Tag: satu

Daniel Santosa

Daniel Santosa
Direktur Utama PT Primaland Development
Arsitek Yang Berkembang Menjadi Developer
Bidang Arsitektur tidak hanya urusan gambar mengambar dan design dari sebuah bangunan. Tetapi bisa mencakup bidang yang lebih luas lagi. Seseorang lulusan sekolah Jurusan Arsitektur tidak harus menjadi seorang Arsitek, tetapi ia bisa mempraktekan ilmunya ke bidang-bidang lain, seperti misalnya bekerja di bidang interior, kontraktor bangunan, supplier bahan bangunan, konsultan lighting, agen property, exhibition, constuction management dan lain lain, bahkan menjadi seorang developer sekalipun.
Hal ini yang dialami oleh sosok Daniel Santosa, Direktur Utama PT Primaland Development, lulusan dari Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara, Jakarta dan University of New South Wales, Sydney.
“Setelah lulus kuliah S1 tahun 1990, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan arsitektur di Jakarta. Setahun kemudian saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke level yang lebih tinggi. Meski dengan biaya sendiri tanpa mengandalkan orang tua, saya bertekad untuk melanjutkan sekolah lagi ke University of New South Wales, Australia, mengambil jurusan Building Design. Disana saya bekerja sembari kuliah. Bahkan bekerja sebagai kitchen hand atau  pencuci piring di sebuah restaurant pun pernah saya lakoni demi mengejar cita cita sejak kecil untuk bisa lulus dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri,” kata penerima penghargaan sebagai salah satu pengembang terbaik 2010 versi International Business and Company Award ini.
Setelah kuliah selesai pada tahun 1992, Daniel mencoba untuk bekerja di Australia, tetapi karena pada saat itu sedang terjadi resesi ekonomi disana, sehingga mencari pekerjaan sebagai seorang arsitek merupakan hal yang cukup sulit, apalagi untuk pendatang seperti dia. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dengan bakat menggambar yang ada, ia mencoba untuk mendirikan usaha dibidang Consultan Design, dibantu seorang teman dan 2 orang pegawai dengan menumpang tempat di sebuah rumah kontrakan.  Karena hubungan antara design dan konstruksi sangat erat, maka sejalan dengan waktu bidang konstruksi pembangunan juga ditekuninya. Beberapa proyek berhasil diselesaikannya.
Dalam perkembangannya, setelah mengalami jatuh bangun akibat krisis moneter dan sebagainya, pada tahun 2000 dengan menggunakan uang tabungan yang ada, Daniel mencoba untuk membeli beberapa kavling tanah, mengingat pada waktu itu setelah krisis banyak dijual tanah yang cukup murah . Beberapa tahun kemudian setelah keadaan ekonomi membaik, kavling-kavling tanah tersebut mulai dibangun dan berhasil dipasarkan. Semua dikerjakan secara in house, mulai dari design, konstruksi sampai pemasarannya. Sampai saat ini sudah ratusan unit bangunan yang berhasil dipasarkan, tidak terbatas pada rumah tinggal, tetapi juga rumah kantor atau ruko, pergudangan dan perkantoran.
Saat ini di bawah bendera Primaland Development, ia sedang memasarkan sebuah kawasan bisnis yang dinamakan Kapuk Business Park, berlokasi di daerah strategis jalan Kapuk Raya. Kapuk Busines Park adalah sebuah kawasan yang unik, merupakan perpaduan antara perkantoran, pergudangan sekaligus nyaman jika digunakan untuk tempat tinggal. Menurutnya kawasan seperti ini sangat dibutuhkan di Jakarta dan demandnya cukup tinggi. Didasari dengan pemikiran akan kemacetan kota Jakarta yang setiap hari semakin parah tanpa ada solusi yang berarti dari pemerintah, orang akan semakin berpikir realistis dan efisien, mereka membutuhkan suatu tempat tinggal, tempat bekerja dan tempat menyimpan barang yang saling berdekatan, bahkan bila memungkinkan di satu tempat sekaligus tanpa terganggu kemacetan. Maka Kapuk Business Park merupakan salah satu solusi kawasan dengan konsep 3 in 1 yang mengakomodasi pemikiran di atas. Bahkan kawasan ini juga sangat strategis untuk jalur distribusi barang. Akses ke Bandara hanya di tempuh dalam beberapa menit, juga ada akses tol langsung menuju ke arah pelabuhan. Tepatnya dari dan menuju seluruh penjuru Jakarta ada akses tol langsung dari arah kawasan ini.
Menurut Daniel, yang membedakan kawasan ini dengan kawasan serupa, selain dari lokasi adalah penataan lingkungan, design dan fasilitasnya. Diakuinya memang harga di kawasan ini tergolong tidak murah, tetapi dari harga yang dibayarkan konsumen itu mereka mendapatkan sesuatu yang berbeda dari kawasan lain, baik dari segi kualitas bangunan, kualitas infrastructure, fasilitas, keamanan dan costumize design. Mereka akan merasa nyaman untuk bekerja dan merasa aman untuk menyimpan barang.
“Sebagai seorang arsitek, saya merasa lebih puas jika produk yang saya pasarkan adalah rancangan saya sendiri. Selain dari design unit-unit saya kerjakan sendiri dengan bantuan beberapa drafter, masterplan maupun infrastructure juga dikerjakan secara inhouse. Diluar itu, untuk lebih memuaskan konsumen, kami juga melayani konsumen yang unitnya ingin dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan mereka.” Kemudian lanjutnya, ”Gambar yang kita design dan tawarkan ke konsumen seperti gambar gambar di brosur dsb, ya seperti itulah jadinya bangunan dan fasilitas yang mereka dapatkan. Kita selalu commit dengan apa yang kita tawarkan.”
Transparan dan Konsekuen
Menurut Daniel Santosa, perusahaan yang didirikannya belum tergolong perusahaan besar dalam bidang property, namun perusahaan yang sedang dan masih berkembang. Sebelum memulai mengembangkan suatu kawasan, hal hal yang biasa ia lakukan adalah membuat perhitungan yang matang atau feasibility study,  survey dengan melihat kebutuhan dan tingkah laku pasar secara jeli, memberikan kualitas  bangunan yang baik dan fasilitas  yang disediakan juga faktor tidak kalah penting, disamping tentunya faktor lokasi yang strategis dan kelengkapan surat surat. Hal ini akan sangat menentukan produk kita akan diminati konsumen dan mampu bersaing dengan pengembang lain. Selain itu kita sebagai pengembang juga dituntut harus jujur, transparan dan memegang komitmen.
Dengan perpegang pada hal-hal di atas, terbukti kami selama ini tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam memasarkan produk kami, meskipun kami belum mempunyai nama besar sebagai pengembang.
Belajar dan Menekuni Pekerjaan
Untuk saat ini yang sedang Daniel kerjakan adalah berkonsentrasi terhadap proyek proyek yang sedang berjalan supaya dapat terealisasi dengan baik dan tepat waktu. Sehingga komitmen terhadap konsumen dapat benar benar terwujud
Untuk ke depannya Daniel berharap perusahaannya untuk terus berkembang dengan skala yang lebih besar. Menurutnya semuanya harus melalui sebuah proses, tahap demi tahap, tidak ada yang instant, semuanya ia anggap sebagai proses pembelajaran. Karena mengingat dahulu ia memulai dari nol, hal ini  tentunya bisa terwujud jika didukung kondisi ekonomi tanah air yang terus membaik, sehingga daya beli masyarakat juga terus meningkat.
”Siapa sih yang tak ingin perusahaannya menjadi besar? Yang sudah kami lakukan dan akan terus kami lakukan adalah kerja keras,  jika saya sekarang bisa lebih maju dari waktu waktu sebelumnya  menurut saya itu adalah hasil dari proses belajar dan kerja keras, semua itu saya anggap sebagai suatu anugerah dari Tuhan, karena saya diberi kesempatan untuk belajar dan menjalankan pekerjaan ini, saya selalu bersyukur untuk segala sesuatunya…,”tuturnya.
Pengalaman yang ingin disampaikan untuk generasi muda yang baru mulai bekerja. Seperti yang pernah dialami dirinya, “Setelah lulus kuliah saya bingung dihadapkan dengan berbagai pilihan, apakah membuka usaha sendiri, atau berkarier di sebuah perusahaan. Menurut saya yang terpenting kita harus mencari pengalaman sebanyak banyaknya. Belajarlah dari pengalaman pengalaman itu, manfaatkan peluang dan kesempatan. We have to trust our feeling, taking chances, appreciating and learning from the past, to achieve a better future. Saya rasa setiap orang mempunyai kesempatan, tetapi mungkin timingnya berbeda. Kita harus selalu optimis, bersungguh sungguh dalam bekerja, jujur, pandai memanfaatkan kesempatan dan selalu berserah dalam doa”.
“Untuk mereka yang sudah berhasil dalam berusaha, supaya tidak lupa, bahwa keberhasilan yang telah kita capai selain hasil dari kerja keras, adalah kemurahan dan berkat dari Tuhan, hendaknya kita juga selalu bisa menjadi saluran berkat buat orang di sekeliling kita”, demikian katanya menutup pembicaraan.

Deddy Herfiandi

Deddy Herfiandi
Direktur PT Ratu Oceania Raya

Bekerja di Cruise Line Mendidik Profesionalisme

Dalam dunia kerja, setiap SDM dituntut untuk bekerja secara profesional. Manajemen yang mempekerjakannya, sangat menghargai seorang SDM yang bekerja berdasarkan aturan standar yang sudah ditentukan. Seorang pekerja akan dihargai sesuai dengan profesionalitasnya dalam melakukan tugas. Semakin profesional, pekerja tersebut memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang memadai.

Salah satu pekerjaan yang menawarkan pendapatan memadai berdasarkan profesionalisme adalah menjadi awak kapal pada industri cruise line atau kapal pesiar. Meskipun industri kapal pesiar banyak terdapat di perairan Karibia, Eropa dan sedikit di Singapura, tetapi menawarkan kesempatan kerja yang sangat terbuka bagi tenaga kerja terlatih dari seluruh dunia. Termasuk juga tenaga kerja dari Indonesia yang memiliki kualifikasi tertentu.

“Yang mungkin perlu kita berikan adalah informasi yang benar kepada masyarakat. Bahwa alternatif untuk generasi muda dalam mencari penghasilan lebih, pengalaman, kualifikasi, profesionalisme mereka, cruise line industry cukup bagus. Karena di samping dapat kerja dan gaji dengan dolar, juga dapat pengalaman luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan di tempat lain,” kata Deddy Herfiandi, Direktur PT Ratu Oceania Raya.

Menurut Deddy, dibandingkan pekerjaan sejenis di darat -seperti di hotel-hotel- kapal pesiar masih memiliki nilai lebih. Sesibuk-sibuknya bekerja di hotel, masih tidak sebanding dengan kesibukan kerja di kapal pesiar. Gaji yang ditawarkan pun masih tetap lebih baik dengan pekerjaan lain. Bekerja di kapal pesiar, merupakan ajang untuk mendidik generasi muda menjadi profesional. Selain berurusan dengan manajemen, seorang pekerja juga berkesempatan untuk memiliki pengalaman dan belajar mengenal budaya bangsa lain.

Bagi pekerja perempuan pun, Deddy menjamin kapal pesiar merupakan tempat paling aman dari sexual harassment. Bahkan dibandingkan dengan pekerjaan yang sama di hotel berintang di darat, kapal pesiar tetap lebih unggul. Hal ini terkait dengan perjanjian ekstra ketat yang diterapkan manajemen dalam menjamin hak-hak perempuan di kapal.

“Suitan atau tatapan mata yang dianggap menggangu, bisa mengakibatkan seseorang diturunkan dari kapal. Jadi sangat aman bagi perempuan untuk bekerja di kapal pesiar, tanpa harus takut mengalami pelecehan seksual. Pokoknya bekerja di kapal pesiar menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Kita lebih memahami bangsa lain dan kebiasaan sehari-hari mereka karena bisa saja, teman sekamar datang dari mana saja. It’s a good society, kumpulan orang-orang yang bekerja bareng satu kepentingan, tetapi bisa share knowledge dan lain-lain,” imbuhnya.

Deddy menjamin, dibandingkan pekerjaan lain di darat, bekerja di kapal pesiar masih tetap lebih unggul. Meskipun kapal berlayar di tengah laut, fasilitas yang dimiliki sangat memadai mulai rumah sakit hingga tempat ibadah. “Ibadah juga dihormati meskipun dianggap sebagai kebutuhan personal seperti anggapan dunia barat umumnya. Makanya, kita sendiri yang mengatur kapan waktu untuk salat. Memang tidak bisa seperti di darat, tetapi waktu untuk ibadah bisa kita atur sendiri,” tandasnya.

Jemput Bola

Setelah dua tahun menempati kantor baru, PT Ratu Oceania Raya yang dinakhodai oleh Deddy Herfiandi semakin maju. Dari tiga karyawan berkembang menjadi 16 orang karyawan dan memiliki kantor representative di Bali dengan 10 orang karyawan. Selain itu, banyak permintaan untuk menambah kantor representative di beberapa kota lain.

“Tetapi itu akan membuat beban menjadi lebih berat. Makanya saya hanya mempunyai perwakilan di Bali untuk Indonesia Timur dan Jakarta untuk daerah lainnya. Kita juga mempekerjakan expatriate yang kita tempatkan di Bali. Cita-cita saya bahwa suatu hari nanti kami bisa membuat kantor representative di Medan dan Makassar,” ungkapnya.

Alasannya, pada kedua kota tersebut memiliki sekolah pariwisata yang cukup bagus, STP Medan dan Makassar. Hal ini mengingat kebanyakan tenaga kerja  yang dibutuhkan untuk kapal pesiar banyak dipasok oleh sekolah perhotelan dan pariwisata. Apalagi, permintaan tenaga kerja untuk kapal pesiar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk saat ini, setiap tahun Deddy mampu memenuhi permintaan 800 tenaga kerja per tahun.

“Saya berharap, mulai tahun depan mampu menyuplai 1000 orang tenaga kerja per tahun. Karena kita juga membuka kerjasama dengan perusahaan lain, kalau dulu hanya dengan Royal dan Celebrity, sekarang kami berafiliasi bisnis dengan Disney Cruise Line, Apollo Ship Chandlers, Seabourn Flat Services dan ISPL. Yang menjadi andalan adalah empat perusahaan kapal pesiar ini –Royal Karibian, Disney, Celebrity dan Apollo- yang bisa kita harapkan akan meningkatkan jumlah crew dari Indonesia,” tuturnya.

Selain kerjasama dengan STP Medan dan STP Makassar, perusahaan milik Deddy menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan lain seperti Trisakti, NHI, SPB Bali. Bahkan perusahaan sudah membuat Culinary Program di Trisakti dan institusi pendidikan yang lain. “Saat ini kita sedang melakukan policy baru dengan sistem jemput bola. Artinya, kebutuhan tenaga kerja banyak tetapi yang melamar tidak sesuai kebutuhan,” ungkapnya.

Meskipun telah memasang iklan di mana-mana, kebutuhan tetap belum teratasi. Deddy akhirnya menjawab kebutuhan tersebut dengan mencetak tenaga kerja sendiri. Saat ini, perusahaan secara intensif bekerja sama dengan sekolah kuliner untuk cook, kursus bahasa Inggris dan kursus kapal pesiar untuk kuliner. “Jadi kita menampung lulusan yang sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kalau nunggu ya nggak jadi-jadi, saking banyaknya, sehingga kita menjemput bola atau mencetak sendiri tenaga yang kita butuhkan,” tuturnya.

Dari Hotel ke Hotel

Deddy Herfiandi lahir di Cimahi, Bandung 14 Maret 1959, orangtua Deddy bekerja di Kesdam (Kesehatan Kodam) dan berdinas di RS Dustira Cimahi. Deddy menempuh pendidikan di Akademi Perhotelan Bandung dan lulus pada tahun 1977. Dua tahun kemudian ia pergi merantau ke Jakarta dan bekerja di Hotel Borobudur. “Belum setahun bekerja saya pindah ke Hilton Hotel. Karena Hilton is the best hotels in town, waktu itu tahun 80-an,” kisahnya mengenang.

Waktu itu, kisahnya, ia bekerja di fine dinning room Taman Sari Hotel Hilton selama 8 tahun. Deddy memulai pekerjaannya merangkak dari bawah, yakni bekerja posisi dari busboy –sebagai entry position. Deddy bertahan selama delapan tahun dan mencapai posisi puncak sebagai Restaurant Manager. Ia merupakan Restaurant Manager ke-4 di Taman Sari sepanjang sejarah berdirinya Hilton Hotel.

Deddy mengembangkan karirnya dan bekerja di kapal pesiar, Holland American Lines, yang berkantor pusat di Seattle, Woshington DC. Dari situ ia bertemu banyak orang, teman dan kenalan, yang memberinya kesempatan untuk melanjutkan sekolah di Michigan pada jurusan Manajemen Perhotelan. Di sana, ia menghabiskan waktu selama delapan tahun.

“Kemudian tahun 1995, saya pulang ke tanah air dan bergabung dengan Daichi Hotel. Kebetulan disana sedang membutuhkan Restoran Manager untuk French Restoran. Ini juga merupakan spesialisasi saya, karena kebetulan waktu itu, chef khusus makanan Eropa dengan Perancis sebagai spesialisasinya. Namanya Ton el Restaurant selama  kurang lebih setahun,” ungkapnya.

Deddy kemudian diajak oleh salah seorang temannya untuk mengelola restoran Imperial Karawachi. Setelah lima bulan, ia kemudian pindah kerja di Hotel Sheraton Bandara. Di situ, ia berperan menjadi pre opening team yang membantu menyiapkan konsep restoran yang sesuai dengan kualifikasi hotel bintang lima. Ia membantu Food and Beverage Manager –bernama Mr. Frank Beck- menyiapkan restoran di hotel tersebut. Ia mengakhiri karir sebagai Food and Beverage Manager selama lima tahun dan ‘mentok’ pada posisi ini. “Karena nggak mungkin menggantikan GM di situ yang pasti orang luar, Jerman atau Austria. Tetapi, itu pas dengan kemampuan dan kualifikasi saya untuk fine dinning room bukan pada restoran kecil,” tuturnya.

Lepas dari Sheraton Bandara, Deddy diajak teman-temannya dari Holland American Lines yang lebih dahulu bikin perusahaan yang namanya CTI. Perusahaan itu  merupakan perwakilan dari Carnival, Renaissance, Apollo dan lain-lain, yang membutuhkan manager dan training spesialis. Selama dua tahun ia menekuni posisi ini sebelum bergabung dengan PT Mekar Jaya, sebuah perusahaan PJTKI yang didirikan oleh Bapak Soedjangi, pensiunan pejabat Depnaker pada tahun 2002.

Saat di Mekar Jaya, lanjutnya, kebetulan ia mendapat kepercayaan sebagai perwakilan dari Celebrity Cruises yang berpusat di Miami. Empat tahun kemudian pada April  2007, Celebrity Cruises diakuisisi oleh RCCL dengan agen yang sangat solid dan establish, yakni Barber. Akhirnya hampir semua lines beralih ke agen lain, sehingga tinggal Deddy sendiri yang mengelola beberapa cruiser lines. “Kecuali Celebrity Cruises dan Royal Caribbean,   saya tinggal Regal Empress, Texas Treasure dan Caribbean Empress yang saya pegang,” ujarnya.

Dengan meninggalnya pendiri Mekar Jaya, Deddy membuat keputusan  untuk mendirikan perusahaan sendiri. Setelah seluruh surat-surat yang diperlukan terpenuhi, akhirnya pada tanggal 1 Oktober 2007, berdirilah PT Ratu Oceania Raya di Bintaro. “Yang terjadi kemudian adalah perusahaan-perusahaan yang dulu bekerja sama pada perusahaan lama, akhirnya kembali kepada saya. Seperti Royal Caribbean, Celebrity. Ditambah Club Cruise Nederland dan Regal Empress,” lanjutnya.

Tidak Ada Boss

Dalam mengelola perusahaan, suami Wiwin Winarsih ini menggunakan sistem kekeluargaan. Bahkan, orang-orang yang bekerja di PT Ratu Oceania Raya tidak memiliki bos atau atasan. Lebih ekstrim lagi di perusahaan pengerah tenaga kerja khusus kapal pesiar ini tidak menerapkan hierarki. Semua dianggap teman yang bahu membahu bekerja membesarkan perusahaan untuk kepentingan bersama.

“Di Ratu tidak ada bos dan hierarki, yang ada hanya teman. Kita hilangkan jenjang antara bawahan dan atasan. Meskipun seorang OB kita anggap kayak teman saja, dalam bersikap kita juga sama. Sejauh ini Alhamdulilah, teman-teman di kantor baik-baik dan mereka respek dengan pekerjaan masing-masing,” tuturnya.

Menurut Deddy, karyawan adalah bagian dari perusahaan yang sangat berperan besar. Tanpa kehadiran karyawan, perusahaan tidak bisa berkembang maju seperti sekarang. Tidak bisa dipungkiri, karyawan merupakan tulang punggung perusahaan dalam mencapai tujuannya. Untuk itu, sebagai perwujudan penghargaan terhadap para karyawan, Deddy membentuk Koperasi Karyawan. Tujuannya meningkatkan kesejahteraan karyawan yang telah sekian lama bekerja membanting tulang demi perusahaan.

“Namanya Koperasi 16 Karat, singkatan dari enam belas Karyawan Ratu. Sudah beberapa MoU yang ditandangani atas nama koperasi, yakni proyek-proyek perusahaan dengan sekolah pariwisata. Proyek kerjasama ini menyediakan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih sesuai kebutuhan klien kita. Nah, keuntungan dari proyek menjadi milik koperasi dan hak karyawan, revenue-nya tidak masuk ke PT Ratu. Untuk yang seperti ini, saya memfasilitasi agar koperasi yang menjalankannya. Semua demi kesejahteraan bersama sehingga karyawan juga semangat bekerja,” tegasnya.

Semua itu dilakukan Deddy mengingat jasa-jasa karyawan dalam memajukan perusahaan. Ia ingat betul, beberapa bulan setelah berdiri perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan. Ia bahkan sempat meminta bantuan kakak ipar dan ponakan untuk mengelola perusahaan. Pertimbangannya, atas nama pertalian darah, masalah sensitif seperti itu lebih mudah dibicarakan, berbeda dengan karyawan lain. “Jadi sekian lama mereka bekerja tanpa bayaran, Alhamdulilah mereka sampai sekarang masih ada,” tuturnya.

Selain dari famili dekat, ayah empat anak ini menerima dukungan penuh dari istrinya. Meskipun istrinya tidak langsung terlibat dalam pengelolaan perusahaan dan “hanya” fokus mengurus keluarga, tetapi sangat berarti baginya. Dengan sang istri di rumah, membuat ia tidak pernah takut terhadap masa depan anak-anaknya. Terbukti, tak satupun anaknya terlibat dalam perbuatan negative seperti terjerat narkoba atau pergaulan bebas.

“Istri saya di rumah, meskipun dulu satu pekerjaan sebelum menikah. Tetapi kami sudah sepakat, istri tidak kerja. Belajar dari keluarga-keluarga lain, yang ayah ibunya bekerja dan anak lebih dekat kepada pembantu. Makanya, dia konsentrasi membesarkan anak saja dan Alhamdulilah tidak ada yang terlibat masalah yang seram-seram. Alhamdulilah, tanpa mereka tidak ada artinya,” tukasnya. Istrinya juga membatasi diri untuk tidak terlibat dalam urusan kantor. “Bahkan ke kantor pun baru dua kali seumur hidup,” imbuhnya. Anak tertua Deddy ikut membantu mengelola perusahaan karena memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai.

Mengubah Image

Sebagai “pemain” yang kenyang pengalaman di dalam dunia pengiriman tenaga kerja khusus kapal pesiar, Deddy tahu betul apa kekurangan dan kelebihan SDM Indonesia. Apalagi, tenaga kerja yang dikirimnya bukanlah “sekelas” tenaga kasar tetapi sangat  memerlukan kompetensi khusus. Untuk itu, ia berharap pemerintah melakukan beberapa pembenahan mendasar terhadap SDM asal Indonesia.

“Saya berharap pemerintah mulai berpikir untuk bersaing di dunia internasional karena itu sangat mendesak mengingat kita telah memasuki era pasar global bebas. Kita selama ini selalu kalah bersaing di semua aspek, mulai pekerjaan, sport, ilmu pengetahuan semua ketinggalan, daya saing kita  rendah sekali. Image kita terlanjur buruk, kalah dari Filipina yang jauh lebih kecil negaranya. Jadi kalau daya saing menjadi prioritas, semua harus dirombak,” tegasnya.

Selain sistem, lanjut Deddy, pemerintah juga perlu mengubah image bangsa yang sudah terlanjur jatuh. Sayangnya, bangsa Indonesia di era ini tidak memiliki public relation yang handal seperti Bung Karno, Bung Hatta, H Agus Salim, Syahrir dan lain-lain. Mereka di masanya telah menjadi PR yang handal dalam membangun image bangsa ini menjadi bangsa besar yang disegani oleh bangsa lain dan menjadi kebanggaan dari bangsanya sendiri. “Kalau sekarang belum ada yang seperti itu,” tambahnya.

Tulang punggung dari perubahan tersebut, menurut Deddy terletak di pundak generasi muda. Generasi muda harus memupuk dan menumbuhkan semangat bersaing yang kuat dengan bangsa lain. Ia secara khusus menyoroti kemampuan bahasa asing yang sangat minim dari orang-orang yang dikirim bekerja di luar negeri sebagai pekerja di kapal pesiar.

“Kemampuan komunikasi pekerja Indonesia di luar negeri dikenal sangat buruk, karena bahasa Inggrisnya minim. Kita kalah dari pekerja Filipina dan India, meskipun secara kualitas pekerjaan berani bersaing. Itulah kelemahan paling mendasar dari bangsa kita,” tegasnya.

Untuk itu, bagi pekerja Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri melalui PT Ratu Oceania Raya, Deddy menetapkan empat kriteria. Pertama kemampuan bahasa Inggris yang cukup karena akan berguna dalam pekerjaan, safety serta untuk membela hak-haknya yang mungkin terabaikan. Kedua experience, skill and knowledge terhadap pekerjaan yang harus benar-benar menguasai. Jangan sampai, pekerja asal Indonesia hanya untuk disuruh-suruh saja. Setidaknya mereka mencapai tahap men-supervisi pekerja yunior dari manapun.

“Ketiga appearance, kalau kita bekerja di luar negeri harus bisa menempatkan diri. Kita tahu Indonesia disangka sebagai sarang teroris, jangan kemudian malah ke mana-mana makai sorban, dan lain-lain. Keempat attitude yang professional dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Menurut saya yang terpenting adalah menjadi individu-individu yang mampu bersaing dengan bangsa lain. Karena spirit itu akan terbawa ke semua aspek, mulai olahraga, kreativitas dan lain-lain,” tandasnya.

Deddy merasa “ngenes” melihat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar tetapi terseok-seok. Sebagai negara kaya dengan sumber daya alam dengan penduduk terbesar keempat di dunia, tetapi tidak mampu memanfaatkan kelebihan tersebut untuk kesejahteraan rakyat. Ia mencontohkan bagaimana China sebagai negara yang memiliki penduduk yang sangat besar tetapi mampu menguasai perekonomian dunia. “Mereka memiliki kebanggaan dan prestasi. Sama seperti Jepang, yang tumbuh maju karena memiliki kreativitas dan inovasi serta daya saing yang sangat tinggi dan luar biasa,” ujarnya.

Ke depan, Deddy berharap agar terjadi sinergi antara cara pandang dunia usaha, pemerintah dan generasi muda. Dengan adanya satu pamahaman, satu visi dan misi bahwa bangsa Indonesia harus memiliki kebanggaan, itulah yang akan membawa bangsa ini menuju kemajuan yang dicita-citakan. Deddy menegaskan bahwa kebanggaan tersebut harus “keluar” seperti ketika Malaysia mengklaim batik sebagai miliknya.

“Semua orang tersentak dan tergerak untuk “mengamankan” kekayaan budaya tersebut dari keserakahan bangsa lain. Karena memang batik telah menjadi kebanggaan bangsa ini, saya berharap di bidang lain pun begitu. Ada kebanggaan yang pantas untuk dipertahankan. Makanya, marilah kita sama-sama lakukan bersama, agar semua lebih mudah, baik dan jujur. Kita harus menyiapkan diri untuk menjadi bangsa yang besar,” pungkasnya.

Ir. Eko Hari Prasetyo

Ir. Eko Hari Prasetyo
Presiden Direktur PT Unique Herbamed Indonesia

Menciptakan Formulasi Herbal Setara Produk Medis

Rakyat Indonesia tidak sadar bahwa tanah airnya menyimpan kekayaan alam luar biasa. Bukan hanya dalam bentuk hasil pertanian, pertambangan, kehutanan dan pertanian yang melimpah ruah, tetapi bumi Indonesia menyimpan kekayaan lain. Yakni banyaknya tanaman berkhasiat obat yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Sayangnya, kekayaan alam yang satu ini tidak banyak dimanfaatkan. Sebagian besar rakyat Indonesia lebih percaya kepada pengobatan modern yang berbasis obat-obatan kimia. Penggunaan herbal hanya pada kalangan tertentu yang mengenalnya secara tradisional sebagai “jamu”. Padahal, tanaman obat atau herbal melalui proses yang benar tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

“Semua berawal dari keprihatinan saya, karena jamu selalu dipandang sebelah mata dan menjadi nomor dua. Di sisi lain, pengusaha MLM obat dari luar negeri meraup keuntungan besar meskipun bahan baku herbal didatangkan dari negara lain. Padahal tanah Indonesia merupakan sumber potensi herbal terbesar di dunia. Makanya saya tergerak untuk menciptakan formulasi herbal yang spesial yakni herbal medicine yang unique, khusus dengan khasiat setara atau lebih baik dari produk medis,” kata Ir. Eko Hari Prasetyo, Presiden Direktur PT Unique Herbamed Indonesia.

Produk herbal hasil formulasinya kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui para pengobat alternatif. Dari mereka, khasiat obat herbal produksinya semakin dikenal luas. Bukan karena kemasan obat yang terkesan eksklusif dan mahal, tetapi karena formulasinya benar-benar mampu menyembuhkan penyakit. Hal ini sesuai dengan konsep pemasaran yang dikembangkan Eko, yakni menguji kualitas produk dengan tanpa beriklan sama sekali.

Eko menginginkan produk formulasi herbal ciptaannya menjadi produk terbaik dan diterima masyarakat tanpa iklan. Artinya, masyarakat menggunakan produk herbal formulasinya bukan karena terpengaruh iklan yang bombastis, tetapi benar-benar menggunakan produk terbaik, baik kualitas maupun khasiatnya. Semua itu, dibuktikan secara langsung oleh masyarakat melalui penggunaan produk dalam mencapai kesembuhan dari penyakit yang diderita.

“Saat ini, baru perusahaan kami yang mewajibkan pengambilan produk oleh mitra dengan uang muka sampai sebesar 50%. Kami juga tidak memiliki sistem konsinyasi atau diskon besar-besaran. Nyatanya, permintaan market tetap tinggi terkait kepercayaan masyarakat terhadap produk herbal kami yang bahkan mampu menembus bisnis MLM. Kami sama sekali tidak pernah beriklan, bahkan dalam bentuk brosur sekalipun,” terangnya.

Menurut Eko, tidak jarang agen obat-obatan yang rela membuatkan brosur sebagai sarana promosi produk perusahaan. Ia berprinsip, bahwa produk obat yang bagus pasti laku walaupun tidak diiklankan. Sesuai arahan mentor marketing-nya yang menyarankan untuk tidak membuat iklan kalau memiliki produk terbaik. Karena memiliki positioning tersendiri, produk terbaik tidak akan kesulitan menembus pasar dan menghadapi persaingan. “Produk yang bagus tidak boleh diiklankan karena iklan hanya untuk produk murah. Biarlah pasarnya berkembang karena masyarakat yang akan memberikan penilaian. Itulah yang kami lakukan dan kami fokus pada kemampuan produk,” imbuhnya.

Eko menjelaskan, salah satu evaluasi produk yang dilakukan adalah dengan membentuk HERBAMED CENTRE yang memberikan bantuan berupa konsultasi dan terapi pengobatan gratis. Layanan ini merupakan misi sosial perusahaan sekaligus sarana untuk mengukur efektivitas herbal produk perusahaan. Dari situ, sistem promosi “gethok tular” dari mulut ke mulut menyebarkan bahwa terjadi kesembuhan secara efektif dengan menggunakan herbal produk PT. Unique Herbamed Indonesia

“Dari situ sebenarnya promosi kita terjadi. Kualitas produk yang bagus ditambah kepercayaan yang kuat membuat kesembuhan semakin cepat. Itu akan dikabarkan kepada orang-orang lain. Keseriusan kita dalam produksi obat herbal antara lain dengan menggunakan bahan terbaik dari dalam negeri. Walaupun ada juga yang kami impor dari China, India ? dan Peru, yang penting kualitasnya terbaik. Makanya meskipun perusahaan kami masih kecil,  kami mendapat pengakuan dari  perusahaan MLM Asing karena telah mampu menghasilkan produk terpercaya,” tuturnya.
Bahkan ada beberapa distributor kita yang sudah mengirimkan produk obat herbal ini ke Hongkong, Taiwan dan Jerman.

Mengutamakan Kejujuran

Prestasi PT Unique Herbamed Indonesia hingga mampu menembus pasar obat internasional tidak lepas dari kiat-kiat yang dijalankan Ir. Eko Hari Prasetyo. Selain membuat produk obat herbal berkualitas, ia juga mendesain kemasan yang berbeda dari produk sejenis. Permainan warna yang menarik, berbeda, unik dan eye catching menambah daya tarik produk obat herbal perusahaannya.

“Dalam membuat kemasan saya selalu mencoba untuk keluar dari pakem, eye catching secara psikologis dan menarik perhatian dengan permainan warna. Kiat kami di dalam berbisnis adalah dengan selalu mengutamakan kejujuran. Makanya kami persilakan klien untuk tes produk, setelah cocok baru berbicara bisnis. Produk kami sudah diujioleh beberapa perusahaan MLM yang dilakukan ditiga Negara ; China, Malaysia dan Singapura, hasilnya semua lolos sehingga mereka menggunakan produk kami dalam bisnis MLM mereka. Saat ini ada beberapa MLM baik Asing maupun Lokal yang menggunakan produk kami sebagai produk andalannya. Sekarang ini, kami berada dalam tahap klien mencari produk kami. Prinsipnya, ‘Biarlah Produk yang Bicara, Bukan Kami’,” ujarnya.

Kejujuran yang diusung Eko sekaligus juga keprofesionalan dalam produksi obat-obatan herbal. Tidak tanggung-tanggung, tenaga Apoteker (Drs. Riza Sultoni, Apt.,) yang menanganinya merupakan salah satu staf ahli pemegang regulasi kesehatan tertinggi di negeri ini. Selain itu, sebuah lembaga pendidikan kesehatan di Klaten, Jawa Tengah mengajak bekerja sama untuk membuka Jurusan Herbal, yang saat ini masih dalam tahap persiapan dan penjajagan.

“Ke depan, saya ingin menggeser paradigma lama bahwa obat-obatan herbal atau jamu selalu nomor dua dibawah obat medis. Sekarang saya dalam proses pembuktian bahwa di Indonesia ada produk herbal yang bisa disandingkan dengan produk medis. Tetapi secara bertahap, karena keterbatasan modal memang belum bisa mengadakan uji fitofarmaka. Sekarang, saya lebih memilih untuk membesarkan perusahaan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Menurut Eko, rencananya ia akan membentuk sebuah grup (Unique Group) guna melebarkan usaha. Selain herbal, usaha ke depan adalah makanan dan minuman (dimulai dengan kopi) dan kosmetik yang memiliki peluang cerah. Target yang dicanangkan Eko setidaknya dalam tempo satu atau dua tahun rencana tersebut akan terealisasi. Sementara sekarang, ia berusaha memperbesar perusahaan dengan kapasitas 20.000 botol per bulan dengan 25 orang karyawan tersebut.

“Tetapi yang jelas sambutan dari masyarakat medis cukup baik. Misi saya tidak muluk-muluk, hanya ingin herbal dianggap setara dengan obat-obatan medis, karena kita melihat perilaku operator herbal yang memosisikan diri sebagai nomor dua dibawah medis. Semua itu, berawal dari tiga pertanyaan ‘Apa yang bisa saya buat untuk hari ini, apa saja yang bisa saya buat untuk hari ini, apa saja yang bisa saya buat untuk hari ini’. Begitu,” tegasnya.

Tanpa Modal

Ir. Eko Hari Prasetyo sebenarnya tidak memiliki latar belakang pengobatan herbal. Sebagai insinyur pertambangan, ia sering keluar masuk hutan di seluruh Indonesia terkait tugasnya. Bermacam-macam permasalahan di pertambangan dikuasainya mulai pertambangan emas, batubara, Penguasaan dan keahlian yang sangat luar biasa membawanya bekerja pada sebuah kantor konsultan pertambangan.

“Saya sempat keliling Indonesia karena bekerja  pada perusahaan konsultan pertambangan yang project-nya berpindah-pindah. Tetapi akhirnya saya bekerja di Hasnur Group sebelum memutuskan untuk memulai membuka usaha sendiri pada tahun 2006. Awalnya mendirikan perusahaan kosmetik berbahan dasar herbal, tetapi beberapa kali kandas karena perbedaan visi,” katanya.

Eko tidak berputus asa, karena semenjak awal lulus kuliah ia memiliki prinsip untuk tidak menjadi pegawai atau karyawan. Ia ingin menjadi entrepreneur tangguh yang tidak hanya mampu menghidupi diri tetapi juga membuka lapangan kerja bagi orang lain. Jalan itu menjadi terbuka lebar, setelah pada tahun 2007 mendirikan PT Unique Herbamed Indonesia. Modal pendirian perusahaan bisa dikatakan hampir nol. “Saya mendirikan perusahaan bisa dibilang tanpa modal, hampir nol hanya berdasarkan kemampuan yang saya miliki,” imbuh pekerja keras yang belum tidur sebelum pukul dua dinihari ini.

Meskipun tanpa dukungan modal, perusahaan yang didirikan Eko terus berjalan. Turun naik dalam menjalankan usaha pun dialaminya, namun tidak menyurutkan pilihan langkahnya. Tetapi ia menyadarinya bahwa hal tersebut merupakan dinamika dalam menjalankan usaha. Apalagi, saat memutuskan untuk memulai usaha ia harus melepaskan zona nyaman yang telah dinikmatinya selama bertahun-tahun. Ia dan keluarganya harus berjuang dari awal untuk membuka usaha sendiri.

“Alhamdulilah istri memberikan dukungan penuh dari zaman kita susah sampai sekarang. Tetapi saya juga tidak membawa urusan ke rumah, karena saya menetapkan garis yang jelas antara pekerjaan dan urusan keluarga. Memang ini yang berat, saat harus melepaskan diri dari zona nyaman, posisi bagus dengan gaji lumayan dan beban keluarga. Tetapi saya berani mengambil langkah yang memberikan perubahan yang sangat berarti bagi diri saya. Meskipun saat itu belum jelas, tetapi entry point-nya adalah di situ,” tegasnya.

Eko yakin dengan pilihannya dan sadar terhadap risiko yang dihadapi. Menurutnya, keyakinan diri berupa keberanian untuk mengambil langkah menjadi faktor pembeda antara seorang karyawan dan pengusaha. Karena setelah menakar risiko, seorang karyawan yang akan beralih menjadi pengusaha  akan memutuskan sesuatu.

“Kalau mau menjadi pengusaha, jangan banyak berpikir, gunakan logika dan hati. Kalau kita yakin jalan, ya langsung jalankan. Dari situ nanti akan ketemu seninya menjadi pengusaha. Bisnis itu harus dinikmati, bisnis ibarat seperti seniman yang secara total mencurahkan segenap hati dan jiwanya untuk menghasilkan karya besar, bisnis juga seperti pemain catur, yang penuh perhitungan untuk terus melangkah. Intinya kita tetap memperhitungkan risiko dengan manajemen risiko yang baik,” tuturnya.

Kepada generasi muda, Eko menegaskan untuk tidak pernah takut dalam memulai usaha. Mereka juga tidak boleh berhenti di tengah jalan ketika sudah memulai menjalankan usaha. Tetapi mereka tetap harus menggunakan logika, intuisi dan perhitungan yang matang dalam setiap langkahnya. “Yang membedakan seseorang adalah kemampuannya. Yakni ketika jatuh dia akan bangun lagi, kalau jatuh harus bangun lagi. Itulah orang yang dinamakan sukses,” pesannya.

Eko yang senang bersepeda motor dan “nongkrong” di tukang jamu ini mengungkapkan, inovasi secara terus menerus akan membawa lebih dekat kepada kesuksesan. Ia terbiasa melihat permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat melalui “aksi” tersebut. Dari situ, tergambar jelas di dalam masyarakat Indonesia bahwa mereka tergerak untuk membeli sesuatu karena iklan-iklan yang bombastis. Selain itu, masyarakat Indonesia juga selalu bangga terhadap barang-barang impor produk negara asing.

“Dari nongkrong di tukang jamu, jalan di pasar atau mal, saya mendengarkan keluhan mereka sekaligus mencari solusi apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Ide saya untuk menciptakan produk baru akan muncul berdasarkan realita yang terjadi di masyarakat. Karena kita tidak boleh terhenti pada produk tertentu saja, harus dinamis,” tegas pengusaha yang tidak khawatir terhadap pasar bebas ini. Produk obat herbal PT Unique Herbamed Indonesia dalam waktu dekat akan diekspor ke China yang di dunia internasional dikenal sebagai pusat obat-obatan herbal. “Nanti produk kami akan diekspor ke China. Tanggal 21 Mei, sample produk kita dibawa ke sana oleh salah seorang kolega dari Malaysia,” imbuhnya.

Feni Desnawai

Feni Desnawai
PT Awana Travel

Dari Perawat Menjadi Pemilik Perusahaan Travel

Sudah menjadi takdir manusia untuk menghadapi tantangan dalam menjalani hidup. Besarnya hambatan membuat manusia menjadi sangat bergairah untuk “menaklukkan” tantangan tersebut. Di situ, merupakan ujian bagi manusia untuk mengukur seberapa besar kemampuannya dalam menghadapi beratnya kehidupan. Kesuksesan, sangat ditentukan oleh ketangguhan dan kemampuan dalam menyiasati tantangan.

“Saya awalnya lulusan perawat dari Bengkulu dan bekerja di rumah sakit Pelni selama empat tahun. Selama empat tahun, saya senang mengikuti tantangan ke sana-sini. Saya masuk program D1 Akuntansi Komputer tetapi belum selesai sudah saya tinggal karena lulus seleksi di LAN. Tetapi susah kuliah di LAN sambil bekerja sebagai perawat di rumah sakit, apalagi kalau shift malam sehingga saya terpaksa mencari pekerjaan baru,” kata Feni Desnawai, pemilik PT Awana Travel.

Akhirnya, Feni berhenti dari rumah sakit dan berkarier sebagai tenaga honorer di sebuah perusahaan. Meskipun itu berarti terjadi penurunan status dan pendapatan, tetapi ia sangat bersyukur karena bisa melanjutkan pendidikan dengan lancar. Pendidikan di LAN yang cukup berat berhasil diselesaikannya tepat waktu pada tahun 1994. Satu tahun kemudian, ia dipindahkan ke bagian akuntansi yang selama 19 tahun terakhir ditekuninya.

Bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya, membuat Feni memutuskan untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci. Sepulangnya dari tanah suci, anugerah yang lebih besar diterimanya. Allah mengirimkan H Nandang Akasah sebagai suami yang menjadi imam dalam hidupnya. Sebagai ungkapan rasa syukur, keduanya melakukan ibadah umrah bersama-sama.

Namun, sebelum berangkat ke tanah suci, Allah menguji Feni dengan sakit yang cukup parah. Ia pasrah menerima segala cobaan yang datang dan di depan Kabah memanjatkan doa bagi kesembuhannya. Selain itu, ia juga memanjatkan doa agar hidupnya tetap memberikan manfaat bagi orang lain. Doa yang dipanjatkan dengan penuh kepasrahan –apalagi di depan Baitullah- benar-benar sangat mustajab.

“Saya dipertemukan dengan orang Indonesia di mana saya membeli paket penyelenggaraan umrah kepadanya. Dia menyarankan agar saya membuat travel yang saat itu belum terpikirkan sama sekali. Kami sangat awam bagaimana membuat travel. Bahkan suami saya bilang bahwa kami belum punya dana untuk itu. Orang itu tetap berkata, sudahlah bikin saja dulu PT-nya,” kisahnya.

Setelah sampai di Indonesia -dengan dukungan suami- Feni memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan. Dengan mengusung nama PT Awana Travel –meskipun tidak paham sama sekali dengan bisnis tersebut- ia menghadap notaris pada tanggal 13 Agustus 2004. Ia mengurus seluruh perizinan perusahaan seorang diri karena ingin belajar dari bawah sekaligus mencegah terjadinya penipuan. “Saat itu sudah ada 18 orang mendaftar tetapi semuanya perempuan sehingga terpaksa saya oper ke travel lain,” imbuhnya.

Tahun 2005, Feni telah mengantongi seluruh izin yang diperlukan untuk mengoperasikan perusahaan travel. Meskipun harus mengontrak kantor dan terpaksa harus “nombok” antara 600 – 1000 dolar setiap keberangkatan, ia tidak berputus asa. Kerugian terus dialaminya sampai tahun ketiga ia menjalankan usaha tersebut. Semangat untuk memberikan yang terbaik bagi tamu Allah terus dipeliharanya sehingga hitungan untung rugi tidak terlalu dipikirkannya.

“Saat itu masih ada subsidi dari suami yang kebetulan wiraswasta di bidang konstruksi. Kepada suami, saya meminta waktu dua tahun untuk memulihkan semuanya. Saya baru sadar, bisnis pariwisata itu modalnya besar, tidak cukup Rp200-300 juta,” ungkapnya. Tetapi tanggung jawabnya sebagai pemilik usaha tidak menyurutkan langkahnya untuk memberikan hak-hak bagi karyawan seperti gaji dan THR. “Bahkan THR dari kantor, saya bagikan kepada mereka. Itu yang saya utamakan,” tambahnya.

Menurut perempuan yang tidak merasa hina dan malu naik ojek ini, setiap kerugian yang dialami diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia yakin, selama yang dijalaninya tidak melenceng Allah pasti akan memberikan jalan terbaik baginya. Dengan keyakinan itu, perlahan namun pasti usahanya mulai berjalan. Banyak jemaah yang mempercayakan urusan haji dan umrah kepada perusahaan miliknya. “Apalagi kalau saya ikut dalam rombongan, jemaah sangat senang. Karena kalau ada apa-apa saya langsung action,” ungkapnya.

Sayangnya, tidak setiap keberangkatan rombongan Feni bisa menyertainya. Kesibukan di kantor tempatnya bekerja sangat menyita waktu sehingga tidak setiap saat ia bisa mengajukan izin cuti. Ia mengakui bahwa dirinya masih belum bisa fokus di Awana karena terikat dengan perusahaan tempatnya bekerja. “Masih sangat sibuk di kantor. Pokoknya, yang penting saya memiliki komitmen dan tanggung jawab sebagai istri, ibu, karyawan dan titipan amanah berupa Awana ini,” katanya.

Dengan kesibukan seperti itu, Feni tetap harus bersosialisasi dengan keluarga. Solusi untuk mengatasi kesibukan yang sangat menyita waktu tersebut, ia melakukan semuanya dengan penuh disiplin. Ia merencanakan segala kegiatan hariannya bahkan ketika baru bangun tidur. Semua itu dilakukan dengan disiplin, jujur dan dibicarakan secara terbuka dengan suaminya. Ia juga “mengandalkan” saudara-saudara iparnya ketika harus meninggalkan anak semata wayangnya untuk bertugas mengantarkan jemaah.

“Saya sering tidak ada pembantu, sehingga harus dengan ipar. Pokoknya, intinya disiplin karena memang berat untuk sukses, harus bekerja keras. Meskipun capek, setiap malam saya harus membuka email. Paling tidak, sambil memasak selama sepuluh sampai lima belas menit harus menyalakan komputer. Bunyi SMS saja saya langsung terbangun, karena sudah terbiasa. Semua karena tanggung jawab saya, kewajiban saya terhadap hak-hak jemaah yang seharusnya mereka terima,” ujarnya.

Tidak Pernah Beriklan

Selama mengoperasikan PT Awana Tour & Travel, Feni Desnawai tidak pernah memasang iklan. Jemaah yang puas dengan pelayanan PT Awana dengan senang hati akan mempromosikan perusahaan kepada keluarga, sahabat atau teman-temannya. Promosi model ini terbukti ampuh “menggaet” jemaah sehingga jemaah yang menggunakan jasa perusahaan datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kita tidak pernah beriklan, promosi benar-benar hanya dari mulut ke mulut. Dan untuk menghargai jemaah yang telah mempromosikan kita, mereka direkrut sebagai marketing dengan imbalan yang memadai. Itu selalu kami berikan meskipun secara operasional kami harus nombok. Yang penting, bagaimana caranya kita menciptakan network dari jemaah di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Semua itu dilakukan sebagai cara untuk memegang komitmen dengan apa yang telah dijanjikan. Untuk memastikannya, Feni terjun langsung dalam menangani jemaah. Karena jasa yang ditawarkan perusahaan adalah servis atau pelayanan, ia harus tahu betul bahwa semua berjalan dengan baik. Meskipun status sebagai pemilik perusahaan, Feni tidak segan-segan untuk mengantar atau menjemput jemaah di bandara.

Bahkan, saat mendampingi jemaah, Feni “rela” turun ke dapur untuk membuatkan minuman bagi jemaahnya. Kalaupun tidak mendampingi jemaah, ia selalu mengontrol keberadaan mereka dari tanah air. Karena ia ingin, semua berjalan dengan baik sesuai apa yang dijanjikannya. “Saya orangnya saklek, kalau bilang A ya A, tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi karena itu, jemaah suka mencari-cari saya, karena dianggap memberikan rasa nyaman. Bahkan sebelum mendaftar mereka bertanya dulu, ‘Feni-nya ikut nggak.’ Mereka ingin bareng saya jalannya,” ungkapnya.

Kedekatan seperti itulah yang membuat usahanya semakin maju. Terbukti, hingga bulan Agustus 2010 tercatat 300 jemaah telah diberangkatkan ke tanah suci. Semua itu dilakukan Feni dengan keyakinan bahwa rezeki memiliki garis masing-masing dari Allah, sehingga ia tidak takut bersaing dengan perusahaan lain. Meskipun sering mengikuti konsorsium pemberangkatan jemaah, namun tidak pernah sekalipun menyuruh anak buahnya untuk mengajak jemaah dari perusahaan lain bergabung di PT Awana.

Bagi perempuan kelahiran Muko Muko, 17 Desember 1964 ini, persaingan malah menjadi tantangan untuk menjadi maju. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana perlakuan perusahaan lain sebagai pesaing yang menzhaliminya. Semua diserahkan kepada Allah sebagai pemilik rezeki. Landasan keyakinan tersebut membuat langkahnya tidak terbendung oleh hambatan “kecil” seperti itu.

“Kalau kita memikirkan orang lain kapan kita akan maju. Kalau perlu kita bergandengan bukan malah saling sikut. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Dan menyelenggarakan perjalanan haji dan umrah bukan mencari rezeki semata. Pengalaman saya sembuh dari kanker di tanah suci, membuat saya ingin orang lain juga bisa ikut menikmati. Itu saja,” tandasnya.

Menurut pengamatan Feni, setiap tergabung dalam konsorsium, harga dari perusahaan miliknya selalu lebih murah. Meskipun demikian, ia tidak ingin jemaah pindah ke perusahaannya karena melihat harga murah tersebut. Tetapi ia tidak akan mampu mencegah kepindahan jemaah seandainya alasan yang dikemukakan seperti mukena atau kopor PT Awana lebih bagus. “Itu saya tidak bisa mencegahnya. Kalau untuk harga, di konsorsium kami lebih murah. Untuk haji bisa 6500 dolar sementara yang lain 7000 dolar,” tambahnya.

Semua itu dilandasi niat Feni untuk berbagi pasca kesembuhan dari kanker yang menggerogotinya. Setelah berhasil bebas dari kanker berkat doa-doanya di tanah suci, ia mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama. Saat ini yang paling diinginkannya adalah hingga akhir hayatnya bisa melayani jemaah dengan baik. “Setiap kali ke tanah suci, bukan doa meminta harta berlimpah yang saya panjatkan. Tetapi memohon kesehatan dan kesempatan untuk datang lagi dan lagi ke tanah suci. Saya tidak ingin Awana menyusahkan orang lain, itu prioritas saya,” kata perempuan mandiri dan sederhana ini.

Berjiwa ‘Pembantu’

Feni Desnawai terus melihat ke depan demi kemajuan PT Awana Tour & Travel. Ia ingin lebih banyak membantu orang lain mewujudkan keinginan untuk pergi ke tanah suci melalui perusahaan miliknya. Untuk itu sebisa mungkin ia tidak menetapkan harga yang tinggi untuk pelayanan perusahaan. Yang penting, dengan harga murah ia tidak terus-terusan “nombok” tetapi mampu memenuhi kewajiban kepada karyawan.

“Saya merintis Awana Konveksi untuk keperluan mukena dan kopor jemaah. Mungkin itu salah satu sampingan Awana, selain bisa mengurangi biaya produksi juga memberikan penghasilan tambahan. Kita tidak berbicara profit yang penting positif buat perusahaan kita. Karena kalau hanya ditipu sih saya sudah kenyang, tetapi saya nggak mau pusing memikirkan semua itu karena yakin Allah akan memberikan rezeki yang lain,” tegasnya.

Feni yakin segala peristiwa memiliki hikmah tersendiri bagi orang yang berpikir positif. Ia mencontohkan, seandainya tidak diberi penyakit kanker dalam tubuhnya, belum tentu dirinya seperti sekarang. Semua itu harus disyukuri dan berpulang kepada diri masing-masing, adakah keinginan untuk berusaha atau tidak.

“Kita berusaha baik saja belum tentu mendapat balasan yang baik juga. Ketika pergi haji tahun 2008, saya ikut bersama jemaah bahkan menyediakan teh manis untuk mereka. Saya tidak apa-apa dibilang berjiwa pembantu, karena di rumah juga ngepel, nyapu, masak dan lain-lain. Semua kalau dilakukan dengan senang hati pasti terasa ringan,” tambah sulung dari dua bersaudara pasangan Rustam Effendi (Alm) dan Hj Rakimah ini.

Feni sangat  bersyukur memiliki keluarga yang sangat mendukung aktivitasnya. Suaminya, H Nandang Akasah yang menikahinya pada tahun 2001 mengerti dan memahami betul dengan kegiatan sehari-harinya. Semua terjadi karena sejak awal sudah menjadi komitmen yang telah disepakati bersama. “Saya sangat bersyukur punya suami yang mau mengerti dan memahami saya. Setelah lima tahun, baru dia terlibat mengurusi usaha ini,” ungkapnya.

Dukungan lain juga datang dari putri semata wayangnya –Salwa Samiyah Amanda- yang baru berusia empat tahun. Sedari kecil, Feni mendidik anaknya untuk hidup mandiri sesuai dengan tingkatan usianya. Cara yang dilakukannya adalah dengan memberikan contoh perilaku sehari-hari untuk ditirukan sang anak. Ke depan, ia ingin memberikan pendidikan setingi mungkin dengan harapan mampu melanjutkan bisnis PT Awana Travel.

“Kalau mampu, kita sekolahkan setinggi mungkin. Anak harus mencontoh kita, kalau kita tidak memberi contoh yang baik. Bagaimana anak menjadi baik, menjadi jujur kalau sendiri tidak jujur. Kita ingin generasi muda bangsa ini lebih bagus. Untuk itu, dimulai dari keluarga masing-masing sebagai orang tua harus menanamkan agama terlebih dahulu sebagai dasar. Kalau agamanya sudah kuat, insya Allah, berjalan dengan baik,” tegasnya.

Hidayat Wirasuwanda

Hidayat Wirasuwanda
Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung

Menjalankan BPR Dengan Niat yang Baik dan Benar

Semua kegiatan yang dijalankan dengan niat yang baik dan benar, akan memberikan hasil sesuai harapan. Prinsip tersebut bisa dibuktikan dalam pekerjaan apapun, baik dalam dunia usaha, jasa dan lain-lain. Syaratnya, dilakukan dengan semangat yang sama, dikerjakan secara tekun dan konsisten.

Kedua hal tersebut telah dipraktekkan di PT BPR Trisurya Marga Artha, Bandung. Bank perkreditan rakyat yang berdiri sejak 10 April 1994 ini terbukti mampu bertahan di tengah fluktuasi perekonomian Indonesia. BPR semakin maju setelah pada bulan Agustus 2007, terjadi pergantian kepemilikan.

“BPR di-take over oleh keluarga Bapak Iwan Setiawan. Saya yang bergabung sejal Februari 2007 tetap dipertahankan bahkan dipercaya memimpin BPR ini enam bulan kemudian. Apapun yang kita jalankan harus dilandasi dengan niat yang baik dan benar. Nah, dari niat baik dan benar itulah kita berharap mampu menghasilkan yang baik dan benar bagi debitur, owner maupun seluruh staf kami,” kata Hidayat Wirasuwanda, Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung.

Hidayat membuktikan dengan niat yang baik dan benar, BPR dibawah kepemimpinannya mengalami banyak kemajuan. Dari sepuluh orang karyawan, berkembang menjadi 90 orang dan mengelola dana miliaran rupiah. Bahkan, ia sudah berancang-ancang untuk membuka kantor cabang baru, di Bandung maupun daerah lain. Semua di wilayah Jawa Barat karena terbentur aturan Bank Indonesia, bahwa BPR hanya boleh beroperasi dalam satu provinsi saja.

Sikap serupa, lanjut Hidayat, diterapkan dalam melayani customer/pelanggan yang memanfaatkan jasa BPR. Kedatangan mereka, tentu dengan itikad baik yang harus diperlakukan dengan cara yang baik dan benar pula. Hasil akhirnya diharapkan akan menjadi kebaikan dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Hubungan baik antara pelanggan dan BPR tersebut terus dibina dan dipertahankan sehingga terjalin secara berkesinambungan.

“Ini tidak bisa kami bina sendiri. Seluruh karyawan mulai marketing, CSO, teller dan bagian kredit melakukannya agar hubungan baik dan personal approach tetap terjalin. Oleh karena itu, kita menjadikan karyawan dan karyawati sebagai suatu asset yang harus kita bina dan pelihara. Untuk itu, saya menyelenggarakan pendidikan dan training-training perbankan sesuai tugas masing-masing. Seperti CSO dengan program dari BI yang sangat terkenal ‘know your customer’ untuk mengenali calon customer,” tuturnya.

Membantu Masyarakat

Menurut Hidayat Wirasuwanda, pengelolaan BPR di seluruh Indonesia berada di bawah pengawasan Bank Indonesia. Otoritas perbankan Indonesia tersebut secara rutin mengadakan pembinaan terhadap operasional BPR. Apalagi, BPR sangat berperan penting dalam menggerakkan perekonomian rakyat karena terkait dengan pengusaha mikro. Yakni, bidang usaha yang tidak tersentuh oleh perbankan umum.

“BI rutin berkunjung selama empat sampai lima hari setiap tahun untuk melakukan pembinaan. Kami memang masih memerlukan pembinaan dan sangat membutuhkan saran-saran. Apa saja yang kurang harus kita perbaiki, baik dari pelayanan maupun hal-hal lainnya. Selain itu, kami juga mengadakan kerjasama pelatihan dengan ahli marketing, ahli akunting, ahli SDM untuk meningkatkan kinerja kami,” katanya.

Hidayat sadar, produk unggulan BPR yang dipimpinnya masih sangat terbatas, yakni tabungan, deposito berjangka dan kredit. Tetapi atas kebijaksanaan BI dan LPS, BPR diizinkan memberikan tingkat bunga lebih tinggi daripada bank umum pada produk tabungan dan deposito. Tujuan dari kebijaksanaan tersebut adalah untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya sehingga dana yang dapat disalurkan untuk kredit memadai.

Selama di Bandung, Hidayat mempelajari dan menganalisa banyaknya masyarakat yang “lari” ke rentenir untuk urusan keuangannya. Mereka lebih memilih meminjam dana dengan bunga mencekik leher sebesar 10-15 persen per bulan. Kemudahan syarat yang tidak berbelit-belit membuat masyarakat lebih senang berurusan dengan rentenir daripada BPR atau bank.

Ia berharap, dengan semakin berkembangnya unit BPR di Bandung maupun di Indonesia, praktek rentenir bisa ditekan. Karena terbukti, dengan bunga yang sangat tinggi tersebut bukan membantu perekonomian tetapi justru menghancurkan ekonomi rakyat. “Rentenir masih eksis di kota Bandung dan daerah lainnya. Saya berharap BPR mampu mengurangi kredit dengan bunga mencekik seperti itu,” harapnya.

Dengan kondisi perekonomian rakyat seperti itu, Hidayat melihat prospek BPR ke depan masih sangat cemerlang. Apalagi dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, potensi BPR untuk berkembang sangat luas. Hanya saja, kendala yang dihadapi saat ini adalah kerancuan “porsi” antara pangsa pasar BPR dan bank umum akibat tidak adanya peraturan yang jelas.

Dengan adanya otonomi daerah, Hidayat berharap agar pemerintah daerah mampu mendorong usulan kepada Bank Indonesia mengenai hal tersebut. Setidaknya, dengan semangat otonomi pemda mampu “menekan” BI untuk menerbitkan regulasi yang mengatur porsi dan ruang gerak yang jelas antara BPR dan bank konvensional. Demikain pula usulan kepada pihak BI agar lebih mempermudah izin pembukaan cabang-cabang baru bagi BPR.

“Jangan sampai bank umum memakan porsi BPR atau bank-bank besar bermain di sektor yang menjadi lahan kami. Pokoknya dalam hal ini sangat diperlukan aturan yang jelas. Selain itu, kami juga ingin mendapatkan kemudahan dalam pembukaan cabang BPR. Karena dengan banyaknya cabang, masyarakat kecil akan lebih mudah menjangkau layanan BPR dan mereka akan terbantu,” tuturnya.

Pendirian BPR, kisah Hidayat, harus mengikuti syarat yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Untuk kota Bandung, syarat minimal adalah modal disetor minimal Rp2 miliar dengan rekening di salah satu bank umum. Syarat kedua yang harus dipenuhi adalah memiliki tempat usaha atau gedung, SDM dan teknologi IT yang memadai. Dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, sebuah BPR baru boleh beroperasi setelah ada izin dari BI setempat dan memberikan layanan kepada masyarakat.

“Saya tetap berharap, pembinaan BI kepada BPR masih terus berlangsung. Saya juga berdoa, mudah-mudahan perizinan bagi pembukaan BPR di daerah semakin mudah. Pemda juga memberikan kemudahan dalam perizinan seperti Surat izin tempat usaha. Karena perlu diingat bahwa kehadiran kami adalah untuk membantu Pemda dalam membina masyarakat kecil, pedagang kecil dan lain-lain. Untuk itu, kami akan membuka cabang baik di kota Bandung maupun kota lain di Jawa Barat. Itu obsesi saya,” ujarnya.

Karier Perbankan

Hidayat Wirasuwanda, lahir di Cianjur, 8 September 1951. Sarjana muda pendidikan IKIP Bandung tahun 1974 ini sejak semula sudah berkarier di dunia perbankan. Dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya, ia langsung bekerja di Bank BCA cabang Bandung. Di bank swasta terbesar di Indonesia itu ia menghabiskan kariernya sampai memasuki masa pensiun pada tahun 2006.

“Saya bekerja di Bank Swasta di Bandung, sejak Juli 1976, sebagai karyawan biasa. Di situ saya menjalani berbagai macam karier mulai karyawan bagian kredit dan bagian umum personalia. Kemudian saya di bagian ekspor impor antara tahun 1982 – 1991. Dari tahun 1992 – 2001 saya dipercaya sebagai Pemimpin Cabang Pembantu, tahun 2001-2006 saya dipercaya sebagai Kepala Operasional Cabang Cianjur sampai pensiun,” tuturnya.

Setelah pensiun, Hidayat tidak langsung berhenti berkarya. Usianya yang “baru” 55 tahun masih memungkinkan untuk bekerja dengan tantangan baru. Ia kembali ke Bandung dan menerima ajakan untuk bergabung dengan rekan dan keluarga Bapak Iwan Setiawan mengelola sebuah bank perkreditan rakyat pada tahun 2007. Justru di BPR inilah, ia mencapai puncak karier di dunia perbankan. Ia ditunjuk sebagai direktur utama setelah mengikuti pendidikan, yaitu kursus Direktur BPR yang diselenggarakan Lembaga Sertifikasi Profesi Lembaga Keuangan Mikro – CERTIF Jakarta pada bulan Agustus 2007.

“Setelah lulus, saya harus mengikuti fit and proper test di Bank Indonesia Bandung. Yakni untuk menguji kelayakan saya memimpin BPR sebagai direktur,  dan Alhamdulilah saya lolos dan terhitung Agustus 2007 resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung. Itulah jenjang karier yang harus saya lewati dari karyawan menjadi direktur. Meskipun lembaganya kecil, tetapi secara professional jabatan direktur utama bagi saya sudah sangat hebat,” katanya.

Pengalaman selama puluhan tahun berkarier di perbankan, membuat Hidayat menguasai betul seluk beluk mengelola bank. Apalagi selama bertugas, ia menjalani berbagai pendidikan dan pelatihan yang menunjang profesi. Pendidikan dan pelatihan yang pernah dijalaninya antara lain, Kursus Impor dan Ekspor LPPI Jakarta, Kursus Pemimpin Cabang LPPI Jakarta, Kursus Advance Banking Managemen Program BNI 1946 Jakarta dan Kursus Direktur BPR LSP Lembaga Keuangan Mikro – CERTIF Jakarta.

Seluruh pencapain yang berhasil dilakukan Hidayat, tidak terlepas dari dukungan keluarga. Istri beserta satu orang anaknya tidak keberatan suami dan ayahnya pulang larut karena kesibukan pekerjaan. Apalagi, Hidayat sendiri tidak pernah “itung-itungan” dalam bekerja sehingga jam kerjanya pun menjadi semakin panjang.

“Keluarga terbiasa dengan aktivitas saya sebagai pekerja, sehingga mereka tetap mendukung, baik saat bekerja di bank swasta maupun di sini. Anak diberikan kebebasan untuk berkarier sesuai keinginannya. Saya persilakan untuk bekerja sesuai dengan bakat dan talenta yang dimiliki tidak harus mengikuti jejak orang tua,” tandasnya.

Kepada anaknya Hidayat hanya menekankan pentingnya untuk melakukan persiapan dalam menyongsong masa depan masing-masing. Setidaknya, penguasaan dan ilmu pengetahuan terhadap pekerjaan yang diinginkan harus dimiliki. Selain itu, semangat untuk terus belajar harus dipelihara karena belajar merupakan kewajiban seumur hidup bagi setiap manusia. Pada era sekarang ini, belajar bisa dilakukan melalui media apapun, baik dengan kursus, seminar maupun membaca buku.

“Hal itu juga harus dilakukan oleh generasi muda kita. Karena menuntut ilmu itu tidak akan ada habisnya, bahkan sampai ke negeri China selama kita mampu. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya menjadi apapun sekarang ini. Siapa tahu kita diberikan kepercayaan untuk memimpin suatu usaha atau bahkan memiliki usaha sendiri yang lebih besar,” ungkapnya.

Hidayat juga berpesan, bahwa dalam bekerja harus dianggap sebagai ibadah. Karena berangkat dari niat ibadah, pekerjaan akan dilakukan dengan perasaan tulus dan ikhlas. Dari situ, tinggal berharap bahwa berkarya dengan cara dan niat yang benar hasilnya pun akan benar pula. “Kita harus berpikir positif dan bertindak secara positif pula. Selain itu, kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT atas segala rahmat yang telah diberikan,” ujarnya.

Sekilas Profil PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung

PT BPR Trisurya Marga Artha adalah perusahaan yang bergerak di bidang Bank Perkreditan Rakyat, khususnya pembiayaan/kredit mikro bagi masyarakat. Berdiri pada tanggal 10 April 1994, produk-produk yang ada yaitu: Tabungan, Deposito Berjangka dan Kredit. Kredit yang disalurkan pada investasi, modal kerja dan konsumsi. PT BPR Trisurya Marga Artha memiliki visi “Menjadi Bank Perkreditan Rakyat yang terkemuka di bidang pembiayaan mikro dengan pelayanan terbaik”.

PT BPR Trisurya Marga Artha berharap kehadirannya dapat terus memberikan kontribusi positif di tanah air bagi pengembangan usaha mikro, oleh sebab itu akan membuka beberapa kantor cabang di Bandung dan kota-kota lainnya di Jawa Barat dengan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, memberikan pelayanan secara cepat, tepat dan akurat bagi para nasabahnya. Serta dapat meningkatkan nilai investasi bagi para pemegang saham dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh karyawan/karyawati dan jajaran pengurus.

Visi
“Menjadi BPR yang terkemuka di bidang pembiayaan mikro dengan pelayanan yang terbaik”

Misi
Mendukung pengembangan usaha mikro
Menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Memberikan pelayanan yang cepat, benar dan akurat kepada nasabah
Meningkatkan nilai investasi bagi para pemegang saham dan kesejahteraan bagi seluruh pengurus, karyawan dan karyawati

Profil nasabah PT BPR Trisurya Marga Artha

Pertanian/Peternakan:
Tani padi
Tani sayur
Tani jamur
Ternak jangkrik
Ternak bebek
Ternak ayam
Ternak sapi
Ternak kambing
Ternak kelinci

Perdagangan:
Warung kelontongan
Warung nasi
Warung sembako
Jual bubur
Jual sayur
Jual ayam potong
Jual ayam goreng
Jual hasil bumi
Jual koran/majalah
Jual beli alat elektronik
Jual beli barang bekas
Jual beli motor/mobil
Jual beli pakaian
Jual beli handphone
Jual beli kain
Jual aksesoris
Kreditan barang
Jual alat-alat kesehatan
Jual jamu
Jual ATK
Jual buah-buahan

Jasa:
Bengkel mobil
Bengkel motor
Bengkel las
Bengkel bubut
Service barang elektronik
Salon
Rias pengantin
Laundry
Tambal ban
Makloon
Kontraktor
Kost-kostan
Klinik gigi
Klinik umum
Kamasan
Warnet
Rental PS
Rental komputer
Jahit
Loper koran
Paket lebaran
Fotocopy

Industri:
Pembuatan sepatu/tas/topi/dan lain-lain
Pembuatan makanan ringan
Pembuatan meubeul
Pembuatan kue
Pembuatan telor asin
Konveksi jaket/border baju/pakaian jadi
Pembuatan sangkar burung
Percetakan
Pembuatan tahu

Moh Ilham Soeroer, SE, MM

DIREKTUR UTAMA  PT BANK SULTENG  

(Sang Direktur yang Datang Paling Pagi, Pulang Paling Belakang)

 

Moh. Ilham Soeroer,SE,MM dilahirkan di kota Pompanua pada tanggal 7 Mei 1955.   Masa kanak-kanaknya dihabiskannya di tanah kelahirannya yang  diisi dengan ikut membantu orangtuanya dengan menjajakan kue jajanan di sekolah, dan mendampingi ayahnya yang ia panggil Abah berjualan di pasar-pasar disekitar kampungnya yang termasuk dalam jadwal sepekan. Menginjak SLP dia belajar di SMEP Negeri kemudian melanjutkan ke SMEA Negeri di Sengkang.  Setelah itu ia melanjutkan kuliahnya di Akademi Ajun Akuntan di Makasar dan lulus tahun 1978 setelah tertunda selama dua tahun karena tenggelam dalam kegiatan kemahasiswaan sebagai  Sekretaris Dewan Mahasiswa pada tahun 1976-77 dan Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Dewan & Senat Mahasiswa Se Makassar  yang mengantarnya masuk dalam tahanan bersama-sama sejumlah fungsionaris mahasiswa kala itu karena tulisannya dalam editorial bulletin mahasiswa “KREASI” yang diterbitkan oleh Dewan Mahasiswa tempatnya kuliahMerasa kurang akan ilmunya ia melanjutkan kuliah di IKIP Makassar yang hanya sempat dijalani satu tahun, karena Ayahnya memasuki masa  pensiun sehingga ia banting setir masuk ke Akademi Ajun Akuntan untuk kuliah pada sore harinya dan pada pagi harinya ia gunakan untuk bekerja serabutan untuk menutupi biaya kuliahnya. Karena tantangan yang dihadapinya mendorong seorang Ilham Soeroer lebih tekun belajar sambil bekerja bahkan sempat menjadi asisten dosen. Dan hal itu pula yang mengantarnya memperoleh bea siswa dari Dep.Pendidikan RI.dua tahun berturut-turut dengan peringkat akademis no.2 se Kopertis Wilayah VII kala itu. Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Terbuka dan memasuki Fakulktas Ekonomi di Jakarta hingga lulus pada tahun 1991.  Karena tuntutan pekerjaannya dan daya pikir yang terbuka membuatnya meneruskan kuliahnya di Program S-2 pada Universitas Krisna Dwipayana di Jakarta dan lulus pada tahun 2000.

 

PERJALANAN KARIR

Awal karir Moh. Ilham Soeroer dimulai ketika ia menerima beasiswa dari Departemen Pendidikan & Kebudayaan RI melalui  Akademi Ajun Akuntan Ujung Pandang selama tiga tahun berturut-turut hingga Ia dapat selesaikan kuliah. Ia diangkat sebagai Asisten Dosen pada tahun 1975, di Makassar .

Kemudian tahun 1978 setelah menamatkan kuliah di Akademi Ajun Akuntan

Ia diminta untuk mengembangkan HRD  Learning center (Human Resource Development) di pabrik kertas, serta  perpustakaan sebagai pusat informasi pendidikan,  dalam waktu yang bersamaan Ia juga ditugaskan oleh Kopertis setempat   sebagai asisten dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar selain dikampusnya sendiri.

Tahun 1979, setahun setelah Ia menamatkan pendidikan di Akademi Ajun Akuntan Ia melamar pekerjaan di bank Indonesia Jakarta, kemudian diterima dan bertugas  di Bank Indonesia Makassar.

Ketika ditanya mengapa tertarik masuk Bank Indonesia, beliau berujar bahwa ia tertarik masuk Bank Indonesia karena melihat pegawainya rapih, dan disiplin waktu karena menurutnya disiplin dan kerapihan adalah suatu ciri keteraturan hidup dan menjadi  suatu tantangan untuk  belajar disiplin dan bekerja secara  produktif.

Karena kerja keras dan niatnya bekerja produktif mengantarnya dapat melewati beberapa jenjang karir di BI, dari tingkat Pegawai Tata Usaha (PTU), Pengawas Bank Yunior, Pengawas Bank Senior hingga akhirnya menjadi  Deputi Pemimpin BI di daerah.  Dalam perjalanan karirnya beliau mengutamakan produktifitas dan kejujuran dan mencoba selalu memegang prinsip dalam bekerja yaitu membiasakan  kebenaran bukan membenarkan kebiasaan selain kejujuran itu sendiri.

Beberapa pelatihan dan kursus telah membekalinya dengan segudang ilmu yang bermanfaat dalam pekerjaannya. Beberapa kursus dan pelatihan itu diantaranya adalah kursus pejabat dan pemberian kredit program BJJ. Pendidikan Pemeriksa dan Analisa Bank, Kursus Penyegaran Audit Bank, Training For Trainers Tingkat Manajer, Bank Analysis & Examination, pelatihan Dasar Perbankan Syariah,   Pelatihan Change Management dan Training Analisa Ekonomi Daerah serta beberapa kursus dan pelatihan lainnya yang berkaitan dengan perbankan.

MASA PENSIUN SANG KAMPIUN

            Posisi terakhir beliau adalah Deputi Pemimpin kemudian saat memasuki masa pensiun tahun 2010 dan dalam perjalanan separo pensiun, beliau dipanggil oleh Gubernur Sulawesi Tengah untuk memimpin Bank Sulteng.

            Kondisi Bank Sulteng pada saat ketika ia baru masuk adalah dalam kondisi yang paling “bontot” diantara 26 BPD lainnya. Selama 42 tahun berdiri, belum banyak dikenal masyarakat karena ketidak mampuan melakukan transformasi untuk mencapai kemajuan, termasuk untuk mengutamakan pelayanan yang prima. Semuanya dirombak sendiri olehnya, setelah mendapat amanah RUPSLB tanggal 24 Februari 2011 untuk melakukan perubahan struktur organisasi yang disesuaikan dengan arah dan target yang akan dicapai, terutama yang tertuang dalam BPD Regional Champion. Dan hal itu dilakukan tanpa mempekerjakan tenaga ahli karena high cost ditambah lagi belum adanya kesatuan pandang dewan komisaris dan direksi. Beliau banyak belajar dengan cara banyak melihat bagaimana mengelola  bank dari orang lain, dari rekaman pengalaman ketika menjadi auditor bank. Beliau bekerja begitu gigihnya dengan menerapkan prinsip datang paling pagi pulang paling akhir. Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil dalam waktu kurang lebih 6 bulan, jumlah dana pihak ketiga yang bersumber dari tabungan menanjak melalui “Gerakan Indonesia Menabung” (yang dipompanya melalui Kantor Cabang Utama, Luwuk dan cabang-cabang lainnya), disamping dana – giro pemerintah daerah.

SEKILAS BPD SULTENG

PT. Bank Sulteng awalnya adalah Bank pembangunan Daerah Sulawesi Tengah dengan surat izin dari Menteri Keuangan Republik Indonesia. No.D.15.6.1.17 tanggal 27 Januari 1970. Setelah kinerja BPD Sulteng semakin membaik, maka berdasarkan PERDA Tingkat I Sulteng, No.2 Tahun 1999 tanggal 30 Maret 1999, telah dilakukan perubahan badan hukum Bank Pembangunan Daerah dari Perusahaan Daerah menjadi Perseroan Terbatas. Sejak itu, nama BPD Sulawesi Tengah berganti nama menjadi PT. Bank Sulteng.

Maksud dan pendirian PT.Bank Sulteng adalah untuk mendorong pertumbuhan daerah di segala bidang.Disamping itu, kehadiran PT.Bank Sulteng diharapkan mampu berperan sebagai salah satu alat ekonomi di bidang keuangan/perbankan untuk pengelolaan sumber pendapatan asli daerah untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat.

            Langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut antara lain adalah:

–          Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk produk perbankan seperti giro, deposito, tabungan, dan lain-lain; memberikan kredit; memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah; menempatkan dana pada peminjam atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi, maupun dengan wesel, unjuk, cek dan atau sarana lainnya; menerima pembayaran tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan bank antar pihak ketiga; melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

PT. Bank Sulteng berkantor pusat di Jalan Sultan Hasanudin No.20 Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Bank ini memiliki pelayanan yang tersebar diseluruh wilayah Provinsi Sulteng, dari ibukota provinsi. Ibu kota kabupaten dan beberapa kota kecamatan. Hingga akhir tahun 2009, jaringan pelayanan bank terdiri atas: 1 kantor pusat, 1 kantor cabang utama, 7 kantor cabang, 5 kantor cabang pembantu, 6 Kantor cabang kas pelayanan 17 Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan 8 kantor payment point pajak.

Pada akhirnya ia berfikir bahwa mengelola suatu bank tidaklah sulit jika ada kemauan dan niat, sehingga pada akhirnya pemikiran dan bank yang dikelolanya dapat diterima oleh masyarakat disana.

Gebrakan awalnya adalah dengan meluncurkan kartu Pegawai negeri sipil elektronik di Palu. Kartu pegawai elektronik itu multi fungsi, seperti untuk transaksi perbankan atau transaksi keuangan seperti layaknya ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Ia menargetkan bisa mendapat sebanyak 3.000 penggunaan kartu pegawai negeri sipil elektronik hingga triwulan pertama 2011. Saat ini sebanyak 2000 dari 7.600 PNS di Sulawesi Tengah telah memiliki kartu pengawas elekteronik.Para PNS tetap bisa menggunakan kartu elektronik itu meski sudah pensiun.

Mengingat kondisi BPD pada waktu itu adalah sebagai Bank yang paling akhir atau bontot.Pada akhirnya beliau mengatakan bahwa mengelola suatu bank tidaklah sulit jika ada kemauan dan niat, sehingga pada akhirnya pemikiran dan bank yang dikelolanya dapat diterima oleh masyarakat disana. Beliau mencoba mengatasi human resources development (SDM) nya melalui rebranding. Beliau melakukan rebranding karena dari sudut pandangnya,  masyarakat Sulawesi Tengah ini belum mempunyai kebanggan terhadap bank-nya sendiri.Beliau melihat adanya pemetaan dan terlihat hambatan yang perlu diperbaiki dengan cara di-rebrain. Program rebranding masyarakat tidak dapat dikerjakan sendiri sehingga ia mengajak pengelola untuk melakukan brain storming untuk mengerjakan proyek rebranding ini. Seluruh pegawai di brain storming dimulai dari dewan direksinya, sehingga ia dapat melihat siapa saja yang setuju akan transformasi terhadap banknya. Ia melihat siapa saja yang tidak sependapat akan menjadi bahan pemikiran sedangkan yang setuju diikutkan pada program rebranding, Oleh karena itu, ketika beliau masuk untuk mengelola Bank Suteng ia tidak bilang bahwa beliaulah yang membangun tetapi hanya mendinamisasikan potensi dan energi sehingga bank itu dapat bergerak lebih dinamis dan lebih cepat.

 

Pemikiran dan Harapan

Menurut Beliau, perbankan yang baik bukan dari jumlah banknya tetapi kantor pelayanannya. Seperti bank daerah sudah saatnya ada holding. Di daerah seperti  Semarang/Pati jarang terdapat bank umum yang ada bank daerah atau BPR.Hal itu bergantung pada penerimaan daerah. Dan bergantung ada orientasi perusahaannya (corporate oriented).

Berkaitan dengan harapannya, menurutnya generasi muda saat ini belum memiliki self-confidence (kepercayaan diri) pada apa yang dikerjakan. Lain halnya dengan orang Jepang jika melakukan sesuatu maka mereka  tekuni seumur hidup. Belum ada komitmen dan loyalitas yang tinggi. Maka, Ilham Soeroer berkesimpulan penting adanya motivasi dari diri sendiri sekaligus menjadi “role model” diiringi pembinaan. Ia melihat pegawai harus memiliki keyakinan  apa yang dikerjakan sehingga menjadi total dalam berfikir, mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan berdo’a dalam menjalankan apapun. Kekurangan dalam diri sendirilah yang membuat kita harusnya lebih termotivasi. Jadi, kekurangan bukanlah menjadi suatu hambatan melainkan tantangan. Dengan adanya kekurangan atau hambatan akan membuat kita bisa berfikir bagaimana cara mengatasi kekurangan atau hambatan tersebut dan tidak pernah merasa takut terhadap sesuatu atau pekerjaan yang baru. Nantinya semua bisa teratasi dengan baik .

            Jika masuk ke sesuatu yang baru pastilah ada masalah atau konflik seperti halnya yang dialami pria kelahiran Pompanua ini. Beliau hanya mempunyai dua pilihan di depan mata saat menapaki karirnya setelah mendapat promosi Deputi Pemimpin, yaitu masuk ke Papua atau ke Palu, Beliau lebih memilih Palu dengan pertimbangan bahwa daerah Palu selain dekat dengan domisili leluhur kakeknya di Morowali, juga dinilainya Palu merupakan kota yang memiliki potensi sumber daya alam namun terbatas sumber daya manusia yang terlatih. Hal itulah yang mendorongnya untuk berperan aktif setelah terpilih sebagai Ketua I ISEI yang membidangi Pengembangan Ekonomi Regional,  Lembaga keuangan  dan Investasi daerah. Dalam suatu kesempatan kordinasi tripartite, Ia bersama-sama ISEI yang sebagiannya adalah akademisi menggagas sekaligus men”drive” diadakan “SULTENG EXPO” yang menjadi ajang promosi dengan mengajak instansi teknis terkait untuk bersinergi mewujudkan event tersebut. Pada awalnya mendapat tantangan karena selama itu promosi lebih cenderung dilaksanakan di Jakarta, sehingga Palu khususnya atau Sulawesi Tengah umumnya kurang banyak dikenal masyarakat luas dan lebih dikenalnya sebagai daerah konflik (Poso, red). Setelah melalui diskusi terbuka, akhirnya terselenggara Sulteng Expo pada tahun 2006 yang dirangkai dengan Seminar Nasional Indonesia Forum dan pelantikan Pengurus ISEI Sulawesi Tengah,  dengan menghadirkan Gubernur Bank Indonesia – Burhanuddin Abdullah. Kehadiran Gubernur Bank Indonesia saat itu selain memecah kesepian Palu dari kunjungan seorang Gubernur BI dalam rentang waktu 28 tahun,  sekaligus upaya meyakinkan kepada masyarakat luas bahwa Palu atau pun Sulawesi Tengah sudah kondisi “aman”.   Dalam menjalani hari-harinya di Bank Indonesia Palu sebelum masuk ke Bank Sulteng beliau bukanlah tipe orang yang suka berkonflik melainkan tipe pekerja yang tangguh menghadapi segala rintangan dan  ulet sehingga tak heran Ia dapat lalui selama tidak kurang dari 5 tahun di bumi Tadulako yang memberinya banyak inspirasi dan kreasi.

Menyinggung peran pemerintah untuk lembaga seperti BPD, berkat adanya dukungan dari pemerintah daerah melalui Gubernur Sulawesi Tengah (saat itu Bapak HB Paliudju) yang begitu besar sehingga Bank Sulteng dapat keluar dari bank yang tergolong akan menjadi BPR jika tidak dapat memenuhi modal  disetor Rp 100 milyar pada tahun 2007. Harapannya, adalah bagaimana upaya Pengurus Bank  Sulteng berupaya agar  tidak saja dapat di terima di kalangan masyarakat regional Sulteng saja tetapi Bank Sulteng dapat dikenal dan diterima nasional secara luas. Hal itu kemudian, Ia memasuki advetorial – beriklan melalui salahsatu koran nasional yang dikenal banyak dan luas dikalangan investor dan pebisnis. Sayangnya dikalangan Pengurus kok malah dianggap pemborosan, lha marketing kok.  Menurut Ayah 4 orang putra/putri ini, hal yang dapat dilakukan karyawan antara lain, ketika BPD setback, Ia tetap memberikan motivasi kepada pegawai tentang penerapan transformasi yang dilakukan guna mengejar ketertinggalan Bank Sulteng. Bagaimana bisa menghasilkan sesuatu yang banyak dan meluas sehingga dapat dikenal banyak orang, karena mengubah budaya kerja seadanya yg melekat selama  42 tahun bukanlah perkara yang mudah.

Ketika disinggung mengenai kebudayaan di Sulawesi Tengah yang mempengaruhi operasional suatu BPD, Beliau tidak menjelaskan lebih gamblang karena menjaga untuk tidak disalahtafsirkan seperti SARA. Beliau lebih suka menyerahkannya pada masyarakat. Masyarakat saja yang berhak menilainya. Berkat kerja kerasnya yang tak mengenal lelah, dalam kurun waktu 1 tahun beliau sudah bisa mengubah pola pikir internal maupun kebudayaan masyarakat untuk gemar menabung melalui sosialisasi “Gerakan Indonesia Menabung” ke pelosok. Antara lain masyarakat lebih mengenal budaya menabung, kebiasaan yang sifatnya konsumtif menjadi yang produktif, serta merasa bangga mempunyai bank sendiri. Beliau berusaha memberikan panutan dan tidak meremehkan orang-orang di sekitarnya sehingga bisa membawa pembaharuan karena banyak pegawai yang puluhan  tahun bekerja namun belum pernah diberi pelatihan ataupun pendidikan.

            Dalam program pengembangan bank ini tidak ada kepentingan pribadi melainkan lebih dititikberatkan untuk kepentingan Bank Sulteng semata.

 

Ilham Soeroer di mata Keluarga

 

Akan halnya harapan Ia terhadap anak-anaknya, Ia selalu menekankan anak-anaknya agar bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan dan mencintai pekerjaan yang digeluti. Kedisiplinan yang didapat dari kakek dan Ayah-Bundanya juga ditularkan pada keempat orang putranya, walau belum ada yang mengikuti jejaknya bekerja di Bank ataupun masuk di Bank Indonesia. Dengan kita mencintai pekerjaan, maka pekerjaan juga akan mencintai kita, tandas pria yang memiliki saudara sebanyak 9 orang yang hidup dari 12 orang yang dilahirkan ibundanya, yang semuanya menyebar di seluruh Indonesia ini menutup pembicaraan.

Drs. Joko Santoso

Drs. Joko Santoso
Kepala SMP Negeri 142 Jakarta

Beberapa Kali Menghindar, Suratan Takdir Membawanya Menjadi Guru

Sosok Drs. Joko Santoso, tidak pernah bercita-cita untuk menjalani profesi sebagai guru. Bahkan dalam mimpi terburuk pun tidak terbersit keinginan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tetapi suratan takdir menentukan lain, sejak lulus SMA jalan hidupnya mengarah ke sana. Ia diterima sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Olahraga (STO) Semarang.

“Saya tidak tahu kalau STO itu sekolah calon guru. Makanya waktu lulus saya tidak mau mengajar karena memang dasarnya tidak senang menjadi guru. Saya mendaftar dan mengikuti seleksi wajib militer, diterima. Tetapi ketika datang ke Jakarta, ternyata pendidikan ditunda satu tahun karena prioritas lulusan Akademi Perawat dan Kedokteran. Sementara Jurusan Olahraga separuh dipulangkan, termasuk saya. Padahal di rumah sudah mengadakan syukuran,” kata Kepala SMP Negeri 142 Jakarta ini.

Terlanjur malu, ia kemudian “eksodus” dari Jakarta menyeberangi Selat Jawa menuju Lampung. Di provinsi tersebut, ia mendaftar menjadi asisten dosen di Universitas Lambung Mangkurat, Lampung. Meskipun dinyatakan diterima, lagi-lagi ia “kabur” ke Jakarta. Kali ini bukan karena malu, tetapi desakan orang tua yang menghendaki agar salah satu anaknya tinggal di Jawa. Pasalnya, adiknya telah menekuni bidang pertanian di luar Jawa.

Joko Santoso mengalah. Ia meninggalkan pekerjaan yang telah berada dalam genggaman untuk mencari pekerjaan di belantara ibukota. Di Jakarta, ia “akhirnya” harus menerima kenyataan. Pekerjaan yang selama ini selalu dihindarinya, tiba-tiba terbuka untuk pria kelahiran Klaten, 16 Desember 1958 ini. Baru satu minggu berada di ibukota, ia berkesempatan mengikuti tes ujian penerimaan guru.

“Saya diterima meskipun belum punya KTP dan kartu kuning. Saya lulus, dan berkesimpulan bahwa saya memang harus menjadi guru. Mulai saat itu saya berniat untuk menjadi guru yang benar-benar professional,” katanya.

Niatnya benar-benar dibuktikan setelah menekuni profesi sebagai guru di SMP Negeri 47 Jakarta. Pada tahun kedua, ia sudah berkiprah sebagai pembina OSIS dan memasuki tahun keenam menjadi Wakil Kepala Sekolah (Wakasek). Tiga bulan setelah menjabat Wakasek, ia berkesempatan mengikuti ujian Kepala Sekolah.

Kesempatan yang diberikan ini tidak lepas dari kiprah Joko Santoso di dunia pendidikan DKI Jakarta. Meskipun “hanya” guru olahraga, ia adalah instruktur pendidikan olahraga di seluruh DKI Jakarta pada tahun 1996-1998. Disamping tugas tersebut, ia secara freelance ditugaskan oleh Depdiknas untuk memonitor prestasi olahraga pelajar di seluruh Indonesia. Tugas ini membuatnya sering keliling Indonesia untuk memantau atlet muda di seluruh daerah.

“Mungkin karena itu saya berkesempatan mengikuti ujian Kepsek. Saya memang lulus, tetapi tertunda sampai enam tahun. Nah, dalam masa penantian tersebut saya mulai ragu apakah akan terus menjadi guru atau menekuni usaha saya yang mulai maju. Karena ada pertanyaan besar apakah saya mampu menguliahkan anak-anak dengan gaji sebesar itu,” ujarnya.

Akhirnya, Joko mengukuhkan diri untuk tetap menjadi guru karena usaha penanaman kapas di daerah asalnya gagal. Padahal, ia sangat serius dalam menjalankan usaha tersebut sehingga “dibela-belain” pulang pergi Jakarta-Klaten, setiap Sabtu dan Minggu sore. Kekuatan untuk menjalankan pekerjaan di dua tempat yang terpisah ini membuat kagum Kepala Sekolah karena ia tidak pernah sekalipun meninggalkan tugas.

“Karena usaha bangkrut, lagi-lagi saya berkesimpulan bahwa memang saya harus menjadi guru. Setelah niat itu, secara kebetulan selang satu bulan kemudian saya bertemu Kasudin Pendidikan Dasar Jakarta Pusat. Beliau bertanya berbagai hal dan menyuruh saya mengikuti ujian kepala sekolah. Saya jawab, wah sertifikat saya sudah hampir membusuk, Pak, karena saya sudah ujian lima tahun lalu, kok,” kisahnya.

Dari obrolan tersebut, Joko diminta untuk membawa sertifikat kelapa sekolah-nya ke kantor Kasudin Pendidikan Dasar Jakarta Pusat. Setelah itu proses pengangkatannya sebagai kepala sekolah ternyata sangat gampang. Meskipun banyak guru-guru senior yang sudah memiliki sertifikat kepala sekolah, tetapi ia memperoleh kesempatan awal. “Beliau bilang, satu bulan lagi saya menjadi Kepsek. Mungkin karena tidak pernah tanya dan dilihat dari CV, saya banyak berkecimpung di Kanwil maupun Departemen, sehingga saya diangkat duluan,” imbuhnya.

Tidak Mengejar Prestasi

Dalam berkecimpung di dunia pendidikan, Drs. Joko Santosa menjalaninya secara mengalir dan professional. Seperti meskipun sudah menggenggam sertifikat kepala sekolah sejak tahun 1998, ia tidak pernah mempermasalahkan kenapa dirinya belum juga diangkat sebagai kepala sekolah. Ia juga tidak pernah meminta atasannya untuk mempercepat proses kenaikan jabatanya tersebut.

“Mengalir saja, kalau memang sudah tiba saatnya menjadi Kepsek, pasti jadi juga. Istilahnya saya tidak ngoyo dan mengejar prestasi itu, belajar dari pengalaman-pengalaman yang lalu. Seperti pertama kali menjadi PNS, SK saya ditunda selama satu tahun karena belum punya KTP dan kartu kuning. Saya lulus tahun 1986, tetapi baru pada 1987 baru keluar SK,” katanya.

Joko Santoso sudah membayangkan dirinya akan menjadi gila kalau sampai SK pengangkatannya tidak juga “turun”. Setelah gagal masuk Wamil, gagal menjadi dosen dan seandainya gagal juga menjadi PNS guru, ia tidak akan kuat menanggung malu. Karena terdesak keperluan itu, ia meminta bantuan Kanwil sehingga diputuskan untuk menempatkan dirinya di sekolah negeri. Meskipun untuk itu, ia harus menunggu selama satu tahun.

Sejak itu, Joko benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Sebagai guru, ia fokus, professional, tidak pernah bolos mengajar dan tidak neko-neko meskipun setiap tanggal 20 gajinya sudah habis. Karena saat itu gaji guru hanya cukup untuk biaya transport saja. Tetapi karena ia memiliki pekerjaan sambilan bisnis, gajinya yang kecil tidak menjadi masalah. Apalagi, saat itu ia juga mengajar di sekolah pelayaran, SMK Santa Lusiana dengan gaji yang “lumayan”. “Sekolah tersebut mendapat dukungan dana dari LSM Belanda,” tambahnya.

Akhirnya Joko dipromosikan dan diangkat sebagai Kepala Sekolah SMP 78. Saat itu, SMP yang dikategorikan sekolah yang bagus dalam kondisi menurun. Tetapi sebelum diterjunkan memimpin SMP 78, ia diajak studi banding ke Singapura oleh Kasudin Pendidikan Dasar Jakarta Pusat. Tujuannya, agar ia tahu bagaimana sekolah yang baik, sehingga bisa dipraktekkan di sekolah yang dipimpinnya.

“Kalau 100 persen tidak mungkin, tetapi setidaknya mendekatilah. Tetapi Alhamdulilah karena guru mendukung, komite mendukung, maka SMP 78 menduduki peringkat kedua di Jakarta Pusat. Saya juga berhasil memperjuangkan rehabilitasi total sekolah, meskipun lahan yang dimiliki hanya 920 meter. Saya terus merayu sama yang diatas, sehingga akhirnya dirombak total menjadi empat lantai. Sayangnya, hari Senin diresmikan, Jumat sebelumnya saya dimutasi di SMP 228,” katanya sambil tertawa.

Merangkap Dua Sekolah

Salah satu “keunikan” karier Drs. Joko Santoso sebagai kepala sekolah adalah beberapa kali merangkap jabatan. Misalnya saat merehabilitasi gedung SMP 78, ia “dipercaya” untuk sekaligus menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP 228 karena kepala sekolah sebelumnya memasuki masa pensiun. Masa jabatan di dua sekolah ini diembannya selama enam bulan.

“Karena merasa jauh dari rumah, saya mengajukan permohonan untuk dipindahkan ke wilayah Jakarta Barat. Tetapi ternyata mulai guru-guru hingga pimpinan inginnya saya definitif di SMP 228. Bukan itu saja, SK yang dikeluarkan Dinas juga menguatkan keinginan mereka,” katanya. Setelah satu bulan definitif memegang SMP 228, Joko juga ditugaskan merangkap di SMP 10. “Ndak tahu kok saya sampai merangkap-rangkap begitu,” tambahnya.

Setelah dua bulan merangkap, Joko kembali fokus memegang satu sekolah saja, SMP 228. Setelah kebijakan Pemda DKI yang mengharuskan seluruh sekolah di Jakarta masuk pukul 06.30, ia mengajukan permohonan pindah. Alasannya, meskipun berangkat dari rumah pukul 05.00 subuh pun, ia sering terlambat. Akhirnya permohonannya dikabulkan dan terhitung sejak tanggal 1 Februari 2010, ia menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 142 yang lebih dekat ke rumah.

“Saya lihat di sini banyak PR yang harus dikerjakan, karena keinginan saya juga banyak. Contohnya tingkat kelulusan UN hanya 52 persen, meskipun itu juga bukan murni kesalahan guru. Tetapi memang sarana dan prasarananya sangat minim sekali meskipun dengan gedung semegah ini,” tandasnya.

Di tangannya, sekolah menjadi lebih tertata. Ia memasang kamera di setiap kelas untuk memantau kegiatan belajar mengajar para siswa/guru. Ia juga menambah sarana olahraga, kesenian dan prasarana lain yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. “Pemasangan kamera ini sangat bagus karena murid dan guru merasa diawasi sehingga serius dalam belajar. Mestinya yang masang kamera adalah sekolah yang sudah RSBI. Tetapi meskipun sekolah ini masih standar tetapi mutunya tidak kalah dengan SSN,” katanya.

Drs. Joko Santoso memfokuskan kepada guru sebagai aktor pendidikan di sekolah. Sedangkan murid –meskipun aktif- tetap tergantung sepenuhnya kepada guru. Bahayanya, kalau sampai guru merasa kecewa mereka cenderung untuk mengajar murid-muridnya dengan seenaknya sendiri.

“Saya menggunakan pendekatan dengan merayu guru tetapi menghindari perintah langsung. Kalau menegur saya tidak pernah marah dan menggunakan bahasa yang halus. Karena kesejahteraan guru sudah terpenuhi, tidak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan. Kalau mereka mengkritik, saya tidak pernah marah, karena itu justru menambah ilmu saya,” kata kepala sekolah yang bervisi jauh ke masa depan ini.

Untuk “merayu” para guru, Joko setiap enam bulan sekali mengajak mereka untuk makan-makan di restoran. Ia menyerahkan pilihan makanan sesuai selera dan keinginan para guru. Selain itu, melihat hobi para guru bermain tennis meja, ia menambah lapangan tennis meja sebanyak empat unit.

“Itu cara saya merayu mereka. Karena biasanya saya dipandang sebelah mata karena ‘hanya’ guru olahraga. Setelah itu biasanya sudah menyatu dan tidak ada kendala lagi sehingga menjadi semangat semua. Biasanya, ketika guru sudah tertarik dan bersimpati, semua omongan saya diikuti,” katanya membeberkan rahasia “menaklukkan” hati para guru. Di SMP 142 Ia memimpin 47 guru dan 12 karyawan dengan 900 siswa. “Semua guru sudah S1 bahkan ada yang S2. Kecuali kepala sekolahnya yang mogol. Seharusnya tahun 2007 saya sudah selesai S2, tetapi sampai sekarang pun masih belum kelar juga,” tambahnya sambil tertawa.

Ke depan, Joko Santoso memiliki obsesi agar sekolah yang dipimpinnya lebih baik dari sekolah berstandar SSN. Meskipun hingga sekarang SMP 142 tidak berpredikat SSN, tetapi dari pengalaman memegang sekolah sebelumnya, secara kualitas akademis tidak kalah dengan sekolah RSBI. Padahal, sekolah yang dipimpinnya saat itu, SMP 78 rintisan SSN pun belum tetapi prestasinya melebihi sekolah RSBI.

“Karena memang secara lahan tidak memenuhi syarat untuk SSN, tetapi secara akademik bisa diandalkan. Nilai rata-rata akademik sudah 8,3 sementara persyaratan untuk SSN hanya 7,0. Dengan nilai itu sebenarnya sudah sejajar dengan SSN, tetapi kita masih sekolah standar reguler,” ungkapnya. Kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi kebanggaan SMP N 78 adalah marching band. “Bahkan, marching band SMP N 78 pernah tampil di negara Belanda dan pernah diboyong Gubernur Bali,” imbuhnya menutup pembicaraan.

SM Panjaitan

Direktur Utama PT Surya Global Security Service

Sukses Menyeluruh Sulit Dicapai

Setiap menjalankan sebuah usaha, diperlukan planning (perencanaan), money (uang), man (manusia), peralatan ditambah dengan strategi yang jitu. Semua itu, digabungkan dalam sebuah pentahapan pencapaian yang terencana sejak memulai (start), lokasi usaha, sampai tujuan terukur yang ingin dicapai. Misalnya, usaha jangka panjang yang terukur antara 5-25 tahun, jangka sedang dalam hitungan 12 bulan sementara jangka pendek maksimal 30 hari.

Meskipun demikian, semua itu tergantung pada sasaran atau target yang ingin dicapai oleh pemilik usaha. Yang jelas, kesuksesan bisa diukur dengan berbagai patokan, mulai sukses dalam bentuk uang, kepemimpinan, kesejahteraan dan lain-lain.

“Untuk sukses secara menyeluruh sangat sulit dijangkau. Karena usaha itu bisnis dengan motto ‘Modal sedikit dengan hasil yang banyak’. Harus tetap sejahtera tetapi tidak melanggar aturan dan berjalan sesuai Undang-Undang dan peraturan. Pengusaha harus berpedoman pada ilmu ekonomi, kepemimpinan dan managerial yang menyesuaikan perkembangan zaman, serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dan canggih. Dia juga harus terus berinovasi untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan sesuai Asta Gatra, ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan keamanan,” kata SM Panjaitan, Direktur Utama PT Surya Global Security Service.

Pengusaha sukses, lanjutnya, tidak akan tergantung kepada nasib. Ia sangat tergantung pada kegigihan, keuletan, ketekunan, kedisplinan, ketelitian dan kecermatan di segala hal. Pengusaha yang sukses memiliki selektivitas dan prioritas dalam mengambil keputusan, memahami kebutuhan pasar serta perkiraan tentang masa depan. Tentu saja, semua itu melalui perhitungan yang sangat matang, berdasarkan angka-angka sehingga bisa menentukan sasaran-sasaran tambahan. Yakni melalui usaha mendapat inovasi baru dan bukan sekadar “coba-coba”. Kalau pun dilakukan hanya “coba-coba” tetapi melalui perhitungan menurut teori penelitian.

Menurut Panjaitan, seorang pengusaha adalah sekaligus pemimpin, yang mengerahkan orang lain untuk mewujudkan gagasan dan idenya. Pengusaha yang pemimpin, menduduki salah satu golongan dalam kategori umum manusia yang terdiri atas empat kategori. Kategori pertama adalah orang yang tidak tahu kalau dirinya tahu. Kedua orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga selalu menjadi penghalang. Ketiga orang yang tahu kalau dirinya tahu dan keempat orang yang tahu dirinya tidak tahu.

“Apabila dua kategori terakhir berada dalam diri satu orang, maka dialah yang akan menjadi pemimpin. Karena dia mampu memberdayakan sumber daya yang ada –manusia, uang dan alat- mampu menggerakkan, memotivasi, menuntun dan membimbing. Dia juga mampu memberdayakan uang, mampu menempatkan orang dengan tepat sesuai kapasitas masing-masing. Bahkan, seorang pemimpin bisa membuat orang yang dinilai bodoh menjadi sangat ahli di bidangnya,” tegasnya.

Seorang pemimpin, jelas Panjaitan, memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh. Masing-masing manusia dalam keyakinan pemimpin telah mendapat porsi tugas, fungsi dan peranan yang tidak persis sama. Untuk itulah, seorang pemimpin menciptakan sistem yang berupa suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari banyak unsur yang saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Masing-masing orang memiliki talenta yang membutuhkan kompetensi hasil belajar latihan dalam berbagai tingkatan. Semua itu dapat ditentukan oleh seorang pemimpin melalui kriteria-kriteria tertentu yang jelas dan terukur.

Seorang pemimpin perusahaan, menurut Panjaitan, harus bijak dalam menerima kritikan positif. Dia tidak boleh terlalu fanatif terhadap sebuah pendapat dan mengabaikan saran-saran yang berasal dari anak buahnya. Seorang pemimpin harus mempertimbangkan sebelum memutuskan, tidak egois, fleksibel, luwes dan energik. Selain itu, pemimpin harus gampang menyesuaikan diri, lembut tetapi prinsip dan keyakinan harus tercapai.

“Seorang pemimpin itu harus seperti air, yang selalu mengalir, merembes atau menguap tetapi selalu mencapai laut. Itulah tujuan sebenarnya dari air yang tidak dapat dibendung oleh apapun sebelum mencapai laut sebagai tujuan akhir. Tidak ada yang dapat menghentikan gerakan tersebut bahkan kalau perlu tsunami menggerakkan air. Seperti itulah pengusaha sukses menurut pandangan saya,” ungkapnya.

Seorang pengusaha sukses, imbuhnya, adalah orang yang sukses dalam penggunaan uang (money) dan menikmati hasilnya. Dia juga sukses menggerakkan orang (man) dengan kesejahteraan rohani dan batin. Pengusaha yang sukses juga berhasil dalam memaksimalkan penggunaan alat, profesional dan proporsional, tepat guna dan berhasil guna. Artinya pengusaha sukses harus berguna bagi orang banyak dan bukan keuntungan pribadi atau kelompok saja.

Memerlukan Inovasi

Dalam memimpin perusahaan, menurut Panjaitan akan sangat berbeda dengan pimpinan dalam kemiliteran. Kalau dalam kemiliteran garis komando sangat jelas penanggung jawab antara yang dipimpin dengan pimpinan, pengusaha tidak bisa melakukannya. Pimpinan di militer lebih gampang mengendalikan anak buahnya terkait adanya garis komando tersebut. Sementara pimpinan perusahaan tidak memiliki hubungan yang tegas dengan para karyawan yang dipekerjakannya.

“Kedudukan antara pemilik perusahaan dan karyawan relative sejajar. Karyawan hanya takut dipecat atau dikeluarkan dari pekerjaan oleh kekuasaan sehingga tanggung jawabnya kurang. Kebanyakan karyawan ingin bekerja sesedikit mungkin dengan hasil semaksimal mungkin dengan berbagai dalih atau alasan. Karyawan tidak sadar bahwa mereka ikut pemilik perusahaan dengan saham tenaga. Oleh karena itu, bagi pimpinan perusahaan harus mencari cara dan strategi atau formula yang paling baik dan terus melakukan inovasi yang berkesinambungan,” tandasnya.

Sebenarnya, kemajuan atau kemunduran sebuah usaha merupakan sebuah kejadian biasa dan normal. Seperti grafik dalam kehidupan di dunia ini, kenaikan atau penurunan adalah sesuatu yang wajar. Yang penting, tujuan akhirnya adalah tercapainya sasaran yang telah direncanakan. Kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan, yang mengetahui dengan pasti adalah pimpinan atau pemilik perusahaan. Pencapaian kemajuan perusahaan sampai 65 persen akan dinilai berhasil pada tahapan jangka pendek, sedang dan panjang. Meskipun demikian, angka 100 persen pencapaian dalam bisnis bukan tidak mungkin terjadi.

Seorang pengusaha, jelasnya, dapat melatih indera penciuman terhadap peluang bisnis di sekitarnya. Salah satu latihan yang paling berguna adalah dengan melatih panca indera untuk penguasaan terhadap informasi. Karena ketika informasi sudah dikuasai, bisa diibaratkan seorang pengusaha telah menguasai dunia. Semua itu bisa diperoleh melalui olah pikir dari membaca, baik ilmu pengetahuan maupun media massa. Kemudian banyak melihat, mendengar, merasa dan mencium sehingga banyak pengalaman, baik media massa, elektronik dan lain-lain.

“Kemudian kita harus menguasai banyak bahasa. Kemudian olah fisik atau olahraga juga menggunakan otak. Kalau sudah pintar, bijak melalui olah fakir tentu membutuhkan fisik yang sehat. Orang pintar juga harus dengan fisik yang sehat dan kuat. Bila ini dimiliki seseorang, kami yakin indera penciuman di bidang usaha atau bisnis pasti tajam. Bahkan mereka akan mampu secara otomatis mencium peluang usaha yang baik untuk bisnis di masa depan,” tegasnya.

Menarik Becak

SM Panjaitan adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Komisaris Polisi. Ia telah menjalani tugas panjang di kepolisian selama 37 tahun 10 bulan dari pangkat terendah, Bharada pada tahun 1969 (14 Februari 1970, resmi menjadi polisi). Selama bertugas di kepolisian, ia menjalani pendidikan kedinasan sampai 14 kali untuk meningkatkan kompetensinya sebagai petugas yang mengabdi kepada masyarakat. Setelah pensiun pada tahun 2006 (30 Desember 2006), ia mengisi masa pensiun dan membuka usaha pada bulan Oktober 2008.

Saat menjalankan tugas sebagai polisi, Panjaitan menyadari bahwa pekerjaan adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ia harus mengutamakan tugas di atas segalanya. Adapun tugas mengurus anak dan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada istri tercinta. Di luar tugas, barulah tenaga, pikiran dan seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk mencari penghasilan yang halal.

“Saya pernah menarik beca dari tahun 1976-1977, mencatak dan memasok sol sepatu, mandor angkot, beternak, membuat ember dari tong aspal dan lain-lain. Semua itu saya kerjakan di luar tugas kepolisian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena saat itu, adik-adik datang dari kampung dan kebetulan saya tinggal di luar asrama. Nah, saat saya berpangkat sersan dan menjadi komandan regu maka saya harus masuk asrama. Terpaksa, kegiatan di luar saya hentikan demi kelancaran tugas dan karier. Meskipun secara penghasilan banyak berkurang, tetapi itu peraturan yang harus ditaati,” kisahnya.

Panjaitan tentu saja harus mematuhi aturan yang berlaku di asrama sehingga tidak bisa menjalankan bisnisnya di luar jam kerja. Ia terikat peraturan asrama yang bahkan untuk keluar asrama pun harus mendapat izin dari Ka. Asrama kecuali untuk kepentingan tugas. Di sini ia banyak belajar bagaimana tugas dan kriteria pimpinan militer atau kepolisian yang penuh disiplin. Pimpinan militer (perwira) bagaikan martil, yang menokok paku adalah bintara –penghubung antara atas dan bawah- sedangkan yang dipalu adalah bawahan (tamtama( yang banyak menjadi satu agar kuat dan tahan. “Pemimpin militer memimpin prajurit yang telah dilatih tegas dan keras dalam disiplin dan tanggung jawab. Jadi baik yang memimpin maupun yang dipimpin sama-sama keras,” ujarnya.

Pengalaman disiplin di kepolisian, sedikit banyak dipraktekkan Panjaitan dalam mengendalikan perusahaan. Ia berharap perusahaan yang dipimpinnya menjadi sarana mendapatkan manusia yang sejahtera, bertanggung jawab dan berguna bagi kesejahteraan keluarganya. Baginya, bekerja merupakan pengalaman berharga dan menjadi ilmu yang dapat digunakan untuk dijadikan ilmu pengetahuan bagi para staf dan karyawan perusahaan. Setidaknya, para karyawan mampu mengembangkan perusahaan sesuai perkembangan zaman karena mereka lah penggerak dan motor perusahaan.

Panjaitan sadar, sedikit banyak usaha yang digelutinya sekarang adalah merupakan bagian dari program pemerintah. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah turut campur tangan mengenai masa depan perusahaan. Yakni dalam hal perencanaan, man, money, peralatan dan produk hukum serta peraturan dengan batasan-batasan tertentu. Kemajuan perusahaan akan memberikan andil dalam mensejahterakan rakyat sedangkan kemundurannya berakibat sebaliknya.

“Sebagai pemimpin, saya harus menggugah dan memotivasi karyawan atau generasi muda. Saya juga berkewajiban mendorong dari belakang dengan menjadi contoh di depan, bersikap adil dan bijaksana, berusaha memberi pandangan visi ke depan agar jangan jalan di tempat. Namun, sekarang semua itu menjadi sangat terbatas, hanya di lingkungan kerja saja. Akibat kesibukan pekerjaan yang sangat padat, membuat saya harus membatasi aktivitas di tempat lain,” kata SM Panjaitan.

 

E. Kurniawan, S.Si MT

PT Indonesian Environment Consultant

Masalah Lingkungan dan Manusia Menjadi Passion Dalam Bisnis

Lingkungan hidup sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya.
Manusia dengan kemampuan berpikir dan kepekaan emosinnya merupakan mahluk yang mumpuni di bumi ini. Telah menjadi sifat manusia untuk selalu meningkatkan taraf hidup, sehingga ia melakukan berbagai inovasi yang dapat mempermudah dan meningkatkan kehidupannya. Hal ini dimungkinkan oleh karena tangannya yang dapat membuat alat (prehensile hands) dan matanya yang stereoskopik, sehingga ia dapat melakukan konseptualisasi dan mengimplementasikan konsepnya.
Dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kehidupan dalam perateknya haruslah dapat memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksinya secara sungguh-sungguh dengan tujuan akhir adalah tersediannya sumber daya alam yang lestari.
PT. Indonesia Environment Consultant hadir dalam rangka mewujudkan terciptanya penyelarasan antara imperatif peningkatan taraf hidup dan kehidupan dan kewajiban moral untuk mewujudkan lingkungan yang lestari dengan mengusung satu visi besar kedepan yaitu Menjadi perusahaan Green Business terbaik di Indonesia dan sebagai mitra bagi institusi lain dalam upaya menciptakan Planet bumi yang lestari.

“Menurut saya, setiap manusia lahir dimuka bumi ini pasti punya alasan tertentu, oleh karena itu saya sangat menyadari bahwa Tunah SWT menciptakan saya dimuka bumi ini untuk 2 (dua) alasan yaitu manusia dan lingkungan. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya memilih manusia dan lingkungan menjadi passionnya hidup saya. Saya berharap dengan segala apa yang telah saya miliki dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan pelestarian fungsi lingkungan. Untuk saat ini kegiatan dan aktivitas yang saya kerjakan selalu terkait di kedua koridor tersebut yaitu lingkungan dan manusia termasuk didalamnya menjalankan aktivitas bisnis yang saya lakukan. Mungkin nanti, sesudah semua berjalan sesuai harapkan akan mengembangkan ke ranah yang lain terutama untuk kegiatan bisnis dibidang lainnya,” ujar E. Kurniawan, President Director/CEO PT Indonesian Environment Consultant.

Enang –panggilan akrabnya- adalah lulusan S1 Jurusan Biologi Lingkungan di Universitas Sriwijaya tahun 2001. Setelah lulus, selama dua bulan bekerja di sebuah bank internasional, Citibank NA. Ketika perusahaan otomotif terkemuka, PT. Astra Internasional Tbk membuka lowongan pekerjaan ia melamar dan diterima di PT. Astra International-Toyota Cabang Sudirman dan cabang Ambasador Jakarta. Di tempat inilah, ia belajar mengenai ilmu bisnis, filosofi perusahaan dan lain-lain, yang akhirnya diimplementasikan di perusahaan sekarang.

Meskipun demikian, sembari bekerja Enang tetap menyimpan cita-cita besarnya, ia mengumpulkan modal untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus tes di Program Megister Teknik Lingkungan ITB Bandung, ia memutuskan keluar dari PT. Astra International Tbk. Semua orang terhenyak mendengar keputusan yang sangat radikal tersebut. Dari orang tua, saudara, tetangga dan sahabat-sahabatnya keheranan. Bagaimana mungkin, pada usianya yang baru 25 tahun dan memiliki penghasilan cukup baik ditinggalkan begitu saja untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti.

“Cukup besar tentangan saat itu. Tetapi saya katakan, mungkin inilah jalan hidup yang digariskan Tuhan. Saya berjanji kepada orang tua dan saudara-saudara untuk tidak akan mengganggu hidup mereka dan tetap akan menjalankan peran saya sesuai harapan dan ekspetasi mereka. Makanya, demi cita-cita akhirnya saya keluar dari Astra.

Ketika setelah keluar dari Astra dan hampir satu bulan saya tidak bekerja di Astra rupanya Tuhan justru memberikan jalan terbaik karena atasan menyuruh saya bekerja part time di Auto 2000 Pasteur Bandung. Masih ingat pada waktu itu ketika wawancara dengan kepala cabang di Auto 2000 Pasteur justru atasnnya tersebut sangat mendukung sekolah saya. Ia bahkan mau menerima saya dengan syarat agar saya fokus kepada kuliah menjadi hal utama, bukan pekerjaan. Wah, ini memang rezeki untuk ku, bukan syarat itu,” katanya.

Enang menyelesaikan kuliahnya selama hampir dua tahun yaitu pada 2004-2006. Selama masa perkuliahan perjuangan berat harus dijalani karena menjalankan dua aktivitas sekaligus yaitu kuliah sambil bekerja. Sempet ia berpikir kuliah di program masternya saat ini tentunya tidak akan terlalu berat seperti program sarjana, namun rupannya beliau keliru aktifitas diperkuliahan justru menyita pikiran dan tenaga cukup besar sehingga diperlukan effort yang cukup besar untuk mengatur semuanya agar aktifitas perkuliahan dan bekerjanya tetap berjalan dengan baik. Aktifitas sehari-hari terkadang kuliah dimulai jam 7 pagi sampai dengan jam 1 siang lalu dilanjutkan dengan pergi kekantor untuk jalankan aktifitas pekerjaannya pulang pada malam harinya, dan dilanjutkan dengan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang terkadang harus begadang semalaman untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, kadang saat itu ia berfikir ini terlalu berat, tapi ia disadarkan bahwa semua akan indah pada waktunya, kilahnya.

Di ujung Akhir perkuliahnnya, saatnya ia disadarkan kembali untuk memilih jalan hidup yang menjadi cita-cita dan mimpinya dengan menggunakan kontrak hidup “berani” ia benar-benar menggunakannya untuk keluar dari perusahaan otomotif tersebut yang hampir 5 tahun membesarkannya. Sayangnya, ia harus menanggung “masalah besar” karena ketika setelah beberapa saat mengajukan diri untuk keluar suatu masalah membelitnya. Permasalahannya dengan customernya, membuat ia harus kehilangan seluruh tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja, bukan hanya itu bahkan dia merasa disinilah titik terendah yang pernah dialaminya.

“Itu sebagai kompensasi dan mungkin itu juga resiko yang harus saya bayar untuk mendapatkan mimpi saya kelak. Tinggallah saya yang sudah keluar dari perusahaan, tak punya pekerjaan dan hanya menyisakan uang Rp49 ribu di rekening. Disinilah saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Bahwa ketika kita berani bermimpi, kita tidak hanya siap menghadapi risiko. Tetapi kita bahkan harus berani membayar risiko dari apa yang dicita-citakan apapun itu, karena saya percaya untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa tidak bisa ditempuh dengan cara yang biasa yang kebanyakan orang dilakukan,” ungkapnya.

Dari situ, Enang kemudian membangun perusahaan setahap demi setahap. Modal awalnya adalah semangat karena selepas dari Astra dan harus menghabiskan seluruh tabungan di akhir kariernya, ia tidak memiliki dana sama sekali. Hanya keinginan dan cita-cita yang membuatnya membangun perusahaan yakni melalui passion di bidang lingkungan dan sesekali menjalankan aktifitas lainnya seperti menjadi fasilitator dan co trainer di lembaga training untuk memuaskan hasratnya di passion lainnya terkait manusia.

“Saya merasa dikirimkan Tuhan untuk dua tujuan, lingkungan dan manusia. Tidak untuk orang lain makanya saya ambil risiko dan membangun ini. Dari berkantor ikut orang sekarang sudah memiliki kantor yang layak. Saat ini kami berkantor di Menara Hijau Building MT Haryono Jakarta. Tahun pertama dan kedua perusahaan berjalan, saya tidak pernah berbicara tentang manajemen, tetapi lebih banyak kepada value dan budaya corporate. Karena saya menganggap pondasi perusahaan terletak pada velue dan budaya corporate, katanya.

Keberanian dan Komitmen

Indonesian Environment Consultant memulai dengan membangun bisnis lingkungan berawal sebagai konsultan. Belakangan, IEC juga memasuki bisnis dalam kategori services di bidang lingkungan. Tahun 2012, ia ingin membuat award untuk teknologi lingkungan yang hasilnya akan diimplementasikan dalam industrial scale.

“Mungkin akan kita bangun bersama sponsor. Tujuan kita adalah membangun industri yang berbasis green business, kelak kita berharap akan menjadi pusat inkubasi bisnis untuk Greeen Technology. IEC nanti akan terjun ke pengolahan limbah, manufaktur dan energi,” kata finalis Teknopreuneur Award dan New Ventures Indonesia ini.

Menilik kembali perjalanan IEC, Enang menjelaskan bahwa perusahaan yang didirikannya menjadikan tekad sebagai modal utamanya dan dalam menjalankan usahannya adalah spirit sebagai motor dalam menggerakan roda perusahaan sesuai yang dikehendaki. Dengan spirit itu akan mudah meningkatkan kepercayaan dari para kolega yang disertai dengan filosofi penjualan spirit power selling yakni menjual by spirit. Jadi rahasianya adalah menyampaikan spirit yang dimiliki kepada calon pelanggan,” tuturnya.

Setiap perusahaan memiliki cara yang tersendiri untuk tumbuh dan berkembang, begitu juga dengan IEC ketika tahun-tahun awal focus terhadap value dan budaya corporate baru satu tahun belakangan fokus terhadap manajeman dan profit. Meskipun demikian, sebagai pemilik Enang sangat bersyukur karena semua itu sesuai harapannya dan semua perjalanan itu terasa indah lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. Bagi pengagum Bung Karno ini, membangun pondasi bisnis yang kuat lebih berguna daripada harus untung dahulu. Dengan memiliki bisnis yang kuat dan akhirnya menguntungkan, berarti ia telah menjawab dan menepis keraguan orang tua dan saudara-saudaranya saat keluar dari Astra.

“Butuh pemahaman yang kuat terhadap proses berjalan dan siap menerima dinamika yang akan terjadi dalam membangun usaha ini. Hobinya naik gunung sewaktu kuliah telah memberinya pelajaran berharga, bahwa kita haruslah tetap fokus terhadap tujuan, dimana tujuan utama kita naik gunung untuk tiba di puncak dan pulang kembali ke rumah dengan selamat. Saya mengumpamakan dalam hidup sama seperti kita mendaki gunung sering sekali kita temukan jalan teramat terjal dan curam dengan segala liku dan kelok tetapi kalau ditelusuri lebih jauh bukankah semua itu menjadi sahabat setia yang akan menuntun kita menuju puncak untuk tiba tepat esok pagi.

Dalam meraih mimpi membutuhkan keberanian dan komitmen. Tidak cukup hanya keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan besar tapi harus memiliki komitmen yang jelas dengan segala resiko yang siap dibayar bukan diterima. Ini bukan tentang apa yang kita bisa tetapi apa yang kita mau. Ini baru gentle,” tegasnya.

Enang yang dibesarkan dari dunia pendidikan –ayahnya Kepala Sekolah SMP ibunya Kepala Sekolah SD- meyakini bahwa power of spirit adalah modal utama. Spirit yang luar biasa sudah cukup untuk membangun perusahaan, meniti karier atau mengejar impian untuk hidup lebih baik. Karena dengan spirit, segala sesuatu baik kondisi baik atau buruk, senang atau susah akan dihadapi dengan besar hati.

“Hambatan itu bukan ketika susah saja lho, bahkan kesenangan juga bisa menjadi hambatan dalam meraih cita-cita kita. Contohnya saya pernah ditawari headhunter untuk menjadi vice president di perusahaan UK tentunya dengan gaji yang cukup menggiurkan. Disinilah kembali saya diuji untuk mengambil keputusan besar dalam menentukan pilihan. Setelah melalui shalat istikharah dan lain-lain, saya putuskan untuk tetap di sini. Karena menurut saya ini bukan tentang uang semata, tetapi menjalankan passion saya yang membuat saya lebih memberi nilai besar pada diri saya, inilah sebuah pilihan walaupun terkadang pilihan tersebut terasa tak popular, tetapi keyakinan yang besar untuk tiba pada cita-cita luhur mengantarkan saya untuk mengambil keputusan besar untuk tetap menjalankan dan mengendalikan perusahaan yang menjadi passionnya,” jelasnya.

Enang sangat bersyukur, perusahaan yang dikembangkan melalui power of spirit tersebut mulai menuai harapan. Ini membuat semangatnya semakin terbakar untuk membangun perusahaan menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan permasalahan lingkungan di Indonesia yang sangat banyak dan regulasi semakin ketat, akan menjadi modal cukup untuk menjalankan green business yang dijalaninya dan pada waktunya nanti uang akan datang dengan sendirinya.

“Saya sangat beryukur bisa seperti ini karena orang-orang di sekitar saya,
orang tua, sahabat, guru-guru spiritual dan lain-lain untuk memastikan agar saya menjalani semua ini dengan sungguh-sungguh. Balik lagi perumpamaan seperti naik gunung, semua tidak bisa dilakukan sendiri tetapi diperlukan rekan-rekan dimana disitu kita biasa saling support, selain itu sama halnya naik gunung ataupun pada saat meraih cita-cita kita perlu untuk istirahat sejenak untuk mencapai puncak tapi ingat jangan lama karena akan buat tubuh ini beku selanjutnya jalan lagi kalau perlu berlari agar cepat sampai di puncak gunung,” tuturnya.

Nikmati Proses

Pilihan Enang untuk menggeluti bisnis lingkungan atau Green Business tidak lepas dari latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Pria kelahiran Bogor, 27 Juli 1978 ini, menggabungkan pengalaman sebagai karyawan dan latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan ITB yang akan membuat sebuah bisnis berjalan dengan baik membuat penguasaha muda bungsu delapan bersaudara ini tetap dapat memberikan solusi dan kontribusi terhadap permasalahan lingkungan sangat prima.

“Alhamdulilah, prospek usaha ini pun ke depan sangat bagus. Karena hanya sedikit perusahaan seperti ini. Ditambah, sebagai mantan karyawan Astra yang bisa mengerti bagaimana Astra membangun business serta alumni Teknik Lingkungan ITB yang mengerti lingkungan, sehingga perpaduannya cocok dan klop mudah-mudahan akan menjadi modal besar untuk mengantarkan IEC menjadi salah satu perusahaan besar dinegeri ini,” kata anak pasangan H. E Padma (alm) dan H.R. Djulaeha ini.

Ke depan, Enang memiliki cita-cita untuk menjadikan perusahaan miliknya tidak kalah dengan perusahaan lain. Bahkan, cita-citanya menjadikan Indonesia Environment Consultant (IEC) memiliki brand yang kuat seperti IBM dan Microsoft. Di mana brand-brand itu telah memiliki nama besar dan memberikan kontribusi besar dengan produk yang dikeluarkan perusahaan tersebut.

“Saya mempunyai cita-cita, ke depan seperti perusahaan-perusahaan tersebut, ketika orang mengingat lingkungan maka nama IEC langsung disebut. Bahkan nanti saya berharap, IEC bukan lagi Indonesian Environment Consultant tetapi Indonesian Environment Corporation,” sebagai Holding Company harapnya.

Untuk saat ini, IEC mengerjakan proyek-proyek seperti studi lingkungan, AMDAL, desain CSR, Water Treatment yang lengkap dengan konstruksinya dan mengerjakan project-project Green Property. Kedepan IEC akan menjadi Green Incubator untuk para pebisnis lingkungan dan membangun projek-projek yang berbasis lingkungan seperti peyedia energy renewable seperti pembangkit tenaga mikrohidro.

Enang merasa diuntungkan dengan semakin tingginya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dari berbagai pihak. Selain pemerintah, masyarakat dan perusahaan juga memiliki kesadaran yang meningkat. Termasuk perusahaan vendor yang akan memilih perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap lingkungan untuk memproduksi produk yang dihasilkan.

Setelah berhasil dengan passion-nya pada lingkungan dan manusia, Enang telah menetapkan tujuan hidup yang pasti. Suatu saat, ia nanti akan menyumbangkan tenaga dan pemikiran kepada penyelenggara negara. Bukan sebagai politikus, tetapi dengan berbekal keahlian dan pengetahuan yang dimiliki serta passionnya dibidang lingkungan dan manusia berharap dapat berkontribusi untuk kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan. “Tentu setelah saya melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan terbaik, bagi khalayak,” imbuhnya.

Bagi generasi muda, Enang mengingatkan pada suatu hal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan. Pertama adalah menikmati proses yang sedang dijalankannya. Apapun itu, bagaimana kondisi yang dihadapi semua tidak lepas dari proses. Ibaratnya, seseorang yang ingin menjadi seseorang yang “luar biasa” dan pastilah dia melakukan sesuatu yang luar biasa juga, bukan melakukan hal biasa yang kebanyakan orang lakukan.

Selain itu, setiap orang harus memiliki keberanian untuk bertransformasi menjadi manusia lebih baik, baik menjadi seseorang yang berani, seseorang yang penuh cinta, seseorang yang jujur atau apapun itu, berharap akan menuntun kita menuju mimpi yang dicita-citakanya, mimpi hanya akan menjadi milik mereka yang percaya akan dirinya. Satuhal lagi Ketika mulai berjalan melenceng dari tujuan hidup yang dicita-citakan, generasi muda harus kembali pada track yang sudah ditentukannya sendiri. Tanpa itu, kesuksesan akan semakin jauh dari jangkauan dan generasi muda akan menjadi orang yang sangat biasa.

“Generasi muda harus belajar menikmati proses, meskipun itu berat. Mereka harus membayar lebih -waktu dan apa saja- untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak. Kemudian, alangkah baiknya jika kita memiliki komitmen hidup sendiri. Seperti saya dengan kontrak hidup “Berani”. Jadi ketika merasa takut, saya ingatkan diri sendiri bahwa ‘Mr Enang kontrak hidup Anda adalah berani, menjadi laki-laki yang berani, bagaimana sih….?’ Intinya jikalau kita ingin menjadi orang yang lebih, harus dibayar dengan cara yang lebih juga. Sekali lagi Tidak ada orang luar biasa tetapi melakukan usaha seperti apa yang biasa dilakukan orang. “I need to believe that something extra ordinary is possible.” Saya percaya sesuatu yang luar biasa akan terjadi pada orang yang bersungguh-sungguh. Bukan hanya pada diri saya sendiri tapi pada mereka yang percaya akan mimpinya.’ tegasnya.

Ir. H SugiSugiatmo Kasmungin, MT., PhD

No Comments

Ketua Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti

Goodwill Pemerintah Diperlukan untuk Mengurangi Impor Minyak

Kebutuhan Indonesia terhadap sumber energi minyak bumi cukup tinggi. Sayangnya, pasokan energi tak terbarukan ini dari dalam negeri sangat kurang sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan nasional. Padahal, selama ini Indonesia memiliki sumur-sumur minyak yang sangat potensial dan dapat memenuhi pasokan kebutuhan energi konsumsi nasional.

“Dari satu juta barel minyak bumi produksi nasional, pemerintah Indonesia hanya memiliki 40 persen saja, sisanya milik asing. Akibatnya, kita harus impor dari Singapura sebesar 600 – 700 ribu barel karena kebutuhan kita 1,3 juta barel per hari. Sebenarnya kalau pemerintah mempunyai goodwill terhadap kebijakan perminyakan dengan benar, kita dapat mengurangi impor BBM dengan membangun kilang baru dan meningkatkan kapasitas kilang,” kata Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD Ketua Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Trisakti.

Sebagai ahli reservoir EOR – Enhanced Oil Recovery (peningkatan produksi minyak bumi), Sugiatmo memahami dengan baik seluk beluk dunia perminyakan di Indonesia. Banyak sumber ladang minyak yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Sayangnya, kekurangan dana dan tidak adanya kebijakan pemerintah yang tepat membuat peluang tersebut diambil investor dari luar negeri.

Meskipun demikian, Sugiatmo memahami kenapa bangsa Indonesia harus menerima kondisi tersebut. Mahalnya biaya untuk mengeksplorasi satu sumur minyak yang mencapai lima belas juta dolar saja, membuat perusahaan minyak sekelas Pertamina harus berpikir ulang untuk mencari sumur minyak sendiri dan membuka main set untuk kelas dunia.

“Dalam mencari minyak perlu modal tetapi kita tidak mempunyainya. Karena dana hasil pertambangan digunakan untuk keperluan lain, bukan untuk pertambangan itu sendiri. Sebenarnya, SDM dan sumber daya alam kita tidak kekurangan. Dengan dukungan tekonologi serta modal yang sebenarnya ada seharusnya Indonesia tidak terpuruk seperti sekarang,” jelasnya.

Sugiatmo menegaskan perlunya kebijakan politik pemerintah untuk mendukung kemajuan dunia pertambangan khusunya perminyakan di Indonesia. Salah satunya adalah regulasi perizinan pertambangan yang sering menghambat eksplorasi. Karena lamanya proses perizinan operasi pengeboran yang mengakibatkan semakin membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan pertambangan.

“Pengurusan izin pertambangan memerlukan waktu satu tahun karena melalui Kementerian Kehutanan, bupati dan lain-lain. Artinya perusahaan pertambangan selain mengeluarkan pembiayaan satu sumur yang cukup besar, juga harus mengeluarkan biaya ekstra besar untuk perizinan saja. Jadi mereka harus menanggung biaya yang membengkak semakin besar,” ujarnya.

Keluarga Perminyakan

Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD lahir di Balikpapan, sebuah kota kecil di Kalimantan yang terkenal sebagai ladang minyak terbesar di Indonesia. Sedangkan leluhurnya berasal dari Cepu, wilayah kaya minyak yang dieksplorasi sejak zaman penjajahan Belanda. Keluarganya pindah ke Sanga – Sanga (99) setelah sang ayah dipindahtugaskan ke sana.

“Jadi saya berasal dari keluarga perminyakan, karena dari nenek moyang bekerja di bidang perminyakan semua. Saya menghabiskan masa kecil sampai SMA di Balikpapan. Setelah itu, saya masuk Usakti tahun 1981 dan selesai tahun 1988. Sejak tahun 1984 saya menjadi asisten mahasiswa dan diangkat sebagai dosen tetap setelah lulus kuliah,” ujarnya.

Tahun 1991, Sugiatmo -masih seorang dosen muda- mendapat tugas belajar S2 yang mampu diselesaikan pada tahun 1994. Dua tahun kemudian, ia memperoleh kesempatan belajar lagi ke Malaysia. Di sini, ia belajar mengenai bidang keahlian teknik reservoir khususnya di bidang EOR – Enhanced Oil Recovery, yang sangat dibutuhkan Indonesia dalam meningkatkan produksi minyak. Yakni mendorong minyak yang tersisa di reservoir untuk diangkat ke permukaan.

“Saya memprakarsai berdirinya laboratorium di Universitas Trisakti meskipun menemukan sangat banyak kendala, terutama biaya dan tempat. Karena pembangunan laboratorium membutuhkan biaya yang sangat besar. Tetapi yang jelas kalau ingin maju kita harus disiplin, kerja keras, jujur dan toleransi, kerjasama dan komunikasi untuk menghindari kesalahpahaman,” tegasnya.

Dengan kesibukannya yang sangat menyita waktu -Sugiatmo harus stand by di kampus pukul enam pagi- ia tidak memiliki waktu yang leluasa dengan keluarga. Apalagi keluarganya sebagian besar tinggal di Yogyakarta karena ikut dengan sang istri yang berprofesi sama dengan dirinya, menjadi dosen. Saat ini istrinya adalah Ketua Program Studi Kedokteran Gigi FKG Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

“Jadi istri saya lebih pinter. Yang jelas, bagi kami yang penting adalah terus membina komunikasi keluarga sehingga saya pagi-pagi sudah harus telepon menanyakan kabar berita. Karena anak saya masih kecil-kecil dan memerlukan perhatian khusus. Karena kami sesama pendidik, jadi kami sudah tahu sama tahu sehingga saling mengerti kelebihan dan kekurangan pasangan,” tegas pria yang bangga mendidik orang menjadi berhasil tersebut. “Itu kebanggaan tersendiri bagi saya. Untuk saya sendiri, kalau nanti sudah bebas financial dan waktu, saya ingin membuka café segar ‘Wong Mandiri’ saja,” imbuhnya.

Terbiasa menghadapi generasi muda –jurusan perminyakan memiliki mahasiswa sekitar 1200 orang- membuat Sugiatmo sangat memahami mereka. Bagaimana dinamika kehidupan generasi muda bagi bangsa dan negara harus menjadi skala prioritas. Karena Indonesia yang sebenarnya sangat kaya raya harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama.

“Tetapi dalam kekayaan itu harus memilah-milah mana yang penting dan harus kita dahulukan. Kita harus mampu berkontribusi mensejahterakan bangsa dengan kekayaan alam dimiliki negara ini. Oleh karena itu, apakah kekayaan alam tersebut bisa menjadi sumber kebahagiaan atau malapetaka, semua tergantung bagaimana kita mengolahnya. Intinya, kita itu kaya tetapi miskin jiwa karena kita tidak pandai dalam mengelola dan mengolah,” tegasnya.

Apalagi, lanjutnya, secara kualitas SDM Indonesia juga tidak kalah dengan bangsa lain. Sugiatmo telah membuktikan sendiri dalam berbagai seminar di luar negeri yang pernah diikutinya membuktikan hal tersebut. Bahkan saat ia tugas belajar di Malaysia, justru dirinya yang melengkapi fasilitas berdirinya laboratorium EOR di universitas bergengsi tersebut dengan biaya dari universitas. “Jadi secara kualitas kita tidak kalah dalam hal skill SDM. Hanya saja diperlukan peningkatan kompetensi SDM secara terus menerus agar kita tidak ketinggalan,” tambahnya.

Orientasi Kurikulum: Masa Depan

Sejak menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Perminyakan tahun 2006, Dr. Sugiatmo Kasmungin telah membawa iklim perubahan berbagai kemajuan. Meskipun demikian, ia mengakui kemajuan yang dicapai tidak lepas dari usaha dan kerja keras semua pihak.

“Kami taat peraturan yang telah ditetapkan universitas. Setiap event profesi kita selalu melibatkan sivitas akademika, sehingga sosialisasi program studi dapat berjalan dengan baik. Pertumbuhan mahasiswa begitu pesat, sehingga diperlukan perubahan cara berpikir komprehensif bagaimana memajukan program studi dengan benar agar tidak ketinggalan dengan universitas lain,” tandasnya.

Program Studi Teknik Perminyakan mengalami peningkatan animo mahasiswa dari tahun ke tahun. Tahun 2007 mahasiswa yang diterima sebanyak 154 dan berhasil meluluskan 144 mahasiswa. Tahun 2008 mahasiswa baru meningkat menjadi 186 dan meluluskan 177 mahasiswa, tahun 2009, 289 mahasiswa baru dan 143 lulusan. Sedangkan tahun 2010 menerima 305 mahasiswa baru, 151 lulusan dan tahun 2011 program studi Teknik Perminyakan mampu menampung 375 mahasiswa dan meluluskan 152 sarjana teknik perminyakan.

Berbicara mengenai akreditasi, Sugiatmo mengakui belum memuaskan berbagai pihak. Karena Jurusan Teknik Perminyakan memiliki akreditasi B tetap pada tahun 2011 ini. Ia mengakui banyak faktor yang menentukan meskipun secara penilaian terdapat peningkatan. Hal tersebut terlihat dari angka penilaian yang mengalami peningkatan dari 316 tahun 2006 menjadi 321 pada tahun 2011.

Menurut Sugiatmo, kondisi tersebut terkait dengan dukungan bidang akademik, karya ilmiah dan kegiatan kemahasiswaan dan alumni. Untuk itu diperlukan peningkatkan akreditasi yang memerlukan investasi sarana dan prasarana pendidikan, penambahan dosen baru dan peningkatan jenjang kepangkatan akademik dosen.

“Staf pengajar umumnya telah memiliki sertifikasi dosen dan pengalaman di bidang teknik perminyakan lebih dari 10 tahun. Seperti diketahui bahwa untuk lulus S-1 program studi teknik perminyakan mempunyai beban 144 SKS yang harus ditempuh selama 8 semester,” ujarnya.

Kompetensi lulusan sarjana teknik perminyakan diarahkan kepada lima bidang kompetensi yaitu: teknik reservoir, teknik pemboran, teknik produksi, teknik penilaian formasi dan pengelolaan lapangan. Semua itu dilakukan secara bertahap sejak mahasiwa semester dua yang harus mengikuti kuliah lapangan minyak dan gas bumi. Pada semester 6 mahasiswa akan dibekali kerja praktek dilanjutkan semester 7 masuk studio pengembangan lapangan dan semester 8 akan menjalani tugas akhir.

“Pada tahun ini, akan dibagi per satu kelas dihuni oleh 40-50 orang mahasiswa. Tetapi tergantung dengan kondisi yang ada sehingga setiap pelajaran terdapat 7-8 kelas paralel yang dikoordinasikan oleh seorang dosen koordinator mata kuliah pengampu dengan kepakaran sama,” ungkapnya.

Metode pengajaran di Jurusan Teknik Perminyakan membuat IPK lulusannya pun terus meningkat. Dari rata-rata 2.8 menjadi 3.0 dan mendekati target universitas meskipun secara individu terdapat mahasiswa angkatan 2006 yang lulus dengan nilai 3.81. Dari laporan EPSBED tiap angkatan juga menunjukkan terdapat mahasiswa dengan prestasi mengilap. “Bahkan angkatan 2009 sudah ada yang dibooking untuk magang di perusahaan minyak. Tiap tahun program studi meluluskan sekitar 140-180 orang atau sekitar 50-80% dari in take mahasiswa tiap tahun,” imbuhnya.

Menurut Sugiatmo, semua itu tidak lepas dari kurikulum berorientasi pemikiran ke depan. Apalagi di era global sekarang ini permasalahan harus diselesaikan secara team dan sangat cocok di dunia perminyakan. Dengan catatan, dalam sebuah team diperlukan orang-orang yang menguasai benar dengan masalah dan bagaimana menyelesaikan masalahnya tersebut. Untuk itu kurikulum program studi pada semester 7 diberikan mata kuliah pengembangan lapangan minyak dan gas bumi.

“Dalam satu team terdapat delapan mahasiswa yang diberikan suatu persoalan lapangan. Disini secara tak langsung mahasiswa belajar dan berpikir secara terpadu dalam memutuskan, merencanakan, menganaliasa dan memecahkan persoalan pengembangan lapangan menyangkut pengembangan engineering dan soft skills. Ini termasuk kurikulum yang berorientasi pemikiran global,” tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, Jurusan Teknik Perminyakan selalu terbuka dan proaktif terhadap alumni dan stakeholder. Karena lulusan program studi sebanyak 2300 orang telah tersebar di seluruh belahan dunia ini dan bekerja di berbagai perusahaan minyak. Melalui mailing list, universitas selalu memberikan informasi yang baik untuk kemajuan bersama, seperti mengundang alumni untuk memberikan kuliah tamu tiap bulan, sharing pengembangan soft skills dan trik mencari kerja serta berprestasi di bidang perminyakan.

“Untuk lebih meningkatkan mutu akademik, kami secara team berusaha melakukan kerja sama dengan Kementerian Sumber dan Energi, BP Migas, Dirjen Migas, Pertamina, DPR, Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Meksiko. Mereka kami undang, baik sebagai nara sumber ataupun partisipasi dalam kegiatan hulu migas,” kata Ir. H Sugiatmo Kasmungin, MT., PhD.