino. “Dalam waktu 9 bulan, kami berhasil mengumpulkan cukup banyak, totalnya Rp. 55.545.000. Jumlah itu kami laporkan ke KPUD dan Panwaslu,” ungkap Thariq Modanggu, Ketua Tim Pemenangan Elnino.

Mungkin itu adalah ongkos politik termurah, karena bila dibagi dengan jumlah suara Elnino akan mendapatkan rata-rata sekitar Rp. 1100 per suara. Uang itu bukan dibagi-bagi ke pemilih, melainkan untuk biaya bensin dan sewa kendaraan berkeliling Gorontalo, biaya administrasi kelengkapan syarat calon, biaya iklan radio, pencetakan baliho, stiker, leaflet untuk alat kampanye, dll.

Bagi Elnino dan para sahabatnya, pada hakikatnya setiap individu tidak menginginkan praktek money politics. “Tidak satu orang pun, sejatinya, yang mau menjual suaranya. Tidak ada yang nuraninya memilih seseorang hanya karena sudah diberi sesuatu. Orang memilih seorang caleg atau calon pemimpin pasti bukan semata-mata karena uang, mesti ada alasan lain,” tutur Elnino.

Hanya saja, sekarang ini sebagian besar rakyat telah bersikap masa bodoh dan apatis terhadap “pesta demokrasi”. Padahal, triliunan rupiah uang negara/rakyat dihabiskan untuk event tersebut. Di mata sebagian besar rakyat, wakilnya di parlemen tidak memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan mereka. Yang benar-benar nyata dan bisa dinikmati rakyat hanyalah ketika mereka membagi-bagikan uang, sembako, dll.

Kenapa rakyat mau money politics, menjual suaranya? Karena menurut rakyat, semua Caleg/Cabup/Cawali/Cagub…semuanya tidak bisa dipercaya. Jadi, daripada memilih seseorang tanpa dapat apa-apa, ya sudah…pilih saja yang sudah memberi sesuatu. Toh siapa pun yang kita pilih, nasib kita begini-begini saja. Begitu pikiran sebagian besar rakyat. Sangat apatis, putus asa.

Apatisme itulah yang berusaha dikikis habis oleh Elnino dan para sahabatnya—kelompok intelektual muda Gorontalo yang terdiri dari para aktifis pemuda, mahasiswa, dosen, wartawan dan PNS. Mereka mencoba membuktikan kepada rakyat, bahwa tidak semua calon tidak bisa dipercaya, bahwa pasti ada di antara calon yang masih memiliki kecerdasan dan nurani. Pasti ada yang masih pantas untuk mengemban kepercayaan orang banyak sesuai kewenangan institusionalnya.

PERJUANGAN NILAI LOKAL

Setahun sebelum Pemilu, April 2008, Elnino bersama puluhan sahabatnya bersepakat untuk memberikan warna lain dalam Pemilu 2009, yaitu dengan melakukan gerakan pencerahan politik hingga ke desa-desa. Targetnya adalah menjadikan para opinion leaders di tingkat desa memahami nilai-nilai demokrasi berdasarkan nilai-nilai luhur Gorontalo.

Nilai-nilai luhur Gorontalo itu sendiri bermuara pada empat nilai utama ; kecerdasan, akhlak, kekeluargaan dan persahabatan. Keempat nilai inilah yang menciptakan Empat Zaman Keemasan Gorontalo—dikenal dalam sejarah daerah tersebut dengan “Ilomata Wopato”—sebelum masuknya penjajah Belanda. (Masa kepemimpinan Ilahudu 1382-1427, Matolodulakiki 1550-1580, Eyato-Popa 1673-1677 dan Botutihe 1728-1755). Empat Zaman dimana para raja/presiden dan pejabat negara Gorontalo Serikat dipilih secara demokratis dengan pertimbangan empat nilai luhur tersebut.

Jadi, seseorang menjadi raja/presiden di Gorontalo dipilih oleh rakyat karena yang bersangkutan adalah orang yang paling cerdas, akhlaknya paling bagus, rasa kekeluargaan dan persahabatannya paling tinggi. Tidak ada pertimbangan uang atau pemberian atau sogokan dalam bentuk apa pun ketika memilih penyelenggara negara! Itulah jati diri orang Gorontalo.

“Sebetulnya nilai-nilai luhur tersebut sifatnya universal. Ada di semua suku. Ada di semua bangsa di dunia ini. Hanya saja, perkembangan zaman belakangan ini yang menjadikan kita di Indonesia semakin melupakan nilai-nilai lokal…yang sebetulnya universal itu, kita semakin materialistik…bahkan ketika negara-negara maju mulai meninggalkan budaya materialistik,” papar Elnino.

Dari desa ke desa, Elnino dkk membawa laptop dan LCD pinjaman. Mereka presentasi menjelaskan tentang nilai-nilai tersebut. Mereka bicara dalam tiga konteks; sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia, perkembangan nasional, dan terutama nilai-nilai lokal tersebut.

“Kami jelaskan bahwa peradaban yang maju seperti Mesir, Yunani, Romawi di jaman lama, serta Amerika, Eropa, Jepang, Korea, China, India di jaman baru, semuanya memiliki budaya yang bersandar pada supremasi intelektual, supremasi ilmu pengetahuan dan bukan supremasi uang atau kekuasaan,” ujarnya.

POLITIK PENCERAHAN

Pada Juni 2008 Elnino didaulat oleh kelompoknya untuk menjadi calon anggota DPD. Non partai. Alasannya ada tiga. Pertama, sebagai tindakan konkrit dalam politik. “Elnino harus menjadi contoh calon legislatif. Dia mesti terikat dengan nilai-nilai yang dikampanyekan. Dia harus memberi teladan, bagaimana menjadi calon. Dia mesti memberi contoh sikap calon yang kalah bila dia kalah atau memberi contoh bagaimana seharusnya wakil rakyat bila dia menang,” papar Ketua Tim Pemenangan, Thariq Modanggu.

Kedua, perjuangan nilai harus ikut masuk ke semua partai politik. “Bila Elnino menjadi calon anggota DPR, maka akan sulit bagi kami untuk masuk ke semua kalangan di Gorontalo karena dibatasi secara psikologis oleh dinding parpol. Karena itu, dia kami calonkan ke DPD-RI dan slogan yang kami pakai untuk menghindari benturan dengan parpol adalah “Apa pun partainya, Elnino DPD-nya”. Itu membuatnya jadi inklusif,” tutur Thariq.

Alasan ketiga, bahwa pencalonan adalah pengabdian. “Tidak ada target kami untuk menang. Kami hanya ingin mengukur sejauh mana efektifitas gerakan pencerahan politik ini. Pencalonan Elnino itu sendiri adalah pengabdian kami. Jadi, kami bergerak tanpa beban sama sekali,” kata Thariq yang juga seorang dosen itu.

Selama 11 bulan, Elnino dkk hanya sempat mendatangi 192 dari total 585 desa yang ada di Gorontalo. Di setiap desa pun Elnino hanya berdiskusi tidak lebih dari 12 orang. “Biasanya di setiap pertemuan atau tiap desa kami hanya mengundang dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh kunci saja ; aparatur desa, guru, imam, tokoh pemuda desa. Biasanya tidak lebih dari dua belas orang saja,” kisah Elnino.

Uniknya, di setiap kesempatan presentasi, Elnino nyaris tak pernah meminta untuk dipilih. Mengapa? “Dua latar kenapa tak minta dipilih. Pertama, alasan yang terdengar klasik, yaitu nabi kita tidak menganjurkan memberi jabatan kepada yang meminta. Kedua, dalam komunikasi pun akan terasa sangat tidak elegan bila kita minta dipilih. Nggak sreg gitu…rasanya kayak pengemis jabatan,” jawab Elnino.

Luar biasa akibat politik yang diperoleh Elnino dan para sahabatnya. Mereka bukan saja memperoleh pemilih atau pendukung di desa-desa yang mereka datangi, tetapi bahkan membuat para tokoh desa secara sukarela dan militan menjadi juru kampanye mereka secara informal. Tak heran bila di antara tokoh-tokoh desa itu ada juga yang sukarela menyumbangkan bantuan logistik untuk kampanye Elnino.

Berbasis kampus serta dibantu oleh para wartawan, ribuan sahabatnya dan tokoh-tokoh desa, Elnino M. Husein Mohi membalikkan asumsi di Gorontalo bahwa politik hanya milik orang berduit. Kini semakin banyak orang-orang muda Gorontalo yang mengkader dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Mereka terorganisir dengan baik dalam organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa. Mereka ingin menjadi Elnino-Elnino baru yang akan mencerdaskan masyarakatnya, bukan hanya di bidang politik, tapi juga di bidang lainnya.

IDE DI DPD

Merasa dipilih melalui jalan yang “benar”, membuat Elnino memiliki beban yang cukup berat untuk membuktikan bahwa masyarakat tidak salah pilih. Hanya saja ia menghadapi kendala besar terkait minimnya wewenang DPD-RI, yakni hanya sekedar mengusulkan ke DPR-RI. Agar tidak mengecewakan konstituen, ia melaporkan seluruh usulannya di DPD-RI ke daerah pemilihannya.

Salah satu konsep penting yang sedang diperjuangkan Elnino adalah mengenai sistem otonomi daerah. “Semestinya struktur pemerintahan daerah di seluruh Indonesia bisa meniru struktur Pemda DKI Jakarta. Lebih produktif untuk membangun bangsa,” tutur Elnino.

Seperti kita ketahui, di Jakarta, hanya gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat. Bupati/walikota ditunjuk oleh gubernur. Hanya ada DPRD Provinsi, tidak ada DPRD Kabupaten/Kota. Artinya, 15 juta penduduk Jakarta ditangani oleh hanya 102 pejabat politik, yaitu gubernur, wakil gubernur dan 100 anggota DPRD Provinsi. “Bandingkan dengan Gorontalo yang penduduknya hanya 1 juta jiwa, ditangani oleh tujuh kepala daerah, tujuh wakil kepala daerah dan 215 anggota DPRD Prov/Kab/Kota. Sangat tidak efisien,” papar Elnino yang pernah menguraikan idenya tersebut beserta berbagai alasannya dalam artikel di Koran Jakarta, detik.com, dll.

Elnino juga melontarkan ide untuk memindahkan ibukota negara ke luar Pulau Jawa. “Jakarta sudah tidak representatif lagi untuk kelancaran urusan pemerintahan, karna kota ini sudah terlanjur menjadi pusat segala-galanya; ekonomi, budaya, ilmu pengetahuan, pemerintahan, dll. Jadi, ada baiknya urusan pemerintahan negara ini dipusatkan di tempat lain. Kalau perlu, ke luar Pulau Jawa untuk membuktikan bahwa bangsa ini benar-benar satu kesatuan, juga bahwa orang Jawa—walaupun mayoritas—tetap rela ibukota pindah ke pulau lain,” paparnya.

Sedangkan mengenai peraturan Pilkada, Elnino mengusulkan agar calon bertahan (incumbent) diharuskan cuti besar di luar tanggungan negara selama 3 bulan sebelum hari pencoblosan. Ini untuk menghindari penggunaan asset maupun aparatur pemerintah daerah dalam kampanye.

Seperti para senator lainnya, Elnino merasa harus berusaha melakukan perubahan konstitusi. Salah satu alasannya adalah kewenangan DPD-RI yang belum seperti idealnya. “Sekarang ini DPD-RI seperti majelis rendah, hanya mengusulkan ke DPR. Mestinya DPD diberi kewenangan yang sama dengan DPR, menetapkan dan mengesahkan undang-undang, walaupun hanya untuk bidang-bidang tertentu,” ungkapnya.

Ide-ide seperti di atas tentu akan mendapatkan tantangan yang berat. Banyak kepentingan yang harus dilanggar bila ide-ide tersebut menjadi kenyataan. “Tapi bagi saya, soal berhasil atau tidak, tidak masalah. Yang penting konstituen tahu bahwa saya serius berpikir dan bekerja untuk bangsa ini. Toh saya tetap meyakini, ide-ide itu akan menjadi nyata, walaupun mungkin harus menunggu 10-15 tahun lagi,” tuturnya.

SENATOR TINGGAL DI ASRAMA MAHASISWA

Lain lagi beban moral yang wajib ditanggung Elnino. Terpilih secara murni, bahkan tak mengeluarkan ongkos yang besar, Elnino menciptakan sistem untuk mengelola seluruh uang yang diperoleh dari DPD agar dapat bermanfaat bagi konstituennya rakyat Gorontalo. “Tidak elok sebetulnya bila digembar-gemborkan soal ini. Tetapi secara garis besar, seluruh pemasukan dari DPD masuk ke Tim-9, dulu adalah Tim Pemenangan Elnino, lalu Tim-9 inilah yang memanfaatkan dana tersebut untuk menggaji Elnino, menyusun program kerakyatan dan melaksanakannya,” beber Thariq Modanggu yang saat ini menjadi Ketua Tim-9 tersebut.

Sejak dilantik 1 Oktober 2009, hingga saat buku ini diterbitkan, Elnino masih menginap di Asrama Mahasiswa Gorontalo, Jl. Salemba Tengah no. 29. Sebetulnya dia sendiri risih dengan kondisi itu. “Soal tinggal di asrama sih saya sudah biasa. Sejak SMA tinggal di asrama, hingga dua tahun lalu juga tinggal di asrama ini waktu kuliah S2 di UI. Tetapi kadang saya risih karena ada saja orang yang menganggap saya sok suci, sok miskin, hehe…,” ungkap pria murah senyum itu.

DARI TUKANG BECAK, INGIN JADI DUBES

Elnino adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Bapaknya, Mustapa Mohi adalah seorang guru, sedangkan ibunya, Hadjari Ismail Lebie adalah seorang perawat. Kehidupan masa kecilnya cukup menderita karena sang ayah meninggal saat kelas tiga SMP dan disusul ibunda ketika SMA. Untungnya, Elnino dianugerahi Tuhan kecerdasan otak luar biasa yang membuatnya mampu melanjutkan pendidikan berkat beasiswa.

“Dari tujuh saudara yang lain, saya paling tinggi sekolahnya. Sejak SMP, SMA Don Bosco Pondok Indah dan SMA Lab School di Jakarta, sampai kuliah di STT Telkom Bandung. Semua biaya sekolah saya dapatkan dari beasiswa yang berasal dari orang-orang Gorontalo yang sukses di Jakarta,” kisahnya.

Di samping beasiswa ia juga harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi di perantauan ia hidup sebatang kara, sehingga harus berjuang sendirian. Saat SMA di Jakarta, Elnino sempat mengamen, menjadi kenek bus kota dan tukang antar koran.

Perjuangan serupa dijalaninya saat menempuh pendidikan tinggi di STT Telkom Bandung, yang juga dibiayai “beasiswa”. “Saya sempat menjadi penarik becak di kampus, karena beasiswa hanya cukup untuk biaya kuliah. STT kan mahal, sekitar Rp 750 ribu per semester sedangkan biaya hidup saya Rp 50 ribu sendiri. Saya berhenti menarik becak setelah semester III karena malu sama adik kelas. Becak saya jual dan mulai usaha sablon,” jelasnya.

Untuk membiayai kuliah, Elnino mengajukan “proposal” kepada orang-orang kaya Gorontalo di Jakarta. Dari merekalah biaya kuliah yang lumayan besar tersebut didapatnya hingga menyelesaikan pendidikan. Memasuki semester VIII, Elnino sudah mulai “kaya” karena memiliki usaha di bidang sablon dan wartel. Sebagai mahasiswa perantauan dengan biaya sendiri, ia mampu membeli motor, TV dan buku-buku referensi.

Beroleh gelar Sarjana Teknik dari STT Telkom (1998), Elnino kembali ke kampung halaman dan bekerja sebagai wartawan. Meskipun mendapat tentangan dari saudara-saudaranya yang menghendakinya menjadi PNS, ia jalan terus. Ia beranggapan profesi wartawan adalah paling terhormat di antara pekerjaan lain.

“Tersinggung saya ketika dibilang sekolah tinggi ‘cuma’ menjadi wartawan. Makanya ketika kakak meminta ijazah saya didaftarkan jadi PNS, tidak saya kasih. Bagi saya, wartawan adalah profesi yang sangat terhormat,” kata Redaktur Eksekutif Radar Gorontalo ini.

Ditanya tentang cita-citanya kedepan, Elnino hanya menjawa pendek sambil tersenyum simpul, “Duta Besar.” Dubes di mana maunya? “Di Spanyol, hehehe. Anak saya akan bisa berbahasa Inggris, Spanyol, Indonesia dan Gorontalo. Saya sendiri bisa menonton pertandingan Real Madrid vs Barcelona setiap hari, gratis pula,” katanya sembari bercanda.

KEINGINAN LUHUR

Menurut Elnino, permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia bersumber dari tidak diamalkannya UUD 1945 secara konsekwen. Di mana dalam Pembukaan UUD’45 termaktub kalimat “Atas berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”. Tanpa keinginan luhur, maka faktor Tuhan menjadi nihil. “Tanpa niatan luhur, korupsi di mana-mana, bahkan terjadi ‘penjajahan’ dari pihak luar negeri. Pelaksanaan sistem otonomi, sistem ketatanegaraan dan undang-undang, semua kacau balau. Dari pusat hingga daerah,” tegasnya.

Dia juga mengimbau, agar orang-orang cerdas, para cerdik-pandai, yang mengkampanyekan moralitas jangan hanya diam di kampus. Mereka tidak boleh hanya berteriak-teriak menyoroti kesalahan sistem tanpa harus terlibat di dalam sistem.

“Jangan hanya menikmati status sebagai intelektual, independen dan hanya menjadi pengamat. Mari rame-rame masuk partai, menjadi anggota DPR, DPRD, atau sekalian mencalonkan diri jadi kepala daerah. Minimal seperti saya, jadi calon anggota DPD. Jangan sampai karena orang baik tidak berminat mengambil alih kekuasaan, maka kekuasaan jatuh ke tangan orang jahat. Tapi… mungkin juga mereka takut kalah dalam pencalonan, padahal pencalonan itu sendiri adalah pengabdian,” ungkapnya.

Elnino kembali mengingatkan bahwa semua peradaban maju karena supremasi ilmu pengetahuan di segala bidang, termasuk dalam politik. Uang hanyalah akibat dari diterapkannya ilmu pengetahuan pada sebuah negara. Dengan mengedepankan supremasi ilmu pengetahuan, bangsa Indonesia tidak akan lagi menjadi bangsa kuli. Bahkan bukan tidak mungkin  melebihi Amerika dan negara adidaya lainnya, mengingat besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini.

BIODATA

Elnino M. Husein Mohi
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Komite I : Bidang Otonomi Daerah, Hubungan Pusat-Daerah, Pemekaran Daerah, Politik Lokal – Pilkada.

TTL : Gorontalo, 30 Oktober 1974
Alamat : Jl. Barito No. 38, BulotadaA Timur, Kota Utara, Kota Gorontalo. Website : www.elnino.web.id.
Orang tua : Mustapa Mohi (alm), Hadjari Ismail Lebie (almh)
Isteri : Umin Kango, S.Pd
Anak : Nun Farida Aryani (6 thn), Alif Lam Mohi (3 thn), Elnino Mustafa Hussein Mohi (1 thn)

PENDIDIKAN:
“Leadership and Language Training”, SILC, University of Arkansas at Fayetteville, USA (2007)
Universitas Indonesia, Program Pascasarjana Manajemen Komunikasi Politik (2007).
STT Telkom, Bandung. Jurusan Teknik dan Manajemen Industri (1998)
SMU Negeri 81 Labschool, Jakarta Timur (1993)
SMP Negeri 6 Gorontalo (1990)
SDN II Ayula, Tapa, Gorontalo (1987)

ORGANISASI:
1.    Ketua Majelis Sinergi Kalam Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (Masika-ICMI) Wilayah Gorontalo.
2.    Perwakilan Yayasan Suharso Monoarfa (Sumo Foundation) untuk Provinsi Gorontalo.
3.    Sekretaris The Presnas Centre. (Himpunan para mantan pejuang pembentukan Provinsi Gorontalo)
4.    Wakil Ketua Aliansi Pengawal Perjuangan Provinsi Gorontalo (AP3G).
5.    Anggota Kehormatan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Gorontalo.
6.    Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Gorontalo (2003-2005)

PEKERJAAN
1.    Redaktur Eksekutif Harian Tribun Gorontalo (sekarang Radar Gorontalo).
2.    Redaktur Harian Gorontalo Post (2001-2002)
3.    Pemimpin Redaksi “Habari Lo Lipu” (media sosialisasi perjuangan pembentukan provinsi Gorontalo, 1999-2001)

BUKU KARYA TULIS
Media Politik vs. Politik Media. (draft, diambil dari intisari thesis S-2)
Abad Besar Gorontalo. 2003. Presnas Publishing. Gorontalo. (Ditulis bersama Alim S. Niode)
Walikota Medi. 2002. Presnas Publishing. Gorontalo.
Juga menjadi kontributor, penyunting atau editor dalam 9 buku lainnya, yakni ; Moodelo (Medi Botutihe, 2006), Mahligai Bertabur Cinta (Zulhelmi Alting, 2005), Menggagas Masa Depan Gorontalo (Funco Tanipu dkk, 2004), Gorontalo Serambi Madinah (Medi Botutihe, 2003), Nani Wartabone (Tim Diknas, 2003),  Negarawan Dari Desa (La Ode Aman, 2003),  Anda dan Pemilu 2004 (KPU Provinsi Gorontalo, 2003), Sang Deklarator (Hardi Nurdin, 2002), Paradigma Baru Industri Pangan Indonesia (Thamrin Djafar, 1999)

PENGHARGAAN DAN BEASISWA
Piagam “Arkansas Ambassador” (Duta Arkansas) dari Gubernur Arkansas, Amerika Serikat (2007)
Piagam “Pejuang Pembentukan Provinsi” dari Gubernur Gorontalo (2001)
Nominator “Man of The Year—2003” versi Harian Gorontalo Post
International Fellowship Program—Ford Foundation, Amerika Serikat (2005-2007)
Beasiswa Yayasan 23 Januari ’42 (1993-1998)
Beasiswa “Program Habibie” dari Pemda Kodya Gorontalo (1990-1993).

Ir. Russel Tambunan, MBA

No Comments

Ir. Russel Tambunan, MBA
PT Agrifish Consultama Investment

Membina dan Mencetak Pengusaha Mandiri

Setiap pengusaha selalu berharap keuntungan besar dari usaha yang dijalaninya. Berbagai cara digunakan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi perusahaan. Kadang, pengusaha bahkan melakukan kegiatan yang digolongkan sebagai pelanggaran hukum demi mewujudkan cita-citanya.

Namun, di antara pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, masih ada pengusaha berhati mulia. Pengusaha seperti ini tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri tetapi juga kesejahteraan bagi orang lain. Salah satunya, Ir. Russel Tambunan, MBA yang berusaha sekuat tenaga mengangkat kehidupan orang-orang di sekitarnya. Dalam salah satu perusahaan net-work marketing yang didirikannya, Ia memiliki 20 ribu orang  marketer yang diharapkan mampu menjadi pengusaha mandiri.

“Menjadi tanggung jawab saya lah untuk membina mereka”. Kepada mereka saya sering mengatakan bahwa untuk menjadi pengusaha mandiri, harus penuh semangat, disiplin, ulet, fokus dan tidak boleh cengeng. Bersama-sama kita mencoba menjadi orang yang benar-benar mandiri, berkembang dan maju. Saat ini saya fokus terhadap pembinaan mereka ini sehingga nantinya mampu membuka usaha baru mandiri,” kata Presiden Direktur PT Agrifish Consultama Investment ini.

Keinginan dan cita-citanya untuk mencetak entrepreneur di Indonesia terinspirasi oleh konglomerat yang melakukan hal serupa. Ia mencontohkan bagaimana Ciputra, Surya Paloh, Sampurna, Lippo atau Abu Rizal Bakrie dengan dana dan kesempatan  yang dimiliki, sebagian diperuntukkan untuk  mengkader dan mencetak pengusaha baru. Terciptanya pengusaha atau entrepreneur baru akan sangat memudahkan membangun Indonesia dan mensejahterakan bangsa.

Apalagi, jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat kecil dan hanya mencapai dua persen dari jumlah penduduk. Idealnya, agar tercipta kesejahteraan yang merata di segala lapisan masyarakat, jumlah pengusaha minimal tujuh persen dari total jumlah penduduk. Kondisi ini jauh berbeda dari Singapura, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Ia berharap, lebih banyak lagi pengusaha baru yang lahir sehingga tercipta kesejahteraan yang diinginkan seluruh lapisan masyarakat.

“Proses pengkaderan harus terus terjadi, sehingga banyak pengusaha baru dan mandiri di seluruh Indonesia”. Dalam membangun Indonesia kita harus memiliki banyak pengusaha sehingga tidak kalah dari negara lain. Yang penting, semua harus bergerak bersama-sama dengan semangat saling percaya dilandasi niat baik. Tetapi niat baik saja tanpa pengetahuan dan keterampilan menjadi mubazir, tidak sampai pada tujuan. Saya berharap, mudah-mudahan di sisa hidup saya, banyak orang terbantu dan menjadi pengusaha-pengusaha muda sehingga saya bisa “merasa puas dan merasa berguna” diakhir karir saya, ungkapnya.

Pria kelahiran Tarutung, 10 Desember 1955 ini mengungkapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada konglomerat yang berperan terhadap kepentingan orang banyak. Apalagi mereka yang mendedikasikan diri bergerak di bidang pendidikan yang merupakan salah satu titik lemah bangsa kita. Sesuatu yang juga dilakukan oleh konglomerat dunia seperti Bill Gates yang telah memberikan begitu banyak dari keuntungan bisnisnya untuk kesejahteraan, kesehatan dan pendidikan bagi penduduk miskin dan terlantar di seluruh dunia. “Saya mungkin tidak bisa mencapai seperti itu tetapi saya berusaha agar apa yang saya lakukan memiliki arti bagi orang banyak,” imbuhnya.

Memperbaiki Diri

Ir. Russel Tambunan, MBA menyelesaikan pendidikan SD-SMP di Sumatera Utara. Sedangkan pendidikan SMA di Tanjung Pinang, Riau. Selepas SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikan di  Sekolah Tinggi  Perikanan (STP) Jakarta.

“Saya lulus tahun 1979 dan langsung bekerja di perusahaan ekspor impor makanan, PT Semarang Cold Storage & Industri, Semarang selama lima tahun. Dari situ saya kemudian kembali ke Jakarta dan bekerja di Djayanti Group – Devisi Perikanan. Karier saya di sini cukup lama hingga mencapai posisi Direktur Utama disalah satu anak perusahaan selama enam tahun. Sebelumnya selama tujuh tahun saya menjabat sebagai Direktur,” ungkapnya.

Tidak hanya dalam karier Russel menonjol. Ia terus berusaha untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya. Tahun 1985, ia kembali ke kampus untuk mengambil Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan di Fakultas Perikanan Unibraw, Malang. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil meraih gelar Insinyur. Tidak puas sampai di situ, ia mengejar gelar MBA di Monash University – Melbourne, Australia yang berhasil diselesaikannya pada tahun 1999.

Dengan kemampuan luar biasa yang dimilikinya, Russel kemudian mendirikan perusahaan sendiri. Sambil terus berkarier sebagai profesional di Djayanti Group, diam-diam ia mendirikan perusahaan sendiri pada tahun 1994. Perusahaan pertama yang didirikannya adalah PT Agrifish Consultama Investment yang bergerak dibidang konsultan manajemen dan investasi. Setahun kemudian, ia mendirikan satu perusahaan lagi yang bergerak di bidang perikanan.

Tangan dinginnya dalam menangani perusahaan membuahkan hasil yang cukup gemilang. Perkembangan perusahaan mengalami kemajuan pesat sehingga tahun 2005, ia mendirikan perusahaan pelayaran. Tidak berhenti di situ, ia kemudian mendirikan PT Bangun Mandiri Wisesa tahun 2008 yang bergerak dibidang perdagangan dan impor – ekspor. Satu tahun kemudian, ia mendirikan PT Tama Sarana Development yang bergerak di bidang jasa konstruksi dan penyewaan alat-alat berat. Perusahaan terakhirnya, yang sekarang sedang dikembangkannya adalah perusahaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Perusahaan ini sangat disenanginya karena banyak berhubungan dengan masyarakat dari golongan bawah yang kemungkinan bisa dikader menjadi pengusaha baru kecil dan menengah sebelun nantinya menjadi pengusaha besar.

“Sebagai pengusaha, saya juga tidak luput menghadapi kendala yang harus diatasi. Salah satunya adalah masalah kelesuan ekonomi yang kadang susah untuk diprediksi, masalah lain juga birokrasi yang menurut saya harus terus ditingkatkan khususnya masalah simplifikasi aturan dan kecepatan sehingga dengan aturan yang simple dan cepat dengan sendirinya menghasilkan efisiensi dan dapat bersaing dengan perusahaan lainnya khususnya perusahaan di luar negeri.  Pemerintah kita bisa saja belajar dari pemerintah Negara maju lainnya agar bisa semakin baik, cepat dan kalau bisa lebih baik dari Negara pesaing kita.  Makanya baik kita sebagai pengusaha maupun pemerintah kita harus terus belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya.

Menurut Russel, dalam memperbaiki diri harus introspeksi dengan tanpa mencari-cari kesalahan orang atau pihak lain. Untuk membangun Indonesia semua pihak harus saling membantu satu sama lain. Apalagi karena sama-sama bertujuan untuk kesejahteraan bangsa sehingga tidak ada gunanya untuk saling menyalahkan. Di sisi lain, ia juga berharap agar pemerintah terus mengadakan penelitian mendalam sehingga dalam mengambil keputusan pemerintah menggunakan data tepat dan terbaru. Pemerintah harus terus menerus menerjunkan tim untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan. Dengan demikian “Peraturan yang dikeluarkan pemerintah tepat sasaran dan langsung mendukung kegiatan pengembangan para pengusaha”. Karena kalau peraturan dibuat kebanyakan berdasarkan teori pengetahuan dan perasaan birokrat saja dan pembuatannya juga terlalu lama,  sehingga begitu keluar selain tidak kena sasaran sudah terlambat dari dinamika kemajuan dilapangan dan akhirnya menjadi kontra produktif.

Kendala lain secara internal dari sisi pengusaha kadang ada miss planning karena sebagai pengusaha saya kadang terlalu menggebu-gebu. Tetapi bagi saya semua itu adalah pelajaran untuk terus memperbaiki diri, karena seorang pengusaha harus terus maju, tidak boleh menyerah dan harus tetap tenang dengan prediksi yang bagus dalam mengambil keputusan,” tambahnya.

Ke depan, Russel berharap agar perusahaan miliknya semakin maju dan berkembang. Bahkan, kalau mungkin berkembang menjadi perusahaan terbaik dan terbesar dibidangnya, dan kalau sempat menjadi perusahaan konglomerat baik local maupun internasional. Setidaknya, ia telah menyampaikan kepada anak-anaknya akan impiannya tersebut. Menjadi tugas anak-anaknya untuk meneruskan dan mewujudkan cita-citanya tersebut.

Saya memiliki 2 anak dari istri saya Ritha Frida SH. Anak saya yang pertama Allen Lawrence Tambunan sekarang masih mahasiswa di Fakultas Teknik Industri, di Swiss German Univercity. Sedangkan anak kedua saya masih kecil, Athina Theresia Tambunan, sekolah di St Pieter International School. Selagi masih muda, saya berharap agar mereka mendengarkan saya untuk meneruskan perusahaan ini. Saya memberikan gambaran tentang kondisi dan ke depannya bagaimana, sehingga langkah mereka semakin mudah dan fokus,” tegasnya.

Belajar dari China

Sebagai pemilik beberapa perusahaan sekaligus, Ir. Russel Tambunan, MBA berpendapat bahwa dunia usaha sekarang tidak bisa terlepas dari pasar bebas dan globalisasi. Pengaruhnya terhadap seluruh sendi kehidupan sangat terasa sehingga diperlukan kearifan dan kejelian dalam menyikapinya. Untuk menyiasatinya, ia menyarankan agar belajar dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang muncul belakangan.

“Kita tidak perlu malu belajar dari perusahaan-perusahaan yang sudah berprestasi dan maju”. Contohnya kita tidak perlu malu belajar dari China, bagaimana mereka mampu memproduksi barang yang menguasai dunia. Sewaktu saya tour ke Eropa dan Amerika, banyak sekali barang kebutuhan rumah tangga, barang fashion dan souvenir adalah buatan China. Oleh karena itu, kita mesti belajar dari China. Selain dari pada China saya juga melihat kemajuan luar biasa dari India. Untuk itu juga kita perlu belajar dari sana, karena memiliki karakter yang serupa. Negara yang berpenduduk banyak tetapi menghasilkan produk bermutu sekaligus murah,” tuturnya.

Menurut Russel, produk China saat ini sudah membanjiri seluruh negara di dunia termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Dengan situasi serupa, India juga telah berubah menjadi kekuatan ekonomi baru menggeser negara produsen yang lain. Karena alasan itulah, ia menyarankan agar Indonesia lebih baik mencontoh kedua negara tersebut dibandingkan Negara Eropa atau Amerika karena bisa lebih cepat dan lebih sesuai dengan karakteristik Indonesia yang berpenduduk banyak.

Hanya pada masalah pendidikan, Russel menyarankan untuk tetap mengacu pada sistem pendidikan Amerika atau Eropa. Kualitas pendidikan di wilayah tersebut masih tetap jauh lebih bermutu dibandingkan di negara-negara Asia. Untuk itu, pemerintah harus berani mengirimkan sebanyak-banyaknya anak-anak bangsa yang pandai untuk menyerap ilmu dari luar negeri. Pemerintah harus mau dan berusaha menyediakan dana besar untuk keperluan ini karena pada akhirnya juga untuk kepentingan dan kemajuan bangsa.

“Intinya pendidikan adalah hal yang penting dan urgen” Karena untuk meningkatkan kualitas manusia di suatu negara, pendidikan adalah hal yang paling utama dan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, pendidikan harus diutamakan, ditingkatkan dan membuka diri untuk pendidikan dari luar negeri. Dengan pendidikan dan pengalaman banyak di luar negeri, manusia Indonesia akan mempunyai pengetahuan dan komparasi yang banyak sehingga bisa memilih yang terbaik,” tandasnya. Beliau memberikan contoh suatu negara yang cukup maju akhir-akhir ini yaitu Malaysia. Malaysia banyak memiliki putra putri yang berpendidikan tinggi di luar negeri. Anak muda Malaisya banyak sekolah di Inggris karena sangat didukung oleh pemerintahnya sekaligus didukung oleh pemerintah Inggris yang merasa ikut betanggung jawab atas kemajuan Negara bekas jajahannya.

Pengusaha yang tertarik untuk terjun ke dunia politik ini, menganjurkan perbaikan pendidikan secara terus memerus dan utama. Pendidikan juga harus memperhatikan pendidikan entrepreneur. Sudah seharusnya pendidikan entrepreneur digalakkan pada setiap tingkatan pendidikan. Ia mengingatkan, secara statistik, entrepreneur di Indonesia baru mencapai 2 persen sementara Singapura sudah 7 persen dari jumlah penduduk.

Tidak diragukan lagi, lanjutnya, dalam membangun sebuah negara semua warga negara harus memiliki pengetahuan yang memadai. Oleh karena itu, ia sangat setuju dengan alokasi dana sebesar 20 persen dari APBN untuk pendidikan. Karena memang, kebutuhan untuk memajukan pendidikan sangat mendesak dilakukan. Diharapkan, ketika semua warga negara terdiri dari orang-orang pintar, maka sangat mudah dalam mengatur dan membangun negara.

“Pendidikan memang memerlukan biaya apalagi untuk bangsa yang besar ini”. Oleh karena itu, salah satu solusinya adalah dengan menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur baru. Saya berharap, pengusaha sukses bisa menciptakan pengusaha-pengusaha baru sebanyak-banyaknya. Dan, selagi ada waktu saya akan terus menerus berusaha untuk menciptakan sebanyak mungkin pengusaha baru yang mandiri dan yang lebih hebat dari saya. Semua saya lakukan untuk kepentingan bersama, membangun bersama dan sukses bersama. Itulah yang akan saya lakukan, mentransfer pengetahuan dalam membangun manusia Indonesia, bangsa dan negara,” kata Ir. Russel Tambunan, MBA.

Motto perusahaan saya adalah: “ Solid – Growth and Worth”, sementara motto pribadinya adalah “ Do My Best, beyond is God Will”

Kus Marindi

No Comments

Kus Marindi
PT Intipratama Groups

Perjuangan mengejar mimpi,

Perjalanan hidup Kus Marindi, pemilik PT Intipratama Group sangat panjang dan berliku, hambatan dan perjuangan yang mewarnai hampir di separuh hidupnya dijalani dengan penuh harapan dan keikhlasan. Kesadaran untuk memperjuangkan nasib dan  kehidupannya telah tumbuh sejak dirinya masih belia. Sekolah, saat itu merupakan pintu gerbang untuk membuka cakrawala hidup baru yang lebih baik.

Dilahirkan sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara, Kus Marindi dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani di sebuah kampung di antara Sungai Bengawan Solo dengan jalan Raya kota Surabaya dan kota Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Rumah tempat dirinya dilahirkan cukup jauh dari jalan beraspal yang ada disekitarnya hanya tambak dan sawah yang terhampar sangat luas. Didaerah tersebut pada masa itu pandangan masyarakat akan pendidikan umum sangat kurang diperhatikan dan lebih cenderung ke Pesantren  (pendidikan agama)

Padahal Bapaknya termasuk orang berpendidikan  pada masanya, sebagai land lord  dan pejabat pamong desa cukup  berpengaruh dikampungnya , setelah behenti bekerja lebih konsentrasi mengelola sawah termasuk tambak dan ladangnya setiap hari hanya bekerja dan bekerja mungkin termasuk kerja maniak sebagai imbalannya secara ekonomi lebih baik  dari tetangganya.
Bahkan masih saya ingat pada saat saya masih kecil banyak sekali orang-orang yang ikut tinggal dirumah, saya pikir mereka tidak digaji hanya ingin menumpang hidup, makan dan tinggal saja.
Maklum masa itu ekonomi sangat sulit.

Tidak heran, setelah lulus dari Sekolah Rakyat S.R. (sekolah Rakyat)  sekarang SD> (Sekolah Dasar) yang tidak jauh dari rumahnya di kampung, saya dilarang melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menegah Pertama (SMP). Karena sekolah tersebut yang paling dekat terletak sekitar sembilan kilometer dari rumah. Orang tua tidak mengizinkan saya melanjutkan sekolah, karena saya diharapkan melanjutkan mengurus sawahnya,” tutur pria kelahiran 13 Maret 1952 ini.
Sebenarnya saya cukup menyadari bahwa Bapak sudah lumayan berumur saat itu karena saat saya dilahirkan umurnya sudah sekitar 40 tahun, maklum termasuk terlambat punya anak tapi begitu lahir anak pertama berturut-turut lahir sampai 7 bersaudara.
Termotivasi oleh kakaknya yang sudah melanjutkan sekolah, Kus Marindi  berusaha dengan segala cara agar mendapatkan kesempatan yang sama. Meskipun terjadi negosiasi  sangat alot, tetapi akhirnya permintaannya untuk bersekolah dikabulkan dengan fasilitas berbeda. Kakaknya sekolah di kota dan indekos karena jarak antara kampung dan sekolahnya cukup jauh sekitar dua puluh kilometer.

Sedangkan Kus Marindi harus menerima untuk sekolah di Sekolah teknik Negeri (STN.) yang terdekat. jaraknya pun terbilang cukup jauh yang harus ditempuhnya dengan sarana transportasi berupa sepeda ‘onthel’. Jalanan yang harus dilewati berupa jalan desa / jalan tanah yang belum diperkeras dengan aspal, sehingga bila musim hujan jadi becek tapi bila musim kemarau seperti layaknya  racing road saja..  Tak jarang sepeda yang seharusnya saya naiki gantian menjadi saya panggul karena tidak mungkin sepeda bisa jalankan.

Kadang terasa sedih sekali, karena di saat anak sebaya saya masih nyenyak tidur dan bermimpi, saya harus berjalan kaki ke sekolah. Selama perjalanan pun, saya tidak memiliki teman dan tanpa bantuan,” ungkapnya.

Perjalanan pulang pun dilaluinya dengan ritme yang sama. Cuaca yang tidak menentu, membuat ia sering salah perkiraan. Akibatnya, seringkali kakinya sakit karena menginjak Lumpur yang telah mongering yang memang  tanpa alas kaki menginjak tanah keras akibat terik sinar matahari. Padahal, ia memperkirakan hari akan turun hujan sehingga tidak menggunakan sepeda. Kus Marindi sering ingin menangis dikarenakan rasa lapar , capek dan panas atau dinginnya hujan hingga baru sampai di rumah rata-rata pukul 16.00.

“Pada masa akhir tahun 1965, saat rame-ramenya peristiwa G30S/PKI masalahnya menjadi lebih runyam. Jalanan menjadi tidak aman bagi orang-orang atau anak-anak yang berjalan di saat petang. Saya tidak mengerti apakah orang tua bisa tidur nyenyak bila saya tidak pulang atau terlambat pulang pada situasi genting seperti itu. Hampir setiap pagi saya jumpai mayat tergeletak di pinggir jalan, di dalam parit, sungai atau di ladang jagung. Memang mengerikan, tapi karena setiap hari saya jalani ya jadi biasa saja tanpa beban apa-apa,” ujarnya.

Menjelang ujian akhir STN., Kus Marindi terserang penyakit typus sangat parah. Ia menjalani perawatan di rumah sakit Lamongan hampir dua bulan lamanya. Bersamaan dengan waktu itu terjadi banjir besar akibat tanggul sungai Bengawan Solo yang jebol sehingga untuk mendapatkan obat untuk saya kakak harus jalan kaki ke Apotik di kota Gresik
Selama saya sakit Bapak hanya bisa mengunjungi saya dirumah sakit  sekali dan baru kali itu saya melihat bapak menangis melihati saya tergelatak sakit tidak berdaya sementara ibu saya tidak sempat sama sekali, saya sudah merasa pesimis tidak dapat menyelesaikan pendidikan STN. Ternyata Tuhan berkehendak lain, ia memberikan kesembuhan dan mampu mengikuti ujian akhir sekolah dengan baik. “Saya sudah berpikir bahwa perjuangan selama ini akan sia-sia.

Pengalaman bersekolah di STN. Yang demikian berat ternyata tidak menyurutkan keinginan untuk melanjutkan kembali walau dengan perjuangan yang tidak kalah beratnya.
Semula saya ingin tinggal bersama Mbah yang memang tinggal di Surabaya sedangkan biayanya akan saya cari sendiri ternyata keinginan saya hanya membuahkan kekecewaan karena mendapat jawaban yang kurang enak didengar, terpaksa cari tempat tinggal bersama orang lain yang gratisan.

Merantau ke Samarinda

Setelah tidak sekolah lagi pada  bulan September tahun 1970, Kus Marindi merasa sudah tidak nyaman lagi untuk hidup dan tinggal dikampung
sedangkan untuk bekerja, ia tidak tahu apa yang bisa dikerjakannya. Kalau pun harus pergi dari kampung halamannya, ia tidak tahu kemana kakinya harus melangkah.
Pada suatu hari ada teman saya bercerita katanya ada temannya yang baru pulang dari Samarinda dan akan balik lagi beberapa hari kemudian. Saya bilang, ingin dikenalkan dengan orang tersebut, karena dari cerita teman saya itu, kayaknya menarik sekali,” ujarnya.

Tidak lama kemudian, Kus Marindi berkenalan dengan tetangga kampungnya yang merantau ke Samarinda tersebut. Setelah berbincang-bincang, ia tahu bahwa orang tersebut menjalankan usaha berjualan rujak (pencok) di Samarinda. Namun, ia berpikir bahwa ada yang salah dari hidup orang yang menurut perkiraannya sudah berumur 50 tahun masih merantau untuk menghidupi keluarga. Tetapi ia tidak berani menanyakan alasannya takut menyinggung perasaan orang tersebut.

Dalam pembicaraan tersebut, keduanya sepakat untuk berangkat bersama-sama ke Samarinda. Tapi Ia merasa aneh karena orang tersebut meminta agar uang ticket naik kapal agar dia yang pegang. Ia memberi tahu bahwa uang tersebut masih menunggu hasil penjualan sepeda miliknya yang selama ini yang setia sebagai sarana transportasi ke sekolah.

Untung Kus Marindi belum menjual sepeda dan menyerahkan uangnya kepada orang tersebut. Karena setelah itu, datang orang bernama Junaidi yang sebelumnya juga tidak dikenalnya datang ke rumahnya untuk memberitahukan bahwa orang yang akan diikuti ke Samarinda akan menipunya. Junaidi yang tahu rencana jahat orang tersebut menawarkan untuk pergi bersamanya saja.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Kus Marindi akhirnya setuju untuk berangkat bersama Junaidi. Sehari menjelang keberangkatan, ia menjual  sepeda di pasar sepeda, Pasar Turi, Surabaya seharga Rp. 9.500,00. Dari hasil penjualan tersebut untuk beli tiket kapal kayu di pelabuhan Kalimas seharga Rp. 4,500.00. Sore itu, keduanya langsung naik ke kapal karena rencananya kapal akan berangkat berlayar subuh berikutnya..

“Naik kapal adalah pengalaman pertama saya. Tidak heran, ketika kapal bergoyang-goyang terkena gelombang besar, kepala saya pusing sampai muntah-muntah. Pengalaman sangat tidak menyenangkan ini diperparah dengan bunyi derit dinding kapal. Seolah-olah kapal yang terbuat dari kayu itu akan terbelah dan pecah di tengah laut. Terpikir di otak saya apakah perjalanan ini akan sampai tujuan ?” kenangnya.

Dalam perjalan berlayar tersebut berkenalan dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang sayur antar pulau asal kota Malang. Pedagang tersebut manyanyai saya tujuan saya ke Samarinda dan saya bilang tidak punya siapa-siapa.
Akirnya menawari megajak saya kembali dan bekerja bersamanya di Malang daripada harus melanjutkan perjalan yang tidak jelas tujuannya.
Tetapi tekat saya sudah bulat ingin pergi jauh dari kampung halaman. Ibu tersebut sangat baik dan menawari untuk tinggal bersama saudaranya yang menetap di Samarinda,” tambahnya.

Tetapi Kus Marindi memilih untuk tetap bersama dengan Junaidi yang memang dari awal sudah bersamanya dan akan mencari tetangganya yang menjadi trasmigran pada tahun 1960 an  yang kabarnya sekarang berjualan palawija di Pasar Pagi Samarinda.
Setelah ketema kami diajak kerumahnya dan ternyata di rumahnya telah  menampung banyak orang-orang satu daerah. Mereka pada umumnya bekerja di sektor non formal seperti berdagang pencok, minyak tanah, sayur mayur, makanan dan lain-lain seperti pada umum pekerjaan orang-orang dari daerah tersebut.

Kus Marindi yang tidak memiliki pengalaman dan sedikit pendidikan, akhirnya bekerja membantu ibu induk semangnya di pasar pagi. Pekerjaan yang dilakukannya adalah mengangkat barang dagangannya, baik milik induk semangnya maupun orang lain. Ia merasa sangat mudah mencari uang di kota itu, karena untuk pekerjaan yang dikerjakan dengan asal-asalan dan mengandalkan tenaga saja upahnya cukup tinggi. “Dalam satu hari, saya bisa mendapatkan uang antara Rp. 5,000.00 sampai Rp. 6.000,00. Bahkan yang sudah pengalaman bisa mendapatkan lebih banyak lagi. Dalam sekejap, saya merasa menjadi jutawan karena setiap hari bisa manabung rata-rata Rp. 5.000,00. Itu lebih tinggi dari harga tiket kapal Surabaya ke Samarinda yang hanya Rp. 4.500,00 per orang,” katanya.
Ekonomi Samarinda saat itu memang sedang booming dikarenakan penebangan hutan yang sedang  marak lyar biasa dengan istilah banjir kap.

Bila mau turun keair mengangkat keranjang-keranjang bekas sayur yang dibuang ke Sungai Mahakam didalamnya pun yakin mendapatkan ikan sepat yang sangat besar dibandingkan dengan yang pernah saya lihat di Jawa.
Pada suatu hari salah satu dari teman yang tinggal bersama kedatangan isterinya dari kampong, mungkin dia sedang tidak punya uang padahal dia perlu duwit untuk keperluan keluarganya, rupanya sasaran pertama yang diincar adalah tabungan saya.
Ia sangat kecewa dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, karena meskipun menghasilkan uang banyak, tetapi merasa bukan itu yang dicarinya jauh-jauh ke Samarinda.

Ia kemudian bekerja di perusahaan yang sedang mencari karyawan untuk pekerjaan survey perminyakan di daerah Sangkulirang, 500 km ke arah utara dari Samarinda. Sejak itu, ia mulai mengenal ganasnya rimba Kalimantan yang masih perawan. Hutan yang dikenalnya di pulau Jawa hanyalah semak-semak, namun hutan di sini sangat lebat sehingga cahaya matahari pun tidak mampu menembus dasar hutan.

“Pengalaman hidup dan bekerja di hutan seperti digigit pacet dan terkena malaria adalah pengalaman yang dialami setiap orang. Bahkan sempat terpikir, apakah saya pernah melihat kampung halaman saya lagi ? Genap satu tahun saya merasa hutan bukan tempat untuk mencari pengalaman yang baik. Saya memutuskan pindah ke Balikpapan dan mencari tetangga yang telah hijrah pada saat saya masih berumur 3 tahun dan tinggal di perumahan Pelabuhan Balikpapan. Saya ikut tinggal bersamanya untuk sementara waktu,” kisahnya.

Awal bekerja di Balikpapan adalah pengalaman paling pahit yang pernah dilaluinya. Ia diajak temannya untuk mengangkat pasir ke truk dengan upah Rp. 500,00 per hari. Kus Marindi hanya mampu bertahan satu hari dan malamnya, malaria kambuh kembali. Yang paling menyedihkan, gajinya yang  Rp. 500,00 itu dipinjam temannya dan tidak pernah dikembalikan.

Hari-hari berikutnya, Kus Marindi bekerja serabutan. Ia membantu temannya menjual gorengan, belajar kerja sebagai tukang las, menjadi penjaga malam dan bermacam-macam pekerjaan tidak tetap lainnya. Baru pada awal Januari 1972, ia kembali mendapat pekerjaan di perusahaan survey perminyakan. Kali ini ditempatkan sebagai tenaga helper atau pembantu pekerjaan kasar di PT  Delta Explorasi.

Walau hanya sebagai helper perasaan saya pekerjaan ini adalah pekerjaan terbaik yang bisa saya dapatkan hingga tahun 1974.
Mungkin karena jenuh dan tidak ada pengalaman baru, saya meminta izin keluar untuk mencari pekerjaan lainnya yang lebih menantang,” tuturnya.

Berbekal ijazah mengetik, Kus Marindi diterima bekerja di perusahaan pelayaran. Di sini, ia merasa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan minatnya meskipun bergaji kecil. Ia sangat menyukai pekerjaan tersebut meskipun ketika terjadi pengurangan karyawan pada tahun 1976, ia adalah orang pertama yang diberhentikan.

“Jadi pengangguran selama kurang lebih 6 bulan akhirnya saya dapat pekerjaan di EMKU yang beroperasi di pelabuhan udara Sepinggan, Balikpapan. Gajinya lebih kecil lagi, tetapi saya merasa sangat senang dengan pekerjaan itu. Walau gaji kecil saya merasa bisa ketemu dengan banyak orang termasuk orang-orang asing yang berhubungan dengan import / export barang keperluan perminyakan,” tegasnya.
Saat orang-orang lain naik pesawat udara masih merupakan mimpi saya sudah keliling Indonesia bahkan keluar Negeri tanpa bayar tiket karena terbang dengan charter flight perusahaan.
Pada masa ini mungkin karena punya dana dan waktu saya ingin kembali menyelesaikan pendidikan saya yang terbegkelai.

Jalan Kesuksesan Terbuka

Kus Marindi menemukan jalan menuju sukses ketika terjadi kebakaran (blowout) di sebuah rig (sumur minyak) milik PT Total Indonesie di daerah Tunu, Samarinda. Kebakaran hebat itu terus berkobar hingga berhari-hari lamanya karena perusahaan tidak memiliki stock material pemadaman api. Untuk memadamkan kebakaran tersebut, material harus didatangkan dari Singapura.

“Saya diundang oleh orang bule dari PT Haliburton Indonesia untuk meng-handle pengiriman material pemadaman api dari Singapura ke Balikpapan menggunakan pesawat terbang. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya tidak punya capital untuk pekerjaan tersebut. Lha, material yang diangkut jumlahnya mencapai sekitar 20 flight, tentu butuh dana besar untuk mebayar charter flight maupun import duty nya. Sementara saya nggak punya apa-apa,” katanya.  Itu terjadi pada tahun 1984.

Rupanya, Allah mulai memberikan jalan hidup yang lebih baik baginya. Sekian lama Kus menjalani kehidupan yang pas-pasan, tiba saatnya membuka cakrawala baru. Si bule, tetap memintanya membuat rincian perhitungan biaya yang diperlukan untuk proyek tersebut. Antara percaya dan tidak, semalam suntuk, tidak tidur  ia menghitung kebutuhan dana dan menuangkannya dalam sebuah proposal.

“Pagi harinya, saya kembali bertemu dengan si bule tersebut dengan rasa pesimis dan tidak tahu apa yang dipikirkan oleh sibule ternyata proposal saya disetujui.  Bahkan dia meminta  untuk segera memulai pengirimannya,” tegasnya.

Proyek perdana ini dikerjakan Kus Marindi selama kurang lebih 10 hari. Selama itu, ia bekerja keras siang malam berangkat pagi pulang pagi untuk memastikan pekerjaan selesai tepat pada waktunya. Hingga akhirnya, semua barang material pemadaman kebakaran rig sampai di Balikpapan dan diserahkan kepada PT Haliburton Indonesia. Meskipun sangat lelah dan capek, ia sangat puas karena klien pertama pada proyek pertamanya juga sangat puas.
Setelah semua clear saat itu saya bisa membeli mobil pertama saya.

Kesuksesan menggarap proyek tersebut, membuka jalan lebih luas bagi perjalanan karier Kus Marindi. Tak berapa lama, ia mendapat telepon dan tawaran kerjasama dari perusahaan jasa kargo, Airmark Group dari Singapura. Perusahaan tersebut menawarkan dirinya untuk menjadi agen di Balikpapan dan sekitarnya. Tawaran tersebut diterimanya dengan ragu tetapi  juga sangat berminat.

“Awalnya dipenuhi perasaan ragu, apakah saya mampu mengelola bisnis sendiri atau tidak. Tetapi menurut saya, ini tantangan menarik yang tidak boleh disia-siakan. Di perusahaan pertama yang saya dirikan bersama adik ipar, adik ipar saya menjadi direktur. Ternyata keberuntungan saya disini, usaha saya maju dan tumbuh dengan sangat baik, berkembang ke usaha peternakan, percetakan dan lain-lain,” ungkapnya. Usahanya terus berkembang dan tahun 1988, ia membentuk  PT Intipratama groups dengan bidang usaha utama berfokus ke logistik. “Meskipun ada juga perusahaan yang tidak berhubungan, tetapi tetap saling mendukung,” imbuhnya.

Kembali terulang saat itu rasa ingin tahu saya, apa yang dpelajari dipendiidikn tinggi terutana saya merasa tidak tahu formalnya ilmu managemen, ternyata apa yang diajarkan sudah saya kerjakan bahkan saya merasa lebih expert dari pada dosennya.

Hampir semua orang berbicara kalau mau bisnis harus ada modal dari pengalaman saya mengatakan untuk berbisnis modal utama adalah kerja keras, jujur, konsisten terhadap tujuan, kalau dipercaya orang lain modal akan ikut mengalir.

Saat ini, kegiatan usaha yang dikelola Kus Marindi dan berjalan dengan sangat baik meliputi SPBU, pabrikasi dengan bendera PT Intipratama Global Teknik, custom clearance, transportasi darat, laut dan udara dan pergudangan dengan PT Intipratama Mulyasantika. Kemudian ada juga Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Intipratama Global Services dan terakhir yang dalam project PT Intipratama Bandar Kariangau, mengelola terminal Cargo / pelabuhan khusus.

“Walaupun ada beberapa usaha yang terpaksa ditutup karena tidak mamadai antara hasil dan kesibukannya. Seperti percetakan, peternakan , supplyer secara keseluruhan semua berjalan dengan sangat sehat dan tanpa / belum ada  pinjaman dari pihak manapun termasuk pihak Bank. Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada Allah Yang Maha Esa. Kau telah memberikan yang terbaik padaku semoga hikmah ini bisa bermanfaat buat keluarga, masyarakat dan negara,” katanya.

Kurnia

No Comments

Kurnia
CV Hazna Indonesia/Shasmira

Membangun Indonesia Menjadi Kiblat Fashion Muslim Dunia

Umat Islam semenjak zaman Nabi Muhammad SAW telah menentukan kiblat untuk shalat, menghadap Kabah. Tetapi seiring perjalanan waktu, terjadi pergeseran kiblat umat Islam. Bukan lagi menuju Kabah, tetapi mengarah ke Bandung, Indonesia. Namun jangan salah sangka, karena kiblat yang mengarah ke Bandung bukan untuk shalat dan ibadah yang lain. Kiblat umat Islam ke Kota Kembang adalah tren fashion busana muslim.

Pencetus tren tersebut adalah CV Hazna Indonesia, produsen segala pernak-pernik busana muslim. Mulai kerudung atau jilbab, baju gamis, kopiah, sarung, sajadah, dan lain-lain. Dengan mempekerjakan, 40 staf, 100 penjahit dan 600 pengrajin, Hazna Indonesia dengan brand Shasmira telah hadir di 55 kota di Indonesia. Bahkan, produk busana muslim Haznah Indonesia telah menjangkau Brunei, Singapura, Malaysia dan Bangladesh.

“Ide awalnya dari istri saya untuk membuat kado spesial berupa kerudung sebagai oleh-oleh sepulang ibadah haji. Ternyata kerudung desain istri saya tersebut sangat disukai. Dan, karena kebetulan istri saya berkerudung kami memutuskan untuk mengembangkan produk ini sebagai sebuah bisnis,” kata Kurnia, pemilik dan pendiri CV Hazna Indonesia/Shasmira.

Saat itu, sebenarnya Kurnia sendiri masih bekerja di perusahaan swasta. Ia mencoba membuat beberapa kerudung dengan desain minimalis yang ternyata sangat disukai konsumen saat dilempar ke pasar. Kerudung minimalis segera saja menjadi tren karena terlihat fashionable dan tidak ketinggalan zaman. Dari situ, ia menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar untuk memasarkan desain kerudung miliknya.

Setelah beberapa lama, timbul keyakinan dalam diri Kurnia bahwa bisnis kerudung cukup menjanjikan. Ia kemudian memutuskan untuk berdiri sendiri dan membawa brand sendiri dengan nama Nisa 59. Menyusul kemudian pada bulan Agustus 2007 secara resmi ia meluncurkan brand Shasmira dengan produk yang lebih variatif sehingga dapat diterima bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya tidak mengenal jilbab sama sekali.

“Saat ini jilbab bukan hanya sekadar untuk syariah, tetapi sudah menjadi fashionable. Sudah merupakan life syle, sehingga tidak sedikit orang yang sebelumnya tidak pakai jilbab tetapi begitu pakai jilbab menjadi lebih modis dan fashionable. Kedua kita harus menyadari bahwa penduduk Indonesia mayoritas muslim, sehingga itu adalah potensi pasar yang luar biasa. Saya perkirakan Indonesia akan menjadi kiblatnya fashion muslim tingkat dunia,” ungkapnya.

Kurnia sebagai seorang pebisnis, melihat bahwa prospek bisnis busana muslim ke depan cukup menjanjikan. Selain karena mayoritas penduduk Indonesia muslim, kesadaran masyarakat untuk memakai jilbab sangat tinggi. Ia mencontohkan bagaimana daerah-daerah seperti Aceh, Padang, dan Jawa Tengah penggunaan kerudung resmi menjadi aturan daerah. Selain itu, dunia hiburan pun ternyata turut mendongkrak popularitas kerudung dengan seringnya ditayangkan sinetron bernuansa religi.

“Oleh karena itu, kita juga melakukan penetrasi pasar dengan menggunakan sistem keagenan dengan empat tingkatan. Ada agen, member, distributor dan house network. Alhamdulilah kita sudah mampu membangun sekitar 600 jaringan distributor di seluruh Indonesia. Termasuk juga Asia, di Hongkong, Nederland, Brunei, Singapura dan Malaysia. Kita memiliki toko berkonsep kerjasama kemitraan dengan investor yang sekarang sudah berjumlah 55 House of Shasmira,” ujarnya.

Quality Control System

Sebagai tren setter busana muslim dunia, Kurnia memiliki berbagai kiat untuk memperteguh eksistensi produknya. Jaringan pemasaran yang luas dan harga produk yang terjangkau adalah salah satu strategi bisnisnya. Meskipun di pasaran juga beredar produk tanpa merek yang beredar di pasar-pasar tradisional.

“Tetapi kalau kita menaikkan harga sesuai dengan kompetitor, kita akan kalah. Makanya ini harus disiasati dengan mencari solusi alternatif dengan harga yang lebih rendah tetapi kualitasnya sama. Biasanya, itu kita lakukan dengan menembus langsung produksi barang tanpa perantara. Jadi langsung pada sumbernya,” tegasnya.

Selain itu, Kurnia juga terus meningkatkan skill dan kemampuan SDM. Tujuannya agar hasil kerja SDM sesuai program dan harapan perusahaan. Caranya melalui berbagai bimbingan dan pelatihan yang secara berkala diberikan perusahaan kepada seluruh SDM. Ia juga menerapkan sistem yang mampu mengontrol seluruh hasil kerja karyawan.

“Kita menambahkan sistem kontrol dari semua pekerja kita dengan menerapkan sistem QC. Jadi setiap barang yang masuk kita kontrol lagi dan barang yang tidak sesuai kita kembalikan untuk diperbaiki. Kenapa, karena kalau diserahkan kepada mereka tanpa kontrol yang ketat, maka kualitas kita nanti menjadi tidak seragam,” sergahnya.

Apalagi, lanjut Kurnia, meskipun pengguna brand di persaingan bisnis baju muslim jarang, tetapi ia harus tetap waspada. Hingga saat ini, jumlah pengusaha busana muslim sekitar 50-100 pengusaha. Sebuah jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan 200 juta penduduk muslim di Indonesia. “Kita harus bersaing dengan produk lokal seperti di Bukittinggi, tetapi kita harus siap untuk go international,” tegasnya.

Menurut Kurnia, yang patut diwaspadai dalam persaingan usaha busana muslim global adalah kemampuan China dalam memproduksi barang. Produsen China mampu membuat barang sesuai dengan pesanan harga yang diinginkan pelanggan. Dari yang paling mahal sampai termurah mereka mampu membuat dengan desain yang cukup bagus.

“Kita memang bisa menyesuaikan diri dengan mengurangi margin keuntungan. Tetapi produk China dengan harga murah ini cukup berdampak pada pemasaran kami untuk menjangkau kalangan menengah bawah. Kalau kalangan menengah ke atas, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menggunakannya, terkait kualitasnya. Sedangkan masyarakat bawah, tidak terlalu peduli yang penting fungsi dan harga. Masalah kekuatan dan kenyamanan nomor dua,” tuturnya.

Ke depan, Kurnia berharap akan melakukan berbagai pengembangan pemasaran. Salah satnya adalah dengan menempatkan satu orang perwakilan Shasmira pada setiap kota di Indonesia. Ia juga ingin setiap orang Indonesia mengenal produk perusahaan dan tidak terbatas hanya sekadar mengenal tetapi juga membeli dan mereferensikan produk Shasmira kepada orang lain.

“Kita ingin Shasmira tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga go international. Target itu kita lakukan dengan terus menerus mengembangkan difersifikasi produk itu sendiri, dengan mengikuti tren yang ada di masyarakat. Karena pergantian mode sangat cepat sekali di masyarakat dan mencapai hitungan per bulan. Konsumen itu raja yang berhak menentukan pilihan sesuai keinginan masing-masing,” tegasnya.

Generasi Berpikir “Bisa”

Kurnia menjelaskan arti harfiah shasmira untuk menamakan brand busana muslim besutannya. Shasmira merupakan nama bunga sangat indah yang berasal dari India. Sementara dalam sejarah Islam, Shasmira juga dikenal sebagai pejuang wanita yang gagah berani sehingga identik dengan wanita. Di zaman sekarang pun, ia mendapati kisah tentang Siti Shasmira yang berjuang demi kemajuan anak-anak bangsa di lokasi terpencil.

“Shasmira juga sebuah nama yang unik sehingga mudah diingat. Jadi kalau orang menyebut shasmira, mereka akan mengasosiasikan dengan baju muslim. Saya juga membangun ini dengan penuh perjuangan, tetapi saya berharap agar perusahaan semakin besar dan memberikan kontribusi bagi pemerintah untuk menanggulangi pengangguran. Harapan saya nanti ke depan, anak-anak bisa melanjutkan dan mengembangkan perusahaan ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Di sisi lain, Kurnia berharap agar pemerintah bisa membantu UMKM seperti usahanya. Bantuan yang sangat diharapkan berupa bantuan permodalan yang sangat berguna bagi perusahaan kecil dan menengah seperti CV Hazna Indonesia dengan persyaratan yang mudah. Ia juga berharap agar pemerintah terjun langsung melakukan pembinaan terhadap pengusaha kecil. Tujuannya agar mereka bisa meningkatkan pengetahuan sehingga perusahaan semakin besar dan menyerap banyak tenaga kerja. Dengan begitu, terjadi hubungan saling membutuhkan satu sama lain antara pemerintah dan dunia usaha.

Kurnia mengingatkan, bahwa angkatan kerja setiap tahun selalu bertambah. Sementara peran pemerintah adalah mengubah pola pikir masyarakat, terutama orang tua untuk mengetuk kesadaran generasi muda agar memiliki jiwa entrepreneur. Yakni bagaimana mereka tidak berpikir mencari kerja di mana setelah lulus kuliah, tetapi bagaimana timbul pemikiran untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

“Itu yang harus digalakkan pemerintah, sehingga apabila semua lulusan perguruan tinggi mampu berusaha sendiri, income per capita meningkat, mengikis pengangguran dan lain-lain. Di sisi lain, pemerintah juga harus memfasilitasi kemitraan antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Setidaknya untuk memperoleh proyek mereka harus membantu pengusaha kecil terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan berwira usaha kepada setiap penduduk. Kalau sudah begitu, saya yakin masyarakat Indonesia akan semakin baik di masa mendatang,” ujarnya.

Kepada generasi muda, Kurnia berpesan agar mereka menanamkan dalam diri masing-masing bahwa untuk mendapatkan penghasilan tidak harus dengan bekerja. Generasi muda mampu menghasilkan pendapatan dengan cara berkarya, yakni menciptakan sebuah karya yang memiliki nilai jual. Generasi muda juga harus memikirkan bagaimana karya yang tercipta memiliki nilai komersial dengan menggandeng orang lain untuk berkolabarosi.

“Itu akan lebih baik daripada selesai kuliah kemudian melayangkan surat lamaran ke mana-mana dan menunggu. Ini misalnya dilakukan oleh Bill Gates yang meng-create sebuah karya dan mencari mitra untuk membesarkan Microsoft. Oleh karena itu, generasi muda harus selalu berpikir bahwa mereka bisa. Karena berpikir bisa akan merangsang kreativitas, inovasi, dan lain-lain. Sementara kalau berpikir tidak bisa akan mematikan potensi yang dimiliki. Makanya berpikirlah bisa. Saya bisa menjadi pengusaha, saya bisa menghasilkan karya yang baik dan sebagainya,” pungkas Kurnia, pemilik CV Hazna Indonesia.

Johan Wang

No Comments

Johan Wang
Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya

Mengalami Keajaiban dan Mukjizat Hidup Diwujudkan pada Miracle Agency

Beberapa kali kejadian ajaib dialami oleh Johan Wang, Direktur Utama PT Jocelyn Anugrah Jaya. Kejadian ajaib tersebut selalu berhubungan dengan keselamatan dirinya sehingga nyawanya berada di ujung tanduk. Salah satunya, ketika masih  kuliah tahun 1999, ia terserempet metromini saat naik motor ke kampus. Celakanya, ia jatuh ke kolong truk kontainer yang sedang melaju. Tak ayal, tubuhnya terseret truk kontainer sejauh sepuluh meter.

Meskipun demikian Johan Wang selamat. Ia “hanya” mengalami patah tulang di hampir sekujur tubuhnya. Setelah tergolek di rumah sakit selama satu tahun lamanya, ia dinyatakan sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Sejak itulah, ia sangat antipati terhadap obat dan dokter. Trauma tersebut terus dibawanya hingga bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga suatu saat, vonis dokter menyatakan dirinya suspect leukemia dan harus menjalani perawatan intensif.

“Ini keajaiban dan mukjizat untuk kali kedua setelah dilindas kontainer. Suami saya dinyatakan menderita leukemia akut saat menjalani pengecekan di Singapura. Peluang untuk sembuh diperkirakan hanya 30 persen kalau tidak segera ditangani. Rumah sakit di sana mengajukan dana Rp1 miliar untuk perawatan suami saya. Tetapi saya bersikeras membawanya pulang ke tanah air,” kata istrinya.

Ia dan suaminya kemudian kembali ke Indonesia untuk menjalani pengobatan herbal. Berbagai macam obat-obatan herbal dari seluruh penjuru nusantara dicoba demi kesembuhan sang suami. Ratusan juta rupiah telah dihabiskan untuk pengobatan yang ternyata tidak membuahkan hasil tersebut.

Bukannya berkurang, leukemia yang diderita Johan Wang semakin parah. Dari hidung dan gusinya terus menerus terjadi pendarahan, sementara di sekujur tubuhnya timbul bercak-bercak besar kemerahan. Ia hanya mampu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa demi kesembuhan suaminya.

“Tuhan memang Maha Baik. Suatu hari, Dia mengirimkan penderita leukemia kronis ke rumah. Orang tersebut menyarankan untuk tetap konsultasi ke dokter sebagai pegangan meskipun menggunakan herbal untuk pengobatan. Kami menurutinya dan mempercayakan pengobatan kepada dokter yang disarankan orang tersebut,” tandasnya.

Johan Wang, kemudian disarankan untuk menjalani kemoterapi di RS Ciptomangunkusumo  oleh dokter tersebut. Satu kali kemoterapi dan menghuni ruang isolasi selama 45 hari tidak menunjukkan hasil maksimal. Mungkin penyebaran sel kanker yang sudah mencapai paru-paru menjadi penyebabnya. Bahkan, sel kanker didiagnosa telah menguasai 90 persen darah yang beredar di tubuh. Dikhawatirkan, apabila sel kanker sudah mencapai otak nyawa Johan  Wang tidak tertolong.

Sekali lagi, Johan Wang harus mengulang proses kemoterapi dan isolasi dari awal. Sang istri hanya diperbolehkan menunggui suaminya dari luar ruangan. Tanpa henti, ia memanjatkan doa untuk kesembuhan Wang sembari mengasuh anaknya yang kala itu belum genap berumur satu tahun. Perlahan namun pasti, tanda-tanda kesembuhan mulai nampak. Setelah satu tahun tergolek di rumah sakit, Johan Wang dinyatakan terbebas dari leukemia.

“Puji Tuhan, ini benar-benar keajaiban dan mukjizat dari-Nya. Kebahagiaan dan rasa syukur tiada tara kami rasakan. Apalagi setelah keluar dari rumah sakit, kita masih mendapat bonus jalan-jalan ke Turki dari Prudential. Semua berkat mukjizat Tuhan, mulai terlindas kontainer sampai sembuh total dari leukemia, tanpa campur tangan Tuhan tidak akan terjadi. Oleh karena itu, saat bulan Januari 2011 membuka perusahaan, kita namakan Miracle Agency,” tuturnya.

Berkat Tuhan pula yang membuat brand Miracle Agency dari perusahaan PT Jocelyn Anugrah Jaya dengan cepat berkembang. Dengan persaudaraan dan pertemanan yang sangat kuat, dalam waktu singkat telah memiliki 1000 agen dengan 110 leader. Bahkan cabang perusahaan pun berdiri tidak hanya di Jakarta, tetapi juga Bangka, Jambi, Sungai Liat, Bandung dan lain-lain. Tidak hanya itu, dari 220 insurance agency di seluruh Indonesia Miracle Agency menduduki peringkat 10 nasional.

Membantu Orang

Awalnya Johan Wang tidak begitu tertarik dengan dunia asuransi. Sebagai perantau dari Jambi dan kuliah di Jakarta, ia indekos di kamar berukuran dua kali tiga meter. Setelah lulus kuliah ia bekerja sebagai staf auditor. Salah satu teman kos Johan bernama Heri, dilihatnya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ternyata Heri adalah agen perusahaan asuransi Prudential.

“Suami saya melalui Heri kemudian bergabung dengan Prudential. Meskipun awalnya ia menyangka MLM, tetapi ia berketetapan hati untuk bergabung dan bekerja sebagai agen asuransi. Ia pun resmi mengundurkan diri dari perusahaan lama –meskipun sempat diiming-imingi kenaikan gaji- tetapi ia sudah bulat keputusan untuk bergabung di Prudential. Di sini ia memiliki misi yang luar biasa, yakni membantu orang menyiapkan masa depan mereka,” kisahnya.

Landasan misi mulia tersebut, lanjutnya, membuat karier Johan Wang dengan cepat meroket. Hanya dalam tempo tujuh tahun, ia sudah menduduki posisi paling atas sebagai agency manager (2008). Hampir setiap tahun perusahaan mengeluarkan bonus untuk Johan Wang berupa jalan-jalan ke luar negeri. Selain itu, penghasilan besar dari asuransi membuatnya mampu membeli rumah, mobil dan lain-lain.

Bahkan, saat dinyatakan suspect leukemia pun penghasilan Johan Wang tidak berkurang. Uplink managernya menjamin bahwa usaha sales asuransi yang dijalankannya tetap berjalan seperti biasa. Bisa dibilang, inilah bisnis yang menjadi pasif income sebenarnya. Karena saat Johan sakit, biaya operasional –seperti cicilan rumah, mobil dan biaya hidup keluarga- sebesar Rp60 juta per bulan tertutupi.

“Jadi saya tidak perlu menjual rumah atau asset lain sama sekali. Apalagi, semua biaya pengobatan suami saya benar-benar ditanggung oleh Prudential. Untungnya, perusahaan memiliki kebijaksanaan apabila nasabah menderita penyakit akut seperti kanker, leukemia dan lain-lain, polis diberikan secara cash. Yang lebih menenangkan lagi, saat suami jatuh sakit teman-teman sudah siap menggalang dana. Tetapi berkat Prudential semua telah terbantu,” kisahnya penuh syukur.

Di saat-saat sedang menderita cobaan hidup seperti itu, Johan Wang dan istrinya menyadari siapa teman dan sahabat sejati. Disamping ada yang dengan sukarela memberikan bantuan materi, ada juga yang mengetahui kondisinya lantas meninggalkan pasangan ini begitu saja. ”Kalau lagi senang, semua teman berdatangan tetapi ketika kita jatuh satu per satu meninggalkan kita. Nah, saat Johan sakit itulah baru kelihatan siapa teman-teman kita,” imbuhnya.

Melalui Miracle Agency, pasangan Johan Wang dan istri, membangun kesuksesan bersama. Mereka tidak hanya berpikir untuk kesuksesan pribadi tetapi juga membuat banyak orang sukses. Dengan berbisnis di agen asuransi Prudential kesempatan untuk memperbaiki kehidupan terbuka lebar. Ia mengisahkan bagaimana banyak anak buahnya yang memiliki keinginan kuat untuk maju berhasil meraih impiannya.

Apalagi dalam menjalankan bisnis agen asuransi Prudential relative tidak memerlukan modal sama sekali. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk maju mencapai impian yang dicita-citakan mencapai kehidupan yang lebih baik. Seorang agen hanya dituntut untuk ulet, memiliki tujuan yang jelas dan siap dengan risiko yang sangat kecil.

“Risikonya hanya menghadapi penolakan dari nasabah, itu saja. Dan penolakan akan tidak menjadi masalah kalau kita memiliki goal dan dream. Saya bilang belum ada bisnis seluar biasa Prudential. Tanpa modal, nilainya ratusan juta, hasilnya juga luar biasa, dengan risiko hanya penolakan. Saya dalam kurun waktu tujuh tahun sudah mampu memperoleh income diatas Rp100 juta per bulan. Padahal modal awal hanya Rp6 ribu untuk materai,” tegasnya.

Risiko Penolakan

PT Jocelyn Anugrah Jaya dibawah Johan Wang sebagai Direktur Utama setelah mencapai ranking 10 besar agen asuransi menetapkan untuk masuk 5 besar dalam beberapa tahun ke depan. Tetap bervisi untuk membantu orang mencapai kehidupan lebih baik, perusahaan mengalami akselerasi kemajuan yang sangat pesat. Beberapa bulan berjalan, perusahaan telah mencatatkan omzet rata-rata Rp1,5 miliar per minggu.

“Saya cuma menerapkan kekeluargaan, kekompakan dan lain-lain. Untuk merangsang sales, kita membuat kontes jalan-jalan, ke Hongkong, Phuket dan lain-lain. Atau angpao bagi mereka yang berhasil mendapatkan tiga nasabah. Yang jelas, karena percepatan usaha kita sangat luar biasa, kami yakin tembus sepuluh besar. Pokoknya tetap mengusung visi meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan menjadi lebih tinggi. Bring miracle for every family yaitu memberikan keajaiban bagi setiap agen dan leader yang bernaung dalam Miracle Agency. Sementara bagi nasabah banyak manfaat yang mereka rasakan dari produk-produk Prudential,” tegasnya.

Untuk mencapai visi tersebut, selain mengadakan kontes dan jalan-jalan perusahaan juga memberikan bantuan berupa training dan pelatihan. Tujuannya untuk membekali para agen agar mereka memiliki skill yang cukup untuk menghadapi tantangan ke depan, menguasai produk yang dijual serta motivasi yang tinggi untuk maju. Ibarat handphone, mereka di-charge untuk menambah stamina sebelum terjun dalam persaingan pasar asuransi yang semakin sengit.

Selain itu, Johan Wong menargetkan untuk membawa perusahaan mencapai lima besar agen asuransi di Indonesia. Karena dengan predikat lima besar berarti akan semakin mudah dalam mencari nasabah. Selain itu, banyaknya produk asuransi dari Prudential yang memenuhi kebutuhan nasabah juga memudahkan tugas agen asuransi. Di sisi lain, manfaat asuransi bagi nasabah juga sangat banyak. Mulai merancang masa pensiun, anak sekolah, sakit parah dan lain-lain dapat tercover asuransi.

“Masyarakat harus tahu bahwa setiap tahun selalu ada penyakit baru yang terdeteksi, karena mutasi penyakit semakin beragam. Nah, nasabah kalau sudah sakit, ujung-ujungnya masuk rumah sakit juga. Kenyataannya banyak orang di rumah sakit yang tidak tertolong gara-gara kesulitan dana. Di situlah pentingnya asuransi, kalau terjadi apa-apa tidak perlu menjual asset yang dengan susah payah dikumpulkan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, secara pekerjaan bekerja sebagai agen asuransi cukup mudah. Bagi agen yunior, untuk mencapai kesuksesan cukup melakukan persis seperti yang dikerjakan oleh para seniornya. Karena para senior telah berpengalaman dan membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya dalam bisnis ini telah menghasilkan limpahan materi bagi keluarga.

Selain itu, bagi generasi muda yang belum memiliki pekerjaan tetap, bekerja di perusahaan asuransi seperti Prudential sangat menjanjikan masa depan. Penghasilan sebagai agen asuransi mampu mencukupi kebutuhan hidup, dengan peluang karier yang terbuka lebar serta kesempatan keliling dunia. Agen asuransi juga mempunyai kesempatan untuk memiliki kebebasan financial tidak terbatas dengan keikutsertaannya pada program perusahaan tempatnya bekerja.

“Untuk yang sudah bekerja di Prudential, saya sarankan agar mereka mengikuti sistem saja untuk sukses. Kunci suksesnya cuma copy paste, mengikuti omongan leader karena mereka sudah membuktikan. Seperti saya bisa beli rumah, mobil dan lain-lain yang merupakan hasil dari pekerjaan sebagai agen asuransi. Apalagi untuk ke depan, market kita masih luar biasa. Karena selama masih ada kehidupan –kelahiran, pertumbuhan penduduk dan lain-lain- asuransi akan terus diperlukan. Sementara tenaga pemasaran asuransi pun masih sangat sedikit, dan yang harus diingat adalah risiko pekerjaan ini hanya sekadar penolakan saja,” katanya.

Profil PT Jocelyn Anugrah Jaya

PT Jocelyn Anugrah Jaya merupakan salah satu kantor manager mandiri (Agency) dari PT Prudential Life Assurance yang didirikan pada tanggal 15 April 2010 oleh Bapak Johan sebagai pemilik sekaligus pemimpin perusahaan dan disyahkan dengan akte notaris Hannywati Gunawan, SH, No 34. Perusahaan bergerak di bidang jasa khususnya asuransi jiwa dan mulai beroperasi pada tanggal 3 Januari 2011, beralamat di gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan.

Perusahaan lebih di kenal dengan brand Miracle Agency untuk mempermudah komunikasi antara pihak Prudential (kantor pusat) dengan agency. Karena setiap agency memiliki kode kantor yang berbeda satu dengan lainnya dan bernaung dalam satuan region.

Miracle Agency di bawah pimpinan Johan Wang telah banyak melahirkan leader – leader yang solid dan berkomitmen dari semua tingkatan jenjang karier. Antara lain Unit Manager (UM), Senior Unit Manager (SUM) dan tingkatan yang paling tinggi yaitu Agency Manager (AM). Untuk sebuah agency baru dengan begitu banyaknya leader merupakan suatu kekuatan group yang besar. Selain di Jakarta, Miracle Agency juga memiliki kantor cabang di Bandung, Jambi, Bangka, Pangkalpinang dan Sungai Liat.

Visi dan misi PT Jocelyn Anugrah Jaya

Visi
Menggapai semua kesuksesan dengan satu tujuan demi keberhasilan perusahaan dalam perkembangannya

Misi
Menjadi agency terbaik dan memiliki suatu komitmen untuk berkembang terus dan melampaui semua pengharapan yang ada

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari misi, Miracle Agency mempunyai landasan sebagai suatu kekuatan dasar berdiri dan berkembangnya perusahaan sebagai berikut:
Semangat untuk menjadi yang terbaik
Organisasi yang memberikan kepada orang lain untuk belajar
Bekerja sebagai suatu keluarga.

Drs. Tarwan , MT

No Comments

Drs. Tarwan , MT
Kepala Sekolah Menengah SMK Penerbangan Dirghantara

Terus Membangun Demi Terwujudnya Target Sekolah Unggulan Tahun 2010

Sebelum berhasil meluluskan siswanya, Sekolah Menengah Kejururuan  Penerbangan Dirghantara ( SMK-PD ) telah memperoleh predikat akreditasi “B”. Dengan predikat tersebut kualitas ataupun persyaratan Sekolah  Menengah Penerbangan di Curug ini diakui pihak yang berwenang. Tentu saja ukuran untuk sekolah baru SMK-PD yang baru berdiri tahun 2005 predikat ini sangat membanggakan.

Pada awal berdirinya SMK-PD ini banyak berkonsultasi/ berhubungan dengan SMKN 29 Jakarta, meliputi sistem kurikulum, sistem pembelajaran, tenaga pengajar kebutuhan laboratorium dan lain-lain. Seiring dengan perjalanan waktu SMK-PD dapat Mandiri, artinya diperkenankan melaksanakan Ujian Nasional sendiri. Padahal diperkirakan sebelumnya Ujian Nasional pertama harus bergabung dengan SMK lain yang sesjenis dan  yang terdekat adalah SMK 29 Jakarta, dan apabila hal itu terjadi memerlukan biaya  tak sedikit yang harus ditanggung oleh para siswanya terutama untuk transportasi.

Bermodalkan predikat akreditasi, dapat membantu sekolah dalam menyampaikan beberapa hal dan kendala yang dihadapi oleh sekolah kepada masyarakat. Dengan kerja keras dan berbagai upaya, akhirnya sedikit demi sedikit fasilitas sekolah dapat dilengkapi. Lulusan pertama SMK-PD adalah 73 orang siswa, sebagian besar sudah diterima dan bekerja di maskapai penerbangan dan sebagian melanjutkan studi. Tidak tahu kenapa anak-anak kami cepat terserap oleh pasar”kata Drs. Tarwan, MT, Kepala Sekolah SMK Penerbangan Dirghantara.

Tidak hanya berhenti disitu, tahun berikutnya bahkan beberapa maskapai penerbangan nasional mendatangi SMK-PD, dengan tujuan  merekrut dan mengikat siswa sebelum mereka “ diambil” oleh perusahaan lain setelah lulus sekolah. Tahun  2009/2010 GMF dapat merekrut 16 siswa, sebagian sedang mengikuti proses rekrut Lion Air. Sementara lulusan umumnya direkrut melalui jalur normal di berbagai maskapai penerbangan, sebagian lainya melanjutkan ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI-Curug), Universitas Nurtanio ( UNUR –Bandung ) dan lainnya.

Kepada siswa yang sudah lulus, Tarwan panggilan akrabnya berpesan agar mereka agar tidak pernah berhenti belajar. Lulus dari SMK bukan berarti tugas anda telah selesai, justeru tugas lebih besar telah menanti didepan kita. Mereka akan menghadapi dunia penerbangan yang sebenarnya, yaitu dunia yang tidak mentolerir kesalahan sedikitpun, yang bisa berakibat fatal.

“Mereka harus terus belajar dan belajar.Tantangan di dunia penerbangan relatif berat, karena teknologi penerbangan selalu berkembang dan akan

terus berkembang . Kami mendidik sesuai   dengan kemampuan yang kami miliki, dan kami akui masih banyak lubang yang kitaenahi. benahi” kata pria kelahiran Purwokerto, 12 Agustus 1948 ini
Tarwan sadar, sebagai lembaga pendidikan  baru, baik secara fisik maupun sofware masih banyak kekurangan. Untuk itu  secara operasional setiap saat sekolah melakukan perbaikan-perbaikan yang dirasakan  mendesak, tidak tanggung-tanggung ia merencanakan menjadi SMK Penerbangan Dirghantara Curug sebagai SMK Penerbangan Unggulan pada tahun 2020.

Saat ini, Tarwan sedang membangun kesamaan visi dari semua unsur yang ada di sekolah. Tidak bosan bosanya ia mensosialisasikan secara terus menerus agar komitmen dari semua unsur dapat terbangun. Karena syarat untuk mencapai target menjadi sekolah unggulan tahun 2020 salah satunya adalah adanya komitmen dari semua unsur, sumber daya uang dan sumber daya lainya.

Sebagai sekolah yang ingin mendapatkan predikat sekolah Unggulan, Tarwan telah membuat suatu program semacam master plan dari tahun 2010 – 2020.
Tahun 2010, berkonsentrasi pada pembangunan prasarana/fisik untuk kesiapan akreditasi ulang, membuka kompetensi keahlian baru ( Instrumen Avionic Pesawat Udara ) untuk meningkatkan kinerja.
Tahun 2011, SMK-PD berkonsentrasi untuk pembenahan administrasi guru, administrasi perkantoran, administrasi pembelajaran, dan juga persiapan administrasi ulang ( 2 ) dengan sasaran mendapatkan predikat “A”
Tahun 2012, SMK-PD konsentrasi pada pelaksanaan akreditasi ulang, pembinaan tenaga kependidikan, peninjauan struktur organisasi guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tahun 2013, SMK-PD kembali konsentrasi pada pembangunan prasarana / fisik lanjutan , pengadaan sarana pendidikan lanjutan dan mengajukan usulan Sekolah Standar Nasional ( SSN )
Tahun 2015, SMK-PD konsentrasi pada implementasi SSN, pemantapan SSN, penerapan ISO, usulan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) , SBI untuk menuju Sekolah Unggulan
Tahun 2020, diharapkan target yang dicanangkan  SMK-PD bisa tercapai  kalau tak ada perubahan kebijakan yang mendasar, menjadi Sekolah Unggulan di Indonesia.

“ Semua itu memang perlu kerja keras dan perjuangan berat. Karena sistem dalam sekolah ini belum satu jalan,  maka masih perlu pembenahan . Sebenarnya untuk mencapai SSN persyaratan  hampir memenuhi, yaitu tinggal kelengkapan peralatan  plus pengajar dengan bahasa inggris hanya  beberapa orang, untuk ISO dengan  syarat tertib administrasi tidak terlalu masalah kalau memang kita ingin komitmen

Komitmen menjalankanya. Kemudian seperti diuraikan diatas setelah SSN, ditingkatkan RSBI yang mensyaratkan guru yang mengajar dengan pengantar bahasa Inggris lebih banyak lagi. Bagi kami hal ini tidak terlalu bermasalah, karena sebagian pengajar kami yang notabene dosen STPI terbiasa mengajar siswa dari negara asing, yakinnya.

Semua rancanan yang disusun Tarwan dimaksudkan untuk membangun SDM penerbangan yang handal dalam menghadapi globalisasi. Disamping membekali ketrampilan teknis, lulusan SMK Penerbangan Dirghantara diharapkan mampu berbahasa Inggris dengan lancar. Rencananya, ia ingin merekrut tenaga pengajar dengan penguasaan bahara Arab. Mengingat sekarang ini di era globalisasi persaingan tenaga kerja sangat ketat dari seluruh penjuru dunia.

“Jadi kalau bisa tidak hanya bahasa Inggris tetapi bahasa asing lainnya juga, karena peluang bidang ini masih sangat terbuka lebar. Kalau kita mampu mencetak lulusan yang qualified di luar negeri masih banyak yang bisa  menampungnya. Dari pada kita mengirim TKI yang non ketrampilan, mendingan mengirim yang begitu kan . Maka saya berangan-angan merekrut lulusan dari Madrasah, kita didik dan kita kirim ke luar negeri, beherja sama dengan Depnaker. Peluang besar di bisnis bidang penerbangan untuk orang-orang kompeten dan punya sikap,”tandasnya.

Jajaran Perintis

Drs. Tarwan, MT, sebelumnya  sebagai salah satu Instruktur Sekolah Tinggggi Indonesia (STPI), pada tahun 1987 ditugaskan sebagai pengajar Mekanika Teknik pada Jurusan Teknik Penerbangan. Ia juga ditugaskan sebagai tenaga fungsional sebagai Pimpinan Instalasi Teknik Umum.

Tahun 1996, Tarwan mendapat kesempatan untuk melanjutkan  pendidikan pada jenjang Magister(S2) di ITB jurusan yang diambilnya sesuai dengan pekerjaan sehari-hari berkutat didunia penerbangan. Magister Teknik  diselesaikan pada tahun 1998, masih tetap mengajar. Kemudian  ditugaskan sebagai Kepala Sup Penyusunan Program kurang lebih selama setahun. Selanjutnya diberikan kesempatan sebagai Kepala Balai Diklat Penerbangan di Palembang( akhir 2000 s/d akhir 2004.

Anak keempat dari empat bersaudara pasangan Sumardi dan Rakyah (almh) kemudian ditugaskan sebagai dosen tetap di STPI dengan pangkat Lektor Kepala. Tugas ini memberinya banyak waktu luang pada sore hari yang dimanfaatkan untuk mengabdi kepada masyarakat. Salah satunya ikut bergabung sebagai  staf pengajar pada SMK  dilingkungan Curug.

Secara resmi SMK Penerbangan Dirghantara berdiri pada tahun 2005 berlokasi  di kompleks STPI Curug. Sejak awal ia ditugasi sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum kemudian merangkap  sebagai Pelaksana Teknis Operasional (PTO) SMK-PD ( 2008-2009). Pekerjaan yang dilakukanya laksana Kepala Sekolah, karena Kepala Sekolah sudah sepuh hanya saja PTO tak berwenang menandatangani surat-surat resmi. Baru pada bulan Maret 2010  Tarwan kemudian diangkat sebagai Kepala Sekolah SMK-PD secara definitif.

“Visi kami para lulusan SMK Penerbangan Dirghantara Curug, handal dibidangnya masing-masing. Visi yang kita usung adalah “ Menyiapkan teknisi handal dibidang Mesin dan Rangka Pesawat Udara, Instrument dan Avionic Pesawat Udara, berdisiplin, bertanggung jawab dan bermartabat, target kami

terutama ingin membina anak didik agar tangguh, kreatif dan bertanggung jawab dilapangan sesuai bidangnya masing-masing”ungkap ayah empat anak hasil pernikahannya dengan Theresia Haryatun ini.

Oleh karena itu SMK Penerbangan Dirghantara dibawah kepemimpinan Tarwan pada pembinaan sikap yang salah satunya adalah disiplin. Sebagai tolok ukur atau tepatnya cermin adalah Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia ( STPI ) Curug Tangerang, walaupun secara umum belum mencapai kondisi yang menyerupai dalam cermin, tetapi upaya menumbuhkan sikap tersebut terus dilakukan, apalagi sebagian adalah dosen STPI.
“Kita mencoba  menekankan sikap disiplin sebagai budaya yang harus dilaksanakan . Disamping itu sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku kami juaga mengupayakan beberapa type mesin sebagai sarana pelatihan. Meskipun  kita hanya beli mesin bekas karena harga mesin baru mahal dan tak terjangkau , karena kita harus memiliki guna memenuhi persyaratan. Karena predikat akreditasi kita baru “B” nanti kita ingin meningkat menjadi “A”. Kita sedang berupaya untuk bisa memiliki pesawat/mesin yang untuk praktek, bisa juga diterbangkan”ujar pemilik motto ‘Semua yang dihadapi dijalani dengan ikhlas’ ini menguraikan harapanya.

Masuk Angkatan Laut.

Awalnya Drs. Tarwan, MT tidak sedikitpun bercita-cita mejadi guru. Sebagai anak petani biasa, lebih tertarik menjadi tentara. Karena pada saat itu masuk AKABRI ( Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ) masih relatif mudah, tak perlu koneksi maupun persyaratan lai, semua berdasarkan atas prestasi dan kemampuan masing-masing secara obyektif.

“Sejak kecil saya ingin masuk Angkatan Laut, itu cita-cita saya karena pakaianya putih rapi dan kalau berbaris bagus. Tetapi orang tua punya pepatah Jawa “ mangan ora mangan anggere kumpul” maka saya mendaftar sekolah yang relatif dekat rumah. Pada saat itu yang sejalan dengan lulusan STM adalah APTN ( Akademi Pendidikan Teknologi Negeri ) yang lulusanya menjadi calon guru STM dan berubah menjadi ATN ( Akademi Teknologi Negeri ) sementara saya sendiri tidak senang menjadi guru. Karena pada saat itu menjadi guru relatif mudah ( untuk mengisi lowongan karena banyak guru tersangkut G.30 SS/PKI ), sehingga bila punya Ijasah setinggkat SLTP, kita ikut kursus beberapa bulan sudah bisa jadi guru ( SR). Jadi saat itu menurut saya profesi guru kurang menantang” tuturnya.

Setelah lulus dari Akademi Teknologi tahun 1974, Tarwan kemudian “merantau” ke Tangerang. Saat itu kota satelit Jakarta ini sedang giat pembangunan pabrik secara besar-besaran. Ia bekerja dibidang pemasangan mesin dan kemudian bekerja pada suatu perusahaan di Tangerang, dengan jabatan Kepala Seksi Maintenance Produksi hingga memiliki anak. Tahun 1978, ia mulai berpikir sesuai dengan karakternya yang tidak bisa berspekulasi, karena bekerja di swasta terasa pasang surut, sehingga kurang tenang, maka mencari peluang untuk menjadi PNS, karena walaupun gaji kecil  tetapi kontinyu.

Tarwan kemudian mencoba mendaftarkan diri ke Departemen Perhubungan yang saat itu membuka lowongan. Ia diterima dan ditempatkan di Curug sebagai Instruktur. Artinya  profesi yang selama ini dihindari dan dianggap kurang menantang akhirnya harus dijalani. Awalnya ia bertugas sebagai seorang Instruktur hanya sebatas  tanggung jawab pekerjaan saja. Namun lambat laun ia sangat menikmati dan enjoy sebagai guru.

“Karena setiap hari mengajar dan merasa enjoy tadi, sekarang bahkan saya ingin menularkan pengetahuan yang saya miliki kepada orang lain . Jadi guru senang bila melihat siswa-siswanya lebih maju menjadi orang yang bermanfaat. Filosofi hidup saya adalah “bekerja apa yang saya bisa kerjakan dengan kesungguhan dan keikhlasan”, kata pria yang tidak suka bawa pekerjaan kerumah ini.

Sebagai pimpinan di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Swasta, Tarwan merasa perhatian pemerintah masih terbatas. Dengan dana APBN 20 persen, perhatian kepada sekolah swasta masih tetap kecil. Ia mengibaratkan masih terasa dianak tirikan  sedangkan sekolah negeri dianak emaskan.

“Ini masih kurang adil, mestinya sekolah swasta agak lebih diperhatikan lagi. Harusnya ada keseimbangan, meskipun sekarang sudah mulai menerima bantuan terkesan sekadarnya saja” kata pria yang terkesan awet muda ini. Ia membocorkan rahasia awet muda yang dimilikinya, yaitu tidak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “ Saya tidak bisa hati saya berdebar-debar. Pokoknya saya bersyukur dengan hidup apa adanya seperti  sekarang ini” imbuhnya.

Mengakhiri pembicaraan, Tarwan berpesan kepada generasi muda agar bersungguh –sungguh dalam mengembangkan bakatnya . Setiap bakat merupakan anugerah Tuhan, apapun bentuknya tidak boleh disia-siakan dan harus ditekuni. Sebisa mungkin orang tua tidak memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan bakat anak” cukup mengarahkan dan menunjangnya.” Yang nantinya malah bisa kontra produktif dan dapat menghancurkan masa depan si anak “ Pokoknya talent atau bakat apapun bagus asalkan ditekuni dengan sungguh-sungguh. Semua harus dilakukan dengan benar-benar dan secara total, yang Insya Allah hasilnya akan optimal” tegasnya.

Sutar, SE, MM

No Comments

Sutar, SE, MM
Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Hidup Penuh Tantangan Menuju Kesuksesan

Setiap orang sadar akan perjuangan dalam hidup. Yakni jalan yang harus ditempuh untuk menuju kesuksesan. Di mana setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapainya. Semua tinggal bagaimana upaya yang dilakukan untuk mencapai keinginan tersebut. Selebihnya, ada kuasa Tuhan yang menentukan sukses tidaknya kehidupan seorang manusia.

“Hidup adalah perjuangan, pekerjaan adalah harapan dan kesuksesan merupakan impian manusia di dunia yang penuh dengan dinamika. Semua manusia mengharapkan kehidupan yang layak, pekerjaan yang mapan serta kesuksesan dalam setiap langkahnya. Tetapi impian tinggal impian. Manusia hanya bisa berharap dan berangan-angan untuk kesuksesan hidup karena Allah SWT telah menentukan jalan hidup setiap manusia,” kata Sutar, SE, MM., Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu.

Nasib setiap manusia, lanjutnya, sudah tertulis dan tersirat dalam garis kehidupan masing-masing. Setiap manusia tinggal menunggu kapan tepatnya waktu kesuksesan berpihak dalam kehidupannya. Dan, pada detik-detik penantian tersebut manusia harus termasuk berusaha untuk menciptakan dan meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Salah satu contoh paling tepat adalah pengalaman hidup Sutar sendiri. Dengan tanpa berhenti berusaha dan bekerja keras, perlahan namun pasti kesuksesan demi kesuksesan diraihnya. Bagaimana tidak, berangkat dari keluarga sederhana dan miskin di kampung halaman, ia berkembang menjadi seorang pendidik yang sukses mengelola tiga buah sekolah.

Perjalanan hidup penuh liku dan perjuangan harus dilalui Sutar sejak kecil. Ia datang ke Jakarta ikut pamannya dengan tujuan melanjutkan sekolah. Di luar jam sekolah, ia membantu pekerjaan sang paman di Yayasan Perguruan Ksatrya. Di yayasan inilah, ia juga menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMK Ksatrya.

“Saya awalnya dari nol, datang ke Jakarta ikut paman untuk melanjutkan sekolah. Pagi membantu paman, setelah itu masuk sekolah dan kemudian membantu paman lagi, ikut bekerja di sini. Saya ketemu dengan pengurus, dan sambil bekerja di sini saya bisa menyelesaikan sekolah sampai jenjang S1 dengan biaya sendiri,” tuturnya.

Pendiri yayasan, Prof. DR. RP Soejono sedikit demi sedikit mulai memberikan kepercayaan kepada Sutar. Salah satunya, adalah dengan memberikan dorongan penuh untuk melanjutkan pendidikan S2-nya. Setelah menyelesaikan studi, tugas besar diberikan pendiri yayasan kepadanya, yaitu memimpin yayasan dengan 1400 siswa di dalamnya.

“Ini amanah yang sangat besar untuk mencerdaskan anak bangsa. Mudah-mudahan apa yang kami kerjakan sampai tahun 2015 dapat berjalan dengan lancar. Semoga program-program yang kami canangkan selama masa kepengurusan kami berjalan dengan baik. Begitu juga dengan rintangan dan halangan semoga mampu kami atasi,” kata pria 35 tahun dengan dua orang anak ini.

Bertahun-tahun berkutat di dunia pendidikan, membuat Sutar merasa memiliki kecocokan. Bahkan, seluruh tantangan yang dihadapi selama menekuninya sudah tumbuh menjadi semacam “roh” dalam hidupnya. Ia berharap dengan terjun di dunia pendidikan mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga mengingat latar belakang kehidupan keluarganya. “Kebetulan keluarga kami sangat sederhana sehingga bisa seperti ini menjadi kebanggaan orang tua. Karena kami betul-betul orang tidak mampu di kampung,” ungkap dosen STIE Pertiwi dan STIE Muhammadiyah Jakarta ini.

Sutar menjawab kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan sekolah serta yayasan yang sangat dicintainya. Di bawah kepemimpinannya, ia berharap yayasan semakin maju dengan fokus utama pada kesejahteraan guru dan karyawan yang lebih baik. ia sadar betul, kesejahteraan merupakan tonggak utama untuk meningkatkan kemajuan sekolah dan Yayasan Perguruan Ksatrya.

“Bagaimana cara agar guru bisa sejahtera, nanti pelan-pelan akan kami upayakan. Mungkin dengan kenaikan gaji. Kami juga memiliki program jangka panjang untuk perbaikan sarana dan prasarana, yang kami bangun dengan jerih payah kami, keluarga besar Yayasan Perguruan Ksatrya- bersama tim kami sehingga terwujud empat lokal kelas yang representative. Mohon doanya, setelah lebaran ini akan terus kami tingkatkan,” ujarnya.

Peningkatan Mutu SDM

Selama dua tahun memegang jabatan sebagai Ketua Yayasan Perguruan Ksatrya, Sutar mencoba membenahi kualitas SDM. Ia memulai dari tenaga guru yang mengajar di tiga sekolah di bawah yayasan, SMP Ksatrya, SMA Ksatrya dan SMK Ksatrya. Setidaknya, para staf pengajar terus ditingkatkan kompetensinya melalui berbagai pelatihan.

“Ini merupakan hal yang utama dari kegiatan yayasan. Dari segi peningkatan mutu SDM, Bapak dan Ibu guru terus kita pacu. Demikian juga sarana dan prasarana sedikit demi sedikit akan berjalan sesuai dengan keinginan kami serta aturan pemerintah,” ujarnya.

Sutar juga melaksanakan hal serupa terhadap anak didik yang akan menempuh pendidikan pada sekolah-sekolah yang dikelola yayasan. Setelah lolos seleksi, siswa baru akan “digojlok” pada saat liburan semester I. Siswa kelas I akan diajak tour ke daerah dalam rangka observasi siswa baru. Kegiatan yang dilakukan selama tour bukanlah perploncoan melainkan mendidik siswa untuk mandiri.

“Kegiatan di sana banyak, baik yang sosial seperti pasar murah, bakti sosial dan pengobatan masal untuk menunjang kehidupan masyarakat di lokasi tersebut. Itu menjadi ciri khas kami yang unik dan belakangan banyak diikuti oleh sekolah lain,” katanya bangga. Ia juga sangat bangga terkait banyak prestasi yang telah diukir oleh sekolah. “Alhamdulilah prestasinya banyak sekali, apalagi kalau dilihat dari pialanya. Karena dari segi ekskul kita tidak terhitung banyaknya,” imbuhnya.

Prestasi yang ditorehkan, lanjutnya, membuat animo masyarakat untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang dikelola yayasan sangat tinggi. Bahkan, SMK Ksatrya terbilang sangat maju sehingga harus “menolak” siswa yang mendaftar. Dengan tiga jurusan yang dimiliki –perkantoran, manajemen bisnis dan akuntansi- banyak siswa yang tidak tertampung. “Itupun, ruangan yang tadinya aula terpaksa dialihfungsikan menjadi kelas,” ujarnya.

Dibantu 150 orang staf dan guru, Sutar terus berusaha meningkatkan kemajuan dan kualitas sekolah. Untuk itu, ia mengembangkan budaya kekeluargaan di antara para guru dan staf di lingkungan yayasan. Semua dilandasi dengan tetap mengedepankan moto, Trisila Ksatrya yakni pendidikan, pengajaran dan kekeluargaan. “Ketiga hal itu kita rangkum seperti ungkapan Jawa, makan tidak makan asal ngumpul,” tambahnya.

Untuk menciptakan situasi kekeluargaan yang kondusif, Sutar sebagai ketua yayasan sering “turun ke bawah” untuk melayani para staf dan guru. Ia tidak menjalin hubungan atasan bawahan, tetapi mengembangkan hubungan antara keluarga sendiri. “Mungkin ada bedanya antara kami saat ngumpul, becanda dan lain-lain. pokoknya secara profesional kami bisa membedakannya,” tuturnya.

Sister School

Sebagai ketua yayasan yang mengelola sekolah swasta, Sutar SE, MM sadar betul besarnya persaingan yang dihadapi. Selain menghadapi sekolah negeri yang mendapat fasilitas lengkap dari pemerintah, ia juga bersaing dengan sekolah swasta lain bertaraf internasional. Untuk itu, ia mengedepankan pelayanan kepada masyarakat sebagai konsumen.

“Karena produk kami jasa, ya kami mengutamakan pelayanan kepada konsumen. Makanya kami melayani dengan baik masyarakat sekitar sini yang berurusan dengan kami. Mungkin mulai dari segi tata usahanya, fasilitas dan lain-lain,” katanya.

Selain itu, demi kemajuan sekolah ia juga mengadakan kerjasama dengan lembaga pendidikan lain. Ia juga menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan di sekitar sekolah untuk kepentingan “magang” siswa atau praktek kerja lapangan (PKL). Uniknya, setelah lulus banyak siswa praktek yang diterima bekerja di perusahaan tempatnya magang.

“Itu salah satu prestasi juga bagi kami. Karena kami terus berusaha meningkatkan mutu sekolah. Salah satunya kami mengadakan program sister school dengan SMK Negeri 14 dan setiap minggu anak-anak mengikuti pelatihan di BLK milik Depnaker,” terangnya.

Menurut Sutar, sister school merupakan semacam pertukaran pelajar antar sekolah. Salah satu manfaatnya adalah menunjang kekurangan sekolah sekaligus melihat perbandingan kualitas pelajar antar sekolah. Ia mencontohkan, sister school dengan SMKN 14 yang berstandar internasional dan ber-ISO, membuat siswa SMK Ksatrya bisa menggunakan fasilitas sekolah tersebut.

“Antusias sekali pertukaran pelajar seperti itu, karena besar manfaatnya bagi sekolah swasta seperti kami. Karena kami semuanya dikerjakan sendiri, dibiayai sendiri dan kalau pun maju, ya kami maju sendiri. Pokoknya bagaimana kami mengolah sekolah swasta agar tidak ketinggalan. Semua itu harus diawali dari diri sendiri,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah juga memberikan perhatian kepada sekolah swasta sehingga tidak terjadi sekolah swasta yang ditutup atau bahkan roboh dimakan usia. Tetapi dengan kerja keras, selama 58 tahun yayasan berhasil mempertahankan sekolah agar tidak gulung tikar. “Kami masih bisa berdiri dengan modal sendiri. Kami membangun tiga lantai dengan dana dari kami sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Kami juga memiliki visi jangka pendek untuk membuat nyaman sekolah ini dengan membangun sarana yang memadai,” tambah ketua yayasan yang membuka pintu selama 24 jam bagi para pengajar ini.

Menyikapi carut marut dunia pendidikan, Sutar menyatakan bahwa dunia pendidikan Indonesia ketinggalan dari negara lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan Malaysia yang dahulu banyak mengirimkan pelajar dan mahasiswa ke Indonesia pun, masih jauh tertinggal. Kondisi sekarang justru terbalik, karena pelajar dan mahasiswa Indonesia banyak yang menuntut ilmu ke negara tersebut.

“Pemerintah sebenarnya tidak tahu persis kondisi di lapangan seperti apa dalam membenahi kualitas pendidikan. Hal tersebut diperparah dengan pejabat-pejabat kita yang menetapkan standar kelulusan yang terlihat sangat dipaksakan. Akibatnya, banyak sekolah di Jakarta banyak tidak siap seperti terlihat pada tingkat kelulusan UN yang sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut semakin parah di daerah-daerah pedalaman seperti Papua, NTT dan lain-lain. Itulah gambaran dunia pendidikan yang diperjuangkan oleh pahlawan tanpa tanda jasa,” kata Sutar, SE, MM.

Profil Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Terutama dalam menyongsong era globalisasi yang penuh dengan persaingan tak terkecuali dalam pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Yayasan Perguruan Ksatrya telah mempersiapkan diri menjadi wadah yang tepat bagi putra-putri kita untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dalam ilmu pengetahuan umum dan dilengkapi ilmu agama sehingga dapat mencetak generasi muda yang berwawasan global serta unggul dalam IPTEK dan IMTAQ.

Yayasan Perguruan Ksatrya merupakan lembaga pendidikan yang didirikan sejak tahun 19Lima Satu oleh Prof. DR. RP Soejono dkk, hingga kini terus mengembangkan sarana dan prasarana pendidikan antara lain dengan membangun gedung tiga lantai dan dua lantai serta dua laboratorium komputer terbaru (P4) dilengkapi sistem jaringan (LAN) dan internet, laboratorium IPA, ruang multimedia, sarana olahraga, perpustakaan serta kegiatan ekstra kurikuler antara lain Paripurna, serba daya, Paskibra, futsal, basket dan lain-lain. Pendidikan agama yang diberikan kepada siswa antara lain baca tulis Al Quran dan sholat berjamaah yang didampingi oleh para guru.

Yayasan Perguruan Ksatrya Lima Satu mengelola tiga sekolah, yakni:

SMA Ksatrya
Memiliki dua jurusan IPA dan IPS serta terakreditasi “A”

Visi
Terwujudnya kehidupan yang religius, cerdas dan bermartabat
Misi
1.    Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianutnya sehingga menjadi lebih arif dalam berperilaku
2.    Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga siswa dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimilikinya
3.    Menumbuhkan rasa percaya diri sehingga siswa berani dan mampu menghadapi tantangan

SMK Ksatrya
Memiliki tiga studi keahlian, Perkantoran, Bisnis Manajemen dan Akuntasi, serta terakreditasi “B”
Visi
Menjadikan SMK Ksatrya sebagai wahana layanan pendidikan yang menghasilkan tamatan yang beriman, bertakwa dan professional, berjiwa wira usaha serta berdaya kompetisi global

Misi
1.    Meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui peningkatan pembelajaran secara efektif dan menyenangkan
2.    Menumbuhkembangkan sikap disiplin dalam belajar
3.    Menumbuhkembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan memiliki tata karma
4.    Menumbuhkembangkan sikap rajin dan konsisten dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianut
5.    Meningkatkan daya saing yang berwawasan kecakapan hidup

SMP Ksatrya
Visi
Unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan iman dan takwa

Misi
1.    Menciptakan generasi muda yang berbakat dan berakhlak mulia
2.    Meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar
3.    Mengembangkan potensi siswa yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan

Fasilitas dan Sarana Pendidikan
1.    Sarana praktek ibadah (mushola)
2.    Gedung sekolah tiga lantai milik sendiri
3.    Lapangan dan fasiltias olahraga yang lengkap
4.    Staf pengajar yang profesional di bidangnya
5.    Perpustakaan
6.    Laboratorium komputer terbaru (P4) dan full AC serta dilengkapi dengan LAN dan internet
7.    Laboratorium bahasa
8.    Tempat parkir luas
9.    Koperasi
10.    Kantin