Tag: tanggung jawab

Feni Desnawai

Feni Desnawai
PT Awana Travel

Dari Perawat Menjadi Pemilik Perusahaan Travel

Sudah menjadi takdir manusia untuk menghadapi tantangan dalam menjalani hidup. Besarnya hambatan membuat manusia menjadi sangat bergairah untuk “menaklukkan” tantangan tersebut. Di situ, merupakan ujian bagi manusia untuk mengukur seberapa besar kemampuannya dalam menghadapi beratnya kehidupan. Kesuksesan, sangat ditentukan oleh ketangguhan dan kemampuan dalam menyiasati tantangan.

“Saya awalnya lulusan perawat dari Bengkulu dan bekerja di rumah sakit Pelni selama empat tahun. Selama empat tahun, saya senang mengikuti tantangan ke sana-sini. Saya masuk program D1 Akuntansi Komputer tetapi belum selesai sudah saya tinggal karena lulus seleksi di LAN. Tetapi susah kuliah di LAN sambil bekerja sebagai perawat di rumah sakit, apalagi kalau shift malam sehingga saya terpaksa mencari pekerjaan baru,” kata Feni Desnawai, pemilik PT Awana Travel.

Akhirnya, Feni berhenti dari rumah sakit dan berkarier sebagai tenaga honorer di sebuah perusahaan. Meskipun itu berarti terjadi penurunan status dan pendapatan, tetapi ia sangat bersyukur karena bisa melanjutkan pendidikan dengan lancar. Pendidikan di LAN yang cukup berat berhasil diselesaikannya tepat waktu pada tahun 1994. Satu tahun kemudian, ia dipindahkan ke bagian akuntansi yang selama 19 tahun terakhir ditekuninya.

Bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya, membuat Feni memutuskan untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci. Sepulangnya dari tanah suci, anugerah yang lebih besar diterimanya. Allah mengirimkan H Nandang Akasah sebagai suami yang menjadi imam dalam hidupnya. Sebagai ungkapan rasa syukur, keduanya melakukan ibadah umrah bersama-sama.

Namun, sebelum berangkat ke tanah suci, Allah menguji Feni dengan sakit yang cukup parah. Ia pasrah menerima segala cobaan yang datang dan di depan Kabah memanjatkan doa bagi kesembuhannya. Selain itu, ia juga memanjatkan doa agar hidupnya tetap memberikan manfaat bagi orang lain. Doa yang dipanjatkan dengan penuh kepasrahan –apalagi di depan Baitullah- benar-benar sangat mustajab.

“Saya dipertemukan dengan orang Indonesia di mana saya membeli paket penyelenggaraan umrah kepadanya. Dia menyarankan agar saya membuat travel yang saat itu belum terpikirkan sama sekali. Kami sangat awam bagaimana membuat travel. Bahkan suami saya bilang bahwa kami belum punya dana untuk itu. Orang itu tetap berkata, sudahlah bikin saja dulu PT-nya,” kisahnya.

Setelah sampai di Indonesia -dengan dukungan suami- Feni memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan. Dengan mengusung nama PT Awana Travel –meskipun tidak paham sama sekali dengan bisnis tersebut- ia menghadap notaris pada tanggal 13 Agustus 2004. Ia mengurus seluruh perizinan perusahaan seorang diri karena ingin belajar dari bawah sekaligus mencegah terjadinya penipuan. “Saat itu sudah ada 18 orang mendaftar tetapi semuanya perempuan sehingga terpaksa saya oper ke travel lain,” imbuhnya.

Tahun 2005, Feni telah mengantongi seluruh izin yang diperlukan untuk mengoperasikan perusahaan travel. Meskipun harus mengontrak kantor dan terpaksa harus “nombok” antara 600 – 1000 dolar setiap keberangkatan, ia tidak berputus asa. Kerugian terus dialaminya sampai tahun ketiga ia menjalankan usaha tersebut. Semangat untuk memberikan yang terbaik bagi tamu Allah terus dipeliharanya sehingga hitungan untung rugi tidak terlalu dipikirkannya.

“Saat itu masih ada subsidi dari suami yang kebetulan wiraswasta di bidang konstruksi. Kepada suami, saya meminta waktu dua tahun untuk memulihkan semuanya. Saya baru sadar, bisnis pariwisata itu modalnya besar, tidak cukup Rp200-300 juta,” ungkapnya. Tetapi tanggung jawabnya sebagai pemilik usaha tidak menyurutkan langkahnya untuk memberikan hak-hak bagi karyawan seperti gaji dan THR. “Bahkan THR dari kantor, saya bagikan kepada mereka. Itu yang saya utamakan,” tambahnya.

Menurut perempuan yang tidak merasa hina dan malu naik ojek ini, setiap kerugian yang dialami diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia yakin, selama yang dijalaninya tidak melenceng Allah pasti akan memberikan jalan terbaik baginya. Dengan keyakinan itu, perlahan namun pasti usahanya mulai berjalan. Banyak jemaah yang mempercayakan urusan haji dan umrah kepada perusahaan miliknya. “Apalagi kalau saya ikut dalam rombongan, jemaah sangat senang. Karena kalau ada apa-apa saya langsung action,” ungkapnya.

Sayangnya, tidak setiap keberangkatan rombongan Feni bisa menyertainya. Kesibukan di kantor tempatnya bekerja sangat menyita waktu sehingga tidak setiap saat ia bisa mengajukan izin cuti. Ia mengakui bahwa dirinya masih belum bisa fokus di Awana karena terikat dengan perusahaan tempatnya bekerja. “Masih sangat sibuk di kantor. Pokoknya, yang penting saya memiliki komitmen dan tanggung jawab sebagai istri, ibu, karyawan dan titipan amanah berupa Awana ini,” katanya.

Dengan kesibukan seperti itu, Feni tetap harus bersosialisasi dengan keluarga. Solusi untuk mengatasi kesibukan yang sangat menyita waktu tersebut, ia melakukan semuanya dengan penuh disiplin. Ia merencanakan segala kegiatan hariannya bahkan ketika baru bangun tidur. Semua itu dilakukan dengan disiplin, jujur dan dibicarakan secara terbuka dengan suaminya. Ia juga “mengandalkan” saudara-saudara iparnya ketika harus meninggalkan anak semata wayangnya untuk bertugas mengantarkan jemaah.

“Saya sering tidak ada pembantu, sehingga harus dengan ipar. Pokoknya, intinya disiplin karena memang berat untuk sukses, harus bekerja keras. Meskipun capek, setiap malam saya harus membuka email. Paling tidak, sambil memasak selama sepuluh sampai lima belas menit harus menyalakan komputer. Bunyi SMS saja saya langsung terbangun, karena sudah terbiasa. Semua karena tanggung jawab saya, kewajiban saya terhadap hak-hak jemaah yang seharusnya mereka terima,” ujarnya.

Tidak Pernah Beriklan

Selama mengoperasikan PT Awana Tour & Travel, Feni Desnawai tidak pernah memasang iklan. Jemaah yang puas dengan pelayanan PT Awana dengan senang hati akan mempromosikan perusahaan kepada keluarga, sahabat atau teman-temannya. Promosi model ini terbukti ampuh “menggaet” jemaah sehingga jemaah yang menggunakan jasa perusahaan datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kita tidak pernah beriklan, promosi benar-benar hanya dari mulut ke mulut. Dan untuk menghargai jemaah yang telah mempromosikan kita, mereka direkrut sebagai marketing dengan imbalan yang memadai. Itu selalu kami berikan meskipun secara operasional kami harus nombok. Yang penting, bagaimana caranya kita menciptakan network dari jemaah di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Semua itu dilakukan sebagai cara untuk memegang komitmen dengan apa yang telah dijanjikan. Untuk memastikannya, Feni terjun langsung dalam menangani jemaah. Karena jasa yang ditawarkan perusahaan adalah servis atau pelayanan, ia harus tahu betul bahwa semua berjalan dengan baik. Meskipun status sebagai pemilik perusahaan, Feni tidak segan-segan untuk mengantar atau menjemput jemaah di bandara.

Bahkan, saat mendampingi jemaah, Feni “rela” turun ke dapur untuk membuatkan minuman bagi jemaahnya. Kalaupun tidak mendampingi jemaah, ia selalu mengontrol keberadaan mereka dari tanah air. Karena ia ingin, semua berjalan dengan baik sesuai apa yang dijanjikannya. “Saya orangnya saklek, kalau bilang A ya A, tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi karena itu, jemaah suka mencari-cari saya, karena dianggap memberikan rasa nyaman. Bahkan sebelum mendaftar mereka bertanya dulu, ‘Feni-nya ikut nggak.’ Mereka ingin bareng saya jalannya,” ungkapnya.

Kedekatan seperti itulah yang membuat usahanya semakin maju. Terbukti, hingga bulan Agustus 2010 tercatat 300 jemaah telah diberangkatkan ke tanah suci. Semua itu dilakukan Feni dengan keyakinan bahwa rezeki memiliki garis masing-masing dari Allah, sehingga ia tidak takut bersaing dengan perusahaan lain. Meskipun sering mengikuti konsorsium pemberangkatan jemaah, namun tidak pernah sekalipun menyuruh anak buahnya untuk mengajak jemaah dari perusahaan lain bergabung di PT Awana.

Bagi perempuan kelahiran Muko Muko, 17 Desember 1964 ini, persaingan malah menjadi tantangan untuk menjadi maju. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana perlakuan perusahaan lain sebagai pesaing yang menzhaliminya. Semua diserahkan kepada Allah sebagai pemilik rezeki. Landasan keyakinan tersebut membuat langkahnya tidak terbendung oleh hambatan “kecil” seperti itu.

“Kalau kita memikirkan orang lain kapan kita akan maju. Kalau perlu kita bergandengan bukan malah saling sikut. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Dan menyelenggarakan perjalanan haji dan umrah bukan mencari rezeki semata. Pengalaman saya sembuh dari kanker di tanah suci, membuat saya ingin orang lain juga bisa ikut menikmati. Itu saja,” tandasnya.

Menurut pengamatan Feni, setiap tergabung dalam konsorsium, harga dari perusahaan miliknya selalu lebih murah. Meskipun demikian, ia tidak ingin jemaah pindah ke perusahaannya karena melihat harga murah tersebut. Tetapi ia tidak akan mampu mencegah kepindahan jemaah seandainya alasan yang dikemukakan seperti mukena atau kopor PT Awana lebih bagus. “Itu saya tidak bisa mencegahnya. Kalau untuk harga, di konsorsium kami lebih murah. Untuk haji bisa 6500 dolar sementara yang lain 7000 dolar,” tambahnya.

Semua itu dilandasi niat Feni untuk berbagi pasca kesembuhan dari kanker yang menggerogotinya. Setelah berhasil bebas dari kanker berkat doa-doanya di tanah suci, ia mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama. Saat ini yang paling diinginkannya adalah hingga akhir hayatnya bisa melayani jemaah dengan baik. “Setiap kali ke tanah suci, bukan doa meminta harta berlimpah yang saya panjatkan. Tetapi memohon kesehatan dan kesempatan untuk datang lagi dan lagi ke tanah suci. Saya tidak ingin Awana menyusahkan orang lain, itu prioritas saya,” kata perempuan mandiri dan sederhana ini.

Berjiwa ‘Pembantu’

Feni Desnawai terus melihat ke depan demi kemajuan PT Awana Tour & Travel. Ia ingin lebih banyak membantu orang lain mewujudkan keinginan untuk pergi ke tanah suci melalui perusahaan miliknya. Untuk itu sebisa mungkin ia tidak menetapkan harga yang tinggi untuk pelayanan perusahaan. Yang penting, dengan harga murah ia tidak terus-terusan “nombok” tetapi mampu memenuhi kewajiban kepada karyawan.

“Saya merintis Awana Konveksi untuk keperluan mukena dan kopor jemaah. Mungkin itu salah satu sampingan Awana, selain bisa mengurangi biaya produksi juga memberikan penghasilan tambahan. Kita tidak berbicara profit yang penting positif buat perusahaan kita. Karena kalau hanya ditipu sih saya sudah kenyang, tetapi saya nggak mau pusing memikirkan semua itu karena yakin Allah akan memberikan rezeki yang lain,” tegasnya.

Feni yakin segala peristiwa memiliki hikmah tersendiri bagi orang yang berpikir positif. Ia mencontohkan, seandainya tidak diberi penyakit kanker dalam tubuhnya, belum tentu dirinya seperti sekarang. Semua itu harus disyukuri dan berpulang kepada diri masing-masing, adakah keinginan untuk berusaha atau tidak.

“Kita berusaha baik saja belum tentu mendapat balasan yang baik juga. Ketika pergi haji tahun 2008, saya ikut bersama jemaah bahkan menyediakan teh manis untuk mereka. Saya tidak apa-apa dibilang berjiwa pembantu, karena di rumah juga ngepel, nyapu, masak dan lain-lain. Semua kalau dilakukan dengan senang hati pasti terasa ringan,” tambah sulung dari dua bersaudara pasangan Rustam Effendi (Alm) dan Hj Rakimah ini.

Feni sangat  bersyukur memiliki keluarga yang sangat mendukung aktivitasnya. Suaminya, H Nandang Akasah yang menikahinya pada tahun 2001 mengerti dan memahami betul dengan kegiatan sehari-harinya. Semua terjadi karena sejak awal sudah menjadi komitmen yang telah disepakati bersama. “Saya sangat bersyukur punya suami yang mau mengerti dan memahami saya. Setelah lima tahun, baru dia terlibat mengurusi usaha ini,” ungkapnya.

Dukungan lain juga datang dari putri semata wayangnya –Salwa Samiyah Amanda- yang baru berusia empat tahun. Sedari kecil, Feni mendidik anaknya untuk hidup mandiri sesuai dengan tingkatan usianya. Cara yang dilakukannya adalah dengan memberikan contoh perilaku sehari-hari untuk ditirukan sang anak. Ke depan, ia ingin memberikan pendidikan setingi mungkin dengan harapan mampu melanjutkan bisnis PT Awana Travel.

“Kalau mampu, kita sekolahkan setinggi mungkin. Anak harus mencontoh kita, kalau kita tidak memberi contoh yang baik. Bagaimana anak menjadi baik, menjadi jujur kalau sendiri tidak jujur. Kita ingin generasi muda bangsa ini lebih bagus. Untuk itu, dimulai dari keluarga masing-masing sebagai orang tua harus menanamkan agama terlebih dahulu sebagai dasar. Kalau agamanya sudah kuat, insya Allah, berjalan dengan baik,” tegasnya.

Hj. IVA LATIVAH THAHIR

No Comments

Hj. IVA LATIVAH THAHIR
“Mengembangkan Profesi Sekaligus Syiar Islam”

Untuk mencapai sesuatu keberhasilan tidaklah mungkin diperoleh hanya dengan berpangku tangan atau bekerja seadanya artinya harus mau bekerja keras, berusaha maksimal, bersemangat, banyak belajar dan yakin dengan apa yang dikerjakan akan berhasil, dengan di iringi  rasa penuh tanggung jawab. Ketika kerja keras dan usaha yang maksimal telah kita jalani, masih ada hal lain yang tidak bisa diabaikan dan dilupakan oleh manusia untuk mencapai keberhasilan tersebut, yakin berdo’a mengharapkan pertolongan dari Allah SWT. Demikian kunci sukses Hj. Iva Lativah Thahir yang merupakan Owner dari Galeri IVA di dalam menjalani kehidupannya maupun menekuni profesinya sebagai seorang perancang busana muslim.

“Kita harus selalu berusaha untuk memotivasi diri kita sendiri bahwa kita ini mampu untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, tentu saja disamping keinginan dan semangat yang kita punya, kita juga harus punya keterampilan, pengetahuan, wawasan, dan kemauan untuk belajar. Kalau orang lain mampu, kenapa kita tidak?!”, ungkap sosok wanita yang saat ini di percaya pula menjabat sebagai Ketua Umum dari Ikatan Perancang Busana Muslim  (IPBM) Jawa Barat, yang selalu ramah dan santun dengan setiap orang.

Menciptakan Busana Muslim yang Santun dan Modis

Dalam ketentuan agama Islam, setiap wanita muslim diwajibkan untuk menutup auratnya. Dengan mengenakan busana yang sesuai sehingga bagian-bagian tubuh yang seharusnya “tidak dipamerkan” dan tetap tersembunyi. Tentu bagi wanita muslim yang taat, penggunaan busana muslim dalam aktivitas sehari-hari merupakan kewajiban.

Apalagi, Indonesia tidak mengenal larangan bagi wanita untuk beraktivitas di luar rumah. Wanita Indonesia bebas melakukan aktivitas seperti bekerja atau sekadar bersosialisasi di luar rumahnya sendiri. Tentu bagi wanita muslim harus pandai-pandai dalam memilih busana yang dikenakannya setiap keluar rumah. Karena syariat Islam mengatur secara ketat, cara berbusana bagi wanita muslim yang benar.

Berbeda dengan busana wanita Arab di tempat Islam berasal, model busana wanita muslim Indonesia disesuaikan dengan budaya asli bangsa ini. Berbagai macam rancangan busana wanita muslim mengambil corak dan bahan dasar dari berbagai etnik dan suku bangsa di Indonesia banyak beredar. Padu-padan antara budaya Islam dan adat istiadat lokal menghasilkan paduan yang harmonis tetapi tidak melanggar ketentuan.

Salah satu perancang busana muslim handal di Indonesia adalah Hj Iva Lativah  atau yang akrab di sapa Iva. Hasil karya wanita asal Bandung ini telah berhasil menembus pasar busana muslim internasional. Artinya, pengakuan terhadap rancangan-rancangan busana muslim yang dihasilkannya bukan hanya di Indonesia tetapi telah diakui dunia. Padahal, semula putri ke-5 pasangan      DR. KH. E.Z. Muttaqien dan  Siti Syamsiah ini “hanya” melaksanakan amanat agama yang sering disampaikan sang ayah.

“Saya menekuni profesi sebagai perancang busana muslim berdasarkan amanat agama yang sering disampaikan ayahanda perihal perlunya wanita muslimah berbusana muslim. Tetapi saya berpikir, busana muslimah itu harus modis sehingga mampu digandrungi kaum wanita, baik tua maupun muda. Saya mendapatkan kepuasan setelah lebih dari 21 tahun rancangan saya bisa memuslimahkan wanita-wanita muslim dengan menggunakan busana muslim yang santun tetapi tetap modis,” kata wanita yang mengambil namanya sendiri, IVA LATIVAH sebagai merek dagang ini.

Wanita yang sempat mengenyam pendidikan di Sastra Inggris Universitas Padjadjaran ini, mulai tergugah jiwa wira usahanya setelah melalui gerbang pernikahan. Sebagai ibu rumah tangga biasa istri seorang PNS, ia mulai menata kehidupan dengan berdagang kecil-kecilan. Pada awalnya, lahan bisnisnya adalah teman-temannya sendiri. Seiring dengan perjalanan waktu, ia melebarkan sayapnya hingga mampu memiliki galeri busana sendiri. Bahkan, galerinya bertempat di Bandung dan Jakarta, dengan hasil rancangan busana mampu menembus hingga manca negara.

“Impian masa kecil saya adalah ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat dan hidup cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, simple memang. Banyak kenangan yang menjadi motivasi dalam kehidupan ini karena masa kecil yang sangat prihatin di antara 10 bersaudara. Ini menjadi motivasi juga bagi anak-anak dan karyawan saya,” tutur penerima berbagai penghargaan terkait dengan prestasinya dalam rancang busana muslim tersebut, diantaranya    Anugerah Citra Perempuan Indonesia (tahun 2002), Penghargaan  Indonesia Good Professional Selection, Penghargaan Islamic Award, Penghargaan Jimmy’s Enterprise Mas, Penghargaan International Professional Association (tahun 2005), Penghargaan Indonesian Best Designer Of The Year 2006   dari Yayasan Penghargaan Prestasi Indonesia, Penghargaan  Indonesian Best Business & Professional Innovation dari World Achievement Association (tahun 2007) dan masih banyak lagi yang lainnya ini.

Perempuan kelahiran Bandung, 28 Mei 1958 yang banyak mengikuti fashion show di luar negeri ini, menyatakan bahwa penghargaan masyarakat terhadap apa yang dilakukannya terlalu tinggi. Padahal, masih banyak orang-orang lain dengan karya-karya yang jauh lebih hebat dan lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang telah diperbuatnya. Namun demikian, apresiasi masyarakat tersebut harus tetap dijaga dan dikembangkan dengan sepenuh hati serta keikhlasan.

Minat Perancang Muda

Dalam menjalankan usaha, Hj Iva Lativah Thahir seperti juga para perancang busana lainnya, mendirikan galeri sebagai sarana “memajang” hasil karyanya. Selain di Bandung, Galeri IVA juga terdapat di Jakarta untuk melayani konsumen ibukota. Banyak suka dan duka telah dialami dalam menjalankan usaha tersebut.

“Terlebih bila harus mengeksplor rancangan-rancangan baru yang sejalan dengan model busana dunia sehingga busana rancangan saya mampu memenuhi trend dunia. Alhamdulilah rancangan busana muslim rancangan saya mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional,” ujar wanita yang sering mengadakan berbagai peragaan busana baik di dalam negeri dan luar negeri seperti,  Bali Fashion Weeks, Hongkong Fashion Weeks, Kuala Lumpur Fashion Weeks,  Fashion Tendance APPMI Jawa Barat,  Myanmar Fashion, Malaysian Islamic Fashion Festival, Maroko Kampoeng Indonesia, Fashion Show di 80th Anniversary Charity Ladies high Tea 2008, Singapore., Cape Town Moslem Fashion Singapore: Ex Chanting Indonesia, Fashion Show di Melbourne,  Fashion Show di Brunei dan Fashion Show di Dubai.

Ke depan, Iva memiliki obsesi untuk menciptakan perancang-perancang muda kreatif. Diharapkan para perancang muda mampu menggunakan bahan dasar hasil produksi budaya masyarakat. Mengingat banyak produk tekstil hasil produksi daerah berdasarkan adat yang memiliki tekstur indah dan langka menunggu dikembangkan lebih lanjut.

Iva mengisahkan bahwa dalam 20 tahun terakhir ia telah menggeluti batik, baik tradisional maupun kontemporer dalam rancangannya. Ia juga “memasukkan” kain sutera sebagai bahan utama rancangan-rancangannya. Ia bersyukur, karya-karya rancangan busana yang dihasilkannya sudah “go international”. Rasa syukurnya semakin membuncah, tatkala menyadari bahwa sekarang telah lahir perancang-perancang muda handal yang memiliki tanggung jawab moral, religi, dan budaya nasional.

“Alhamdulilah…. Harapan saya adalah akan menumbuhkan minat generasi muda berikutnya untuk megikuti jejak langkah saya sebagai perancang busana muslimah yang handal dan dihargai di pasar dunia. Tetapi usaha ini adalah usaha yang membutuhkan talenta, sehingga cukup sulit untuk regenerasi maupun kaderisasi. Yang jelas, usaha ini adalah sebuah profesi yang harus dijalankan secara professional. Bagi saya, sepanjang masih mampu dan berkemampuan akan saya tekuni terus sebagai langkah ibadah,” tuturnya.

Iva yang mendapatkan dukungan penuh dari keluarga ini sangat bersyukur, anak ketiga –Adila Aafiyah- memperlihatkan bakatnya dalam rancang busana.  Kesukaan menggambar yang menjadi modal dasar sebagai perancang telah dimiliki siswi SMA Taruna Bakti ini. Sang anak juga mulai banyak bertanya tentang berbagai macam busana rancangan ibunya. “Terkadang saya suka mengajaknya berdiskusi mengenai warna-warni rancangan busana karya saya. Tampaknya dia memiliki talenta yang kuat,” kata wanita yang mendapat dukungan sepenuhnya dari suami tercinta dan dua anak laki-lakinya, yaitu Muhammad Reva, ST., dan Muhammad Faisal, ST.

Meskipun begitu, Iva tidak memaksakan kehendak bagi masa depan anak-anaknya. Mereka dibebaskan untuk mengembangkan kemampuan berdasarkan bakat atau talentanya masing-masing. Ia bersama sang suami hanya menjadi fasilitator untuk mendukung langkah-langkah yang dilakukan ketiga anaknya. Untuk lebih “mengenal” aktivitas ketiga anaknya, Iva dan keluarga sering melakukan aktivitas bersama-sama sambil mendiskusikan pengalaman mereka di luar rumah. “Terkadang dengan melakukan traveling bersama ke berbagai tempat. Pendidikan anak kita landaskan kepada kemampuannya bukan berdasarkan obsesi kita sebagai orang tua,” imbuh wanita yang murah senyum ini menambahkan.

Dengan begitu, lanjut Iva generasi muda penerus bangsa secara alamiah akan berkembang. Pada perkembangannya, mereka juga akan memiliki kemampuan untuk memimpin bangsa ini. Yang mana untuk mencapai hal tersebut, seluruh komponen bangsa harus memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk memimpin bangsa dan terus mengawalnya. “Allah Maha Perencana bagi bangsa dan negara tercinta ini,” ujarnya.

Hj Iva Lativah menyebutkan bahwa kondisi Indonesia di masa mendatang akan menjadi lebih baik. Dengan kepemilikan atas SDM yang lebih baik dari sekarang ini, nampaknya “Indonesia yang lebih baik” tersebut tidak terbendung. Prioritas di bidang pendidikan dan penciptaan lapangan kerja yang dilakukan pemerintah mempertegas tercapainya tujuan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah prioritas dalam bidang pertanian dan hasil usaha tani serta usaha mikro lainnya.

“Semua harus didorong untuk pencapaian kesejahteraan dan penghapusan kemiskinan di Indonesia. Insya Allah Indonesia di masa datang akan lebih baik apabila kita semua berpijak kepada asas budaya bangsa dengan dilandasi syariat agama,” tegas perempuan yang kurang memahami masalah politik ini. “Tetapi paling tidak politisi masa depan akan lebih baik dan memiliki tanggung jawab moral yang tinggi terhadap bangsa dan negara,” tambahnya sambil menutup perbincangan di siang hari yang cerah dengan Tim Profil.