Tag: usaha

Daniel Santosa

Daniel Santosa
Direktur Utama PT Primaland Development
Arsitek Yang Berkembang Menjadi Developer
Bidang Arsitektur tidak hanya urusan gambar mengambar dan design dari sebuah bangunan. Tetapi bisa mencakup bidang yang lebih luas lagi. Seseorang lulusan sekolah Jurusan Arsitektur tidak harus menjadi seorang Arsitek, tetapi ia bisa mempraktekan ilmunya ke bidang-bidang lain, seperti misalnya bekerja di bidang interior, kontraktor bangunan, supplier bahan bangunan, konsultan lighting, agen property, exhibition, constuction management dan lain lain, bahkan menjadi seorang developer sekalipun.
Hal ini yang dialami oleh sosok Daniel Santosa, Direktur Utama PT Primaland Development, lulusan dari Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara, Jakarta dan University of New South Wales, Sydney.
“Setelah lulus kuliah S1 tahun 1990, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan konsultan arsitektur di Jakarta. Setahun kemudian saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke level yang lebih tinggi. Meski dengan biaya sendiri tanpa mengandalkan orang tua, saya bertekad untuk melanjutkan sekolah lagi ke University of New South Wales, Australia, mengambil jurusan Building Design. Disana saya bekerja sembari kuliah. Bahkan bekerja sebagai kitchen hand atau  pencuci piring di sebuah restaurant pun pernah saya lakoni demi mengejar cita cita sejak kecil untuk bisa lulus dari sebuah universitas bergengsi di luar negeri,” kata penerima penghargaan sebagai salah satu pengembang terbaik 2010 versi International Business and Company Award ini.
Setelah kuliah selesai pada tahun 1992, Daniel mencoba untuk bekerja di Australia, tetapi karena pada saat itu sedang terjadi resesi ekonomi disana, sehingga mencari pekerjaan sebagai seorang arsitek merupakan hal yang cukup sulit, apalagi untuk pendatang seperti dia. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dengan bakat menggambar yang ada, ia mencoba untuk mendirikan usaha dibidang Consultan Design, dibantu seorang teman dan 2 orang pegawai dengan menumpang tempat di sebuah rumah kontrakan.  Karena hubungan antara design dan konstruksi sangat erat, maka sejalan dengan waktu bidang konstruksi pembangunan juga ditekuninya. Beberapa proyek berhasil diselesaikannya.
Dalam perkembangannya, setelah mengalami jatuh bangun akibat krisis moneter dan sebagainya, pada tahun 2000 dengan menggunakan uang tabungan yang ada, Daniel mencoba untuk membeli beberapa kavling tanah, mengingat pada waktu itu setelah krisis banyak dijual tanah yang cukup murah . Beberapa tahun kemudian setelah keadaan ekonomi membaik, kavling-kavling tanah tersebut mulai dibangun dan berhasil dipasarkan. Semua dikerjakan secara in house, mulai dari design, konstruksi sampai pemasarannya. Sampai saat ini sudah ratusan unit bangunan yang berhasil dipasarkan, tidak terbatas pada rumah tinggal, tetapi juga rumah kantor atau ruko, pergudangan dan perkantoran.
Saat ini di bawah bendera Primaland Development, ia sedang memasarkan sebuah kawasan bisnis yang dinamakan Kapuk Business Park, berlokasi di daerah strategis jalan Kapuk Raya. Kapuk Busines Park adalah sebuah kawasan yang unik, merupakan perpaduan antara perkantoran, pergudangan sekaligus nyaman jika digunakan untuk tempat tinggal. Menurutnya kawasan seperti ini sangat dibutuhkan di Jakarta dan demandnya cukup tinggi. Didasari dengan pemikiran akan kemacetan kota Jakarta yang setiap hari semakin parah tanpa ada solusi yang berarti dari pemerintah, orang akan semakin berpikir realistis dan efisien, mereka membutuhkan suatu tempat tinggal, tempat bekerja dan tempat menyimpan barang yang saling berdekatan, bahkan bila memungkinkan di satu tempat sekaligus tanpa terganggu kemacetan. Maka Kapuk Business Park merupakan salah satu solusi kawasan dengan konsep 3 in 1 yang mengakomodasi pemikiran di atas. Bahkan kawasan ini juga sangat strategis untuk jalur distribusi barang. Akses ke Bandara hanya di tempuh dalam beberapa menit, juga ada akses tol langsung menuju ke arah pelabuhan. Tepatnya dari dan menuju seluruh penjuru Jakarta ada akses tol langsung dari arah kawasan ini.
Menurut Daniel, yang membedakan kawasan ini dengan kawasan serupa, selain dari lokasi adalah penataan lingkungan, design dan fasilitasnya. Diakuinya memang harga di kawasan ini tergolong tidak murah, tetapi dari harga yang dibayarkan konsumen itu mereka mendapatkan sesuatu yang berbeda dari kawasan lain, baik dari segi kualitas bangunan, kualitas infrastructure, fasilitas, keamanan dan costumize design. Mereka akan merasa nyaman untuk bekerja dan merasa aman untuk menyimpan barang.
“Sebagai seorang arsitek, saya merasa lebih puas jika produk yang saya pasarkan adalah rancangan saya sendiri. Selain dari design unit-unit saya kerjakan sendiri dengan bantuan beberapa drafter, masterplan maupun infrastructure juga dikerjakan secara inhouse. Diluar itu, untuk lebih memuaskan konsumen, kami juga melayani konsumen yang unitnya ingin dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan mereka.” Kemudian lanjutnya, ”Gambar yang kita design dan tawarkan ke konsumen seperti gambar gambar di brosur dsb, ya seperti itulah jadinya bangunan dan fasilitas yang mereka dapatkan. Kita selalu commit dengan apa yang kita tawarkan.”
Transparan dan Konsekuen
Menurut Daniel Santosa, perusahaan yang didirikannya belum tergolong perusahaan besar dalam bidang property, namun perusahaan yang sedang dan masih berkembang. Sebelum memulai mengembangkan suatu kawasan, hal hal yang biasa ia lakukan adalah membuat perhitungan yang matang atau feasibility study,  survey dengan melihat kebutuhan dan tingkah laku pasar secara jeli, memberikan kualitas  bangunan yang baik dan fasilitas  yang disediakan juga faktor tidak kalah penting, disamping tentunya faktor lokasi yang strategis dan kelengkapan surat surat. Hal ini akan sangat menentukan produk kita akan diminati konsumen dan mampu bersaing dengan pengembang lain. Selain itu kita sebagai pengembang juga dituntut harus jujur, transparan dan memegang komitmen.
Dengan perpegang pada hal-hal di atas, terbukti kami selama ini tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam memasarkan produk kami, meskipun kami belum mempunyai nama besar sebagai pengembang.
Belajar dan Menekuni Pekerjaan
Untuk saat ini yang sedang Daniel kerjakan adalah berkonsentrasi terhadap proyek proyek yang sedang berjalan supaya dapat terealisasi dengan baik dan tepat waktu. Sehingga komitmen terhadap konsumen dapat benar benar terwujud
Untuk ke depannya Daniel berharap perusahaannya untuk terus berkembang dengan skala yang lebih besar. Menurutnya semuanya harus melalui sebuah proses, tahap demi tahap, tidak ada yang instant, semuanya ia anggap sebagai proses pembelajaran. Karena mengingat dahulu ia memulai dari nol, hal ini  tentunya bisa terwujud jika didukung kondisi ekonomi tanah air yang terus membaik, sehingga daya beli masyarakat juga terus meningkat.
”Siapa sih yang tak ingin perusahaannya menjadi besar? Yang sudah kami lakukan dan akan terus kami lakukan adalah kerja keras,  jika saya sekarang bisa lebih maju dari waktu waktu sebelumnya  menurut saya itu adalah hasil dari proses belajar dan kerja keras, semua itu saya anggap sebagai suatu anugerah dari Tuhan, karena saya diberi kesempatan untuk belajar dan menjalankan pekerjaan ini, saya selalu bersyukur untuk segala sesuatunya…,”tuturnya.
Pengalaman yang ingin disampaikan untuk generasi muda yang baru mulai bekerja. Seperti yang pernah dialami dirinya, “Setelah lulus kuliah saya bingung dihadapkan dengan berbagai pilihan, apakah membuka usaha sendiri, atau berkarier di sebuah perusahaan. Menurut saya yang terpenting kita harus mencari pengalaman sebanyak banyaknya. Belajarlah dari pengalaman pengalaman itu, manfaatkan peluang dan kesempatan. We have to trust our feeling, taking chances, appreciating and learning from the past, to achieve a better future. Saya rasa setiap orang mempunyai kesempatan, tetapi mungkin timingnya berbeda. Kita harus selalu optimis, bersungguh sungguh dalam bekerja, jujur, pandai memanfaatkan kesempatan dan selalu berserah dalam doa”.
“Untuk mereka yang sudah berhasil dalam berusaha, supaya tidak lupa, bahwa keberhasilan yang telah kita capai selain hasil dari kerja keras, adalah kemurahan dan berkat dari Tuhan, hendaknya kita juga selalu bisa menjadi saluran berkat buat orang di sekeliling kita”, demikian katanya menutup pembicaraan.

Ir. Eko Hari Prasetyo

Ir. Eko Hari Prasetyo
Presiden Direktur PT Unique Herbamed Indonesia

Menciptakan Formulasi Herbal Setara Produk Medis

Rakyat Indonesia tidak sadar bahwa tanah airnya menyimpan kekayaan alam luar biasa. Bukan hanya dalam bentuk hasil pertanian, pertambangan, kehutanan dan pertanian yang melimpah ruah, tetapi bumi Indonesia menyimpan kekayaan lain. Yakni banyaknya tanaman berkhasiat obat yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Sayangnya, kekayaan alam yang satu ini tidak banyak dimanfaatkan. Sebagian besar rakyat Indonesia lebih percaya kepada pengobatan modern yang berbasis obat-obatan kimia. Penggunaan herbal hanya pada kalangan tertentu yang mengenalnya secara tradisional sebagai “jamu”. Padahal, tanaman obat atau herbal melalui proses yang benar tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

“Semua berawal dari keprihatinan saya, karena jamu selalu dipandang sebelah mata dan menjadi nomor dua. Di sisi lain, pengusaha MLM obat dari luar negeri meraup keuntungan besar meskipun bahan baku herbal didatangkan dari negara lain. Padahal tanah Indonesia merupakan sumber potensi herbal terbesar di dunia. Makanya saya tergerak untuk menciptakan formulasi herbal yang spesial yakni herbal medicine yang unique, khusus dengan khasiat setara atau lebih baik dari produk medis,” kata Ir. Eko Hari Prasetyo, Presiden Direktur PT Unique Herbamed Indonesia.

Produk herbal hasil formulasinya kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui para pengobat alternatif. Dari mereka, khasiat obat herbal produksinya semakin dikenal luas. Bukan karena kemasan obat yang terkesan eksklusif dan mahal, tetapi karena formulasinya benar-benar mampu menyembuhkan penyakit. Hal ini sesuai dengan konsep pemasaran yang dikembangkan Eko, yakni menguji kualitas produk dengan tanpa beriklan sama sekali.

Eko menginginkan produk formulasi herbal ciptaannya menjadi produk terbaik dan diterima masyarakat tanpa iklan. Artinya, masyarakat menggunakan produk herbal formulasinya bukan karena terpengaruh iklan yang bombastis, tetapi benar-benar menggunakan produk terbaik, baik kualitas maupun khasiatnya. Semua itu, dibuktikan secara langsung oleh masyarakat melalui penggunaan produk dalam mencapai kesembuhan dari penyakit yang diderita.

“Saat ini, baru perusahaan kami yang mewajibkan pengambilan produk oleh mitra dengan uang muka sampai sebesar 50%. Kami juga tidak memiliki sistem konsinyasi atau diskon besar-besaran. Nyatanya, permintaan market tetap tinggi terkait kepercayaan masyarakat terhadap produk herbal kami yang bahkan mampu menembus bisnis MLM. Kami sama sekali tidak pernah beriklan, bahkan dalam bentuk brosur sekalipun,” terangnya.

Menurut Eko, tidak jarang agen obat-obatan yang rela membuatkan brosur sebagai sarana promosi produk perusahaan. Ia berprinsip, bahwa produk obat yang bagus pasti laku walaupun tidak diiklankan. Sesuai arahan mentor marketing-nya yang menyarankan untuk tidak membuat iklan kalau memiliki produk terbaik. Karena memiliki positioning tersendiri, produk terbaik tidak akan kesulitan menembus pasar dan menghadapi persaingan. “Produk yang bagus tidak boleh diiklankan karena iklan hanya untuk produk murah. Biarlah pasarnya berkembang karena masyarakat yang akan memberikan penilaian. Itulah yang kami lakukan dan kami fokus pada kemampuan produk,” imbuhnya.

Eko menjelaskan, salah satu evaluasi produk yang dilakukan adalah dengan membentuk HERBAMED CENTRE yang memberikan bantuan berupa konsultasi dan terapi pengobatan gratis. Layanan ini merupakan misi sosial perusahaan sekaligus sarana untuk mengukur efektivitas herbal produk perusahaan. Dari situ, sistem promosi “gethok tular” dari mulut ke mulut menyebarkan bahwa terjadi kesembuhan secara efektif dengan menggunakan herbal produk PT. Unique Herbamed Indonesia

“Dari situ sebenarnya promosi kita terjadi. Kualitas produk yang bagus ditambah kepercayaan yang kuat membuat kesembuhan semakin cepat. Itu akan dikabarkan kepada orang-orang lain. Keseriusan kita dalam produksi obat herbal antara lain dengan menggunakan bahan terbaik dari dalam negeri. Walaupun ada juga yang kami impor dari China, India ? dan Peru, yang penting kualitasnya terbaik. Makanya meskipun perusahaan kami masih kecil,  kami mendapat pengakuan dari  perusahaan MLM Asing karena telah mampu menghasilkan produk terpercaya,” tuturnya.
Bahkan ada beberapa distributor kita yang sudah mengirimkan produk obat herbal ini ke Hongkong, Taiwan dan Jerman.

Mengutamakan Kejujuran

Prestasi PT Unique Herbamed Indonesia hingga mampu menembus pasar obat internasional tidak lepas dari kiat-kiat yang dijalankan Ir. Eko Hari Prasetyo. Selain membuat produk obat herbal berkualitas, ia juga mendesain kemasan yang berbeda dari produk sejenis. Permainan warna yang menarik, berbeda, unik dan eye catching menambah daya tarik produk obat herbal perusahaannya.

“Dalam membuat kemasan saya selalu mencoba untuk keluar dari pakem, eye catching secara psikologis dan menarik perhatian dengan permainan warna. Kiat kami di dalam berbisnis adalah dengan selalu mengutamakan kejujuran. Makanya kami persilakan klien untuk tes produk, setelah cocok baru berbicara bisnis. Produk kami sudah diujioleh beberapa perusahaan MLM yang dilakukan ditiga Negara ; China, Malaysia dan Singapura, hasilnya semua lolos sehingga mereka menggunakan produk kami dalam bisnis MLM mereka. Saat ini ada beberapa MLM baik Asing maupun Lokal yang menggunakan produk kami sebagai produk andalannya. Sekarang ini, kami berada dalam tahap klien mencari produk kami. Prinsipnya, ‘Biarlah Produk yang Bicara, Bukan Kami’,” ujarnya.

Kejujuran yang diusung Eko sekaligus juga keprofesionalan dalam produksi obat-obatan herbal. Tidak tanggung-tanggung, tenaga Apoteker (Drs. Riza Sultoni, Apt.,) yang menanganinya merupakan salah satu staf ahli pemegang regulasi kesehatan tertinggi di negeri ini. Selain itu, sebuah lembaga pendidikan kesehatan di Klaten, Jawa Tengah mengajak bekerja sama untuk membuka Jurusan Herbal, yang saat ini masih dalam tahap persiapan dan penjajagan.

“Ke depan, saya ingin menggeser paradigma lama bahwa obat-obatan herbal atau jamu selalu nomor dua dibawah obat medis. Sekarang saya dalam proses pembuktian bahwa di Indonesia ada produk herbal yang bisa disandingkan dengan produk medis. Tetapi secara bertahap, karena keterbatasan modal memang belum bisa mengadakan uji fitofarmaka. Sekarang, saya lebih memilih untuk membesarkan perusahaan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Menurut Eko, rencananya ia akan membentuk sebuah grup (Unique Group) guna melebarkan usaha. Selain herbal, usaha ke depan adalah makanan dan minuman (dimulai dengan kopi) dan kosmetik yang memiliki peluang cerah. Target yang dicanangkan Eko setidaknya dalam tempo satu atau dua tahun rencana tersebut akan terealisasi. Sementara sekarang, ia berusaha memperbesar perusahaan dengan kapasitas 20.000 botol per bulan dengan 25 orang karyawan tersebut.

“Tetapi yang jelas sambutan dari masyarakat medis cukup baik. Misi saya tidak muluk-muluk, hanya ingin herbal dianggap setara dengan obat-obatan medis, karena kita melihat perilaku operator herbal yang memosisikan diri sebagai nomor dua dibawah medis. Semua itu, berawal dari tiga pertanyaan ‘Apa yang bisa saya buat untuk hari ini, apa saja yang bisa saya buat untuk hari ini, apa saja yang bisa saya buat untuk hari ini’. Begitu,” tegasnya.

Tanpa Modal

Ir. Eko Hari Prasetyo sebenarnya tidak memiliki latar belakang pengobatan herbal. Sebagai insinyur pertambangan, ia sering keluar masuk hutan di seluruh Indonesia terkait tugasnya. Bermacam-macam permasalahan di pertambangan dikuasainya mulai pertambangan emas, batubara, Penguasaan dan keahlian yang sangat luar biasa membawanya bekerja pada sebuah kantor konsultan pertambangan.

“Saya sempat keliling Indonesia karena bekerja  pada perusahaan konsultan pertambangan yang project-nya berpindah-pindah. Tetapi akhirnya saya bekerja di Hasnur Group sebelum memutuskan untuk memulai membuka usaha sendiri pada tahun 2006. Awalnya mendirikan perusahaan kosmetik berbahan dasar herbal, tetapi beberapa kali kandas karena perbedaan visi,” katanya.

Eko tidak berputus asa, karena semenjak awal lulus kuliah ia memiliki prinsip untuk tidak menjadi pegawai atau karyawan. Ia ingin menjadi entrepreneur tangguh yang tidak hanya mampu menghidupi diri tetapi juga membuka lapangan kerja bagi orang lain. Jalan itu menjadi terbuka lebar, setelah pada tahun 2007 mendirikan PT Unique Herbamed Indonesia. Modal pendirian perusahaan bisa dikatakan hampir nol. “Saya mendirikan perusahaan bisa dibilang tanpa modal, hampir nol hanya berdasarkan kemampuan yang saya miliki,” imbuh pekerja keras yang belum tidur sebelum pukul dua dinihari ini.

Meskipun tanpa dukungan modal, perusahaan yang didirikan Eko terus berjalan. Turun naik dalam menjalankan usaha pun dialaminya, namun tidak menyurutkan pilihan langkahnya. Tetapi ia menyadarinya bahwa hal tersebut merupakan dinamika dalam menjalankan usaha. Apalagi, saat memutuskan untuk memulai usaha ia harus melepaskan zona nyaman yang telah dinikmatinya selama bertahun-tahun. Ia dan keluarganya harus berjuang dari awal untuk membuka usaha sendiri.

“Alhamdulilah istri memberikan dukungan penuh dari zaman kita susah sampai sekarang. Tetapi saya juga tidak membawa urusan ke rumah, karena saya menetapkan garis yang jelas antara pekerjaan dan urusan keluarga. Memang ini yang berat, saat harus melepaskan diri dari zona nyaman, posisi bagus dengan gaji lumayan dan beban keluarga. Tetapi saya berani mengambil langkah yang memberikan perubahan yang sangat berarti bagi diri saya. Meskipun saat itu belum jelas, tetapi entry point-nya adalah di situ,” tegasnya.

Eko yakin dengan pilihannya dan sadar terhadap risiko yang dihadapi. Menurutnya, keyakinan diri berupa keberanian untuk mengambil langkah menjadi faktor pembeda antara seorang karyawan dan pengusaha. Karena setelah menakar risiko, seorang karyawan yang akan beralih menjadi pengusaha  akan memutuskan sesuatu.

“Kalau mau menjadi pengusaha, jangan banyak berpikir, gunakan logika dan hati. Kalau kita yakin jalan, ya langsung jalankan. Dari situ nanti akan ketemu seninya menjadi pengusaha. Bisnis itu harus dinikmati, bisnis ibarat seperti seniman yang secara total mencurahkan segenap hati dan jiwanya untuk menghasilkan karya besar, bisnis juga seperti pemain catur, yang penuh perhitungan untuk terus melangkah. Intinya kita tetap memperhitungkan risiko dengan manajemen risiko yang baik,” tuturnya.

Kepada generasi muda, Eko menegaskan untuk tidak pernah takut dalam memulai usaha. Mereka juga tidak boleh berhenti di tengah jalan ketika sudah memulai menjalankan usaha. Tetapi mereka tetap harus menggunakan logika, intuisi dan perhitungan yang matang dalam setiap langkahnya. “Yang membedakan seseorang adalah kemampuannya. Yakni ketika jatuh dia akan bangun lagi, kalau jatuh harus bangun lagi. Itulah orang yang dinamakan sukses,” pesannya.

Eko yang senang bersepeda motor dan “nongkrong” di tukang jamu ini mengungkapkan, inovasi secara terus menerus akan membawa lebih dekat kepada kesuksesan. Ia terbiasa melihat permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat melalui “aksi” tersebut. Dari situ, tergambar jelas di dalam masyarakat Indonesia bahwa mereka tergerak untuk membeli sesuatu karena iklan-iklan yang bombastis. Selain itu, masyarakat Indonesia juga selalu bangga terhadap barang-barang impor produk negara asing.

“Dari nongkrong di tukang jamu, jalan di pasar atau mal, saya mendengarkan keluhan mereka sekaligus mencari solusi apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Ide saya untuk menciptakan produk baru akan muncul berdasarkan realita yang terjadi di masyarakat. Karena kita tidak boleh terhenti pada produk tertentu saja, harus dinamis,” tegas pengusaha yang tidak khawatir terhadap pasar bebas ini. Produk obat herbal PT Unique Herbamed Indonesia dalam waktu dekat akan diekspor ke China yang di dunia internasional dikenal sebagai pusat obat-obatan herbal. “Nanti produk kami akan diekspor ke China. Tanggal 21 Mei, sample produk kita dibawa ke sana oleh salah seorang kolega dari Malaysia,” imbuhnya.

Feni Desnawai

Feni Desnawai
PT Awana Travel

Dari Perawat Menjadi Pemilik Perusahaan Travel

Sudah menjadi takdir manusia untuk menghadapi tantangan dalam menjalani hidup. Besarnya hambatan membuat manusia menjadi sangat bergairah untuk “menaklukkan” tantangan tersebut. Di situ, merupakan ujian bagi manusia untuk mengukur seberapa besar kemampuannya dalam menghadapi beratnya kehidupan. Kesuksesan, sangat ditentukan oleh ketangguhan dan kemampuan dalam menyiasati tantangan.

“Saya awalnya lulusan perawat dari Bengkulu dan bekerja di rumah sakit Pelni selama empat tahun. Selama empat tahun, saya senang mengikuti tantangan ke sana-sini. Saya masuk program D1 Akuntansi Komputer tetapi belum selesai sudah saya tinggal karena lulus seleksi di LAN. Tetapi susah kuliah di LAN sambil bekerja sebagai perawat di rumah sakit, apalagi kalau shift malam sehingga saya terpaksa mencari pekerjaan baru,” kata Feni Desnawai, pemilik PT Awana Travel.

Akhirnya, Feni berhenti dari rumah sakit dan berkarier sebagai tenaga honorer di sebuah perusahaan. Meskipun itu berarti terjadi penurunan status dan pendapatan, tetapi ia sangat bersyukur karena bisa melanjutkan pendidikan dengan lancar. Pendidikan di LAN yang cukup berat berhasil diselesaikannya tepat waktu pada tahun 1994. Satu tahun kemudian, ia dipindahkan ke bagian akuntansi yang selama 19 tahun terakhir ditekuninya.

Bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadanya, membuat Feni memutuskan untuk menunaikan ibadah umrah ke tanah suci. Sepulangnya dari tanah suci, anugerah yang lebih besar diterimanya. Allah mengirimkan H Nandang Akasah sebagai suami yang menjadi imam dalam hidupnya. Sebagai ungkapan rasa syukur, keduanya melakukan ibadah umrah bersama-sama.

Namun, sebelum berangkat ke tanah suci, Allah menguji Feni dengan sakit yang cukup parah. Ia pasrah menerima segala cobaan yang datang dan di depan Kabah memanjatkan doa bagi kesembuhannya. Selain itu, ia juga memanjatkan doa agar hidupnya tetap memberikan manfaat bagi orang lain. Doa yang dipanjatkan dengan penuh kepasrahan –apalagi di depan Baitullah- benar-benar sangat mustajab.

“Saya dipertemukan dengan orang Indonesia di mana saya membeli paket penyelenggaraan umrah kepadanya. Dia menyarankan agar saya membuat travel yang saat itu belum terpikirkan sama sekali. Kami sangat awam bagaimana membuat travel. Bahkan suami saya bilang bahwa kami belum punya dana untuk itu. Orang itu tetap berkata, sudahlah bikin saja dulu PT-nya,” kisahnya.

Setelah sampai di Indonesia -dengan dukungan suami- Feni memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan. Dengan mengusung nama PT Awana Travel –meskipun tidak paham sama sekali dengan bisnis tersebut- ia menghadap notaris pada tanggal 13 Agustus 2004. Ia mengurus seluruh perizinan perusahaan seorang diri karena ingin belajar dari bawah sekaligus mencegah terjadinya penipuan. “Saat itu sudah ada 18 orang mendaftar tetapi semuanya perempuan sehingga terpaksa saya oper ke travel lain,” imbuhnya.

Tahun 2005, Feni telah mengantongi seluruh izin yang diperlukan untuk mengoperasikan perusahaan travel. Meskipun harus mengontrak kantor dan terpaksa harus “nombok” antara 600 – 1000 dolar setiap keberangkatan, ia tidak berputus asa. Kerugian terus dialaminya sampai tahun ketiga ia menjalankan usaha tersebut. Semangat untuk memberikan yang terbaik bagi tamu Allah terus dipeliharanya sehingga hitungan untung rugi tidak terlalu dipikirkannya.

“Saat itu masih ada subsidi dari suami yang kebetulan wiraswasta di bidang konstruksi. Kepada suami, saya meminta waktu dua tahun untuk memulihkan semuanya. Saya baru sadar, bisnis pariwisata itu modalnya besar, tidak cukup Rp200-300 juta,” ungkapnya. Tetapi tanggung jawabnya sebagai pemilik usaha tidak menyurutkan langkahnya untuk memberikan hak-hak bagi karyawan seperti gaji dan THR. “Bahkan THR dari kantor, saya bagikan kepada mereka. Itu yang saya utamakan,” tambahnya.

Menurut perempuan yang tidak merasa hina dan malu naik ojek ini, setiap kerugian yang dialami diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Ia yakin, selama yang dijalaninya tidak melenceng Allah pasti akan memberikan jalan terbaik baginya. Dengan keyakinan itu, perlahan namun pasti usahanya mulai berjalan. Banyak jemaah yang mempercayakan urusan haji dan umrah kepada perusahaan miliknya. “Apalagi kalau saya ikut dalam rombongan, jemaah sangat senang. Karena kalau ada apa-apa saya langsung action,” ungkapnya.

Sayangnya, tidak setiap keberangkatan rombongan Feni bisa menyertainya. Kesibukan di kantor tempatnya bekerja sangat menyita waktu sehingga tidak setiap saat ia bisa mengajukan izin cuti. Ia mengakui bahwa dirinya masih belum bisa fokus di Awana karena terikat dengan perusahaan tempatnya bekerja. “Masih sangat sibuk di kantor. Pokoknya, yang penting saya memiliki komitmen dan tanggung jawab sebagai istri, ibu, karyawan dan titipan amanah berupa Awana ini,” katanya.

Dengan kesibukan seperti itu, Feni tetap harus bersosialisasi dengan keluarga. Solusi untuk mengatasi kesibukan yang sangat menyita waktu tersebut, ia melakukan semuanya dengan penuh disiplin. Ia merencanakan segala kegiatan hariannya bahkan ketika baru bangun tidur. Semua itu dilakukan dengan disiplin, jujur dan dibicarakan secara terbuka dengan suaminya. Ia juga “mengandalkan” saudara-saudara iparnya ketika harus meninggalkan anak semata wayangnya untuk bertugas mengantarkan jemaah.

“Saya sering tidak ada pembantu, sehingga harus dengan ipar. Pokoknya, intinya disiplin karena memang berat untuk sukses, harus bekerja keras. Meskipun capek, setiap malam saya harus membuka email. Paling tidak, sambil memasak selama sepuluh sampai lima belas menit harus menyalakan komputer. Bunyi SMS saja saya langsung terbangun, karena sudah terbiasa. Semua karena tanggung jawab saya, kewajiban saya terhadap hak-hak jemaah yang seharusnya mereka terima,” ujarnya.

Tidak Pernah Beriklan

Selama mengoperasikan PT Awana Tour & Travel, Feni Desnawai tidak pernah memasang iklan. Jemaah yang puas dengan pelayanan PT Awana dengan senang hati akan mempromosikan perusahaan kepada keluarga, sahabat atau teman-temannya. Promosi model ini terbukti ampuh “menggaet” jemaah sehingga jemaah yang menggunakan jasa perusahaan datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kita tidak pernah beriklan, promosi benar-benar hanya dari mulut ke mulut. Dan untuk menghargai jemaah yang telah mempromosikan kita, mereka direkrut sebagai marketing dengan imbalan yang memadai. Itu selalu kami berikan meskipun secara operasional kami harus nombok. Yang penting, bagaimana caranya kita menciptakan network dari jemaah di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Semua itu dilakukan sebagai cara untuk memegang komitmen dengan apa yang telah dijanjikan. Untuk memastikannya, Feni terjun langsung dalam menangani jemaah. Karena jasa yang ditawarkan perusahaan adalah servis atau pelayanan, ia harus tahu betul bahwa semua berjalan dengan baik. Meskipun status sebagai pemilik perusahaan, Feni tidak segan-segan untuk mengantar atau menjemput jemaah di bandara.

Bahkan, saat mendampingi jemaah, Feni “rela” turun ke dapur untuk membuatkan minuman bagi jemaahnya. Kalaupun tidak mendampingi jemaah, ia selalu mengontrol keberadaan mereka dari tanah air. Karena ia ingin, semua berjalan dengan baik sesuai apa yang dijanjikannya. “Saya orangnya saklek, kalau bilang A ya A, tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi karena itu, jemaah suka mencari-cari saya, karena dianggap memberikan rasa nyaman. Bahkan sebelum mendaftar mereka bertanya dulu, ‘Feni-nya ikut nggak.’ Mereka ingin bareng saya jalannya,” ungkapnya.

Kedekatan seperti itulah yang membuat usahanya semakin maju. Terbukti, hingga bulan Agustus 2010 tercatat 300 jemaah telah diberangkatkan ke tanah suci. Semua itu dilakukan Feni dengan keyakinan bahwa rezeki memiliki garis masing-masing dari Allah, sehingga ia tidak takut bersaing dengan perusahaan lain. Meskipun sering mengikuti konsorsium pemberangkatan jemaah, namun tidak pernah sekalipun menyuruh anak buahnya untuk mengajak jemaah dari perusahaan lain bergabung di PT Awana.

Bagi perempuan kelahiran Muko Muko, 17 Desember 1964 ini, persaingan malah menjadi tantangan untuk menjadi maju. Ia tidak terlalu memikirkan bagaimana perlakuan perusahaan lain sebagai pesaing yang menzhaliminya. Semua diserahkan kepada Allah sebagai pemilik rezeki. Landasan keyakinan tersebut membuat langkahnya tidak terbendung oleh hambatan “kecil” seperti itu.

“Kalau kita memikirkan orang lain kapan kita akan maju. Kalau perlu kita bergandengan bukan malah saling sikut. Rezeki tidak akan pernah tertukar. Dan menyelenggarakan perjalanan haji dan umrah bukan mencari rezeki semata. Pengalaman saya sembuh dari kanker di tanah suci, membuat saya ingin orang lain juga bisa ikut menikmati. Itu saja,” tandasnya.

Menurut pengamatan Feni, setiap tergabung dalam konsorsium, harga dari perusahaan miliknya selalu lebih murah. Meskipun demikian, ia tidak ingin jemaah pindah ke perusahaannya karena melihat harga murah tersebut. Tetapi ia tidak akan mampu mencegah kepindahan jemaah seandainya alasan yang dikemukakan seperti mukena atau kopor PT Awana lebih bagus. “Itu saya tidak bisa mencegahnya. Kalau untuk harga, di konsorsium kami lebih murah. Untuk haji bisa 6500 dolar sementara yang lain 7000 dolar,” tambahnya.

Semua itu dilandasi niat Feni untuk berbagi pasca kesembuhan dari kanker yang menggerogotinya. Setelah berhasil bebas dari kanker berkat doa-doanya di tanah suci, ia mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama. Saat ini yang paling diinginkannya adalah hingga akhir hayatnya bisa melayani jemaah dengan baik. “Setiap kali ke tanah suci, bukan doa meminta harta berlimpah yang saya panjatkan. Tetapi memohon kesehatan dan kesempatan untuk datang lagi dan lagi ke tanah suci. Saya tidak ingin Awana menyusahkan orang lain, itu prioritas saya,” kata perempuan mandiri dan sederhana ini.

Berjiwa ‘Pembantu’

Feni Desnawai terus melihat ke depan demi kemajuan PT Awana Tour & Travel. Ia ingin lebih banyak membantu orang lain mewujudkan keinginan untuk pergi ke tanah suci melalui perusahaan miliknya. Untuk itu sebisa mungkin ia tidak menetapkan harga yang tinggi untuk pelayanan perusahaan. Yang penting, dengan harga murah ia tidak terus-terusan “nombok” tetapi mampu memenuhi kewajiban kepada karyawan.

“Saya merintis Awana Konveksi untuk keperluan mukena dan kopor jemaah. Mungkin itu salah satu sampingan Awana, selain bisa mengurangi biaya produksi juga memberikan penghasilan tambahan. Kita tidak berbicara profit yang penting positif buat perusahaan kita. Karena kalau hanya ditipu sih saya sudah kenyang, tetapi saya nggak mau pusing memikirkan semua itu karena yakin Allah akan memberikan rezeki yang lain,” tegasnya.

Feni yakin segala peristiwa memiliki hikmah tersendiri bagi orang yang berpikir positif. Ia mencontohkan, seandainya tidak diberi penyakit kanker dalam tubuhnya, belum tentu dirinya seperti sekarang. Semua itu harus disyukuri dan berpulang kepada diri masing-masing, adakah keinginan untuk berusaha atau tidak.

“Kita berusaha baik saja belum tentu mendapat balasan yang baik juga. Ketika pergi haji tahun 2008, saya ikut bersama jemaah bahkan menyediakan teh manis untuk mereka. Saya tidak apa-apa dibilang berjiwa pembantu, karena di rumah juga ngepel, nyapu, masak dan lain-lain. Semua kalau dilakukan dengan senang hati pasti terasa ringan,” tambah sulung dari dua bersaudara pasangan Rustam Effendi (Alm) dan Hj Rakimah ini.

Feni sangat  bersyukur memiliki keluarga yang sangat mendukung aktivitasnya. Suaminya, H Nandang Akasah yang menikahinya pada tahun 2001 mengerti dan memahami betul dengan kegiatan sehari-harinya. Semua terjadi karena sejak awal sudah menjadi komitmen yang telah disepakati bersama. “Saya sangat bersyukur punya suami yang mau mengerti dan memahami saya. Setelah lima tahun, baru dia terlibat mengurusi usaha ini,” ungkapnya.

Dukungan lain juga datang dari putri semata wayangnya –Salwa Samiyah Amanda- yang baru berusia empat tahun. Sedari kecil, Feni mendidik anaknya untuk hidup mandiri sesuai dengan tingkatan usianya. Cara yang dilakukannya adalah dengan memberikan contoh perilaku sehari-hari untuk ditirukan sang anak. Ke depan, ia ingin memberikan pendidikan setingi mungkin dengan harapan mampu melanjutkan bisnis PT Awana Travel.

“Kalau mampu, kita sekolahkan setinggi mungkin. Anak harus mencontoh kita, kalau kita tidak memberi contoh yang baik. Bagaimana anak menjadi baik, menjadi jujur kalau sendiri tidak jujur. Kita ingin generasi muda bangsa ini lebih bagus. Untuk itu, dimulai dari keluarga masing-masing sebagai orang tua harus menanamkan agama terlebih dahulu sebagai dasar. Kalau agamanya sudah kuat, insya Allah, berjalan dengan baik,” tegasnya.

Harkandri M Dahler

Harkandri M Dahler
Presiden Direktur Aerotrans ( PT Mandira Erajasa Wahana )

Sukses Meningkatkan Kinerja Perusahaan Melalui Rebranding

Dalam sebuah usaha yang tidak menunjukkan peningkatan, perubahan sangat perlu dilakukan. Apalagi jika produktivitas perusahaan yang ditargetkan tidak tercapai maka pembenahan harus dilakukan secara menyeluruh, dari internal maupun eksternal perusahaan. Dari sisi internal adalah pembenahan perusahaan, baik manajerial, produk, SDM maupun pelayanan. Sementara pembenahan eksternal adalah pembinaan terhadap pelanggan atau pengguna produk perusahaan.

Persaingan bisnis yang semakin tajam akibat globalisasi, mengharuskan sebuah perusahaan meningkatkan kinerjanya. Apalagi bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa, persaingan sangat ketat. Banyak bermunculan perusahaan baru yang menawarkan ide-ide besar untuk menarik pelanggan. Akibatnya, sebuah perusahaan jasa yang “mandhek” dan tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan akan ditinggalkan.

“Saya dikirim ke sini dengan kondisi perusahaan yang memiliki citra kurang baik di mata pelanggan. Saat itu, image bisnis jasa transportasi milik Garuda dengan nama Mandira itu terkenal dengan kendaraan yang kotor, sopir ugal-ugalan, attitude diragukan dan lain-lain. Pokoknya integritasnya diragukan sehingga dengan adanya program rebranding yang saya jabarkan di sini, kami berusaha mengangkat kinerja perusahaan,” kata Harkandri M Dahler, Presiden Direktur Aerotrans

Menurut Harkandri , program rebranding merupakan program perubahan yang dicanangkan induk perusahaan, PT Aerowisata. Anak perusahaan PT Garuda Indonesia secara serentak sejak November 2009 melaksanakan rebranding terhadap perusahaan dibawah kendalinya seperti Aerofood ACS, Aerotravel, Aerowista Hotel dan lain-lain. Tujuan rebranding adalah untuk mendorong anak perusahaan meningkatkan kinerja bisnisnya dengan mengoptimalkan sumber daya yang sudah dimiliki.

Mandira sebagai operator jasa trasportasi darat, jelas Harkandri , menggunakan  brand baru, Aerotrans. Diharapkan, perusahaan tampil dengan wajah baru yang lebih segar dan mampu bersaing di pasar. Keberhasilan rebranding dapat diukur dari jumlah pelanggan yang puas atas layanan dan terus menggunakan jasa yang ditawarkan perusahaan. Selain itu, perusahaan juga mampu “menggaet” pelanggan baru karena citra akibat rebranding yang semakin cemerlang.

“Nilai rebranding atau core value yang saya sosialisasikan kepada karyawan ada empat hal. Sincere yakni ketulusan dan ikhlas mengerjakan tugas. Impeccable yaitu bekerja tanpa cacat, sempurna dengan start dari proses awal yang benar. Proactive, atau komitmen untuk memberikan solusi. Imaginative yaitu mengedepankan inovasi dalam pelayanan. Tetapi mempraktekkan empat hal tersebut ternyata berat. Perusahaan yang terbentuk sejak tahun 1988 itu, sangat berat untuk mengubah tradisi yang sudah membudaya. Makanya saya mengajukan diri untuk fokus dan total di sini,” ujar profesional yang tadinya masih merangkap sebagai Direktur Keuangan dan SDM Aerofood ACS

Sosialisasi rebranding yang dirancang Harkandri  dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya dilaksanakan oleh karyawan pada level pelaksana lapangan, tetapi juga direksi, manajemen, dan karyawan operasional. Program yang dilaksanakannya meliputi semua aspek bisnis perusahaan seperti logo baru, bus baru, dekorasi dan warna kendaraan, corporate identity serta seluruh dokumen surat menyurat perusahaan. Ia juga membenahi jaringan IT dan meningkatkan fasilitas serta kesejahteraan karyawan, mulai internet, seragam, dan infra struktur lain-lain.

Untuk mensosialisasikan implementasi tujuan rebranding, Harkandri  juga meminta  dukungan dengan Serikat Pekerja (SP). Melalui PKB (Perjanjian Kerja Bersama) periode 2010-2012, ia berhasil mengajak karyawan untuk menutup masa lalu dan membuka lembaran baru menuju masa depan yang lebih baik. karyawan yang berjumlah sekitar 2200 orang diajak bekerja sebaik-baiknya demi kepuasan pelanggan. Karena dengan komitmen itu sebagai akan berguna pada kemajuan perusahaan yang berimbas pada kesejahteraan karyawan sendiri.

Dari sisi manajerial, Harkandri  menyusun pembenahan secara menyeluruh. Ia membuat restructuring balance sheet dari divisi keuangan dan melakukan analisa terhadap pembelian asset bekerja sama dengan bank. Dari perhitungannya, ia bisa mengoptimalkan pengeluaran dari bunga yang harus dibayar kepada pihak ketiga. Bunga yang tidak kompetitif harus d-restrukturisasi agar menjadi kompetitif, termasuk proses dokumennya juga harus effisien.
Dari situ, perusahaan mendapat penghematan cash flow atas bunga sebesar sekitar Rp600 juta,” tuturnya.

Harkandri  dalam melaksanakan program ini tidak hanya duduk di belakang meja saja. Ia bukan tipe direktur perusahaan yang sudah establish dan hanya tinggal tanda tangan saja. Sebagai pucuk pimpinan tertinggi, ia tidak segan-segan turun langsung bahkan untuk sekadar mengambil tagihan. Tujuannya untuk merapikan perusahaan tetapi tanpa harus mengeluarkan dana lebih. Agar pesan perubahan yang ingin disampaikannya cepat diterima seluruh karyawan, ia menerbitkan bulletin Aerotrans News. Tujuannya untuk menyosialisasikan kebijakannya dalam membenahi perusahaan mengantisipasi perbedaan persepsi ketika informasi disampaikan kepada karyawan.

“Dari saya A, mungkin sampai manager menjadi Z. Maksud saya bulletin ini untuk mengakselerasi pekerjaan dari pusat sampai grass root. Menginformasikan kebijakan dari direksi kepada seluruh karyawan. Jadi ini adalah software untuk akselerasi kemajuan perusahaan. Saya juga membenahi brosur perusahaan sehingga lebih komunikatif seperti sekarang ini,” ungkap pria yang meniatkan tugasnya untuk semata-mata ibadah ini.

Bertahan Tiga Bulan

Karier Harkandri M Dahler diawali di maskapai penerbangan Garuda Indonesia sejak tahun 1978. Ia bertahan pada perusahaan penerbangan milik pemerintah Indonesia itu sampai tahun 2002. Selama menjalani karier, berbagai tugas dan jabatan pernah diembannya berkaitan dengan administrasi dan manajemen. Padahal, sejatinya ia adalah seorang mekanik yang harus lebih banyak berkutat di bagian teknik pesawat terbang.

“Saya menjadi mekanik hanya tiga bulan, terus ‘lari’ ke bagian administrasi. Nah, setelah lepas dari Garuda, antara tahun 2002-2008 bekerja di bengkel maintenance pesawat yang menjadi bagian integral layanan PT Garuda, yakni PT GMF AeroAsia. Saya termasuk orang pertama yang bekerja disitu,” katanya.

Selama di GMF, pria kelahiran Kuala Tungkal, 1 Juli 1957 ini memegang berbagai jabatan. Mulai bergabung di divisi keuangan, menjadi corporate secretary dan jabatan terakhir adalah Kepala Marketing GMF. Kinerja yang ditunjukkan suami Mia Arbaiyah ini sangat memuaskan sehingga ia mendapat award dari perusahaan. Karena penghargaan itu, awal Januari 2009 ia mendapat amanah untuk menjadi Direktur Keuangan & SDM PT Angkasa Citra Sarana Catering Service (sekarang Aerofood ACS).

Karier Harkandri  terus melesat bak meteor. Setelah dianggap sukses menangani perusahaan katering, pada bulan Maret 2010 ia dinobatkan sebagai Presiden Direktur PT Aerotrans. Meskipun sempat bertanya-tanya -karena spesialisasinya adalah teknik di bidang rangka pesawat, namun ia melihatnya sebagai tugas yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Apalagi, dukungan dari para pemegang saham yang melihat potensi dalam dirinya menambah keyakinan atas pekerjaan tersebut.

“Saya pernah bertanya, kenapa harus saya, ini kan tidak sesuai dengan latar belakang saya. Tetapi justru mereka bilang, ‘urusan itu bukan anda yang menentukan’. Mungkin ternyata pilihan mereka kepada saya anggap sebagai tantangan,dan jalankan dengan sungguh-sungguh,saat di katering itu saya juga banyak belajar,” tuturnya.

Saat memegang Aerofood ACS, Harkandri  memang menorehkan prestasi yang mengilap. Strategi pemasaran yang diterapkannya terbukti ampuh mendongkrak pendapatan perusahaan. Seperti bagaimana ia melakukan inovasi terkait kejenuhan dalam bisnis inflight catering, dengan arahan Direktur Utama dan Direksi lainnya di Aerofood ACS . Ia mengatasi kejenuhan tersebut dengan masuk wilayah industrial catering. Yakni menggarap katering bagi rumah sakit perkotaan dan pertambangan (mining) dengan tetap menjadi pemasok bagi katering perusahaan induk, PT Garuda Indonesia.

“Strategi ini terbukti meningkatkan akselerasi pendapatan perusahaan dengan omzet sekitar hampir Rp1 triliun per tahun. Jadi, konsepnya saya melihat pasar infligt catering yang mulai jenuh sehingga meskipun kita genjot bagaimana pun ya tetap ‘segitu’ saja. Makanya kita lari ke industrial catering, restoran dan kafe,” tambah ayah lima anak ini.

Bekerja Secara Terstruktur

Dalam melakukan rebranding di perusahaan yang dipimpinnya, Herkandri M Dahler mengakui banyak kendala yang harus dihadapinya. Saat pertama kali kedatangannya, kondisi perusahaan transportasi tersebut dalam keadaan nyaris bangkrut. Dengan karyawan sekitar 2000 orang dan mengelola asset sebanyak 1000 kendaraan, seharusnya perusahaan bisa berkembang dengan baik. Namun, semua itu menjadi tantangan baginya untuk membenahi dan memajukan perusahaan.

“Dilandasi niat untuk ibadah, saya berusaha membenahinya. Saya bilang kepada karyawan, bahwa perusahaan ini bangkrut. Kalau anda semua mau dibubarkan tinggal bilang saja, begitu kata saya. Tetapi mereka tidak mau dan bersedia bekerja keras untuk memajukan perusahaan ini. Mereka menyatakan siap membantu saya untuk melakukan perubahan total,” ujarnya.

Harkandri kemudian melakukan efisiensi di segala bidang. Ia mengontrol setiap fungsi dan mengevaluasi target yang dicanangkan. Kepada karyawan ia menegaskan pentingnya integritas dalam bertugas agar perusahaan berkembang dengan baik. Ia mengharapkan dukungan yang besar dari para sopir sebagai ujung tombak perusahaan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Menurutnya, kepuasan pelanggan sangat tergantung dari integritas sopir saat bekerja.

“Saya biasa bekerja secara terstruktur dengan ukuran-ukuran yang jelas dan dievaluasi secara periodik. Kepada karyawan saya tidak menjanjikan mereka menjadi orang kaya, tetapi setidaknya dapat hidup layak. Saya membuat bermacam-macam program agar mereka memiliki ‘getaran’ terhadap perusahaan. Hasilnya, saya mendapat target pendapatan perusahaan tahun 2010 ini sebesar Rp156 miliar,” tandasnya.

Harkandri juga telah menyusun program jangka panjang perusahaan hingga tahun 2014. Ia memandang jauh ke depan dengan membuat perencanaan terkait target pendapatan, akumulasi biaya, diversivikasi usaha dan lain-lain. ia melihat salah satu jalan adalah penguatan struktur dan semangat karyawan dalam bekerja sehingga tercipta sebuah tim yang solid.

“Kita membangun solid team agar menjadi one team, one spirit and one goal. Jadi betul-betul menjadi bagian dari hati sehingga karyawan mantap bekerja di sini. Ke depan saya ingin mengembangkan usaha di bidang wisata dan bahkan kalau bisa menjadi perusahaan wisata. Karena pasarnya juga luar biasa. Sekarang saya kan sedang investasi dengan menempatkan orang-orang profesional dan merapikan perangkatnya. Saya yakin akan berkembang dengan baik,” tukasnya.

Keikhlasan dan Ketulusan

Harkandri M Dahler sebenarnya tidak pernah bercita-cita fomal seperti menjadi dokter atau insinyur. Sebagai orang kampung, ia mengikuti jalan hidup yang telah ditentukan Tuhan baginya. Ia hanya berprinsip bahwa dalam mengerjakan segala sesuatu dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih. Semua dikerjakan sebaik-baiknya diiringi dengan rasa tanggung jawab yang besar. Itulah yang dilihat oleh atasan-atasannya sehingga dengan cepat mendapat promosi.

“Meskipun kadang saya merasa belum siap, tetapi tugas tetap harus dilaksanakan. Yang penting, saya bekerja dengan tanpa pamrih dan ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Prinsip saya orang boleh tidak kenal Harkandri tetapi produknya dikenal luas. Kita juga harus siap menerima isu-isu maupun fitnah yang dihembuskan pihak lain, terkait prestasi yang dicapai. Biasa itu,” kata Harkandri yang berhasil sebagai team “membebaskan” bea

masuk dan PPn komponen pesawat terbang ini.

Dengan ketulusan dan keikhlasan terhadap apa yang dilakukan, Harkandri berharap mendapat kebaikan. Prinsip dalam menjalani hidup adalah memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki talenta luar biasa untuk mengembangkan diri. Konsep yang dipegangnya adalah orang harus dipoles menjadi intan atau berlian, yang meskipun teronggok di pasir pantai cepat atau lambat akan memancarkan sinarnya dan tetap dicari orang.

“Jadi apa yang dikasih kepada saya adalah amanah yang saya kerjakan dengan penuh totalitas,” kata Harkandri yang mendapat kepercayaan penuh dari istrinya tersebut. Istrinya sudah tahu sejak awal kalau ia adalah pekerja keras, yang sering pulang malam atau keluar kota. Yang jelas, ia tetap menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. “Faktor trust membuat saya tetap pada track-nya sehingga keluarga tahu saya memegang kepercayaan tersebut,” imbuh pria yang suka melawak di rumah ini.

Kepada generasi muda, Harkandri berpesan agar mereka mengutamakan keikhlasan dan ketulusan dalam segala aktivitasnya. Mereka juga harus tetap pada tugasnya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin dengan belajar sebanyak-banyaknya. Media belajar pun tidak harus dari pendidikan formal, tetapi juga pendidikan non formal dengan mempelajari pengalaman serta kisah hidup orang-orang sukses.

“Generasi muda harus memiliki totalitas dalam menekuni aktivitas masing-masing. Jangan sampai cepat-cepat beralih kepada aktivitas lain sehingga lambat laun, mereka akan menjadi spesialis dalam bidang yang ditekuni. Dari pengalaman orang lain bisa kita kaji sebagai pembelajaran. Suatu saat, takdir Tuhan akan membuka jalan kesuksesan kita. Karena sebenarnya takdir adalah pertemuan antara usaha manusia dengan kehendak Allah. Jadi kalau usaha kita benar hasilnya pun akan benar pula,” ungkap Harkandri M Dahler.

Sekilas Aerotrans

Aerotrans (Garuda Indonesia Group) berpengalaman dalam menyediakan transportasi darat sejak 1988.

Aerotrans mengoperasikan lebih dari 1000 unit kendaraan dalam berbagai tipe seperti big, medium, micro, dan mini bus, van, 4 wheels drive, box/pick up, hi-lift truck, low deck bus, dan sedan dengan dukungan lebih dari 2000 karyawan.

Visi Aerotrans
“Menjadi perusahaan jasa transportasi darat terbaik dan disegani dalam mendukung industri penerbangan, pariwisata nasional dan industri lainnya”

Misi Aerotrans
1.    Memaksimalkan kualitas jasa pelayanan transportasi terpadu melalui operation excellence
2.    Mengembangkan pola kemitraan yang efektif melalui customer intimacy
3.    Secara konsisten & tulus melaksanakan nilai-nilai etika SDM dan perusahaan (core values) melalui implementasi etos kerja

Perjalanan Usaha Aerotrans

⦁    1988 – tanggal 2 November 1988, Aerotrans, yang sebelumnya merupakan Divisi Transport PT Garuda Indonesia, berdiri sendiri dibawah PT Mandira Erajasa Wahana, sebagai unit usaha PT Aerowisata, anak perusahaan PT Garuda Indonesia

⦁    1991 – Melayani Aerowisata Catering Service dan Satriavi Leisure Management, sebagai customer pertama di luar PT Garuda Indonesia
⦁    1995 – Melayani angkutan Haji Jakarta untuk pertama kalinya
⦁    2002 – Mulai melayani pasar korporat di luar Garuda Indonesia Group
⦁    2009 – Aerowisata Transport rebranding menjadi Aerotrans

Layanan Aerotrans

Layanan Aerotrans terdiri dari layanan jangka panjang dan jangka pendek, sesuai kebutuhan pelanggan.  Layanan tersebut terdiri atas:

⦁    Rental Services
Jasa sewa kendaraan
⦁    Tourism
Layanan kegiatan wisata
⦁    Fleet Management
Pengelolaan transportasi internal
⦁    Ground Handling Service
Layanan transportasi untuk mendukung kegiatan operasional di wilayah Bandara
⦁    Driver Support Service
Jasa pengemudi profesional, berpengalaman dan terdidik

Keunggulan Layanan Aerotrans

Selain melayani induk perusahaan, PT Garuda Indonesia, Aerotrans juga dipercaya untuk melayani puluhan perusahaan lain. Kepercayaan tersebut karn Aerotrans memiliki berbagai keunggulan dibandingkan perusahaan lain sejenis, antara lain:

⦁    Experience
Melayani transportasi darat lebih dari 20 tahun
⦁    Safety & Eco-green service
Berbekal prosedur kerja sesuai dengan prinsip Health, Safety, Environment (HSE)
⦁    Selection
Berbagai tipe kendaraan sesuai kebutuhan
⦁    Customized Service
Penyediaan logo di kendaraan, kursi bayi, video & musik, karaoke, pewangi kendaraan, dan lain-lain
⦁    Insurance All Risk
Asuransi perjalanan bagi kendaraan
⦁    Personal Insurance
Asuransi perjalanan bagi setiap penumpang
⦁    License Support
Memiliki surat ijin beroperasi di area Bandara dan mengurus kelengkapan dokumen untuk kelancaran bisnis Anda
⦁    Reliability
Memiliki staf yang berpengalaman, fasilitas kendaraan yang lengkap dan bengkel 24 jam untuk pelayanan perjalanan berstandar tinggi
⦁    Easy Access
Contact center 24 jam, online reservation, online payment, dan wilayah operasi di kota-kota besar seluruh Indonesia

Brand Values

Semua keunggulan Aerotrans tidak terlepas dari brand values yang ditetapkan perusahaan, yaitu:
⦁    Sincere – Memberikan pelayanan yang tulus, dengan kehangatan, keterbukaan dan rasa hormat
⦁    Impeccable – Menjalankan pekerjaan secara sempurna dan tanpa cacat dengan standar tertinggi
⦁    Proactive – Berinisiatif dalam mencari dan memberikan solusi sehingga dapat memberikan pelayanan yang melebihi ekspektasi
⦁    Imaginative – Memotivasi agar berani mengambil resiko dan tantangan serta mengeksplorasi cara-cara untuk menggugah dan menyemangati pihak-pihak yang berkepentingan.

Hidayat Wirasuwanda

Hidayat Wirasuwanda
Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung

Menjalankan BPR Dengan Niat yang Baik dan Benar

Semua kegiatan yang dijalankan dengan niat yang baik dan benar, akan memberikan hasil sesuai harapan. Prinsip tersebut bisa dibuktikan dalam pekerjaan apapun, baik dalam dunia usaha, jasa dan lain-lain. Syaratnya, dilakukan dengan semangat yang sama, dikerjakan secara tekun dan konsisten.

Kedua hal tersebut telah dipraktekkan di PT BPR Trisurya Marga Artha, Bandung. Bank perkreditan rakyat yang berdiri sejak 10 April 1994 ini terbukti mampu bertahan di tengah fluktuasi perekonomian Indonesia. BPR semakin maju setelah pada bulan Agustus 2007, terjadi pergantian kepemilikan.

“BPR di-take over oleh keluarga Bapak Iwan Setiawan. Saya yang bergabung sejal Februari 2007 tetap dipertahankan bahkan dipercaya memimpin BPR ini enam bulan kemudian. Apapun yang kita jalankan harus dilandasi dengan niat yang baik dan benar. Nah, dari niat baik dan benar itulah kita berharap mampu menghasilkan yang baik dan benar bagi debitur, owner maupun seluruh staf kami,” kata Hidayat Wirasuwanda, Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung.

Hidayat membuktikan dengan niat yang baik dan benar, BPR dibawah kepemimpinannya mengalami banyak kemajuan. Dari sepuluh orang karyawan, berkembang menjadi 90 orang dan mengelola dana miliaran rupiah. Bahkan, ia sudah berancang-ancang untuk membuka kantor cabang baru, di Bandung maupun daerah lain. Semua di wilayah Jawa Barat karena terbentur aturan Bank Indonesia, bahwa BPR hanya boleh beroperasi dalam satu provinsi saja.

Sikap serupa, lanjut Hidayat, diterapkan dalam melayani customer/pelanggan yang memanfaatkan jasa BPR. Kedatangan mereka, tentu dengan itikad baik yang harus diperlakukan dengan cara yang baik dan benar pula. Hasil akhirnya diharapkan akan menjadi kebaikan dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Hubungan baik antara pelanggan dan BPR tersebut terus dibina dan dipertahankan sehingga terjalin secara berkesinambungan.

“Ini tidak bisa kami bina sendiri. Seluruh karyawan mulai marketing, CSO, teller dan bagian kredit melakukannya agar hubungan baik dan personal approach tetap terjalin. Oleh karena itu, kita menjadikan karyawan dan karyawati sebagai suatu asset yang harus kita bina dan pelihara. Untuk itu, saya menyelenggarakan pendidikan dan training-training perbankan sesuai tugas masing-masing. Seperti CSO dengan program dari BI yang sangat terkenal ‘know your customer’ untuk mengenali calon customer,” tuturnya.

Membantu Masyarakat

Menurut Hidayat Wirasuwanda, pengelolaan BPR di seluruh Indonesia berada di bawah pengawasan Bank Indonesia. Otoritas perbankan Indonesia tersebut secara rutin mengadakan pembinaan terhadap operasional BPR. Apalagi, BPR sangat berperan penting dalam menggerakkan perekonomian rakyat karena terkait dengan pengusaha mikro. Yakni, bidang usaha yang tidak tersentuh oleh perbankan umum.

“BI rutin berkunjung selama empat sampai lima hari setiap tahun untuk melakukan pembinaan. Kami memang masih memerlukan pembinaan dan sangat membutuhkan saran-saran. Apa saja yang kurang harus kita perbaiki, baik dari pelayanan maupun hal-hal lainnya. Selain itu, kami juga mengadakan kerjasama pelatihan dengan ahli marketing, ahli akunting, ahli SDM untuk meningkatkan kinerja kami,” katanya.

Hidayat sadar, produk unggulan BPR yang dipimpinnya masih sangat terbatas, yakni tabungan, deposito berjangka dan kredit. Tetapi atas kebijaksanaan BI dan LPS, BPR diizinkan memberikan tingkat bunga lebih tinggi daripada bank umum pada produk tabungan dan deposito. Tujuan dari kebijaksanaan tersebut adalah untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya sehingga dana yang dapat disalurkan untuk kredit memadai.

Selama di Bandung, Hidayat mempelajari dan menganalisa banyaknya masyarakat yang “lari” ke rentenir untuk urusan keuangannya. Mereka lebih memilih meminjam dana dengan bunga mencekik leher sebesar 10-15 persen per bulan. Kemudahan syarat yang tidak berbelit-belit membuat masyarakat lebih senang berurusan dengan rentenir daripada BPR atau bank.

Ia berharap, dengan semakin berkembangnya unit BPR di Bandung maupun di Indonesia, praktek rentenir bisa ditekan. Karena terbukti, dengan bunga yang sangat tinggi tersebut bukan membantu perekonomian tetapi justru menghancurkan ekonomi rakyat. “Rentenir masih eksis di kota Bandung dan daerah lainnya. Saya berharap BPR mampu mengurangi kredit dengan bunga mencekik seperti itu,” harapnya.

Dengan kondisi perekonomian rakyat seperti itu, Hidayat melihat prospek BPR ke depan masih sangat cemerlang. Apalagi dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, potensi BPR untuk berkembang sangat luas. Hanya saja, kendala yang dihadapi saat ini adalah kerancuan “porsi” antara pangsa pasar BPR dan bank umum akibat tidak adanya peraturan yang jelas.

Dengan adanya otonomi daerah, Hidayat berharap agar pemerintah daerah mampu mendorong usulan kepada Bank Indonesia mengenai hal tersebut. Setidaknya, dengan semangat otonomi pemda mampu “menekan” BI untuk menerbitkan regulasi yang mengatur porsi dan ruang gerak yang jelas antara BPR dan bank konvensional. Demikain pula usulan kepada pihak BI agar lebih mempermudah izin pembukaan cabang-cabang baru bagi BPR.

“Jangan sampai bank umum memakan porsi BPR atau bank-bank besar bermain di sektor yang menjadi lahan kami. Pokoknya dalam hal ini sangat diperlukan aturan yang jelas. Selain itu, kami juga ingin mendapatkan kemudahan dalam pembukaan cabang BPR. Karena dengan banyaknya cabang, masyarakat kecil akan lebih mudah menjangkau layanan BPR dan mereka akan terbantu,” tuturnya.

Pendirian BPR, kisah Hidayat, harus mengikuti syarat yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia. Untuk kota Bandung, syarat minimal adalah modal disetor minimal Rp2 miliar dengan rekening di salah satu bank umum. Syarat kedua yang harus dipenuhi adalah memiliki tempat usaha atau gedung, SDM dan teknologi IT yang memadai. Dengan memenuhi syarat-syarat tersebut, sebuah BPR baru boleh beroperasi setelah ada izin dari BI setempat dan memberikan layanan kepada masyarakat.

“Saya tetap berharap, pembinaan BI kepada BPR masih terus berlangsung. Saya juga berdoa, mudah-mudahan perizinan bagi pembukaan BPR di daerah semakin mudah. Pemda juga memberikan kemudahan dalam perizinan seperti Surat izin tempat usaha. Karena perlu diingat bahwa kehadiran kami adalah untuk membantu Pemda dalam membina masyarakat kecil, pedagang kecil dan lain-lain. Untuk itu, kami akan membuka cabang baik di kota Bandung maupun kota lain di Jawa Barat. Itu obsesi saya,” ujarnya.

Karier Perbankan

Hidayat Wirasuwanda, lahir di Cianjur, 8 September 1951. Sarjana muda pendidikan IKIP Bandung tahun 1974 ini sejak semula sudah berkarier di dunia perbankan. Dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya, ia langsung bekerja di Bank BCA cabang Bandung. Di bank swasta terbesar di Indonesia itu ia menghabiskan kariernya sampai memasuki masa pensiun pada tahun 2006.

“Saya bekerja di Bank Swasta di Bandung, sejak Juli 1976, sebagai karyawan biasa. Di situ saya menjalani berbagai macam karier mulai karyawan bagian kredit dan bagian umum personalia. Kemudian saya di bagian ekspor impor antara tahun 1982 – 1991. Dari tahun 1992 – 2001 saya dipercaya sebagai Pemimpin Cabang Pembantu, tahun 2001-2006 saya dipercaya sebagai Kepala Operasional Cabang Cianjur sampai pensiun,” tuturnya.

Setelah pensiun, Hidayat tidak langsung berhenti berkarya. Usianya yang “baru” 55 tahun masih memungkinkan untuk bekerja dengan tantangan baru. Ia kembali ke Bandung dan menerima ajakan untuk bergabung dengan rekan dan keluarga Bapak Iwan Setiawan mengelola sebuah bank perkreditan rakyat pada tahun 2007. Justru di BPR inilah, ia mencapai puncak karier di dunia perbankan. Ia ditunjuk sebagai direktur utama setelah mengikuti pendidikan, yaitu kursus Direktur BPR yang diselenggarakan Lembaga Sertifikasi Profesi Lembaga Keuangan Mikro – CERTIF Jakarta pada bulan Agustus 2007.

“Setelah lulus, saya harus mengikuti fit and proper test di Bank Indonesia Bandung. Yakni untuk menguji kelayakan saya memimpin BPR sebagai direktur,  dan Alhamdulilah saya lolos dan terhitung Agustus 2007 resmi menjabat sebagai Direktur Utama PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung. Itulah jenjang karier yang harus saya lewati dari karyawan menjadi direktur. Meskipun lembaganya kecil, tetapi secara professional jabatan direktur utama bagi saya sudah sangat hebat,” katanya.

Pengalaman selama puluhan tahun berkarier di perbankan, membuat Hidayat menguasai betul seluk beluk mengelola bank. Apalagi selama bertugas, ia menjalani berbagai pendidikan dan pelatihan yang menunjang profesi. Pendidikan dan pelatihan yang pernah dijalaninya antara lain, Kursus Impor dan Ekspor LPPI Jakarta, Kursus Pemimpin Cabang LPPI Jakarta, Kursus Advance Banking Managemen Program BNI 1946 Jakarta dan Kursus Direktur BPR LSP Lembaga Keuangan Mikro – CERTIF Jakarta.

Seluruh pencapain yang berhasil dilakukan Hidayat, tidak terlepas dari dukungan keluarga. Istri beserta satu orang anaknya tidak keberatan suami dan ayahnya pulang larut karena kesibukan pekerjaan. Apalagi, Hidayat sendiri tidak pernah “itung-itungan” dalam bekerja sehingga jam kerjanya pun menjadi semakin panjang.

“Keluarga terbiasa dengan aktivitas saya sebagai pekerja, sehingga mereka tetap mendukung, baik saat bekerja di bank swasta maupun di sini. Anak diberikan kebebasan untuk berkarier sesuai keinginannya. Saya persilakan untuk bekerja sesuai dengan bakat dan talenta yang dimiliki tidak harus mengikuti jejak orang tua,” tandasnya.

Kepada anaknya Hidayat hanya menekankan pentingnya untuk melakukan persiapan dalam menyongsong masa depan masing-masing. Setidaknya, penguasaan dan ilmu pengetahuan terhadap pekerjaan yang diinginkan harus dimiliki. Selain itu, semangat untuk terus belajar harus dipelihara karena belajar merupakan kewajiban seumur hidup bagi setiap manusia. Pada era sekarang ini, belajar bisa dilakukan melalui media apapun, baik dengan kursus, seminar maupun membaca buku.

“Hal itu juga harus dilakukan oleh generasi muda kita. Karena menuntut ilmu itu tidak akan ada habisnya, bahkan sampai ke negeri China selama kita mampu. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya menjadi apapun sekarang ini. Siapa tahu kita diberikan kepercayaan untuk memimpin suatu usaha atau bahkan memiliki usaha sendiri yang lebih besar,” ungkapnya.

Hidayat juga berpesan, bahwa dalam bekerja harus dianggap sebagai ibadah. Karena berangkat dari niat ibadah, pekerjaan akan dilakukan dengan perasaan tulus dan ikhlas. Dari situ, tinggal berharap bahwa berkarya dengan cara dan niat yang benar hasilnya pun akan benar pula. “Kita harus berpikir positif dan bertindak secara positif pula. Selain itu, kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT atas segala rahmat yang telah diberikan,” ujarnya.

Sekilas Profil PT BPR Trisurya Marga Artha Bandung

PT BPR Trisurya Marga Artha adalah perusahaan yang bergerak di bidang Bank Perkreditan Rakyat, khususnya pembiayaan/kredit mikro bagi masyarakat. Berdiri pada tanggal 10 April 1994, produk-produk yang ada yaitu: Tabungan, Deposito Berjangka dan Kredit. Kredit yang disalurkan pada investasi, modal kerja dan konsumsi. PT BPR Trisurya Marga Artha memiliki visi “Menjadi Bank Perkreditan Rakyat yang terkemuka di bidang pembiayaan mikro dengan pelayanan terbaik”.

PT BPR Trisurya Marga Artha berharap kehadirannya dapat terus memberikan kontribusi positif di tanah air bagi pengembangan usaha mikro, oleh sebab itu akan membuka beberapa kantor cabang di Bandung dan kota-kota lainnya di Jawa Barat dengan menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, memberikan pelayanan secara cepat, tepat dan akurat bagi para nasabahnya. Serta dapat meningkatkan nilai investasi bagi para pemegang saham dan meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh karyawan/karyawati dan jajaran pengurus.

Visi
“Menjadi BPR yang terkemuka di bidang pembiayaan mikro dengan pelayanan yang terbaik”

Misi
Mendukung pengembangan usaha mikro
Menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Memberikan pelayanan yang cepat, benar dan akurat kepada nasabah
Meningkatkan nilai investasi bagi para pemegang saham dan kesejahteraan bagi seluruh pengurus, karyawan dan karyawati

Profil nasabah PT BPR Trisurya Marga Artha

Pertanian/Peternakan:
Tani padi
Tani sayur
Tani jamur
Ternak jangkrik
Ternak bebek
Ternak ayam
Ternak sapi
Ternak kambing
Ternak kelinci

Perdagangan:
Warung kelontongan
Warung nasi
Warung sembako
Jual bubur
Jual sayur
Jual ayam potong
Jual ayam goreng
Jual hasil bumi
Jual koran/majalah
Jual beli alat elektronik
Jual beli barang bekas
Jual beli motor/mobil
Jual beli pakaian
Jual beli handphone
Jual beli kain
Jual aksesoris
Kreditan barang
Jual alat-alat kesehatan
Jual jamu
Jual ATK
Jual buah-buahan

Jasa:
Bengkel mobil
Bengkel motor
Bengkel las
Bengkel bubut
Service barang elektronik
Salon
Rias pengantin
Laundry
Tambal ban
Makloon
Kontraktor
Kost-kostan
Klinik gigi
Klinik umum
Kamasan
Warnet
Rental PS
Rental komputer
Jahit
Loper koran
Paket lebaran
Fotocopy

Industri:
Pembuatan sepatu/tas/topi/dan lain-lain
Pembuatan makanan ringan
Pembuatan meubeul
Pembuatan kue
Pembuatan telor asin
Konveksi jaket/border baju/pakaian jadi
Pembuatan sangkar burung
Percetakan
Pembuatan tahu

SM Panjaitan

Direktur Utama PT Surya Global Security Service

Sukses Menyeluruh Sulit Dicapai

Setiap menjalankan sebuah usaha, diperlukan planning (perencanaan), money (uang), man (manusia), peralatan ditambah dengan strategi yang jitu. Semua itu, digabungkan dalam sebuah pentahapan pencapaian yang terencana sejak memulai (start), lokasi usaha, sampai tujuan terukur yang ingin dicapai. Misalnya, usaha jangka panjang yang terukur antara 5-25 tahun, jangka sedang dalam hitungan 12 bulan sementara jangka pendek maksimal 30 hari.

Meskipun demikian, semua itu tergantung pada sasaran atau target yang ingin dicapai oleh pemilik usaha. Yang jelas, kesuksesan bisa diukur dengan berbagai patokan, mulai sukses dalam bentuk uang, kepemimpinan, kesejahteraan dan lain-lain.

“Untuk sukses secara menyeluruh sangat sulit dijangkau. Karena usaha itu bisnis dengan motto ‘Modal sedikit dengan hasil yang banyak’. Harus tetap sejahtera tetapi tidak melanggar aturan dan berjalan sesuai Undang-Undang dan peraturan. Pengusaha harus berpedoman pada ilmu ekonomi, kepemimpinan dan managerial yang menyesuaikan perkembangan zaman, serta menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi dan canggih. Dia juga harus terus berinovasi untuk mencapai hasil yang lebih baik ke depan sesuai Asta Gatra, ideology, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan keamanan,” kata SM Panjaitan, Direktur Utama PT Surya Global Security Service.

Pengusaha sukses, lanjutnya, tidak akan tergantung kepada nasib. Ia sangat tergantung pada kegigihan, keuletan, ketekunan, kedisplinan, ketelitian dan kecermatan di segala hal. Pengusaha yang sukses memiliki selektivitas dan prioritas dalam mengambil keputusan, memahami kebutuhan pasar serta perkiraan tentang masa depan. Tentu saja, semua itu melalui perhitungan yang sangat matang, berdasarkan angka-angka sehingga bisa menentukan sasaran-sasaran tambahan. Yakni melalui usaha mendapat inovasi baru dan bukan sekadar “coba-coba”. Kalau pun dilakukan hanya “coba-coba” tetapi melalui perhitungan menurut teori penelitian.

Menurut Panjaitan, seorang pengusaha adalah sekaligus pemimpin, yang mengerahkan orang lain untuk mewujudkan gagasan dan idenya. Pengusaha yang pemimpin, menduduki salah satu golongan dalam kategori umum manusia yang terdiri atas empat kategori. Kategori pertama adalah orang yang tidak tahu kalau dirinya tahu. Kedua orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu sehingga selalu menjadi penghalang. Ketiga orang yang tahu kalau dirinya tahu dan keempat orang yang tahu dirinya tidak tahu.

“Apabila dua kategori terakhir berada dalam diri satu orang, maka dialah yang akan menjadi pemimpin. Karena dia mampu memberdayakan sumber daya yang ada –manusia, uang dan alat- mampu menggerakkan, memotivasi, menuntun dan membimbing. Dia juga mampu memberdayakan uang, mampu menempatkan orang dengan tepat sesuai kapasitas masing-masing. Bahkan, seorang pemimpin bisa membuat orang yang dinilai bodoh menjadi sangat ahli di bidangnya,” tegasnya.

Seorang pemimpin, jelas Panjaitan, memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia bodoh. Masing-masing manusia dalam keyakinan pemimpin telah mendapat porsi tugas, fungsi dan peranan yang tidak persis sama. Untuk itulah, seorang pemimpin menciptakan sistem yang berupa suatu kesatuan yang utuh, terdiri dari banyak unsur yang saling mempengaruhi dan saling membutuhkan. Masing-masing orang memiliki talenta yang membutuhkan kompetensi hasil belajar latihan dalam berbagai tingkatan. Semua itu dapat ditentukan oleh seorang pemimpin melalui kriteria-kriteria tertentu yang jelas dan terukur.

Seorang pemimpin perusahaan, menurut Panjaitan, harus bijak dalam menerima kritikan positif. Dia tidak boleh terlalu fanatif terhadap sebuah pendapat dan mengabaikan saran-saran yang berasal dari anak buahnya. Seorang pemimpin harus mempertimbangkan sebelum memutuskan, tidak egois, fleksibel, luwes dan energik. Selain itu, pemimpin harus gampang menyesuaikan diri, lembut tetapi prinsip dan keyakinan harus tercapai.

“Seorang pemimpin itu harus seperti air, yang selalu mengalir, merembes atau menguap tetapi selalu mencapai laut. Itulah tujuan sebenarnya dari air yang tidak dapat dibendung oleh apapun sebelum mencapai laut sebagai tujuan akhir. Tidak ada yang dapat menghentikan gerakan tersebut bahkan kalau perlu tsunami menggerakkan air. Seperti itulah pengusaha sukses menurut pandangan saya,” ungkapnya.

Seorang pengusaha sukses, imbuhnya, adalah orang yang sukses dalam penggunaan uang (money) dan menikmati hasilnya. Dia juga sukses menggerakkan orang (man) dengan kesejahteraan rohani dan batin. Pengusaha yang sukses juga berhasil dalam memaksimalkan penggunaan alat, profesional dan proporsional, tepat guna dan berhasil guna. Artinya pengusaha sukses harus berguna bagi orang banyak dan bukan keuntungan pribadi atau kelompok saja.

Memerlukan Inovasi

Dalam memimpin perusahaan, menurut Panjaitan akan sangat berbeda dengan pimpinan dalam kemiliteran. Kalau dalam kemiliteran garis komando sangat jelas penanggung jawab antara yang dipimpin dengan pimpinan, pengusaha tidak bisa melakukannya. Pimpinan di militer lebih gampang mengendalikan anak buahnya terkait adanya garis komando tersebut. Sementara pimpinan perusahaan tidak memiliki hubungan yang tegas dengan para karyawan yang dipekerjakannya.

“Kedudukan antara pemilik perusahaan dan karyawan relative sejajar. Karyawan hanya takut dipecat atau dikeluarkan dari pekerjaan oleh kekuasaan sehingga tanggung jawabnya kurang. Kebanyakan karyawan ingin bekerja sesedikit mungkin dengan hasil semaksimal mungkin dengan berbagai dalih atau alasan. Karyawan tidak sadar bahwa mereka ikut pemilik perusahaan dengan saham tenaga. Oleh karena itu, bagi pimpinan perusahaan harus mencari cara dan strategi atau formula yang paling baik dan terus melakukan inovasi yang berkesinambungan,” tandasnya.

Sebenarnya, kemajuan atau kemunduran sebuah usaha merupakan sebuah kejadian biasa dan normal. Seperti grafik dalam kehidupan di dunia ini, kenaikan atau penurunan adalah sesuatu yang wajar. Yang penting, tujuan akhirnya adalah tercapainya sasaran yang telah direncanakan. Kemajuan atau kemunduran sebuah perusahaan, yang mengetahui dengan pasti adalah pimpinan atau pemilik perusahaan. Pencapaian kemajuan perusahaan sampai 65 persen akan dinilai berhasil pada tahapan jangka pendek, sedang dan panjang. Meskipun demikian, angka 100 persen pencapaian dalam bisnis bukan tidak mungkin terjadi.

Seorang pengusaha, jelasnya, dapat melatih indera penciuman terhadap peluang bisnis di sekitarnya. Salah satu latihan yang paling berguna adalah dengan melatih panca indera untuk penguasaan terhadap informasi. Karena ketika informasi sudah dikuasai, bisa diibaratkan seorang pengusaha telah menguasai dunia. Semua itu bisa diperoleh melalui olah pikir dari membaca, baik ilmu pengetahuan maupun media massa. Kemudian banyak melihat, mendengar, merasa dan mencium sehingga banyak pengalaman, baik media massa, elektronik dan lain-lain.

“Kemudian kita harus menguasai banyak bahasa. Kemudian olah fisik atau olahraga juga menggunakan otak. Kalau sudah pintar, bijak melalui olah fakir tentu membutuhkan fisik yang sehat. Orang pintar juga harus dengan fisik yang sehat dan kuat. Bila ini dimiliki seseorang, kami yakin indera penciuman di bidang usaha atau bisnis pasti tajam. Bahkan mereka akan mampu secara otomatis mencium peluang usaha yang baik untuk bisnis di masa depan,” tegasnya.

Menarik Becak

SM Panjaitan adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Komisaris Polisi. Ia telah menjalani tugas panjang di kepolisian selama 37 tahun 10 bulan dari pangkat terendah, Bharada pada tahun 1969 (14 Februari 1970, resmi menjadi polisi). Selama bertugas di kepolisian, ia menjalani pendidikan kedinasan sampai 14 kali untuk meningkatkan kompetensinya sebagai petugas yang mengabdi kepada masyarakat. Setelah pensiun pada tahun 2006 (30 Desember 2006), ia mengisi masa pensiun dan membuka usaha pada bulan Oktober 2008.

Saat menjalankan tugas sebagai polisi, Panjaitan menyadari bahwa pekerjaan adalah amanah dari Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, ia harus mengutamakan tugas di atas segalanya. Adapun tugas mengurus anak dan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada istri tercinta. Di luar tugas, barulah tenaga, pikiran dan seluruh potensi yang ada dikerahkan untuk mencari penghasilan yang halal.

“Saya pernah menarik beca dari tahun 1976-1977, mencatak dan memasok sol sepatu, mandor angkot, beternak, membuat ember dari tong aspal dan lain-lain. Semua itu saya kerjakan di luar tugas kepolisian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena saat itu, adik-adik datang dari kampung dan kebetulan saya tinggal di luar asrama. Nah, saat saya berpangkat sersan dan menjadi komandan regu maka saya harus masuk asrama. Terpaksa, kegiatan di luar saya hentikan demi kelancaran tugas dan karier. Meskipun secara penghasilan banyak berkurang, tetapi itu peraturan yang harus ditaati,” kisahnya.

Panjaitan tentu saja harus mematuhi aturan yang berlaku di asrama sehingga tidak bisa menjalankan bisnisnya di luar jam kerja. Ia terikat peraturan asrama yang bahkan untuk keluar asrama pun harus mendapat izin dari Ka. Asrama kecuali untuk kepentingan tugas. Di sini ia banyak belajar bagaimana tugas dan kriteria pimpinan militer atau kepolisian yang penuh disiplin. Pimpinan militer (perwira) bagaikan martil, yang menokok paku adalah bintara –penghubung antara atas dan bawah- sedangkan yang dipalu adalah bawahan (tamtama( yang banyak menjadi satu agar kuat dan tahan. “Pemimpin militer memimpin prajurit yang telah dilatih tegas dan keras dalam disiplin dan tanggung jawab. Jadi baik yang memimpin maupun yang dipimpin sama-sama keras,” ujarnya.

Pengalaman disiplin di kepolisian, sedikit banyak dipraktekkan Panjaitan dalam mengendalikan perusahaan. Ia berharap perusahaan yang dipimpinnya menjadi sarana mendapatkan manusia yang sejahtera, bertanggung jawab dan berguna bagi kesejahteraan keluarganya. Baginya, bekerja merupakan pengalaman berharga dan menjadi ilmu yang dapat digunakan untuk dijadikan ilmu pengetahuan bagi para staf dan karyawan perusahaan. Setidaknya, para karyawan mampu mengembangkan perusahaan sesuai perkembangan zaman karena mereka lah penggerak dan motor perusahaan.

Panjaitan sadar, sedikit banyak usaha yang digelutinya sekarang adalah merupakan bagian dari program pemerintah. Untuk itu, ia berharap agar pemerintah turut campur tangan mengenai masa depan perusahaan. Yakni dalam hal perencanaan, man, money, peralatan dan produk hukum serta peraturan dengan batasan-batasan tertentu. Kemajuan perusahaan akan memberikan andil dalam mensejahterakan rakyat sedangkan kemundurannya berakibat sebaliknya.

“Sebagai pemimpin, saya harus menggugah dan memotivasi karyawan atau generasi muda. Saya juga berkewajiban mendorong dari belakang dengan menjadi contoh di depan, bersikap adil dan bijaksana, berusaha memberi pandangan visi ke depan agar jangan jalan di tempat. Namun, sekarang semua itu menjadi sangat terbatas, hanya di lingkungan kerja saja. Akibat kesibukan pekerjaan yang sangat padat, membuat saya harus membatasi aktivitas di tempat lain,” kata SM Panjaitan.

 

E. Kurniawan, S.Si MT

PT Indonesian Environment Consultant

Masalah Lingkungan dan Manusia Menjadi Passion Dalam Bisnis

Lingkungan hidup sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya.
Manusia dengan kemampuan berpikir dan kepekaan emosinnya merupakan mahluk yang mumpuni di bumi ini. Telah menjadi sifat manusia untuk selalu meningkatkan taraf hidup, sehingga ia melakukan berbagai inovasi yang dapat mempermudah dan meningkatkan kehidupannya. Hal ini dimungkinkan oleh karena tangannya yang dapat membuat alat (prehensile hands) dan matanya yang stereoskopik, sehingga ia dapat melakukan konseptualisasi dan mengimplementasikan konsepnya.
Dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kehidupan dalam perateknya haruslah dapat memperhatikan aspek lingkungan dalam proses produksinya secara sungguh-sungguh dengan tujuan akhir adalah tersediannya sumber daya alam yang lestari.
PT. Indonesia Environment Consultant hadir dalam rangka mewujudkan terciptanya penyelarasan antara imperatif peningkatan taraf hidup dan kehidupan dan kewajiban moral untuk mewujudkan lingkungan yang lestari dengan mengusung satu visi besar kedepan yaitu Menjadi perusahaan Green Business terbaik di Indonesia dan sebagai mitra bagi institusi lain dalam upaya menciptakan Planet bumi yang lestari.

“Menurut saya, setiap manusia lahir dimuka bumi ini pasti punya alasan tertentu, oleh karena itu saya sangat menyadari bahwa Tunah SWT menciptakan saya dimuka bumi ini untuk 2 (dua) alasan yaitu manusia dan lingkungan. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya memilih manusia dan lingkungan menjadi passionnya hidup saya. Saya berharap dengan segala apa yang telah saya miliki dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan pelestarian fungsi lingkungan. Untuk saat ini kegiatan dan aktivitas yang saya kerjakan selalu terkait di kedua koridor tersebut yaitu lingkungan dan manusia termasuk didalamnya menjalankan aktivitas bisnis yang saya lakukan. Mungkin nanti, sesudah semua berjalan sesuai harapkan akan mengembangkan ke ranah yang lain terutama untuk kegiatan bisnis dibidang lainnya,” ujar E. Kurniawan, President Director/CEO PT Indonesian Environment Consultant.

Enang –panggilan akrabnya- adalah lulusan S1 Jurusan Biologi Lingkungan di Universitas Sriwijaya tahun 2001. Setelah lulus, selama dua bulan bekerja di sebuah bank internasional, Citibank NA. Ketika perusahaan otomotif terkemuka, PT. Astra Internasional Tbk membuka lowongan pekerjaan ia melamar dan diterima di PT. Astra International-Toyota Cabang Sudirman dan cabang Ambasador Jakarta. Di tempat inilah, ia belajar mengenai ilmu bisnis, filosofi perusahaan dan lain-lain, yang akhirnya diimplementasikan di perusahaan sekarang.

Meskipun demikian, sembari bekerja Enang tetap menyimpan cita-cita besarnya, ia mengumpulkan modal untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus tes di Program Megister Teknik Lingkungan ITB Bandung, ia memutuskan keluar dari PT. Astra International Tbk. Semua orang terhenyak mendengar keputusan yang sangat radikal tersebut. Dari orang tua, saudara, tetangga dan sahabat-sahabatnya keheranan. Bagaimana mungkin, pada usianya yang baru 25 tahun dan memiliki penghasilan cukup baik ditinggalkan begitu saja untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti.

“Cukup besar tentangan saat itu. Tetapi saya katakan, mungkin inilah jalan hidup yang digariskan Tuhan. Saya berjanji kepada orang tua dan saudara-saudara untuk tidak akan mengganggu hidup mereka dan tetap akan menjalankan peran saya sesuai harapan dan ekspetasi mereka. Makanya, demi cita-cita akhirnya saya keluar dari Astra.

Ketika setelah keluar dari Astra dan hampir satu bulan saya tidak bekerja di Astra rupanya Tuhan justru memberikan jalan terbaik karena atasan menyuruh saya bekerja part time di Auto 2000 Pasteur Bandung. Masih ingat pada waktu itu ketika wawancara dengan kepala cabang di Auto 2000 Pasteur justru atasnnya tersebut sangat mendukung sekolah saya. Ia bahkan mau menerima saya dengan syarat agar saya fokus kepada kuliah menjadi hal utama, bukan pekerjaan. Wah, ini memang rezeki untuk ku, bukan syarat itu,” katanya.

Enang menyelesaikan kuliahnya selama hampir dua tahun yaitu pada 2004-2006. Selama masa perkuliahan perjuangan berat harus dijalani karena menjalankan dua aktivitas sekaligus yaitu kuliah sambil bekerja. Sempet ia berpikir kuliah di program masternya saat ini tentunya tidak akan terlalu berat seperti program sarjana, namun rupannya beliau keliru aktifitas diperkuliahan justru menyita pikiran dan tenaga cukup besar sehingga diperlukan effort yang cukup besar untuk mengatur semuanya agar aktifitas perkuliahan dan bekerjanya tetap berjalan dengan baik. Aktifitas sehari-hari terkadang kuliah dimulai jam 7 pagi sampai dengan jam 1 siang lalu dilanjutkan dengan pergi kekantor untuk jalankan aktifitas pekerjaannya pulang pada malam harinya, dan dilanjutkan dengan mengerjakan tugas-tugas perkuliahan yang terkadang harus begadang semalaman untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut, kadang saat itu ia berfikir ini terlalu berat, tapi ia disadarkan bahwa semua akan indah pada waktunya, kilahnya.

Di ujung Akhir perkuliahnnya, saatnya ia disadarkan kembali untuk memilih jalan hidup yang menjadi cita-cita dan mimpinya dengan menggunakan kontrak hidup “berani” ia benar-benar menggunakannya untuk keluar dari perusahaan otomotif tersebut yang hampir 5 tahun membesarkannya. Sayangnya, ia harus menanggung “masalah besar” karena ketika setelah beberapa saat mengajukan diri untuk keluar suatu masalah membelitnya. Permasalahannya dengan customernya, membuat ia harus kehilangan seluruh tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja, bukan hanya itu bahkan dia merasa disinilah titik terendah yang pernah dialaminya.

“Itu sebagai kompensasi dan mungkin itu juga resiko yang harus saya bayar untuk mendapatkan mimpi saya kelak. Tinggallah saya yang sudah keluar dari perusahaan, tak punya pekerjaan dan hanya menyisakan uang Rp49 ribu di rekening. Disinilah saya mendapat pelajaran yang sangat berharga. Bahwa ketika kita berani bermimpi, kita tidak hanya siap menghadapi risiko. Tetapi kita bahkan harus berani membayar risiko dari apa yang dicita-citakan apapun itu, karena saya percaya untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa tidak bisa ditempuh dengan cara yang biasa yang kebanyakan orang dilakukan,” ungkapnya.

Dari situ, Enang kemudian membangun perusahaan setahap demi setahap. Modal awalnya adalah semangat karena selepas dari Astra dan harus menghabiskan seluruh tabungan di akhir kariernya, ia tidak memiliki dana sama sekali. Hanya keinginan dan cita-cita yang membuatnya membangun perusahaan yakni melalui passion di bidang lingkungan dan sesekali menjalankan aktifitas lainnya seperti menjadi fasilitator dan co trainer di lembaga training untuk memuaskan hasratnya di passion lainnya terkait manusia.

“Saya merasa dikirimkan Tuhan untuk dua tujuan, lingkungan dan manusia. Tidak untuk orang lain makanya saya ambil risiko dan membangun ini. Dari berkantor ikut orang sekarang sudah memiliki kantor yang layak. Saat ini kami berkantor di Menara Hijau Building MT Haryono Jakarta. Tahun pertama dan kedua perusahaan berjalan, saya tidak pernah berbicara tentang manajemen, tetapi lebih banyak kepada value dan budaya corporate. Karena saya menganggap pondasi perusahaan terletak pada velue dan budaya corporate, katanya.

Keberanian dan Komitmen

Indonesian Environment Consultant memulai dengan membangun bisnis lingkungan berawal sebagai konsultan. Belakangan, IEC juga memasuki bisnis dalam kategori services di bidang lingkungan. Tahun 2012, ia ingin membuat award untuk teknologi lingkungan yang hasilnya akan diimplementasikan dalam industrial scale.

“Mungkin akan kita bangun bersama sponsor. Tujuan kita adalah membangun industri yang berbasis green business, kelak kita berharap akan menjadi pusat inkubasi bisnis untuk Greeen Technology. IEC nanti akan terjun ke pengolahan limbah, manufaktur dan energi,” kata finalis Teknopreuneur Award dan New Ventures Indonesia ini.

Menilik kembali perjalanan IEC, Enang menjelaskan bahwa perusahaan yang didirikannya menjadikan tekad sebagai modal utamanya dan dalam menjalankan usahannya adalah spirit sebagai motor dalam menggerakan roda perusahaan sesuai yang dikehendaki. Dengan spirit itu akan mudah meningkatkan kepercayaan dari para kolega yang disertai dengan filosofi penjualan spirit power selling yakni menjual by spirit. Jadi rahasianya adalah menyampaikan spirit yang dimiliki kepada calon pelanggan,” tuturnya.

Setiap perusahaan memiliki cara yang tersendiri untuk tumbuh dan berkembang, begitu juga dengan IEC ketika tahun-tahun awal focus terhadap value dan budaya corporate baru satu tahun belakangan fokus terhadap manajeman dan profit. Meskipun demikian, sebagai pemilik Enang sangat bersyukur karena semua itu sesuai harapannya dan semua perjalanan itu terasa indah lebih dari yang dibayangkan sebelumnya. Bagi pengagum Bung Karno ini, membangun pondasi bisnis yang kuat lebih berguna daripada harus untung dahulu. Dengan memiliki bisnis yang kuat dan akhirnya menguntungkan, berarti ia telah menjawab dan menepis keraguan orang tua dan saudara-saudaranya saat keluar dari Astra.

“Butuh pemahaman yang kuat terhadap proses berjalan dan siap menerima dinamika yang akan terjadi dalam membangun usaha ini. Hobinya naik gunung sewaktu kuliah telah memberinya pelajaran berharga, bahwa kita haruslah tetap fokus terhadap tujuan, dimana tujuan utama kita naik gunung untuk tiba di puncak dan pulang kembali ke rumah dengan selamat. Saya mengumpamakan dalam hidup sama seperti kita mendaki gunung sering sekali kita temukan jalan teramat terjal dan curam dengan segala liku dan kelok tetapi kalau ditelusuri lebih jauh bukankah semua itu menjadi sahabat setia yang akan menuntun kita menuju puncak untuk tiba tepat esok pagi.

Dalam meraih mimpi membutuhkan keberanian dan komitmen. Tidak cukup hanya keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan besar tapi harus memiliki komitmen yang jelas dengan segala resiko yang siap dibayar bukan diterima. Ini bukan tentang apa yang kita bisa tetapi apa yang kita mau. Ini baru gentle,” tegasnya.

Enang yang dibesarkan dari dunia pendidikan –ayahnya Kepala Sekolah SMP ibunya Kepala Sekolah SD- meyakini bahwa power of spirit adalah modal utama. Spirit yang luar biasa sudah cukup untuk membangun perusahaan, meniti karier atau mengejar impian untuk hidup lebih baik. Karena dengan spirit, segala sesuatu baik kondisi baik atau buruk, senang atau susah akan dihadapi dengan besar hati.

“Hambatan itu bukan ketika susah saja lho, bahkan kesenangan juga bisa menjadi hambatan dalam meraih cita-cita kita. Contohnya saya pernah ditawari headhunter untuk menjadi vice president di perusahaan UK tentunya dengan gaji yang cukup menggiurkan. Disinilah kembali saya diuji untuk mengambil keputusan besar dalam menentukan pilihan. Setelah melalui shalat istikharah dan lain-lain, saya putuskan untuk tetap di sini. Karena menurut saya ini bukan tentang uang semata, tetapi menjalankan passion saya yang membuat saya lebih memberi nilai besar pada diri saya, inilah sebuah pilihan walaupun terkadang pilihan tersebut terasa tak popular, tetapi keyakinan yang besar untuk tiba pada cita-cita luhur mengantarkan saya untuk mengambil keputusan besar untuk tetap menjalankan dan mengendalikan perusahaan yang menjadi passionnya,” jelasnya.

Enang sangat bersyukur, perusahaan yang dikembangkan melalui power of spirit tersebut mulai menuai harapan. Ini membuat semangatnya semakin terbakar untuk membangun perusahaan menjadi lebih baik lagi. Apalagi dengan permasalahan lingkungan di Indonesia yang sangat banyak dan regulasi semakin ketat, akan menjadi modal cukup untuk menjalankan green business yang dijalaninya dan pada waktunya nanti uang akan datang dengan sendirinya.

“Saya sangat beryukur bisa seperti ini karena orang-orang di sekitar saya,
orang tua, sahabat, guru-guru spiritual dan lain-lain untuk memastikan agar saya menjalani semua ini dengan sungguh-sungguh. Balik lagi perumpamaan seperti naik gunung, semua tidak bisa dilakukan sendiri tetapi diperlukan rekan-rekan dimana disitu kita biasa saling support, selain itu sama halnya naik gunung ataupun pada saat meraih cita-cita kita perlu untuk istirahat sejenak untuk mencapai puncak tapi ingat jangan lama karena akan buat tubuh ini beku selanjutnya jalan lagi kalau perlu berlari agar cepat sampai di puncak gunung,” tuturnya.

Nikmati Proses

Pilihan Enang untuk menggeluti bisnis lingkungan atau Green Business tidak lepas dari latar belakang pendidikan dan pengalamannya. Pria kelahiran Bogor, 27 Juli 1978 ini, menggabungkan pengalaman sebagai karyawan dan latar belakang pendidikan Teknik Lingkungan ITB yang akan membuat sebuah bisnis berjalan dengan baik membuat penguasaha muda bungsu delapan bersaudara ini tetap dapat memberikan solusi dan kontribusi terhadap permasalahan lingkungan sangat prima.

“Alhamdulilah, prospek usaha ini pun ke depan sangat bagus. Karena hanya sedikit perusahaan seperti ini. Ditambah, sebagai mantan karyawan Astra yang bisa mengerti bagaimana Astra membangun business serta alumni Teknik Lingkungan ITB yang mengerti lingkungan, sehingga perpaduannya cocok dan klop mudah-mudahan akan menjadi modal besar untuk mengantarkan IEC menjadi salah satu perusahaan besar dinegeri ini,” kata anak pasangan H. E Padma (alm) dan H.R. Djulaeha ini.

Ke depan, Enang memiliki cita-cita untuk menjadikan perusahaan miliknya tidak kalah dengan perusahaan lain. Bahkan, cita-citanya menjadikan Indonesia Environment Consultant (IEC) memiliki brand yang kuat seperti IBM dan Microsoft. Di mana brand-brand itu telah memiliki nama besar dan memberikan kontribusi besar dengan produk yang dikeluarkan perusahaan tersebut.

“Saya mempunyai cita-cita, ke depan seperti perusahaan-perusahaan tersebut, ketika orang mengingat lingkungan maka nama IEC langsung disebut. Bahkan nanti saya berharap, IEC bukan lagi Indonesian Environment Consultant tetapi Indonesian Environment Corporation,” sebagai Holding Company harapnya.

Untuk saat ini, IEC mengerjakan proyek-proyek seperti studi lingkungan, AMDAL, desain CSR, Water Treatment yang lengkap dengan konstruksinya dan mengerjakan project-project Green Property. Kedepan IEC akan menjadi Green Incubator untuk para pebisnis lingkungan dan membangun projek-projek yang berbasis lingkungan seperti peyedia energy renewable seperti pembangkit tenaga mikrohidro.

Enang merasa diuntungkan dengan semakin tingginya kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dari berbagai pihak. Selain pemerintah, masyarakat dan perusahaan juga memiliki kesadaran yang meningkat. Termasuk perusahaan vendor yang akan memilih perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap lingkungan untuk memproduksi produk yang dihasilkan.

Setelah berhasil dengan passion-nya pada lingkungan dan manusia, Enang telah menetapkan tujuan hidup yang pasti. Suatu saat, ia nanti akan menyumbangkan tenaga dan pemikiran kepada penyelenggara negara. Bukan sebagai politikus, tetapi dengan berbekal keahlian dan pengetahuan yang dimiliki serta passionnya dibidang lingkungan dan manusia berharap dapat berkontribusi untuk kesejahteraan rakyat dan kelestarian lingkungan. “Tentu setelah saya melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan terbaik, bagi khalayak,” imbuhnya.

Bagi generasi muda, Enang mengingatkan pada suatu hal yang harus dimiliki untuk mencapai kesuksesan. Pertama adalah menikmati proses yang sedang dijalankannya. Apapun itu, bagaimana kondisi yang dihadapi semua tidak lepas dari proses. Ibaratnya, seseorang yang ingin menjadi seseorang yang “luar biasa” dan pastilah dia melakukan sesuatu yang luar biasa juga, bukan melakukan hal biasa yang kebanyakan orang lakukan.

Selain itu, setiap orang harus memiliki keberanian untuk bertransformasi menjadi manusia lebih baik, baik menjadi seseorang yang berani, seseorang yang penuh cinta, seseorang yang jujur atau apapun itu, berharap akan menuntun kita menuju mimpi yang dicita-citakanya, mimpi hanya akan menjadi milik mereka yang percaya akan dirinya. Satuhal lagi Ketika mulai berjalan melenceng dari tujuan hidup yang dicita-citakan, generasi muda harus kembali pada track yang sudah ditentukannya sendiri. Tanpa itu, kesuksesan akan semakin jauh dari jangkauan dan generasi muda akan menjadi orang yang sangat biasa.

“Generasi muda harus belajar menikmati proses, meskipun itu berat. Mereka harus membayar lebih -waktu dan apa saja- untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak. Kemudian, alangkah baiknya jika kita memiliki komitmen hidup sendiri. Seperti saya dengan kontrak hidup “Berani”. Jadi ketika merasa takut, saya ingatkan diri sendiri bahwa ‘Mr Enang kontrak hidup Anda adalah berani, menjadi laki-laki yang berani, bagaimana sih….?’ Intinya jikalau kita ingin menjadi orang yang lebih, harus dibayar dengan cara yang lebih juga. Sekali lagi Tidak ada orang luar biasa tetapi melakukan usaha seperti apa yang biasa dilakukan orang. “I need to believe that something extra ordinary is possible.” Saya percaya sesuatu yang luar biasa akan terjadi pada orang yang bersungguh-sungguh. Bukan hanya pada diri saya sendiri tapi pada mereka yang percaya akan mimpinya.’ tegasnya.

Thomas Aquino Bima Priadi

Country Manager PT ESRI Indonesia

Lulusan Teknik Sipil yang Pakar IT

Bangsa Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan setara dengan bangsa lain. Bahkan sejak dahulu kala, sejarah Indonesia telah menunjukkan kebesarannya sebagai sebuah bangsa yang disegani. Kalau sekarang terjadi kemunduran yang mengakibatkan ketinggalan, tentu sebuah kesalahan telah terjadi pada bangsa ini.

Padahal, bukan hanya Malaysia yang beberapa dekade sebelumnya mengirimkan ribuan pemuda untuk digembleng di Indonesia. Mereka inilah yang menjadi cikal bakal kesejahteraan negeri jiran tersebut belakangan ini. Tidak hanya itu, negara semaju Jepang pun pernah menggunakan jasa pemuda Indonesia dalam industri teknologi informasi (IT/information technology).

Salah satunya adalah saya yang mendapat kesempatan dari Prof. BJ Habibie yang memiliki gagasan membangun industri IT Indonesia bagi pasar asing. Waktu itu beliau dapat challenge dari Jepang untuk mengisi programmer di sana yang sangat kekurangan. Saat itu, Habibie merekrut sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik IT di IPTN. Setelah itu, kami dikirim untuk job training di IBM Jepang. Selesai job training itu, kami bekerja di Jepang untuk mengerjakan beberapa proyek,” kata Thomas Aquino Bima Priadi, Country Manager PT ESRI Indonesia.

Seiring perjalanan waktu, lanjutnya, banyak industri Jepang yang melakukan relokasi proyeknya ke Indonesia. Para programmer yang asli Indonesia menjadi tumpuan harapan untuk menggarap proyek-proyek perusahaan Jepang di sini. Selain itu, para programmer juga memiliki kesempatan untuk mengerjakan proyek-proyek bagi pasar perusahaan lokal.

Saat itu, Bima –panggilan akrabnya- harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus memilih bidang IT yang menjadi minatnya. Sebagai lulusan teknik sipil FT UGM Yogyakarta, ia sangat berminat pada engineering. Meskipun demikian perkenalannya dengan sistem informasi geografi telah membuat dirinya jatuh cinta dan berminat untuk mengembangkan sistem ini di tanah air.

Saya memang tidak memiliki pengalaman di bidang ini. karena Ketika lulusan dari Teknik Sipil UGM Yogyakarta, Tetapi market bidang konstruksi saat itu kurang bagus, sehingga saya banting stir ke bidang IT yang belum sepenuhnya berkembang seperti sekarang. Ketika mengenal sistem informasi geografi, saya jatuh cinta dan bertekad menekuni usaha di bidang ini karena yakin berpeluang besar akan tumbuh dengan baik,” tegasnya.

Bima menyadari bahwa tantangan di bidang ini adalah minimnya data yang tersedia. Buktinya, banyak proyek yang tidak berlanjut karena data spasial yang dibutuhkan tidak tersedia. Akibatnya, banyak proyek perusahaan yang terpaksa tidak diselesaikan karena harus berinvestasi dalam jumlah besar untuk mengumpulkan data spasial ini.

Oleh karena itu, saya mengadakan koordinasi dengan lembaga penyedia data agar kebutuhan terhadap data selalu tersedia ketika diperlukan. Saya juga bertukar gagasan untuk mendorong kemajuan sistem informasi geografi di Indonesia. Saya berharap, tidak ada lagi proyek di Indonesia yang gagal diselesaikan karena ketersediaan data sangat minim,” tegasnya.

Standar IT Indonesia

Thomas Aquino Bima Priadi menuturkan PT ESRI Indonesia memiliki visi menyebarkan software ESRI menjadi acuan utama teknologi GIS di Indionesia. Ia berharap, teknologi ini dapat dipergunakan oleh seluruh lembaga, baik pemerintah maupun swasta.

Pertama menjadi standar yang dibutuhkan, kedua kita mampu menjadi bagian dari dunia teknologi informasi Indonesia. Kita ingin perusahaan menjadi leader dan standar sehingga siapapun nanti akan mengacu kepada perusahaan kita,” tegasnya.

Ke depan, lanjutnya, ESRI Indonesia ingin membangun SDM Indonesia. Utamanya SDM yang diperlukan untuk membangun dunia IT, khususnya didalam bidang Sistim Informasi Geografi di Indonesia. Upaya yang ditempuh adalah mencoba berkolaborasi dengan beberapa perguruan tinggi. Dengan pertimbangan, bahwa perguruan tinggi memiliki knowledge yang diperlukan sementara perusahaan memiliki teknologi.

Itu yang harus kita gabungkan dan menjadi simpul-simpul kemajuan dunia IT Indonesia. Mereka juga harus mampu menangkap respon dan kebutuhan-kebutuhan IT dunia. Sementara ini yang kami sudah mengawali upaya kerjasama dengan kami adalah ITB dan UI. Sedangkan di timur, ITS Surabaya dan Unhas Makassar, sementara ke barat kita sudah kerjasama dengan Unsyah Banda Aceh,” tandasnya.

Pria kelahiran Purworejo, 1 April 1962 ini mengungkapkan rasa syukurnya atas dukungan keluarga yang sangat luar biasa terhadap karier yang ditekuninya selama ini. Sang istri, Dr. Banon Lupi Edi (dokter di rumah sakit Harapan Bunda) dan kedua anaknya tidak pernah mengajukan komplain atas kesibukan suami dan ayahnya. Meskipun harus ditinggal pagi-pagi dan kembali ke rumah dini hari, mereka menerima kondisi tersebut.

Saya pulang ke rumah paling cepat pukul sembilan malam. Tidak jarang malah pukul dua pagi, jadi mereka semua sudah tidur. Tetapi bagi saya justru itulah dukungan luar biasa dari keluarga karena mereka memberikan pengertian terhadap kesibukan saya. Oleh karena itu, terhadap pengorbanann dan kerelaan mereka itu tidak akan saya sia-siakan. Keluarga telah memberikan kesempatan kepada saya untuk berkembang semaksimal mungkin,” imbuh anak kedua dari lima bersaudaran pasangan Petrus Suyoso (Alm.) dan Henrica Sri Adiarti.

 Berbicara mengenai generasi muda, Thomas Aquino Bima Priadi mengungkapkan bahwa generasi muda sekarang lebih lengkap fasilitasnya. Apalagi bila dibandingkan dengan kondisi generasi muda di zamannya yang minim akses ke mana-mana. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi generasi muda untuk tidak bisa mempelajari dan memanfaatkan segala sesuatu di sekelilingnya agar menjadi lebih hebat lagi.

Yang perlu dilakukan adalah membantu memotivasi dan mengarahkan generasi muda agar kehidupan mereka lebih pasti dalam menatap masa depan. Generasi muda sekarang boleh saja menyukai yang serba instant karena sesuai dengan zamannya. Namun mereka juga tidak boleh mengabaikan proses yang harus dilakukan secara bertahap untuk memperoleh sesuatu. Diharapkan proses tersebut memiliki value bagi mereka sendiri, organisasi, masyarakat dan lain-lain,” tandasnya.

Tergantung Teknologi

Menurut Thomas Aquino Bima Priadi, banyak perusahaan sejenis yang menjalankan usaha di Indonesia. Tentu saja, semua perusahaan IT sangat mengandalkan kemajuan teknologi masing-masing karena itulah “jualan” perusahaan. Begitu juga dengan persaingan di dalam usaha ini tidak lepas dari kecanggihan teknologi yang ditanamkan pada produk IT.

Semua tergantung teknologi. Jadi bagaimana sebuah perusahaan memiliki teknologi yang cukup mumpuni sehingga mampu bersaing secara sehat. Tetapi yang jelas kita berpikir jangka panjang sehingga bisa dilihat sebagai mitra pemerintah yang sangat konsisten,” ungkap penyuka liburan di kampung halaman ini.

 Saat ini, lanjut penerima Most Strategic Win Tahun 2011 dari ESRI Inc. ini, dunia IT sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup setiap manusia. Bisa dikatakan, umat manusia di muka bumi ini tidak bisa dilepaskan hidupnya dari sarana yang berhubungan dengan IT. Oleh karena itu, mau tidak mau-suka tidak suka, meskipun berlatar belakang pendidikan teknik sipil, dunia IT diselaminya.

Akhirnya saya mempunyai passion dalam bisnis ini. Meskipun awalnya memang berbagai kesulitan saya hadapi. Karena awalnya saya tidak pernah dididik di situ, bukan di set-up untuk itu. Tetapi saya diberi kesempatan, sehingga untuk masuk ke situ juga saya nikmati. Meskipun terjadi gap yang sangat berat, karena teman-teman yang lain sudah lebih dahulu menguasai kondisi dengan baik,” ungkapnya.

PT ESRI Indonesia di bawah pimpinan Thomas Aquino Bima Priadi sebagai Country Manager memiliki klien hampir seluruh kementerian di Indonesia. Beberapa perusahaan perminyakan dan perkebunan kelapa sawit juga turut menjadi klien perusahaan dalam masalah teknologi Sistim Informasi Geografi (SIG). Semua itu, membuktikan eksistensi perusahaan yang semakin dikenal sebagai penyedia jasa IT, khususnya SIG, terkemuka di Indonesia.

Di samping itu, Bima memiliki misi pribadi untuk menjadikan Indonesia sebagai penguasa informasi bagi dirinya sendiri tentang bangsa dan Negara Indonesia dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya. Karena dari sisi informasi, justru orang lain yang menjadi penguasa yang menurutnya sangat tidak bagus. Seharusnya, informasi tersebut menjadi sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang di Indonesia. Jangan sampai informasi-informasi yang sangat penting disediakan asing untuk keuntungan mereka sendiri dan bukan keuntungan bangsa kita.

 “Banyak informasi yang dikuasai oleh pribadi-pribadi sehingga kurang dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Seperti bank-bank Indonesia itu berlangganan informasi intelijen perbankan dari Malaysia, Hongkong, dan lain-lain. Padahal sumber informasi dari lembaga kita sendiri seperti BPS dan lain-lain. Ditambah sedikit pengolahan informasi, mereka jual kembali kepada kita dengan harga mahal. Oleh karena itu, sebenarnya bangsa Indonesia sangat dirugikan karena keuntungan akan datang kepada investor asing yang seharusnya dinikmati bangsa ini,” kata Thomas Aquino Bima Priadi.

H Abdul Hakim Fouad Attamimi

No Comments

Direktur Utama Faryha Tour

(PT Ronaldhitya Tour & Travel)

Sukses Dengan Terus Menerus Belajar dan Menekuni Satu Bidang

Dalam berkarier atau berbisnis, ketekunan terhadap salah satu bidang akan membuat orang menjadi sangat ahli. Selama menjalani karier atau bisnisnya, berbagai pelajaran berharga akan membuatnya menjadi spesialis di bidang yang ditekuninya. Proses yang dijalani selama menekuni pekerjaan akan menjadi pengalaman yang membawa kesuksesan.

Seperti yang dijalani oleh pengusaha biro perjalanan haji & umrah, H Abdul Hakim Fouad Attamimi, Direktur Utama Faryha Tour (PT Ronaldhitya Tour & Travel). Pilihannya untuk belajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali Jurusan Manajemen Pariwisata (lulus tahun 1993) adalah langkah awalnya menuju tangga kesuksesan. Pengusaha asli Bali kelahiran Klungkung, 1 November 1969 ini mengisahkan perjalanan hidupnya, berikut ini.

Saya asli Bali tetapi muslim dan hingga saat ini orang tua dan saudara-saudara semua ada di Bali. Tahun 1993, saya diterima bekerja di perusahaan biro perjalanan wisata, Nusa Dua Bali Tour & Travel. Awal Januari 1994, saya langsung dikirim ke Jakarta sebagai representative, karena banyak tamu dari Eropa yang ke Jakarta dahulu. Jadi, awalnya saya bekerja di biro perjalanan umum,” katanya.

Pertengahan tahun 1994, Hakim –panggilan akrabnya- pimpinan Nusa Dua Bali Tour Jakarta berangkat umrah bersama keluarga. Ia diajak dan menjadi tour leader dalam perjalanan spiritual tersebut. Terkesan atas pengalaman pertamanya di Tanah Suci, membuat ia sangat tertarik di bidang umrah & haji. Dua tahun kemudian, ia memutuskan keluar dari PT Nusa Dua Bali Tour dan bergabung dengan PT. Insan Salsabila, biro perjalanan umrah & haji.

 Sejak itu, Hakim mulai berkecimpung di bisnis umrah & haji. Beberapa kali ia berangkat untuk mengawal para jemaah umrah & haji plus. Kadang, kegiatan jemaah disambung dengan perjalanan wisata ke berbagai negara, seperti; Mesir, Turkey, Jordan, Jerussalem, Maroko, bahkan sampai Spanyol. Setelah beberapa kali pindah kerja di perusahaan umrah & haji, ia memperoleh pekerjaan sebagai Kepala Perwakilan Travel dari Saudi Arabia di Jakarta selama tiga tahun (2006-2009).

Tetapi tahun 2006 itu, saya mulai merintis usaha sendiri dengan membuka biro perjalanan wisata, khusus Umrah & Haji. Namun, sampai tahun 2010, izin umrah & haji belum keluar, hingga akhirnya saya membeli perusahaan yang sudah punya izin, PT. Ronaldhitya Tour & Travel dan mengganti merk dagang menjadi ‘Faryha Tour’. Saya membuka usaha ini karena melihat bahwa ke depan, dengan daftar tunggu pemberangkatan haji regular antara 6 – 10 tahun, umrah & haji plus menjadi pilihan alternative untuk ke tanah suci. Karena banyak yang lebih memilih umrah sambil menunggu jadwal keberangkatannya,” katanya.

Menurut Hakim, Fahyra Tour sekarang memiliki cabang di Surabaya dan perwakilan di berbagai daerah di Indonesia seperti; Tangerang, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Balikpapan, Bali, Palu dan lain-lain. Dengan dibukanya perwakilan di berbagai daerah, jemaah akan semakin mudah mendapatkan informasi tentang segala sesuatu mengenai rencana perjalanan umrah atau haji.

Perwakilan Daerah

Sebagai perusahaan yang baru beberapa tahun berdiri, menurut Hakim banyak kendala yang harus diatasi. Selain perizinan perusahaan umrah & haji yang sekarang dihentikan pemerintah RI, peraturan mengenai umrah & haji dari pemerintah Indonesia dan Arab Saudi pun terus berubah-ubah. Perubahan terjadi bahkan setiap tahun sehingga perusahaan travel umrah & haji kesulitan untuk mengikutinya.

Kendala lain, lanjutnya, datang dari customer sendiri yang rata-rata mendaftarkan diri pada detik-detik terakhir. Akibatnya perusahaan kesulitan untuk reservasi tiket pesawat dan akomodasi mereka di Arab Saudi. Selain itu, dengan visa yang sekarang menggunakan sistem kuota apabila waktunya terlalu mepet perusahaan akan kehabisan dan kesulitan mendapatkan kuota visa umrah & haji.

Minimal satu atau dua bulan sebelum berangkat mereka mendaftar. Kalau yang last minute itu biasanya jemaah dari Jakarta, sementara yang dari daerah biasanya lebih tepat waktu. Kebetulan kita membuka perwakilan sampai ke daerah sehingga informasi yang benar disampaikan kepada calon jemaah melalui perwakilan kami. Kita juga mengantisipasi dengan sistem reservasi penerbangan serta informasi masalah kuota visa kepada jemaah,” tegasnya.

 Hakim tidak pernah menyembunyikan informasi terkait keberangkatan ibadah umrah & haji kepada calon jemaah. Ia selalu menjelaskan kondisi yang dihadapi perusahaan terkait kendala perizinan dan lain-lain serta menawarkan alternative terbaik bagi jemaah, seperti memberikan alternative program atau alternative tanggal keberangkatan dan lain-lain. Kita juga jelaskan kepada jemaah segala kondisi selama di tanah suci agar para jama’ah siap dengan segala kondisi tersebut sebelum berangkat,” imbuh penyuka liburan ke Bali ini.

Untuk menghindari kejadian seperti itu, Hakim menggandeng jemaah melalui sponsorship seperti dari jemaah pengajian, pondok pesantren dan komunitas Islam lainnya. Sponsor itulah yang akan membuat paket umrah atau haji dan mendaftarkan diri ke perusahaan jauh hari sebelumnya. Ia juga membentuk pengajian bulanan yang diselenggarakan di berbagai daerah bagi mantan jemaah haji & umrah yang mempercayakan kepengurusannya kepada Fahyra Tour.

Jadi begitu selesai ibadah jemaah tidak kita lepas begitu saja, tetap ada komunikasi. Karena mungkin di lain waktu mereka akan menggunakan jasa kita lagi. Boleh dibilang umrah sangat berkembang baik, karena orang tidak selalu berlibur atau holiday ke Eropa. Ini perjalanan religius, berwisata sambil ibadah yang belakangan sangat diminati masyarakat,” tegasnya.

Dalam menyikapi persaingan, Hakim menyambutnya dengan sangat baik. Baginya, semakin banyak kompetitor bisnis travel umrah & haji semakin bagus. Ia menyerahkan kepada calon jemaah untuk menilai pelayanan yang diberikan perusahaan. Artinya, semua perusahaan yang bergerak di bidang umrah & haji akan berlomba memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah. Tinggal jemaah yang akan menentukan perusahaan travel mana yang menurut mereka paling baik.

Yang jelas komitmen kami adalah bahwa yang kami layani adalah ‘Tetamu Allah’ atau ‘Duyufurrahman’ sehingga kami tidak main-main dalam urusan ini. Kami secara profesional melayani jemaah karena itu adalah amanah, itu yang kita pegang. Karena biaya yang sudah dibayarkan itu adalah amanah yang harus kita pegang. Kita dahulukan & prioritaskan seluruh hak dan kewajiban jemaah,”tegasnya.

Hakim hanya berharap dari sisa biaya yang sudah dikeluarkan menjadi keuntungan perusahaan. Tidak pernah ia mengambil keuntungan di awal pembayaran yang telah dilakukan jemaah. Kebijakan perusahaan adalah memaksimalkan pelayanan kepada jemaah sementara urusan keuangan adalah belakangan. “Kalau tidak ada sisa, ya tidak apa-apa, karena yang kita layani itu adalah tetamu Allah sehingga ‘Dia’ nanti yang akan menggantinya,” tuturnya.

Kebanggaan Keluarga

Menurut H. Abdul Hakim Fouad Attamimi, usahanya lebih fokus pada bidang umrah & haji. Meskipun memiliki pengalaman bekerja di perusahaan travel pariwisata umum –bukan umrah & haji- namun ia tidak tertarik untuk ikut meramaikan bisnis tersebut. Persaingan dan banyaknya perusahaan besar yang “bermain” di travel pariwisata umum membuat ia lebih memilih menekuni umrah & haji.

Jadinya kita malah semakin fokus pada pelayanan jemaah. Karena seperti yang saya gariskan kepada karyawan, bahwa jemaah itu adalah tetamu Allah yang harus dilayani dengan sepenuh hati serta ikhlas dalam bekerja,” kata ayah tiga putri dari pernikahannya dengan Wahidah Rasjid Bawazier ini. Hakim mendapat dukungan penuh dari keluarga atas usaha yang ditekuninya selama ini. “Saya setiap tahun juga membawa keluarga untuk pergi umrah ataupun haji. Itu merupakan kebanggaan bagi keluarga juga, lho…,” imbuhnya.

Sulung dari lima bersaudara pasangan Fouad Abdullah Attamimi dan Latifah Usman ini melambungkan harapan besar pada usahanya. Langkah awal adalah dengan mengokohkan, memantapkan pundi-pundi dan tiang-tiang penyangga Fariha Tour terlebih dahulu. Baik dari segi permodalan, manajemen maupun SDM semua harus dibenahi dengan baik agar cita-citanya untuk menjadikan Faryha sebagai leader dalam pelayanan hamba Allah. “Terutama dalam pelayanan serta menjadi amanah atau dapat dipercaya masyarakat luas,” tambahnya.

Kepada pemerintah khususnya Kementerian Agama RI, Hakim berharap agar umrah & haji plus lebih ditingkatkan pengurusannya. Karena selama ini, haji plus dikelola sendiri oleh travel agen. Sedangkan pemerintah sering mengulur waktu dalam hal pelunasan sehingga travel agen mengalami kesulitan dalam penyiapan pelayanan kepada jemaah, terutama penerbangan dan akomodasi. Sistem yang berlaku sekarang, pemerintah menerapkan kebijakan pelunasan pembayaran bersamaan dengan jemaah regular. Akibatnya, waktu yang dimiliki agen untuk mempersiapkan kebutuhan jemaah sangat sedikit sehingga menjadi tidak maksimal.

Peran pemerintah dalam ONH Plus masih minim, karena birokrasi terlalu kaku. Apalagi perizinan sekarang masih distop untuk umrah & haji dan sangat dibatasi. Sebenarnya kalau pemerintah tegas, banyak travel yang punya izin umrah & haji tetapi tidak memiliki customer namun kebalikannya banyak travel yang notebene tidak punya izin umrah & haji tetapi memiliki dan memberangkatkan banyak jamaah,” tutur pemilik moto “Melayani tamu Allah dengan Amanah” ini.

Hakim yang menjadi anggota HIMPUH dan ASITA ini, berpesan kepada para generasi muda untuk tidak takut menjalankan sebuah usaha. Generasi muda juga harus mempergunakan waktu yang mereka miliki sebaik mungkin. Ia sangat menyayangkan talenta muda berbakat yang disia-siakan. Apalagi dengan derasnya tayangan TV yang menawarkan mimpi instant untuk menjadi terkenal dan sukses. Akibatnya, banyak generasi muda yang menyia-nyiakan hidupnya untuk mengejar mimpi yang tidak pasti.

Seharusnya generasi muda bisa lebih tekun dan bersabar mengejar kesuksesan melalui proses yang panjang. Seperti yang saya alami, artinya dari saya mulai menjadi pegawai biasa, manager dan merintis usaha sendiri. Jadi saya harapkan para pemuda, yang baru lulus sekolah berusaha dan mempergunakan waktu sebaik mungkin. Selain itu, selalu gunakan kepercayaan yang diberikan kepada mereka,” ujar H Abdul Hakim Fouad Attamimi.

Berlilana S, PS.Kom, MSi

No Comments

Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto

Menciptakan SDM Berbasis Teknologi Informasi

Perkembangan dunia sekarang tidak bisa dilepaskan dengan teknologi informasi (IT). Hampir seluruh kebutuhan manusia bisa dipastikan menggunakan teknologi informasi sebagai penunjang kegiatannya. Bisa dikatakan, sejak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, manusia dikelilingi peralatan yang didalamnya memiliki unsur teknologi informasi.

Meskipun demikian, perkembangan dunia IT di Indonesia bisa dikatakan tertinggal dibandingkan negara lain. Seperti Singapura dan Malaysia, jauh meninggalkan Indonesia dalam penggunaan IT bagi warganya. Faktor biaya akses IT yang mahal di Indonesia merupakan salah satu hambatan besar yang membuat tertinggal. Sementara dari sisi SDM, sebenarnya masyarakat Indonesia tidak kalah berkualitas. Apalagi banyak pendidikan tinggi yang mendedikasikan pengembangan SDM khusus IT di Indonesia.

“Kami memiliki visi dan misi menciptakan SDM yang mampu bersaing di dunia internasional, berbasis pada teknologi informasi atau IT. Untuk itu, kami menyusun kurikulum menyesuaikan dengan dunia kerja dengan dukungan fasilitas memadai. Semua itu untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di dunia IT yang menurut pantaun saya masih agak tertinggal. Itu menjadi persoalan dan PRODUK bersama agar kita menyusul dan menyamai perkembangan dunia IT di negara lain,” kata Berlilana S, PS Kom, MSi., Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto.

Menurut Berlilana, kondisi tersebut disebabkan oleh efek pembangunan yang tidak merata di Indonesia. Akibatnya, insfrastruktur yang disediakan pemerintah hanya dinikmati oleh penduduk di wilayah tertentu seperti perkotaan. Sementara bagi penduduk pedesaan harus hidup dengan segala keterbatasan dan harus mengandalkan potensi alam yang ada.

Kondisi seperti itulah, yang menghambat perkembangan dunia IT di Indonesia. Akibat pembangunan infrastruktur yang tidak merata, berimbas pada dunia IT di Indonesia meskipun potensi untuk berkembang sangat besar. Menurut Berlilana, untuk mempercepat akselerasi kemajuan IT di Indonesia ada beberapa hal yang harus dibenahi. Pertama dengan memompakan semangat dari dalam diri sendiri dalam menyikapi kemajuan negara-negara luar agar terpacu untuk menjadi lebih baik.

“Setidaknya, minimal harus menyamai mereka. Tetapi semua itu membutuhkan dukungan pemerintah, dalam rangka membuat kebijakan agar teknoloni informasi yang ada di negara kita berkembang dengan baik. Kita bersyukur dengan adanya Keminfo menunjukkkan pemerintah sudah memiliki komitmen terhadap perkembangan IT di negara kita. Mudah-mudahan, adanya kementerian khusus seperti itu, kita mampu bersaing di negara luar,” ujarnya.

Filosofi Pohon Pisang

Berlilana S, PS.Kom, MSi, lahir di Jakarta, 2 Desember 1973. Setelah lulus kuliah dan bergelar sarjana, ia berusaha mewujudkan cita-citanya, menjadi dosen. Langkah yang dilakukannya adalah dengan melamar pekerjaan sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi swasta di Yogyakarta maupun Purwokerto. Nilai indeks prestasi yang pas-pasan adalah alasan ditolaknya lamaran yang diajukannya.

“Akhirnya saya bekerja di asuransi serta beberapa perusahan swasta di Jakarta. Tetapi saya tidak betah karena jiwa pendidik dan cita-cita sebagai guru/dosen begitu tinggi. Akhirnya cita-cita saya kesampain, pada bulan Maret 1998 saya diterima sebagai dosen di Lembaga Pendidikan IMKI Prima. Lembaga ini merupakan grup Primagama yang bergerak di bidang pendidikan diploma Profesi Komputer 1 tahun,” kisahnya.

Berlilana bekerja mengawali karier di IMKI Prima sebagai tenaga humas dan pengajar. Tahun 2002, ia dipercaya menjadi pimpinan cabang IMKI Prima Purwokerto. Dibawah pimpinannya, perkembangan IMKI Prima Purwokerto mengalami kemajuan yang sangat pesat sampai tahun 2005. Melihat perkembangan IMKI Prima Purwokerto yang sangat pesat tersebut, Manajemen Pusat dan STMIK AMIKOM Yogyakarta tertarik dan mendirikan STMIK AMIKOM Purwokerto. Di bawah arahan dan binaan Prof. Dr. M. Suyanto, Berlilana terpilih untuk menjadi Ketua STMIK AMIKOM Purwokerto hingga sekarang ini.

Semua yang dilakukan Berlilana, tidak terlepas dari pesan almarhum ayahnya pada saat kecil. Pelajaran yang sangat berharga adalah bagaimana seseorang mampu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Seorang manusia harus bisa menyerupai pohon pisang dalam kehidupan. Karena pohon pisang, dari akar sampai pucuk daunnya dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Menurut sang ayah, akar pohon pisang dapat digunakan sebagai obat-obatan, batangnya untuk panggung pagelaran wayang kulit, daunnya untuk membungkus, buahnya sangat bergizi, kulit buah untuk pakan ternak dan lain-lain.

“Yang lebih hebat lagi, pohon pisang tidak akan mati sebelum menghasilkan sesuatu yang berguna yaitu buah. Kalau ditebang sebelum berbuah dia akan tumbuh lagi dan apabila sudah berbuah, dia siap mati tetapi sudah menyiapkan tunas-tunas pisang baru yang siap menggantikan posisinya. Filosofi ini sangat membekas sekali di hati dan membuat saya berusaha terus hidup sampai menghasilkan sesuatu untuk diri sendiri, keluarga dan bangsa ini. Saya baru siap ‘mati’ setelah menyiapkan tunas-tunas pengganti, generasi penerus yang lebih handal. Salah satunya adalah mahasiswa-mahasiswa saya yang walaupun bukan anak sendiri tetapi bisa sukses itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi diri saya,” tuturnya.

Sebenarnya, cita-cita Berlilana di masa kecil adalah menjadi seorang pilot meniru kesuksesan pamannya yang bekerja sebagai pilot. Namun, karena filosofi pohon pisang lebih kuat menariknya untuk berguna bagi orang lain dengan menjadi pendidik. Setelah tercapai cita-citanya menjadi pendidik, ia merasa sangat puas apalagi tanggapan masyarakat terhadap profesi yang ditekuninya pun sangat baik. Semua itu menjadi “benteng” baginya untuk tidak berbuat salah yang dapat mencemari profesinya sebagai seorang pendidik

Berlilana mengakui bahwa menjadi seorang pendidik merupakan kebahagian tersendiri. Apalagi ia berkesempatan merintis perguruan tinggi ini –STMIK AMIKOM Purwokerto- dari awal berdirinya sampai sekarang. Dari modal seadanya dan kampus menumpang, sekarang mempunyai kampus sendiri yang cukup megah, lima lantai dengan fasilitas lengkap. Semua pencapaian itu, tidak lepas dari dukungan luar biasa dari keluarganya. Karena mereka merelakan ayah dan suaminya bekerja sampai larut malam dan mengurangi jatah libur bersama.

“Keluarga sangat mendukung. Terutama istri saya, Dwi Murni Handayani dan ke tiga anak saya, Muhammad Agriawan Satria Utama, Kayla Fatimatuzzahra, Aisyah Mulia Permata Akhir. Bagi saya, profesi apapun yang nanti ditekuni anak-anak akan saya bebaskan asalkan mereka nantinya bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Seperti filosofi pohon pisang yang diajarkan kakeknya,” ungkapnya.

Barlilana menilai, perkembangan pendidikan di Indonesia sudah cukup baik. Meskipun demikian, perbaikan dan pemerataan antara kota dan desa perlu diperhatikan yang terkait dengan fasilitas pendukung proses pembelajaran. Begitu juga perbedaan lembaga pendidikan negeri dan swasta, di mana sekolah/perguruan tinggi negeri sepenuhnya disubsidi dan dibantu pemerintah. Sementara lembaga pendidikan swasta jauh lebih mandiri meskipun harus diakui menjadi salah satu penyebab kesenjangan dan ketimpangan yang sangat jauh pada dunia pendidikan di Indonesia.

“Perkembangan dunia pendidikan kita sudah bagus, terbukti banyak prestasi-prestasi anak bangsa di level perlombaan tingkat dunia. Hanya saja kadang komitmen penyelenggara pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan lagi. Jangan sampai dengan semakin banyaknya putra bangsa yang berprestasi, justru bangsa lain yang memanfaatkan kecemerlangan dan kemampuan otaknya,” tegasnya.

Agent of Change

Sebagai orang yang terbiasa membina generasi muda, Berlilana sangat memahami kondisi generasi muda sekarang ini. Dengan membanjirnya informasi melalui TV dan teknologi IT, tentu saja cukup banyak dampak negative dan positif yang ditimbulkan. Positifnya, kehadiran teknologi apabila disikapi dengan baik akan sangat membantu kehidupan manusia. Namun, apabila disikapi secara keliru sisi negative dari teknologi juga sangat mengkhawatirkan.

Ia mencontohkan bagaimana internet sekarang sudah sangat merakyat. Seluruh lapisan masyarakat mampu mengakses jaringan internet dengan bebas dan murah. Apalagi, teknologi hand phone yang semakin canggih dengan tariff operator murah, membuat internet bisa diakses dari mana saja. Namun sangat disayangkan sesuatu yang baik itu tidak bisa digunakan, sekadar iseng, ikut-ikutan atau penggunaan tidak bermanfaat lainnya.

Dalam pandangannya, salah satu “korban” dari perkembangan teknologi informasi tersebut adalah generasi muda. Dengan kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, telah menyeret generasi muda untuk beralih kepada segala sesuatu yang serba cepat, praktis, instant dan lain-lain. Celakanya, kondisi tersebut diperparah dengan tayangan televisi yang tidak mendidik dan hanya menjual mimpi saja.

“Semua itu jelas-jelas mematikan kreativitas generasi muda. Ini sangat berbeda dengan generasi muda di zaman saya atau sebelumnya. Padahal, sebagai generasi muda kita harus siap menjadi agent of change terkait perubahan teknologi yang sangat cepat itu. Sebagai generasi muda kita harus siap menerima perubahan tadi, karena teknologi kalau digunakan dengan benar sangat ampuh bagi kemajuan kita. Tetapi di sisi lain, teknologi apabila disalahgunakan akan menjadi mesin pembunuh bagi karakter kita sendiri,” tandasnya.

Salah satu ketakutan yang timbul terhadap tayangan televisi yang tidak mendidik adalah minimnya kelahiran pemimpin di negeri ini. Kreativitas dari generasi muda yang kering dan tidak bermakna, membuat perkembangan bangsa ke depan cukup mengkhawatirkan. Artinya, ke depan Indonesia akan semakin sedikit melahirkan entrepreneur handal di bidangnya masing-masing. Padahal, entrepreneur membuat ketahanan bangsa terhadap krisis ekonomi sangat tinggi.

“Pendidikan entrepreneur sangat penting karena negara kita sangat sedikit orang-orang yang berwira usaha. Contohnya di Singapura 2 % penduduknya adalah seorang wirausaha, sedangkan di Indonesia masih jauh, sekitar 0,6 % saja. Karena kebanyakan pendidikan sekarang banyak menciptakan seorang karyawan atau pekerja saja,” ungkapnya.

Sekolah Tinggi Nomor Satu

STMIK AMIKOM Purwokerto setelah lima tahun berjalan semakin menunjukkan perkembangan yang baik. Berbagai kerjasama dengan pihak lain terus dijalin sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan sekolah tinggi ini. Selain mempekerjakan 62 dosen muda bergelar S2, STMIK juga mengundang dosen tamu dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Kerjasama juga dilakukan dengan alumni STMIK AMIKOM Purwokerto yang sudah bekerja di perusahaan-perusahaan. Tujuannya agar mengajak adik-adiknya untuk bekerja di perusahaan-perusahaan mereka agar bisa mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah. “Kita bekerjasama dengan Microsoft Indonesia. Kita juga ditunjuk oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk menyelenggarakan sertifikasi Profesi di Indonesia. Hal ini menggambarkan bahwa perusahaan-perusahaan dan industri di Indonesia sudah mempercayai AMIKOM,” tuturnya.

STMIK AMIKOM Purwokerto cukup menarik minat calon mahasiswa di sekitar eks Karesidenan Banyumas. Artinya masyarakat di wilayah kabupaten Banyumas, Purwokerto, Cilacap dan lain-lain, mempercayai AMIKOM sebagai perguruan tinggi yang menjadi rujukan utama. Bahkan dari website Dikti, AMIKOM menduduki level tertinggi dari jumlah mahasiswa se Jawa Tengah. Di Purwokerta sendiri, terdapat 11 perguruan tinggi yang sama, tetapi STMIK AMIKOM Purwokerto tetap menjadi yang nomor satu bahkan di tingkat Jawa Tengah untuk perguruan tinggi swasta bidang komputer.

Beberapa program unggulan AMIKOM sangat diminati oleh mahasiswa. Antara lain, multimedia, yakni kemampuan multimedia yang berbeda dengan perguruan tinggi lain. Di mana para mahasiswa dibekali agar betul-betul menguasai materi dengan baik. STIMIK juga memberikan soft skill kepada mahasiswa berkaitan dengan pengembangan diri, dimulai sejak mahasiswa baru sampai menjelang kelulusan.

“Tujuannya agar mahasiswa nanti memiliki pengembangan kepribadian yang positif. Ketiga, desain kurikulum kita itu lebih kita arahkan agar mereka mampu menjadi technopreneur seperti bisa membuka usaha, berusaha atau bahkan bekerja pada saat mereka masih berstatus mahasiswa. Ini yang membedakan antara STMIK AMIKOM Purwokerto dengan perguruan tinggi lainnya,” ungkapnya.

Jumlah mahasiswa STIMIK AMIKOM Purwokerto sampai memasuki tahun kelima mencapai 1600 mahasiswa dan meluluskan tiga kali angkatan. Berlilana berharap, lima tahun pertama AMIKOM menjadi perguruan tinggi IT terbesar di Jawa Tengah. Harapan tersebut tercapai dengan sukses –sesuai data Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah sehingga ditingkatkan target programnya. Target lima tahun kedua adalah membangun STMIK menjadi lebih besar dan bisa berbicara di level internasional.

“Di mana ada target-target khusus, bahwa perguruan tinggi kami tahun ini bisa teakreditasi dari BAN PT. Target kedua menyusun standar mutu internasional yang akan didukung dengan ISO maupun standar mutu nasional yang mana standar mutu tersebut membuat semua pekerjaan di semua lini sudah tersistem dengan baik. Ketiga, bahwa kita tetap menjaga kepercayaan masyarakat agar STMIK AMIKOM ini tetap positif dan keberadaannya bisa diterima masyarakat luas. Seperti induk kami, STMIK AMIKOM Yogyakarta yang dipilih UNESCO menjadi perguruan tinggi percontohan tingkat dunia yang dikelola secara entrepreneur,” tegas Berlilana.