Tag: SH

RICHARD SUWONDO, SH, MH

Notaris dan PPAT

Lawyer yang beralih haluan menjadi Notaris dan PPAT

Dalam dunia kerja, berpindah pekerjaan adalah hal biasa. Begitu juga pergantian profesi merupakan hal yang wajar dilakukan, apalagi bila potensi yang dimiliki seseorang ternyata lebih berkembang dalam pekerjaan atau profesi yang baru.

Pergantian profesi seperti itu juga pernah dilakukan oleh RICHARD SUWONDO, SH, setelah beberapa tahun menjalani profesi sebagai lawyer, hati nurani mendorongnya untuk beralih profesi menjadi notaris. Profesi tersebut mulai ditekuninya sejak tahun 2002 setelah menyelesaikan pendidikan kenotariatan.

“Sebelum menjadi notaris, saya bekerja di UNIBANK sekitar tahun 1995 sampai dengan 1997. Kemudian saya melanjutkan pendidikan dibidang hukum sekaligus menjadi lawyer dan konsultan pasar modal pada saat bersamaan sampai dikeluarkannya SK pengangkatan saya sebagai notaris sekitar tahun 2002, makanya saya lepas pengacaranya dan sepenuhnya menjadi notaris. Baru pertengahan tahun 2005 dikeluarkan SK pengangkatan saya sebagai PPAT” ujarnya.

Alasan berganti profesi tersebut sungguh mulia yakni karena sebagai pengacara, putra pertama dari tiga bersaudara pasangan Suardi Kartakesuma dan Kartini ini belum memiliki kesiapan mental, terutama terkait dengan hati nurani mengingat sistem hukum di Indonesia pada saat ini. “Menurut kita, apa yang kita lakukan sebagai pengacara tidak sesuai dengan hati nurani. Mungkin mental kita pada saat itu yang belum kuat karena sebagai pengacara apa yang kita lakukan hanya untuk memenangkan klien dalam berpekara saja.” imbuhnya.

Pria kelahiran Jakarta, 21 Februari 1971 ini berandai-andai, apabila pada saat itu telah siap mental dan terus berkarier sebagai lawyer dan konsultan pasar modal semua pasti akan berbeda. Melihat kemampuan yang dimiliki, bukan tidak mungkin andai dijalani dengan sepenuh hati, sekarang kariernya sudah mencapai puncak. Akan tetapi, selain SK pengangkatan sebagai notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang dimilikinya setelah menyelesaikan pendidikan kenotariatan, dorongan hati nurani juga memaksanya untuk tidak melanjutkan karier sebagai lawyer, walau sewaktu-waktu ia masih menggeluti propesi lamanya tersebut.

“Meskipun demikian, sewaktu-waktu kita masih terjun sebagai lawyer bergabung dengan kantor hukum lain, tentunya tanpa meninggalkan profesi utama kita sebagai notaris. Pekerjaan notaris itu sangat luas, sejak manusia lahir sampai dengan tutup usia semua terkait dengan akta notaris. Sedangkan PPAT hanya mengurusi masalah pertanahan saja.” tegasnya.

Bicara mengenai pertanahan, pria yang biasa disapa Richard ini mengingatkan bahwa pekerjaan sebagai PPAT sebenarnya cukup nyaman. Hanya saja, pekerjaan ini harus menguras kesabaran yang lebih besar disebabkan database yang dimiliki oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) sangat kurang, khususnya data Peta Bidang Tanah, sehingga menyulitkan tugas PPAT.

“Makanya kita berharap kepada BPN untuk dapat segera merealisasikan Peta Bidang Tanah untuk seluruh wilayah di Indonesia secara lengkap. Dengan adanya itu pasti sengketa tanah akan lebih mudah diselesaikan karena database tersebut terkait dengan hukum. Dengan adanya PPAT, tinggal mekanisme yang sangat simple sebenarnya. Kalau sudah ada database yang baik, tinggal manajemennya saja dibenahi.” ujarnya dengan optimis.

Yang terpenting adalah kerja keras

Dalam menyikapi perkembangan dunia notaris dan PPAT yang sangat cepat, Richard Suwondo, SH menyiapkan diri untuk bersaing. Baginya, yang terpenting adalah kesiapan, kesungguhan dan kerja keras dalam menjalani profesinya. Dengan semakin tingginya kesadaran hukum masyarakat pada saat ini, tentunya akan berpengaruh terhadap semakin tinggi pula kebutuhan terhadap jasa notaris dan PPAT.

“Bagi kita yang terpenting adalah kerja keras, Optimalkan kinerja delapan orang SDM yang kita miliki. Kita ikuti sistem hukum yang ada, karena seiring waktu pastinya akan terus berkembang searah dengan semakin cerdasnya masyarakat. Dengan pengetahuan, kemampuan dan kerja keras, kita pasti akan mampu bersaing dalam hal, kapan dan dimana pun kita berada.” ujar pemilik motto “Hari ini harus lebih baik dari kemarin” ini.

Ayah dua orang putri dari pernikahannya dengan Jein Grace Sela ini mengungkapkan bagaimana kurangnya dukungan pemerintah terhadap profesi notaris. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah sering adanya perubahan sistem yang diterapkan dan tidak adanya standarisasi yang pasti.

“Dukungan pemerintah terhadap profesi notaris terkadang justru menjadi kendala. Sistem yang selalu berubah-ubah dan pegawai-pegawai nakal. Tetapi bagaimanapun kita harus mengikuti karena sebagai negara berkembang kita harus melewati tahapan seperti itu. Selain itu, dalam bidang pertanahan, BPN harus lebih transparan, karena seiring waktu bidang pertanahan itu akan semakin penting bagi kita semua.” ungkapnya.

Richard berharap agar pemerintah mulai bergerak untuk membenahi masalah pertanahan ini. Adanya BPN sudah tentu membantu, tetapi akan jauh laebih membantu apabila BPN ditingkatkan menjadi setara dengan kementerian mengingat masalah pertanahan di Indonesia sangat rawan terjadi konflik, baik antar masyarakat, pemerintah maupun dengan negara lain terkait perbatasan antar negara.

Sebagai orang yang sudah berkecimpung sekian lama di dunia notaris dan PPAT, Ricard sangat memahami betul kebutuhan masyarakat Indonesia. Bagaimana tingginya biaya dan ruwetnya menyelesaikan urusan pertanahan misalnya, dalam hal ini ia memiliki kiat-kiat dalam mengatasi segala problem tersebut.

“Kalau kita idealis mungkin akan selalu bersebrangan dengan BPN, entah instansi BPN itu sendiri atau mungkin pelaksananya yang kurang professional. Bergantung pada kondisi yang sudah ada, kita harus lihai. Main bersih kita siap, diluar itu juga ayo saja, tentu sedapat mungkin kita hindari, karena pada dasarnya dalam mengambil keputusan dan melakukan sesuatu tidak dapat lepas dari hati nurani. Makanya untuk para generasi muda yang baru saja bergabung di kantor notaris kita ucapkan selamat bekerja. Ilmunya sudah ada dan dapat dipelajari darimana saja, tinggal penerapan langsung berhadapan dengan masyarakat banyak.” pungkasnya.

Muhammad Kadafi, SH., MH

No Comments

Rektor Universitas Malahayati

Melatih dan Mengembangkan Jiwa Leadership Serta Entrepreneurship Mahasiswa

Seorang pengusaha atau entrepreneur harus memiliki dua karakter yang membedakannya dari orang-orang biasa. Kedua karakter tersebut membuat pola dan cara berpikir pengusaha dalam menilai perkembangan di sekelilingnya menjadi berbeda. Perbedaan itulah yang membuat seorang entrepreneur selalu memperoleh keuntungan yang menjadikan mereka sebagai orang sukses dan terpandang.

Kedua karakter tersebut harus dimiliki oleh orang-orang yang bercita-cita menjadi entrepreneur. Sifat atau karakter yang harus dimiliki entrepreneur tersebut tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus melalui pembelajaran dan pelatihan yang berkesinambungan. Kedua karakter tersebut yaitu; pertama kreatif (creative) adalah kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang (thinking new things). Kedua inovatif (innovative) adalah kemampuan menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan masalah dan menemukan peluang (doing new things).

“Sebagai seorang pendidik saya mengajarkan mahasiswa untuk senantiasa melatih dan mengembangkan jiwa entrepreneur dan leadership mereka dengan aktif mengikuti pelatihan, training, seminar, dan symposium yang berkenaan dengan pengembangan diri. Selain itu, saya mewajibkan kepada seluruh mahasiswa untuk mengikuti dan berperan aktif dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada di universitas ini tanpa menomorduakan kuliah atau belajar mereka. Dengan begitu saya yakin mahasiswa akan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan secara tidak langsung jiwa entrepreneur juga terbentuk,” kata Muhammad Kadafi, SH., MH., Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Menurut Kadafi, pendidikan berorientasi entrepreneurship mutlak dibutuhkan pada saat ini. Mengingat semakin sempit dan susahnya lapangan kerja akhir-akhir ini Dengan berwawasan entrepreneur seorang mahasiswa akan lebih siap menghadapi pasar kerja dibandingkan mereka yang tidak memiliki jiwa entrepreneurship. Sesorang yang memiliki jiwa entrepreneur senantiasa mendayagunakan semua kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. “Hebatnya, orang-orang seperti ini tidak pernah menggantungkan tujuan hidupnya tersebut kepada orang lain. Berfikir kreatif dan inovatif menjadi modal dasar dari seorang entrepreneur,” tegas pemuda kelahiran Aceh Besar, 8 Oktober 1983 ini.

”World Class University”

Dalam usia masih sangat muda, Muhammad Kadafi, SH., MH, telah memiliki pengalaman matang di dunia pendidikan. Berawal dari memegang jabatan kecil di universitas, perlahan naik menjadi Rektor Universitas Malahayati. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan di salah satu universitas swasta terkemuka di Aceh.

Sebagai pengajar, banyak pengalaman yang telah dialami Kadafi. Ia memiliki dedikasi, profesionalisme dan kredibilitas sebagai dosen dalam menciptakan lulusan berkualitas mumpuni. Meskipun mengajar dengan honor kecil dan tuntutan kerja serta tinggi, semua dijalani sebagai pengalaman berharga yang sangat berkesan mendalam.

“Dalam hidup ini, saya memiliki obsesi yang masih melekat di benak saya, yakni untuk membuat Universitas Malahayati menjadi ‘World Class University’ dalam waktu dekat. Untuk mewujudkan ‘World Class Univesity’ ada tiga standar yang harus dicapai, yaitu;
 Keberhasilan dalam merekrut SDM terbaik seperti dosen, staf, karyawan dan mahasiswa,
 Kemampuan universitas dalam mengelola dan menghimpun dana dengan sukses,
 Manajemen universitas yang baik yang dilakukan secara profesional, efektif dan efisien.
Sehingga SDM yang dimiliki mampu dimanfaatkan untuk pelayanan pendidikan yang terbaik,” imbuhnya.

Kadafi mengungkapkan tingginya persaingan di bidang pendidikan tidak bisa dielakkan oleh penyelenggara pendidikan. Namun, persaingan membuat semua pihak yang berkutat di dalamnya berusaha untuk meningkatkan kualitas masing-masing. Sebagai pengelola perguruan tinggi swasta, ia sadar bahwa tanpa peningkatan mutu, kualitas pembelajaran serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, universitas swasta akan kehilangan mahasiswa. Mahasiswa yang belajar di universitas atau perguruan tinggi swasta pasti memiliki tujuan yang sama yaitu memilih universitas favorit, berkualitas, lengkap dengan sarana dan prasarana, berskala internasional dan memiliki prospek kerja yang jelas setelah lulus.

“Untuk itu kami setiap waktu selalu memperbaiki kekurangan yang ada seperti sarana dan prasarana kampus, lab, ruang belajar, sarana olahraga dan kemahasiswaan. Disamping itu pula perbaikan dibidang pelayanan dan mutu kualitas pendidikan makin hari makin ditingkatkan. Selain itu juga kami sedang mempersiapkan untuk ‘world class university’ dan sudah barang tentu kerjasama dengan universitas luar negeri dibutuhkan dalam hal ini,” ujar Vice Director RS. Bintang Amin Husada tersebut.

Dalam menjaring mahasiswa, Kadafi menyadari pentingnya iklan atau promosi di media masa. Tetapi yang lebih penting lagi adalah bentuk pelayanan universitas kepada masyarakat yang masuk dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Aspek-aspek dari praktek Tri Darma Perguruan Tinggi menjadi sarana efektif untuk sosialisasi tentang kualitas, kredibilitas dan eksistensi perguruan tinggi. Program pelayanan terhadap masyarakat secara langsung misalnya, pengadaan acara-acara publik di Universitas Malahayati, pengadaan lomba, seminar, loka karya dan konferensi baik tingkat pelajar maupun mahasiswa yang menjadi agenda rutin kampus.

Menurut Ketua Yayasan Abulyatama Aceh ini, pendidik bukan sekadar pengajar melainkan mendidik para peserta didik (siswa, mahasiswa) agar “menjadi manusia”. Tugas mengajar yang dilakukan seorang pengajar tidak boleh terlepas dari tugas mendidik. Tentu saja, terdapat bahaya yang besar bila kegiatan mengajar yang dilakukan pengajar terlepas dari tugas mendidik terhadap para siswa. Secara ideal, diharapkan tugas mengajar yang dilakukan guru harus menyatu dengan tugas mendidik.

Mengajar, lanjutnya, dalam arti sempit cenderung memiliki konotasi kegiatan teknis, yaitu menyampaikan pengetahuan yang dimiliki guru kepada para siswa. Begitupun metode mengajar, cenderung memiliki konotasi teknis, yaitu cara-cara yang efektif untuk menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa. Sedangkan mendidik cenderung memiliki arti yang luas dan lebih mendalam, yaitu sebagai kegiatan mengembangkan potensi manusiawi yang hidup dalam diri setiap siswa yang harus dapat berkembang secara utuh dan optimal.

Kecenderungan dalam mendidik, jelas Kadafi, adalah berkaitan dengan pengembangan kepribadian. Mendidik berarti mengembangkan moralitas kejujuran, semangat kerja keras, kemandirian, kreativitas, ketabahan hati dalam menghadapi permasalahan peserta didik. Mereka juga dididik dan ditempa untuk tidak mudah putus asa, menghargai pekerjaan, toleransi dan kerjasama dengan orang lain, berpikir logis dan kritis, kerendahan hati dan kasih sayang.

“Ungkapan: ‘dalam mengajar guru harus tidak melupakan tugas mendidik’ memiliki makna yang dalam dan luas. Dalam mengajar guru jangan hanya bersifat teknis-mekanis, yaitu menyampaikan mata pelajaran saja. Tetapi lebih dari itu, guru harus berani menghidupkan ruh-ruh potensi manusiawi yang hidup dalam diri siswa, seperti kemandirian, kreativitas, moralitas kejujuran, semangat kerja keras, dan lain-lain,” tegas Direktur Kadafi Speed Shop ini.

Pemerintah Mendukung

Putra keempat dari enam bersaudara pasangan DR (HC) H. Rusli Bintang dan Dra. Rosnati Syech ini mengungkapkan besarnya peranan pemerintah dalam dunia pendidikan. Tidak hanya alokasi dana pendidikan dari APBN yang meningkat drastis menjadi 20 persen, tetapi pemerintah juga telah membuat regulasi, kebijakan dan program-program yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini.

Regulasi pemerintah tentang minimal wajib pasca sarjana (S2) bagi pengajar atau dosen di perguruan tinggi memiliki dampak positif untuk peningkatan mutu pendidikan. Kebijakan pemerintah yang dicanangkan oleh Mendiknas untuk mendorong PTS atau PTN berkelas dunia yang mengacu pada pasar bebas di era globalisasi. Pemerintah juga membuat program HIBAH kepada PTN maupun PTS dalam peningkatan sarana dan prasarana perkuliahan.

“Perlu kita ketahui bahwa mengacu pada peraturan pemerintah dalam otonomi pendidikan baik swasta maupun negeri, menjadi kebijakan perguruan tinggi swasta maupun negeri itu sendiri untuk mengelola dengan baik sistem maupun manajemen kurikulum pendidikan yang ada. Di sisi lain setiap perguruan tinggi dituntut untuk dapat mencapai standar pendidikan yang ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.

Oleh karena itu, jelasnya, akan menjadi problem setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta, di pusat maupun di daerah dalam pencapain standar tersebut. Untuk itu, diperlukan suatu proses penyampaian informasi mengenai program-program pendidikan yang dapat memacu proses pendidikan agar ilmu pengetahuan dapat terserap dan diterima peserta didik dengan baik. “Untuk itu saya akan tetap berjuang serta mengabdikan diri, agar cita-cita bangsa Indonesia umumnya bisa terwujud demi kemajuan pendidikan di Indonesia yang semakin baik,” tambahnya.

Kadafi melihat belum maksimalnya kontribusi pendidikan tinggi dalam membangun Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient bangsa Indonesia. Penyebabnya, pendidikan tinggi di Indonesia pada dasarnya mengacu pada peningkatan mutu dan kualitas peserta didik dalam hal intelektual, mental dan spiritual. Dalam pelaksanaannya, pendidikan di Indonesai hanya mengedepankan perkembangan kecerdasan Intelektual (IQ) semata dan seringkali melupakan pentingnya kecerdasan emosional serta spiritual.

“Perlu diketaui, tingkat kesuksesan seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Sebagai contoh seorang yang kuat intelektualnya tetapi lemah emosional dan spiritualnya akan menjadi seorang yang otoriter. Contoh lain akan pentingnya Intellectual Quotient, Emotional Quotient, dan Spiritual Quotient adalah dalam pembentukan entrepreneur yang sejati. Seorang entrepreneur yang sejati akan menyeimbangkan ketiga unsur tersebut. Pada intinya ke depan pendidikan di Indonesia harus menyeimbangkan perkembangan ketiga unsur tersebut demi tercipta SDM yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi di kancah internasional,” tuturnya.

Minim Dukungan Politik

Sebagai penyelenggara pendidikan, Kadafi merasakan dunia pendidikan di Indonesia semakin berkembang. Selain dukungan dana 20 persen dana APBN untuk pendidikan, sejak lama pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun. Program ini membuat tingkat pendidikan di Indonesia meningkat dan mampu menekan tingkat angka tenaga kerja yeng tidak memiliki keahlian dan pendidikan dasar. Namun, cukup disayangkan bahwa program-program yang dijalankan pemerintah menjadi tidak maksimal akibat adanya pihak atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Contohnya, pendanaan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) banyak mengalami korupsi dimana-mana.

“Untuk kebijakan politik yang berdampak langsung terhadap dunia pendidikan masih bisa dibilang minim. Terlihat dari system penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) dan honorer yang masih belum transparan hingga saat ini. Pemerintah seharusnya meninjau ulang terhadap kebijakan-kebijakan yang berkenaan langsung dengan system pendidikan yang ada, sebagai contoh tentang kurikulum yang diterapkan di Indonesia. Kurikulum dan segala kebijakan yang ada masih sebatas konseptual tapi belum aplikatif, seperti Kurikulum Berbasis Kompetensi yang aplikasinya masih mengedepankan konsep atau teori ketimbang aplikasi teori tersebut,” tuturnya.

Menurut Kadafi, Indonesia membutuhkan pendidikan yang sanggup melahirkan generasi yang siap menjalin pengetahuan berbasis integritas, mengejar pengetahuan untuk kemajuan bangsa dan mengembangkannya pengetahuan tersebut untuk bangsanya sendiri. Langkah awal yang harus ditempuh adalah menekankan pendidikan tiga tahun sesudah sekolah dasar untuk kewarganegaraan, pembentukan karakter, dan kehidupan bersama dalam masyarakat.

“Seperti yang diterapkan Jepang, sehingga ketika siswa memasuki jenjang menengah atas dan Perguruan Tinggi, siswa memiliki rasa cinta, berkarakter dan perilaku yang bertujuan untuk kemajuan bangsa. Untuk itu diperlukan kondisi ekonomi, politik, hukum, dan keamanan sangat berpengaruh terhadap jalannya proses pendidikan. Kondisi ekonomi yang stabil, politik yang santun, tertib dan elegan, supremasi hukum yang tegak dan tidak memihak akan menciptakan keamanan masyarakat. Pada akhirnya akan berdampak pada sektor pedidikan yang berkualitas,” tuturnya.

Secara berkelakar, Kadafi berandai-andai menjadi Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Seandainya menjabat Mendiknas, ia akan menyarankan kepada petinggi eksekutif dan legislatif agar alokasi anggaran APBN untuk pendidikan tidak hanya 20 persen, jika memungkinkan 50 persen bahkan kalau bisa lebih. Karena pendidikan harus menjadi prioritas utama dengan anggaran yg besar. Ia yakin, dengan anggaran sebesar itu, semua program pendidikan akan terealisasi. “Seperti yang pernah terjadi di Uzbeckistan. Hanya dalam satu dasawarsa jumlah sarjana yang dihasilkan di negara tersebut melebihi Perancis. Hebat,” ujarnya sembari tertawa.

Meskipun dalam kondisi pendidikan seperti sekarang, Kadafi tetap yakin bahwa generasi muda akan mampu melanjutkan ‘tongkat estafet’ kepemimpinan bangsa. Keyakinan tersebut dilandasi adanya keinginan pemerintah untuk memperbaiki kondisi pendidikan di Indonesia yang semakin intensif dilakukan. Semua itu dilakukan untuk menyiapkan kualitas generasi muda sebagai tulang punggung negara yang akan membawa kemajuan dan kesejahteraan bangsa di masa mendatang.

“Kalau pemudanya berkualitas maka berkualitas juga negara tersebut dan kalau pemudanya tidak berkualitas maka nasib negara tersebut pasti akan mengalami kemunduran. Dalam hal ini kita harus optimis bahwa pemuda sekarang sebagai generasi penerus bangsa akan mampu menjawab tantangan zaman. Untuk itu kita harus mempersiapkan mereka dengan kualitas pendidikan yang baik agar kelak mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ini di masa yang akan datang,” kata Muhammad Kadafi, SH, MH.
Sekilas Universitas Malahayati

Latar belakang pendirian Universitas Malahayati dimulai saat Rusli Bintang, putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah yang lahir pada hari Jum’at 28 April 1950. Beliau dikenal sebagai seorang usahawan yang cukup sukses, selain itu juga dikenal sebagai pendiri Yayasan dan Universitas Abulyatama Aceh.

Beliau adalah figur seorang anak yatim yang sukses dalam mengarungi kehidupannya. Sukses yang dicapai tersebut dibangun dari kerja keras dan tekat pantang menyerah. Sukses yang diraihnya sama sekali tidak membuat beliau takabur, tinggi hati dan lupa terhadap sesamanya.

Salah satu wujud kepedulian H. Rusli Bintang terhadap sesamanya adalah peran aktif di dunia pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Sangat disadari oleh beliau bahwa pendidikan saat ini sangat diperlukan oleh masyarakat sebagai salah satu sarana pengembangan diri agar kelak mereka mampu mempertahankan hidup dan pengembangan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Niat baik inilah yang mendorong beliau untuk mendirikan Yayasan Alih Teknologi (ALTEK) dan Universitas Malahayati di Bandar Lampung.

Yayasan ALTEK Bandar Lampung berdiri tanggal 20 Juni 1992 yang tertuang dalam Akte Notaris Nomor 114 tahun 1994. Didirikan dengan tujuan umum untuk mengembangkan dan mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi melalui jalur pendidikan tinggi.

Adapun tujuan khusus yang hendak diwujudkan oleh Yayasan ALTEK adalah:
 Membina, mengembangkan, dan menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri, bertanggung jawab, dan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional
 Membina, mengembangkan, dan menghasilkan para pendidik dan karyawan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berkualitas, mandiri, bertanggungjawab dan dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional

Sebagai tindak lanjut untuk mewujudkan tujuan umum dan tujuan khusus, Yayasan ALTEK mendirikan suatu perguruan tinggi yang diberi nama UNIVERSITAS MALAHAYATI. Universitas Malahayati didirikan berdasarkan SK. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Rl No.02/D/0/1994 tanggal 28 Januari 1994.

Nama Malahayati diambil dari nama seorang panglima perang wanita berasal dari Aceh, yaitu Laksamana Malahayati. Malahayati merupakan figur seorang wanita Aceh yang cerdas, memiliki semangat juang tinggi, berani, tegas, ulet, tangguh, dan bertanggung jawab, yang senantiasa dilandasi oleh sinar keimanan dan ketaqwaan sesuai dengan ajaran Islam. Atas keperwiraannya itu Laksamana Malahayati dianugrahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Untuk menghormati dan melanjutkan semangat juang Malahayati tersebut Perguruan Tinggi ini diberi nama Universitas Malahayati yang bertekat bulat untuk ikut serta secara nyata dalam pembangunan nasional bersama-sama, seiring dan sejalan dengan perguruan tinggi lain yang lebih awal hadir di Provinsi Lampung. Sebagai kiprah awal Universitas Malahayati, pada tahun ajaran 1994/1995 dibuka tiga fakultas pelopor dan satu akademi. Ketiga fakultas tersebut adalah:
1. Fakultas Kedokteran
2. Fakultas Teknik dengan empat jurusan: Teknik Mesin, Teknik Sipil, Teknik Manajemen Industri, dan Teknik Lingkungan
3. Fakultas Ekonomi dengan dua jurusan: Akuntansi dan Manajemen, sedangkan akademi yang dibuka adalah Akademi Keperawatan

Pada tahun 2002 didirikan Fakultas Kesehatan Masyarakat berdasarkan SK Dikti: No.137/D/T/2002, dan pada tahun 2004, sesuai dengan surat izin No. 44/0/D/T/2004 DIKTI tanggal 12 November 2004, Universitas Malahayati membuka Program Studi Keperawatan Strata Satu (S-1) yang ditempatkan di bawah Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati.

Pengadaan fakultas-fakultas itu melalui pertimbangan rasional yang matang, seperti pengadaan Fakultas-fakultas Bidang llmu Kesehatan dilakukan dengan pertimbangan antara lain untuk mengantisipasi dan memenuhi tenaga dokter dan para medis yang saat ini masih dirasakan kurang, pengadaan Fakultas Teknik tiada lain untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang teknologi canggih, sementara pengadaan Fakultas Ekonomi tiada lain untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tenaga ahli di bidang Akutansi dan Manajemen yang mampu menciptakan serta memperluas lapangan pekerjaan.

Yayasan ALTEK juga menyediakan beasiswa bagi calon mahasiswa dan mahasiswa Universitas Malahayati yang berprestasi dan berpotensi yang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ada pun program ini bertujuan untuk:

 Ikut serta membantu memecahkan masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat sesuai dengan kapasitas yang dimiliki
 Mengupayakan program penempatan kerja bagi peserta didik

Tujuan Universitas Malahayati adalah:
 Membentuk manusia Indonesia seutuhnya, senat jasmani dan rohani, memiliki
 pengetahuan dan keterampilan, kreatit dan bertanggung jawab, beriman dan bertaqwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, serta berjiwa Pancasila
 Mengembangkan dan menyebarluaskan Ilmu Pengetahuan dalam bidang-bidang Kedokteran, Ilmu-ilmu Sosial, llmu-iimu Alam, Teknologi dan seni
 Menyiapkan sarjana yang Pancasilais, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, berpengetahuan luas dan bertanggung jawab untuk mengabdi, kepada bangsa, negara dan agama

Universitas Malahayati, sejak tahun Akademik 1996/1997 telah memiliki dan menernpati kampus sendiri yang terletak di atas perbukitan yang sejuk, nyaman dengan pemandangan yang indah ke arah Ibu Kota Provinsi. Lingkungan yang asri ini sangat mendukung proses belajar dan mengajar

Visi – misi Universitas Malahayati
 Untuk menciptakan manusia yang sehat, dengan pikiran sehat dan tubuh. Dikaruniai dengan pengetahuan, kreativitas dan keterampilan. Menanamkan dengan nilai-nilai tanggung jawab, iman dan kepercayaan yang lebih besar
 Untuk mengembangkan dan menyebarkan pengetahuan ilmiah di bidang kedokteran,ilmu sosial dan lingkungan serta seni dan teknologi
 Untuk mempersiapkan lulusan yang memiliki iman dan keyakinan yang kuat dengan pengetahuan yang luas, sehingga mereka akan berguna masyarakat bangsa dan agama

Program-program yang ada di Universitas Malahayati antara lain yaitu:
 Beasiswa untuk anak yatim piatu
 Santunan tehadap anak yatim yang diadakan setiap 2 kali dalam sebulan dan pada acara-acara yang diadakan oleh universitas malahayati.
 Program wajib asrama bagi seluruh mahasiswa/i Universitas Malahayati
 Program wajib mengikuti English for matriculation
 Progam pertukaran pelajar ke luar negeri
 Program beasiswa bagi dosen Universitas Malahayati
 Program standarisasi penjamin mutu bagi staf dan dosen dilingkungan Universitas Malahayati
 Program kunjungan belajar baik dosen maupun mahasiwa keluar negeri (comparative study program)
 Program kejasama dengan universitas luar negeri dalam bidang science dan research

Biodata Singkat:

Nama : Muhammad Kadafi
Tempat dan tanggal lahir: Aceh Besar, 8 Oktober 1983
Nama orang tua:
Ayah DR (HC) H. Rusli Bintang
Ibu Dra. Rosnati Syech
Anak ke-4 dari 6 Bersaudara

Pendidikan:

 2010 – hingga sekarang, Universitas Diponegoro, program doktor ilmu hukum.
 2007 – 2009 Lampung University, Lampung Law Masters
 2002 – 2006 Lampung University, Lampung
 Majoring: S1, Law/the best graduates of law faculty
 1998- 2001 Senior High School at SMA Negeri 9 Bandar Lampung
 1995 – 1998 Junior High School at SMP Negeri 1 Banda Aceh
 1989 – 1995 Elementary School at Madrasah Ibtidaiyah Negeri I Banda Aceh

 

Hermanto Barus, SH, MH

No Comments

Hermanto Barus, SH, MH
Pengacara

Kebenaran Hukum Kalah Dengan Kepentingan Politik

Banyak kalangan menilai penegakan hukum di Indonesia sangat memprihatinkan. Banyak kasus hukum yang melibatkan orang-orang penting di negeri ini dibiarkan terkatung-katung tanpa penyelesaian yang pasti. Sementara kasus yang menimpa orang-orang “kecil” langsung diproses dan mendapat kepastian hukum.

Carut marut penegakan hukum di Indonesia, membuat rasa keadilan masyarakat terkoyak. Pelaku pelanggaran hukum kelas kakap –terutama korupsi- melenggang justru dengan berlindung dibalik penegakan hukum. Bahkan, pelaku tindak pidana yang sudah menjalani vonis mendapat pengurangan hukuman (remisi) yang dengan “baik hati” diberikan pemerintah.

“Di Indonesia, kebenaran hukum kalah dengan kepentingan politik. Di lapangan, yang terjadi adalah negosiasi sehingga orang yang benar secara materi pun, tidak bisa mendapat kebenaran hukum. Karena hukum masih kalah dengan kekuasaan sehingga lebih berpihak kepada penguasa dan pemilik modal besar. Sikap seperti itu sudah sangat mengakar sehingga sulit untuk mengikisnya,” Hermanto Barus, SH, MH., pakar hukum yang berprofesi sebagai pengacara.

Menurut Barus, “permainan” uang dalam dunia hukum di Indonesia sangat kental. Sejak pertama kali seseorang membuat laporan atas kasusnya, kekuatan uang sudah mulai bermain. Kasus yang dilaporkan akan sia-sia tanpa kelanjutan proses tanpa dana yang mencukupi. Tetapi dana yang jauh lebih besar dibutuhkan ketika laporan tersebut ditindaklanjuti. Bahkan secara terang-terangan, hakim yang menangani kasus gugatan perdata akan menanyakan kesiapan dana yang dimiliki penggugat.

Semua itu, lanjut Barus, sering dialami selama bertahun-tahun bertindak sebagai praktisi hukum. Memiliki perkara di pengadilan tanpa menyiapkan dana mencukupi harus siap untuk kalah. Kemenangan akan semakin jauh apabila berhadapan dengan pemilik dana besar dan tidak terbatas. “Banyak kepentingan terlibat, birokrasi ruwet dan banyak penyimpangan. Kadang kita kasihan kepada orang yang berperkara tetapi tidak punya uang. Bukan apa-apa, kebenaran kalah dengan itu sehingga kita harus siap sakit hati,” katanya.

Simpati terhadap orang-orang yang berperkara tetapi tidak didukung dana, Barus melakukan terobosan brilian. Tujuannya untuk memberikan bantuan kepada mereka yang terpinggirkan tersebut. Caranya, ia tidak menetapkan tariff terhadap jasanya sebelum perkara selesai. Setelah benar-benar menang, hitungan atas jasa pembelaannya baru dilakukan.

Namun cara ini bukan tanpa risiko. Karena tidak terjadi pembayaran selama berperkara, Barus sering menjadi korban penipuan. Jerih payahnya dalam membantu orang yang berperkara tidak dibayar. Tetapi semua diterimanya dengan ikhlas, karena niatnya adalah menolong. Ia menganggap, semua itu bukan rezeki yang diberikan Tuhan kepadanya.

“Mungkin rezeki saya ada pada orang lain, sehingga saya tidak memiliki beban karena itu. Yang penting saya tidak membohongi orang, biarlah saya yang dibohongi. Saya yakin Tuhan akan memberikan jalan lain, jadi saya tidak akan frustasi. Kalau mau kaya pasti akan kaya juga saya dan hidup harus kita nikmati,” katanya.

Dengan mengedepankan perasaan ikhlas, Barus yakin terhadap apa yang dilakukannya. Mengenai masalah rezeki, ia menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa Tuhan. Baginya, bekerja sebaik mungkin dan sebenar-benarnya dengan dilandasi sikap terbuka serta jujur dan profesional adalah segalanya. Sementara uang, akan mengikuti dengan sendirinya terkait pekerjaan yang dilakukan dengan baik.

“Saya sih terserah penilaian orang, yang penting keluarga saya sehat-sehat. Saya terus terang kepada klien, kalau benar bilang bener, kalau nggak ya nggak. Dalam menangani kasus, kita harus terbuka dan jujur, meskipun kadang menyakitkan. Karena kalau bohong akan ketahuan dan kalau benar seluruh kemampuan akan kita keluarkan untuk membelanya. Bahkan, sampai ke ujung dunia sekalipun saya bela,” tegas pria kelahiran Medan, 4 April 1965 ini.

Berdasar Pertemanan

Selama menekuni dunia kepengacaraan, Hermanto Barus, SH, MH melakukan dengan sepenuh hati. Ia mengedepankan profesionalisme dalam bekerja untuk penegakan hukum, seperti moto pengacara pada umumnya “meskipun langit runtuh, hukum tetap ditegakkan.”

Masalah uang, tidak pernah menjadi prioritas utama selama menjalankan karier. Bahkan, bisa dikatakan ia tidak pernah mengejar materi dalam setiap kasus yang ditanganinya. Dengan sikap seperti itu, Barus justru banyak mendapatkan klien tanpa harus mempromosikan dirinya. Tidak hanya klien dari dalam negeri, klien juga datang dari warga negara asing.

“Karena pertemanan saja. Mereka yang pernah saya tangani perkaranya akan mereferensikan saya kepada teman-temannya. Kadang testimony mereka dimuat di media massa, padahal saya tidak nyuruh lho. Itu mungkin menjadi wahana promosi bagi saya. Bahkan orang-orang India yang berperkara di sini banyak menggunakan jasa saya. Karena saya tidak pernah mengejar uang, mereka sendiri yang akan menentukannya. Saya hanya bekerja dan bekerja sebaik-baiknya,” tegas suami Emilia Ginting ini.

Dengan idealisme seperti itu, Barus tidak memiliki prasangka apapun terhadap persaingan yang terjadi dalam profesi yang ditekuninya. Ia tetap menjaga hubungan baik di antara para klien yang ditangani dan tidak pernah mengeluhkan masalah rezeki. Dalam menjalani hidup, ia berprinsip harus seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat.

“Dengan begitu hidup kita tenang. Kalau kita bawa uang untuk istri dengan perasaan tidak ikhlas hasilnya juga tidak baik. Biar sedikit yang penting nikmat,” imbuh pria yang berasal dari lingkungan PNS tersebut. Anak ke-6 dari tujuh bersaudara pasangan S. Barus dan Tarigan (Almh) ini mengungkapkan keyakinannya atas balasan Tuhan terhadap apa yang dilakukannya. “Saya menanam kebaikan dan Tuhan yang memberikan balasan,” tambahnya.

Barus mengakui, ia sering mengalami tindak penipuan hingga ratusan juta. Tetapi karena semua diterima dengan ikhlas, Tuhan memberikan balasan berlipat ganda. Setelah sepuluh tahun, ia tiba-tiba menerima dana miliaran rupiah dari kasus yang ditanganinya. “Sekarang baru memetik hasilnya jadi kita syukuri saja,” kata ayah dua anak –kelas I SMP dan kelas II SD- tersebut.

Tidak Takut

Sebagai seorang pengacara, Barus menyadari risiko yang harus dihadapinya. Menangani perkara-perkara besar, ia juga harus menghadapi orang-orang besar di belakangnya. Yakni tokoh yang memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk menggerakkan orang-orang untuk melindungi kepentingannya. Melalui ormas-ormas tertentu mereka melakukan intimidasi dengan tujuan untuk memenangkan perkara yang dihadapi.

“Saya pernah ditangkap dan diintimidasi karena memimpin di lapangan saat menangani perkara. Tetapi saya tidak takut karena merasa benar, sehingga berani meskipun konglomerat dengan dana tak terbatas yang saya lawan.  Pokoknya saya jalan terus dan memenangkan perkara tersebut,” katanya.

Meskipun demikian, pada saat-saat santai Barus membayangkan bagaimana besarnya risiko yang dihadapi. Ketika ditangkap dan diintimidasi –baik oleh aparat maupun ormas- segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi dalam situasi serba “kacau” dan tak terkendali, nyawa adalah taruhannya. “Bisa-bisa nyawa kita yang melayang. Makanya keluarga juga was-was kalau saya menangani perkara yang berat,” tuturnya.

Apalagi, kondisi belantara hukum saat ini jauh lebih besar risikonya. Berbeda dengan zaman dahulu yang lebih terbuka, sekarang sangat tertutup rapat untuk menyiasatinya. Keputusan pemerintah yang membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah salah satu faktor yang membuat “nilai” sebuah kasus hukum semakin tinggi. Namun, bukan berarti tidak bisa ditembus oleh orang-orang yang tergolong dalam barisan “mafia hukum” untuk melakukan jual beli perkara.

“Karena ada KPK, jual beli perkara menjadi lebih tertutup. Tetapi risiko yang besar telah membuat nilainya menjadi sangat tinggi. Tetapi itu juga menjadi dilemma, karena klien kadang juga menginginkannya. Kasihan kan, klien benar-benar habis-habisan. Kalau sudah begitu klien saja yang saya suruh maju,” katanya.

Menurut Barus, meskipun berisiko profesi pengacara bukan tidak menarik untuk digeluti. Secara materi, profesi ini sangat menjanjikan untuk ditekuni asalkan dijalankan secara profesional. Meskipun demikian, ia mengingatkan generasi muda yang ingin terjun ke dunia pengacara untuk tidak mengedepankan uang terlebih dahulu.

“Yang penting jangan sampai mengenal uang di awal. Nanti akan rusak duluan dan menjadi tidak fokus lagi. Jangan berhitung segala sesuatu karena uang. Karena masih muda harus idealis, rakyat kecil harus kita bela, jangan membela orang-orang yang punya uang saja. Orang pintar banyak, tetapi orang jujur jarang,” katanya.

Daftar riwayat hidup
Nama lengkap: Hermanto Barus, SH, MH
Tempat tanggal lahir: Medan, 4 April 1965
Pendidikan Terakhir:
FH Universitas Parahyangan Bandung (S1)
FH Universitas Parahyangan Bandung (S2)
Motto hidup: Hidup dengan apa adanya
Tokoh favorit: Prof. Subekti, SH (Mantan Dekan Unpar) DR. A. Koesdarminta (Mantan Rektor Unpar)

Pengalaman:
Tahun 1992-1998 menjadi asisten advokat Yan Apul & rekan
Tahun 1998 – sekarang mendirikan kantor hukum Hermanto Barus & rekan

Spesialisasi keahlian hukum:
Pidana Umum, Pidana Khusus, Perdata, Perkawinan dan Keluarga, Peradilan Tata Usaha Negara, Peradilan Hak Asasi Manusia, Kepailitan, Hak Atas Kekayaan Intelektual, Pengadilan Hubungan Industrial, Hukum Perusahaan, Keuangan dan Perbankan, Pasar Modal, Penanaman Modal, Tanah dan Properti, Ketenagakerjaan

Perkara yang pernah ditangani:
Perkara penyidik KPK, AKP Suparman
Perkara sengketa tanah di beberapa daerah
Kasus PT Optima Capital Securitas di Mabes Polri
Kasus PT Eshar Indonesia
Kasus PT Bumi Putera Capital Management
Kasus Yayasan Metodis, Medan
Kasus Penggelapan saham Merril Lynch
Dan perkara-perkara lain yang tdi bisa disebutkan

Alamat kantor:
HERMANTO BARUS & REKAN
Gedung Jaya, Lt 7 ruang 702
Jl. MH Thamrin No. 12 Jakarta 10340
Telp   : (021) 31935264
Faks   : (021) 31934014
HP     : 0817434100
Email : hbnrekan@yahoo.co.id

Gartono, SH, MH, DR (ip)

No Comments

Gartono, SH, MH, DR (ip)
Advokat dan Dosen

Pemilu Bukan Pesta Demokrasi Tetapi Seleksi Kepemimpinan

Pemilu Legislatif yang dilakukan setiap lima tahun sekali masih menyisakan tanya. Harapan rakyat membuncah untuk memilih pemimpin yang mampu berbuat siddiq, amanah, fatonah dan tabligh. Memiliki pemimpin dengan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad tersebut, membuat rakyat “tenang” menitipkan negara untuk diurus orang yang tepat.

Namun, pada penyelenggaraan pemilu ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Karena dalam prakteknya, banyak tindakan-tindakan tidak terpuji yang dilakukan demi memenangkan pemilu. Seperti membagi-bagikan uang, membeli surat suara, menyuap atau pun menggelembungkan jumlah surat suara. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi dalam pemilu legislatif, justru pada saat Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilihan Presiden pun  praktek serupa semakin vulgar dilakukan.

“Pemilu disosialisasikan dan dimaknai sebagai ‘Pesta Demokrasi’ sehingga dalam pelaksanaannya adalah hura-hura dan bagi-bagi uang (angpao seperti Imlek) tanpa menggunakan logika dan hati nurani. Akibatnya, hanya orang-orang yang memiliki uang akan terpilih sebagai ‘pemimpin’ yang perilakunya mencuri dan menipu rakyat. Hakekat pemilu adalah proses seleksi kepemimpinan. Yakni memilih pemimpin yang baik, bermoral, berkualitas, jujur, penuh dedikasi dan memiliki integritas tinggi. Itu hakekat pemilu yang benar,” kata Gartono, SH, MH, DR (ip), tokoh Advokat di Bogor.

Oleh karena Pemilu lebih mengutamakan unsur pestanya yang bernuansa fun, sementara unsur  demokrasinya terdistortif. Implikasi dari Pesta Demokrasi tersebut, maka terpilihlah penguasa yang mengendalikan negara untuk kepentingan kelompoknya dan dirinya. Penguasa yang menjadi kaki tangan asing dengan memfasilitasi kepentingannya yakni kemudahan mendapatkan konsesi dan monopoli serta mendapatkan kesetiaan rakyat Indonesia untuk bersedia bekerja dengan upah rendah.

Hal ini tidak lepas dari politik neo colonial yang diterapkan oleh penguasa-komprador yang mana pendidikan berorientasi pada ketersediaan buruh upah rendah dan intelektual yang tidak produktif seperti halnya “politik etis” kolonial Belanda pada awal abad 20.

Keadaan ini sebagai konsekuensi logis dari kegagalan kita ketika pemilu yakni salah memilih “pemimpin”. Karena kebanyakan rakyat telah menjual suara kepada para caleg tukang suap. Konsekuensinya terpilihlah tukang suap yang kemudian menjadi “penguasa oportunis” dengan orientasi memperkaya diri sendiri dan jauh dari seorang patriot yang berjiwa volunteer yang melayani rakyat.

Dengan memiliki pemimpin yang berjiwa patriot dan seorang volunteer -bukan petualang- Gartono yakin bahwa pembangunan Indonesia akan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Pembangunan yang semula hanya memberikan kesejahteraan bagi segelintir orang akan menjadi merata secara signifikan.

Gartono sangat yakin bahwa bangsa ini mampu menjadi bangsa besar, sejahtera dan bermartabat dengan perubahan di tingkat kepemimpinan. Untuk saat ini diperlukan pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas bagi masa depan bangsa, bukannya pemimpin oportunis pencari kekuasaan. Untuk itu, diperlukan pembangunan mental dan moral-spiritual melalui revitalisasi peran agama. Dengan demikian maka si miskin dan si melarat sekalipun akan memiliki harga diri dan tidak akan menggadaikan lagi suara kedaulatannya dengan Supermi ketika pemilu, Pilkada maupun Pilpres.

“Ke depan agar kita tidak hanya dikenal sebagai bangsa yang banyak utang dan korup, maka sebagai condito sine quo non bangsa ini harus melaksanakan Trisakti, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian bidang kebudayaan. Bahwa Trisakti ini ini hanya bisa dilaksanakan oleh pemimpin sejati yang sederhana. Negara kita harus berdikari dengan membiasakan rakyat, dari pejabat rendah sampai presiden harus hidup sederhana. Pokoknya seluruh elemen bangsa harus mau berkorban untuk negara,” ujar pria yang siap menjadi Presiden Republik Indonesia ini. “Insya Allah bilamana ditakdirkan menjadi presiden, saya akan membentuk kabinet yang terdiri dari para patriot dan volunteer yang akan melakukan upaya luar biasa dan bekerja dengan jujur serta tidak takut akan dimakzulkan oleh rakyat. Karena toh, jabatan adalah amanah,” imbuhnya.

Supremasi Hukum

Menurut Garnoto, pemimpin dalam setiap komunitas senantiasa diperlukan keberadaannya. Pemimpin memiliki makna positif yakni seseorang yang mempunyai kelebihan (shidiq, amanah, fatonah dan tabligh) dan menjadi suri tauladan yang dapat diikuti oleh masyarakat yang dipimpinnya. Dalam konsep demokrasi, rekrutmen dan seleksi kepemimpinan dilakukan melalui pemilihan umum. Konsep kepemimpinan di Indonesia bobotnya semakin meningkat secara hierarkis, seperti RT untuk memimpin sekitar 200 orang, RW 1000 orang. Sementara anggota DPR RI yang berjumlah 560 orang adalah pemimpin untuk membuat kebijakan bagi 225 juta penduduk Indonesia.

Memilih anggota DPR RI tentu sama hakekatnya dengan memilih pemimpin dalam skup kecil seperti RT. Di dalam proses pemilihan baik dalam skup kecil maupun besar, harus dihindari praktik jual beli suara. Anggota DPR RI yang terpilih dengan jalan membeli suara bukanlah pemimpin sejati. Karena dia adalah penguasa atau penyuap yang keberadaannya dimodali oleh sponsor atau penyuap – cukong. Akibatnya kebijakan yang diputuskan anggota DPR RI -yang merupakan produk politik dengan konsekuensi hukum- akan menguntungkan bagi dirinya sendiri, kelompoknya, para cukong (sponsor) kampanye dan para pelobi oportunis yang mencari kesempatan. “Kepentingan masyarakat menjadi urutan kesekian”. Fenomena ini tampak jelas dalam konfigurasi dan perilaku kekuasaan Orde Baru dan Rezim Reformasi sekarang baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif.

Kejadian tersebut mengakibatkan sebuah pemilu yang memakan biaya besar hanya menghasilkan penguasa. Akibatnya, hukum tidak lagi menjadi panglima sebagai sarana mewujudkan keadilan dan kebenaran. Tetapi produk hukum akan menjadi komoditi yang bisa diperjualbelikan “seenak udelnya” oleh anggota parlemen.

Dengan berhasil memilih pemimpin atau wakil rakyat melalui pemilu secara jujur dan adil tanpa suap, maka diharapkan aparat penegak hukum yang diseleksi oleh DPR RI seperti Jaksa Agung, KPK, MK, MA dan Komisi Yudisial serta Kapolri pun akan memiliki komitmen mewujudkan supremasi hukum, tanpa tebang pilih. Karena jika hukum sebagai panglima bagi siapapun, niscaya keadilan dapat menyinari bumi pertiwi dan tidak akan terjadi kebohongan publik secara sistematik yang dilakukan oleh Jaksa Agung, KPK, MK, MA dan Komisi Yudisial serta Kapolri seperti halnya dalam kasus “cicak vs buaya”  – Century Gate.

Jejak Rekam

Gartono, SH, MH dilahirkan di kota Bogor, 11 April 1965, merupakan anak pasangan HR. Kunrachmat dan Hj Hudjenah. Sebagai sorang advokat, Gartono menyukai slogan tentang pendobrakan, perjuangan dan penegakan keadilan. Tidak aneh, sebab ia sudah lama malang melintang di dunia kepengacaraan dan pergerakan. Gartono pernah satu kantor dengan advokat ternama, HM Dault dan Muchtar Pakpahan.

Ia juga bergaul dengan tokoh-tokoh garis keras seperti almarhum Prof. Deliar Noer dan Letjen (purn) HR Dharsono, H Ali Sadikin dan Hariman Siregar.

Gartono menamatkan SD dan  SMP di Bogor, tetapi menamatkan SLTA di SMA Muhammadiyah Pekalongan, tetapi lulus di SMA PGRI Kendal, Jawa Tengah. Meskipun pada awalnya bercita-cita menjadi wartawan, tetapi guratan nasib membawanya kuliah selama tujuh tahun di Fakultas Hukum Universitas Pakuan yang diselesaikannya pada tahun 1991 dengan predikat wisudawan terbaik. Ia menyelesaikan pasca sarjana (S2) di UNTAG Jakarta dengan IPK tertinggi. Sekarang menjalani proses pendidikan Strata 3 di universitas yang sama. Berdasarkan prinsip primus inter pares, maka rekan-rekannya sesama pengacara memercayai Gartono sebagai Sekjen Bogor Lawyer Club (BLC) pada tahun 2000.

Saat kuliah, Gartono adalah seorang aktivis pergerakan mahasiswa yang tidak pernah surut semangatnya. Tahun 1987-1989, Gartono terpilih sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa FH UNPAK. Satu tahun kemudian, ia menduduki posisi sebagai Presidium Badan Kontak Mahasiswa se-Jawa Barat dan Koordinator Presidium Senat Mahasiswa UNPAK.

Saat meletus Perang Teluk pada awal tahun 1990-an, Gartono mengibarkan bendera pembelaan terhadap rakyat Irak dengan mengambil posisi sebagai koordinator Komando Solidaritas Indonesia untuk Irak. Dalam rentang waktu 1992-1994, ayah dua putra dan satu putri ini menjadi koordinator Forum Pemurnian Kedaulatan Rakyat Wilayah Jabar dan Koordinator PCPP (Persatuan Cendekiawan Pembangunan Pancasila) Wilayah II Bogor, Gartono juga memegang posisi Ketua DPD GRM (Gerakan Rakyat Marhaen) Jabar.

Minat Gartono sangat luas, termasuk dalam bidang olahraga. Bahkan penggemar musik country ini tidak setengah-setengah dalam menekuni cabang olahraga pencak silat. Terbukti, ia pernah menjadi juara II Lomba Pencak Silat Kelas A se-Bogor tahun 1981. Olahraga renang dan lari pagi merupakan aktivitas yang dijalaninya dengan rutin. Sementara di bidang politik, sebelum menjadi Caleg No 1 DPR RI periode 2009-2014 dari Partai Matahari Bangsa, Gartono adalah kader utama Partai Amanat Nasional (PAN). Bahkan ia pernah terpilih sebagai Ketua DPD PAN Kabupaten Bogor pada tahun 2000. Karakter yang terbuka dan pemberani, sedikit banyak dipengaruhi oleh Bung Karno dan Jenderal Soedirman yang dikaguminya.

Banyak hal yang telah dilakukan Gartono bagi kota Bogor. Ia aktif memantau kinerja birokrat yang diindikasikan terlibat dalam korupsi dengan mendirikan Bogor Corruption Watch (1999). Ia juga melakukan pembelaan terhadap masyarakat miskin melalui LBH Merdeka sejak tahun 1991 yang didirikannya bersama Eggy Sudjana dan Dedi Ekadibrata (mantan tapol). Pada tahun 1998, ketika pengaruh Orba masih kuat mencengkeram, dengan berani Gartono mencalonkan diri sebagai Bupati Bogor bersaing dengan Kolonel Agus Utara Effendy. Pada tahun 2002, Gartono melakukan gugatan class action terhadap Menag RI Said Aqil Husein Al Munawar sehingga ia dijuluki sebagai Pendekar situs Batutulis. Berdasarkan sepak terjangnya tidak heran bilamana pada tahun 2008 Gartono mendapat apresiasi dari koran Jurnal Bogor dengan anugerah Jurnal Bogor Award.

Gartono sangat mencintai keberadaan Kebun Raya Bogor sebagai ikon kota hujan. Gartono sangat terkesan dengan keindahan dan keasrian Kota Bogor yang sangat klasik seperti pada tahun 1970-an. Kenangan masa kecilnya mengingatkan, di kiri kanan jalan protokol Kota Bogor dipenuhi pohon kenari sebagai peneduh jalan. Namun, sebagai warga Bogor, ia menyayangkan mental masyarakat Bogor yang sangat individualis sehingga dengan mudah ditekan penguasa.

Suami dari Ir. Safni ini berharap Kota Bogor bisa dijadikan kota wisata sejarah dan religi di samping wisata belanja. Selain itu, melihat sarana – prasarana dan SDM yang tersedia, Kota Bogor juga berpoensi untuk menjadi kota pelajar dan mahasiswa. Kunci untuk itu, terletak pada bagaimana kebijakan pengelola Kota Bogor, Pemkot dan DPRD. Mereka harus memiliki rasa cinta pada Bogor dan tidak hanya mencari kekayaan melalui jabatan yang diembannya.

Biodata:

Nama                : Gartono, SH, MH, DR (ip)
Tempat tanggal lahir    : Kota Bogor, 11 April 1965
Pendidikan             :
1.    SD Empang III Bogor
2.    SMP Negeri I Bogor
3.    SMA Muhammadiyah Pekalongan/SMA PGRI Kendal
4.    Fakultas Hukum UNPAK
5.    Pasca Sarjana UNTAG Jakarta
6.    Kandidat Doktor UNTAG Jakarta
7.
Pekerjaan             : Advokat
Organisasi            :
1.    Ketua DPP IKADIN 2007 – 2012
2.    Ketua Dewan Kehormatan DPC IKADIN Kab. Bogor
3.    Ketua Peradi Bogor Raya 2009-2012
4.    Sekjen MPS Gerakan Rakyat Marhaen
5.    Sekjen Komnas Pilkada Independen 2007
6.    Ketua Umum Senat Mahasiswa UNPAK 1987-1989
7.    Presidium Badan Kontak Senat Mahasiswa Jawa Barat 1989

Riwayat perjuangan        :
1.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Petani Cimacam, Korban Lapangan Golf pada tahun (1989-1992)
2.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Korban Waduk Kedungombo pada tahun (1988-1990)
3.    Melakukan Aksi-aksi Pembelaan terhadap Petani Rancamaya, Korban Lapangan Golf pada tahun (1989-1992)

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA

No Comments

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA
Managing Associate ALI LEONARDI N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES
Advocate – Legal Consultant – Attorney – Solicitor

Menjadi Kantor Advocate Dengan Reputasi Terbaik di Sumatera Utara dan Indonesia

Berdiri pada tahun 1993, ALI LEONARDI N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES pada awalnya menangani kasus-kasus pidana dan perdata. Seiring perkembangan dunia usaha maupun reformasi hukum, pelayanan ditingkatkan untuk memenuhi permintaan klien yang sangat majemuk. Sang pendiri, Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA memutuskan, lembaganya harus memposisikan diri dan memperluas serta meningkatkan bidang pelayanan hukum secara maksimal di seluruh Indonesia.

“Kami melayani client kami baik dari segi pemahaman hukum maupun peraturan di Indonesia sekaligus melakukan perlindungan hukum baik dalam bidang bisnis maupun kepentingan hukum lainnya. Kami, ALI  LEONARDI  N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES bangga menjadi salah satu kantor Advocate dengan reputasi terbaik di Sumatera Utara dan Indonesia. Di mana kasus-kasus besar yang mendapat perhatian publik di Indonesia selalu ditangani secara professional dan memuaskan,” katanya.

Melalui service dan pendekatan secara personal touch, Ali memberikan kenyamanan dan kerahasiaan klien. Ali senantiasa menjalin kehangatan serta membina hubungan baik dengan klien, sehingga setelah berjalan sekian lama, reputasi dan kepercayaan dari ratusan perusahaan besar dan kecil, baik industri maupun trading berhasil diperoleh.

Klien yang datang ke kantor ALI  LEONARDI  N., S.H., S.E., MBA. & ASSOCIATES, disambut dengan tata ruang modern minimalis. Berbagai elemen tradisional diolah hingga menghadirkan estetika yang unik. Ruang kantor tampak elegan dengan komposisi yang simple, namun unik, apik dan bersih. Dilengkapi dengan full air conditioned plasma lingkungan kantor tercipta suasana yang nyaman dan memanjakan bagi klien.

Selain itu, kantor dilengkapi dengan fasilitas computer, teknologi yang up to date, ruang meeting yang nyaman, dan dukungan Media Digital serta para Advocate dan staff yang ramah, professional dan energik. Sebagai garda depan dalam pelayanan klien, ruang kantor merupakan wadah interaksi antara lembaga dan klien, sehingga sudah selayaknya estetika penampilan interior ruangan diperhatikan. Karena, ruang yang nyaman dan menarik (eye catching), secara psikologis mampu menciptakan kehangatan dan kenyamanan bagi siapapun yang berada di dalamnya.

Sekilas Profile Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA

Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA lahir di Pulau Halang, Kab Bengkalis Riau, 14 Juni 1966. Pengacara handal ini berdarah blasteran Jepang – Chinese dengan marga Nakamura. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada dua bidang sekaligus secara bersamaan, yaitu: S1 Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa Medan tahun 1990 dan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Dharma Agung Medan tahun 1990. Sementara Pendidikan S2 berasal dari Pasca Sarjana Ekonomi, Jakarta Institute of Management Studies tahun 1999.

Pendidikan non formal yang diikuti Ali Leonardi N antara lain:
Pendidikan Perbankan tahun 1987
Pendidikan Akuntansi tahun 1983 – 1984
Lokakarya Management Personalia-IPMS tahun 1992
Pelatihan Management Mutu ISO 9000 Series tahun 1997 dan 1998
serta berbagai Seminar Hukum sejak tahun 1985 – sekarang.

Tujuan hidup atau the meaning of life yang dipegang teguh oleh Ali Leonardi N adalah “Tujuan hidup adalah hidup yang punya tujuan agar bermakna dan menjadi berguna untuk orang lain (sosial)”. Sedangkan agar selalu eksis dalam menjalani karier dan profesinya, ia menegaskan perlunya beberapa hal yang harus dikuasai. “Selain kecerdasan akal diperlukan juga kecerdasan emosional dan spiritual, kemampuan beradaptasi, inisiatif, optimisme dan ketangguhan,” ungkapnya.

Ali Leonardi Nakamura mengungkapkan dirinya selalu menerapkan bagaimana berusaha “Merangkul Client menjadi Partner”. Dengan cara dan strategi seperti ini, klien tidak merasa sedang berurusan dengan pengacara secara legal dan formal. Tetapi klien justru berhubungan dengan seorang partner, rekan kerja yang hangat dan ramah sehingga segala problematika yang dihadapinya diutarakan dengan jujur dan menyeluruh, layaknya curhat dengan seorang sahabat. Di dunia kepengacaraan, kejujuran dan keterbukaan klien akan memudahkan pengacara untuk menyusun langkah-langkah pembelaan bagi kliennya.

“Prinsip leadership saya adalah ‘Memanfaatkan kelemahan menjadi kekuatan dengan tidak menjadikan karyawan sebagai Superman tapi menjadi Superteam untuk mencapai tujuan perusahaan’. Adapun visi saya ’Selalu berorientasi pada tujuan akhir terhadap setiap langkah yang dibuat secara optimal dan disiplin, memiliki kendali diri dan sosial. Serta senantiasa belajar dari lingkungan dan selalu ambil hikmahnya atau positif thinking,” tandasnya.

Para Advocate maupun staff yang tergabung di ALI  LEONARDI  N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES adalah Advocate yang mempunyai dedikasi dan keahlian sesuai dengan bidangnya masing-masing. “Klien dapat berkonsultasi langsung dengan para advocate maupun staff kami serta dapat juga mempergunakan akses yang dimiliki oleh TEAM kami secara proporsional dan professional,” tegasnya.

Berikut ini daftar Associate yang tergabung dalam ALI LEONARDI N., SH, SE, MBA & ASSOCIATES:
Ali  Leonardi  N., S.H., S.E., MBA.
Karle Sitanggang, S.H.
Pramudya Eka Wijaya Tarigan, S.H.
Budi Abdullah, S.Ag., S.H.
Johan, S.H., M.M., M.H.
Erly Marliah, S.H.
Nurafni, S.E.
Hamsan Siregar, S.Pd.
Vera Adrian S., S.H.

Organisasi dan Badan Hukum

Ketua Umum    : Perkumpulan Kinologi Indonesia (Perkin) Sumatera Utara Periode tahun 1997 s/d 2003
Wakil Ketua: Dewan Pimpinan Daerah Sumatera Utara Patriot Bela Bangsa (PBB)
Wakil Ketua: Ikatan Alumni Universitas Dharmawangsa (IKADHA) periode 2000-2003 dan periode 2003 s/d sekarang
Ketua Bidang Hukum: Partai Demokrasi Perbaruan DPD Sumatera Utara
Ketua Bidang Hukum : Patriot Bela Bangsa DPD Sumatera Utara
Ketua Bidang Hukum: AR Center Calon Walikota Medan Period ke 2 tahun 2005
Dewan Pakar: Pujakesuma DPD Medan
Ketua Bidang Hukum: Yayasan Rokan Jaya
Pengurus: Lion Clubs Medan Metropolitan periode 2008 – 2009 Charter 3rd Vice President
Ketua Bidang Hukum: Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) cabang Medan
Komisaris Utama: – PT. Kharimantara Indonesia: – PT. Cimeric Indonesia – PT Digital Media Indonesia
Wakil Ketua Medan Lawyers Club periode 2011 – 2015

Pengalaman Penanganan Perkara

Penanganan kasus-kasus PT. Adam Skyconnection Airlines (Adam Air) secara Nasional di  seluruh Cabang di Indonesia)
Kasus PHK massal PT. Cakra Compact (PMA Singapore) – Medan
Kasus PHK massal PT. Healthcare Glovindo (PMA Malaysia) – Medan
Kasus PHK massal PT. Fulijaya toothbrush Indonesia (PMA Malaysia) – Medan
Kasus PHK massal PT. Baja Utama Wirasta Inti (BUWI Group)  – Medan
Kasus PHK massal PT. Indotechno Multi Industri – Tanjung Morawa
Kasus Narkoba, Graham CP (WN Australia)
Kasus Pemalsuan Merek Tanaka & Precision Tooling, PT. SCM (Jakarta, Manado, Gorontalo, Ngawi, Gombong, Jambi)
Kasus Penikaman di Palladium Plaza – Medan
Kasus Pembunuhan Pengusaha Muda di Capital Building – Medan
Kasus Tanker Terbakar di Sungai Siak dan KM Intan 9 – Pekanbaru
Kasus Palang Merah Perancis  (French Red Cross) di Aceh
Kasus Perceraian BRIAN DW, WN Australia
Kasus Sengketa Tanah CV. Paluh Jaya – Paluh Kurau Hamparan Perak
Kasus Sengketa Tanah dan Rumah,  di Kompleks Jati – Medan
Kasus Trafficking Jaringan International  di Rohir – Bagansiapiapi
Kasus Sengketa Tug Boat WN Singapore

“Saat ini, ALI LEONARDI N, SH, SE, MBA & ASSOCIATES merupakan Legal Consultant atau Penasehat Hukum Tetap bagi 200 perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak dalam bidang Trading, Industri, PMA, PMDN di berbagai daerah, seperti di Pulau Jawa -Jakarta, Tangerang, Sumatera Barat  – Padang, Kepulauan Riau, Pekan Baru – Dumai dan Bagan Batu, Sumatera Utara – Medan, Tanjung Morawa, Binjai, Stabat, Pangkalan Berandan, dan Langkat,” kata Ali Leonardi Nakamura, SH, SE, MBA seperti email-nya kepada PPBI.

Maya Miranda Ambarsari, SH., MIB

No Comments

Presiden Direktur PT. Indo Multi Niaga, PT. Indo Multi Cipta, PT. Indo Mineral Nusantara dan PT. Indo Mining Kencana (perusahaan-perusahaan di bidang pertambangan emas, dan mineral pengikutnya).

Bangga Pada Ketangguhan Perempuan Indonesia

Sebagai seorang perempuan dengan jabatan Presiden Direktur dibeberapa perusahannya, Maya Miranda Ambarsari, SH, MIB,tetap terlihat bersahaja, ramah dan low profile.

Ketika ditanyakan pendapat mengenai perempuan Indonesia, Maya terlihat sangat antusias dan bersemangat. Menurutnya, banyak sekali perempuan Indonesia yang mempresentasikan dirinya secara sempurna, baik itu berkaitan dengan urusan rumah tangga maupun kariernya.

Saya bangga sebagai perempuan Indonesia, lebih dari itu saya kagum dengan perempuan-perempuan Indonesia, yang mampu melakukan multitasks secara bersamaan, karir dan rumah tangga, tanpa ada yang dikesampingkan.

Walaupun begitu, saya juga kagum dan appreciate terhadap perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga dan melepas semua atribut yang ada. Itulah pilihan dantujuan hidupnya, mengabdi kepada keluargakata mantan Chairwoman of Srikandi, Association of Indonesian Women in Multinational Marriages ini.

Perempuan kelahiran 9 Juli 1973 ini menyebutkan bahwa perempuan hebat bukanlah berpatokan hanya kepada perempuan yang sukses berkarier. Perempuan hebat adalah perempuan yang tahu bagaimana berperan dalam menjalankan hidupnya. Contohnya: ibu dan kakak perempuannya, yang merupakan panutan Maya selama ini. Menurut Maya, mereka berdua melambangkan perempuan Indonesia yang ideal, perempuan yang mengerti menempatkan dirinya namun tangguh dalam mengarungi hidup.

Maya berpendapat bahwa ada hal-hal di mana seorang perempuan harus alert. Jangan sampai ketika perempuan berada dalam comfort zone, baik itu di karier maupun rumah tangga, lalu melupakan kewajibannya. Bila memilih menjadi ibu rumah tangga, mereka sebaiknya mengerti bagaimana mengurusi kebutuhan suami dan anak-anaknya, pandai mengaturkeuangan untuk mengamankan keluarga di masa mendatang, dan lain lai yang bersifat domestik” katanya. Sebaliknya, bilamana memilih berkarir, maka serius dalam melaksanakan pekerjaan, sehingga profesional dalam bekerja dan berpola laku, namun demikian urusan keluarga jangan sampai terlantar, sebaliknya, tetap harus diprioritaskan, jal ini merupakan konsekwensi pilihan untuk berkarir.

Maya sendiri sebenarnya adalah tipe perempuan multitasks yang lebih senang melakukan kegiatan di rumah. Meskipun sebagai pemilik perusahan-perusahaan tersebut di atas, dan juga kedudukan puncak, namun disisi lain, Maya sangat senang dengan kegiatan urusan domestik ini, seperti mendekorasi rumah, memasak, berkebun dan tentunya mengurus keluarga. Juga, bilamana sedang bersantai, Maya menikmati hari hari-harinya dengan berolahraga di rumah(berenang dan fitness) serta membaca dan menonton acara-acara favoritnya, misalnya National Geography (berkaitan dengan kehidupan alam). Bahkan, tidak jarang ia lebih memilih untuk menyelesaikana pekerjaan kantor di rumahnya yang asri di bilangan Cipete. “Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga adalah pekerjaan paling mulia dari seorang perempuan. ungkap ibu dari Muhammad Khalifah Yusuf (8 tahun) ini.

Maya berusaha menyeimbangkan antara karir dan keluarga, dan yang pasti, sisi spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Tidak heran, Maya biasa sholat tahajud ditengah malam, lalu tidur sejenak dan kemudian bangun pagi untuk shalat subuh, lalumemulai hari dengan berpikir positif. Sedangkan kegiatan mengaji, biasa dilakukan di mobil saat perjalanan menuju kantor. “Sambil menyelam minum air, sambil ke arah kantor, yaaa menimba pahala”, senyumnya lagi.

Maya menikmati semua kegiatan dan aktivitas rutin tersebut setiap harinya, tanpa rasa jenuh, bosan atau lelah. Menurutnya, selalu terdapat hikmah dan value yang dapat dipetik setiap hari dalam kehidupan ini. Meskipun terlihat monoton, rutinitas tersebut selalu memberikan hal-hal baru yang dapat diambil dan dipelajari. “Yaitu nilai positif kehidupan,” katanya penuh rasa syukur.

Seiring dengan membesarnya perusahaan dan banyaknya para konsultan ahli yang dipekerjakan untuk pelaksanaan pekerjaan pertambangan ini, membuat Maya dapat lebih mengatur waktu untuk kegiatan-kegiatan lainnya, baik itu untuk urusan keluarga (yang tetap menjadi prioritas Maya), terlibat dalam organisasi kewanitaan, juga aktif dengan kegiatan-kegiatan keagamaan.

Tapi yang jelas, semua itu membuat hidup saya menjadi penuh kebahagian. No more working hard, just working smart. Alangkah meruginya saya bila tidak bisa menikmati keindahan yang telah diberikan oleh Allah itu, dengan kegiatan-kegiatan positif,” tegasnya.

Maya mencontohkan beberapa keindahan anugerah Allah untuk dinikmati. Antara lain, menikmati perkembangan anak yang tumbuh dewasa, menikmati kehidupan keluarga yang bahagia, menikmati semua yang Allah telah berikan kepada Maya. Semua harus dinikmati dengan rasa penuh rasa syukur, salah satu perwujudan rasa syukur itu adalah dengan memaksimalkan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya, imbuhnya lagi.

Bahkan ketika nonton TV atau bersama-sama membaca koran di pagi hari dengan keluargapun, merupakan momen indah yang saya syukuri,” kata perempuan yang berlangganan banyak suratkabar dan majalah nasional ini.

Ia juga memiliki koleksi buku berkualitas yang tidak terhitung jumlahnya mengingat minatnya yang beragam. “Saya membiasakan membaca setiap hari untuk menambah ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Perusahaan untuk Kepentingan Masyarakat

Perusahaan-perusahaan Maya yang bergerak di dunia pertambangan ini, melakukan banyak hal bermanfaat bagi masyarakat di sekitar perusahaan beroperasi. Seperti pembangunan jalan, jembatan, sekolah, rumah ibadah sampai listrik dan telepon, kesehatan, pendidikan adalah merupakan program-program yang diaplikasikan kepada pada masyarakat sekitar.

Walaupun stigma perusahaan tambang itu bersifat komersial, namun sisi sosial dan kemanusian adalah salah satu tujuan kami dalam mendirikan perusahaan, jadi tidak profit semata. semaksimal mungkin membuka lapangan pekerjaan dan bagi yang memiliki potensi, di gandeng untuk ikut mengkontribusikan kemampuannya dalam rangka kegiatan pertambangan ini,” kata istri Ir. Andreas Reza, MH ini.

Perusahaan yang dikelola Maya tidak akan memberikan janji-janji kepada masyarakat, namun, Maya berusaha melakukan yang terbaik sepanjang kemampuannya, misalnya membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan, membangun perekenomian swadaya, membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan mutu pendidikan. Tujuannya, supaya masyarakat di sekitarnya memproleh perbaikan ekonomi. Selain itu, rakyat juga ikut merasakan benefit-benefit laindengan keberadaan perusahaan yang beroperasi di daerah mereka.

Maya bahkan sangat ingin melihat masyarakat di sekitar perusahaan mampu mandiri. Artinya, mereka tidak hanya sekadar sejahtera tetapi juga menularkan kesejahteraan kepada masyarakat lain. Sedangkan para karyawan perusahaan, diharapkan memberikan kontribusi semaksimal mungkin terhadap perusahaan. Untuk mencapai keberhasilan dalam pekerjaan, Maya tidak ragu-ragu untuk memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menimba ilmu, entah itu melanjutkan sekolah, memberikan training-training, seminar, workshop dan lain-lain. Bahkan Maya berujar bahwa perusahaannya adalah tempat dimana para karyawan diberikan kesempatan untuk menimba ilmu seluas-luasnya, “anggap saja bekerja diperusahaan ini seperti sekolah tapi dibayar, sehingga setiap pekerjaan dianggap sebagai sarana belajar dan mencari ilmu serta pengalaman”.

Apabila suatu ketika karyawan memperoleh tawaran dari perusahaan lain yang lebih menarik di perusahaan Maya, maka Maya dengan lapang dada akan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada karyawan tersebut. Maya menganggap bahwa “by nature” manusia akan mencari kehidupan yang lebih baik, yang terpenting disini adalah karyawan tersebut sudah dibekali oleh ilmu, dan pengalaman di perusahaannya sehingga InsyaAllah berguna bagi bagi masa depannya karyawannya nanti.

Apa yang mendasari Maya sehingga ia berpikir demikian? Ternyata jawabannya sederhana, “Semua itu karena didikan orang tua yang lebih banyak memfokuskan pada bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat untuk kepentingan orang banyak, sesuai dengan doa saya, semoga Ya Allah hambaMu ini menjadi manusia yang berguna bagi manusia lainnya”.

Dalam menjalankan bisnisnya, tidak hanya melulu berfokus pada pekerjaan, namun juga norma dan kaidah yang berlaku, menyangkut agama, sosial, organisasi dan kesejahteraan masyarakat banyak sehingga balancedalam melakoni pekerjaan. Kami juga membangun corporate culture yang antara pemilik, manajemen dan karyawan adalah satu kesatuan (unity) dan menerapkan sistem kekeluargaan, hingga bilamana merupakan bagian keluarga, maka semua merasa memiliki perusahaan ini, merasa bahwa I’m a part of the family, sehingga sense of belonging nya tinggi,” ungkapnya.

Maya tidak mengingkari bahwa dalam menjalankan bisnis, perusahaan tidak lepas dari orientasi mendapatkan keuntungan maksimal, meskipun demikian, tetap sesuai dengan cita-citanya yaitu dengan niat baik dan keinginan luhur untuk menyejahterakan masyarakat. Harapan saya, Perusahaan dapat memberikan value yang baik bagi mereka, kalau suami atau istri bekerja, anak-anaknya akan bisa sekolah atau memiliki kehidupan yang lebih baik. Jadi kalau kita tarik garis lurus, tujuan membangun perusahaan selain mencari profit, tetapi inti dari perusahaan adalah berbuat kebaikan,” kata perempuan yang juga menjadi Presiden Direktur pada PT Indo Multi Niaga, PT. Indo Multi Cipta, PT. Indo Mineral Nusantara dan PT. Indo Mining Kencana ini.

Seni Menjalankan Bisnis

Maya Miranda Ambarsari, SH., MIB memang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang mining/pertambangan. Meskipun demikian, semua itu tidak lantas membuatnya ciut dan tidak percaya diri. Justru sebaliknya, Maya merasa tertantang pada bidang pekerjaan yang menurut orang lain “pekerjaan keras dan dunia lelaki” tersebut.

Dengan background sebagai lawyer dan Master di bidang Internasional Bisnis, (MIB) dari Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia, Maya justru terpacu dan pantang mundurdalam menjalani bisnis pertambangan. Bekerja dan belajar dengan keras serta jatuh bangun dalam mengawali karir merupakan bagian dari perjalanan proses perusahaan pertambangan yang dikelola bersama suaminya yang juga partner bisnisnya.

Dalam pekerjaan suka-duka dan riak-riak pasti ada. Tetapi bukankah suka duka itu seni dalam menjalankan bisnis. That’s the art of doing the business, jadi hadapi, jalani saja. Kenapa saya yang duduk di sini, pasti Allah memiliki tujuan tersendiri karena banyak perempuan hebat lain,” tandas Maya yang juga kadang jadi Penulis dan kontributor independent di beberapa majalah ini.

Namun demikian, latar belakangnya sebagai lawyer justru banyak membantu. Begitu juga dengan International Businessnya, memudahkan Maya untuk berhubungan dengan para pemain perusahaan mining lainnya dan konsultan-konsultan asing dalam memahami seni bisnis dari sudut hukum. “Yang pasti, pada awal pendirian dan menjalani perusahaan yang melibatkan hajat hidup orang banyak ini membutuhkan kerja keras ekstra, baik secara physically, mentally dan tentunya spiritually. Ibaratnya kami ini adalah nahkoda-nya,” katanya.

Dalam menjalankan perusahaan, Maya selalu mempedomani ajaran kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Di mana seorang pemimpin haruslah bersifat Sidiq, Amanah, Tabliq dan Fatonah, yang dijabarkan sebagai berikut:

  • Sidiq, kejujuran, kebenaran selalu mendasari perilakunya sebagai Pemimpin

  • Amanah, kepercayaan yang diembannya tidak akan dikhianatinya

  • Tabliq, keterbukaan menjadi cara Maya memimpin sehingga bawahan dapat mengetahui dan memahami kemana arah yang dituju perusahaan ini. Visi dan misi perusahaan selalu dijelaskan kepada seluruh jajaran sehingga mereka mampu mengikuti gerak langkah perusahaannya

  • Fatonah, cerdas, diwujudkan dengan terus menerus belajar, baik formal maupun non formal. Hal ini juga dilakukan terhadap karyawan sehingga mereka selalu meningkat kompetensinya

Sebagai orang berdarah suku Jawa dari garis papanya (H.M. Yusuf, SH, MBA, MH) Maya menerapkan asas-asas kepemimpinan menurut filsafat Asta Brata. Ajaran ini mengharuskan seorang pemimpin mewujudkan sifat-sifat yang dicontohkan oleh 8 (delapan) anasir alam yaitu api, angin, air, tanah, matahari, bulan, bintang dan mega. Memberikan kesejahteraan kepada bawahan seperti sifat tanah sebagai sumber penghidupan, memberi kesejukan seperti sifat mega, berlapang dada seperti lapang/luasnya lautan, memberi arah seperti sifat bintang dan lain-lain. Sementara sang ibu Hj. Emmylia Latifah Yusuf berasal dari Bengkulu, Maya menerapkan filosofi; berani mengekpresikan apa yang menurutnya benar, tidak takut menegakkankebenaran dan pantang menyerah, gigih dan ulet dan selalu ber optimis.

Menjalankan perusahaan pertambangan tidak dapat diibaratkan seperti air mengalir. Sebaliknya, kadang saya bahkan harus menantang aliran arus air itu. Semua saya lakukan mengingat usaha ini menyangkut hajat hidup orang sehingga harus tenang, fokus dan serius,” kata alumni Fakultas Hukum Universitas Pancasila Jakarta ini.

Di tengah ribuan tenaga kerja diperusahaannya yang 97 persen laki-laki, ia menempatkan dirinya menjadi figure seorang ibu yang memberikan keteduhan, namun juga tegas.

Dalam menyelesaikan persoalan, saya berusaha untuk mengajak mereka berdialog dan siap ditemui kapan saja. Everybody is welcome, bicara secara heart to heart,” kata mantan model, koreografer dan juri beberapa kontes modeling ini.

Tidak hanya di kantor, Maya juga menerapkan keterbukaan di lingkungan tempat tinggalnya. Di mana rumahnya terbuka untuk kegiatan sosial,bahkan, salah satu rumahnya digunakan untuk berbagai kegiatan mulai pengajian, Posyandu, PKK hingga rapat RT/RW. Saya yakin rumah itu akan menjadi barokah dengan kegiatan tersebut. Pesan saya, setinggi-tingginya kita mengejar impian dalam dunia bisnis, maka setinggi-tinggi pulalah kita mengejar kebaikan, investasi dunia akherat, katanya mengakhiri perbincangan hangat tersebut.

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM

No Comments

Guru Besar dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Pendidikan Sebaiknya Mengutamakan Pembinaan Mental dan Keterampilan

Beberapa tahun belakangan, di Indonesia bertebaran sekolah internasional. Pendidikan yang mengacu pada kurikulum luar negeri tersebut segera saja menarik minat orang tua. Meskipun harus mengeluarkan dana sangat besar, mereka berbondong-bondong mengirim anak-anaknya ke sekolah yang dianggap bermutu global tersebut.

Daya tarik yang segera terlihat dari sekolah internasional adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar. Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik, selama ini terbukti sangat membantu karier di kemudian hari. Sedangkan kurikulum, silabus dan lain-lain adalah alat untuk meningkatkan kemampuan akademis siswa.

“Sebenarnya dalam pendidikan di samping terkait pembinaan mental, attitude, keterampilan dan lain-lain, tidak ada yang terkait langsung dengan bisnis. Tetapi pendidikan menurut hemat saya lebih mengutamakan pembinaan sifat mental di samping keterampilan. Karena kalau sikap mental tidak diperkuat dalam diri peserta didik, tidak tertutup kemungkinan menghasilkan manusia-manusia yang seluruh aktivitas seakan-akan hanya mengejar keuntungan material belaka,” kata Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., Guru Besar dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tentu saja, pendidikan bermutu bukan berarti tidak boleh mencari keuntungan. Apalagi kalau pendidikan yang diselenggarakan terkait dengan pendidikan entrepreneur, wira usaha dan lain-lain. Meskipun demikian, pendidikan bermutu internasional belum teruji secara akademik karena baru muncul beberapa tahun belakangan. Berbeda dengan perguruan tinggi yang sudah lahir berabad-abad lamanya, sehingga produk perguruan tinggi –dengan berbagai spesialisasinya- sudah teruji di lapangan.

Yang perlu disadari, lanjut Prof. Amin, pendidikan bermutu internasional harus diuji dalam jangka panjang. Karena bagaimana pun hasilnya, pendidikan tidak hanya harus bermanfaat bagi diri orang yang bersangkutan tetapi juga orang lain, bangsa dan negara. Dalam bahasa agama, pendidikan tidak hanya peduli dengan hal-hal yang bersifat fardhlu ain, tetapi juga berorientasi kepada kepentingan orang banyak atau fardhlu kifayah.

“Itu harus selalu seimbang. Dan terkait dengan itu, perlu dipikirkan tentang keseimbangan mengenai hal-hal yang bersifat proporsional dan profesional. Harus diperhatikan juga bagaimana pemerataan kesejahteraan dan harus mempertimbangkan komposisinya juga. Jangan sampai yang kaya mendapatkan sama seperti orang miskin. Begitu juga dengan keadilan, karena keadilan tidak identik dengan persamaan perlakuan. Ada yang mutlak perlu dibantu, tetapi ada juga yang hanya sedikit memerlukan bantuan,” tukas guru besar kelahiran Cilegon, 5 Mei 1955 ini.

Kemerdekaan dan Kebebasan

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., menyebutkan pentingnya peningkatan tingkat pemahaman agama dan budaya secara matang. Peristiwa-peristiwa yang marak terjadi di tanah air tidak lepas dari minimnya upaya untuk memberikan pengetahuan yang baik kepada masyarakat. Pemerintah lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan secara ekonomi tanpa memedulikan efek sosial yang negative di lingkungan masyarakat kelas bawah.

“Masalah keamanan mungkin masyarakat sudah cukup aman terhadap tindakan kriminal. Tetapi masalah kenyamanan masih sangat jauh dari kondisi ideal, pokoknya masih perlu ditingkatkan lagi. Ini akibat berbagai faktor, diantaranya faktor ekonomi, tingkat pemahaman agama, dan budaya yang relatif rendah. Penyuluhan melalui media memang perlu, tetapi efektivitasnya perlu ditinjau lagi. Soalnya lebih banyak hiburannya,” tegasnya.

Prof. Amin juga mengingatkan meskipun demokratisasi di Indonesia sangat diperlukan, tetapi tidak identik dengan liar, tidak terkontrol, lepas kendali dan tidak tertib. Begitu juga dengan eforia kebebasan sejak reformasi hingga sekarang terus berlanjut harus disikapi dengan bijaksana. Jangan karena mengatasnamakan reformasi dan kebebasan, kemudian mengkritik orang lain dengan semena-mena, apalagi sampai merugikan bangsan dan negara.

“Tidak boleh itu, kritik harus diutarakan dengan bahasa baku, yang sopan dan santun, sesusai karakter bangsa timur yang beradab dan berbudaya. Boleh juga dengan bahasa sindiran tapi tetap yang sopan dan humanis. Tapi memang harus diakui, bahwa keterbukaan sekarang sudah jauh berbeda dari masa lalu. Kemerdekaan dan kebebasan di segala bidang bisa dinikmati seluruh bangsa ini. Meskipun demikian, kemerdekaan berserikat, berkumpul harus berada dalam koridor yang jelas. Terus terang, saya merindukan adanya GBHN sebagai guidance dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” cetusnya.

Kepemilikan guidance sebagai acuan, jelas Prof. Amin, siapapun partai pemenang Pemilu memiliki pedoman yang pasti dalam menjalankan roda pemerintahan. Pemerintah tinggal menjalankan “blueprint” dalam pembangunan di segala bidang dan akan dilanjutkan oleh pemerintahan berikutnya. Dengan begitu, program pembangunan akan terus berkesinambungan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia secara adil dan merata.

Harus diakui, bahwa terjadi peningkatan tingkat perekonomian di Indonesia pasca reformasi. Geliat perekonomian sangat terlihat di kota-kota besar meskipun tidak berimbas pada kesejahteraan secara langsung. Pada sebagian masyarakat bisa menikmati pergerakan ekonomi sehingga mampu hidup sejahtera. Sementara sebagian lainnya masih tetap berkutat di tengah himpitan kemiskinan, dengan tanpa tahu jalan keluarnya.

“Jadi bukan hanya semata, ekonomi sudah normal tetapi kesejahteraan yang harus diperhatikan. Mungkin kalau keadilan bisa terukur, kemerataan terukur, keberkahan pasti datang. Kalau sekarang belum bisa mengatakan bahwa kita bangsa yang penuh keberkahan, karena keadilan bisa dilihat seperti apa. Tetapi yang membuat khawatir, sektor riil belum sebaik yang diharapkan. Terutama menyangkut lapangan pekerjaan untuk orang kecil. Itu yang perlu diatasi,” katanya.

Pendidikan Entrepreneurship

Menyoroti kemandirian bangsa, Prof. Amin mengungkapkan perlunya penciptaan lapangan pekerjaan. Dengan kondisi bangsa seperti saat ini, sangat diperlukan insan-insan yang mampu menciptakan lapangan kerja, termasuk memperhatikan sektor riil. Selama ini, sektor riil kurang mendapat perhatian memadai oleh pemerintah yang lebih mengagungkan tercapainya kondisi makro perekonomian.

“Akibatnya, pengangguran akan semakin membengkak yang berakibat keamanan semakin rawan. Kalau penciptaan lapangan pekerjaan tidak memproduksi sesuatu yang dibutuhkan manusia –misalnya keterampilan yang sifatnya tidak menghasilkan produk bagi hajat hidup orang banyak- hasilnya justru menciptakan masalah tersendiri. Karena kesiapan pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan lain-lain tidak diperhatikan menjadi salah satu penyebab ketimpangan sosial,” ujarnya.

Masalah yang sangat mengundang keprihatinan adalah orientasi pembangunan yang hanya fokus di daerah perkotaan. Padahal, pembangunan di daerah pedesaan juga harus diperkuat agar terjadi keseimbangan. Selain itu, masyarakat petani di pedesaan harus ditingkatkan daya saingnya sehingga mampu menghasilkan produk pertanian berkelas internasional. Begitu juga masyarakat perikanan atau perkebunan, dengan daya saing yang meningkat mereka bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Generasi muda sekarang, lanjutnya, terutama mahasiswa memiliki kreativitas yang lebih tinggi. Apalagi bila dibandingkan dengan saat dirinya masih menjadi mahasiswa tahun 1970-an. Sedikit banyak telah terjadi pergeseran orientasi dari mahasiswa yang hanya menuntut ilmu sebanyak mungkin menjadi mahasiswa yang selalu mengaitkan aktivitas keilmuannya dengan masalah pekerjaan. Bahkan, mahasiswa sekarang sudah memikirkan gaji yang akan diterimanya apabila lulus sebagai sarjana.

“Yang harus didorong adalah orientasi generasi muda untuk menciptakan pekerjaan dan bukan hanya sekadar mencari pekerjaan. Ini akan sangat membantu negara untuk mengatasi pengangguran, meskipun harus ada bekal pengetahuan bagi mereka. Salah satunya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang sukses adalah mengirim anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin. Anak-anak itupun harus dipekerjakan untuk menimba pengalaman dilandasi bahwa pengalaman tidak ada gurunya, harus melalui proses,” tegasnya.

Namun, lanjutnya, untuk membangkitkan jiwa entrepreneurship di kalangan generasi muda bukanlah perkara mudah. Untuk menjadi entrepreneur yang baik dan tangguh generasi muda harus memiliki pengetahuan yang mumpuni dan tidak setengah hati menggarap bidang yang ditekuninya. Selain itu, generasi muda juga harus membangkitkan semangat dan spirit optimisme dalam menatap masa depan yang lebih baik. Generasi muda sebagai entrepreneur harus memperhatikan hal-hal yang menyangkut aqidah, moral dan attitude.

“Dari kacamata agama, Imam Syafei misalnya mengatakan bahwa pemuda akan bermakna kalau memiliki dua hal. Pertama ilmu pengetahuan, kedua ketakwaan dari dalam dirinya. Ketiga ingin saya tambahkan yaitu keterampilan. Yang dari luar adalah lapangan pekerjaan dan bila perlu dia yang menciptakan lapangan pekerjaan tersebut. Sehingga jiwa entrepreneurship hanya dapat diwujudkan oleh orang-orang yang mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Kalau tidak punya percaya diri, susah membangun entrepreneurship,” tegasnya.

Bergilir dan Bergulir

Menurut Prof. Amin, terdapat perbedaan besar antara entrepreneurship dan kepemimpinan. Entrepreneurship lebih banyak mengedepankan kemauan kuat, usaha yang gigih serta keuletan dalam berusaha. Sementara kepemimpinan terkait erat dengan jenjang karier dan tahun-tahun penuh pengalaman. Tempaan dalam pengalaman akan membuat seseorang tumbuh menjadi pemimpin baik, bijaksana dan tangguh dalam menghadapi persoalan.

“Sulit bagi seorang entrepreneur untuk memahami sikap pemimpin dan kepemimpinan. Oleh karena itu, jenjang karier tetap penting karena tidak bisa seorang tanpa pengalaman memadai tiba-tiba menjadi pemimpin. Pemimpin yang tidak berpengalaman akan mengalami kesulitan, baik memimpin perusahaan atau negara. Pengalaman kepemimpinan adalah sesuatu yang mutlak perlu, tidak bisa ditawar-tawar dan tidak dapat dicapai dalam satu atau dua bulan. Karena, selain bekal ilmu dan bantuan orang lain, memimpin adalah seni yang tidak semua orang memilikinya,” tuturnya.

Namun, di era modern sekarang ini cukup susah bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman sebagai kepemimpinan. Kurangnya upaya pelatihan kepemimpinan membuat kesempatan menjadi sempit untuk mengembangkan diri sebagai pemimpin. Kalau pun ada pelatihan, biasanya dimaksudkan untuk kepentingan-kepentingan pragmatis pekerjaan saja. Sangat mungkin, penyebab minimnya pelatihan kepemimpinan adalah akibat kesibukan masing-masing.

Berbeda ketika Prof. Amin masih duduk di bangku kuliah saat itu serta generasi sebelumnya. Saat itu, untuk menjadi pemimpin seseorang cukup mengandalkan kemampuan dan skill individu yang dimilikinya. Sementara untuk sekarang ini, siapapun asalkan memiliki dana yang mencukupi bisa meng-higher dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin. Banyak lembaga-lembaga konsultan profesional yang dapat memberikan nasihat mengenai seputar kepemimpinan.

“Bahkan sampai pada teknik pidato dan penampilan pun sudah disiapkan. Sebelum reformasi, kepemimpinan berdasarkan pengalaman dengan ditunjang lembaga-lembaga masyarakat. Sementara sesudahnya, pengaruh partai sangat luar biasa dominan di segala bidang sehingga pemimpin sudah terkader melalui parpol-parpol yang ada. Kalau PNS dahulu, kariernya yang sangat menentukan, tetapi sekarang, sedikit banyak Parpol bahkan organisasi lain sudah turut mempengaruhi. Mungkin sudah tidak ada tempat yang steril tanpa partai (baca: politik),” ungkapnya.

Meskipun demikian, harus diakui bahwa saat ini pemerintah tidak memiliki pedoman sebagai agenda masa depan bangsa. Mestinya, bangsa Indonesia harus menoleh sejenak ke masa-masa lalu, walau Orde Baru sekalipun memiliki langkah-langkah strategis pembangunan masa depan bangsa yang tertuang dalam GBHN. Sementara saat ini, bangsa Indonesia tidak memiliki pedoman untuk tujuan masa depannya sendiri.

Seyogyanya, lanjut Prof. Amin, pedoman seperti itu harus tetap dimiliki oleh bangsa besar seperti Indonesia. Pedoman sebagai agenda masa depan bangsa harus jelas dan mudah dipahami, baik oleh pimpinan maupun masyarakat luas sehingga, semua orang tahu apa yang akan dituju. Dengan jelasnya tujuan, apapun yang terjadi selama perjalanan akan dianggap sebagai bagian dari agenda tersebut.

“Kalau sejak awal sudah jelas, perjalanan kita pun akan lancar dan efisien, meskipun pemerintahan berganti secara periodik. Pembangunan itu yang penting Bergilir dan Bergulir. Bergulirnya, satu periode diprioritaskan dalam suatu hal, setelah itu berganti fokus pada bidang yang lain. Nah, bergilirnya setiap lima tahun sekali pemerintahan berganti. Makanya kita harus optimis, tidak boleh pesimis,” tandasnya.

Integrasi Agama dan Umum

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM., dibesarkan dalam lingkungan santri yang sangat kuat. Ayah dan ibunya, Sulaiman bin Semaun dan Hj Maimunah Munawarah binti H Ali Hasan, adalah sepasang guru ngaji yang sangat disegani di kampungnya, Cilurah – Kepuh Ciwandan – Cilegon. Selain memberikan pelajaran mengaji Al Quran secara gratis, keduanya menekuni pertanian sebagai tulang punggung perekonomian keluarga.

“Bapak dan Ibu sangat menyayangi anak-anaknya sekaligus sebagai teman bermain yang sangat menyenangkan. Bapak dan Ibu juga merupakan guru saya yang pertama dan terakhir, terutama dalam bidang baca Al Quran serta penghayatan dan pengamalan agama secara konsisten dan continues. Termasuk juga dalam syiar agama Islam melalui pengajian Al Quran,” kata pengajar S1, S2 dan S3 di berbagai perguruan tinggi agama Islam di Indonesia ini.

Masih lekat dalam ingatan Prof. Amin, bagaimana ayahnya membuatkan mainan layang-layang yang sangat disukainya. Sang ayah juga memberikan dukungan penuh terhadap hobinya untuk menangkap ikan atau belut di sawah (ngobor), berburu burung dan memancing ikan di laut. Ia juga tidak segan-segan untuk “ngangon kerbau” sambil ikut membajak sawah sampai mencarikan rumput untuk kerbau-kerbau piaraannya.

Namun, semua kegiatan yang sangat menyenangkan tersebut harus terhenti saat dirinya mondok/ sekolah di Citangkil. Ia diwajibkan untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya sampai selesai, dan kalau perlu sampai ke negeri China. Saat itu, banyak nasihat-nasihat indah dan menjadi pegangannya melayari kehidupan yang terucap dari mulut bapak, ibu dan H. Ali Hasan, kakeknya.

“Bapak bilang kalau saya harus fokus sekolah dan belajar dengan penuh semangat, supaya pintar tetapi benar. Nanti kalau sudah pintar, mau apapun atau kemanapun, insya Allah terlaksana. Sebelum masuk IAIN, beliau berpesan agar kuliah dengan benar dan kalau sudah menemukan perempuan yang baik langsung menikah saja. Sementara kakek mendoakan saya agar menjadi kyai yang kaya raya, karena meskipun pintar tanpa harta kurang dihargai masyarakat,” kata professor yang berlatar belakang pondok pesantren ini.

Selain itu, Prof. Amin juga sangat memegang teguh nasihat dari paman kebanggaannya, KH Mahmud. Nasihatnya agar dirinya “mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum” terus diamalkannya hingga kini. Nasihat tersebut, karena saat itu terjadi dikotomi antara pendidikan agama dan umum, terpisah jurang yang menganga lebar. Hampir mustahil untuk mempertemukan kaum santri dengan sekolah bernapas Islam sekalipun.

Hal itulah yang mendorong Prof. Amin dalam pendidikannya untuk selalu menempuh dua bidang secara bersamaan, agama dan umum. Ia menyelesaikan pendidikan Strata 1 di Fakultas Syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada saat berbeda, ia juga mengikuti pendidikan Strata 1 di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Begitu juga saat mengambil S2, yakni Magister Syariah pada Pasca Sarjana IAIN Jakarta dan Magister Manajemen pada Pasca Sarjana Universitas Tama Jakarta.

“Keinginan kuliah double degree ini terus terang semakin terpicu dengan nasihat beberapa orang dosen saya ketika masih duduk di bangku Fakultas Syariah IAIN Jakarta. Dua dari padanya adalah dosen ilmu hukum, yakni DR. H. Anwar Harjono, SH (Alm) dan terutama Prof. H Arso Sosroatmodjo, SH. Prof. Arso yang paling getol mendorong seraya meyakinkan bahwa mahasiswa Fakultas Syariah hampir dapat dipastikan mampu menyelesaikan kuliah pada Fakultas Hukum, meskipun belum tentu sebaliknya,” ungkap suami Hj Kholiyah, S.Ag, MA, dan ayah dari sebelas orang anak serta tiga orang cucu ini.

Sebelum menjadi dosen dan guru besar pada berbagai perguruan tinggi, Prof. Amin telah memiliki bakat mengajar sejak muda. Prof. Amin antara lain tercatat sebagai guru tidak tetap Madrasah Ibtidaiyah Mathalub Falah Cilurah (1972-1974), guru SMP Kelurahan Ciracas Jakarta Timur (1980), MAN 3 Jakarta (1982-1985). Selain itu, Prof. Amin sampai sekarang masih aktif menjadi nara sumber pada beberapa Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Depag RI, Pusdiklat Mahkamah Agung RI, Pusdiklat Departemen Hukum dan HAM RI, Pusdiklat Kejaksaan Agung RI dan lain-lain. Bidang yang diajarkannya terutama dalam kajian ilmu hukum Islam, ekonomi Islam serta agama dan budi pekerti.

Prof. Amin memulai kariernya di dunia pendidikan benar-benar dari bawah. Dimulai dari Staf di Fakultas Syariah (1981-1982) kemudian menjadi Kepala Seksi Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Syariah (1982-1984), Kepala Seksi Pendidikan dan Pengajaran Fakultas Syariah (1984-1986), Koordinator Praktikum Fakultas Syariah (1989-1990), Ketua Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah (1990-1992), Kepala Pusat Pengabdian Pada Masyarakat IAIN Syarif Hidayatullah (1992-1995), Kepala Pusat Penelitian IAIN (1995-1998). Kemudian Dekan Fakultas Syariah (1998-2002), Hakim Ad. Hoc HAM pada Pengadilan Tinggi Jakarta (2002-2006), Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2002-2006 dan periode 2010-2014.

Sebagai seorang cendekiawan muslim, Prof. Amin yang pernah menjadi anggota tim pakar hokum Departemen Hukum dan HAM RI ini, telah melahirkan karya ilmiah yang dibukukan sebanyak 20-an buku. Sementara ratusan makalah, artikel dan lain-lain yang disampaikan dalam berbagai ceramah dan seminar di dalam dan luar negeri, dapat dikatakan tak terhitung banyaknya. Buku-buku karya Prof. Amin yang telah diterbitkan, antara lain:
 Ijtihad Ibnu Taimiyah Dalam Bidang Fiqh Islam
 Tafsir Ahkam 1
 Studi Ilmu Al Quran 1-3
 Pluralisme Agama
 Pengantar Tafsir Ahkam
 Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam
 Lima Pilar Islam
 Membangun Ekonomi Berbasis Kitab Suci
 Menggali Akar Mengurai Serat Ekonomi dan Keuangan Islam
 Asuransi Syariah dan Konvensional
 Tafsir Ayat Ekonomi
 Dan lain-lain

Aktivitas organisasai Prof. Amin:
1. Anggota Pelajar Islam Indonesia (PII), tahun 1972-1974
2. Anggota Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat, Komisioner Fakultas Syariah (1979-1980)
3. Salah seorang Anggota Pendiri Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Pusat (1991), Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Provinsi DKI Jakarta (2005-2009), Ketua Umum ICMI Orsat Ciputat (1993-1996), Ketua Dewan Pakar ICMI Tangerang Selatan (2010-sekarang)
4. Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (200-2010)
5. Wakil Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI (2010-sekarang)
6. Ketua Umum Himpunan Ilmuwan dan Sarjana Syariah Indonesia (HISSI) tahun 2008-sekarang
7. Dan lain-lain

Dukungan Keluarga Luar Biasa

Prof. DR. Drs. KH Muhammad Amin Suma, BA, SH, MA, MM, merasa sangat bersyukur memiliki seorang pendamping hidup yang sangat setia, Hj Kholiyah Thahir, S.Ag, MA. Perempuan yang dinikahinya sejak mahasiswa tersebut, benar-benar menjadi pendorong semangat dalam menjalani hidup. Tidak hanya mendukung pencapaian suami, prestasinya pun tidak kalah gemilang dengan suaminya. Semua dilakukan dengan tanpa mengabaikan tugas-tugasnya sebagai ibu 11 orang anak.

“Terus terang, saya mengagumi istri saya –yang maaf- benar-benar hebat dan boleh dikatakan mendekati sempurna. Setiap kali memandangi wajah teduhnya, selalu kekaguman yang keluar dari mulut saya. Betapa anugerah Allah SWT begitu besar kepada saya yang telah mengirimkan seorang perempuan yang benar-benar hebat sebagai pendamping hidup saya,” ungkapnya.

Kehebatan istrinya, lanjut Prof. Amin, tidak hanya terbatas pada bagaimana melahirkan 13 anak (dua anak lahir premature dan keguguran). Dorongan dan dukungan selalu diberikan dalam hampir setiap kali suaminya melakukan hal-hal terberat sekalipun. Salah satu contoh, adalah bagaimana dengan ikhlas Hj Kholiyah merelakan dirinya “cuti kuliah” agar suaminya fokus mengambil kuliah S2 dan S3. Bahkan, ketika sang suami telah mencapai gelar tertinggi dalam pendidikan pun, dukungannya tidak pernah surut. “Artinya, istri saya adalah salah seorang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan,” imbuhnya.

Kesetiaan Hj Kholiyah untuk mengurus anak-anaknya di rumah, menurut Prof. Amin adalah salah satu jasa terbesarnya. Terutama saat-saat dirinya menjalani kegiatan-kegiatan di berbagai kota sampai manca negara untuk seminar atau memberikan ceramah. Sebagai “upah” terhadap kerja keras sang istri dalam mengasuh anak-anaknya, semenjak kegiatan menyusui terhenti, Prof. Amin hampir selalu mengajak istrinya ke berbagai kegiatan, baik di dalam dan luar negeri.

Prof. Amin mengakui, selama 30 tahun istri tercinta mendampinginya dengan begitu setia tanpa pernah menghadapi permasalahan yang berarti. Sejak awal pernikahan yang penuh perjuangan, sampai kehidupan menjadi sebaik sekarang kesetiannya benar-benar utuh dan menentukan kehidupan rumah tangganya. Betapa tidak, Kholiyah selalu mendukung seluruh perjuangan dan cita-cita suaminya, dari menempuh pendidikan yang tiada henti serta organisasi yang menyita waktu serta pengorbanan material lainnya.

“Semua tetap didukung istri dan anak-anak. Pendeknya, terlalu sulit untuk menguraikan 1001 kebaikan dan kelebihan istri maupun anak-anak saya. Yang jelas secara umum dan keseluruhan, saya merasa puas mempunyai seorang istri bernama Hj Kholiyah Thahir, SAg, MA. Bukan saja karena kesalehannya terhadap suami dan anak-anak, melainkan juga kerelaannya berkorban demi meraih ridhla illahi. Ia benar-benar seorang istri sholehah yang menghormati dan membahagiakan suami serta sekaligus ‘mendekap’ anak-anaknya dengan kasih sayang,” ujarnya.

Prof. Amin menguraikan bagaimana peran istrinya yang sangat besar dalam melahirkan dan mengasuh ke-11 anaknya dengan baik. Terbukti, di antara anak-anaknya tak satupun yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Tidak ada di antara mereka yang terjebak dalam pergaulan bebas, menggunakan narkoba ataupun hal-hal negative yang dilarang agama lainnya. Pendidikan mereka pun –mengikuti jejak kedua orang tuanya- sangat baik dan terarah.

Fakta bahwa 5 dari 11 anak sudah meraih gelar sarjana –S1 dan S2- adalah buktinya. Disamping enam anaknya yang lain sekarang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sekolah-sekolah (TK-SMA) unggulan dan pondok pesantren terkemuka di tanah air.

“Saya tahu betul bahwa dalam diri istri saya banyak bakat yang dimilikinya. Namun karena alasan tertentu –terutama saat anak-anak masih kecil-kecil- saya melarang untuk mengembangkan bakat itu. Tetapi seiring perkembangan waktu, saya memberikan kebebasan baginya unjuk kebolehan berorganisasi. Beberapa tahun terakhir, dia menjadi Ketua Lembaga Pendidikan Ketilang dan beberapa aktivitas lainnya,” ungkapnya.

Sekilas Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Fakultas Syari’ah dan Hukum merupakan fakultas dengan program studi terbanyak di UIN Jakarta. Fakultas ini memiliki fokus kajian di bidang hukum Islam. Sejalan dengan perkembangan masalah-masalah dan spesialisasi dalam keahlian hukum Islam, maka Fakultas Syari’ah dan Hukum menawarkan berbagai program studi yang siap mengantisipasi kebutuhan masyarakat akan berbagai profesi baru yang terkait dengan hukum Islam, seperti ahli perbankan syariah, ahli asuransi syariah, dan sebagainya.

Beberapa tahun terakhir ini antusiasme calon mahasiswa untuk memasuki Fakultas Syari’ah dan Hukum cukup tinggi. Hal ini bisa diindikasikan dengan jumlah mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum yang menduduki peringkat kedua terbanyak setelah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Fakultas Syari’ah dan Hukum bertujuan menyiapkan lulusan yang ahli dan profesional dalam bidang hukum Islam.

Program studi Fakultas Syari’ah dan Hukum:
1. Jurusan Ahwal Syakhshiyyah (Perdata/Peradilan Islam)
2. Jurusan Jinayah/Siyasah Syar’iyyah (Pidana/Tata Negara)
3. Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum
4. Jurusan Mu’amalat (Ekonomi Islam)
5. Ilmu Hukum

Fakultas Syari’ah mengemban tugas mengembangkan ilmu hukum Islam dan hukum umum. Kini Fakultas Syari’ah dan Hukum sedang mengembangkan program studi-program studi dalam lingkungan jurusan-jurusan yang telah ada, seperti Program Studi Kepaniteraan Kepengacaraan, Administrasi Perkawinan, dan Manajemen Wakaf dan Zakat (dalam Jurusan Al-Ahwal Al-Syakh-siyah), Program Studi Pidana Islam, Tata Negara (dalam Jurusan Jinayah/Siyasah), Program Studi Perbandingan Mazhab Fiqh, Perbandingan Hukum, Konsultan dan Fatwa Hukum, dan Manajemen Haji dan Pariwisata (dalam Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum), Program Studi Perbankan Syari’ah, Takaful (Asuransi), Kewirausahaan, dan Agribisnis (dalam Jurusan Mu’amalat dan Perbankan).

1. Jurusan Ahwal Syakhshiyyah (Perdata/Peradilan Islam)
1. Program Studi Peradilan Agama
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi peradilan agama, serta mampu mengemban tugas di bidang keahliannya untuk kepentingan negara dan masyarakat. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Hukum Acara Peradilan Agama, Fiqh Munakahat, Fiqh Mawarits, Fiqh Ibadah, Hukum Perdata, Hukum Pidana, Peradilan Agama di Indonesia, Ilmu Falak, Qawaidh Fiqhiyah, dan Hukum Perdata Islam di Indonesia.

2. Program Studi Administrasi Keperdataan Islam
Program studi ini bertujuan untuk meng-hasilkan sarjana yang menguasai bidang administrasi keperdataan, serta mampu mengemban tugas di bidang keahlian administrasi keperdataan tersebut. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Fiqh Munakahat, Fiqh Muamalat, Fiqh Ibadat, Fiqh Mawaris, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Hukum Perdata Internasional, Hukum Administrasi Negara, Hukum Acara Peradilan Agama, Hukum Perdata Internasional, Hukum Agraria, Penyuluhan Perkawinan dan Keluarga, dan Perundang-undangan di Indonesia.

2. Jurusan Jinayah Siyasah (Pidana/Tata Negara)
1. Program Studi Pidana Islam
Program studi ini bertujuan meng-hasilkan sarjana yang menguasai bidang studi pidana Islam. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan dalam Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir, Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Fiqh Siyasah, Fiqh Jinayah, Al-Fatwa, Metodologi Penelitian Siyasah, Ilmu Falak, Fiqh Mawaris, Fiqh Munakahat, Qawaid Fiqhiyah, Hukum Pidana dan Acara Pidana, Hukum Tata Negara, Hukum Islam di Indonesia, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Tarikh Tasyri’, Kriminologi, dan Fiqh Ibadah.

2. Program Studi Siyasah Syar’iyah
Program studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi tata negara. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir, Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Fiqh Siyasah, Fiqh Jinayah, Al-Fatwa, Metodologi Penelitian, Siyasah, Ilmu Falak, Fiqh Mawarits, Fiqh Munakahat, Qawaid Fiqhiyah, Hukum Pidana dan Acara Pidana, Hukum Tata Negara, Hukum Islam di Indonesia, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Tarikh Tasyri’, Kriminologi, dan Fiqh Ibadah.

3. Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum
1. Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum
Program studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi Perbandingan Mazhab Fiqh, serta mampu mengemban ilmu Perbandingan Mazhab Fiqh tersebut untuk kepentingan agama dan masyarakat. Adapun Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Tafsir Ahkam, Hadits Ahkam, Ushul Fiqh, Ilmu Hukum, Perbandingan Mazhab dalam Hukum Islam, Fiqh Kontemporer, Muqaranah Mazhab fi al-Mu’amalat, Tarikh Tasyri’.

2. Program Studi Perbandingan Hukum
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi perbandingan hukum, serta mampu mengemban tugas di bidang keahlian perbandingan hukum tersebut. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan pada Program Studi ini meliputi: Ilmu Hukum, Perbandingan Hukum dan Perundang-undangan, Metode Penelitian, Ushul Fiqh, Muqaranah Mazahib fi al-Mu’amalat, Muqaranah Mazahib fi al-Jinayat, Orientalisme dalam Hukum Islam, Hukum Acara Perdata dan Pidana Agama.

4. Jurusan Mu’amalat (Ekonomi Islam)
1. Program Studi Perbankan Syari’ah
Dewasa ini berkembang Bank Muamalat Indonesia, BMT, BPR, dan bank-bank Islam di dunia. Seiring dengan pesatnya perkembangan sistem perbankan konvensional, sistem perbankan Islam mulai dilirik oleh banyak kalangan. Karena itu, kajian tentang ekonomi Islam, khususnya perbankan Islam, tampaknya semakin mendesak untuk dikembangkan.

Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan tenaga-tenaga profesional di bidang perbankan syari’ah untuk mengisi kebutuhan tenaga di lembaga-lembaga perbankan Islam dan lembaga-lembaga keuangan lain yang membutuhkan. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan meliputi: Ilmu Ekonomi Makro, Perbankan, Fiqh Muamalat, Pengantar Akuntansi, Ilmu Ekonomi Mikro Islam, Lembaga Perekonomian Umat, Manajemen Perbankan Syari’ah, Akuntansi Perbankan Syari’ah, Ilmu Ekonomi Makro Islam, Hukum Peribadatan Islam, Hukum Perbankan Syari’ah, Hukum Dagang, Lembaga Keuangan non-Bank, Akuntansi Biaya Kewirausahaan, Praktek Lembaga Perekonomian Umat, Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Matematika dan Statistik Ekonomi, Praktikum Perbankan Syari’ah.

2. Program Studi Takaful/Asuransi Islam
Program Studi ini bertujuan untuk menghasilkan sarjana yang menguasai bidang studi asuransi Islam, serta mampu mengemban tugas di bidang yang dikuasainya tersebut pada instansi yang memerlukannya. Mata Kuliah Keahlian yang diberikan meliputi: Ilmu Ekonomi Mikro, Manajemen Asuransi, Fiqh Muamalat, Pengantar Akuntansi, Ilmu Ekonomi Mikro Islam, Lembaga Perekonomian Umat, Akuntansi Takaful, Ilmu Ekonomi Makro Islam, Investasi Takaful, Hukum Asuransi, Kewirausahaan, Hukum Peribadatan Islam, Manajemen Takaful, Manajemen Keuangan, Hukum Dagang, Manajemen Pemasaran, Matematika dan Statistika Asuransi.

Pimpinan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Dekan: Prof. Dr. M. Amin Suma, MA, SH, MM
Pembantu Dekan Bidang Akademik: Dr. Mukri Aji, MA
Pembantu Dekan Bidang Admimistrasi Umum: Dr. Jaenal Aripini, MAg
Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan: Dr. JM Muslimin, MA

Alamat: Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15412
Telepon: (021) 701925, (021) 74711537
Fax: (021) 7402982
Email: info@uinjkt.ac.id

Pendapat mengenai Dekan FSH UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. KH Muhammad Amin Suma, MA, SH, MM

Dr. Mukri Aji, MA – Pembantu Dekan Bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah

“Kontribusi Prof. Amin Sangat Besar”

UIN Syarif Hidayatullah dalam kurikulum yang diterapkan mengombinasikan antara hukum Islam dan umum. Diharapkan para alumni bisa menguasai aspek studi secara spesifik tanpa melupakan aspek ayat, hadits nabi serta pandangan yuridis formal.

Kita memang menghendaki bahwa kita full materi Fakultas Hukum umum tetapi juga memasukkan mata kuliah berbasis Islam. Para alumni diharapkan nanti bisa menjadi hakim atau advokat, tetapi juga khatib, penceramah dan lain-lain. Pokoknya alumni kami serba dalam hidup di tengah masyarakat.

Dalam mewujudkan itu, peran Prof. Amin sebagai pimpinan tinggi sekali kontribusinya. Berbagai aspek agar mereka menjadi alumni yang cerdas dan lain-lain, terus digelorakan. Tetapi perhatian beliau yang luar biasa terhadap kurikulum tersebut sehingga ada benang merah yang membedakan dengan perguruan tinggi yang lain.

Salah satu kontribusi nyata Prof. Amin adalah mampu memberikan motivasi kepada seluruh civitas akademika di sini sehingga mereka mampu beradaptasi dengan siapapun. Itu merupakan keberpihakan beliau terhadap kurikulum, disamping pembekalan karakter yang baik sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan. Sifat-sifat kepemimpinan seperti kejujuran yang menjadi culture, amanah, akhlak dan perilaku Nabi Muhammad, selalu digelorakannya.

Dr. JM Muslimin, MA, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah

“Prof. Amin Bukan Pemimpin Karbitan”

Faktanya, Fakultas Syariah dan Hukum ini memiliki mahasiswa dengan jumlah terbesar. Banyak program dengan berbagai masa depan mahasiswa seperti Program studi Perbankan Syariah serta kaderisasi ulama. Minat calon mahasiswa untuk menempuh pendidikan di Fakultas Syariah dan Hukum UIN sangat tinggi dari berbagai kalangan di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Saya sebagai Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan sejak Mei 2010 menilai kelebihan Prof. Amin adalah beliau berkarier dari bawah. Beliau bukan tipe pimpinan “karbitan” yang tidak menguasai masalah sama sekali. Sebagai pemimpin yang berangkat dari bawah, selain menguasai strategis beliau juga menguasai teknis. Inilah kemampuan yang melekat pada diri Prof Amin yang bisa menggabungkan antara kebijakan teknis dengan sesuatu yang bersifat strategis.

Saya melihat ini karena beliau merangkak dari bawah, sehingga ditempa pengalaman yang membentuk karakter dirinya. Karena kadang orang lain tidak memiliki hal itu, tidak ada tempaan dalam meniti karier dan langsung menjadi pimpinan. Semua itu bisa saya lihat dalam aktivitas sehari-hari, yakni bagaimana beliau memimpin kami.

Keunggulan Fakultas Syariah dan Hukum UIN adalah pada tiga rumpun keilmuan, ilmu-ilmu syariah –ilmu-ilmu hukum Islam dan ilmu perbankan Islam- yang diintegrasikan dalam sebuah keilmuan yang bersifat spiritual. Integrasi dalam ilmu agama dan umum itu dalam bahasa awamnya adalah ilmu umum yang bersifat ilmiah dan ilmu umum yang bersifat ilahiyah. Dalam bahasa akademis, integrasi itulah yang membedakan antara Fakultas Syariah dan Hukum UIN dengan fakultas-fakultas di universitas lain. Mungkin dari sisi nomenklatur atau keilmuan seolah-olah sama, tetapi kalau dicermati nilai komparatif kita terletak di situ.

UIN, dibandingkan dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi yang lain, relative memiliki basis dukungan yang lebih komplit. Karena input kita berasal dari pesantren, madrasah dan lain-lain. Kita bisa merekrut orang-orang tersebut yang tadinya berpola pikir tradisional, menjadi mengenal pola pikir akademis modern yang rasional. Akhirnya mereka bisa mengintegrasikan antara kedua pola pikir tersebut dalam kehidupan mereka.

Ke depan, kita ingin standardisasi universitas –nasional maupun internasional- sehingga memiliki akreditasi formal dan sosial. Pembinaan yang kita lakukan secara menyeluruh, meliputi talenta mahasiswa di berbagai bidang. Mulai seni, olahraga dan lain-lain semua kita lakukan. Untuk menambah kapasitas dosen dalam rangka standardisasi tersebut, UIN mengirimkan dosen-dosennya melanjutkan pendidikan pada universitas terkemuka di luar negeri, seperti pendidikan S2 di Universitas Leiden, Belanda dan S3 di Universitas Hamburg, Jerman. Target yang dicanangkan, UIN mampu mendekati kualitas perguruan tinggi ternama seperti UI dan UGM dengan dukungan SDM, dosen bergelar Doktor dan Profesor yang memadai dalam jumlah dan keunggulan kualitas.

Tokoh , , ,