Tag: tantangan

Feni Desnawai

Feni Desnawai
PT Awana Travel

Dari Perawat Menjadi Pemilik Perusahaan Travel

Sudah menjadi takdir manusia untuk menghadapi tantangan dalam menjalani hidup. Besarnya hambatan membuat manusia menjadi sangat bergairah untuk “menaklukkan” tantangan tersebut. Di situ, merupakan ujian bagi manusia untuk mengukur seberapa besar kemampuannya dalam menghadapi beratnya kehidupan. Kesuksesan, sangat ditentukan oleh ketangguhan dan kemampuan dalam menyiasati tantangan.

“Saya awalnya lulusan perawat dari Bengkulu dan bekerja di rumah sakit Pelni selama empat tahun. Selama empat tahun, saya senang mengikuti tantangan ke sana-sini. Saya masuk program D1 Akuntansi Komputer tetapi belum selesai sudah saya tinggal karena lulus seleksi di LAN. Tetapi susah kuliah di LAN sambil bekerja sebagai perawat di rumah sakit, apalagi kalau shift malam sehingga saya terpaksa mencari pekerjaan baru,” kata Feni Desnawai, pemilik PT Awana Travel.

Akhirnya, Feni berhenti dari rumah sakit dan berkarier sebagai tenaga honorer di sebuah perusahaan. Meskipun itu berarti terjadi penurunan status dan pendapatan, tetapi ia sangat bersyukur karena bisa melanjutkan pendidikan dengan lancar. Pendidikan di LAN yang cukup berat berhasil diselesaikannya tepat waktu pada tahun 1994. Satu tahun kemudian, ia dipindahkan ke bagian akuntansi yang selama 19 tahun terakhir ditekuninya.

Bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya, membuat Feni memutuskan untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci. Sepulangnya dari tanah suci, anugerah yang lebih besar diterimanya. Allah mengirimkan H Nandang Akasah sebagai suami yang menjadi imam dalam hidupnya. Sebagai ungkapan rasa syukur, keduanya melakukan ibadah umrah bersama-sama.

Namun, sebelum berangkat ke tanah suci, Allah menguji Feni dengan sakit yang cukup parah. Ia pasrah menerima segala cobaan yang datang dan di depan Kabah memanjatkan doa bagi kesembuhannya. Selain itu, ia juga memanjatkan doa agar hidupnya tetap memberikan manfaat bagi orang lain. Doa yang dipanjatkan dengan penuh kepasrahan –apalagi di depan Baitullah- benar-benar sangat mustajab.

“Saya dipertemukan dengan orang Indonesia di mana saya membeli paket penyelenggaraan umrah kepadanya. Dia menyarankan agar saya membuat travel yang saat itu belum terpikirkan sama sekali. Kami sangat awam bagaimana membuat travel. Bahkan suami saya bilang bahwa kami belum punya dana untuk itu. Orang itu tetap berkata, sudahlah bikin saja dulu PT-nya,” kisahnya.

Setelah sampai di Indonesia -dengan dukungan suami- Feni memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan. Dengan mengusung nama PT Awana Travel –meskipun tidak paham sama sekali dengan bisnis tersebut- ia menghadap notaris pada tanggal 13 Agustus 2004. Ia mengurus seluruh perizinan perusahaan seorang diri karena ingin belajar dari bawah sekaligus mencegah terjadinya penipuan. “Saat itu sudah ada 18 orang mendaftar tetapi semuanya perempuan sehingga terpaksa saya oper ke travel lain,” imbuhnya.

Tahun 2005, Feni telah mengantongi seluruh izin yang diperlukan untuk mengoperasikan perusahaan travel. Meskipun harus mengontrak kantor dan terpaksa harus “nombok” antara 600 – 1000 dolar setiap keberangkatan, ia tidak berputus asa. Kerugian terus dialaminya sampai tahun ketiga ia menjalankan usaha tersebut. Semangat untuk memberikan yang terbaik bagi tamu Allah terus dipeliharanya sehingga hitungan untung rugi tidak terlalu dipikirkannya.

“Saat itu masih ada subsidi dari suami yang kebetulan wiraswasta di bidang konstruksi. Kepada suami, saya meminta waktu dua tahun untuk memulihkan semuanya. Saya baru sadar, bisnis pariwisata itu modalnya besar, tidak cukup Rp200-300 juta,” ungkapnya. Tetapi tanggung jawabnya sebagai pemilik usaha tidak menyurutkan langkahnya untuk memberikan hak-hak bagi karyawan seperti gaji dan THR. “Bahkan THR dari kantor, saya bagikan kepada mereka. Itu yang saya utamakan,” tambahnya.

Menurut perempuan yang tidak merasa hina dan malu naik ojek ini, setiap kerugian yang dialami diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia yakin, selama yang dijalaninya tidak melenceng Allah pasti akan memberikan jalan terbaik baginya. Dengan keyakinan itu, perlahan namun pasti usahanya mulai berjalan. Banyak jemaah yang mempercayakan urusan haji dan umrah kepada perusahaan miliknya. “Apalagi kalau saya ikut dalam rombongan, jemaah sangat senang. Karena kalau ada apa-apa saya langsung action,” ungkapnya.

Sayangnya, tidak setiap keberangkatan rombongan Feni bisa menyertainya. Kesibukan di kantor tempatnya bekerja sangat menyita waktu sehingga tidak setiap saat ia bisa mengajukan izin cuti. Ia mengakui bahwa dirinya masih belum bisa fokus di Awana karena terikat dengan perusahaan tempatnya bekerja. “Masih sangat sibuk di kantor. Pokoknya, yang penting saya memiliki komitmen dan tanggung jawab sebagai istri, ibu, karyawan dan titipan amanah berupa Awana ini,” katanya.

Dengan kesibukan seperti itu, Feni tetap harus bersosialisasi dengan keluarga. Solusi untuk mengatasi kesibukan yang sangat menyita waktu tersebut, ia melakukan semuanya dengan penuh disiplin. Ia merencanakan segala kegiatan hariannya bahkan ketika baru bangun tidur. Semua itu dilakukan dengan disiplin, jujur dan dibicarakan secara terbuka dengan suaminya. Ia juga “mengandalkan” saudara-saudara iparnya ketika harus meninggalkan anak semata wayangnya untuk bertugas mengantarkan jemaah.

“Saya sering tidak ada pembantu, sehingga harus dengan ipar. Pokoknya, intinya disiplin karena memang berat untuk sukses, harus bekerja keras. Meskipun capek, setiap malam saya harus membuka email. Paling tidak, sambil memasak selama sepuluh sampai lima belas menit harus menyalakan komputer. Bunyi SMS saja saya langsung terbangun, karena sudah terbiasa. Semua karena tanggung jawab saya, kewajiban saya terhadap hak-hak jemaah yang seharusnya mereka terima,” ujarnya.

Tidak Pernah Beriklan

Selama mengoperasikan PT Awana Tour & Travel, Feni Desnawai tidak pernah memasang iklan. Jemaah yang puas dengan pelayanan PT Awana dengan senang hati akan mempromosikan perusahaan kepada keluarga, sahabat atau teman-temannya. Promosi model ini terbukti ampuh “menggaet” jemaah sehingga jemaah yang menggunakan jasa perusahaan datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kita tidak pernah beriklan, promosi benar-benar hanya dari mulut ke mulut. Dan untuk menghargai jemaah yang telah mempromosikan kita, mereka direkrut sebagai marketing dengan imbalan yang memadai. Itu selalu kami berikan meskipun secara operasional kami harus nombok. Yang penting, bagaimana caranya kita menciptakan network dari jemaah di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Semua itu dilakukan sebagai cara untuk memegang komitmen dengan apa yang telah dijanjikan. Untuk memastikannya, Feni terjun langsung dalam menangani jemaah. Karena jasa yang ditawarkan perusahaan adalah servis atau pelayanan, ia harus tahu betul bahwa semua berjalan dengan baik. Meskipun status sebagai pemilik perusahaan, Feni tidak segan-segan untuk mengantar atau menjemput jemaah di bandara.

Bahkan, saat mendampingi jemaah, Feni “rela” turun ke dapur untuk membuatkan minuman bagi jemaahnya. Kalaupun tidak mendampingi jemaah, ia selalu mengontrol keberadaan mereka dari tanah air. Karena ia ingin, semua berjalan dengan baik sesuai apa yang dijanjikannya. “Saya orangnya saklek, kalau bilang A ya A, tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi karena itu, jemaah suka mencari-cari saya, karena dianggap memberikan rasa nyaman. Bahkan sebelum mendaftar mereka bertanya dulu, ‘Feni-nya ikut nggak.’ Mereka ingin bareng saya jalannya,” ungkapnya.

Kedekatan seperti itulah yang membuat usahanya semakin maju. Terbukti, hingga bulan Agustus 2010 tercatat 300 jemaah telah diberangkatkan ke tanah suci. Semua itu dilakukan Feni dengan keyakinan bahwa rezeki memiliki garis masing-masing dari Allah, sehingga ia tidak takut bersaing dengan perusahaan lain. Meskipun sering mengikuti konsorsium pemberangkatan jemaah, namun tidak pernah sekalipun menyuruh anak buahnya untuk mengajak jemaah dari perusahaan lain bergabung di PT Awana.

Bagi perempuan kelahiran Muko Muko, 17 Desember 1964 ini, persaingan malah menjadi tantangan untuk menjadi maju. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana perlakuan perusahaan lain sebagai pesaing yang menzhaliminya. Semua diserahkan kepada Allah sebagai pemilik rezeki. Landasan keyakinan tersebut membuat langkahnya tidak terbendung oleh hambatan “kecil” seperti itu.

“Kalau kita memikirkan orang lain kapan kita akan maju. Kalau perlu kita bergandengan bukan malah saling sikut. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Dan menyelenggarakan perjalanan haji dan umrah bukan mencari rezeki semata. Pengalaman saya sembuh dari kanker di tanah suci, membuat saya ingin orang lain juga bisa ikut menikmati. Itu saja,” tandasnya.

Menurut pengamatan Feni, setiap tergabung dalam konsorsium, harga dari perusahaan miliknya selalu lebih murah. Meskipun demikian, ia tidak ingin jemaah pindah ke perusahaannya karena melihat harga murah tersebut. Tetapi ia tidak akan mampu mencegah kepindahan jemaah seandainya alasan yang dikemukakan seperti mukena atau kopor PT Awana lebih bagus. “Itu saya tidak bisa mencegahnya. Kalau untuk harga, di konsorsium kami lebih murah. Untuk haji bisa 6500 dolar sementara yang lain 7000 dolar,” tambahnya.

Semua itu dilandasi niat Feni untuk berbagi pasca kesembuhan dari kanker yang menggerogotinya. Setelah berhasil bebas dari kanker berkat doa-doanya di tanah suci, ia mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama. Saat ini yang paling diinginkannya adalah hingga akhir hayatnya bisa melayani jemaah dengan baik. “Setiap kali ke tanah suci, bukan doa meminta harta berlimpah yang saya panjatkan. Tetapi memohon kesehatan dan kesempatan untuk datang lagi dan lagi ke tanah suci. Saya tidak ingin Awana menyusahkan orang lain, itu prioritas saya,” kata perempuan mandiri dan sederhana ini.

Berjiwa ‘Pembantu’

Feni Desnawai terus melihat ke depan demi kemajuan PT Awana Tour & Travel. Ia ingin lebih banyak membantu orang lain mewujudkan keinginan untuk pergi ke tanah suci melalui perusahaan miliknya. Untuk itu sebisa mungkin ia tidak menetapkan harga yang tinggi untuk pelayanan perusahaan. Yang penting, dengan harga murah ia tidak terus-terusan “nombok” tetapi mampu memenuhi kewajiban kepada karyawan.

“Saya merintis Awana Konveksi untuk keperluan mukena dan kopor jemaah. Mungkin itu salah satu sampingan Awana, selain bisa mengurangi biaya produksi juga memberikan penghasilan tambahan. Kita tidak berbicara profit yang penting positif buat perusahaan kita. Karena kalau hanya ditipu sih saya sudah kenyang, tetapi saya nggak mau pusing memikirkan semua itu karena yakin Allah akan memberikan rezeki yang lain,” tegasnya.

Feni yakin segala peristiwa memiliki hikmah tersendiri bagi orang yang berpikir positif. Ia mencontohkan, seandainya tidak diberi penyakit kanker dalam tubuhnya, belum tentu dirinya seperti sekarang. Semua itu harus disyukuri dan berpulang kepada diri masing-masing, adakah keinginan untuk berusaha atau tidak.

“Kita berusaha baik saja belum tentu mendapat balasan yang baik juga. Ketika pergi haji tahun 2008, saya ikut bersama jemaah bahkan menyediakan teh manis untuk mereka. Saya tidak apa-apa dibilang berjiwa pembantu, karena di rumah juga ngepel, nyapu, masak dan lain-lain. Semua kalau dilakukan dengan senang hati pasti terasa ringan,” tambah sulung dari dua bersaudara pasangan Rustam Effendi (Alm) dan Hj Rakimah ini.

Feni sangat  bersyukur memiliki keluarga yang sangat mendukung aktivitasnya. Suaminya, H Nandang Akasah yang menikahinya pada tahun 2001 mengerti dan memahami betul dengan kegiatan sehari-harinya. Semua terjadi karena sejak awal sudah menjadi komitmen yang telah disepakati bersama. “Saya sangat bersyukur punya suami yang mau mengerti dan memahami saya. Setelah lima tahun, baru dia terlibat mengurusi usaha ini,” ungkapnya.

Dukungan lain juga datang dari putri semata wayangnya –Salwa Samiyah Amanda- yang baru berusia empat tahun. Sedari kecil, Feni mendidik anaknya untuk hidup mandiri sesuai dengan tingkatan usianya. Cara yang dilakukannya adalah dengan memberikan contoh perilaku sehari-hari untuk ditirukan sang anak. Ke depan, ia ingin memberikan pendidikan setingi mungkin dengan harapan mampu melanjutkan bisnis PT Awana Travel.

“Kalau mampu, kita sekolahkan setinggi mungkin. Anak harus mencontoh kita, kalau kita tidak memberi contoh yang baik. Bagaimana anak menjadi baik, menjadi jujur kalau sendiri tidak jujur. Kita ingin generasi muda bangsa ini lebih bagus. Untuk itu, dimulai dari keluarga masing-masing sebagai orang tua harus menanamkan agama terlebih dahulu sebagai dasar. Kalau agamanya sudah kuat, insya Allah, berjalan dengan baik,” tegasnya.

Harkandri M Dahler

Harkandri M Dahler
Presiden Direktur Aerotrans ( PT Mandira Erajasa Wahana )

Sukses Meningkatkan Kinerja Perusahaan Melalui Rebranding

Dalam sebuah usaha yang tidak menunjukkan peningkatan, perubahan sangat perlu dilakukan. Apalagi jika produktivitas perusahaan yang ditargetkan tidak tercapai maka pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, dari internal maupun eksternal perusahaan. Dari sisi internal adalah pembenahan perusahaan, baik manajerial, produk, SDM maupun pelayanan. Sementara pembenahan eksternal adalah pembinaan terhadap pelanggan atau pengguna produk perusahaan.

Persaingan bisnis yang semakin tajam akibat globalisasi, mengharuskan sebuah perusahaan meningkatkan kinerjanya. Apalagi bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa, persaingan sangat ketat. Banyak bermunculan perusahaan baru yang menawarkan ide-ide besar untuk menarik pelanggan. Akibatnya, sebuah perusahaan jasa yang “mandhek” dan tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan akan ditinggalkan.

“Saya dikirim ke sini dengan kondisi perusahaan yang memiliki citra kurang baik di mata pelanggan. Saat itu, image bisnis jasa transportasi milik Garuda dengan nama Mandira itu terkenal dengan kendaraan yang kotor, sopir ugal-ugalan, attitude diragukan dan lain-lain. Pokoknya integritasnya diragukan sehingga dengan adanya program rebranding yang saya jabarkan di sini, kami berusaha mengangkat kinerja perusahaan,” kata Harkandri M Dahler, Presiden Direktur Aerotrans

Menurut Harkandri , program rebranding merupakan program perubahan yang dicanangkan induk perusahaan, PT Aerowisata. Anak perusahaan PT Garuda Indonesia secara serentak sejak November 2009 melaksanakan rebranding terhadap perusahaan dibawah kendalinya seperti Aerofood ACS, Aerotravel, Aerowista Hotel dan lain-lain. Tujuan rebranding adalah untuk mendorong anak perusahaan meningkatkan kinerja bisnisnya dengan mengoptimalkan sumber daya yang sudah dimiliki.

Mandira sebagai operator jasa trasportasi darat, jelas Harkandri , menggunakan  brand baru, Aerotrans. Diharapkan, perusahaan tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan mampu bersaing di pasar. Keberhasilan rebranding dapat diukur dari jumlah pelanggan yang puas atas layanan dan terus menggunakan jasa yang ditawarkan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga mampu “menggaet” pelanggan baru karena citra akibat rebranding yang semakin cemerlang.

“Nilai rebranding atau core value yang saya sosialisasikan kepada karyawan ada empat hal. Sincere yakni ketulusan dan ikhlas mengerjakan tugas. Impeccable yaitu bekerja tanpa cacat, sempurna dengan start dari proses awal yang benar. Proactive, atau komitmen untuk memberikan solusi. Imaginative yaitu mengedepankan inovasi dalam pelayanan. Tetapi mempraktekkan empat hal tersebut ternyata berat. Perusahaan yang terbentuk sejak tahun 1988 itu, sangat berat untuk mengubah tradisi yang sudah membudaya. Makanya saya mengajukan diri untuk fokus dan total di sini,” ujar profesional yang tadinya masih merangkap sebagai Direktur Keuangan dan SDM Aerofood ACS

Sosialisasi rebranding yang dirancang Harkandri  dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya dilaksanakan oleh karyawan pada level pelaksana lapangan, tetapi juga direksi, manajemen, dan karyawan operasional. Program yang dilaksanakannya meliputi semua aspek bisnis perusahaan seperti logo baru, bus baru, dekorasi dan warna kendaraan, corporate identity serta seluruh dokumen surat menyurat perusahaan. Ia juga membenahi jaringan IT dan meningkatkan fasilitas serta kesejahteraan karyawan, mulai internet, seragam, dan infra struktur lain-lain.

Untuk mensosialisasikan implementasi tujuan rebranding, Harkandri  juga meminta  dukungan dengan Serikat Pekerja (SP). Melalui PKB (Perjanjian Kerja Bersama) periode 2010-2012, ia berhasil mengajak karyawan untuk menutup masa lalu dan membuka lembaran baru menuju masa depan yang lebih baik. karyawan yang berjumlah sekitar 2200 orang diajak bekerja sebaik-baiknya demi kepuasan pelanggan. Karena dengan komitmen itu sebagai akan berguna pada kemajuan perusahaan yang berimbas pada kesejahteraan karyawan sendiri.

Dari sisi manajerial, Harkandri  menyusun pembenahan secara menyeluruh. Ia membuat restructuring balance sheet dari divisi keuangan dan melakukan analisa terhadap pembelian asset bekerja sama dengan bank. Dari perhitungannya, ia bisa mengoptimalkan pengeluaran dari bunga yang harus dibayar kepada pihak ketiga. Bunga yang tidak kompetitif harus d-restrukturisasi agar menjadi kompetitif, termasuk proses dokumennya juga harus effisien.
Dari situ, perusahaan mendapat penghematan cash flow atas bunga sebesar sekitar Rp600 juta,” tuturnya.

Harkandri  dalam melaksanakan program ini tidak hanya duduk di belakang meja saja. Ia bukan tipe direktur perusahaan yang sudah establish dan hanya tinggal tanda tangan saja. Sebagai pucuk pimpinan tertinggi, ia tidak segan-segan turun langsung bahkan untuk sekadar mengambil tagihan. Tujuannya untuk merapikan perusahaan tetapi tanpa harus mengeluarkan dana lebih. Agar pesan perubahan yang ingin disampaikannya cepat diterima seluruh karyawan, ia menerbitkan bulletin Aerotrans News. Tujuannya untuk menyosialisasikan kebijakannya dalam membenahi perusahaan mengantisipasi perbedaan persepsi ketika informasi disampaikan kepada karyawan.

“Dari saya A, mungkin sampai manager menjadi Z. Maksud saya bulletin ini untuk mengakselerasi pekerjaan dari pusat sampai grass root. Menginformasikan kebijakan dari direksi kepada seluruh karyawan. Jadi ini adalah software untuk akselerasi kemajuan perusahaan. Saya juga membenahi brosur perusahaan sehingga lebih komunikatif seperti sekarang ini,” ungkap pria yang meniatkan tugasnya untuk semata-mata ibadah ini.

Bertahan Tiga Bulan

Karier Harkandri M Dahler diawali di maskapai penerbangan Garuda Indonesia sejak tahun 1978. Ia bertahan pada perusahaan penerbangan milik pemerintah Indonesia itu sampai tahun 2002. Selama menjalani karier, berbagai tugas dan jabatan pernah diembannya berkaitan dengan administrasi dan manajemen. Padahal, sejatinya ia adalah seorang mekanik yang harus lebih banyak berkutat di bagian teknik pesawat terbang.

“Saya menjadi mekanik hanya tiga bulan, terus ‘lari’ ke bagian administrasi. Nah, setelah lepas dari Garuda, antara tahun 2002-2008 bekerja di bengkel maintenance pesawat yang menjadi bagian integral layanan PT Garuda, yakni PT GMF AeroAsia. Saya termasuk orang pertama yang bekerja disitu,” katanya.

Selama di GMF, pria kelahiran Kuala Tungkal, 1 Juli 1957 ini memegang berbagai jabatan. Mulai bergabung di divisi keuangan, menjadi corporate secretary dan jabatan terakhir adalah Kepala Marketing GMF. Kinerja yang ditunjukkan suami Mia Arbaiyah ini sangat memuaskan sehingga ia mendapat award dari perusahaan. Karena penghargaan itu, awal Januari 2009 ia mendapat amanah untuk menjadi Direktur Keuangan & SDM PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (sekarang Aerofood ACS).

Karier Harkandri  terus melesat bak meteor. Setelah dianggap sukses menangani perusahaan katering, pada bulan Maret 2010 ia dinobatkan sebagai Presiden Direktur PT Aerotrans. Meskipun sempat bertanya-tanya -karena spesialisasinya adalah teknik di bidang rangka pesawat, namun ia melihatnya sebagai tugas yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Apalagi, dukungan dari para pemegang saham yang melihat potensi dalam dirinya menambah keyakinan atas pekerjaan tersebut.

“Saya pernah bertanya, kenapa harus saya, ini kan tidak sesuai dengan latar belakang saya. Tetapi justru mereka bilang, ‘urusan itu bukan anda yang menentukan’. Mungkin ternyata pilihan mereka kepada saya anggap sebagai tantangan,dan jalankan dengan sungguh-sungguh,saat di katering itu saya juga banyak belajar,” tuturnya.

Saat memegang Aerofood ACS, Harkandri  memang menorehkan prestasi yang mengilap. Strategi pemasaran yang diterapkannya terbukti ampuh mendongkrak pendapatan perusahaan. Seperti bagaimana ia melakukan inovasi terkait kejenuhan dalam bisnis inflight catering, dengan arahan Direktur Utama dan Direksi lainnya di Aerofood ACS . Ia mengatasi kejenuhan tersebut dengan masuk wilayah industrial catering. Yakni menggarap katering bagi rumah sakit perkotaan dan pertambangan (mining) dengan tetap menjadi pemasok bagi katering perusahaan induk, PT Garuda Indonesia.

“Strategi ini terbukti meningkatkan akselerasi pendapatan perusahaan dengan omzet sekitar hampir Rp1 triliun per tahun. Jadi, konsepnya saya melihat pasar infligt catering yang mulai jenuh sehingga meskipun kita genjot bagaimana pun ya tetap ‘segitu’ saja. Makanya kita lari ke industrial catering, restoran dan kafe,” tambah ayah lima anak ini.

Bekerja Secara Terstruktur

Dalam melakukan rebranding di perusahaan yang dipimpinnya, Herkandri M Dahler mengakui banyak kendala yang harus dihadapinya. Saat pertama kali kedatangannya, kondisi perusahaan transportasi tersebut dalam keadaan nyaris bangkrut. Dengan karyawan sekitar 2000 orang dan mengelola asset sebanyak 1000 kendaraan, seharusnya perusahaan bisa berkembang dengan baik. Namun, semua itu menjadi tantangan baginya untuk membenahi dan memajukan perusahaan.

“Dilandasi niat untuk ibadah, saya berusaha membenahinya. Saya bilang kepada karyawan, bahwa perusahaan ini bangkrut. Kalau anda semua mau dibubarkan tinggal bilang saja, begitu kata saya. Tetapi mereka tidak mau dan bersedia bekerja keras untuk memajukan perusahaan ini. Mereka menyatakan siap membantu saya untuk melakukan perubahan total,” ujarnya.

Harkandri kemudian melakukan efisiensi di segala bidang. Ia mengontrol setiap fungsi dan mengevaluasi target yang dicanangkan. Kepada karyawan ia menegaskan pentingnya integritas dalam bertugas agar perusahaan berkembang dengan baik. Ia mengharapkan dukungan yang besar dari para sopir sebagai ujung tombak perusahaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Menurutnya, kepuasan pelanggan sangat tergantung dari integritas sopir saat bekerja.

“Saya biasa bekerja secara terstruktur dengan ukuran-ukuran yang jelas dan dievaluasi secara periodik. Kepada karyawan saya tidak menjanjikan mereka menjadi orang kaya, tetapi setidaknya dapat hidup layak. Saya membuat bermacam-macam program agar mereka memiliki ‘getaran’ terhadap perusahaan. Hasilnya, saya mendapat target pendapatan perusahaan tahun 2010 ini sebesar Rp156 miliar,” tandasnya.

Harkandri juga telah menyusun program jangka panjang perusahaan hingga tahun 2014. Ia memandang jauh ke depan dengan membuat perencanaan terkait target pendapatan, akumulasi biaya, diversivikasi usaha dan lain-lain. ia melihat salah satu jalan adalah penguatan struktur dan semangat karyawan dalam bekerja sehingga tercipta sebuah tim yang solid.

“Kita membangun solid team agar menjadi one team, one spirit and one goal. Jadi betul-betul menjadi bagian dari hati sehingga karyawan mantap bekerja di sini. Ke depan saya ingin mengembangkan usaha di bidang wisata dan bahkan kalau bisa menjadi perusahaan wisata. Karena pasarnya juga luar biasa. Sekarang saya kan sedang investasi dengan menempatkan orang-orang profesional dan merapikan perangkatnya. Saya yakin akan berkembang dengan baik,” tukasnya.

Keikhlasan dan Ketulusan

Harkandri M Dahler sebenarnya tidak pernah bercita-cita fomal seperti menjadi dokter atau insinyur. Sebagai orang kampung, ia mengikuti jalan hidup yang telah ditentukan Tuhan baginya. Ia hanya berprinsip bahwa dalam mengerjakan segala sesuatu dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih. Semua dikerjakan sebaik-baiknya diiringi dengan rasa tanggung jawab yang besar. Itulah yang dilihat oleh atasan-atasannya sehingga dengan cepat mendapat promosi.

“Meskipun kadang saya merasa belum siap, tetapi tugas tetap harus dilaksanakan. Yang penting, saya bekerja dengan tanpa pamrih dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Prinsip saya orang boleh tidak kenal Harkandri tetapi produknya dikenal luas. Kita juga harus siap menerima isu-isu maupun fitnah yang dihembuskan pihak lain, terkait prestasi yang dicapai. Biasa itu,” kata Harkandri yang berhasil sebagai team “membebaskan” bea

masuk dan PPn komponen pesawat terbang ini.

Dengan ketulusan dan keikhlasan terhadap apa yang dilakukan, Harkandri berharap mendapat kebaikan. Prinsip dalam menjalani hidup adalah memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki talenta luar biasa untuk mengembangkan diri. Konsep yang dipegangnya adalah orang harus dipoles menjadi intan atau berlian, yang meskipun teronggok di pasir pantai cepat atau lambat akan memancarkan sinarnya dan tetap dicari orang.

“Jadi apa yang dikasih kepada saya adalah amanah yang saya kerjakan dengan penuh totalitas,” kata Harkandri yang mendapat kepercayaan penuh dari istrinya tersebut. Istrinya sudah tahu sejak awal kalau ia adalah pekerja keras, yang sering pulang malam atau keluar kota. Yang jelas, ia tetap menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. “Faktor trust membuat saya tetap pada track-nya sehingga keluarga tahu saya memegang kepercayaan tersebut,” imbuh pria yang suka melawak di rumah ini.

Kepada generasi muda, Harkandri berpesan agar mereka mengutamakan keikhlasan dan ketulusan dalam segala aktivitasnya. Mereka juga harus tetap pada tugasnya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin dengan belajar sebanyak-banyaknya. Media belajar pun tidak harus dari pendidikan formal, tetapi juga pendidikan non formal dengan mempelajari pengalaman serta kisah hidup orang-orang sukses.

“Generasi muda harus memiliki totalitas dalam menekuni aktivitas masing-masing. Jangan sampai cepat-cepat beralih kepada aktivitas lain sehingga lambat laun, mereka akan menjadi spesialis dalam bidang yang ditekuni. Dari pengalaman orang lain bisa kita kaji sebagai pembelajaran. Suatu saat, takdir Tuhan akan membuka jalan kesuksesan kita. Karena sebenarnya takdir adalah pertemuan antara usaha manusia dengan kehendak Allah. Jadi kalau usaha kita benar hasilnya pun akan benar pula,” ungkap Harkandri M Dahler.

Sekilas Aerotrans

Aerotrans (Garuda Indonesia Group) berpengalaman dalam menyediakan transportasi darat sejak 1988.

Aerotrans mengoperasikan lebih dari 1000 unit kendaraan dalam berbagai tipe seperti big, medium, micro, dan mini bus, van, 4 wheels drive, box/pick up, hi-lift truck, low deck bus, dan sedan dengan dukungan lebih dari 2000 karyawan.

Visi Aerotrans
“Menjadi perusahaan jasa transportasi darat terbaik dan disegani dalam mendukung industri penerbangan, pariwisata nasional dan industri lainnya”

Misi Aerotrans
1.    Memaksimalkan kualitas jasa pelayanan transportasi terpadu melalui operation excellence
2.    Mengembangkan pola kemitraan yang efektif melalui customer intimacy
3.    Secara konsisten & tulus melaksanakan nilai-nilai etika SDM dan perusahaan (core values) melalui implementasi etos kerja

Perjalanan Usaha Aerotrans

⦁    1988 – tanggal 2 November 1988, Aerotrans, yang sebelumnya merupakan Divisi Transport PT Garuda Indonesia, berdiri sendiri dibawah PT Mandira Erajasa Wahana, sebagai unit usaha PT Aerowisata, anak perusahaan PT Garuda Indonesia

⦁    1991 – Melayani Aerowisata Catering Service dan Satriavi Leisure Management, sebagai customer pertama di luar PT Garuda Indonesia
⦁    1995 – Melayani angkutan Haji Jakarta untuk pertama kalinya
⦁    2002 – Mulai melayani pasar korporat di luar Garuda Indonesia Group
⦁    2009 – Aerowisata Transport rebranding menjadi Aerotrans

Layanan Aerotrans

Layanan Aerotrans terdiri dari layanan jangka panjang dan jangka pendek, sesuai kebutuhan pelanggan.  Layanan tersebut terdiri atas:

⦁    Rental Services
Jasa sewa kendaraan
⦁    Tourism
Layanan kegiatan wisata
⦁    Fleet Management
Pengelolaan transportasi internal
⦁    Ground Handling Service
Layanan transportasi untuk mendukung kegiatan operasional di wilayah Bandara
⦁    Driver Support Service
Jasa pengemudi profesional, berpengalaman dan terdidik

Keunggulan Layanan Aerotrans

Selain melayani induk perusahaan, PT Garuda Indonesia, Aerotrans juga dipercaya untuk melayani puluhan perusahaan lain. Kepercayaan tersebut karn Aerotrans memiliki berbagai keunggulan dibandingkan perusahaan lain sejenis, antara lain:

⦁    Experience
Melayani transportasi darat lebih dari 20 tahun
⦁    Safety & Eco-green service
Berbekal prosedur kerja sesuai dengan prinsip Health, Safety, Environment (HSE)
⦁    Selection
Berbagai tipe kendaraan sesuai kebutuhan
⦁    Customized Service
Penyediaan logo di kendaraan, kursi bayi, video & musik, karaoke, pewangi kendaraan, dan lain-lain
⦁    Insurance All Risk
Asuransi perjalanan bagi kendaraan
⦁    Personal Insurance
Asuransi perjalanan bagi setiap penumpang
⦁    License Support
Memiliki surat ijin beroperasi di area Bandara dan mengurus kelengkapan dokumen untuk kelancaran bisnis Anda
⦁    Reliability
Memiliki staf yang berpengalaman, fasilitas kendaraan yang lengkap dan bengkel 24 jam untuk pelayanan perjalanan berstandar tinggi
⦁    Easy Access
Contact center 24 jam, online reservation, online payment, dan wilayah operasi di kota-kota besar seluruh Indonesia

Brand Values

Semua keunggulan Aerotrans tidak terlepas dari brand values yang ditetapkan perusahaan, yaitu:
⦁    Sincere – Memberikan pelayanan yang tulus, dengan kehangatan, keterbukaan dan rasa hormat
⦁    Impeccable – Menjalankan pekerjaan secara sempurna dan tanpa cacat dengan standar tertinggi
⦁    Proactive – Berinisiatif dalam mencari dan memberikan solusi sehingga dapat memberikan pelayanan yang melebihi ekspektasi
⦁    Imaginative – Memotivasi agar berani mengambil resiko dan tantangan serta mengeksplorasi cara-cara untuk menggugah dan menyemangati pihak-pihak yang berkepentingan.

Dessy Arnas

No Comments

Runway Indonesia – Personality School

Mengajar Pengembangan Diri Sebagai Passion Kehidupan

Setelah menjalani rutinitas pekerjaan selama bertahun-tahun, adakalanya kejenuhan menghinggapi seseorang. Apalagi kalau selama menekuni pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat, hingga lupa diri dalam bekerja dan tanpa terasa karier sudah tidak bisa meningkat lagi.

Kondisi seperti ini hanya bisa disikapi dengan menetapkan tiga pilihan. Pertama menyerah terhadap tuntutan pekerjaan sampai memasuki masa pensiun dan menikmati segala konsekuensinya. Kedua melepaskan diri dari seluruh aktivitas pekerjaan untuk menikmati istirahat. Sedangkan ketiga adalah menciptakan tantangan baru sehingga menumbuhkan semangat untuk terus berkembang.

“Saya merasa lelah setelah dua belas tahun bekerja pada sekolah pengembangan diri internasional. Setelah karier dirasa mentok, saya berpikir untuk berdiri sendiri. Apalagi saya ditegur Allah dengan sakit yang cukup keras karena bekerja terlalu ngoyo. Saya kemudian memutuskan untuk istirahat setelah selama bertahun-tahun agak lupa diri dalam bekerja,” kata Dessy Arnas, Runway Indonesia – Personality School.

Dessy kemudian mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktu seperti mengajar. Belajar dari pengalaman sebagai marketing yang hampir-hampir tidak memiliki waktu luang, ia mengajukan pengunduran diri dan bergabung di Runway Indonesia, April 2011. Perusahaan pengembangan diri internasional tempatnya bergabung selama 12 tahun pun ditinggalkan.

Sedangkan Runway Indonesia sendiri sebelumnya merupakan sekolah modeling dan acting sejak tahun 2007. Pendirinya Agung Saputra adalah pemilik sebuah management artis dan Nonny Chirilda yang memiliki management model. Keduanya sepakat mengembangkan sekolah yang mereka miliki menjadi personality school atau sekolah pengembangan diri, terbentuklah Runway Indonesia.

“Kemudian bergabunglah saya yang experience di sekolah pengembangan diri, personality. Di sini, saya tidak hanya sekadar mengajar yang sudah menjadi passion kehidupan saya. Tetapi saya juga membuat design program training, desain program kelas, nanti murid-muridnya bisa kita encourage agar dapat lebih mendapatkan sesuatu, begitu,” kata salah satu stakeholder Runway Indonesia ini.

Dessy telah menyusun program pengembangan diri di Runway Indonesia yang terbagi dalam tiga program, yakni program anak-anak, remaja dan dewasa. Bagi kelas dewasa diutamakan untuk mempelajari Self Improvement untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kelas anak-anak bisa belajar percaya diri dan kemandirian sehingga terlepas dari ketergantungan pada ibunya, suster dan lain-lain. Sementara kelas remaja -masa transisi yang kritis dan harus diwaspadai- sehingga harus diberikan wawasan agar tidak melenceng, mampu mengatur diri sendiri, manajemen waktu dan lain-lain.

“Kalau bidang entertainment, seperti model dan artis, kemudian bidang karir, semua itu kita terus kembangkan. Karena sasaran kita memang untuk kalangan anak muda, seperti program karier bagi mahasiswa untuk menyiapkan diri dalam berkarier. Seperti bagaimana mereka ‘menjual dirinya’ saat melamar pekerjaan. Karena kebanyakan perusahaan ingin karyawan yang sudah jadi. Di sini, lama pendidikan hanya dua bulan atau 12-14 pertemuan saja,” katanya.

Terbiasa Hidup Mandiri

Perempuan kelahiran 12 Desember 1972 ini mengisahkan, ketertarikannya ke dunia kerja tidak lepas dari peran sang ibu –Hj Suharti- yang seorang wanita karier. Istri H Nasrun Ismail –ayah Dessy- ini bekerja sebagai Sekretaris Kepala Telkom dan sempat melakukan tugas mengepang rambut tiga anak perempuan, menyiapkan perlengkapan satu anak laki-laki serta kebutuhan suaminya.

“Ibu bahkan masih sempat menyasak rambut sendiri, menyetir mobil ke kantor sendiri dengan sepatu hak tinggi. Kayaknya enak banget ya menjadi wanita karier. Makanya sejak sekolah saya ikut sanggar dan kegiatan lain yang menghasilkan uang. Saya terbiasa hidup mandiri meskipun kedua orang tua secara finansial tidak kekurangan. Pada semester 6, saya ikut menjadi pramugari seasonal di Garuda saat musim haji,” katanya.

Ayahnya terusik melihat “keusilan” anak ketiganya ini. Dessy pun mendapat teguran untuk memilih salah satu dengan serius, melanjutkan kuliah atau bekerja mencari uang saja. Sebagai orang yang konsekwen atas pilihannya, Dessy pun kemudian bekerja. Saat usianya menjelang 22 tahun, ia bekerja di Surabaya dan memutuskan untuk menikah satu tahun kemudian.

Sayang, saat karier Dessy sudah bagus dan mapan, suaminya dipindah tugaskan ke Banda Aceh. Dengan perasaan campur aduk antara marah, kecewa dan lain-lain, karier yang sudah dibangunnya pun ditinggalkan begitu saja. Dengan kondisi seadanya, sebagai istri ia patuh terhadap suami. Selama lima tahun (1997-2002), Dessy menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

“Setelah dipindahkan ke Jakarta, suami mengijinkan saya untuk kembali bekerja. Atas rekomendasi mantan atasan ditempat bekerja terdahulu, saya bekerja di cabang Jakarta perusahaan lama. Setelah lima tahun di Aceh, saya merasa seperti orang kampung. Saya sangat minder, tetapi mantan atasan saya selalu memotivasi. Dalam tiga minggu saya sudah dapat client dan bulan berikutnya sudah dapat client salah satu bank swasta terkemuka,” tuturnya.

Karier Dessy Arnas dengan cepat meroket. Hanya dalam waktu tiga tahun, ia diangkat sebagai General Manager di perusahaan tersebut. Ia menganggap perusahaan tempatnya bekerja tersebut merupakan sekolah kehidupan baginya. “Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk tetap survive hidup di Jakarta. Dan juga saya memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan karir imbuh ibu dari Rakha Aditya Afrizal dan Rania Adelia Afrizal ini.

Belajar dari perjalanan hidupnya, Dessy Arnas mengimbau generasi muda untuk tidak salah persepsi tentang emansipasi. Baginya, seorang perempuan tidak mungkin mampu mengalahkan seorang laki-laki. Bahkan dalam ajaran agama pun lelaki adalah imam, sehingga sebagai perempuan harus tunduk pada laki-laki. Perempuan-perempuan yang mempunyai potensi, seharusnya disalurkanlah ke tempat yang benar dalam waktu yang benar pula.

“Aturlah diri kita sebagai perempuan yang harus bisa berfungsi dan berguna buat orang lain. Tidak usah karier kantoran seperti sayalah, ibu rumah tangga juga sebuah karier yang sangat mulia. Saya sangat respek pada ibu rumah tangga karena saya sudah mengalaminya selama lima tahun, full time hanya dirumah” kisahnya.

Saat menjadi ibu rumah tangga, Dessy merasakan bagaimana sulitnya untuk sekadar membuat menu makanan harian. Menurutnya, perempuan boleh memiliki ambisi besar tetapi harus tetap pada porsinya dan tidak terlalu berlebihan. Ukuran yang digunakan adalah rumah tangganya sendiri, sehingga ketika berhasil mengorganisasi sebuah organisasi terkecil -yakni rumah tangga- pasti akan berhasil mengelola organisasi yang lebih besar.

“Pagar dan aturannya memang harus ada, mana yang porsi laki-laki mana yang porsi perempuan. Kalau ada yang tidak pas, kan ada kompromi yang bisa kita lakukan. Kalau sudah memutuskan berkarier, kita juga harus bertanggungjawab terhadap karier kita. Tetapi jangan melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan harus benar-benar bisa mempertanggungjawabkan keduanya,” imbuh pemilik motto “Never Stop to Learn” ini.

Setiap Orang Memiliki Kelebihan

Menurut Dessy, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Pendidikan kepribadian membantu orang untuk meningkatkan nilai tambah sehingga dalam setiap kesempatan selalu terlihat lebih bernilai dan menonjol. Meskipun demikian, kebanyakan orang menganggap bahwa pendidikan kepribadian bukanlah sesuatu yang penting.

“Tidak belajar pun juga tidak apa-apa karena sudah ada dalam diri setiap orang. Biasanya orang malah khawatir, setelah mengikuti pendidikan di sini akan menjadi jaim dan lain-lain. Tetapi kami yakinkan bahwa kita hanya men-suggest dalam segala sesuatu. Tidak cantik atau tidak ganteng tidak apa-apa tetapi tetap percaya diri. Saya ingin menularkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita berusaha membangkitkan self control yang baik sehingga kita bisa menampilkan citra positif serta potensi diri yang kita miliki,” tandas sarjana Marketing & Communication ini.

Dalam menyikapi persaingan bisnis, Dessy menanggapinya dengan wajar. Baginya, setiap institusi memiliki segmen berbeda-beda lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Di Runway Indonesia dengan konsep yang baru serta para pengajar yang memiliki visi sama, ia yakin akselerasinya pun lebih kencang.

“Saya bilang kepada staf, kalau kita lari sudah tidak bisa direm. Kalau jatuh itu wajar, harus segera bangun dan lari lagi.Terjatuh dan segala kendala lain merupakan hal yang biasa dan bagian dari sekolah saya. Karena semua itu terkait dengan proses yang akan terus berkembang seiring dengan pengalaman,” kata perempuan yang menganggap stafnya sebagai adik-adiknya sendiri ini. “Kalau menegur pasti dalam jam kerja, diluar itu tidak saya lakukan,” tambahnya.

Istri Hendri Afrizal, SE, MM ini berharap agar lembaga yang dikelolanya menjadi lebih besar dan memiliki beberapa cabang. Dengan memiliki cabang di tempat lain, ia mampu berbagi dengan orang yang ingin mengembangkan diri. Ia juga berharap agar program pengembangan diri ini bisa masuk ke sekolah-sekolah. Untuk itu, pemerintah harus memiliki program terkait bagaimana seorang anak belajar soft skill, mengelola stress dan kepercayaan diri.

“Bidang saya kan di pendidikan, saya ingin sekali agar bidang ini tidak ketinggalan. Kenapa bisnis seperti ini laku, karena kita ini kurang pede seperti bangsa lain di dunia ini. Padahal, rasa percaya diri itu bisa ditumbuhkan dan dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Nilai-nilai yang bisa dieksplore ya harus dikeluarkan. Kita harus konsen terhadap nilai-nilai tersebut agar kita tidak ketinggalan. Jadi sekarang bagaimana caranya untuk membangun kepercayaan diri kita dengan mengeksplore apa yang ada di dalam diri kita menjadi ‘sesuatu’ yang bisa diandalkan,” kata penyuka liburan di pantai ini.

 

 
Personality School
Wajah Baru Runway Indonesia

Selama empat tahun, Runway Indonesia sudah berhasil mencetak hampir 300 talenta yang sukses menghiasi panggung mode dan layar kaca di Tanah Air. Kini, Runway Indonesia hadir dengan wajah baru sebagai Personality School.

Runway Indonesia pertama kali hadir pada 2008 dan mengambil lokasi di Jalan Boulevard Raya-Blok CN2 No. 10, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat itu, program yang diperkenalkan lebih fokus pada dunia Modelling dan Acting. Para lulusan dari sekolah ini hampir mencapai 300 orang dan sebagian di antara mereka bersinar sebagai public figure yang membintangi beberapa sinetron dan film layar lebar. Selain itu, mereka juga sering dilibatkan untuk ikut berpartisipasi di ajang peragaan busana karya desainer papan atas.

Melihat perkembangan yang bagus setiap tahun, maka Founder Runway Indonesia yang terdiri atas Nonny Chirilda, Agung Saputra, dan Dessy Arnas yang masing-masing memiliki pengalaman di bidang modeling, talent management dan kepribadian ini, berupaya memberikan ruang yang lebih luas lagi kepada para talenta di Indonesia untuk mendapatkan ilmu Personality yang menjadi modal mereka lebih percaya diri dan mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain.

Saat ini Runway Indonesia memiliki konsep baru sebagai Personality School. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan setiap individu untuk bisa tampil menarik serta percaya diri, sehingga profesi apapun yang akan digeluti, akan berhasil dengan baik. Apakah itu di bidang entertainment, ataupun di bidang karir dan bisnis.

Program-program unggulan yang ditawarkan Runway Indonesia, meliputi Self Improvement, Career Enrichment, Proficient MC & Presenter, Runway Modelling, Professional Acting, Teens Clique, dan Kiddos.

Runway Indonesia menerima anak didik mulai dari tingkat anak-anak (4-10 tahun), remaja (11-16 tahun), dan dewasa (17 tahun ke atas). Mereka akan menerima materi pengajaran selama 14 sesi, dan bisa dilakukan setiap hari, seminggu dua kali, atau setiap Sabtu. Untuk setiap pertemuan akan dilakukan selama 2-3 jam.

Selain kelas regular, Runway Indonesia juga memiliki Corporate Training, dimana materi pelatihannya disesuaikan dengan kebutuhan dari klien atau perusahaan yang bersangkutan.

Adapun pengajar yang diberikan kepercayaan untuk berbagi ilmu Runway Indonesia adalah para praktisi yang sudah berpengalaman di bidang masing-masing. Setiap pengajar akan memberikan materi pelajaran berdasarkan tingkat usia dan kebutuhan peserta, baik itu di kelas regular atau kelas perusahaan.

Target ke depan, bahwa Runway Indonesia – Personality School dapat membantu setiap individu untuk menjadi apa yang mereka inginkan, sesuai dengan potensi yang ada didalam diri mereka. Sehingga apapun yang mereka cita-citakan dapat terwujud dengan baik.

-Run your Way to Success with Runway Indonesia-

Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.

No Comments

Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.
Pemilik dan Managing Partner KAP SYAMSUL BAHRI TRB & REKAN

Diharapkan Menjadi Pendidik, Besar Sebagai Akuntan Publik

Bagi orang zaman dahulu, profesi sebagai guru alias pendidik adalah pekerjaan sangat mulia dan terhormat. Guru adalah pintu ilmu pengetahuan yang tiada habisnya sehingga posisinya sangat disegani di tengah masyarakat. Seorang guru dijadikan suri tauladan bagi masyarakat sekitarnya. Tidak heran, di berbagai daerah guru sekaligus juga tokoh masyarakat yang diikuti kata-kata dan tingkah lakunya.

Harapan untuk menjadi seorang pendidik “pernah” dilambungkan oleh kakek dan nenek Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak., kepada cucunya tersebut. Setiap libur sekolah dan pulang kampung dari Banda Aceh, pertanyaan apakah sang cucu sudah menjadi guru selalu terlontar. Apalagi ketika cucu kesayangannya tersebut mulai beranjak dewasa, pertanyaan serupa selalu diulang dalam berbagai kesempatan.

“Baik kakek dari pihak ayah maupun ibu, selalu memberikan pertanyaan yang senada, ‘Apa kamu sudah jadi guru?’ Di mata mereka guru adalah profesi mulia meskipun generasi kakek maupun ayah jarang mengecap pendidikan formal yang dikelola kaum kolonial. Akibatnya, mereka buta aksara latin tetapi melek aksara arab yang didapatkan dari pendidikan non-formal. Sejak itu, menjadi guru selalu terpatri di hati saya agar dapat mengabdikan diri kepada masyarakat. Walaupun guru adalah profesi yang tidak memberikan banyak materi, tetapi sangat dihormati masyarakat karena pengabdiannya,” kata Pemilik sekaligus Managing Partner KAP SYAMSUL BAHRI TRB & REKAN ini.

Anak kelima dari sembilan bersaudara pasangan Teuku Radja Badai dan Tjut Syah Indra ini, menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Banda Aceh. Berbekal dukungan kedua orang tua yang sangat menginginkan agar anak-anaknya dapat menempuh pendidikan setinggi mungkin, ia merantau ke Medan. Tujuannya adalah menuntut ilmu di perguruan tinggi nomor satu di Propinsi Sumatera Utara, yaitu Universitas Sumatera Utara (USU).

Namun bukan jurusan kependidikan yang ditujunya seperti harapan sang kakek. Ia memilih untuk mengambil jurusan kedokteran seperti cita-cita masa kecilnya. Penyebabnya, rasa kemanusiaannya yang tergugah melihat kondisi kampung halamannya tidak memiliki tenaga dokter. Maklum, kampung halamannya di Kecamatan Meureudu (sekarang ibu kota Kabupaten Pidie Jaya) berjarak ± 150 kilometer dari Banda Aceh dan 40 kilometer dari Sigli, sebuah kecamatan pada masa itu yang belum memiliki tenaga dokter.

“Masyarakat di kampung saya kebanyakan petani yang mengandalkan pelayanan kesehatan kepada para mantri, perawat atau bidan yang ada di sekitar mereka. Nah, salah satu mantri kesehatan yang ada di desa kami adalah paman yang sering meminta saya membantu beliau saat liburan di kampung. Hal tersebut memperkuat keinginan saya untuk kuliah di kedokteran menyusul kakak dan saudara sepupu yang telah lebih dalulu kuliah di Fakultas Kedokteran USU, karena profesi ini dapat mengabdikan diri dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.

Tetapi pria yang akrab dipanggil Achun ini harus mengubur impiannya untuk menjadi dokter dalam-dalam. Ia hanya bertahan menjalani perkuliahan di Fakultas Kedokteran USU Medan pada Tingkat pertama saja. Beberapa alasan membuat cita-citanya kandas di tengah jalan, kuliahnya terhenti begitu saja. Putus asa dan frustasi, ia menyalahkan siapa saja yang dianggapnya menghambat cita-citanya. “Mulai SMA dibawah standar, kemampuan financial orang tua kurang, ditambah saya sendiri tidak pandai mendekatkan diri kepada dosen. Bahkan sempat terpikir Tuhan tidak sayang sama saya,” imbuhnya.

Namun, Achun akhirnya tersadar bukan itu penyebab kegagalannya. Melalui introspeksi diri yang mendalam, dengan berkaca pada kondisi orang lain yang lebih parah dari dirinya, ia bangkit dari keterpurukan. Semangat bahwa dirinya bisa berbuat seperti yang dilakukan orang lain terus menggelora. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk melakukan semampu yang mungkin dilakukannya.

Pada saat seperti itu, terngiang di telinga Achun petuah-petuah dari kakek tercinta. Salah satu yang paling membantunya bangkit dari keterpurukan adalah nasihat yang berbunyi: “berbuatlah sebisamu jangan dipaksakan”. Dari situ ia sadar, dunia kedokteran bukanlah karier yang tepat baginya. Ia kemudian melirik profesi yang pada saat itu masih langka di masyarakat dan sangat asing baginya, menjadi seorang akuntan, yang nantinya meneruskan berpraktek sebagai akuntan publik.

“Profesi akuntan publik saat itu masih jarang sekali, hanya ada di kota-kota besar saja. Tetapi yang jelas, profesi ini juga dapat mengabdikan diri kepada masyarakat. Bisa membuka praktek untuk melayani orang lain, sama seperti dokter. Tetapi dengan banting stir ini, saya harus kerja keras menekuni sesuatu yang begitu asing. Sesuatu yang belum pernah terbayangkan dan begitu abstrak bagi saya. Tetapi dengan kemauan keras untuk berhasil, saya bertahan,” ujar pengagum pengusaha “nyentrik” Bob Sadino tersebut.

Achun kemudian mengambil kuliah pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi USU. Kurikulum yang berlaku saat itu mahasiswa harus memperoleh ijazah sarjana muda terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendidikan tingkat sarjana. Karena akuntansi sejak dahulu hingga sekarang merupakan jurusan favorit, mahasiswanya pun sangat banyak. Dengan dosen “hanya” delapan orang yang bergelar akuntan saat itu, tingkat kelulusannya pun menjadi rendah. Tidak heran mahasiswa yang menamatkan kuliah hingga delapan tahun pun masih dianggap normal. Standar kelulusan sesuai kurikulum saat itu adalah lima tahun, namun mahasiswa yang berhasil menempuh pendidikan lima atau enam tahun dianggap luar biasa.

Setelah memperoleh gelar sarjana muda, Achun mendapat tawaran dari fakultas untuk bergabung menjadi tenaga pengajar. Karena saat itu, FE USU masih kekurangan tenaga pengajar dalam jumlah besar terutama untuk jurusan akuntansi. Teringat kakeknya yang selalu menanyakan kapan dirinya menjadi guru, ia pun menerima tawaran tersebut. Meskipun secara administratif, ia terganjal sistem yang mengharuskan seorang dosen adalah sarjana.

“Maka jadilah saya pegawai negeri berstatus tenaga administrasi yang bertugas di bidang akademik. Yang jelas, saya terpanggil karena teringat keinginan kakek yang mengharapkan cucu-cucunya mengabdikan dirinya menjadi guru, melayani masyarakat walaupun penghasilan tidak seberapa. Nah, jadilah saya asisten dosen,” kisah penyuka liburan di pantai atau pegunungan tersebut.

Disamping menjadi asisten dosen, Achun juga bekerja magang sebagai tenaga auditor di beberapa kantor akuntan publik (KAP). Dengan bekerja di KAP, ia memiliki penghasilan tambahan disamping mengajar. Di sini, ia tidak hanya memperoleh penghasilan yang memadai, tetapi juga tambahan ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi kariernya kelak.

“Pokoknya, selain masalah finansial tidak menjadi problem lagi, saya juga dapat ilmunya. Malah kucuran dari orang tua hanya bersifat insidentil saja, kalau butuh baru minta. Sangat puas bisa menikmati hasil keringat sendiri, di samping dapat meringankan beban orang tua yang sudah kurang begitu produktif lagi,” tuturnya.

Menekuni Profesi

Akhirnya Drs. Syamsul Bahri TRB berhasil menyelesaikan gelar sarjana akuntansi dan secara resmi menjadi tenaga pengajar di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Bersama enam rekannya sesama staf pengajar FE USU, ia kemudian mendirikan Kantor Akuntan Publik (KAP). Dengan pertimbangan komersiil, sengaja nama KAP mengambil nama salah seorang pendiri yang telah memiliki dua gelar master akuntansi.

Sepuluh tahun kemudian, enam rekan sepakat untuk memecah perusahan menjadi dua KAP sehingga masing-masing KAP memiliki tiga partner. Pertimbangan melakukan hal tersebut adalah asumsi bahwa enam orang ahli terlalu ramai untuk satu persekutuan perdata. Hasilnya luar biasa, karena setelah memisahkan diri tumbuh tekad dan tantangan baru untuk berkembang dan berhasil.

“Dengan tekat untuk berbuat semampu yang bisa kita capai, ternyata hasilnya luar biasa. Hanya dalam tempo tiga tahun, kerja keras kami melampaui apa yang kami kerjakan sepuluh tahun bersama enam rekan KAP terdahulu. Dalam tiga tahun pertama operasi kami mampu membeli sebuah ruko tiga lantai untuk kantor di daerah yang berpotensi untuk berkembang. Kami juga mampu mengerjakan proyek-proyek besar sendiri maupun dengan konsorsium bersama KAP lain,” katanya.

Achun mengakui bahwa dalam menekuni bidang akuntan publik cukup banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah datang dari penilaian masyarakat terhadap profesi AP terkait kasus-kasus yang terjadi, baik di dalam negeri maupun negara-negara besar lainnya. Akibatnya, untuk sekadar memperoleh kepercayaan masyarakat adalah pekerjaan rumah yang sangat berat bagi akuntan publik.

Sedangkan kendala intern terjadi akibat penumpukan pekerjaan yang biasa terjadi pada akhir atau awal tahun. Pada saat-saat seperti itu, intensitas pekerjaan sangat tinggi sehingga memerlukan tenaga lapangan yang banyak.  Sementara pada pertengahan tahun, pekerjaan yang diperoleh bahkan tidak mencukupi untuk didistribusikan kepada staf auditor yang terlanjur direkrut.

“Oleh karena itu, perputaran tenaga auditor di lapangan menjadi tinggi. Ini membuat KAP akan terkuras energinya untuk mendidik tenaga junior setiap tahun. Karena setelah mapan dan memiliki ‘nama’ mereka akan mencari pekerjaan yang dianggap lebih favorit. Biasanya, staf auditor belum merasa bangga dengan status mereka di KAP, walau secara finansial hal ini sudah dapat disetarakan dengan profesi yang lebih favorit lainnya,” ungkap ayah empat anak ini.

Kendala lain adalah pemerintah sebagai pemegang regulasi mengeluarkan aturan-aturan yang tidak banyak membantu dunia AP. Akibat peraturan-peraturan yang ada belum mendorong profesi akuntan publik ke posisi yang lebih baik. Tidak heran, apabila dikaji lebih dalam profesi AP masih harus menempuh jalan panjang untuk bisa berkembang sebagaimana mestinya. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan dipecahkan masalah yang timbul agar profesi AP mampu mencapai posisi ideal di tengah masyarakat.

Di sisi lain, lanjut Achun, minat untuk menekuni pekerjaan sebagai akuntan publik sangat kecil. Tidak terjadi penambahan jumlah Akuntan Publik (AP) secara signifikan dari tahun ke tahun. Data yang dibeberkannya menunjukkan sesuatu yang mencengangkan dalam profesi AP. Dari sekitar 230 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 905 orang yang berprofesi sebagai akuntan publik. Angka ini jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN bahkan dengan Filipina sekalipun.

Data yang dilansir oleh Media Investor Daily, 4 Agustus 2010, halaman 1, menunjukkan bahwa Singapura memiliki AP 15.120 orang dengan jumlah penduduk hanya 5 juta jiwa, Filipina 15.020 AP dengan penduduk 88 juta jiwa, Thailand 6.070 AP dengan penduduk 66 juta jiwa, Malaysia 2.460 AP dengan penduduk 25 juta jiwa dan Vietnam 1.500 AP dengan penduduk 85 juta jiwa.

“Selain itu, RUU Akuntan Publik yang saat ini sedang digodok oleh Pemerintah dan DPR, juga belum memihak kepada pengembangan dunia usaha. Disamping pandangan masyarakat kepada akuntan publik sendiri secara umum masih kurang baik. Seolah-olah AP adalah tukang yang siap mengerjakan sesuatu sebagai barang tempahan, pesanan sesuai selera konsumen. Ini merupakan tantangan bagi AP untuk merubah image negatif ini ke gambaran yang lebih objektif,” imbuhnya.

Padahal, lanjut Achun, harus diakui bahwa kebutuhan dunia usaha akan peran Akuntan Publik untuk memberikan opini sebagai pihak yang independen untuk berbagai keperluan tidak bisa dihindari. Faktor ini menyebabkan banyak kelompok kepentingan yang membuat kebijakan sendiri-sendiri untuk memilih AP yang menurut mereka memenuhi spesifikasi/ persyaratan kelompok masing-masing. Ia mencontohkan, keberadaan AP-Bapepam, AP perbankan, AP BPK dan lain-lain, yang untuk dapat memenuhi syarat dimaksud memerlukan biaya dan waktu sehingga membuat harga pokok jasa akuntan menjadi tinggi.

“Ketidak jelasan masa depan akuntan publik membuat generasi muda mempunyai minat yang rendah untuk menekuni bidang ini.  Hal ini terlihat dari kecilnya minat mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA) dan Ujian Sertifikasi Akuntansi Publik (Certified Public Accountant : CPA),” keluhnya.

Untuk memecahkan masalah tersebut, Achun sangat berharap terjadinya perubahan besar pada profesi yang digelutinya saat ini. Ia sadar, keinginannya tidak mungkin terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak, utamanya lembaga legislatif dan eksekutif dalam menetapkan regulasi pada profesi ini. Ia mengakui, peran Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai wadah para akuntan publik sudah cukup baik. Ia berharap agar peran IAPI di masa mendatang terus ditingkatkan agar profesi ini dapat dihargai sebagaimana mestinya.

“Selain itu, terjadinya persaingan yang kurang sehat antar KAP, pemahaman masyarakat terhadap peran AP dalam dunia usaha serta berbagai pihak yang terkait dengan kelanjutan profesi ini sangat diperlukan. Karena profesi akuntan publik di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan, di mana umur akuntan publik yang aktif mayoritas dikuasi oleh AP yang berumur diatas 51 tahun sebesar 64 persen. Usia AP antara 41 – 50 tahun sebesar 25 persen dan usia 26 – 40 tahun hanya 11 persen. Semua itu, kalau tidak ditangani dengan serius profesi ini hanya tinggal kenangan,” katanya.

Menghargai Orang Lain

Selama menjalani kariernya, Achun merasa mendapat dukungan penuh dari keluarga. Istri dan keempat anaknya, sangat mendukung dan mengerti atas profesi suami dan ayahnya. Bahkan, tumbuh rasa kebanggaan dari anak-anaknya terhadap profesi sang ayah. Tidak heran, dua dari empat anaknya mengikuti jejak ayahnya dan menempuh pendidikan untuk menjadi akuntan.

“Sedangkan anak tertua meneruskan cita-cita ayahnya yang gagal menjadi dokter. Si bungsu, sebagai satu-satunya anak perempuan masih duduk di kelas tiga SMA dan belum menentukan pilihan profesi apa yang nantinya akan dijalani. Yang jelas, naik turunnya keberhasilan KAP terus mendapat support keluarga secara positif,” tegas suami Radhiatun Mardiah, SE, MSi tersebut.

Dukungan keluarga yang besar, sudah dirasakan Achun sejak awal. Ayah dan ibu sangat berkeinginan agar anak-anaknya dapat menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat dan merasakan bagaimana upaya kedua orang tuanya dalam membiayai pendidikan keluarga besarnya. Tujuannya hanya satu, supaya semua anak-anak dan kemenakan-kemenakannya mampu menyelesaikan studi serta meraih cita-cita masing-masing.

“Untungnya, kehidupan keluarga kami tergolong berkecukupan dibanding saudara-saudara ayah maupun ibu. Meskipun tidak tergolong kaya raya tetapi bisa digolongkan keluarga berada. Ayah adalah seorang pedagang yang berkemauan keras, dan selalu tidak puas sebelum berhasil mewujudkan apa yang ingin dicapainya. Walaupun pada akhirnya ada beberapa anaknya tidak berhasil meraih gelar sarjana,” katanya.

Achun masih teringat bagaimana ayah dan kakeknya menanamkan sikap untuk menghargai orang lain. Petuah yang disampaikan secara turun temurun tersebut dimaksudkan agar timbul penghargaan dari orang lain karena mereka juga merasa dihargai. Meskipun pesannya sangat sederhana, tetapi baginya cukup sulit untuk diterapkan. Kesulitan yang paling berat baginya adalah untuk menghargai waktu bagi diri sendiri.

“Kalau memposisikan diri kita menjadi orang lain yang waktunya dikorbankan untuk kepentingan kita, akan kita sadari betapa naifnya kita. Makanya, sampai seusia sekarang saya masih terus belajar bagaimana dapat mengelola waktu dengan baik,” kata pria kelahiran Takeungon, Aceh Tengah, 7 Juli 1951 ini.

Dalam menjalani kehidupan baik untuk diri sendiri, keluarga, atau masyarakat Achun memiliki slogan sebagai pegangan. Slogan tersebut berbunyi; “Buatlah sesuatu yang bermanfaat, sekecil apapun itu dan semampu kita mewujudkannya untuk diri sendiri maupun orang lain. Jangan menilai segala sesuatu dari apa yang akan kita peroleh tetapi apa yang telah kita perbuat”.

“Dengan mengamalkan ini, kita akan memperoleh kepuasan tersendiri. Bahwa  kita sebenarnya bermanfaat, memiliki potensi yang berguna untuk diri sendiri maupun orang lain. Ini yang selalu saya tekankan kepada keluarga maupun karyawan dalam menjalani kehidupan. Dengan bermodalkan hal ini, akan lebih mudah untuk mencapai cita-cita serta memperoleh ketenangan hidup,” kata Drs. Syamsul Bahri TRB, MM, CPA, Ak.

Ir. Leo Nababan

No Comments

Ir. Leo Nababan
Staf Khusus Menko Kesra

Penganut Kristiani yang Menjadi Pengurus Masjid

Kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini marak terjadi di Indonesia. Bahkan konflik horizontal terjadi antara para pemeluk agama yang seharusnya hidup berdampingan secara damai. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia dengan berbagai macam budaya, adat, suku dan agama, “pernah” bersatu dan hidup rukun. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu telah menjadi pedoman hidup dan menjadi perekat bangsa sejak ribuan tahun lalu.

Namun, seiring perjalanan waktu sikap seperti itu mulai luntur. Perbedaan yang harusnya menjadi kekuatan dan kekayaan bangsa ini, justru dianggap sebagai kelemahan. Berbagai upaya dipaksakan untuk membuat orang-orang yang berbeda pandangan, mengikuti keyakinan dan aturan-aturan yang dianggap benar oleh sekelompok orang.

Meskipun begitu, tidak semua orang Indonesia berpendapat sama. Di tengah masyarakat banyak sikap-sikap yang menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan dan sekat-sekat telah melebur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Ir. Leo Nababan untuk masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Staf Khusus Menko Kesra tersebut memberikan contoh yang luar biasa bagaimana hidup bermasyarakat. Yakni menjadi pengurus masjid -yang mungkin satu-satunya di Indonesia- meskipun ia sendiri seorang penganut Kristiani taat.

“Agama adalah masalah pribadi, antara manusia dan Tuhan. Kesalahan bangsa ini adalah selalu mencampuradukkan agama dan kehidupan. Itu yang susah, habluminallah dan habluminannas-nya harus seimbang. Saya memang seorang Kristen dan saya bersyukur karena itu. Tetapi saya juga pengurus Masjid Jami’ Al Mukminin di Kayumanis 10, sebagai koordinator pencarian dana pembangunan masjid,” katanya.

Dari sudut pandang Kristiani, Leo Nababan merasa hidupnya tidak berguna apabila mengabaikan nasib tetangganya. Oleh karena itu, ketika melihat kesibukan tetangga-tetangganya yang muslim membangun masjid, ia juga melibatkan diri. Penerimaan warga muslim terhadapnya pun cukup terbuka dan menerimanya sebagai bagian dari kepanitiaan pembangunan masjid. Ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan saudara-saudara muslimnya, dan melaksanakan tugasnya dengan baik.

Leo Nababan sangat menyesalkan adanya kelompok-kelompok yang membawa-bawa agama dalam setiap permasalahan. Jumlah penganut paham ini semakin lama membesar dan terang-terangan memaksakan kehendaknya kepada orang lain yang tidak sepaham. Agama telah menjadi bahan konflik, meskipun dalam kitab suci Al Quran jelas-jelas diajarkan bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

“Itu adanya pengakuan bahwa ada agama lain selain Islam. Nabi Muhammad pun mengajarkan kasih sayang kepada sesama manusia, apapun agamanya. Saya adalah seorang Kristen yang setuju pembakaran gereja, karena secara logika TIDAK MUNGKIN gereja dibakar asalkan gereja tersebut “tidak menjadi MENARA GADING” bagi masyarakat di sekitarnya. Artinya, gereja membiarkan tetangga-tetangganya miskin dan kelaparan, tetapi malah membangun menara. Tidak mungkin gereja dibakar kalau gereja melihat kondisi tetangganya,” tandasnya.

Menurut Leo, bangsa Indonesia tidak akan marah kalau ada orang yang mengaku sebagai orang Kristen atau agama lainnya. Karena negara juga mengakui agama sah dan Indonesia: Islam, Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Sebenarnya bangsa Indonesia sejak zaman dahulu terbiasa hidup damai berdampingan. Hal tersebut tidak hanya sekedar wacana, tetapi benar-benar dipraktekkan dalam hidupnya. Hampir setiap akhir pekan, ia mengajarkan kehidupan yang luas dan damai kepada kedua anaknya.

“Saya mengajaknya ke pesantren (kebetulan saya dekat dengan Pak Kyai, Prof. DR. Achmad Mubarok –Wakil Ketua Umum Partai Demokrat- dan juga Ketua Umum Pondok Pesantren se-Indonesia yang mempunyai Pondok Pesantren di sekitar Jabotabek)  supaya bisa bergaul dengan sesama anak bangsa dan berbagi dengan mereka. Kehidupan bangsa ini harus dimulai dari hal-hal kecil seperti itu,” tuturnya. Leo juga mengkritik pelajaran agama di sekolah, yang harus memisahkan anak-anak beragama lain ketika pelajaran sedang berlangsung. “Secara tidak sadar, kita menitipkan permusuhan sejak kecil,” imbuhnya.

Dunia Inovatif

Ir. Leo Nababan dilahirkan pada 30 Oktober 1962 di Sei Rampah, sebuah desa di pedalaman Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga yang sangat bersahaja, marginal dan golongan bawah. Sang ayah, H. Nababan adalah seorang guru jemaah gereja sementara ibunya, L. Simanjuntak (almh) adalah seorang guru SD. Kedua orang tuanya mendidik Leo dengan disiplin keras dalam segala hal menyangkut kehidupannya.

“Tetapi saya tidak pernah menyesali dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja. Saya terus bersyukur karena Tuhan Yesus Maha Besar dan selalu mengandalkan-Nya dalam hidup saya. Dari perjalanan hidup yang sedemikian itu membuat saya sangat concern dalam kemanusiaan, memperjuangkan kaum marginal, kelas bawah dari mana saya berasal,” tegasnya.

Kaum marginal, lanjutnya, harus dituntun dan diberdayakan dengan memberikan dan membuka lowongan pekerjaan seluas-luasnya. Begitu juga dengan memberikan modal agar mereka bisa membuka usaha dan mampu membangun kemandirian. Untuk itu, ia sangat mendukung program pemerintah dibawah koordinasi Menko Kesra seperti penyaluran kredit melalui KUR, program PNPM dan bantuan beasiswa bagi anak miskin berprestasi. “Pendidikan merupakan salah satu terobosan untuk mengubah orang-orang yang terpinggirkan,” tandasnya.

Di sisi lain, menurut Leo, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar apabila mampu mengelola SDM dan sumber daya alam dengan baik. Karena seiring dengan kemajuan teknologi di era globalisasi, tantangan yang dihadapi bangsa ini ke depan semakin berat. Mendidik SDM handal dan hebat tidak cukup untuk menghadapinya. Apalagi CFTA (China Free Trade Area) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang tahun ini mulai berlaku membuat persaingan semakin ketat. Tidak hanya produk dari China dan negara-negara ASEAN yang bebas dipasarkan, tetapi juga pasar tenaga kerja terbuka dan bebas beroperasi di Indonesia.

“Makanya saya mengajak bangsa Indonesia untuk kreatif, karena tantangan ke depan bukan lagi SDM yang hebat. Tetapi SDM inovatif dan kreatif yang akan menjadi andalan bangsa ini ke depan. Kita tidak bisa menutup mata, adanya kemungkinan bahwa negara kita hanya sekadar menjadi pasar dunia luar. Saya minta dengan sangat untuk memacu generasi muda agar berkepribadian dan berjati diri, tetapi juga memiliki inovasi dan kreativitas, agar diakui bangsa lain,” tegas pria 48 tahun yang sudah mengunjungi 36 negara ini.

Leo berharap, bangsa Indonesia tidak bersedih hati dan meratapi kondisinya yang terpuruk sekarang ini. Indonesia adalah negara besar yang “hanya” memerlukan pengelolaan yang benar. Seluruh elemen bangsa harus menatap masa depan yang cemerlang dan melupakan kepahitan masa lalu. Jangan pernah menyesal telah menjadi bangsa Indonesia dan harus bangga karenanya. Kuncinya, harus menggembleng generasi muda menjadi generasi kreatif dan inovatif di era globalisasi ini.

“Saya tegaskan sekali lagi, bangsa ini harus menatap masa depan cemerlang. Dengan catatan bahwa nasionalisme harus terus, jangan menyesali kita ini orang Indonesia dan jangan merendahkan bangsa sendiri. Di rumah saya pasang foto besar saat berkunjung ke Eropa, sepatu saya disemir oleh orang bule. Ini merupakan rangsangan bagi bangsa bahwa jangan menganggap orang bule segalanya. Itu mental bangsa terjajah, toh kenyataannya, sepatu orang Melayu bisa disemir oleh bule,” tegasnya.

Tiga C

Perjalanan panjang Ir. Leo Nababan sebagai anak kampung termarjinalkan yang berhasil menaklukkan berbagai rintangan pantas dijadikan teladan. Sederet prestasi gemilang telah diukir oleh ayah dua anak hasil pernikahannya dengan Dr. Fabiola Alvisi Latu Batara ini. Tokoh Batak insipiratif ini pada usia 35 tahun telah menjadi anggota MPR RI. Kini, tanpa pernah menjadi PNS sebelumnya saat usianya 47 tahun diangkat sebagai pejabat Eselon IB di Kantor Menko Kesra.

Meskipun begitu, alumnus Lemhanas RI KRA XXXIX tahun 2006 ini tidak pernah sombong. Justru sikap yang selalu ditampilkan adalah kerendah hatian, selalu menaruh kepedulian serta penuh kasih kepada sesama. Latar belakang sebagai orang marjinal yang pernah menjadi penggembala kerbau dan itik (parmahan) selalu terbawa.

Pria cerdas yang sejak SD hingga SMA selalu menjadi juara kelas ini, diterima di Institute Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes tetapi menyelesaikan studi S1 di Universitas Diponegoro, Semarang. Ia adalah peserta terbaik pertama Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas) Pemuda Tingkat Nasional (1994), terbaik pertama International Standard Learning System (Effective Communications and Interpersonal Relation Skill, 1997), 10 besar terbaik Penataran P4 Pemuda Tingkat Nasional (1995) dan mendapat penghargaan KRA – XXXIX Lemhanas RI (Republik Indonesia) tahun 2006.

“Ketika masuk Lemhanas, terjadi pemikiran-pemikiran yang komprehensif integral tanpa memandang suku, agama dan lain-lain. Itu yang selalu membuat dalam menjalankan hidup saya selalu memberikan hal-hal yang the best bagi bangsa Indonesia. Apapun yang terbaik bagi bangsa ini harus kita berikan dengan setulus hati. Mindset berpikir kita pun harus diubah dan sebagai nasionalis tulen, saya harus berpikir pada kepentingan bangsa,” ujarnya.

Aktivitas berorganisasi dijalani Leo Nababan sejak usia belia. Di Bogor, ia masuk senat dan menjadi salah satu pendiri Gerakan Mahasiswa Kosgoro hingga sampai pada posisi Sekjen DPP Mahasiswa Kosgoro. Leo juga pernah menjabat Ketua DPP AMPI yang membawanya sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Golongan Karya. Selain itu, Leo juga pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta nasional, dari staf direksi, direktur humas hingga komisaris. Sedangkan, di jajaran lembaga negara, Leo pernah menjabat sebagai Staf Khusus Menpora, Staf Khusus Ketua DPR RI dan sekarang Staf Khusus Menko Kesra, Agung Laksono.

“Ada tiga c yang harus dipegang dalam menjalani kehidupan. Yakni, capability, capital dan connection yang harus sinergis dalam membangun kehidupan. Kemudian tiga hal untuk mencapai sukses adalah mengandalkan Tuhan dalam hidup, bekerja kerja keras meningkatkan kapabilitas dan membangun jaringan seluas mungkin,” tegasnya.

Leo sangat bersyukur, selain capability dan capital, Tuhan juga memberkati dirinya dengan connection/jaringan yang kuat. Memanfaatkan jaringan secara positif, akan mempercepat akselerasi kesuksesan seseorang. Kemudian yang tidak kalah penting adalah intensitas dalam mempertahankan dan memelihara hubungan baik pada jaringan yang sudah terbentuk. Semua itu didapat dari aktivitas berorganisasi yang sangat intensif.

“Saya terus belajar dan lewat organisasi membuka jaringan. Saya berhubungan dengan Pak Agung Laksono itu sudah 18 tahun. Dari sejak beliau memegang jabatan sebagai Sekjen Kosgoro, sementara saya Sekjen Mahasiswa Kosgoro, hubungan tersebut terus terjalin. Dalam interaksi intensif seperti itu, terjadi inovasi berpikir, bergaul dan saya menjadi andalan beliau. Bagi saya, beliau adalah guru, bagaikan buku yang tidak pernah habis saya baca setiap hari,” ungkapnya.

Ke depan, Leo Nababan memiliki obsesi untuk membangun patung Tuhan Yesus tertinggi di dunia di Pulau Samosir. Rencananya ia juga akan membangun patung Nommensen di seberangnya. Namun, ia tidak menargetkan kapan terwujudnya impian tersebut. Ia menyerahkan sepenuhnya obsesi tersebut pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa. “Biar Tuhan yang tentukan waktu yang tepat. Puji Tuhan karena memang saya mengandalkan Dia dalam hidup saya,” tambahnya.

Leo sangat menyesalkan pudarnya kepedulian generasi muda Batak atas budayanya sendiri. Jangankan mengikuti pesta-pesta adat, menggunakan bahasa Batak pun generasi muda sudah enggan. Ia sangat khawatir terhadap kepunahan budaya Batak akibat ketidakpedulian tersebut.

Leo Nababan mencontohkan bagaimana bangsa Jepang berhasil dalam hal ini. Setinggi apapun ilmu dan teknologi yang dikuasai, mereka tetap “kembali” menggunakan budayanya sendiri. Sementara orang-orang Batak dan bangsa Indonesia umumnya sudah unang lupa adati.

“Saya mencoba melestarikannya kepada kedua anak saya. Meskipun mereka sekolah internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris dan Mandarin, sementara ibunya dari Manado, saya mengajari mereka bahasa Batak. Saya juga ajak mereka ke pesta adat Batak dan bergereja di HKBP Menteng. Kalau bukan generasi muda, bisa punah adat itu,” kata penerbit buku “Manghobasi Ulaon Adat Batak” ini.

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd

No Comments

Drs. H Wirsad Yunuswoyo, M.Pd
Kepala Sekolah SMAN 4 Cirebon
Kerja Keras dan Tujuan Yang Jelas Mengangkatnya Berprestasi
Berangkat dari menjadi guru di SMP Negeri 3 Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1978, Drs. Haji Wirsad Yuniuswoyo, M.Pd, yang pegawai negeri sipil dan  kepala sekolah SMAN 4 Cirebon ini mengaku  kalau karier pendidikan gurunya selalu berpindah-pindah sekolah. Sebab satu tahun kemudian tepatnya 1979, guru bidang study matematika ini berpindah kembali ke SMP Negeri 4 Cirebon. “Di SMPN 4 inilah, masa pengabdian saya cukup panjang, “ungkapnya.
Sebab pada tahun 1990, barulah ia berpindah sekolah lagi, atau tepatnya ke SMAN 3 Cirebon. Namun sebelumnya, kata Wirsad, pada tahun 1987,  ia sempat masuk menjadi guru inti PKG (Pemantapan Kerja Guru) sebagai guru inti di bidang  mata pelajaran matematika selama 3 tahun. Bapak tiga anak ini mengaku perjalanannya cukup panjang untuk sampai ke jabatan kepala sekolah.
Program pemantapan kerja guru ini merupakan hasil kerjasama dengan world bank. Hasilnya cukup baik, dan banyak dijadikan model pelatihan oleh guru lingkungan sekolah. Selain itu  PKG juga telah sedikit mengubah paradigma tentang ketakutan siswa pada bidang study matematika, “Artinya ketakutan yang berlebihan itu bisa kita atasi, jadi kalau ada siswa yang nilai matematikanya buruk, itu karena mereka tidak memahami dan mengerti, termasuk kurangnya latihan,“ paparnya.
Menurutnya, berbagai pengalaman yang telah ditimbanya, mulai dari guru teladan Tingkat Jawa Barat, pada tahun 1997 hingga kepada organisasi  persaudaraan haji, sebelum kemudian menjadi kepala sekolah berprestasi di tahun 2007. “Pada tahun 1993 hingga 1996, saya pernah mengabdi menjadi guru di SMAN 6 Cirebon, yang dahulu adalah Sekolah Guru Olahraga (SGO),“ katanya. Bahkan di tahun yang sama, ia sempat mengikuti RECSAM (Regional Education Course Science An Mathematic) di Malaysia selama 6 bulan kemudian menjadi instruktur PKG matematika se-Jawa Barat.
“Sebelum Propinsi Banten meminta memisahkan diri untuk menjadi Propinsi baru dari propinsi Jawa Barat, saya sering mengadakan perjalanan (study banding dan pembinaan kepada guru-guru Matematika) ke daerah tersebut, “ungkapnya. Bukan hanya Serang, Pandeglang, tapi juga hingga ke daerah Lebak dan Cibakung.
Memang pengalaman panjang telah membuatnya banyak menorehkan prestasi akademik. Namun bukan Wirsad, kalau tidak bisa membawa sekolah yang dipimpinnya maju dan berkembang. Dengan bekal berpindah-pindah sekolah, dan pengalaman mengikuti training serta pendidikan leadership, lambat laun bapak yang beristrikan hajjah Yanthi Sri Iryanti ini pun semakin matang. Tak heran, jika ia pun menyelesaikan kembali sekolahnya di program pascasarjana/M.Pd.
Sarjana pertamanya ia selesaikan S1 bidang Matematika. Wajar saja bapak dua putra dan satu putri ini mengenyam banyak bidang prestasi, karena pada tahun 1993 hingga 1998, ia pernah menjadi penulis buku Matematika, yakni Aritmatika untuk SMP-SMA dengan penerbit Intan Pariwara,  Tiga Serangkai, dan Pakaraya serta LKS Matematika. “Sayangnya LKS yang semula merupakan pembelajaran yang dikembangkan oleh negara Inggris untuk memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran dengan metoda penemuan, di Indonesia justru dijadikan tempat menulis soal-soal, ini sebuah ironi,” tuturnya dengan nada kecewa.
Karakternya yang kalem dan penuh karismatik, telah membuatnya disenangi berbagai warga sekolah yang dipimpinnya. Tak heran bila ia telah mengikuti berbagai pendidikan yang sifatnya menunjang profesinya. “Kerjasama antar sekolah (sister school) dengan berbagai negara, telah membuatnya makin kaya akan pengetahuan yang didapat. Ia pun kerap bepergian untuk mengadakan studi banding tentang pendidikan pada sekolah di negara yang dikunjunginya.
Namun begitu, tidak dipungkiri pula untuk menjalin kerjasama dengan negara lain seperti China dan Australia. Setelah dipikirkan, Australia merupakan pilihan utama dan solusi yang tepat, mengingat jarak kedua negara ini relative dekat dan tidak membutuhkan biaya yang mahal untuk sampai ke Australia. “Namun begitu, saya sebagai Kepala SMAN 2 Cirebon juga mendapat tawaran untuk bekerja sama dalam rangka sister school di negara Turki. Pada saat ke Turki ada sedikit kemacetan komunikasi, terutama masalah penggunaan bahasa Inggris, mereka/orang Turki lebih senang bicara bahasa Turki, “jelasnya. Namun belum lama beristirahat sepulangnya dari Turki, ia pun mendapat tugas baru menjadi untuk memimpin sebuah sekolah SMAN lagi yaitu SMAN 4 Cirebon.
Panggilan itu pun diterimanya dengan tenang, tanpa terpaksa, apalagi gundah gulana. Baginya jiwa pendidik merupakan nomor satu untuk mengabdi, tantangan di bidang pendidikan. Tantangan itu pun ditanamkan dalam benaknya, dan berusaha untuk menjadikan sekolah yang dipimpinnya menjadi sekolah unggulan dan memiliki prestasi yang menonjol. “Saat ini yang terpenting adalah mutu atau kualitas. Jadi apakah itu sekolah swasta atau negeri, kalau memang kualitasnya bagus, maka ia berhak untuk menjadi sekolah favorit.”
“Semangat, disiplin, serta menerapkan peraturan sekolah kepada warga sekolah, merupakan mutu keharusan,“ ungkapnya. Peraturan yang ketat ini dilakukan, sebagai wujud kasih sayangnya kepada warga sekolah agar mereka hidup teratur jiwa dan raganya. Tidak boleh ada siswa maupun guru terlambat masuk sekolah. Baginya keterlambatan mereka sama saja dengan membuat sekolah menjadi berantakan.
Bapak yang memiliki motto Segala yang akan dilakukan harus jelas tujuannya ini mengaku juga pernah menjadi kepala sekolah  di SMAN 9 Cirebon pada tahun 1999-2001. “Waktu itu sekolah ini masih baru lagi, dan saya ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah, Namun biarlah dan ini merupakan tantangan,“ ungkapnya. Sebab katanya, selain harus berhadapan dengan lingkungan yang baru siswa-siswinya, juga kepada masyarakat sekitar. “Hal ini bukan pekerjaan yang mudah, mengingat dibutuhkan sosialisasi yang tinggi, agar masyarakat mau menerima kehadiran sekolah dan isinya.
“Saya terpaksa harus bersikap tenggang rasa dan tidak ketat, maklum lingkungan baru dan sekolah baru, jadi harus dipahami dan dimengerti persoalan mereka.” Namun, bukan begitu juga lembeknya atau membiarkan sekolah tanpa kerjasama dengan masyarakat, Wirsad juga mengaku pernah memberikan semacam ultimatum berupa ancaman kepada masyarakat, agar mau dan  rela membantu sekolah baru tersebut. Sebab jika masyarakat setempat enggan membantu perkembangan sekolah, ia pun mengancam akan melaporkan kepada Walikota untuk memindahkan sekolah tersebut, namun sebaliknya jika mereka membantu dan mendukung sekolah, maka pihaknya akan meminta walikota untuk membuatkan proyek jalan masuk ke sekolah dan desa-desa sekitarnya.
Akhirnya masyarakat yang semula menolak kehadiran sekolah tersebut bersedia mendukungnya dengan menjaga dan melestarikan kawasan sekolah dari aksi vandalisme alias coret-coret, termasuk mengizinkan angkot masuk ke kawasan sekolah. “Semula mereka menolak kehadiran angkot, karena mereka menganggap kehadiran angkot telah mengambil ladang mata pencaharian ojeknya,“ tutur Wirsad.
Ia menambahkan walaupun sebagai guru matematika, namun tidak bisa memaksakan kehendaknya agar siswa-siswi di SMAN 9 menjadi juara matematika, mengingat kemampuan siswa dari desa tersebut kurang mumpuni. Namun setelah melihat badan siswa-siswi sekolah itu  besar-besar, barulah ia berpikir untuk membawa potensi keunggulan tersebut dalam bidang olahraga. “Akhirnya mereka dapat meraih prestasi dengan  menjadi juara cabang atletik, volley ball, di berbagai kompetisi sekolah maupun kejuaraan tingkat daerah,“ ceritanya.
Padahal tempat latihan volley ball pun tidak memadai, tiang net terbuat dari bambu, garis di tanah dari kapur, tapi semangat mereka yang pantang menyerah untuk berprestasi memecutnya untuk meraih juara. Memang bukan hanya cabang atletik, lomba baris berbaris atau paskibraka juga meraih juara. “Tapi ya itu juaranya dalam bidang fisik, tetapi belum ke bidang sains/keilmuan,“ paparnya. Dua tahun menurutnya ia memimpin sekolah di SMAN 9 Cirebon tersebut.
Selanjutnya, kepala sekolah di SMAN 7 Cirebon pada tahun 2001-2007. Ironinya, belum memimpin sekolah, ia sudah mendapat laporan dari kepala kelurahan dan RW setempat bahwa sekolah ini sering tawuran dengan sekolah SMK. Bukan Wirsad kalau tidak bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, dengan bekal pengalaman yang banyak memimpin dan mengajar di sekolah, ia pun lalu berpikir untuk  menjembatani dan mengajak berdamai  atau menggalang kerjasama dengan pihak SMK. “Kebetulan kepala sekolah SMKnya adalah adik kelas saya saat kuliah di S2, jadi mudah untuk diajak berkomunikasinya, “paparnya. Setelah keduabelah pihak mengadakan pertemuan, baik guru maupun siswanya, tawuran yang selalu terjadi itu, akhirnya berdamai.
Berturut-turut kepala sekolah di SMAN 3 Cirebon Januari hingga Juni 2008, dan SMAN 2 Cirebon tahun 2008 -2010. Kini perjalanannya sekarang adalah sebagai kepala sekolah di SMAN 4 Cirebon. “Penempatan itu baru diberikan pada bulan Juni 2010, “paparnya.
Banyak liku-liku yang dihadapinya dalam mengabdi sebagai kepala sekolah. Mulai dari membenahi infrastruktur sekolah, hingga kepada bagaimana mensosialisasikan sekolah ke masyarakat, dan mendidik siswa dan guru-guru untuk selalu unggul. “Bayangkan saja di SMAN 3 Cirebon, saya harus memperbaiki sarana dan prasarana olahraga, “ungkapnya.
Selain sebagai kepala sekolah, Haji Wirsad, juga menyempatkan diri untuk memberikan motivasi untuk siswa-siswinya dengan memberikan motto berupa bekerja penuh ihklas sehingga merasa tidak beban, kedua, rajin beribadah, ketiga, semangat, keempat, tidak mudah putus asa, kelima, tanggungjawab dan jujur, keenam, setiap kesempatan jangan ditunda-tunda, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali, ketujuh, mengerjakan sesuatu langsung jangan sampai ditunda-tunda, kedelapan, dapatkan informasi secepatnya/duluan, mendapatkan informasi duluan, berarti ilmu pengetahuan kita dapat duluan, dan kesembilan, berserah diri pada Allah. Jika kita menerapkan atas sikap-sikap di atas, insya Allah kita dapat menjadi orang yang sukses.
“Pak Wirsad adalah tipe pekerja keras, terbukti hanya dalam hitungan bulan di SMAN 4 Cirebon sudah banyak yang dibenahi, terutama pada infrastruktur, seperti rehabilitasi laboratorium computer dan ruang PSB (Pusat Sumber Belajar), perbaikan kursi, taman dan sarana prasarana kegiatan ekstrakurikuler,“ jelas Kepala Tata Usaha SMAN 4 Cirebon
Dalam bidang pembinaan kesiswaan, Wirsad yang lahir di Cirebon 29 Juni 1957 ini, juga telah mencanangkan kedisiplinan dengan menggunakan system point, mengadakan apel siaga pada jedah waktu, antara pasca UAS hingga dengan menjelang pembagian raport. “Obsesinya adalah bagaimana agar lulusan siswa-siswi SMAN 4 Cirebon ini dapat berkompetisi dan bersaing di dunia nasional maupun internasional,“ kata Drs. Irman Darojat, Guru SMAN 4 Cirebon.
Menurut Wirsad, visi dalam sekolah ini  adalah bagaimana menjadikan siswa yang bertakwa dan berprestasi. Bertakwa disini, maksudnya kata Wirsad adalah yang berkaitan dengan masalah kecerdasan spiritual, sedangkan berprestasi pengertiannya luas, menyangkut akademisi, non akademis, atau intelegensia, dan berakhlak mulia menjadikan siswa sebagai insan kamil, sopan santun, cerdas, dan berbudi pekerti.
Ditambahkan untuk misi sendiri itu ada lima besar, yakni pertama,  membina keimanan dan meningkatkan ketakwaan, artinya siswa yang masuk sekolah di sini, harus sudah memiliki keimanan dan juga ketakwaan. “Jadi jangan sampai kering begitu.” Kedua, Mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada keunggulan, artinya pendidikan itu harus dikembangkan, jangan begitu saja, atau hanya sekedarnya, melainkan bagaiman pendidikan berkualitas. Ketiga, meningkatkan kemampuan dan kecakapan peserta didik, serta membina minat dan bakat secara kreatif, artinya, siswa dituntut untuk mampu dan memiliki ketrampilan, serta minat dan bakat yang baik. Dengan bakat dan minat yang berbeda-beda, diharapkan mereka bisa memilih mana yang sesuai dengan hati nuraninya atau tidak, misalnya mereka ingin memilih kedokteran, “kalau memang arahnya ke sana, maka kita bimbing, begitu pula dengan bakat, jika bakatnya di bidang olahraga, maka kita arahkan ke olahraga, begitu dan seterusnya, “jelas Wirsad. Harapan lainnya adalah bagaimana unsur tersebut bisa mengangkat nama sekolah, sehingga sekolah  bisa unggul. Ternyata misi sekolah ini membuktikan dengan siswa berprestasi di bidang olahraga, seperti silat, tinju dan atletik dan sebagainya. “Mereka ini merupakan atlet-atlet nasional, yang banyak berkiprah membantu dan mengharumkan nama bangsa dan negara di arena internasional, “ungkap Wirsad. Keempat, membina sikap ilmiah, disiplin dan tanggungjawab.
Selain harus menjalankan visi dan misi sekolah, strategi lain yang dikembangkan Wirsad, adalah melakukan pendekatan dengan siswa dan guru. Cara ini cukup efektif, kenyataan banyak siswanya memberikan segudang prestasi dan piala. Begitu pula dengan guru-gurunya,  mereka pun menunjukan kualitas pengajarannya dengan baik. Bahkan Wirsad tak segan-segan membantu mereka untuk mendatangkan para ahli untuk dijadikan nara sumber tukar menukar pikiran atau pendapat “Shearing” guna kemajuan sang guru. Ia pun juga kerap terjun memberikan nasihat dan wejangan, terutama terkait dengan metode belajar mengajar yang bisa dipahami siswa.
Kenyataan sikapnya yang ramah, sopan santun, dan demokratis kepada semua orang, membawa dirinya banyak diminati warga sekolah. ”Mereka mengaku merasa kehilangan jika Pak Wirsad harus pindah sekolah,“ kata Dra. Siti Rochani, Guru Ekonomi. Prinsip Wirsad adalah bagaimana mencontohkan sikapnya yang benar kepada warga sekolah. “Seribu nasihat tidak akan bermanfaat, jika contoh atau sikap yang kita tunjukan tidak sesuai dengan tingkah laku.”
Pola pendekatan dalam bentuk tingkah laku ini, ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan kepemimpinan Wirsad. Terbukti banyak sekolah yang telah ditinggalkan, saat berkunjung ke tempat itu lagi, ia mengaku mendapat sambutan yang berlebihan. Hal ini tidak terlepas dari peran dan kinerjanya yang dirasakan warga sekolah sebagai hal yang baik dan profesional.
Banyaknya sekolah yang dipimpinnya berkembang dan maju, juga merupakan bukti bahwa kemampuannya dalam mengembangkan sekolah sudah profesional dan managerial. Untuk itu, tidak ada sesuatu hal yang berhasil tanpa dibarengi kerja keras yang sungguh-sungguh. Itulah harapannya kepada semua guru, agar generasi  berikut  bisa mengikuti langkahnya yang baik. Ia berharap siswa dan guru serta orangtua murid memahami konsepsinya akan kemajuan sekolah. Sebab katanya, kepala sekolah hanya jabatan sesaat, selanjutnya mereka yang akan menjalani. Demikian ungkapan Haji Wirsad Yuniuswoyo dalam bincang-bincangnya. Semoga apa yang dicita-citakan untuk kemajuan sekolah dapat terkabulkan, dan generasi muda dapat melanjutkan kegiatannya untuk menjadikan pendidikan yang bermutu.

Drs. Sugiyarto, MPd

No Comments

Drs. Sugiyarto, MPd
Kepala Sekolah SMKN 4 SURAKARTA

Wirausaha Solusi Tepat Bagi Lulusan Siswa SMK

Sejak kecil bercita-cita ingin berkarier guru, membuat sugiyarto kecil, bersemangat untuk  maju meraih obsesinya tersebut, kendati setelah dewasa obsesinya itu ditujukan untuk membawa SMK Negeri 4 Surakarta berkembang dan  menjadi idola siswa dan guru. Bagaimana penuturannya memimpin sekolah kejuruan berstandar RSBI ini, berikut ceritanya :

“Sejak dulu memang saya ingin menjadi guru atau pendidik, “ungkapnya. Tak heran jika sugiyarto mampu membawa dan mengangkat  SMK Negeri 4 Surakarta sebagai sebuah sekolah kejuruan  favorit di kota bengawan ini. Memang masih butuh perjuangan panjang, buktinya bapak dua anak ini mengaku merasa belum puas jika belum menjadikan sekolah ini bertambah besar. Saat ini Sugiyarto telah menjadikan sekolah yang dahulu kelasnya hanya  21 kelas,  sekarang telah bertambah menjadi 33 kelas. Obsesinya ke depan adalah 36 kelas. Suatu tantangan, semangat dan harapan yang luar biasa, bila dibandingkan dengan karier dan cita-citanya dahulu.

Menurutnya, SMKN 4 Surakarta sejak tahun 2006  telah menekankan kepada seluruh siswanya untuk belajar berwirausaha . Tantangan ke depannya  dibutuhkan senjata yaitu kerja keras, berupa optimalisasi peran  seluruh elemen sekolah yang berjumlah 1.126 siswa, tak terkecuali pesuruh sekolah untuk bahu membahu membawa nama dan lulusan SMKN 4 Surakarta  diterima masyarakat dan perusahaan dengan baik. “Tantangan nyata, karena semua Program Studi Keahlian yang ada di SMKN 4 Surakarta yaitu Tata Boga (Jasa boga dan pastry), Tata kecantikan (Hair dresser dan Skin care), Tata busana (Busana Butik) dan Akomodasi Perhotelan menyangkut kebutuhan  manusia yang tak pernah kering, “pungkasnya.

SMKN 4 Surakarta mempunyai siswa yang 90 % adalah perempuan, dan kebanyakan berasal dari kalangan keluarga menengah kebawah. Wajar jika Sugiyarto selalu memotivasi mereka untuk senantiasa bangkit dengan tidak mengharapkan sekolah serba gratis. Artinya, jika ada siswa yang tak mampu membayar keperluan sekolah, diajak untuk  berwirausaha dengan modal dari sekolah.

Pekerjaan rumah lainnya adalah mengupayakan siswanya yang menolak untuk bekerja di luar kota,  dengan  menciptakan wirausaha. Pola  inilah yang tengah digodok pihaknya terus menerus agar siswa tetap termotivasi  untuk bekerja mandiri. “Standarnya jangan sampai siswa tidak punya kemampuan berwirausaha di rumah, dan beralih jadi pengangguran, dan ini jangan sampai terjadi, “tegas kepala sekolah.

Guna mengantisipasi semua problem tersebut itulah, Sugiyarto berobsesi membentuk laboratorium entrepreneur di kota Surakarta ini yang diberi nama “EntrepreneurshipLab SMKN 4 Solo”
Obsesinya ini sudah dirintis mulai awal tahun 2010 yang lalu dengan membuat Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4, dengan menggandeng mitra Tenaga Ahli (Expert) dari DED (German Development Service) yang sekarang berganti nama menjadi GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri yang memiliki kepedulian dengan dunia pendidikan serta Team Work yang terdiri dari guru kewirausahaan dan guru produktif. “Saat ini usaha mereka sudah berjalan dan sudah menjadi mitra kerja Business Centre yang ada di SMKN4 Surakarta dan mentor mentor dari industri.” Diharapkan modal yang diberikan kepada tiap grup sebesar 1 juta rupiah (Rp. 500.000 untuk modal kerja dan Rp. 500.000 untuk pembelian peralatan kecil) sudah dapat dikembalikan di bulan februari 2011 ini. Karena Pilot Project EntrepreneurshipLab untuk kelas XI Boga 4 akan berakhir bulan Februari 2011 “ Inilah nilai plusnya, dan ini harus berjalan terus dan punya tanggungjawab sendiri,” paparnya.
Sugiyarto mengatakan dengan entrepreneurship diharapkan siswa-siswa dapat belajar menjadi pengusaha, bukan pekerja. Ide-ide ini akan semakin memecut siswa agar selalu berpikir bahwa enterprenership adalah solusi mandiri mereka. Untuk itu program enterprenership juga diterapkan untuk Program Studi Tata Busana yang akan launching pada tanggal 28 Februari 2011 dengan tetap menggandeng Expert dari GIZ- Develompment Service dan 2 orang  mentor dari industri.
Teori Sugiyarto benar, karena dengan mengajak seluruh siswa mandiri dan senantiasa berpikir positif untuk berkembang, diharapkan mereka bisa menjadi masyarakat wirausahawan profesional.
Kini harapan Sugiyarto adalah bagaimana menjadikan SMKN 4 Surakarta  ini juga berbudaya lingkungan.
“Lulusan dari SMKN 4 Surakarta bisa bekerja di mana saja, gaji minimal sesuai UMK, “katanya. Memang ada juga sich, tuturnya anak yang bekerja di bawah UMK, tapi saya menganjurkan agar mereka tidak bekerja di perusahaan yang gajinya di bawah UMK. “Kalau ada kedapatan siswa bekerja dengan gaji di bawah UMK mereka dipindahkan ke industri lain.”
Penanganan lulusan SMKN 4 Surakarta dikelola dengan baik oleh BKK (Bursa Tenaga Khusus) SMKN4 Surakarta yang setiap tahun kebanjiran permintaan tenaga kerja oleh banyak industri di wilayah Jawa Tengah, DIY, Jabodetabek dan bahkan dari luar negeri. Semua seleksi rekruitment tenaga kerja dilakukan di SMKN 4 Surakarta sebelum siswa melaksanakan Ujian Nasional.  Pihak industri terkait yang datang ke SMKN 4 Surakarta, sehingga kebanyakan siswa belum lulus Ujian Nasional tapi mereka sudah punya tempat di Industri.
Jadi tidak ada cerita, lulusan SMKN 4 Surakarta keluar masuk industri cari lowongan kerja. Karena setiap tahunnya justru masih banyak permintaan tenaga kerja dari beberapa industri tetapi SMKN 4 Surakarta sudah kehabisan lulusan yang belum bekerja. Artinya penyerapan lulusan SMKN 4 Surakarta di Industri yang relevan sudah mencapai 100 %.
Memang tidak semua lulusan SMKN 4 Surakarta langsung bekerja, karena ada beberapa dari mereka yang melanjutkan sekolah (kuliah) dengan mendapatkan beasiswa dari Industri maupun PMDK dari perguruan tinggi negeri di wilayah DIY dan Jateng.
Untuk masalah beasiswa dari Industri ini, SMKN 4 Surakarta menjalin kerja sama dengan IGTC Bogor (International Garment Training Centre) yang setiap tahunnya pihak IGTC Bogor datang ke SMKN 4 Surakarta mengadakan seleksi bagi siswa kelas XII untuk mendapatkan beasiswa belajar di IGTC Bogor setelah lulus dari SMKN 4 Surakarta selama 1 tahun. Beasiswa ini meliputi biaya kuliah, asrama dan makan.
Materi test dari IGTC Bogor semuanya dalam bahasa inggris, karena IGTC adalah lembaga pelatihan bertaraf internasional.

Tantangan semakin berat, setelah sekolah SMKN 4 Surakarta diberi lebel RSBI sejak Juli 2010 yang lalu, sebab masih ada program yang harus digapainya, terutama peningkatan sumber daya manusia, dan  pola pikir global.  “Pikiran yang kolot harus diubah, kalau tidak, maka akan terjebak  dengan perubahan  yang ada, jadi bagi mereka yang tidak mau berubah harus mengerti, bahkan guru harus bisa mengefektifkan dirinya dengan jalan belajar lebih giat lagi akan kemajuan teknologi modern, bahkan kalau perlu sekolah ke luar negeri, “tegasnya.
Sugiyarto mengatakan untuk mengikat jalinan kerjasama dengan seluruh elemen sekolah agar lebih erat lagi, ia biasanya menjadikan mereka sebagai kolega.

SMKN 4 Surakarta juga memiliki Business Centre (BC) Sparta yang bergerak dibidang Catering, Pastry, Butik, Salon Kecantikan, Laundry dan juga Hotel dengan kapasitas  4 kamar ber -AC yang melayani customer dari luar SMKN 4 Surakarta. Semua pegawai Business Centre Sparta SMKN 4 Surakarta adalah alumni dari sekolah ini juga.
Khusus untuk Salon Kecantikan Sparta sudah memiliki beberapa pelanggan dari pejabat setempat. Dan untuk pastry (spesialis kue-kue kering), biasanya booming produk terjadi setiap menjelang idul fitri dan natal. Hal ini yang dimanfaatkan oleh sebagian siswa besar SMKN 4 Surakarta untuk bekerja part time setelah pulang sekolah dengan mendapatkan penghasilan yang bervariatif sesuai dengan jam terbangnya.
“Workshop di masing-masing Program Studi Keahlian sudah menggunakan peralatan teknologi tinggi sesuai standart Industri. Hal ini dikarenakan semua workshop yang ada di SMKN 4 Surakarta sudah diverifikasi oleh LSP Lisensi menjadi TUK (Tempat Uji Kompetensi) Bidang Garment, Tata Kecantikan Rambut dan Tata Kecantikan Kulit, Restourant dan Akomodasi Perhotelan, yang dapat digunakan untuk pelaksanaan Ujian Kompetensi Keahlian dari semua Instansi yang membutuhkan.
Sehingga diharapkan semua lulusan SMKN 4 Surakarta tidak akan canggung bekerja di Industri yang sudah menggunakan peralatan modern “ demikian penjelasan bapak satu istri  yang juga bekerja dengan profesi  pendidik ini.

Untuk itulah, Sugiyarto membuka pendaftaran penerimaan  siswa di SMKN 4 Surakarta dengan 2 cara, yakni dengan melihat nilai  ujian nasional yang dibobot terlebih dahulu sesuai dengan peraturan yang berlaku, seperti bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Sosial, dan yang kedua adalah dengan teknik wawancara dan psikotes. Tujuan dari cara yang kedua ini adalah untuk menseleksi atau menyaring motivasi dan minat mereka terhadap bidang yang mereka inginkan, termasuk juga masalah kesehatan siswa. “Jangan sampai ambil jurusan tata boga, tapi mereka tidak memiliki tinggi dan berat badan yang proporsional, ini kan kurang baik ya, “ujarnya.

Menghadapi era global

Menghadapi era globalisasi sekarang ini, Sugiyarto mengingatkan dampak negatifnya. Untuk mencegah dampak yang kurang baik, ia meminta seluruh jajaran di sekolahnya untuk bersikap disiplin dan tepat waktu, hal ini penting untuk meningkatkan etos kerja. “Untuk menghargai orang lain, dan tidak boleh terlambat, “ujarnya. Untuk mengawasi semua unsur tersebut, pihaknya mengaku telah membentuk tim PPKS (Pembimbing Prestasi Karakter Siswa).

“PPKS ini dibimbing 2 orang, yaitu wali kelas dan guru pendamping. Tujuannya adalah  mendidik siswa agar tidak terlambat, bagi siswa yang terlambat menunggu di luar kelas dan mendapat punishment membersihkan areal sekolah sesuai pembagian tim PPKS.

Sugiyarto menambahkan, pihaknya menerapkan disiplin masuk sekolah pukul 07.00 pagi, namun pukul 06.45 WIB diharapkan siswa sudah berada di sekolah untuk melakukan kegiatan patut diri yang meliputi kegiatan mengatur ruang kelas agar bersih dan rapih. “Jarak dijaga antara meja dan kursi, serta mengabsensi siswa.” Sedangkan untuk penilaian pelajaran, pihaknya juga menerapkan pola mengulang kembali bagi siswa yang ketahuan menyontek pekerjaan temannya. Hal ini penting untuk mendidik siswa agar berkelakuan yang baik,  disiplin, bekerja keras serta mau berusaha.”

Sementara filosofinya, ialah berpikir positif terhadap semua orang. Makanya target jangka pendek sekolahnya,adalah bagaimana menciptakan siswa didiknya dapat lebih berinovatif, tersalurkan di setiap bidang pekerjaan dan mampu bersaing dalam mendapatkan peluang kerja serta mampu berkompetisi dalam bidang kejuruan.

“Kami juga giat untuk mengikuti lomba-lomba yang diadakan sekolah lain atau perusahaan, Alhamdulillah kami sering menyabet juara, “ujarnya.

“Saat ini SMKN4 Surakarta sudah menjalin dengan kurang lebih sekitar 80 perusahaan yang siap membantu siswa dalam pelaksanaan On The Job Training (OJT) “jelasnya.

Dukungan Keluarga

Menanggapi dukungan keluarga terhadap profesinya, Sugiyarto mengatakan tidak ada masalah. “Jam berapa pun ia keluar rumah, istri dan anaknya tidak mengeluhkan.” Sebab istrinya juga adalah seorang guru dan  pendidik, jadi mengerti benar, pekerjaan dan  profesi yang diembannya.“ Menjawab bagaimana tanggapannya tentang peran pemerintah terhadap SMK, Sugiyarto mengatakan saat ini pemerintah telah memberikan input yang begitu besar terhadap perkembangan SMK, hanya saja memang masih banyak kekurangan yang ada, dan ini tugas dari masyarakat untuk memperbaiki kekurangan yang ada di SMK di seluruh Indonesia.
“Masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, “ujarnya. Maklum,  tidak ada suatu makhluk yang sempurna, apalagi lembaga atau institusi di muka bumi ini,  tapi juga  bukan suatu alasan yang dapat dibuat-buat dari dasar  ketidak sempurnaan itu yang  membuat kita tidak berdaya, justru karena ketidakberdayaan itulah yang harus jadi potensi dalam diri siswa dan keluarganya untuk bangkit meraih cita-cita yang diinginkan mereka. “anak-anak yang orangtuanya punya banyak anak dan tidak mampu diharapkan bisa memunculkan potensiya, “tuturnya.

Sugiyarto mengatakan sekolahnya kini telah melengkapi segala kebutuhan peralatan untuk digunakan siswanya, alat-alat tersebut merupakan bantuan atau subsidi dari berbagai pihak untuk diberdayakan dan melengkapi berbagai peralatan yang sudah ada.

Jangka Panjang

Untuk program jangka panjang,  pihaknya menginginkan sekolah ini semakin besar. Targetnya adalah membuka kelas baru dari   33 kelas yang ada menjadi 36 kelas,  dengan harapan  jumlah  murid semakin banyak dan berkualitas. Kini jumlah siswa yang terdaftar di SMKN 4 Surakarta   telah mencapai 1.126 siswa “ Dengan semakin besarnya jumlah siswa yang terdaftar di sekolah ini, diharapkan SMKN 4 Surakarta menjadi sekolah unggulan di kemudian hari, “Jelas bapak dua putri yang sudah menginjak bangku kuliah ini.

Mengimbangi semua itu, Sugiyarto juga mengingatkan guru-guru SMKN 4 Surakarta untuk bisa menjadi assesor. Untuk itu pula, pihaknya bekerjasama dengan LEC, mengadakan training atau pelatihan bagi guru-guru dan menjadi bagian dari proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas bagi siswa dalam bidang bahasa Inggris, apalagi Sugiyarto mengaku juga seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris. Inilah yang harus dipikirkan seluruh guru untuk maju. Tuntutan Sister School merupakan kewajiban bagi setiap guru untuk meningkatkan kompetensi keahliannya.

Sebagai Kepala SMKN 4 Surakarta, Sugiyarto bekerja sesuai dengan Visi, Misi dan Tujuan sekolah yang telah ditetapkan. Berikut ini visi, misi dan tujuan SMKN 4 Surakarta;

Visi
Terwjudnya SMK bertaraf Internasional dan berbudaya lingkungan

Misi
Menyiapkan lulusan yang siap kerja, cerdas, kompetitif dan berkepribadian luhur.
Mengembangkan potensi sekolah yang berwawasan lingkungan dan bernuansa industri
Menyiapkan wirausahawan yang handal
Mengembangkan semangat keuanggulan dan kompetisi yang positif
Meningkatkan pengalaman ajaran agama yang dianut dan budaya bangsa sebagai sumber kearifan dalam bertindak

Tujuan
Menghasilkan tamatan yang cerdas, terampil dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia
Membekali peserta didik untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan akademik serta dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar, melalui pembelajaran normatif, Adaftif dan Produktif
Menyiapkan peserta didik untuk memasuki duania kerja yang professional dan berwawasan wirausaha untuk memasuki dunia kerja
Memberikan pengalaman yang sesunggunya agar peserta didik menguasai kaahlian produktif berstandar budaya industri yang berorientasi kepada standart mutu, nilai-nilai ekonomi serta membentuk etos kerja yang tinggi, produktif dan kompetitif.
Mewujudkan sekolah menjadi SMK berstandar Nasional/Internasional.

Menanggapi pertanyaan anak muda sekarang ini, Sugiyarto, mengatakan  perlu pembimbingan untuk hadapi realita roda zaman. “Zaman saya dulu tahun 70-an, bertindak seperti itu sudah bagus, tapi kini tindakan itu harus segera diperbaiki, sekolah itu merupakan karakter, tinggal bagaimana menjadi siswa berkarakter yang baik, tidak instan.

Untuk itulah sudah menjadi tanggungjawab para orangtua, masyarakat dan pendidik harus sama-sama duduk satu meja untuk membicarakan generasi muda ini. “

Sedangkan masalah pendidikan seks, ia menyarankan untuk perlunya bimbingan orangtua, masyarakat dan pendidik. “Biar si anak melihat dari awal hingga akhir, sehingga tidak separuh-paruh mereka mendapatkan informasi tentang seks, hingga sampai akibatnya, “tegas kepala sekolah yang membawahi 98 guru dan karyawan administrasi lainnya. Dengan mereka mengenal seluk beluk semua itu, maka setelah lulus sekolah mereka mendapatkan bekal akhir yang baik.

Ekstrakurikuler di SMKN 4 Surakarta, antara lain pramuka, palang merah remaja, Pasukan Inti (paskibra), fashion show/modelling dan olahraga. “Biasanya ekskul dilaksanakan sore hari, “ujarnya. Mengakhiri perbincangan, Sugiyarto, mengatakan bahwa obsesinya kini adalah bagaimana membawa sekolah ini bisa besar dan menjadi idola semua orang. “ Bagi saya, menjadi kepala sekolah sekarang ini sudah merupakan anugrah yang besar, jadi tidak ada lagi target yang muluk-muluk untuk mengapai cita-cita.”

Sugiyarto menambahkan baginya tidak ada kesibukan lain, selain mengurus sekolah, termasuk untuk urusan bermain politik. “Politik tidak bisa, hanya organisasi sosial dan pendidikan “ungkap kepala SMKN 4 Surakarta ini.  Pesannya bagi generasi muda adalah mumpung masih muda kesempatan jangan sampai dihilangkan begitu saja, apa saja bisa dilakukan saat muda. “Kerja yang benar dan yang penting halal, itulah yang disarankan ke siswa.”