Tag: SMA

Ny Jeveline Lengkong Hilliard

No Comments

Ny Jeveline Lengkong Hilliard
Ketua Yayasan Talitha Cumi

Membangun Yayasan untuk Membangkitkan Spirit Anak Terlantar

Hidup nyaman di luar negeri, tidak membuat Ny Jeveline Lengkong Hilliard melupakan tanah leluhurnya. Setelah lima belas tahun bermukim di Skotlandia, panggilan jiwa untuk pulang ke tanah air sangat kuat. Begitu kuatnya panggilan itu, sehingga ia rela meninggalkan kehidupan mapan dan modern negara maju di kawasan Eropa tersebut.

Tahun 2000, ia bersama sang suami kembali ke Indonesia. Kebetulan keduanya aktif memberikan pelayanan kerohanian gereja, karena suami Ny Jeveline adalah pendeta. Keduanya sering keliling Indonesia untuk memberikan kotbah dan kebaktian bagi umat. Hingga suatu saat, sekitar tahun 2003, ketika memberikan pelayanan di tempat kelahirannya, Kalimantan, Jeveline melihat banyak anak-anak usia sekolah berkeliaran di jalanan.

“Pendeta di sana bilang, kalau mereka kebingungan untuk ‘melempar’ anak-anak tersebut. Kebiasaan di sana, orang tua yang memiliki anak usia sekolah mencari tempat penampungan bagi anaknya. Karena biasanya mereka memiliki anak banyak-banyak. Ibu saya yang tahu kalau saya suka anak kecil mendorong untuk mengurus anak-anak itu,” kata Ketua Yayasan Talitha Cumi ini.

Meskipun awalnya keberatan, Ny Jeveline meminta pertimbangan suaminya. Akhirnya disepakati –setelah melihat anak-anak usia sekolah ditelantarkan dan dijadikan pekerja tambang emas oleh orang tuanya sendiri- untuk mengambil beberapa anak sesuai kemampuannya. Pasangan ini ingin berusaha semaksimal mungkin mengubah nasib anak-anak terlantar tersebut.

Untuk langkah pertama, mereka mengambil 45 anak dan dibawa ke Bogor.  Karena targetnya hanya lima belas anak tetapi membengkak tiga kali lipatnya, Ny Jeveline kebingungan. Untungnya, saat di Skotlandia ia mengambil diploma tentang pengurusan orang jompo, Alzheimer dan lain-lain. Ilmu dari situ dipraktekkan untuk merawat anak-anak tersebut.

“Mungkin Tuhan sudah menunjukkan jalan ke arah ini. Karena saat belajar itu saya sudah tua. Saya iseng saja mengambil diploma karena di Scotland, orang-orang berumur diatas 50 tahun tetapi sekolah lagi, biayanya gratis bahkan malah dibayar. Kita sebagai orang tua dianggap produktif,” kisahnya.

Dari situ, Ny Jeveline tahu betul kapan harus bersikap keras atau lembut terhadap anak-anak. Awalnya sangat susah untuk menerapkan disiplin tinggi kepada anak-anak yang terbiasa hidup seenaknya. Namun, perlahan-lahan pengaruh Mami –begitu Ny Jeveline dipanggil- merasuk ke dalam diri anak-anak tersebut. Mereka yang tadinya hidup tanpa arah yang jelas, kehilangan orientasi masa depan bahkan semangat hidup dan mulai menata pondasi kehidupan masing-masing.

Anak-anak yang tadinya hanya sempat sekolah sampai kelas II atau IV SD, bisa melanjutkan sekolah kembali. Mereka tidak lagi terbebani pekerjaan sebagai penambang, membantu orang tua di ladang atau sekedar bermain bersama teman-teman senasib. Berlindung Yayasan Talitha Cumi membuat mereka -seperti anak-anak seusianya- fokus meretas harapan menuju masa depan yang lebih baik.

“Angkatan pertama sekarang sudah ada yang lulus S1. Tadinya, berbohong, mencuri dan merokok sudah menjadi keseharian mereka karena tanpa pengawasan orang tua yang disiplin. Memang, menurut kita orang Dayak itu sangat malas karena tergantung pada nature, alam. Untuk makan mereka berburu dan  bercocok tanam sedikit. Saya sendiri ada darah Dayak dari nenek saya, seorang anak raja Dayak Tunjung di Kaltim,” kata perempuan berdarah Dayak, Portugis dan Manado ini.

“Kemalasan” orang Dayak sebenarnya disebabkan alam telah menyediakan segala keperluan hidupnya. Kekayaan alam yang luar biasa tersebut membuat mereka tidak pernah kekurangan dalam urusan hajat hidup, seperti makan dan minum. Namun, kemajuan zaman membuat kekayaan alam dieksploitasi dan mereka tersisih serta terpinggirkan di rumahnya sendiri.

Di sisi lain, tradisi Dayak yang dipegang teguh turut memberikan andil dalam memperburuk keadaan. Seperti tradisi bahwa anak perempuan berumur 14 tahun sudah harus menikah dan untuk laki-laki berumur 18 tahun. Akibatnya ketika memasuki usia tersebut, remaja putra dan putri tidak bisa konsentrasi untuk melanjutkan sekolah. Mereka memilih “kabur” dari sekolah dengan berbagai alasan untuk menikah.

“Melalui Yayasan Talitha Cumi saya mencoba membangkitkan spirit mereka. Seperti di Alkitab, Talitha Cumi artinya bangkit anakku bangkit. Mereka harus bangkit untuk mengelola kekayaan daerahnya sendiri. Jangan seperti sekarang, kalau orang datang dan ingin memanfaatkan potensi alam, mereka sudah ‘ngajak’ perang saja,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Ny Jeveline, Yayasan Talitha Cumi memiliki beberapa unit kegiatan. Mulai panti asuhan, sekolah –play group hingga SMA- dengan tujuh macam izin kegiatan sosial. Yayasan juga memberikan bantuan dana pendidikan bagi anak-anak terlantar di luar yayasan tanpa memandang agama, suku dan ras. Anak-anak di panti asuhan yayasan juga diajarkan pada setiap menjelang Idul Fitri mengumpulkan beras dan mie untuk dibagi-bagikan kepada saudara-saudaranya yang sedang merayakan hari bahagia tersebut.

“Saya tidak tanggung-tanggung dalam memberikan bantuan. Bahkan rumah kami di Scotland sudah kami jual, agar anak-anak di sini mendapat penghidupan yang layak. Anak-anak dididik disiplin, mandiri, kebersihan, sopan santun dan menghormati orang lain terutama orang tua. Akhirnya setiap anak punya kamar dan satu loker, serta bisa sekolah setinggi mungkin. Saya hanya memberikan sedikit yang saya miliki untuk membantu pemerintah dalam program mencerdaskan bangsa. Saya kutip kata-kata Presiden John F. Kennedy yang berbunyi, ‘jangan tanya apa yang negara bisa berikan padamu, tanyalah apa yang bisa kau berikan kepada negara (Do not ask what the nation can give to you, but ask what can you give to the nation),” tuturnya.

Hidup Susah

Kedermawanan Ny Jeveline Lengkong Hilliard tidak bisa dilepaskan dari kisah pahit masa lalunya. Sejak kecil, ia termasuk “orang susah” yang harus berusaha mencukupi kebutuhannya sendiri. Keluarga besar dengan delapan anak, membuat ia sebagai anak sulung kurang mendapat perhatian dan limpahan kasih sayang.

Apalagi situasi negeri ini yang pada masa kecilnya sangat tidak kondusif. Perang Dunia II baru saja usai dan situasi politik dalam negeri sedang bergolak di mana-mana. Peristiwa Permesta (pemberontakan di Menado dan Padang) serta G30S/PKI menambah situasi tanah air semakin kacau sehingga rakyat tidak terurus karena pemerintah disibukkan urusan politik.

“Sejak kecil saya terbiasa hidup susah. Untuk sekolah saja harus berjalan lima kilometer, tanpa uang saku dan tanpa buku. Untunglah, Tuhan memberikan talenta yang banyak, sehingga saya cepat menyerap apapun yang saya pelajari,” ujarnya.

Selagi SMEA, pada usianya yang ke-18 Ny Jeveline bekerja di Japex dan mampu melakukan inspeksi kapal. Tugasnya antara lain menentukan apakah sebuah kapal diizinkan berlayar atau tidak dengan muatan yang ada di dalamnya. Cita-citanya saat itu adalah menjadi syahbandar wanita pertama di Indonesia.

Namun salah satu pamannya melarang untuk melanjutkan pendidikan kesyahbandaran. Ia justru menyarankan sang keponakan untuk bekerja sebagai pramugari. Saran pamannya diikuti oleh Ny Jeveline dan berkarier sebagai pramugari di Garuda Indonesia Airways pada tahun 1966. Ia juga bekerja menjadi pramugari di maskapai penerbangan milik Belanda, KLM hingga tahun 1970. “Penguasaan bahasa Belanda saya cukup baik, karena terbiasa di rumah,” katanya.

Seolah balas dendam terhadap masa lalunya yang suram, setelah menjadi pramugari Ny Jeveline membeli buku banyak-banyak. Ia juga membeli sepatu sejumlah dua belas pasang karena sebelumnya tidak pernah memiliki sepatu yang layak. “Sebelumnya tidak pernah punya buku dan sepatu, sehingga ketika beli langsung 12 pasang. Saya sudah janji sama Tuhan, gaji pertama akan saya kasih orang tua. Saya diberi satu talenta untuk selalu suka memberi, sama siapapun,” tandasnya.

Setelah menikah, Ny Jeveline beberapa kali menjadi pramugari seasonal untuk pelayanan haji. Tahun 1979, Ny Jeveline berkarier di perhotelan selama lima tahun dengan jabatan terakhir Assistant Public Relation, dibawah arahan bosnya, Rae Sita Supit. Ny Jeveline kemudian keluar untuk menekuni bisnis pemasaran komoditi di Indonesia. Sebelum akhirnya menetap di Skotlandia, ia memegang perwakilan American Airlines di Indonesia.

“Saya kemudian menetap di Skotlandia dan punya rumah makan dengan nama Indonesian  Jev’s  Tea Room. Saya tidak tahu kenapa Tuhan memberikan bermacam-macam bakat kepada saya, sehingga saya lebih mendalami kerohanian,” tuturnya.

Saat memutuskan kembali ke Indonesia dan menekuni kegiatan sosial, ketiga anak Ny Jeveline memprotes keras. Menurut mereka, ayah dan ibunya seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Dari ketiga anaknya, hanya satu anak yang ikut ke Indonesia dan turut membantunya mengurus yayasan, sementara dua anaknya yang lain tetap tinggal di Skotlandia.

“Keliling dunia, tour dengan kapal pesiar dan lain-lain. Itu mau mereka, tetapi saya ini orangnya workaholic banget. Sejak dulu, saat menjadi pramugari saya sering di-grounded oleh dokter penerbangan. Saya dianggap kebanyakan jam terbang karena anytime siap berangkat ke mana-mana. Sampai sekarang umur sudah 66 tahun saya masih workaholic, tetap seperti itu. Karena saya memang diberkati Tuhan dengan berbagai bakat,” ungkapnya penuh syukur.

Generasi Baik

Ny Jeveline merasa rencana jangka pendek ketika memutuskan untuk mendirikan yayasan sudah tercapai. Dengan memiliki sekolah hingga tingkat SMA, ia berencana untuk mendirikan universitas. Ia berharap, untuk mendirikan sekolah pemerintah memberikan fasilitas sosial (fasos) berupa sebidang tanah karena hingga sekarang masih menyewa ruko dengan harga tinggi. Bertempat di ruko sangat tidak sehat bagi para siswa karena ruang geraknya menjadi sangat terbatas.

“Kami sudah usaha tanya sana sini, tapi katanya untuk sekolah swasta tidak dapat fasilitas sosial. Sama seperti yayasan kami, dalam kurun waktu tujuh tahun ini kami belum pernah mendapat bantuan dana dari Depsos. Padahal anak-anak jumlahnya cukup banyak, 98 di dalam dan 24 di luar yang kami bantu dengan beras dan lain-lain. Jika ada kelebihan, agar anak-anak siap pakai saya ingin mendirikan sekolah kejuruan,” katanya.

“Itu kalau ada orang yang mau menangani. Saya juga senang membina olahraga dan sekarang sedang sangat involve dalam penyelenggarakan kejuaraan sepakbola. Kita menjadi promotor Sunday League kerjasaa dengan BRITCHAM (British Chambers of Commerce) yang diikuti 112 SD  di Bogor. Dan kebetulan kompetisi terakhir dihadiri oleh Mr Ian Rush. Pemain sepakbola legendaries Liverpool yang berlangsung di LSB Sumantri Brojonegoro. Sayangnya anak-anak kami hanya juara II, kalah adu penalti,” ujarnya.

Perempuan yang memberikan pelayanan setiap Minggu ini berharap generasi yang berada dalam bimbingannya akan menjadi generasi muda yang jujur dan tulus. “Paling tidak untuk 50 tahun ke depan, akan lahir generasi berikutnya yang sama baiknya. Itu akan terus berkembang dan kita harus mulai dari satu titik,” imbuhnya.

Kepada generasi muda, Ny Jeveline berpesan agar perempuan belajar tentang masalah kewanitaan. Karena masalah tersebut sangat penting bagi kelestarian dan kelangsungan keluarga. Yang apabila mampu memanage dengan baik, keberhasilan akan diraih dalam dua arah.

“Di dalam keluarga berhasil, pasti di luar juga berhasil dengan baik. Karena itu perempuan harus belajar jujur, sama suami dan anak, untuk melahirkan anak-anak yang jujur. Berusaha menopang suami, jangan menjadi konsumtif, jangan saingi suami. Begitu juga suami harus menyayangi istri, kita harus selalu saling terbuka satu sama lain,” kata wanita tegas yang tidak pernah membedakan agama, suku dan ras ini.

Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM

No Comments

Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM
Ketua STIKOM Bali

Hidup Harus Bermanfaat Bagi Keluarga dan Orang Lain

Darah pendidik mengalir deras dalam diri, Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM. Kedua orang tua pria yang biasa dipanggil Dadang ini adalah pendidik sejati yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa. Meskipun secara materi tidak berlimpah, tetapi masyarakat sangat menghormati dan menghargai profesi keduanya.

Panggilan hati untuk menjadi pendidik seperti kedua orang tua, membuat kiprah Dadang tidak jauh dari dunia pendidikan. Memasuki tahun kedua perkuliahannya di Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Padjadjaran, Bandung, ia bekerja sebagai guru di beberapa SMA di Kabupaten Bandung. Selain itu, ia juga menjadi instruktur di beberapa lembaga kursus/bimbingan belajar serta asisten dosen untuk beberapa penelitian.

“Bahkan sejak tingkat tiga, dalam usia 21 tahun saya menjadi wakil kepala sekolah di sebuah SMA di Kabupaten Bandung. Semua itu, terinspirasi dari kedua orang tua yang menjadi guru, meskipun sampai saat ini secara materi tidak punya apa-apa. Kecuali harta warisan dari kakek, nenek dan buyut saya yang merupakan orang terpandang di tingkat kecamatan pada zamannya,” kata Ketua STIKOM Bali ini.

Dadang sendiri tidak secara langsung mengambil jurusan kependidikan saat kuliah. Ia lebih memilih akuntansi yang hingga sekarang menjadi jurusan favorit. Tidak heran, setelah menyelesaikan kuliah pada 1986, dua tahun kemudian ia meninggakan dunia pendidikan. Tuntutan ekonomi keluarga, membuat ia beralih haluan sebagai PNS dan menjadi auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Pria kelahiran Bandung, hari Sabtu, tanggal 10 Agustus 1963 ini ditempatkan di perwakilan Bali.

Namun jiwa pendidik yang diwarisi dari kedua orang tuanya, membuat Dadang terpanggil. Setelah delapan tahun mengabdi, ia mengundurkan diri dari BPKP untuk kembali menekuni dunia pendidikan. Ia menjadi pimpinan sebuah lembaga pendidikan terkenal di Pulau Dewata tersebut. Sejak itu, ia terjun total di dunia pendidikan melalui berbagai lembaga pendidikan yang didirikannya.

“Tahun 2002, bersama beberapa kolega saya mendirikan sebuah perguruan tinggi di Denpasar dengan nama STMIK STIKOM Bali atau yang lebih populer dengan nama STIKOM Bali. Sekarang ini, STIKOM Bali merupakan kiblat sekolah ICT di Bali dengan jumlah mahasiswa sekitar 5.000 orang,” tegasnya.

Selain STIKOM Bali, ia juga mengasuh dan mendirikan tiga SMK, lima lembaga pendidikan keterampilan dan tiga perguruan tinggi yang tersebar di Bali, Jawa dan Sumatera. “Banyak suka duka dalam menekuni profesi ini. Sukanya jika ada alumni yang sukses tetapi tetap tidak lupa kepada almamaternya. Dukanya jika ada mahasiswa yang tidak tamat kuliah sesuai dengan waktu yang telah ditentukan,” imbuhnya.

Semua yang dilakukan Dadang, tidak terlepas dari motivasi kuat dalam dirinya. Selain mewarisi jiwa pendidik, keinginan untuk mengabdikan hidup bagi orang banyak juga melandasi tindakannya. Seiring perjalanan waktu, pilihan hidup sebagai pendidik jauh lebih kuat menarik dirinya daripada cita-cita masa kecil sebagai dokter.

Ia juga mengabaikan penghargaan masyarakat terhadap profesi pendidik yang semakin berkurang. Berbeda dengan masa ayah dan ibunya, pendidik mendapat penghargaan tinggi dari masyarakat karena profesinya. Walaupun profesi tidak memberikan materi berlebihan, tetapi jerih payah seorang guru “terbayar” berkat penghargaan dari masyarakat di sekitarnya.

“Motivasi saya dalam menekuni bidang pendidikan adalah bahwa hidup harus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk keluarga dan orang lain. Dengan bergerak di bidang pendidikan, secara langsung maupun tidak langsung saya telah memberikan manfaat kepada seluruh anak didik. Baik berupa pemberian ilmu yang akan menjadi bekal mereka di masa mendatang. Saya akan merasa bahagia kalau mendengar anak didik kita berhasil bekerja baik di sektor swasta maupun pemerintah. Begitu juga ketika mereka berwiraswasta,” ungkapnya.

Awalnya Istri Tidak Mendukung

Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM, menghabiskan masa kecilnya di kota Kembang. Semasa SMA hingga kuliah S1, berbagai macam aktivitas digeluti. Mulai menjadi pengurus Remaja Masjid, pengurus olahraga, kesenian, kepemudaan, Pramuka, kemahasiswaan dan berbagai organisasi lainnya. Pengalamannya tersebut, sangat berguna ketika harus membagi konsentrasi dalam mengurus belasan lembaga pendidikan yang dimilikinya.

Sebagai pemilik lembaga pendidikan, Dadang sendiri tentu saja tidak melupakan pendidikan bagi dirinya sendiri. Setelah S1, pada tahun 2002 ia berhasil menyelesaikan S2 di Universitas Udayana Denpasar dan saat ini sedang mengikuti proses penerimaan pada program S3 Universitas Brawijaya Malang. Semua dilakukan dalam rangka perbaikan diri dan lembaga pendidikan yang diasuhnya. “Saya ingin terus melakukan perbaikan dalam segala hal. Baik pribadi maupun yang berkaitan dengan lembaga yang saya asuh,” tandasnya.

Sebenarnya, kisah Dadang, saat beralih dari PNS di BPKP dan sepenuhnya mengabdi ke dunia pendidikan bukan tanpa tentangan. Dengan karier dan posisi yang saat itu sudah cukup “lumayan”, masa depan keluarga terjamin. Orang pertama yang menentang keras keputusan tersebut berasal dari istri Dadang sendiri. Perbedaan pandangan membuat sang istri merasa “sayang” atas karier panjang suaminya di pemerintahan.

“Istri kurang mendukung saya berpindah lagi ke sektor pendidikan. Biasa, namanya juga perempuan inginnya tetap di zona aman sebagai PNS. Tetapi setelah ikut berkecimpung, seluruh keluarga sangat mendukung dan memahami tentang profesi yang saya jalani sekarang,” kata ayah empat anak ini.

Seperti juga orang tua yang lain, Dadang membesarkan dan memotivasi anak-anaknya dengan memberikan pengertian dan kesadaran tentang arti hidup dan kehidupan.  Bahwa keberhasilan dan kegagalan dalam hidup adalah hal biasa yang dialami setiap manusia di muka bumi ini. Keempat anaknya di bebaskan untuk menentukan pilihan pendidikan masing-masing tanpa paksaan untuk memilih jurusan sesuai keinginan kedua orang tuanya.

“Semua terserah mereka. Dari empat anak kami, tiga orang anak sudah tamat SMA. Bahkan anak yang paling besar telah menamatkan S1-nya di Unair Surabaya dan telah bekerja di salah satu bank milik pemerintah. Kecuali yang bungsu, tiga anak tersebut tidak ada yang mengikuti jejak bapaknya. Tapi si bungsu pun nggak tahu juga akan ke mana, pilihan ada di tangannya,” tuturnya.

Dadang menyadari, anak-anaknya sebagai generasi muda sekarang memiliki eranya sendiri. Seperti juga anaknya, dalam pengamatannya dengan mata pendidik, generasi muda sekarang sangat cerdas dan rasional. Hanya, ada sedikit kekurangan pada generasi sekarang yang secara umum kurang memiliki karakter atau ciri khas sebagai orang timur. “Tetapi tidak semua begitu. Tugas pendidiklah bagaimana menjadikan mereka pintar tapi tetap santun, canggih tapi tidak sombong dan brillian tapi tetap jujur. Saya berpendapat bahwa kita harus optimis bahwa mereka bisa melanjukan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini,” tegasnya.

Heran Pendidikan Tidak Gratis

Menurut Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM perkembangan pendidikan di Indonesia jauh lebih maju. Setidaknya apabila dibandingkan dengan dunia pendidikan Indonesia 20 tahun belakangan ini. Namun demikian, harus diakui bahwa pendidikan di negeri ini masih jauh tertinggal dengan negara-negara tetangga. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi pendidikan di negara-negara Eropa, Indonesia termasuk negara “tertinggal” serta terbelakang.

Banyak faktor memengaruhi kondisi tersebut. Antara lain adalah faktor besarnya jumlah penduduk dan tersebar pada wilayah yang sangat luas. Apalagi kekurangan aparatur yang menangani masalah pendidikan belum benar-benar ikhlas untuk memajukan bangsa ini. Wacana yang dikembangkan hanya baik pada permukaan tetapi jauh dari kondisi ideal dalam pelaksanaan.

“Sering kita dengar bagaimana sulitnya izin penyelenggaraan pendidikan dari tingkat TK sampai PT dikeluarkan pejabat berwenang kalau tanpa “pelicin”. Begitu juga dengan masih banyaknya kebocoran anggaran pendidikan dan lain-lain. Ini memerlukan pengkajian dan penelaahan yang menyeluruh dari semua pemangku kepentingan pendidikan. Terutama para pejabat yang berkepentingan di bidang pendidikan untuk selalu bersih dan ikhlas dalam memajukan bidang pendidikan di negara kita,” tuturnya.

Dengan alokasi anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, Dadang keheranan melihat masih banyak masyarakat yang tidak mampu mengenyam pendidikan dasar dan menengah. Padahal dengan dana sebesar itu, seharusnya tidak hanya kesejahteraan guru saja yang dipenuhi, tetapi juga pendidikan murah dan bermutu bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun, pada kenyataannya semua itu jauh dari kenyataan sebenarnya. Masih banyak rakyat yang memiliki potensi untuk berkembang bahkan tidak mampu mengakses pendidikan dasar sekalipun.

“Saya kadang heran, dalam dua tahun terakhir ini anggaran pendidikan hampir di semua tingkatan pemerintahan baik itu pusat, propinsi maupun kabupaten/kota telah secara umum mengalokasikan 20 % atau lebih untuk sektor pendidikan. Belum lagi dari berbagai perusahaan dengan dana CSR-nya. Anggaran tersebut kalau dijumlah mencapai ratusan triliun rupiah, kok masih tidak cukup untuk menggratiskan sekolah dari tingkat SD sampai SMA. Ini ada yang salah dalam pelaksanaan anggaran kita dan perlu kajian lebih lanjut,” katanya sembari mencontohkan sebuah kabupaten di Bali yang telah mampu menggratiskan pendidikan SD sampai SMA bagi rakyatnya. “Padahal jika dilihat dari PAD-nya sangat kecil, ini yang perlu dicontoh oleh daerah-daerah lainnya,” tambahnya.

Semua akan berbeda dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan swasta (dari TK sampai dengan PT). Lembaga pendidikan swasta yang membiayai sendiri seluruh kegiatannya sehingga harus berorientasi bisnis. Artinya pendapatan dari berbagai sumber baik dari warga belajar maupun lainnya harus selalu surplus dibandingkan dengan pengeluarannya.

“Bagaimana lembaga tersebut bisa berkembang jika pendapatannya selalu minus? Mau terus-terusan minta bantuan? Yang membantu pun ada batasnya apakah itu pengurus yayasan, dermawan maupun pemerintah. Jadi menurut saya para pengelola pendidikan ini harus mampu berpikir dan menciptakan berbagai sumber pendapatan untuk kemajuan lembaga yang dikelolanya. Tapi setelah surplus, dana tersebut  bukan untuk dibagikan kepada para pendirinya tapi dipakai untuk peningkatan sarana dan prasarananya,” ungkap Anggota Pengurus APTISI VIII-A Bali, sejak 2009  ini.

Selain itu, lanjut Dadang, pada tingkat pendidik harus sadar bahwa mereka bukan sekadar pengajar. Karena seorang pendidik bukan hanya memberikan materi pelajaran di kelas tetapi setelah itu acuh tak acuh. Pendidik juga harus memperhatikan bagaimana orang-orang yang diajar mengerti apa tidak, paham atau tidak dan seterusnya. “Seorang pendidik harus memberi tauladan yang baik. Antara tindakan dan perbuatannya harus sesuai. Dan yang lebih penting lagi, seorang pendidik harus benar-benar sabar, ikhlas dan tawakal menghadapi anak didiknya yang tidak sesuai dengan keinginan pendidik itu sendiri,” ujarnya.

Biodata Singkat:
N a m a : Drs. Dadang Hermawan, Ak., MM
Tempat dan Tanggal Lahir     : Bandung, 10 Agustus 1963

Riwayat Pendidikan :
1.    Sekolah Dasar Negeri Tahun 1968 – 1974
2.    Sekolah Menengah Pertama Negeri Tahun 1975 – 1977
3.    Sekolah Menengah Atas Negeri Tahun 1978 – 1981
4.    Perguruan Tinggi :
– S1 : Fak. Ekonomi Jur. Akuntansi Universitas Padjadjaran, 1986
– S2 : MM Universitas Udayana, 2002
– S3 : Sedang Proses Penerimaan di Universitas Brawijaya
5. Pendidikan Tambahan :
1.    Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa, 1984
2.    Melbourne Language Centre, Australia, 1996
3.    Berbagai seminar, lokakarya, workshop, baik sebagai pembicara, moderator maupun peserta di dalam maupun luar negeri