Tag: serta

Harkandri M Dahler

Harkandri M Dahler
Presiden Direktur Aerotrans ( PT Mandira Erajasa Wahana )

Sukses Meningkatkan Kinerja Perusahaan Melalui Rebranding

Dalam sebuah usaha yang tidak menunjukkan peningkatan, perubahan sangat perlu dilakukan. Apalagi jika produktivitas perusahaan yang ditargetkan tidak tercapai maka pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, dari internal maupun eksternal perusahaan. Dari sisi internal adalah pembenahan perusahaan, baik manajerial, produk, SDM maupun pelayanan. Sementara pembenahan eksternal adalah pembinaan terhadap pelanggan atau pengguna produk perusahaan.

Persaingan bisnis yang semakin tajam akibat globalisasi, mengharuskan sebuah perusahaan meningkatkan kinerjanya. Apalagi bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa, persaingan sangat ketat. Banyak bermunculan perusahaan baru yang menawarkan ide-ide besar untuk menarik pelanggan. Akibatnya, sebuah perusahaan jasa yang “mandhek” dan tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan akan ditinggalkan.

“Saya dikirim ke sini dengan kondisi perusahaan yang memiliki citra kurang baik di mata pelanggan. Saat itu, image bisnis jasa transportasi milik Garuda dengan nama Mandira itu terkenal dengan kendaraan yang kotor, sopir ugal-ugalan, attitude diragukan dan lain-lain. Pokoknya integritasnya diragukan sehingga dengan adanya program rebranding yang saya jabarkan di sini, kami berusaha mengangkat kinerja perusahaan,” kata Harkandri M Dahler, Presiden Direktur Aerotrans

Menurut Harkandri , program rebranding merupakan program perubahan yang dicanangkan induk perusahaan, PT Aerowisata. Anak perusahaan PT Garuda Indonesia secara serentak sejak November 2009 melaksanakan rebranding terhadap perusahaan dibawah kendalinya seperti Aerofood ACS, Aerotravel, Aerowista Hotel dan lain-lain. Tujuan rebranding adalah untuk mendorong anak perusahaan meningkatkan kinerja bisnisnya dengan mengoptimalkan sumber daya yang sudah dimiliki.

Mandira sebagai operator jasa trasportasi darat, jelas Harkandri , menggunakan  brand baru, Aerotrans. Diharapkan, perusahaan tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan mampu bersaing di pasar. Keberhasilan rebranding dapat diukur dari jumlah pelanggan yang puas atas layanan dan terus menggunakan jasa yang ditawarkan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga mampu “menggaet” pelanggan baru karena citra akibat rebranding yang semakin cemerlang.

“Nilai rebranding atau core value yang saya sosialisasikan kepada karyawan ada empat hal. Sincere yakni ketulusan dan ikhlas mengerjakan tugas. Impeccable yaitu bekerja tanpa cacat, sempurna dengan start dari proses awal yang benar. Proactive, atau komitmen untuk memberikan solusi. Imaginative yaitu mengedepankan inovasi dalam pelayanan. Tetapi mempraktekkan empat hal tersebut ternyata berat. Perusahaan yang terbentuk sejak tahun 1988 itu, sangat berat untuk mengubah tradisi yang sudah membudaya. Makanya saya mengajukan diri untuk fokus dan total di sini,” ujar profesional yang tadinya masih merangkap sebagai Direktur Keuangan dan SDM Aerofood ACS

Sosialisasi rebranding yang dirancang Harkandri  dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya dilaksanakan oleh karyawan pada level pelaksana lapangan, tetapi juga direksi, manajemen, dan karyawan operasional. Program yang dilaksanakannya meliputi semua aspek bisnis perusahaan seperti logo baru, bus baru, dekorasi dan warna kendaraan, corporate identity serta seluruh dokumen surat menyurat perusahaan. Ia juga membenahi jaringan IT dan meningkatkan fasilitas serta kesejahteraan karyawan, mulai internet, seragam, dan infra struktur lain-lain.

Untuk mensosialisasikan implementasi tujuan rebranding, Harkandri  juga meminta  dukungan dengan Serikat Pekerja (SP). Melalui PKB (Perjanjian Kerja Bersama) periode 2010-2012, ia berhasil mengajak karyawan untuk menutup masa lalu dan membuka lembaran baru menuju masa depan yang lebih baik. karyawan yang berjumlah sekitar 2200 orang diajak bekerja sebaik-baiknya demi kepuasan pelanggan. Karena dengan komitmen itu sebagai akan berguna pada kemajuan perusahaan yang berimbas pada kesejahteraan karyawan sendiri.

Dari sisi manajerial, Harkandri  menyusun pembenahan secara menyeluruh. Ia membuat restructuring balance sheet dari divisi keuangan dan melakukan analisa terhadap pembelian asset bekerja sama dengan bank. Dari perhitungannya, ia bisa mengoptimalkan pengeluaran dari bunga yang harus dibayar kepada pihak ketiga. Bunga yang tidak kompetitif harus d-restrukturisasi agar menjadi kompetitif, termasuk proses dokumennya juga harus effisien.
Dari situ, perusahaan mendapat penghematan cash flow atas bunga sebesar sekitar Rp600 juta,” tuturnya.

Harkandri  dalam melaksanakan program ini tidak hanya duduk di belakang meja saja. Ia bukan tipe direktur perusahaan yang sudah establish dan hanya tinggal tanda tangan saja. Sebagai pucuk pimpinan tertinggi, ia tidak segan-segan turun langsung bahkan untuk sekadar mengambil tagihan. Tujuannya untuk merapikan perusahaan tetapi tanpa harus mengeluarkan dana lebih. Agar pesan perubahan yang ingin disampaikannya cepat diterima seluruh karyawan, ia menerbitkan bulletin Aerotrans News. Tujuannya untuk menyosialisasikan kebijakannya dalam membenahi perusahaan mengantisipasi perbedaan persepsi ketika informasi disampaikan kepada karyawan.

“Dari saya A, mungkin sampai manager menjadi Z. Maksud saya bulletin ini untuk mengakselerasi pekerjaan dari pusat sampai grass root. Menginformasikan kebijakan dari direksi kepada seluruh karyawan. Jadi ini adalah software untuk akselerasi kemajuan perusahaan. Saya juga membenahi brosur perusahaan sehingga lebih komunikatif seperti sekarang ini,” ungkap pria yang meniatkan tugasnya untuk semata-mata ibadah ini.

Bertahan Tiga Bulan

Karier Harkandri M Dahler diawali di maskapai penerbangan Garuda Indonesia sejak tahun 1978. Ia bertahan pada perusahaan penerbangan milik pemerintah Indonesia itu sampai tahun 2002. Selama menjalani karier, berbagai tugas dan jabatan pernah diembannya berkaitan dengan administrasi dan manajemen. Padahal, sejatinya ia adalah seorang mekanik yang harus lebih banyak berkutat di bagian teknik pesawat terbang.

“Saya menjadi mekanik hanya tiga bulan, terus ‘lari’ ke bagian administrasi. Nah, setelah lepas dari Garuda, antara tahun 2002-2008 bekerja di bengkel maintenance pesawat yang menjadi bagian integral layanan PT Garuda, yakni PT GMF AeroAsia. Saya termasuk orang pertama yang bekerja disitu,” katanya.

Selama di GMF, pria kelahiran Kuala Tungkal, 1 Juli 1957 ini memegang berbagai jabatan. Mulai bergabung di divisi keuangan, menjadi corporate secretary dan jabatan terakhir adalah Kepala Marketing GMF. Kinerja yang ditunjukkan suami Mia Arbaiyah ini sangat memuaskan sehingga ia mendapat award dari perusahaan. Karena penghargaan itu, awal Januari 2009 ia mendapat amanah untuk menjadi Direktur Keuangan & SDM PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (sekarang Aerofood ACS).

Karier Harkandri  terus melesat bak meteor. Setelah dianggap sukses menangani perusahaan katering, pada bulan Maret 2010 ia dinobatkan sebagai Presiden Direktur PT Aerotrans. Meskipun sempat bertanya-tanya -karena spesialisasinya adalah teknik di bidang rangka pesawat, namun ia melihatnya sebagai tugas yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Apalagi, dukungan dari para pemegang saham yang melihat potensi dalam dirinya menambah keyakinan atas pekerjaan tersebut.

“Saya pernah bertanya, kenapa harus saya, ini kan tidak sesuai dengan latar belakang saya. Tetapi justru mereka bilang, ‘urusan itu bukan anda yang menentukan’. Mungkin ternyata pilihan mereka kepada saya anggap sebagai tantangan,dan jalankan dengan sungguh-sungguh,saat di katering itu saya juga banyak belajar,” tuturnya.

Saat memegang Aerofood ACS, Harkandri  memang menorehkan prestasi yang mengilap. Strategi pemasaran yang diterapkannya terbukti ampuh mendongkrak pendapatan perusahaan. Seperti bagaimana ia melakukan inovasi terkait kejenuhan dalam bisnis inflight catering, dengan arahan Direktur Utama dan Direksi lainnya di Aerofood ACS . Ia mengatasi kejenuhan tersebut dengan masuk wilayah industrial catering. Yakni menggarap katering bagi rumah sakit perkotaan dan pertambangan (mining) dengan tetap menjadi pemasok bagi katering perusahaan induk, PT Garuda Indonesia.

“Strategi ini terbukti meningkatkan akselerasi pendapatan perusahaan dengan omzet sekitar hampir Rp1 triliun per tahun. Jadi, konsepnya saya melihat pasar infligt catering yang mulai jenuh sehingga meskipun kita genjot bagaimana pun ya tetap ‘segitu’ saja. Makanya kita lari ke industrial catering, restoran dan kafe,” tambah ayah lima anak ini.

Bekerja Secara Terstruktur

Dalam melakukan rebranding di perusahaan yang dipimpinnya, Herkandri M Dahler mengakui banyak kendala yang harus dihadapinya. Saat pertama kali kedatangannya, kondisi perusahaan transportasi tersebut dalam keadaan nyaris bangkrut. Dengan karyawan sekitar 2000 orang dan mengelola asset sebanyak 1000 kendaraan, seharusnya perusahaan bisa berkembang dengan baik. Namun, semua itu menjadi tantangan baginya untuk membenahi dan memajukan perusahaan.

“Dilandasi niat untuk ibadah, saya berusaha membenahinya. Saya bilang kepada karyawan, bahwa perusahaan ini bangkrut. Kalau anda semua mau dibubarkan tinggal bilang saja, begitu kata saya. Tetapi mereka tidak mau dan bersedia bekerja keras untuk memajukan perusahaan ini. Mereka menyatakan siap membantu saya untuk melakukan perubahan total,” ujarnya.

Harkandri kemudian melakukan efisiensi di segala bidang. Ia mengontrol setiap fungsi dan mengevaluasi target yang dicanangkan. Kepada karyawan ia menegaskan pentingnya integritas dalam bertugas agar perusahaan berkembang dengan baik. Ia mengharapkan dukungan yang besar dari para sopir sebagai ujung tombak perusahaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Menurutnya, kepuasan pelanggan sangat tergantung dari integritas sopir saat bekerja.

“Saya biasa bekerja secara terstruktur dengan ukuran-ukuran yang jelas dan dievaluasi secara periodik. Kepada karyawan saya tidak menjanjikan mereka menjadi orang kaya, tetapi setidaknya dapat hidup layak. Saya membuat bermacam-macam program agar mereka memiliki ‘getaran’ terhadap perusahaan. Hasilnya, saya mendapat target pendapatan perusahaan tahun 2010 ini sebesar Rp156 miliar,” tandasnya.

Harkandri juga telah menyusun program jangka panjang perusahaan hingga tahun 2014. Ia memandang jauh ke depan dengan membuat perencanaan terkait target pendapatan, akumulasi biaya, diversivikasi usaha dan lain-lain. ia melihat salah satu jalan adalah penguatan struktur dan semangat karyawan dalam bekerja sehingga tercipta sebuah tim yang solid.

“Kita membangun solid team agar menjadi one team, one spirit and one goal. Jadi betul-betul menjadi bagian dari hati sehingga karyawan mantap bekerja di sini. Ke depan saya ingin mengembangkan usaha di bidang wisata dan bahkan kalau bisa menjadi perusahaan wisata. Karena pasarnya juga luar biasa. Sekarang saya kan sedang investasi dengan menempatkan orang-orang profesional dan merapikan perangkatnya. Saya yakin akan berkembang dengan baik,” tukasnya.

Keikhlasan dan Ketulusan

Harkandri M Dahler sebenarnya tidak pernah bercita-cita fomal seperti menjadi dokter atau insinyur. Sebagai orang kampung, ia mengikuti jalan hidup yang telah ditentukan Tuhan baginya. Ia hanya berprinsip bahwa dalam mengerjakan segala sesuatu dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih. Semua dikerjakan sebaik-baiknya diiringi dengan rasa tanggung jawab yang besar. Itulah yang dilihat oleh atasan-atasannya sehingga dengan cepat mendapat promosi.

“Meskipun kadang saya merasa belum siap, tetapi tugas tetap harus dilaksanakan. Yang penting, saya bekerja dengan tanpa pamrih dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Prinsip saya orang boleh tidak kenal Harkandri tetapi produknya dikenal luas. Kita juga harus siap menerima isu-isu maupun fitnah yang dihembuskan pihak lain, terkait prestasi yang dicapai. Biasa itu,” kata Harkandri yang berhasil sebagai team “membebaskan” bea

masuk dan PPn komponen pesawat terbang ini.

Dengan ketulusan dan keikhlasan terhadap apa yang dilakukan, Harkandri berharap mendapat kebaikan. Prinsip dalam menjalani hidup adalah memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki talenta luar biasa untuk mengembangkan diri. Konsep yang dipegangnya adalah orang harus dipoles menjadi intan atau berlian, yang meskipun teronggok di pasir pantai cepat atau lambat akan memancarkan sinarnya dan tetap dicari orang.

“Jadi apa yang dikasih kepada saya adalah amanah yang saya kerjakan dengan penuh totalitas,” kata Harkandri yang mendapat kepercayaan penuh dari istrinya tersebut. Istrinya sudah tahu sejak awal kalau ia adalah pekerja keras, yang sering pulang malam atau keluar kota. Yang jelas, ia tetap menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. “Faktor trust membuat saya tetap pada track-nya sehingga keluarga tahu saya memegang kepercayaan tersebut,” imbuh pria yang suka melawak di rumah ini.

Kepada generasi muda, Harkandri berpesan agar mereka mengutamakan keikhlasan dan ketulusan dalam segala aktivitasnya. Mereka juga harus tetap pada tugasnya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin dengan belajar sebanyak-banyaknya. Media belajar pun tidak harus dari pendidikan formal, tetapi juga pendidikan non formal dengan mempelajari pengalaman serta kisah hidup orang-orang sukses.

“Generasi muda harus memiliki totalitas dalam menekuni aktivitas masing-masing. Jangan sampai cepat-cepat beralih kepada aktivitas lain sehingga lambat laun, mereka akan menjadi spesialis dalam bidang yang ditekuni. Dari pengalaman orang lain bisa kita kaji sebagai pembelajaran. Suatu saat, takdir Tuhan akan membuka jalan kesuksesan kita. Karena sebenarnya takdir adalah pertemuan antara usaha manusia dengan kehendak Allah. Jadi kalau usaha kita benar hasilnya pun akan benar pula,” ungkap Harkandri M Dahler.

Sekilas Aerotrans

Aerotrans (Garuda Indonesia Group) berpengalaman dalam menyediakan transportasi darat sejak 1988.

Aerotrans mengoperasikan lebih dari 1000 unit kendaraan dalam berbagai tipe seperti big, medium, micro, dan mini bus, van, 4 wheels drive, box/pick up, hi-lift truck, low deck bus, dan sedan dengan dukungan lebih dari 2000 karyawan.

Visi Aerotrans
“Menjadi perusahaan jasa transportasi darat terbaik dan disegani dalam mendukung industri penerbangan, pariwisata nasional dan industri lainnya”

Misi Aerotrans
1.    Memaksimalkan kualitas jasa pelayanan transportasi terpadu melalui operation excellence
2.    Mengembangkan pola kemitraan yang efektif melalui customer intimacy
3.    Secara konsisten & tulus melaksanakan nilai-nilai etika SDM dan perusahaan (core values) melalui implementasi etos kerja

Perjalanan Usaha Aerotrans

⦁    1988 – tanggal 2 November 1988, Aerotrans, yang sebelumnya merupakan Divisi Transport PT Garuda Indonesia, berdiri sendiri dibawah PT Mandira Erajasa Wahana, sebagai unit usaha PT Aerowisata, anak perusahaan PT Garuda Indonesia

⦁    1991 – Melayani Aerowisata Catering Service dan Satriavi Leisure Management, sebagai customer pertama di luar PT Garuda Indonesia
⦁    1995 – Melayani angkutan Haji Jakarta untuk pertama kalinya
⦁    2002 – Mulai melayani pasar korporat di luar Garuda Indonesia Group
⦁    2009 – Aerowisata Transport rebranding menjadi Aerotrans

Layanan Aerotrans

Layanan Aerotrans terdiri dari layanan jangka panjang dan jangka pendek, sesuai kebutuhan pelanggan.  Layanan tersebut terdiri atas:

⦁    Rental Services
Jasa sewa kendaraan
⦁    Tourism
Layanan kegiatan wisata
⦁    Fleet Management
Pengelolaan transportasi internal
⦁    Ground Handling Service
Layanan transportasi untuk mendukung kegiatan operasional di wilayah Bandara
⦁    Driver Support Service
Jasa pengemudi profesional, berpengalaman dan terdidik

Keunggulan Layanan Aerotrans

Selain melayani induk perusahaan, PT Garuda Indonesia, Aerotrans juga dipercaya untuk melayani puluhan perusahaan lain. Kepercayaan tersebut karn Aerotrans memiliki berbagai keunggulan dibandingkan perusahaan lain sejenis, antara lain:

⦁    Experience
Melayani transportasi darat lebih dari 20 tahun
⦁    Safety & Eco-green service
Berbekal prosedur kerja sesuai dengan prinsip Health, Safety, Environment (HSE)
⦁    Selection
Berbagai tipe kendaraan sesuai kebutuhan
⦁    Customized Service
Penyediaan logo di kendaraan, kursi bayi, video & musik, karaoke, pewangi kendaraan, dan lain-lain
⦁    Insurance All Risk
Asuransi perjalanan bagi kendaraan
⦁    Personal Insurance
Asuransi perjalanan bagi setiap penumpang
⦁    License Support
Memiliki surat ijin beroperasi di area Bandara dan mengurus kelengkapan dokumen untuk kelancaran bisnis Anda
⦁    Reliability
Memiliki staf yang berpengalaman, fasilitas kendaraan yang lengkap dan bengkel 24 jam untuk pelayanan perjalanan berstandar tinggi
⦁    Easy Access
Contact center 24 jam, online reservation, online payment, dan wilayah operasi di kota-kota besar seluruh Indonesia

Brand Values

Semua keunggulan Aerotrans tidak terlepas dari brand values yang ditetapkan perusahaan, yaitu:
⦁    Sincere – Memberikan pelayanan yang tulus, dengan kehangatan, keterbukaan dan rasa hormat
⦁    Impeccable – Menjalankan pekerjaan secara sempurna dan tanpa cacat dengan standar tertinggi
⦁    Proactive – Berinisiatif dalam mencari dan memberikan solusi sehingga dapat memberikan pelayanan yang melebihi ekspektasi
⦁    Imaginative – Memotivasi agar berani mengambil resiko dan tantangan serta mengeksplorasi cara-cara untuk menggugah dan menyemangati pihak-pihak yang berkepentingan.

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM
Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan

Pendidikan Berkualitas Akan Meningkatkan Pelayanan Penerbangan

Dibesarkan dalam keluarga sederhana berlatar belakang militer yang kental dengan disiplin tinggi, terbawa dalam keseharian hidup Ir. Bambang Wijaya Putra, MM. Ayahnya, almarhum Musa Muhidin adalah seorang anggota TNI yang selalu menjunjung tinggi disiplin, berjiwa ksatria serta memiliki cita-cita mulia untuk memajukan bangsa dan negara.

“Semua itu beliau wujudkan dengan memulai dalam lingkungan keluarga sendiri. Jadi orang tua saya selalu menerapkan kepada anak-anaknya agar selalu berdisiplin, menghargai waktu dan mengerjakan segala sesuatu dengan hasil yang baik. Ayah sering mengatakan kepada saya bahwa ‘hidup kita harus dapat bermanfaat bagi diri sendiri, lingkungan sekitar dan selalu bekerja dengan hasil yang terbaik disertai hati yang ikhlas,” kata Direktur Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan ini.

Kebiasaan disiplin yang sudah tertanam sejak kecil terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Seperti saat bermain mobil-mobilan –permainan yang paling digemarinya- bersama teman sepermainan, ia selalu berperan sebagai pengatur lalu lintas. Tugasnya mencegah agar mobil teman-temannya tidak saling bertabrakan satu sama lain sehingga permainan menjadi lebih asik dan teratur. “Mungkin pendidikan dalam keluarga membuat saya ingin segala sesuatu berjalan teratur dan disiplin bahkan sampai hal kecil sekalipun,” imbuhnya.

Kebiasaan tersebut, lanjut Bambang, terus terbawa ketika meniti karier sebagai seorang Teknisi Penerbangan di Bandara Sultan Machmud Badaruddin II -dahulu dikenal dengan Bandara Talang Betutu- Palembang pada tahun 1981.  Sejak itu, ia menanamkan tekad dan cita-cita untuk menjadikan penerbangan yang aman, tertib, teratur, baik dan nyaman. Apalagi, ia sadar bahwa di dunia penerbangan tidak ada ruang sekecil apapun untuk melakukan satu titik kesalahan.

Dalam menekuni kariernya, Bambang terus mencoba berpikir dan menganalisa faktor apa yang terpenting dalam dunia penerbangan. Sampai suatu saat ia memiliki kesimpulan bahwa satu hal yang terpenting dalam dunia penerbangan adalah masalah pendidikannya. Yaitu bagaimana mendidik sumber daya manusia (SDM) di penerbangan yang handal, penuh disiplin, profesional dan tidak mentolerir kesalahan. Berdasarkan pemikiran seperti itu, ia kemudian memutuskan untuk memfokuskan karier pada dunia pendidikan yaitu pendidikan penerbangan.

“Sampai saat ini saya mengemban amanah untuk memimpin sebuah Pusat Pendidikan Penerbangan di Medan yaitu Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan. Dari pengalaman saya, jelas terlihat bahwa untuk menciptakan sebuah pelayanan penerbangan yang aman, tertib, teratur, disiplin, dan nyaman dibutuhkan SDM yang handal, unggul dan professional di bidangnya. Nah, untuk membentuk SDM seperti kriteria tersebut dibutuhkan proses pendidikan yang baik,” kata Direktur ATKP yang sudah empat tahun menjabat ini.

Sekilas ATKP Medan

Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan (ATKP Medan)  merupakan salah satu UPT dibawah Badan Diklat Perhubungan. Tugasnya adalah berperan aktif dalam menciptakan SDM perhubungan yang terbaik. Berdiri sejak 1989 dengan nama Pusdiklat Medan dan berganti nama menjadi Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan. ATKP Medan berlokasi di ibukota provinsi Sumatera Utara yang didirikan dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM. 80 tahun 1999, tanggal 13 Oktober 1999 tentang Pendirian Akademik Teknik dan Keselamatan Penerbangan.

ATKP menyelenggarakan pendidikan profesional program diploma bidang teknik dan keselamatan penerbangan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pendidikan profesional menekankan penerapan keahlian bidang teknik dan keselamatan penerbangan dan pembentukan kompetensi untuk menangani pekerjaan menurut praktik-praktik yang berlaku secara umum dalam bidang teknik dan keselamatan penerbangan.

Penelitian bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan daya nalar untuk berperan serta dalam memecahkan permasalahan di dunia penerbangan. Pengabdian kepada masyarakat bertujuan menjalin hubungan antara ATKP dengan dunia penerbangan dan masyarakat melalui kerjasama yang saling menguntungkan.

ATKP Medan memiliki tujuan, untuk;
Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat penerbangan yang memiliki kemampuan profesional di bidang teknik dan keselamatan penerbangan
Menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang teknik dan keselamatan penerbangan serta mengupayakan penerapannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional
Mengembangkan penerapan ilmu pengetahuan dalam bidang teknik dan keselamatan penerbangan

Tugas ATKP Medan, adalah:
Melaksanakan pendidikan profesional program diploma bidang keahlian teknik penerbangan dan keselamatan penerbangan
Melaksanaan dan pengembangan pendidikan profesional yang meliputi pengajaran, pelatihan dan pembinaan
Melaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
Mengelola perpustakaan, laboratorium, sarana dan prasarana lainnya
Membina civitas akademika dan hubungannya dengan lingkungan

“Sebagai pimpinan di sini, saya menerapkan pendidikan yang berdisiplin tinggi, menghargai waktu dan profesional pada bidang masing-masing. Saya juga menekankan agar mereka selalu mempersembahkan kinerja terbaik yang dilandasi dengan perasaan ikhlas dalam melaksanakan tugas-tugasnya,” tandasnya.

Profesi Mulia

Ir. Bambang Wijaya Putra, MM menuturkan ketertarikannya menekuni profesi sebagai pendidik. Semua dilandasi pemikiran untuk membentuk dan melahirkan SDM handal dan profesional di bidang penerbangan. Berdasarkan  pengalamannya, ia tahu betul harapan masyarakat di bidang tersebut. Masyarakat sangat mendambakan terciptanya pelayanan jasa transportasi penerbangan yang professional, aman, teratur, tepat waktu, bersih dan nyaman.

Lebih jauh lagi, lanjut Bambang, masyarakat membutuhkan sebuah pelayanan transportasi penerbangan yang dapat menghubungkan manusia yang terpisah jarak dan waktu. Terhubungnya manusia antar wilayah tersebut akan mendukung perekonomian negara sehingga roda perekonomian dan pemerintahan dapat berjalan lancar. Dampak lebih nyata, kesejahteraan masyarakat semakin meningkat akibat terselenggaranya pelayanan transportasi penerbangan yang baik.

“Saya menekuni profesi ini karena menurut saya merupakan salah satu profesi yang mulia. Bayangkan, kita membentuk dan melahirkan SDM handal dan profesional yang bekerja di bidang penerbangan. Saat ini, yang saya lakukan adalah semakin meningkatkan kemampuan diri sendiri dan kualitas SDM yang kami latih. Mengingat tantangan ke depan semakin tinggi yang membuat kita belum bisa berpuas diri. Bekerja dan mengabdi kepada negara, pemerintah dan masyarakat adalah apa yang dapat kita berikan dan kita persembahkan kepada negara. Bukan apa yang telah negara berikan kepada kita,” tegasnya.

Bambang merasa “biasa” menghadapi suka, duka dan kendala dalam menjalani profesi sebagai seorang pendidik. Baginya, semua itu merupakan riak dan gelombang yang harus dilalui dalam perjalanan kariernya. Ia mencontohkan bagaimana perasaan bangga membuncah dalam hatinya ketika SDM yang dibentuk berhasil memasuki dunia kerja sebagai profesional di bidang penerbangan.

“Inilah hal yang membanggakan saya. Tetapi duka dan sekaligus menjadi tantangan bagi saya adalah sampai saat ini belum dapat menghasilkan seseorang yang profesional dalam dunia penerbangan yang sebaik dan setara dengan tenaga di negara lain. Inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kita semua untuk terus memompa semangat belajar, berdisiplin dan terus menerus berinovasi sehinggga tidak tertinggal jauh dari negara lain,” tambahnya.

Sebagai seorang pendidik, Bambang menyadari peran dan fungsinya sebagai ujung tombak pemerintah. Seorang pendidik mengemban tugas untuk meningkatkan kecerdasan generasi muda penerus bangsa, mewarnai masyarakat Indonesia dengan berbagai disiplin ilmu dan membentuk sumber daya manusia yang professional dan handal di bidangnya masing-masing.

“Khusus bagi saya adalah membentuk SDM perhubungan udara menjadi yang terbaik berstandard internasional dan dapat diandalkan. Bentuk yang kami berikan berupa pendidikan dan pelatihan yang baik untuk turut serta mencerdaskan bangsa melalui dunia penerbangan,” tandasnya.

Menurut Bambang, dunia pendidikan Indonesia –termasuk pendidikan penerbangan- akan semakin baik di masa mendatang. Perhatian pemerintah terhadap pendidikan yang semakin besar sangat membantu kemajuan di bidang tersebut. Termasuk krisis global yang cukup memukul pendidikan penerbangan –yang merupakan pendidikan berbiaya besar- tetapi ia yakin semua akan cepat kembali berjalan dengan normal.

“Marilah kita buat agar krisis keuangan global menjadi tantangan dan motivasi dalam berjuang memajukan bangsa ini. Yang jelas, saya sangat optimis dunia pendidikan di Indonesia akan semakin baik, itu menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkannya. Untuk sementara ini, prioritas SDM pendidik sebaiknya ditingkatkan lagi. Bahkan, peningkatan kualitas dan kuantitas pendidik menjadi prioritas utama,” ungkapnya.

Bambang semakin optimis melihat perkembangan generasi muda Indonesia sekarang ini. Mereka memiliki kemampuan untuk semakin maju asalkan mendapat kesempatan, dukungan dan kepercayaan dari para seniornya. Generasi muda harus memiliki bekal pengetahuan, ilmu serta keterampilan agar mampu melanjutkan kepemimpinan bangsa di masa mendatang.

“Modal awal dari semua usaha adalah kepercayaan. Generasi penerus bangsa kita harus kita beri ilmu, kesempatan dan kepercayaan. Saya optimis dan percaya dengan mendidik generasi penerus bangsa dengan sebaik-baiknya, dengan hati ikhlas dan bertujuan baik, maka generasi penerus bangsa akan membawa negara kita ke arah yang lebih baik dan semakin baik. Amin….,” pungkas Ir. Bambang Wijaya Putra, MM.

Putu Darmawan, S.Kom, MM

Putu Darmawan, S.Kom, MM
Direktur AMIK Pakarti Luhur

Terus Berinovasi Untuk Lebih Memasyarakatkan IT

Demi lebih memasyarakatkan IT – sesuatu yang dikerjakannya dengan ikhlas – ia berani menolak tawaran kerja dengan pendapatan yang lebih memadai.

Industri IT (Information Technology) dalam beberapa tahun belakangan ini berkembang dengan pesat. Suatu keadaan yang diperkirakan masih akan terus berlangsung hingga kedepannya. Mengingat vitalnya peran IT dalam segala lini industri dan juga perkembangan IT itu sendiri yang begitu dinamis.

Kebutuhan akan ahli IT pun menjadi tinggi. Sehingga pendidikan-pendidikan yang berbau IT kini pun menjadi tujuan belajar favorit. Dan bukan rahasia lagi kalau pendidikan tinggi yang berkualitas mensyaratkan kemampuan finansial yang kuat dan waktu yang luang.

Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin menguasai ilmu IT tapi tidak mempunyai kemampuan finansial yang cukup atau juga tak mempunyai waktu yang luang? Hal inilah yang selalu dipikirkan oleh Putu Darmawan, S.Kom, MM, seorang Konsultan IT & dosen tetap di Universitas Budi Luhur.

Dari kegelisahan, keinginan dan perjuangannya tersebut, pada 26 Oktober 2007, terlahir AMIK (Akademi Manajemen Informatika & Komputer) Pakarti Luhur yang berada di Karawaci. Kampus tersebut pun mulai menyelenggarakan kuliah perdananya pada awal November 2007.

Inovasi-inovasi AMIK Pakarti Luhur

Ide awal untuk mendirikan AMIK Pakarti Luhur pun berasal dari keinginan Universitas Budi Luhur untuk bisa melayani masyarakat secara jauh lebih luas lagi. Terutama masyarakat yang kondisi finansialnya kurang. Hal ini mengingat segmen  peserta kuliah Universitas Budi Luhur yang tergolong menengah ke atas.

“Masuk bayar murah, kualitas setingkat (Universitas) Budi Luhur,” ujar lelaki kelahiran Jakarta, 18 Juni 1972 ini. Baik itu materi, dosen dan berbagai sistem yang diterapkan di Universitas Budi Luhur, diterapkan pula di sini.

Visi  AMIK Pakarti Luhur sendiri ialah: Mencerdaskan masyarakat indonesia sesuai dengan harapan dan cita-cita kemerdekaan yaitu dengan memiliki kemampuan serta skill yang baik, dibekali akhlak dan berbudi pekerti yang luhur sehingga akan menghasilkan dan melahirkan sumber daya manusia yang berakhlak mulia.

Sedangkan misinya: Menyelenggarakan pendidikan bagi semua potensi yang ada di masyarakat; Melahirkan tenaga-tenaga profesional sebanyak-banyaknya; Memberikan pelayanan pada masyarakat sebagai implementasi keperdulian masyarakat; Menumbuhkan kembangkan sikap dan pola pikir secara professional.

Menurut Putu, dalam jangka pendek AMIK Pakarti Luhur berniat untuk mendapatkan akreditasi. Dengan adanya antusiame dari investor yang sudah menyatakan minatnya, ia pun percaya diri bisa mencapainya. Untuk itu, saat ini ia mulai mencari lahan dan mengembangkan fasilitas.

Sementara di bidang akademis sudah banyak yang ia rencanakan. Salah satunya ialah menciptakan program studi – program studi baru. “Tapi untuk sementara ia akan mencoba mencukupi fasilitas bagi mahasiswa,” selanya.

Inovasi pun dilakukan pada sistem belajar mengajar. Mengingat mahasiswanya yang kebanyakan adalah karyawan, Putu berusaha menciptakan sistem belajar mengajar yang bersifat fleksibel. Kegiatan perkuliahan pada AMIK Pakarti Luhur, dibagi atas dua waktu yaitu pagi dan malam hari. Terdapat  perbedaan antara perkuliahan pagi dan malam. Pertama, Perkuliahan pada pagi hari ditujukan bagi para siswa yang baru saja lulus SMA atau karyawan yang bekerja pada shift malam.

Perkuliahan yang dilaksanakan pada malam hari, ditujukan untuk para karyawan. Kedua, perkuliahan pada pagi hari menggunakan sistem semester dan sistem sks sedangkan perkuliahan malam menganut sistem periode dan sistem paket dalam memilih mata kuliah.

Kemudian, ada usaha untuk menjembatani keharusan persentase kehadiran peserta dan kesibukan mereka. Mulai tahun depan, pihak kampus akan memvideokan penjelasan dosen di ruang kelas. Bagi mahasiswa yang tidak dapat menghadiri perkuliahan, maka mereka harus menonton materi tersebut di perpustakaan tanpa terikat jadwal.

Target AMIK Pakarti Luhur untuk saat ini tak muluk-muluk. Ia hanya ingin menjadi Perguruan Tinggi unggulan di bidang IT di daerahnya. Akan tetapi ia pun tak ingin perguruan tinggi lainnya jatuh. Ia ingin sama-sama bersaing, sama-sama maju, berinovasi dan menjadi inspirasi bagi lingkungannya. “Dasarnya dengan meningkatkan kualitas internal lembaga itu sendiri,” jelasnya.

Merasa Tertuntun Untuk Menjadi Pengajar

Putu mengaku terjun ke dunia pendidikan secara tidak sengaja. Setelah menyelesaikan kuliahnya di  Universitas Budi Luhur, ia sempat bingung. Kala itu ia tak punya cita-cita jangka panjang, yang ada pada benaknya pada saat itu adalah secepatnya mendapatkan pekerjaan. “Maklum, saya anak pertama, ingin cepat bisa bantu orang tua,” jelasnya.

Kemudian, ia yang sempat menjadi asisten laboraturium itu diajak bergabung menjadi pengajar di almamaternya pada tahun 1996. “Iseng-iseng saya terima pekerjaan itu,” tambahnya. Awalnya ia ingin memajukan laboraturium yang kondisinya pada saat itu tak disukainya.

Setelah sekian lama, ia ternyata menemukan kesenangan tersendiri di sana. Sebagai orang yang senang selalu bertemu dengan orang lain, ia mengaku gembira bisa bertemu dengan mahasiwa-mahasiswa baru setiap semesternya. Kejadian seperti ini menurutnya mungkin sebuah jalan hidup.

Sulung dari tiga bersaudara dengan latar belakang keluarga seorang pedagang ini merasa menemukan apa yang dicarinya di Universitas Budi Luhur. Ia menemukan kesadaran bahwa yang dibutuhkannya selama ini adalah untuk menjadi seorang pelayan.

Saat karirnya meningkat pada level manajerial, ia merasa semakin nyaman. Disitu ia bisa melayani atasan, sesama dan juga bawahan. “Apa yang dikerjakan dengan keikhlasan akan membawa kita pada kenyamanan,” ujarnya bijak.

Dengan prinsip hidup yang mengalir seperti air, Putu pun terus bekarya di tempat kerjanya. Ia turut merintis dibukanya kelas karyawan di beberapa fakultas di sana. Antara lain, fakultas ekonomi serta fakultas ilmu sosial dan ilmu politik di Universitas Budi Luhur.

Didukung Keluarga Walau Tak Punya Ambisi Pribadi

Ayah dari tiga orang putri ini mengaku tidak mempunyai ambisi pribadi dan hanya fokus pada AMIK Pakarti Luhur. “Awalnya sih sempat pusing memikirkan kebutuhan keluarga,” ungkapnya. Akan tetapi ia lebih memilih untuk bisa terus melayani orang. Sesuatu yang menurutnya dilandasi oleh alasan spritual dirinya pribadi.

Untuk menerapkan ilmunya pada dunia nyata, Putu pun menjadi Konsultan IT di luar. Ia menangani kebutuhan IT tiga buah Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Ahli yang menguasai Berbagai Bahasa Pemrograman seperti VBA, Java, PHP, VB6, linux dan networking ini pun sempat ditawari untuk menjadi manajer IT di perusahaan minyak dengan gaji dollar. Tapi hal itu ditolaknya.

Untung saja ia memiliki keluarga yang mengerti. Pada awal mendirikan AMIK Pakarti Luhur, ia kerap pulang malam bahkan menginap di kantor. Akan tetapi kini tidak lagi. Karena anak sulungnya mulai bersekolah, kini ia pindah ke daerah dekat kampus. Menempati rumah yang baru dibangunnya.

Kepada generasi muda, Putu berpesan agar mereka harus membiasakan diri mempunyai mimpi. Mimpi tersebut harus segera mulai dibangun, paling tidak diawali dari lingkup keluarga. “Dan yang penting harus dilakukan dengan ikhlas,” tuturnya mengingatkan.

Secara individual, ia menginginkan agar anak muda mau mencari sesuatu yang unik. Dan membentuk karakter mereka berdasarakan sifat yang unik tersebut. Karena menurutnya segala sesuatu yang unik itu biasanya akan menjadi istimewa dan diatas rata-rata.

SM Panjaitan

Direktur Utama PT Surya Global Security Service

Sukses Menyeluruh Sulit Dicapai

Setiap menjalankan sebuah usaha, diperlukan planning (perencanaan), money (uang), man (manusia), peralatan ditambah dengan strategi yang jitu. Semua itu, digabungkan dalam sebuah pentahapan pencapaian yang terencana sejak memulai (start), lokasi usaha, sampai tujuan terukur yang ingin dicapai. Misalnya, usaha jangka panjang yang terukur antara 5-25 tahun, jangka sedang dalam hitungan 12 bulan sementara jangka pendek maksimal 30 hari.

Meskipun demikian, semua itu tergantung pada sasaran atau target yang ingin dicapai oleh pemilik usaha. Yang jelas, kesuksesan bisa diukur dengan berbagai patokan, mulai sukses dalam bentuk uang, kepemimpinan, kesejahteraan dan lain-lain.

“Untuk sukses secara menyeluruh sangat sulit dijangkau. Karena usaha itu bisnis dengan motto ‘Modal sedikit dengan hasil yang banyak’. Harus tetap sejahtera tetapi tidak melanggar aturan dan berjalan sesuai Undang-Undang dan peraturan. Pengusaha harus berpedoman pada ilmu ekonomi, kepemimpinan dan managerial yang menyesuaikan perkembangan zaman, serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dan canggih. Dia juga harus terus berinovasi untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan sesuai Asta Gatra, ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan keamanan,” kata SM Panjaitan, Direktur Utama PT Surya Global Security Service.

Pengusaha sukses, lanjutnya, tidak akan tergantung kepada nasib. Ia sangat tergantung pada kegigihan, keuletan, ketekunan, kedisplinan, ketelitian dan kecermatan di segala hal. Pengusaha yang sukses memiliki selektivitas dan prioritas dalam mengambil keputusan, memahami kebutuhan pasar serta perkiraan tentang masa depan. Tentu saja, semua itu melalui perhitungan yang sangat matang, berdasarkan angka-angka sehingga bisa menentukan sasaran-sasaran tambahan. Yakni melalui usaha mendapat inovasi baru dan bukan sekadar “coba-coba”. Kalau pun dilakukan hanya “coba-coba” tetapi melalui perhitungan menurut teori penelitian.

Menurut Panjaitan, seorang pengusaha adalah sekaligus pemimpin, yang mengerahkan orang lain untuk mewujudkan gagasan dan idenya. Pengusaha yang pemimpin, menduduki salah satu golongan dalam kategori umum manusia yang terdiri atas empat kategori. Kategori pertama adalah orang yang tidak tahu kalau dirinya tahu. Kedua orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga selalu menjadi penghalang. Ketiga orang yang tahu kalau dirinya tahu dan keempat orang yang tahu dirinya tidak tahu.

“Apabila dua kategori terakhir berada dalam diri satu orang, maka dialah yang akan menjadi pemimpin. Karena dia mampu memberdayakan sumber daya yang ada –manusia, uang dan alat- mampu menggerakkan, memotivasi, menuntun dan membimbing. Dia juga mampu memberdayakan uang, mampu menempatkan orang dengan tepat sesuai kapasitas masing-masing. Bahkan, seorang pemimpin bisa membuat orang yang dinilai bodoh menjadi sangat ahli di bidangnya,” tegasnya.

Seorang pemimpin, jelas Panjaitan, memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh. Masing-masing manusia dalam keyakinan pemimpin telah mendapat porsi tugas, fungsi dan peranan yang tidak persis sama. Untuk itulah, seorang pemimpin menciptakan sistem yang berupa suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari banyak unsur yang saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Masing-masing orang memiliki talenta yang membutuhkan kompetensi hasil belajar latihan dalam berbagai tingkatan. Semua itu dapat ditentukan oleh seorang pemimpin melalui kriteria-kriteria tertentu yang jelas dan terukur.

Seorang pemimpin perusahaan, menurut Panjaitan, harus bijak dalam menerima kritikan positif. Dia tidak boleh terlalu fanatif terhadap sebuah pendapat dan mengabaikan saran-saran yang berasal dari anak buahnya. Seorang pemimpin harus mempertimbangkan sebelum memutuskan, tidak egois, fleksibel, luwes dan energik. Selain itu, pemimpin harus gampang menyesuaikan diri, lembut tetapi prinsip dan keyakinan harus tercapai.

“Seorang pemimpin itu harus seperti air, yang selalu mengalir, merembes atau menguap tetapi selalu mencapai laut. Itulah tujuan sebenarnya dari air yang tidak dapat dibendung oleh apapun sebelum mencapai laut sebagai tujuan akhir. Tidak ada yang dapat menghentikan gerakan tersebut bahkan kalau perlu tsunami menggerakkan air. Seperti itulah pengusaha sukses menurut pandangan saya,” ungkapnya.

Seorang pengusaha sukses, imbuhnya, adalah orang yang sukses dalam penggunaan uang (money) dan menikmati hasilnya. Dia juga sukses menggerakkan orang (man) dengan kesejahteraan rohani dan batin. Pengusaha yang sukses juga berhasil dalam memaksimalkan penggunaan alat, profesional dan proporsional, tepat guna dan berhasil guna. Artinya pengusaha sukses harus berguna bagi orang banyak dan bukan keuntungan pribadi atau kelompok saja.

Memerlukan Inovasi

Dalam memimpin perusahaan, menurut Panjaitan akan sangat berbeda dengan pimpinan dalam kemiliteran. Kalau dalam kemiliteran garis komando sangat jelas penanggung jawab antara yang dipimpin dengan pimpinan, pengusaha tidak bisa melakukannya. Pimpinan di militer lebih gampang mengendalikan anak buahnya terkait adanya garis komando tersebut. Sementara pimpinan perusahaan tidak memiliki hubungan yang tegas dengan para karyawan yang dipekerjakannya.

“Kedudukan antara pemilik perusahaan dan karyawan relative sejajar. Karyawan hanya takut dipecat atau dikeluarkan dari pekerjaan oleh kekuasaan sehingga tanggung jawabnya kurang. Kebanyakan karyawan ingin bekerja sesedikit mungkin dengan hasil semaksimal mungkin dengan berbagai dalih atau alasan. Karyawan tidak sadar bahwa mereka ikut pemilik perusahaan dengan saham tenaga. Oleh karena itu, bagi pimpinan perusahaan harus mencari cara dan strategi atau formula yang paling baik dan terus melakukan inovasi yang berkesinambungan,” tandasnya.

Sebenarnya, kemajuan atau kemunduran sebuah usaha merupakan sebuah kejadian biasa dan normal. Seperti grafik dalam kehidupan di dunia ini, kenaikan atau penurunan adalah sesuatu yang wajar. Yang penting, tujuan akhirnya adalah tercapainya sasaran yang telah direncanakan. Kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan, yang mengetahui dengan pasti adalah pimpinan atau pemilik perusahaan. Pencapaian kemajuan perusahaan sampai 65 persen akan dinilai berhasil pada tahapan jangka pendek, sedang dan panjang. Meskipun demikian, angka 100 persen pencapaian dalam bisnis bukan tidak mungkin terjadi.

Seorang pengusaha, jelasnya, dapat melatih indera penciuman terhadap peluang bisnis di sekitarnya. Salah satu latihan yang paling berguna adalah dengan melatih panca indera untuk penguasaan terhadap informasi. Karena ketika informasi sudah dikuasai, bisa diibaratkan seorang pengusaha telah menguasai dunia. Semua itu bisa diperoleh melalui olah pikir dari membaca, baik ilmu pengetahuan maupun media massa. Kemudian banyak melihat, mendengar, merasa dan mencium sehingga banyak pengalaman, baik media massa, elektronik dan lain-lain.

“Kemudian kita harus menguasai banyak bahasa. Kemudian olah fisik atau olahraga juga menggunakan otak. Kalau sudah pintar, bijak melalui olah fakir tentu membutuhkan fisik yang sehat. Orang pintar juga harus dengan fisik yang sehat dan kuat. Bila ini dimiliki seseorang, kami yakin indera penciuman di bidang usaha atau bisnis pasti tajam. Bahkan mereka akan mampu secara otomatis mencium peluang usaha yang baik untuk bisnis di masa depan,” tegasnya.

Menarik Becak

SM Panjaitan adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Komisaris Polisi. Ia telah menjalani tugas panjang di kepolisian selama 37 tahun 10 bulan dari pangkat terendah, Bharada pada tahun 1969 (14 Februari 1970, resmi menjadi polisi). Selama bertugas di kepolisian, ia menjalani pendidikan kedinasan sampai 14 kali untuk meningkatkan kompetensinya sebagai petugas yang mengabdi kepada masyarakat. Setelah pensiun pada tahun 2006 (30 Desember 2006), ia mengisi masa pensiun dan membuka usaha pada bulan Oktober 2008.

Saat menjalankan tugas sebagai polisi, Panjaitan menyadari bahwa pekerjaan adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ia harus mengutamakan tugas di atas segalanya. Adapun tugas mengurus anak dan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada istri tercinta. Di luar tugas, barulah tenaga, pikiran dan seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk mencari penghasilan yang halal.

“Saya pernah menarik beca dari tahun 1976-1977, mencatak dan memasok sol sepatu, mandor angkot, beternak, membuat ember dari tong aspal dan lain-lain. Semua itu saya kerjakan di luar tugas kepolisian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena saat itu, adik-adik datang dari kampung dan kebetulan saya tinggal di luar asrama. Nah, saat saya berpangkat sersan dan menjadi komandan regu maka saya harus masuk asrama. Terpaksa, kegiatan di luar saya hentikan demi kelancaran tugas dan karier. Meskipun secara penghasilan banyak berkurang, tetapi itu peraturan yang harus ditaati,” kisahnya.

Panjaitan tentu saja harus mematuhi aturan yang berlaku di asrama sehingga tidak bisa menjalankan bisnisnya di luar jam kerja. Ia terikat peraturan asrama yang bahkan untuk keluar asrama pun harus mendapat izin dari Ka. Asrama kecuali untuk kepentingan tugas. Di sini ia banyak belajar bagaimana tugas dan kriteria pimpinan militer atau kepolisian yang penuh disiplin. Pimpinan militer (perwira) bagaikan martil, yang menokok paku adalah bintara –penghubung antara atas dan bawah- sedangkan yang dipalu adalah bawahan (tamtama( yang banyak menjadi satu agar kuat dan tahan. “Pemimpin militer memimpin prajurit yang telah dilatih tegas dan keras dalam disiplin dan tanggung jawab. Jadi baik yang memimpin maupun yang dipimpin sama-sama keras,” ujarnya.

Pengalaman disiplin di kepolisian, sedikit banyak dipraktekkan Panjaitan dalam mengendalikan perusahaan. Ia berharap perusahaan yang dipimpinnya menjadi sarana mendapatkan manusia yang sejahtera, bertanggung jawab dan berguna bagi kesejahteraan keluarganya. Baginya, bekerja merupakan pengalaman berharga dan menjadi ilmu yang dapat digunakan untuk dijadikan ilmu pengetahuan bagi para staf dan karyawan perusahaan. Setidaknya, para karyawan mampu mengembangkan perusahaan sesuai perkembangan zaman karena mereka lah penggerak dan motor perusahaan.

Panjaitan sadar, sedikit banyak usaha yang digelutinya sekarang adalah merupakan bagian dari program pemerintah. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah turut campur tangan mengenai masa depan perusahaan. Yakni dalam hal perencanaan, man, money, peralatan dan produk hukum serta peraturan dengan batasan-batasan tertentu. Kemajuan perusahaan akan memberikan andil dalam mensejahterakan rakyat sedangkan kemundurannya berakibat sebaliknya.

“Sebagai pemimpin, saya harus menggugah dan memotivasi karyawan atau generasi muda. Saya juga berkewajiban mendorong dari belakang dengan menjadi contoh di depan, bersikap adil dan bijaksana, berusaha memberi pandangan visi ke depan agar jangan jalan di tempat. Namun, sekarang semua itu menjadi sangat terbatas, hanya di lingkungan kerja saja. Akibat kesibukan pekerjaan yang sangat padat, membuat saya harus membatasi aktivitas di tempat lain,” kata SM Panjaitan.

 

E. Kurniawan, S.Si MT

PT Indonesian Environment Consultant

Masalah Lingkungan dan Manusia Menjadi Passion Dalam Bisnis

Lingkungan hidup sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya.
Manusia dengan kemampuan berpikir dan kepekaan emosinnya merupakan mahluk yang mumpuni di bumi ini. Telah menjadi sifat manusia untuk selalu meningkatkan taraf hidup, sehingga ia melakukan berbagai inovasi yang dapat mempermudah dan meningkatkan kehidupannya. Hal ini dimungkinkan oleh karena tangannya yang dapat membuat alat (prehensile hands) dan matanya yang stereoskopik, sehingga ia dapat melakukan konseptualisasi dan mengimplementasikan konsepnya.
Dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kehidupan dalam perateknya haruslah dapat memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksinya secara sungguh-sungguh dengan tujuan akhir adalah tersediannya sumber daya alam yang lestari.
PT. Indonesia Environment Consultant hadir dalam rangka mewujudkan terciptanya penyelarasan antara imperatif peningkatan taraf hidup dan kehidupan dan kewajiban moral untuk mewujudkan lingkungan yang lestari dengan mengusung satu visi besar kedepan yaitu Menjadi perusahaan Green Business terbaik di Indonesia dan sebagai mitra bagi institusi lain dalam upaya menciptakan Planet bumi yang lestari.

“Menurut saya, setiap manusia lahir dimuka bumi ini pasti punya alasan tertentu, oleh karena itu saya sangat menyadari bahwa Tunah SWT menciptakan saya dimuka bumi ini untuk 2 (dua) alasan yaitu manusia dan lingkungan. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya memilih manusia dan lingkungan menjadi passionnya hidup saya. Saya berharap dengan segala apa yang telah saya miliki dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan pelestarian fungsi lingkungan. Untuk saat ini kegiatan dan aktivitas yang saya kerjakan selalu terkait di kedua koridor tersebut yaitu lingkungan dan manusia termasuk didalamnya menjalankan aktivitas bisnis yang saya lakukan. Mungkin nanti, sesudah semua berjalan sesuai harapkan akan mengembangkan ke ranah yang lain terutama untuk kegiatan bisnis dibidang lainnya,” ujar E. Kurniawan, President Director/CEO PT Indonesian Environment Consultant.

Enang –panggilan akrabnya- adalah lulusan S1 Jurusan Biologi Lingkungan di Universitas Sriwijaya tahun 2001. Setelah lulus, selama dua bulan bekerja di sebuah bank internasional, Citibank NA. Ketika perusahaan otomotif terkemuka, PT. Astra Internasional Tbk membuka lowongan pekerjaan ia melamar dan diterima di PT. Astra International-Toyota Cabang Sudirman dan cabang Ambasador Jakarta. Di tempat inilah, ia belajar mengenai ilmu bisnis, filosofi perusahaan dan lain-lain, yang akhirnya diimplementasikan di perusahaan sekarang.

Meskipun demikian, sembari bekerja Enang tetap menyimpan cita-cita besarnya, ia mengumpulkan modal untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus tes di Program Megister Teknik Lingkungan ITB Bandung, ia memutuskan keluar dari PT. Astra International Tbk. Semua orang terhenyak mendengar keputusan yang sangat radikal tersebut. Dari orang tua, saudara, tetangga dan sahabat-sahabatnya keheranan. Bagaimana mungkin, pada usianya yang baru 25 tahun dan memiliki penghasilan cukup baik ditinggalkan begitu saja untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti.

“Cukup besar tentangan saat itu. Tetapi saya katakan, mungkin inilah jalan hidup yang digariskan Tuhan. Saya berjanji kepada orang tua dan saudara-saudara untuk tidak akan mengganggu hidup mereka dan tetap akan menjalankan peran saya sesuai harapan dan ekspetasi mereka. Makanya, demi cita-cita akhirnya saya keluar dari Astra.

Ketika setelah keluar dari Astra dan hampir satu bulan saya tidak bekerja di Astra rupanya Tuhan justru memberikan jalan terbaik karena atasan menyuruh saya bekerja part time di Auto 2000 Pasteur Bandung. Masih ingat pada waktu itu ketika wawancara dengan kepala cabang di Auto 2000 Pasteur justru atasnnya tersebut sangat mendukung sekolah saya. Ia bahkan mau menerima saya dengan syarat agar saya fokus kepada kuliah menjadi hal utama, bukan pekerjaan. Wah, ini memang rezeki untuk ku, bukan syarat itu,” katanya.

Enang menyelesaikan kuliahnya selama hampir dua tahun yaitu pada 2004-2006. Selama masa perkuliahan perjuangan berat harus dijalani karena menjalankan dua aktivitas sekaligus yaitu kuliah sambil bekerja. Sempet ia berpikir kuliah di program masternya saat ini tentunya tidak akan terlalu berat seperti program sarjana, namun rupannya beliau keliru aktifitas diperkuliahan justru menyita pikiran dan tenaga cukup besar sehingga diperlukan effort yang cukup besar untuk mengatur semuanya agar aktifitas perkuliahan dan bekerjanya tetap berjalan dengan baik. Aktifitas sehari-hari terkadang kuliah dimulai jam 7 pagi sampai dengan jam 1 siang lalu dilanjutkan dengan pergi kekantor untuk jalankan aktifitas pekerjaannya pulang pada malam harinya, dan dilanjutkan dengan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang terkadang harus begadang semalaman untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, kadang saat itu ia berfikir ini terlalu berat, tapi ia disadarkan bahwa semua akan indah pada waktunya, kilahnya.

Di ujung Akhir perkuliahnnya, saatnya ia disadarkan kembali untuk memilih jalan hidup yang menjadi cita-cita dan mimpinya dengan menggunakan kontrak hidup “berani” ia benar-benar menggunakannya untuk keluar dari perusahaan otomotif tersebut yang hampir 5 tahun membesarkannya. Sayangnya, ia harus menanggung “masalah besar” karena ketika setelah beberapa saat mengajukan diri untuk keluar suatu masalah membelitnya. Permasalahannya dengan customernya, membuat ia harus kehilangan seluruh tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja, bukan hanya itu bahkan dia merasa disinilah titik terendah yang pernah dialaminya.

“Itu sebagai kompensasi dan mungkin itu juga resiko yang harus saya bayar untuk mendapatkan mimpi saya kelak. Tinggallah saya yang sudah keluar dari perusahaan, tak punya pekerjaan dan hanya menyisakan uang Rp49 ribu di rekening. Disinilah saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Bahwa ketika kita berani bermimpi, kita tidak hanya siap menghadapi risiko. Tetapi kita bahkan harus berani membayar risiko dari apa yang dicita-citakan apapun itu, karena saya percaya untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa tidak bisa ditempuh dengan cara yang biasa yang kebanyakan orang dilakukan,” ungkapnya.

Dari situ, Enang kemudian membangun perusahaan setahap demi setahap. Modal awalnya adalah semangat karena selepas dari Astra dan harus menghabiskan seluruh tabungan di akhir kariernya, ia tidak memiliki dana sama sekali. Hanya keinginan dan cita-cita yang membuatnya membangun perusahaan yakni melalui passion di bidang lingkungan dan sesekali menjalankan aktifitas lainnya seperti menjadi fasilitator dan co trainer di lembaga training untuk memuaskan hasratnya di passion lainnya terkait manusia.

“Saya merasa dikirimkan Tuhan untuk dua tujuan, lingkungan dan manusia. Tidak untuk orang lain makanya saya ambil risiko dan membangun ini. Dari berkantor ikut orang sekarang sudah memiliki kantor yang layak. Saat ini kami berkantor di Menara Hijau Building MT Haryono Jakarta. Tahun pertama dan kedua perusahaan berjalan, saya tidak pernah berbicara tentang manajemen, tetapi lebih banyak kepada value dan budaya corporate. Karena saya menganggap pondasi perusahaan terletak pada velue dan budaya corporate, katanya.

Keberanian dan Komitmen

Indonesian Environment Consultant memulai dengan membangun bisnis lingkungan berawal sebagai konsultan. Belakangan, IEC juga memasuki bisnis dalam kategori services di bidang lingkungan. Tahun 2012, ia ingin membuat award untuk teknologi lingkungan yang hasilnya akan diimplementasikan dalam industrial scale.

“Mungkin akan kita bangun bersama sponsor. Tujuan kita adalah membangun industri yang berbasis green business, kelak kita berharap akan menjadi pusat inkubasi bisnis untuk Greeen Technology. IEC nanti akan terjun ke pengolahan limbah, manufaktur dan energi,” kata finalis Teknopreuneur Award dan New Ventures Indonesia ini.

Menilik kembali perjalanan IEC, Enang menjelaskan bahwa perusahaan yang didirikannya menjadikan tekad sebagai modal utamanya dan dalam menjalankan usahannya adalah spirit sebagai motor dalam menggerakan roda perusahaan sesuai yang dikehendaki. Dengan spirit itu akan mudah meningkatkan kepercayaan dari para kolega yang disertai dengan filosofi penjualan spirit power selling yakni menjual by spirit. Jadi rahasianya adalah menyampaikan spirit yang dimiliki kepada calon pelanggan,” tuturnya.

Setiap perusahaan memiliki cara yang tersendiri untuk tumbuh dan berkembang, begitu juga dengan IEC ketika tahun-tahun awal focus terhadap value dan budaya corporate baru satu tahun belakangan fokus terhadap manajeman dan profit. Meskipun demikian, sebagai pemilik Enang sangat bersyukur karena semua itu sesuai harapannya dan semua perjalanan itu terasa indah lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. Bagi pengagum Bung Karno ini, membangun pondasi bisnis yang kuat lebih berguna daripada harus untung dahulu. Dengan memiliki bisnis yang kuat dan akhirnya menguntungkan, berarti ia telah menjawab dan menepis keraguan orang tua dan saudara-saudaranya saat keluar dari Astra.

“Butuh pemahaman yang kuat terhadap proses berjalan dan siap menerima dinamika yang akan terjadi dalam membangun usaha ini. Hobinya naik gunung sewaktu kuliah telah memberinya pelajaran berharga, bahwa kita haruslah tetap fokus terhadap tujuan, dimana tujuan utama kita naik gunung untuk tiba di puncak dan pulang kembali ke rumah dengan selamat. Saya mengumpamakan dalam hidup sama seperti kita mendaki gunung sering sekali kita temukan jalan teramat terjal dan curam dengan segala liku dan kelok tetapi kalau ditelusuri lebih jauh bukankah semua itu menjadi sahabat setia yang akan menuntun kita menuju puncak untuk tiba tepat esok pagi.

Dalam meraih mimpi membutuhkan keberanian dan komitmen. Tidak cukup hanya keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan besar tapi harus memiliki komitmen yang jelas dengan segala resiko yang siap dibayar bukan diterima. Ini bukan tentang apa yang kita bisa tetapi apa yang kita mau. Ini baru gentle,” tegasnya.

Enang yang dibesarkan dari dunia pendidikan –ayahnya Kepala Sekolah SMP ibunya Kepala Sekolah SD- meyakini bahwa power of spirit adalah modal utama. Spirit yang luar biasa sudah cukup untuk membangun perusahaan, meniti karier atau mengejar impian untuk hidup lebih baik. Karena dengan spirit, segala sesuatu baik kondisi baik atau buruk, senang atau susah akan dihadapi dengan besar hati.

“Hambatan itu bukan ketika susah saja lho, bahkan kesenangan juga bisa menjadi hambatan dalam meraih cita-cita kita. Contohnya saya pernah ditawari headhunter untuk menjadi vice president di perusahaan UK tentunya dengan gaji yang cukup menggiurkan. Disinilah kembali saya diuji untuk mengambil keputusan besar dalam menentukan pilihan. Setelah melalui shalat istikharah dan lain-lain, saya putuskan untuk tetap di sini. Karena menurut saya ini bukan tentang uang semata, tetapi menjalankan passion saya yang membuat saya lebih memberi nilai besar pada diri saya, inilah sebuah pilihan walaupun terkadang pilihan tersebut terasa tak popular, tetapi keyakinan yang besar untuk tiba pada cita-cita luhur mengantarkan saya untuk mengambil keputusan besar untuk tetap menjalankan dan mengendalikan perusahaan yang menjadi passionnya,” jelasnya.

Enang sangat bersyukur, perusahaan yang dikembangkan melalui power of spirit tersebut mulai menuai harapan. Ini membuat semangatnya semakin terbakar untuk membangun perusahaan menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan permasalahan lingkungan di Indonesia yang sangat banyak dan regulasi semakin ketat, akan menjadi modal cukup untuk menjalankan green business yang dijalaninya dan pada waktunya nanti uang akan datang dengan sendirinya.

“Saya sangat beryukur bisa seperti ini karena orang-orang di sekitar saya,
orang tua, sahabat, guru-guru spiritual dan lain-lain untuk memastikan agar saya menjalani semua ini dengan sungguh-sungguh. Balik lagi perumpamaan seperti naik gunung, semua tidak bisa dilakukan sendiri tetapi diperlukan rekan-rekan dimana disitu kita biasa saling support, selain itu sama halnya naik gunung ataupun pada saat meraih cita-cita kita perlu untuk istirahat sejenak untuk mencapai puncak tapi ingat jangan lama karena akan buat tubuh ini beku selanjutnya jalan lagi kalau perlu berlari agar cepat sampai di puncak gunung,” tuturnya.

Nikmati Proses

Pilihan Enang untuk menggeluti bisnis lingkungan atau Green Business tidak lepas dari latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Pria kelahiran Bogor, 27 Juli 1978 ini, menggabungkan pengalaman sebagai karyawan dan latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan ITB yang akan membuat sebuah bisnis berjalan dengan baik membuat penguasaha muda bungsu delapan bersaudara ini tetap dapat memberikan solusi dan kontribusi terhadap permasalahan lingkungan sangat prima.

“Alhamdulilah, prospek usaha ini pun ke depan sangat bagus. Karena hanya sedikit perusahaan seperti ini. Ditambah, sebagai mantan karyawan Astra yang bisa mengerti bagaimana Astra membangun business serta alumni Teknik Lingkungan ITB yang mengerti lingkungan, sehingga perpaduannya cocok dan klop mudah-mudahan akan menjadi modal besar untuk mengantarkan IEC menjadi salah satu perusahaan besar dinegeri ini,” kata anak pasangan H. E Padma (alm) dan H.R. Djulaeha ini.

Ke depan, Enang memiliki cita-cita untuk menjadikan perusahaan miliknya tidak kalah dengan perusahaan lain. Bahkan, cita-citanya menjadikan Indonesia Environment Consultant (IEC) memiliki brand yang kuat seperti IBM dan Microsoft. Di mana brand-brand itu telah memiliki nama besar dan memberikan kontribusi besar dengan produk yang dikeluarkan perusahaan tersebut.

“Saya mempunyai cita-cita, ke depan seperti perusahaan-perusahaan tersebut, ketika orang mengingat lingkungan maka nama IEC langsung disebut. Bahkan nanti saya berharap, IEC bukan lagi Indonesian Environment Consultant tetapi Indonesian Environment Corporation,” sebagai Holding Company harapnya.

Untuk saat ini, IEC mengerjakan proyek-proyek seperti studi lingkungan, AMDAL, desain CSR, Water Treatment yang lengkap dengan konstruksinya dan mengerjakan project-project Green Property. Kedepan IEC akan menjadi Green Incubator untuk para pebisnis lingkungan dan membangun projek-projek yang berbasis lingkungan seperti peyedia energy renewable seperti pembangkit tenaga mikrohidro.

Enang merasa diuntungkan dengan semakin tingginya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dari berbagai pihak. Selain pemerintah, masyarakat dan perusahaan juga memiliki kesadaran yang meningkat. Termasuk perusahaan vendor yang akan memilih perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap lingkungan untuk memproduksi produk yang dihasilkan.

Setelah berhasil dengan passion-nya pada lingkungan dan manusia, Enang telah menetapkan tujuan hidup yang pasti. Suatu saat, ia nanti akan menyumbangkan tenaga dan pemikiran kepada penyelenggara negara. Bukan sebagai politikus, tetapi dengan berbekal keahlian dan pengetahuan yang dimiliki serta passionnya dibidang lingkungan dan manusia berharap dapat berkontribusi untuk kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan. “Tentu setelah saya melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan terbaik, bagi khalayak,” imbuhnya.

Bagi generasi muda, Enang mengingatkan pada suatu hal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan. Pertama adalah menikmati proses yang sedang dijalankannya. Apapun itu, bagaimana kondisi yang dihadapi semua tidak lepas dari proses. Ibaratnya, seseorang yang ingin menjadi seseorang yang “luar biasa” dan pastilah dia melakukan sesuatu yang luar biasa juga, bukan melakukan hal biasa yang kebanyakan orang lakukan.

Selain itu, setiap orang harus memiliki keberanian untuk bertransformasi menjadi manusia lebih baik, baik menjadi seseorang yang berani, seseorang yang penuh cinta, seseorang yang jujur atau apapun itu, berharap akan menuntun kita menuju mimpi yang dicita-citakanya, mimpi hanya akan menjadi milik mereka yang percaya akan dirinya. Satuhal lagi Ketika mulai berjalan melenceng dari tujuan hidup yang dicita-citakan, generasi muda harus kembali pada track yang sudah ditentukannya sendiri. Tanpa itu, kesuksesan akan semakin jauh dari jangkauan dan generasi muda akan menjadi orang yang sangat biasa.

“Generasi muda harus belajar menikmati proses, meskipun itu berat. Mereka harus membayar lebih -waktu dan apa saja- untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak. Kemudian, alangkah baiknya jika kita memiliki komitmen hidup sendiri. Seperti saya dengan kontrak hidup “Berani”. Jadi ketika merasa takut, saya ingatkan diri sendiri bahwa ‘Mr Enang kontrak hidup Anda adalah berani, menjadi laki-laki yang berani, bagaimana sih….?’ Intinya jikalau kita ingin menjadi orang yang lebih, harus dibayar dengan cara yang lebih juga. Sekali lagi Tidak ada orang luar biasa tetapi melakukan usaha seperti apa yang biasa dilakukan orang. “I need to believe that something extra ordinary is possible.” Saya percaya sesuatu yang luar biasa akan terjadi pada orang yang bersungguh-sungguh. Bukan hanya pada diri saya sendiri tapi pada mereka yang percaya akan mimpinya.’ tegasnya.

H Abdul Hakim Fouad Attamimi

No Comments

Direktur Utama Faryha Tour

(PT Ronaldhitya Tour & Travel)

Sukses Dengan Terus Menerus Belajar dan Menekuni Satu Bidang

Dalam berkarier atau berbisnis, ketekunan terhadap salah satu bidang akan membuat orang menjadi sangat ahli. Selama menjalani karier atau bisnisnya, berbagai pelajaran berharga akan membuatnya menjadi spesialis di bidang yang ditekuninya. Proses yang dijalani selama menekuni pekerjaan akan menjadi pengalaman yang membawa kesuksesan.

Seperti yang dijalani oleh pengusaha biro perjalanan haji & umrah, H Abdul Hakim Fouad Attamimi, Direktur Utama Faryha Tour (PT Ronaldhitya Tour & Travel). Pilihannya untuk belajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali Jurusan Manajemen Pariwisata (lulus tahun 1993) adalah langkah awalnya menuju tangga kesuksesan. Pengusaha asli Bali kelahiran Klungkung, 1 November 1969 ini mengisahkan perjalanan hidupnya, berikut ini.

Saya asli Bali tetapi muslim dan hingga saat ini orang tua dan saudara-saudara semua ada di Bali. Tahun 1993, saya diterima bekerja di perusahaan biro perjalanan wisata, Nusa Dua Bali Tour & Travel. Awal Januari 1994, saya langsung dikirim ke Jakarta sebagai representative, karena banyak tamu dari Eropa yang ke Jakarta dahulu. Jadi, awalnya saya bekerja di biro perjalanan umum,” katanya.

Pertengahan tahun 1994, Hakim –panggilan akrabnya- pimpinan Nusa Dua Bali Tour Jakarta berangkat umrah bersama keluarga. Ia diajak dan menjadi tour leader dalam perjalanan spiritual tersebut. Terkesan atas pengalaman pertamanya di Tanah Suci, membuat ia sangat tertarik di bidang umrah & haji. Dua tahun kemudian, ia memutuskan keluar dari PT Nusa Dua Bali Tour dan bergabung dengan PT. Insan Salsabila, biro perjalanan umrah & haji.

 Sejak itu, Hakim mulai berkecimpung di bisnis umrah & haji. Beberapa kali ia berangkat untuk mengawal para jemaah umrah & haji plus. Kadang, kegiatan jemaah disambung dengan perjalanan wisata ke berbagai negara, seperti; Mesir, Turkey, Jordan, Jerussalem, Maroko, bahkan sampai Spanyol. Setelah beberapa kali pindah kerja di perusahaan umrah & haji, ia memperoleh pekerjaan sebagai Kepala Perwakilan Travel dari Saudi Arabia di Jakarta selama tiga tahun (2006-2009).

Tetapi tahun 2006 itu, saya mulai merintis usaha sendiri dengan membuka biro perjalanan wisata, khusus Umrah & Haji. Namun, sampai tahun 2010, izin umrah & haji belum keluar, hingga akhirnya saya membeli perusahaan yang sudah punya izin, PT. Ronaldhitya Tour & Travel dan mengganti merk dagang menjadi ‘Faryha Tour’. Saya membuka usaha ini karena melihat bahwa ke depan, dengan daftar tunggu pemberangkatan haji regular antara 6 – 10 tahun, umrah & haji plus menjadi pilihan alternative untuk ke tanah suci. Karena banyak yang lebih memilih umrah sambil menunggu jadwal keberangkatannya,” katanya.

Menurut Hakim, Fahyra Tour sekarang memiliki cabang di Surabaya dan perwakilan di berbagai daerah di Indonesia seperti; Tangerang, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Balikpapan, Bali, Palu dan lain-lain. Dengan dibukanya perwakilan di berbagai daerah, jemaah akan semakin mudah mendapatkan informasi tentang segala sesuatu mengenai rencana perjalanan umrah atau haji.

Perwakilan Daerah

Sebagai perusahaan yang baru beberapa tahun berdiri, menurut Hakim banyak kendala yang harus diatasi. Selain perizinan perusahaan umrah & haji yang sekarang dihentikan pemerintah RI, peraturan mengenai umrah & haji dari pemerintah Indonesia dan Arab Saudi pun terus berubah-ubah. Perubahan terjadi bahkan setiap tahun sehingga perusahaan travel umrah & haji kesulitan untuk mengikutinya.

Kendala lain, lanjutnya, datang dari customer sendiri yang rata-rata mendaftarkan diri pada detik-detik terakhir. Akibatnya perusahaan kesulitan untuk reservasi tiket pesawat dan akomodasi mereka di Arab Saudi. Selain itu, dengan visa yang sekarang menggunakan sistem kuota apabila waktunya terlalu mepet perusahaan akan kehabisan dan kesulitan mendapatkan kuota visa umrah & haji.

Minimal satu atau dua bulan sebelum berangkat mereka mendaftar. Kalau yang last minute itu biasanya jemaah dari Jakarta, sementara yang dari daerah biasanya lebih tepat waktu. Kebetulan kita membuka perwakilan sampai ke daerah sehingga informasi yang benar disampaikan kepada calon jemaah melalui perwakilan kami. Kita juga mengantisipasi dengan sistem reservasi penerbangan serta informasi masalah kuota visa kepada jemaah,” tegasnya.

 Hakim tidak pernah menyembunyikan informasi terkait keberangkatan ibadah umrah & haji kepada calon jemaah. Ia selalu menjelaskan kondisi yang dihadapi perusahaan terkait kendala perizinan dan lain-lain serta menawarkan alternative terbaik bagi jemaah, seperti memberikan alternative program atau alternative tanggal keberangkatan dan lain-lain. Kita juga jelaskan kepada jemaah segala kondisi selama di tanah suci agar para jama’ah siap dengan segala kondisi tersebut sebelum berangkat,” imbuh penyuka liburan ke Bali ini.

Untuk menghindari kejadian seperti itu, Hakim menggandeng jemaah melalui sponsorship seperti dari jemaah pengajian, pondok pesantren dan komunitas Islam lainnya. Sponsor itulah yang akan membuat paket umrah atau haji dan mendaftarkan diri ke perusahaan jauh hari sebelumnya. Ia juga membentuk pengajian bulanan yang diselenggarakan di berbagai daerah bagi mantan jemaah haji & umrah yang mempercayakan kepengurusannya kepada Fahyra Tour.

Jadi begitu selesai ibadah jemaah tidak kita lepas begitu saja, tetap ada komunikasi. Karena mungkin di lain waktu mereka akan menggunakan jasa kita lagi. Boleh dibilang umrah sangat berkembang baik, karena orang tidak selalu berlibur atau holiday ke Eropa. Ini perjalanan religius, berwisata sambil ibadah yang belakangan sangat diminati masyarakat,” tegasnya.

Dalam menyikapi persaingan, Hakim menyambutnya dengan sangat baik. Baginya, semakin banyak kompetitor bisnis travel umrah & haji semakin bagus. Ia menyerahkan kepada calon jemaah untuk menilai pelayanan yang diberikan perusahaan. Artinya, semua perusahaan yang bergerak di bidang umrah & haji akan berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah. Tinggal jemaah yang akan menentukan perusahaan travel mana yang menurut mereka paling baik.

Yang jelas komitmen kami adalah bahwa yang kami layani adalah ‘Tetamu Allah’ atau ‘Duyufurrahman’ sehingga kami tidak main-main dalam urusan ini. Kami secara profesional melayani jemaah karena itu adalah amanah, itu yang kita pegang. Karena biaya yang sudah dibayarkan itu adalah amanah yang harus kita pegang. Kita dahulukan & prioritaskan seluruh hak dan kewajiban jemaah,”tegasnya.

Hakim hanya berharap dari sisa biaya yang sudah dikeluarkan menjadi keuntungan perusahaan. Tidak pernah ia mengambil keuntungan di awal pembayaran yang telah dilakukan jemaah. Kebijakan perusahaan adalah memaksimalkan pelayanan kepada jemaah sementara urusan keuangan adalah belakangan. “Kalau tidak ada sisa, ya tidak apa-apa, karena yang kita layani itu adalah tetamu Allah sehingga ‘Dia’ nanti yang akan menggantinya,” tuturnya.

Kebanggaan Keluarga

Menurut H. Abdul Hakim Fouad Attamimi, usahanya lebih fokus pada bidang umrah & haji. Meskipun memiliki pengalaman bekerja di perusahaan travel pariwisata umum –bukan umrah & haji- namun ia tidak tertarik untuk ikut meramaikan bisnis tersebut. Persaingan dan banyaknya perusahaan besar yang “bermain” di travel pariwisata umum membuat ia lebih memilih menekuni umrah & haji.

Jadinya kita malah semakin fokus pada pelayanan jemaah. Karena seperti yang saya gariskan kepada karyawan, bahwa jemaah itu adalah tetamu Allah yang harus dilayani dengan sepenuh hati serta ikhlas dalam bekerja,” kata ayah tiga putri dari pernikahannya dengan Wahidah Rasjid Bawazier ini. Hakim mendapat dukungan penuh dari keluarga atas usaha yang ditekuninya selama ini. “Saya setiap tahun juga membawa keluarga untuk pergi umrah ataupun haji. Itu merupakan kebanggaan bagi keluarga juga, lho…,” imbuhnya.

Sulung dari lima bersaudara pasangan Fouad Abdullah Attamimi dan Latifah Usman ini melambungkan harapan besar pada usahanya. Langkah awal adalah dengan mengokohkan, memantapkan pundi-pundi dan tiang-tiang penyangga Fariha Tour terlebih dahulu. Baik dari segi permodalan, manajemen maupun SDM semua harus dibenahi dengan baik agar cita-citanya untuk menjadikan Faryha sebagai leader dalam pelayanan hamba Allah. “Terutama dalam pelayanan serta menjadi amanah atau dapat dipercaya masyarakat luas,” tambahnya.

Kepada pemerintah khususnya Kementerian Agama RI, Hakim berharap agar umrah & haji plus lebih ditingkatkan pengurusannya. Karena selama ini, haji plus dikelola sendiri oleh travel agen. Sedangkan pemerintah sering mengulur waktu dalam hal pelunasan sehingga travel agen mengalami kesulitan dalam penyiapan pelayanan kepada jemaah, terutama penerbangan dan akomodasi. Sistem yang berlaku sekarang, pemerintah menerapkan kebijakan pelunasan pembayaran bersamaan dengan jemaah regular. Akibatnya, waktu yang dimiliki agen untuk mempersiapkan kebutuhan jemaah sangat sedikit sehingga menjadi tidak maksimal.

Peran pemerintah dalam ONH Plus masih minim, karena birokrasi terlalu kaku. Apalagi perizinan sekarang masih distop untuk umrah & haji dan sangat dibatasi. Sebenarnya kalau pemerintah tegas, banyak travel yang punya izin umrah & haji tetapi tidak memiliki customer namun kebalikannya banyak travel yang notebene tidak punya izin umrah & haji tetapi memiliki dan memberangkatkan banyak jamaah,” tutur pemilik moto “Melayani tamu Allah dengan Amanah” ini.

Hakim yang menjadi anggota HIMPUH dan ASITA ini, berpesan kepada para generasi muda untuk tidak takut menjalankan sebuah usaha. Generasi muda juga harus mempergunakan waktu yang mereka miliki sebaik mungkin. Ia sangat menyayangkan talenta muda berbakat yang disia-siakan. Apalagi dengan derasnya tayangan TV yang menawarkan mimpi instant untuk menjadi terkenal dan sukses. Akibatnya, banyak generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar mimpi yang tidak pasti.

Seharusnya generasi muda bisa lebih tekun dan bersabar mengejar kesuksesan melalui proses yang panjang. Seperti yang saya alami, artinya dari saya mulai menjadi pegawai biasa, manager dan merintis usaha sendiri. Jadi saya harapkan para pemuda, yang baru lulus sekolah berusaha dan mempergunakan waktu sebaik mungkin. Selain itu, selalu gunakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka,” ujar H Abdul Hakim Fouad Attamimi.

Tjindra Parma Wignyoprayitno

No Comments

Rektor Universitas Jakarta
Antara Birokrat dan Perguruan Tinggi
Banyak cara untuk mengisi tujuan dari kemerdekaan negeri ini, salah satunya adalah dengan berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengisinya, maka kemerdekaan yang telah di perjuangkan oleh para pahlawan pendahulu kita dari penindasan penjajah tak tersia-siakan. Untuk mengisi kemerdekaan itu, salah satunya adalah menyelenggarakan pendidikan yang baik, dan pengelolaan yang super profesional, sehingga rakyat yang dulu tertinggal pendidikannya dapat mengenyam dan menikmati, serta mengejarnya. Dengan demikian, tidak ada lagi rakyat yang bodoh, atau dibodoh-bodohi orang atau penjajah, karena mereka telah ‘melek’ dari ketertidurannya selama ini.
Adalah Tjindra Parma Wignyoprayitno ( 62 th ), seorang mantan birokrat dari Departemen Pekerjaan Umum, yang memiliki tujuan tersebut. Sebagai Rektor Universitas Jakarta yang baru, ia berharap amanat UUD 1945 tersebut dapat mengisi sisa hidupnya. Untuk itulah ia mengaku terpanggil untuk menjalankan amanah itu dengan terjun di bidang pendidikan tinggi. “Saya memang sejak tahun 1974 telah bergelut di dunia pendidikan tinggi, hal itu dirintisnya sebagai asisten dosen luar biasa di salah satu Universitas Negeri terbesar di Asia Tenggara Universitas Indonesia, atau tepat di fakultas hukum UI, “ungkapnya.
Ditambahkan Tjindra, sejak itulah mulai 1975, ia berkecimpung sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, sebut saja Universitas Jakarta, Ibnu Chaldun, Universitas 17 Agustus 1945, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Jakarta dan sebagainya. Karier dan kompetisi yang ketat, dan berbagai pertimbangan lainnya, terutama hidup di Jakarta, telah membuatnya kemudian- memilih untuk bermuara di salah satu Departemen yakni PUTL, atau Pekerjaan Umum DAN Tenaga Listrik. Di sinilah, ia mengabdikan diri hingga masa pensiun 2009. ”Saya mempertimbangkan kehidupan di Jakarta, memilih Kementrian PU, dan bertugas selama 34 tahun, “ceritanya.
Tjindra menjelaskan, meski kegiatan birokrasi begitu padatnya, namun pekerjaan awalnya sebagai dosen tetap dijalankan. Hal itu dilakukan Tjindra pada saat selepas jam kantor alias sore hari “ jalan jalan sore “ hilaknya , namun ia mengaku sempat membolos dari kantor, tatkala ada kegiatan mengampu mata kuliah di pagi hari. “Curi-curi waktu itu tidak lain adalah demi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa juga, “pungkasnya. Sebagai Rektor di Universitas Jakarta, ia mengatakan aktif kegiatan di kampus ini sejak 1978, Kala itu kampusnya berdomisili di Pulo Mas, Jakarta dan Tangerang, atau tepatnya dibelakang Rutan. “Tak heran jika mahasiswanya kebanyakan berasal dari Rumah Tahanan dan orang-orang sekitar Rutan.”
Perjuangan waktu itu untuk menuju Tangerang begitu kerasnya, bayangkan menurutnya, ia harus bolak balik Pulo Mas dan Tangerang, dengan kondisi macet dan padat merayap. Barulah pada tahun 2000, ia mengaku mendapat mandat dan tanggung jawab untuk memegang posisi jabatan Dekan di Fakultas Hukum Universitas Jakarta. Pada saat itu, ia harus menggantikan posisi Profesor DR. Loebby Lukman, SH, MH yang naik posisi jabatan menjadi Rektor Universitas Jakarta (UNIJA). Barulah tahun 2010, kembali naik dan dipercaya untuk memimpin perguruan tinggi UNIJA sebagai Rektor menggantikan posisi Profesor Loebby Lukman.
Dalam kiprahnya membangun kampus UNIJA, Tjindra Parma, menuturkan pertama yang dilakukan adalah dengan merombak susunan cabinet kampusnya, yakni mengganti atau memperbaharui seluruh dekan yang berada di bawah jajarannya. Hal ini penting guna membangun sinergi dan koordinasi serta kepercayaan. Periode awal yang berat ini berhasil dijalaninya dengan baik, semua itu tidak terlepas dari elit bawahannya yang ditunjuk masing-masing untuk memimpin empat Fakultas, yakni Fakultas Hukum dipimpin Dekan Arif Hartanto (mantan pejabat di Garuda Indonesia), Fakultas Teknik, Iwan Nusyirwan yang juga mantan Dirjen SDA, Fakultas Ilmu Administrasi Niaga, Dekan Abdul Malik (pejabat PU), dan Fakultas FISIP, dengan Dekan, Triyadi, mantan pejabat birokrat Imigrasi.
Sejarah lahirnya kampus UNIJA sendiri, bermula dari usaha pendahulu mereka yang ingin menjadikan masyarakat sekitarnya khususnya etnis Betawi cerdas dan mandiri. Tak heran jika hanya bermodal dua Fakultas semula yang ada, yakni Fakultas Ilmu Administrasi Niaga dan Fakultas Teknik. Menurut Tjindra Parma, pada awalnya yang menonjol di Universitas Jakarta, ialah Fakultas Ilmu Administrasi Niaga dan Fakultas Teknik jurusan Sipil dan Arsitektur. Dua fakultas inilah yang semula dibuka dan merupakan fakultas tertua. Saat ini keduanya sedang dalam proses penelitian Badan Akreditasi Nasional (BAN).
Jumlah mahasiswa di UNIJA mencapai 500 orang, meliputi 300 mahasiswa Fakultas Hukum dan sisanya masuk di masing-masing tiga fakultas lainnya. Ia mengaku tuntutan zaman telah membuat perguruan tinggi ini mengembangkan atau membuka kembali beberapa fakultas. Fakultas yang telah terakreditasi B yakni Fakultas Hukum. Akreditasi itu dicapainya pada Mei 2011. Tjindra mengatakan, meski Fakultas ini tergolong baru, tapi animo masyarakat yang besar untuk memasuki dunia pendidikan di bidang hukum, menjadikan UNIJA melebarkan sayapnya untuk membuka Fakultas baru. “Ramainya Fakultas Hukum, karena banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai Kementrian dan instansi terkait membutuhkan pemahaman tentang hukum. Mereka kebanyakan berasal dari D-3 bidang Imigrasi, Pemasyarakatan, TNI, Polri, Kantor-kantor Pengacara, dan Notaris. “
Mereka menurut Parma, menjalani kuliah sore hari, sepulang dari kegiatan rutin kantornya. Ia berharap akan banyak lagi mahasiswa lain yang masuk ke UNIJA, mengingat biaya SPP masuk ke UNIJA tidak besar, dan tidak dimintai biaya gedung. “Kami punya motto, yakni cepat, dekat dan murah,”tuturnya. UNIJA sendiri saat ini telah memiliki infrastruktur berupa bangunan, ruang kuliah dengan gedung berlantai 4, berada di tengah Jakarta dan berposisi di Pulo Mas, Jakarta.
Berbekal semua itulah, ia yakin kampusnya akan banyak memiliki mahasiswa, apalagi dalam penyusunan kurikulum, dibenarkan mahasiswa kuliah lebih cepat atau kurang dari 4 tahun. “Dari D-3 bisa lebih cepat, dan mahasiswa butuh 2 tahun untuk menyelesaikan kuliah S-1, “katanya. Namun begitu, Parma yang memiliki 3 anak ini ( drh Retty ,ing Adechar ST dan Dhanny ) merasa sedikit pesimis untuk mengenjot target mahasiswa masuk ke UNIJA, mengingat di wilayah yang sama juga terdapat kampus-kampus besar, seperti Universitas Trisakti, Jayabaya, dan Mpu Tantular. “Kesulitan kita adalah banyaknya kampus di sini, seperti STIE Indonesia, Universitas Jayabaya, Trisakti, Mpu Tantular artinya timbul persaingan juga. “ungkapnya.
Namun ia yakin, banyaknya kemudahan yang diperoleh mahasiswa atau lulusan SMA/SMK yang masuk ke UNIJA, terutama yang ingin cepat bekerja dan ingin melanjutkan kembali kuliah S-1 nya, peluang itu tetap ada dan semoga tercapai target.
Parma juga mengaku mengalami kendala dalam akreditasi fakultasnya.”Assesornya sedikit sekali, sementara kampus begitu banyak dan tersebar di seluruh Indonesia, jadinya saat dilakukan penelitian dan survey, biasanya mereka mengambil hari libur, dan kita tidak bisa meminta waktu lain, “katanya.
Parma menambahkan kembali, uniknya UNIJA saat ini mendapat julukan sebagai universitas atau kampus mantan pejabat tinggi. “Mungkin karena seluruh pimpinannya berasal dari mantan birokrat atau pejabat tinggi, sehingga masyarakat sekitar atau para mahasiswa menilai UNIJA sebagai kampus pejabat tinggi, “tuturnya.
Wajar jika UNIJA mendapat julukan atau panggilan kampus pejabat tinggi, mengingat pimpinan fakultasnya yang baru adalah pejabat dan mantan pejabat pemerintah. Untuk itulah ia optimis pimpinan yang baru ini bisa menjalankan roda perguruan tinggi. “Dengan mereka mantan pejabat tinggi diharapkan mereka bisa menghimbau teman-teman atau koleganya untukmengajak anak buahnya kuliah di UNIJA. Jaringan inilah yang diharapkan dapat mengisi kelas-kelas mahasiswa di seluruh fakultas, “katanya.
Ia menuturkan sebenarnya Perguruan Tinggi Swasta itu hidup dari mahasiswa, jadi kalau tidak ada mahasiswa, maka, perkuliahan tidak akan berjalan. “Jadi kami menanamkan kepada seluruh dosen untuk senantiasa untuk tidak henti-hentinya mengingatkan mahasiswa agar menjadi sarjana yang memiliki jiwa kebangsaan dan nilai-nilai lebih, dan bukan intelektual penipu dan koruptor, “tuturnya.
Ia menambahkan juga bukan berarti mahasiswa banyak, tapi kualitas minimalis, tapi mahasiswa banyak, kalau dapat seluruhnya berpotensi.” Orang pintar banyak yang ditangkap, lantaran gara-gara tidak punya integritas yang memadai,” tegasnya. Mereka seperti itu , karena tidak punya rasa percaya diri yang tinggi, dan kerjanya senang menipu.
Menanggapi pertanyaan seputar rutinitas pertemuannya dengan mahasiswa, Tjindra Parma mengatakan hampir setiap Sabtu ia ketemu mahasiswa, sebab selain sebagai Rektor ia juga berkesempatan untuk mengampu mahasiswa pula. “Saya sering berdialog dengan dosen , termasuk Dekan. Mahasiswa itu inti dari perguruan tinggi, jadi kalo tidak ada mahasiswa, bagaimana juga kelanjutan dari perguruan tinggi ini,” paparnya.
Dengan kondisi adanya beberapa fakultas yang belum memiliki akreditasi, ia mengaku sedikit nelangsa, pasalnya ada perintah atau penegasan dari sebagian instansi pemerintah untuk tidak mengizinkan pegawainya kuliah di perguruan tinggi yang memiliki akreditasi C. “ Ini kan kurang adil dan tidak bijak, “ujarnya. “Memang ada persoalan dari instansi pemerintah . Mereka melarang agar pegawainya tidak kuliah di Perguruan Tinggi yang mempunyai akreditasi C atau belum terakreditasi. Mereka meminta pegawainya kuliah di Perguruan tinggi yang memiliki akreditasi B atau A.”
Rektor Unija memaparkan Visi dan Misi Unija. Visi UNIJA adalah Pertama, menjadikan UNIJA sebuah universitas yang mampu menghasilkan SDM yang profesional dibidangnya. Kedua, bertakwa dan mampu berperan aktif dalam membangun bangsa dan menyesuaikan diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni dalam lingkungan global. “Memajukan seni, bukan saja hanya science dan teknologi.” Sedangkan Misi UNIJA adalah pertama, melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat agar peserta didik menjadi manusia berkualitas, profesional, bertakwa dan entrepreneur.Kedua, menyebarkan ilmu pengetahuan dan teknologi,humaniora untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat secara nasional. Ketiga, menjadikan universitas yang mandiri dan berkelanjutan punya tata kelola yang baik.
Sementara obsesi UNIJA adalah ingin berperan aktif dalam mengemban tugas negara memajukan pendidikan dan mencerdaskan kehidupan berbangsa. “untuk itu kita ingin tenaga pengajar yang ada di sini terdiri dari tenaga yang memang profesional, berbudi luhur, disiplin, rendah hati, bekerjasama dan tanggungjawab. “Unija tanggap dan peka terhadap IPTEK”
Selain itu juga UNIJA melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler ke masyarakat. Dengan peduli terhadap masyarakat yang terkena musibah, dekat dengan kehidupan agama. Itulah yang menjadikan UNIJA dalam promosinya sebagai kampus yang keren dan unggulan, karena memiliki citra yang baik di masyarakat dan kalangan profesional lainnya. Tjindra Parma yang sibuk ini mengaku bisa membagi waktu untuk keluarga dan dirinya, meski ada juga yang menanyakan pekerjaan dan kritik dari anaknya.”Anak dan istri saya telah memahami pekerjaan ayahnya, Jadi mereka memahami dan mendukungnya, Apalagi saya juga memberikan waktu Sabtu dan Minggu, meski kerap juga waktu tersebut dipakai untuk Resepsi dan undangan lainnya, “ungkapnya.

Muhammad Kadafi, SH., MH

No Comments

Rektor Universitas Malahayati

Melatih dan Mengembangkan Jiwa Leadership Serta Entrepreneurship Mahasiswa

Seorang pengusaha atau entrepreneur harus memiliki dua karakter yang membedakannya dari orang-orang biasa. Kedua karakter tersebut membuat pola dan cara berpikir pengusaha dalam menilai perkembangan di sekelilingnya menjadi berbeda. Perbedaan itulah yang membuat seorang entrepreneur selalu memperoleh keuntungan yang menjadikan mereka sebagai orang sukses dan terpandang.

Kedua karakter tersebut harus dimiliki oleh orang-orang yang bercita-cita menjadi entrepreneur. Sifat atau karakter yang harus dimiliki entrepreneur tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus melalui pembelajaran dan pelatihan yang berkesinambungan. Kedua karakter tersebut yaitu; pertama kreatif (creative) adalah kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang (thinking new things). Kedua inovatif (innovative) adalah kemampuan menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan masalah dan menemukan peluang (doing new things).

“Sebagai seorang pendidik saya mengajarkan mahasiswa untuk senantiasa melatih dan mengembangkan jiwa entrepreneur dan leadership mereka dengan aktif mengikuti pelatihan, training, seminar, dan symposium yang berkenaan dengan pengembangan diri. Selain itu, saya mewajibkan kepada seluruh mahasiswa untuk mengikuti dan berperan aktif dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada di universitas ini tanpa menomorduakan kuliah atau belajar mereka. Dengan begitu saya yakin mahasiswa akan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan secara tidak langsung jiwa entrepreneur juga terbentuk,” kata Muhammad Kadafi, SH., MH., Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Menurut Kadafi, pendidikan berorientasi entrepreneurship mutlak dibutuhkan pada saat ini. Mengingat semakin sempit dan susahnya lapangan kerja akhir-akhir ini Dengan berwawasan entrepreneur seorang mahasiswa akan lebih siap menghadapi pasar kerja dibandingkan mereka yang tidak memiliki jiwa entrepreneurship. Sesorang yang memiliki jiwa entrepreneur senantiasa mendayagunakan semua kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. “Hebatnya, orang-orang seperti ini tidak pernah menggantungkan tujuan hidupnya tersebut kepada orang lain. Berfikir kreatif dan inovatif menjadi modal dasar dari seorang entrepreneur,” tegas pemuda kelahiran Aceh Besar, 8 Oktober 1983 ini.

”World Class University”

Dalam usia masih sangat muda, Muhammad Kadafi, SH., MH, telah memiliki pengalaman matang di dunia pendidikan. Berawal dari memegang jabatan kecil di universitas, perlahan naik menjadi Rektor Universitas Malahayati. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan di salah satu universitas swasta terkemuka di Aceh.

Sebagai pengajar, banyak pengalaman yang telah dialami Kadafi. Ia memiliki dedikasi, profesionalisme dan kredibilitas sebagai dosen dalam menciptakan lulusan berkualitas mumpuni. Meskipun mengajar dengan honor kecil dan tuntutan kerja serta tinggi, semua dijalani sebagai pengalaman berharga yang sangat berkesan mendalam.

“Dalam hidup ini, saya memiliki obsesi yang masih melekat di benak saya, yakni untuk membuat Universitas Malahayati menjadi ‘World Class University’ dalam waktu dekat. Untuk mewujudkan ‘World Class Univesity’ ada tiga standar yang harus dicapai, yaitu;
 Keberhasilan dalam merekrut SDM terbaik seperti dosen, staf, karyawan dan mahasiswa,
 Kemampuan universitas dalam mengelola dan menghimpun dana dengan sukses,
 Manajemen universitas yang baik yang dilakukan secara profesional, efektif dan efisien.
Sehingga SDM yang dimiliki mampu dimanfaatkan untuk pelayanan pendidikan yang terbaik,” imbuhnya.

Kadafi mengungkapkan tingginya persaingan di bidang pendidikan tidak bisa dielakkan oleh penyelenggara pendidikan. Namun, persaingan membuat semua pihak yang berkutat di dalamnya berusaha untuk meningkatkan kualitas masing-masing. Sebagai pengelola perguruan tinggi swasta, ia sadar bahwa tanpa peningkatan mutu, kualitas pembelajaran serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, universitas swasta akan kehilangan mahasiswa. Mahasiswa yang belajar di universitas atau perguruan tinggi swasta pasti memiliki tujuan yang sama yaitu memilih universitas favorit, berkualitas, lengkap dengan sarana dan prasarana, berskala internasional dan memiliki prospek kerja yang jelas setelah lulus.

“Untuk itu kami setiap waktu selalu memperbaiki kekurangan yang ada seperti sarana dan prasarana kampus, lab, ruang belajar, sarana olahraga dan kemahasiswaan. Disamping itu pula perbaikan dibidang pelayanan dan mutu kualitas pendidikan makin hari makin ditingkatkan. Selain itu juga kami sedang mempersiapkan untuk ‘world class university’ dan sudah barang tentu kerjasama dengan universitas luar negeri dibutuhkan dalam hal ini,” ujar Vice Director RS. Bintang Amin Husada tersebut.

Dalam menjaring mahasiswa, Kadafi menyadari pentingnya iklan atau promosi di media masa. Tetapi yang lebih penting lagi adalah bentuk pelayanan universitas kepada masyarakat yang masuk dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Aspek-aspek dari praktek Tri Darma Perguruan Tinggi menjadi sarana efektif untuk sosialisasi tentang kualitas, kredibilitas dan eksistensi perguruan tinggi. Program pelayanan terhadap masyarakat secara langsung misalnya, pengadaan acara-acara publik di Universitas Malahayati, pengadaan lomba, seminar, loka karya dan konferensi baik tingkat pelajar maupun mahasiswa yang menjadi agenda rutin kampus.

Menurut Ketua Yayasan Abulyatama Aceh ini, pendidik bukan sekadar pengajar melainkan mendidik para peserta didik (siswa, mahasiswa) agar “menjadi manusia”. Tugas mengajar yang dilakukan seorang pengajar tidak boleh terlepas dari tugas mendidik. Tentu saja, terdapat bahaya yang besar bila kegiatan mengajar yang dilakukan pengajar terlepas dari tugas mendidik terhadap para siswa. Secara ideal, diharapkan tugas mengajar yang dilakukan guru harus menyatu dengan tugas mendidik.

Mengajar, lanjutnya, dalam arti sempit cenderung memiliki konotasi kegiatan teknis, yaitu menyampaikan pengetahuan yang dimiliki guru kepada para siswa. Begitupun metode mengajar, cenderung memiliki konotasi teknis, yaitu cara-cara yang efektif untuk menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa. Sedangkan mendidik cenderung memiliki arti yang luas dan lebih mendalam, yaitu sebagai kegiatan mengembangkan potensi manusiawi yang hidup dalam diri setiap siswa yang harus dapat berkembang secara utuh dan optimal.

Kecenderungan dalam mendidik, jelas Kadafi, adalah berkaitan dengan pengembangan kepribadian. Mendidik berarti mengembangkan moralitas kejujuran, semangat kerja keras, kemandirian, kreativitas, ketabahan hati dalam menghadapi permasalahan peserta didik. Mereka juga dididik dan ditempa untuk tidak mudah putus asa, menghargai pekerjaan, toleransi dan kerjasama dengan orang lain, berpikir logis dan kritis, kerendahan hati dan kasih sayang.

“Ungkapan: ‘dalam mengajar guru harus tidak melupakan tugas mendidik’ memiliki makna yang dalam dan luas. Dalam mengajar guru jangan hanya bersifat teknis-mekanis, yaitu menyampaikan mata pelajaran saja. Tetapi lebih dari itu, guru harus berani menghidupkan ruh-ruh potensi manusiawi yang hidup dalam diri siswa, seperti kemandirian, kreativitas, moralitas kejujuran, semangat kerja keras, dan lain-lain,” tegas Direktur Kadafi Speed Shop ini.

Pemerintah Mendukung

Putra keempat dari enam bersaudara pasangan DR (HC) H. Rusli Bintang dan Dra. Rosnati Syech ini mengungkapkan besarnya peranan pemerintah dalam dunia pendidikan. Tidak hanya alokasi dana pendidikan dari APBN yang meningkat drastis menjadi 20 persen, tetapi pemerintah juga telah membuat regulasi, kebijakan dan program-program yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini.

Regulasi pemerintah tentang minimal wajib pasca sarjana (S2) bagi pengajar atau dosen di perguruan tinggi memiliki dampak positif untuk peningkatan mutu pendidikan. Kebijakan pemerintah yang dicanangkan oleh Mendiknas untuk mendorong PTS atau PTN berkelas dunia yang mengacu pada pasar bebas di era globalisasi. Pemerintah juga membuat program HIBAH kepada PTN maupun PTS dalam peningkatan sarana dan prasarana perkuliahan.

“Perlu kita ketahui bahwa mengacu pada peraturan pemerintah dalam otonomi pendidikan baik swasta maupun negeri, menjadi kebijakan perguruan tinggi swasta maupun negeri itu sendiri untuk mengelola dengan baik sistem maupun manajemen kurikulum pendidikan yang ada. Di sisi lain setiap perguruan tinggi dituntut untuk dapat mencapai standar pendidikan yang ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.

Oleh karena itu, jelasnya, akan menjadi problem setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta, di pusat maupun di daerah dalam pencapain standar tersebut. Untuk itu, diperlukan suatu proses penyampaian informasi mengenai program-program pendidikan yang dapat memacu proses pendidikan agar ilmu pengetahuan dapat terserap dan diterima peserta didik dengan baik. “Untuk itu saya akan tetap berjuang serta mengabdikan diri, agar cita-cita bangsa Indonesia umumnya bisa terwujud demi kemajuan pendidikan di Indonesia yang semakin baik,” tambahnya.

Kadafi melihat belum maksimalnya kontribusi pendidikan tinggi dalam membangun Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient bangsa Indonesia. Penyebabnya, pendidikan tinggi di Indonesia pada dasarnya mengacu pada peningkatan mutu dan kualitas peserta didik dalam hal intelektual, mental dan spiritual. Dalam pelaksanaannya, pendidikan di Indonesai hanya mengedepankan perkembangan kecerdasan Intelektual (IQ) semata dan seringkali melupakan pentingnya kecerdasan emosional serta spiritual.

“Perlu diketaui, tingkat kesuksesan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Sebagai contoh seorang yang kuat intelektualnya tetapi lemah emosional dan spiritualnya akan menjadi seorang yang otoriter. Contoh lain akan pentingnya Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient adalah dalam pembentukan entrepreneur yang sejati. Seorang entrepreneur yang sejati akan menyeimbangkan ketiga unsur tersebut. Pada intinya ke depan pendidikan di Indonesia harus menyeimbangkan perkembangan ketiga unsur tersebut demi tercipta SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional,” tuturnya.

Minim Dukungan Politik

Sebagai penyelenggara pendidikan, Kadafi merasakan dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang. Selain dukungan dana 20 persen dana APBN untuk pendidikan, sejak lama pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun. Program ini membuat tingkat pendidikan di Indonesia meningkat dan mampu menekan tingkat angka tenaga kerja yeng tidak memiliki keahlian dan pendidikan dasar. Namun, cukup disayangkan bahwa program-program yang dijalankan pemerintah menjadi tidak maksimal akibat adanya pihak atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Contohnya, pendanaan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) banyak mengalami korupsi dimana-mana.

“Untuk kebijakan politik yang berdampak langsung terhadap dunia pendidikan masih bisa dibilang minim. Terlihat dari system penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) dan honorer yang masih belum transparan hingga saat ini. Pemerintah seharusnya meninjau ulang terhadap kebijakan-kebijakan yang berkenaan langsung dengan system pendidikan yang ada, sebagai contoh tentang kurikulum yang diterapkan di Indonesia. Kurikulum dan segala kebijakan yang ada masih sebatas konseptual tapi belum aplikatif, seperti Kurikulum Berbasis Kompetensi yang aplikasinya masih mengedepankan konsep atau teori ketimbang aplikasi teori tersebut,” tuturnya.

Menurut Kadafi, Indonesia membutuhkan pendidikan yang sanggup melahirkan generasi yang siap menjalin pengetahuan berbasis integritas, mengejar pengetahuan untuk kemajuan bangsa dan mengembangkannya pengetahuan tersebut untuk bangsanya sendiri. Langkah awal yang harus ditempuh adalah menekankan pendidikan tiga tahun sesudah sekolah dasar untuk kewarganegaraan, pembentukan karakter, dan kehidupan bersama dalam masyarakat.

“Seperti yang diterapkan Jepang, sehingga ketika siswa memasuki jenjang menengah atas dan Perguruan Tinggi, siswa memiliki rasa cinta, berkarakter dan perilaku yang bertujuan untuk kemajuan bangsa. Untuk itu diperlukan kondisi ekonomi, politik, hukum, dan keamanan sangat berpengaruh terhadap jalannya proses pendidikan. Kondisi ekonomi yang stabil, politik yang santun, tertib dan elegan, supremasi hukum yang tegak dan tidak memihak akan menciptakan keamanan masyarakat. Pada akhirnya akan berdampak pada sektor pedidikan yang berkualitas,” tuturnya.

Secara berkelakar, Kadafi berandai-andai menjadi Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Seandainya menjabat Mendiknas, ia akan menyarankan kepada petinggi eksekutif dan legislatif agar alokasi anggaran APBN untuk pendidikan tidak hanya 20 persen, jika memungkinkan 50 persen bahkan kalau bisa lebih. Karena pendidikan harus menjadi prioritas utama dengan anggaran yg besar. Ia yakin, dengan anggaran sebesar itu, semua program pendidikan akan terealisasi. “Seperti yang pernah terjadi di Uzbeckistan. Hanya dalam satu dasawarsa jumlah sarjana yang dihasilkan di negara tersebut melebihi Perancis. Hebat,” ujarnya sembari tertawa.

Meskipun dalam kondisi pendidikan seperti sekarang, Kadafi tetap yakin bahwa generasi muda akan mampu melanjutkan ‘tongkat estafet’ kepemimpinan bangsa. Keyakinan tersebut dilandasi adanya keinginan pemerintah untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin intensif dilakukan. Semua itu dilakukan untuk menyiapkan kualitas generasi muda sebagai tulang punggung negara yang akan membawa kemajuan dan kesejahteraan bangsa di masa mendatang.

“Kalau pemudanya berkualitas maka berkualitas juga negara tersebut dan kalau pemudanya tidak berkualitas maka nasib negara tersebut pasti akan mengalami kemunduran. Dalam hal ini kita harus optimis bahwa pemuda sekarang sebagai generasi penerus bangsa akan mampu menjawab tantangan zaman. Untuk itu kita harus mempersiapkan mereka dengan kualitas pendidikan yang baik agar kelak mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ini di masa yang akan datang,” kata Muhammad Kadafi, SH, MH.
Sekilas Universitas Malahayati

Latar belakang pendirian Universitas Malahayati dimulai saat Rusli Bintang, putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah yang lahir pada hari Jum’at 28 April 1950. Beliau dikenal sebagai seorang usahawan yang cukup sukses, selain itu juga dikenal sebagai pendiri Yayasan dan Universitas Abulyatama Aceh.

Beliau adalah figur seorang anak yatim yang sukses dalam mengarungi kehidupannya. Sukses yang dicapai tersebut dibangun dari kerja keras dan tekat pantang menyerah. Sukses yang diraihnya sama sekali tidak membuat beliau takabur, tinggi hati dan lupa terhadap sesamanya.

Salah satu wujud kepedulian H. Rusli Bintang terhadap sesamanya adalah peran aktif di dunia pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Sangat disadari oleh beliau bahwa pendidikan saat ini sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai salah satu sarana pengembangan diri agar kelak mereka mampu mempertahankan hidup dan pengembangan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Niat baik inilah yang mendorong beliau untuk mendirikan Yayasan Alih Teknologi (ALTEK) dan Universitas Malahayati di Bandar Lampung.

Yayasan ALTEK Bandar Lampung berdiri tanggal 20 Juni 1992 yang tertuang dalam Akte Notaris Nomor 114 tahun 1994. Didirikan dengan tujuan umum untuk mengembangkan dan mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi melalui jalur pendidikan tinggi.

Adapun tujuan khusus yang hendak diwujudkan oleh Yayasan ALTEK adalah:
 Membina, mengembangkan, dan menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri, bertanggung jawab, dan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional
 Membina, mengembangkan, dan menghasilkan para pendidik dan karyawan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berkualitas, mandiri, bertanggungjawab dan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional

Sebagai tindak lanjut untuk mewujudkan tujuan umum dan tujuan khusus, Yayasan ALTEK mendirikan suatu perguruan tinggi yang diberi nama UNIVERSITAS MALAHAYATI. Universitas Malahayati didirikan berdasarkan SK. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Rl No.02/D/0/1994 tanggal 28 Januari 1994.

Nama Malahayati diambil dari nama seorang panglima perang wanita berasal dari Aceh, yaitu Laksamana Malahayati. Malahayati merupakan figur seorang wanita Aceh yang cerdas, memiliki semangat juang tinggi, berani, tegas, ulet, tangguh, dan bertanggung jawab, yang senantiasa dilandasi oleh sinar keimanan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran Islam. Atas keperwiraannya itu Laksamana Malahayati dianugrahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Untuk menghormati dan melanjutkan semangat juang Malahayati tersebut Perguruan Tinggi ini diberi nama Universitas Malahayati yang bertekat bulat untuk ikut serta secara nyata dalam pembangunan nasional bersama-sama, seiring dan sejalan dengan perguruan tinggi lain yang lebih awal hadir di Provinsi Lampung. Sebagai kiprah awal Universitas Malahayati, pada tahun ajaran 1994/1995 dibuka tiga fakultas pelopor dan satu akademi. Ketiga fakultas tersebut adalah:
1. Fakultas Kedokteran
2. Fakultas Teknik dengan empat jurusan: Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Manajemen Industri, dan Teknik Lingkungan
3. Fakultas Ekonomi dengan dua jurusan: Akuntansi dan Manajemen, sedangkan akademi yang dibuka adalah Akademi Keperawatan

Pada tahun 2002 didirikan Fakultas Kesehatan Masyarakat berdasarkan SK Dikti: No.137/D/T/2002, dan pada tahun 2004, sesuai dengan surat izin No. 44/0/D/T/2004 DIKTI tanggal 12 November 2004, Universitas Malahayati membuka Program Studi Keperawatan Strata Satu (S-1) yang ditempatkan di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati.

Pengadaan fakultas-fakultas itu melalui pertimbangan rasional yang matang, seperti pengadaan Fakultas-fakultas Bidang llmu Kesehatan dilakukan dengan pertimbangan antara lain untuk mengantisipasi dan memenuhi tenaga dokter dan para medis yang saat ini masih dirasakan kurang, pengadaan Fakultas Teknik tiada lain untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang teknologi canggih, sementara pengadaan Fakultas Ekonomi tiada lain untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang Akutansi dan Manajemen yang mampu menciptakan serta memperluas lapangan pekerjaan.

Yayasan ALTEK juga menyediakan beasiswa bagi calon mahasiswa dan mahasiswa Universitas Malahayati yang berprestasi dan berpotensi yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ada pun program ini bertujuan untuk:

 Ikut serta membantu memecahkan masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat sesuai dengan kapasitas yang dimiliki
 Mengupayakan program penempatan kerja bagi peserta didik

Tujuan Universitas Malahayati adalah:
 Membentuk manusia Indonesia seutuhnya, senat jasmani dan rohani, memiliki
 pengetahuan dan keterampilan, kreatit dan bertanggung jawab, beriman dan bertaqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, serta berjiwa Pancasila
 Mengembangkan dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dalam bidang-bidang Kedokteran, Ilmu-ilmu Sosial, llmu-iimu Alam, Teknologi dan seni
 Menyiapkan sarjana yang Pancasilais, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berpengetahuan luas dan bertanggung jawab untuk mengabdi, kepada bangsa, negara dan agama

Universitas Malahayati, sejak tahun Akademik 1996/1997 telah memiliki dan menernpati kampus sendiri yang terletak di atas perbukitan yang sejuk, nyaman dengan pemandangan yang indah ke arah Ibu Kota Provinsi. Lingkungan yang asri ini sangat mendukung proses belajar dan mengajar

Visi – misi Universitas Malahayati
 Untuk menciptakan manusia yang sehat, dengan pikiran sehat dan tubuh. Dikaruniai dengan pengetahuan, kreativitas dan keterampilan. Menanamkan dengan nilai-nilai tanggung jawab, iman dan kepercayaan yang lebih besar
 Untuk mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan ilmiah di bidang kedokteran,ilmu sosial dan lingkungan serta seni dan teknologi
 Untuk mempersiapkan lulusan yang memiliki iman dan keyakinan yang kuat dengan pengetahuan yang luas, sehingga mereka akan berguna masyarakat bangsa dan agama

Program-program yang ada di Universitas Malahayati antara lain yaitu:
 Beasiswa untuk anak yatim piatu
 Santunan tehadap anak yatim yang diadakan setiap 2 kali dalam sebulan dan pada acara-acara yang diadakan oleh universitas malahayati.
 Program wajib asrama bagi seluruh mahasiswa/i Universitas Malahayati
 Program wajib mengikuti English for matriculation
 Progam pertukaran pelajar ke luar negeri
 Program beasiswa bagi dosen Universitas Malahayati
 Program standarisasi penjamin mutu bagi staf dan dosen dilingkungan Universitas Malahayati
 Program kunjungan belajar baik dosen maupun mahasiwa keluar negeri (comparative study program)
 Program kejasama dengan universitas luar negeri dalam bidang science dan research

Biodata Singkat:

Nama : Muhammad Kadafi
Tempat dan tanggal lahir: Aceh Besar, 8 Oktober 1983
Nama orang tua:
Ayah DR (HC) H. Rusli Bintang
Ibu Dra. Rosnati Syech
Anak ke-4 dari 6 Bersaudara

Pendidikan:

 2010 – hingga sekarang, Universitas Diponegoro, program doktor ilmu hukum.
 2007 – 2009 Lampung University, Lampung Law Masters
 2002 – 2006 Lampung University, Lampung
 Majoring: S1, Law/the best graduates of law faculty
 1998- 2001 Senior High School at SMA Negeri 9 Bandar Lampung
 1995 – 1998 Junior High School at SMP Negeri 1 Banda Aceh
 1989 – 1995 Elementary School at Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Banda Aceh

 

Dessy Arnas

No Comments

Runway Indonesia – Personality School

Mengajar Pengembangan Diri Sebagai Passion Kehidupan

Setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama bertahun-tahun, adakalanya kejenuhan menghinggapi seseorang. Apalagi kalau selama menekuni pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat, hingga lupa diri dalam bekerja dan tanpa terasa karier sudah tidak bisa meningkat lagi.

Kondisi seperti ini hanya bisa disikapi dengan menetapkan tiga pilihan. Pertama menyerah terhadap tuntutan pekerjaan sampai memasuki masa pensiun dan menikmati segala konsekuensinya. Kedua melepaskan diri dari seluruh aktivitas pekerjaan untuk menikmati istirahat. Sedangkan ketiga adalah menciptakan tantangan baru sehingga menumbuhkan semangat untuk terus berkembang.

“Saya merasa lelah setelah dua belas tahun bekerja pada sekolah pengembangan diri internasional. Setelah karier dirasa mentok, saya berpikir untuk berdiri sendiri. Apalagi saya ditegur Allah dengan sakit yang cukup keras karena bekerja terlalu ngoyo. Saya kemudian memutuskan untuk istirahat setelah selama bertahun-tahun agak lupa diri dalam bekerja,” kata Dessy Arnas, Runway Indonesia – Personality School.

Dessy kemudian mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu seperti mengajar. Belajar dari pengalaman sebagai marketing yang hampir-hampir tidak memiliki waktu luang, ia mengajukan pengunduran diri dan bergabung di Runway Indonesia, April 2011. Perusahaan pengembangan diri internasional tempatnya bergabung selama 12 tahun pun ditinggalkan.

Sedangkan Runway Indonesia sendiri sebelumnya merupakan sekolah modeling dan acting sejak tahun 2007. Pendirinya Agung Saputra adalah pemilik sebuah management artis dan Nonny Chirilda yang memiliki management model. Keduanya sepakat mengembangkan sekolah yang mereka miliki menjadi personality school atau sekolah pengembangan diri, terbentuklah Runway Indonesia.

“Kemudian bergabunglah saya yang experience di sekolah pengembangan diri, personality. Di sini, saya tidak hanya sekadar mengajar yang sudah menjadi passion kehidupan saya. Tetapi saya juga membuat design program training, desain program kelas, nanti murid-muridnya bisa kita encourage agar dapat lebih mendapatkan sesuatu, begitu,” kata salah satu stakeholder Runway Indonesia ini.

Dessy telah menyusun program pengembangan diri di Runway Indonesia yang terbagi dalam tiga program, yakni program anak-anak, remaja dan dewasa. Bagi kelas dewasa diutamakan untuk mempelajari Self Improvement untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kelas anak-anak bisa belajar percaya diri dan kemandirian sehingga terlepas dari ketergantungan pada ibunya, suster dan lain-lain. Sementara kelas remaja -masa transisi yang kritis dan harus diwaspadai- sehingga harus diberikan wawasan agar tidak melenceng, mampu mengatur diri sendiri, manajemen waktu dan lain-lain.

“Kalau bidang entertainment, seperti model dan artis, kemudian bidang karir, semua itu kita terus kembangkan. Karena sasaran kita memang untuk kalangan anak muda, seperti program karier bagi mahasiswa untuk menyiapkan diri dalam berkarier. Seperti bagaimana mereka ‘menjual dirinya’ saat melamar pekerjaan. Karena kebanyakan perusahaan ingin karyawan yang sudah jadi. Di sini, lama pendidikan hanya dua bulan atau 12-14 pertemuan saja,” katanya.

Terbiasa Hidup Mandiri

Perempuan kelahiran 12 Desember 1972 ini mengisahkan, ketertarikannya ke dunia kerja tidak lepas dari peran sang ibu –Hj Suharti- yang seorang wanita karier. Istri H Nasrun Ismail –ayah Dessy- ini bekerja sebagai Sekretaris Kepala Telkom dan sempat melakukan tugas mengepang rambut tiga anak perempuan, menyiapkan perlengkapan satu anak laki-laki serta kebutuhan suaminya.

“Ibu bahkan masih sempat menyasak rambut sendiri, menyetir mobil ke kantor sendiri dengan sepatu hak tinggi. Kayaknya enak banget ya menjadi wanita karier. Makanya sejak sekolah saya ikut sanggar dan kegiatan lain yang menghasilkan uang. Saya terbiasa hidup mandiri meskipun kedua orang tua secara finansial tidak kekurangan. Pada semester 6, saya ikut menjadi pramugari seasonal di Garuda saat musim haji,” katanya.

Ayahnya terusik melihat “keusilan” anak ketiganya ini. Dessy pun mendapat teguran untuk memilih salah satu dengan serius, melanjutkan kuliah atau bekerja mencari uang saja. Sebagai orang yang konsekwen atas pilihannya, Dessy pun kemudian bekerja. Saat usianya menjelang 22 tahun, ia bekerja di Surabaya dan memutuskan untuk menikah satu tahun kemudian.

Sayang, saat karier Dessy sudah bagus dan mapan, suaminya dipindah tugaskan ke Banda Aceh. Dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa dan lain-lain, karier yang sudah dibangunnya pun ditinggalkan begitu saja. Dengan kondisi seadanya, sebagai istri ia patuh terhadap suami. Selama lima tahun (1997-2002), Dessy menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

“Setelah dipindahkan ke Jakarta, suami mengijinkan saya untuk kembali bekerja. Atas rekomendasi mantan atasan ditempat bekerja terdahulu, saya bekerja di cabang Jakarta perusahaan lama. Setelah lima tahun di Aceh, saya merasa seperti orang kampung. Saya sangat minder, tetapi mantan atasan saya selalu memotivasi. Dalam tiga minggu saya sudah dapat client dan bulan berikutnya sudah dapat client salah satu bank swasta terkemuka,” tuturnya.

Karier Dessy Arnas dengan cepat meroket. Hanya dalam waktu tiga tahun, ia diangkat sebagai General Manager di perusahaan tersebut. Ia menganggap perusahaan tempatnya bekerja tersebut merupakan sekolah kehidupan baginya. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk tetap survive hidup di Jakarta. Dan juga saya memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan karir imbuh ibu dari Rakha Aditya Afrizal dan Rania Adelia Afrizal ini.

Belajar dari perjalanan hidupnya, Dessy Arnas mengimbau generasi muda untuk tidak salah persepsi tentang emansipasi. Baginya, seorang perempuan tidak mungkin mampu mengalahkan seorang laki-laki. Bahkan dalam ajaran agama pun lelaki adalah imam, sehingga sebagai perempuan harus tunduk pada laki-laki. Perempuan-perempuan yang mempunyai potensi, seharusnya disalurkanlah ke tempat yang benar dalam waktu yang benar pula.

“Aturlah diri kita sebagai perempuan yang harus bisa berfungsi dan berguna buat orang lain. Tidak usah karier kantoran seperti sayalah, ibu rumah tangga juga sebuah karier yang sangat mulia. Saya sangat respek pada ibu rumah tangga karena saya sudah mengalaminya selama lima tahun, full time hanya dirumah” kisahnya.

Saat menjadi ibu rumah tangga, Dessy merasakan bagaimana sulitnya untuk sekadar membuat menu makanan harian. Menurutnya, perempuan boleh memiliki ambisi besar tetapi harus tetap pada porsinya dan tidak terlalu berlebihan. Ukuran yang digunakan adalah rumah tangganya sendiri, sehingga ketika berhasil mengorganisasi sebuah organisasi terkecil -yakni rumah tangga- pasti akan berhasil mengelola organisasi yang lebih besar.

“Pagar dan aturannya memang harus ada, mana yang porsi laki-laki mana yang porsi perempuan. Kalau ada yang tidak pas, kan ada kompromi yang bisa kita lakukan. Kalau sudah memutuskan berkarier, kita juga harus bertanggungjawab terhadap karier kita. Tetapi jangan melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan harus benar-benar bisa mempertanggungjawabkan keduanya,” imbuh pemilik motto “Never Stop to Learn” ini.

Setiap Orang Memiliki Kelebihan

Menurut Dessy, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Pendidikan kepribadian membantu orang untuk meningkatkan nilai tambah sehingga dalam setiap kesempatan selalu terlihat lebih bernilai dan menonjol. Meskipun demikian, kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan kepribadian bukanlah sesuatu yang penting.

“Tidak belajar pun juga tidak apa-apa karena sudah ada dalam diri setiap orang. Biasanya orang malah khawatir, setelah mengikuti pendidikan di sini akan menjadi jaim dan lain-lain. Tetapi kami yakinkan bahwa kita hanya men-suggest dalam segala sesuatu. Tidak cantik atau tidak ganteng tidak apa-apa tetapi tetap percaya diri. Saya ingin menularkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita berusaha membangkitkan self control yang baik sehingga kita bisa menampilkan citra positif serta potensi diri yang kita miliki,” tandas sarjana Marketing & Communication ini.

Dalam menyikapi persaingan bisnis, Dessy menanggapinya dengan wajar. Baginya, setiap institusi memiliki segmen berbeda-beda lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Di Runway Indonesia dengan konsep yang baru serta para pengajar yang memiliki visi sama, ia yakin akselerasinya pun lebih kencang.

“Saya bilang kepada staf, kalau kita lari sudah tidak bisa direm. Kalau jatuh itu wajar, harus segera bangun dan lari lagi.Terjatuh dan segala kendala lain merupakan hal yang biasa dan bagian dari sekolah saya. Karena semua itu terkait dengan proses yang akan terus berkembang seiring dengan pengalaman,” kata perempuan yang menganggap stafnya sebagai adik-adiknya sendiri ini. “Kalau menegur pasti dalam jam kerja, diluar itu tidak saya lakukan,” tambahnya.

Istri Hendri Afrizal, SE, MM ini berharap agar lembaga yang dikelolanya menjadi lebih besar dan memiliki beberapa cabang. Dengan memiliki cabang di tempat lain, ia mampu berbagi dengan orang yang ingin mengembangkan diri. Ia juga berharap agar program pengembangan diri ini bisa masuk ke sekolah-sekolah. Untuk itu, pemerintah harus memiliki program terkait bagaimana seorang anak belajar soft skill, mengelola stress dan kepercayaan diri.

“Bidang saya kan di pendidikan, saya ingin sekali agar bidang ini tidak ketinggalan. Kenapa bisnis seperti ini laku, karena kita ini kurang pede seperti bangsa lain di dunia ini. Padahal, rasa percaya diri itu bisa ditumbuhkan dan dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Nilai-nilai yang bisa dieksplore ya harus dikeluarkan. Kita harus konsen terhadap nilai-nilai tersebut agar kita tidak ketinggalan. Jadi sekarang bagaimana caranya untuk membangun kepercayaan diri kita dengan mengeksplore apa yang ada di dalam diri kita menjadi ‘sesuatu’ yang bisa diandalkan,” kata penyuka liburan di pantai ini.

 

 
Personality School
Wajah Baru Runway Indonesia

Selama empat tahun, Runway Indonesia sudah berhasil mencetak hampir 300 talenta yang sukses menghiasi panggung mode dan layar kaca di Tanah Air. Kini, Runway Indonesia hadir dengan wajah baru sebagai Personality School.

Runway Indonesia pertama kali hadir pada 2008 dan mengambil lokasi di Jalan Boulevard Raya-Blok CN2 No. 10, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, program yang diperkenalkan lebih fokus pada dunia Modelling dan Acting. Para lulusan dari sekolah ini hampir mencapai 300 orang dan sebagian di antara mereka bersinar sebagai public figure yang membintangi beberapa sinetron dan film layar lebar. Selain itu, mereka juga sering dilibatkan untuk ikut berpartisipasi di ajang peragaan busana karya desainer papan atas.

Melihat perkembangan yang bagus setiap tahun, maka Founder Runway Indonesia yang terdiri atas Nonny Chirilda, Agung Saputra, dan Dessy Arnas yang masing-masing memiliki pengalaman di bidang modeling, talent management dan kepribadian ini, berupaya memberikan ruang yang lebih luas lagi kepada para talenta di Indonesia untuk mendapatkan ilmu Personality yang menjadi modal mereka lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain.

Saat ini Runway Indonesia memiliki konsep baru sebagai Personality School. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan setiap individu untuk bisa tampil menarik serta percaya diri, sehingga profesi apapun yang akan digeluti, akan berhasil dengan baik. Apakah itu di bidang entertainment, ataupun di bidang karir dan bisnis.

Program-program unggulan yang ditawarkan Runway Indonesia, meliputi Self Improvement, Career Enrichment, Proficient MC & Presenter, Runway Modelling, Professional Acting, Teens Clique, dan Kiddos.

Runway Indonesia menerima anak didik mulai dari tingkat anak-anak (4-10 tahun), remaja (11-16 tahun), dan dewasa (17 tahun ke atas). Mereka akan menerima materi pengajaran selama 14 sesi, dan bisa dilakukan setiap hari, seminggu dua kali, atau setiap Sabtu. Untuk setiap pertemuan akan dilakukan selama 2-3 jam.

Selain kelas regular, Runway Indonesia juga memiliki Corporate Training, dimana materi pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan dari klien atau perusahaan yang bersangkutan.

Adapun pengajar yang diberikan kepercayaan untuk berbagi ilmu Runway Indonesia adalah para praktisi yang sudah berpengalaman di bidang masing-masing. Setiap pengajar akan memberikan materi pelajaran berdasarkan tingkat usia dan kebutuhan peserta, baik itu di kelas regular atau kelas perusahaan.

Target ke depan, bahwa Runway Indonesia – Personality School dapat membantu setiap individu untuk menjadi apa yang mereka inginkan, sesuai dengan potensi yang ada didalam diri mereka. Sehingga apapun yang mereka cita-citakan dapat terwujud dengan baik.

-Run your Way to Success with Runway Indonesia-

Open Supriadi

No Comments

Open Supriadi
Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang

Membenahi PDAM Dengan Komitmen untuk Bekerja Sebaik-baiknya
Banyak pilihan yang dapat diambil generasi muda sekarang setelah menyelesaikan pendidikan SLTA. Bekerja bagi lulusan kejuruan atau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Namun tidak demikian halnya bagi generasi sebelumnya, mereka tidak memiliki pilihan sebanyak generasi muda sekarang.
Banyak masalah yang membelit kehidupan di masa lalu menjadi penyebabnya. Minimnya infrastruktur dan lembaga pendidikan yang memadai adalah faktor yang sangat dominan. Seperti dialami oleh Open Supriadi pada tahun 1970-an yang mengalami kesulitan dalam melanjutkan pendidikan. Kedua orang tuanya menyuruh menjual sawah untuk biaya pendidikan tinggi, pasca kelulusanya dari SMEA.
“Lulus SMEA saya ingin masuk AKABRI tetapi ternyata tidak bisa. Makanya saya hanya memiliki dua pilihan, melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan. Tetapi ketika disuruh menjual tanah, saya pertimbangkan lagi. Kalau sekolah saya ‘bener’ tidak masalah, tetapi kalau tidak kan kacau. Akhirnya tidak jadi jual tanah dan saya memutuskan untuk mencari pejerjaan,” Kata Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang ini.
Open Supriadi tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena sejak kecil terbiasa membantu orang tua yang petani sekaligus pedagang dari mengembala itik, kerbau dan bekerja di sawah sepulang sekolah. Berbekal ijazah SMEA, ia bertolak ke jakarta dalam rangka mencari kerja. Tetapi kehidupan ibukota yang sangat keras dengan aroma konsumtif yang kental memaksanya pulang ke kampung halaman.
Sekembalinya di Karawang, Open bekerja sebagai guru ekonomi pertanian dan pendidikan jasmani di SPMA. Setelah dua tahun menjadi guru, ia mendapat tawaran bekerja di Bappeda Karawang. Meskipun honor yang didapatnya sangat kecil, namun komitmennya terhadap pekerjaa sangat tinggi. Baginya, pekerjaan adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
“Komitmen saya, susah atau senang saya akan tetap bekerja sebaik-baiknya. Saya bekerja rangkap karena tetap menjadi guru, hingga akhirnya saya disuruh memilih di Bappeda atau menjadi guru. Saya memilih menjadi pegawai Bappeda dan tahun 1974 dipindahkan ke Dinas PU Karawang. Prinsifnya saya tetap, bekerja dengan baik dimanapun ditempatkan. Sambil bekerja, saya berusaha melanjutkan pendidikan dengan kuliah di FE Universitas Jayabaya, Jurusan Akuntansi, namun S1 diselesaikan di Fakulta Ekonomi universitas Singaperbangsa” kisahnya.
Open terpaksa menunda menyelesaikan kuliahnya karena diminta oleh orang tuanya untuk menikah. Tahun 1977, ia menikah dengan seorang PNS dan menjalani kehidupan dari nol. Ia memutar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan berusaha di luar jam kerja. Salah satunya adalah menjalin kerjasama dengan pihak bank untuk membeli truk melalui fasilitas kredit KMKP/KIK
Sedikit demi sedikit, kehidupan rumah tangga Open semakin membaik. Seiring dengan kelahiran tiga anaknya, kariernya pun semakin meningkat apalagi setelah menyelesaikan pendidikan dan mengajar di Universitas Kabuaten Karawang serta menjabat Pembantu Dekan III dan II. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan mengambil S2 bidang keuagan di sebuah perguruan tinggi di Jakarta.
Karier kedinasanya pun ikut terdongkrak. Setelah 12 tahun (1974-1986) di Dinas PU, Open ditarik kembali ke Bappeda. Dari situ, berturut-turut ia meniti karier di kantor Lingkungan Hdup, Dinas Pendapatan Daerah, Bagian Perekonomian, Dinas Lingkungan Hidup dan kembali lagi ke Bagian Perekonomian. Disini , ia sampai memasuki masuk Masa Persiapan Pensiun (MPP) terkait usianya yang sudah memasuki 55 tahun.
“Dalam bekerja saya tetap berpegang pada filosofi , bekerja dengan kemampun terbaik dan tidak pernah memikirkan yang lain-lain. Bulan Mei 2006 saya diminta Bupati untuk memperbaiki PDAM Karawang yang kondisinya cukup amburadul. Pesan Bupati, ‘perbaiki serta sehatkan PDAM’ karena air adalah kebutuhan dasar hidup manusia,” tegasnya. Dan sebelumnya juga memeperbaiki Lembaga Perbankan yaitu BPR BKPD dan LPK milik Pemerintah Daerah Kab. Karawang.
Pesan Bupati tersebut memiliki implikasi yang sangat luas. Apalagi saat itu, kesan terhadap kinerja PDAM Karawang adalah kondisi, pelayanan dan kualitasnya sangat buruk. Saat masuk, ia langsung melaksanakan berbagai evaluasi termasuk “kekuatan” saldo kas untuk membiayai operasional perusahaan. Hitung-hitungan ekonomi menyebutkan syarat perusahaan yang sehat adalah saldo kas mampu membiayai operasional perusahaan selama minimal 45 hari kerja dan idealnya 60 hari kerja.
Mosi Tidak Percaya
Open Supriadi sadar, untuk membenahi kinerja PDAM Tirata Tarum Karawang Tidak bisa serta merta “potong kompas” dengan menaikan tarif. Ia lebih memilih alternatif lain untuk meningkatkan pendapatan perusahaan tanpa harus melakukan investasi. Cara ideal adalah dengan menghentikan tingkat kebocoran/NRW sebesar 46 persen pertahun yang dialami PDAM tersebut. Artinya, kebijakan pertama saat menjabat Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang adalah melakukan efisiensi pembiayaan di segala bidang dengan efektif.
“Tetapi efisiensi terkait dengan pembiayaan. Tidak heran ketika saya sosialisasikan kepada karyawan, respon yang diberikan adalah saya didemo dan diberi mosi tidak percaya. Tetapi saya tetap tegar karena sebagai pemimpin harus siap menghadapi  hal-hal seperti itu, sudah resiko. Saya hanya mencoba memahami kenapa mereka demo. Artinya ada sesuatu dibalik semua itu.” Ungkapnya.
Mesikupun demikian, Open mendapat dukungan dari Bupati dan DPRD Karawang. Akhirnya ia mengambil tindakan tegas dengan menerapkan disiplin bagi seluruh pegawai di lingkungan PDAM Tirta Tarum Karawang. Program efisiensi dilanjutkan dengan hasil yang cukup mencengangkan. Dalam tempo delapan bulan, ia berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp. 989 juta.
Open tidak puas hanya berhenti sampai disitu dalam menata perusahaan daerah dengan titik tolak produksi air tersebut. Ia kemudian beranjak kebagian distribusi dan produksi, karena untuk melakukan investasi belum memungkinkan. Program yang dijalankan berhasil dengan efektif dalam mendongkrak pendapatan perusahaan. Tahun pertama hanya Rp. 1,5 miliar meningkat menjadi Rp. 1,7 miliar tahun kedua dan Rp. 3 miliar pada tahun keempat. Pelanggan pun meningkat dari 32.000 SR (Sambunga n Rumah) menjadi 48 ribu SR pada tahun 2010.
“Cukup fantastis peningkatanya. Saya juga memikirkan kesejahteraan pegawai, karena bagaimana mereka disuruh bekerja disiplin kalau kesejahteraan terabaikan? Makanya kesejahteraan setahap demi setahap kami perbaiki. Karena efisiensi menghemat pembiayaan lembur, listrik, kimia, sakit dan lain-lain sampai 12 komponen jumlahnya. Saya tata kembali, karena dalam filosofi saya, jika dalam tiga bulan tidak bisa menjebol PDAM saya akan mundur,” ungkapnya.
Alhamdulilah berkat kerja keras dan kebersamaan dalam memperbaiki PDAM hasilnya sudah dapat dirasakan oleh semua pihak diantaranya perbaikan pelayanan, pembayaran utang, PAD dan khususnya perbaikan kesejahteraan karyawan PDAM seperti gaji ke 13, 14 dan 15 serta tunjangan kendaraan, dll.
Dari program-program yang dilaksanakannya, PDAM Tirta Tarum Karawang dinyatakan sehat oleh BPKP pada tahun 2009. Hingga tahun 2010, PDAM Karawang dipercaya untuk membangun infrastruktur air bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah, hibah dari pemerintah Asutralia (AusAID). PDAM Tirta Tarum Karawang berhasil membangun 3000 SR senilai Rp. 8 miliar bagi masyarakat kurang mampu serta tambahan 1000 SR senilai Rp. 2 miliar yang dilokasikan tahun 2011 dengan pengerjaan  jadwal yang ditetapkan. Sebuah prestasi fantastis yang dicapai seorang direktur yang tadinya mendapat mosi tidak percaya dari anak buahnya termasuk dari anggota DPRD Kab. Karawang dan Bupati pun kurang percaya akan mendapatkan bantuan hibah dari pemerintah pusat yang bersumber dari hibah pemerintah Australia sebanyak itu.
“Saya sudah pensiun dari PNS dan hanya konsen bagaimana berbuat terbaik untuk kepentingan orang banyak. Keberhasilan adalah kepuasan tersendiri yang penuh tantangan. Alhamdulilah, tantangan telah menghasilkan kepuasan yang harus disukuri. Jadi di akhir karier ini, saya bersyukur kepada Allah SWT atas karunia dan hidayah yang diberikan. Terlepas Pro dan Kontra, kebenaran adalah milik tuhan dan manusia tempatnya salah. Yang penting kita yakin, apa yang kita lakukan benar, sesuai dan selalu berbuat yang terbaik,” tuturnya penerima Piagam Tanda Kehormatan Presiden RI Satya Lancana Karya Satya 20 dan 30 tahun.
Medirikan LSM
Sukses dengan kehidupan sekarang, Open Supriadi, ingin memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi masyarakat sekitarnya. Ia berharap, pengalaman dan pemikiran untuk selalu berbuat yang terbaik mampu menggugah masyarakat. Apalagi, banyak potensi yang ada ditengah masyarakat yang kurang mendapat tempat, selagi kesempatan ini ada untuk dimanfaatkan sebaik mungkin dan ia ingin memberdayakan masyarakat dengan potensi yang dimiliki masing-masing.
“setidaknya bisa memberikan kegiatan positif dan produktif sehingga mereka memiliki penghasilan guna memperbaiki daya beli masyarakat . karena demand ada, tinggal kita menyiapkan supply. Obsesi saya setelah berhenti menjadi Direktur Utama akan membentuk LSM Karawang. Saya akan turun dan berjibaku dengan modal yang dimiliki dan filosofi berbuat untuk kepentingan orang banyak. ‘sedikit demi sedikit kita himpun, lama kelamaan akan besar’. Kalau kita mulai dari yang kecil setahap demi setahap akan menjadi kuat, lama kelamaan membesar.  Itulah sebuah harapan dan mudah-mudahan Tuhan yang Maha Esa meridhoinya. Amin
Pria yang mendapat dukungan penuh dari keluarga ini, dalam bekerja tidak bisa begitu saja melepaskan kepada anak buahnya. Ia turut mengawasi jalanya pekerjaan hingga sesuai dengan program yang ditetapkan. Prinsifnya, ketika pekerjaan tidak bisa dilanjutkan oleh anak buahnya, ia sendiri yang mengambil alih.
“Learning by doing harus jalan. Saya tidak bisa mengandalkan anak buah begitu saja. Karena dalam bekerja, tidak dibantu pun saya bisa kerjakan sendiri. Itu resiko dalam pekerjaan sebagai pimpinan. Tidak hanya sekedar memberi perintah. Ketika tidak jalan, kita harus turun tangan menjalankanya,” kata open yang menyempatkan diri menemui keluarga disela-sela jam makan siang ini. “karena hari minggu saya juga kerja, sehingga setelah Dzuhur saya menemui keluarga,” imbuhnya.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan, pria gila kerja (workaholic) ini menerapkan prinsip keteladanan. Ia tidak hanya mengandalkan kekuasaannya sebagai puncak pimpinan dengan sekedar memeberikan arahan melalui omongan. Contoh langsung dalam berbagai hal mulai selalu ditunjukan dengan mengacu pada pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Ia juga selalu menjalin komunikasi dengan anak buahnya untuk mendapat masukan, ide dan gagasan demi keberhasilan.
Saya terus berusaha, karena manusia itu kan tidak sempurna. Seminggu sekali saya berolahraga bersama mereka, dengan harapan ini menjadi upaya preventif agar kita tidak mudah sakit. Selain itu, kita menjalin komunikasi dengan mereka, termasuk menerima keritik dan saran kepada saya begitu juga sebaliknya. Kita ada K3, Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas,” katanya.
Ketiga hal tersebut terus diupayakan oleh Open Supriadi selaku Dirut PDAM Tirta Tarum Karawang. Untuk menjaga kontinuitas pasokan misalnya, ia melengkapi PDAM dengan genset berkekuatan 500 kilowat. Hal tersebut mencegah terhentinya pasokan air bagi pelanggan saat listrik PLN tiba-tiba mati.
Saya konsisten terhadap konsep dan idealis dengan yang saya  pikirkan. Itu saya buktikan dengan kinerja keuangan, di mana dari 6 cabang dan 10 Unit IKK PDAM Kab. Karawang. Kinerja terbaik dan ketika awal saya masuk kondisinya kurang baik dan kurang sehat. Semua itu tercapai dalam empat tahun karena fokus untuk bekerja,” katanya membeberkan kiat sukses.
Menurut Open, dalam kerja harus dibarengi ketulusan dan keiklasan dengan menyerahkan kepada  Allah SWT hasil pekerjaan tersebut. Tugas manusia hanya berusaha dan Tuhan yang menentukan. Namun yang perlu diingat adalah melakukan kebajikan akan menghasilkan kebajikan dan tindak kejahatan akan menerima kejahatan.” Itu saja yang harus dipegang. Jangan anggap rejeki akan datang sendiri akan tetapi yang harus dilakukan adalah doa, usaha dan ikhlas. Bukankah kenikmatan dan cobaan itu datang dari Tuhan yang Maha Esa?” nasehatnya.
Open Supriadi mengakui bahwa generasi muda sekarang dipenuhi dengan budaya instant. Pengaruh globalisasi telah mengubah mereka menjadi sosok-sosok yang sangat tergantung pada teknologi informasi (TI). Celakanya, pengaruh tersebut sudak merasuk begitu dalam sehingga sangat sulit untuk dibendung. Untuk itu, menyarankan agar orang tua memperkuat keyakinan agama masing-masing dan menularkan kepada anak-anaknya.
Orang tua, lanjut Open, tidak boleh memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan bakat dan keinginan anak harus didukung kearah yang baik. Orang tua harus memotivasi anak untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Meskipun demikian, fungsi kontrol orang tua harus tetap dijalankan sehingga anak tidak salah arah.
“karena proses pembelajaran tidak pernah berakhir dan harus disesuaikan dengan perkembanganya. Karena generasi muda menghadapi sesuatu yang berbeda dari zaman orang tuanya. Jadi tipsnya adalah, pertama pendidikan, kedua contoh dan keteladanan ketiga evaluasi dan kontrol yang terbangun dengan baik. Komunikasi dengan anak harus intensif dan orang tua harus mau berkorban demi anak. Tetapi agama juga perlu, konsisten dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Terus terang, saya merasa belum berhasil mendidik anak,” kata open Supriadi, Direktur Utama PDAM Tirta Tarum Karawang.