Tag: sepatu

Ny Jeveline Lengkong Hilliard

No Comments

Ny Jeveline Lengkong Hilliard
Ketua Yayasan Talitha Cumi

Membangun Yayasan untuk Membangkitkan Spirit Anak Terlantar

Hidup nyaman di luar negeri, tidak membuat Ny Jeveline Lengkong Hilliard melupakan tanah leluhurnya. Setelah lima belas tahun bermukim di Skotlandia, panggilan jiwa untuk pulang ke tanah air sangat kuat. Begitu kuatnya panggilan itu, sehingga ia rela meninggalkan kehidupan mapan dan modern negara maju di kawasan Eropa tersebut.

Tahun 2000, ia bersama sang suami kembali ke Indonesia. Kebetulan keduanya aktif memberikan pelayanan kerohanian gereja, karena suami Ny Jeveline adalah pendeta. Keduanya sering keliling Indonesia untuk memberikan kotbah dan kebaktian bagi umat. Hingga suatu saat, sekitar tahun 2003, ketika memberikan pelayanan di tempat kelahirannya, Kalimantan, Jeveline melihat banyak anak-anak usia sekolah berkeliaran di jalanan.

“Pendeta di sana bilang, kalau mereka kebingungan untuk ‘melempar’ anak-anak tersebut. Kebiasaan di sana, orang tua yang memiliki anak usia sekolah mencari tempat penampungan bagi anaknya. Karena biasanya mereka memiliki anak banyak-banyak. Ibu saya yang tahu kalau saya suka anak kecil mendorong untuk mengurus anak-anak itu,” kata Ketua Yayasan Talitha Cumi ini.

Meskipun awalnya keberatan, Ny Jeveline meminta pertimbangan suaminya. Akhirnya disepakati –setelah melihat anak-anak usia sekolah ditelantarkan dan dijadikan pekerja tambang emas oleh orang tuanya sendiri- untuk mengambil beberapa anak sesuai kemampuannya. Pasangan ini ingin berusaha semaksimal mungkin mengubah nasib anak-anak terlantar tersebut.

Untuk langkah pertama, mereka mengambil 45 anak dan dibawa ke Bogor.  Karena targetnya hanya lima belas anak tetapi membengkak tiga kali lipatnya, Ny Jeveline kebingungan. Untungnya, saat di Skotlandia ia mengambil diploma tentang pengurusan orang jompo, Alzheimer dan lain-lain. Ilmu dari situ dipraktekkan untuk merawat anak-anak tersebut.

“Mungkin Tuhan sudah menunjukkan jalan ke arah ini. Karena saat belajar itu saya sudah tua. Saya iseng saja mengambil diploma karena di Scotland, orang-orang berumur diatas 50 tahun tetapi sekolah lagi, biayanya gratis bahkan malah dibayar. Kita sebagai orang tua dianggap produktif,” kisahnya.

Dari situ, Ny Jeveline tahu betul kapan harus bersikap keras atau lembut terhadap anak-anak. Awalnya sangat susah untuk menerapkan disiplin tinggi kepada anak-anak yang terbiasa hidup seenaknya. Namun, perlahan-lahan pengaruh Mami –begitu Ny Jeveline dipanggil- merasuk ke dalam diri anak-anak tersebut. Mereka yang tadinya hidup tanpa arah yang jelas, kehilangan orientasi masa depan bahkan semangat hidup dan mulai menata pondasi kehidupan masing-masing.

Anak-anak yang tadinya hanya sempat sekolah sampai kelas II atau IV SD, bisa melanjutkan sekolah kembali. Mereka tidak lagi terbebani pekerjaan sebagai penambang, membantu orang tua di ladang atau sekedar bermain bersama teman-teman senasib. Berlindung Yayasan Talitha Cumi membuat mereka -seperti anak-anak seusianya- fokus meretas harapan menuju masa depan yang lebih baik.

“Angkatan pertama sekarang sudah ada yang lulus S1. Tadinya, berbohong, mencuri dan merokok sudah menjadi keseharian mereka karena tanpa pengawasan orang tua yang disiplin. Memang, menurut kita orang Dayak itu sangat malas karena tergantung pada nature, alam. Untuk makan mereka berburu dan  bercocok tanam sedikit. Saya sendiri ada darah Dayak dari nenek saya, seorang anak raja Dayak Tunjung di Kaltim,” kata perempuan berdarah Dayak, Portugis dan Manado ini.

“Kemalasan” orang Dayak sebenarnya disebabkan alam telah menyediakan segala keperluan hidupnya. Kekayaan alam yang luar biasa tersebut membuat mereka tidak pernah kekurangan dalam urusan hajat hidup, seperti makan dan minum. Namun, kemajuan zaman membuat kekayaan alam dieksploitasi dan mereka tersisih serta terpinggirkan di rumahnya sendiri.

Di sisi lain, tradisi Dayak yang dipegang teguh turut memberikan andil dalam memperburuk keadaan. Seperti tradisi bahwa anak perempuan berumur 14 tahun sudah harus menikah dan untuk laki-laki berumur 18 tahun. Akibatnya ketika memasuki usia tersebut, remaja putra dan putri tidak bisa konsentrasi untuk melanjutkan sekolah. Mereka memilih “kabur” dari sekolah dengan berbagai alasan untuk menikah.

“Melalui Yayasan Talitha Cumi saya mencoba membangkitkan spirit mereka. Seperti di Alkitab, Talitha Cumi artinya bangkit anakku bangkit. Mereka harus bangkit untuk mengelola kekayaan daerahnya sendiri. Jangan seperti sekarang, kalau orang datang dan ingin memanfaatkan potensi alam, mereka sudah ‘ngajak’ perang saja,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Ny Jeveline, Yayasan Talitha Cumi memiliki beberapa unit kegiatan. Mulai panti asuhan, sekolah –play group hingga SMA- dengan tujuh macam izin kegiatan sosial. Yayasan juga memberikan bantuan dana pendidikan bagi anak-anak terlantar di luar yayasan tanpa memandang agama, suku dan ras. Anak-anak di panti asuhan yayasan juga diajarkan pada setiap menjelang Idul Fitri mengumpulkan beras dan mie untuk dibagi-bagikan kepada saudara-saudaranya yang sedang merayakan hari bahagia tersebut.

“Saya tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan. Bahkan rumah kami di Scotland sudah kami jual, agar anak-anak di sini mendapat penghidupan yang layak. Anak-anak dididik disiplin, mandiri, kebersihan, sopan santun dan menghormati orang lain terutama orang tua. Akhirnya setiap anak punya kamar dan satu loker, serta bisa sekolah setinggi mungkin. Saya hanya memberikan sedikit yang saya miliki untuk membantu pemerintah dalam program mencerdaskan bangsa. Saya kutip kata-kata Presiden John F. Kennedy yang berbunyi, ‘jangan tanya apa yang negara bisa berikan padamu, tanyalah apa yang bisa kau berikan kepada negara (Do not ask what the nation can give to you, but ask what can you give to the nation),” tuturnya.

Hidup Susah

Kedermawanan Ny Jeveline Lengkong Hilliard tidak bisa dilepaskan dari kisah pahit masa lalunya. Sejak kecil, ia termasuk “orang susah” yang harus berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri. Keluarga besar dengan delapan anak, membuat ia sebagai anak sulung kurang mendapat perhatian dan limpahan kasih sayang.

Apalagi situasi negeri ini yang pada masa kecilnya sangat tidak kondusif. Perang Dunia II baru saja usai dan situasi politik dalam negeri sedang bergolak di mana-mana. Peristiwa Permesta (pemberontakan di Menado dan Padang) serta G30S/PKI menambah situasi tanah air semakin kacau sehingga rakyat tidak terurus karena pemerintah disibukkan urusan politik.

“Sejak kecil saya terbiasa hidup susah. Untuk sekolah saja harus berjalan lima kilometer, tanpa uang saku dan tanpa buku. Untunglah, Tuhan memberikan talenta yang banyak, sehingga saya cepat menyerap apapun yang saya pelajari,” ujarnya.

Selagi SMEA, pada usianya yang ke-18 Ny Jeveline bekerja di Japex dan mampu melakukan inspeksi kapal. Tugasnya antara lain menentukan apakah sebuah kapal diizinkan berlayar atau tidak dengan muatan yang ada di dalamnya. Cita-citanya saat itu adalah menjadi syahbandar wanita pertama di Indonesia.

Namun salah satu pamannya melarang untuk melanjutkan pendidikan kesyahbandaran. Ia justru menyarankan sang keponakan untuk bekerja sebagai pramugari. Saran pamannya diikuti oleh Ny Jeveline dan berkarier sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways pada tahun 1966. Ia juga bekerja menjadi pramugari di maskapai penerbangan milik Belanda, KLM hingga tahun 1970. “Penguasaan bahasa Belanda saya cukup baik, karena terbiasa di rumah,” katanya.

Seolah balas dendam terhadap masa lalunya yang suram, setelah menjadi pramugari Ny Jeveline membeli buku banyak-banyak. Ia juga membeli sepatu sejumlah dua belas pasang karena sebelumnya tidak pernah memiliki sepatu yang layak. “Sebelumnya tidak pernah punya buku dan sepatu, sehingga ketika beli langsung 12 pasang. Saya sudah janji sama Tuhan, gaji pertama akan saya kasih orang tua. Saya diberi satu talenta untuk selalu suka memberi, sama siapapun,” tandasnya.

Setelah menikah, Ny Jeveline beberapa kali menjadi pramugari seasonal untuk pelayanan haji. Tahun 1979, Ny Jeveline berkarier di perhotelan selama lima tahun dengan jabatan terakhir Assistant Public Relation, dibawah arahan bosnya, Rae Sita Supit. Ny Jeveline kemudian keluar untuk menekuni bisnis pemasaran komoditi di Indonesia. Sebelum akhirnya menetap di Skotlandia, ia memegang perwakilan American Airlines di Indonesia.

“Saya kemudian menetap di Skotlandia dan punya rumah makan dengan nama Indonesian  Jev’s  Tea Room. Saya tidak tahu kenapa Tuhan memberikan bermacam-macam bakat kepada saya, sehingga saya lebih mendalami kerohanian,” tuturnya.

Saat memutuskan kembali ke Indonesia dan menekuni kegiatan sosial, ketiga anak Ny Jeveline memprotes keras. Menurut mereka, ayah dan ibunya seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Dari ketiga anaknya, hanya satu anak yang ikut ke Indonesia dan turut membantunya mengurus yayasan, sementara dua anaknya yang lain tetap tinggal di Skotlandia.

“Keliling dunia, tour dengan kapal pesiar dan lain-lain. Itu mau mereka, tetapi saya ini orangnya workaholic banget. Sejak dulu, saat menjadi pramugari saya sering di-grounded oleh dokter penerbangan. Saya dianggap kebanyakan jam terbang karena anytime siap berangkat ke mana-mana. Sampai sekarang umur sudah 66 tahun saya masih workaholic, tetap seperti itu. Karena saya memang diberkati Tuhan dengan berbagai bakat,” ungkapnya penuh syukur.

Generasi Baik

Ny Jeveline merasa rencana jangka pendek ketika memutuskan untuk mendirikan yayasan sudah tercapai. Dengan memiliki sekolah hingga tingkat SMA, ia berencana untuk mendirikan universitas. Ia berharap, untuk mendirikan sekolah pemerintah memberikan fasilitas sosial (fasos) berupa sebidang tanah karena hingga sekarang masih menyewa ruko dengan harga tinggi. Bertempat di ruko sangat tidak sehat bagi para siswa karena ruang geraknya menjadi sangat terbatas.

“Kami sudah usaha tanya sana sini, tapi katanya untuk sekolah swasta tidak dapat fasilitas sosial. Sama seperti yayasan kami, dalam kurun waktu tujuh tahun ini kami belum pernah mendapat bantuan dana dari Depsos. Padahal anak-anak jumlahnya cukup banyak, 98 di dalam dan 24 di luar yang kami bantu dengan beras dan lain-lain. Jika ada kelebihan, agar anak-anak siap pakai saya ingin mendirikan sekolah kejuruan,” katanya.

“Itu kalau ada orang yang mau menangani. Saya juga senang membina olahraga dan sekarang sedang sangat involve dalam penyelenggarakan kejuaraan sepakbola. Kita menjadi promotor Sunday League kerjasaa dengan BRITCHAM (British Chambers of Commerce) yang diikuti 112 SD  di Bogor. Dan kebetulan kompetisi terakhir dihadiri oleh Mr Ian Rush. Pemain sepakbola legendaries Liverpool yang berlangsung di LSB Sumantri Brojonegoro. Sayangnya anak-anak kami hanya juara II, kalah adu penalti,” ujarnya.

Perempuan yang memberikan pelayanan setiap Minggu ini berharap generasi yang berada dalam bimbingannya akan menjadi generasi muda yang jujur dan tulus. “Paling tidak untuk 50 tahun ke depan, akan lahir generasi berikutnya yang sama baiknya. Itu akan terus berkembang dan kita harus mulai dari satu titik,” imbuhnya.

Kepada generasi muda, Ny Jeveline berpesan agar perempuan belajar tentang masalah kewanitaan. Karena masalah tersebut sangat penting bagi kelestarian dan kelangsungan keluarga. Yang apabila mampu memanage dengan baik, keberhasilan akan diraih dalam dua arah.

“Di dalam keluarga berhasil, pasti di luar juga berhasil dengan baik. Karena itu perempuan harus belajar jujur, sama suami dan anak, untuk melahirkan anak-anak yang jujur. Berusaha menopang suami, jangan menjadi konsumtif, jangan saingi suami. Begitu juga suami harus menyayangi istri, kita harus selalu saling terbuka satu sama lain,” kata wanita tegas yang tidak pernah membedakan agama, suku dan ras ini.

Ir. Leo Nababan

No Comments

Ir. Leo Nababan
Staf Khusus Menko Kesra

Penganut Kristiani yang Menjadi Pengurus Masjid

Kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini marak terjadi di Indonesia. Bahkan konflik horizontal terjadi antara para pemeluk agama yang seharusnya hidup berdampingan secara damai. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia dengan berbagai macam budaya, adat, suku dan agama, “pernah” bersatu dan hidup rukun. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu telah menjadi pedoman hidup dan menjadi perekat bangsa sejak ribuan tahun lalu.

Namun, seiring perjalanan waktu sikap seperti itu mulai luntur. Perbedaan yang harusnya menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa ini, justru dianggap sebagai kelemahan. Berbagai upaya dipaksakan untuk membuat orang-orang yang berbeda pandangan, mengikuti keyakinan dan aturan-aturan yang dianggap benar oleh sekelompok orang.

Meskipun begitu, tidak semua orang Indonesia berpendapat sama. Di tengah masyarakat banyak sikap-sikap yang menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan dan sekat-sekat telah melebur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Ir. Leo Nababan untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Staf Khusus Menko Kesra tersebut memberikan contoh yang luar biasa bagaimana hidup bermasyarakat. Yakni menjadi pengurus masjid -yang mungkin satu-satunya di Indonesia- meskipun ia sendiri seorang penganut Kristiani taat.

“Agama adalah masalah pribadi, antara manusia dan Tuhan. Kesalahan bangsa ini adalah selalu mencampuradukkan agama dan kehidupan. Itu yang susah, habluminallah dan habluminannas-nya harus seimbang. Saya memang seorang Kristen dan saya bersyukur karena itu. Tetapi saya juga pengurus Masjid Jami’ Al Mukminin di Kayumanis 10, sebagai koordinator pencarian dana pembangunan masjid,” katanya.

Dari sudut pandang Kristiani, Leo Nababan merasa hidupnya tidak berguna apabila mengabaikan nasib tetangganya. Oleh karena itu, ketika melihat kesibukan tetangga-tetangganya yang muslim membangun masjid, ia juga melibatkan diri. Penerimaan warga muslim terhadapnya pun cukup terbuka dan menerimanya sebagai bagian dari kepanitiaan pembangunan masjid. Ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan saudara-saudara muslimnya, dan melaksanakan tugasnya dengan baik.

Leo Nababan sangat menyesalkan adanya kelompok-kelompok yang membawa-bawa agama dalam setiap permasalahan. Jumlah penganut paham ini semakin lama membesar dan terang-terangan memaksakan kehendaknya kepada orang lain yang tidak sepaham. Agama telah menjadi bahan konflik, meskipun dalam kitab suci Al Quran jelas-jelas diajarkan bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

“Itu adanya pengakuan bahwa ada agama lain selain Islam. Nabi Muhammad pun mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia, apapun agamanya. Saya adalah seorang Kristen yang setuju pembakaran gereja, karena secara logika TIDAK MUNGKIN gereja dibakar asalkan gereja tersebut “tidak menjadi MENARA GADING” bagi masyarakat di sekitarnya. Artinya, gereja membiarkan tetangga-tetangganya miskin dan kelaparan, tetapi malah membangun menara. Tidak mungkin gereja dibakar kalau gereja melihat kondisi tetangganya,” tandasnya.

Menurut Leo, bangsa Indonesia tidak akan marah kalau ada orang yang mengaku sebagai orang Kristen atau agama lainnya. Karena negara juga mengakui agama sah dan Indonesia: Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Sebenarnya bangsa Indonesia sejak zaman dahulu terbiasa hidup damai berdampingan. Hal tersebut tidak hanya sekedar wacana, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam hidupnya. Hampir setiap akhir pekan, ia mengajarkan kehidupan yang luas dan damai kepada kedua anaknya.

“Saya mengajaknya ke pesantren (kebetulan saya dekat dengan Pak Kyai, Prof. DR. Achmad Mubarok –Wakil Ketua Umum Partai Demokrat- dan juga Ketua Umum Pondok Pesantren se-Indonesia yang mempunyai Pondok Pesantren di sekitar Jabotabek)  supaya bisa bergaul dengan sesama anak bangsa dan berbagi dengan mereka. Kehidupan bangsa ini harus dimulai dari hal-hal kecil seperti itu,” tuturnya. Leo juga mengkritik pelajaran agama di sekolah, yang harus memisahkan anak-anak beragama lain ketika pelajaran sedang berlangsung. “Secara tidak sadar, kita menitipkan permusuhan sejak kecil,” imbuhnya.

Dunia Inovatif

Ir. Leo Nababan dilahirkan pada 30 Oktober 1962 di Sei Rampah, sebuah desa di pedalaman Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga yang sangat bersahaja, marginal dan golongan bawah. Sang ayah, H. Nababan adalah seorang guru jemaah gereja sementara ibunya, L. Simanjuntak (almh) adalah seorang guru SD. Kedua orang tuanya mendidik Leo dengan disiplin keras dalam segala hal menyangkut kehidupannya.

“Tetapi saya tidak pernah menyesali dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja. Saya terus bersyukur karena Tuhan Yesus Maha Besar dan selalu mengandalkan-Nya dalam hidup saya. Dari perjalanan hidup yang sedemikian itu membuat saya sangat concern dalam kemanusiaan, memperjuangkan kaum marginal, kelas bawah dari mana saya berasal,” tegasnya.

Kaum marginal, lanjutnya, harus dituntun dan diberdayakan dengan memberikan dan membuka lowongan pekerjaan seluas-luasnya. Begitu juga dengan memberikan modal agar mereka bisa membuka usaha dan mampu membangun kemandirian. Untuk itu, ia sangat mendukung program pemerintah dibawah koordinasi Menko Kesra seperti penyaluran kredit melalui KUR, program PNPM dan bantuan beasiswa bagi anak miskin berprestasi. “Pendidikan merupakan salah satu terobosan untuk mengubah orang-orang yang terpinggirkan,” tandasnya.

Di sisi lain, menurut Leo, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila mampu mengelola SDM dan sumber daya alam dengan baik. Karena seiring dengan kemajuan teknologi di era globalisasi, tantangan yang dihadapi bangsa ini ke depan semakin berat. Mendidik SDM handal dan hebat tidak cukup untuk menghadapinya. Apalagi CFTA (China Free Trade Area) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang tahun ini mulai berlaku membuat persaingan semakin ketat. Tidak hanya produk dari China dan negara-negara ASEAN yang bebas dipasarkan, tetapi juga pasar tenaga kerja terbuka dan bebas beroperasi di Indonesia.

“Makanya saya mengajak bangsa Indonesia untuk kreatif, karena tantangan ke depan bukan lagi SDM yang hebat. Tetapi SDM inovatif dan kreatif yang akan menjadi andalan bangsa ini ke depan. Kita tidak bisa menutup mata, adanya kemungkinan bahwa negara kita hanya sekadar menjadi pasar dunia luar. Saya minta dengan sangat untuk memacu generasi muda agar berkepribadian dan berjati diri, tetapi juga memiliki inovasi dan kreativitas, agar diakui bangsa lain,” tegas pria 48 tahun yang sudah mengunjungi 36 negara ini.

Leo berharap, bangsa Indonesia tidak bersedih hati dan meratapi kondisinya yang terpuruk sekarang ini. Indonesia adalah negara besar yang “hanya” memerlukan pengelolaan yang benar. Seluruh elemen bangsa harus menatap masa depan yang cemerlang dan melupakan kepahitan masa lalu. Jangan pernah menyesal telah menjadi bangsa Indonesia dan harus bangga karenanya. Kuncinya, harus menggembleng generasi muda menjadi generasi kreatif dan inovatif di era globalisasi ini.

“Saya tegaskan sekali lagi, bangsa ini harus menatap masa depan cemerlang. Dengan catatan bahwa nasionalisme harus terus, jangan menyesali kita ini orang Indonesia dan jangan merendahkan bangsa sendiri. Di rumah saya pasang foto besar saat berkunjung ke Eropa, sepatu saya disemir oleh orang bule. Ini merupakan rangsangan bagi bangsa bahwa jangan menganggap orang bule segalanya. Itu mental bangsa terjajah, toh kenyataannya, sepatu orang Melayu bisa disemir oleh bule,” tegasnya.

Tiga C

Perjalanan panjang Ir. Leo Nababan sebagai anak kampung termarjinalkan yang berhasil menaklukkan berbagai rintangan pantas dijadikan teladan. Sederet prestasi gemilang telah diukir oleh ayah dua anak hasil pernikahannya dengan Dr. Fabiola Alvisi Latu Batara ini. Tokoh Batak insipiratif ini pada usia 35 tahun telah menjadi anggota MPR RI. Kini, tanpa pernah menjadi PNS sebelumnya saat usianya 47 tahun diangkat sebagai pejabat Eselon IB di Kantor Menko Kesra.

Meskipun begitu, alumnus Lemhanas RI KRA XXXIX tahun 2006 ini tidak pernah sombong. Justru sikap yang selalu ditampilkan adalah kerendah hatian, selalu menaruh kepedulian serta penuh kasih kepada sesama. Latar belakang sebagai orang marjinal yang pernah menjadi penggembala kerbau dan itik (parmahan) selalu terbawa.

Pria cerdas yang sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas ini, diterima di Institute Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes tetapi menyelesaikan studi S1 di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia adalah peserta terbaik pertama Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) Pemuda Tingkat Nasional (1994), terbaik pertama International Standard Learning System (Effective Communications and Interpersonal Relation Skill, 1997), 10 besar terbaik Penataran P4 Pemuda Tingkat Nasional (1995) dan mendapat penghargaan KRA – XXXIX Lemhanas RI (Republik Indonesia) tahun 2006.

“Ketika masuk Lemhanas, terjadi pemikiran-pemikiran yang komprehensif integral tanpa memandang suku, agama dan lain-lain. Itu yang selalu membuat dalam menjalankan hidup saya selalu memberikan hal-hal yang the best bagi bangsa Indonesia. Apapun yang terbaik bagi bangsa ini harus kita berikan dengan setulus hati. Mindset berpikir kita pun harus diubah dan sebagai nasionalis tulen, saya harus berpikir pada kepentingan bangsa,” ujarnya.

Aktivitas berorganisasi dijalani Leo Nababan sejak usia belia. Di Bogor, ia masuk senat dan menjadi salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kosgoro hingga sampai pada posisi Sekjen DPP Mahasiswa Kosgoro. Leo juga pernah menjabat Ketua DPP AMPI yang membawanya sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Golongan Karya. Selain itu, Leo juga pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta nasional, dari staf direksi, direktur humas hingga komisaris. Sedangkan, di jajaran lembaga negara, Leo pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menpora, Staf Khusus Ketua DPR RI dan sekarang Staf Khusus Menko Kesra, Agung Laksono.

“Ada tiga c yang harus dipegang dalam menjalani kehidupan. Yakni, capability, capital dan connection yang harus sinergis dalam membangun kehidupan. Kemudian tiga hal untuk mencapai sukses adalah mengandalkan Tuhan dalam hidup, bekerja kerja keras meningkatkan kapabilitas dan membangun jaringan seluas mungkin,” tegasnya.

Leo sangat bersyukur, selain capability dan capital, Tuhan juga memberkati dirinya dengan connection/jaringan yang kuat. Memanfaatkan jaringan secara positif, akan mempercepat akselerasi kesuksesan seseorang. Kemudian yang tidak kalah penting adalah intensitas dalam mempertahankan dan memelihara hubungan baik pada jaringan yang sudah terbentuk. Semua itu didapat dari aktivitas berorganisasi yang sangat intensif.

“Saya terus belajar dan lewat organisasi membuka jaringan. Saya berhubungan dengan Pak Agung Laksono itu sudah 18 tahun. Dari sejak beliau memegang jabatan sebagai Sekjen Kosgoro, sementara saya Sekjen Mahasiswa Kosgoro, hubungan tersebut terus terjalin. Dalam interaksi intensif seperti itu, terjadi inovasi berpikir, bergaul dan saya menjadi andalan beliau. Bagi saya, beliau adalah guru, bagaikan buku yang tidak pernah habis saya baca setiap hari,” ungkapnya.

Ke depan, Leo Nababan memiliki obsesi untuk membangun patung Tuhan Yesus tertinggi di dunia di Pulau Samosir. Rencananya ia juga akan membangun patung Nommensen di seberangnya. Namun, ia tidak menargetkan kapan terwujudnya impian tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya obsesi tersebut pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. “Biar Tuhan yang tentukan waktu yang tepat. Puji Tuhan karena memang saya mengandalkan Dia dalam hidup saya,” tambahnya.

Leo sangat menyesalkan pudarnya kepedulian generasi muda Batak atas budayanya sendiri. Jangankan mengikuti pesta-pesta adat, menggunakan bahasa Batak pun generasi muda sudah enggan. Ia sangat khawatir terhadap kepunahan budaya Batak akibat ketidakpedulian tersebut.

Leo Nababan mencontohkan bagaimana bangsa Jepang berhasil dalam hal ini. Setinggi apapun ilmu dan teknologi yang dikuasai, mereka tetap “kembali” menggunakan budayanya sendiri. Sementara orang-orang Batak dan bangsa Indonesia umumnya sudah unang lupa adati.

“Saya mencoba melestarikannya kepada kedua anak saya. Meskipun mereka sekolah internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris dan Mandarin, sementara ibunya dari Manado, saya mengajari mereka bahasa Batak. Saya juga ajak mereka ke pesta adat Batak dan bergereja di HKBP Menteng. Kalau bukan generasi muda, bisa punah adat itu,” kata penerbit buku “Manghobasi Ulaon Adat Batak” ini.